Menemukan Passion: Kombinasi Sukacita dan Derita

Info

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Musik adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan pribadiku. Bukan karena keberadaannya yang sanggup menentukan situasi mood, tapi aku juga meyakini bahwa bidang ini menjadi salah satu panggilan Tuhan dalam hidupku. Atau, dengan kata lain, bermain musik menjadi salah satu passion pribadiku. Namun, jika aku melihat kembali ke belakang, sebenarnya bermain musik pernah menjadi kepahitan untukku.

Menari Lebih Keren Daripada Main Musik

Bakat bermain musik yang kumiliki diturunkan dari papa. Beliau berprofesi sebagai pengajar piano sejak muda hingga saat ini. Waktu kelas 3 SD, aku mulai diajari bermain musik melalui sebuah alat bernama organ (alat musik melodis semacam piano namun memiliki tingkatan atas dan bawah). Namun sayangnya kegiatan ini tidak berlangsung lama. Banjir besar tahun 2000 silam membuat organ tersebut rusak total sehingga harus dibuang. Akhirnya aku tidak melanjutkan latihan musik secara rutin selama beberapa tahun.

Jujur, aku tidak merasa kecewa atau sedih dengan rusaknya alat musik tersebut. Pada waktu itu, sebenarnya aku lebih tertarik mempelajari seni tari. Hal ini karena dipengaruhi oleh film “Petualangan Sherina”, sebuah film musikal di tahun 2000-an yang di dalamnya cukup banyak menampilkan adegan menari bersama teman. Aku pun cukup terinspirasi dan kagum dengan talenta yang dimiliki Sherina, sang pemeran utama, hingga aku bahkan sempat berpikir: aku ingin menjadi balerina suatu hari nanti–mengikuti jejak Sherina yang juga pandai menari balet. Namun, ternyata Tuhan lebih banyak membukakan padaku jalur bermain musik, walaupun pada saat itu aku hanya mengikuti arus saja; mengikuti arahan papa yang terus memupuk talenta bermusik di dalam diriku meski harus ‘menumpang’ main piano di tempat kerjanya. Perasaan dan minatku pun juga bisa dibilang datar-datar saja ketika sedang dilatih bermain piano.

Lima tahun berlalu dan papaku memiliki cukup dana untuk membeli piano baru. Saat itu aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Tentunya, papa kembali melatihku dengan ilmu-ilmu serta teknik baru, dan aku seperti biasa hanya menurut saja. Hingga tiba pada suatu hari aku mendapat tugas kelompok di sekolah pada pelajaran Seni Musik. Dalam rangka pengambilan nilai, kami secara berkelompok diminta menampilkan karya musik bebas. Vocal group, menyanyi dengan koreografi, pertunjukkan musik akustik, apa saja. Salah satu teman kelompokku yang mengetahui bahwa aku bisa bermain piano, memintaku untuk mengiringi kelompok ini. Singkat cerita, aku mengiyakannya. Kami latihan di rumahku sambil dibantu papa untuk sedikit mengaransemen paduan vokalnya dan juga melatihku teknik iringan sederhana untuk pemula.

Setelah latihan selama beberapa hari, tibalah kami pada hari-H. Aku dan teman sekelompok berniat meminjam keyboard milik sekolah untuk digunakan saat pengambilan nilai. Kami meminta izin pada salah satu guru yang menjadi penanggung jawab alat tersebut. Tak disangka, ternyata momen tersebut menjadi penghantar bagiku untuk mulai menjalani proses bertumbuh di bidang musik. Mengetahui aku bisa bermain keyboard, sang guru memintaku untuk menjadi pengiring musik di setiap upacara sekolah hari Senin. Awalnya tentu aku sangat gugup. Siapakah aku ini? Permainanku belum bagus! Aku masih belajar. Aku masih pemula. Rasa minder dan takut yang cukup besar menguasaiku. Namun beliau meyakinkanku bahwa tidak masalah untuk mencoba dulu di awal. Tidak harus bermain dengan cara yang profesional atau kelas papan atas. Cukup level murid yang masih belajar pun beliau tidak mempermasalahkan. Di situ akhirnya aku setuju, dan singkat cerita aku berproses, bertumbuh, dan terus belajar mengembangkan talenta tersebut melalui momen upacara setiap hari Senin dan acara-acara internal sekolah yang sejenis. Pada titik inilah akhirnya aku menyadari secara kognitif bahwa aku memiliki talenta di bidang musik, dan rasa senang bermain piano tumbuh semakin besar. Aku menyukainya, dan bertahan melakukannya hingga lulus SMP. Ketika lulus, aku bertekad untuk melanjutkan proses ini di SMA.

Ternyata, Tuhan izinkan aku mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan di level selanjutnya. Sampai-sampai aku sempat bersumpah untuk tidak bermain piano lagi selamanya.

Sebuah Penderitaan

Salah satu kegiatan siswa yang aku ikuti saat SMA adalah rohkris (rohani kristen)–sebuah ekstrakurikuler resmi untuk siswa-siswi Kristen di sekolah. Ketika tiba pada acara retreat tahunan, aku turut dilibatkan sebagai pengiring musik ibadah. Awalnya aku menolak karena merasa belum memiliki kemampuan yang cukup. Apalagi saat itu kondisinya aku masih anak baru. Namun salah seorang kakak senior–yang juga ikut menjadi pemusik–mendorongku untuk terlibat saja dulu, tidak perlu memikirkan sudah sejauh mana batas kemampuanku bermain musik. Akhirnya, aku membekali diri dengan cara membawa beberapa buku lagu rohani Kristen yang kumiliki ke lokasi retreat.

Tiba pada sebuah sesi di mana salah satu guru pembimbing meminta aku memainkan lagu yang tidak ada dalam buku acara retreat. Bagiku, mengiringi lagu secara dadakan tanpa latihan matang merupakan sebuah ‘neraka’ pada saat itu. Aku gugup. Aku bisa merasakan detak jantung yang makin berdegup kencang saat menyadari sesi tersebut akan dimulai 15 menit lagi. Beliau memang mengajariku cara mengiringinya, namun apalah aku ini yang pada saat itu belum sampai pada tahap mampu bermain lagu dadakan. Bahkan lagu tersebut tidak ada partiturnya di buku-buku lagu rohani yang kubawa. Sadar aku tidak dapat memenuhi permintaannya, beliau mengatakan sesuatu yang ternyata menyakitkan hatiku:

“Bisa, nggak? Yah kamu sih bisanya cuma mainin lagu yang kamu tahu aja ya. Kalau lagunya nggak tahu kamu pasti nggak bisa.”

Mungkin ketika aku menuliskan kembali secuil memori ini, rasanya perkataan itu tidak berarti apa-apa. Namun untuk aku yang mengalaminya saat itu, rasa minder dan rendah diri menguasaiku seratus persen. Aku hanya bisa terdiam dan menyerah ketika akhirnya beliau yang mengambil alih memainkan lagu tersebut. Lima menit sebelum sesi dimulai, aku pergi ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Aku merasa tidak berguna. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang pemain piano yang baik. Ketika menangis, aku bersumpah di dalam diriku untuk tidak akan pernah menyentuh alat musik itu lagi selamanya. Aku bertekad akan berhenti latihan, dan retreat saat itu menjadi kesempatan terakhirku untuk bermain piano.

Kenyataan yang terjadi pada masa-masa setelahnya berbanding terbalik dengan apa yang sudah kurencanakan. Tuhan ternyata tidak ingin aku mengubur talenta ini. Emosi sesaat yang kurasakan memang sempat membuatku enggan bermain piano lagi. Rasa benci terhadap sang guru pun juga tidak aku sangkal pada saat itu. Namun kesempatan demi kesempatan terbuka begitu banyak dan lebarnya hingga aku semakin diproses. Mulai dari diminta mengiringi paduan suara sekolah, mulai dilibatkan sebagai pengiring musik ibadah Minggu di gereja, mengiringi kelompok musik ensemble binaan papa, mengiringi kelompok paduan suara guru-guru dalam sebuah lomba, dan berbagai kesempatan lainnya yang terus menerus menjadi proses pembelajaran serta pengembangan talentaku hingga saat ini. Aku juga makin mengonfirmasi bahwa bermain piano merupakan salah satu panggilan Tuhan di dalam hidupku. Konfirmasi ini tentu aku peroleh melalui proses yang panjang. Seiring dengan berjalannya waktu, aku pun makin mencintai talenta ini. Aku senang mengiringi orang lain bernyanyi dan makin senang pula jika orang tersebut bersukacita saat bernyanyi. Aku sudah lupa sama sekali dengan keinginanku waktu kecil untuk menjadi seorang penari atau ballerina seperti Sherina.

Passion: Sukacita dan Menderita

Dalam perenunganku, aku akhirnya paham bahwa passion tidak hanya dibatasi oleh rasa senang dalam melakukan sesuatu atau hanya sekadar hobi. Misalnya: aku senang bermain piano maka passion-ku adalah di bidang musik, atau aku senang menulis maka passion-ku adalah di bidang media literatur, dan sebagainya. Mungkin memang bisa dimulai dari kesenangan hati, tapi seiring dengan prosesnya, kita bisa saja diperhadapkan dengan tantangan dan rintangan yang menguji apakah kita tetap setia melakukannya? Apakah kita tetap mau berproses di dalamnya sekalipun kita menderita? Tidak akan pernah ada proses jika tidak ada titik awal.

Berbicara sedikit soal passion, aku pun jadi teringat sebuah judul film yang mungkin tak asing bagi kita sebagai orang percaya: “The Passion of The Christ”, karya Mel Gibson. Film ini dikemas dengan sangat baik dalam menceritakan peristiwa penderitaan Yesus hingga mati di kayu salib demi menebus dosa kita. Refleksi pribadiku dalam meneladani passion-Nya setelah merenungkan film ini adalah: apakah aku tetap setia bermain piano meskipun harus menderita? Apakah aku bisa tetap bertahan dan konsisten mengiringi orang lain menyanyikan puji-pujian sekalipun mengalami tantangan? Satu hal yang selalu menguatkanku adalah: Tuhan pasti menyertai dalam setiap prosesnya. “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar…sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Ulangan 31:6)—sebuah ayat penguatan untukku pribadi ketika aku mulai takut untuk melangkah dalam menjalani panggilan-Nya.

Dalam proses mencari panggilan hidup kita, izinkan aku mengutip sebuah pertanyaan refleksi dari seorang penulis buku dan content creator, Raditya Dika, pada sebuah acara workshop berjudul “Writing is Empowering”: Apa yang menjadi bara di dalam hatimu? Dan sedikit tambahan pesan dariku, jika kita sudah menemukan apa yang menjadi kemampuan kita, dan kita yakin itu adalah talenta dari-Nya, kembangkanlah. Pertajam. Lalu belajar pelan-pelan membagikannya supaya menjadi dampak dan berkat untuk orang lain. Ada banyak sekali talenta yang Tuhan anugerahkan untuk dunia ini. Cara mengembangkannya pun berbeda-beda. Tinggal seberapa besar niat, tekad, konsistensi, komitmen, dan ketekunan kita untuk berlatih dan melakukannya. Semangat ya!

Kiranya Tuhan menolong kita untuk peka akan panggilan-Nya dalam hidup kita masing-masing.

To GOD be the glory!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Keluargaku di Bawah Bayang-bayang Maut

Ketika aku sekeluarga positif terjangkit Covid-19, ketakutan segera menguasaiku. Mengapa Tuhan izinkan kami mengalami ini? Mendekam berhari-hari dalam ruang isolasi sembari harap-harap cemas.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!