Bahan renungan yang bisa menemani saat teduhmu dan menolongmu dalam membaca firman Tuhan.

Siapa Nama Anda?

Sabtu, 4 Februari 2023

Baca: Rut 1:3-8,15-21 

1:3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya.

1:4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya.

1:5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.

1:6 Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.

1:7 Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda,

1:8 berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: “Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku;

1:15 Berkatalah Naomi: “Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu.”

1:16 Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;

1:17 di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!”

1:18 Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya.

1:19 Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: “Naomikah itu?”

1:20 Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.

1:21 Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.”

Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. [ ] —Rut 1:20

Setelah suaminya meninggal dunia, Jen menikah lagi. Anak-anak suaminya yang baru tidak pernah menerimanya. Sekarang setelah suami keduanya itu juga meninggal dunia, anak-anaknya makin membenci Jen karena ia masih tinggal di rumah masa kecil mereka. Suami Jen tidak meninggalkan banyak warisan untuknya, tetapi anak-anaknya menuduh Jen telah mencuri warisan mereka. Dapat dimengerti jika situasi ini membuat Jen putus asa dan merasakan kepahitan. 

Dalam Alkitab diceritakan bahwa suami Naomi membawa keluarganya pindah ke Moab, lalu ia serta kedua anak lelakinya meninggal di sana. Bertahun-tahun kemudian, Naomi kembali ke Betlehem dengan tangan kosong, dan hanya bersama Rut, menantunya. Kota kecil itu menjadi gempar dan penduduknya bertanya-tanya, “Naomikah itu?” (Rut 1:19). Naomi menyatakan bahwa mereka tidak lagi patut menyebutnya dengan nama itu, yang berarti “menyenangkan”. Sebaliknya, ia sepatutnya dipanggil “Mara”, yang artinya “pahit”, karena “dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku” (ay.20-21). 

Mungkinkah kamu juga merasa seharusnya kamu menyandang nama “pahit”? Bisa jadi kamu telah dikecewakan teman, ditentang oleh keluarga, atau mengalami kemerosotan dalam kesehatan. kamu merasa berhak mendapat yang lebih baik, tetapi hal itu tidak terjadi. Karena itu, sekarang kamu merasa pahit. 

Naomi kembali ke Betlehem dengan perasaan pahit, tetapi ia tetap pulang kembali. kamu juga bisa “pulang kembali”. Kembalilah kepada Yesus, keturunan Rut, yang lahir di Betlehem. Temukanlah kelegaan dalam kasih-Nya. 

Pada waktunya, Allah mengganti kepahitan Naomi dengan sukacita, karena rencana Allah yang sempurna terwujud dalam hidupnya (4:13-22). Allah juga sanggup mengganti kepahitan kamu. Datanglah kepada-Nya. —Mike Wittmer

WAWASAN
Kisah Rut, yang merupakan nenek moyang Daud, raja terbesar Israel (Rut 4:18-22), diawali dengan kakek buyut Elimelekh yang memindahkan keluarganya ke Moab untuk menghindari kelaparan (1:1-2). Elimelekh hidup “pada zaman para hakim memerintah” (ay.1). Meski tidak dijelaskan persis waktunya, tetapi yang pasti berada dalam periode tiga ratus tahun (sekitar 1380–1050 SM) antara kematian Yosua (Yosua 24:29) dan awal pemerintahan Saul sebagai raja (1 Samuel 13:1). Itulah masa yang marak dengan ketidakstabilan politik, kemerosotan moral, dan penyembahan berhala rohani (Hakim-Hakim 2:10-13; 3:5-6), masa ketika “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (17:6; 21:25). —K.T. Sim

Siapa Nama Anda?

Nama apa yang menggambarkan situasi kamu? Apa artinya bagi kamu menghayati nama yang menggambarkan diri kamu sekarang dalam Yesus?

Bapa, aku kembali untuk menemukan kelegaanku dalam Putra-Mu. 

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 34-35; Matius 22:23-46

Kita adalah Orang Asing

Jumat, 3 Februari 2023

Baca: Imamat 19:32-37

19:32 Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.

19:33 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia.

19:34 Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.

19:35 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan, mengenai ukuran, timbangan dan sukatan.

19:36 Neraca yang betul, batu timbangan yang betul, efa yang betul dan hin yang betul haruslah kamu pakai; Akulah TUHAN, Allahmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir.

19:37 Demikianlah kamu harus berpegang pada segala ketetapan-Ku dan segala peraturan-Ku serta melakukan semuanya itu; Akulah TUHAN.”

Perlakukanlah [orang asing yang tinggal di negerimu] seperti kamu memperlakukan orang-orang sebangsamu. [ ] —Imamat 19:34 BIS

Bagi keluarga pendatang itu, segala sesuatu terasa sangat berbeda di negara mereka yang baru—bahasa, sekolah, kebiasaan, lalu lintas, dan cuaca. Mereka bahkan tidak yakin akan bisa beradaptasi. Namun, beberapa anggota jemaat dari gereja dekat tempat tinggal mereka bersepakat untuk datang dan membantu mereka menjalani kehidupan yang baru. Suatu hari, Patti mengajak pasangan tersebut berbelanja di pasar lokal untuk menunjukkan apa saja yang tersedia dan cara membelinya. Ketika sedang berkeliling pasar, mereka terbelalak dan tersenyum lebar melihat buah favorit yang berasal dari tanah air mereka—delima. Mereka membeli buah itu untuk masing-masing anak mereka, bahkan memberikan sebiji untuk Patti sebagai ucapan terima kasih. Buah kecil dan teman-teman baru itu telah memberikan mereka rasa nyaman di negeri asing yang kini mereka diami.

Melalui Musa, Allah memberikan daftar hukum bagi umat-Nya, termasuk perintah untuk memperlakukan orang asing di antara mereka sebagai “orang-orang sebangsamu” (Im. 19:34 bis). “Cintailah mereka seperti kamu mencintai dirimu sendiri,” demikian perintah Allah. Yesus menyebutnya sebagai perintah terbesar kedua setelah mengasihi Allah (Mat. 22:39). Itu karena Allah sendiri “melindungi orang-orang asing” (Mzm. 146:9 bis).

Selain menaati Allah dengan membantu teman-teman baru untuk beradaptasi dengan kehidupan di negara kita, kiranya kita juga diingatkan bahwa kita sesungguhnya adalah “orang asing dan pendatang di bumi ini” (Ibr. 11:13). Kiranya kita juga bertambah-tambah dalam kerinduan kita akan tanah air surgawi yang akan datang. —ANNE CETAS

WAWASAN
Perintah-perintah yang terdapat dalam Imamat 19 berakar pada panggilan kepada umat Allah untuk menjadi kudus seperti Allah (Imamat 19:2). Pasal ini mengungkapkan bahwa menjadi umat yang kudus—dipisahkan dan dikhususkan bagi Allah—termasuk memperhatikan keadilan bagi orang miskin dan terpinggirkan (ay.9-10,13-16,33-34). Mengupayakan keadilan adalah bentuk kasih kita kepada sesama, dan mengasihi Allah serta sesama adalah inti dari hukum Allah (Matius 22:37-40). 

Imamat 19 menekankan bahwa “sesama” yang harus dikasihi bangsa Israel itu termasuk orang asing. Mereka dipanggil untuk memperlakukan orang asing dengan adil seolah-olah mereka “orang-orang sebangsa” (ay.34 BIS). Mereka harus mengasihi orang-orang asing itu “seperti diri [mereka] sendiri, karena [mereka] juga orang asing dahulu di tanah Mesir” (ay.34). Memperlakukan orang asing dengan kasih sayang dan keadilan diperintahkan berulang kali dalam Kitab Suci, dan sering dikaitkan dengan pengalaman bangsa Israel sendiri ketika diperbudak di negeri asing (Keluaran 22:21; 23:9; Ulangan 24:17-18). —Monica La Rose

Kita adalah Orang Asing

Siapakah yang Allah ingin kamu perhatikan dan tolong saat ini? Bagaimana kamu dapat memakai karunia-karunia dari Allah untuk menyebarkan kasih-Nya kepada orang lain? 

Allah yang penuh rahmat, aku bisa mengerti bagaimana rasanya menjadi orang asing di dunia ini. Tuntunlah aku untuk menjadi penyemangat bagi orang asing dan pendatang di sekitarku.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 31-33; Matius 22:1-22

Serupa Guru Agung Kita

Kamis, 2 Februari 2023

Baca: Lukas 6:37-42

6:37 “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

6:39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?

6:40 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.

6:41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?

6:42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. [ ] —Lukas 6:40

Dalam sebuah video yang viral, seorang murid karate sabuk putih berusia tiga tahun mencoba meniru instrukturnya. Dengan penuh semangat dan keyakinan, gadis kecil itu mengucapkan kredo sebagai murid bersama sang guru. Kemudian, dengan tenang dan fokus, gadis mungil yang antusias itu menirukan semua yang dikatakan dan dilakukan gurunya dengan cukup bagus. 

Yesus pernah berkata, “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya” (Luk. 6:40). Dia memberi tahu murid-murid-Nya bahwa mereka harus meniru Dia dalam bersikap murah hati, penuh kasih, dan tidak menghakimi (ay.37-38), serta bijaksana memilih siapa yang mereka ikuti: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?” (ay.39). Murid-murid-Nya perlu memahami bahwa dengan standar tersebut, mereka tidak boleh mengikuti orang Farisi, para pemandu buta yang membawa orang kepada kejatuhan (Mat. 15:14). Mereka juga perlu menghayati pentingnya mengikuti Guru mereka. Dengan demikian, tujuan murid-murid Kristus adalah untuk menjadi sama seperti Yesus sendiri! Oleh karena itu, sangatlah penting bagi mereka untuk memperhatikan perintah Kristus tentang kemurahan hati dan kasih, serta menerapkannya dengan sungguh-sungguh.

Sebagai orang percaya yang berusaha untuk menjadi serupa dengan Yesus hari ini, marilah kita mempersembahkan hidup kita kepada Guru Agung kita, sehingga kita dapat menjadi seperti Dia dalam pengetahuan, hikmat, dan perilaku. Hanya Dia yang dapat menolong kita merefleksikan cara hidup-Nya yang murah hati dan penuh kasih. —MARVIN WILLIAMS

WAWASAN
Seberapa sering kita menggunakan kata-kata jangan menghakimi untuk menghakimi orang lain yang kita anggap menghakimi orang lain? Namun, kata-kata Yesus “janganlah kamu menghakimi” (Lukas 6:37) tidak berarti bahwa kita meninggalkan semua pertimbangan demi menyetujui setiap perilaku. Sebaliknya, perintah-Nya diberikan dalam konteks kasih dan pengampunan—pertama-tama kasih Allah bagi kita dan pengampunan yang Dia berikan dengan berlimpah, dan kemudian kita meneruskan kasih dan pengampunan bahkan kepada musuh-musuh kita. 

Dalam ayat 35-36 (BIS), Yesus berbicara tentang perlunya “mengasihi musuh” kita dan “berbelaskasihan seperti Bapamu juga berbelaskasihan.” Sebelumnya Dia berkata untuk “berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (ay.27). Jika kita menginginkan belas kasihan dari Bapa kita, kita harus bermurah hati dalam mengampuni dan memulihkan orang lain, sama seperti cara Allah memperlakukan kita. —Tim Gustafson

Serupa Guru Agung Kita

Bagian mana dari kehidupan Yesus yang rindu kamu teladani hari-hari ini? Dalam keadaan seperti apa kamu merasa sangat sulit meneladani Kristus, Guru Agung kita?

Tuhan Yesus, Guruku yang Agung, tolonglah aku untuk menyerupai-Mu dalam ketekunan dan fokus hidupku.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 29-30; Matius 21:23-46

Kebahagiaan dalam Air Mata 

Rabu, 1 Februari 2023

Baca: Matius 5:1-12

5:1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Berbahagialah orang yang berdukacita. [ ] —Matius 5:4

Saya menerima surel dari seorang pemuda di Inggris, yang menerangkan bahwa ayahnya (baru berumur enam puluh tiga tahun) sedang sekarat dan kini terbaring kritis di rumah sakit. Meski kami belum pernah bertemu, pekerjaan saya dan ayahnya ternyata sering berkaitan. Karena ingin menghibur sang ayah, pemuda itu meminta saya mengirimkan video berisi doa dan dorongan semangat. Saya sangat tersentuh dan akhirnya merekam pesan singkat serta doa untuk kesembuhannya. Saya diberi tahu bahwa ayahnya menonton video tersebut dan sempat menyatakan rasa terima kasih dengan mengacungkan jempolnya. Sayangnya, beberapa hari kemudian, saya menerima email berikutnya yang mengabarkan bahwa beliau telah meninggal dunia. Beliau mengembuskan napas terakhir sambil menggenggam tangan sang istri.

Hati saya hancur. Betapa besarnya kehilangan yang dirasakan oleh keluarga. Terlalu cepat mereka kehilangan seorang suami dan ayah. Namun, sungguh mengejutkan mendengar Yesus berkata bahwa justru orang-orang yang berduka itulah yang berbahagia. “Berbahagialah orang yang berdukacita,” kata Yesus (Mat.  5:4). Yesus tidak mengatakan bahwa penderitaan dan dukacita itu baik, melainkan bahwa belas kasihan dan kebaikan Allah dicurahkan ke atas mereka yang paling membutuhkannya. Mereka yang diliputi rasa duka karena kematian atau bahkan karena dosa mereka sendiri adalah yang paling membutuhkan perhatian dan penghiburan Allah. Kepada merekalah Yesus berjanji, “mereka akan dihibur” (ay.4).

Allah menghampiri kita, anak-anak-Nya yang terkasih (ay.9). Dia menghadirkan kebahagiaan dalam air mata kita.  —WINN COLLIER

WAWASAN
Matius mencatat lima bagian besar dari pengajaran Yesus (Matius 5–7; 10; 13; 18; 24–25). Matius 5–7 dikenal sebagai Khotbah di Bukit karena Yesus mengajarkannya ketika Dia sedang berada di “bukit” (5:1) di Galilea (4:23). Dalam khotbah ini, Kristus mengajarkan apa yang diperlukan untuk menjadi murid-Nya. Pertama, Dia menggambarkan karakter (5:3-12) dan selanjutnya perilaku (5:13–7:29) dari seorang yang percaya kepada-Nya. Matius 5:3-12 dikenal sebagai Ucapan Bahagia (Beatitudes), dan dinamakan demikian karena kata Latin untuk “berbahagialah” atau “bahagia” adalah beatus. Seorang penulis menyebutnya “Beautiful Attitudes” (Sikap-Sikap yang Indah). 

Masing-masing dari delapan Ucapan Bahagia dibuka dengan kata “berbahagialah” (makarios), yang diterjemahkan menjadi “diberkatilah” dalam beberapa versi. Namun, makarios memiliki arti dasar “diperkenan Allah” atau “menerima perkenanan Allah.” Mereka yang telah menerima perkenanan dan kebaikan Allah sungguh diberkati dan memiliki alasan untuk merasa puas dan gembira. —K.T. Sim


 

Kebahagiaan dalam Air Mata 

Di mana sajakah kamu menemukan kesedihan dalam kisah hidup kamu dan hidup orang lain? Bagaimana janji Yesus tentang kebahagiaan mengubah cara kamu memandang kesedihan itu?

Ya Allah, hatiku diliputi kedukaan dan sangat bersedih. Tolonglah aku untuk mengalami kebahagiaan dari-Mu di tengah kesedihan ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 27-28; Matius 21:1-22

Penopang Berkat 

Selasa, 31 Januari 2023

Baca: Ulangan 8:10-18

8:10 Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu.

8:11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini;

8:12 dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya,

8:13 dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak,

8:14 jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan,

8:15 dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras,

8:16 dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya.

8:17 Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.

8:18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.

Haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu. [ ] —Ulangan 8:18

Pada tanggal 15 Januari 1919, sebuah tangki raksasa berisi sirop meledak di Boston. Lebih dari tujuh setengah juta liter gelombang sirop setinggi empat setengah meter tumpah ke jalan dengan kecepatan lebih dari 48 kilometer per jam, menyapu gerbong-gerbong kereta, gedung-gedung, orang-orang, dan binatang. Sirop mungkin terdengar tidak membahayakan, tetapi hari itu hal tersebut berakibat fatal: 21 orang kehilangan nyawa dan lebih dari 150 orang luka-luka.

Terkadang hal-hal yang baik, seperti sirop, dapat membawa kita kepada masalah secara tidak terduga. Sebelum bangsa Israel memasuki tanah yang Allah janjikan, Musa memperingatkan mereka agar tidak mencuri pujian atas hal-hal baik yang mereka terima: “Apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, . . . jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan Tuhan, Allahmu.” Mereka tidak boleh menganggap kekayaan tersebut diperoleh dengan kekuatan atau kemampuan mereka sendiri. Sebaliknya, Musa memperingatkan, “Haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan” (Ul. 8:12-14,17-18). 

Semua hal baik, termasuk kesehatan fisik dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mencari nafkah, adalah berkat dari tangan Allah kita yang Mahakasih. Bahkan ketika kita mampu bekerja keras, Dia sajalah yang telah menopang kita. Marilah kita memegang berkat-berkat yang kita terima dengan tangan terbuka, supaya kita dapat bersyukur dan memuji Allah atas segala kebaikan-Nya kepada kita! —James Banks

WAWASAN
Pada pembuka Kitab Ulangan, umat Israel sedang bersiap-siap memasuki tanah perjanjian. Dalam kitab terakhir yang ditulis oleh Musa ini, ia mengulang kembali hukum Taurat dan mengingatkan umat untuk mengingat segala sesuatu yang telah Allah lakukan bagi mereka. Dalam perikop hari ini, umat Israel dipanggil untuk mengingat dan menaati Allah ketika mereka menetap di tanah mereka yang baru, karena Dia telah dan akan menjadi sumber berkat mereka (Ulangan 8:17-18). Allah secara ajaib membebaskan mereka dari perbudakan dan bangsa Mesir, memimpin mereka melalui padang gurun, menyediakan manna, bahkan membuat pakaian mereka tidak lapuk (5:15; 7:18; 8:2-4; 15:15; 16:3,12; 24:18,22). —Alyson Kieda

Penopang Berkat 

Apa saja kebaikan dari Allah yang kamu syukuri hari ini? Siapa yang dapat kamu tolong dengan berkat yang telah kamu terima?

Ya Bapa, aku bersyukur karena Engkau menopangku setiap saat. Tolonglah aku untuk menyadari kebaikan-Mu, agar aku juga dapat membagikannya dengan orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 25-26; Matius 20:17-34  

Kehabisan Daya 

Senin, 30 Januari 2023

Baca: Yesaya 40:28-31 

40:28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

40:29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

40:30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,

40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. [ ] —Yesaya 40:31

“Rasanya aku tak mampu lagi,” kata teman saya sambil berlinang air mata. Ia menceritakan perasaan tidak berdaya yang dihadapinya sebagai perawat di tengah krisis kesehatan yang melanda dunia. Ia mengaku, “Aku tahu Allah memanggilku untuk menjadi perawat, tetapi aku benar-benar kewalahan dan emosiku terkuras habis.” Melihat rasa penat yang menggayutinya, saya berkata, “Aku tahu kamu sedang merasa tidak berdaya, tetapi mintalah agar Allah memimpinmu ke arah yang kamu rindukan dan memberimu kekuatan untuk bertahan.” Saat itu, ia memutuskan untuk tekun mencari Allah melalui doa. Tak lama kemudian, kawan saya itu kembali disegarkan dengan tujuan yang baru. Ia bukan saja bersemangat melanjutkan pekerjaannya sebagai perawat, tetapi Allah juga memberinya kekuatan untuk melayani lebih banyak orang dengan berkeliling ke banyak rumah sakit di seluruh negeri.

Sebagai orang percaya, kita dapat selalu mencari Allah untuk memohon pertolongan dan penguatan di saat kita merasa beban kita terlalu berat karena “Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu” (Yes. 40:28). Nabi Yesaya menyatakan bahwa Bapa kita di surga “memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (ay.29). Meski kekuatan Allah bersifat kekal, Dia tahu kita pasti akan mengalami masa-masa ketika jiwa raga kita terkuras (ay.30). Namun, ketika kita berpaling kepada Allah untuk meminta kekuatan, dan tidak mencoba menghadapi tantangan hidup ini seorang diri, Dia akan memulihkan dan memperbarui kita, serta memberi kita tekad untuk melangkah maju dalam iman. —Kimya Loder

WAWASAN
Allah telah memperingatkan Yehuda yang tidak mau bertobat bahwa Dia akan memakai dua negara adikuasa penyembah berhala, Asyur dan Babel, untuk menghukum ketidaksetiaan mereka (Yesaya 1–39). Lalu Nabi Yesaya menghibur Yehuda dengan janji bahwa Allah akan memulihkan dan memberkati mereka, setelah penghukuman itu berakhir (pasal 40–66). Dalam pasal 40, Yesaya berbicara dengan lembut mengenai pemeliharaan Allah yang penuh kasih bagi mereka, “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (ay.11). Yesaya juga memuji kedaulatan, otoritas, dan kemahakuasaan Allah (ay.1-26). Menyikapi pengabaian yang dirasakan bangsanya (ay.27), sang nabi meyakinkan mereka bahwa Allah bukan hanya bertekad memberkati mereka, tetapi berkuasa penuh untuk melakukannya (ay.28). Sebagai Pencipta yang Mahakuasa dan abadi, Dialah sumber kekuatan mereka (ay.29). Yesaya berseru kepada umat Yahudi yang putus asa itu agar mempercayai Allah untuk memenuhi janji-Nya (ay.30-31). —K.T. Sim

Kehabisan Daya 

Pernahkah kamu mencoba menangani sendiri kesulitan kamu? Bagaimana cara kamu meminta pertolongan Allah?

Ya Allah, terima kasih, karena Engkau siap menolongku ketika tantangan hidup terasa tidak sanggup lagi kuhadapi.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 23-24; Matius 20:1-16

Teror Tujuh Menit

Minggu, 29 Januari 2023

Baca: Yohanes 11:38-43

11:38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.

11:39 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.”

11:40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.

11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!”

Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. [ ]  —Ibrani 4:16

Ketika Perseverance, kendaraan penjelajah Mars, mendarat di planet merah itu pada tanggal 18 Februari 2021, para petugas yang memonitor pendaratannya sempat mengalami “teror tujuh menit”. Setelah menempuh perjalanan sepanjang 470 juta kilometer, kendaraan tersebut harus melewati prosedur pendaratan yang rumit tanpa bantuan dari pihak luar. Sinyal dari Mars membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai ke Bumi, jadi NASA tidak dapat mendengar apa-apa dari Perseverance selama proses pendaratan tersebut. Bagi tim yang telah mengerahkan begitu banyak upaya dan sumber daya dalam misi tersebut, putus kontak itu terasa sangat menakutkan.

Terkadang kita mungkin ketakutan ketika merasa tidak mendengar apa-apa dari Allah. Kita berdoa, tetapi tidak mendapat jawaban. Dalam Kitab Suci, kita menemukan orang-orang yang doanya langsung dijawab (lihat Dan. 9:20-23), dan mereka yang lama tidak mendapat jawaban, seperti Hana dalam 1 Samuel 1:10-20. Mungkin contoh paling memilukan dari jawaban yang tertunda, pengalaman yang pasti membuat hati Maria dan Marta gentar, adalah ketika mereka meminta Yesus untuk menolong Lazarus, saudara mereka yang sedang sakit (Yoh. 11:3). Yesus menunda, dan saudara mereka pun meninggal (ay.6-7,14-15). Namun, empat hari kemudian, Kristus menjawab dengan membangkitkan Lazarus (ay.43-44). 

Menantikan jawaban atas doa-doa kita memang terkadang sulit. Namun, Allah sanggup menghibur dan menolong ketika kita “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia [Allah], supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibr. 4:16). —Dave Branon

WAWASAN
Dalam Injil Yohanes, Yesus memulai pelayanan-Nya dengan tanda ajaib—mengubah air menjadi anggur. Di sepanjang kitab itu, Yesus terus mengesahkan pesan-Nya dengan mukjizat-mukjizat, dan yang terakhir dengan membangkitkan Lazarus dari kematian.

Sepanjang Injil Yohanes, penulisnya menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada hidup (lihat 1:4; 14:6). Dan di sini, Yesus membuktikan dengan mengembalikan sahabat-Nya ke dunia orang hidup (11:38-44). Ironisnya, perbuatan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian merupakan awal dari serangkaian peristiwa yang berakhir dengan kematian Kristus sendiri. Namun, justru kematian itu dan kebangkitan-Nya kelak yang akan menjamin kehidupan, bukan hanya bagi Lazarus, melainkan bagi semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Inilah yang dinyatakan Yohanes, “supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (20:31). —Jed Ostoich

Teror Tujuh Menit

Apa yang sedang kamu doakan, tetapi jawabannya seolah tidak kunjung datang? Bagaimana Allah dapat menumbuhkan iman kamu sembari kamu menantikan-Nya?

Allah Mahakasih, Engkau mengetahui isi hatiku. Tolonglah aku untuk tetap mempercayai-Mu saat menantikan jawaban-Mu. 

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 21-22; Matius 19

Mantel Merah Muda

Sabtu, 28 Januari 2023

Baca: 2 Korintus 9:6-9

9:6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

9:9 Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya . . . sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. [ ] —2 Korintus 9:7

Saat berjalan menuju pintu keluar mal, mata Brenda terpikat oleh sesuatu berwarna merah muda di etalase. Ia berbalik lalu berdiri terkesima menatap “mantel berwarna gulali”. Wah, Holly pasti suka mantel itu! Koleganya itu, seorang ibu tunggal, sedang bergumul dengan kesulitan finansial. Brenda tahu bahwa Holly membutuhkan baju hangat, tetapi ia yakin Holly tidak akan mengeluarkan uang sebesar itu untuk membeli mantel. Setelah berpikir sebentar, Brenda tersenyum, mengambil dompet, dan mengatur supaya mantel itu dikirimkan ke rumah Holly. Ia menambahkan kartu tanpa nama, “Seseorang mengasihimu”. Langkah-langkah Brenda terasa ringan, karena hatinya sangat senang.

Sukacita merupakan hasil dari tindakan memberi yang digerakkan Allah. Paulus menasihati jemaat di Korintus tentang sikap bermurah hati, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor. 9:7). Ia juga menyatakan, “Orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (ay.6).

Mungkin kita dapat memasukkan uang lebih ke dalam kantong persembahan. Pada kesempatan lain kita dapat mentransfer persembahan kasih untuk mendukung kegiatan suatu lembaga pelayanan. Allah juga dapat menggerakkan kita untuk menjawab kebutuhan seorang kawan dengan tindakan nyata sebagai ungkapan kasih-Nya. Kita bisa membelikan sekantong bahan makanan, setangki bensin . . . atau bahkan hadiah mantel merah muda yang indah. —Elisa Morgan

WAWASAN
Segmen kecil dari surat Paulus kepada jemaat di Korintus ini (2 Korintus 9:6-9) muncul di tengah bagian yang lebih besar tentang memberi. Sang rasul telah memperkenalkan tema itu di pasal 8, ketika ia mengangkat jemaat Makedonia yang jauh lebih miskin, tetapi sangat murah hati sebagai panutan (ay.1-5). Sepanjang imbauannya ia meminta jemaat Korintus agar menepati komitmen awal mereka untuk memberi (ay.10-12), dan melakukannya dengan rela dan sukacita (9:5,7). Sebagaimana sering dilakukan Paulus, ia mengacu kepada bagian Kitab Suci yang lain untuk meyakinkan mereka. Di sini ia mengutip Mazmur 112, yang menguraikan tentang karakteristik orang benar (“orang yang takut akan TUHAN,” ay.1). Pemazmur mencatat bahwa mereka “pengasih dan penyayang” (ay.4), dan “mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman” (ay.5). Memberi dengan murah hati tidak menjadikan orang benar, melainkan orang benar akan memberi dengan murah hati. —Tim Gustafson

Mantel Merah Muda

Kepada siapa kamu dapat menunjukkan kasih Allah hari ini? Bagaimana kemurahan hati yang kamu tunjukkan dapat kembali kepada kamu dalam wujud perasaan sukacita?

Bapa yang Mahakasih, Engkau telah memberikan Putra-Mu kepadaku, karena itu aku juga rindu memberi kepada orang lain. Tolonglah aku menanggapi dorongan lembut dari-Mu untuk menjawab kebutuhan seseorang hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 19-20; Matius 18:21-35

Belas Kasihan untuk Kita

Jumat, 27 Januari 2023

Baca: Mazmur 103:8-12

103:8 TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

103:9 Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.

103:10 Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,

103:11 tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;

103:12 sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. [ ] —Mazmur 103:9

Salah satu konsekuensi dari pandemi COVID-19 adalah berlabuhnya kapal pesiar dan karantina terhadap para penumpangnya. Sebuah artikel dalam The Wall Street Journal memuat wawancara dengan beberapa turis di kapal pesiar. Banyak dari mereka menganggap masa karantina memberi lebih banyak kesempatan untuk bercakap-cakap. Seorang penumpang dengan bergurau menceritakan bagaimana pasangannya—yang memiliki ingatan tajam—mampu menyebutkan kembali setiap kesalahan yang pernah ia lakukan, bahkan ia punya firasat bahwa istrinya belum mengatakan semuanya!

Kisah-kisah seperti itu mungkin membuat kita tersenyum, karena mengingatkan akan sisi manusiawi kita, sekaligus memperingatkan apabila kita cenderung memegang terlalu erat hal-hal yang seharusnya kita lepaskan. Namun, bagaimana kita dapat ditolong untuk memperlakukan dengan baik mereka yang pernah menyakiti kita? Dengan memandang Allah kita yang agung, sebagaimana Dia digambarkan dalam perikop seperti Mazmur 103:8-12.

Secara khusus, kita perlu memperhatikan ayat 8-10: “Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita.” Meminta pertolongan Allah di saat kita sungguh-sungguh berdoa dan membaca Kitab Suci dapat menolong kita berpikir ulang tentang niat kita untuk membalas atau menghukum orang-orang yang menyakiti kita. Sebaliknya, mungkin kita justru tergerak untuk berdoa bagi diri kita sendiri dan bagi orang-orang yang tadinya ingin kita lukai dengan sikap kita yang menolak untuk mengasihi dan mengampuni mereka. —ARTHUR JACKSON

WAWASAN
Mazmur 103:8 mengenang bagaimana Allah mengungkapkan diri-Nya kepada Musa dalam perjalanan keluar dari Mesir. Setelah Musa memohon kepada Allah untuk memperlihatkan “kemuliaan-Mu kepadaku” (Keluaran 33:18), Allah berjanji melewatkan segenap kemuliaan-Nya dari depan Musa. Dalam Keluaran 34, kita diberi tahu bahwa Allah “lewat dari depannya dan berseru: ‘TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa’” (ay.6-7). 

Mazmur 103 menjelaskan lebih lanjut tentang belas kasihan, pengampunan, dan kasih karunia Allah yang tidak berkesudahan sebagai satu-satunya harapan bagi umat-Nya yang berdosa. Dia Allah yang Maha Pengampun, yang tidak melakukan “kepada kita setimpal dengan dosa kita” (ay.10) tetapi menghapus dosa kita “sejauh timur dari barat” (ay.12). Kerelaan Allah untuk mengampuni berakar pada kasih-Nya yang mendalam bagi anak-anak-Nya dan belas kasihan-Nya atas pergumulan mereka (ay.11,13). —Monica La Rose

Belas Kasihan untuk Kita

Terhadap siapakah kamu ingin membalas dendam karena telah menyakiti kamu? Siapakah yang dapat kamu minta untuk mendoakan kamu?

Allah sumber kasih, kebaikan, dan pengampunan, tolonglah aku untuk meneruskan rahmat dan belas kasihan kepada mereka yang pernah menyakitiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 16-18; Matius 18:1-20