Terjatuh di Tempat Aku Membangun

Oleh Agustinus Ryanto 

Di suatu pelatihan yang pernah kuikuti, pembicaranya bilang begini, “Jangan bandingkan diri kita dengan orang lain, bandingkanlah dengan diri kita sendiri versi kemarin.”

Wow. Kutipan itu segera kucatat di HP, juga di pikiran. Benar, gumamku. Memang kalau membandingkan diri dengan orang lain ya nggak akan ada habisnya toh.

Sehari, seminggu, sebulan, dua bulan, kutipan yang kupupuk di otak ini bekerja efektif. Ia membuat hari-hari kerjaku yang monoton terasa berwarna. Aku merasa diriku versi hari ini sudah mengalami banyak kemajuan dibanding yang dulu.

Sampai tibalah di bulan Agustus, pada momen ketika orang tuaku sakit. Mau tak mau, aku harus pulang untuk merawat mereka. Kupulanglah ke rumah dengan naik motor, supaya sampai di kota asalku, aku bisa mudah wira-wiri.

Aku telah bekerja lima tahun pada sebuah lembaga nirlaba yang aku cintai. Meskipun aku tak terlalu suka dengan rutinitas kerjaanku yang monoton—kebanyakan duduk di depan laptop, kesepian hampir di sepanjang hari, tapi aku tahu apa yang kulakukan memberi dampak bagi orang lain, kendati dampaknya memang tak kasat mata dan tak langsung. Oleh karena itulah, aku memutuskan bertahan dan mengembangkan diri di tempat ini saban tahun berganti. Singkat kata, aku percaya bahwa inilah jalan yang memang saat ini perlu aku tempuh.

Seminggu setelah urusan mengurus orang tuaku rampung, datanglah sebuah pesan yang ditujukan buatku.

Pesan ini kubaca pelan-pelan. Narasinya lembut, tetapi aku bingung akan intensinya. Apakah itu bertujuan untuk memotivasiku atau menggugat apa yang sedang kukerjakan sekarang. 

Konotasi yang kutangkap dari teks-teks itu adalah bahwa aku seorang yang egois, yang hanya mementingkan diri sendiri. Usiaku tahun ini 27 tahun, tidakkah aku terpikir untuk memiliki karir yang lebih menghasilkan secara finansial? Tidakkah aku ingin berbakti lebih pada orang tuaku? Aku tahu pesan itu muncul sebagai respons atas caraku menangani orang tuaku yang sakit. Karena tak punya mobil, aku membawa ayahku ke rumah sakit dengan menaiki taksi daring, sementara ibuku pergi ke laboratorium rontgen dengan naik motor. Cara ini dianggapnya tak elok bagiku yang sudah lulus sarjana, yang seharusnya mendapatkan sesuatu yang lebih bonafide. Tetapi, dalam hati aku membela diri, aku tak sanggup melakukan itu semua. Terlalu banyak faktor yang saling berkelindan yang membuatku sendiri kadang bertanya-tanya mengapa aku terlahir di keluarga ini—terpecah oleh perceraian yang diteruskan turun-temurun sejak buyut, utang dari bank, kepahitan, kekerasan rumah tangga, dan lainnya, yang memikirkannya membuatku semaput. 

Dadaku seperti tertikam. Jari-jemariku kelu. 

Aku tak ingin memantik keributan, tapi ingin sekali membalas pesan itu dengan membela diri. Lagipula, kepada sang pengirim pesan, aku tak pernah dibiayai hidup olehnya, sehingga apa gerangan dia mengomentari jalan karirku. Tapi, kutenangkan diriku. HP kumatikan dan aku berdiam. Setelah tenang, kubalaslah pesan itu dengan sopan. Kuucapkan terima kasih atas intensi baiknya memikirkanku, sembari kuluruskan keadaannya mengapa setelah lima tahun bekerja aku belum mampu membeli kendaraan roda empat ataupun rumah. 

Namun, hari-hariku setelahnya tak lagi sama. Pesan yang dikirim sore itu menghancurkan kepercayaan diriku. 

Setiap hari, aku dihantui imaji akan kegagalan. Aku menghukum diriku dengan merasa aku seorang yang melarat, bodoh, tak mampu membayar bakti pada orang tua dengan memberi mereka kenyamanan ragawi. Perasaan gagal itu semakin menjadi-jadi ketika Instagram yang sedianya kujadikan wadah untuk mengekspresikan jiwa petualanganku seolah berubah jadi arena pamer dari teman-temanku, yang menumpukkan bara panas ke atas kepalaku. Lihat tuh, si dia udah tinggi jabatannya. Aduh, keren banget ya dia udah bisa beli rumah, beli mobil. Duh, dia ajak orang tuanya liburan ke sana sini. Lalu aku membandingkannya dengan diriku sendiri. Kubandingkan yang telah punya mobil denganku yang cuma ada motor. Kubandingkan yang telah menikah dan punya rumah enak denganku yang masih LDR beda kota dengan baik bus malam. 

Bak diberondong peluru, akhirnya aku tumbang. Pahitlah hatiku, patahlah semangatku, sakitlah badanku. Menatap layar laptop yang biasanya kulakukan dengan tatapan tajam kini menjadi sayu. Langkahku gontai. Agar kepahitan ini tak semakin menjadi, kuputuskan untuk memutus kontakku dengan dunia maya sejenak. Aku keluar dari Instagram, dan selama tiga minggu hanya berkomunikasi menggunakan WhatsApp saja. 

Menolong? Agak. Menyembuhkan? Tidak. 

Perasaan gagal itu muncul sejatinya bukan karena aku secara de facto telah gagal dalam pertempuran hidup. Tetapi, karena aku membangun harga diriku pada tempat yang tidak teguh, pada tempat yang value-nya berubah-ubah seiring waktu: yakni apa kata orang. Aku tidak menampik bahwa kita ingin selalu tampil berhasil di depan orang, dan cenderung menutupi kerapuhan kita. Tetapi, keberhasilan seperti apakah yang sebenarnya patut disebut berhasil? Indikatornya tentu berbeda-beda. Bagi seorang yang hidup dalam kepahitan sejak kecil, mungkin keberhasilan terbesar baginya adalah ketika dia mampu membuka pintu maaf dan mengizinkan damai dari pengampunan mengisi hari-harinya. Bagi seorang yang telah gagal dalam hubungan asmara, mungkin keberhasilan terbesar baginya adalah ketika dia mampu membangun relasi yang teguh dan utuh di tengah segala kendala yang merintanginya. 

Abraham Maslow mencetuskan teori piramida kebutuhan, dengan kebutuhan fisiologis ada di dasar dan kebutuhan aktualisasi diri di puncak piramida. Teori ini bilang kalau setelah satu tingkatan kebutuhan dipenuhi, manusia akan mulai memenuhi kebutuhan lainnya. Kebutuhan aktualisasi diri letaknya ada di puncak, tidak ada lagi kebutuhan di atasnya yang perlu dipenuhi. Ini berarti, menurutku, apabila kebutuhan ini dipenuhi dengan sumber atau cara yang tak tepat, itu akan menjadikan kita terjebak dalam upaya pemenuhan yang tiada berakhir. Kesadaran ini menghantamku. Jika kebutuhan untuk membuktikan diriku pada orang lain didasarkan pada apa kata orang, bukankah itu akan jadi proses yang tak akan berujung? Bukankah omongan orang selalu berubah dari hari ke hari? Bukankah omongan orang itu sifatnya dangkal karena mereka tak melihat seluruh realitas hidup kita? 

Aku pun pulang kembali ke rumah dengan keadaan fisik yang sangat lelah. Dari subuh sampai siang aku memotret upacara pernikahan. Ini adalah kerja sambilanku yang puji syukur, diberkati Tuhan dengan pesanan dari banyak klien. Melihatku kelelahan dan meringkuk di kasur seperti orang meninggal, ibuku bilang, “Jangan terlalu capek!”

Kubilang lagi, “Nggak kok, biasa ini mah.” 

“Tapi itu kemaren Senen bisa sampe diare, ke wc sampe belasan kali terus lemes?”

“Ah, itu kan gara-gara salah makan,” sanggahku. “Ya udah, hayu kita pergi deh cari makan dulu,” kuajak ibuku pergi motoran keliling kota. Aku mau traktir dia makan enak. 

Ibuku di usianya yang hampir enam dekade masih sangat aktif. Dia terbiasa motoran sendirian ke luar kota. Siang itu dia mengajak aku makan ikan bakar di tepi waduk, yang jaraknya nyaris dua jam naik motor. Perjalanan kami lalui dengan sensasi panas dingin—panas saat matahari tak tertutup awan, dan dingin karena basah saat diterpa hujan. 

“Mama nggak menuntut anak harus gimana-gimana, kalian yang jalanin hidup, kalian yang atur sendiri,” tuturnya. 

“Maksud?” tanyaku mengernyit. 

Karena bulan sebelumnya aku pernah bertutur soal perasaan gagalku ini, dia menjawab dengan lebih lugas. “Kamu nggak perlu pusing-pusing harus bayar utang atau beliin harta ini itu. Itu kesalahan bukan kesalahan kamu, bukan kamu yang harus pusingin. Yang penting kamu bisa hidup, nggak utang sama orang lain, dan cukup…” 

Kupandangi muka air waduk yang tak berombak. Ikan nila aneka warna tampak di permukaannya. Seperti itulah kurasa tenangnya hatiku. 

Aku tahu betul masa lalu ibuku tidak baik. Ia lahir dalam keluarga yang dikoyak perceraian. Dia tak diasuh oleh ibu bapak kandungnya sejak balita. Luka itu membuatnya kembali terluka dengan perceraian di usia dewasa mudanya. Tapi, dia tahu bahwa aku, sebagai anaknya yang paling bontot, ingin berusaha membahagiakannya dengan beragam benda yang kupikir akan membuatnya senang. 

“Kamu begini aja udah seneng kok mama…” 

Pelan-pelan bangkitlah kesadaran dalam diriku bahwa matematikaku dengan matematika Tuhan terkadang berbeda cara. Dalam rumusku, untuk menjadi bahagia dan sukses harus meraih prestasi lahiriah yang dipandang oleh banyak orang sehingga namaku harum. Tetapi, rumus Tuhan lain cerita. Mungkin Dia memang belum memberiku limpahan harta lahiriah, tapi Dia selalu memberikan apa yang aku dan ibuku butuhkan, sebagaimana Dia memelihara burung-burung di udara (Matius 6:26). Ibuku bilang kalau meski dia tidak punya mobil, tapi Tuhan memberinya kesehatan dan kekuatan untuk punya fisik yang prima, yang masih awas dan kuat untuk naik motor tiap hari. 

“Bayangin kalau kena stroke, mau punya mobil mahal sekalipun juga, memang kepake?” guyonnya. 

Kesadaran ini membawaku kembali pada soal panggilan. Kuyakini lagi bahwa panggilan hidup setiap orang itu unik. Tuhan, Sang Ilahi yang memanggil setiap kita, tentu punya maksud dan tujuan-Nya bagi kita masing-masing. Tidak semua pekerjaan memberikan kelimpahan materi, tetapi jika pekerjaan itu berasal dari-Nya dan kita melakukannya bersama-Nya, selalu ada kecukupan dan damai sejahtera setiap hari bagi kita. 

Untuk saat ini, inilah panggilanku. Untuk besok hari, aku tak tahu, dan aku perlu mencari tahunya. Dengan apa? Dengan mengerjakan apa yang diberikan padaku sekarang dengan sebaik mungkin, agar ketika nanti Dia memanggilku untuk satu tanggung jawab yang lebih besar, aku telah siap laksana seorang prajurit yang diutus ke palagan dengan gagah berani. 

Hari ini aku belajar kembali untuk membangun diriku pada tempat yang lebih teguh. 

Terserah Pada-Mu, Tuhan

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Kalau seseorang bertanya, “Mau makan apa hari ini?” apa jawabanmu? 

Mungkin kamu akan menjawab dengan spesifik, tapi mungkin pula kamu menjawab dengan tersenyum lalu bilang, “Ya, terserahlah…” Jawaban ‘terserah’ itu berarti kita membiarkan orang lain yang memikirkan dan memutuskan pilihan. Tapi, kadang pilihan yang dibuat malah tidak sesuai dengan yang kita inginkan, lalu kita pun mengomel. Kita lupa kalau sebelumnya kita sudah menjawab “terserah”.

Ketika merenungkan fenomena “terserah” yang sering terjadi dalam obrolan-obrolan kita, aku lantas berpikir tentang Tuhan. Bagaimana dengan Tuhan? Bukankah kita juga dengan mudahnya berkata “terserah” pada-Nya ketika kita minta Dia menyatakan kehendak-Nya buat kita? Bila mau jujur, kurasa sulit untuk menjawab Tuhan dengan kata “terserah” karena dalam diri kita sendiri masih ada keinginan agar kehendak kita sendiri yang terjadi. 

Alkitab memberi kita teladan tentang “terserah” dari Maria, ibu Yesus. Alkitab memang tidak mencatat Maria menjawab Tuhan dengan kata “terserah” secara langsung, tapi sikap Maria selanjutnya menunjukkan apa arti menyerahkan pilihan dan keputusan yang sebenarnya pada Tuhan.

Dalam Matius 1:18-25 dan Lukas 1:26-38, Maria dikisahkan sebagai seorang gadis yang tinggal di desa kecil bernama Nazaret di Galilea. Maria telah bertunangan dengan Yusuf. Baik Maria dan Yusuf, keduanya berasal dari garis keturunan keluarga Daud. Maria kemudian mendapatkan pesan dari malaikat Gabriel. 

Kedatangan Gabriel terjadi tiba-tiba. Setelah mengucapkan salam, Malaikat Gabriel menyampaikan pesan yang dibawanya kepada Maria yaitu dia akan mengandung, melahirkan seorang anak laki-laki, dan akan dinamai Yesus. Maria terkejut, karena sekalipun dia telah bertunangan namun dia belum menikah, maka dia mengatakan “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34) Maka malaikat itu menjawab, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang MahaTinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35).

Yang menarik adalah respon Maria terhadap perkataan Malaikat Gabriel. Dia menjawab, ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38).

Maria menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan, suatu kesadaran bahwa dirinya adalah hamba yang harus tunduk kepada otoritas (dalam hal ini terlebih lagi ada otoritas ilahi yaitu Allah). Dan ketika dia mengatakan “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu”, ada unsur iman dan ketaatan di dalamnya. 

Apakah iman Maria adalah iman yang buta? Apakah Maria tidak tahu risiko apa yang harus dihadapinya saat dia harus hamil di luar nikah? 

Maria dengan jelas tahu risiko apa yang harus dihadapinya bila dirinya ketahuan telah hamil sebelum menikah. Beberapa risiko yang dapat terjadi adalah Maria bisa dibuang atau diasingkan dari masyarakat, bahkan dapat dikeluarkan dari ikatan keluarga, kesalahpahaman masyarakat Yahudi yang mungkin mempertanyakan kesucian keluarganya, risiko putus tunangan dengan Yusuf, bahkan mungkin juga ancaman hukuman mati (kehamilan di luar nikah adalah pelanggaran berat bagi orang Yahudi, seperti tercatat pada Ulangan 22:23-24). 

Kita dapat melihat iman Maria bukan iman buta. Terlepas dari semua risiko yang mungkin dia hadapi, Maria tunduk pada kehendak Tuhan. Dia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan. Dia rela untuk mempercayakan perjalanan hidupnya kepada rencana Allah sekalipun rencana itu akan mengubah seluruh hidupnya.

Maria tidak hanya menunjukkan imannya, dia juga menampilkan ketaatan. Tidak ada bantahan, perdebatan, atau mencoba mengelak, Maria memilih untuk patuh pada kehendak Allah. Dia melakukan apa yang Allah minta dengan sepenuh hatinya.

Ketika kita memilih berserah di dalam melakukan kehendak Tuhan, hal itu tentu menyenangkan hati-Nya. Tuhan senang kepada orang-orang yang melakukan kehendak-Nya. Bukan hanya itu, saat kita memilih berserah, ketakutan dan kekhawatiran kita mungkin akan tetap ada, tetapi itu tidak lagi menguasai kita karena kita tahu kepada Siapa kita percaya, yakni pada Dia yang telah menyatakan kehendak-Nya. Hidup dapat menjadi jauh lebih damai dan tenang untuk dijalani. Dan tanpa kita sadari, sikap berserah yang kita jalankan dapat menjadi berkat bagi sesama kita. Hidup kita menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekeliling kita. 

Meskipun berserah kepada kehendak Tuhan bukan hal yang mudah dilakukan, marilah kita berusaha untuk terus mencobanya. Mengatakan “Terserah pada-Mu, Tuhan” tidak lagi sekadar ucapan, tetapi dengan iman dan ketaatan.

Ketakutan yang Salah

Oleh Nicholas, Jakarta 

Dalam menjalani hidup ini, tentu kita akan menghadapi peristiwa-peristiwa sulit—peristiwa yang membuat kita meneteskan air mata, atau membuat kita berteriak, “Tuhan, kenapa ini terjadi?” 

Tahun 2019 lalu, papaku terkena serangan strok. Peristiwa ini mengguncang keluargaku dan tak mudah untuk kami hadapi, apalagi papa selama ini menjadi tulang punggung. Selain kehidupan ekonomi keluarga kami bergejolak, wacana untuk bercerai pun muncul. Pada saat itu, aku bertanya pada Tuhan, “Kenapa papa harus terkena strok?” 

Pertanyaan itu lantas mengingatkanku pada peristiwa dalam Alkitab. Injil Markus 4:35-41 bercerita tentang murid-murid Yesus yang juga mengalami peristiwa sulit. Di ayat 37, mereka sedang menghadapi taufan yang sangat dahsyat, yang membuat mereka berada dalam situasi antara hidup dan mati. Kekalutan dalam taufan itu menjadi semakin jelas ketika murid-murid bertanya kepada Yesus, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” (ayat 38). 

Alkitab tidak mencatat ada kalimat langsung yang Yesus ucapkan untuk menjawab pertanyaan para murid, tetapi Alkitab mencatat bahwa Yesus merespons dengan bangun lalu menghardik angin itu. Seketika danau pun menjadi tenang (ayat 39). Barulah di ayat 40 Yesus mengajukan pertanyaan, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” 

Ketakutan yang dialami para murid sejatinya adalah ketakutan yang juga dialami oleh kita semua sebagai manusia berdosa. Ketika menghadapi kesulitan, seringkali kita merasa takut. 

Namun, apakah takut itu salah? 

Menurutku, takut itu tidaklah salah karena takut adalah hal yang alamiah terjadi sebagai respons manusia. Sebelum Yesus menghadapi penyaliban, Yesus pun mengalami ketakutan. Matius 26:37 mencatat, “Mulailah Ia merasa sedih dan gentar”. 

Memang, takut adalah sikap yang tidak salah, akan tetapi jika ketakutan itu membawa kita untuk tidak mempercayai Allah, di situlah takut menjadi salah. Oleh karena itu, ketika Yesus melontarkan pertanyaan Dia tidak hanya berhenti di kata “takut” saja. Dia mengajukan pertanyaan lanjutan, “Mengapa kamu tidak percaya?” 

Jika kita melihat teks paralel, kita akan menemukan yang sama: Matius 8:26, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”; Lukas 8:25, “Di manakah kepercayaanmu?” 

Pada saat Yesus berada di taman Getsemani, Yesus memang merasa takut, tapi Dia tidak membiarkan ketakutan itu memimpin kehidupan-Nya. Yesus tetap percaya kepada Bapa dan menyerahkan semuanya kepada Bapa. Yesus berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39). Yesus menutup doanya dengan menyerahkan diri-Nya pada kehendak Bapa. 

Kembali pada kisahku, ketika aku diperhadapkan dengan peristiwa papa terkena strok, aku mengalami ketakutan seperti para murid. Aku meragukan kuasa Tuhan. Aku tidak percaya pada Allah. Namun, di dalam keraguan itu, Tuhan tidak meninggalkanku. Di dalam ketidakpercayaan murid-murid, Yesus tidak pernah meninggalkan mereka. Yesus tetap menolong murid-murid-Nya. 

Melalui peristiwa sulit, murid-murid jadi mengenal lagi siapa Yesus. Di dalam ayat 41 tertulis, “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

Di dalam pertanyaan di atas terkandung juga pernyataan. Murid-murid mengakui bahwa Yesus juga berkuasa atas alam. Tuhan mengizinkan adanya taufan supaya murid-murid mengenal bahwa Yesus juga berkuasa atas alam semesta. 

Pasca papa terkena strok, emosinya menjadi tidak stabil. Dia jadi sering marah dan melontarkan kata-kata yang kurang enak didengar. Akibatnya, adikku jadi benci kepada papa. Dia tidak mau mengajak papa bicara, bahkan dia pun tak mau makan makanan yang papa belikan. Kebencian ini terjadi selama berbulan-bulan dan aku hanya bisa pasrah. Aku sudah menasihatinya, tapi tak digubris. Hingga pada suatu ketika, adikku berubah 180 derajat. Dia jadi peduli pada papa dan aku tak tahu apa yang menyebabkannya berubah. Yang aku tahu pasti, Tuhanlah yang mengubahkan sikap hati adikku. Melalui peristiwa papa terkena strok, aku mengenal bahwa Allah sanggup mengubah hati seseorang. 

Di akhir perenunganku ini, izinkan aku melontarkan dua pertanyaan:

Apakah peristiwa sulit yang kita alami membawa kita untuk tidak percaya pada Tuhan?

Allah seperti apakah yang kita temukan dalam peristiwa sulit yang kita alami? 

 

Ketika Tuhan Memulihkan Keluargaku Lewat Covid-19

Oleh Mary Anita, Surabaya

Awalnya, kuharap pandemi Covid-19 yang telah terjadi lebih dari setahun ini tidak akan menimpa keluargaku. Tetapi, yang kuharapkan tak selalu sejalan dengan cara Tuhan. Ada kalanya Tuhan memakai hal yang paling tidak kita inginkan untuk mendatangkan kebaikan.

Cerita ini dimulai pada awal Mei. Seorang pendeta kenalan papa mengontak kami. Dia mengajak kami untuk berdoa puasa memohon pemulihan hubungan bagi keluarga kami. Sudah lebih dari 10 tahun kami mendoakan kakak laki-lakiku yang akrab kami panggil ‘koko’. Koko dulu begitu mencintai Tuhan, tetapi karena kecewa dalam pelayanan di gereja dan kepahitan pada papa sejak remaja, dia perlahan undur. Selama beberapa waktu, doa puasa kami berlangsung baik, tetapi kemudian tanda tanya pun menggantung. Kami tak kunjung melihat adanya pemulihan keluarga yang akan terjadi.

Bulan Juli, saat PPKM diberlakukan, rumah sakit di mana-mana membeludkan dan kabar dukacita datang silih berganti. Di momen itulah diketahui kalau empat orang dalam keluarga—termasuk koko—positif terinfeksi Covid-19, menyisakan aku dan papa saja yang negatif. Kata dokter, virus yang menjangkit ini adalah varian delta. Kami harus bergerak cepat, dari berburu tabung oksigen, menebus obat-obatan yang sudah langka di banyak apotek, hingga antre untuk mendapatkan kamar inap di rumah sakit.

Di dalam tekanan besar itu, aku tak lagi bisa berpikir jernih. Sebuah firman Tuhan yang kudapat dalam saat teduhku malam sebelumnya terlintas di pikiran:

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).

Firman itu kurenungkan berulang kali dan selalu menguatkan imanku, terutama dalam waktu-waktu genting. Tuhan menyentuh hatiku dengan kasih-Nya dan menolongku untuk menguasai diri, serta mengingatkanku untuk bersandar hanya pada-Nya, satu-satunya Pribadi yang bisa diandalkan.

Puji syukur, Tuhan perlahan menuntun jalan kami di waktu yang tepat. Kami mendapatkan kamar inap, tapi kenyataan pahit harus kami terima karena dari hasil pemeriksaan dokter, koko mengalami Pneumonia di paru-parunya. Koko membutuhkan plasma kovalesen ketika stok di PMI kosong. Aku menangis, sampai tak lagi bisa menangis karena kadar saturasi oksigennya terus turun ke angka 77 meskipun telah dibantu dengan ventilator.

Aku berdoa, “Tuhan, jujur aku belum siap untuk kehilangan koko. Aku memang memohon kesembuhan untuknya, tapi yang terpenting dari itu adalah berikan ia kesempatan untuk bertobat dan mempercayai-Mu sekali lagi, walau di akhir hidupnya.” Roh Kudus pun menolongku untuk melanjutkan doaku dan mengakhirinya dengan berserah seperti yang Yesus doakan pada Lukas 22:42, “…tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Ada rasa damai dan tenang dalam hatiku walaupun kami belum menemukan donor plasma. Dan, siapa sangka malam itu mukjizat terjadi. Seorang teman sepelayanan koko yang hampir satu dekade hilang kontak malahan tiba-tiba membantu memberi donor plasma. Perlahan keadaan koko mulai pulih dan dua minggu setelahnya dia dinyatakan sembuh. Tak berhenti di situ, sakit ini pun memberinya pengalaman pribadi dengan Tuhan yang kemudian membuatnya bertobat, mengampuni papa, dan kembali aktif digembalakan di gereja.

Peristiwa yang terjadi ini bak mimpi bagiku. Tuhan memulihkan kami tidak hanya melalui kesembuhan fisik, tetapi mengubah setiap pribadi kami sekeluarga untuk saling mengasihi satu sama lain, mengandalkan dan memprioritaskan Tuhan selagi hidup, dan mau menjadi perpanjangan tangan-Nya bagi orang lain sama seperti orang-orang yang telah menolong dan bermurah hati pada kami. Tuhan juga membuka mata kami bahwa semua itu terjadi semata karena kasih kemurahan Tuhan.

Kiranya kesaksian singkat ini boleh mengingatkanku selalu bahwa Tuhan selalu mendengar setiap doa dan Dia bekerja di balik layar untuk mendatangkan kebaikan bagi kita anak-anak-Nya. Amin.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

Baca Juga:

4 Hal Istimewa dari Kisah Yesus dan Perempuan Samaria

Pertemuan Yesus dengan seorang perempuan Samaria bukan sekadar kisah obrolan biasa, ada 4 hal menarik yang bisa kita temukan dari kisah ini.

Catatan Kecil Anak Seorang Dokter

Oleh Fedora Aletheia Putri Leuwol, Bekasi

Ketika pandemi mengamuk hebat, para dokterlah yang berada di garda terdepan menyelamatkan dan merawat orang-orang yang terinfeksi COVID-19. Salah satunya, papaku sendiri. Bersama para dokter lainnya, papa bekerja begitu keras melayani setiap pasien yang meminta pertolongannya.

Naiknya kasus Covid, berarti bertambah pula jam kerja papa. Dalam keluarga kami, papa adalah orang yang terkenal paling gaptek. Dia biasanya malas memegang HP. Tapi, selama pandemi ini papa jadi memegang HP seharian penuh—dari subuh sampai larut malam, hari kerja atau hari libur. Banyak rumah sakit kewalahan menampung pasien. Mereka yang gejalanya tidak terlalu berat diminta untuk dirawat di rumah saja, alias isoman. Nah, mereka-mereka yang isoman inilah yang paling membutuhkan jasa dokter secara daring, atau istilah bekennya: telemedicine. Papa menulis berlembar-lembar surat resep, hingga mencarikan rumah sakit bagi mereka yang gejalanya memburuk.

Sebagian dari pasien-pasien papa adalah jemaat gereja kami, tetangga di perumahan, teman-teman di kantor mamaku, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk orang-orang yang memberikan nomor WA papaku kepada kenalan mereka yang sakit. Saking banyaknya, papa pernah bilang kalau dia nyaris kewalahan untuk membalas chat dan mengangkat telepon. Untuk sekadar makan atau duduk tenang pun jadi susah.

Karena tuntutan pekerjaannya pula, tiap hari papa pergi ke luar rumah, bertaruh nyawa. Tahun lalu, kami sekeluarga pernah terpapar COVID-19 karena papa tertular dari seseorang yang ia periksa di tempat kerjanya. Beruntung, meski memiliki komorbid, papa bisa sehat kembali. Namun, peristiwa itu membuatku trauma, khawatir papa akan terpapar lagi, dan menulari kami semua.

Aku takut kelelahan kerja akan membuat imun tubuhnya melemah. Itu sebabnya aku selalu memintanya istirahat saja kalau di rumah, tidak usah mengurusi pasien.

“Nggak usah buka WA dululah, untuk sementara,” gertakku.

Papa berkeras, “Tidak bisa begitu, Kak. Kamu bayangin kalau keluargamu yang sakit, kamu WA dokter terus dokternya nyuekin kamu? Gak bisa!”

Usul lain yang pernah kulontarkan, “Coba Papa larang pasien Papa sembarangan kasih nomor Papa. Papa tuh udah sibuk banget!”

Tapi, lagi-lagi ia menolak, “Gak bisalah, Kakak, mana bisa kayak gitu! Orang kok gak boleh minta tolong? Lagi pula, ini memang tugas papa. Pekerjaan papa kan memang menolong orang.”

Kira-kira selalu begitu responnya.

Aku terdiam. Ucapan papa itu membuatku berpikir: betapa besar perjuangan papa, para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lain di masa pandemi ini. Hatiku meradang setiap kali mengingat perjuangan papa. Selain berjuang menyelamatkan orang lain, papa juga menafkahi kami sekeluarga dari pekerjaannya sebagai dokter. Tapi, kalau begini caranya, aku tidak ingin papaku menjadi dokter. Rasanya ingin marah ke seluruh dunia, kenapa harus ada pandemi ini? Mengapa pandemi ini tidak selesai-selesai? Mengapa orang-orang harus selalu mencari papaku untuk meminta tolong? Mengapa begitu banyak orang yang tidak patuh prokes, dan lebih percaya kepada hoax yang mengatakan COVID-19 itu konspirasi?

Sampai suatu ketika, ada satu momen yang membuatku tersadar.

Waktu itu sudah cukup malam. Kami memesan makanan secara daring, dan betapa terkejutnya kami ketika si Bapak driver yang mengantarkan pesanan datang bersama istrinya. Aku tahu itu istrinya karena Bapak itu meminta maaf, katanya: “Maaf ya, Mbak, agak lama, tadi sekalian lewat jemput istri dulu pulang kerja.” Melihat itu aku pun menyadari sesuatu yang tak pernah terpikir olehku.

Selama ini aku selalu mengomel dan mengeluh mengapa papa harus menjadi pahlawan di pandemi ini. Namun, melihat si Bapak malam itu, aku sadar bahwa pejuang dalam pandemi ini bukan hanya dokter atau tenaga kesehatan, tapi juga para pengemudi ojol, kurir, pedagang pasar, petugas minimarket, sopir kendaraan umum, polisi, dan masih banyak lagi.

Ketika pandemi menggila, mereka tetap harus keluar rumah, harus bekerja, demi menafkahi keluarga. Bapak ini bahkan harus keluar rumah bersama istrinya, yang mungkin berarti mereka meninggalkan anak-anak mereka di rumah. Bagaimana perasaan anak-anak mereka? Mereka mungkin juga takut orang tua mereka terpapar virus ini. Tapi mereka tidak punya pilihan karena orang tua mereka harus bekerja.

Aku tercenung, memandangi motor si Bapak menderu semakin jauh, membonceng istrinya pulang ke rumah.

Pahlawan di masa pandemi adalah mereka-mereka yang setia melakukan tanggung jawabnya. Coba bayangkan jika tidak ada driver ojol. Keluargaku pasti kesulitan untuk membeli makanan. Berkat pelayanan para driver, aku dan keluargaku tidak harus keluar dari dekapan aman keempat dinding rumah kami, terlindung dari virus yang mengamuk di luar.

Perlahan pikiranku melayang ke ratusan, bahkan mungkin jutaan orang lain yang malam ini berada di luar rumah, bertarung melawan pandemi, demi melayani kita semua dan menafkahi keluarga mereka. Banyak di antara mereka mungkin memiliki keluarga yang mengkhawatirkan mereka seperti aku kepada papaku.

Dalam situasi seperti sekarang ini, rasanya wajar jika kekhawatiran itu muncul dalam hati. Kita mengkhawatirkan kesehatan kita dan anggota keluarga kita. Kurasa itu tidak apa-apa. Yang jadi masalah adalah, apakah kemudian rasa khawatir itu membuat kita mengabaikan segala tugas kita dalam melayani sesama? Apakah kemudian kemampuan dan karunia yang kita terima dari Tuhan harus kita “nonaktifkan” sementara waktu sambil menunggu keadaan pulih dan membaik?

Sebait firman Tuhan terbesit dalam pikiranku: “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (1 Petrus 4:10). Kita diminta untuk melayani sesama dengan segala karunia yang sudah Tuhan berikan kepada kita, dan sesuai dengan kemampuan serta keterampilan yang kita miliki. Tidak hanya dalam situasi yang baik-baik saja tetapi juga dalam keadaan paling buruk sekalipun.

Hal ini menyadarkanku bahwa life must go on. Semengerikan apa pun keadaan di luar sana, banyak orang yang harus tetap keluar untuk berjuang menghidupi keluarga mereka. Dan menurutku, mereka semua pahlawan dan pejuang tangguh. Kita pun, yang beruntung bisa tetap tinggal di rumah, bisa mendukung mereka dengan doa, tetap menggunakan layanan mereka, memberi tips, atau sesimpel memberikan senyuman ramah. Hanya Tuhanlah kekuatan dan pengharapan kita.

Setiap malam, kami sekeluarga berdoa bersama menopang papa. Papa berpesan agar aku selalu ingat bahwa Allah-lah perisai kita, seperti yang terungkap dalam Mazmur 33:20: “Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita!”

Ya, Allah-lah perisai bagi para pejuang pandemi ini: papaku dan mereka semua yang sedang berjibaku di luar sana. Kiranya Tuhan melindungi dan menjaga mereka semua. Terima kasih karena sudah berjuang!

Dari aku, putri seorang dokter

Baca Juga:

Tuhan, Runtuhkanlah Tembokku Agar Aku Bisa Memandang-Mu

Berawal dari trauma di masa lalu, aku melindungi diriku dengan membangun ‘tembok’ yang kuharap bisa melindungiku dari terluka. Tapi, tembok ini malah membuatku semakin terasing dan terisolasi.

Tuhan, Runtuhkanlah Tembokku Agar Aku Bisa Memandang-Mu

Oleh Paramytha Magdalena

Aku lahir dan tumbuh di keluarga Kristen yang cukup taat. Sejak kecil hingga kuliah, hidupku tidak jauh dari dunia pelayanan. Kisah-kisah tentang begitu besarnya cinta kasih Tuhan bagi manusia sudah sering kudengar. Namun, menerima dan mengalami sendiri kasih itu, rupanya adalah hal lain.

Perasaan jauh dari kasih Tuhan itu muncul ketika aku merasa ada yang aneh dengan diriku sendiri. Aku kesulitan mengampuni diriku sendiri atas kegagalanku di masa lalu, dan… yang lebih sulit lagi ialah aku merasa kebas dengan perhatian yang diberikan oleh orang lain. Ketika seseorang berbuat baik kepadaku, aku akan merasa diperhatikan dan dicintai. Namun, perasaan itu hanya muncul di awal. Setelahnya, aku merasa biasa saja, atau parahnya aku merasa tidak lagi dikasihi oleh siapa pun. Pemikiran berlebihan ini menuntutku untuk selalu menerima perhatian, padahal dalam realita kehidupan, untuk segala sesuatu ada waktunya. Berangkat dari titik inilah aku pun menjadi sulit merasa dicintai Tuhan.

Kucoba mencari solusi dengan membaca Alkitab, saat teduh, mendengar khotbah, mencari artikel-artikel rohani, dan juga berdoa. Tapi, upaya itu tidak memberiku jawaban yang memuaskan.

Hingga suatu ketika, pada sebuah khotbah yang kudengar, sang pengkhotbah membahas ayat dari Mazmur 127:1 yang berkata, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya. Jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

Sepenggal ayat ini menohokku. Mazmur 127 diyakini sebagai mazmur yang mengangkat tema seputar campur tangan Tuhan dalam pembangunan rumah, kota, dan keluarga. Kata ‘rumah’ dalam konteks Perjanjian Lama bisa mengacu kepada bangunan, keluarga, atau rumah tangga di dalamnya. Bangsa-bangsa pada masa itu membangun kota mereka dengan benteng dan pengawal kokoh di sekelilingnya. Tujuannya, agar kota itu dapat makmur sekaligus aman dari serangan musuh.

Aku merenung, menerawang relung-relung hatiku, dan kudapati bahwa selama ini aku memang punya maksud yang baik bagi diriku sendiri. Bertolak dari kegagalan di masa lalu, juga mungkin penolakan yang pernah ada, aku membangun tembok-tembok di sekelilingku. Tapi, tembok itu bukan tembok yang memberikan rasa aman dan tenteram. Tembok itu malah menelanku perlahan-lahan, membuatku kelam dan jauh dari sinar kasih Tuhan yang mewujud melalui banyak hal, salah satunya adalah cinta kasih dari sesama manusia. Saat aku mengalami hal buruk, aku segera membatasi relasi dan membangun jarak dengan orang-orang yang telah menyakitiku. Kutarik diriku masuk dan berlindung di dalam tembok.

Sekilas aku merasa aman. Aku tak akan lagi berurusan dengan sakit hati.

Namun… perasaan aman ini adalah aman yang semu, rasa aman yang justru membuatku semakin terasing dan terisolasi. Tembok inilah yang akhirnya menghalangiku untuk merasakan cinta dan hal-hal baik dari Tuhan dan juga orang-orang di sekitarku.

Tak ada cara lain yang dapat menolongku untuk keluar dari tembok kelam ini selain daripada menghancurkannya, lalu menyerahkan hidupku pada Tuhan agar Dia sajalah yang membangun ‘tembok-tembokku’.

Perlahan, berangkat dari kesadaran ini, aku belajar untuk melatih sikap rendah hati. Ketika tembok yang kubangun itu mulai runtuh, aku pun lebih sering mengalami sakit hati dan kekecewaan. Tapi, kini aku belajar untuk memandang itu semua dari perspektif Tuhan. Bahwasannya dalam relasi antar sesama manusia, kekecewaan dan sakit hati adalah bagian tak terpisahkan dari relasi antar sesama orang berdosa. Mungkin hari ini aku yang tersakiti, tapi bisa jadi pula di momen yang lain aku tanpa sengaja yang menyakiti orang lain.

Rapuhnya relasi antar sesama manusia berdosa tidak seharusnya membuatku menarik diri, tetapi seharusnya aku memandang ke atas, kepada Dia yang kasih-Nya sempurna. Tak peduli seberapa dalam kita menikam-Nya dengan pemberontakan kita, tangan kasih Tuhan Yesus tak pernah tertutup untuk menyambut kita.

Dan, oleh kasih-Nyalah kita dimampukan untuk berelasi dan meneruskan kasih itu kepada sesama kita.

Aku mengimani Mazmur di atas. Rumah yang dibangun Allah tidak akan sia-sia. Oleh karena itu, pastikanlah agar ketika kita membangun ‘tembok’ untuk melindungi diri kita, ‘tembok’ itu dibangun oleh Allah sendiri—tembok kerendahan hati, tembok pengampunan, tembok belas kasihan, dan tembok-tembok yang terdiri dari segala rupa buah roh.

Baca Juga:

Ketika Identitas Diriku Kuletakkan pada Ucapan Orang Lain

Di hadapan seorang yang mengasuhku, semua prestasiku dianggap kurang. Masuk 10 besar, dianggap jelek kalau tidak jadi peringkat 1. Lama-lama aku jadi marah dan berupaya keras untuk mematahkan tiap ucapannya.

Ketika Identitas Diriku Kuletakkan pada Ucapan Orang Lain

Oleh Veronica*, Depok

“Hey, kok lo goblok banget sih!” teriak Meredith*. Ucapan itu dilontarkannya sebagai tanggapan atas ceritaku kemarin malam kalau aku mendapat nilai tertinggi se-tim-ku untuk tes kecerdasan yang diadakan kantorku.

Teriakan itu menohokku. Aku, lulus dari perguruan tinggi ternama, bekerja di perusahaan impian, bahkan menjadi salah satu kandidat terbaik di sana. Seketika aku merasa tidak berharga. Rasanya prestasi di sana sini yang telah kuraih tak artinya di hadapan Meredith.

Meredith adalah salah satu anggota keluargaku. Sejak orang tuaku pergi ke luar kota setelah aku lahir, dialah yang mengasuhku hingga saat ini. Lahir sebagai anak tentara pejuang kemerdekaan dan menikah dengan seorang tentara pula, membentuknya menjadi wanita yang keras dan kuat. Hal itu pula yang menjadi pedomannya saat membesarkanku, sampai kadang dia lupa bahwa aku butuh kelemahlembutan. Caranya mendidikku adalah dengan menuntutku untuk selalu jadi yang terbaik. Pernah saat itu ketika SMP aku meraih peringkat 28 ketika semester 1, dan melesat menjadi peringkat 2 di semester 2. Kalian tahu apa katanya? “Kok gak ranking 1?”.

Ketidakpuasannya atas prestasiku tidak terjadi hanya sekali, melainkan terus berulang. Lama-lama aku jadi marah. Ketika SMA, aku berjuang habis-habisan untuk bisa kuliah di luar kota atau bahkan di luar negeri, agar bisa jauh darinya. Namun, perjuanganku kandas.

Aku berkuliah tidak jauh dari rumah, dan setiap hari aku masih bertemu dengannya—dia, yang tidak pernah memberi apresiasi atas setiap prestasiku secara langsung. Meski teman-teman dan keluarga besarku beberapa kali mengapresiasi keberhasilanku, namun dia tetap bergeming. Uniknya, perkataan orang-orang lain rasanya tidak berpengaruh buatku, hanya apresiasi dari Meredithlah yang kutunggu.

Kembali ke ceritaku tentang pagi tadi, perasaan tidak berharga dalam diriku pun mencuat. Aku duduk diam termenung. Dalam perenunganku itu, aku mendapati bahwa meskipun orang-orang lain mengapresiasiku dengan baik, aku meletakkan identitasku pada ucapan Meredith. Aku terjebak dalam pikiran bahwa semua yang kulakukan akan cukup, ketika dia sudah bilang itu cukup. Aku akan merasa bahwa aku berharga adalah ketika dia memberikan apresiasinya kepadaku. Mungkin sikap ini muncul sebagai sebuah upaya ‘pembuktian’ kalau aku orang yang hebat, yang mampu memenuhi semua tuntutannya.

Aku sendiri kurang tahu persis apa yang menyebabkan Meredith bersikap begitu, tetapi aku bisa memahami mungkin dia ingin agar aku selalu jadi yang terbaik. Tetapi, menjadi yang terbaik tidak selalu melulu mendapatkan posisi pertama, bukan?

Setelah aku menyadari hal itu, aku teringat akan dua hal berikut.

Pertama, aku teringat ketika Tuhan menciptakan manusia di hari ke-6 dan mengatakan bahwa ciptaan-Nya “sungguh amat baik”. Saat aku memejamkan mata dan mengulang kalimat itu dalam hati, mataku mulai berkaca-kaca. Aku, yang diciptakan oleh Tuhan, disebut oleh Ia sendiri bahwa aku “sungguh amat baik”. Aku mengulanginya dalam hatiku, “aku, sungguh amat baik”. Kalimat itu kemudian membuatku menyadari bahwa aku, bahkan tanpa prestasi-prestasi lahiriahku, sudah sungguh amat baik bagi Penciptaku. Ia, yang menenunku dalam rahim ibu-ku, mengenal hingga kedalaman hatiku, mengasihiku, menyatakan bahwa aku sudah sungguh amat baik. Artinya, meski aku belum melakukan apa-apa, aku berharga. Dan itu, sudah cukup.

Pemahaman bahwa Allah menciptakanku dengan amat baik ini bukan berarti aku berdiam diri dan menolak berkarya, tetapi dari pemahaman inilah aku bisa berkarya bukan untuk mengejar gengsi atau pengakuan dari orang lain, melainkan sebagai ekspresi syukur dan bakti pada Allah yang telah menciptakanku baik adanya.

Yang kedua, dosa membuatku dan semua manusia seharusnya layak menerima hukuman berupa kebinasaan. Namun, ada Pribadi yang memberi diri menggantikan untuk mati karena dosa yang bukan milik-Nya. Ada Pribadi, yang mau berkorban untukku, bahkan ketika aku sedang gagal. Ada Pribadi, yang tetap mengasihiku, ketika aku nyatanya sangat jauh dari berprestasi. Ada Pribadi, yang karena kasih-Nya sungguh besar, tidak hanya lagi menyatakan dengan perkataan, namun dengan nyawa-Nya sendiri yang dikorbankan.

Kira-kira, apakah mungkin Allah mengorbankan diri-Nya untuk sesuatu yang tidak berharga? Aku rasa tidak. Artinya, aku berharga. Dalam kegagalan pun, aku dipandang-Nya berharga. Dan itu, sudah cukup.

Kedua hal itu mengingatkanku, bahwa ketika aku belum berbuat apa-apa, hingga ketika aku berbuat kesalahan yang berujung maut, aku berharga. Dengan atau tanpa prestasi, aku berharga. Dengan atau tanpa pengakuan orang lain, aku berharga.

Perenunganku diakhiri dengan senyum kecil menandai kesadaranku bahwa aku berharga. Namun kemudian, aku berbisik kecil dalam doa kepada Tuhan, berkata

“Ya Tuhan, terimakasih sudah menolongku menyadari bahwa aku berharga, dengan atau tanpa prestasi, dengan atau tanpa pengakuan. Tapi Tuhan, sejujurnya, aku masih berharap suatu hari nanti, ada perkataan yang diucapkan olehnya “aku bangga sama kamu”. Boleh kah, Tuhan?

Tapi kiranya bukan kehendakku yang jadi, melainkan kehendak-Mu.”

Amin.

*bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Gak Adil! Memangnya Aku Penjaga Adikku?

Menjadi anak tengah, merasa diabaikan oleh orang tua, membuatku sempat sakit hati dengan keluargaku. Namun, dari pengalaman ini aku mendapat pemahaman tentang apa itu keadilan.

Belajar Dari Rasa Kehilangan

Oleh Olyvia Hulda, Sidoarjo

Berita duka, karangan bunga, serta ucapan belasungkawa memenuhi media sosialku dalam dua bulan terakhir ini. Aku mendapati beberapa kenalan juga telah kehilangan anggota keluarganya. Mungkin di antara para pembaca, ada juga yang mengalami kehilangan yang sama akibat pandemi ini.

Bulan Juni yang lalu, aku kehilangan seorang kakak rohani sekaligus rekan sepelayanan di gerejaku. Aku merasa sangat kehilangan. Kami memiliki beberapa momen kebersamaan dalam melayani Tuhan. Dan aku merasa kehilangan sosok seorang pemimpin yang telah menjadi teladan, baik dalam sikap maupun jerih payahnya.

Berita duka terus berdatangan. Beberapa hamba Tuhan yang aku hormati dan kagumi juga dipanggil Tuhan. Rasa kehilangan tersebut tidak hanya memberikan kesedihan mendalam namun membuatku merasa seperti “kehilangan pegangan” dalam melayani Tuhan. Kerohanianku seakan-akan “bergantung” kepada kepedulian yang mereka tunjukkan seperti mendoakanku, memberikan kutipan-kutipan kalimat maupun khotbah yang memberkati, melalui kisah hidup mereka serta semangat melayani yang memberikan inspirasi. Kehadiran mereka dalam hidupku telah membuatku semakin giat untuk mengenal dan menyembah Tuhan.

Rasa kehilangan yang kualami memang terasa wajar. Namun, ketika aku berlarut di dalamnya, firman Tuhan menegur sikap hatiku. Kisah raja Yoas dan imam Yoyada (2 Raja-Raja 12) mengingatkanku untuk tidak meneladani cara hidup raja Yoas yang mengikuti Tuhan hanya selama imam Yoyada hidup (2 Raja 12:2). Iman raja Yoas bergantung kepada imam Yoyada, sehingga ketika imam Yoyada meninggal, Raja Yoas pun berbalik dari Tuhan dan menyembah berhala (2 Tawarikh 24:18).

Melalui peristiwa kehilangan ini, Tuhan ingin mengajarkan kepadaku, dan kepada kita semua, bahwa iman kita tidak boleh bergantung kepada manusia, tetapi hanya kepada Tuhan saja. Mungkin masa pandemi yang sedang berlangsung ini dapat menjadi masa pengujian iman untuk melihat kepada siapa kita telah bergantung, kepada manusia atau Allah.

Pertanyaannya, setelah kita kehilangan orang yang kita kasihi, akankah kita tetap bersungguh-sungguh mengasihi Tuhan, ataukah hati kita menjadi tawar dan memilih menyembah “berhala” seperti raja Yoas?

Kiranya kita memilih untuk tetap setia mengasihi Tuhan, sekalipun kita telah kehilangan orang yang kita kasihi.

Sedih, kecewa, marah, ataupun tawar hati, adalah perasaan wajar yang dapat dialami semasa kehilangan. Akan tetapi bila kita terus tenggelam dalam perasaan-perasaan tersebut, kita akan kehilangan banyak waktu untuk mengasihi Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Rasul Paulus memberi peringatan agar kita mempergunakan waktu yang ada dengan bijaksana, dengan demikian kita dapat mengerti akan kehendak Tuhan dan menyelesaikannya (Efesus 5:15-17). Mari kita gunakan waktu hidup yang singkat ini untuk terus melakukan kehendak Tuhan, bukan melakukan kehendak dan kesenangan diri sendiri.

Tidak dapat dipungkiri, setelah kehilangan orang yang dikasihi, kita akan menjalankan pelayanan dan hari-hari kita dengan situasi yang berbeda. Kita perlu berdamai dengan situasi dan hati kita di masa kehilangan ini. Mari kita terus menguatkan hati di hadapan Tuhan, mengandalkan-Nya dan berjalan bersama-Nya setiap hari. Ketika kita terus berjalan bersama-Nya, kita pun akan dikuatkan oleh Roh Kudus untuk melakukan kehendak Tuhan.

Kepada kita yang masih diberikan kesempatan untuk hidup, kita percaya masih ada tanggung jawab dan pekerjaan baik yang perlu kita selesaikan sebelum waktu kita sendiri tiba nanti. Adakalanya kita merasa seolah-olah kekuatan kita untuk melangkah hilang akibat kesedihan kehilangan “teladan hidup yang nyata”, tetapi marilah kita kembali bersemangat bangkit untuk melakukan kehendak Tuhan. Dan kita pun dapat meneruskan teladan baik yang telah kita alami dalam hidup dan pelayanan kita.

Melalui tulisan ini, aku ingin menyampaikan ucapan belasungkawa dan rasa sepenanggungan untuk teman-teman yang telah kehilangan orang yang dikasihi. Kiranya kasih dan penghiburan dari Roh Kudus menyertai kita semua, sampai selama-lamanya. Amin.

Baca Juga:

Ketika Penampilan Tidak Good-Looking, Bagaimana Bisa Meraih Bahagia?

Aku teringat omongan orang yang berkata kalau penampilan fisik yang menarik bisa membuat hidup jadi sukses. Tapi, penampilan fisikku jauh dari menarik.

Ketika Penampilan Tidak Good-Looking, Bagaimana Bisa Meraih Bahagia?

Oleh Jasmine Ong
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How Can I Be Happy If I’m Not Good Looking?

Ketika film Crazy Rich Asian dirilis, banyak orang mengapresiasinya karena itu jadi film Hollywood pertama yang diperankan orang-orang Asia dan menonjolkan budaya ‘Asia’. Tapi, yang menohok buatku adalah: selain crazy rich, para pemeran film itu penampilannya luar biasa good looking. Aku pun teringat omongan orang yang berkata kalau penampilan fisik yang menarik bisa membuat hidup jadi sukses.

Tahun 1994, ada artikel berjudul “Beauty and the Labor Market” ditulis oleh Daniel Hamermesh dan Jeff Biddle. Artikel itu menunjukkan kalau karyawan yang dianggap berpenampilan menarik oleh perusahaannya mendapatkan penghasilan 10-15% lebih tinggi dari orang sepantarannya. Selain dalam hal pekerjaan, riset lain dari Alan Feingold yang berjudul, “Good-Looking People Are Not What We Think” menemukan kalau penampilan yang lebih baik juga berkorelasi secara positif dengan jumlah teman yang lebih banyak, dan popularitas yang lebih tinggi kepada lawan jenis. Tahun 2016 juga digelar studi yang melibatkan 120 ribu orang di Inggris Raya. Periset studi itu mendapati kalau laki-laki yang pendek atau perempuan yang tubuhnya gemuk (kebanyakan karena hal genetik) cenderung berpenghasilan lebih rendah daripada rekan-rekan mereka yang lebih tinggi dan langsing.

Aku tidak membutuhkan riset-riset di atas untuk memberitahuku apa yang telah kulihat dengan nyata di keseharianku–tapi, hasil riset itu seolah menegaskanku omongan-omongan orang yang bilang ‘kalau kamu good-looking, hidupmu bakal lebih gampang.’ Semua orang ingin jadi temanmu; kamu memancarkan kepercayan diri dan menghadapi hidup dengan mudah; kamu selalu menulis tagar #blessed di postingan Instagrammu. Aku tidak sedang bicara soal selebriti atau influencer. Mereka yang kumaksud adalah orang-orang biasa—teman sekelas, sesama jemaat gereja, tetangga kita—yang kelihatannya mendapatkan privelese karena genetik alias keturunan.

Aku juga melihat bagaimana orang-orang bisa kehilangan kesempatan kerja dan lingkaran sosial karena penampilan mereka. Aku ingat dua teman sekelasku yang bersusah payah mencari pekerjaan di negara asal mereka. Meskipun nilai-nilainya bagus dan mereka bisa berbicara dalam beberapa bahasa, mereka tidak juga diterima karena masalah berat badan. Suasana pasrah di antara kedua temanku itu sungguh memilukan, mereka seolah telah menerima kenyataan pahit itu sebagai bagian dari hidup mereka. Ada pula temanku yang lain yang diomeli oleh saudaranya yang bilang kalau dia melajang sebagai akibat dari keengganannya diet dan menurunkan berat badan.

Pertarunganku dengan tubuhku sendiri

Dalam kasusku pribadi, masa-masa remaja dan awal usia 20-anku dipenuhi rasa tidak percaya diri dengan penampilan fisikku. Kupingku berukuran besar dan menonjol. Aku pun sering dijadikan bahan ejekan dengan dalih ‘canda doang kok’, tapi candaan itu menusuk begitu dalam. Tubuhku juga lebih besar dibandingkan dengan rata-rata perempuan Asia, fakta yang sering disematkan padaku oleh teman sekelas, keluarga, dan bahkan orang asing.

Karena semua itu, harga diriku terpukul jatuh. Aku menghabiskan waktuku berjam-jam menatap kaca di tembok, mengkritik wajah dan tubuhku sendiri. Aku memelas kepada papaku untuk melakukan operasi di telingaku dan hidungku supaya lebih mancung. Aku pikir semua itu jika dilakukan akan membuat kepercayaan diriku meningkat dan aku akan benar-benar bahagia. Papa dengan tegas menolak ideku itu.

Dia menjelaskan tentang risiko operasi plastik, tapi meskipun aku tahu itu memang bahaya aku tetap ingin melakukannya, terkhusus jika itu bisa membuatku berhenti membenci diriku sendiri.

Ketika akhirnya aku tidak lagi terobsesi operasi plastik, aku ingin menguruskan badanku. Aku bersumpah untuk makan lebih sedikit, tapi akhirnya terjebak dalam lingkaran setan yang terus membuatku merasa gagal dan membenci diri sendiri. Dikalahkan oleh beberapa upaya yang gagal, aku pun berpikir: Harapan macam apakah yang tersedia buat orang sepertiku, yang tidak kaya ataupun cantik, untuk memperoleh kebahagiaan?

Kecantikan di mata Allah

Pada waktunya, Alkitab menolongku memutus cerita dongeng yang kupercayai itu. Pada satu perikop, Allah memberitahu Samuel ketika Dia hendak menunjuk raja Israel yang selanjutnya: “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Samuel 16:7).

Bagian ini menarik buatku. Allah yang menciptakan manusia menegaskan bahwa penampilan fisik tidaklah menarik. Ayat itu lantas membuka mataku untuk berpikir bahwa standar Allah itu berbeda. Allah menunjuk orang-orang untuk memenuhi peran masing-masing yang unik dalam kerajaan-Nya, tanpa melihat bagaimana penampilan fisik mereka. Aku sadar bahwa masyarakatlah, bukan Tuhan, yang membangun gagasan dan bias tentang kecantikan.

Aku kemudian belajar bahwa penderitaan adalah sesuatu yang lumrah bagi umat manusia. Kekayaan dan penampilan rupawan tidak menjamin hidup akan terbebas dari kesulitan. Lihatlah berita tentang bencana alam, perang, atau penyakit yang menghacurkan hidup seseorang tanpa melihat status mereka. Dokumenter yang baru dirilis tentang Britney Spears misalnya, menunjukkan padaku bahwa bintang terkenal sekalipun tidak kebal dari masalah mental.

Melalui realita ini, aku belajar untuk menerima bahwa melakukan operasi plastik tidak akan mengubah jalan hidupku. Hidupku malah berubah drastis ketika aku menerima Kristus sebagai Juruselamatku. Dari titik ini, aku tidak lagi menghadapi penderitaanku seorang diri, karena aku telah mendapatkan Penghibur dan Kawan yang mampu melihat rasa tidak percaya diriku dan berbagi beban. Yesus, yang disebut dalam nubuat Yesaya sebagai ‘tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada; (Yesaya 53:2), yang kemudian ditelanjangi dan berdarah-darah di atas kayu salib, sungguhlah jauh dari definisi fisik yang rupawan. Namun, dari Dialah kasih dan harapan hadir bagiku. Yesus jugalah yang berkata, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Meskipun kadang masih sedih karena tidak memiliki fisik yang rupawan dan berberat hati karena tekanan yang diberikan oleh masyarakat untuk menjadi ideal berdasar standar mereka, aku menghibur hatiku dengan Mazmur 23 yang menyatakan Allah adalah gembala, dan aku tidak kekurangan suatu apa pun. Meskipun aku tidak memenuhi standar kecantikan masyarakat, atau aku menghadapi diskriminasi dan penolakan dalam berbagai bentuk, aku tahu Allah membimbingku melalui setiap momen itu dan Dia sungguh peduli padaku.

Bertahan hidup dalam pandemi telah mengajariku banyak hal. Hari-hari ini, aku merasa sungguh bahagia ketika aku pulang kerja setelah melayani pasien-pasien dan rekan kerjaku dengan sepenuh hati, sesuai kemampuanku. Aku menemukan sukacita dalam memupuk persahabatan yang telah bertahan dalam ujian waktu dan jarak.

“Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mazmur 145:9).

Baca Juga:

Berkat di Balik Tirai Kesuraman

“Memang kamu kerja untuk apa, sih? Bukan apa-apa, Papa cuma pikirin masa depan kamu. Kamu kan kelak jadi kepala keluarga.” Ian tak tahu harus menjawab apa.