Pengertian dari Roh Kudus

Minggu, 17 Oktober 2021

Baca: Yohanes 16:12-15

16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.

16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

16:14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.

16:15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”

Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran. —Yohanes 16:13

Ketika seorang tentara Prancis membuat galian di padang gurun untuk memperkuat pertahanan kamp pasukannya, ia sama sekali tidak mengira bakal menemukan sebuah benda yang sangat penting. Ia melihat sebuah batu saat menggali pasir dengan sekop. Ternyata, itu bukan batu biasa. Itulah Batu Rosetta, sebuah prasasti yang memuat hukum dan maklumat Raja Ptolemaios V yang tertulis dalam tiga bahasa. Prasasti tersebut, yang sekarang disimpan di British Museum, menjadi salah satu temuan purbakala terpenting pada abad ke-19. Temuan ini membantu memecahkan misteri tulisan kuno Mesir yang dikenal dengan nama hieroglif.

Bagi banyak dari kita, sebagian besar isi Alkitab juga masih merupakan rahasia yang belum terpecahkan. Meski demikian, pada malam sebelum penyaliban, Yesus berjanji kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan mengutus Roh Kudus. Kata-Nya kepada mereka: “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh. 16:13). Roh Kudus, yang bisa diumpamakan seperti Batu Rosetta ilahi, membuat kita mengerti tentang kebenaran—termasuk kebenaran di balik rahasia-rahasia dalam Alkitab.

Meskipun kita tidak dijanjikan akan bisa memahami secara mutlak semua yang diberikan kepada kita di dalam Kitab Suci, kita boleh meyakini, oleh pertolongan Roh Kudus, kita dapat memahami segala sesuatu yang kita butuhkan untuk mengikut Yesus. Dia akan memimpin kita kepada kebenaran-kebenaran yang penting tersebut. —Bill Crowder

WAWASAN
Sebelum Yesus meninggalkan bumi, Dia menjanjikan kepada para muridnya bahwa Dia akan mengirimkan “Roh Kebenaran,” yang akan memimpin mereka “ke dalam seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13). Roh Kudus akan menyampaikan apa yang Yesus beritahukan kepada-Nya. Yesus juga memberitahukan kepada mereka bahwa kalau mereka ditangkap dan dibawa ke pengadilan, mereka tidak perlu “kuatir akan apa yang harus kamu katakan.” Malah mereka harus mengatakan apa yang dikaruniakan kepada mereka untuk dikatakan, karena itu adalah “Roh Kudus” yang berbicara (Markus 13:11). Di dalam Lukas, Yesus mengatakan hal yang sama: “Apabila orang menghadapkan kamu kepada … pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (12:11-12; lihat Yohanes 14:26). Dalam masa penganiayaan, Roh Kudus akan menolong dan memperlengkapi semua orang yang percaya kepada Yesus. —Alyson Kieda

Pengertian dari Roh Kudus

Apa saja bagian Alkitab yang menurut kamu sulit dimengerti? Buatlah daftar dan mintalah Roh Kudus untuk membimbing kamu agar dapat lebih memahami bagian-bagian tersebut.

Allah sumber segala kebenaran, tolonglah aku mengandalkan Roh Kebenaran supaya aku memahami lebih jelas hikmat yang telah Engkau sediakan dalam firman-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 50–52; 1 Tesalonika 5

Hidup dengan Baik

Sabtu, 16 Oktober 2021

Baca: Pengkhotbah 7:1-4

7:1 Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran.

7:2 Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.

7:3 Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega.

7:4 Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.

Di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. —Pengkhotbah 7:2

Upacara pemakaman gratis untuk orang hidup. Jasa tersebut ditawarkan oleh sebuah lembaga di Korea Selatan. Sejak penawaran tersebut dibuka pada tahun 2012, lebih dari 25.000 orang—dari remaja hingga pensiunan—sudah ikut serta dalam acara “pemakaman orang hidup” ini. Para peserta itu berharap, dengan mempertimbangkan kematian mereka sendiri, kualitas hidup mereka akan meningkat. Pengelola jasa tersebut mengatakan, “Simulasi upacara kematian ini bertujuan memberikan kepada peserta makna sesungguhnya dari hidup mereka, membangkitkan rasa syukur, membuka ruang bagi pengampunan dan terjalinnya kembali hubungan di antara anggota keluarga dan teman.”

Kata-kata itu mengingatkan kita kepada hikmat yang diberikan oleh penulis kitab Pengkhotbah. “Karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya” (Pkh. 7:2). Kematian mengingatkan kita bahwa hidup ini singkat dan waktu yang kita miliki untuk menjalani hidup dan mengasihi sesama dengan baik sangatlah terbatas. Kita didorong untuk tidak menggenggam terlalu erat berkat-berkat Allah yang sebetulnya baik—seperti uang, hubungan dengan sesama, dan kesenangan—sehingga kita bebas untuk menikmatinya selama masih hidup, sembari mengumpulkan “harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Mat. 6:20).

Dengan mengingat bahwa kematian bisa menjemput kapan saja, kita mungkin terdorong untuk tidak menunda kunjungan kepada orangtua kita, tidak menangguhkan keputusan kita untuk melayani Allah secara khusus, atau tidak melewatkan waktu bersama anak-anak dengan sibuk bekerja. Dengan pertolongan Allah, kita dapat belajar untuk hidup dengan bijak. —Poh Fang Chia

WAWASAN
Para sarjana Alkitab berdebat keras mengenai penulis Pengkhotbah. Ayat pembuka mengidentifikasi penulisnya sebagai “Pengkhotbah” (dalam bahasa Ibrani Qohelet), tetapi itu sebutan, bukan nama penulisnya. Pandangan tradisional menganggap penulisnya adalah Salomo karena pernyataan-pernyataan yang diringkas dengan baik dalam buku The Bible Knowledge Commentary: “Penulisnya juga menyatakan dirinya sebagai ‘anak Daud’ (1:1), ‘raja di Yerusalem’ (1:1), dan ‘raja atas Israel di Yerusalem’ (1;12). Terlebih lagi, dalam bagian autobiografi (1:12-2:26), ia menyatakan bahwa ia berhikmat ‘lebih dari pada semua orang yang memerintah atas Yerusalem sebelum dia’ (1:16); bahwa ia pendiri pekerjaan-pekerjaan besar (2:4-6); dan bahwa ia memiliki banyak budak (2:7), mempunyai sapi dan kambing domba melebihi siapa pun (2:7), kekayaan dan harem yang besar (2:8). Singkatnya, ia menyatakan bahwa ia lebih besar dari siapa pun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum dia (2:9).” Pernyataan-pernyataan itu agaknya memberikan bukti lebih dari cukup untuk mendukung Salomo sebagai penulis kitab Pengkhotbah. —Bill Crowder

Hidup dengan Baik

Perubahan hidup apa yang akan kamu buat hari ini di saat kamu berpikir tentang kematian? Bagaimana kamu dapat mempunyai kesadaran lebih tentang kematian di tengah hiruk-pikuk kehidupan ini?

Allah yang penuh kasih, tolonglah aku mengingat betapa singkatnya hidup ini dan supaya aku dapat menjalani hidupku dengan baik hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 47–49; 1 Tesalonika 4

Rencana Allah untuk kamu

Jumat, 15 Oktober 2021

Baca: Mazmur 37:3-7

37:3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,

37:4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

37:5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

37:6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.

37:7 Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.

Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. —Mazmur 37:4

Selama enam tahun, Agnes berusaha menjadikan dirinya “istri pendeta yang sempurna,” dengan cara meneladani ibu mertuanya yang ia sayangi (beliau juga istri pendeta). Ia mengira dalam perannya tersebut, ia tidak bisa lagi menjadi penulis dan pelukis, tetapi dengan mengubur kreativitasnya ia justru menjadi depresi dan sempat berpikir untuk bunuh diri. Keadaan Agnes baru membaik setelah seorang pendeta dari gereja lain menolongnya keluar dari masa-masa kelam, dengan berdoa bersamanya dan menugaskannya menulis sepanjang dua jam setiap pagi. Hal itu menyadarkannya pada apa yang ia sebut sebagai “tugas khusus”—panggilan yang dimaksudkan Allah atas dirinya. Ia menulis, “Bagiku, untuk benar-benar menjadi diriku sendiri—yang seutuhnya—setiap . . . aliran kreativitas yang Allah berikan kepadaku harus disalurkan.”

Di kemudian hari, ia mengacu kepada salah satu mazmur Daud yang sangat tepat mengungkapkan bagaimana ia sendiri menemukan panggilannya: “Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mzm. 37:4). Saat Agnes menyerahkan jalan hidupnya kepada Allah, dengan percaya bahwa Dia akan memimpin dan menuntunnya (ay.5), Allah memampukannya tidak hanya untuk menulis dan melukis, tetapi juga membantu orang lain untuk memiliki hubungan yang lebih baik dengan-Nya.

Allah memiliki “tugas khusus” untuk kita masing-masing, sehingga kita tidak hanya tahu identitas kita sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya tetapi juga memahami cara-cara unik yang dapat kita pakai untuk melayani Dia dengan karunia dan kesukaan kita. Allah akan memimpin kita ketika kita mempercayai-Nya dan bergembira karena Dia. —Amy Boucher Pye

WAWASAN
Ketika Daud mendorong bangsanya agar tidak iri hati kepada mereka yang kelihatannya akan menang karena berbuat curang atau melakukan kekerasan (Mazmur 37:1, 7), ia menulis berdasarkan pengalamannya sendiri. Ia tahu bagaimana rasanya dikejar oleh Saul, raja dan mertuanya sendiri. Mazmur yang ditulisnya mencerminkan apa yang dialaminya dengan Allah, yang menolongnya mengalahkan Goliat, pengkhianatan teman dan keluarganya, dan keunggulan tentara musuh-musuhnya. Belajar mempercayai Allah yang tidak kelihatan di saat orang-orang yang kelihatan membencinya adalah tantangan yang terus berulang. Bercermin kepada pengalaman hidupnya yang keras yang telah dilaluinya, Mazmur 37 seperti mendahului ucapan Paulus kelak di kemudian hari. Dalam pelayanannya kepada Kristus ia pun belajar untuk melihat jauh melampaui yang sementara, yang kelihatan (2 Korintus 4:16-18). —Mart DeHaan

Rencana Allah untuk kamu

Bagaimana kisah Agnes yang pernah merasa tidak hidup menjadi diri sendiri itu menyentuh hati kamu? Apa “tugas khusus” yang telah Allah tetapkan bagi kamu?

Allah Pencipta kami, Engkau telah menjadikanku menurut gambar-Mu. Tolonglah aku untuk mengetahui dan menerima panggilanku agar aku dapat mengasihi dan melayani-Mu dengan lebih baik.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 45–46; 1 Tesalonika 3

Panduan Kehidupan bagi Pemula

Kamis, 14 Oktober 2021

Baca: Roma 6:16-23

6:16 Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?

6:17 Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.

6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

6:19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.

6:20 Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.

6:21 Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian.

6:22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.

6:23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. —Roma 6:23

Setelah kematian mendadak ibu saya, saya termotivasi untuk mulai membuat blog. Saya ingin menghasilkan tulisan-tulisan yang akan menginspirasi orang untuk menggunakan waktu mereka di dunia dengan menciptakan momen-momen kehidupan yang berarti. Saya pun mulai mempelajari panduan membuat blog bagi pemula. Saya mempelajari platform apa yang bisa digunakan, cara memilih judul, dan cara menulis artikel yang menarik. Akhirnya, pada tahun 2016, terbitlah artikel pertama di blog saya.

Rasul Paulus menulis “panduan bagi pemula” yang menjelaskan bagaimana manusia dapat memperoleh hidup kekal. Dalam Roma 6:16-18, ia mengemukakan bahwa kita semua terlahir sebagai orang berdosa yang berada dalam pemberontakan terhadap Allah. Ia membandingkan kenyataan tersebut dengan kebenaran bahwa Yesus dapat menolong kita “dimerdekakan dari dosa” (ay.18). Paulus lalu menjelaskan perbedaan antara menjadi hamba dosa dan menjadi hamba Allah serta mengikuti jalan yang menuntun kepada hidup (ay.19-20). Ia kemudian menyatakan bahwa “upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (ay.23). Kematian berarti terpisahkan dari Allah selamanya. Inilah akibat mengenaskan yang kita hadapi apabila kita menolak Kristus. Namun, Allah telah menawarkan kepada kita anugerah hidup baru di dalam Yesus. Inilah hidup yang bermula di bumi dan berlanjut selamanya di surga bersama Dia. 

Panduan hidup kekal yang disajikan Paulus hanya memberi kita dua pilihan—memilih dosa, yang berujung pada kematian, atau memilih pemberian yang ditawarkan Yesus, yang menuntun kepada hidup kekal. Kiranya kamu menerima anugerah kehidupan dari-Nya, dan jika kamu sudah menerima Kristus, kiranya kamu membagikan anugerah tersebut dengan orang lain hari ini! —Marvin Williams

WAWASAN
Menulis kepada jemaat di Roma, beberapa di antaranya mungkin dulunya adalah budak, Paulus berkata, “Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?” (6:16). Kata yang dipakai Paulus adalah doulos, yang mengacu kepada “seseorang yang dimiliki oleh orang lain; seorang budak terikat, tanpa hak kepemilikan diri sendiri apa pun.” Kata ini diturunkan dari kata lain yang berarti “menjalin atau mengikat, menjerat atau menangkap.” Paulus memberitakan kepada orang-orang percaya di Roma bahwa mereka tidak melayani diri mereka sendiri; mereka melayani Dia yang kepadanya mereka terikat. Mereka dimiliki oleh dosa atau oleh Allah. —J.R. Hudberg

Panduan Kehidupan bagi Pemula

Bagaimana kamu menjelaskan apa artinya menerima anugerah hidup kekal yang cuma-cuma melalui Yesus Kristus? Apa bedanya menjadi hamba dosa dengan menjadi hamba Allah?

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mencintaiku dan mengampuniku. Engkau membayar lunas utang yang mustahil untuk kubayar dan memberiku anugerah yang mustahil untuk kubeli.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 43–44; 1 Tesalonika 2

Kata-kata yang Kekal

Rabu, 13 Oktober 2021

Baca: Yeremia 36:27-32

36:27 Sesudah raja membakar gulungan berisi perkataan-perkataan yang dituliskan oleh Barukh langsung dari mulut Yeremia itu, maka datanglah firman TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:

36:28 “Ambil pulalah gulungan lain, tuliskanlah di dalamnya segala perkataan yang semula ada di dalam gulungan yang pertama yang dibakar oleh Yoyakim, raja Yehuda.

36:29 Mengenai Yoyakim, raja Yehuda, haruslah kaukatakan: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membakar gulungan ini dengan berkata: Mengapakah engkau menulis di dalamnya, bahwa raja Babel pasti akan datang untuk memusnahkan negeri ini dan untuk melenyapkan dari dalamnya manusia dan hewan?

36:30 Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang Yoyakim, raja Yehuda: Ia tidak akan mempunyai keturunan yang akan duduk di atas takhta Daud, dan mayatnya akan tercampak, sehingga kena panas di waktu siang dan kena dingin di waktu malam.

36:31 Aku akan menghukum dia, keturunannya dan hamba-hambanya karena kesalahan mereka; Aku akan mendatangkan atas mereka, atas segala penduduk Yerusalem dan atas orang Yehuda segenap malapetaka yang Kuancamkan kepada mereka, yang mereka tidak mau mendengarnya.”

36:32 Maka Yeremia mengambil gulungan lain dan memberikannya kepada juru tulis Barukh bin Neria yang menuliskan di dalamnya langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang ada di dalam kitab yang telah dibakar Yoyakim, raja Yehuda dalam api itu. Lagipula masih ditambahi dengan banyak perkataan seperti itu.

 

Datanglah firman ini dari Tuhan kepada Yeremia. —Yeremia 36:1

Di awal abad ke-19, Thomas Carlyle memberikan sebuah naskah kepada filsuf John Stuart Mill untuk ditinjau olehnya. Entah bagaimana, sengaja atau tidak, naskah itu terlempar ke dalam api. Padahal, itulah satu-satunya salinan yang dibuat Carlyle. Dengan gigih, ia menulis ulang teks yang terhilang tadi. Api tidak dapat memusnahkan kisah yang tetap tersimpan utuh dalam benaknya. Dari kehilangan yang luar biasa itu, Carlyle justru menghasilkan karya monumentalnya, The French Revolution (Revolusi Prancis).

Pada hari-hari menjelang runtuhnya kerajaan Yehuda, Allah memerintahkan Nabi Yeremia, “Ambillah kitab gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu” (Yer. 36:2). Pesan tersebut mengungkapkan kelembutan hati Allah, yang memanggil umat-Nya untuk bertobat agar terhindar dari serbuan yang segera tiba (ay.3).

Yeremia melakukan persis seperti yang diperintahkan Allah. Gulungan kitab yang ditulisnya itu kemudian sampai ke tangan raja Yehuda, Yoyakim, yang langsung mengoyak-ngoyak dan melemparkannya ke dalam api (ay.23-25). Tindakan pembakaran oleh raja itu justru memperburuk keadaan. Allah menyuruh Yeremia menulis sebuah gulungan lain dengan pesan yang sama. Dia berkata, “[Yoyakim] tidak akan mempunyai keturunan yang akan duduk di atas takhta Daud, dan mayatnya akan tercampak, sehingga kena panas di waktu siang dan kena dingin di waktu malam” (ay.30).

Mencoba menyingkirkan firman Allah dengan membakar kitabnya memang bisa dilakukan. Namun, tindakan itu sia-sia sama sekali. Firman Allah yang hidup di balik kata-kata itu kekal selamanya. —TIM GUSTAFSON

WAWASAN
Penolakan Raja Yoyakim terhadap firman Allah yang ditunjukkan melalui ulah gegabahnya membakar gulungan-gulungan kitab Yeremia bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Nabi Yeremia telah memicu kemarahan di tanah yang tadinya dipercayakan kepada bangsa yang terdiri dari budak yang dibebaskan. Sejak zaman Musa, ada hukum manusiawi di Israel yang menuntut budak Ibrani dimerdekakan setelah tujuh tahun (Keluaran 21:2). Namun hukum tersebut telah lama diabaikan oleh para pemilik tanah yang kaya, yang sudah terbiasa hidup dengan menundukkan orang-orang yang ditangkap kembali dan ditindas (Yeremia 34:8-17). Hak istimewa yang mereka miliki membuat mereka mudah mengabaikan nabi yang menyusahkan, yang menyatakan bahwa ia menyampaikan firman Allah orang Israel (37:1-2). Menurut Yeremia, serbuan Babel yang akan terjadi adalah tindakan perbaikan yang tidak dapat dihindari. Namun, bahkan Yeremia pun tidak dapat menduga, bahwa tindakan keji berupa pembakaran gulungan-gulungan kitab merupakan pendahuluan dari perbuatan lain yang lebih mengerikan—penolakan secara harfiah dan penyaliban Yesus, Firman Allah yang hidup. —Mart DeHaan

Kata-kata yang Kekal
 

Apa yang pernah menyebabkan kamu atau orang lain yang kamu kenal mengabaikan firman Allah? Mengapa penting bagi kamu untuk tunduk dan patuh mengikuti apa yang diperintahkan-Nya?

Ya Bapa, tolonglah aku menyimpan firman-Mu di dalam hatiku, sekalipun pesannya sulit untuk kuterima. Berikanlah aku hati yang tidak membangkang, melainkan rela untuk bertobat.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 41–42; 1 Tesalonika 1

Guru Terbaik

Selasa, 12 Oktober 2021

Baca: Yesaya 40:12-14

40:12 Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca?

40:13 Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?

40:14 Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?

Siapa mengajar [Tuhan] pengetahuan? —Yesaya 40:14

“Aku tidak mengerti!” Putri saya membanting pensilnya ke atas meja. Ia sedang mengerjakan PR matematika, dan saya baru saja memulai “pekerjaan” sebagai guru baginya. Masalahnya, saya sudah tidak ingat lagi pelajaran yang pernah saya pelajari tiga puluh lima tahun lalu tentang cara mengubah bilangan desimal menjadi pecahan. Karena tidak mungkin saya mengajarkan sesuatu yang tidak saya pahami, maka kami menonton video penjelasan dari seorang guru di dunia maya.

Sebagai manusia, terkadang kita bergumul dengan hal-hal yang tidak kita ketahui atau pahami. Namun, tidak demikian dengan Allah, Sang Mahatahu. Nabi Yesaya menulis, “Siapa yang dapat . . . memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat? Kepada siapa Tuhan meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar Tuhan untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?” (Yes. 40:13-14). Jawabannya? Tidak seorang pun!

Manusia memiliki kecerdasan karena Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya sendiri. Namun, kecerdasan kita hanyalah sebagian kecil dari kecerdasan-Nya. Pengetahuan kita terbatas, tetapi Allah tahu segalanya dari kekekalan sampai kekekalan dengan tak terhingga (Mzm. 147:5). Pada masa kini, pengetahuan kita meningkat seiring perkembangan teknologi, tetapi kita masih dapat melakukan kesalahan. Namun, Yesus mengetahui segala sesuatu dengan “langsung, serentak, lengkap, dan benar,” seperti dikatakan oleh seorang teolog.

Secanggih apa pun pengetahuan manusia, kita tidak akan mampu menandingi kemahatahuan Kristus. Kita akan selalu membutuhkan Dia untuk menolong kita mengerti dan mengajarkan kita apa yang baik dan benar. —JENNIFER BENSON SCHULDT

WAWASAN
Para sarjana Alkitab pada umumnya membagi kitab Yesaya ke dalam dua bagian besar. Pasal 1-39 terutama berisi peringatan-peringatan tentang teguran ilahi terhadap bangsa Yehuda, yang sering diwakili oleh Yerusalem; pasal 40-66 berfokus kepada janji-janji Allah untuk membebaskan dan memulihkan Yehuda kembali dari musim penghukuman yang mereka alami dalam pembuangan di Babel. Karenanya, Yesaya 40 membuka bagian janji dan pengharapan dengan becermin kepada kebesaran Allah, yang dengan-Nya mereka mempunyai hubungan khusus. Pembukaan yang secara dramatis menunjukkan keagungan-Nya sangatlah penting karena berfungsi sebagai pengingat untuk umat bahwa meski mereka berada jauh dari tanah air mereka, Allah berkuasa membawa mereka kembali dan memulihkan keadaan mereka—mula-mula ke tanah mereka sendiri dan pada akhirnya kepada Dia. Itulah jaminan pemeliharaan-Nya yang tidak berkesudahan, yang menekankan tawaran penghiburan dalam Yesaya 40:1. —Bill Crowder

Guru Terbaik

Dalam situasi apa saja kamu bersyukur atas kemahatahuan Allah? Bagaimana kamu dikuatkan dengan mengetahui bahwa Tuhan Yesus memahami segala sesuatu?

Tuhan Yesus, aku memuji-Mu sebagai Pribadi yang Mahatahu. Ajarilah aku segala sesuatu yang Engkau ingin kupelajari, dan mampukanlah aku mengasihi-Mu dengan segenap akal budiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 39–40; Kolose 4

Makan Sehidangan dengan Raja

Senin, 11 Oktober 2021

Baca: 2 Samuel 9:6-13

9:6 Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: “Mefiboset!” Jawabnya: “Inilah hamba tuanku.”

9:7 Kemudian berkatalah Daud kepadanya: “Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.”

9:8 Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?”

9:9 Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: “Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu.

9:10 Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku.” Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba.

9:11 Berkatalah Ziba kepada raja: “Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya.” Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja.

9:12 Mefiboset mempunyai seorang anak laki-laki yang kecil, yang bernama Mikha. Semua orang yang diam di rumah Ziba adalah hamba-hamba Mefiboset.

9:13 Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.

Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja. —2 Samuel 9:11

Teman saya membawa seekor anak anjing liar yang baru tertabrak mobil untuk diperiksa di klinik. “Ia bisa bertahan hidup, tetapi kakinya harus diamputasi,” kata dokter hewan. “Apakah kamu pemiliknya?” Perkiraan biaya operasinya sangat besar, dan hewan ini butuh dirawat sampai pulih. “Saya pemiliknya sekarang,” jawab teman saya. Kebaikan hatinya membuat anak anjing itu memiliki masa depan yang lebih baik dalam pemeliharaan yang penuh kasih.

Mefiboset menganggap dirinya sendiri sebagai “anjing mati” yang tidak layak dikasihi (2Sam. 9:8). Kedua kakinya lumpuh karena kecelakaan, sehingga ia harus bergantung kepada orang lain untuk menjaga dan memenuhi kebutuhannya (lihat 4:4). Selain itu, stelah kematian kakeknya, Raja Saul, Mefiboset mungkin takut kalau-kalau Daud, raja yang baru, akan memerintahkan pembasmian semua musuh dan seterunya, seperti kebiasaan yang lazim dilakukan para penguasa pada masa itu.

Namun, karena kasihnya kepada Yonatan, sahabatnya, Daud memastikan bahwa putra Yonatan, Mefiboset, akan terlindung dengan aman dan diperlakukan seperti anaknya sendiri (9:7). Demikian juga kita, yang dahulu adalah musuh Allah dan harus dihukum mati, telah diselamatkan oleh Yesus Kristus dan diberikan tempat bersama Dia di surga untuk selama-lamanya. Itulah makna “dijamu dalam Kerajaan Allah” seperti digambarkan dalam Injil Lukas (Luk. 14:15). Itulah kita—anak-anak Raja! Sungguh melimpah kemurahan yang sebenarnya tidak layak kita terima! Karena itu, marilah datang kepada Allah dengan penuh syukur dan sukacita. —KAREN KWEK

WAWASAN
Daud membuat perjanjian dengan kawan karibnya, Yonatan (1 Samuel 20:12-17) bahwa bahkan sesudah Yonatan mati, Daud akan tetap memperlakukan keluarganya dengan kasih setia dan kebaikan yang tidak kunjung padam (Ibrani hesed, ay.14). 2 Samuel 9:6-13 mencatat bagaimana Daud, yang telah menjadi raja, memenuhi janji kepada Yonatan itu. Sebagai ahli waris takhta Saul, Mefiboset, anak Yonatan dan cucu Saul, seharusnya dibunuh di bawah kekuasaan baru. Namun, Daud malah memberikan Mefiboset seluruh tanah dan kekayaan Saul dan menunjuk hamba-hamba untuk mengurusnya. Ia bahkan menghormatinya sebagai pangeran, salah satu putra Daud sendiri. —K. T. Sim

Makan Sehidangan dengan Raja

Kapan kamu cenderung lupa bahwa Allah selalu menjaga dan memelihara kamu? Bagaimana perikop 2 Samuel 9:6-13 dapat menolong kamu untuk kembali mengingat pemeliharaan-Nya? 

Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah menyelamatkanku dan menjamuku untuk makan sehidangan dengan-Mu selamanya. Ingatkanlah aku bahwa aku ini anak-Mu yang Kaukasihi, dan mampukanlah aku untuk selalu memuji dan mempercayai-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 37–38; Kolose 3

Demi Orang Lain

Minggu, 10 Oktober 2021

Baca: Roma 14:13-21

14:13 Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!

14:14 Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis.

14:15 Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.

14:16 Apa yang baik, yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah.

14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

14:18 Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.

14:19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.

14:20 Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!

14:21 Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.

Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung! —Roma 14:20

Selama pandemi COVID-19, banyak warga Singapura tinggal di rumah untuk menghindari penularan. Namun, dengan santainya, saya tetap berenang, karena meyakini bahwa itu akan aman-aman saja. 

Namun, istri saya khawatir bahwa saya dapat terinfeksi di kolam renang umum dan menularkannya kepada ibu mertua saya yang sudah lanjut usia—yang lebih rentan terhadap virus seperti lansia pada umumnya. “Bisakah kamu tidak berenang dahulu untuk sementara, demi aku?” ia memohon.

Awalnya, saya ingin membantah dan menyatakan bahwa risiko penularannya kecil, tetapi saya menyadari ada hal lain yang lebih penting, yakni menjaga perasaannya. Mengapa saya bersikeras untuk tetap berenang—sesuatu yang tidak mendesak—dan membuat istri saya khawatir berlebihan?

Dalam Roma 14, Paulus membahas masalah-masalah seperti apakah orang percaya boleh makan makanan tertentu atau ikut merayakan hari raya tertentu. Ia khawatir beberapa orang memaksakan keyakinan mereka kepada orang lain.

Paulus mengingatkan jemaat di Roma, dan juga kita, bahwa sesama orang percaya dapat berbeda dalam memandang dan memaknai situasi-situasi yang ada. Beragamnya latar belakang yang kita miliki tentu mempengaruhi cara kita bersikap dan berperilaku. Paulus menulis, “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (ay.13).

Anugerah Allah memberi kita kebebasan yang luas, sekaligus menolong kita untuk menyatakan kasih-Nya kepada saudara-saudari seiman. Kita dapat memakai kebebasan itu untuk mendahulukan kebutuhan rohani orang lain di atas keyakinan kita sendiri tentang berbagai aturan dan kebiasaan yang tidak bertentangan dengan kebenaran-kebenaran pokok Kitab Suci (ay.20). —LESLIE KOH

WAWASAN
Kunci untuk memahami perikop hari ini (Roma 14:13-21) adalah pernyataan Paulus dalam ayat 1: “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.” Apa yang dimaksudkan dengan lemah iman? Dalam konteks ini, Paulus membicarakan para pengikut Kristus yang hati nuraninya membuat mereka tetap mengikuti hukum Yahudi yang menyangkut makan makanan tertentu. Seorang Kristen “yang kuat” (15:1) paham bahwa sebagai orang yang percaya kepada Kristus, diselamatkan oleh kasih karunia, ia tidak terikat kepada hukum Taurat. Memaksa orang lain mengikuti patokan mereka dalam hal perbedaan “pendapat” berarti menghakimi dengan salah arah. Kita tidak boleh memaksa orang lain menyerahkan kebebasan mereka berdasarkan keyakinan pribadi kita. —Tim Gustafson

Demi Orang Lain

Apa saja kebiasaan dan aturan yang masih kamu pertahankan sebagai orang percaya? Bagaimana hal tersebut mungkin mempengaruhi saudara seiman yang berbeda pandangan?

Ya Tuhan, berilah aku kerelaan untuk tidak memaksakan hal-hal yang sebenarnya tidak bertentangan dengan firman-Mu, dan kasih untuk mendahulukan perasaan orang lain daripada perasaanku sendiri. 

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 34–36; Kolose 2

Dibutuhkan Hikmat

Sabtu, 9 Oktober 2021

Baca: Keluaran 18:17-24

18:17 Tetapi mertua Musa menjawabnya: “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu.

18:18 Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.

18:19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah.

18:20 Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan.

18:21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

18:22 Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya.

18:23 Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya.”

18:24 Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.

Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya. —Keluaran 18:24

Karena bertumbuh tanpa didampingi ayah, Rob merasa kehilangan banyak keterampilan praktis yang biasanya dibagikan orangtua kepada anak-anaknya. Dengan keinginan agar orang-orang dapat mempelajari berbagai keterampilan yang dibutuhkan dalam hidup, Rob membuat serangkaian video praktis berjudul “Ayah, Bagaimana Caranya?” Di dalamnya diajarkan banyak hal, dari cara memasang rak hingga cara mengganti ban. Dengan gaya yang ramah dan hangat, Rob menuai kesuksesan dan mengumpulkan jutaan pelanggan setia di YouTube.

Banyak dari kita merindukan sosok orangtua yang cakap untuk mengajari kita berbagai keterampilan berharga dan membantu kita mengatasi situasi-situasi yang sulit. Musa membutuhkan hikmat setelah orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir dan masih berjuang mengukuhkan diri sebagai sebuah bangsa. Yitro, ayah mertua Musa, melihat kelelahan yang dialami Musa karena tanggung jawabnya untuk mengadili urusan dan perselisihan di antara umat Israel. Jadi Yitro memberikan nasihat yang bijaksana kepada Musa tentang cara melimpahkan tanggung jawab dalam kepemimpinan (Kel. 18:17-23). Musa “mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya” (ay.24).

Allah tahu kita semua membutuhkan hikmat. Sebagian orang mungkin dikaruniai orangtua saleh yang dapat memberikan nasihat-nasihat bijak, tetapi sebagian yang lain tidak mempunyai orangtua seperti itu. Bagaimanapun keadaannya, kita boleh meminta hikmat Allah, yang memberikannya kepada semua yang meminta (Yak. 1:5). Dia juga memberikan hikmat di dalam seluruh isi Alkitab, yang mengingatkan bahwa ketika kita dengan rendah hati dan tulus mendengarkan nasihat yang bijak, niscaya kita “menjadi bijak di masa depan” (Ams. 19:20) dan memiliki hikmat untuk dibagikan kepada orang lain. —LISA M. SAMRA

WAWASAN
Memimpin lebih dari dua juta orang Israel melintasi padang gurun ke Gunung Sinai adalah tugas yang penuh kesukaran dan bahaya. Musa telah menghadapi berbagai krisis (kekurangan makanan dan air, serangan musuh) di tengah banyak sungut-sungut dan kritik umatnya. Dalam Keluaran 18:17-24, kita membaca bagaimana ia mengalami krisis beban kerja berlebih dan ketidakefisienan. Yitro, mertuanya, menasihatkan Musa untuk mengelola beban pekerjaannya dengan mendelegasikan beberapa fungsi dan wewenang kepada orang lain. Musa harus mencari “orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap” (ay. 21). Para pemimpin adalah mereka “yang bijaksana, berakal budi dan berpengalaman” yang memberikan “keputusan yang adil” (Ulangan 1:13-16). Standar dan kualifikasi tinggi yang sama juga menjadi syarat untuk para pemimpin gereja (Kisah Para Rasul 6:3; 1 Timotius 3:1-13; Titus 1:6-9). —K.T. Sim

Dibutuhkan Hikmat

Bagaimana selama ini kamu telah menerima manfaat dari nasihat bijak orang lain? Adakah seseorang yang membutuhkan nasihat bijak dari kamu?

Bapa surgawi, tolonglah aku mencari dan mendengarkan nasihat bijak dari orang-orang yang telah Engkau tempatkan dalam hidupku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 32–33; Kolose 1