Posts

Mengapa Kita Begitu Menggandrungi Serial Squid Game

Oleh Rebecca Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why We’re Hooked up on Squid Game

Bayangkanlah begini: setelah bertahun-tahun berjuang, kamu malah jatuh ke dasar jurang. Ketika keadaan tak lagi menyuguhkanmu jalan keluar, tiba-tiba ada orang asing yang menawarimu kesempatan sekali seumur hidup untuk memenangkan satu truk yang isinya penuh uang 

Yang perlu kamu lakukan cuma satu: ikut serta di serial permainan. 

Kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu memilih untuk hidup dalam rasa malu dan derita karena dijerat utang, melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain, atau ambil kesempatan itu supaya bisa merdeka dari krisis finansial, sekalipun risikonya besar sekali? 

Itulah pertanyaan yang menjadi dasar di balik Squid Game, serial drama Korea di Netflix, yang seketika menjadi booming di lebih dari 90 negara pasca dirilis dua minggu lalu. Sekarang serial ini sedang otw untuk jadi tayangan Netflix yang paling banyak ditonton. 

Seperti 45,6 juta orang penontonnya, aku pun tak tahan untuk tidak menonton. Drama yang mengisahkan petualangan bertahan hidup, seperti The Hunger Games, dan lain-lain sebenarnya bukanlah genre film yang kusukai. 

Tapi, setelah melihat banyak meme beredar di medsos, aku jadi penasaran dan menonton film ini meskipun teman-temanku memperingati kalau di dalamnya akan ada banyak adegan berdarah-darah, kejam, dan bisa saja membuatku mimpi buruk. 

Apa itu Squid Game 

Squid Game berangkat dari gagasan sederhana: 456 orang yang telah putus asa diundang untuk ikut serta dalam pertandingan yang diselenggarakan di pulau terpencil. Mereka akan mendapat kesempatan untuk memenangkan hadiah utama senilai 45,6 milyar Won. 

Selama turnamen berlangsung, mereka harus berpartisipasi di enam permainan yang terinspirasi dari permainan tradisional anak-anak Korea dalam berbagai format: ada yang mainnya sendiri-sendiri, berpasangan, atau berkelompok. Sekali mereka memilih ikut serta, mereka harus berpartisipasi di setiap permainan dan hanya boleh keluar kalau mayoritas memilih untuk menghentikan pertandingan. 

Tapi, di situlah gagasan sederhana itu berakhir. Setiap peserta tidak tahu permainan seperti apa yang akan mereka mainkan, bagaimana memainkannya, dan yang paling penting, mereka tak tahu kalau mereka sungguhan akan dieliminasi (contoh: ditembak mati) kalau mereka gagal di setiap ronde. Ditambah lagi ada tekanan berupa batasan waktu dan permainan psikologis. Mereka harus bekerja sama, atau saling beradu dengan orang yang paling mereka percaya. Dari adegan-adegan ini kita melihat perwujudan terbaik dan terburuk dari kemanusiaan ketika masing-masing pemain berlomba untuk saling mengecoh demi bertahan dalam kompetisi dan memenangkan hadiah utama. 

Cukuplah untuk mengatakan kalau pertandingan ini brutal, menakutkan, dan mengerikan.

Dalam 9 episodenya, kita melihat gambaran yang suram tapi sangat realistis tentang seperti apakah dunia saat kita sendiri yang menjalaninya dan setiap orang melakukan apa yang benar menurut mata mereka sendiri. Kita melihat yang kaya mengeksploitasi yang miskin karena bosan, teman mengkhianati teman, dan orang-orang yang putus asa melakukan pembunuhan demi mempertahankan diri. 

Tapi, di saat yang sama, pertandingan ini tak cuma tentang pembantaian dan korupsi. Di antara adegan-adegan mengerikan ini, ada momen-momen yang menggugah pikiran, cerita yang indah, serta muncul penggambaran akan kebaikan dan kerapuhan di antara para karakternya. Inilah faktor yang menegaskan kenapa Squid Game berhasil membuat kita menggandrunginya.

via GIPHY

Squid game menunjukkan kita tak jauh berbeda dengan para pemain

Melihat para pemain ini saling memperlakukan, menilai situasi, dan menyusun strategi, kusadari kalau seandainya aku terjebak dalam situasi yang sama, aku dan orang-orang di sekitarku mungkin akan melakukan cara yang sama: Apakah orang ini akan membantuku atau menjatuhkanku? Siapa orang terkuat yang bisa kudekati? Hal terlemah apa yang harus kuhindari?

Sebagian besar ketegangan di drama ini datang dari pertarungan mental yang terus-menerus untuk mencari tahu dengan siapa kamu harus percaya dan membentuk tim—dan tidak tahu bagaimana sistem permainan itu akan membuat mereka malah melawanmu. Dan, saat hadiah uang bertambah setiap kali satu pemain tereliminasi, tidaklah sulit untuk melihat mengapa tiap pemain akhirnya melakukan hal-hal yang tak masuk akal demi bertahan hidup. 

Kulihat cerminan diriku dalam berbagai karakter pemain itu. “Apakah aku juga bersalah karena menilai orang lain berdasarkan standarku sendiri tentang apa yang baik? Bagaimana aku memperlakukan orang lain yang kuanggap ‘lebih lemah’ dariku?

Squid game menunjukkan hidup tak selalu berjalan seperti yang diinginkan

Seperti kenyataan hidup bahwa tak selalu yang terkuat atau yang terpintar yang akan jadi terdepan, Squid Game menyuguhkan pada kita tentang apa yang sebenarnya paling penting dalam permainan ini. Biasanya kartu truf tidak dimenangkan oleh orang yang punya pengalaman masa lalu, punya kemampuan untuk menghitung kemungkinan menang, atau pengetahuan mereka, tapi dari kekuatan yang tersembunyi dari mereka yang sering diabaikan, disingkirkan, atau dihina. 

Squid Game membawa kita bertemu muka dengan muda dengan batasan dari pengetahuan kita, membuktikan bahwa tak peduli seberapa baik strategi kita, seberapa cemerlang ide kita, atau seberapa kuat tim kita, selalu ada elemen ketidakpastian yang kita sendiri tak tahu. 

Kudapati diriku bertanya-tanya, apakah aku selama ini mengandalkan diriku sendiri? Seberapa sering kupikir aku sendiri mampu menyelesaikan segalanya?

Squid game menunjukkan betapa mudahnya kita tergoda dosa 

Mungkin salah satu alasan kenapa Squid Game digandrungi seisi dunia adalah karena film ini mengisi kekosongan, rasa gelisah yang kita semua rasakan karena pademi yang membuat kita bosan. Sebaliknya, Squid game menarik kita ke dunia fantasi di mana kita dijanjikan oleh pesta visual yang ceria, aksi tanpa henti, dan sensasi yang membuat jantung berdebar. 

Bagiku, garis antara fantasi dan realita masih terlihat jelas sampai di episode ketika para VIP (atau mungkin sponsor) di balik permainan ini ditampilkan. Momen ketika kamera menyorot mereka menonton permainan dimainkan, membuatku sadar sebagai penonton kalau aku juga berperan di posisi yang sama seperti VIP. 

Meskipun awalnya aku enggan menonton drama yang berdarah-darah, tapi rasanya aku tak bisa menghentikan tiap episodenya. Film ini tidak membuatku ketagihan ataupun menghibur karena melihat orang lain menderita, dan sejujurnya tidak sulit untuk menebak siapa yang akan jadi pemenang terakhirnya. Tapi, yang membuatku tetap duduk di depan layar menonton ini adalah aku ingin mencari tahu bagaimana setiap pemain mengalahkan rintangan dan sampai di titik akhir. 

Ketika para pemain melihat satu per satu rekannya mati dan berhenti saling menjaga demi bertahan hidup, aku melihat perubahan yang sama dalam sikapku menonton: ketika awal-awal kudengar senjata diledakkan, aku menutup mataku, tak mampu melihat adegan darah dan kekerasan itu. Namun, begitu faktor kejutan itu hilang, aku jadi tak takut lagi dengan kematian dan darah yang menggumpal di tanah. Kengerian itu tak lagi mempengaruhiku, aku hanya ingin tahu jawaban dari pertanyaanku: siapa dalang dari balik semua ini? Apakah benar pemenang akan dapat uang? Siapa orang di balik topeng yang menembaki orang-orang itu?

Aku bertanya-tanya: mengapa menonton adegan jahat itu membuatku ketagihan, terutama ketika disorot dari sudut pandang yang menarik, atau dihiasi dengan estetika yang memanjakan mata? Apakah kita sedang mengembangkan suatu kultur yang menormalkan praktik kekerasan?

Itu semua membuka mataku, betapa mudahnya kita orang-orang Kristen tergoda. Faktanya, ketika aku mengevaluasi kenapa akhirnya aku menonton drama ini, aku sadar kalau aku mengizinkan cara pikirku dibentuk oleh dunia di sekitarku alih-alih oleh apa yang Alkitab katakan sebagai hal yang benar, adil, murni (Filipi 4:8). 

Dan dari situlah aku mulai mengerti makna dari peringatan Paulus kepada kita untuk “tidak menjadi sama dengan dunia ini, tetapi berubah oleh pembaharuan budi” (Roma 12:2a). 

Mengerikan rasanya melihat betapa mudahnya garis antara apa yang baik dan layak menjadi samar ketika kita membenamkan diri kita pada pandangan dunia. 

via GIPHY

Jadi, haruskah kita menonton Squid Game?

Kalau kamu belum menonton serial ini sama sekali, mungkin kamu bertanya-tanya, “Haruskah aku nonton?” Atau mungkin, kamu itu sepertiku, ikut-ikutan nonton lalu merasakan konflik batin atau malah merasa ‘kosong’ pada akhirnya.

Mungkin pertanyaan intinya bukanlah tentang apakah boleh atau tidak kita menonton tayangan yang penuh kekerasan, tapi saat kita menonton tayangan seperti Squid Game, kita perlu menanyakan pada diri kita sendiri bagaimanakah film yang kita tonton akan mempengaruhi jiwa kita dan cara pandang kita melampaui apa yang disajikan di layar. Bagaimana kita dapat melihat kesakitan yang tersembunyi yang sejatinya ada di sekitar kita? 

Apakah kita, seperti para pemain di Squid Game, terperangkap di siklus tak berujung untuk mengejar egoisme dan tujuan yang tak berarti? Apakah kita peka terhadap pergumulan dari orang lain yang seringkali tersamarkan di balik senyuman tipis atau pakaian bagus? Atau, apakah kita sendiri bergumul dengan dosa rahasia dan kebencian yang berkecamuk dalam pikiran? 

Kebenarannya adalah kita semua tidak membutuhkan drama Korea seperti Squid Game untuk menunjukkan pada kita betapa keras dan susahnya hidup serta bobroknya hati manusia. Kita tak butuh melihat kebrutalan itu disajikan di layar untuk mengetahui kalau kita sedang hidup di dunia yang dipenuhi kejahatan, ketamakan, dan pengkhianatan—dan betapa kita membutuhkan penebusan dan penyelamatan. 

Di dalam dunia di mana kita bersaing satu sama lain dan mengukur nilai diri kita berdasarkan seberapa banyak yang mampu kita raih, siapa yang kita kenal, berapa banyak yang kita miliki, bukankah suatu keindahan untuk mengetahui bahwa kasih karunia Tuhan kita tidak bergantung pada diri kita sendiri? Ini bukanlah pilihan antara dua situasi yang mustahil. Kita tidak harus melompati jembatan kaca, atau memenangkan kompetisi mahasulit untuk meraih kasih dan penebusan itu. 

Itulah hadiah terbesar yang memberikan pada kita harapan dan kebebasan yang sejati, dan setiap orang dapat menerimanya tak peduli apa pun kesalahannya di masa lalu. 

 

*Tangkapan layar diambil dari: Netflix.

Ingatlah Yesus yang Pernah Menderita Bagi Kita – Artspace Jumat Agung

Apapun situasi yang kita alami saat ini, kita dapat yakin bahwa ada seseorang yang benar-benar tahu apa yang sedang kita hadapi. Karena Dia sendiri pernah melewati semua itu.

Jadi, kalau kamu mendapatkan diagnosa penyakit tertentu, ingatlah Yesus, yang hidup setiap hari dalam hidup-Nya dengan menyadari bahwa Dia akan mati dengan cara yang begitu kejam (Matius 16:21).

Jika kamu bergumul untuk menerima apa yang menjadi kehendak Tuhan (mungkin keadaan di rumah atau tempat kerjamu tidak berjalan seperti yang kamu inginkan), ingatlah Yesus yang memohon kepada Allah Bapa di Taman Getsemani (Lukas 22:42).

Jika teman-temanmu telah mengkhianati atau meninggalkanmu, ingatlah Yesus, yang juga dikhianati oleh Yudas, murid-Nya (Lukas 22:3-6).

Jika kamu mendapatkan tuduhan yang salah, ingatlah Yesus, yang juga mendapatkan tuduhan yang salah di hadapan Pilatus dan Herodes (Lukas 23:2, 10).

Jika kamu telah kehilangan semua yang kamu miliki, ingatlah Yesus, yang meninggalkan takhta-Nya di surga untuk datang ke dunia yang telah jatuh dalam dosa ini (Filipi 2:6-8).

Jika kamu tidak mendapatkan apa yang menjadi hakmu, ingatlah Yesus, yang tubuh-Nya didera bagi kita (Filipi 2:6-8).

Jika kamu sedang menghadapi sakit secara fisik, ingatlah Yesus yang tergantung di kayu salib (Yesaya 53:4-5).

Jika kamu merasa diabaikan oleh Allah, ingatlah Yesus, yang ditinggalkan Allah di atas kayu salib (Matius 27:46).

Ingatlah Yesus.

Ingatlah bahwa Dia telah mati untuk memberikan kita hidup.

Ingatlah juga bahwa Dia pernah hidup di dunia ini untuk menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup.

Menghadapi Penderitaan Tidak dengan Tawar Hati

Oleh Alvin Nursalim

Menjalani kehidupan pasti akan menghadapi penderitaan. Dalam profesiku sebagai dokter, rasa sakit, tangis, dan kesedihan adalah kawan yang menjadi keseharianku.

Pastinya teman-teman setuju bahwa rumah sakit bukanlah tempat berlibur. Di sini setiap pasien datang berobat dan berharap sembuh. Aku ingat ketika aku masih menempuh studi kedokteran dulu, biasanya aku akan sampai di rumah sakit sekitar jam 05:30 pagi. Aku dan rekan-rekan tim medis lainnya datang lebih pagi karena jumlah pasien yang menjadi tanggung jawab residen (dokter yang sedang mengambil program pendidikan spesialis) memang cukup banyak jumlahnya.

Para pasien bahkan datang lebih subuh dari kami. Mereka datang lebih awal untuk mengambil nomor pendaftaran. Rumah sakit tempat kami melayani adalah rumah sakit rujukan. Alhasil, pasien datang dari berbagai daerah dan pelosok negeri. Ada pasien-pasien yang masih anak kecil, masih tertidur di kursi roda mereka dan turut mengantre sedari subuh. Pecah tangis seringkali memenuhi ruangan karena kesakitan yang dialami oleh mereka.

Keadaan tersebut tidak berubah. Rumah sakit tetap penuh, malah mungkin lebih penuh karena pandemi Covid-19. Aku terpanggil untuk melayani pasien-pasien yang terinfeksi virus ini. Dewasa, anak kecil, wanita hamil, semua tidak luput dari virus. Rasa khawatir dan tangis dari pihak keluarga tidak asing bagi telingaku.

Menyaksikan penderitaan yang begitu nyata setiap hari seringkali membuatku termenung. Aku bertanya, “Bapa, mengapa ada penderitaan di dunia ini? Mengapa ada kemiskinan yang membuat banyak orang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan hariannya? Mengapa ada penyakit yang memberikan rasa sakit pada banyak orang?”

Pernahkah teman-teman juga bertanya-tanya seperti itu? Mencari tahu mengapa Tuhan tidak menciptakan dunia di mana semua orang seang, berkecukupan, dan tiada penderitaan?

Apakah Tuhan memahami penderitaan manusia?

Pertanyaan itu membawaku untuk menggali lebih dalam tentang penderitaan manusia. Ketika mengalami penderitaan, kita sebagai manusia sering bertanya apakah Tuhan memahami penderitaan kita. Tetapi, kita lupa bahwa diri-Nyalah sejatinya yang paling memahami penderitaan.

Yesus mengakhiri pelayanan-Nya di bumi dengan dihina, dihukum, dan dipaku di kayu salib. Dia mengalami tak cuma penderitaan fisik, juga penderitaan mental di tangan tentara Romawi dan orang-orang yang mencaci-Nya. Dia ditinggalkan oleh teman-teman terdekat-Nya di saat Dia paling membutuhkannya. Penderitaan Yesus telah ternubuatkan dalam tulisan Yesaya, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan” (Yesaya 53:3).

Jika kita bergumul dan berdoa pada-Nya, kita sejatinya sedang menyampaikan pergumulan manusia kepada Tuhan yang sangat dekat dan memahami penderitaan. Dia bukan Tuhan yang jauh dan tidak dapat berempati atas penderitaan manusia. Kita datang kepada Tuhan yang benar-benar tahu dan peduli, Dia adalah Tuhan yang juga merasakan bagaimana berada di titik nadir.

Selanjutnya, Yesaya 53:4 menulis, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kita yang dipikul-Nya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.”

Penderitaan Yesus melampaui apa yang dapat kita bayangkan. Di kayu salib, semua kejahatan dunia diarahkan pada satu Sosok yang bersih dan murni, yaitu Sang Anak Allah. Yesus melakukannya agar kita beroleh kehidupan, sehingga kejahatan tidak membinasakan manusia.

Mengapa Tuhan dengan segala kuasa-Nya tidak menghilangkan saja penderitaan?

Pertanyaan tersebut memiliki jawaban: suatu hari kejahatan akan disingkirkan selama-lamanya. Suatu hari tidak akan ada lagi dukacita atau rasa sakit. Tuhan akan menghapus setiap air mata (Wahyu 21:4). Tetapi, hari tersebut belumlah tiba.

Jika kita merenungkan posisi kita: siapakah kita manusia berdosa sehingga kita bertanya dan menghakimi Tuhan? Kita adalah ciptaan-Nya dan diciptakan untuk memuliakan-Nya. Justru, seharusnya kita bertanya, apakah hak kita sebagai manusia berdosa untuk menuntut kepada Tuhan yang sudah menebus dosa kita? Namun, terlepas dari segala dosa kita, Tuhan selalu menawarkan diri-Nya sendiri. Dia tidak cuma memberi kita berkat atau janji, tetapi Dia memberi diri-Nya sendiri. Dia merindukan kita datang kepada-Nya, berbicara dengan-Nya, dan membawa penderitaan kita kepada-Nya. Dalam penderitaan kita, Dia tidak meninggalkan kita sendirian. Jika kita berpaling kepada-Nya, ada kekuatan yang tidak pernah kita duga; ada kenyamanan dan pengharapan untuk hari ini dan esok.

Aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah doa yang kuterjemahkan dari kumpulan doa puritan, The Valley of Vision. Doa ini begitu indah dan berisikan permohonan manusia agar bisa terus memuji keagungan Tuhan dan berserah kepada-Nya, terlepas dari keadaan yang tampaknya tidak sesuai harapan.

Tuhan, tinggi dan suci, lemah lembut dan rendah hati,

Engkau telah membawaku ke lembah penglihatan
Di mana aku tinggal di kedalaman tapi melihat-Mu di ketinggian,
dikelilingi gunung dosa aku melihat kemuliaan-Mu.

Biarkan aku belajar dengan paradoks
bahwa jalan turun adalah jalan ke atas,
bahwa menjadi rendah berarti tinggi,
bahwa patah hati adalah hati yang disembuhkan,
bahwa roh yang menyesal adalah roh yang bersukacita,
bahwa jiwa yang bertobat adalah jiwa yang menang,
bahwa tidak memiliki apa-apa berarti memiliki semua,
bahwa memikul salib adalah memakai mahkota,
bahwa memberi berarti menerima,
bahwa lembah adalah tempat penglihatan.

Tuhan, di siang hari bintang bisa dilihat dari sumur terdalam,
dan semakin dalam sumur, semakin terang bintang-bintang-Mu bersinar;

Biarkan aku menemukan cahaya-Mu dalam kegelapanku,
hidup-Mu dalam kematianku,
kegembiraan-Mu dalam kesedihanku,
anugerah-Mu dalam dosaku,
kekayaan-Mu dalam kemiskinanku,
kemuliaan-Mu di lembahku.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Di Tengah Keadaan yang Tak Mudah, Pilihlah untuk Taat

Taat, mudah diucapkan sulit dipraktikkan. Apalagi jika ketaatan itu seolah membuat hidup kita malah menjadi susah. Tetapi, Alkitab memberitahu kita bahwa selalu ada berkat dalam ketaatan kita kepada-Nya.

Ketika Hal-hal Buruk Terjadi Pada Kita

Ketika hal buruk menimpa, mudah bagi kita untuk menyalahkan Tuhan, kecewa, dan menjauh dari-Nya. Kendati respons tersebut adalah naluri alamiah kita, memeliharanya tidak akan menjadikan keadaan kita lebih baik. Malahan, semakin kita jauh dari Tuhan, semakin pula kita tidak merasakan damai dan kasih-Nya.

Hal buruk boleh menimpa, tetapi kasih Allah tidak pernah berakhir. Jika hari ini kamu kecewa dan sedih karena hal buruk yang menimpamu, geser satu per satu postingan ini. Kiranya Tuhan menguatkan kakimu dan membalut luka-luka hatimu.

Artspace ini dibuat oleh Elok Bakti Pratiwi.

Teologi Kemakmuran, Kemiskinan, dan Kekristenan

Oleh Jessica Tanoesoedibjo

“Alkitab menyatakan bahwa orang kaya tidak bisa masuk sorga!” Seru pembicara retret tersebut. Dan ketika ia berkata demikian, matanya menatapku dengan tajam.

Aku tidak akan lupa perkataan tersebut. Pada saat itu, aku sedang duduk di bangku SMP, dan menghadiri retret yang diselenggarakan sekolahku. Aku ingat, jantungku berdebar kencang, dan di benakku, aku berpikir, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”

Dalam kehidupanku, harus kuakui bahwa aku telah diberi privilese berkat materil yang berkelimpahan. Namun, ini bukan suatu hal yang dapat kusangkal begitu saja. Aku tidak dapat memilih di keluarga mana aku dilahirkan, ataupun kondisi perekonomian kita. Banyak orang berkata bahwa kita “diberkati untuk menjadi berkat,” tetapi di sisi lain banyak juga yang menkritisasi kekayaan.

Memperoleh Hidup Berkelimpahan

Lahir di keluarga Kristen, aku sangat bersyukur bahwa Tuhan telah memberkatiku dengan kedua orang tua yang begitu menekuni imannya, dan juga mengajarkan anak-anaknya untuk demikian. Namun, lahir sebagai anak seorang pengusaha yang cukup ternama di tanah air, juga berarti ada berbagai macam ekspektasi yang orang miliki terhadap diriku. Motivasi untuk menjadi orang yang sukses, seperti yang dicontohkan oleh sang ayah, ditanamkan padaku sejak kecil.

Di gereja pun aku sering dengar ayat ini dikutip: “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,” (Ulangan 28:13). Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang, “supaya [kita] mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan,” (Yohanes 10:10).

Namun, bagaimana dengan orang Kristen yang tidak hidup dalam kelimpahan materil? Apakah Tuhan tidak mengasihi mereka? Bukankah hal tersebut, kepercayaan bahwa Tuhan akan selalu memberkati anak-anaknya dengan kekayaan, adalah Injil Kemakmuran—suatu distorsi Injil yang sesungguhnya?

Berbahagialah Yang Miskin

Karena di sisi lain, firman Tuhan juga berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena mereka yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3). Yesus juga mengajarkan, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin…kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” (Matius 19:21).

Inilah yang membuatku berpikir dan bergumul. Aku pun menganggap bahwa kekayaan yang aku miliki adalah suatu hal yang keji yang perlu kusangkal. Ada masa di mana aku membenci segala pemberian Tuhan dalam hidupku, karena menurutku semua kepemilikan materil ini adalah fana.

Bukankah Alkitab sangat jelas, bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan: Tuhan dan uang (Lukas 16:13)? Untuk ikut Kristus, kita harus tanggalkan segalanya. Tapi, apakah artinya semua orang Kristen diharuskan menjadi miskin? Apakah untuk menjadi orang Kristen yang sesungguhnya kita harus menjual segala kepemilikan kita dan memberikannya kepada gereja, orang miskin, atau misi gereja? Apakah Alkitab mengajarkan teologi kemiskinan?

Kemiskinan Manusia dan Kekayaan Injil

Tidak. Keduanya bukanlah gambaran yang akurat tentang Kekristenan. Karena Kekristenan bukan tentang kemakmuran ataupun kemiskinan. Tuhan tidak pernah menjanjikan kita untuk menjadi makmur dan kaya di setiap saat. Dan Ia juga bukan Tuhan yang kejam, yang senang dan mengharapkan kemiskinan dan kesukaran bagi anak-anak-Nya.

Tapi sesungguhnya, Injil mengajarkan kita bahwa Yesuslah Raja yang empunya segalanya, yang amat sangat kaya, namun menanggalkan segala kejayaan dan rela menjadi miskin, untuk melayani kita. Yesus mengosongkan diri-Nya agar Ia dapat melimpahkan kita dengan kasih dan kebenaran-Nya (Filipi 2).

Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk kaya ataupun miskin. Jika kekayaan atau kemiskinan menjadi pusat identitas kita, kita telah memposisikan uang sebagai tuan dalam kehidupan kita. Kesetiaan pada Tuhan dan firman-Nya tidak diukur dari kekayaan atau kemiskinan kita dalam ukuran dunia. Karena sesungguhnya, kesetiaan pada Tuhan adalah pengertian bahwa sebenarnya kita adalah “miskin di hadapan Allah,” namun, dalam Kristus telah “mempunyai [hidup] dalam segala kelimpahan.”

Dengan pengertian ini, kita tidak akan mendemonisasi kekayaan, ataupun mendamba-dambakan kemiskinan (atau sebaliknya). Tapi, kita dapat, dalam masa berkelimpahan, mensyukuri segala pemberian Tuhan sebagai suatu kepercayaan, yang patut kita kembangkan. Kekayaan bukan bertujuan untuk kita dapat senang-senang dan memenuhi segala macam keinginan kita di dunia, melainkan, adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Karena “kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut,” (Lukas 12:48).

Dalam 2 Korintus 8:1-15, Paulus menulis kepada orang-orang yang hidup berkelimpahan untuk bertumbuh dalam kemurahan hati. Paulus berkata bahwa ia tidak bertujuan untuk membebani mereka, melainkan, setelah mengingatkan mereka tentang kasih karunia Kristus yang telah mereka terima, ia mengajak jemaat Korintus untuk terlibat dalam “pelayanan kasih,” (ayat 6) dengan meringankan beban saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan.

Demikian pula, orang-orang yang dalam masa kekurangan, dapat juga mensyukuri kesempatan yang Tuhan berikan untuk bergantung sepenuhnya pada-Nya. Namun ini bukan berarti bahwa orang yang sedang dalam masa kekurangan dapat lepas dari tuntutan untuk bertumbuh dalam kemurahan hati. Karena Paulus pun bersaksi tentang bagaimana jemaat di Makedonia, tetap bersukacita dan kaya dalam kemurahan, walaupun mereka sendiri sangat miskin (ayat 2).

Bagi Paulus, kemurahan hati tidak terhitung dari jumlah yang diberikan. Kaya atau miskin, mereka telah menikmati kasih karunia Kristus yang sangat mahal, dan, mengetahui ini, mereka telah memberikan diri mereka, pertama kepada Tuhan, kemudian kepada orang lain (ayat 5). Karena sesungguhnya, yang Tuhan minta dari setiap anak-Nya adalah hal yang sama: agar kita, dalam segala sesuatu, dapat menyangkal diri kita, memikul salib, dan mengikuti-Nya.

“Alkitab menyatakan bahwa orang kaya tidak bisa masuk sorga!” Ya, memang ini benar. Karena Alkitab menyatakan bahwa tidak ada satu orangpun yang dapat masuk Kerajaan Sorga. Tidak ada yang layak. Namun, karena kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus, kita sekarang adalah anak-anak-Nya. Di Rumah Bapa banyak tempat tinggal, dan Yesus sedang menyediakan tempat bagi kita di sana.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Penghiburan di Kala Duka Mendera

Sekalipun sulit untuk melenyapkan rasa sedih dan kehilangan, aku yakin bahwa Tuhan benar-benar mengerti dan peduli dengan duka yang kualami. Ia selalu punya cara terbaik untuk menghibur dan menguatkan kita.

Menemukan Passion: Kombinasi Sukacita dan Derita

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Musik adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan pribadiku. Bukan karena keberadaannya yang sanggup menentukan situasi mood, tapi aku juga meyakini bahwa bidang ini menjadi salah satu panggilan Tuhan dalam hidupku. Atau, dengan kata lain, bermain musik menjadi salah satu passion pribadiku. Namun, jika aku melihat kembali ke belakang, sebenarnya bermain musik pernah menjadi kepahitan untukku.

Menari Lebih Keren Daripada Main Musik

Bakat bermain musik yang kumiliki diturunkan dari papa. Beliau berprofesi sebagai pengajar piano sejak muda hingga saat ini. Waktu kelas 3 SD, aku mulai diajari bermain musik melalui sebuah alat bernama organ (alat musik melodis semacam piano namun memiliki tingkatan atas dan bawah). Namun sayangnya kegiatan ini tidak berlangsung lama. Banjir besar tahun 2000 silam membuat organ tersebut rusak total sehingga harus dibuang. Akhirnya aku tidak melanjutkan latihan musik secara rutin selama beberapa tahun.

Jujur, aku tidak merasa kecewa atau sedih dengan rusaknya alat musik tersebut. Pada waktu itu, sebenarnya aku lebih tertarik mempelajari seni tari. Hal ini karena dipengaruhi oleh film “Petualangan Sherina”, sebuah film musikal di tahun 2000-an yang di dalamnya cukup banyak menampilkan adegan menari bersama teman. Aku pun cukup terinspirasi dan kagum dengan talenta yang dimiliki Sherina, sang pemeran utama, hingga aku bahkan sempat berpikir: aku ingin menjadi balerina suatu hari nanti–mengikuti jejak Sherina yang juga pandai menari balet. Namun, ternyata Tuhan lebih banyak membukakan padaku jalur bermain musik, walaupun pada saat itu aku hanya mengikuti arus saja; mengikuti arahan papa yang terus memupuk talenta bermusik di dalam diriku meski harus ‘menumpang’ main piano di tempat kerjanya. Perasaan dan minatku pun juga bisa dibilang datar-datar saja ketika sedang dilatih bermain piano.

Lima tahun berlalu dan papaku memiliki cukup dana untuk membeli piano baru. Saat itu aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Tentunya, papa kembali melatihku dengan ilmu-ilmu serta teknik baru, dan aku seperti biasa hanya menurut saja. Hingga tiba pada suatu hari aku mendapat tugas kelompok di sekolah pada pelajaran Seni Musik. Dalam rangka pengambilan nilai, kami secara berkelompok diminta menampilkan karya musik bebas. Vocal group, menyanyi dengan koreografi, pertunjukkan musik akustik, apa saja. Salah satu teman kelompokku yang mengetahui bahwa aku bisa bermain piano, memintaku untuk mengiringi kelompok ini. Singkat cerita, aku mengiyakannya. Kami latihan di rumahku sambil dibantu papa untuk sedikit mengaransemen paduan vokalnya dan juga melatihku teknik iringan sederhana untuk pemula.

Setelah latihan selama beberapa hari, tibalah kami pada hari-H. Aku dan teman sekelompok berniat meminjam keyboard milik sekolah untuk digunakan saat pengambilan nilai. Kami meminta izin pada salah satu guru yang menjadi penanggung jawab alat tersebut. Tak disangka, ternyata momen tersebut menjadi penghantar bagiku untuk mulai menjalani proses bertumbuh di bidang musik. Mengetahui aku bisa bermain keyboard, sang guru memintaku untuk menjadi pengiring musik di setiap upacara sekolah hari Senin. Awalnya tentu aku sangat gugup. Siapakah aku ini? Permainanku belum bagus! Aku masih belajar. Aku masih pemula. Rasa minder dan takut yang cukup besar menguasaiku. Namun beliau meyakinkanku bahwa tidak masalah untuk mencoba dulu di awal. Tidak harus bermain dengan cara yang profesional atau kelas papan atas. Cukup level murid yang masih belajar pun beliau tidak mempermasalahkan. Di situ akhirnya aku setuju, dan singkat cerita aku berproses, bertumbuh, dan terus belajar mengembangkan talenta tersebut melalui momen upacara setiap hari Senin dan acara-acara internal sekolah yang sejenis. Pada titik inilah akhirnya aku menyadari secara kognitif bahwa aku memiliki talenta di bidang musik, dan rasa senang bermain piano tumbuh semakin besar. Aku menyukainya, dan bertahan melakukannya hingga lulus SMP. Ketika lulus, aku bertekad untuk melanjutkan proses ini di SMA.

Ternyata, Tuhan izinkan aku mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan di level selanjutnya. Sampai-sampai aku sempat bersumpah untuk tidak bermain piano lagi selamanya.

Sebuah Penderitaan

Salah satu kegiatan siswa yang aku ikuti saat SMA adalah rohkris (rohani kristen)–sebuah ekstrakurikuler resmi untuk siswa-siswi Kristen di sekolah. Ketika tiba pada acara retreat tahunan, aku turut dilibatkan sebagai pengiring musik ibadah. Awalnya aku menolak karena merasa belum memiliki kemampuan yang cukup. Apalagi saat itu kondisinya aku masih anak baru. Namun salah seorang kakak senior–yang juga ikut menjadi pemusik–mendorongku untuk terlibat saja dulu, tidak perlu memikirkan sudah sejauh mana batas kemampuanku bermain musik. Akhirnya, aku membekali diri dengan cara membawa beberapa buku lagu rohani Kristen yang kumiliki ke lokasi retreat.

Tiba pada sebuah sesi di mana salah satu guru pembimbing meminta aku memainkan lagu yang tidak ada dalam buku acara retreat. Bagiku, mengiringi lagu secara dadakan tanpa latihan matang merupakan sebuah ‘neraka’ pada saat itu. Aku gugup. Aku bisa merasakan detak jantung yang makin berdegup kencang saat menyadari sesi tersebut akan dimulai 15 menit lagi. Beliau memang mengajariku cara mengiringinya, namun apalah aku ini yang pada saat itu belum sampai pada tahap mampu bermain lagu dadakan. Bahkan lagu tersebut tidak ada partiturnya di buku-buku lagu rohani yang kubawa. Sadar aku tidak dapat memenuhi permintaannya, beliau mengatakan sesuatu yang ternyata menyakitkan hatiku:

“Bisa, nggak? Yah kamu sih bisanya cuma mainin lagu yang kamu tahu aja ya. Kalau lagunya nggak tahu kamu pasti nggak bisa.”

Mungkin ketika aku menuliskan kembali secuil memori ini, rasanya perkataan itu tidak berarti apa-apa. Namun untuk aku yang mengalaminya saat itu, rasa minder dan rendah diri menguasaiku seratus persen. Aku hanya bisa terdiam dan menyerah ketika akhirnya beliau yang mengambil alih memainkan lagu tersebut. Lima menit sebelum sesi dimulai, aku pergi ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Aku merasa tidak berguna. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang pemain piano yang baik. Ketika menangis, aku bersumpah di dalam diriku untuk tidak akan pernah menyentuh alat musik itu lagi selamanya. Aku bertekad akan berhenti latihan, dan retreat saat itu menjadi kesempatan terakhirku untuk bermain piano.

Kenyataan yang terjadi pada masa-masa setelahnya berbanding terbalik dengan apa yang sudah kurencanakan. Tuhan ternyata tidak ingin aku mengubur talenta ini. Emosi sesaat yang kurasakan memang sempat membuatku enggan bermain piano lagi. Rasa benci terhadap sang guru pun juga tidak aku sangkal pada saat itu. Namun kesempatan demi kesempatan terbuka begitu banyak dan lebarnya hingga aku semakin diproses. Mulai dari diminta mengiringi paduan suara sekolah, mulai dilibatkan sebagai pengiring musik ibadah Minggu di gereja, mengiringi kelompok musik ensemble binaan papa, mengiringi kelompok paduan suara guru-guru dalam sebuah lomba, dan berbagai kesempatan lainnya yang terus menerus menjadi proses pembelajaran serta pengembangan talentaku hingga saat ini. Aku juga makin mengonfirmasi bahwa bermain piano merupakan salah satu panggilan Tuhan di dalam hidupku. Konfirmasi ini tentu aku peroleh melalui proses yang panjang. Seiring dengan berjalannya waktu, aku pun makin mencintai talenta ini. Aku senang mengiringi orang lain bernyanyi dan makin senang pula jika orang tersebut bersukacita saat bernyanyi. Aku sudah lupa sama sekali dengan keinginanku waktu kecil untuk menjadi seorang penari atau ballerina seperti Sherina.

Passion: Sukacita dan Menderita

Dalam perenunganku, aku akhirnya paham bahwa passion tidak hanya dibatasi oleh rasa senang dalam melakukan sesuatu atau hanya sekadar hobi. Misalnya: aku senang bermain piano maka passion-ku adalah di bidang musik, atau aku senang menulis maka passion-ku adalah di bidang media literatur, dan sebagainya. Mungkin memang bisa dimulai dari kesenangan hati, tapi seiring dengan prosesnya, kita bisa saja diperhadapkan dengan tantangan dan rintangan yang menguji apakah kita tetap setia melakukannya? Apakah kita tetap mau berproses di dalamnya sekalipun kita menderita? Tidak akan pernah ada proses jika tidak ada titik awal.

Berbicara sedikit soal passion, aku pun jadi teringat sebuah judul film yang mungkin tak asing bagi kita sebagai orang percaya: “The Passion of The Christ”, karya Mel Gibson. Film ini dikemas dengan sangat baik dalam menceritakan peristiwa penderitaan Yesus hingga mati di kayu salib demi menebus dosa kita. Refleksi pribadiku dalam meneladani passion-Nya setelah merenungkan film ini adalah: apakah aku tetap setia bermain piano meskipun harus menderita? Apakah aku bisa tetap bertahan dan konsisten mengiringi orang lain menyanyikan puji-pujian sekalipun mengalami tantangan? Satu hal yang selalu menguatkanku adalah: Tuhan pasti menyertai dalam setiap prosesnya. “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar…sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Ulangan 31:6)—sebuah ayat penguatan untukku pribadi ketika aku mulai takut untuk melangkah dalam menjalani panggilan-Nya.

Dalam proses mencari panggilan hidup kita, izinkan aku mengutip sebuah pertanyaan refleksi dari seorang penulis buku dan content creator, Raditya Dika, pada sebuah acara workshop berjudul “Writing is Empowering”: Apa yang menjadi bara di dalam hatimu? Dan sedikit tambahan pesan dariku, jika kita sudah menemukan apa yang menjadi kemampuan kita, dan kita yakin itu adalah talenta dari-Nya, kembangkanlah. Pertajam. Lalu belajar pelan-pelan membagikannya supaya menjadi dampak dan berkat untuk orang lain. Ada banyak sekali talenta yang Tuhan anugerahkan untuk dunia ini. Cara mengembangkannya pun berbeda-beda. Tinggal seberapa besar niat, tekad, konsistensi, komitmen, dan ketekunan kita untuk berlatih dan melakukannya. Semangat ya!

Kiranya Tuhan menolong kita untuk peka akan panggilan-Nya dalam hidup kita masing-masing.

To GOD be the glory!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Keluargaku di Bawah Bayang-bayang Maut

Ketika aku sekeluarga positif terjangkit Covid-19, ketakutan segera menguasaiku. Mengapa Tuhan izinkan kami mengalami ini? Mendekam berhari-hari dalam ruang isolasi sembari harap-harap cemas.

Tak Diabaikan-Nya Ratapan Kita

Oleh Yawan Yafet Wirawan, Jakarta

Karena pandemi, hari-hari ini kita mudah melihat orang-orang yang mengeluh dan meratap. Ada yang gajinya dipotong, kewalahan karena tugas sekolah yang sangat banyak, tak bisa hangout dengan teman atau pacar, atau bahkan ada pula yang meratap karena ditinggal selama-lamanya oleh orang-orang terkasih.

Aku sendiri pun tak luput dari kesusahan-kesusahan tersebut. Rasanya tugas-tugasku sangat banyak, kapan aku bisa istirahat? Aku bosan tidak bisa keluar untuk beli ini itu, kapan masa ini berakhir? Aku ingin pulang ke rumah berkumpul bersama keluarga. Aku yakin setiap kita pun punya keluhannya sendiri-sendiri.

Di tengah beragam keluhan itu, beberapa hari ini aku teringat kembali akan renungan yang pernah dibawakan oleh seorang dosen di kampusku. Renungan ini bertajuk A Cry for Lament atau sebuah teriakan untuk ratapan, yang terambil dari Keluaran 2:23-25. Penggalan firman Tuhan itu menceritakan keadaan ketika bangsa Israel hidup dalam perbudakan bangsa Mesir. Mereka ditindas dengan cara melakukan kerja paksa. Bayi laki-laki dan perempuan Israel terancam dibunuh dan dilemparkan ke sungai Nil. Penderitaan ini membuat bangsa Israel mengerang dan berteriak pada Allah.

Allah mendengar seruan Israel. Allah mengingat kovenan yang dibuat-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. ‘Mengingat’ di sini bukan berarti Allah hanya mengenang, tapi Allah sungguh bertindak. Allah mengutus Musa sebagai pemimpin yang kelak membawa bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan.

Kisah pertolongan Allah atas Israel mengingatkanku bahwa Allah sejatinya tidak mengabaikan ratapan umat-Nya. Namun, ratapan seperti apakah yang seharusnya kita lakukan ketika kita menghadapi penindasan atau penderitaan? N.T Wright, seorang hamba Tuhan dan sarjana Perjanjian Baru mengatakan bahwa ratapan adalah momen ketika kita mengakui dengan jujur bahwa kita sama sekali tidak mengetahui alasan di balik suatu kejadian ataupun hasil akhirnya.

Habakuk meratap pada Tuhan, “Berapa lama lagi Tuhan aku berteriak tetapi tidak Kau dengar, aku berseru kepada-Mu ‘penindasan’ tetapi tidak Kau tolong” (Habakuk 1:2). Dalam ratapannya, Habakuk bertanya-tanya bilamana Allah akan menolong umat-Nya. Meskipun Habakuk kala itu tak tahu persis kapan pertolongan-Nya akan terjadi, ratapan Habakuk tidak membawanya menjadi semakin sedih dan terpuruk, tetapi iman dan harapan yang kembali ditambatkannya kepada Allah. Ungkapan iman dan harapan tersebut dapat kita simak di Habakuk 3:17-18.

Jika aku berkaca pada diriku sendiri, kadang ketika aku meratap, aku tidak berfokus kepada Tuhan. Aku meratap dan mengeluh hanya karena kesulitan dan kesakitan yang kualami, lalu aku berupaya mencari-cari cara sendiri untuk keluar dari permasalahan yang kuhadapi. Aku ingin supaya Tuhan cepat-cepat melepaskan semua pergumulanku, tanpa memberi ruang dalam hatiku untuk bertanya apa yang Allah kehendaki dari penderitaan ini? Apa yang Allah ingin aku pelajari dari penderitaan ini?

Seorang penulis terkenal, C.S Lewis dalam bukunya, The Problem of Pain, pernah melontarkan pertanyaan pada Tuhan:

“Tuhan mengapa Engkau lebih mudah ditemui saat hidup ini berjalan lancar, tetapi begitu sulit aku temui ketika hidup ini membutuhkan pertolongan-Mu?”

Pernyataan Lewis mungkin mewakili keadaan kita. Teriakan, jeritan, dan ratapan kita seolah tak mengubah keadaan. Kita merasa Tuhan berdiam diri tanpa memberi jawaban. Namun, itu terjadi karena seringkali kita hanya ingin jalan keluar yang instan. Dalam keadaan seperti itu, aku hanya menjadikan Allah sebagai alat untuk menyediakan jalan keluar atas masalah yang kuhadapi.

Sebagaimana Allah menjawab seruan Israel dan juga orang-orang pilihan-Nya, sejatinya ratapan kita pun tak diabaikan-Nya. Tidak semua pertanyaan Habakuk dijawab Tuhan, tapi di tengah situasi demikian, Habakuk memutuskan untuk tetap percaya dan berharap kepada Tuhan. Kita bisa meneladani Habakuk, bahwa dalam masa-masa sulit yang kita hadapi, biarlah iman kita menjadi murni.

Kita dapat membawa seluruh kegelisahan yang kita alami, keraguan yang kita miliki, kesakitan yang kita rasakan ke hadapan Allah tanpa perlu menyembunyikan apa pun.

Aku tidak tahu apa yang menjadi pergumulan masing-masing kita, tetapi saat ini aku ingin mengajak kita semua agar dalam masa-masa sulit sekalipun, kita membuka hati untuk menyampaikan ratapan kita dan berfokus kepada Allah saja.

Baca Juga:

Kebohongan yang Kita Genggam, Membuat Kita Mudah Menyerah

Kita sering diperhadapkan dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bisa diuji kebenarannya. Misalnya, “Duh, ngapain pacaran jarak jauh, nanti ujung-ujungnya putus.”. Lantas, bagaimanakah seharusnya kita menyikapinya?

Kehendak-Nya Tidak Selalu Tentang Mauku

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Doakan aku ya biar wisuda tahun ini,” begitu isi chat dari teman seangkatanku di kampus beberapa hari yang lalu. Dia adalah satu dari beberapa temanku yang belum berhasil menyelesaikan perkuliahannya walau tahun 2020 ini merupakan tahun keenam bagi angkatan kami. Selain karena ingin segera menjadi alumni, tekanan pertanyaan dari orang tua, beban keuangan karena harus membayar uang kuliah, jenuh dengan urusan revisi, malu dengan teman-teman seangkatan bahkan adik tingkat yang sudah selesai merupakan ha-hal lain yang juga ikut mendesaknya untuk menyelesaikan kuliah.

Menyelesaikan tugas akhir merupakan salah satu hal yang sering terasa sulit bagi mahasiswa tingkat akhir. Terbatasnya dana yang dimiliki untuk melakukan penelitian, bermasalah dengan hasil penelitian, kehabisan ide untuk judul penelitian, kesulitan memperbaiki revisi adalah beberapa contoh kesusahan yang dialami. Maka tidak heran jika ada mahasiswa yang putus asa dan tidak menyelesaikannya hingga drop out dari kampus atau bahkan ada yang sampai mengakhiri hidupnya pada masa penyusunan tugas akhir.

Sebagian kita mungkin berpikir mereka bodoh sekali. Kok seperti tidak beriman? Kan masih banyak jalan lain, tugas akhir kan bukan segalanya. Namun bagi mereka yang sudah mengusahakannya tapi tidak kunjung berhasil, menyelesaikan studi tak semudah mengomentarinya. Kita memang sebaiknya tidak menghakimi sesama (Matius 7:1-2), kita juga harus mengingat bahwa tidak semua orang memiliki persepsi dan tingkat kerentanan yang sama walaupun berhadapan dengan hal yang sama.

“Kemarin katanya ini adalah bimbingan kami yang terakhir, aku sudah mengerjakan yang diminta, namun hari ini aku diminta lagi melakukan perbaikan di bagian lain, entah apa salahku bisa lama wisuda,” keluhnya disertai emotikon sedih.

“Kerjakanlah, He knows the best for you! Mungkin ini akan menjadi revisimu yang ke 20/25,” balasku sedikit jahil.

Ya, Tuhan tahu yang terbaik bagi setiap ciptaan-Nya (Yeremia 29:11). Dari Alkitab kita melihat bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi Ayub yang mengalami sakit penyakit serta kehilangan harta dan anaknya (Ayub 42:2). Tuhan juga yang mengutus Musa dengan setiap keterbatasannya untuk rencana-Nya atas bangsa Israel (Keluaran 3:11-12). Tuhan juga tahu yang terbaik untuk memelihara kehidupan umat-Nya (Kejadian 45:5) melalui Yusuf yang dijual saudara-saudaranya menjadi budak orang Mesir. Dan kita juga tahu bagaimana Yesus, anak-Nya yang tunggal melalui Via Dolorosa untuk menggenapi rencana-Nya bagi dunia yang dikasihi-Nya (Matius 26:39). Semua menceritakan bagaimana Tuhan dapat memakai setiap hal bahkan situasi yang kita anggap paling sulit sekalipun untuk menyatakan rencana-Nya.

Percaya pada Tuhan dan setiap rencana-Nya ketika semua terasa sulit akan terdengar klise apalagi ketika kita merasa sudah mengusahakannya, namun hasil tak jua maksimal. Sudah berdoa tapi rasanya Tuhan kok semakin terasa jauh, berserah namun merasa semakin tak berdaya. Alih-alih mencoba untuk mengerti dari sudut pandang Tuhan dan percaya dengan rencana-Nya, kita mungkin akan cenderung bertanya apa yang menjadi alasan Tuhan mengizinkan hal itu menjadi bagian dari cerita kita. Kita cenderung membombardir Allah dengan deretan pertanyaan. Mengapa harus aku yang kehilangan ibu? Mengapa aku yang harus lama wisuda? Apakah Engkau peduli? Mengapa Engkau membiarkan ini terjadi? Apakah maksud dari semuanya ini? Apa yang salah denganku dan pertanyaan mengapa lainnya yang mungkin sering malah membuat kita kurang peka untuk melihat bagaimana Allah akan bekerja lewat situasi tersebut.

Hal yang sama juga ditanyakan oleh murid Tuhan Yesus ketika Ia menyembuhkan orang yang buta sejak lahir (Yohannes 9:1-7).

“Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (ayat 2) Yesus menjawab dengan “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (ayat 3). Hal ini juga tak jarang kita alami, kita mengaitkan kesulitan yang kita alami sebagai akibat dari dosa di masa lampau, layaknya hukum tabur tuai. Namun lewat kisah orang buta tersebut kita belajar bahwa tak selamanya kesulitan yang kita alami adalah upah dosa, Tuhan juga bisa memakai penderitaan yang kita alami untuk menyatakan rencana-Nya seperti kesembuhan orang buta itu (ayat 11).

Kita juga melihat bagaimana Ayub, orang yang paling saleh di dalam Alkitab (Ayub 1:1,8) yang juga menanyakan apakah maksud Allah dengan penderitaan yang dialaminya (Ayub 10), walaupun Ayub merupakan tokoh Alkitab yang seringkali dihubungkan dengan ketabahan dalam menghadapi penderitaan (Yakobus 5:11). Melalui kesembuhan yang dialami orang buta itu, para tetangganya dan juga orang farisi mendapat kesempatan untuk melihat karya Allah dan meresponnya begitu juga dengan kisah Ayub yang dipakai Allah untuk memurnikan imannya.

Demikian juga dengan temanku yang sedang tidak mengerti dengan rencana Tuhan atasnya dalam pengerjaan skripsinya. Selain membantu memberi masukan untuk penelitiannya atau sekadar menghiburnya lewat media komunikasi, aku juga berdoa semoga dia semakin mengenal Tuhan dan bergantung pada-Nya dalam setiap proses yang ia lalui (Yesaya 40:31).

Mungkin kita juga sedang mengalami situasi-situasi yang menyulitkan kita dan membuat kita kehilangan sukacita, terlebih ditengah pandemi COVID-19 ini. Ketidakpastian akan rencana mendatang, kehilangan sahabat atau orang terdekat, kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi serta kesulitan lain yang kita alami mungkin sering menyurutkan iman percaya kita, seperti kapal yang dihantam badai. Namun lagi-lagi kita harus mengingat bahwa dalam badai pun Tuhan tetap bisa menyatakan rencana-Nya (Mazmur 29; Markus 4: 35- 5:1).

Untuk setiap situasi kita selalu memegang janji Tuhan, bahwa Dia sekali-kali tidak akan membiarkan kita dan sekali-kali tidak akan meninggalkan kita (Ibrani 13:5) Dia tetaplah Allah yang menjadi sumber harapan ketika menghadapi setiap hal (2 Korintus 1:3). Kiranya kita terus meminta Tuhan untuk menuntun kita agar tetap percaya padaNya dan setiap rencana-Nya yang tidak selalu tentang kehendak dan kemauan kita (Amsal 3:5)

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Ketika Penolakan Menjadi Awal Baru Relasiku dengan Tuhan

Ketika sesuatu terjadi tak sesuai mau kita, kita mungkin membombardir Tuhan dengan deretan pertanyaan kenapa. Tapi, mengapa tidak menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk melihat dari sudut pandang-Nya?

3 Hal yang Bisa Kita Lakukan Kala Menghadapi Penderitaan

Oleh Dwi Maria Handayani, Bandung

Dunia saat ini sedang menderita. Kita tidak hanya diperhadapkan dengan bahaya pandemi, tetapi juga kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Dalam situasi seperti ini, aku pun bertanya-tanya. Apa yang sedang terjadi? Apa maksud Tuhan? Lalu aku teringat akan nabi Habakuk, yang pada saat itu hidup dalam situasi yang sulit. Apa yang harus kita lakukan sekarang?

1. Inilah waktunya untuk meratap (time to lament)

Seperti pemazmur dan Habakuk, kita dapat datang kepada Tuhan dengan semua pertanyaan yang ada dalam hati kita. “Berapa lama lagi Tuhan aku berteriak tetapi tidak Kau dengar, aku berseru kepada-Mu ‘penindasan’ tetapi tidak Kau tolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi” (Habakuk 1:2-3).

Habakuk saat itu mencurahkan keberatan hatinya pada Tuhan: mengapa Tuhan membiarkan raja Yoyakim yang lalim dan jahat berkuasa? Yoyakim hanya memikirkan kesenangannya sendiri dan membuat rakyatnya menderita. Dia raja yang menindas dan memeras, membiarkan ketidakadilan terjadi, menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Tapi, Tuhan seakan berdiam diri, sehingga Habakuk bertanya, “berapa lama lagi, ya Tuhan?” (Yeremia 22).

Kita pun mungkin punya pertanyaan yang tidak terjawab. Tuhan ingin kita datang kepada-Nya membawa semua pertanyaan itu. Mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan sulit pada Tuhan bukan berarti kita tidak beriman, tetapi sebaliknya kita berani bertanya karena kita punya relasi yang dekat dengan Tuhan sehingga kita menghampiri-Nya dengan segala pertanyaan dan perasaan yang melingkupi kita.

2. Inilah waktunya untuk mendengar (time to listen)

Ketika Habakuk meratap, berteriak, dan bertanya kepada Tuhan, jawaban yang diterimanya bukanlah jawaban yang mungkin diharapkan Habakuk. Tuhan akan membangkitkan Babel, sang musuh Yehuda, untuk menyerang mereka. Jawaban itu mengejutkan, tidak terbayangkan oleh Habakuk, maka dia pun kembali bertanya, “Bukankah Engkau, ya Tuhan, dari dahulu Allahku, yang maha kudus?… mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman…?” (ayat 12-13).

Dengan kata lain, Habakuk berkata, Tuhan bukan jawaban itu yang aku harapkan. Mengapa Tuhan mengirimkan bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan untuk menghukum Israel? Di pasal 2, akhirnya Habakuk memutuskan untuk mengisolasi diri, berdiam, dan menunggu Tuhan. Bisa jadi, jawaban yang kita terima dari Tuhan berbeda dengan apa yang kita harapkan. Atau bahkan, jawaban itu malah makin membuat kita bingung. Tapi, tidak apa-apa. Itu adalah bagian dari perjalanan iman. Seperti Habakuk, marilah jadikan masa-masa berdiam diri di rumah ini sebagai momen untuk menantikan Tuhan.

3. Inilah waktunya untuk berharap (time to hope)

Tidak semua pertanyaan Habakuk dijawab Tuhan. Bahkan ketika Tuhan menjawab pun, Habakuk malah makin tidak mengerti. Akan tetapi, di tengah situasi demikian, Habakuk memutukan untuk tetap menantikan Tuhan dengan penuh pengharapan. Di tengah segala ketidakmengertiannya, Habakuk mampu berkata, “sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. Allah Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku” (Habakuk 3:17-18).

Masa-masa yang sulit ini Tuhan izinkan terjadi agar kita beroleh iman yang murni. Ada banyak orang menjadi marah, kecewa, dan meninggalkan Tuhan ketika Dia tidak menjawab doa mereka seturut yang mereka ingingkan. Marilah kita meneladani Habakuk, sekalipun kita tidak mengerti, sekalipun situasi belum berubah, tetapi iman dan pengharapan kita tetap teguh kepada Allah.

Baca Juga:

Penderitaan yang Membingungkan dan Yesus yang Kukenal

Bagaimana jika kita telah berusaha hidup benar tetapi masih tetap dihantam oleh gelombang penderitaan? Kita lantas bertanya, mengapa Tuhan mengizinkan kita terluka?

Pertanyaan ini sulit, namun aku ingin mengajakmu menemukan sebuah kebenaran yang dapat meneguhkan hatimu.