Cerpen: Aku (Bukan) Si Pelit

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Bukan rahasia lagi kalau aku dikenal konservatif dalam berbagai hal terlebih untuk urusan berbagi sampai-sampai temanku sering menyebutku “Anggi si pelit”. Gelar baru itu kudapat sehubungan dengan kebiasaanku yang sangat berhati-hati dalam memberikan sesuatu baik barang atau jasa.

Semasa kecil, aku akan sangat mudah mengatakan “tidak” untuk teman-teman yang meminjam pulpen atau mainanku. “Nanti mamaku marah,” “Aku masih memakainya,” atau lebih ekstrem sampai berbohong, “Aku hanya punya satu.” Aku selalu mencari alasan agar apa yang ada padaku tidak dipakai atau diminta orang lain.

Beranjak remaja dan kuliah, berbagai kecenderungan egoisku semakin kentara. Aku terkesan tidak mau sharing apa yang sudah kuketahui, tapi sebaliknya aku akan sedikit memaksa teman-temanku menjelaskan hal-hal yang tidak kumengerti. Dalam hal keuangan, aku juga begitu. Saat ada kegiatan di luar kampus, aku kadang memilih menumpang pada teman jadi uang bensinnya tidak kutanggung sendiri. Aku juga sering keberatan saat kami harus mengumpulkan uang untuk merayakan ulang tahun dosen atau teman sekelas. Dulu aku mencoba berdalih kalau semua itu kulakukan hanya untuk menghemat dan bersikap bijaksana dengan uang atau barang-barang yang kumiliki. Belakangan, sepertinya teman-temanku tidak lagi mengenal karakterku yang lain, mereka hanya mengingatku sebagai pribadi yang susah berbagi.

Aku mengakui dalam beberapa sisi hidupku, julukan ini ada benarnya, namun aku tidak nyaman kalau pada akhirnya keseluruhan hidupku disimpulkan dengan satu label negatif tersebut. Teman-temanku seharusnya bisa melihat bagaimana aku selalu berusaha menepati hal-hal yang kujanjikan, aku juga bisa mengerjakan bagianku dengan bertanggung jawab. Untuk urusan keuangan, menurutku aku bisa mengendalikan diri untuk membedakan kebutuhan dan keinginan. Dalam hal berbagi, aku pun sudah mulai belajar. Di masa pandemi lalu beberapa kali aku mengirimkan sesuatu untuk teman dan saudara yang sedang melakukan isoman. Akhir-akhir ini aku bahkan memilih mengontrak bersama teman-teman kerjaku agar bisa berbagi pakai barang dengan mereka. Aku minta maaf jika ini terkesan sesumbar, tapi aku juga ingin mereka menyadari ada sisi baik dari diriku.

Aku yakin kalau aku bukan satu-satunya orang yang merasa terganggu dengan muatan identitas baik berupa label negatif atau positif. Tidak hanya dari orang lain, kita sendiri pun terkadang mau memberikan label tertentu pada diri kita. Mungkin kita adalah “Si A Ekstrovert”, selalu ceria dan dianggap aneh jika terlihat murung. Boleh jadi juga kita menamai diri sebagai “Si B Introvert” yang bisa menjaga rahasia, jadi teman-teman sering curhat padahal kita sedang tidak siap mendengar. Barangkali kita lebih mirip dengan julukan “Si C yang menyenangkan”, enggan menolak karena khawatir melukai perasaan orang lain. Atau justru kita “Si D” yang cenderung mengatakan pikiran kita terlebih saat tidak setuju
atau tidak suka dengan sesuatu sehingga dijuluki si pemarah dan sulit diajak kompromi.

Tidak hanya berisi kesan negatif, label yang melekat pada seseorang juga ternyata ada yang berdampak baik. Contohnya dalam penelitian “The Saints and the Roughnecks” yang dilakukan sosiolog J. Chambliss. Penelitian ini mengamati dua kelompok remaja, yang sering melakukan kenakalan seperti bolos sekolah, mengkonsumsi alkohol di sekolah, melakukan vandalisme dan mencuri. Meski sama-sama nakal, masyarakat sekitar mencoba memberikan label yang berbeda bagi keduanya, yang satu sebagai “The Saints” (Orang Baik) dan yang lain dengan julukan “The Roughnecks” (orang Kasar). Dari hasil observasinya selama dua tahun, ia menemukan bahwa 7 dari 8 remaja kelompok The Saints bisa berubah. Sebaliknya, anak-anak yang berada dalam kelompok The Roughnecks tetap hidup dengan kenakalan mereka. Hasil ini tampak sejalan dengan teori pelabelan di mana dikatakan pada dasarnya jika seseorang berulang kali diberitahu/dicap dengan “sesuatu yang negatif atau sesuatu yang positif,” maka pada akhirnya dia akan cenderung memenuhi label tersebut.

Dari Alkitab kita juga bisa belajar bahwa baik penyebutannya bernilai baik atau buruk, label apapun yang melekat pada diri seseorang tidak bisa dipakai untuk menggambarkan keseluruhan hidup seseorang. Akhir kisah Thomas pasti jauh berbeda seandainya Tuhan Yesus hanya memandangnya sebagai “Si tukang ragu-ragu” atau “Pribadi yang sulit percaya.” Sebaliknya, Ia memberi kesempatan pada Thomas untuk mengulurkan dan mencucukkan jarinya ke lambung-Nya (Yohanes 20:24-29). Atau seperti cerita Simon yang bertemu dengan Yesus dan dinamai Kefas yang artinya Petrus (Yohanes 1:40-42). Kefas adalah nama dalam Bahasa Aram untuk Yunani Petrus yang secara harfiah artinya “Batu” atau “Batu Karang”.

Kita pasti setuju sebutan “Batu Karang” menggambarkan stabilitas atau keteguhan. Namun, tampaknya penyebutan ini bertentangan tidak saja dengan kepribadiannya, tetapi juga dengan sejumlah peristiwa dalam kehidupan Petrus di hari-hari selanjutnya ia bersama Yesus. Dalam Lukas 5 kita bisa membaca bagaimana ia akhirnya menuruti perintah Yesus untuk kembali menyebarkan jala meskipun sempat mempertanyakannya. Di lain hari, dengan kuasa-Nya Petrus berhasil berjalan di atas air hingga keraguannya membuat ia mulai tenggelam. (Matius 14:22-33) Kita juga tidak asing dengan kisah sebelum ayam berkokok. Petrus, “Si Batu Karang yang Teguh” menyangkal bahwa dia mengenal Yesus (Lukas 22:54-62).

Tidak hanya berlaku bagi Simon dan Petrus. Entah diberikan atau kita sendiri yang menyematkannya, julukan tidak selalu mewakili keseluruhan hidup kita. Perjalanan, pengalaman membawa kita mengalami pasang surut, termasuk dalam kepribadian dan karakter. Lebih dari itu kita juga harus mengetahui—terlepas dari apa yang telah atau belum kita lakukan—kuasa Allah cukup besar untuk membantu kita berubah. Tidak ada kesalahan atau dosa yang terlalu fatal untuk diampuni oleh anugerah-Nya. Tak satupun kebiasaan yang terlalu melekat untuk diubahkan oleh kasih-Nya. Ia sanggup membantu kita menghancurkan label yang menyandera kehidupan kita selama ini. Identitas kita tidak ditentukan oleh label atau pengakuan lain sejenisnya.

Kendati aku juga masih berjuang untuk tidak terpengaruh dengan label dan julukan diriku, aku berdoa semoga kamu juga merasakan kasih karunia Allah untuk menyingkirkan apapun label kejam yang membebanimu. Entah kamu seorang yang dikenal sebagai pecandu dan bergumul menyingkirkan hal-hal yang mengikatmu. Kamu yang sedang belajar untuk makan dengan benar dan olahraga teratur karena terganggu dengan mereka yang memanggilmu “Si Gemuk.” Kamu yang terus berusaha menikmati pekerjaanmu kendati sebagian keluarga menganggap pilihan kariermu kurang pas. Bahkan kamu yang selalu memperjuangkan hal-hal yang dampaknya mungkin tak kasat mata atau tidak berwujud.

Semoga Allah senantiasa menolong kamu dan aku untuk semakin menemukan kemerdekaan dalam kasih-Nya dan berjalan mendekati visi-Nya bagi kita masing-masing (Yeremia 29:11).

Soli Deo Gloria

Jadi Orang Kristen, Tapi Ambisius… Memangnya Boleh?

Oleh Andrew Laird
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Is It Okay For A Christian To Be Ambitious?

Ambisi.

Inilah kata yang menimbulkan diskusi di kalangan orang Kristen. Kita sering mengartikan ‘ambisi’ sebagai sifat yang ‘menghalalkan segala cara’, ‘tusuk lawanmu dari belakang’, terkhusus kalau kita bicara soal pekerjaan. Kita pasti tidak asing dengan sosok teman atau kenalan yang berwatak keras dan mati-matian demi mewujudkan apa yang mereka mau. Atau mungkin, kita pernah jadi orang seperti itu!

Tapi.. kalau kebalikan dari ambisius, bukannya itu juga tidak baik? Bayangkan kamu tidak punya gairah, semangat, tujuan. Hidup cuma sekadar hidup. Cara seperti ini juga rasanya bukan pilihan yang baik.

Jadi… apakah ada tempat bagi ambisi dalam hidup Kristen? Jika ada, seperti apa bentuknya? Dan kalau kita tidak punya ambisi, apakah itu sama buruknya seperti prinsip ambisius yang ‘menghalalkan segala cara’?

Syukurlah, Alkitab tidak meninggalkan kita sendirian dalam menggumuli pertanyaan ini.

Ada dua tipe ambisi

Pada tingkatan yang paling dasar, ambisi berarti berjuang keras untuk meraih sesuatu. Masalah muncul ketika pengejaran itu semata-mata hanya untuk tujuan dan kepuasan kita. Jenis ambisi ini seringkali mewujud ke dalam bentuk manipulasi dan menyerang siapa pun yang menghalangi keinginan kita (Yakobus 3:16).

Inilah tipe ambisi yang disebut Alkitab sebagai “ambisi egois”, dan ini sudah jelas salah bagi orang Kristen. Contohnya, dalam surat Rasul Paulus untuk jemaat Filipi, dia berbicara tentang beberapa orang yang mengotbahkan Kristus karena “ambisi yang mementingkan diri sendiri” (Filipi 1:17). Paulus tidak terkesan dengan motivasi mereka. Betul, mungkin mereka mengabarkan Kristus, tetapi mereka mengutamakan kepentingan pribadi, “…dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara” (ayat 17). Mereka ingin pujian manusia (mereka iri karena Paulus mendapatkannya), jadi rasa egoislah yang menggerakkan mereka.

Kemudian, di surat yang sama, Paulus mendorong pembacanya agar tidak membiarkan diri digerakkan oleh ‘ambisi egois’, tetapi mengejar kerendahan hati (Filipi 2:3).

Tetapi…semua ini tidak berarti ambisi itu salah. Jika ada satu orang dalam Alkitab yang sungguh ambisius, dialah Rasul Paulus! Ambisinya terlihat jelas ketika dia bicara tentang mengejar relasi yang lebih dalam dengan Kristus, menekankan dan berusaha keras untuk mengejar apa yang di depan (Filipi 3:12,13) untuk memperoleh ‘hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Filipi 3:14). Ini bukanlah bahasa yang dituturkan oleh seorang dengan ambisi yang rendah! Kita bisa melihat semangat yang sama dalam surat-surat Paulus lainnya di mana dia mengupayakan segala cara memberitakan Injil, berapa pun harga yang harus dia bayar.

Mengejar ambisi yang benar

Jenis ambisi yang kita lihat dalam Paulus mungkin paling tepat kita sebut sebagai ‘ambisi yang saleh’. Tidak seperti ambisi egois, inilah jenis ambisi yang digerakkan atas kepentingan orang lain, dan juga Tuhan. Inilah ambisi yang rendah hati; dengan semangat bekerja keras untuk meraih sesuatu, tapi demi kepentingan orang lain, bukan diri sendiri. Mungkin inilah Paulus mengontraskan ambisi yang egois dalam Filipi 2:3 dengan kerendahan hati. Amy Dimarcangelo, seorang penulis menulis begini di artikelnya:

“Bagaimana aku bisa tahu kalau ambisiku itu ambisi yang benar dan saleh?” Tidak ada yang salah dengan berambisi, “selama keinginan dan tekad itu dibungkus dalam kemuliaan Tuhan, bukan kita sendiri.”

Apa artinya ini semua bagi orang Kristen di ladang pelayanannya masing-masing? Kita boleh berambisi…demi orang lain! Bekerja keras, belajar hal baru, mendengar podcast, membaca buku–lakukan semua itu bukan cuma untuk diri sendiri, tapi agar kita dapat meningkatkan kualitas diri untuk melayani Tuhan lewat pekerjaan kita, agar orang lain turut diberkati.

Cara pikir ini mungkin terkesan radikal, terkhusus apabila sebelumnya kita hanya berpikir melakukan semuanya hanya demi kepentingan kita sendiri.

Namun, Allah dalam hikmat-Nya yang besar memberi kita hasrat (juga kemampuan, talenta, dan pengetahuan) yang menjadi sukacita kita untuk menggunakannya demi kepentingan orang lain. Allah bukan pembunuh sukacita; Dia rindu kita bersukacita tetapi sukacita terbesar hanya kita temukan ketika kita menggunakan apa yang kita punya bagi orang lain, bukan diri sendiri. Mengapa Yesus mati di kayu salib (tindakan kasih terbesar dari ambisi yang tidak egois)? “Yang tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia” (Ibrani 12:2). Inilah yang terdengar aneh, tetapi paradoks yang paling indah dalam iman Kristen—dalam memberi kita menemukan kepuasan dan sukacita.

Penting untuk kita ingat bahwa motivasi kita selalu campur aduk. Memang, tugas yang sama yang dapat dilakukan untuk kebaikan orang lain mungkin juga dilakukan karena mementingkan diri sendiri (perhatikan contoh yang diberikan Paulus tentang mereka yang mengkhotbahkan Kristus, “karena ambisi yang mementingkan diri”!).

Adalah baik jika kita waspada dan bertanya pada diri sendiri dari waktu ke waktu. “Apa yang menggerakkanku? Egoisme atau bukan? Tapi, hanya karena motivasi kita seringkali bercampur aduk dan tidak murni, ini tidak berarti kita tidak boleh memiliki ambisi.. melainkan berdoalah dengan tekun agar Tuhan menolongmu mengembangkan ambisimu menjadi sesuatu yang berfokus pada orang lain, bukan cuma diri sendiri.

Hindari hidup yang tidak berambisi

Tapi… bagaimana dengan pertanyaan final ini: Kalau aku gak punya ambisi, apakah itu seburuk orang yang punya prinsip ambisi ‘menghalalkan segala cara’?

Seringnya sih iya. Tapi kita butuh klarifikasi yang lebih penting. Apa yang orang lain lihat sebagai ‘kurang berambisi’ bisa jadi juga bentuk kepuasan atas apa yang Tuhan telah berikan dan tempatkan kita selama ini. Jika kita punya kepuasan seperti itu, puji Tuhan! Tapi, itu tidak berarti kita harus kekurangan ambisi. Kepuasan dan ambisi bisa (dan harus) berjalan bersandingan. Dalam kepuasanmu kamu bisa tetap berambisi untuk orang-orang di sekitarmu. Lihat apa yang jadi kebutuhan mereka dan lakukan sesuatu untuk mendukung mereka.

Namun, kekurangan ambisi dalam konteks Alkitab dapat juga dideskripsikan sebagai kemalasan. Si pemalas dalam Amsal sering dijadikan contoh cara hidup yang tidak patut kita tiru (Amsal 6:9; 13:4, 15:19, 26:15). Tak ada hal yang memuliakan Tuhan dari menyia-nyiakan kemampuan yang telah Dia berikan kepada kita, yang seharusnya bisa kita gunakan buat orang lain.

Di artikel yang sama, Amy Dimarcangelo juga menulis: “Orang yang pasif, yang menghindari berusaha sendiri karena mereka ‘percaya Tuhan’ mungkin terdengar rohani, tapi bisa jadi itu hanya dalih dari kemalasan dan kurang tanggung jawab. Mempercayai Tuhan untuk hasil panen yang baik tidak akan berarti apa pun kalau kamu tidak mau menyirami dan merawat benihmu.”

Maka jadilah ambisius bagi Allah! Pakai karunia, kemampuan, talenta, dan kesempatan yang Dia berikan padamu. Lalu, dengan cara kreatif dan bersemangat, gunakan itu semua untuk kebaikan orang lain dan kemuliaan-Nya.

Keterbatasan Bukan Halangan Untuk Menerima Panggilan-Nya

Oleh Jlo (Jessica Lowell), Tangerang

Apa yang kalian pikirkan mengenai keterbatasan?

Banyak orang memiliki pemikiran bahwa keterbatasan adalah orang yang cacat atau tidak lengkap tubuhnya (istilah bahasa Inggrisnya disable). Sedangkan dalam KBBI, keterbatasan berarti keadaan terbatas. Pemikiran awal di atas tidak ada salahnya, namun keterbatasan itu tidak hanya cacat fisik. Ada orang yang memiliki anggota tubuh lengkap, tapi ternyata memiliki keterbatasan dalam hal lain. Salah satunya seperti aku.

Aku memiliki anggota tubuh lengkap, tetapi memiliki keterbatasan yang tidak banyak orang tahu, yaitu disleksia. Disleksia adalah gangguan saraf di bagian batang otak.yang berfungsi memproses bahasa. Waktu kecil, aku mengalami kelambatan bicara yang disebut speak delay, dan ketika mulai menginjak sekolah dasar, bicaraku masih belum jelas, sehingga aku di-bully oleh orang-orang sekitarku.

Aku tidak akan menceritakan mengenai bullying. Aku akan menceritakan bagaimana aku yakin dan percaya bahwa keterbatasanku bukan halangan untuk menerima panggilan Tuhan.

Aku dilahirkan dalam keluarga Kristen. Tiap minggu, aku diajak untuk sekolah minggu. Ketika kelas 6 SD, aku mengikuti retret dan memberi diri untuk mengikut Yesus.

Kemudian memasuki fase remaja, aku belum menemukan hal yang membuatku tertarik. Aku sering ditanya, apa cita-citaku kelak, dan aku selalu menjawab mau menjadi hamba Tuhan. Aku mau membuktikan bahwa keterbatasanku (disleksia) bukan halangan bagi kita untuk melayani Tuhan. Aku pun mengambil pelayanan di sekolah Minggu dengan menjadi asisten guru. Salah satu alasan aku melayani di sekolah Minggu karena aku menyukai anak-anak.

Aku tahu, disleksia yang kualami tentu akan mempengaruhi tiap kegiatanku, di mana pun itu. Misalnya semasa kuliah, ketika ada kerja kelompok dan aku ditanya teman-teman, aku sulit mengutarakan pendapat (kata-kata), sehingga aku memilih diam saja. Begitupun dalam pelayanan yang k ambil, walaupun hanya terkadang. Karena saat ini aku hanya membantu dan lebih banyak bertugas dalam bidang multimedia. Namun tetap saja, aku harus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan teman sepelayananku. Dan aku memilih untuk tidak menyerah dalam melayani, walaupun disleksia mempengaruhi pelayananku.

Kita tahu bahwa dalam Alkitab, banyak sekali tokoh yang memiliki keterbatasan, namun dipakai oleh Tuhan. Salah satunya Musa yang tidak fasih berbicara. Tuhan memilih Musa untuk melakukan suatu pekerjaan besar, yaitu membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, tetapi Musa menolak panggilan Tuhan berkali-kali. Salah satu alasannya menolak karena mempermasalahkan kemampuan bicaranya yang buruk.

“Lalu kata Musa kepada TUHAN: ”Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah” (Keluaran 4:10).

Tuhan sabar menghadapi Musa dan penolakannya. Dia pun berjanji menyertai lidah Musa dan mengajarinya apa yang harus dikatakan (Keluaran 4:12), hingga akhirnya Musa menerima panggilan tersebut. Dan Tuhan memegang janji-Nya. Dia senantiasa menyertai Musa dalam segala hal dan pergumulannya, hingga akhirnya bangsa Israel bebas dari Mesir.

Hal ini mengingatkanku pada kitab 2 Korintus 12 ayat 9 :

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Dalam kelemahankulah kuasa Tuhan menjadi sempurna

Tuhan tentu bisa menghapus kelemahan kita, karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Tapi justru dalam kelemahanlah, Tuhan mau kita bergantung pada kuasa-Nya.

Bisa dibilang, kesediaan aku melayani Tuhan mirip dengan satu nabi di Alkitab yang bernama Yesaya. Saat Nabi Yesaya ditanya oleh Tuhan, ”Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Yesaya menjawab, ”Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8).

Setiap kali aku ikut KKR dan retret, aku ditantang oleh pembicara, siapa yang mau menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu untuk menjadi pengajar. Hatiku selalu gemetar, tapi aku memilih melangkah maju sebab aku rindu dapat melayani Tuhan pada bidang itu.

Tuhan bisa memakai siapa saja yang dia mau untuk menjadi pelayan-Nya, baik laki laki atau perempuan, baik tua atau muda. Tuhan juga tidak melihat masa lalu. Ia pun tidak melihat dari ketidaksempurnaan, karena kita semua adalah manusia yang tidak sempurna. Tetapi, yang Tuhan lihat adalah hati yang mau melayani Dia dengan sungguh-sungguh.

Aku mau mengajak kita semua untuk tidak berkecil hati dan tidak takut menerima panggilan Tuhan. Kita pasti memiliki kelemahan yang berbeda-beda, entah terlihat atau tidak. Tapi ingatlah, dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna.

Jika kita Dia pilih untuk menjadi pelayan-Nya, Dia pasti akan memampukan kita dan menyertai kita untuk melakukan pekerjaan baik.

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).

Sebagai penutup, aku mau memberikan satu ayat Alkitab yang bisa menjadi penguat bagi kita semua dalam melayani.

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).

Tuhan Utus, Tuhan Urus

Oleh Cristal Tarigan, NTT

Namaku Cristal Pagit Tarigan. Aku berasal dari Tigalingga, Dairi, Sumatera Utara. Sekarang aku adalah seorang guru pedalaman di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Desa Kot’olin, Timor Tengah Selatan. Tidak pernah sedikit pun aku terpikir akan berada di pedalaman, bahkan menginjakkan kakiku di sini.

Tiga tahun lalu, tepatnya setelah aku wisuda, aku langsung bekerja di sebuah bimbel (bimbingan belajar) di kota Medan. Di sana aku mulai bertanya sungguh-sungguh kepada Tuhan tentang arti hidup yang lebih bermakna.

Awalnya ada ketidaknyamanan ketika merasa hari-hari berlalu begitu saja: aku mengajar tapi tak menikmatinya, karena merasa bimbel tempatku bekerja penuh dengan drama “ajang bisnis”. Selain itu, yang paling membuatku sedih adalah jam kerja dari sore sampai malam, membuatku tak bisa mengerjakan komitmen tanggung jawab pelayananku selama 1 tahun. Akhirnya, aku memutuskan keluar dari tempat kerja tersebut dan menjadi seorang freelancer yang mengajar privat dan bisnis online. Sejak saat itu aku lebih banyak merenungkan tujuan hidupku.

Sebagai freelancer, aku memiliki banyak waktu sela, sehingga aku bisa aktif dalam sebuah pelayanan penginjilan, pelayanan pemuridan, dan sebuah les gratis di sebuah desa di pinggiran Deli Serdang. Singkat cerita, pengalaman bertemu banyak orang dari berbagai lapisan sosial di sana membuatku semakin mengerti: apa tujuan Tuhan mengutusku di dunia ini dan melalui apa aku dapat berdampak untuk sekelilingku.

Sesungguhnya, tujuanku ke sini benar-benar ingin menjadi seseorang yang lebih berguna buat sesama, tapi rupanya itu tidak semudah yang aku bayangkan. Ada begitu banyak pergelutan pikiran dan hati yang kurasakan ketika sampai di sini. Di awal-awal, aku masih sering bertanya, Tuhan, benarkah aku di sini karena panggilanku? Begitu banyak hal yang terjadi di sini.

Awalnya mulai dari mengatasi kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan, khususnya makanan yang sangat berbeda dari kota, baik dari segi ketersediaan dan juga nilai gizinya. Bukan aku tidak mempersiapkan diri, tapi bagiku soal makanan ini lebih buruk dari yang aku bayangkan.

Minggu kedua berada di sini, aku jatuh sakit. Rasanya sedih sekali saat itu. Perasaan takut karena berada di pedalaman juga menambah kekhawatiran. Berat badan pun tiba-tiba turun. Tidak hanya fisikku yang sakit, tapi pikiranku juga. Aku menangis, berdoa, dan bergumul. Tiga hal itulah yang kulakukan berulang kali. Hingga seminggu lebih berlalu dengan kondisi seperti itu, membuatku menemukan sebuah kesimpulan yang sangat berharga. Ya, ada hal berharga yang aku petik dari kejadian tersebut, yang membuatku mengerti arti “Berserah Penuh”.

Selama ini arti berserah seakan hanya sebuah teori yang melekat di kepala dan selalu kuucapkan di saat pergumulanku kurasa tidak terlalu berat. Tapi saat itu aku benar-benar tidak punya pilihan, selain berdoa dan mengizinkan Tuhan yang ambil alih.

Dan saat itu yang terjadi adalah rumah sakit jauh, obat terbatas, dan kendaraan juga terbatas. Beberapa hari kemudian aku merasa jauh lebih baik dengan obat seadanya dan istirahat secukupnya.

Masih banyak hal lain yang aku alami di sini. Melewati masa-masa sulit sampai akhirnya beradaptasi, dan sekarang merasa seperti menemukan sebuah ladang emas yang sangat berharga, yang merupakan hal terutama bagiku, yaitu aku bisa mengeksplorasi banyak kualitas dalam diriku.

Aku belajar semakin dekat mengenal Tuhan, semakin berserah, dan semakin berbuat dengan hati. Hal itulah yang paling utama untuk bisa hidup di pedalaman. Selain hati, ada hal lain yang tidak kalah penting dan harus lahir dari hati serta melakukannya di sini, yaitu senyuman lebar dan sapaan. Itu adalah sebuah hal yang menjadi kebiasaanku di sini, karena itu adalah senjata ampuh untuk mereka yang masih merasa asing. Senyuman adalah awal untuk sebuah hubungan yang mampu menjadi sebuah obat bagi mereka, orang-orang yang bisa aku layani di sini.

Aku belajar bahwa ketika Tuhan berikan kita visi, Tuhan pasti kasih kita provision (bekal). Tuhan tidak pernah membiarkan kita begitu saja dan main-main dengan apa yang sedang Dia kerjakan. Dia peduli sekali, Dia tahu dan tidak akan pernah salah menempatkan kita, apalagi memberikan kesulitan di luar kemampuan kita. Sama seperti yang ditulis di 1 Korintus 10:13 :

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

So, jangan pernah mengeluh dengan berbagai kesulitan yang ada, karena mengeluh berarti tidak mensyukuri apa yang Tuhan berikan dan rencanakan.

Dimana pun dan apapun bagian kita, ingatlah bahwa dimana Tuhan mengutus kita, Dia pasti juga mengurus kita. Kita hanya perlu bersabar, belajar, dan semakin hari semakin rendah hati meminta hikmat tentang apa yang harus kita lakukan, serta menggunakan semua kesempatan yang ada.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11 ).

Tetaplah berpengharapan, teruslah berdoa, jadilah setia, dan mau dibentuk.

Hujan Berkat-Mu, Itu yang Kami Perlu

Oleh Desy Dina Vianney, Medan

Aku berlari kecil menuju halte di pinggir jalan, persis di depan gedung kantorku. Telapak tangan kugunakan menutupi kepala meski tidak terlalu berhasil melindungi kepalaku dari hujan. Akhirnya kujejakkan kaki di lantai halte, kukibas-kibaskan seragam kerjaku yang lumayan basah. Hujan sudah mengguyur kota ini sejak pagi, matahari entah kemana sepanjang hari. Aku melangkah, bergeser menghindari percikan air yang menetes dari atap halte. Beberapa saat bus yang kutunggu tampak di antara padatnya lalu lintas, orang-orang berdiri bersiap, berkerumun di tangga kenaikan. Kuperbaiki posisi masker yang kukenakan, satu menit kemudian aku sudah duduk di bangku bus.

Aku menyandarkan punggung, meluruskan kaki, dan mengecek ponsel. Sebuah notifikasi membawaku ke laman akun media sosialku, kugulir layarnya dan mulai tenggelam dalam berita-berita dan unggahan-unggahan di sana. Aku menggesernya sembarang, dan berhenti di unggahan foto milik salah satu akun berita. Aku bukan orang yang hobi membaca berita di koran atau sebagainya jadi jariku hampir menggeser layar lagi ke unggahan berikutnya setelah tidak sengaja kubaca judul dari berita tersebut. “Kekeringan Parah di Sejumlah Wilayah, Warga Mengalami Krisis Air untuk Bertahan Hidup”.

Aku tertegun, kubaca cepat isi berita itu. Aku cukup mengetahui beberapa wilayah yang disebutkan di sana. Aku menghela napas pelan lalu menghembuskannya, menyisakan titik-titik embun di kacamataku. Aku melepasnya, lalu memandang keluar jendela. Titik-titik hujan pun ada di sana. Hujan masih belum memberi tanda-tanda akan berhenti.

Kutempelkan kepala ke jendela, memejamkan mata, menghembuskan napas sekali lagi. Sejak pagi tadi, entah sudah berapa kali aku mengeluh akan hujan ini. Soal jemuran yang tidak kering, jalanan yang becek, atau cuaca yang dingin yang mengurangi konsentrasiku dalam bekerja. Tapi sepenggal berita ini benar-benar menegurku. Keluhan-keluhanku tadi pastilah sangat tidak seberapa jika dibandingkan dengan orang-orang yang sedang menanti-nantikan turunnya hujan di wilayah-wilayah kekeringan itu. Aku lantas membalik keadaan apabila aku yang berada di sana. Membayangkannya sesaat saja membuatku semakin merasa bersalah.

Aku masih ingat ayat yang aku baca pagi tadi dalam waktu teduhku,

“Aku akan menjadikan mereka dan semua yang di sekitar gunung-Ku menjadi berkat; Aku akan menurunkan hujan pada waktunya; itu adalah hujan yang membawa berkat” (Yehezkiel 34:26).

Aku mengulanginya sekali lagi dalam hati, lalu merenung. Aku membaca ayat itu pagi tadi, bahkan mengingatnya hingga sore ini, tapi betapa ternyata aku tidak memahaminya sama sekali. Ini adalah waktu yang Tuhan mau untuk menurunkan hujan. Dan hujan yang membawa berkat ini harusnya kusambut dengan syukur. Mengapa justru mengeluhkan kain yang tidak kering?

Bus berhenti di perempatan lampu merah. Aku membuka mata, melirik ke luar jendela lagi. Beberapa anak terlihat sedang berlari-lari dengan bertelanjang kaki dan pakaian basah, tawa mereka terlihat jelas. Tanpa sadar aku tersenyum dan tersadar. Pakaian tidak kering bisa dijemur lagi, sepatu yang kotor karena becek bisa dicuci. Dan cuaca dingin bisa menjadi pendukung untuk tidur yang nyenyak malam ini, bukan?

Aku memejamkan mata lagi, “Terimakasih untuk hujan berkat yang menyejukkan ini ya, Tuhan” ucapku dalam hati.

Kulirik sekali lagi beberapa anak itu, tawa mereka seakan sampai ke telingaku. Aku tersenyum, hatiku hangat. Lampu lalu lintas berubah warna, bus kembali melaju.

Tanpa sadar aku bersenandung kecil,

Hujan berkat-Mu, itu yang kami perlu.
Sudah menetes berkat-Mu, biar tercurah penuh.
(KJ 403) (Yesaya 45:8)

Apa yang Tuhan Lakukan Saat Aku Menantang-Nya?

Oleh Gabrielle Meiscova

“Ya Bapa, tolong.. Jika kau mengizinkan aku untuk menjadi seorang copywriter di sana, aku akan menulis kesaksian tentang kebaikan-Mu dalam hidupku.”

Itulah permintaanku pada Tuhan, alias aku menantang-Nya dengan sebuah jaminan. Menulis untuk Tuhan. Itulah intinya. Sesuatu yang sekarang ini menjadi tujuan hidupku.

Sudah hampir setahun aku berusaha keras mencari pekerjaan. Ratusan CV yang kutebarkan via email atau website tak kunjung mendapatkan jawaban. Segala harapan yang tertulis di dalam CV tersebut biasanya hanya diakhiri dengan balasan rejection letter. Seketika aku menyetujui ungkapan dunia yang mengatakan bahwa hidup itu keras. Boleh dibilang, aku berada di posisi terendah dalam hidup, alias depresi.

Saat itu, aku berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan permintaanku agar dapat diterima kerja di salah satu perusahaan digital agency. Mengapa aku memohon pada Bapaku seperti itu? Karena aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku menyerahkan tubuh, jiwa, raga, dan impianku ke dalam tangan-Nya. Aku tidak sanggup mengerjakan semua ini seorang diri. Saat aku berserah pada-Nya, Ia mendengar keluh kesahku. Sang Bapa berbisik lewat pikiranku, dan tiba-tiba aku mengingat ayat emas dari Alkitab, yang menjadi pedomanku saat katekisasi.

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kau minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Markus 11 : 24).

Iman! Itulah yang menjadi permasalahanku selama ini. Sebelum Markus 11:24 menegurku, jujur saja, aku ragu akan karya Bapa yang akan digenapkan dalam hidupku. Aku sering mengatur Tuhan agar Ia memberikan pekerjaan sesuai dengan apa yang aku inginkan, tanpa mempercayai dan mengimani kalau Tuhan akan memberikannya padaku di saat yang tepat, di waktu yang tepat. Saat itu, aku tidak ingat kalau keimananku pupus ditelan kebisingan dunia, karena terlalu banyak menghabiskan waktu di sosial media. Aku dibutakan oleh Iblis lewat quotes di media sosial, kalau hidup ini adalah milikku sendiri dan akulah yang harus mengatur hidupku akan berjalan ke arah mana. Aku tidak sadar kalau Tuhan yang rela mati di kayu salib untuk menebus dosaku adalah pemilik kehidupanku selama ini. Ia pun tidak akan meninggalkan anak-Nya berjalan sendirian.

Ada sebuah gambar yang kutemukan di explore Instagram, di mana ada seorang anak kecil yang sedang melukis sebuah tulisan PLAN bersama dengan Tuhan di sampingnya. Gambar itu memberikan kesadaran dalam diriku, kalau selama ini Tuhan bekerja dalam hidupku, dan aku sendiri memiliki tugas untuk membangun masa depanku bersama dengan-Nya. Selama ini, aku tidak melibatkan Tuhan dalam setiap rencana yang kubuat untukku dan masa depanku. Aku sungguh egois dan berpikiran sempit kala itu. Saat aku sadar akan kesalahanku selama ini, aku meminta pengampunan dari Tuhan, lalu Ia menjawabnya lewat sebuah ingatan dari kalimat yang pernah kubaca dalam sebuah buku, sebagai berikut. “Saat pertama kali main sepeda, kita pasti pernah terjatuh sehingga pengalaman saat terjatuh itulah yang membuat kita ingin terus mencoba mengayuh sepeda sampai berhasil mengendarainya.”

Tuhan mengampuni aku yang tidak beriman pada-Nya, dengan memberikan pemahaman bahwa tak apa jika kita terjatuh, sebab Ia sendiri yang akan menolong. Saat jatuh pun, Tuhan akan selalu mengulurkan tangan-Nya untuk kita. Kadang manusia memang harus terjatuh, agar ia bisa menyadari kalau tangan Tuhan senantiasa terulur untuk orang yang meminta pertolongan-Nya.

Dalam Matius 14:22-33, diceritakan bahwa Petrus yang adalah salah satu dari ke-12 murid Yesus, pernah menantang-Nya agar ia bisa berjalan di atas air, saat para murid mengira bahwa Ia adalah hantu. Pada ayat 28 tertulis, “Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia : Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Tak disangka-sangka, Tuhan Yesus malah menyuruh Petrus untuk berjalan di atas air, walaupun pada akhirnya sang murid menjadi takut dan mulai tenggelam, hingga akhirnya Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk menolong Petrus. Kisah ini mengingatkan aku pada diriku sendiri, saat aku menantang Tuhan untuk memberikan pekerjaan sebagai copywriter itu padaku.

Saat aku mengerti apa yang diinginkan Tuhan dalam hidupku, segalanya terasa lebih mudah. Aku jadi banyak mengucap syukur atas berkat yang Ia berikan, dan saat aku mempertaruhkan masa depan pekerjaanku kepada-Nya dengan jaminan akan menulis kesaksian tentang kebaikan-Nya, Ia memberikan pekerjaan itu padaku. Tuhan mengizinkan aku untuk melayani-Nya lewat tulisanku.

Aku masih harus banyak belajar, khususnya dalam menulis, tapi aku sudah sadar kalau pekerjaan yang kulakukan bersama dengan Tuhan akan berjalan secara maksimal, saat aku melibatkan-Nya dalam tiap tulisanku.

“Allah sanggup melakukan segala perkara. Dulu, sekarang, dan selamanya kuasa-Nya tidak berubah.”

Ya Tuhan, ajar aku memiliki kepekaan untuk mengerti apa yang Kau kehendaki dalam hidupku. Tetaplah bimbing anak-Mu ini untuk terus menjalani hidup ini sampai menuju kekekalan bersama dengan Engkau, ya Bapa.

Jika Semuanya Mudah Kuraih

Oleh Jesica Rundupadang

Beberapa minggu terakhir ini, aku kadang berbicara dengan diriku sendiri. Aku kembali memikirkan segala sesuatu yang telah lewat. Aku berandai-andai… “Jika saja…”

“Jika saja, aku betul-betul mempergunakan waktu yang ada sebaik mungkin.”

“Jika saja, aku aku tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang terbuka lebar.”

“Tapi, jika saja aku tidak melewati proses ini.”

Ada begitu banyak pertanyaan di dalam benakku, tapi aku bersyukur dapat memikirkan hal ini bahkan di saat-saat aku juga senantiasa menanti dan berharap. Begitu banyak momen yang telah terlewat dan aku semakin hari semakin menaruh pengharapanku pada Kristus Yesus.

Jika seandainya saja aku langsung bisa mendapatkan pekerjaan yang kuinginkan setelah lulus kuliah. Aku berpikir jika semua berjalan mudah, kemungkinan besar aku akan sombong dengan membangga-banggakan diriku sendiri. Aku merasa aku dapat mencapai apa yang kumau. Karena jujur saja, setelah lulus SMP dan ingin masuk ke SMA favorit di kotaku, aku diterima dan yang tidak lulus terpaksa harus pergi mendaftar ke sekolah lain. Selepas itu, aku mendaftar di salah satu perguruan tinggi negeri, dan aku pun diterima jalur SBMPTN. Aku memudahkan segala hal, mengatakan dalam hati bahwa aku bisa mencapai semuanya bahkan tanpa usaha yang keras sekalipun.

Namun, kurasa Tuhan menegurku lewat proses yang kujalani saat ini. Aku yang awalnya berpikir mencari pekerjaan adalah hal yang mudah, semudah setiap penerimaan yang kudapat, ternyata tidak. Setelah lewat 1 tahun lebih, aku baru mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga kontrak di sebuah instansi pemerintah dan pernah hampir menjadi karyawan pada sebuah perusahaan di Kalimantan, namun karena aku bersikeras tidak mau melanjutkan akhirnya aku pulang ke kotaku.

Dalam benakku, aku harus bisa mencari pekerjaan tanpa bantuan orang lain. Aku harus mandiri. Saat itulah, rekrutmen CPNS terbuka dan aku belajar dengan sungguh dan lolos hingga tahap SKB, meskipun rencana Tuhan berbeda dengan yang kuingini.

Sedih ada. Tapi diberi kesempatan sejauh itu, aku sangat bersyukur.

Di hari-hari penantian dan juga mencari pekerjaan, aku kembali mengenang masa-masa yang lampau. Jika saja Tuhan selalu meloloskanku untuk memenuhi keinginanku, aku tidak akan paham akan rasanya berjuang dengan sebaik mungkin, aku tidak akan paham akan rasanya penolakan, aku tidak akan paham akan rasanya kekecewaan. Karena dari rasa-rasa pahit inilah aku belajar untuk lebih berusaha dan sungguh menaruh pengharapan hanya kepada Yesus.

Meskipun saat ini aku belum mengerti akan sesuatu di balik ini semua. Satu yang kupercaya, tangan Tuhan yang membawaku sejauh ini, tidak akan meninggalkanku. Bahkan saat rasa khawatir mulai datang, ada bisikan dalam hatiku… “Tenang, semua indah pada waktu-Nya.”

Di tengah-tengah penantianku, aku tetap menyuarakan kepada kalian semua yang mungkin ada dalam masalah yang sama untuk terus berpegang teguh pada Tuhan. Aku juga ingin membagikan ayat firman yang tetap menguatkan, kiranya ini pun dapat menguatkan kalian.

Di balik setiap air matamu, Tuhan terus memprosesmu. Mungkin sekarang kamu hanya seekor ulat, besok akan jadi kupu-kupu. Setiap orang punya proses berbeda. Berhenti membandingkan dirimu dengan pencapaian orang lain.

Matius 6:26: “Lihatlah burung di udara. Mereka tidak menanam, tidak menuai, dan tidak juga mengumpulkan hasil tanamannya di dalam lumbung. Meskipun begitu Bapamu yang di surga memelihara mereka! Bukankah kalian jauh lebih berharga daripada burung?”

Drama Skripsi dan Wajah-wajah yang Menopang

Oleh Alvianus Gama

“Alex!”, sahut mamaku dari arah kamarnya saat aku sedang bergegas menaiki tangga ke kamarku di lantai atas.

“Ya Ma, kenapa?”, jawabku pendek.

“Mama mau ngobrol dulu bentar”, jawab mama dengan muka yang terlihat serius.

Aku menoleh ke arahnya dengan penuh pertanyaan. Ada apa gerangan?

“Mama sama papa udah sebulan ini berdoa tiap malem buat kuliah kamu. Tapi setiap kali berdoa kok rasanya nggak damai ya, jadi mama mau nanya langsung aja ke kamu, sebenarnya kuliah kamu tuh gimana? Coba cerita dong…”, kata mamaku penuh harap.

Aku tertunduk diam. Ini adalah pertanyaan yang paling aku takutkan selama ini. Takut akan konsekuensi yang akan aku hadapi nanti.

Mamaku adalah seorang ahli hukum yang sukses dalam pekerjaannya. Ia seorang yang antusias dan penuh semangat, selalu memotivasi aku dan kakakku untuk maju dalam segala hal. Dalam kesibukannya bertemu dengan klien setiap hari, ia selalu bisa menyisihkan waktu untuk memperhatikan keluarga dan orang-orang yang dikasihinya. Sedangkan papaku adalah seorang yang berpendirian keras dan berkemauan kuat, yang mendidik anak-anaknya dengan caranya sendiri. Papa adalah sosok ayah yang selalu menemukan berbagai macam cara untuk memperbaiki peralatan rumah yang rusak, mulai dari meja yang patah kakinya, keran air yang bocor, hingga mobil yang mogok, atau motor yang rusak. Agaknya inilah yang membuatku lebih mudah untuk bercerita kepada mama untuk segala urusan, termasuk kuliahku. Cerita ke papa? Hmmm nanti dulu.

“Gimana Lex? Ayo cerita dong…”, ujar mamaku menantikan jawaban.

Aku menghela nafas panjang. Susah rasanya untuk membuka mulutku dan mulai cerita. Saat itu, aku seolah tak punya alasan lain untuk menghindar dari pertanyaannya selain menarik tangan mamaku dan mengajaknya ngobrol di kamarku. Di dalam kamar pun, aku tetap sulit untuk mengungkapkan apa yang ada di kepalaku dalam kata-kata. Di momen-momen sunyi yang menyiksa itu, tanpa aku bisa kuasai, air mata mengalir begitu saja. Aku lihat mama menatapku heran, menyaksikan anak laki-lakinya terisak sambil menunggu penjelasan.

”Kenapa kamu nak? Coba jujur aja, cerita ke mama, gimana sebenarnya?” ujarnya lembut sambil memegang tanganku erat.

Jantungku berdegup kencang. Aku berusaha menenangkan hati dan emosiku. Dengan nafas yang tak beraturan, aku mulai menceritakan pada mamaku bahwa sebenarnya sudah 2 tahun ini aku menelantarkan kuliahku. Selama ini aku berbohong pada mamaku terkait kuliahku.

Aku tertunduk malu dan berusaha sebisa mungkin menghindari tatapan langsung mamaku. Perlahan aku bisa mendengar mamaku juga ikutan menangis. Ia tampak begitu terpukul dan nggak percaya kalau anak yang selama ini dia banggakan, yang punya IPK bagus dan di atas rata-rata teman kuliahnya, anak yang nyaris nggak pernah punya masalah, tiba-tiba membawa kabar yang tak pernah ia sangka-sangka, seperti mendengar suara geledek di siang bolong.

Sejak 2 tahun yang lalu, aku sebetulnya sudah masuk dalam semester akhir dari kuliahku dan menurut hitungan waktu, aku seharusnya sudah menyelesaikan skripsiku di paruh kedua tahun 2020. Tapi pada kenyataannya, alih-alih membereskan skripsi, untuk sekadar memilih topik dan menentukan judul pun belum aku lakukan. Sudah hampir 4 semester ini aku nggak bayar uang kuliahku. Parahnya lagi, kalau ditanya terkait uang kuliah, aku selalu menemukan cara untuk berbohong bahwa aku sudah membayarnya, padahal belum aku bayar dan ngga ada satu pun terkait skripsiku yang aku kerjakan. Entah kenapa, untuk urusan skripsi ini, aku ngerasa nggak bisa, aku frustasi. Aku merasa stuck di program studi yang aku pilih ini. Semua ini terasa mudah aku lakoni karena situasi pandemi Covid-19 yang memaksa semua perkuliahan dan tugas akhir dilakukan secara daring, sehingga tidak ada kecurigaan sedikitpun dari mamaku karena aku tidak perlu lagi pergi ke kampus, hanya diam di kamar seolah-olah sedang mengikuti perkuliahan secara daring.

Sebenarnya, jauh di lubuk hatiku terdalam, aku sangat menyukai pelajaran bahasa lebih daripada program studi Akuntansi yang aku ambil sekarang. Bahkan dalam masa-masa awal perkuliahan, aku sudah membayangkan untuk menjadi ahli bahasa, bertemu, bernegosiasi dan berbincang-bincang dengan banyak orang. Dalam hati, aku pun bertekad untuk pindah jurusan ke program studi bahasa dan memulai dari awal. Setidaknya itu yang ada dalam pikiranku untuk aku lakukan ke depan.

Dan kalau aku ingat lagi, beberapa bulan sebelum mengikuti tes masuk perguruan tinggi, aku pernah mengikuti tes minat dan bakat untuk mengetahui program studi mana yang cocok buatku dan menurut hasil tes, aku cocok untuk masuk program studi Akuntansi karena aku terbukti jago dengan angka-angka. Entah kenapa, setelah 4 tahun aku jalani perkuliahan ini, aku benar-benar merasa telah salah memilih program studi. Bukan ini yang aku sukai. Bukan ini Tuhan.

“Selama ini mama pikir kalau kamu sedang nyelesain skripsi, karena kamu yang bilang gitu kan ke mama!” ujar mamaku melanjutkan. Hatiku hancur melihatnya. Aku terdiam membisu. Ia merasa gagal menjadi orangtua. Mama yang selama ini tegar dan bersemangat, saat itu kulihat menutupi mukanya dan berulang kali menyatakan ketidakpercayaannya akan berita yang ia terima. Ia mencoba membujukku untuk tetap meneruskan studiku karena sudah kepalang tanggung, tinggal menyelesaikan skripsi saja, tapi aku bersikukuh dengan keinginanku untuk pindah jurusan. Kami pun bersitegang mengenai masalah ini dan sore itu berlalu tanpa ada jalan keluar. Kami menyudahi pembicaraan tanpa ada keputusan apa-apa. Sore yang dingin.

Tanpa kusangka, keesokan sorenya, aku dikejutkan dengan berita yang aku terima. Tanpa sepengetahuanku, setelah berdiskusi dan meminta saran dari beberapa anggota keluarga, mamaku memberanikan diri untuk datang ke kampus dan berkonsultasi dengan ketua program studi. Ia mencoba untuk mengajukan permohonan agar skripsiku dapat diberi perpanjangan waktu. Mengetahui hal ini, tentu saja membuatku mengamuk. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa diatur ini dan itu. Aku merasa seolah-olah mamaku tidak mendengar sama sekali keluhanku selama 2 tahun ini. Aku sudah bilang aku nggak sanggup, tapi kenapa tetap memaksakan keinginan ini?

Mama mencoba meyakinkan aku kalau Tuhan yang kasih jalan untuk aku mendapat perpanjangan waktu, artinya Tuhan akan membantuku untuk menyelesaikannya. Di sisi yang lain, aku jadi bertanya-tanya, bukankah itu artinya Tuhan tidak mendengar doaku buat pindah program studi? Apa Tuhan pun nggak melihat kalau aku nggak sanggup? Aku speechless.

Keesokan harinya, mama kembali mendatangi kamarku untuk menanyakan keadaanku. Ia khawatir dengan reaksiku kemarin setelah aku meluapkan kekesalan dan amarah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Namun ia tetap bersikukuh dengan pendiriannya agar aku dapat menyelesaikan kuliahku saat ini. Ia mengingatkanku akan semua perjuangan yang sudah aku lakukan, mulai dari awal perkuliahan hingga kerja praktek. Ia memintaku untuk belajar menjadi orang yang bertanggung jawab dan menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.

Ada satu kalimat yang hingga saat ini aku ingat, yang berkata bahwa kalau Tuhan sudah menolongku hingga sejauh ini, Tuhan juga akan menolong menyelesaikan perjalanan ini. Agaknya Tuhan mulai melembutkan hatiku saat itu. Amarahku mereda dan aku mulai mencoba untuk melihat masalah yang kuhadapi dari sisi lain. Aku sadar aku begitu egois dan ingin menang sendiri. Aku pun tahu mama bukan orangtua yang memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Ia orang yang fair, berani mengakui kesalahannya dan selalu berterus terang kepada anak-anaknya.

Yang lebih membuatku semakin menyadari bahwa Tuhan mendengar doa dan usaha mamaku adalah ketika aku diberitahu bahwa pihak Fakultas akan berusaha sebisa mungkin agar aku bisa kembali mendapat kesempatan menyelesaikan skripsi yang sudah tertunda selama 2 tahun. Yang membuat terheran-heran, semua urusan itu bisa diselesaikan hanya dalam satu hari saja, padahal selama 2 tahun statusku tanpa kabar itu aku yakin akan berakhir dengan keputusan DO dari kampus.

Saat ini aku merasa senang dan bersemangat. Walaupun papa dan kakakku tidak mengutarakan perasaan mereka, tapi mereka menunjukkan sikap menopang. Tiap orang tampaknya ingin berbuat sesuatu untuk menyemangatiku, dengan cara mereka sendiri. Aku merasa didukung dan ini semakin membesarkan hatiku. Setiap babak baru dalam perjalanan hidup kita berisi tanda tanya dan ketidakpastian. Kita jadi ragu-ragu dan takut. Pada saat seperti ini aku ingat pemazmur yang berbisik meminta topangan dari Tuhan,”Topanglah aku sesuai dengan janji-Mu…” (Mazmur 119:16).

Saat tulisan ini dibuat, pihak fakultas memberiku 3 bulan waktu perpanjangan agar aku bisa menyelesaikan skripsiku. Berita baiknya lagi, aku bisa mendapat pembimbing skripsi yang aku idolakan selama ini, dosen yang sangat menolong dan memotivasi aku untuk menyelesaikan skripsiku. Aku merasa seperti seorang pendosa yang mendapat anugerah pengampunan yang besar dari Tuhan. Aku tahu ini memang saat-saat yang berat dan penuh perjuangan, tapi aku siap memulai kembali dan aku tahu Tuhan akan menyanggupkan aku. Mungkin perjuanganku dalam menyelesaikan skripsi ini hanya 3 bulan saja, tapi perjalanan hidupku masih puluhan tahun ke depan. Akan jadi apa aku nanti? Apa rencana Tuhan dengan hidupku?

Saat aku bingung, bimbang, dan takut, aku teringat wajah-wajah yang menopang aku. Wajah mama, wajah papa, wajah kakakku dan orang-orang yang mengasihiku. Aku semakin mantap. Terima kasih Tuhan untuk mereka. Terima kasih Tuhan untuk kasihmu.

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” –Mazmur 37:23-24.

Bila Kemarin Tuhan Tolong, Hari Ini Juga

Oleh Yessica Anggi Natalia

Hari-hari ini aku sangat terberkati dengan sebuah lagu dari Yotari yang berjudul “Bila Kemarin”. Liriknya memberiku dorongan semangat untuk menjalani hari-hariku.

Usai sudah yang t’lah lalu, tak sempurna harapku terwujud…
Ku tak tahu ke mana kuharus melangkah, tapi ku tahu pasti…
Bila kemarin sudah terlampaui, esok hari pun takkan ku sembunyi,
air mataku kan terbayar lunas, dan semangatku takkan kandas…
Berhenti sakiti diri, ku berharga, itu yang pasti…

Awal tahun ini banyak sekali hal yang tidak sesuai rencanaku. Kontrak kerjaku selama dua tahun selesai. Februari lalu jadi bulan terakhirku bekerja di tempat lama, namun puji Tuhan memasuki bulan ketiga aku telah mendapatkan pekerjaan baru. Tapi… di bulan ke-empat, aku kembali tidak bekerja karena satu dan lain hal. Aku bertanya-tanya: why, Tuhan? Jujur, hatiku tak mengerti apa rencana-Nya, tetapi sepenggal lirik lagu yang kutulis di atas mengingatkanku bila kemarin Tuhan sudah tolong, esok pun Tuhan akan tetap tolong. Tidak ada hari yang buruk, semua hari dibuat-Nya baik.

Belajar memahami rencana Tuhan memang butuh proses dan pengalaman yang panjang. Pertanyaan why dalam otakku sempat menjalar menjadi rasa marah dan kecewa pada-Nya. Aku pun teringat akan kisah Ayub, saat Tuhan mengizinkan Iblis mencobainya. Kita pasti tahu cerita kemalangan Ayub, bagaimana dia kehilangan semua harta, anak-anak, hingga kesehatannya. Namun, yang menjadi pembeda Ayub dengan orang-orang lainnya adalah imannya. Ayub yang telah kehilangan segalanya sujud menyembah kepada Allah dan berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayub 1:21-22).

Keadaan Ayub sungguhlah sulit. Dari sudut pandang manusia, walaupun Ayub kecewa atau marah pada Tuhan, itu respons yang terasa wajar, tetapi Ayub tidak melakukannya. Dia sujud dan menyembah Tuhan. Tentu kisah pengalamanku tidaklah sebanding dengan Ayub, tetapi aku sangat tertegur dengan sikap Ayub yang tidak meninggalkan Tuhan dan tetap saleh. Jikalau kulihat kembali ke belakang, apa yang Tuhan sudah lakukan di hidupku, aku bisa berkata “How great is our God!”

Dulu, Tuhan telah menolongku saat aku sakit Covid-19. Tuhan juga mempercayakan pekerjaan buatku. Tidak ada alasan untukku tidak percaya pada rencana-Nya. Meskipun aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi aku dapat memilih berjalan dengan iman dan percaya bahwa Tuhan tahu dan memegang kendali. Kita tidak dilahirkan untuk jadi orang yang khawatir, tetapi untuk menjadi pemenang. Kuasa yang sama, yang telah membangkitkan Kristus Sang Juruselamat dari maut juga tersedia bagi kita.

Setiap kita pasti mempunyai masalah yang berbeda-beda dan kita tidak bisa membandingkan masalah kita lebih besar dari yang lain bahkan sebaliknya. Tuhan mengizinkan setiap hal terjadi sesuai hikmat-Nya bagi kita. Satu hal yang membuatku merenung, rencana-Nya itu benar di luar logika manusia, dan untuk memahaminya tidak cukup hanya dengan pikiran, tetapi dengan iman.

Untuk kamu dan aku saat merasa down,

Jangan biarkan perasaan negatif menghalangi kita untuk percaya rencana-Nya. Segala sesuatu yang terjadi berada dalam cakupan rancangan-Nya yang sempurna bagi aku dan kamu.

Tuhan Yesus memberkati.