Bahan renungan yang bisa menemani saat teduhmu dan menolongmu dalam membaca firman Tuhan.

Maksud dari Penderitaan

Rabu, 27 Oktober 2021

Baca: Ayub 42:1-9

42:1 Maka jawab Ayub kepada TUHAN:

42:2 “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

42:3 Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.

42:4 Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.

42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

42:7 Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.

42:8 Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.”

42:9 Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub.

Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. —Ayub 42:7

“Jadi, maksud kamu, belum tentu saya yang bersalah?” Perkataan wanita itu mengejutkan saya. Saya baru saja menjadi pembicara tamu di gerejanya, dan kami sedang membahas materi yang saya bagikan pagi itu. “Saya mengidap penyakit kronis,” kata wanita itu, “dan saya sudah berdoa, berpuasa, mengaku dosa, dan melakukan semua yang disuruh supaya saya bisa sembuh. Tetapi saya masih saja sakit, jadi saya pikir, ini semua pasti salah saya.”

Saya sedih mendengar pengakuannya. Setelah diberikan “rumus” rohani untuk menyelesaikan masalahnya, wanita itu menyalahkan dirinya sendiri ketika rumus tersebut tidak membuahkan hasil. Yang lebih parah, cara kaku dalam menghadapi penderitaan tersebut sudah terbantahkan sejak zaman lampau.

Sederhananya, rumus kuno ini menyatakan bahwa jika kamu mengalami penderitaan, itu pasti akibat dosa. Ketika Ayub secara tragis kehilangan ternak, anak-anak, dan kesehatannya, sahabat-sahabatnya menerapkan rumus ini kepadanya. “Siapa binasa dengan tidak bersalah?” kata Elifas yang mencurigai Ayub telah berdosa (Ayb. 4:7). Bildad bahkan mengatakan bahwa anak-anak Ayub mati karena mereka berbuat dosa (8:4). Tanpa mempedulikan alasan sesungguhnya dari malapetaka yang menimpa Ayub (1:6–2:10), mereka menyiksa Ayub dengan melontarkan berbagai alasan sepele atas penderitaan yang dialaminya. Belakangan, mereka semua ditegur oleh Allah (42:7).

Penderitaan merupakan bagian dari hidup di tengah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Seperti Ayub, tragedi dapat terjadi karena alasan-alasan yang mungkin tidak akan pernah kita ketahui. Akan tetapi, Allah mempunyai maksud ilahi bagi kamu, suatu maksud yang melampaui penderitaan yang sedang kamu alami. Janganlah kamu berkecil hati dengan mempercayai rumus-rumus yang menyepelekan masalah. —Sheridan Voysey

WAWASAN
Setelah bertemu muka dengan Allah, Ayub merasa kemarahannya reda dan semua pertanyaannya pupus, dan ia bahkan menggambarkan dirinya bertobat “dalam debu dan abu” (Ayub 42:6). Namun Allah tidak menegur Ayub atas pertanyaan-pertanyaannya dan bahkan menyatakan bahwa di dalam kesedihan dan sakitnya ia lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan sahabat-sahabatnya. Karena mereka tergesa-gesa membela apa yang mereka lihat sebagai serangan terhadap Allah, sahabat-sahabat Ayub berbicara dengan congkak dan tanpa bela rasa. Mereka lebih suka menyalahkan Ayub atas penderitaannya daripada mempertanyakan pendapat mereka tentang Allah, seperti Allah selalu melindungi orang benar dari kesengsaraan. Ironisnya, karena mereka terlalu terburu-buru membela-Nya, mereka “tidak berkata benar tentang [Allah]” sedangkan Ayub telah berkata jujur (ay. 7). Perkenanan Allah atas Ayub menyatakan bahwa Allah tidak ingin kita memendam penderitaan, kemarahan, dan pertanyaan-pertanyaan sulit kita, tetapi Dia sangat menghargai hubungan yang jujur dan tulus dengan-Nya. —Monica La Rose

Maksud dari Penderitaan

Pernahkah kamu melihat rumus “penderitaan = dosa” ini digunakan untuk menjelaskan pergumulan seseorang? Menurut kamu, mengapa pandangan ini masih banyak dipercaya?

Ya Tabib Agung, berikanlah kepadaku kata-kata yang menyembuhkan, bukan menyakiti orang lain dalam kesulitan yang mereka hadapi.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 12–14; 2 Timotius 1

Dikuduskan

Selasa, 26 Oktober 2021

Baca: Roma 1:1-6

1:1 Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.

1:2 Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci,

1:3 tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud,

1:4 dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.

1:5 Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.

1:6 Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus.

Paulus . . . dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. —Roma 1:1

Taksi roda tiga di Sri Lanka, yang disebut “tuk tuk,” merupakan moda transportasi yang praktis dan menyenangkan bagi banyak orang. Lorraine, seorang warga Kolombo, ibukota Sri Lanka, menyadari bahwa kendaraan tersebut juga merupakan ladang misi. Suatu hari ketika ia naik tuk tuk, Lorraine bertemu dengan pengemudi yang ramah dan senang mengobrol tentang agama. Lorraine pun mengingatkan dirinya sendiri, lain kali ia akan membagikan Injil kepada pengemudi tersebut.

Kitab Roma dimulai dengan pernyataan Paulus bahwa dirinya “dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah” (Rm. 1:1). Kata Yunani untuk “Injil” adalah euangelion, yang berarti “kabar baik.” Pada intinya, Paulus mengatakan bahwa tujuan utama hidupnya adalah untuk memberitakan kabar baik Allah.

Apakah kabar baik ini? Roma 1:3 menyatakan bahwa Injil Allah adalah “tentang Anak-Nya.” Kabar baik itu ialah Yesus! Allah sendiri yang mau mengabarkan kepada dunia bahwa Yesus telah datang untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut, dan Dia telah memilih kita untuk menjadi moda komunikasi untuk menyampaikan kabar tersebut. Sungguh mengharukan, Allah mau memakai kita!

Membagikan kabar baik adalah hak istimewa yang diberikan kepada semua orang percaya. Kita telah “menerima kasih karunia” untuk menuntun orang-orang supaya percaya kepada Yesus Kristus (ay.5-6). Allah telah menguduskan kita untuk membawa kabar sukacita Injil kepada mereka yang ada di sekitar kita, saat berada di atas tuk tuk atau di mana saja. Seperti Lorraine, kiranya kita mencari kesempatan dalam hidup kita sehari-hari untuk mengabarkan kabar baik tentang Yesus Kristus kepada orang lain. —Asiri Fernando

WAWASAN
Paulus menulis kepada gereja di Roma ketika ia tinggal di Korintus selama tiga bulan di akhir perjalanan misinya yang ketiga (Kisah Para Rasul 20:2-3). Memberitahukan mereka tentang rencana kunjungannya dan meminta dukungan untuk pekerjaannya di masa mendatang di Spanyol (Roma 1:10-13, 15; 15:23-24, 28-29), ia menerangkan dasar teologi Injil (pasal 1-8). Dalam pasal 1-3, Paulus menyatakan bahwa seluruh umat manusia adalah orang-orang berdosa, dan mengakhirinya dengan mengatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (3:23). Kita tidak diselamatkan karena menuruti hukum Taurat, tetapi oleh tindakan Allah yang membenarkan kita melalui iman kepada Yesus (1:16-17; 3:22-26). Kita dibenarkan (dinyatakan benar dan dibenarkan dengan Allah) hanya oleh kasih karunia (sola gratia), hanya oleh iman (sola fide), dan hanya dalam Kristus (solus Christus). —K.T. Sim

Dikuduskan

Hambatan apa saja yang kamu temui saat membagikan iman kamu? Talenta atau minat apa yang dapat kamu pakai untuk menyampaikan kabar baik?

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau menjadikanku moda komunikasi untuk memberitakan kabar baik-Mu. Kiranya Roh-Mu yang kudus memberiku keberanian dan kasih untuk bercerita tentang Engkau hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 9–11; 1 Timotius 6

Ujian

Senin, 25 Oktober 2021

Baca: Kejadian 22:1-3,6-12

22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”

22:8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

Beberapa waktu kemudian Allah menguji kesetiaan Abraham. —Kejadian 22:1 BIS

Pertama kalinya saya membawa anak-anak lelaki saya mendaki Colorado Fourteener—gunung dengan ketinggian kurang lebih 14.000 kaki (4.267 m)—mereka merasa gugup. Mampukah mereka mendakinya? Mampukah mereka menerima tantangan ini? Anak bungsu saya berhenti beberapa kali di jalur pendakian untuk beristirahat. “Ayah, aku tidak sanggup lagi,” katanya berulang kali. Namun, saya yakin ujian ini baik bagi mereka, dan saya ingin mereka percaya kepada saya. Satu setengah kilometer sebelum tiba di puncak, anak saya, yang tadinya bersikeras menyatakan bahwa ia sudah tidak sanggup lagi, tiba-tiba kembali mendapat suntikan tenaga dan mendahului kami sampai ke puncak. Ia sangat senang telah mempercayai saya, bahkan di tengah rasa takutnya.

Saya kagum melihat sikap percaya Ishak kepada ayahnya dalam perjalanan mereka mendaki gunung Moria. Terlebih lagi, saya sungguh heran melihat kepercayaan Abraham kepada Allah saat ia mengangkat pisau untuk menyembelih anaknya (Kej. 22:10). Meskipun hatinya bingung dan pilu, Abraham tetap taat. Syukurlah, seorang malaikat menghentikannya. “Jangan bunuh anak itu,” kata utusan Allah itu. Allah tidak pernah menghendaki Ishak mati.

Ketika kita mengambil pelajaran dari kisah unik ini bagi hidup kita, penting untuk melakukannya dengan hati-hati dan memperhatikan kalimat pembukanya: “Allah menguji kesetiaan Abraham” (ay.1 BIS). Melalui ujian yang harus dilewatinya, Abraham mengetahui betapa besar kepercayaannya kepada Allah. Ia menyadari hati-Nya yang penuh kasih serta pemeliharaan-Nya yang sempurna. 

Dalam kebingungan, kekelaman, dan ujian hidup yang kita alami, kita mempelajari kebenaran tentang diri kita dan tentang Allah. Kita mungkin akan mengetahui bahwa ujian yang kita alami membawa kita semakin percaya kepada-Nya. —Winn Collier

WAWASAN
Kejadian 22:1, 15-18 jelas menyatakan bahwa Allah menguji Abraham untuk memeriksa hatinya. Meski Allah dapat menguji iman dan kepatuhan kita (Yakobus 1:2-4), Dia tidak pernah mencobai agar supaya kita melakukan kesalahan (ay. 13). Penulis Ibrani memuji iman kuat dari kepala keluarga itu: “Abraham yakin bahwa Allah sanggup menghidupkan kembali Ishak dari kematian–jadi, boleh dikatakan, Abraham sudah menerima kembali Ishak dari kematian” (Ibrani 11:19 BIS). Rasul Yakobus berkata bahwa “Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah … oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yakobus 2:21-22). —K.T. Sim

Ujian

Pernahkah kamu diuji oleh Allah? Bagaimana rasanya menjalani pengalaman itu, dan pelajaran apa yang kamu petik darinya?

Ya Allah, aku tidak tahu apakah yang kualami saat ini merupakan ujian dari-Mu atau bukan, tetapi apa pun itu, aku ingin mempercayai-Mu. Kuserahkan masa depanku kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 6–8; 1 Timotius 5

Bicara, Percaya, Merasa

Minggu, 24 Oktober 2021

Baca: Roma 8:14-21

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.

8:20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya,

8:21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi. —Roma 8:15

“Jangan bicara, jangan percaya, jangan merasa adalah aturan yang harus kami taati, dan celakalah orang yang melanggarnya,” kata Frederick Buechner dalam memoarnya yang luar biasa, Telling Secrets. Buechner sedang menerangkan pengalaman pribadinya tentang apa yang disebutnya sebagai “aturan tak tertulis dalam keluarga yang karena satu dan lain hal menjadi kacau balau.” Dalam keluarganya sendiri, “aturan” seperti itu membuat Buechner tidak boleh membicarakan atau menangisi ayahnya yang meninggal karena bunuh diri, sehingga tidak ada seorang pun yang menjadi tempat baginya berbagi derita.

Apakah kamu mengalami hal serupa? Banyak di antara kita telah menjalani hidup dengan meyakini suatu kasih yang menyimpang, yaitu kasih yang menuntut kita untuk bersikap tidak jujur terhadap perasaan kita sendiri atau mendiamkan saja apa yang melukai kita. Jenis “kasih” seperti itu memanfaatkan rasa takut untuk mengendalikan kita—dan merupakan sejenis perbudakan. 

Kita tidak boleh melupakan betapa jauh berbedanya ajakan Yesus untuk mengasihi dengan kasih bersyarat yang sering kita alami. Kita sering ragu kasih ilahi itu akan selalu tersedia bagi kita. Akan tetapi, Rasul Paulus menjelaskan, hanya oleh kasih Kristus, akhirnya kita dapat memahami seperti apa hidup tanpa ketakutan (Rm. 8:15) dan mulai mengerti tentang kemerdekaan mulia (ay.21) yang dapat kita alami ketika kita yakin kita sangat dan sungguh-sungguh dikasihi apa adanya. Kita pun kembali bebas berbicara, percaya, dan merasa—belajar untuk hidup tanpa rasa takut.  —Monica La Rose

WAWASAN
Roma 7 berurusan dengan konflik yang kita hadapi dengan dosa dan diakhiri oleh Paulus yang mengatakan, “Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa” (ay. 26). Kontrasnya, Roma 8 mulai dengan keteguhan yang luar biasa: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus (ay. 1). Orang-orang yang percaya kepada Yesus sekarang bebas bersukacita menjalani hidup yang penuh kemenangan yang ditemukan ketika mengikut Dia. Ayat 5 memberikan kuncinya: “Mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” Karya Roh Kudus di dalam hidup kita sangat krusial. Demikianlah ayat 14 dengan tepat menyatakan, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Roh Kuduslah yang “bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (ay. 16). —Tim Gustafson

Bicara, Percaya, Merasa

Adakah “aturan-aturan” tidak tertulis yang kamu terima sebagai syarat supaya kamu diterima dan dikasihi? Apa yang berbeda dari hidup kamu jika kamu yakin tidak perlu mengikuti aturan-aturan tersebut supaya kamu dikasihi? 

Allah yang penuh kasih, terkadang aku takut bersikap jujur kepada diriku sendiri dan orang lain—karena aku mengira dengan begitu aku tidak akan dikasihi lagi. Pulihkanlah hatiku, dan tolonglah aku untuk mempercayai dan menghidupi kemuliaan, kemerdekaan, dan sukacita yang dapat kunikmati hanya oleh kasih-Mu.  

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 3–5; 1 Timotius 4

Kristen yang Bijak

Sabtu, 23 Oktober 2021

Baca: Lukas 16:1-9

16:1 Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.

16:2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.

16:3 Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.

16:4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.

16:5 Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku?

16:6 Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan.

16:7 Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.

16:8 Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

16:9 Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. —Lukas 16:8

Pandemi yang disebabkan oleh virus Corona membuat sekolah-sekolah di seluruh dunia ditutup. Di Tiongkok, para guru menanggapi kondisi tersebut dengan menggunakan DingTalk, sebuah aplikasi digital yang memungkinkan kelas diadakan secara daring. Namun, para murid mengetahui bahwa jika peringkat DingTalk di App Store (platform penyedia aplikasi ponsel) dinilai rendah, besar kemungkinan aplikasi tersebut akan dihapus. Dalam satu malam saja, ribuan murid yang menolak untuk belajar ramai-ramai memberikan penilaian satu bintang yang membuat peringkat DingTalk anjlok. 

Tuhan Yesus pasti tidak terkesan dengan para murid yang melalaikan tanggung jawab mereka itu. Namun, bisa jadi Dia mengagumi kecerdikan mereka. Dia pernah menceritakan sebuah perumpamaan yang tidak lazim tentang seorang bendahara yang dipecat. Pada hari terakhirnya bekerja, ia berhasil memangkas tagihan orang-orang yang berutang kepada tuannya. Yang dipuji Yesus bukanlah perilakunya yang tidak jujur, melainkan kecerdikannya. Dia mengharapkan para pengikut-Nya juga sama cerdiknya: “Kata-Nya, “Dengarlah! Pakailah kekayaan dunia ini untuk mendapat kawan, supaya apabila kekayaan dunia ini sudah tidak berharga lagi, kalian akan diterima di tempat tinggal yang abadi” (Luk. 16:9 BIS). 

Kebanyakan orang berpikir berapa banyak uang yang bisa dihabiskan, sementara orang bijak memikirkan bagaimana uang itu dapat digunakan. Yesus berkata, memberi kepada orang lain akan membuat kita “mendapat kawan”, yang berarti mendapat perlindungan dan pengaruh. Siapakah yang menjadi pemimpin dalam suatu kelompok? Orang yang mendanai dan membayari. Memberi juga membuat kita memperoleh “tempat tinggal yang abadi,” karena kerelaan kita kehilangan uang menunjukkan kepercayaan kita kepada Yesus.  

Walaupun tidak mempunyai uang, kita tetap memiliki waktu, keterampilan, atau telinga yang siap mendengar. Mari minta kepada Allah untuk menunjukkan bagaimana kita bisa melayani orang lain secara kreatif demi Yesus.  —Mike Wittmer

WAWASAN
Tokoh utama dalam kisah yang diceritakan Yesus dalam Lukas 16:1-8 disebut sebagai “bendahara.” Kata yang diterjemahkan sebagai “bendahara” adalah oikonómos. Orang dengan jabatan itu bertanggung jawab terhadap masalah rumah tangga (termasuk keuangan, hamba, anak-anak, peliharaan, dan padang rumput). Meski terjemahannya mungkin tidak menyatakan hal itu, kata-kata yang terbentuk dari akar kata itu muncul sepuluh kali dalam perikop ini, termasuk yang diterjemahkan sebagai “jabatanku” dalam ayat 3 dan 4. Dalam 1 Korintus 4:1-2 dan Titus 1:7, Paulus menggunakan kata oikonómos untuk merujuk kepada pemimpin Kristen. Petrus menggunakan istilah itu untuk merujuk kepada orang percaya secara umum (1 Petrus 4:10). Setiap orang telah dipercayakan karunia dan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah. Memakai karunia dan tanggung jawab itu dengan bijak adalah penatalayanan yang baik. —Arthur Jackson

Kristen yang Bijak

Siapa yang Tuhan Yesus ingin kamu layani hari ini? Bagaimana kamu dapat secara kreatif menggunakan keterampilan, uang, atau waktu kamu untuk memberkati orang tersebut? 

Tuhan Yesus, aku mau memberi kepada orang lain demi Engkau. 

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1–2; 1 Timotius 3

Hidup untuk Melayani 

Jumat, 22 Oktober 2021

Baca: 1 Petrus 4:8-11

4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

4:9 Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.

4:10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.

4:11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. —1 Petrus 4:10

Setelah Chelsea, 10, menerima seperangkat alat lukis lengkap, ia menyadari bahwa Allah menggunakan seni untuk menghiburnya saat ia sedang merasa sedih. Ketika tahu ada sebagian anak yang tidak memiliki peralatan lukis, ia ingin membantu mereka. Jadi, saat ia berulang tahun, Chelsea meminta teman-temannya untuk tidak memberinya hadiah. Sebaliknya, ia mengajak mereka menyumbangkan peralatan lukis dan membantunya mengepak hadiah untuk anak-anak yang membutuhkan tersebut. 

Di kemudian hari, dengan bantuan keluarganya, ia mendirikan Dompet Amal Chelsea. Ia meminta lebih banyak orang untuk mendukungnya supaya lebih banyak anak-anak yang terbantu. Ia juga mengajarkan cara-cara melukis kepada kelompok-kelompok yang telah menerima hadiah darinya. Setelah Chelsea diwawancarai stasiun berita lokal, orang-orang dari seluruh penjuru negeri ikut mendukung dan menyumbangkan peralatan lukis. Lewat kegiatan sosialnya yang telah menjangkau berbagai penjuru dunia, gadis kecil itu menunjukkan bagaimana Allah dapat memakai kita ketika kita bersedia melayani orang lain.

Belas kasihan dan kerelaan Chelsea untuk berbagi mencerminkan hati seorang hamba yang setia. Rasul Petrus mendorong semua orang percaya untuk menjadi pengurus yang baik dan setia, “[mengasihi] sungguh-sungguh seorang akan yang lain” dengan membagikan berkat dan talenta yang telah mereka terima dari Allah (1Ptr. 4:8–11).

Perbuatan kasih kita yang sederhana dapat mengilhami orang lain untuk ikut memberi. Allah juga dapat mendatangkan banyak orang untuk melayani bersama kita. Dengan bersandar kepada Allah, kita dapat hidup untuk melayani dan memberi-Nya kemuliaan yang layak Dia terima. —Xochitl Dixon

WAWASAN
Menulis kepada para pengikut Yesus yang menderita karena penganiayaan (1 Petrus 4:12-16), Petrus mengatakan kepada mereka agar jangan takut, tetapi tetap setia, “kuduskan[lah] Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” (3:14-15), dan hidup dengan cara memuliakan Allah di tengah-tengah bangsa yang bermusuhan dan tidak percaya (2:11-12). Dalam perikop hari ini (4:8-11), ia mendorong orang-orang percaya untuk mengasihi dengan “sungguh-sungguh seorang akan yang lain” (ay. 8), yang ditunjukkan dengan cara saling mengampuni, memberi tumpangan (ay. 9), dan tanpa pamrih melayani seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh (ay. 10). Orang-orang percaya tidak boleh memakai karunia mereka untuk kepentingan diri sendiri, tetapi harus menjadi “pengurus yang baik dari kasih karunia Allah”; kita harus memakainya dengan penuh tanggung jawab untuk mengajarkan orang-orang lain dan memuliakan Allah (ay. 11). Di bagian lain, Rasul Paulus merinci beberapa karunia rohani dan bagaimana mempergunakannya (Roma 12:3-8; 1 Korintus 12:4-31; Efesus 4:11-16). —K.T. Sim

Hidup untuk Melayani 

Bagaimana kamu dapat bergantung pada Allah untuk menolong kamu melayani orang lain hari ini? Bagaimana cara Allah meyakinkan kamu untuk melayani Dia lewat cara-cara yang rasanya terlalu sulit untuk kamu lakukan seorang diri?

Bapa yang setia, sudilah memberikan segala yang kubutuhkan untuk melayani-Mu agar aku dapat mengasihi sesamaku lewat perkataan dan perbuatanku hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 65–66; 1 Timotius 2

Mempelajari Kitab Suci

Kamis, 21 Oktober 2021

Baca: Yohanes 5:39-47

5:39 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,

5:40 namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

5:41 Aku tidak memerlukan hormat dari manusia.

5:42 Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah.

5:43 Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia.

5:44 Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?

5:45 Jangan kamu menyangka, bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa, yaitu Musa, yang kepadanya kamu menaruh pengharapanmu.

5:46 Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku.

5:47 Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?”

[Yesus berkata], “Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku.” —Yohanes 5:39

Dalam karya klasik Knowing God (Mengenal Allah), J. I. Packer (1926–2020) berbicara tentang empat orang percaya terkenal yang ia juluki sebagai “berang-berang Alkitab.” Tidak semua dari mereka merupakan sarjana teologi, tetapi masing-masing berusaha sungguh-sungguh mengenal Allah dengan cara “menggerogoti” Alkitab, seperti berang-berang mengorek dan menggerogoti batang pohon. Packer menyatakan bahwa upaya mengenal Allah melalui pembelajaran Alkitab tidak hanya untuk para ahli teologi. “Seorang biasa yang rajin membaca Alkitab dan tekun mendengarkan khotbah serta dipenuhi oleh Roh Kudus dapat memiliki pengenalan yang jauh lebih mendalam akan Allah dan Juruselamatnya daripada seorang sarjana berpendidikan yang sudah cukup puas dengan kebenaran teologinya.”

Sayangnya, tidak semua orang yang mempelajari Alkitab melakukannya dengan kerendahan hati dan bertujuan untuk lebih mengenal Sang Juruselamat serta bertumbuh semakin menyerupai Dia. Semasa Yesus hidup, ada sebagian orang yang membaca kitab-kitab dari Perjanjian Lama, tetapi justru mengabaikan Pribadi yang dibicarakan di dalamnya. Yesus berkata, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yoh. 5:39-40).

Apakah terkadang kamu merasa kebingungan ketika membaca Alkitab? Atau kamu sudah tidak mempelajari Alkitab sama sekali? Menjadi “berang-berang” Alkitab berarti menjadi lebih dari sekadar pembaca. Dengan sungguh-sungguh dan hati-hati mereka “menggerogoti” Alkitab sampai mata hati mereka terbuka untuk melihat dan mengasihi Tuhan Yesus—Pribadi yang disaksikan oleh Kitab Suci tersebut.   —ARTHUR JACKSON

WAWASAN
Dalam Yohanes 5:39, Yesus menekankan pentingnya mempelajari Kitab Suci, karena hal itu mengarah kepada-Nya. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menyatakan dampak Kitab Suci. Dalam 2 Timotius 3, Paulus menyemangati Timotius untuk terus mempelajari Kitab Suci, dan ia mencatat bahwa “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah” dan melatih serta memperlengkapi kita bagi pertumbuhan pribadi dalam kekudusan dan melayani sesama (ay. 16-17). Sebelum Yosua ditetapkan sebagai pemimpin bangsa Israel yang baru, Allah mendesaknya untuk merenungkan Hukum Taurat siang dan malam, agar ia patuh dan berhasil (Yosua 1:8). Dalam Mazmur 19, Daud menyatakan bahwa firman Allah menyegarkan jiwa, menyukakan hati, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman, dan menyukakan hati dan membuat mata bercahaya. Dengan demikian kita diperingatkan dan mendapat upah yang besar (ay.8-12). Dengan menyimpan dan memegang Kitab Suci, kita diberkati, dan Allah membuat jalan kita tanpa halangan (Mazmur 119:1-3, 105; Amsal 2:1-5). —Alyson Kieda

Mempelajari Kitab Suci

Ayat-ayat mana dalam Perjanjian Lama yang kamu tahu memberi kesaksian tentang Yesus? Apa saja kebiasaan yang perlu kamu kembangkan untuk mempelajari Alkitab dengan lebih baik? 

Bapa, bukalah mataku untuk melihat Yesus dalam seluruh Kitab Suci, supaya aku dapat mengasihi, menaati, dan melayani Dia lebih lagi. 

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 62–64; 1 Timotius 1

Hancur dari Dalam

Rabu, 20 Oktober 2021

Baca: Mazmur 32:1-5; Matius 7:1-5

32:1 Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!

32:2 Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!

32:3 Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari;

32:4 sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela

32:5 Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela

7:1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.

7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

 

Aku berkata: “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. —Mazmur 32:5

Ketika saya masih remaja, ibu saya sempat melukis sebuah mural pada dinding ruang tamu rumah kami dan lukisan itu bertahan selama beberapa tahun. Gambarnya menunjukkan pemandangan kuil Yunani kuno yang sudah runtuh, lengkap dengan tiang-tiang penyangga berwarna putih yang ambruk di sekitarnya, air mancur yang tumbang, dan patung yang rusak. Saat saya memandangi gambar bangunan ala Yunani yang pernah menjulang indah nan megah tersebut, saya berusaha membayangkan apa yang kira-kira menyebabkan semua kehancuran itu. Saya penasaran, terutama ketika saya mulai mempelajari tragedi dari suatu peradaban yang pernah jaya dan berkembang pesat, tetapi yang kemudian rusak dan hancur dari dalam.

Kerusakan yang diakibatkan dosa dan kejahatan yang kita lihat di dalam dunia hari ini memang sangat menggelisahkan. Kita cenderung menjelaskan bahwa semua itu terjadi karena penolakan manusia dan bangsa-bangsa terhadap Allah. Namun, tidakkah seharusnya kita melihat ke dalam diri kita sendiri juga? Kitab Suci memperingatkan kita tentang bahaya menjadi seorang munafik apabila kita mendesak orang lain bertobat dari dosa-dosa mereka tanpa kita sendiri melihat kebobrokan hati kita sendiri (Mat. 7:1-5).

Mazmur 32 menantang kita untuk melihat dan mengakui dosa kita sendiri. Ketika kita mengenali dan mengakui dosa-dosa dalam diri, barulah kita dapat mengalami kebebasan dari rasa bersalah dan sukacita dari pertobatan yang sejati (ay.1-5). Kemudian, ketika kita bersukacita karena mengetahui Allah memberikan kepada kita pengampunan yang seutuhnya, kita dapat membagikan pengharapan tersebut kepada orang lain yang juga sedang bergumul melawan dosa. —CINDY HESS KASPER

WAWASAN
Seperti yang disebutkan dalam Mazmur 32, pengakuan dosa dapat membebaskan kita. Daud menjelaskan bahwa dosa yang tidak ia akui berdampak pada fisiknya: “tulang-tulangku menjadi lesu” (ay. 3); “tenagaku habis seperti diserap terik matahari” (ay. 4 BIS). Di zaman itu, banyak orang percaya bahwa sakit fisik, masalah dan penyakit selalu akibat dosa. Meski hal itu tidak demikian, kita tahu bahwa keadaan mental dan emosi kita dapat berdampak kepada kesehatan fisik kita. Tiga kata yang berarti dosa dalam Mazmur ini adalah salah (ketidakpatuhan), dosa (tidak melakukan yang seharusnya dilakukan), dan kejahatan (karakter yang menyimpang) dilawan dengan tiga ungkapan pengampunan: diampuni, ditudungkan, dan tidak ditanggungkan. Ketika kita mengakui dosa-dosa kita, kita diampuni dan beban emosi rasa bersalah kita diangkat. —Julie Schwab

Hancur dari Dalam
 

Apa langkah pertama yang perlu ditempuh untuk mengenali dosa dalam hidup kamu? Mengapa sangat penting mengakui dosa-dosa kamu kepada Allah?

Allah Bapa, terima kasih atas anugerah pengampunan-Mu yang menghapuskan kesalahan karena dosaku. Tolonglah aku untuk terlebih dahulu memeriksa hatiku sendiri sebelum mengurusi dosa orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 59–61; 2 Tesalonika 3

Saatnya Berkorban

Selasa, 19 Oktober 2021

Baca: Galatia 5:22-26

5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

5:26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. —Galatia 5:22-23

Pada Februari 2020, ketika krisis COVID-19 baru mulai merebak, saya tertegun membaca tulisan seorang kolumnis surat kabar. Penulis itu ingin tahu, apakah kita bersedia mengisolasi diri, mengubah kebiasaan dalam bekerja, bepergian, dan berbelanja agar orang lain tidak tertular dan menjadi sakit? ”Yang diuji di sini tidak hanya sumber daya kesehatan masyarakat,” tulisnya, “tetapi juga kerelaan diri kita untuk mendahulukan orang lain.” Tiba-tiba saja, kebajikan menjadi kebutuhan yang dicari di mana-mana. 

Memang tidak mudah memperhatikan kebutuhan dan kepentingan orang lain di saat kita sendiri cemas memikirkan keadaan diri sendiri. Syukurlah, kita tidak hanya bermodalkan tekad dalam upaya memenuhi kebutuhan sesama. Kita dapat meminta Roh Kudus untuk memberikan kepada kita kasih sebagai ganti ketidakpedulian, sukacita untuk melawan kesedihan, damai sejahtera untuk mengusir kecemasan, kesabaran untuk menghalau sikap terburu-buru, kemurahan untuk mempedulikan orang lain, kebaikan agar dapat mengenali kebutuhan orang lain, kesetiaan untuk menepati janji, kelemahlembutan menggantikan sikap kasar, serta penguasaan diri untuk mengalihkan fokus kita dari diri sendiri (Gal. 5:22-23). Walaupun kita tidak akan sempurna melakukan itu semua, kita dipanggil untuk terus-menerus mengejar karunia kebajikan dari Roh Kudus (Ef. 5:18).

Penulis Richard Foster menggambarkan kekudusan sebagai kesanggupan untuk melakukan apa yang perlu dilakukan pada saat diperlukan. Kekudusan itu kita perlukan setiap hari, tidak hanya pada masa pandemi. Apakah kita memiliki kapasitas untuk berkorban demi kepentingan orang lain? Roh Kudus, penuhilah kami dengan kuasa untuk melakukan apa yang perlu dilakukan. —SHERIDAN VOYSEY

WAWASAN
Kitab Galatia dengan tepat disebut sebagai karya yang “pendek dan berapi-api”. Nada dan kata yang dipilih oleh Paulus sesuai dengan seriusnya kesalahan yang dilakukan oleh jemaat di Galatia (suatu daerah di Asia Kecil di mana Paulus berkhotbah dan mendirikan jemaat-jemaat). Apa saja yang harus diperbaiki? Guru-guru palsu mengkhotbahkan injil palsu yang mewajibkan dipenuhinya tuntutan Hukum Taurat Musa sebagai syarat pengampunan dosa selain kepercayaan kepada Yesus. Padahal, bukan saja kita sudah dibenarkan— dibenarkan dengan Allah—oleh iman dalam Kristus semata (Galatia 2:15-21), tetapi orang percaya semakin menyerupai Dia (dikuduskan) dengan cara yang sama—yaitu oleh iman, bukan karena menaati hukum Taurat (5:1-11). Dengan Roh Kudus Allah, orang percaya dimampukan untuk hidup secara saleh, termasuk mengasihi sesama seperti diri sendiri (ay. 13-26). —Arthur Jackson

Saatnya Berkorban

Pernahkah kamu berkorban demi kepentingan orang lain? Apa saja kebutuhan di sekitar kamu yang membutuhkan hadirnya buah Roh Kudus dalam diri kamu hari ini?  

Ya Roh Kudus, penuhilah aku kembali hari ini dan jadikanlah aku pribadi yang melimpah dengan kebajikan.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 56–58; 2 Tesalonika 2