Bergantung dari Hari ke Hari

Senin, 5 Desember 2022

Baca: Matius 6 : 6 – 13

6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.

6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,

6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. [ ] —Matius 6:11

Suatu hari anak-anak kami yang masih kecil bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan sendiri. Sabtu pagi itu, saya dan istri bermaksud bangun lebih siang karena merasa capek setelah melewati satu minggu yang melelahkan. Tiba-tiba, saya mendengar suara barang pecah! Saya melompat dari tempat tidur lalu bergegas turun. Di dapur, saya melihat sebuah mangkuk telah pecah dan havermut berserakan di lantai. Jonas, anak kami yang berumur lima tahun, sedang berusaha keras menyapu semua kotoran di lantai (tetapi lebih seperti melumuri lantai). Anak-anak saya lapar, tetapi mereka memutuskan untuk tidak meminta bantuan. Mereka memilih untuk mandiri, tidak mau bergantung pada kami, dan hasilnya berantakan.

Dalam kehidupan manusia, anak-anak memang perlu berkembang dari sikap bergantung kepada kemandirian. Namun, dalam hubungan kita dengan Allah, kedewasaan berarti beralih dari sikap mandiri kepada ketergantungan pada-Nya. Sikap ketergantungan ini kita latih melalui doa. Sewaktu Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya, dan kita semua yang telah percaya kepada-Nya, untuk berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11), Dia sedang mengajarkan doa penuh ketergantungan. Roti adalah lambang dari makanan, kelepasan, dan tuntunan (ay.11-13). Kita bergantung pada Allah untuk itu semua, dan lebih banyak lagi.

Di dalam Tuhan, tidak ada orang percaya yang bisa berdikari, karena kita tidak akan pernah berhenti membutuhkan anugerah-Nya. Sepanjang hidup kita, kiranya kita selalu memulai hari demi hari dengan sikap penuh ketergantungan dalam doa kepada “Bapa [kita] yang di sorga” (ay.9). —Glenn Packiam

WAWASAN
Beberapa versi Alkitab menerjemahkan “bertele-tele” (Matius 6:7) sebagai “kata-kata yang tidak ada artinya” (AYT) atau “kata-kata yang tidak bermakna” (AVB), yang berarti terus-menerus mengulangi kata-kata yang sama seperti yang dilakukan mereka yang tidak mengenal Allah (bukan orang Yahudi). Mereka melakukannya untuk mendapat perhatian dan agar tampak benar atau saleh. Hal itu mengingatkan kita pada nabi-nabi Baal yang memanggil dewa mereka “dari pagi sampai tengah hari” tetapi “tidak ada yang menjawab” (1 Raja-Raja 18:26). Yesus tidak sedang mengecam praktik doa di depan umum, tetapi Dia melarang pengulangan tanpa makna dan tanpa hati. Orang-orang Farisi dan lain-lain yang munafik dengan bangganya berdoa seperti itu “dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang” (Matius 6:5). Namun, selama di dunia, Yesus “telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibrani 5:7). Tidak seperti doa-doa sesat dari orang-orang munafik, “doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16). —Alyson Kieda

Bergantung dari Hari ke Hari

“Roti” apa yang kamu minta hari ini? Bagaimana cara kamu menunjukkan kepercayaan kamu kepada Allah saat kamu berseru dalam doa?

Tuhan Yesus, Engkaulah Pencipta dan Pemeliharaku. Tolong aku untuk senantiasa percaya kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 1 – 2; 1 Yohanes 4

Bekerja dengan Kasih

Minggu, 4 Desember 2022

Baca: Kolose 3 : 23 – 24

3:23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

3:24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. [ ] —Kolose 3:23

Dr. Rebecca Lee Crumpler adalah perempuan Afrika-Amerika pertama yang berhasil memperoleh gelar dokter. Namun, selama hidupnya (1831–95) ia sering sekali “diabaikan, diremehkan, dan dianggap tidak penting”. Meski demikian, ia tetap setia mengobati sesama dan menggenapi tujuan hidupnya. Meski ada orang yang menilainya hanya berdasarkan ras dan jenis kelamin, Crumpler berkata bahwa ia selalu “bersemangat dan siap memenuhi tugas kapan dan di mana saja diperlukan”. Itulah juga yang selalu dikerjakannya. Ia meyakini, dengan merawat wanita dan anak-anak, serta mengobati para budak yang sudah dimerdekakan, ia sedang melayani Allah. Sayangnya, semua pencapaiannya baru dihargai setelah hampir satu abad kemudian. 

Adakalanya kita diabaikan, diremehkan, atau tidak dihargai oleh orang-orang di sekitar kita. Namun, hikmat Alkitab mengingatkan kita bahwa ketika Allah memanggil kita untuk melakukan sebuah tugas, kita tidak perlu memikirkan bagaimana kita akan diterima dan diakui dunia, melainkan kita patut bekerja “dengan segenap hati [kita] seperti untuk Tuhan” (Kol. 3:23). Ketika fokus kita adalah untuk melayani Allah, kita dapat menyelesaikan tugas yang paling sulit sekalipun dengan semangat dan sukacita dalam kuasa dan pimpinan-Nya. Dengan demikian, kita tidak lagi terlalu memikirkan apakah kita akan menerima pengakuan dunia, dan sebaliknya, menjadi semakin rindu untuk menerima upah yang semata-mata datang dari Allah (ay.24). —Kimya Loder

WAWASAN
Instruksi Paulus untuk bekerja “dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23) mengalir dari kebenaran dasar bahwa di dalam Yesus “tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu” (ay.11). Banyak pemikir, seperti Aristoteles, berpendapat bahwa pengabdian yang kita berikan kepada pihak berwenang atau penguasa itu didasarkan pada keunggulan yang secara inheren terdapat pada diri mereka yang berkuasa. Sebaliknya, Paulus berkata bahwa meskipun hierarki sosial mungkin akan terus ada sampai kedatangan Yesus kembali, semua orang percaya mempunyai harkat dan nilai yang setara di bawah Kristus (ay.11-12). Ketika kita melakukan pekerjaan dengan hati yang melayani Yesus, Tuhan yang sesungguhnya dari para penguasa maupun hamba (4:1), pelayanan kita memiliki nilai dan maksud yang mulia. —Monica La Rose

Bekerja dengan Kasih

Kapan kamu pernah merasa bahwa kebaikan yang kamu lakukan telah diabaikan? Bagaimana cara kamu mendahulukan Allah dalam kegiatan yang kamu lakukan?

Bapa Surgawi, terima kasih, Engkau telah memanggilku untuk melakukan hal-hal yang baik untuk-Mu. Tolonglah aku agar dapat berfokus pada pekerjaan yang Engkau tugaskan bagiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 47 – 48; 1 Yohanes 3

Terang Natal

Sabtu, 3 Desember 2022

Baca: Keluaran 3 : 4 – 10

3:4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.”

3:5 Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”

3:6 Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.

3:7 Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.

3:8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.

3:9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka.

3:10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.”

Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir. . . . Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka. [ ] —Keluaran 3:7-8

Di mata saya, pohon Natal itu terlihat seperti sedang dilalap kobaran api! Bukan oleh rangkaian lampu buatan, melainkan nyala api sungguhan. Keluarga kami diundang seorang teman untuk menghadiri tradisi altdeutsche, atau ”cara Jerman kuno”. Perayaan tersebut menyajikan aneka hidangan pencuci mulut tradisional yang lezat dan pohon yang dipasangi lilin sungguhan. (Demi keamanan, pohon yang baru ditebang tersebut hanya dinyalakan satu malam.)

Sambil memandangi pohon yang seolah-olah terbakar itu, ingatan saya melayang pada perjumpaan Musa dengan Allah di depan semak duri yang menyala. Saat sedang menggembalakan domba di padang gurun, Musa dikejutkan oleh semak duri yang menyala tetapi tidak dimakan api. Saat Musa mendekati semak itu untuk menyelidiki, Allah memanggilnya. Pesan dari semak yang menyala itu bukanlah tentang penghakiman, melainkan penyelamatan bagi bangsa Israel. Allah telah memperhatikan penderitaan dan kesengsaraan umat-Nya yang diperbudak di Mesir dan Dia “telah turun untuk melepaskan mereka” (Kel. 3:8).

Meski Allah telah menyelamatkan bangsa Israel dari Mesir, seluruh umat manusia masih perlu diselamatkan—bukan hanya dari penderitaan fisik, melainkan juga dari pengaruh kejahatan dan kematian yang masuk ke dalam dunia kita. Ratusan tahun kemudian, Allah bertindak dengan mengutus Sang Terang, Anak-Nya, Yesus (Yoh. 1:9-10), yang diutus tidak “untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia“ (3:17). —LISA M. SAMRA

WAWASAN
Mengapa Allah meminta Musa untuk menanggalkan kasutnya? (Keluaran 3:5). Lebih dari empat puluh tahun kemudian, malaikat Tuhan mengulangi perintah itu kepada Yosua, pengganti Musa (Yosua 5:15). Di Yosua 6:2, kita melihat bahwa “malaikat” itu adalah Tuhan sendiri. Bukan tanah itu yang kudus, melainkan kehadiran Allah yang menjadikan tanah itu kudus. Para teolog juga mendalilkan bahwa kasut, benda yang selalu menyentuh tanah secara harfiah, melambangkan segala hal yang duniawi. Alas kaki dianggap cemar, dan ini bertentangan langsung dengan kekudusan Allah. Sudut pandang itu memberikan pemahaman baru kepada arti penting pembasuhan kaki para murid oleh Yesus di ruangan atas (Yohanes 13:2-17). Selain itu, pada zaman Perjanjian Lama, penanggalan alas kaki adalah tanda pengesahan suatu perjanjian (lihat Rut 4:7-8). —Tim Gustafson

Terang Natal

Bagaimana kamu dapat merayakan keselamatan yang telah Allah sediakan bagi kamu melalui Yesus? Tradisi lain apa yang mengingatkan kamu kepada-Nya?

Bapa Surgawi, terima kasih untuk Yesus, Sang Terang, yang telah Engkau utus ke dalam dunia.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 45 – 46; 1 Yohanes 2

Menjadi Apa Adanya

Jumat, 2 Desember 2022

Baca: 1 Timotius 4 : 12 – 16

4:12 Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

4:13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.

4:14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.

4:15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.

4:16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. [ ] —1 Timotius 4:12

Pada tahun 2011, setelah menikah satu dekade tanpa dianugerahi keturunan, saya dan istri memilih untuk memulai hidup baru di negara lain. Meski senang bisa pindah, saya harus melepaskan karier sebagai penyiar. Saya merasa gamang dan meminta nasihat dari teman saya, Liam.

“Aku tidak yakin apa panggilan hidupku sekarang,” kata saya dengan sedih.

“Kau tidak siaran di sini?” tanyanya. Saya menjawab, “Tidak.”

“Lalu, bagaimana dengan pernikahan kalian?” 

Terkejut karena ia mengubah topik, saya mengatakan kepada Liam bahwa Merryn dan saya baik-baik saja. Kami menghadapi kekecewaan bersama-sama dan ujian tersebut membuat hubungan kami semakin dekat.

“Kesetiaan adalah inti dari Injil,” kata Liam sambil tersenyum. “Dunia sangat perlu melihat pasangan suami-istri yang setia seperti kalian! Kalian mungkin tidak menyadari dampak yang telah kalian berikan, melebihi apa yang telah kalian lakukan, hanya dengan menjadi diri kalian apa adanya.”

Ketika situasi pelayanan yang sulit membuat Timotius bersedih, Rasul Paulus tidak mengingatkannya kepada target yang harus dicapainya. Sebaliknya, ia mendorong Timotius untuk terus hidup saleh, dengan menjadi teladan melalui perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesuciannya (1Tim. 4:12-13,15). Timotius akan memberikan dampak terbaik bagi orang lain dengan hidup setia.

Mudah menilai hidup kita berdasarkan kesuksesan karier, padahal sebenarnya yang terpenting adalah karakter kita. Saya telah melupakan hal itu. Namun, sebuah ucapan yang mengandung kebenaran, tindakan yang murah hati, bahkan pernikahan yang setia dapat membawa perubahan besar—karena melalui semua itu, Allah dapat menebarkan kebaikan-Nya kepada dunia. —SHERIDAN VOYSEY

WAWASAN
Timotius adalah anak didik Rasul Paulus (1 Timotius 1:2). Sebagai salah seorang rekan pelayanan yang paling dipercaya, Timotius dipanggil Paulus sebagai “anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan” (1 Korintus 4:17). Dalam banyak kesempatan, Paulus mengutus Timotius kepada sejumlah jemaat sebagai wakil pribadinya (Kisah Para Rasul 19:22; 1 Korintus 4:17; 16:10-11; Filipi 2:19-23; 1 Tesalonika 3:2-6). Ia meninggalkan Timotius di Efesus, kota perdagangan terkaya di Asia Kecil, untuk menangani berbagai masalah di dalam jemaat kosmopolitan tersebut, termasuk menghadapi guru-guru palsu (1 Timotius 1:3-7) dan ibadah yang tidak tertib (2:8-15), mengangkat penilik jemaat dan diaken, dan menegur mereka yang hidup cinta uang dan tamak (3:1-13). Dalam 1 Timotius 4, Paulus mendorong Timotius agar hidup sebagai teladan dengan bertumbuh dan maju dalam pelayanan pengajarannya (ay.15-16). Timotius harus memimpin dengan menjadi “teladan bagi orang-orang percaya” (ay.12). —K.T. Sim

Menjadi Apa Adanya

Siapa saja yang telah mempengaruhi hidup kamu, dan kualitas diri apa saja yang mereka miliki? Bagaimana kamu dapat menunjukkan teladan kesetiaan pada hari ini?

Ya Allah, tolonglah aku mengingat bahwa pekerjaan yang kulakukan tidaklah sepenting karakter diriku yang sedang Engkau bentuk. Jadikanlah aku semakin serupa dengan-Mu. 

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 42 – 44; 1 Yohanes 1

Saling Menguatkan

Kamis, 1 Desember 2022

Baca: Ibrani 3 : 7 – 19

3:7 Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya,

3:8 janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun,

3:9 di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya.

3:10 Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku,

3:11 sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”

3:12 Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.

3:13 Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.

3:14 Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.

3:15 Tetapi apabila pernah dikatakan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman”,

3:16 siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa?

3:17 Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun?

3:18 Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat?

3:19 Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.

Nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”. [ ] —Ibrani 3:13

Setelah selama seminggu kembali mengalami sakit, saya terhenyak lemas di sofa. Saya tidak ingin memikirkan apa pun. Tidak ingin bicara dengan siapa pun. Saya bahkan tidak dapat berdoa. Perasaan putus asa dan ragu menggayuti saat saya menyalakan televisi dan sebuah iklan muncul. Di sana tampak seorang gadis kecil berkata kepada adik laki-lakinya, “Kamu seorang juara,” katanya. Ia terus mengulangi ucapan yang menguatkan itu sampai adiknya tersenyum, dan saya pun ikut tersenyum.

Sejak awal, umat Allah tidak lepas dari pergumulan dengan perasaan putus asa dan ragu. Dengan mengutip Mazmur 95, yang menegaskan bahwa suara Allah dapat didengar melalui Roh Kudus, penulis Kitab Ibrani memperingatkan umat Allah untuk menghindari kesalahan yang dilakukan bangsa Israel saat mengembara di padang gurun (Ibr. 3:7-11). Ia menulis, “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup. Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari” (ay.12-13).

Dengan pengharapan bahwa hidup kita aman di dalam Kristus, kita bisa menerima kekuatan penuh yang kita butuhkan untuk dapat bertekun: persekutuan umat percaya yang saling menguatkan (ay.13). Bila ada orang percaya mengalami kebimbangan, saudara-saudari seimannya dapat memberikan penguatan dan meneguhkannya kembali. Dengan penguatan yang Allah berikan, kita dimampukan untuk saling menguatkan. —XOCHITL DIXON

WAWASAN
Karena penganiayaan yang berat, orang-orang percaya yang berlatar belakang Yahudi terdesak untuk kembali menganut agama Yahudi (Ibrani 10:32-39). Untuk mendorong mereka bertahan di dalam iman mereka, penulis Kitab Ibrani meminta mereka untuk memandang Yesus sebagai teladan tertinggi (3:1-6; 12:2-3), dan tidak berlaku seperti nenek moyang mereka yang tidak setia dan gagal memperoleh anugerah masuk ke dalam tanah perjanjian (3:7-11). Dengan penekanan pada “hari ini” (ay.7,13,15), ia mendorong mereka agar menaati Allah setiap hari dan menolong satu sama lain setiap hari, agar hati mereka tidak menjadi “jahat dan tidak beriman, sehingga . . . berbalik dan menjauhi Allah yang hidup” (ay.12 BIS) dan akibatnya kehilangan berkat keselamatan (ay.18). —K.T. Sim

Saling Menguatkan

Bagaimana Allah pernah memakai perkataan yang menguatkan dari seseorang dalam hidup kamu untuk menghibur dan menyemangati kamu di masa-masa sulit? Bagaimana kamu dapat menyemangati orang lain dengan perkataan kamu hari ini?

Allah Mahakasih, tolonglah aku untuk hidup bagi-Mu dan menyemangati orang lain dalam kasih dengan perkataan dan perbuatanku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 40 – 41; 2 Petrus 3

Tanda Peringatan

Rabu, 30 November 2022

Baca: Amsal 15:1-7

15:1 Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.

15:2 Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan.

15:3 Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.

15:4 Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati.

15:5 Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak.

15:6 Di rumah orang benar ada banyak harta benda, tetapi penghasilan orang fasik membawa kerusakan.

15:7 Bibir orang bijak menaburkan pengetahuan, tetapi hati orang bebal tidak jujur.

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. —Amsal 15:1

Pernahkah kamu bertemu dengan ular derik? Kalau pernah, mungkin kamu memperhatikan bahwa semakin kamu mendekatinya, bunyi ular derik akan semakin keras. Riset di majalah ilmiah Current Biology menyatakan bahwa ular derik memang meningkatkan bunyi deriknya ketika merasa ada ancaman mendekat. “Mode frekuensi tinggi” itu dapat membuat kita mengira bahwa ular tersebut berada lebih dekat daripada yang sebenarnya. Seorang peneliti menulis, “Kesalahan tafsir seseorang yang mendengar bunyi itu terhadap jarak . . . akan membuatnya menjaga jarak aman.”

Terkadang, dalam sebuah konflik, seseorang menaikkan volume suara sampai berteriak dan memakai kata-kata kasar—untuk menunjukkan kemarahannya—sehingga orang lain menjauh. Penulis Kitab Amsal memberikan nasihat bijak untuk waktu-waktu seperti itu: “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (Ams. 15:1). Selanjutnya ia berkata bahwa kata-kata yang “lembut” dan “bijak” dapat menjadi “pohon kehidupan” dan sumber “pengetahuan” (ay.4,7).

Yesus memberikan alasan terpenting mengapa kita perlu menghadapi orang yang berkonflik dengan kita secara lemah lembut: kasih yang kita ulurkan akan menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak-Nya (Mat. 5:43-45) dan usaha kita mencari pendamaian adalah untuk “mendapat [mereka] kembali” (18:15). Alih-alih menaikkan volume suara atau memakai kata-kata kasar pada saat konflik, kiranya kita menunjukkan sopan santun, hikmat, dan kasih kepada sesama di bawah bimbingan Roh Allah. —TOM FELTEN

WAWASAN
Kuasa perkataan kita adalah tema yang umum di dalam Kitab Suci. Empat dari tujuh amsal kita hari ini (Amsal 15:1-7) menyebut tentang pentingnya memperhatikan ucapan kita. Banyak dari pernyataan itu yang mempertentangkan penggunaan kata-kata secara positif dan negatif. Salomo menyebutkan bahwa perkataan kita mencerminkan apa yang ada di dalam hati kita: Perkataan yang berisi pengetahuan menunjukkan kebijaksanaannya, tetapi “mulut orang bebal mencurahkan kebodohan” (ay. 2). Yesus mengulangi hikmat itu dalam Matius 15:1-20. Saat membahas apa yang menajiskan orang, Dia berkata bahwa bukan apa yang masuk ke dalam mulut mereka, melainkan apa yang keluarlah yang menajiskan mereka, karena yang keluar dari mulut itu mengungkapkan apa yang ada di dalam hati. Perkataan yang kotor menyingkapkan hati yang kotor (ay. 11,18-20). —J.R. Hudberg

Tanda Peringatan

Mengapa terkadang sulit bersikap lemah lembut dan penuh kasih di tengah konflik? Bagaimana Roh Kudus dapat menolong kamu untuk berhati-hati dalam memilih kata-kata dan tindakan?

Bapa Surgawi, saat aku berbeda pendapat dengan orang lain, tolonglah aku menangani masalah tersebut dengan penuh kasih.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 37-39; 2 Petrus 2

Makanan Baru Masak

Selasa, 29 November 2022

Baca: Matius 25:34-40

25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. —Matius 25:40

Ayam panggang, buncis, spageti, roti. Pada suatu hari yang dingin di bulan Oktober, setidaknya lima puluh empat tunawisma menerima makanan baru masak yang disiapkan oleh seorang wanita yang merayakan ulang tahunnya yang kelima puluh empat. Tidak seperti kebiasaannya merayakan ulang tahun dengan makan-makan di restoran, sang wanita dan teman-temannya memutuskan untuk memasak dan membagikan makanan bagi para tunawisma di jalanan kota Chicago. Di media sosial, ia juga mendorong orang lain untuk melakukan perbuatan baik apa saja sebagai hadiah ulang tahun.

Kisah itu mengingatkan saya pada perkataan Yesus dalam Matius 25: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (ay.40). Yesus mengucapkan kata-kata itu setelah menyatakan bahwa domba-domba-Nya akan diundang ke dalam kerajaan-Nya untuk menerima warisan mereka (ay.33-34). Pada waktu itu, Yesus akan mengakui bahwa merekalah orang-orang yang memberi-Nya makan dan pakaian oleh karena iman mereka yang murni kepada-Nya, tidak seperti pemuka agama yang angkuh dan tidak percaya kepada-Nya (lihat 26:3-5). Meski “orang-orang benar” akan bertanya kapan mereka memberi makan dan pakaian kepada Yesus (25:37), Dia meyakinkan mereka bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan bagi orang lain sesungguhnya telah mereka lakukan bagi-Nya (ay.40).

Memberi makan mereka yang lapar hanyalah salah satu cara Allah untuk menolong kita melayani umat-Nya, menyatakan kasih kita kepada-Nya, dan menunjukkan hubungan kita dengan-Nya. Semoga Dia menolong kita untuk memenuhi kebutuhan sesama hari ini. —KATARA PATTON

WAWASAN
Matius menggambarkan hidup pelayanan yang diabdikan kepada “yang paling hina” dari “saudara-Ku” (Matius 25:40). Gagasan melayani mereka yang berkebutuhan sebagai salah satu cara melayani Allah secara tidak langsung juga ditemukan dalam Amsal 19:17, “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” Karena di bagian lain dari Injil Matius, Yesus mendefinisikan “saudara-[Nya]” sebagai mereka “yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (12:50), Matius tampaknya berfokus terutama pada perlakuan terhadap orang-orang percaya yang lemah dan berkebutuhan karena telah mengambil risiko besar dengan melayani-Nya. Karena Yesus mengutus para pengikut-Nya melakukan pekerjaan yang berbahaya demi kerajaan-Nya, perkataan-Nya di sini menguatkan mereka bahwa Dia selalu menyertai dalam pergumulan mereka. —Monica La Rose

Makanan Baru Masak

Perbuatan baik apa yang dapat kamu lakukan hari ini untuk menyatakan kasih Allah kepada sesama? Bagaimana kamu juga melayani-Nya ketika kamu memenuhi kebutuhan mereka?

Allah Maha Pemurah, tolonglah aku untuk menyatakan kasih-Mu melalui perbuatanku hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 35-36; 2 Petrus 1

Jalan Sertaku

Senin, 28 November 2022

Baca: Titus 2:11-14

2:11 Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.

2:12 Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini

2:13 dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,

2:14 yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.

Kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. —Titus 2:11

Beberapa tahun lalu, sebuah lagu populer bertengger di tangga lagu teratas. Bagian refrein lagu tersebut dinyanyikan oleh paduan suara rohani, dengan lirik “Yesus jalan sertaku”. Lirik tersebut memiliki latar belakang kisah yang sangat luar biasa.

Paduan suara itu dibentuk oleh musisi jazz Curtis Lundy ketika ia mengikuti program rehabilitasi bagi pecandu kokain. Ia mengumpulkan para pecandu dan menemukan inspirasi dari sebuah buku kidung rohani tua. Ia pun menulis bagian refrein tersebut sebagai kidung pengharapan bagi mereka yang sedang direhabilitasi. “Kami menyanyi demi hidup kami,” komentar salah seorang anggota paduan suara mengenai himne tersebut. “Kami meminta Yesus untuk menyelamatkan kami, agar menolong kami keluar dari kecanduan.” Seorang anggota yang lain mengaku rasa sakitnya berkurang saat ia menyanyikan lagu itu. Paduan suara tersebut bukan hanya menyanyikan lirik di atas kertas, tetapi menyampaikan permohonan yang sungguh-sungguh untuk dipulihkan.

Bacaan Kitab Suci hari ini menggambarkan pengalaman mereka dengan sangat baik. Dalam Kristus, Allah kita telah datang untuk menawarkan keselamatan bagi semua manusia (Tit. 2:11). Meski hidup kekal merupakan bagian dari karunia itu (ay.13), Allah sedang bekerja dalam diri kita sekarang, memberi kita kekuatan untuk mendapatkan kembali pengendalian diri, menolak hasrat duniawi, dan menebus kita untuk hidup bersama-Nya (ay.12,14). Sebagaimana yang disadari para anggota paduan suara tadi, Yesus tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita, tetapi juga membebaskan kita dari gaya hidup yang merusak.

Yesus jalan serta saya, juga kamu, bahkan siapa saja yang berseru kepada-Nya untuk memohon pertolongan. Dia menyertai kita, untuk menawarkan pengharapan bagi masa depan dan keselamatan pada masa kini. —SHERIDAN VOYSEY

WAWASAN
Titus adalah salah satu dari banyak anak didik yang telah dibimbing Rasul Paulus dalam pelayanan. Selain menempuh perjalanan dan pelayanan bersama Paulus, Titus juga bolak-balik membawa pesan antara Paulus dan jemaat di Korintus yang dalam pergumulan (2 Korintus 7:6-9). Titus, seorang bukan Yahudi yang telah beriman kepada Kristus (Galatia 2:3), akhirnya dipercaya memimpin pelayanan pengabaran Injil di jemaat Kreta (Titus 1:5). Kasih karunia adalah tema yang terus-menerus dipakai Paulus di dalam banyak suratnya (lihat terutama Galatia dan Efesus), dan itu juga menjadi inti perikop kita hari ini: “Kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Titus 2:11). Paulus terus-menerus menarik orang keluar dari kepercayaan yang didasarkan pada pekerjaan agamawi untuk sebaliknya berfokus pada karunia cuma-cuma yang kita terima dari Allah melalui Kristus. —Bill Crowder

Jalan Sertaku

Apa yang perlu Yesus ubahkan dalam diri kamu? Seberapa besar keinginan kamu untuk diubahkan oleh-Nya?

Tuhan Yesus, aku membutuhkan-Mu. Ampunilah dosa-dosaku, lepaskanlah aku dari kebiasaan-kebiasaan yang merusak, dan ubahkanlah aku, dari hatiku kepada perilakuku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 33-34; 1 Petrus 5

Sungguh Indah

Minggu, 27 November 2022

Baca: Efesus 2:1-10

2:1 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.

2:2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.

2:3 Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.

2:4 Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita,

2:5 telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita–oleh kasih karunia kamu diselamatkan–

2:6 dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga,

2:7 supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.

2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,

2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. —Efesus 2:10

Saya masih kecil saat mengintip melalui jendela ruang bayi di rumah sakit dan untuk pertama kalinya melihat bayi yang baru lahir. Ketika itu saya terkejut melihat seorang bayi mungil keriput dengan kepala kerucut tanpa rambut. Ibu bayi itu berdiri di dekat kami, dan berulang kali mengatakan kepada semua orang, “Cantik, ya?” Saya teringat pada peristiwa itu saat menyaksikan video seorang ayah muda yang dengan lembut menyanyikan lagu “You Are So Beautiful” (Kau Sangat Indah) kepada bayi perempuannya. Bagi ayahnya yang terpesona, gadis kecil itu adalah hal terindah yang pernah diciptakan Allah.

Begitukah cara Allah memandang kita? Efesus 2:10 mengatakan bahwa kita adalah “buatan” Allah, mahakarya-Nya. Ketika menyadari segala kekurangan yang ada pada diri kita, mungkin sulit rasanya menerima kenyataan bahwa Dia sangat mengasihi kita, atau percaya bahwa kita berharga di mata-Nya. Namun, Allah tidak mengasihi kita karena kita layak dikasihi (ay.3-4); Dia mengasihi kita karena Dia adalah kasih (1Yoh. 4:8). Kasih-Nya merupakan kasih karunia, dan Dia menunjukkan kedalaman kasih-Nya ketika, melalui pengorbanan Yesus, Dia “menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus”, ketika kita telah mati oleh dosa-dosa kita (Ef. 2:5,8).

Kasih Allah tidak pernah berubah. Kasih-Nya tetap untuk selama-lamanya. Dia mengasihi yang tidak sempurna, yang rusak, yang lemah, dan yang hidupnya berantakan. Saat kita jatuh, Dia ada untuk mengangkat kita kembali. Kita adalah harta yang berharga bagi-Nya, dan sungguh indah di mata-Nya. —Cindy Hess Kasper

WAWASAN
Dalam Efesus 1–2, Paulus melukiskan gambaran indah mengenai rencana penyelamatan Allah yang luar biasa. Pembaca awalnya (jemaat Efesus) sudah percaya kepada Yesus (1:1), dan telah menerima Roh Kudus (ay. 13). Namun, mereka masih berada di awal perjalanan iman mereka dalam mengikut Kristus. Paulus berdoa “supaya Ia menjadikan mata hati [mereka] terang” (ay. 18). Menurut pendeta dan penulis D. Martyn Lloyd-Jones dalam buku God’s Way of Reconciliation, Paulus rindu agar mereka (dan kita) meyakini “kuasa [besar] Allah bagi semua yang percaya. . . . Kita harus menyadari kuasa Allah yang terwujud nyata di dalam karya keselamatan-Nya. Tidak ada yang lebih penting dari itu.” Oleh kasih karunia-Nya (2:5-10), tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Dia (Roma 8:35-39). —Alyson Kieda

Sungguh Indah

Apa artinya mengetahui bahwa “Allah adalah kasih”? Bagaimana kamu dapat menerima kebenaran tentang kasih Allah yang tidak berkesudahan bagi kamu saat kamu merasa tak layak menerimanya?

Bapa yang mulia, terima kasih atas kasih-Mu padaku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 30-32; 1 Petrus 4