Posts

Tempat Bernaung

Jumat, 21 Februari 2020

Tempat Bernaung

Baca: Efesus 3:14-21

3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,

3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.

3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,

3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,

3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,

3:21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu.—Efesus 3:17

Tempat Bernaung

Beberapa tahun setelah kematian tragis pasangan pertama mereka masing-masing, Robbie dan Sabrina jatuh cinta, menikah, dan menyatukan kedua keluarga mereka. Mereka membangun rumah baru yang diberi nama Havilah (dari bahasa Ibrani yang berarti “menggeliat kesakitan” dan “membawa keluar”). Kata itu melambangkan suatu keindahan yang dihasilkan dari proses yang menyakitkan. Pasangan ini berkata bahwa rumah itu tidak dibangun untuk melupakan masa lalu, melainkan untuk “membangun kembali hidup dari puing-puing reruntuhan, untuk merayakan pengharapan.” Bagi mereka, rumah itu menjadi “tempat bernaung, tempat mensyukuri kehidupan, dan tempat berpegang pada pengharapan akan masa depan.”

Sungguh suatu gambaran yang indah akan kehidupan kita di dalam Yesus Kristus. Dia mengangkat hidup kita dari puing-puing kehancuran dan menjadikan diri-Nya tempat pernaungan kita. Ketika kita menerima-Nya, Kristus pun diam di dalam hati kita (ay.17). Allah mengangkat kita menjadi anak dalam keluarga-Nya melalui Yesus sehingga kita juga menjadi milik kepunyaan-Nya (1:5-6). Walaupun kita akan mengalami masa-masa sulit, Dia dapat memakai hal-hal tersebut untuk membawa kebaikan dalam kehidupan kita.

Setiap hari, kita memiliki kesempatan untuk bertumbuh dalam pengenalan kita akan Allah sembari kita menikmati kasih-Nya dan mensyukuri segala sesuatu yang telah diberikan-Nya dalam hidup kita. Di dalam Dia, ada kepenuhan hidup yang takkan kita peroleh tanpa Dia (3:19). Kita pun memiliki janji bahwa hubungan ini bersifat abadi. Yesus adalah tempat kita bernaung, alasan kita mensyukuri hidup, dan pengharapan kita dari kini sampai selama-lamanya.—Anne Cetas

WAWASAN
Karena Paulus sendiri yang membawa orang-orang percaya di Efesus kepada iman yang benar (Kisah Para Rasul 19:1-10), ia menganggap mereka anak-anak rohaninya dan dengan teguh berkomitmen untuk rajin mendoakan pertumbuhan rohani mereka (lihat Filipi 1:3-6; 2 Tesalonika 1:11-12). Efesus 3:14-21 adalah salah satu dari doa Paulus yang tertulis dalam Perjanjian Baru (lihat juga Filipi 1:9-11; Kolose 1:9-12), dan merupakan doa keduanya di kitab Efesus (lihat juga Efesus 1:15-23). Dalam doa-doa ini, Paulus tidak mendoakan kesejahteraan jasmani mereka, tetapi berfokus pada pertumbuhan dan kedewasaan rohani. Dalam doa yang pertama, yang menekankan pada pengenalan, Paulus berdoa agar mereka memiliki “Roh hikmat dan wahyu” supaya mereka dapat “mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan [Allah]” (Efesus 1:17-18). Dalam doanya yang kedua (3:14-21), ia berfokus pada kasih dan mendoakan mereka yang telah “berakar serta berdasar di dalam kasih” supaya dapat “memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (ay.17-18).—K. T. Sim

Dalam hal apa saja Yesus telah mengubah hidupmu? Bagi kamu, apa artinya hidupmu menjadi milik kepunyaan Yesus?

Aku bersyukur karena aku miIik-Mu, Tuhan Yesus. Terima kasih atas hidup penuh pengharapan dari kini sampai selama-lamanya.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 1-3; Markus 3

Handlettering oleh Vivi Lio

Pengalaman Tersulit

Kamis, 20 Februari 2020

Pengalaman Tersulit

Baca: Kejadian 41:46-52

41:46 Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir.

41:47 Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu,

41:48 maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu.

41:49 Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung.

41:50 Sebelum datang tahun kelaparan itu, lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki, yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On.

41:51 Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.”

41:52 Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.”

Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut.—Kejadian 41:49

Pengalaman Tersulit

Geoff kini melayani sebagai gembala kaum muda di kota tempat ia pernah mengalami kecanduan heroin. Allah telah mengubah hati dan keadaannya dengan cara yang luar biasa. “Aku ingin menolong anak-anak muda agar mereka tidak jatuh pada kesalahan yang sama dan merasakan penderitaan seperti yang kualami,” kata Geoff. “Yesus pasti akan menolong mereka.” Seiring waktu, Allah membebaskannya dari belenggu narkoba dan mempercayakan pelayanan yang penting kepadanya sekalipun masa lalunya suram.

Dengan cara-Nya, Allah sanggup membawa kebaikan yang tak terduga di tengah situasi yang seakan-akan tidak berpengharapan. Yusuf dijual sebagai budak ke Mesir, difitnah hingga masuk penjara, dan mendekam serta dilupakan di sana selama bertahun-tahun. Namun, Allah memulihkan keadaannya dan memberinya jabatan penting, langsung di bawah Firaun, sehingga ia dapat menyelamatkan hidup banyak orang—termasuk hidup saudara-saudaranya yang pernah membuangnya. Di Mesir, Yusuf menikah dan memiliki dua anak. Ia menamai anak keduanya Efraim (dari bahasa Ibrani yang berarti “berbuah dua kali lipat”), dengan alasan ini: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku” (Kej. 41:52).

Kisah Geoff dan Yusuf, meski terpisah jarak waktu tiga atau empat ribu tahun, menunjuk pada satu kebenaran yang tidak pernah berubah: pengalaman-pengalaman tersulit dalam kehidupan kita dapat menjadi lahan subur bagi Allah untuk menolong dan memberkati banyak orang. Kasih dan kuasa Juruselamat kita tidak pernah berubah, dan Dia selalu setia kepada mereka yang percaya kepada-Nya.—James Banks

WAWASAN
Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya pada usia tujuh belas tahun (Kejadian 37:2,27-28) dan kemudian dipenjara dengan tuduhan palsu mencoba tidur dengan istri majikannya (39:1-20). Tiga belas tahun dilewatinya dari menjadi budak hingga menjadi pegawai Firaun (41:46). Allah menyertai Yusuf ketika ia menjadi budak (39:2-6) dan selama ia berada dalam penjara (ay.20-23), lalu Dia memakainya dalam persiapan menghadapi bencana kelaparan. Hal ini memungkinkan Yusuf untuk menyelamatkan keluarganya, umat Allah, dari kelaparan dan membawa mereka ke Mesir (lihat pasal 41–47). Jika tidak dijual ke perbudakan, Yusuf tidak akan mencapai posisi yang memungkinkannya membawa keluarganya ke Mesir untuk menghindari kelaparan. Jika mereka mati, maka Yesus, keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub, tidak akan lahir dari keturunan mereka. Pada akhirnya, Allah memakai kehidupan Yusuf untuk menyatakan rencana keselamatan-Nya.—Julie Schwab

Pernahkah kamu menyaksikan bagaimana Allah mendatangkan kebaikan dari kesulitan hidup yang kamu alami? Bagaimana kamu dapat menggunakan kesulitan-kesulitan kamu di masa lalu untuk menguatkan orang lain hari ini?

Bapa yang Mahakuasa, sungguh tiada yang terlalu sulit bagi-Mu! Aku bersyukur atas kesetiaan-Mu yang sempurna, hari ini dan selamanya.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 26-27; Markus 2

Belajar Penginjilan dari Petrus (Pengajaran dari 1 Petrus 3:15-16)

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepda tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetpai haruslah dengan lemah lembut dan hormat,
dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”

1 Petrus 3:15-16

Sebagian orang berpikir bahwa membela kebenaran itu cuma melibatkan aspek substansi dan strategi. Materi dikuasai dan metode diikuti. Yang dipentingkan hanya pengetahuan yang mendalam dan pendekatan yang relevan.

Tanpa bermaksud meremehkan penguasaan materi dan manfaat suatu metode, kita perlu menegaskan bawa membela kebenaran membutuhkan lebih daripada dua hal itu. Seorang pemberita kebenaran seyogyanya menghidupi kebenaran. Kebenaran tersebut juga seyogyanya disampaikan dengan cara yang benar. Seluruh kehidupan pemberita kebenaran harus dikuasai oleh kebenaran itu. Kita dipanggil bukan hanya untuk memberitakan, tetapi juga menghidupi kebenaran.

Itulah yang akan diajarkan daam teks kita hari ini. Hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang pekabar Injil yang baik?

1. Menguduskan Kristus dalam hati kita (ayat 15a)

Penginjilan dimulai dengan hati kita. Yang terpenting bukan seberapa banyak pengetahuan kita tentang kebenaran. Bukan pula seberapa besar pengalaman kita dalam penginjilan atau pengenalan kita terhadap orang lain. Bagaimana kondisi hati kita jauh lebih penting daripada perkataan yang kita ucapkan.

Rasul Petrus menasihati penerima suratnya untuk menguduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hati mereka (3:15a). Menguduskan di sini jelas bukan berarti membuat Kristus menjadi kudus secara moral. Menguduskan berarti mengkhususkan. Menguduskan berarti menghargai keunikan Kristus, memberi tempat yang sepantasnya bagi Dia. Dengan kata lain, menguduskan Kristus berarti menghormati Kristus lebih daripada yang lain.

Makna di atas didasarkan pada perbandingan antara 1 Petrus 3:14-15 dan Yesaya 8:12-13. Ada beberapa kemiripan yang signifikan di antara dua teks ini, sehingga para penafsir Alkitab menduga Petrus memang sedang memikirkan Yesaya 8:12-13.

– Yesaya 8:12-13, “Jangan sebut persepakatan dengan segala apa yang disebut bangsa ini persepakatan, dan apa yang mereka takuti janganlah kamu takuti dan janganlah gentar melihatnya. Tetapi TUHAN semesta alam, Dialah yang harus kamu akui sebagai Yang Kudus; kepada-Nyalah harus kamu takut dan terhadap Dialah harus kamu gentar.

– 1 Petrus 3:14b-15a, “Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!”

Jika Yesaya 8:12-13 memang berada di balik 1 Petrus 3:14-15, maka kita sebaiknya menafsirkan “menguduskan Kristus” dengan “mempertimbangkan Kristus sebagai objek rasa hormat kita”. Dia adalah Tuhan yang kudus. Dia harus mendapatkan tempat yang terutama dalam hati kita (NIV, “But in your hearts set apart Christ as Lord”)

2. Meyakini pengharapan kita (ayat 15b)

Di ayat ini Rasul Petrus mengantisipasi suatu keadaan: orang-orang luar menanyakan pengharapan yang ada pada orang-orang Kristen. Ini bukan sekadar tentang pengharapan yang abstrak. Bukan hanya sebuah konsep yang belum tentu terwujud atau terbukti. Ini adalah tentang pengharapan yang ada pada mereka. Bukan yang tidak ada pada diri mereka.

Pembicaraan tentang pengharapan merupakan topik yang sangat relevan bagi penerima surat 1 Petrus. Mereka adalah orang-orang Kristen yang berada di perantauan (1:1). Mereka adalah para pendatang dan perantau (2:11). Mereka adalah orang-orang asing. Keterasingan ini bukan cuma secara rasial atau sosial, tetapi juga spiritual. Dalam dunia yang sementara ini mereka hanya menumpang (1:17). Dunia bukan rumah mereka. Mereka mengarahkan pandangan ke depan.

Sebagai kelompok minoritas, mereka juga menghadapi berbagai tekanan. Fitnah seringkali ditujukan kepada mereka (2:12, 3:16). Beberapa bahkan menderita karena kebenaran atau kebaikan (2:19-21). Jika hanya memperhatikan apa yang terjadi pada saat itu, mereka pasti akan kehilangan semangat dan sukacita. Mereka sangat memerlukan jaminan untuk masa depan. Bukan di dunia ini, melainkan di dunia selanjutnya. Itulah yang disebut pengharapan.

Yang sedang dibicarakan di sini adalah pengharapan, bukan tindakan berharap. Ini bukan tentang apa yang dilakukan oleh orang-orang Kristen. Ini tentang apa yang ada pada mereka (3:15b “tentang pengharapan yang ada padamu”). Ada unsur kepastian di dalamnya. Semua yang dihidupkan melalui kuasa kebangkitan Kristus pasti memiliki “suatu hidup yang penuh dengan pengharapan” (1:3). Iman dan pengharapan kita tertuju pada Allah yang membangkitkan Kristus dari kematian dan yang memuliakan Dia di surga (1:21).

Mempunyai pengharapan di tengah dunia yang penuh tantangan dan penderitaan merupakan sebuah kebutuhan. Pengharapan ini membuat orang-orang Kristen memiliki gaya hidup dan semangat yang berbeda dengan dunia. Kita tidak mudah mengeluh, selalu optimis, senantiasa bersukacita. Dengan demikian, orang-orang lain akan tertarik dengan kehidupan yang seperti ini. Mereka akan terdorong untuk menanyakan rahasia di balik kehidupan itu. Di baliknya, ada pengharapan.

3. Siap memberikan pembelaan (ayat 15b)

Memiliki pengharapan adalah satu hal. Memberikan penjelasan tentang pengharapan itu adalah hal yang berbeda. Kita dituntut bukan hanya untuk menunjukkan kehidupan yang berpengharapan, melainkan juga memberikan “pertanggungjawaban” (LAI:TB).

Dalam teks Yunani, kata yang digunakan di bagian ini adalah apologia. Secara hurufiah kata ini berarti pembelaan, bukan pertanggungjawaban. Paulus beberapa kali memberikan pembelaan terhadap dirinya maupun Injil yang dia sampaikan (Kis 22:1; 1 Kor 9:3). Tidak jarang pembelaan ini dilakukan dalam konteks tuntutan legal atau pemenjaraan (Filipi 1:7, 16), sehingga tidak semua orang mau melibatkan diri dalam pembelaan tersebut (2 Tes 4:16).

Dalam teks kita hari ini Petrus memerintahkan penerima surat untuk selalu siap (hetoimoi aei) memberikan pembelaan. Kesiapan ini bukan hanya dalam konteks waktu (selalu siap), tetapi juga orang. Siapa saja yang menanyakan. Tidak peduli kapan dan kepada siapa, kita harus senantiasa siap memberitakan pembelaan.

Pembelaan yang kita berikan harus rasional. Yang mereka tanyakan bukan hanya pengharapan, tetapi alasan di balik pengharapan itu. Dalam teks Yunani, ayat 15b berbunyi: “senantiasa siap memberikan pembelaan kepada siapa saja yang menanyakan alasan tentang pengharapan yang ada pada diri kalian”. Ada kata “alasan” (logos) di bagian tadi (lihat mayoritas versi Inggris “who asks you for a reason for the hope that is in you”).

Apakah kita tahu apa yang kita percayai? Apakah kita tahu mengapa kita memercayai hal itu?

4. Memberikan pembelaan dengan sikap yang benar (ayat 15b-16)

Pembelaan bukan hanya harus rasional. Pembelaan juga harus disertai dengan kesalehan. Kekuatan intelektual bukan substitusi bagi kematangan spiritual, emosional, dan sosial.

Petrus menasihati orang-orang Kristen di perantauan untuk menunjukkan sikap lemah lembut dan hormat serta hati nurani yang baik. Tiga hal ini sebenarnya lebih berkaitan dengan hati daripada tindakan. Namun, apa yang ada dalam hati seseorang akan terlihat dari tindakan orang itu. Hati yang dikuasai oleh kekudusan Kristus (ayat 15a) adalah hati yang memunculkan sikap lemah lembut, hormat, dan tulus kepada orang lain.

Dengan demikian Petrus sedang mengerjakan tentang keseimbangan antara kebenaran suatu ajaran (ortodoksi) dan tindakan yang benar (ortopraksi). Apa yang kita percayai harus selaras dengan apa yang kita hidupi. Apa yang kita ucapkan sama pentingnya dengan bagaimana kita mengucapkannya.

Sebagian orang sukar diyakinkan oleh kebenaran, bukan karena kebenaran itu kurang rasional. Yang menjadi persoalannya seringkali adalah orang yang menyampaikannya. Adalah ironis apabila banyak orang yang sagat gigih memperjuangkan kebenaran ternyata adalah orang-orang yang hidupnya tidak diubahkan oleh kebenaran yang mereka perjuangkan.

Di mata Petrus, kesalehan memegang peranan cukup sentra. Allah bisa membawa seseorang kepada diri-Nya melalui kesalehan orang Kristen. Dia memerintahkan orang-orang Kristen untuk memiliki gaya hidup yang baik “supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka” (2:12b). Kepada para isteri yang bersuamikan orang non-Kristen, Petrus menasihati mereka untuk menunjukkan kesalehan dengan tujuan “supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu” (3:1b-2).

Sudahkah kamu memiliki pengharapan di dalam Kristus? Sudahkah kamu menunjukkan hal itu melalui kehidupan yang penuh semangat dan sukacita? Mampukah kamu memberikan alasan rasional bagi pengharapan itu? Maukah kamu membagikan hal itu kepada orang lain dengan sikap yang benar?

Soli Deo Gloria.

* * *

Tentang Penulis:
Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M adalah gembala di Reformed Exodus Community Surabaya. Tulisan ini sebelumnya sudah ditayangkan di sini.

Baca Juga:

Belajar Penginjilan dari Yesus (Pengajaran dari Yohanes 4:3-26)

Orang-orang Kristen tidak hanya dihidupkan oleh Injil dan dipanggil untuk menghidupi Injil, melainkan juga untuk hidup bagi Injil. Memberitakan Injil adalah salah satu wujud kehidupan yang dipersembahkan bagi Injil. Sayangnya, tidak semua orang Kristen bergairah dalam membagikan Injil.

Hidup untuk Rumah Kita yang Sejati

Hari ke-19 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 3:20–4:1

3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,

3:21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.

4:1 Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

Beberapa bulan lalu, aku membaca surat Filipi sampai selesai beberapa kali. Ada sebuah pesan yang menarik perhatianku. Paulus berulang kali mengingatkan bahwa kita diciptakan untuk kehidupan yang lain dan jangan sampai kita terperangkap dalam cara hidup dunia ini. Pesan tersebut tampak jelas dalam nas hari ini.

Lalu, bila kita ditentukan untuk sebuah kehidupan yang lain, bagaimana kita harus menjalani hidup? Paulus memberikan gambaran menarik.

Pertama, Paulus mengingatkan bahwa karena kewarganegaraan kita berada di surga, kita harus menganut nilai hidup yang berbeda. Sebelumnya, ia telah mengatakan bahwa kita tidak dihakimi berdasarkan perbuatan manusia, melainkan hanya berdasarkan Kristus dan karya-Nya di kayu salib bagi kita (3:3-9). Karena itu, kita tak lagi terbeban oleh masa lalu, tetapi mampu meraih apa yang ada di depan—garis akhir setelah menyelesaikan pertandingan iman dengan baik, dan bersatu dengan Dia suatu hari nanti (ayat 13-14).

Selanjutnya, Paulus juga mengatakan bahwa tubuh kita saat ini akan diubahkan menjadi tubuh kebangkitan yang mulia seperti Yesus (ayat 21). Tubuh duniawi kita bisa terserang penyakit, nyeri, dan terluka. Namun, mengingat bahwa Yesus telah mengalahkan maut, kita memiliki pengharapan bahwa kelak tubuh kita akan dikuduskan dan tak lagi menanggung dampak dosa (Filipi 3:18-29). Seperti Yesus mengalahkan kejahatan dan kerusakan dunia ini, demikian pula Dia akan memusnahkan segala yang buruk dalam diri kita.

Bagaimana kita bisa yakin akan hal itu? Paulus mengatakan bahwa Kristus akan mengubah tubuh jasmani kita menjadi tubuh kemuliaan dengan kuasa yang sama yang dipakai-Nya untuk menaklukkan segala sesuatu. Hidup dengan pola pikir surgawi berarti kita tidak membiarkan diri kita dikendalikan oleh cara pandang dan hawa nafsu dunia yang bobrok dan penuh keegoisan ini (Filipi 3:19). Sebaliknya, kita dapat berdiri dengan teguh dalam Tuhan (4:1) karena tahu bahwa Dia mengaruniakan kehendak untuk hidup kudus dan berkenan kepada-Nya (2:13).

Pesan itu tentu sangat menguatkan bagi jemaat Filipi yang tahu persis seperti apa rasanya hidup di dunia yang berdosa. Bagiku, sulit sekali menjaga fokus yang benar setiap saat. Sering kali, setelah makan malam aku bekerja sampai larut. Produktivitas memang baik, tetapi hal itu telah menjadi berhala bagiku. Aku pun sadar bahwa pikiranku terarah pada “perkara duniawi” (3:19), bukannya menerapkan cara pandang surgawi dalam setiap perbuatan. Jadi, pada minggu-minggu ini, aku akan mengganti kerja malam dengan lebih banyak berdoa.

Dengan berdoa tanpa terburu-buru dan ala kadarnya di tengah kesibukan, aku merasakan suasana doa baru yang sabar, tenang, dan “produktif”! Gaya doa seperti ini memengaruhi cara hidupku. Kalau sebelumnya aku lebih banyak dikendalikan oleh pencapaian, sekarang aku belajar untuk tinggal dalam hadirat-Nya dan mengizinkan firman-Nya berbicara serta mengarahkan hidupku. Mungkin itu hanya satu langkah kecil, tetapi perlahan aku mulai hidup dengan kewargaan surga.

Bila kamu juga merasa kesulitan melepaskan diri dari cara hidup dunia dan berfokus pada rumah yang sejati, pandanglah pengharapan surgawi yang telah Yesus janjikan. Saat kita menatap Dia, Dia akan menolong kita mengarahkan pandangan dan hidup untuk rumah kita yang sejati, selangkah demi selangkah.—Ross Boone, Amerika Serikat

Handlettering oleh Tora Tobing

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Ambillah waktu untuk memeriksa kehidupanmu. Sudahkah tindakan dan perilakumu membuktikan kewargaan surgawi?

2. Kristus akan menaklukkan segala sesuatu kelak. Bagaimana hal itu menguatkanmu untuk berdiri teguh dalam Tuhan (Filipi 4:1) dan mengharapkan-Nya mengubah tindakan dan perilakumu?

3. Dalam hal apa saja kamu bisa mewujudkan pengharapan surgawi dalam kehidupan sehari-hari?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Ross Boone, Amerika Serikat | Ross Boone menolong orang-orang Kristen yang sedang bergumul melalui kata-kata dan seni. Ross telah menulis 5 buku dan menjual hasil karya seninya secara online. Temukan Ross di RawSpoon.com

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Tidak Berubah

Minggu, 1 September 2019

Tidak Berubah

Baca: Mazmur 103:13-22

103:13 Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

103:14 Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.

103:15 Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga;

103:16 apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.

103:17 Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu,

103:18 bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.

103:19 TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu.

103:20 Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya.

103:21 Pujilah TUHAN, hai segala tentara-Nya, hai pejabat-pejabat-Nya yang melakukan kehendak-Nya.

103:22 Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. —Ibrani 13:8

Tidak Berubah

Saya dan istri, Cari, baru-baru ini bepergian ke Santa Barbara, California—kota tempat kami pertama kali bertemu dan jatuh cinta tiga puluh lima tahun lalu—untuk menghadiri reuni kampus. Kami berencana mengunjungi tempat-tempat kenangan yang dahulu suka kami datangi semasa muda. Namun, sewaktu kami sampai di tempat restoran Meksiko favorit kami, ternyata di sana sudah berdiri sebuah toko bahan bangunan. Selembar plakat besi tergantung di dinding toko untuk memperingati kehadiran restoran itu dan pelayanannya selama empat dekade di lingkungan tersebut.

Saya memandangi trotoar jalanan yang sepi dan tidak asing itu, yang dahulu dipenuhi meja dan payung warna-warni. Begitu banyak yang berubah di sekitar kita! Namun, di tengah segala perubahan itu, kesetiaan Allah tidak pernah berubah. Daud mengamati hal tersebut dengan pilu: “Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi. Tetapi kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu” (MZM. 103:15-17). Daud pun menutup mazmurnya dengan kata-kata ini: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” (ay.22)

Filsuf kuno Herakleitos berkata, “Kau takkan pernah bisa menginjakkan kaki ke sungai yang sama dua kali.” Kehidupan dan keadaan kita selalu berubah, tetapi Allah tetap sama dan selalu akan menggenapi janji-Nya! Kesetiaan dan kasih-Nya dapat diandalkan dari generasi ke generasi. —James Banks

WAWASAN
Dalam Mazmur 103, Daud memaparkan begitu banyak alasan untuk memuji Allah. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “memuji” memiliki arti “berlutut”—suatu tindakan penyembahan. Jadi, mazmur ini merupakan ajakan untuk beribadah yang lahir dari puji-pujian dalam hati Daud. Pada ayat 1-6, pemazmur mengingatkan dirinya agar jangan pernah melupakan segala hal indah yang sudah Allah perbuat baginya. Selanjutnya, ada panggilan beribadah yang ditujukan kepada bangsa Israel (ay.7-18). Daud mengagungkan pemeliharaan Bapa yang penuh kasih—bagaimana Dia menyatakan Diri-Nya kepada Musa dan membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Terakhir, malaikat-malaikat surgawi pun turut diajak memuliakan dan memuji satu-satunya Allah sejati. Daud kemudian menutup mazmur ini sama seperti kata-kata pembuka, yaitu dengan mengingatkan dirinya untuk memuliakan dan memuji Tuhan dari hatinya yang terdalam: “Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” (ay.22). —Bill Crowder

Apa yang menguatkan hatimu saat mengetahui bahwa Allah tidak pernah berubah? Kapan kepastian itu pernah menjadi penghiburan bagimu?

Terima kasih, ya Allah yang Mahakuasa dan kekal, karena Engkau tidak pernah berubah dan selalu dapat diandalkan. Tolonglah aku bergantung kepada kasih dan kesetiaan-Mu hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 135-136; 1 Korintus 12

Divonis Tumor Payudara, Pertolongan Tuhan Nyata Bagiku

Oleh Lidia, Jakarta

Pernahkah kamu menerima berita yang begitu mengejutkan dan itu sontak membuatmu sedih dan terpukul? Mungkin itu bisa berupa berita kehilangan orang yang kamu sayangi secara tiba-tiba, atau ketika kamu divonis memiliki penyakit yang tidak kamu sadari hingga kamu harus dioperasi.

Juli 2010, usiaku saat itu 20 tahun dan aku layaknya mahasiswa pada umumnya: pergi ke kampus, belajar, ujian, jalan-jalan dengan teman, juga mengerjakan skripsi. Hingga suatu hari, saat aku mandi, aku menyadari ada benjolan di dalam payudaraku. Benjolannya agak keras, tapi ukurannya kecil. Aku memberanikan diri menceritakan ini ke mamaku dan kakak perempuanku. Mamaku segera menyarankanku untuk cek ke dokter. Dalam hatiku, aku bingung dan sedih, mengapa aku harus mengalami ini? Pola hidupku cukup sehat, hampir tiap hari aku selalu makan makanan yang dimasak mamaku. Pun aku tidak pernah melakukan hal-hal yang mengancam kesehatanku. Air mataku menetes saat aku mendoakan hal ini pada Tuhan.

Kucoba mencari di Google, dokter tumor mana yang terkenal. Tapi kemudian aku mendapat rekomendasi seorang dokter rekan papaku. Dokter ini menyarankanku untuk dioperasi. Aku coba cari pendapat dokter lain dan sarannya tetap sama. Mamaku lalu mencari-cari informasi pengobatan lainnya. Ada satu rumah sakit di Tiongkok yang menggabungkan metode pengobatan ala Timur dan Barat. Rumah sakit ini punya kantor perwakilan di Jakarta dan kami pun mendatanginya. Dokter di sana lalu memegang benjolanku dan mengatakan hal yang sama: harus dioperasi. Sudah tiga dokter menyatakan operasi. Sejujurnya aku sangat takut karena aku belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.

Aku pernah mendengar rumor kurang baik tentang operasi di Indonesia. Orang yang memiliki rezeki lebih mungkin akan memilih ke luar negeri. Mamaku ingin membawaku ke Tiongkok, tapi dana kami terbatas. Belum lagi saat itu aku masih kuliah, pergi berobat ke luar negeri hanya akan menyusahkan papa mamaku.

Aku pun kalut dan sedih. Aku berdoa, belajar percaya dan memohon hikmat bahwa di mana pun aku harus menjalani operasi, tangan Tuhanlah yang menjadi hal utama dan tangan dokter adalah yang kedua. Aku memutuskan untuk dioperasi di Jakarta dan mencari-cari rumah sakit di mana aku bisa menggunakan fasilitas asuransi.

Puji Tuhan, operasi berjalan lancar dan hasilnya adalah jinak. Meski jumlahnya ada sekitar 5 tumor dan di hari kedua pasca operasi aku masih mengalami pendarahan, Tuhan menolongku melewatinya. Saat ini aku masih hidup untuk terus belajar menyelami kebaikan Tuhan dalam hidupku.

Mungkin ada teman-teman yang membaca kesaksian ini dan mengalami pergumulan yang sama, atau sedang bergumul dengan penyakit lain. Belajarlah untuk percaya dan lebih mengandalkan Tuhan dalam hal apapun, termasuk menghadapi operasi. Di mana pun kita menjalani operasi, baik di dalam atau luar negeri, aku percaya keputusan akhir tetap ada dalam tangan Tuhan. Doa dan kekuatan dari Tuhan jauh lebih menguatkan daripada mengandalkan dokter manusia yang paling hebat dan terkenal sekalipun. Jika kamu adalah seorang wanita, aku mendorongmu untuk menerapkan pola hidup sehat dan berinisiatiflah untuk melakukan pengecekan terhadap organ-organ vital tubuhmu. Mendeteksi penyakit sejak dini jauh lebih baik daripada mendapatinya sudah terlanjur akut.

Dan, dari pengalaman ini, aku belajar kalau hidup manusia sejatinya adalah sementara. “Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yakobus 4:14).

Dalam susah ataupun senang, sehat ataupun sakit, aku harus terus mengandalkan Tuhan dan dalam perkenanan-Nya, aku ingin terus dipakai untuk memuliakan nama-Nya.

Baca Juga:

Belajar dari Perbedaan Suku: Kasih Mengalahkan Prasangka

Aku pernah menghindar dan beranggapan buruk terhadap suku tertentu. Hingga suatu ketika, Tuhan mempertemukanku dengan seorang teman dari suku tersebut, yang darinya aku belajar tentang menjadi Indonesia sesungguhnya.

Mengoyakkan Selubung

Rabu, 12 Juni 2019

Mengoyakkan Selubung

Baca: Yesaya 25:1-9

25:1 Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.

25:2 Sebab Engkau telah membuat kota itu menjadi timbunan batu, dan kota yang berkubu itu menjadi reruntuhan; puri orang luar tidak lagi menjadi kota, dan tidak dibangunkan lagi untuk selama-lamanya.

25:3 Oleh karena itu suatu bangsa yang kuat akan memuliakan Engkau; kota bangsa-bangsa yang gagah akan takut kepada-Mu.

25:4 Sebab Engkau menjadi tempat pengungsian bagi orang lemah, tempat pengungsian bagi orang miskin dalam kesesakannya, perlindungan terhadap angin ribut, naungan terhadap panas terik, sebab amarah orang-orang yang gagah sombong itu seperti angin ribut di musim dingin,

25:5 seperti panas terik di tempat kering. Kegaduhan orang-orang luar Kaudiamkan; seperti panas terik ditiadakan oleh naungan awan, demikianlah nyanyian orang-orang yang gagah sombong ditiadakan.

25:6 TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya.

25:7 Dan di atas gunung ini TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa.

25:8 Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya.

25:9 Pada waktu itu orang akan berkata: “Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!”

Tuhan akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa. —Yesaya 25:7

Mengoyakkan Selubung

Mary Ann Franco pernah mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan ia buta total. “Semuanya gelap,” Franco menjelaskan. Dua puluh satu tahun kemudian, ia sempat jatuh dan tulang belakangnya cedera. Setelah terbangun dari operasi (yang tidak berhubungan dengan matanya), penglihatannya secara ajaib pulih kembali! Untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, Franco dapat melihat wajah anak perempuannya. Dokter bedah tidak mempunyai penjelasan ilmiah atas pulihnya penglihatan Franco. Kegelapan total yang seakan tidak pernah berakhir kini telah digantikan oleh terang dan keindahan.

Alkitab, dan pengalaman kita sendiri, menunjukkan adanya selubung kebodohan dan kejahatan yang menyelubungi dunia ini sehingga kita dibutakan dan tidak bisa melihat kasih Allah (Yes. 25:7). Segala tekanan yang datang dari egoisme, ketamakan, kesombongan, dan nafsu berkuasa telah menghalangi penglihatan kita, dan membuat kita tidak dapat melihat dengan jelas Allah yang “dengan kesetiaan yang teguh . . . telah melaksanakan rancangan-[Nya] yang ajaib” (ay.1).

Salah satu terjemahan Alkitab menyebut kain selubung ini sebagai “awan kesedihan” (BIS). Yang ada di sekitar kita hanyalah kegelapan, kebingungan, dan keputusasaan. Kita sering merasa terperangkap—meraba-raba, tersandung, dan tidak sanggup melihat jalan di depan. Syukurlah, Nabi Yesaya menjanjikan bahwa Allah akan “mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa” (ay.7).

Allah takkan meninggalkan kita tanpa pengharapan. Terang kasih-Nya mengoyakkan apa pun yang membutakan kita, sehingga kita akan dapat mengalami hidup dan anugerah yang berlimpah. —Winn Collier

WAWASAN
Salah satu realita hidup di dunia yang telah jatuh ini adalah kematian, aib, dan duka yang mendominasi pengalaman kita. Nubuat Yesaya memberikan menjawab keprihatinan tersebut dengan janji dari 25:8—Allah “akan meniadakan maut untuk seterusnya” dan “menghapuskan air mata dari pada segala muka.” Janji ini digemakan dalam kitab terakhir di Alkitab, “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Wahyu 21:4). —Bill Crowder

Di mana kamu merasakan kegelapan dalam duniamu? Bagaimana kamu membayangkan Yesus mengoyakkan kegelapan itu?

Ya Allah, kegelapan ada di mana-mana. Sulit sekali untuk melihat cahaya kebenaran dan kasih-Mu. Tolonglah aku yang tidak berdaya tanpa-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 3-5; Yohanes 20

Handlettering oleh Febronia

Kembali Berharap

Minggu, 14 April 2019

Kembali Berharap

Baca: Yohanes 5:1-8

5:1 Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.

5:2 Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya

5:3 dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.

5:4 Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.

5:5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.

5:6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”

5:7 Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”

5:8 Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ . . . berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” —Yohanes 5:6

Kembali Berharap

Apakah matahari terbit dari timur? Apakah langit berwarna biru? Apakah air laut asin? Apakah massa atom kobalt 58,9? Baiklah, pertanyaan terakhir itu mungkin hanya bisa Anda jawab apabila Anda penggemar sains atau pengetahuan umum, tetapi pertanyaan-pertanyaan lainnya memiliki jawaban yang sangat jelas: Ya. Bahkan, pertanyaan-pertanyaan seperti itu biasanya dilontarkan dengan nada sedikit sinis.

Jika tidak berhati-hati, kita bisa mengira Yesus sedang bersikap sinis dengan mengajukan pertanyaan kepada seorang lumpuh: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh. 5:6). Bagi sebagian dari kita, mungkin jawabannya seperti ini, “Yang benar saja?! Saya sudah menunggu-nunggu selama tiga puluh delapan tahun!” Namun, sebenarnya sama sekali tidak ada nada sinis dalam pertanyaan Yesus. Suara Yesus selalu penuh dengan belas kasihan, dan pertanyaan-pertanyaan-Nya selalu ditujukan untuk kebaikan kita.

Yesus tahu laki-laki itu ingin disembuhkan. Dia juga tahu bahwa mungkin sudah lama sekali tidak ada orang menunjukkan kepedulian kepadanya. Sebelum mengadakan mukjizat, Yesus bermaksud menghidupkan kembali harapan yang mungkin sudah lama mati dalam diri orang lumpuh itu. Caranya adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat jelas, dan kemudian memberinya kesempatan untuk merespons: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (ay.8). Sama seperti orang lumpuh itu, masing-masing dari kita menyimpan harapan yang sudah lama layu. Yesus melihat kita dan dengan penuh belas kasihan mengundang kita untuk kembali berharap serta percaya kepada-Nya. —John Blase

WAWASAN

Kota Yerusalem terletak sekitar 760 meter di atas permukaan laut, 53 km sebelah timur Laut Tengah, dan 22 km sebelah barat dari ujung utara Laut Mati. Seperti Roma, kota ini dibangun di atas perbukitan. Pintu Gerbang Domba yang disebutkan dalam Yohanes 5:2 adalah salah satu gerbang masuk ke Yerusalem zaman dahulu. Gerbang ini terletak di timur Gerbang Ikan dekat kolam Betesda dan tidak terlalu jauh dari Gerbang Santo Stefanus pada zaman modern. Pintu gerbang Domba inilah bagian dari tembok runtuh yang diperbaiki oleh “imam besar Elyasib dan para imam” di bawah pengawasan Nehemia (Nehemia 3:1; sekitar tahun 445 SM). Orang-orang lain bergotong royong membangun pintu gerbang Ikan, Lama, Lebak, Mata Air, Kuda, Timur, Pendaftaran, dan tembok-tembok penghubungnya (Nehemia 3:2-32). —Alyson Kieda

Dalam hal apa saja harapan Anda telah memudar? Apa yang pernah Yesus lakukan untuk menyatakan belas kasihan-Nya kepada Anda?

Tuhan Yesus, Engkau tahu betul ada bagian-bagian dalam hidupku yang di dalamnya harapanku telah pudar, layu, bahkan mati. Engkau juga tahu aku ingin kembali berharap. Kumohon, buatlah aku kembali bersukacita dalam pengharapan yang lahir karena aku mempercayai-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 25–26; Lukas 12:32-59

Background photo oleh: Ian Tan

Handlettering oleh Elizabeth Rachel Soetopo

Adakah Kau di Sana?

Sabtu, 13 April 2019

Adakah Kau di Sana?

Baca: Keluaran 3:11-14

3:11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”

3:12 Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.”

3:13 Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? —apakah yang harus kujawab kepada mereka?”

3:14 Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

Bukankah Aku akan menyertai engkau? —Keluaran 3:12

Adakah Kau di Sana?

Ketika istrinya tertular penyakit yang berpotensi menyebabkan kematian, Michael berharap istrinya mengalami damai sejahtera seperti yang ia alami lewat hubungan pribadinya dengan Allah. Ia sudah pernah menceritakan tentang imannya kepada sang istri, tetapi istrinya tidak tertarik. Suatu hari, ketika sedang berjalan melewati sebuah toko buku, ada judul buku menarik perhatiannya: Allah, Adakah Kau di Sana? Karena tidak yakin pada reaksi istrinya bila diberi buku tersebut, Michael beberapa kali keluar-masuk toko itu sebelum kemudian membelinya juga. Ia cukup terkejut ketika istrinya mau menerima buku tersebut.

Buku itu menyentuh hati sang istri, dan ia mulai membaca Alkitab juga. Dua minggu kemudian, istri Michael meninggal dunia—dalam damai bersama Allah dan beristirahat dengan tenang karena meyakini Allah tidak akan pernah meninggalkannya.

Ketika Allah memanggil Musa untuk memimpin umat-Nya keluar dari Mesir, Dia tidak menjanjikan kekuasaan kepada Musa. Akan tetapi, Dia menjanjikan kehadiran-Nya: “Aku akan menyertai engkau” (Kel. 3:12). Dalam pesan terakhir-Nya kepada para murid sebelum penyaliban, Yesus juga menjanjikan kehadiran Allah yang kekal, yang akan mereka terima melalui Roh Kudus (Yoh. 15:26).

Ada banyak hal yang dapat Allah berikan untuk menolong kita melewati berbagai tantangan hidup, seperti kenyamanan materi, kesembuhan, atau solusi cepat terhadap masalah-masalah kita. Kadang-kadang Dia melakukannya. Namun, anugerah terbesar yang Dia berikan adalah diri-Nya sendiri. Inilah penghiburan terbesar yang kita miliki: apa pun yang terjadi dalam hidup ini, Dia akan selalu menyertai kita dan tidak akan pernah meninggalkan kita. —Leslie Koh

WAWASAN

Kepastian penyertaan Allah bagi Musa dan umat Israel dinyatakan dengan kata Ibrani yang muncul empat kali dalam bacaan hari ini, yaitu hayah. Pada ayat 12, kata itu diterjemahkan menjadi, “Aku akan menyertai engkau.” Kata yang cukup kompleks ini juga merupakan nama pribadi Allah dalam perjanjian-Nya dengan Israel. Tiga kali kata ini diterjemahkan sebagai, “AKU ADALAH AKU” dalam ayat 14. Ketika dipakai sebagai kata benda penunjuk orang (nama), huruf-huruf penyusunnya dialihbahasakan menjadi “Yahweh”. Kata “TUHAN” yang ditulis dengan huruf kapital dalam berbagai versi terjemahan bahasa Indonesia juga berasal dari kata hayah, menyatakan keberadaan Allah yang kekal.
Yohanes 1:14 mencatat bahwa Firman Allah yang kekal “telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.” Juga dalam Injil Yohanes, Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah yang kekal melalui berbagai pernyataan “Akulah,” salah satunya yang paling gamblang, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (8:58). —Arthur Jackson

Bagaimana Anda dapat dikuatkan oleh kehadiran Allah? Bagaimana Anda menjalani hidup secara berbeda karena tahu bahwa Dia menyertai setiap langkah Anda?

Tuhan, terima kasih untuk janji indah bahwa Engkau akan selalu bersamaku. Di tengah krisis dan rutinitas kehidupan ini, izinkan aku belajar mengandalkan kehadiran-Mu, karena aku tahu Engkau berjalan bersamaku.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 22–24; Lukas 12:1-31

Handlettering oleh Tora Tobing