Bahan renungan yang bisa menemani saat teduhmu dan menolongmu dalam membaca firman Tuhan.

Sesuatu yang Kuat dan Menyatukan

Minggu, 22 Mei 2022

Baca: Kejadian 1:26-28

1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

 

Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya. —Kejadian 1:27

Amina, seorang imigran asal Irak, dan Joseph, seorang warga negara Amerika Serikat sejak lahir, berada dalam kubu yang berseberangan pada sebuah unjuk rasa politik. Kita sudah dididik untuk meyakini bahwa orang-orang yang berbeda etnik dan pandangan politik umumnya saling bermusuhan dengan sengit. Namun, ketika sekelompok orang mendekati Joseph untuk membakar baju yang dikenakannya, Amina bergegas menghampiri dan membelanya. “Saya rasa, sebagai manusia, kami sangat jauh berbeda,” kata Joseph kepada seorang wartawan, “meski demikian, pada saat itu kami sama-sama merasa ‘ini tidak bisa dibenarkan’.” Amina dan Joseph disatukan oleh sesuatu yang lebih kuat daripada politik.

Meski kita sering tidak sepakat dengan orang lain—perbedaan-perbedaan mendasar yang tidak dapat kita abaikan—ada kenyataan-kenyataan yang jauh lebih kuat dan menyatukan kita. Kita semua diciptakan Allah dan diikat bersama dalam satu keluarga umat manusia yang dikasihi-Nya. Allah telah menciptakan setiap dari kita—apa pun jenis kelamin, kelas sosial, identitas etnik, atau pandangan politik—“menurut gambar-Nya” (Kej. 1:27). Allah sama-sama tecermin dalam diri Kamu dan saya. Dia bahkan memberi kita tujuan bersama untuk memenuhi dan menguasai dunia milik Allah ini dengan hikmat dan kepedulian (ay.28).

Ketika kita lupa pada kesatuan kita di dalam Allah, kita akan merusak diri sendiri dan orang lain. Namun, ketika kita bersatu dalam kasih karunia dan kebenaran-Nya, kita ikut melakukan kehendak-Nya untuk menjadikan dunia yang berkembang dengan lebih baik. —Winn Collier

WAWASAN
Istilah Latin imago Dei berarti “gambar Allah.” Dalam Alkitab, gagasan tentang manusia yang diciptakan dalam keserupaan dengan Allah berasal dari Kejadian 1:26: “Berfimanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’” Melihat konteks ini, kita memahami bahwa manusia diciptakan oleh Allah dan menyerupai Dia dalam berbagai aspek yang unik, sehingga manusia dapat menjadi wakil Allah untuk “berkuasa” atas apa yang Dia ciptakan. Amanat kekuasaan yang agung ini termasuk kapasitas untuk berpikir kritis, untuk menimbang dengan bijaksana, dan mencipta dengan keindahan dan daya guna. Hal-hal tersebut dan aspek-aspek keserupaan dengan Allah lainnya tercakup dalam manusia yang dimahkotai-Nya “dengan kemuliaan dan hormat” (Mazmur 8:6). —Arthur Jackson

Sesuatu yang Kuat dan Menyatukan
 

Siapa saja yang Kamu anggap sangat jauh berbeda dari Kamu? Bagaimana rasanya jika Kamu menghabiskan waktu bersama mereka dan membicarakan kesamaan yang Kamu miliki?

Ya Allah, jika aku melihat keadaan dunia saat ini, sulit untuk mempercayai bahwa setiap orang memiliki kesamaan yang kuat pada diri mereka, dengan Engkau sebagai alasannya. Tolonglah aku melihat kebenaran ini dengan lebih jelas.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 16-18; Yohanes 7:28-53

Buah yang Menjual Pohonnya

Sabtu, 21 Mei 2022

Baca: Galatia 5:22-26

5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

5:26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

 

Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. —Galatia 5:22-23

Seorang pemilik kebun bibit sedang ingin menjual pohon persiknya. Ia memikirkan berbagai cara yang tepat untuk menjualnya. Apakah sebaiknya ia memajang anakan-anakan pohon berdaun lebat dalam wadah karung goni dan menatanya dengan indah? Atau ia perlu menyusun katalog berwarna yang menampilkan pertumbuhan pohon persik dari musim ke musim? Akhirnya ia sadar bahwa hal yang paling menjual dari pohon persik adalah buah yang dihasilkannya: buah berwarna jingga tua yang berbulu halus dan beraroma manis. Cara terbaik menjual pohon persik adalah dengan memetik buahnya yang ranum, membelahnya sampai sari buahnya menetes di lengan, lalu memberikan seiris kepada calon pembeli. Setelah mencicipi buahnya, mereka akan tertarik untuk membeli pohonnya.

Allah menyingkapkan diri-Nya melalui buah Roh yang dihasilkan dalam diri umat-Nya: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal. 5:22-23). Ketika orang percaya menunjukkan buah Roh tersebut, orang lain akan menginginkannya juga, lalu mencari Sumber dari buah yang sangat menarik itu.

Buah adalah hasil eksternal dari suatu hubungan internal, yakni pengaruh kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita. Buah adalah kemasan yang mengundang orang lain untuk mengenal Allah yang kita wakili. Seperti halnya buah persik berwarna cerah tampak menonjol di antara hijaunya dedaunan pada pohon persik, buah Roh berseru kepada dunia yang kelaparan: “Di sini ada makanan! Di sini ada hidup! Datang dan temukanlah jalan keluar dari kelelahan dan keputusasaan Anda. Datang dan berjumpalah dengan Allah!” —Elisa Morgan

WAWASAN
Rasul Paulus mengajarkan kepada kita sejumlah hal tentang peranan Roh Kudus dalam hidup orang percaya. Saat seseorang percaya kepada Yesus dengan iman, ia menerima Roh Kudus (Galatia 3:2,14). Dia yang disebut “Roh Anak-Nya” (4:6) itu diutus Allah untuk berdiam di dalam hati kita—kita diterima Allah menjadi anak-anak-Nya dan dimampukan untuk memanggil Dia “ya Abba, ya Bapa” (4:6-7). Paulus memperingatkan bahwa natur manusiawi yang berdosa terus berusaha menentang Roh yang berdiam dalam diri kita (5:17). Kemenangan akan kita raih dengan cara hidup dalam kuasa Roh Kudus, dipimpin oleh-Nya dan berjalan seiring langkah-Nya. Hanya dengan cara ini kita dapat mengatasi kecenderungan diri untuk berdosa dan hidup dalam hubungan yang benar dengan Allah (5:5,16,18,25). Hidup yang dikendalikan oleh Roh sungguh menyenangkan Allah; itulah hidup yang menghasilkan “buah Roh” (ay.22). —K.T. Sim

Buah yang Menjual Pohonnya
 

Hal apa yang pertama kali menarik Kamu kepada Yesus? Bagaimana cara Kamu menunjukkan buah Roh dalam kehidupan Kamu supaya orang tertarik kepada Sumbernya, yaitu Allah?

Ya Roh Kudus, aku mengundang-Mu untuk terus menumbuhkan buah-Mu dalam hidupku agar orang lain dapat melihat-Mu dan mengundang-Mu masuk dalam hidup mereka.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 13-15; Yohanes 7:1-27

Disegarkan di Rumah Simon

Jumat, 20 Mei 2022

Baca: 1 Korintus 16:15-18

16:15 Ada suatu permintaan lagi kepadamu, saudara-saudara. Kamu tahu, bahwa Stefanus dan keluarganya adalah orang-orang yang pertama-tama bertobat di Akhaya, dan bahwa mereka telah mengabdikan diri kepada pelayanan orang-orang kudus.

16:16 Karena itu taatilah orang-orang yang demikian dan setiap orang yang turut bekerja dan berjerih payah.

16:17 Aku bergembira atas kedatangan Stefanus, Fortunatus dan Akhaikus, karena mereka melengkapi apa yang masih kurang padamu;

16:18 karena mereka menyegarkan rohku dan roh kamu. Hargailah orang-orang yang demikian!

 

Mereka menyegarkan rohku dan roh kamu. —1 Korintus 16:18

Kunjungan saya ke rumah Simon sungguh tak terlupakan. Di bawah langit bertabur bintang di Nyahururu, Kenya, kami memasuki rumahnya yang sederhana untuk makan malam. Lantai tanah dan penerangan dari lentera menggambarkan kehidupan Simon yang serba sederhana. Saya sendiri tidak ingat apa yang dihidangkan malam itu. Namun, saya takkan melupakan sukacita Simon atas kunjungan kami. Kasih dan keramahtamahannya begitu serupa dengan Yesus—tanpa pamrih, menyentuh hati, dan menyegarkan.

Dalam 1 Korintus 16:15-18, Paulus menyebut satu keluarga—Stefanus dan keluarganya (ay.15)—yang dikenal luas karena pelayanan mereka. Mereka telah “mengabdikan diri kepada pelayanan orang-orang kudus” (ay.15). Walaupun pelayanan mereka kemungkinan mencakup hal-hal yang bersifat jasmaniah (ay.17), dampak yang mereka berikan begitu besar hingga Paulus pun menulis, “mereka menyegarkan rohku dan roh kamu” (ay.18).

Ketika mendapat kesempatan untuk berbagi dengan orang lain, kita cenderung memperhatikan hal-hal seperti makanan, tempat, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Semua itu tidak salah dan penting, tetapi jangan lupa, hal-hal itu bukanlah yang terpenting. Makanan istimewa memang baik, demikian pula tempat yang nyaman tentu juga menyenangkan, tetapi kapasitas makanan untuk sepenuhnya memberikan penyegaran dan penguatan tentu sangat terbatas. Penyegaran sejati bersumber dari Allah dan berurusan dengan hati. Penyegaran itu juga dapat menyentuh hati orang lain, dan akan terus memberi dampak jauh melampaui hal-hal yang bersifat jasmaniah. —Arthur Jackson

WAWASAN
Dalam penutup suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus menekankan kembali tema sentral pesannya kepada mereka: “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih” (1 Korintus 16:14). Contoh pekerjaan kasih itu dapat terlihat dalam pelayanan keluarga Stefanus, “yang pertama-tama menjadi Kristen di Akhaya” (ay.15 BIS) dan yang juga dibaptis oleh Paulus (1:16). Stefanus dan rekan-rekannya datang kepada Paulus membawa sepucuk surat dari jemaat Korintus dan kabar terbaru dari mereka. Kemungkinan mereka juga yang membawa surat balasan dari Paulus ini. Dengan menyebut karakter Stefanus dan rekan-rekannya sebagai teladan kasih—”sepenuh hati bekerja khusus untuk melayani umat Allah” (16:15), Paulus dapat memastikan bahwa mereka akan diterima dan dihargai (ay.16-18). —Monica La Rose

Disegarkan di Rumah Simon
 

Kapan Kamu pernah merasa disegarkan oleh keramahtamahan atau sambutan hangat yang Kamu terima? Bagaimana Kamu dapat mengubah cara Kamu melayani orang lain supaya kesempatan seperti itu dapat lebih berdampak secara rohani?

Ya Bapa, ampuni aku bila selama ini dalam pelayananku, aku lebih mengutamakan kepentinganku sendiri ketimbang orang yang kulayani. Kumohon, luaskanlah kapasitasku supaya pelayananku sungguh membawa kesegaran bagi orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 10-12; Yohanes 6:45-71

Makanan dari Surga

Kamis, 19 Mei 2022

Baca: Keluaran 16:4-5,13-18

16:4 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.

16:5 Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari.”

16:13 Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu.

16:14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi.

16:15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.

16:16 Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.”

16:17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit.

16:18 Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.

 

Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu.” —Keluaran 16:4

Pada bulan Agustus 2020, penduduk kota Olten di Swiss dikejutkan oleh turunnya hujan cokelat! Rusaknya sistem ventilasi di sebuah pabrik cokelat setempat telah menyebabkan partikel-partikel cokelat berhamburan di udara. Alhasil, serpihan-serpihan cokelat yang dapat dimakan menyelimuti mobil-mobil dan jalanan, sehingga seluruh kota beraroma seperti toko permen.

Ketika berpikir tentang makanan lezat yang “secara ajaib” turun dari langit, saya langsung teringat pada pemeliharaan Allah atas bangsa Israel dalam Kitab Keluaran. Setelah lari dari Mesir, bangsa itu menghadapi tantangan yang sangat berat di padang gurun, terutama kelangkaan makanan dan air. Allah, yang berbelas kasihan terhadap umat-Nya, berjanji untuk “menurunkan dari langit hujan roti” (Kel. 16:4). Keesokan paginya, selapis serpihan tipis tampak menyelimuti permukaan gurun. Penyediaan makanan yang disebut manna ini terus berlangsung setiap hari selama empat puluh tahun berikutnya.

Ketika Yesus datang ke dunia dan melakukan mukjizat dengan memberi makan orang banyak (Yoh. 6:5-14), orang-orang mulai percaya bahwa Dia berasal dari Allah. Namun, Yesus mengajarkan bahwa Dia sendirilah “roti hidup” (ay.35), yang diutus bukan sekadar untuk memberikan makanan yang bersifat sementara, melainkan juga hidup yang kekal (ay.51).

Bagi kita yang lapar dan membutuhkan santapan rohani, Yesus menawarkan hidup yang takkan pernah berakhir bersama Allah. Marilah kita percaya dan yakin bahwa Dia datang untuk memuaskan kerinduan-kerinduan kita yang terdalam itu. —Lisa M. Samra

WAWASAN
Para ahli telah berusaha menjelaskan sumber manna yang menjadi makanan Israel selama perjalanan mereka keluar dari Mesir. Beberapa memberikan teori bahwa manna adalah hasil dari semak tamariska yang tumbuh di daerah Sinai. Namun, ini tidak mungkin. Tanaman gurun seperti itu tidak cukup jumlahnya untuk memberi makan seluruh bangsa. The Interpreter’s Dictionary of the Bible memberikan teori lainnya, dengan pendapat bahwa manna mungkin sejenis zat yang dihasilkan oleh serangga. Namun, bagaimanapun cara manna itu muncul, kenyataannya tetap Allah berkata, “Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu” (Keluaran 16:4). Yohanes 6:30-51 memberikan pencerahan tentang hal ini. Yesus menyebut “Bapa-Ku” (ay.32) sebagai sumber manna tersebut. Dia berkata, “Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia” (ay.33). Dia lalu menghubungkan hal itu dengan diri-Nya sendiri: “Akulah roti hidup” (ay.35). —Tim Gustafson

Makanan dari Surga
 

Kapan Kamu mulai menyadari bahwa Kamu membutuhkan Yesus? Bagaimana Kamu mengalami jiwa Kamu dipuaskan oleh Allah?

Tuhan Yesus, terima kasih Engkau memilih datang ke dunia untuk menyerahkan nyawa-Mu supaya aku dapat menikmati hubungan dengan Allah untuk selamanya.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 7-9; Yohanes 6:22-44

Mendambakan Dia

Rabu, 18 Mei 2022

Baca: Yohanes 6:25-35

6:25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?”

6:26 Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.

6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”

6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”

6:29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?

6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.”

6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.

6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.”

6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

6:35 Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

 

Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” —Yohanes 6:35

Mengapa setelah berjanji, “Ini keripik kentang terakhir yang akan saya makan,” lima menit kemudian kita ingin menyantapnya lagi? Michael Moss menjawab pertanyaan ini dalam bukunya yang berjudul Salt Sugar Fat (Garam Gula Lemak). Ia menjelaskan bahwa para produsen camilan terbesar di Amerika sangat tahu bagaimana “menolong” orang mendambakan junk food (makanan dengan kandungan gizi rendah). Salah satu perusahaan terkenal bahkan menghabiskan 30 juta dolar setahun dan menyewa konsultan khusus untuk menentukan titik kepuasan konsumen supaya mereka dapat mengeksploitasi keranjingan kita pada makanan.

Tidak seperti perusahaan itu, Yesus menolong kita untuk mendambakan makanan sejati—santapan rohani—yang memberikan kepuasan bagi jiwa kita. Dia berkata, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35). Dengan membuat pernyataan ini, Yesus menyampaikan dua poin penting: Pertama, roti yang Dia maksud adalah satu Pribadi, bukan barang (ay.32). Kedua, ketika orang mempercayai Yesus untuk pengampunan dosa, mereka memasuki hubungan yang benar dengan-Nya, serta menemukan kepuasan untuk setiap hasrat jiwa mereka. Roti Hidup ini adalah santapan rohani yang kekal, yang menuntun orang kepada kepuasan dan kehidupan sejati.

Ketika kita mempercayai Yesus, Roti sejati dari surga, kita akan mendambakan Dia, dan Dia akan menguatkan serta mengubah hidup kita. —Marvin Williams

WAWASAN
Injil Yohanes mencakup tujuh pernyataan “Akulah” dari Yesus. Setiap pernyataan tersebut mengungkapkan sesuatu tentang diri-Nya yang menolong kita mengerti lebih dalam tentang Dia dengan didukung oleh sesuatu yang telah diperbuat-Nya. Pernyataan pertama—”Akulah roti hidup”—diberikan Yesus setelah Dia baru saja memberi makan lima ribu orang (6:35). Pernyataan-pernyataan lainnya ditemukan dalam pasal 8—15: “Akulah terang dunia” (8:12), “Akulah pintu” (10:7); “Akulah gembala yang baik” (ay.11); “Akulah kebangkitan dan hidup” (11:25); “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (14:6); “Akulah pokok anggur yang benar” (15:1). —Alyson Kieda

Mendambakan Dia
 

Menurut Kamu, mengapa kita mendambakan hal-hal yang kita tahu takkan pernah dapat memuaskan hasrat terdalam jiwa kita? Hal-hal praktis apa yang dapat menolong Kamu untuk lebih mendambakan Yesus?

Tuhan Yesus, Roti Hidup, biarlah aku selalu mendambakan-Mu dan menemukan semua yang kubutuhkan dalam pemeliharaan-Mu yang sempurna.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 4-6; Yohanes 6:1-21

Keberanian yang Tidak Lazim

Selasa, 17 Mei 2022

Baca: Daniel 2:24-30

2:24 Sebab itu pergilah Daniel kepada Ariokh yang telah ditugaskan raja untuk melenyapkan orang-orang bijaksana di Babel; maka pergilah ia serta berkata kepadanya, demikian: “Orang-orang bijaksana di Babel itu jangan kaulenyapkan! Bawalah aku menghadap raja, maka aku akan memberitahukan kepada raja makna itu!”

2:25 Ariokh segera membawa Daniel menghadap raja serta berkata kepada raja demikian: “Aku telah mendapat seorang dari antara orang-orang buangan dari Yehuda, yang dapat memberitahukan makna itu kepada raja.”

2:26 Bertanyalah raja kepada Daniel yang namanya Beltsazar: “Sanggupkah engkau memberitahukan kepadaku mimpi yang telah kulihat itu dengan maknanya juga?”

2:27 Daniel menjawab, katanya kepada raja: “Rahasia, yang ditanyakan tuanku raja, tidaklah dapat diberitahukan kepada raja oleh orang bijaksana, ahli jampi, orang berilmu atau ahli nujum.

2:28 Tetapi di sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia; Ia telah memberitahukan kepada tuanku raja Nebukadnezar apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang. Mimpi dan penglihatan-penglihatan yang tuanku lihat di tempat tidur ialah ini:

2:29 Sedang tuanku ada di tempat tidur, ya tuanku raja, timbul pada tuanku pikiran-pikiran tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari, dan Dia yang menyingkapkan rahasia-rahasia telah memberitahukan kepada tuanku apa yang akan terjadi.

2:30 Adapun aku, kepadaku telah disingkapkan rahasia itu, bukan karena hikmat yang mungkin ada padaku melebihi hikmat semua orang yang hidup, tetapi supaya maknanya diberitahukan kepada tuanku raja, dan supaya tuanku mengenal pikiran-pikiran tuanku.

 

Bawalah aku menghadap raja, maka aku akan memberitahukan kepada raja makna [mimpinya] itu! —Daniel 2:24

Pada tahun 1478, Lorenzo de Medici, penguasa kota Firenze, Italia, berhasil lolos dari serangan yang ditujukan kepadanya. Anak buah Lorenzo mencoba membalas serangan itu sehingga timbullah perang. Ketika situasi memburuk, Raja Ferrante I dari Napoli yang kejam pun semakin memusuhi Lorenzo. Namun, satu tindakan Lorenzo yang gagah berani mengubah segalanya. Ia mengunjungi sang raja seorang diri tanpa membawa senjata. Keberanian ini, ditambah dengan karisma dan kecerdikannya, membuat Ferrante kagum dan mengakhiri perang di antara mereka.

Tokoh Daniel dalam Alkitab juga pernah membantu seorang raja yang tengah gundah. Tak seorang pun di Babel dapat menjelaskan atau menafsirkan mimpi yang mengusik Raja Nebukadnezar. Raja menjadi sangat marah dan memutuskan untuk menghukum mati semua penasihatnya—termasuk Daniel dan teman-temannya. Namun, Daniel meminta izin menemui sang raja yang ingin melenyapkannya (Dan. 2:24).

Di depan Nebukadnezar, Daniel meninggikan Allah yang telah mengungkapkan rahasia mimpi itu (ay.28). Setelah Daniel menggambarkan dan menyingkapkan arti mimpinya, Nebukadnezar pun menghormati “Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja” (ay.47). Keberanian Daniel yang tidak lazim itu, yang lahir dari imannya kepada Allah, telah menyelamatkan dirinya, teman-temannya, dan para penasihat lainnya dari kematian hari itu.

Dalam hidup kita, adakalanya keberanian dan keyakinan dibutuhkan untuk menyampaikan pesan-pesan penting. Kiranya Allah membimbing ucapan kita dan memberi kita hikmat untuk mengetahui apa yang harus dikatakan dan kemampuan untuk mengutarakannya dengan baik. —Jennifer Benson Schuldt

WAWASAN
Kitab Daniel mencakup rentang waktu tujuh puluh tahun pengasingan di Babel (605—535 SM), sama dengan masa penghukuman atas Yehuda karena ketidaksetiaan mereka (Ulangan 28:36,64; Yeremia 25:11; 29:10-11). Daniel, yang diberi nama Babel Beltsazar (Daniel 1:7), adalah satu dari banyak remaja keturunan raja dan bangsawan yang ditawan di Babel dan dididik dalam cara-cara Babel untuk melayani raja Babel yang menaklukkan bangsa mereka (ay.3-7). Daniel pasal 2 memperlihatkan bagaimana Daniel naik menjadi penasihat utama dan tangan kanan Nebukadnezar. Ia menjadi penasihat dan orang kepercayaan raja-raja Babel (ps.1—5) dan Media-Persia (ps.6)—kerajaan-kerajaan adikuasa dalam peradaban kuno. Dalam pasal 7—12, Allah memberikan Daniel empat penglihatan apokaliptik yang mengungkapkan perjalanan sejarah manusia, guna mengingatkan umat-Nya bahwa Dialah Allah yang berdaulat atas segala ciptaan. —K.T. Sim

Keberanian yang Tidak Lazim
 

Bagaimana keberanian seseorang pernah mempengaruhi hidup Kamu? Apa yang dapat Kamu lakukan untuk semakin bersandar pada kuasa Allah agar berani bertindak demi nama-Nya?

Tuhan Yesus terkasih, terima kasih atas keberanian yang Engkau tunjukkan selama hidup-Mu di bumi. Penuhi aku dengan hikmat dan kuasa-Mu saat aku menghadapi situasi yang sulit.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 1-3; Yohanes 5:25-47

Pertarungan yang Sengit

Senin, 16 Mei 2022

Baca: Efesus 6:10-20

6:10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

6:14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

6:19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,

6:20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

 

Perjuangan kita . . . melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini. —Efesus 6:12

Pada tahun 1896, seorang penjelajah bernama Carl Akeley dikejar-kejar oleh seekor macan tutul berbobot 36 kg di sebuah kawasan terpencil di Etiopia. Ia ingat macan tutul itu menerkam, mencoba “menancapkan gigi-giginya pada leherku.” Namun, macan tutul itu meleset dan gigi-giginya justru merobek lengan kanan Akely dengan ganas. Keduanya berguling-guling di pasir dalam pertarungan yang panjang dan sengit. Akeley sempat melemah, dan “tinggal menunggu, siapa yang menyerah lebih dulu.” Akhirnya, dengan mengerahkan sisa-sisa tenaganya, Akeley berhasil mencekik kucing besar itu dengan tangan kosong.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa setiap dari kita yang percaya kepada Yesus, mau tidak mau, pasti akan menghadapi pertarungan sengit dalam diri kita sendiri, yaitu ketika kita merasa kewalahan dan tergoda untuk menyerah saja. Akan tetapi, kita harus “bertahan melawan tipu muslihat Iblis” dan “[berdiri] tegap” (Ef. 6:11,14). Alih-alih menciut ketakutan atau hancur berantakan saat menyadari kelemahan dan kerentanan diri kita, kita ditantang Paulus untuk melangkah maju dalam iman, sambil mengingat bahwa kita tidak mengandalkan keberanian dan kekuatan sendiri, melainkan kuasa Allah. “Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya,” tulisnya (ay.10). Di hadapan beragam tantangan yang menghadang, Dia hanya sejauh doa (ay.18).

Kita memang punya banyak pergumulan, dan kita tidak akan pernah bisa terlepas dari semua itu dengan kekuatan atau kepintaran kita sendiri. Namun, Allah jauh lebih kuat daripada musuh atau kejahatan apa pun yang akan kita hadapi. —Winn Collier

WAWASAN
Efesus adalah sebuah kota besar Romawi pada peradaban kuno, sehingga konsep tentang perlengkapan senjata seorang tentara akan mudah dipahami oleh jemaat di sana. Karena Paulus menuliskan surat ini ketika ia berada dalam tahanan rumah di Roma, ia pasti sering melihat contoh perlengkapan senjata Romawi yang menjadi dasar analoginya. Pasukan Romawi adalah kekuatan tempur yang dahsyat, dan intensitas setingkat itulah yang dibutuhkan untuk berjuang “melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” yang menentang umat Tuhan (Efesus 6:12). —Bill Crowder

Pertarungan yang Sengit
 

Pergumulan apa yang sedang Kamu (atau orang yang Kamu kasihi) hadapi saat ini? Bagaimana cara Allah memanggil Kamu untuk berdiri tegap dalam kuasa-Nya dan berperang bagi-Nya?

Ya Allah, pertarungan yang kuhadapi sungguh nyata. Godaan iblis pun nyata. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat, tetapi aku percaya Engkau dan kuasa-Mu yang dahsyat itu pasti menyertaiku.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 24-25; Yohanes 5:1-24

Mengotak-atik Alam Semesta

Minggu, 15 Mei 2022

Baca: Kolose 1:15-20

1:15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,

1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.

1:17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.

1:18 Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.

1:19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,

1:20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.

 

Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. —Kolose 1:17

Pada awal 1980-an, seorang astronom terkemuka yang tidak percaya kepada Tuhan menulis, “Penafsiran akal sehat atas fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa sebuah kecerdasan super telah mengotak-atik fisika, juga kimia dan biologi.” Di mata sang ilmuwan, bukti itu menunjukkan adanya sesuatu yang telah merancang segala sesuatu yang kita amati di alam semesta. Ia menambahkan, “Kita tidak mungkin menyatakan bahwa semua ini terjadi secara kebetulan.” Dengan kata lain, segala sesuatu di alam semesta ini terlihat seolah-olah sudah direncanakan oleh satu Pribadi. Meski berkata demikian, sang astronom tetap menjadi ateis.

Tiga ribu tahun lalu, ada orang pintar lain yang memandang ke langit dan menarik kesimpulan yang berbeda. “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindah-kannya?” ucap Daud dengan takjub (Mzm. 8:4-5).

Namun, Allah memang mengindahkan kita. Alam semesta menceritakan tentang Perancangnya yang agung, “Kecerdasan Super” yang menciptakan pikiran kita dan menempatkan kita di sini untuk merenungkan karya-Nya. Allah dapat dikenal lewat Yesus dan karya ciptaan-Nya. Paulus menulis, “[Kristus] adalah . . . yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi” (Kol. 1:15-16).

Memang ada yang telah “mengotak-atik” alam semesta ini. Identitas Sang Perancang Cerdas itu dapat terlihat dan ditemukan oleh siapa pun yang bersedia mencari tahu. —Tim Gustafson

WAWASAN
Dalam beberapa aspek penting, surat Rasul Paulus kepada jemaat Kolose menyerupai Injil Yohanes dalam Perjanjian Baru. Keduanya menggambarkan Kristus sebagai Pencipta semesta (Yohanes 1:1-3; Kolose 1:13,16-17). Kedua kitab itu juga menunjukkan bagaimana Yesus datang ke dunia sebagai raja-hamba yang mengorbankan diri-Nya untuk memimpin sebuah kerajaan yang sangat berbeda dari yang lain (Yohanes 18:33-37; Kolose 1:9-14). Dalam masa jaya Romawi, para Kaisar membangun kekaisarannya dengan pedang dan suap, dengan mendayagunakan perbudakan dan demi mengejar kekayaan materi. Mereka menawarkan kekayaan dan kebebasan kepada para sahabat, tetapi penderitaan keji untuk siapa saja yang menentang mereka. Pernyataan kesetiaan kepada pribadi lain bisa membuat orang dihukum pancung atau disalib. Namun, itulah risiko yang ditempuh Yohanes dan Paulus, dan yang mereka dorong untuk ditempuh orang lain. Mereka memberi alasan yang kuat bagi orang percaya untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan dan untuk memperlihatkan penghambaan dalam hubungan dengan sesama, seturut pimpinan Roh dan nilai-nilai kerajaan-Nya (Kolose 3:12-25). —Mart De Haan

Mengotak-atik Alam Semesta
 

Bagaimana Allah terlihat dalam setiap detail kehidupan Kamu? Bagaimana cara Kamu membagikan keyakinan Kamu akan Allah kepada seseorang yang meragukan keberadaan-Nya?

Bapa Surgawi, terima kasih karena Engkau dapat dikenal melalui karya ciptaan-Mu. Aku berdoa, bukalah mata mereka yang tidak melihatnya agar mereka dapat mengenal-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 22-23; Yohanes 4:31-54

Karunia Pertobatan

Sabtu, 14 Mei 2022

Baca: Yoel 2:12-14

2:12 “Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”

2:13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.

2:14 Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu.

 

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang. —Yoel 2:13

“Tidak! Aku tidak melakukannya, Ma!” Jane mendengar penyangkalan putranya yang masih remaja itu dengan hati sedih, karena ia tahu putranya berbohong. Jane berdoa dalam hati, memohon pertolongan Allah sebelum kembali menanyai Simon tentang apa yang terjadi. Simon terus menyangkal dirinya berbohong, sampai akhirnya Jane menyerah dengan jengkel. Saat ia hendak melangkah pergi untuk menjernihkan pikirannya, tiba-tiba Simon menyentuh bahunya dan meminta maaf. Menanggapi teguran Roh Kudus, Simon pun bertobat.

Dalam Kitab Yoel di Perjanjian Lama, Allah menyerukan umat-Nya untuk sungguh-sungguh bertobat dari dosa-dosa mereka saat Dia memanggil mereka agar kembali kepada-Nya dengan segenap hati (2:12). Yang dikehendaki Allah bukanlah tindakan penyesalan yang bersifat lahiriah, melainkan melunaknya sikap mereka yang keras: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu.” Yoel mengingatkan bangsa Israel bahwa Allah itu “pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (ay.13).

Kita mungkin merasa sulit mengakui dosa dan kesalahan kita karena ada keangkuhan pada diri kita. Mungkin kita memalsukan kebenaran, dan kita membenarkan tindakan kita dengan mengatakan bahwa itu hanya “kebohongan kecil” atau “bohong putih”. Namun, ketika kita mengindahkan bisikan Allah yang lembut tetapi tegas untuk bertobat, Dia akan mengampuni kita dan menyucikan kita dari segala dosa (1Yoh. 1:9). Kita pun dapat terbebas dari rasa bersalah dan malu, karena mengetahui bahwa kita telah diampuni. —Amy Boucher Pye

WAWASAN
Dalam menggambarkan “hari TUHAN” yang akan datang (Yoel 2:1)—waktu ketika Allah akan dengan tuntas mengatasi kejahatan dan membawa keselamatan bagi dunia, Yoel mendesak umat Allah untuk bertobat dan berdoa. Kepada mereka yang memberontak terhadap Allah, “hari TUHAN” membawa peringatan dan ketakutan (ay.1), “hari gelap gulita dan kelam kabut” (ay.2). “Betapa hebat dan sangat dahsyat hari TUHAN! Siapakah yang dapat menahannya?” (ay.11). Namun, segera setelah muncul kata-kata muram tadi, Yoel memberikan gambaran yang sangat berbeda bagi umat Allah yang akan mengalami “hari” tersebut. Yoel mengingatkan pendengarnya tentang siapa Allah yang menyatakan diri-Nya kepada Musa—”pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya” (ay.13). Inilah Allah yang akan menanggapi pertobatan mereka, tidak dengan membawa kehancuran melainkan dengan menyediakan pemulihan dan kelimpahan (ay.14,21-25). —Monica La Rose

Karunia Pertobatan
 

Bagaimana perasaan Kamu ketika mengucapkan “kebohongan kecil” atau “bohong putih?” Bagaimana kesadaran atas perbuatan Kamu tersebut membawa Kamu kepada pertobatan?

Tuhan Yesus, Engkau mati di kayu salib agar aku dapat hidup seturut dengan kehendak-Mu dan kehendak Bapa. Ajarlah aku menerima karunia kasih-Mu saat aku mengucapkan kejujuran.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 19-21; Yohanes 4:1-30