Pos

Pengharapan Kekal

Senin, 18 Desember 2017

Pengharapan Kekal

Baca: Mazmur 146

146:1 Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!

146:2 Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.

146:3 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.

146:4 Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.

146:5 Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya:

146:6 Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya,

146:7 yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung,

146:8 TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.

146:9 TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.

146:10 TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!

Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada Tuhan, Allahnya. —Mazmur 146:5

Pengharapan Kekal

Seminggu sebelum Natal, dua bulan setelah ibu saya wafat, urusan belanja dan dekorasi Natal sama sekali tidak menjadi prioritas saya. Saya menolak upaya suami yang ingin menghibur saya di saat saya masih berduka karena kehilangan seorang ibu yang sangat beriman. Saya jengkel saat anak kami, Xavier, membentangkan dan memasang untaian lampu Natal ke dinding rumah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia menyalakan lampu Natal tersebut sebelum ia dan ayahnya berangkat kerja.

Saat lampu warna-warni itu berkelap-kelip, Allah pun menarik saya keluar dari kegelapan dengan penuh kelembutan. Sepedih apa pun kondisi yang ada, pengharapan saya tetap terjamin dalam kebenaran Allah. Kebenaran firman-Nya selalu mengungkapkan karakter-Nya yang tak pernah berubah.

Mazmur 146 menegaskan apa yang diingatkan Allah kepada saya di pagi yang suram itu: Saya dapat senantiasa “[berharap] pada Tuhan,” penolong saya, Allah yang perkasa dan penyayang (ay.5). Sebagai Pencipta segala sesuatu, Allah “tetap setia untuk selama-lamanya” (ay.6). Dia “menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas,” melindungi dan menyediakan kebutuhan kita (ay.7). “Tuhan menegakkan orang yang tertunduk” (ay.8). Dia “menjaga” kita, menegakkan kita, dan menjadi Raja untuk selama-lamanya (ay.9-10).

Adakalanya, menjelang Natal, hari-hari kita penuh dengan saat-saat yang menyenangkan. Di lain waktu, mungkin saja kita mengalami kehilangan, kepedihan, atau kesepian. Namun di setiap saat, Allah berjanji untuk menjadi terang kita dalam kegelapan dan memberi kita pertolongan yang nyata serta pengharapan yang kekal. —Xochitl Dixon

Allah Bapa, terima kasih karena Engkau mengundang kami untuk mengenal dan mengandalkan karakter-Mu yang tak pernah berubah sebagai sumber pengharapan kami yang kekal.

Pengharapan kita di dalam Allah dijamin oleh karakter-Nya yang tak pernah berubah.

Bacaan Alkitab Setahun: Obaja 1 dan Wahyu 9

Perubahan

Minggu, 20 Agustus 2017

Perubahan

Baca: Ester 8:11-17

8:11 yang isinya: raja mengizinkan orang Yahudi di tiap-tiap kota untuk berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta memunahkan, membunuh atau membinasakan segala tentara, bahkan anak-anak dan perempuan-perempuan, dari bangsa dan daerah yang hendak menyerang mereka, dan untuk merampas harta miliknya,

8:12 pada hari yang sama di segala daerah raja Ahasyweros, pada tanggal tiga belas bulan yang kedua belas, yakni bulan Adar.

8:13 Salinan pesan tertulis itu harus diundangkan di tiap-tiap daerah, lalu diumumkan kepada segala bangsa, dan orang Yahudi harus bersiap-siap untuk hari itu akan melakukan pembalasan kepada musuhnya.

8:14 Maka dengan terburu-buru dan tergesa-gesa berangkatlah pesuruh-pesuruh cepat yang mengendarai kuda kerajaan yang tangkas itu, atas titah raja, dan undang-undang itu dikeluarkan di dalam benteng Susan.

8:15 Dan Mordekhai keluar dari hadapan raja dengan memakai pakaian kerajaan dari pada kain ungu tua dan kain lenan, dengan memakai tajuk emas yang mengagumkan serta jubah dari pada kain lenan halus dan kain ungu muda. Maka kota Susanpun bertempiksoraklah dan bersukaria:

8:16 orang Yahudi telah beroleh kelapangan hati dan sukacita, kegirangan dan kehormatan.

8:17 Demikian juga di tiap-tiap daerah dan di tiap-tiap kota, di tempat manapun titah dan undang-undang raja telah sampai, ada sukacita dan kegirangan di antara orang Yahudi, dan perjamuan serta hari gembira; dan lagi banyak dari antara rakyat negeri itu masuk Yahudi, karena mereka ditimpa ketakutan kepada orang Yahudi.

Orang Yahudi telah beroleh kelapangan hati dan sukacita, kegirangan dan kehormatan. —Ester 8:16

Perubahan

Ketika sang pendeta berkhotbah pada pemakaman seorang veteran perang yang lanjut usia, ia membahas tentang di mana kemungkinan almarhum berada. Namun, bukannya menjelaskan bagaimana orang dapat mengenal Allah, ia malah berspekulasi tentang hal-hal yang tidak ada di Alkitab. Di manakah pengharapan dalam semua itu? pikir saya.

Akhirnya pendeta meminta kami menyanyikan himne penutup. Ketika kami berdiri dan menyanyikan “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan”, orang mulai memuji Allah dari lubuk hati mereka. Dalam sekejap, semangat orang di ruangan tersebut berubah. Tiba-tiba secara mengejutkan, di tengah-tengah pujian bait kedua, emosi mewarnai suara saya.

Ya Tuhanku, pabila kurenungkan
Pemberian-Mu dalam Penebus,
‘Ku tertegun: bagiku dicurahkan
Oleh Putra-Mu darah-Nya kudus.

Sebelum kami menyanyikan himne tersebut, saya bertanya-tanya apakah Allah akan hadir di pemakaman itu. Kenyataannya, Allah senantiasa hadir. Kitab Ester mengungkapkan kebenaran tersebut. Bangsa Yahudi sedang di pengasingan, dan para penguasa ingin membunuh mereka. Namun pada momen kegelapan itu, raja yang tidak mengenal Allah itu memberikan hak bagi orang Israel yang tertawan untuk mempertahankan diri dari orang yang menginginkan kematian mereka (EST. 8:11-13). Mereka berhasil mempertahankan diri dan merayakannya (9:17-19).

Seharusnya tidak mengherankan bahwa Allah hadir melalui lirik himne yang dinyanyikan saat pemakaman itu. Bagaimanapun juga, Allah mengubah upaya pembunuhan terhadap suatu bangsa menjadi perayaan, dan penyaliban diubah menjadi kebangkitan dan penyelamatan! —Tim Gustafson

Allah kita yang tak terduga sering menyatakan kehadiran-Nya pada saat-saat yang tidak kita harapkan.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 105-106 dan 1 Korintus 3

Proyek Nozomi

Selasa, 1 Agustus 2017

Proyek Nozomi

Baca: 2 Korintus 4:7-18

4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

4:8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;

4:9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.

4:10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.

4:11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.

4:12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

4:13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.

4:14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.

4:15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7

Proyek Nozomi

Pada tahun 2011, gempa berkekuatan 9 skala richter dan tsunami merenggut hampir 19.000 nyawa dan menghancurkan 230.000 rumah di wilayah timur laut Tokyo. Paska musibah itu, lahirlah The Nozomi Project, dari kata Jepang yang berarti “pengharapan”, dengan tujuan menyediakan penghasilan yang berkelanjutan, komunitas, martabat, dan pengharapan di dalam Allah.

Para wanita yang terlibat dalam proyek Nozomi menyortir puing-puing rumah dan perabotan untuk mencari pecahan-pecahan keramik. Mereka mengampelas pecahan-pecahan itu dan menyusunnya sehingga menjadi perhiasan yang kemudian dijual ke seluruh dunia. Itulah sumber penghasilan mereka sekaligus cara untuk menyatakan iman mereka kepada Kristus.

Pada zaman Perjanjian Baru, ada kebiasaan untuk menyimpan barang-barang berharga di dalam wadah sederhana yang terbuat dari tanah liat. Paulus menggambarkan bagaimana Injil yang berharga tersimpan dalam kerapuhan manusiawi dari para pengikut Kristus: bejana tanah liat (2Kor.. 4:7). Ia menyatakan bahwa bejana hidup kita yang rapuh—bahkan adakalanya rusak—sebenarnya dapat menyingkapkan kuasa Allah yang sangat kontras dengan ketidaksempurnaan kita.

Saat Allah mendiami hidup kita yang tidak sempurna dan rusak, harapan pemulihan oleh kuasa-Nya sering kali lebih jelas terlihat oleh orang lain. Karya pemulihan-Nya dalam hati kita memang sering meninggalkan bekas luka. Namun, mungkin goresan luka dari proses pembelajaran yang kita terima itu menjadi ukiran diri yang membuat karakter Allah lebih terlihat oleh sesama kita. —Elisa Morgan

Ya Allah, tunjukkanlah kuasa-Mu kepada orang lain saat aku membagikan harta Injil-Mu melalui hidupku yang tidak sempurna tetapi indah ini.

Ketidaksempurnaan dapat membawa pemulihan yang sempurna.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 57-59 dan Roma 4

Sulitnya Menunggu

Senin, 8 Mei 2017

Sulitnya Menunggu

Baca: Mazmur 90

90:1 Doa Musa, abdi Allah. Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.

90:2 Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.

90:3 Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”

90:4 Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.

90:5 Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,

90:6 di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.

90:7 Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu kami terkejut.

90:8 Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu.

90:9 Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh.

90:10 Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.

90:11 Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu?

90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

90:13 Kembalilah, ya TUHAN–berapa lama lagi? –dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

90:14 Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.

90:15 Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.

90:16 Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, dan semarak-Mu kepada anak-anak mereka.

90:17 Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. —Mazmur 90:12

Sulitnya Menunggu

Beberapa tahun terakhir, dua anggota keluarga saya terdiagnosis menderita penyakit yang mengancam nyawa mereka. Bagi saya, bagian tersulit dari usaha saya menguatkan mereka sepanjang perawatan adalah ketidakpastian yang terus-menerus ada. Saya selalu menghendaki penjelasan yang terus terang dari dokter, tetapi itu jarang sekali terjadi. Alih-alih diberi penjelasan, kami sering diminta untuk menunggu.

Memang tidak mudah berada dalam ketidakpastian yang membuat kami terus bertanya-tanya tentang apa yang akan ditunjukkan oleh hasil tes berikutnya. Berapa lama lagi waktu yang kami punya—berapa Minggu, bulan, tahun, atau dekade—sebelum kematian memisahkan kami? Namun, terlepas dari penyakit dan diagnosis, masing-masing dari kita pasti akan meninggal dunia suatu hari nanti, dan hal seperti kanker membuat kita lebih cepat memikirkan tentang kefanaan kita— sesuatu yang selama ini mungkin hanya terpendam di dalam benak.

Ketika diingatkan kembali tentang kefanaan manusia, saya pun berdoa dengan kata-kata yang dahulu menjadi doa Musa. Mazmur 90 mengatakan kepada kita bahwa meskipun hidup kita seperti rumput yang akan lisut dan layu (ay.5-6), kita memiliki Allah sebagai tempat perteduhan (ay.1). Seperti Musa, kita dapat meminta Allah untuk mengajar kita menghitung hari-hari supaya kita bisa membuat keputusan-keputusan yang bijaksana (ay.12), dan untuk membuat hidup kita yang singkat ini berbuah dengan menjadikan segala karya tangan kita bagi-Nya berhasil (ay.17). Pada akhirnya, mazmur itu mengingatkan kita bahwa pengharapan kita tidaklah diletakkan pada diagnosis dari dokter, melainkan pada Allah yang kekal “dari selama-lamanya sampai selama-lamanya”. —Amy Peterson

Bagaimana kita dapat menggunakan waktu yang telah diberikan kepada kita dengan baik?

Kita sanggup menghadapi kenyataan akan kefanaan kita karena kita percaya kepada Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 4-6; Lukas 24:36-53

Ketika Tuhan Menjawab Doaku dengan 2 Buah Kentang

Ketika-Tuhan-Menjawab-Doaku-dengan-2-Buah-Kentang

Oleh Diana Yemima

Aku dan keluargaku bergumul dengan permasalahan ekonomi yang terjadi belakangan ini. Gaji ayahku yang diterima setiap bulan tidak mampu mencukupi semua kebutuhan keluarga. Melihat kondisi keluarga yang kekurangan, ibu berjualan kue di sekitar kompleks perumahan.

Kue yang dijual oleh ibu itu sangat sederhana, yaitu donat yang dibuat dari kentang dan ditaburi gula halus. Ibu memiliki masalah fisik sehingga tidak memungkinkan untuk berjualan setiap hari, jadi dalam satu minggu ia hanya berjualan tiga kali. Keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat ibu, malahan ia mengatakan kalau strateginya menjual donat tiga kali seminggu itu bagus karena membuat pelanggannya dilanda “rindu” terlebih dahulu.

Apa yang ibu lakukan itu ada benarnya juga. Setiap kali ia berjualan keliling komplek perumahan, para pelanggan membeli donat dalam jumlah banyak, ada yang membeli lima donat sekaligus bahkan lebih. Mungkin mereka membeli banyak karena tahu kalau tidak setiap hari bisa menyantap donat kentang buatan ibuku.

Tuhan Yesus memberkati usaha berjualan donat yang ibu kerjakan. Setiap kali ia berjualan, semua donat selalu habis terjual sehingga uang hasil penjualan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga kami.

Suatu hari tagihan listrik di rumah kami telah jatuh tempo, tapi kami tak punya cukup uang untuk melunasinya. Uang yang kami miliki saat itu seharusnya digunakan untuk berbelanja kebutuhan bahan-bahan membuat donat kentang.

Ayah berusaha mencari pinjaman uang untuk membayar tagihan listrik itu. Aku teringat kalau masih ada tabungan yang kusimpan di celengan. Kubongkar celengan itu dan kukumpulkan setiap keping uang logam. Setelah digabung dengan sisa uang yang ada, ternyata itu cukup untuk membayar tagihan listrik kami.

Aku teringat satu ayat yang tertulis dalam Lukas 3:14 tentang perkataan Yohanes Pembaptis kepada prajurit-prajurit yang bertanya kepadanya, “Cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Ayat ini menguatkanku kalau Tuhan mencukupi kebutuhan keluargaku sehingga kami tidak harus berhutang kepada orang lain.

Aku berdoa sembari tanganku menggenggam uang. “Ya Bapa, Engkau tahu bahwa uang ini adalah uang terakhir yang ada di keluarga kami. Dan uang ini akan digunakan untuk membayar listrik. Aku menyerahkan uang ini ke dalam tangan kuasa-Mu. Biarlah dengan uang ini, kami dapat memenuhi setiap kebutuhan kami hingga akhir bulan nanti. Dalam nama Tuhan Yesus, amin,” ucapku pada-Nya.

Aku pikir masalah hari itu sudah selesai, tapi masih ada yang terjadi. Aku tidak melihat ibu menyiapkan bahan membuat donat kentang, padahal besok adalah hari Selasa yang semestinya ibu berjualan. Karena seluruh uang yang kami miliki, termasuk uang hasil penjualan donat ibu telah digunakan untuk melunasi tagihan listrik, maka kami tidak punya sisa uang lagi untuk membeli bahan-bahan membuat donat.

“Apakah tidak ada stok bahan yang tersisa di dapur?” tanyaku. Ibu menjawab kalau ia hanya memiliki dua buah kentang, padahal untuk satu kali adonan donat membutuhkan empat buah kentang.

Jika besok ibu tidak berjualan, kami tidak akan memiliki uang untuk makan karena penghasilan ibulah yang menjadi penyangga kehidupan sehari-hari kami. Aku masih tidak percaya kalau hanya tersisa dua kentang saja. Aku bergegas menuju dapur yang diterangi cahaya redup. Ternyata apa yang ibu katakan itu benar, hanya tersisa dua kentang saja di sana.

Kemudian aku masuk ke dalam kamar dan berdoa. “Tuhan terimakasih atas berkat-Mu karena akhirnya kami dapat membayar listrik tanpa meminjam uang. Tapi, Tuhan, ibu kehabisan kentang untuk membuat donat, sedangkan besok kami membutuhkan uang untuk makan. Bapa, aku yakin bahwa Engkau tak pernah membiarkan anak-Mu terlantar dan kelaparan. Engkau pasti memberi jalan keluar untuk segala permasalahan kami. Kami serahkan segalanya ke dalam tangan kuasa-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.”

Seusai berdoa aku keluar dari kamar dan tiba-tiba ibu menghampiriku dengan raut wajah penuh syukur. Ia mengatakan kalau ayah menemukan dua buah kentang lagi yang tersembunyi di bawah tangga. Tangan ayah mampu merogoh hingga ke ujung dan ternyata ada dua buah kentang yang tersimpan di bawah sana. Awalnya ibu berpikir kalau kentang yang ditemukan itu pastilah sudah busuk karena itu kentang sisa dari minggu sebelumnya. Tapi, kentang itu masih dalam kondisi baik, tidak busuk.

Aku terharu melihat pertolongan Tuhan karena aku tahu kentang itu tidak datang tiba-tiba dari langit. Tuhan menjawab doaku dan membuatku menangis penuh ucapan syukur. Aku menyadari kalau pertolongan Tuhan itu selalu tepat waktu. Tidak lebih cepat, tapi juga tidak terlambat.

Ketika kita dihadapkan pada keadaan di mana segala sesuatunya seolah buntu, Tuhan tahu jalan keluar terbaik untuk setiap persoalan anak-anak-Nya. Kisahku bersama Tuhan menjadi suatu bukti kalau Dia tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya kelaparan.

Firman Tuhan dalam Lukas 12:22-24 menguatkanku karena Tuhan berjanji selalu memelihara anak-anak-Nya, bahkan menyediakan setiap detail kebutuhan kita. Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang burung-burung di udara yang tidak menabur atau menuai, tetapi tetap dipelihara oleh-Nya. Jika Tuhan sanggup memelihara burung-burung itu, terlebih lagi Ia juga memelihara kita. Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya, namun yang perlu kita lakukan adalah setia melakukan bagian kita dengan baik.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu,” (1 Petrus 5:7). Seberat apapun pergumulan yang kamu alami, kamu tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan Yesus menemani langkah perjalananmu, bahkan Ia juga akan menggendongmu ketika kamu lemah. Ketika kita mengakui kelemahan kita dan merendahkan diri di hadapan-Nya, di situlah kita akan merasakan penyertaan-Nya.

Menutup kesaksianku, ada satu ayat yang diambil dari 1 Korintus 10:13b, “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Jadi, seberat apapun pergumulan yang kamu alami, janganlah menyerah pada keadaan, tetapi berserahlah kepada Tuhan.

Baca Juga:

Ketika Tuhan Berkata Pria Itu Bukan Untukku

Sakit. Sedih. Kecewa. Itulah yang kurasakan ketika aku akhirnya putus dari pacarku setelah kami menjalin hubungan selama 3 tahun 7 bulan. Di saat aku telah mendoakan hubungan ini dan membayangkan akan menikah dengannya, ternyata hubungan kami harus kandas di tengah jalan.

Berpikir “yang Ada Sekarang”

Jumat, 24 Februari 2017

Berpikir

Baca: Mazmur 46:1-8

46:1 Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Dengan lagu: Alamot. Nyanyian.

46:2 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.

46:3 Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;

46:4 sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Sela

46:5 Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.

46:6 Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.

46:7 Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur.

46:8 TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela

 

Kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. —1 Tesalonika 4:13

Berpikir

Bahkan bertahun-tahun setelah kami kehilangan Melissa, putri kami yang berusia 17 tahun, dalam kecelakaan mobil pada tahun 2002, saya masih sesekali berpikir “seandainya saja”. Dalam keadaan yang berduka, sangat mudah untuk membayangkan kembali peristiwa tragis malam itu dan memikirkan faktor-faktor yang andai saja berbeda mungkin akan membawa Melissa pulang ke rumah dengan aman. Pada kenyataannya, berpikir “seandainya saja” tidak membawa kebaikan apa pun. Pemikiran seperti itu hanya membuat seseorang berkanjang dalam penyesalan, kritikan, dan keputusasaan. Walau kepedihan terasa begitu nyata dan kesedihannya berkepanjangan, hidup akan menjadi lebih baik dan Allah pun dimuliakan apabila kita berpikir tentang “yang ada sekarang”.

Dengan berpikir tentang “yang ada sekarang”, kami dapat menerima pengharapan, penguatan, dan penghiburan. Kami memiliki pengharapan yang pasti (1Tes. 4:13)—suatu keyakinan bahwa karena Melissa mengasihi Yesus, kini ia berada di tempat yang “jauh lebih baik” (Flp. 1:23). Kami dikuatkan oleh kehadiran Allah sumber segala penghiburan (2Kor. 1:3). Kami memiliki Allah yang selalu menjadi “penolong dalam kesesakan” (Mzm. 46:2). Dan kami sering dikuatkan oleh saudara-saudara seiman kami.

Tentulah kita semua berharap dapat terhindar dari berbagai tragedi dalam hidup ini. Namun di saat menghadapi masa-masa yang sulit, pertolongan terbesar kita terima ketika kita mempercayai Allah. Dialah pengharapan yang pasti di dunia “yang ada sekarang”. —Dave Branon

Allah Bapa, Engkau tahu hatiku yang hancur. Engkau tahu betapa sakitnya rasa kehilangan karena Engkau sendiri telah mengalami kematian Anak-Mu. Di tengah kepedihanku, tolong aku untuk terus bersandar dalam pengharapan-Mu, penguatan-Mu, dan penghiburan-Mu.

Pengharapan terbesar kita terima ketika kita mempercayai Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 9-11; Markus 5:1-20

Artikel Terkait:

Enam Tahun Bersama (dan Terus) Berserah Kepada Tuhan

“Enam tahun setelah menerima Kristus, wajar saja orang berharap aku telah bertumbuh pesat dalam imanku. Kenyataannya aku belum sampai pada titik tersebut.”

Bagaimana kisah Edna Ho selengkapnya? Baca kesaksiannya di dalam artikel ini.

Pohon di Tepi Sungai

Senin, 20 Februari 2017

Pohon di Tepi Sungai

Baca: Yeremia 17:5-10

17:5 Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!

17:6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

17:8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

17:9 Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?

17:10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air. —Yeremia 17:8

Pohon di Tepi Sungai

Ada sebatang pohon yang membuat iri. Karena tumbuh di tepi sungai, pohon itu tidak perlu khawatir dengan ramalan cuaca, suhu panas yang menyengat, atau masa depan yang tak menentu. Dipelihara dan disegarkan oleh aliran air sungai, pohon itu menikmati hari-harinya dengan ranting-ranting yang mengarah ke sinar matahari, akar-akar yang mencengkeram bumi, dauh-daun yang memurnikan udara, dan menyediakan tempat berteduh bagi semua yang memerlukan perlindungan dari teriknya sinar matahari.

Sebaliknya, Nabi Yeremia menuliskan tentang semak bulus (Yer. 17:6). Ketika hujan berhenti dan matahari pada musim panas mengubah tanah menjadi debu, semak bulus itu menyusut layu dan tidak bisa menjadi tempat berteduh atau menghasilkan buah apa pun.

Mengapa sang nabi membandingkan sebatang pohon yang tumbuh subur dengan semak bulus yang meranggas? Ia ingin bangsanya mengingat segala sesuatu yang telah terjadi sejak pembebasan mereka yang ajaib dari perbudakan di Mesir. Selama 40 tahun di padang gurun, mereka hidup seperti pohon yang tumbuh di tepi sungai (2:4-6). Namun dalam kemakmuran yang mereka nikmati di Tanah Perjanjian, mereka lupa pada pengalaman mereka sendiri; mereka kemudian mengandalkan diri sendiri dan juga dewa-dewa yang mereka buat sendiri (2:7-8), bahkan sampai kembali ke Mesir untuk meminta bantuan (42:14).

Maka melalui Yeremia, Allah dengan penuh kasih mendesak umat Israel yang pelupa itu, dan juga mendesak kita, untuk berharap dan percaya kepada Dia. sehingga kita akan menjadi seperti pohon yang ditanam di tepi air dan bukan semak bulus. —Mart DeHaan

Ya Bapa, dengan beragam cara Engkau telah mengajarkan kami bahwa hanya Engkau yang dapat dipercaya—bahkan ketika Engkau seakan berdiam diri. Tolonglah kami hari ini untuk mengingat lagi apa yang telah Engkau tunjukkan kepada kami selama ini.

Di masa-masa bahagia, ingatlah apa yang telah kamu pelajari di masa-masa yang sulit.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 26-27; Markus 2

Artikel Terkait:

Mengapa Segalanya Harus Menjadi Begitu Sulit?

Ini adalah pertanyaan yang kita semua pernah tanyakan pada satu titik dalam hidup kita. Kita diperhadapkan pada dua pilihan besar: terus berharap atau menyerah saja.

Baca selengkapnya di dalam artikel berikut ini.

Mercusuar

Sabtu, 18 Februari 2017

Mercusuar

Baca: Yesaya 61:1-6

61:1 Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara,

61:2 untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung,

61:3 untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman TUHAN” untuk memperlihatkan keagungan-Nya.

61:4 Mereka akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan mendirikan kembali tempat-tempat yang sejak dahulu menjadi sunyi; mereka akan membaharui kota-kota yang runtuh, tempat-tempat yang telah turun-temurun menjadi sunyi.

61:5 Orang-orang luar akan melayani kamu sebagai gembala kambing dombamu, dan orang-orang asing akan bekerja bagimu sebagai petani dan tukang kebun anggurmu.

61:6 Tetapi kamu akan disebut imam TUHAN dan akan dinamai pelayan Allah kita. Kamu akan menikmati kekayaan bangsa-bangsa dan akan memegahkan diri dengan segala harta benda mereka.

[Tuhan] mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung. —Yesaya 61:3

Mercusuar

Sebuah pusat pelayanan di Rwanda bernama “Lighthouse” (Mercusuar) hadir menjadi lambang dari pemulihan. Bangunan itu berdiri di atas wilayah yang sama dengan lokasi rumah megah milik presiden yang berkuasa di Rwanda pada saat terjadinya genosida tahun 1994. Namun bangunan baru yang didirikan oleh orang-orang Kristen itu kini menjadi tempat terang dan pengharapan bersinar. Di sana terdapat sebuah sekolah Alkitab yang bertujuan untuk menghasilkan para pemimpin Kristen yang baru. Di dalamnya juga terdapat hotel, rumah makan, dan beragam pelayanan lain untuk masyarakat. Habis gelap terbitlah terang. Mereka yang membangun pelayanan tersebut berharap kepada Yesus sebagai sumber pengharapan dan penebusan sejati.

Ketika Yesus berada di sinagoge di Nazaret pada hari Sabat, Dia membaca dari kitab Yesaya dan menyatakan bahwa Dialah yang telah diurapi untuk memberitakan rahmat Tuhan (lihat Luk. 4:14-21). Dia telah datang untuk membalut luka mereka yang patah hati dan menawarkan penebusan serta pengampunan kepada manusia. Di dalam Yesus Kristus kita melihat keindahan yang muncul menggantikan abu (Yes. 61:3).

Kita melihat kekejaman genosida di Rwanda, ketika pertikaian antar suku menewaskan lebih dari lima ratus ribu nyawa. Dan saking tercengang dan ngerinya, kita pun kehilangan kata-kata untuk menggambarkannya. Namun demikian, kita tahu bahwa Tuhan sanggup memulihkan kembali segala dampak kejahatan, baik di bumi atau kelak di surga. Dia yang mengaruniakan minyak untuk pesta sebagai pengganti kain kabung juga mengaruniakan pengharapan kepada kita, bahkan di tengah situasi yang paling kelam sekalipun. —Amy Boucher Pye

Tuhan Yesus Kristus, hati kami sedih ketika mendengar tentang kepedihan dan penderitaan yang dialami orang lain. Kami berdoa, kasihanilah kami.

Yesus datang untuk memberi kita pengharapan di tengah situasi yang paling kelam sekalipun.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 23-24; Markus 1:1-22

Artikel Terkait:

Jika Allah itu Baik, Mengapa Ada Begitu Banyak Kejahatan dan Penderitaan?

Mungkin ini adalah salah satu pertanyaan yang paling membingungkan bagi orang Kristen. Namun, pernahkah kamu menanyakan hal yang sama?

Temukan jawabannya di dalam artikel berikut.

Pembangunan Kembali

Senin, 30 Januari 2017

Pembangunan Kembali

Baca: Nehemia 2:11-18

2:11 Maka tibalah aku di Yerusalem. Sesudah tiga hari aku di sana,

2:12 bangunlah aku pada malam hari bersama-sama beberapa orang saja yang menyertai aku. Aku tidak beritahukan kepada siapapun rencana yang akan kulakukan untuk Yerusalem, yang diberikan Allahku dalam hatiku. Juga tak ada lain binatang kepadaku kecuali yang kutunggangi.

2:13 Demikian pada malam hari aku keluar melalui pintu gerbang Lebak, ke jurusan mata air Ular Naga dan pintu gerbang Sampah. Aku menyelidiki dengan seksama tembok-tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya yang habis dimakan api.

2:14 Lalu aku meneruskan perjalananku ke pintu gerbang Mata Air dan ke kolam Raja. Karena binatang yang kutunggangi tidak dapat lalu di tempat itu,

2:15 aku naik ke atas melalui wadi pada malam hari dan menyelidiki dengan seksama tembok itu. Kemudian aku kembali, lalu masuk melalui pintu gerbang Lebak. Demikianlah aku pulang.

2:16 Para penguasa tidak tahu ke mana aku telah pergi dan apa yang telah kulakukan, karena sampai kini aku belum memberitahukan apa-apa kepada orang Yahudi, baik kepada para imam, maupun kepada para pemuka, kepada para penguasa dan para petugas lainnya.

2:17 Berkatalah aku kepada mereka: “Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.”

2:18 Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: “Kami siap untuk membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu.

Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela. —Nehemia 2:17

Pembangunan Kembali

Ketika Edward Klee kembali ke Berlin setelah pergi selama bertahun-tahun, kota yang ia ingat dan cintai dahulu sudah tidak ada lagi. Semuanya telah berubah drastis, begitu juga dengan dirinya. Dalam tulisannya di majalah Hemispheres, Klee mengatakan, “Pulang ke kota yang pernah kamu cintai terasa seperti untung-untungan . . . . Hasilnya bisa saja mengecewakan.” Kembali ke tempat-tempat yang pernah mengisi masa lalu kita dapat menimbulkan perasaan sedih dan kehilangan. Diri kita tidak lagi sama seperti dahulu, dan tempat yang pernah menjadi bagian penting dari hidup kita pun tidak lagi sama seperti dahulu.

Nehemia telah diasingkan dari tanah Israel selama bertahun-tahun ketika mengetahui tentang keadaan orang-orang sebangsanya yang menyedihkan dan kota Yerusalem yang hancur lebur. Nehemia mendapat izin dari Artahsasta, raja Persia, untuk pulang ke Yerusalem dan membangun kembali tembok kota itu. Setelah melakukan pengintaian di malam hari untuk memeriksa situasi di sana (Neh. 2:13-15), Nehemia berkata kepada penduduk kota, “Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela” (ay.17).

Nehemia tidak pulang untuk bernostalgia melainkan untuk membangun kembali kotanya. Itulah pelajaran yang berharga bagi kita ketika melihat kembali bagian-bagian rusak dari masa lalu kita yang perlu diperbaiki. Iman kita kepada Kristus dan kuasa-Nya akan memampukan kita untuk memandang ke depan, bergerak maju, dan membangun kembali. —David McCasland

Tuhan, terima kasih atas karya yang sedang Engkau lakukan di dalam dan melalui diriku.

Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi Allah sedang mengubah kita untuk masa depan.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 23-24; Matius 20:1-16

Artikel Terkait:

Mengapa Hubungan Ini Harus Berakhir?

Aku tidak habis pikir mengapa hubunganku dengan pacarku sampai harus berakhir. Bukankah kami sudah membuat pilihan untuk saling mencintai? Tidakkah kami hanya perlu bergantung kepada Tuhan dan semua masalah kami akan terselesaikan? Mengapa hubungan kami sampai harus berakhir?

Temukan kisah lengkapnya di dalam artikel ini.