Bahan renungan yang bisa menemani saat teduhmu dan menolongmu dalam membaca firman Tuhan.

Keluar dari Hati

Rabu, 28 September 2022

Baca: Matius 15:12-20

15:12 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?”

15:13 Jawab Yesus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya.

15:14 Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.”

15:15 Lalu Petrus berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah perumpamaan itu kepada kami.”

15:16 Jawab Yesus: “Kamupun masih belum dapat memahaminya?

15:17 Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?

15:18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.

15:19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

15:20 Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.”

Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. —Matius 15:19

Misi penyelamatan “Operasi Bahtera Nuh” mungkin terdengar menyenangkan bagi kelompok pecinta hewan, tetapi sebenarnya tidak demikian bagi kelompok Pencegahan Kekerasan terhadap Hewan di Nassau. Setelah menerima banyak keluhan tentang suara berisik dan bau busuk yang berasal dari sebuah rumah di Long Island, para petugas memasuki rumah tersebut dan menemukan (serta menyelamatkan) lebih dari empat ratus ekor hewan yang berada dalam kondisi memprihatinkan.

Mungkin kita tidak memelihara ratusan hewan dalam kondisi kotor, tetapi Yesus berkata bahwa hati kita mungkin menyimpan pikiran dan perbuatan jahat serta berdosa, dan semua itu perlu disingkapkan dan disingkirkan.

Ketika mengajar para murid tentang apa yang membuat seseorang tahir dan najis, Yesus berkata bukan tangan yang kotor atau “segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut” yang menajiskan seseorang, melainkan hati yang jahat (Mat. 15:17-19). Bau busuk dari hati kita akhirnya akan merembes keluar dari hidup kita. Lalu Yesus memberi contoh pikiran dan perbuatan jahat yang keluar “dari hati” (ay.19). Sebanyak apa pun kegiatan dan ritual keagamaan yang kita lakukan takkan mampu membersihkan hati kita. Kita membutuhkan Allah untuk mengubahkan hati kita.

Kita dapat menerapkan teladan Yesus dengan mengundang Dia masuk ke kedalaman hati kita yang kotor dan membiarkan Dia membersihkan hal-hal yang menyebabkan bau busuk tersebut. Ketika Kristus menyingkapkan segala sesuatu yang keluar dari hati kita, Dia akan menolong menyelaraskan perkataan dan perbuatan kita dengan kehendak-Nya, dan bau harum yang memancar dari kehidupan kita akan menyenangkan hati-Nya. —Marvin Williams

WAWASAN
Ketika orang-orang Farisi mengkritik murid-murid Yesus karena mereka tidak membasuh tangan mereka sebelum mereka makan (Matius 15:2), urusan mereka bukan tentang kebersihan tubuh, tetapi tidak mengikuti tradisi di luar Alkitab yang menyatakan bahwa pembasuhan tangan sebelum makan perlu dilakukan sebagai suatu kesucian agama. Khususnya tradisi itu adalah salah satu ciri ketelitian orang-orang Farisi. Meski para pemuka agama itu sangat dihormati dan berpengaruh di antara orang-orang Yahudi, Kristus menanggapinya dengan tidak mempedulikan teguran mereka. Malah, Dia menyatakan bahwa mereka bagai pemandu buta yang prioritasnya hanya akan membuat orang-orang tersesat (ay.12-14, lihat ay.6-9). Peringatan Yesus bahwa setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa akan dicabut dengan akar-akarnya (ay.13) dapat menggemakan nabi Yesaya, yang menggambarkan umat Allah sebagai pokok anggur yang dipelihara dan ditanam oleh Allah, tetapi dicabut ketika mereka gagal menghidupi keadilan dan kebenaran (Yesaya 5: 1-7). —Monica La Rose

Keluar dari Hati

Mengapa penting untuk sering-sering memeriksa hati kamu? Bagaimana kamu dapat meminta pertolongan Allah untuk hal ini?

Allah yang penuh kasih, hatiku sangat jahat. Hanya Engkau yang sepenuhnya tahu dan sanggup membersihkan semua yang jahat di dalam hatiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 5-6; Efesus 1

Pertolongan Allah untuk Masa Depan

Selasa, 27 September 2022

Baca: Mazmur 90:12-17

90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

90:13 Kembalilah, ya TUHAN–berapa lama lagi? –dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

90:14 Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.

90:15 Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.

90:16 Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, dan semarak-Mu kepada anak-anak mereka.

90:17 Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.

Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami. —Mazmur 90:14

Menurut psikolog Meg Jay, kita cenderung memikirkan diri kita di masa depan seperti bagaimana kita memikirkan orang asing. Mengapa? Hal itu mungkin disebabkan oleh sesuatu yang kadang-kadang disebut sebagai “kesenjangan empati”. Sulit bagi kita untuk berempati dan peduli pada orang yang kita tidak kenal secara pribadi—bahkan diri sendiri versi masa depan. Karena itu, dalam pekerjaannya, Jay berusaha menolong orang-orang muda membayangkan diri mereka di masa depan dan mengambil langkah untuk peduli. Hal ini termasuk menyusun rencana bagi diri mereka di masa depan, supaya terbuka jalan bagi mereka untuk mengejar impian mereka dan terus berkembang.

Dalam Mazmur 90, kita diundang untuk melihat hidup kita tidak hanya di masa kini, tetapi secara menyeluruh—untuk meminta Allah menolong kita “menghitung hari-hari [kita] sedemikian, hingga [kita] beroleh hati yang bijaksana” (ay.12). Dengan mengingat bahwa waktu kita di dunia ini terbatas, kita diingatkan akan kebutuhan kita untuk terus bergantung kepada Allah. Kita memerlukan pertolongan-Nya untuk belajar menemukan kepuasan dan sukacita—tidak hanya saat ini melainkan “seumur hidup” kita (ay.14 bis). Kita memerlukan pertolongan-Nya untuk belajar tidak hanya memikirkan diri sendiri, melainkan juga generasi mendatang (ay.16). Kita juga memerlukan pertolongan-Nya untuk melayani-Nya dengan waktu yang diberikan-Nya kepada kita—dan memohon Dia meneguhkan perbuatan tangan dan hati kita (ay.17). —Monica La Rose

WAWASAN
Keterangan di awal Mazmur 90 berbunyi, “Doa Musa, abdi Allah.” “Abdi Allah” adalah istilah yang dipakai kira-kira tujuh puluh lima kali di dalam Perjanjian Lama untuk menyebut seorang juru bicara bagi Allah. Oleh karena itu, istilahnya dipakai untuk nabi-nabi yang melayani umat Israel (lihat Hakim-Hakim 13:6; 1 Samuel 2:27; 1 Raja-Raja 12:22; 13:1), termasuk Elia dan Elisa (2 Raja-Raja 1:9; 4:16). Sebagai gelar kehormatan, sebutan itu sering disematkan pada Musa (Ulangan 33:1; Yosua 14:6; 1 Tawarikh 23:14; 2 Tawarikh 30:16; Ezra 3:2) dan Daud (2 Tawarikh 8:14; Nehemia 12:24,36). Mazmur 90 ditulis oleh Musa (sekitar tahun 1526–1406 SM), sehingga itulah mazmur tertua di antara ke-150 mazmur. Di samping mazmur itu, Musa juga menulis “Nyanyian di Laut” (Keluaran 15:1-18) dan “Nyanyian Musa” (Ulangan 31:19; 32:1-43). —K.T. Sim

Pertolongan Allah untuk Masa Depan

Bagaimana kamu dapat semakin mempedulikan diri kamu di masa depan? Bagaimana dengan melihat gambaran besar kehidupan kamu dapat membantu kamu melayani sesama lebih baik lagi?

Ya Allah, terima kasih atas anugerah kehidupan ini. Tolong aku untuk menghargai waktu yang telah Engkau berikan kepadaku. Terima kasih, karena ketika perjalananku bersama-Mu di dunia berakhir, aku dapat menantikan persekutuan abadi bersama-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 3-4; Galatia 6

Mukjizat Keselamatan

Senin, 26 September 2022

Baca: Yohanes 11:38-44

11:38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.

11:39 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.”

11:40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.

11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!”

11:44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.”

Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah? —Yohanes 11:40

Hidup Kevin Lynn, seorang blogger, sempat hancur berantakan. Dalam sebuah artikel baru-baru ini, ia menulis: “Saya sudah menodongkan pistol ke kepala saya . . . Dan Allah secara ajaib melangkah ke dalam kamar dan hidup saya. Saat itu, saya sungguh-sungguh menemukan apa yang sekarang saya tahu adalah Allah.” Allah campur tangan dan mencegah Lynn mengambil nyawanya sendiri. Dia memenuhi hati Lynn dengan keyakinan dan mengingatkannya pada kehadiran-Nya yang penuh kasih. Alih-alih menyimpan sendiri perjumpaan yang luar biasa ini, Lynn membagikan pengalamannya kepada dunia, membuat pelayanan melalui YouTube untuk membagikan kisah transformasinya hidupnya dan juga kisah-kisah orang lain.

Ketika Lazarus—teman dan pengikut Yesus—mati, banyak yang menganggap Yesus terlambat (Yoh. 11:32). Lazarus sudah empat hari dikuburkan sebelum Kristus tiba, tetapi Dia mengubah momen penderitaan tersebut menjadi mukjizat saat Dia membangkitkan Lazarus dari kematian (ay.38). “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (ay.40).

Seperti Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian kepada hidup, Dia menawarkan kepada kita hidup yang baru melalui diri-Nya. Dengan mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib, Kristus telah membayar lunas upah dari dosa kita dan memberikan pengampunan ketika kita menerima anugerah-Nya. Kita dibebaskan dari belenggu dosa, diperbarui oleh kasih-Nya yang tak berkesudahan, dan diberikan kesempatan untuk mengubah arah kehidupan kita. —Kimya Loder

WAWASAN
Setelah Yesus mengetahui bahwa Lazarus sakit berat, Dia menunggu dua hari sebelum berangkat ke rumah para saudara perempuan Lazarus, Maria dan Marta (Yohanes 11:1-6). Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba, Lazarus telah berada dalam kubur selama empat hari (ay.17), karena memperhitungkan satu hari perjalanan berita untuk sampai kepada-Nya dan sehari lagi bagi-Nya untuk sampai ke Betania. Jadi, Lazarus mungkin telah meninggal dunia ketika Yesus menerima berita bahwa Lazarus sakit keras. Empat hari itu signifikan, karena di iklim yang panas, jenazah Lazarus pasti sudah sangat membusuk (ay.39). Seandainya Yesus segera berangkat dan membangkitkan Lazarus, para penentang-Nya bisa saja menolak kebangkitan itu, dengan mengatakan bahwa Lazarus tidak mati, melainkan hanya koma atau tidur yang lelap. Hal itu juga signifikan karena pada zaman itu ada orang-orang Yahudi yang percaya bahwa jiwa orang mati melayang-layang di atas tubuhnya selama tiga hari, dengan berharap dapat masuk lagi. Namun, dengan empat hari yang telah berlalu, harapan itu pun pupus. —Alyson Kieda

Mukjizat Keselamatan

Apa saja keajaiban karya Allah yang telah mengubah hidup kamu? Bagaimana kamu dapat menggunakan kesaksian kamu untuk membawa orang lain lebih dekat kepada-Nya?

Bapa Surgawi, terkadang aku menganggap remeh karya-Mu yang mengubah hidupku. Terima kasih, karena Engkau tidak pernah menyerah atas diriku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 1-2; Galatia 5

Memilih dengan Bijak

Minggu, 25 September 2022

Baca: Markus 8:34-38

8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

8:35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

8:36 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.

8:37 Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

8:38 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. —Markus 8:36

Sebagai komandan kru penerbangan yang dijadwalkan untuk berangkat ke Stasiun Luar Angkasa Internasional, astronaut Chris Ferguson harus mengambil keputusan sulit. Namun, keputusan itu tidak berhubungan dengan teknis penerbangan atau keamanan rekan-rekan astronautnya. Sebaliknya, Ferguson memutuskan apa yang ia anggap sebagai tugasnya yang terpenting: keluarganya. Ferguson memilih untuk tetap berada di bumi agar dapat menghadiri pernikahan putrinya.

Dari waktu ke waktu kita harus menghadapi keputusan sulit—keputusan yang membuat kita mengevaluasi kembali apa yang paling berarti bagi kita dalam hidup ini, karena memilih yang satu berarti kehilangan yang lain. Yesus bermaksud menyampaikan kebenaran ini kepada murid-murid-Nya dan orang banyak tentang keputusan terpenting dalam hidup manusia—mengikut Dia. Untuk menjadi murid, kata-Nya, mereka harus “menyangkal diri” agar dapat mengikut Dia (Mrk. 8:34). Mereka mungkin tergoda untuk menjauhkan diri dari pengorbanan yang diperlukan demi mengikut Yesus dan memilih untuk mengikuti keinginan sendiri. Namun, Dia mengingatkan mereka bahwa dengan pilihan itu mereka akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Kita sering tergoda untuk mengejar hal-hal yang tampaknya sangat bernilai, tetapi yang mengalihkan kita dari mengikut Yesus. Mintalah kepada Allah untuk menuntun kita dalam pilihan-pilihan yang kita hadapi setiap hari sehingga kita akan memilih dengan bijak dan menghormati-Nya. —Kirsten Holmberg

WAWASAN
Perkataan Yesus dalam Markus 8 berlangsung dengan latar belakang situasi ketika Dia yang awalnya memuji Petrus kemudian menghardiknya. Di dalam Injil Markus, kita membaca bagaimana Petrus mengakui Yesus sebagai “Mesias” (8:29). Injil Matius mencantumkan lebih banyak rincian: Kristus memuji Petrus atas pengakuannya (Matius 16:17-19). Markus kemudian menceritakan Yesus menjelaskan bahwa Mesias akan dibunuh (Markus 8:31). Karenanya, “Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia” (ay.32). Tanggapan Kristus sangat keras: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ay.33). Inilah konteks ketika Yesus memberikan pernyataan-Nya yang terkenal: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (ay.35). Yesus memimpin dengan memberikan teladan, menyerahkan hidup-Nya untuk kebaikan kita dan kemuliaan Bapa-Nya. —Tim Gustafson

Memilih dengan Bijak

Pilihan apa saja yang pernah kamu ambil yang ternyata menjauhkan kamu dari Yesus? Sebaliknya, pilihan apa saja yang menarik kamu lebih dekat kepada-Nya?

Tuhan Yesus, aku ingin mengikut Engkau. Bantu aku untuk mengenali dan memilih jalan yang membuatku semakin dekat kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 6-8; Galatia 4

Kekuatan Sebuah Nama

Sabtu, 24 September 2022

Baca: Kejadian 17:1-8,15-16

17:1 Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.

17:2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.”

17:3 Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya:

17:4 “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

17:5 Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

17:6 Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.

17:7 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.

17:8 Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”

17:15 Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.

17:16 Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.”

Namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. —Kejadian 17:5

Ranjit menciptakan sebuah lagu berisikan nama anak-anak jalanan di Mumbai, India, untuk menyenangkan dan menguatkan mereka. Ia menciptakan melodi yang unik bagi setiap nama dan mengajarkan mereka lagu tersebut, dengan harapan anak-anak itu memiliki kenangan yang indah tentang nama mereka. Bagi anak-anak yang jarang mendengar nama mereka disebutkan dengan penuh kasih, Ranjit memberikan penghormatan sebagai hadiah bagi mereka.

Nama adalah sesuatu yang penting dalam Alkitab, biasanya menunjukkan karakter atau tugas baru seseorang. Contohnya, Allah mengganti nama Abram dan Sarai ketika Dia membuat perjanjian dengan mereka, untuk menyatakan bahwa Dia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Abram, yang berarti “bapa yang mulia”, berubah menjadi Abraham, “bapa banyak orang”. Sementara Sarai, yang berarti “putri raja”, berubah menjadi Sara, yang berarti “ibu banyak orang” (Kej. 17:5,15).

Nama-nama baru yang diberikan Allah itu juga termasuk janji-Nya bahwa mereka akan memiliki keturunan. Ketika Sara melahirkan seorang anak laki-laki, mereka sangat gembira dan menamainya Ishak, yang berarti “ia tertawa”. Sara berkata, “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku” (Kej. 21:6).

Kita menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang saat kita memanggil nama mereka dan menegaskan keberadaan mereka di mata Allah. Suatu nama panggilan juga dapat menegaskan keunikan seseorang yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. —Amy Boucher Pye

WAWASAN
Di usianya yang ketujuh puluh lima, Allah menjanjikan Abram bahwa ia akan menjadi bapak dari suatu “bangsa yang besar” dan keturunannya akan memiliki Kanaan (Kejadian 12:2,7). Dalam Kejadian 13:15-16, Allah menjelaskan kedua janji itu. Menanggapi keragu-raguan Abram, Allah memberikan keyakinan bahwa keturunan Abram akan datang dari darah dagingnya sendiri (15:3-5). Allah kemudian memasukkan kedua janji itu ke dalam perjanjian yang diikat-Nya dengan Abraham: “Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram” (ay.18). Itulah pertama kalinya kata perjanjian digunakan untuk janji Allah kepada Abram. Tiga belas tahun kemudian, Allah memperluas berkat keturunannya, dengan menjadikan Abram “bapa sejumlah besar bangsa” dan mengubah namanya dari Abram menjadi Abraham (17:4-5). —K.T. Sim

Kekuatan Sebuah Nama

Bagaimana perasaan kamu tentang nama kamu? Pernahkah kamu menyebutkan suatu kualitas dalam diri teman atau anggota keluarga kamu yang sesuai dengan nama mereka?

Ya Bapa atas segala nama, Engkau telah menciptakanku menurut rupa-Mu, bahkan Engkau sangat mengasihiku. Bentuklah aku menjadi semakin serupa dengan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 4-5; Galatia 3

Cerita Belum Berakhir

Jumat, 23 September 2022

Baca: Matius 6:9-13

6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,

6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. —Matius 6:10

Ketika episode terakhir serial drama Inggris, Line of Duty, ditayangkan, banyak orang ingin tahu bagaimana akhir dari perjuangan para tokohnya melawan kejahatan terorganisir. Namun, banyak penonton akhirnya kecewa ketika dalam episode terakhir itu justru tersirat kejahatan yang akhirnya menang. “Saya ingin orang-orang jahat diseret ke pengadilan,” kata seorang penggemar. “Kita butuh akhir yang bermoral seperti itu.”

Sosiolog Peter Berger pernah menulis bahwa kita haus akan pengharapan dan keadilan—pengharapan bahwa suatu hari kejahatan akan dikalahkan dan para pelakunya akan dihukum. Dunia yang memenangkan penjahat tidaklah sejalan dengan cara kerja dunia yang kita ketahui. Tanpa disadari, para penggemar yang kecewa itu menyuarakan kerinduan terdalam dari umat manusia agar dunia kembali baik seperti semula.

Dalam doa Bapa Kami, Yesus memandang kejahatan secara realistis. Kejahatan tidak hanya ada di tengah kita—karenanya dibutuhkan pengampunan (Mat. 6:12), tetapi ada dalam skala yang lebih besar—sehingga dibutuhkan kelepasan (ay.13). Namun, kenyataan itu diimbangi dengan pengharapan. Di surga tidak ada kejahatan, dan kerajaan surgawi itu sedang datang ke bumi (ay.10). Suatu hari nanti keadilan Allah akan terpenuhi, “akhir yang bermoral” akan dihadirkan-Nya, dan kejahatan akan dihapus selamanya (Why. 21:4).

Jadi, ketika penjahat di dunia sekarang seakan menang dan membuat kamu kecewa, ingatlah: sampai kehendak Allah terjadi “di bumi seperti di sorga,” selalu ada pengharapan—karena cerita belum berakhir. —Sheridan Voysey

WAWASAN
Dalam Injil Matius, Doa Bapa Kami menjadi bagian kunci dari Khotbah Yesus di Bukit. Ajaran Yesus mengenai doa terutama menantang praktik keagamaan masa itu, karena Dia mendakwa tidak saja para pemimpin agama yang munafik, yang menggunakan ibadah mereka kepada Allah sebagai sarana untuk menarik perhatian kepada diri mereka sendiri (6:5), tetapi juga orang-orang yang tidak mengenal Allah, yang memakai doa-doa mereka sebagai cara untuk mengikat ilah mereka dengan mantera yang “bertele-tele” atau kata-kata yang banyak (ay.7). Sebaliknya, Yesus menawarkan suatu alternatif yang bersifat intim sekaligus penuh ketundukan. Doa Bapa Kami adalah suatu percakapan yang hening dan pribadi antara orang yang berdoa dan Allah sendiri. Doa itu tidak hendak mengekang Sang Pencipta alam semesta, tetapi menempatkan pendoanya dalam sikap tunduk yang percaya penuh kepada Bapa yang berbelas kasih. Dalam pengajaran Yesus, doa menjadi ungkapan rasa percaya, tanpa kesombongan atau kepura-puraan. —Jed Ostoich

Cerita Belum Berakhir

Menurut kamu, mengapa kita mendambakan pengharapan dan keadilan? Bagaimana doa Bapa Kami dapat menolong kamu menghadapi kejahatan dan kekecewaan?

Bapa Surgawi, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga!

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 1-3; Galatia 2

Saling Membutuhkan

Kamis, 22 September 2022

Baca: Roma 16:3-16

16:3 Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.

16:4 Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.

16:5 Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.

16:6 Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu.

16:7 Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.

16:8 Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan.

16:9 Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi.

16:10 Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus.

16:11 Salam kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan.

16:12 Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.

16:13 Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu.

16:14 Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka.

16:15 Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka.

16:16 Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.

Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus. —Roma 16:16

Dave Kindred adalah jurnalis olahraga yang telah meliput ratusan acara olahraga dan kejuaraan bergengsi. Ia bahkan menulis riwayat hidup Muhammad Ali. Setelah pensiun, ia merasa bosan dan mulai menghadiri pertandingan basket anak perempuan di sebuah sekolah di kotanya. Tak lama kemudian ia mulai meliput setiap pertandingan dan mengunggahnya secara daring. Ketika ibu dan cucu lelakinya meninggal dunia, kemudian istrinya terkena stroke, Dave menyadari bahwa tim basket yang diliputnya itu telah memberinya rasa kebersamaan dan arti hidup. Dave dan tim basket itu saling membutuhkan. Dave berkata, “Tim ini menyelamatkanku. Hidupku berubah menjadi gelap . . . [dan[ mereka hadir membawa terang.”

Bagaimana seorang jurnalis terkenal dapat merasa begitu bergantung pada sekelompok remaja? Sama seperti seorang rasul besar bergantung pada persekutuan dari orang-orang yang ia temui sepanjang perjalanan misinya. Apakah kamu memperhatikan semua orang yang Paulus sebutkan ketika ia menutup suratnya? (Rm. 16:3-15). “Salam kepada Andronikus dan Yunias,” tulisnya, “saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku” (ay.7). “Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan” (ay.8). Paulus menyebutkan lebih dari dua puluh lima nama dalam bagian itu, dan kebanyakan di antaranya tidak pernah disebutkan lagi dalam Kitab Suci. Namun, Paulus membutuhkan mereka.

Siapa saja yang ada dalam komunitas kamu? Tempat terbaik untuk memulai adalah di gereja kamu. Adakah seseorang dalam komunitas tersebut yang sedang bergumul dengan hidupnya? Dengan pimpinan Allah, kamu dapat menjadi terang yang membawa mereka kepada Yesus. Suatu hari kelak mereka mungkin akan membalas kebaikan kamu. —Mike Wittmer

WAWASAN
Paulus memahami bahwa kekuatan dan efektivitas pelayanannya adalah hasil usaha banyak rekan sepelayanannya yang telah bekerja bersama dan mendukungnya. Mengakhiri suratnya kepada jemaat di Roma (pasal 16), Paulus secara khusus menyebutkan beberapa orang yang tanpa lelah melayani dirinya dan bersamanya. Banyaknya nama perempuan dalam daftar itu membuktikan peranan penting mereka dalam gereja mula-mula. Paulus menunjukkan apresiasinya kepada lebih dari delapan puluh rekannya (lihat Kolose 4:7-18; 2 Timotius 1:15-18; Titus 3:12-14), dan itu menolong kita untuk melihat hatinya sebagai gembala. —K.T. Sim

Saling Membutuhkan

Siapa saja orang yang kamu tahu dapat diandalkan? Mintalah kepada Allah untuk memberi kamu teman-teman yang dapat dipercaya. Bagaimana kamu dapat menjadi teman seperti itu?

Ya Bapa, aku bersyukur untuk Yesus, sahabat sejatiku! Kiranya aku dapat menjadi sahabat seperti Yesus bagi orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 10-12; Galatia 1

Air Kehidupan

Rabu, 21 September 2022

Baca: Yohanes 7:37-39

7:37 Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!

7:38 Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

7:39 Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.

Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! —Yohanes 7:37

Sesampainya di rumah saya, bunga-bunga potong yang dikirim dari Ekuador itu sudah terkulai dan layu. Pada petunjuknya tertulis, bunga-bunga itu akan menjadi segar kembali jika dimasukkan ke dalam vas berisi air segar. Namun, batang-batang bunganya harus dipangkas terlebih dahulu agar dapat menyerap air dengan lebih mudah. Namun, apakah bunga-bunga itu dapat bertahan?

Saya menemukan jawabannya keesokan harinya. Buket bunga dari Ekuador itu mekar kembali dengan indahnya, menampilkan berbagai jenis bunga yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Air segar telah mengubah segalanya—mengingatkan kita pada ucapan Yesus tentang air dan artinya bagi orang percaya.

Ketika Yesus meminta air minum kepada seorang perempuan Samaria—menyiratkan bahwa Yesus bersedia meminum air yang diambilnya dari sumur—Dia pun mengubah hidup perempuan itu. Sang wanita sempat terkejut mendengar permintaan Yesus. Orang Yahudi memandang rendah orang Samaria. Namun, Yesus berkata, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (Yoh. 4:10). Selanjutnya, di Bait Allah, Yesus berseru, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (7:37). Dalam diri mereka yang percaya kepada-Nya, “akan mengalir aliran-aliran air hidup. Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya” (ay.38-39).

Saat hidup terasa berat, Roh Allah yang menyegarkan akan membangkitkan kita hari ini. Dialah Air Hidup, yang berdiam di dalam jiwa kita dengan kesegaran ilahi. Marilah kita minum sepuasnya hari ini. —Patricia Raybon

WAWASAN
Dalam Hukum Musa, Allah memerintahkan setiap laki-laki Yahudi yang sudah dewasa untuk datang ke Bait Allah di Yerusalem untuk memperingati tiga hari raya atau perjamuan tahunan (lihat Keluaran 23:14-17; Ulangan 16:1-17), yaitu Hari Raya Roti Tidak Beragi (Paskah [Pesach]), Perayaan Penuaian (atau Hari Raya Tujuh Minggu [Shavuot] atau Pentakosta), dan Hari Raya Pengumpulan Hasil (atau Tabernakel [Sukkoth] atau Pondok Daun). Dalam Yohanes 7, Yesus pergi ke Bait Allah untuk merayakan Hari Raya Pondok Daun (ay.2,37). Orang Yahudi merayakannya selama seminggu penuh untuk mengenang pemeliharaan Allah selama empat puluh tahun pengembaraan mereka di padang gurun (Imamat 23:33-44). Penyalaan menorah (pelita bercabang tujuh) raksasa di halaman Bait Allah mengingatkan mereka akan tiang api yang telah menuntun mereka (Keluaran 13:21-22), dan ritual penuangan air mengingatkan mereka akan air dari bukit batu yang telah memuaskan dahaga mereka (17:6; Bilangan 20:8-11). Dengan latar belakang itu, Yesus menawarkan “aliran-aliran air hidup” (Yohanes 7:38) dan menyatakan, “Akulah terang dunia” (8:12). —K.T. Sim

Air Kehidupan

Area mana saja dalam hidup kamu yang gersang dan kering? Apa yang mungkin menghalangi kamu meminta Yesus untuk memberikan air hidup-Nya?

Allah yang penuh kasih, saat hidup membawaku melewati jalan yang sulit dan kering, terima kasih atas karunia Roh-Mu, Air Hidup, yang mengalir dalam diri setiap orang percaya.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 7-9; 2 Korintus 13

Keputusan yang Ceroboh

Selasa, 20 September 2022

Baca: Bilangan 20:1-12

20:1 Kemudian sampailah orang Israel, yakni segenap umat itu, ke padang gurun Zin, dalam bulan pertama, lalu tinggallah bangsa itu di Kadesh. Matilah Miryam di situ dan dikuburkan di situ.

20:2 Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun,

20:3 dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: “Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN!

20:4 Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ?

20:5 Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?”

20:6 Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka.

20:7 TUHAN berfirman kepada Musa:

20:8 “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.”

20:9 Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.

20:10 Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?”

20:11 Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.

20:12 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”

Karena kamu tidak percaya kepada-Ku . . . kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan. —Bilangan 20:12

Sewaktu remaja, saya pernah mengendarai mobil terlalu cepat. Saat itu saya mencoba membuntuti teman saya sepulang latihan basket. Hujan sangat deras, dan saya kesulitan mengejar mobilnya. Tiba-tiba saat wiper mobil menyeka air dari permukaan kaca, tampaklah mobil teman saya berhenti tepat di depan! Saya menginjak rem kuat-kuat, tetapi mobil saya tergelincir, lalu menabrak pohon besar. Mobil saya hancur dan saya terbangun dari koma di bangsal rumah sakit setempat. Berkat pertolongan Tuhan, saya selamat, tetapi kecerobohan saya harus dibayar mahal.

Musa pernah membuat keputusan ceroboh yang harus dibayar mahal. Pilihannya yang buruk juga melibatkan air, meski jumlahnya tidak sebanyak dalam kasus saya. Ketika itu umat Israel tidak mendapat air di padang gurun Zin, dan “berkumpullah mereka mengerumuni Musa” (Bil. 20:2). Allah berfirman kepada sang pemimpin yang kelelahan itu agar berkata kepada bukit batu “supaya diberi airnya” (ay.8). Namun, Musa malah “memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali” (ay.11). Allah pun berkata, “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku . . . kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka” (ay.12).

Ketika membuat keputusan ceroboh, kita harus membayar konsekuensinya. “Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah” (Ams. 19:2). Kiranya kita sungguh-sungguh berdoa untuk mencari hikmat dan tuntunan Allah dalam setiap pilihan dan keputusan yang kita buat pada hari ini. —Tom Felten

WAWASAN
Terkadang orang mempertanyakan mengapa Musa dihukum begitu keras, karena kita dapat memahami rasa frustrasinya atas umat Israel yang selama berpuluh-puluh tahun sering memberontak (Bilangan 20:10-20). Salah satu penafsiran menyatakan bahwa kata-kata Musa (“apakah kami harus mengeluarkan air bagimu,” ay.10) tampaknya mengarahkan keberhasilan mukjizat itu kepada dirinya sendiri, kurang lebih seperti para ahli sihir dari agama kafir yang mengaku mempunyai kuasa seperti dewa yang mereka sembah. Penafsiran lain menyatakan bahwa pertanyaan Musa itu bersifat retorik, yang menyiratkan ia tidak percaya bahwa Allah sanggup atau mau mengeluarkan air dari bukit batu. Namun, apa yang kita ketahui adalah Allah menyebut Musa “tidak percaya kepada-[Nya] dan tidak menghormati kekudusan-[Nya] di depan mata orang Israel” (ay.12). —Monica La Rose

Keputusan yang Ceroboh

Keputusan apa saja yang kamu sesali karena diambil dengan tergesa-gesa? Mengapa penting untuk menahan diri dan berdoa sungguh-sungguh untuk mencari hikmat Allah sebelum bertindak?

Tuhan Yesus, tolonglah aku mengikuti perintah-Mu yang bijaksana seturut dengan pimpinan Roh-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 4-6; 2 Korintus 12