Dalam Kesulitan Hidup, Pertolongan Tuhan Tak Ada Habisnya

Oleh Rosnani Sagala, Medan

Apa yang pertama kali terlintas di benakmu ketika mendengar kata “sulit”?

Bagiku, kata “sulit” adalah sesuatu yang jika memungkinkan, ingin kujauhi dari perjalanan hidup. Mauku, segala sesuatunya berjalan mudah dan lancar. Namun, kenyataannya perjalanan hidupku tidaklah semulus itu. 

Tahun 2020 aku menerima kabar mengejutkan. Ada penyakit yang terdeteksi dalam tubuhku setelah aku mengeceknya ke dokter. Hasil diagnosis menunjukkan penyakitku bukanlah penyakit ringan. Kondisi ini membuatku terpuruk karena takut jika penyakitku tak bisa sembuh, dan segala impian, rencanaku, tidak akan bisa lagi aku raih.

Namun, kejutan untukku tidak berhenti sampai di sana.

Tahun berikutnya (2021), tepat di bulan Juli dan September, aku mengalami nyeri yang sangat hebat di bagian perut. Aku pun memutuskan untuk mengeceknya. Hasilnya benar-benar di luar logikaku. Ada penyakit lain lagi yang terdeteksi di dalam organ reproduksiku.

Dua tahun berturut-turut Tuhan mengejutkanku dengan kenyataan yang sulit kuterima dan benar-benar membuatku terpuruk secara emosional. Dalam upayaku memahami kenyataan ini, ada masa-masa ketika aku bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkanku mengalami ini. Ada juga masa ketika aku mengasihani diri sendiri dan ingin dimengerti oleh orang-orang terdekatku. Kurang lebih dua tahun aku menjalani hidup dengan dinamika emosinal yang tidak terlalu baik.

Dalam pergumulan berat itu, aku teringat ayat dari Filipi 1:29 yang berkata, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.”

Kalimat kedua di ayat itu sungguh menggugah hatiku. Aku menginterpretasikan kalimat “menderita untuk Dia” sama halnya dengan ketika aku melewati masa sulit, aku belajar untuk tetap hidup sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan.

Dan itulah yang sedang kupelajari saat ini, walaupun tidak mudah.

Tapi, syukur kepada Tuhan! Dalam setiap masa dan kondisiku, Dia tetap setia.

Dia sungguh-sungguh menunjukkan kasih-Nya dengan selalu mengingatkanku lewat saat teduh, doa, dan pembacaan firman bahwa masih ada harapan untuk sembuh. Dia juga menunjukkan kasih-Nya melalui orang-orang sekitar yang peduli kepadaku. Orang-orang yang selalu mendorong dan menguatkanku, serta mendoakanku. Juga ketika aku butuh cash di waktu yang singkat, aku meminta bantuan temanku dan dia memberikan dukungan dana yang tidak sedikit, namun aku berjanji akan mengembalikannya.

Setiap hari, Dia selalu mengingatkanku bahwa dalam kondisi dan situasi apa pun, Dia tetap baik dan sungguh-sungguh peduli kepadaku. Itu terbukti dari apa yang sudah terjadi dalam hidupku. Kasih Tuhan sungguhlah nyata dan Dia turut berkerja untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita. Dia tak pernah berhenti melakukannya. (Roma 8:28).

Selama 2 tahun perjalanan hidup yang sulit itu, aku bisa merasakan bahwa Tuhan selalu merangkulku dan memapahku untuk bisa bangkit, berjalan, bahkan berlari melewati masa-masa sulit. Tuhan menumbuhkan harapan di hatiku lewat pengertian baru, di mana penyakitku (yang pertama terdeteksi) masih bisa sembuh. Hal ini kuketahui lewat pertemuanku dengan seorang dokter. Dan itu menjadi titik awal bagiku untuk berani bermimpi lagi, untuk membangun harapan.

Selama kurang lebih satu bulan setelahnya, aku berdoa memohon agar Tuhan mempertemukanku dengan dokter yang tepat dan kompeten untuk menangani penyakitku. Puji Tuhan, pada Maret 2022 Tuhan jawab doaku, dengan begitu aku bisa menjalani pemeriksaan lanjutan dan mengikuti prosedur pengobatan untuk menyembuhkan penyakitku yang pertama.

Di tengah proses pengobatan yang aku lalui, aku sungguh tak berhenti mengucap syukur karena aku masih bisa bekerja dan beraktivitas dengan baik. Dan lagi-lagi, Tuhan menunjukkan pertolongan-Nya kepadaku. Pada saat aku memutuskan untuk menjalani pengobatan, aku sudah bekerja selama 3,5 tahun dan hanya memiliki sedikit tabungan. Dengan keadaan seperti ini, tidaklah mudah bagiku untuk membeli obat dan melakukan pemeriksaan tiap bulan karena biayanya besar, apalagi pengeluaranku tidak hanya untuk pengobatan ini. Tapi, kali ini Tuhan tidak hanya memberi, Dia juga mendidikku untuk mengatur keuangan dengan lebih baik.

Tiap bulan, aku mengalokasikan 30-50% penghasilan bulananku serta tabungan yang aku miliki untuk biaya pengobatan. Kalau dulu aku selalu mengalokasikan dana untuk tujuan sosial dan juga untuk orang tuaku, sejak mulai pengobatan aku bicara baik-baik kepada mereka tentang fokusku untuk pengobatan dulu. Sebenarnya kebutuhan orang tuaku tetap tercukupi tanpa aku beri, tapi memang sudah menjadi keinginanku memberikan sedikit dari penghasilanku kepada mereka.

Di tengah itu semua, lagi, lagi, dan lagi Tuhan kembali memberikan lebih dari yang kubutuhkan.

Pada bulan Desember 2020, aku mendapatkan promosi di pekerjaan. Dan tentunya, hal ini berpengaruh pada nominal penghasilan yang kuterima tiap bulannya. Kenaikan penghasilanku tidak signifikan, namun aku bisa kembali menabung. Aku tidak bisa mengatakan promosi ini untuk persiapan pengobatanku. Namun, satu hal yang kuyakini, Tuhan sudah mempersiapkan segala sesuatunya bagiku dan bagi setiap orang kalau Dia mengizinkan sesuatu terjadi.

Sejujurnya, di tengah berkat yang Tuhan berikan, terkadang aku menyayangkan uang yang aku gunakan untuk berobat itu. Tapi, aku kembali diingatkan oleh Tuhan melalui orang-orang terdekatku bahwa pemikiran seperti itu tidaklah baik.

Selama proses pengobatan dan dalam kekhawatiranku, aku juga pernah bilang ini kepada Tuhan:

“Tuhan, jika Tuhan mengizinkan sakit ini kualami, dan Tuhan mengizinkan penyakit ini sembuh, aku percaya kalau Tuhan akan cukupkan dana untuk aku bisa jalanin pengobatan sampai aku sembuh.”

Tuhan mendengar doaku! Aku kembali bersyukur karena sampai bulan November 2022 ini semua kebutuhan masih terpenuhi. Pengobatanku juga masih berlangsung sampai aku menuliskan tulisan ini, dan kondisi kesehatanku pun kian membaik. Memang aku tidak langsung serta-merta sembuh, tapi proses yang kulalui ini mengajarkanku hal-hal yang lebih dari sekadar sembuh. Tuhan juga mau imanku tumbuh di dalam-Nya.

Pertolongan Tuhan tidak ada habisnya untuk menguatkanku dalam setiap musim yang aku lalui. Dari yang tidak ada harapan, Dia tumbuhkan harapan dalam hatiku. Dia menolong aku untuk mengubah cara pandangku selama 2 tahun ini. Penerimaan-Nya terhadapku dengan segala kekurangan dan responsku yang tidak benar, sungguh-sungguh menyentuh hatiku untuk bangkit dan bisa menjadi pribadi yang lebih bersyukur dalam setiap situasi.

Terima kasih kepada Tuhan untuk kasih-Nya yang begitu besar!

Di akhir  tulisan ini, aku ingin menutup dengan satu ayat dari 1 Korintus 10:13 yang berkata, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Apapun yang sedang kita alami, ingatlah bahwa Tuhan selalu menyertai dan memberikan yang terbaik untuk kita.

Aku berdoa bagi kita yang membaca tulisan ini. Kiranya kita dapat melihat dan merasakan kekuatan serta pertolongan Tuhan dalam tiap musim hidup kita.

Soli Deo Gloria!

4 Pelajaran dari Tanah Liat

Oleh Shenny Sutanto, Surabaya

Sepanjang perjalanan hidupku aku telah belajar bagaimana proses menjadi sebuah bejana Tuhan yang selalu siap dibentuk, khususnya pada tahun 2022 ini. Saat fase hidupku berada di bawah, hal yang selalu kutayanyakan adalah, “Tuhan, Engkau ingin Shenny jadi apa? Apa tujuan hidup Shenny? Apa pun tujuan-Mu, bentuklah Shenny.” Aku rindu dibentuk Tuhan seperti tanah liat di tangan penjunannya.

Namun, kadang aku penasaran mengapa seringkali Alkitab menggunakan tanah liat sebagai perumpamaan. Setelah kuikuti kelas membuat tembikar, barulah aku paham bahwa perumpamaan manusia bagaikan tanah liat punya makna yang dalam.

1. Tanah liat tidak dibentuk asal-asalan, tetapi untuk suatu tujuan

Tanah liat adalah jenis tanah yang terbentuk dari proses pelapukan kerak bumi dan kita bisa menemukannya di sungai, danau, dan tempat lembab sejenisnya. Pada dasarnya tanah liat tidak berguna jika tidak ada orang yang memakainya untuk suatu tujuan. Umumnya tanah liat dipakai sebagai bahan baku pembuatan tembikar atau kerajinan, misal untuk membuat pot, piring, gelas, dan lain lain.

Begitu pula hidup kita sebagai tanah liat-Nya tentu memiliki tujuan yang spesifik, tapi kita sebagai manusia memiliki keterbatasan untuk memahami rencana-Nya. Namun, bukan hal yang mustahil juga bahwa kelak kita dapat memahami tujuan hidup kita seiring berjalannya waktu.

Kemarin, saat di kelas aku dan teman-temanku sudah punya tujuan mau dibentuk apa tanah liat yang kami pegang. Kami mau membuat gelas. Tujuan akhir kami sama, namun hasilnya beda-beda karena kami membuatnya manual menggunakan tangan, bukan mesin 3D modelling yang bisa menghasilkan bentuk yang sama. Allah memanggil kita untuk suatu tujuan: hidup di dalam-Nya dan memuliakan nama-Nya, namun dalam prosesnya kita semua diberikan karunia dan keunikan masing-masing.

Setelah selesai membuat gelas, kami membuat mangkok. Tapi, tak semua berhasil. Lucunya malah ada temanku yang hasil akhir kerajinannya lebih mirip tempat sambal daripada mangkok. Meski terkesan gagal, namun hal seperti itu ternyata wajar bagi para pengrajin tanah liat. Kadang bentuk akhirnya tidak sesuai dengan rencana awal, tetapi sang penjunan tidak kehabisan cara. Mereka dengan kreatif bisa menjadikan hasil kerajinannya tetap bermanfaat. Aku pun jadi teringat ayat dari Yeremia 18:4 yang berkata:

“Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”

Arti dari ayat ini bukan berarti ada dari kita yang rusak ketika dibentuk Allah, bukan begitu. Melalui ayat ini Yeremia sedang mewartakan bahwa kita ibarat tanah liat yang rusak dikarekan dosa. Tetapi, Allah berusaha memenuhi tujuan-Nya, bahkan setelah manusia jatuh dalam dosa. Allah tidak membuat kita yang telah rusak, tetapi membentuknya kembali agar sempurna.

2. Tanah liat membutuhkan air

Tanah liat berbeda dengan mainan plastisin atau malam yang bisa langsung kita bentuk. Tanah liat membutuhkan air. Di tahap awal aku membuat kerajinan, aku harus meneteskan beberapa tetes air ke atas tanah liat. Begitupun di tengah-tengah proses pembuatan. Kita harus menjaga agar tangan dan tanah liat kita basah namun tanah liatnya tidak boleh terlalu basah.

Ada kalanya hidup kita membuat kita meneteskan air mata. Tetapi, cobalah kita pandang dari sudut pandang tanah liat. Air mata dibutuhkan sebagai cara agar hati kita menjadi lunak, agar dapat dibentuk sesuai tujuan-Nya.

3. Tanah liat membutuhkan tekanan

Saat membuat kerajinan, aku menggunakan tanganku untuk menekan tanah liat dengan teknik-teknik yang diajarkan di kelas. Caraku menekan menentukan apakah hasil tanah liatku sesuai dengan tujuanku atau tidak.

Kata kakak yang mengajarkanku, tanah liat bisa ‘kaget’ kalau kita salah menekan atau berlebihan memberikan tekanan. Tanah liat akan penyok jika tekanannya cuma di satu sisi saja. Dibutuhkan tekanan dan teknik yang pas supaya hasil akhirnya baik.

Dalam hidup pun kita tak asing dengan tekanan. Kadang kita merasa tekanan yang diberikan itu berlebihan karena kita tak punya kekuatan yang cukup. Namun, jika kita percaya dan menyerahkan hidup kita di tangan-Nya maka kita pun perlu percaya bahwa Dia adalah seorang penjunan yang andal dalam mengerjakan tanah liatnya. Tuhan tahu tekanan yang pas untuk hidup kita, tidak kurang dan tidak lebih karena Dia tahu tujuan kita untuk apa.

4. Tanah liat membutuhkan waktu hingga menjadi berbentuk

Proses mengolah tanah liat jadi kerajinan itu kurang lebih butuh waktu selama dua jam, namun ternyata proses ini belum berakhir. Tanah liat yang telah aku bentuk masih harus aku diamkan selama satu bulan untuk proses pengeringan dan laminasi food-grade karena aku membuat alat makan.

Kurasa hidup kita pun seperti itu, tidak selesai setelah mendapatkan tekanan dan masalah. Setelah melewati fase tekanan dalam hidup, kita juga memerlukan waktu “pengeringan” atau tahap akhir. Entah itu waktu untuk kita memahami maksud dan tujuan dari tekanan yang ada atau waktu untuk makin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Jika tanah liat membutuhkan satu bulan agar dapat dibilang prosesnya telah selesai, kita mungkin tidak tahu kapan fase terakhir ini akan selesai. Namun, yang pasti kita harus terus memperjuangkan iman kita sampai akhir hidup kita. Mungkin kita melakukan kesalahan, dan hidup kita pun menjadi seperti tanah liat yang rusak, tapi ingatlah selalu bahwa Tuhan adalah seorang penjunan handal. Dia selalu dapat membuat pecahan hidup kita menjadi berharga seperti seniman kinstugi, seniman yang khusus membuat karya dari keramik-keramik yang pecah.

Dari kelas kerajinan ini aku bersyukur Tuhan memberikan aku kesempatan untuk belajar membuat tanah liat, untukku melihat sisi kehidupan dari perspektif yang lain. Bukan suatu kebetulan manusia diibaratkan sebagai tanah liat. Memiliki hati yang mau dibentuk oleh Tuhan juga berarti perlu kesiapan hati untuk melewati semua proses pembentukannya hingga akhir hidup kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Semuanya Dimulai dengan Percaya Bahwa Tuhan Itu Baik

Oleh Gabrielle Triyono
Artikel asli dalam bahasa Inggris: It Starts With Believing God is Good

Kita semua mungkin pernah berkata “Thank God” atau “Tuhan baik” berkali-kali dalam hidup kita. Tapi, apakah pilihan dan cara hidup kita benar-benar mencerminkan apa yang kita katakan? Jawabanku adalah: tidak selalu. 

Tumbuh besar sebagai orang Kristen, aku diajarkan kalau Tuhan itu baik, dan memang aku telah mengalami sendiri kebaikan Tuhan. Tapi, meskipun aku mengalami kebaikan-Nya, seringkali aku masih ragu dengan apa yang Tuhan minta untuk kulakukan.

Pada suatu momen, Tuhan meneguhkan hatiku untuk putus dari suatu hubungan pacaran. Meskipun pada masa-masa yang lalu aku telah mengalami sendiri kesetiaan dan kebaikan Tuhan, tapi keterikatanku pada relasi dengan pacarku membutakanku dari melihat tuntunan Tuhan. Aku memaksakan kehendakku sendiri dan menganggap cara Tuhan bukanlah yang terbaik buatku. 

Tapi, ternyata aku salah.

Hubungan dengan pacarku membuatku jauh dari Tuhan. Aku kehilangan fokus kepada panggilan Tuhan. Buku-buku yang Tuhan tanamkan dalam hatiku untuk kutulis jadi tertunda, dan aku tidak bisa memberi diri sepenuhnya untuk melayani dalam persekutuan di gereja. Dan karena Yesus tidak pernah menjadi pusat dalam hubunganku dengan pacarku, kami  pun tidak bertumbuh secara rohani.

Sejak itu, aku melihat Tuhan berkarya lebih banyak dalam hidupku daripada sebelumnya.

Tuhan membuka pintu bagiku untuk menjadi pemimpin di persekutuan para lajang di gerejaku (meskipun aku baru join persekutuan ini beberapa bulan saja). Aku juga diundang untuk berbicara, berbagi kesaksian, dan memimpin ibadah untuk acara Natal para lajang di gerejaku. Sungguh mengharukan melihat bagimana ceritaku berpengaruh pada orang-orang yang juga bergumul dalam hidupnya. Salah satunya lewat buku yang kutulis, yang berjudul Living Revelations. Beberapa orang memberiku tanggapan bahwa karyaku itu bermanfaat bagi mereka. 

Aku pun mengalami Efesus 3:30 menjadi nyata dalam hidupku: Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.”Tuhan pasti memberiku lebih dari apa yang kubayangkan. Dia membuka lebih banyak pintu untuk pelayananku. 

Pengalaman ini membuatku sadar tentang kebenaran penting. Menyadari bahwa Tuhan itu baik menolong kita melangkah dalam ketaatan untuk melakukan panggilan kita.  Mazmur 18:30 mengingatkan kita, “Adapun Allah, jalannya sempurna.”

Seringkali kita melewatkan berkat Tuhan dengan menolak untuk menaati-Nya karena kita tidak percaya kalau jalan-Nya adalah sempurna. Aku perlu belajar bahwa meskipun jalan-Nya terlihat seperti bukan yang terbaik, tapi itulah yang terbaik buat kita. 

Pertemuan Simon Petrus dengan Yesus adalah contoh yang baik tentang pentingnya percaya pada panggilan Allah. Dalam Lukas 5, Yesus meminta Petrus untuk berlayar ke perairan yang dalam untuk menangkap ikan lagi, sedangkan Petrus baru saja menghabiskan sepanjang malam melaut tapi tidak ada ikan yang tertangkap.

Petrus pun menanggapi Yesus, Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Petrus sudah kelelahan, dan kita bisa melihat dari tanggapannya bahwa dia tidak merasa gagasan Yesus itu baik. Namun, walaupun dia ragu dan bimbang, dia tetap melakukannya.

Apa hasilnya? Berkat yang luar biasa.

Petrus dan rekan-rekan nelayannya menangkap begitu banyak ikan, sampai jala mereka pun mulai koyak (ayat 6). Lukas 5:8-9 mengatakan, “Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus… Dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap..” (titik beratku).

Petrus menyadari kebaikan Tuhan. Jika dia mengikuti perasaannya dan tidak mendengarkan Yesus, dia tidak akan pernah berada pada posisinya saat itu—di kaki Yesus, penuh kekaguman akan kuasa-Nya.

Mungkin kita seperti Simon Petrus. Tapi seperti pengalaman yang ditunjukkan Petrus, perasaan kita tidaklah selalu jadi cerminan kenyataan. Tuhan ingin memenuhi kita dengan kebaikan dan berkat-Nya, tapi itu dimulai dengan ketaatan kita.

Maukah kita menanggapi Yesus seperti Simon Petrus dan berkata, “Karena Engkau telah bilang begitu, maka aku akan melakukannya”

Jika kamu belum melihat tangan Tuhan berkarya dalam hidupmu, sekaranglah kesempatanmu untuk melihat kebaikan-Nya tercurah dalam hidupmu. Dan jika kamu telah melihat Tuhan berkarya dalam hidupmu, percayalah Dia akan melakukannya lagi dan lagi.

Hari ini, maukah kita mengikuti permintaan Yesus? Melakukan perintah-Nya dengan beriman, terlepas dari perasaan dan keraguan kita. Maukah kita menyadari kebenaran sederhana ini bahwa Tuhan selalu berlaku baik untuk kebaikan kita?

Kita tidak perlu takut dengan apa yang akan datang. Selama kita berjalan dengan Tuhan, kebaikan-Nya akan selalu menemani hidup kita. Mazmur 23:6 berkata, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”.

Tidak ada yang lebih baik daripada hidup di dalam kehendak Tuhan.

Demi Perubahan Hidup, Aku Berani Ambil Keputusan Besar

Oleh Sarah Callen
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How A Month With God Changed My Life

Beberapa bulan terakhir rasanya seperti penuh badai bagiku. Di bulan Agustus, aku merasa Tuhan memintaku untuk menjadikan bulan Septemberku sebagai momen Sabat–waktu khusus untuk berhenti dan beristirahat. Aku terpikir untuk berhenti kerja, berhenti menyusun planning, agar aku bisa meluangkan waktu berkualitas dengan Tuhan tanpa gangguan apa pun.

Di pekerjaanku, aku bisa bekerja sampai 14 jam sehari. Keputusan berhenti ini mengubah jam kerjaku menjadi 0 jam sehari. Buatku yang workaholic, perubahan drastis ini akan menyulitkan dan mengejutkanku. Aku terus meminta petunjuk supaya aku yakin, seperti ketika Allah meyakinkan Sarah.

Di dalam Alkitab, ada pola tentang bagaimana Tuhan memanggil orang-orang pilihan-Nya untuk “keluar” agar mereka fokus pada-Nya. Bangsa Israel berjalan di padang gurun selama 40 tahun, menjumpai Tuhan dan belajar menanggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa membahayakan mereka. Yesus pun secara teratur meluangkan waktunya dalam kesunyian dan berdoa bersama Bapa. Sepanjang waktu yang kutentukan sebagai Sabat, aku terpaku pada beberapa ayat di Yeremia 29, yang ditulis untuk umat Tuhan yang sedang ditawan.

“Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN” (Yeremia 29:12-14a)

Ungkapan “dengan segenap hati” itu selalu menyentakku setiap kali aku membacanya. Aku sungguh ahli jika mencari Tuhan dengan ‘sebagian’ hatiku, tetapi jika seluruhnya kuserahkan, itu jadi cerita yang berbeda. Aku tahu Tuhan memanggilku ‘keluar’ dari rutinitasku supaya aku bisa mencari Dia sepenuh hati, dan aku tahu aku harus membuat beberapa perubahan.

Memangkas Kebisingan

Salah satu perubahan yang kulakukan adalah: aku memutuskan berhenti jadi subscribers sejumlah podcast. Aku perlu mengendalikan suara-suara manakah yang kuizinkan masuk ke dalam pikiranku dan membentuk hidupku.

Selama bertahun-tahun, aku mendengar berbagai podcast soal politik dan aku sangat menikmatinya, tapi di sisi lain aku pun merasa muak. Seiring waktu, podcast yang awalnya seru dan mendidik berubah menjadi ajang saling menuding dan menjatuhkan pihak lain, sehingga jika kudengarkan lebih lanjut bisa berdampak negatif buatku.

Meskipun aku tahu podcast itu memberiku dampak negatif, berhenti jadi subscribersnya ternyata sulit. Sebagian diriku masih ingin terikat pada rutinitasku. Aku juga tidak ingin kehilangan suara-suara yang sudah akrab kudengar. Loyalitasku pada acara podcast ini mungkin jadi penyebab, tapi kusadari ada yang lebih dari itu:

Aku tidak ingin melepaskan sesuatu yang sudah kugenggam erat. Aku tidak ingin berkorban. Aku ingin lebih mengenal Tuhan lebih erat dan akrab, mendengar-Nya lebih jelas daripada sebelumnya. Tapi, aku tidak mau menciptakan ruang untuk mendengar suara-Nya. Aku ingin Dia bekerja, sedangkan aku cuma menerima.

Menjumpai yang Lebih Baik

Di bulan September, aku melakukan yang terbaik untuk bulan yang kuanggap Sabat. Aku belajar lebih bijak menggunakan uangku, tidak lagi boros untuk sekadar jajan. Aku memilih untuk percaya pada pemeliharaan-Nya daripada mengkhawatirkan diriku sendiri.

Kutunda dulu pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktuku supaya aku bisa bersandar pada firman-Nya. Aku belajar merasa cukup dengan kehadiran Tuhan saja, bukan semata mencari berkat-berkat-Nya. Aku harus menguji, apakah aku beriman dengan murni atau transaksional alias mengharapkan imbalan. Kusadari aku terlalu egois, yang kupikirkan cuma diriku sendiri.

Tuhan seperti memberiku cermin. Dia menunjukkanku area-area mana di hidupku di mana aku membiarkan rasa malu dan gila kerja menguasaiku, menaruh percayaku pada zona nyaman yang kubuat sendiri, yang kuyakini itulah yang berkenan buat Tuhan.

Sekarang, aku sadar bahwa tugasku adalah aku perlu percaya pada Tuhan melebihi aku percaya pada diriku sendiri. Aku memilih untuk berserah.

Bagi seorang workaholic yang terlalu berlebihan dalam bekerja, keputusan menikmati Sabat akhirnya menunjukkanku bahwa Tuhan jauh lebih hebat dari diriku sendiri. Segala upayaku dalam bekerja tidak memiliki makna jika aku tidak memiliki relasi dengan-Nya. Momen-momen ketika aku melepaskan diri dari apa yang menjeratku, jadi pembelajaran yang meneguhkanku bahwa identitasku datang dari apa yang Tuhan katakan tentangku, bukan dari apa yang aku lakukan. Tuhan telah menyingkap dan menyembuhkan bagian-bagian hatiku yang terluka, yang tidak percaya, yang keras. Aku telah mencari Dia, dan Dia pun selalu hadir.

Tuhan selalu bisa kita jumpai saat kita ingin berelasi dengan-Nya.

Apa yang Tuhan katakan padamu dalam situasimu yang sekarang? Apa yang telah Dia bisikkan ke hatimu? Aku berdoa agar kita bijak mengelola waktu kita, memangkas hal-hal apa yang membisingkan telinga dan hati kita, serta memberi ruang bagi-Nya untuk berbicara kepada kita.

Apa pun langkahmu selanjutnya, aku berdoa agar Dia memenuhimu dengan keteguhan hati dan kamu memutuskan untuk selalu mengikut dan taat pada rencana-Nya.

Proses Menjadi Manusia Sempurna

Oleh Oliver Kurniawan Tamzil, Sukoharjo

Teruslah belajar menjadi manusia yang seutuhnya ya, karena aku pun masih terus belajar,” ucap salah satu kakak pembimbingku di gereja.

Dalam hati aku bergumam, bukankah selama ini kita adalah manusia? Mengapa masih harus belajar jadi manusia yang seutuhnya? Aku pun mencoba mencari tahu lebih lanjut. Kubuka KBBI, di sana tertulis makna dari kata “manusia” adalah makhluk yang berakal budi.

Frasa “akal budi” adalah hal penting yang menjadikan manusia berbeda dengan makluk lainnya. Manusia adalah kasta tertinggi dari seluruh ciptaan. Firman Tuhan menceritakan bahwa manusia diberikan kebebasan untuk mengelola alam dan ciptaan-Nya dengan hikmat. Kita semua diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (imago Dei). Namun, jika kurenungkan lebih lanjut, meskipun pada kenyataannya kita diciptakan dengan begitu mulia oleh Allah, seringkali kita sendiri menganggap diri kita tidak berharga karena kita membandingkan diri dengan proses dan pengalaman hidup orang lain, yang bukannya memotivasi malah seringkali membuat kita jadi minder.

Ada kalanya kita mengalami kegagalan, berbuat kesalahan, tidak semua harapan tercapai, ditinggalkan oleh teman-teman kita. Perasaan kecewa atau gagal karena semua kejadian itu adalah perasaan yang valid. Buatku pribadi, ada satu pengalaman yang sungguh mengubahkanku. Saat itu aku mengalami masalah pribadi yang sungguh berat, aku hancur-sehancurnya dan aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa, satupun teman tidak ada yang peduli. Tiba-tiba kakak pembimbingku datang dan berpesan, “Tuhan menciptakan gelap dan terang pada hari penciptaan ke 4, Oliver tahu kan kalau gelap identik dengan sesuatu yang kurang jelas dan kurang baik, namun di balik itu ada tujuan Tuhan yang mulia yaitu supaya manusia bisa beristirahat. Demikian juga saat ini Tuhan izinkan Oliver mengalami situasi yang “gelap”, pasti Dia juga punya rancangan yang luar biasa diluar akal pikiran kita. Terus berjalan ya”. Sejak saat itu aku percaya bahwa pengalaman gelap sekalipun bisa dipakai Tuhan membentuk kita menjadi manusia seutuhnya.

Menjadi manusia seutuhnya berarti kita bersedia dibentuk oleh Tuhan melalui berbagai cara dan proses, salah satunya lewat relasi kita dengan sesama manusia lainnya. Hari demi hari, kita berusaha untuk hidup lebih baik, seperti panggilan Kristus dalam Matius 5:48 yang berkata, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Namun, apakah kita baru bisa jadi manusia seutuhnya jika sudah benar-benar sempurna? Bukankah dalam hidup ini tidak ada yang sempurna?

Kata yang diterjemahkan sebagai ‘sempurna’ dalam Injil Matius itu sebenarnya lebih berarti dewasa, lengkap, atau utuh. Menjadi sempurna berarti kita memberi ruang bagi pertumbuhan, serta menjadi cukup dewasa untuk mempersembahkan diri kita kepada sesama.

Jika kita menganggap hidup kita baru utuh sebagai manusia jika sudah mencapai kesempurnaan dari segi finansial, harta benda, atau pencapaian-pencapaian lahiriah lainnya, kita sedang terjebak pada upaya sia-sia dalam memegang kendali hidup kita. Sebaliknya, kita dapat mendengar undangan lembut dari Tuhan Yesus untuk berserah. Di dalam Dia, kita akan menemukan kebebasan dan keutuhan yang hanya mungkin bisa kita alami di dalam Dia.

Menutup tulisan singkatku, aku teringat akan sebuah doa yang kudengar di acara KKR:

“Tuhan, bentuklah aku menjadi manusia dan sesama seperti kehendak-Mu, bukan kehendak temanku atau bahkan orangtuaku. Maafkan aku Tuhan jika acapkali tidak menaati perintah dan perkataan-Mu. Jangan bentuk aku menjadi manusia yang sempurna menurut standar dunia tetapi jadikan aku orang yang terus mau belajar bahkan melalui kesalahan. Sebab melalui kesalahan itu aku mengerti hal manakah yang sesuai”.

Meskipun aku tidak mengenal kalian yang membaca tulisanku ini namun aku berharap dan berdoa kalian terus menjadi manusia yang utuh di hati Tuhan dan hati siapapun yang rindu akan kasih-Nya.

Selamat berjuang dan berproses Bersama Dia, Sang Pemimpin Kehidupan. Tuhan Yesus memberkati.

Kamu Diutus Jadi Saksi bukan Hakim

Oleh Joshua Effendy, Semarang

Kita tidak dipanggil menjadi Hakim, kita dipanggil untuk menjadi saksi.

Kalimat ini aku dengar ketika mendengar khotbah dari rohaniwan di gerejaku. Sebuah kalimat yang menyadarkan dan mencelikkan kembali mata imanku yang mulai terpejam. Memang pada saat itu aku sedang ragu-ragu untuk memilih: bersaksi tentang Tuhan kepada temanku yang beragama lain dengan risiko pertemanan yang merenggang atau tidak bersaksi dan pertemanan ini berjalan tanpa embel-embel iman. Selama ini, aku merasa bahwa pertemanan seharusnya murni tanpa ada motivasi-motivasi untuk ‘Kristenisasi’, tetapi aku selalu punya dorongan dan keinginan untuk mendoakannya secara langsung, bahkan mengajaknya ke gereja. Aku diingatkan kembali, “bukankah setiap orang adalah gambar dan rupa Allah yang seharusnya menjadi cerminan Allah di dunia ciptaan-Nya?” Artinya, kehadiran kita harusnya menjadi cerminan bagaimana kasih sayang Allah hadir bagi mereka yang belum percaya juga, sehingga mereka rindu mengenal Allah.

Singkat cerita, akhirnya aku memberanikan diri untuk mendoakan dia di saat ada masalah, bahkan mengundangnya untuk datang persekutuan pemuda di gerejaku dalam event-event khusus. Puji Tuhan, yang aku takutkan justru tidak terjadi. Bahkan, sampai saat ini kami sering bertukar kabar, membagikan ayat Alkitab dan saling mendoakan.

Dari peristiwa itu, aku memahami bahwa sejak manusia diciptakan, manusia dipilih untuk menjadi ‘wakil-wakil Allah’.  Artinya, kita dipanggil untuk menjadi ‘rekan kerja Allah’, untuk mengatur dan mengelola dunia ciptaan-Nya. Kejatuhan dalam dosa membuat manusia tidak lagi mencerminkan Allah, tetapi mencerminkan egonya masing-masing. 

Aku meyakini, bahwa banyak orang yang dipanggil Tuhan untuk menerima panggilan menjadi orang percaya, tetapi sedikit yang dipilih untuk menikmati anugerah ini. Mereka yang dipilih Tuhan, pastinya menerima panggilan itu dengan sukacita, tetapi mereka yang tidak dipilih, menghidupi panggilan itu dengan setengah hati. Sebagaimana Firman Tuhan menyatakan bahwa ‘banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih’ (Mat. 22:14), menunjukkan secara jelas bahwa ada orang-orang yang menerima panggilan Tuhan namun tidak sungguh-sungguh mengerjakan panggilan itu, tetapi ada juga orang-orang pilihan Allah yang dengan sepenuh hati mengerjakan panggilan sebagai orang percaya. Bagiku, ada perbandingan lurus antara orang yang dipilih dengan yang tidak: seseorang yang sepenuh hati mengikut Tuhan, pasti mengerjakan panggilannya dengan sepenuh hati, sedangkan seseorang yang setengah hati mengerjakan panggilan itu, maka juga tidak mungkin mengikut Tuhan sepenuh hati pula. Motivasi hati di dalam menjalani panggilan itu bukan soal baiknya, pintarnya, cakapnya kita, melainkan hanya kasih karunia Tuhan semata yang memanggil dan memilih setiap kita untuk menjadi saksi-Nya.

Jadi, panggilan berbicara mengenai kehendak bebas manusia, sedangkan pilihan berbicara tentang kedaulatan Tuhan yang memilih suatu kelompok untuk menerima panggilan itu. Seseorang yang terpanggil, belum tentu mau menundukkan dirinya menjadi orang pilihan Allah untuk bersaksi. Semuanya murni adalah kasih karunia Allah dan karya Roh Kudus. Melalui penebusan Yesus, panggilan sebagai umat Allah pun dipulihkan juga, yaitu menjadi imamat rajani [religious leaders – terjemahan NLV] (1 Petrus 2:9). Dalam kehendak bebasnya, orang percaya tetap beroleh kebebasan untuk memilih: mengikuti atau mengabaikan panggilan Tuhan.

Panggilan Tuhan bagi orang percaya adalah agar kita menjadi imam-imam (spiritual leaders) yang membawa orang lain untuk mengenal Dia dengan mewartakan berbagai perbuatan-Nya, atau jika aku sederhanakan yaitu menjadi saksi-saksi Tuhan. Bukankah panggilan untuk menjadi terang dan garam dunia berbicara tentang menjadi saksi yang memberikan dampak lewat kehidupan kita?

Tapi, coba kita lihat kehidupan kita saat ini: lebih sering menjadi saksi, atau justru menjadi hakim? Tanpa aku sadari, aku pun cenderung menjadi hakim bagi sesamaku. Julid, gossip, melontarkan komentar-komentar buruk, bahkan merendahkan adalah wujudnyata bagaimana aku yang seharusnya menjadi saksi justru menghakimi. Ada banyak alasan kita lebih mudah menghakimi orang lain daripada menjadi saksi: salah satunya adalah harga diri. Jika kita meletakkan harga diri pada hal-hal tertentu, maka kita akan merasa berhak untuk menghakimi orang lain yang tidak mencapai ‘standar’ kita. Oleh sebab itulah, ketika kita menghakimi orang lain, kita selalu menempatkan posisi kita (harga diri) di atas orang yang kita hakimi itu. Seolah-olah ‘si aku’ adalah si paling benar dalam perkara itu. Perenunganku beberapa hari ini membawaku kepada satu kesimpulan: sebagai seorang saksi sudah saatnya untuk kita bersaksi!

Sebenarnya, menjalani panggilan Tuhan sebagai saksi-saksi-Nya tidak seberat dan sesulit yang kita bayangkan. Kita keburu overthinking yang berujung takut sehingga tidak berani menjadi saksi-saksi-Nya. Padahal, jika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, maka tidak ada rasa takut yang membuat kita kesulitan untuk bersaksi tentang-Nya (1 Yoh.4:13-18).

Jadi, bagaimana cara kita menjadi saksi-saksi Tuhan di zaman now?

1. Tuhan dulu, saya kemudian.

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

(Yohanes 3:30)

Ketika Yohanes diberitahu para muridnya bahwa ada seorang bernama Yesus yang membuat banyak pengikut Yohanes pindah haluan, responnya adalah teladan bagi setiap kita: ‘Ia harus makin dikenal, tetapi aku harus makin kecil’. Sanggupkah kita berkata demikian ketika kita dihujani pujian, sanjungan, dan hormat pada momen puncak kita?

Aku pun memiliki kecenderungan untuk jatuh dalam tinggi hati dan mengambil semua pujian dan hormat orang untukku sendiri. Menjadi saksi Tuhan mengingatkan kita bahwa tugas kita adalah menceritakan tentang Tuhan yang kita saksikan, bukan tentang kehebatan kita sebagai saksi-Nya. Kalaupun Tuhan memakai kesaksian kita untuk menggerakkan orang menjadi percaya, itu semua adalah karena-Nya, bukan karena kita.

Tinggi hati mendahului kehancuran (Ams. 18:12), banyak tokoh-tokoh Alkitab yang berusaha membuktikan dirinya sendiri dan menomorduakan Tuhan justru berujung pada kehancuran. Bahkan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa ketika mereka ingin menjadi seperti Allah. Setiap orang yang menggantikan Allah sebagai yang nomor satu dalam hatinya pasti berujung kepada penyesalan dan terikat dengan hal sia-sia. 

Tujuan kita bersaksi bukanlah agar banyak orang mengenal diri kita, melainkan agar banyak orang boleh mengenal pribadi Tuhan melalui kehidupan kita. Jangan kejar ketenaran dan pujian manusia, kejarlah perkenanan Tuhan. ‘It is better to have God’s approved, than world’s applaud’.

2. Nikmati Tuhan, Nikmati Panggilan

“Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun” (Mazmur 89:2).

Mengapa kita tidak pernah menikmati panggilan Tuhan untuk bersaksi? Karena kita tidak terlebih dahulu menikmati Dia sebagai Pribadi yang akan kita ceritakan kepada orang lain. Aku pasti kesulitan ketika mau bercerita tentang enaknya masakan Mbok Inem jika tidak mencobanya terlebih dahulu, beda cerita jika aku pernah bahkan sering menikmati enaknya masakan Mbok Inem. Pasti dengan mudahnya aku bisa menceritakan bahkan sampai hafal secara detil rasa bahkan menu yang dimasaknya.

Kita seringkali kesulitan bersaksi dan bingung ‘mau cerita dari mana’, karena kita tidak menikmati Tuhan terlebih dahulu. Menjadi seorang saksi berarti menceritakan hal-hal yang dilihat, dialami, dirasakannya sehingga ceritanya otentik tanpa perlu dibumbui apapun. Pemazmur hendak menyaksikan kasih setia Tuhan dari generasi ke generasi oleh karena ia sendiri mengalami dan menikmati Tuhan.

Seringkali kita tidak menikmati panggilan sebagai saksi bahkan menganggapnya sebagai beban, karena kita sendiri belum mencicipi kasihnya Tuhan. Aku yakin, sekali kita mencicipi kasih Tuhan, mulut kita tidak akan pernah berhenti menceritakan tentang-Nya. Kita akan berusaha menceritakan bagaimana Tuhan bekerja dan apa yang Tuhan buat dalam hidup kita kepada orang lain.

Panggilan Tuhan untuk menjadi seorang saksi bukanlah panggilan yang mengekang kebahagiaan diri kita, membuat kita terbeban dan kesulitan, tetapi adalah panggilan yang sudah disetel sejak kita dipilih bahkan dikenal-Nya sebelum kita diciptakan. Bagiku, ketika kita menghidupi panggilan itu, sekalipun kita disalah pahami, dicela, dianggap sok suci, mengalami sakit hati, dan hal tidak mengenakkan lainnya, hati kita tetap memiliki sukacita yang membuat kita terus menyaksikan Tuhan – lewat perkataan ataupun sikap hidup kita.

3. Beraksi tanpa tunggu instruksi

“Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar” (Kisah Para Rasul 22:15).

Perjalanan 1000km diawali dengan sebuah langkah pertama, dan langkah pertama itulah yang paling sulit untuk dilakukan. Aku pun cenderung overthinking sebelum bersaksi ‘What if’. ‘bagaimana jika aku ditolak, bagaimana jika aku dipermalukan, dijauhi, dimusuhi, bahkan ditindas karena bersaksi tentang Tuhan? Bagaimana jika aku tidak mengerti apa yang harus dijawab ketika mereka menanyakan tentang pokok Kekristenan?’ dan berbagai pikiran lainnya.

Semua alasan-alasan itu adalah cara kita untuk menunda bersaksi bagi Tuhan. Padahal, bersaksi tidak perlu menunggu instruksi melainkan intuisi (kepekaan). Di saat ada momen yang Tuhan sediakan dan ada kegerakan, disitulah kita bercerita tentang Tuhan.

Bersaksi juga tidak harus selalu dengan cara-cara yang selama ini terpikir: menginjili orang lain sampai percaya. Bersaksi dapat kita lakukan dengan membagikan renungan dari pembacaan Alkitab kita di medsos, membagikan ayat-ayat Alkitab, membagikan konten-konten rohani, atau berusaha hidup seturut Firman. Namun, bukan berarti ketika kita menemukan renungan yang pas dan menegur kita bagikan itu secara sengaja agar orang lain tertegur dan kita justru menghakimi mereka dengan ayat-ayat atau renungan yang kita bagikan. Itu adalah cara menghakimi yang terselubung. Bahkan, bukan berarti kita terjatuh dalam oversharing yang membanjiri timeline ataupun story dengan berbagai hal rohani – entah agar dilihat sebagai seorang yang rohani, ataupun asal share tanpa merenungkan bahkan menyaring dengan baik apa yang kita bagikan. Ingat: Saring sebelum sharing, dan motivasi hati kita adalah untuk membagikan berkat Tuhan, bukan menampilkan ‘si aku’ di atas segala-galanya, dan hanya ‘nampak rohani’ di media sosial saja.

Perenungan terhadap firman Tuhan harus terlebih dahulu mengena pada ‘si aku’, sehingga kita mengalami perubahan hidup untuk semakin diperlengkapi menjadi saksi-saksi Tuhan. Sesederhana itu cara bersaksi, namun Tuhan dapat memakai cara-cara yang sederhana itu untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Kita tidak perlu takut dan khawatir, ketika kita bersaksi tentang Tuhan, maka Ia sendiri yang akan menjaga dan mengurapi kita untuk dapat memberitakan perbuatan besar dari-Nya.

***

Sekaranglah waktunya bagi kita orang percaya untuk beraksi menjadi saksi Tuhan. Melalui kehadiran kita yang menjadi saksi, maka akan banyak jiwa-jiwa yang diselamatkan. Ketika kita mau meresponi panggilan Tuhan atas hidup kita, Tuhan pun akan menolong dan memampukan kita untuk menjalani panggilan itu. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya. (1 Tesalonika 5:24). Tuhan Memberkati.

Soli Deo Gloria.

Pentingnya Jujur pada Diri Sendiri

Oleh Still Ricardo Peea

Bulan Oktober lalu diperingati sebagai bulan kesadaran kesehatan mental sedunia. Di bulan itu pula, ada satu kejadian yang menegur dan mengingatkanku lagi tentang kesehatan mental di tengah pelayananku di pedalaman Papua.

Ada seorang ibu mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Sebelum meninggal, dia mengisi celananya dengan uang dari hasil kerjanya. Menurut sahabat terdekatnya, almarhumah sering dirundung oleh beberapa tetangga dan kepada sahabatnya itu dia berkata bahwa dia akan pergi ke kampung halamannya. Namun, yang terjadi malah dia pergi untuk selamanya. Kakak perawat yang bertugas bersamaku juga berkata kalau tahun sebelumnya juga ada warga yang bunuh diri dengan cara yang sama.

Dua kejadian itu menggerakkanku untuk mencari tahu lebih jauh data-data terkait kesehatan mental. Namun, kusadari bahwa tanpa perlu menjelajahi penelitian dari seluruh dunia, isu kesehatan mental adalah sesuatu yang terus kita gumulkan dalam diri. Aku pun teringat akan kitab Mazmur, kitab yang kalau kata teolog John Calvin, adalah “anatomi dari keseluruhan bagian jiwa.”

Kadang aku suka membukanya dan membaca ayat-ayat yang kutemukan secara acak entah sebelum ke sekolah atau kuliah, saat bosan atau sedang ingin saja. Selalu saja ada bagian yang bisa kunyanyikan dalam hati atau renungkan tatkala aku merasa galau, gelisah, overthinking, cemas, insecure, bertanya-tanya, suka atau duka, meratap atau mengeluh, hari berat, hari biasa, saat Tuhan terasa jauh atau dekat. Mazmur menjadi curahan ekspresi jiwa para pemazmur dalam berbagai situasi yang terjadi di masa mereka, bagaimana mereka bergumul dan berproses dengan jiwanya dan apa yang akhirnya menjadi keputusan mereka.

Mungkin Mazmur 42 salah satu yang cukup mainstream buat kita karena sering dinyanyikan lagunya. Bagian awalnya tertulis, “seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Namun, muncul pertanyaan buatku: apakah yang bisa kurenungkan hanya hanya sebatas analogi diriku seperti rusa yang haus? Atau, seperti tanah gersang yang menanti air, apakah itu juga adalah kerinduan terbesar hatiku?

Di tengah banyaknya perspektif tentang kesehatan mental, seperti “insecure dan anxiety itu perlu biar kita stayin alive” dan lain sebagainya. Mazmur ini mengajakku untuk merenungkan kembali, mencoba memahami dan bertanya pada jiwaku, diriku sendiri apa yang menjadi kegelisahanku. Ya, Mazmur ini terasa seperti mengajakku untuk berseru, bersukacita, menangis, meratap atau berkeluh kesah, berinteraksi dan menegur diri sendiri, jujur akan kelemahan diri sendiri dan pada akhirnya berharap pada Pencipta kita yang paham betul ketidaksempurnaan kita. Dengan keadilan dan kasih-Nya yang sempurna Ia memulihkan kita.

Saat ini, banyak hal yang bisa jadi pemicu kegelisahan diri, entah saat merasa buntu atau tersesat, banyaknya pilihan yang ditawarkan dan dipamerkan dunia lewat media sosial ataupun lingkungan kita. Kadang hal-hal tersebut terasa seperti mengolok-ngolok kekurangan diri dan menuntunku bertanya apakah Allah benar-benar ada dan mencukupiku? Apakah kelegaan dan kepastian yang selama ini kudambakan benar-benar nyata atau hanya fiktif? Apakah keluargaku akan baik-baik saja? Dan berbagai pertanyaan yang menyerang diri sendiri setiap saat membuatku tidak baik-baik saja dan doa terasa tak berguna.

Mazmur 42 mengajakku bertanya dan mencoba jujur dengan diri sendiri. Aku tidak perlu ragu untuk bertanya dan jujur tentang apa yang aku rasakan meski kadang aku juga bingung dengan perasaan yang terus saja menggelisahkan diri. Setelah bercerita ke orang yang dipercaya, hasilnya kadang membuatku lega, tapi kadang juga tidak. Orang yang mendengarkanku pun kadang menanggapi tidak sesuai harapanku. Selain itu aku pun merasa lelah dengan beragam peristiwa di seluruh dunia seperti, serangan di Ukraina, bayi-bayi yang harus dievakuasi, korban di sana sini. Apakah Tuhan menutup mata dengan hal ini? Dan segudang pertanyaan lainnya.

Aku percaya bahwa Roh Kudus memampukanku berseru, mengeluh dan berharap dengan Tuhan, jujur akan kelemahan dan natur berdosaku. Roh Kudus juga menyadarkan dan mengingatkanku akan kesetiaan Tuhan yang terus menuntunku dalam segala masa, seperti dalam masa pelayanan sebagai perawat Covid, di mana aku merasa lelah karena berhadapan dengan kematian yang terasa sungguh dekat dengan ambang pintu. Baru semalam kudoakan pasienku, besoknya malah sudah tidak bernyawa. Namun, Tuhanlah yang memampukanku melayani sampai lulus. Dalam masa penantian untuk ke tempat penempatanku sekarang hingga aku positif COVID, Tuhan selalu menyanggupkanku.

Daud dalam seruannya di Mazmur 51 dan Tuhan Yesus dalam kisahnya di Matius 26:36-46, jadi contoh dari Alkitab yang menegurku untuk jujur akan perasaan dan berserah lebih lagi pada Tuhan. Tuhan Yesus mengajakku untuk datang pada-Nya dengan segala beban yang ada padaku (Matius 11:25-30), untuk belajar dari pada-Nya sang firman dan air hidup yang mampu melegakan kita (Mazmur 94:18-19). Dia mengajak kita untuk memikul beban yang Dia percayakan, belajar dan berpaut pada-Nya. Bukan kepada dunia yang hanya menggelisahkan dan memberikan kepuasan palsu.

Ke mana dan sejauh mana pikiran dan perasaanku mengembara akan menentukan sejauh mana aku akan berharap dan bertahan, atau keputusasaan akan melemahkanku.

Aku belajar untuk selalu menyanyikan dan mengingatkan jiwaku sampai aku tertegur dan sadar. Ingat dan hitunglah terus kasih setia Tuhan yang sudah kita alami. Tidak mengapa bila kita lemah, tak sempurna dan lelah, bawa semua itu pada-Nya dan jangan pikul apa yang tidak dipercayakan pada kita. Isi pikiran dan jiwa kita dengan memikirkan apa yang baik sebagaimana yang diingatkan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi (Filipi 4:8-9).

Aku menantang setiap kita untuk lakukan 3 hal berikut ini dalam 7 hari:

  1. Buatlah satu kertas atau catatan untuk menuliskan pertanyaan pada diri sendiri dan Tuhan akan segala keresahan, kegelisahan, kebimbangan atau perasaan apapun yang dirasakan di hari itu
  2. Satu hari tulislah satu ayat atau lebih yang dirasa bentuk kejujuran pada diri sendiri dan Tuhan, mengingatkan atau menegur atau mengajak kita untuk berharap dan berbalik sama Tuhan kita. Buatlah dalam satu kertas.
  3. Di 3 hari dalam 7 hari itu, lihatlah ke langit dan sekeliling kita sebentar, lalu lihat ke bawah, ke tangan dan kaki kita, lalu ingatkan diri sendiri “Hey, (nama), sejauh inilah Tuhan sudah menuntunmu melampaui segala suka dan dukamu, sakit dan senangmu. Mengapa tertekan dan resah? Ayo, (nama), berharap dan bersyukur pada penolong dan Bapa kita!

    Kiranya Tuhan memberkati dan senantiasa memelihara jiwa kita, untuk terus berpegang dan berharap pada-Nya.

Aku, Si Pembunuh yang Diberi Ampun dan Kesempatan Baru

Oleh Mayang*
*bukan nama sebenarnya

Jika kepada setiap orang ditanyakan dosa terberat apakah yang pernah mereka lakukan, kurasa akulah yang paling malu dan gentar untuk mengungkapkannya.

Masa muda yang seharusnya indah menjadi kelam karena dosa yang kulakukan. Saat itu aku duduk di bangku SMA dan berpacaran dengan seseorang. Tanpa benar-benar memikirkan akan risiko, aku dan pacarku melakukan hubungan intim. Setelah beberapa waktu, betapa kaget dan hancurnya aku ketika tahu bahwa aku hamil, terlebih lagi sikap pacarku yang posesif dan abusif membuatku merasa tidak mencintainya lagi, demikian juga sebaliknya. Aku berada pada dilema: apakah aku harus menikahi laki-laki itu dan mengizinkan anakku hidup? Atau, menggugurkannya? Aku memutuskan pilihan yang kedua. Hari ini, empat belas tahun kemudian, tanganku pun masih gemetar mengingat kejadian itu. Akulah si pembunuh yang seharusnya diganjar hukuman berat.

Setelah keputusan berat itu kuambil, aku memutuskan untuk melarikan diri. Aku meninggalkan mantan pacarku. Aku pergi ke kota yang lain dengan alasan melanjutkan pendidikan, padahal jauh dalam lubuk hatiku aku sadar bahwa itu adalah pelarian. Aku berusaha lari dari kenyataan bahwa aku adalah pembunuh dan aku mencoba menjalani hidup dengan tidak berharap sama sekali bahwa aku akan menjadi manusia yang baik. Dalam bayanganku, aku akan kembali jatuh dalam seks bebas dan dunia malam di kota metropolitan. Begitulah aku memberikan harga pada diri dan masa depanku.

Namun, dalam pelarianku itu ternyata Tuhan menangkap dan memenangkan aku. Tuhan bahkan tidak membiarkan aku menyentuh gemerlap dunia di kota itu. Dengan cara-Nya yang unik, Dia mengubahkan hidupku, mengizinkan aku mengenal Dia, membuat aku jatuh cinta pada-Nya. Aku yakin bahwa sejak semula Tuhan telah memilihkan kampus yang kujadikan tempat melanjutkan studi untuk aku bertemu dengan-Nya. Sebagai mahasiswa baru, aku diwajibkan memilih salah satu dari organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada sebagai syarat agar nanti aku dapat diwisuda. Setelah diskusi dengan teman baikku, kami memilih masuk organisasi kerohanian dengan pemikiran bahwa tidak akan banyak kegiatan yang menyita waktu kami sehingga kami bisa bersenang-senang. Ternyata pikiran kami meleset. Justru melalui organisasi inilah kami malah diinjili dan menerima Kristus. Dan kami ternyata harus mengikuti begitu banyak kegiatan yang menyita waktu kami, seolah Tuhan tidak membiarkan kami untuk terjerat dalam pergaulan lain yang salah. Melalui berbagai camp, seminar, fellowship, dan kelompok pemuridan selama 3 tahun kami menerima proses yang membuat kami terus dibaharui dan sungguh-sungguh menyerahkan hidup kami bagi Tuhan.

Tuhan Yesus menjagai aku dengan memberikan orang-orang baik yang mengasihi Dia di sekitarku. Aku tidak hanya mendapatkan teman, namun sahabat dan mentor yang mau berjalan bersama-sama dalam perjalanan rohaniku. Dua orang senior perempuanku bahkan membantu aku memulihkan diri dan berdamai dengan masa laluku. Melalui mereka aku belajar memiliki hati melayani yang benar. Tidak hanya itu, Tuhan memberikan aku kesempatan-kesempatan besar untuk melayani-Nya. Semua itu membuktikan apa yang dikatakan Daud dalam Mazmur 31 : 22 “Terpujilah Tuhan, sebab kasih setiaNya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan”.

Namun pada suatu titik aku bertanya “Tuhan, dari sekian banyak perempuan muda di dunia ini, di negara ini, di kota ini, di kampus ini, mengapa aku yang adalah pembunuh ini yang Engkau pilih?”

Aku tidak menemukan jawaban spesifik untuk pertanyaan ini. Semua jawaban yang aku dapat terlalu umum. Sampai suatu hari, bertahun-tahun setelah itu, salah satu temanku memilih aku untuk menceritakan pergumulan hidupnya. Dia sedang berjuang untuk melepaskan laki-laki yang sudah terlanjur dia berikan segalanya. Dia begitu mencintai laki-laki itu sehingga tidak ingin kehilangan bahkan meski sudah diselingkuhi. Dia ada dalam bayangan kegelisahan kalau-kalau tidak lagi akan ada laki-laki lain yang dapat menerima dirinya. Terlebih dia juga ketakutan akan murka Tuhan yang mungkin akan dia terima sebagai balasan untuk dosa yang sudah dia lakukan. Dia terlalu malu untuk menyentuh Tuhan dalam doa, meskipun dia sangat sadar hanya Tuhan yang dapat menolong kehancurannya ini.

Keberaniannya menceritakan hal itu padaku membuat aku terbuka mengenai apa yang pernah aku lakukan di masa lalu. Aku pun bersaksi tentang bagaimana Yesus mau mengampuni dan memulihkan aku yang dosanya pun sama mengerikannya itu. Kisahku adalah aib yang memalukan, namun dengan pertolongan Roh Kudus, aku diberikan keberanian untuk menceritakan bagian paling bobrok dalam hidupku untuk temanku. Cerita itu kusampaikan bukan untuk menujukkan hebatnya diriku atau berbangga atas besarnya dosaku, tetapi kasih Allah jauh melampaui segalanya. Tak ada dosa yang terlalu kelam untuk disentuh dengan terang-Nya. Membagikan kisah kasih Allah itu membuatku merasakan sukacita yang luar biasa.

Setelah malam itu aku mengerti mengapa Tuhan memilih aku yang adalah seorang pembunuh ini untuk diselamatkan. Tuhan Yesus mau aku untuk jadi alat-Nya melayani perempuan-perempuan muda yang mengalami apa yang pernah aku alami. Dalam kehancuran dan kegagalanku, Dia mau dan mampu menatanya menjadi indah dan melayakkanku supaya setiap orang yang melihat dan mendengarkan aku yang jahat ini, dapat melihat dan mendengarkan Yesus yang penuh kasih itu.

Aku sangat bersyukur atas apa yang Yesus kerjakan dalam hidupku. Aku tidak dapat berbohong bahwa aku masih terus hidup dalam rasa bersalah dan penyesalan. Namun, rasa itu yang membuat aku mampu mengasihi banyak orang tanpa alasan. Rasa itu membuat aku tidak mampu untuk menyangkal unconditional love yang aku terima dari Tuhan, tidak peduli seberapa sulit pun hidup yang aku jalani.

Akibat perbuatanku itu jugalah sampai hari ini membuat aku kesulitan memulai sebuah hubungan baru dengan orang lain. Sulit bagiku untuk bisa percaya bahwa akan ada laki-laki baik yang mau menerima aku dengan masa laluku. Namun, aku bersyukur karena penerimaan Yesus sudah cukup bagiku. Aku akan tetap bersukacita seperti yang tertulis dalam Mazmur 13:6 “Tetapi aku, kepada kasih setiaMu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk Tuhan, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Kini aku sadar, melayani orang yang sedang berada dalam posisi terburukku adalah bagian dari panggilan hidupku.

Hai Si Overthinking, Belajarlah dari Burung-Burung di Langit

Oleh Sofia Dorkas Pakpahan, Medan

“Lu kerjaannya overthinking mulu.”

Kata-kata seperti itu cukup sering diberikan kepadaku. Entah mengapa, namun aku memang suka memikirkan banyak hal yang padahal belum tentu terjadi. Kadang aku bertanya-tanya, apakah salah kalau aku suka memikirkan hal yang jauh di masa mendatang? Bukannya lebih baik kita memikirkan hal-hal tersebut sekarang supaya kita punya lebih banyak waktu untuk mempersiapkannya? Aku bukannya takut tetapi merasa harus lebih waspada saja, pikirku.

Pemikiran itu mendorongku untuk mengisi hari-hariku sebagai mahasiswa dengan belajar keras, maksudku supaya aku bisa mempersiapkan masa depan sebaik mungkin. Tapi, usaha yang didorong oleh rasa takut itu rasanya memang tidak enak. Bukannya puas karena sudah mempersiapkan sesuatu, aku malah masih saja berpikir kalau aku tertinggal jauh dari orang lain. Melihat orang lain yang mampu memperoleh segudang prestasi membuat aku lagi-lagi rendah diri dan merasa belum berusaha lebih keras. Aku mencoba mengikuti berbagai perlombaan, berharap bisa seperti temanku yang mampu berprestasi. Namun, tetap saja aku tidak bisa seperti dia. Lagi-lagi pikiran tentang masa depan menghantuiku. Kalau begini, aku mau jadi apa nantinya?

Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya belum pasti jawabannya membuat kepalaku pusing tiap malam. Kekhawatiran, kecemasan, benarkah aku mengalaminya? Atau seperti yang aku katakan, aku hanya sedang waspada dan mempersiapkan masa depan?

Suatu pagi, ketika aku hendak menuju kampus, di balik pepohonan rindang aku melihat beberapa ekor burung berkicauan. Aku mengamatinya sejenak, lalu burung-burung itu pergi bersamaan, membentuk suatu formasi di langit pagi, kemudian terbang melesat. Sejenak aku kagum, namun aku pun bergegas pergi agar tidak terlambat masuk kelas. Di sore harinya, aku hendak pulang dari kampus dan melewati tempat yang sama yang kulewati di pagi hari. Kemudian aku mendengar kicauan burung, lalu aku melihat di langit formasi yang sama seperti yang tadi pagi burung-burung itu lakukan. Aku memperhatikan bagaimana sekawanan burung terbang dengan formasi yang indah di langit, kemudian hinggap di antara pepohonan rindang dan masuk ke dalam sarangnya. Entah mengapa, pemandangan itu membuat hatiku menghangat dan rasanya tenang.

Pengalaman sederhana ini meneguhkanku bahwa Tuhan sedang berbicara. Melihat bagaimana burung-burung tersebut pergi dari sarangnya untuk mencari makanan di pagi hari, kemudian pulang kembali ke sarangnya di sore hari setelah mendapatkan makanan, dan begitu setiap harinya. Burung-burung tersebut memang tidak memiliki otak secerdas manusia, namun mereka tidak pernah khawatir tentang apa yang akan terjadi di esok hari, tentang apakah makanan mereka tersedia di esok hari. Yang mereka tahu di pagi hari mereka akan terbang ke tempat di mana mereka menemukan makanan, kemudian pulang kembali ke sarangnya. Jika makanan tidak ada di satu tempat, masih banyak tempat yang dapat mereka datangi, jadi mengapa harus khawatir?

Sejenak itu membuatku menyadari betapa pikiranku begitu sempit daripada burung-burung tersebut yang bahkan tidak lebih pintar dari manusia.

Cerita tentang aktivitas burung-burung juga mengingatkan kita pada firman Tuhan di Matius 6:26, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukanlah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”

Kita memang perlu memikirkan masa depan, namun hendaknya kita tidak menjadikan pemikiran itu sebagai alasan untuk memaksakan diri, bahkan tidur pun menjadi tidak tenang. Amsal 23:18 berkata, “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”

Jika Tuhan sendiri sudah berjanji demikian, mengapa kita masih saja khawatir akan masa depan? Hidup itu bukan perlombaan di mana kita harus berlari secepat mungkin untuk meraih masa depan yang indah. Tuhan sudah menetapkan anak-anak-Nya sebagai pemenang. Pemenang bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finish, namun tentang siapa yang mampu melewati segala rintangan dan bertahan hingga pada akhirnya ia berhasil mencapai tujuan hidupnya. Seperti bunga di taman yang mekar pada waktunya, demikian pula kita akan memperoleh sesuatu yang indah itu pada waktunya. Tidak masalah jika prosesnya lama, toh semua bunga juga memiliki waktu yang berbeda untuk memperlihatkan mahkotanya. Bukan tentang seberapa cepat waktu mekarnya, namun tentang keindahan yang ditunjukkannya ketika waktunya tiba.

Semua hal di dunia ini ada waktunya. Apakah dengan overthinking akan membuat hari esok jadi lebih baik atau membuat kita mengetahui bagaimana masa depan kita?

Aku akhirnya menyadari, overthinking tidak akan membantu kita untuk mempersiapkan segala hal dan mencapai masa depan yang indah. Overthinking justru menjadi penghambat untuk kita menjalani hidup dan malah menyakiti diri kita dengan pikiran-pikiran tentang hal yang belum tentu terjadi. Tuhan sendiri sudah meyakinkan kita untuk tidak perlu khawatir akan apa pun yang akan terjadi di masa depan.

Bukankah sudah seharusnya kita percaya pada-Nya?