Berjalan bersama Orang Lain

Minggu, 26 Juni 2022

Baca: Roma 13:8-14

13:8 Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

13:9 Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!

13:10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

13:11 Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.

13:12 Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!

13:13 Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.

13:14 Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.

 

Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. —Roma 13:8

Billy, seekor anjing yang lucu dan setia, menjadi terkenal di dunia maya pada tahun 2020. Russell, pemiliknya, mengalami patah pergelangan kaki dan harus menggunakan kruk untuk berjalan. Tak lama kemudian Billy juga mulai berjalan terpincang-pincang setiap kali berjalan bersama pemiliknya. Karena prihatin, Russell membawa Billy ke dokter hewan, tetapi dokter berkata tidak ada masalah apa pun dengan anjing itu! Billy dapat berlari ketika sedang sendirian. Ternyata, anjing tersebut berpura-pura pincang saat berjalan dengan pemiliknya. Itulah gambaran kesungguhan untuk ikut merasakan penderitaan orang lain!

Berjalan bersama orang lain adalah salah satu instruksi terpenting yang diberikan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Ia menyimpulkan lima perintah terakhir dari Sepuluh Perintah Allah demikian: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Rm. 13:9). Kita juga dapat melihat pentingnya berjalan bersama orang lain di ayat 8: “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.”

Penulis Jenny Albers menasihati kita: “Ketika seseorang patah hati, jangan coba memperbaikinya. (Anda tidak bisa.) Ketika seseorang terluka, jangan berusaha menghilangkan rasa sakitnya. (Anda tidak bisa.) Sebaliknya, kasihilah mereka dengan berjalan bersama mereka saat mereka terluka. (Anda bisa.) Karena terkadang orang hanya ingin tahu bahwa mereka tidak berjalan sendirian.”

Karena Yesus, Juruselamat kita, berjalan bersama kita melewati segala luka dan derita kita, kita pun tahu apa artinya berjalan bersama orang lain. —ANNE CETAS

WAWASAN
Kita cenderung berpikir bahwa hukum bersifat membatasi, tetapi Paulus menggunakan pendekatan yang sepenuhnya positif dengan mengatakan, “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10). Jika kita benar-benar mengasihi sesama, kita tidak akan melakukan dosa yang ia catat di sini: berzinah, membunuh, mencuri, mengingini (ay.9). Mungkin yang paling menarik dari sejumlah larangan itu adalah betapa mudahnya kita mengabaikan dosa mengingini. Mengingini apa yang dimiliki orang lain dapat menjerumuskan kita kepada segala jenis pemikiran yang tidak didasarkan kasih. Jika tidak diwaspadai, pemikiran-pemikiran tersebut akan menghasilkan perbuatan yang jauh dari kasih. Secara khusus, dalam perikop ini Paulus menggaungkan apa yang dikatakan Yesus ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada-Nya, “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:36-37), dan menambahkan bahwa hukum terbesar kedua adalah “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ay.39). —Tim Gustafson

Berjalan bersama Orang Lain
 

Siapa yang membutuhkan pendampingan kamu minggu ini? Dengan cara apa Allah ingin kamu melakukannya?

Ya Allah, celikkanlah mataku untuk melihat kebutuhan orang-orang di sekitarku. Tolonglah aku menjadi teman yang penuh kasih.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 5-7; Kisah Para Rasul 8:1-25

Di Saat Kelam, Berdoalah!

Sabtu, 25 Juni 2022

Baca: Mazmur 143

143:1 Mazmur Daud. Ya TUHAN, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada permohonanku! Jawablah aku dalam kesetiaan-Mu, demi keadilan-Mu!

143:2 Janganlah beperkara dengan hamba-Mu ini, sebab di antara yang hidup tidak seorangpun yang benar di hadapan-Mu.

143:3 Sebab musuh telah mengejar aku dan mencampakkan nyawaku ke tanah, menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati.

143:4 Semangatku lemah lesu dalam diriku, hatiku tertegun dalam tubuhku.

143:5 Aku teringat kepada hari-hari dahulu kala, aku merenungkan segala pekerjaan-Mu, aku memikirkan perbuatan tangan-Mu.

143:6 Aku menadahkan tanganku kepada-Mu, jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus. Sela

143:7 Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku! Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku, sehingga aku seperti mereka yang turun ke liang kubur.

143:8 Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.

143:9 Lepaskanlah aku dari pada musuh-musuhku, ya TUHAN, pada-Mulah aku berteduh!

143:10 Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!

143:11 Hidupkanlah aku oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, keluarkanlah jiwaku dari dalam kesesakan demi keadilan-Mu!

143:12 Binasakanlah musuh-musuhku demi kasih setia-Mu, dan lenyapkanlah semua orang yang mendesak aku, sebab aku ini hamba-Mu!

 

Hidupkanlah aku oleh karena nama-Mu, ya Tuhan, keluarkanlah jiwaku dari dalam kesesakan demi keadilan-Mu! —Mazmur 143:11

“Saya pernah mengalami masa kelam.” Lima kata itu menggambarkan penderitaan batin seorang pesohor wanita selama pandemi COVID-19. Menyesuaikan diri dengan kenormalan yang baru adalah salah satu tantangan yang dihadapinya, dan di tengah pergumulannya itu, ia mengaku bergulat dengan niat bunuh diri. Namun, upayanya untuk keluar dari situasi yang menjerumuskan itu terbantu ketika ia menceritakan pergumulannya kepada seorang teman yang mempedulikannya.

Kita semua rentan terhadap masa-masa yang penuh gejolak. Kekelaman dan kesukaran hidup bukanlah hal yang asing bagi kita, tetapi butuh perjuangan keras untuk bisa keluar dari sana. Terkadang, kita perlu meminta bantuan dari para ahli dalam bidang kesehatan mental.

Dalam Mazmur 143, kita mendengar sekaligus belajar dari doa Daud yang dipanjatkan pada salah satu masa terkelam dalam hidupnya. Situasi pastinya tidak diketahui, tetapi doanya kepada Allah begitu jujur ??dan penuh harapan. “Sebab musuh telah mengejar aku dan mencampakkan nyawaku ke tanah, menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati. Semangatku lemah lesu dalam diriku, hatiku tertegun dalam tubuhku” (ay.3-4). Bagi orang percaya, tidaklah cukup hanya mengakui apa yang sedang terjadi dalam diri kita kepada diri sendiri, teman-teman, atau ahli medis. Kita harus sungguh-sungguh datang kepada Allah dengan sepenuh hati, dalam doa-doa yang mencakup permohonan yang tulus, seperti yang kita baca dalam Mazmur 143:7-10. Saat-saat kelam juga dapat menjadi waktu yang tepat untuk berdoa dengan sungguh-sungguh—memohonkan terang dan kehidupan yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri. —ARTHUR JACKSON

WAWASAN
Sejumlah ahli Alkitab terkemuka berteori bahwa Mazmur 143 ditulis ketika Daud melarikan diri dari kejaran anaknya, Absalom, yang memberontak dan berusaha keras merebut takhta sang ayah. Bagaimanapun keadaannya, jelas dari mazmur tersebut Daud merasa sangat terancam oleh musuh yang mematikan (ay.3,7,9). Menariknya, Daud memohon kepada Allah: “Binasakanlah musuh-musuhku” (ay.12). Apa yang mereka katakan tentang Daud? Jika memang benar orang Israel, saudara sebangsa Daud, yang berusaha memeranginya, mereka tentu ingat dosa-dosanya yang banyak, dan salah satunya pasti perzinaan yang terang-terangan dengan Batsyeba. Dosa-dosa itu menjadi makanan empuk bagi gosip jahat dan motivasi untuk bersekongkol menggulingkan sang raja. Kita pun bisa memahami perkataan Daud ini, “Janganlah beperkara dengan hamba-Mu ini, sebab di antara yang hidup tidak seorangpun yang benar di hadapan-Mu” (ay.2). —Tim Gustafson

Di Saat Kelam, Berdoalah!
 

Dalam masa-masa terkelam di hidup kamu, bagaimana respons kamu biasanya? Mengapa terasa sulit untuk jujur mengutarakan pergumulan kamu?

Ya Bapa, perbaruilah kekuatan dan pengharapanku di dalam Engkau. Ketika saat-saat kelam menerjang hidupku dan membuatku tertekan, mampukanlah aku untuk datang kepada-Mu di dalam doa.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 3-4; Kisah Para Rasul 7:44-60

Di Balik Salib

Jumat, 24 Juni 2022

Baca: 1 Korintus 1:18-25

1:18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

1:19 Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.”

1:20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?

1:21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.

1:22 Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,

1:23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,

1:24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

1:25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

 

Pemberitaan tentang salib memang adalah . . . kekuatan Allah. —1 Korintus 1:18

Pada pertengahan abad ke-20, di wilayah India tengah pernah terjadi ketegangan antara orang-orang non-Kristen dan umat Kristen. Seorang pemuda disuruh memanjat gedung setinggi tiga tingkat dan mencabut salib dari atapnya. Namun, bukan saja tidak berhasil, ia juga terjatuh dari atap ke jalan di bawahnya dan terluka parah. Ketika dibawa ke rumah sakit, ia ditempatkan di sebuah kasur lipat bersebelahan dengan seorang pasien Kristen.

Ketika orang percaya itu menjelaskan arti salib dan apa yang telah diperbuat Yesus untuknya di atas kayu salib, hati pemuda yang terluka tadi tersentuh. Ia pun berteriak, “Tuhan Yesus! Ampuni aku! Aku tidak bermaksud melakukannya. Mereka memaksaku.”

Apa pun yang coba dilakukan orang-orang untuk menghilangkan lambang-lambang iman Kristen, kita tahu bahwa mereka takkan mampu menghentikan pesan Injil. Paulus berkata, “Pemberitaan tentang salib memang adalah . . . kekuatan Allah” (1kor. 1:18). Yesus berkata bahwa alam maut pun tidak akan sanggup mengalahkan gereja (mat. 16:18).

Salib memang melambangkan iman Kristen. Namun, pelambangan itu tidak mempunyai arti bagi seseorang yang tidak memahami karya Kristus di atas kayu salib. Dia mati di sana untuk menyediakan pengampunan (kol. 2:13-14), bukan untuk menciptakan sebuah lambang.

Sudahkah kamu melihat di balik lambang salib itu dan percaya kepada Anak Allah yang mati di sana? Jika belum, lakukanlah sekarang! —Dave Branon

WAWASAN
Konon penyaliban dirancang pada abad ke-6 SM dan dipakai sebagai hukuman dan pencegahan kejahatan sebelum Kaisar Romawi, Konstantinus, melarang penyaliban di abad ke-4 M. Pada zaman Paulus, penyaliban dianggap hukuman paling keji yang dijatuhkan Romawi, yang saking kejinya sehingga tidak pernah dibicarakan di depan umum. Oleh karena itu, gagasan bahwa Mesias mati di atas kayu salib dianggap sangat lancang atau tidak masuk akal bagi kebanyakan orang. Namun, Paulus membagi dunia ke dalam dua kelompok: mereka yang menganggap salib sebagai “kebodohan” dan mereka yang melihatnya sebagai “kekuatan Allah” (1 Korintus 1:18). Apa isi “pemberitaan tentang salib”? Yesus, yang tidak berdosa, rela dihukum salib untuk kejahatan yang tidak diperbuat-Nya demi membayar harga penebusan dosa-dosa kita, dan kemudian Dia bangkit dari kematian. Semua orang yang berpaling kepada-Nya dengan menyesali kesalahan-kesalahan mereka akan hidup dalam kekekalan bersama-Nya. Itulah “kekuatan Allah”! —Alyson Kieda

Di Balik Salib
 

Apa makna pesan salib Kristus bagi kamu? Bagaimana pengampunan yang diberikan Tuhan Yesus sanggup mengubah hidup kamu selamanya?

Tuhan Yesus, terima kasih karena melalui salib aku dapat berjumpa dengan-Mu. Tak terbayangkan apa jadinya hidupku tanpa-Mu!

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 1-2; Kisah Para Rasul 7:22-43

Tindakan Drastis

Kamis, 23 Juni 2022

Baca: 2 Raja-raja 23:3-7

23:3 Sesudah itu berdirilah raja dekat tiang dan diadakannyalah perjanjian di hadapan TUHAN untuk hidup dengan mengikuti TUHAN, dan tetap menuruti perintah-perintah-Nya, peraturan-peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan untuk menepati perkataan perjanjian yang tertulis dalam kitab itu. Dan seluruh rakyat turut mendukung perjanjian itu.

23:4 Raja memberi perintah kepada imam besar Hilkia dan kepada para imam tingkat dua dan kepada para penjaga pintu untuk mengeluarkan dari bait TUHAN segala perkakas yang telah dibuat untuk Baal dan Asyera dan untuk segala tentara langit, lalu dibakarnyalah semuanya itu di luar kota Yerusalem di padang-padang Kidron, dan diangkutnyalah abunya ke Betel.

23:5 Ia memberhentikan para imam dewa asing yang telah diangkat oleh raja-raja Yehuda untuk membakar korban di bukit pengorbanan di kota-kota Yehuda dan di sekitar Yerusalem, juga orang-orang yang membakar korban untuk Baal, untuk dewa matahari, untuk dewa bulan, untuk rasi-rasi bintang dan untuk segenap tentara langit.

23:6 Dibawanyalah tiang-tiang berhala dari rumah TUHAN ke luar kota Yerusalem, ke sungai Kidron, lalu dibakarnya di situ dan ditumbuknya halus-halus menjadi abu, kemudian dicampakkannyalah abunya ke atas kuburan rakyat jelata.

23:7 Ia merobohkan petak-petak pelacuran bakti yang ada di rumah TUHAN, tempat orang-orang perempuan bertenun sarung untuk Asyera.

Raja . . . [mengadakan] perjanjian di hadapan Tuhan untuk hidup dengan mengikuti Tuhan, dan tetap menuruti perintah-perintah-Nya. —2 Raja-raja 23:3

Sebuah hiasan busur dan tempat anak panah telah bertahun-tahun tergantung pada dinding rumah kami di Michigan. Ayah saya, yang mendapatkannya sebagai kenang-kenangan ketika kami melayani sebagai misionaris di Ghana, mewariskannya kepada saya.

Suatu hari seorang teman dari Ghana datang berkunjung. Melihat hiasan itu, raut wajahnya langsung berubah. Sambil menunjuk benda kecil yang terikat pada hiasan itu, ia berkata, “Itu jimat—benda sihir. Saya tahu benda ini tidak memiliki kekuatan, tetapi saya tidak akan menyimpannya di rumah saya.” Kami pun cepat-cepat melepaskan jimat itu dan membuangnya. Kami tidak ingin di rumah kami ada benda yang digunakan untuk menyembah sesuatu selain Allah.

Yosia, raja Yehuda, tumbuh besar tanpa banyak mengetahui tentang harapan Allah bagi umat-Nya. Ketika imam besar menemukan kembali kitab Taurat di rumah Tuhan yang sudah lama rusak (2Raj. 22:8), Yosia ingin mendengar isinya. Segera setelah memahami tentang penyembahan berhala yang dibenci Allah, Yosia memerintahkan perubahan besar-besaran untuk membawa bangsa Yehuda kembali mematuhi hukum Allah. Perubahan ini jauh lebih drastis daripada sekadar memotong jimat dari busur (lihat 2Raj. 23:3-7).

Orang percaya masa kini punya jauh lebih banyak daripada yang dimiliki Raja Yosia. Kita memiliki seluruh Alkitab untuk mengajar kita, memiliki saudara-saudari seiman, dan memiliki pemenuhan dari Roh Kudus, yang memperjelas segala sesuatu yang mungkin terlewatkan oleh kita. —Tim Gustafson

WAWASAN
Salah satu tindakan pembaruan janji yang ditempuh Raja Yosia dalam 2 Raja-Raja 23:3-7 adalah pembersihan rumah, yaitu “[dikeluarkannya] dari bait TUHAN segala perkakas yang telah dibuat untuk Baal dan Asyera” (ay.4). Baal (yang berarti “pemilik, tuan”) adalah dewa paling utama di antara dewa-dewa orang Kanaan. Sebagai dewa kehidupan dan kesuburan, Baal dipercaya dapat mengendalikan curah hujan dan hasil panen. Asyera adalah kawan wanita Baal. Tergantung konteksnya, terkadang kata Asyera (diterjemahkan sebagai “patung hutan” dalam Alkitab Terjemahan Lama) dapat mengacu kepada dewi itu sendiri (2 Raja-Raja 21:7) atau benda-benda sesembahan yang dikaitkan dengan sang dewi (1 Raja-Raja 14:23). Segala sesuatu yang merampas kekuasaan Allah dalam hidup kita adalah berhala yang harus dimusnahkan. —Arthur Jackson

Tindakan Drastis

Pernahkah seorang saudara seiman dengan bijaksana mengingatkan kamu untuk berubah ke arah yang lebih baik? Hal apa saja dalam hidup kamu yang mungkin tidak berkenan kepada Allah?

Bapa Surgawi, oleh karya Roh Kudus, tolonglah aku untuk menjauhi segala sesuatu yang melukai hati-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ester 9-10; Kisah Para Rasul 7:1-21

Kelebihan Mencukupkan Kekurangan

Rabu, 22 Juni 2022

Baca: 2 Korintus 8:13-15

8:13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.

8:14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.

8:15 Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.”

 

Hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka. —2 Korintus 8:14

Kantin sekolah, seperti bisnis katering besar lainnya, sering kali menyediakan lebih banyak makanan daripada yang dikonsumsi. Hal ini karena mereka tak dapat memperkirakan dengan tepat jumlah yang dibutuhkan. Alhasil, sisa makanan jadi mubazir, sementara ada banyak siswa yang kekurangan makanan di rumah mereka dan kelaparan pada akhir pekan. Sebuah distrik sekolah di Amerika Serikat bekerja sama dengan lembaga nirlaba setempat untuk menemukan solusi bagi masalah ini. Mereka membungkus sisa makanan dari kantin dan membagi-bagikannya kepada para murid. Dengan demikian, mereka mengatasi masalah sisa makanan yang mubazir sekaligus masalah kelaparan para murid.

Meski umumnya orang tidak menganggap kelebihan uang sebagai masalah seperti halnya kelebihan makanan, prinsip di balik proyek sekolah tadi sama dengan apa yang disarankan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Sang rasul tahu gereja-gereja di Makedonia sedang berada dalam kesulitan, jadi ia meminta jemaat Korintus agar menggunakan “kelebihan” mereka untuk “mencukupkan kekurangan” gereja-gereja di Makedonia (2Kor. 8:14). Paulus hendak menghadirkan kesetaraan di antara gereja-gereja, supaya tidak ada yang berkelebihan sementara yang lain menderita.

Keinginan Paulus bukanlah agar jemaat Korintus dimiskinkan karena pemberian itu, melainkan agar mereka memiliki empati dan kemurahan hati kepada jemaat di Makedonia, sambil menyadari bahwa ada saatnya nanti, mereka juga membutuhkan pertolongan serupa. Ketika melihat orang lain yang membutuhkan, pikirkanlah apakah kita memiliki sesuatu yang dapat kita bagikan. Pemberian kita—besar atau kecil—tidak akan pernah sia-sia! —Kirsten Holmberg

WAWASAN
Salah satu tema 2 Korintus adalah paradoks dari kasih karunia dan kuasa Allah yang diungkapkan lewat kerentanan dan pergumulan manusia. Hanya dengan melalui kematian kita dapat mengalami hidup dalam kebangkitan Kristus. Paulus menjelaskan, “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2 Korintus 4:7-10). Dalam 2 Korintus 8, kita melihat jemaat Makedonia yang menjadi contoh paradoks tersebut. Meski mengalami penderitaan dan kemiskinan berat, mereka digerakkan dan dimampukan untuk memberi dengan kemurahan hati yang sangat besar (ay.2-3). Dengan berbuat demikian, mereka mengikuti teladan Yesus, yang “oleh karena kemiskinan-Nya” telah menjadikan mereka kaya (ay.9). —Monica La Rose

Kelebihan Mencukupkan Kekurangan
 

Bagaimana Allah telah memenuhi kebutuhan kamu melalui seseorang atau suatu kelompok? Bagaimana kamu dapat menawarkan kebaikan serupa kepada yang lain?

Bapa Surgawi, tolonglah aku menyadari kebutuhan orang lain supaya aku dapat membagikan apa yang telah Engkau berikan kepadaku. Pada saat aku membutuhkan, berilah aku keyakinan bahwa Engkau akan mencukupkanku melalui orang-orang yang mengasihi-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ester 6-8; Kisah Para Rasul 6

Allah Membela Kita

Selasa, 21 Juni 2022

Baca: Mazmur 91:1-10

91:1 Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa

91:2 akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

91:3 Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.

91:4 Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.

91:5 Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang,

91:6 terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.

91:7 Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.

91:8 Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik.

91:9 Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu,

91:10 malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu;

 

Dengan kepak-Nya [Allah] akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. —Mazmur 91:4

Seorang ibu di Colorado membuktikan bahwa ia akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya. Suatu ketika ia mendengar putranya yang berusia lima tahun menjerit saat sedang bermain di luar. Sang ibu yang segera berlari keluar itu sangat kaget melihat “teman main” anaknya yang tak disangka-sangka—seekor singa gunung. Singa besar tersebut menindih anaknya, dan kepala si anak berada dalam mulutnya. Dengan mengerahkan segenap keberanian dalam dirinya untuk melawan si singa, ibu itu lalu membuka paksa mulut hewan tersebut demi menyelamatkan putranya. Aksi heroiknya mengingatkan kita bagaimana sosok ibu digunakan dalam Alkitab untuk menggambarkan kegigihan kasih Allah dalam membela dan melindungi anak-anak-Nya.

Dengan lembut, Allah memelihara dan menghibur umat-Nya seperti induk rajawali merawat anak-anaknya (Ul. 32:10-11; Yes. 66:13). Juga, seperti seorang ibu yang takkan pernah melupakan anaknya karena ikatan kasih yang tak terpisahkan di antara mereka, Allah tidak akan pernah melupakan umat-Nya dan tidak akan menahan belas kasih-Nya dari mereka untuk selamanya (Yes. 54:7-8). Seperti seekor induk burung melindungi bayi-bayinya di bawah sayapnya, “dengan kepak-Nya” Allah akan “menudungi [umat-Nya]” dan “kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok” bagi mereka (Mzm. 91:4).

Kadang kita merasa sendiri, terlupakan, dan terjebak dalam cengkeraman berbagai predator rohani. Kiranya Allah menolong kita untuk mengingat bahwa Dia sungguh mempedulikan, melindungi, dan membela kita.  —Marvin Williams

WAWASAN
Mazmur 91 merayakan keamanan dan kemantapan yang dimiliki orang-orang yang mengandalkan serta mengasihi Tuhan (Yahweh) Allah mereka (ay.2,14). Pemazmur menyebutkan berbagai bahaya dalam kehidupan, dari jerat yang tersembunyi dan penyakit yang mematikan (ay.3) sampai hal-hal yang tidak terduga, serangan fisik, dan bencana (ay.5-6). Mazmur ini tidak menjanjikan kekebalan dari bahaya-bahaya seperti itu, tetapi keamanan dan kemantapan dalam menghadapi semua itu. Orang-orang saleh tidak perlu takut karena Allah adalah tempat perlindungan, penyelamat, kekuatan, dan perteduhan mereka. Berbagai metafora digunakan untuk menggambarkan perlindungan yang Allah sediakan: “lindungan Yang Mahatinggi” dan “naungan Yang Mahakuasa” (ay.1), “tempat perlindungan” dan “kubu pertahanan” (ay.2), “perisai dan pagar tembok” (ay.4), dan “tempat perteduhan” (ay.9). Iblis mengutip ayat 11-12 keluar dari konteksnya guna menggoda Yesus untuk menguji janji-janji Allah, dengan meminta-Nya menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah (Matius 4:6). Dengan mengutip Ulangan 6:16, Yesus memperingatkan bahwa menuntut perlindungan Allah untuk membuktikan pemeliharaan Allah adalah tindakan yang salah (Matius 4:7). —K.T. Sim

Allah Membela Kita
 

Bagaimana kamu melihat gambaran Allah sebagai orangtua itu tergambar nyata dalam hidup kamu? Dalam hal apa saja kamu mengalami pemeliharaan, penghiburan, dan perlindungan-Nya?

Bapa Surgawi, bagai bayi burung berlindung di bawah sayap induknya, izinkanlah aku berlindung di bawah perisai kesetiaan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ester 3-5; Kisah Para Rasul 5:22-42

Kasih yang Dapat Dipercaya

Senin, 20 Juni 2022

Baca: Roma 12:9-21

12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.

12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!

12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!

12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. —Roma 13:10

Mengapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya? Emosi saya bercampur aduk antara sedih, merasa bersalah, marah, dan bingung.

Bertahun-tahun lalu, saya mengambil keputusan pahit untuk memutuskan hubungan dengan seseorang yang sangat dekat. Sebelumnya, sudah berulang kali saya mencoba menegur sikapnya yang sangat menyakitkan, tetapi tidak digubris bahkan disangkal olehnya. Hari ini, ketika mendengar dirinya sedang berada di kota tempat tinggal saya, pikiran saya pun bolak-balik kembali ke masa lalu.

Saat berjuang untuk menenangkan pikiran, saya mendengar sebuah lagu di radio. Lagu tersebut bukan hanya menggambarkan pedihnya pengkhianatan, melainkan juga kerinduan agar pelaku pengkhianatan tersebut mengalami perubahan dan pemulihan. Air mata saya menggenang saat menyelami balada pilu yang menyuarakan kerinduan hati saya yang terdalam itu.

“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura!” tulis Rasul Paulus di Roma 12:9, suatu pengingat bahwa tidak semua orang menunjukkan kasih yang tulus. Meski demikian, kerinduan kita yang terdalam adalah untuk mengalami kasih sejati—kasih yang tidak egois atau manipulatif, melainkan welas asih dan rela memberi diri. Kasih seperti itu tidak didorong oleh ketakutan dan dikuasai oleh nafsu ingin mengendalikan, melainkan oleh komitmen dan kesenangan untuk mendahulukan kesejahteraan satu sama lain (ay.10-13).

Itulah kabar baik, atau Injil. Berkat Tuhan Yesus, akhirnya kita dapat mengenal dan membagikan kasih yang dapat kita percayai—kasih yang tidak akan berbuat jahat (13:10). Hidup dalam kasih-Nya adalah kebebasan sejati. —Monica La Rose

WAWASAN
Agar dapat dipercaya, kasih haruslah tulus ikhlas. Kata yang diterjemahkan sebagai “jangan pura-pura” di Roma 12:9 (“ikhlas” dalam versi BIS) adalah anypokritos dalam bahasa Yunani, dengan imbuhan awal yang menegasikan akar katanya, hypokrisis, yang berarti “munafik.” Ketika dipadukan, kita mendapat istilah “tidak munafik” atau “ikhlas.” Ketika anypokritos menerangkan kata kasih, kita melihat kasih tanpa topeng, tanpa kepura-puraan atau maksud terselubung; kasih yang sesungguhnya. Di 2 Korintus 6:6, kata itu menerangkan suatu kasih yang terlihat di antara para pelayan sejati Kristus: “kasih yang tidak munafik.” Namun, kasih bukanlah satu-satunya kebajikan yang diterangkan oleh kata itu. Di 1 Timotius 1:5 dan 2 Timotius 1:5, kata tersebut menerangkan “iman”, yaitu iman yang menjadi ciri orang percaya yang setia kepada Yesus; “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu” (2 Timotius 1:5). —Arthur Jackson

Kasih yang Dapat Dipercaya

Pernahkah kamu mengalami atau melihat perbedaan antara kasih yang tulus dan kasih yang egois? Bagaimana komunitas orang percaya membantu kita belajar mengasihi sesama sepenuh hati?

Allah Mahakasih, tolonglah aku belajar membedakan kasih yang tulus dengan yang palsu. Mampukan juga diriku membagikan kasih Kristus kepada sesamaku.

Bacaan Alkitab Setahun: Ester 1-2; Kisah Para Rasul 5:1-21

Bukan Lagi Seorang Yatim

Minggu, 19 Juni 2022

Baca: Mazmur 68:2-11

68:2 (68-3) Seperti asap hilang tertiup, seperti lilin meleleh di depan api, demikianlah orang-orang fasik binasa di hadapan Allah.

68:3 (68-4) Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.

68:4 (68-5) Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya ialah TUHAN; beria-rialah di hadapan-Nya!

68:5 (68-6) Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus;

68:6 (68-7) Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia, tetapi pemberontak-pemberontak tinggal di tanah yang gundul.

68:7 (68-8) Ya Allah, ketika Engkau maju berperang di depan umat-Mu, ketika Engkau melangkah di padang belantara, Sela

68:8 (68-9) bergoncanglah bumi, bahkan langit mencurahkan hujan di hadapan Allah; Sinai bergoyang di hadapan Allah, Allah Israel.

68:9 (68-10) Hujan yang melimpah Engkau siramkan, ya Allah; Engkau memulihkan tanah milik-Mu yang gersang,

68:10 (68-11) sehingga kawanan hewan-Mu menetap di sana; dalam kebaikan-Mu Engkau memenuhi kebutuhan orang yang tertindas, ya Allah.

68:11 (68-12) Tuhan menyampaikan sabda; orang-orang yang membawa kabar baik itu merupakan tentara yang besar:

 

Bapa bagi anak yatim . . . itulah Allah. —Mazmur 68:6

Guy Bryant hidup melajang dan tidak memiliki anak kandung. Ia bekerja di dinas kesejahteraan anak-anak kota New York. Karena setiap hari ia menghadapi besarnya kebutuhan akan orangtua asuh, Bryant pun memutuskan untuk melakukan sesuatu. Selama lebih dari satu dekade, Bryant mengasuh lebih dari lima puluh anak, bahkan pernah mengasuh sembilan anak pada saat bersamaan. “Selalu saja ada anak yang membutuhkan tempat tinggal,” Bryant menjelaskan. “Saya pikir, karena saya memiliki tempat di rumah dan hati saya bagi mereka, jadi saya melangkah saja tanpa pikir panjang.” Sampai sekarang, anak-anak asuh Bryant yang telah dewasa dan mandiri masih menyimpan kunci apartemennya dan sering berkunjung pada hari Minggu untuk makan siang bersama orang yang mereka juluki “Pops” itu. Bryant telah menunjukkan kasih seorang ayah kepada banyak orang.

Kitab Suci menyatakan bahwa Allah mencari orang-orang yang terlupakan dan terpinggirkan. Meski sebagian orang percaya mungkin jatuh miskin dan mengalami kesepian dalam hidup mereka, Dia berjanji untuk selalu menyertai mereka. Allah adalah “Bapa bagi anak yatim” (Mzm. 68:6). Jika kita menjadi sebatang kara, entah karena pengabaian atau tragedi, Allah tetap hadir—meraih kita, menarik kita kepada-Nya, dan memberi kita pengharapan. “Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara” (ay.7). Dalam Yesus, kita menjadi anggota keluarga rohani bersama saudara-saudari seiman yang lain.

Apa pun pergumulan keluarga, pengucilan, pengabaian, atau disfungsi dalam hubungan yang kita alami, kita dapat yakin bahwa kita sungguh dikasihi. Bersama Allah, kita bukan lagi seorang yatim. —Winn Collier

WAWASAN
Sekitar empat puluh kali kata bahasa Ibrani yathom (dari akar kata yang berarti “kesepian”) diterjemahkan sebagai “anak yatim,” seperti di Mazmur 68:6. Meski dilupakan oleh orang, anak-anak yatim dan para janda tidak dilupakan oleh Allah. Tanggung jawab sosial umat Allah termasuk kesadaran untuk mengurus mereka. Dalam Kitab Suci hal itu pertama kali secara jelas dinyatakan dalam Keluaran 22:22-23: “Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas. Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring.” Kata-kata Yakobus di Perjanjian Baru juga mengungkapkan perhatian Allah bagi mereka: “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka” (Yakobus 1:27). Umat Allah harus menjadi alat Allah untuk memperhatikan dan memelihara mereka yang terpinggirkan. —Arthur Jackson

Bukan Lagi Seorang Yatim
 

Apa artinya memiliki Bapa Surgawi yang mengasihi kamu dan tidak akan pernah meninggalkan kamu? Bagaimana Dia telah menjawab kebutuhan kamu yang terdalam?

Allah Bapa, aku membutuhkan ayah yang baik, bapa yang sejati, yang tidak akan meninggalkanku. Aku percaya Engkaulah bapa itu bagiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 12-13; Kisah Para Rasul 4:23-37

Bagaimana Keadaanmu?

Sabtu, 18 Juni 2022

Baca: Lukas 23:32-43

23:32 Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia.

23:33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.

23:34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.

23:35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.”

23:36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya

23:37 dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!”

23:38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi”.

23:39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

23:40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?

23:41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

23:42 Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

23:43 Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

 

Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. —Lukas 23:34

Sisa hidup Charla tidak lama lagi, dan ia menyadarinya. Suatu kali, saat Charla terbaring di rumah sakit, dokter bedah dan para dokter magang masuk ke kamarnya. Selama beberapa menit, si dokter mengabaikan Charla ketika menerangkan kondisinya yang sudah tidak tersembuhkan itu kepada para dokter magang. Akhirnya, ia menoleh ke Charla dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Charla tersenyum lemah, lalu dengan hangat bercerita tentang harapan dan kedamaiannya di dalam Yesus.

Sekitar dua ribu tahun lalu, tubuh Yesus yang telanjang dan penuh luka tergantung hina di atas kayu salib di depan orang banyak. Marahkah Dia kepada orang-orang yang telah menyiksa-Nya? Tidak. “Yesus berkata, ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’” (Luk. 23:34). Meski dihukum secara tidak adil dan disalibkan, Yesus tetap mendoakan musuh-musuh-Nya. Kemudian, Yesus menyatakan kepada salah seorang penjahat yang juga tersalib bahwa ia akan segera bersama-Nya “di dalam Firdaus” karena imannya (ay.43). Di tengah rasa sakit dan malu, Yesus memilih untuk membagikan kata-kata yang membawa pengharapan dan kehidupan karena kasih-Nya kepada orang lain.

Setelah Charla selesai bercerita tentang Kristus, ia balas bertanya kepada dokternya. Ia menatap lembut mata sang dokter yang berkaca-kaca, dan bertanya, “Bagaimana keadaan dokter sendiri?” Oleh kasih karunia dan kuasa Kristus, Charla telah membagikan kata-kata yang membawa kehidupan, dengan menunjukkan kasih dan kepedulian kepada sang dokter dan orang-orang yang hadir di kamarnya. Dalam situasi seberat apa pun yang kita hadapi hari ini maupun di hari esok, percayalah Allah akan memberikan keberanian untuk membagikan kata-kata pembawa kehidupan dengan penuh kasih. —Tom Felten

WAWASAN
Pada abad pertama, seorang laki-laki Yahudi pada umumnya mengenakan 5 potong sandang—alas kaki, sorban, ikat pinggang, kain pinggang, dan jubah luar. Setelah menyalibkan Yesus, para prajurit membagi-bagi pakaian-Nya sebagai upah karena telah melakukan tugas mereka (Lukas 23:34). Setelah setiap orang mengambil bagian pakaiannya, masih tersisa satu, yaitu jubah. Hal itu menyiratkan bahwa kain pinggang Yesus pun diambil, dan dengan demikian terenggut pula harkat manusiawi-Nya. Dalam penggenapan nyanyian Daud mengenai Sang Juruselamat, mereka melucuti Yesus sampai telanjang, lalu mengundi jubah-Nya. Demikian dituliskan Daud dalam Mazmur 22:18-19, yang menubuatkan terjadinya penyaliban, sekitar enam ratus tahun sebelum hukuman tersebut diciptakan manusia. —Bill Crowder

Bagaimana Keadaanmu?
 

Kesulitan dan kelemahan apa yang kamu hadapi akhir-akhir ini? Bagaimana kamu dapat bersandar kepada Yesus dalam masa-masa sulit tersebut?

Tuhan Yesus, aku memuji-Mu atas teladan kasih dan kerendahan hati-Mu. Tolonglah aku mencerminkan sifat-sifat-Mu dalam tutur kataku.

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 10-11; Kisah Para Rasul 4:1-22