Posts

Menemukan Passion: Kombinasi Sukacita dan Derita

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Musik adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan pribadiku. Bukan karena keberadaannya yang sanggup menentukan situasi mood, tapi aku juga meyakini bahwa bidang ini menjadi salah satu panggilan Tuhan dalam hidupku. Atau, dengan kata lain, bermain musik menjadi salah satu passion pribadiku. Namun, jika aku melihat kembali ke belakang, sebenarnya bermain musik pernah menjadi kepahitan untukku.

Menari Lebih Keren Daripada Main Musik

Bakat bermain musik yang kumiliki diturunkan dari papa. Beliau berprofesi sebagai pengajar piano sejak muda hingga saat ini. Waktu kelas 3 SD, aku mulai diajari bermain musik melalui sebuah alat bernama organ (alat musik melodis semacam piano namun memiliki tingkatan atas dan bawah). Namun sayangnya kegiatan ini tidak berlangsung lama. Banjir besar tahun 2000 silam membuat organ tersebut rusak total sehingga harus dibuang. Akhirnya aku tidak melanjutkan latihan musik secara rutin selama beberapa tahun.

Jujur, aku tidak merasa kecewa atau sedih dengan rusaknya alat musik tersebut. Pada waktu itu, sebenarnya aku lebih tertarik mempelajari seni tari. Hal ini karena dipengaruhi oleh film “Petualangan Sherina”, sebuah film musikal di tahun 2000-an yang di dalamnya cukup banyak menampilkan adegan menari bersama teman. Aku pun cukup terinspirasi dan kagum dengan talenta yang dimiliki Sherina, sang pemeran utama, hingga aku bahkan sempat berpikir: aku ingin menjadi balerina suatu hari nanti–mengikuti jejak Sherina yang juga pandai menari balet. Namun, ternyata Tuhan lebih banyak membukakan padaku jalur bermain musik, walaupun pada saat itu aku hanya mengikuti arus saja; mengikuti arahan papa yang terus memupuk talenta bermusik di dalam diriku meski harus ‘menumpang’ main piano di tempat kerjanya. Perasaan dan minatku pun juga bisa dibilang datar-datar saja ketika sedang dilatih bermain piano.

Lima tahun berlalu dan papaku memiliki cukup dana untuk membeli piano baru. Saat itu aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Tentunya, papa kembali melatihku dengan ilmu-ilmu serta teknik baru, dan aku seperti biasa hanya menurut saja. Hingga tiba pada suatu hari aku mendapat tugas kelompok di sekolah pada pelajaran Seni Musik. Dalam rangka pengambilan nilai, kami secara berkelompok diminta menampilkan karya musik bebas. Vocal group, menyanyi dengan koreografi, pertunjukkan musik akustik, apa saja. Salah satu teman kelompokku yang mengetahui bahwa aku bisa bermain piano, memintaku untuk mengiringi kelompok ini. Singkat cerita, aku mengiyakannya. Kami latihan di rumahku sambil dibantu papa untuk sedikit mengaransemen paduan vokalnya dan juga melatihku teknik iringan sederhana untuk pemula.

Setelah latihan selama beberapa hari, tibalah kami pada hari-H. Aku dan teman sekelompok berniat meminjam keyboard milik sekolah untuk digunakan saat pengambilan nilai. Kami meminta izin pada salah satu guru yang menjadi penanggung jawab alat tersebut. Tak disangka, ternyata momen tersebut menjadi penghantar bagiku untuk mulai menjalani proses bertumbuh di bidang musik. Mengetahui aku bisa bermain keyboard, sang guru memintaku untuk menjadi pengiring musik di setiap upacara sekolah hari Senin. Awalnya tentu aku sangat gugup. Siapakah aku ini? Permainanku belum bagus! Aku masih belajar. Aku masih pemula. Rasa minder dan takut yang cukup besar menguasaiku. Namun beliau meyakinkanku bahwa tidak masalah untuk mencoba dulu di awal. Tidak harus bermain dengan cara yang profesional atau kelas papan atas. Cukup level murid yang masih belajar pun beliau tidak mempermasalahkan. Di situ akhirnya aku setuju, dan singkat cerita aku berproses, bertumbuh, dan terus belajar mengembangkan talenta tersebut melalui momen upacara setiap hari Senin dan acara-acara internal sekolah yang sejenis. Pada titik inilah akhirnya aku menyadari secara kognitif bahwa aku memiliki talenta di bidang musik, dan rasa senang bermain piano tumbuh semakin besar. Aku menyukainya, dan bertahan melakukannya hingga lulus SMP. Ketika lulus, aku bertekad untuk melanjutkan proses ini di SMA.

Ternyata, Tuhan izinkan aku mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan di level selanjutnya. Sampai-sampai aku sempat bersumpah untuk tidak bermain piano lagi selamanya.

Sebuah Penderitaan

Salah satu kegiatan siswa yang aku ikuti saat SMA adalah rohkris (rohani kristen)–sebuah ekstrakurikuler resmi untuk siswa-siswi Kristen di sekolah. Ketika tiba pada acara retreat tahunan, aku turut dilibatkan sebagai pengiring musik ibadah. Awalnya aku menolak karena merasa belum memiliki kemampuan yang cukup. Apalagi saat itu kondisinya aku masih anak baru. Namun salah seorang kakak senior–yang juga ikut menjadi pemusik–mendorongku untuk terlibat saja dulu, tidak perlu memikirkan sudah sejauh mana batas kemampuanku bermain musik. Akhirnya, aku membekali diri dengan cara membawa beberapa buku lagu rohani Kristen yang kumiliki ke lokasi retreat.

Tiba pada sebuah sesi di mana salah satu guru pembimbing meminta aku memainkan lagu yang tidak ada dalam buku acara retreat. Bagiku, mengiringi lagu secara dadakan tanpa latihan matang merupakan sebuah ‘neraka’ pada saat itu. Aku gugup. Aku bisa merasakan detak jantung yang makin berdegup kencang saat menyadari sesi tersebut akan dimulai 15 menit lagi. Beliau memang mengajariku cara mengiringinya, namun apalah aku ini yang pada saat itu belum sampai pada tahap mampu bermain lagu dadakan. Bahkan lagu tersebut tidak ada partiturnya di buku-buku lagu rohani yang kubawa. Sadar aku tidak dapat memenuhi permintaannya, beliau mengatakan sesuatu yang ternyata menyakitkan hatiku:

“Bisa, nggak? Yah kamu sih bisanya cuma mainin lagu yang kamu tahu aja ya. Kalau lagunya nggak tahu kamu pasti nggak bisa.”

Mungkin ketika aku menuliskan kembali secuil memori ini, rasanya perkataan itu tidak berarti apa-apa. Namun untuk aku yang mengalaminya saat itu, rasa minder dan rendah diri menguasaiku seratus persen. Aku hanya bisa terdiam dan menyerah ketika akhirnya beliau yang mengambil alih memainkan lagu tersebut. Lima menit sebelum sesi dimulai, aku pergi ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Aku merasa tidak berguna. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang pemain piano yang baik. Ketika menangis, aku bersumpah di dalam diriku untuk tidak akan pernah menyentuh alat musik itu lagi selamanya. Aku bertekad akan berhenti latihan, dan retreat saat itu menjadi kesempatan terakhirku untuk bermain piano.

Kenyataan yang terjadi pada masa-masa setelahnya berbanding terbalik dengan apa yang sudah kurencanakan. Tuhan ternyata tidak ingin aku mengubur talenta ini. Emosi sesaat yang kurasakan memang sempat membuatku enggan bermain piano lagi. Rasa benci terhadap sang guru pun juga tidak aku sangkal pada saat itu. Namun kesempatan demi kesempatan terbuka begitu banyak dan lebarnya hingga aku semakin diproses. Mulai dari diminta mengiringi paduan suara sekolah, mulai dilibatkan sebagai pengiring musik ibadah Minggu di gereja, mengiringi kelompok musik ensemble binaan papa, mengiringi kelompok paduan suara guru-guru dalam sebuah lomba, dan berbagai kesempatan lainnya yang terus menerus menjadi proses pembelajaran serta pengembangan talentaku hingga saat ini. Aku juga makin mengonfirmasi bahwa bermain piano merupakan salah satu panggilan Tuhan di dalam hidupku. Konfirmasi ini tentu aku peroleh melalui proses yang panjang. Seiring dengan berjalannya waktu, aku pun makin mencintai talenta ini. Aku senang mengiringi orang lain bernyanyi dan makin senang pula jika orang tersebut bersukacita saat bernyanyi. Aku sudah lupa sama sekali dengan keinginanku waktu kecil untuk menjadi seorang penari atau ballerina seperti Sherina.

Passion: Sukacita dan Menderita

Dalam perenunganku, aku akhirnya paham bahwa passion tidak hanya dibatasi oleh rasa senang dalam melakukan sesuatu atau hanya sekadar hobi. Misalnya: aku senang bermain piano maka passion-ku adalah di bidang musik, atau aku senang menulis maka passion-ku adalah di bidang media literatur, dan sebagainya. Mungkin memang bisa dimulai dari kesenangan hati, tapi seiring dengan prosesnya, kita bisa saja diperhadapkan dengan tantangan dan rintangan yang menguji apakah kita tetap setia melakukannya? Apakah kita tetap mau berproses di dalamnya sekalipun kita menderita? Tidak akan pernah ada proses jika tidak ada titik awal.

Berbicara sedikit soal passion, aku pun jadi teringat sebuah judul film yang mungkin tak asing bagi kita sebagai orang percaya: “The Passion of The Christ”, karya Mel Gibson. Film ini dikemas dengan sangat baik dalam menceritakan peristiwa penderitaan Yesus hingga mati di kayu salib demi menebus dosa kita. Refleksi pribadiku dalam meneladani passion-Nya setelah merenungkan film ini adalah: apakah aku tetap setia bermain piano meskipun harus menderita? Apakah aku bisa tetap bertahan dan konsisten mengiringi orang lain menyanyikan puji-pujian sekalipun mengalami tantangan? Satu hal yang selalu menguatkanku adalah: Tuhan pasti menyertai dalam setiap prosesnya. “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar…sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Ulangan 31:6)—sebuah ayat penguatan untukku pribadi ketika aku mulai takut untuk melangkah dalam menjalani panggilan-Nya.

Dalam proses mencari panggilan hidup kita, izinkan aku mengutip sebuah pertanyaan refleksi dari seorang penulis buku dan content creator, Raditya Dika, pada sebuah acara workshop berjudul “Writing is Empowering”: Apa yang menjadi bara di dalam hatimu? Dan sedikit tambahan pesan dariku, jika kita sudah menemukan apa yang menjadi kemampuan kita, dan kita yakin itu adalah talenta dari-Nya, kembangkanlah. Pertajam. Lalu belajar pelan-pelan membagikannya supaya menjadi dampak dan berkat untuk orang lain. Ada banyak sekali talenta yang Tuhan anugerahkan untuk dunia ini. Cara mengembangkannya pun berbeda-beda. Tinggal seberapa besar niat, tekad, konsistensi, komitmen, dan ketekunan kita untuk berlatih dan melakukannya. Semangat ya!

Kiranya Tuhan menolong kita untuk peka akan panggilan-Nya dalam hidup kita masing-masing.

To GOD be the glory!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Keluargaku di Bawah Bayang-bayang Maut

Ketika aku sekeluarga positif terjangkit Covid-19, ketakutan segera menguasaiku. Mengapa Tuhan izinkan kami mengalami ini? Mendekam berhari-hari dalam ruang isolasi sembari harap-harap cemas.

Panggilan Melayani di Pelosok Negeri

Oleh Blessdy Clementine, Jakarta

Sejak SMP, aku sangat menyukai kegiatan sosial. Aku merasa bahagia ketika berbagi sembako kepada petugas kebersihan di sekitar Jakarta, mengunjungi panti asuhan dan panti wredha, menghabiskan waktu bersama anak-anak di yayasan kanker, dan sebagainya. Hal ini terus berlanjut hingga SMA melalui program kerja OSIS, yaitu memberikan kursus bahasa Inggris gratis bagi petugas keamanan dan petugas kebersihan sekolah. Ketika lulus SMA sampai kuliah, aku mengikuti berbagai kegiatan kerelawanan dan menemukan dunia sosial sebagai passion hidupku.

Pengalaman pertama ke pelosok Indonesia

Awal tahun 2018, di tahun pertama perkuliahan, sahabatku yang juga memiliki minat tinggi pada kegiatan sosial memberitahuku tentang sebuah organisasi yang mengadakan kegiatan voluntourism ke Sumba, Nusa Tenggara Timur, yaitu jalan-jalan sambil mengajar anak-anak di sana. Mendengar hal itu, seketika jantungku berdebar-debar. Aku benar-benar antusias untuk menjadi salah satu pesertanya!

Aku begitu bersyukur karena orang tuaku sepenuhnya mendukungku untuk melibatkan diri dalam kegiatan tersebut. Bagi mereka, traveling adalah cara untuk “berinvestasi” wawasan. Mengetahui bahwa kali ini aku akan jalan-jalan sambil berbagi ilmu dengan sesama membuat mereka memandang kegiatan ini sebagai sesuatu yang positif.

Mengajar anak-anak di pelosok menjadi suatu hal baru yang sangat menggugah hatiku. Kondisi sekolahnya tidak menyerupai sekolahku di Jakarta. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah bolong-bolong, lantainya tanah tanpa semen, meja dan kursinya kayu yang tidak diamplas, dengan papan tulis kapur. Suara dari kelas sebelah jelas terdengar, yang membuat siswanya tidak bisa berkonsentrasi penuh. Tenaga pendidiknya amat terbatas, siswanya memakai seragam yang lusuh dan bertelanjang kaki. Tetapi, semangat belajar anak-anak itu sungguh tidak tertandingi. Binar mata mereka ketika memperhatikanku dan teman-temanku memimpin pembelajaran di kelas tidak akan pernah kulupakan.

Sejak itu, aku rindu untuk bisa berkontribusi lebih banyak lagi pada pendidikan Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang kurang mendapatkan perhatian. Aku ingin mengikuti program lainnya dengan jangka waktu lebih panjang dan di tempat yang lebih membutuhkan. Aku pun berdoa memohon kesempatan ini pada Tuhan.

Doaku terjawab. Tuhan membuka kesempatan demi kesempatan selanjutnya. Relasi yang kuperoleh dari acara-acara sosial yang pernah kuikuti dipakai Tuhan untuk memberikanku informasi tentang berbagai program pengabdian masyarakat bagi para mahasiswa yang ingin berkontribusi di pelosok.

Pengabdian ke Mentawai

Bulan Juli yang lalu, aku mengikuti program pengabdian masyarakat ke Dusun Salappa, Mentawai, Sumatera Barat. Perjalanan menuju Dusun Salappa terbilang panjang: jalur udara dari Jakarta ke Padang, dilanjutkan 4 jam perjalanan dengan kapal cepat ke Pulau Siberut, jalur darat menuju Desa Muntei, lalu menyusuri sungai menggunakan Pompong (sampan kayu) menuju Dusun Salappa selama 4,5 jam perjalanan. Meski cukup melelahkan, aku sangat menikmati perjalanan yang menawarkan pemandangan alam yang indah.

Sesampainya di Dusun Salappa, kami disambut hangat oleh senyuman anak-anak dan sapaan warga dusun yang menerima kami dengan tangan terbuka. Dusun Salappa adalah dusun dengan 91 kepala keluarga. Warganya tinggal di rumah-rumah panggung (karena sering terkena banjir kala musim hujan) yang terbuat dari kayu dengan atap yang terbuat dari daun sagu. Mata pencaharian utama warganya adalah petani, dengan komoditas berupa sagu, ubi, keladi, dan pisang. Aliran listrik tidak ada sama sekali—untuk penerangan pada pagi hingga sore hari, warga Salappa bergantung pada cahaya matahari dan pada malam hari bergantung pada generator bensin dan senter tenaga surya sumbangan dari pemerintah. Air bersih yang minim diperoleh dari sumur tadah hujan yang dibuat sendiri oleh warga dan kondisi airnya jauh dari jernih. Untuk saat ini, air PDAM sudah mulai mengalir ke dusun tersebut.

Aku dan 15 teman relawan lainnya terbagi menjadi sejumlah divisi, yaitu pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Divisi pendidikan membuat sejumlah program untuk siswa TK dan SD (karena SMP dan SMA berada di Desa Muntei), divisi kesehatan mengadakan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis dan sejumlah penyuluhan kesehatan, sedangkan divisi lingkungan bertugas melaksanakan program bersih-bersih desa, sosialisasi pemilahan sampah dan penyuluhan penanaman bibit tanaman baru.

Sebagai bagian dari divisi pendidikan, salah satu tanggung jawabku adalah melancarkan program pengenalan profesi dan memberi semangat bagi adik-adikku di sana untuk bercita-cita tinggi dan belajar dengan tekun. Kami mengumpulkan surat-surat dari teman-teman di Jakarta dengan berbagai latar belakang profesi, lalu membagikannya kepada setiap anak agar dapat menginspirasi mereka.

Selama lima hari menjalankan program di Salappa, kami tinggal di rumah-rumah warga dan menikmati kehidupan sebagai warga Salappa. Kami belajar bahasa Mentawai, makan makanan khas mereka, dan berinteraksi secara intens dengan warga. Bagiku, kehidupan di desa yang serba sederhana terasa menyenangkan. Di malam hari, kondisi desa gelap gulita, tapi di langit ratusan bintang berkilauan dengan amat jelas. Keluarga tempatku tinggal memperlakukanku sebagai anggota keluarga mereka sendiri, membuatku nyaman dan sejenak lupa akan hiruk pikuk kota Jakarta. Aku merasa tersentuh ketika keluarga angkatku di Salappa berkata:

Di, kapanpun kamu mau kembali ke Mentawai, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu. Terima kasih banyak sudah berkunjung ke Salappa.

Setiap saat aku berjalan sendirian maupun bergandengan dengan adik-adik di Salappa, aku hanya bisa berkata, “Terima kasih Tuhan, untuk kesempatan yang berharga ini!”

Terpanggil untuk Pelosok

Semenjak kali pertamaku pergi ke pelosok Indonesia, aku menyadari bahwa ini adalah sebuah panggilan yang Tuhan berikan bagiku. Aku semakin yakin ketika bercerita kepada orang-orang di sekitarku tentang pengalamanku tinggal di pelosok dengan segala kondisinya yang memprihatinkan. Ketika mereka menganggap tantangan yang ada di pelosok itu sebagai sesuatu yang harus dihindari, aku justru semakin terdorong untuk datang dan merasakan apa yang dirasakan warga setempat. Ketidaknyamanan yang ada tidak pernah menghalangiku untuk terus maju—itulah yang membuatku yakin bahwa ini adalah tugas khusus dari Tuhan untuk kukerjakan bersama-Nya.

Passion yang Tuhan letakkan dalam hatiku untuk saudara-saudara sebangsa dan tanah air di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) harus terus kutunaikan menjadi sebuah aksi nyata untuk dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi mereka yang membutuhkan. Namun, tidak jarang pula aku merasa ragu: akankah aku sanggup hidup sementara saja di medan-medan yang sulit? Di saat-saat seperti itu, Tuhan meneguhkanku melalui kalimat dalam sebuah buku.

Ketika aku meresponi panggilan-Nya dengan hati yang taat dan bersungguh-sungguh, Tuhan sendiri yang akan memampukanku dan menyediakan apa yang kuperlu.

Janji Tuhan tidak pernah diingkari. Aku diberikan kemampuan beradaptasi, sukacita, kesehatan, kekuatan, dan rasa nyaman. Lebih dari itu, Tuhan juga selalu mengirimkan donatur-donatur di setiap program pengabdian yang kuikuti untuk memberikan berbagai jenis bantuan bagi pemenuhan kebutuhan warga pelosok.

Panggilan Tuhan, anak muda, dan Indonesia

Aku percaya, Tuhan menempatkanku dan kita semua di Indonesia dengan sebuah tujuan. Setiap kita memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi bagi kesejahteraan Indonesia. Dalam Yeremia 29:7, Allah berkata, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

Apakah kontribusi bagi negeri ini harus selalu dengan menjadi seorang presiden, menteri, PNS, polisi, dan tentara? Tentu saja tidak terbatas pada profesi-profesi tersebut! Dalam 1 Korintus 12:12-31, Rasul Paulus berpesan bahwa dalam tubuh Kristus, tidak ada yang lebih penting atau kurang penting dari yang lain sebab kita semua memegang peran yang berbeda-beda dan sama pentingnya. Tuhan memberikan kita talenta dan potensi masing-masing yang harus terus kita kembangkan dan kita gunakan untuk sesama kita demi kemuliaan nama Tuhan, di ladang pelayanan kita masing-masing. Ladangku adalah desa-desa di pelosok negeri, bisa jadi ladangmu adalah di kantor tempatmu bekerja, di gereja tempatmu melayani, atau di lingkungan tempat tinggalmu.

Mungkin banyak dari kita yang masih belum menemukan passion dan belum mengetahui panggilan Tuhan bagi hidup kita. Aku berdoa supaya kita semua diberikan hikmat dari Tuhan, serta kerinduan dan ketekunan untuk menemukannya. Tetapi, kiranya hal itu tidak menghentikan kita untuk tetap melakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk negeri kita tercinta, dimulai dari langkah-langkah kecil. Menjadi relawan adalah salah satunya!

Selagi kita masih muda—dengan bekal semangat yang membara dan kondisi fisik yang masih mendukung—aku mengajak kita semua untuk bekerja di ladang Tuhan tempat di mana kita tinggal, yaitu negara kita, Indonesia. Biarlah kecintaan kita pada Indonesia tidak hanya sebatas kata-kata, tetapi nyata dalam pelayanan kita. Tuhan Yesus memberkati kita, anak-anak muda Indonesia!

Baca Juga:

Mereka Tanggung Jawab Kita

Jika kita bisa menangis di dalam gereja, maka kita pun harus juga bisa menangis untuk jiwa-jiwa di luar gereja yang membutuhkan pertolongan tangan kita.

Tuhan Membentukku Lewat Pekerjaan yang Tak Sesuai dengan Passionku

Oleh Gracea Elyda Safaret Sembiring, Yogyakarta

Bulan Mei 2017, aku menulis sharing mengenai panggilan dan pekerjaanku di WarungSaTeKaMu dengan judul “Pekerjaanku Bukanlah Passionku, Tapi Inilah Cara Tuhan Membentukku”. Tidak pernah terpikir olehku bahwa cerita tersebut akan bersambung, karena awalnya aku berencana untuk resign dari kantorku. Ternyata, aku masih bertahan hingga sekarang. Aku membuka lembaran baru di kantor ini pada 11 April 2016, bertahan hingga 11 April 2019, dan kini melanjutkan perjalananku. Artikel ini kutulis dalam rangka 3 tahun aku bekerja di kantor ini.

Selayang pandang, tiga tahun yang lalu aku masuk ke kantor ini—sebuah perusahaan desain interior—sebagai staf bagian keuangan. Beberapa kali aku bergumul antara bertahan atau resign karena merasa tidak bekerja sesuai passion. Pernah mencoba untuk setia, namun goyah juga. Akhirnya, aku memutuskan untuk resign setelah 1,5 tahun bekerja.

Aku masih ingat persis kapan aku mengajukan resign kepada atasanku, yaitu akhir November 2017. Permohonanku saat itu diterima. Namun, di awal Desember salah seorang rekan kerjaku tertangkap melakukan kecurangan dan dipecat di minggu yang sama. Dengan begitu, proyek yang seharusnya ia tangani menjadi sangat terbengkalai dan kacau. Saat itu pula atasanku memintaku untuk menunda resign untuk ikut membantu proyek yang ditinggalkan itu terlebih dahulu. Melihat situasi yang ada, aku pun menyetujui permintaan atasanku. Ini adalah pengalaman pertamaku terjun ke dalam sebuah proyek dengan porsi yang sebanyak ini. Sesuai permintaan, aku terlibat dalam proyek tersebut hingga akhir, yaitu di bulan Februari.

Terlibat dalam proyek tersebut selama 3 bulan membuatku belajar banyak hal dan memberiku kesempatan untuk menggali potensi diriku lebih lagi. Bahkan, aku merasa lebih menyukai dunia proyek daripada dunia finance. Menjelang akhir proyek, aku pun memberanikan diri untuk berbicara dengan manajer proyek tersebut. Aku mengatakan bahwa aku merasa tertantang untuk pindah divisi, dari finance ke proyek. Sang manajer pun menantangku kembali untuk bertahan di perusahaan ini dan pindah ke divisi yang kuinginkan, serta memberiku waktu untuk berpikir selama beberapa hari.

Setelah mendoakan pertimbangan ini dengan sungguh-sungguh dan memikirkannya matang-matang, akhirnya aku memutuskan untuk bertahan di kantorku dan mengajukan pindah divisi. Permintaanku diterima! Selama kurang lebih 4 bulan, aku masih tetap bekerja sebagai staf keuangan sambil mengerjakan proyek sampai ada yang menggantikanku di posisi ini. Setelah itu, barulah aku sepenuhnya pindah ke divisi proyek.

Pekerjaanku di divisi project tidaklah semudah menjadi staf bagian keuangan. Aku berada di posisi tengah antara klien dan supplier. Posisi ini menuntutku untuk dapat berkomunikasi dengan supplier yang karakternya berbeda-beda. Aku juga harus menguasai segala hal tentang furnitur—dari jenis-jenis kayu, jenis-jenis kain, jenis-jenis foam, jenis-jenis finishing yang digunakan, dan lain sebagainya. Hal ini tidaklah mudah, terutama ketika deadline yang diberikan klien seringkali tidak masuk akal. Secara bertahap aku belajar untuk menjalani pekerjaanku di divisi yang dinamis ini. Demi mendapatkan ilmu, aku tidak malu-malu bertanya dari supplier dan rekan kerja yang sudah lebih berpengalaman. Bahkan sampai saat ini, masih banyak yang harus aku pelajari.

Bulan ke-4, aku benar-benar lepas dari pekerjaanku di divisi keuangan. Pemilik perusahaan memberikan aku kepercayaan untuk memegang proyek all furniture sebuah vila 5 lantai di Bali. Ini adalah proyek pertamaku yang kujalani sebagai project leader. Aku sangat bersemangat sekaligus bersyukur. Aku sadar betul semua itu terjadi karena kasih karunia Tuhan. Tetapi, aku juga sadar bahwa dengan menjadi project leader, beban yang kutanggung akan lebih berat. Benar saja, proses mengerjakan proyek ini sungguh menyita pikiran dan waktu, bahkan sampai terbawa mimpi!

Dalam keadaan yang terasa sulit, untuk kesekian kalinya aku melihat bagaimana Allah menolongku. Allah mampu mengubah hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Ketika ada kesalahan, ada kalanya atasanku bersungut-sungut kepadaku. Tetapi, Allah menghiburku dan menolongku untuk tidak merasa sakit hati. Lebih dari itu, Roh Kudus bahkan memberikan aku dorongan untuk belajar lebih lagi di bidang ini. Yang selalu menjadi peganganku adalah firman Tuhan—setia dalam perkara kecil, bertekun, dan berpengharapan hanya kepada Allah.

Tuhan sungguh baik. Di luar dugaanku, saat evaluasi di akhir tahun 2018 aku mendapatkan masukan positif dan pujian dari atasanku. Tak ada satu pun hal negatif yang beliau katakan. Setelah itu, aku dipercayakan untuk terlibat dalam proyek hotel dan resort di luar negeri. Semua ini terjadi bukan karena hasil usahaku, tetapi karena kasih karunia Tuhan semata.

Dalam tulisanku sebelumnya, aku bercerita bahwa panggilanku cenderung mengarah pada mengajar di pedalaman. Namun, kini aku menyadari bahwa bagian itu belum waktunya untuk kujalani. Bagian yang Tuhan percayakan padaku sekarang adalah pekerjaan yang kujalani saat ini.

Dalam buku Visioneering, Andy Stanley mengatakan bahwa untuk sampai di sebuah tujuan (visi), kita akan melewati beberapa tujuan (visi kecil). Visi kecil diibaratkan sebagai potongan-potongan puzzle kecil yang dikumpulkan dan disusun, sehingga pada akhirnya menjadi sebuah gambaran besar yang nyata dan utuh. Andy memberi contoh tokoh Alkitab, yaitu Nehemia. Nehemia tidak pernah tahu bahwa Allah memanggilnya untuk membangun kembali tembok Yerusalem (Nehemia 1). Yang ia tahu saat itu adalah pekerjaannya sebagai juru minuman raja, dan dia bekerja dengan sebaik-baiknya. Integritasnya sebagai juru minuman raja membawanya kembali ke Yerusalem dengan bantuan raja (Nehemia 2).

Sekalipun kita memiliki profesi yang berbeda-beda, sebagai pengikut Kristus kita memiliki visi yang sama, yakni menyatakan Injil di manapun kita berada dan menjadi rekan sekerja Allah di dunia ini. Sebagai penutup, aku ingin membagikan dua ayat Alkitab yang dapat menguatkan kita dalam bekerja:

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10)

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya.” (Kolose 3:23-24)

Selamat bermisi di profesi kita masing-masing, kawan. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Baca Juga:

Tetap Mengasihi Sahabat, Meskipun Dia Berlaku Buruk Padaku

Sahabat yang awalnya begitu karib denganku berubah jadi seseorang yang menyakiti hatiku. Meski aku kecewa, tapi aku belajar untuk tetap mengasihi sahabatku.

Benang Merah Hidup

Oleh Vina Agustina Gultom, Bekasi

Aku yang duduk di bangku kelas 4 SD 14 tahun silam, pernah bercita-cita untuk membuat sebuah novel ciptaanku sendiri. Saking besarnya cita-citaku tersebut, aku pun langsung menyicilnya perlahan. Menulis setiap apa yang aku rasakan tiap harinya. Namun, lambat laun semangat menulisku menurun akibat banyaknya tugas dari sekolahku. Sampai akhirnya aku kuliah, semangat untuk melanjutkan tulisanku itu pun tak muncul lagi.

Di saat aku kuliah, sahabatku membujukku bahkan menantangku untuk mulai membaca buku rohani yang halamannya sekitar 30 lembar. Itu karena salah satu proyek ketaatan kami dalam kelompok kecil. Aku teringat dan berbicara di dalam hatiku: “Semangat masa kecilku untuk menulis saja tidak pernah kunjung, ini lagi disuruh membaca yang notabene aku tak pernah suka membaca selain membaca buku pelajaran”. Bagiku membaca di luar buku pelajaran hanya membuang-buang waktu saja, apalagi buku rohani. Mendengar khotbah tiap hari Minggu sudah cukup. Tapi, karena itu adalah proyek ketaatan aku pun mencoba menerima tantangan tersebut.

Tepat satu minggu setelahnya, akhirnya aku pun bisa menyelesaikan tantangan tersebut. Ya seperti yang kubayangkan, sahabatku itu pun kembali memberiku buku yang lain dengan halaman yang lebih banyak. Aku lagi-lagi bisa menyelesaikannya dengan baik karena aku adalah salah satu wanita perfeksionis yang tidak bisa melewatkan satu pun tanggung jawab sekecil apapun itu.

Di dalam proses aku menyelesaikan tantangan itu, lambat laun aku malah menyukainya. Dalam proses tersebut, aku teringat bahwa dulu aku punya bakat dalam menulis. Lalu, tanpaku sadari, Tuhan meneguhkanku lewat KTBku. Saat itu kami menikmati “Alone with God” di taman Monas. Pemimpin kelompokku menyuruh kami adik kelompoknya untuk mengingat-ingat benang merah hidup kami sejak dahulu kala, dan membuat sebuah komitmen apa yang harus kami lakukan berdasarkan benang merah hidup kami tersebut. Aku pun termenung dan berkata dalam hati “Iya ya Tuhan, dulu Tuhan beri aku semangat menulis, akhir-akhir ini Tuhan memberi kesempatan kepadaku untuk suka membaca, apakah Tuhan berkehendak untuk aku bisa kembali menulis dan menjadi berkat lewat tulisanku dengan beberapa referensi buku rohani yang sudah dan yang akan ku baca?”. Itulah pertanyaan dalam doaku kepada Tuhan dan itu jugalah yang menjadi bagian komitmen untukku kerjakan kedepan.

Namun lagi-lagi tanpa bisa dihindari, tuntutan kuliah selalu saja menjadi penghalangku untuk bisa menulis, walau proses membaca buku rohaniku tetap terus berjalan. Sampai akhirnya aku melanjutkan studiku dan tertekan dengan yang namanya tesis. Maju tak mampu, mundur pun segan, di situlah akhirnya tekadku membara kembali untuk mewujudkan komitmenku dalam membuat sebuah tulisan.

Di sini aku belajar bahwasanya merenungkan benang merah hidup kita itu penting, sekalipun awalnya ada bagian di mana salah satu benang merah hidup kita tersebut merupakan hal yang tidak kita sukai atau bahkan hal yang kita anggap tidak penting. Namun, ketahuilah ini bisa saja dipakai Tuhan menjadi sebuah karya yang indah bagi kemuliaan-Nya, seperti kata firman Tuhan di Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Ambillah waktu sejenak untuk mengilas balik dan menggali apa talenta kita dari benang merah hidup kita, sehingga pada akhirnya kita bisa sama-sama mengembangkan talenta kita yang terpendam tersebut. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk semakin peka.

Baca Juga:

Segala Sesuatu Ada Masanya, Gagal Hari Ini Bukan Berarti Gagal Seterusnya

Dua kali aku gagal untuk menempuh pendidikan di institusi negeri, dua kali pula aku merasa ingin menyerah. Namun, kegagalan itu kemudian menunjukkanku karya Tuhan yang luar biasa.

Berkali-kali Gagal Mencari Pekerjaan, Tuhan Membawaku pada Rencana-Nya yang Tak Terduga

Berkali-kali-Gagal-Mencari-Pekerjaan,-Tuhan-Membawaku-pada-Rencana-Nya-yang-Tak-Terduga

Oleh Aryanto Wijaya

Satu hari setelah dinyatakan lulus sebagai Sarjana, aku pikir kehidupan akan menjadi lebih mudah. Aku tidak perlu lagi berpikir keras untuk merangkai kata-kata dalam skripsi, ataupun memikirkan tugas-tugas kuliah lainnya. Tapi, semua itu hanya sementara hingga sebuah pertanyaan menyergapku, “Habis lulus mau ngapain dan kerja di mana?”

Menjadi seorang wartawan adalah cita-citaku sejak masih menjadi seorang mahasiswa baru. Kesukaanku akan menulis dan jalan-jalan menjadi motivasi utamaku untuk kuliah di Jurusan Jurnalistik. Namun, menjelang lulus aku harus menghadapi dilema yang mungkin juga dihadapi oleh teman-teman sejurusan lainnya. Pilih passion atau gaji? Pilihan yang berat untuk seorang fresh graduate, apalagi di Yogyakarta gaji pekerjaan di bidang Jurnalistik hanya sejumlah UMR saja. Akhirnya, aku menjatuhkan pilihanku pada gaji dan untuk mendapatkan gaji besar, tentu aku harus bekerja juga di perusahaan ternama. Itulah yang ada di pikiranku saat itu.

Di minggu pertama setelah ujian skripsi, aku segera mengikuti bursa pameran kerja yang diselenggarakan di Solo. Dari Yogyakarta, dengan bersemangat aku mengendarai motor sambil membawa 30 lembar CV. Tapi, semangatku seketika luntur tatkala dari puluhan perusahaan yang membuka lowongan, tak satu pun yang aku tertarik untuk melamar di sana. Kebanyakan perusahaan-perusahaan itu hanya membuka lowongan sebagai marketing, bidang yang aku tidak terlalu tertarik untuk menekuninya.

Aku belum mau menyerah. Aku bergabung dengan sebuah grup di LINE yang berisikan ratusan mahasiswa pencari kerja. Setiap hari selalu ada info lowongan dan bursa kerja. Satu minggu setelah pameran bursa kerja pertama, aku mengikuti bursa kerja lainnya. Kali ini ada dua perusahaan berskala nasional yang membuatku tertarik. Di kedua perusahaan itu aku melamar dan berharap supaya bisa lolos seleksi.

Perusahaan pertama menggelar seleksi terlebih dahulu. Namun, aku cukup ragu karena perusahaan ini adalah perusahaan rokok, sedangkan aku sendiri tidak merokok. Aku lolos di seleksi administrasi dan besok harus melanjutkan tahap kedua, yaitu psikotes. Namun, di tahap kedua inilah aku gagal. Dari 300-an peserta, hanya 75 orang yang dinyatakan lolos ke seleksi selanjutnya.

Masih belum patah semangat, aku menyiapkan diri untuk seleksi psikotes di perusahaan kedua. Lagi-lagi aku gagal karena aku merasa soal-soal yang diberikan cukup sulit. Waktu itu aku mendaftar dengan teman-teman lainnya. Karena mereka juga tidak diterima, jadi aku tidak merasa terlalu kecewa. Selain mendatangi langsung bursa pameran kerja, aku juga mencoba melamar kerja secara online. Ada sekitar lima perusahaan yang aku kirimkan aplikasi lamaranku, namun tak satu pun yang merespons.

Memikirkan kembali esensi bekerja

Kegagalan itu membuatku berpikir keras. Apakah memang yang kubutuhkan nanti dalam bekerja hanya sekadar gaji? Apakah nama perusahaan yang besar nanti memang akan membuatku bangga? Apakah aku tidak ingin mengembangkan ilmu jurnalistik yang telah kudapat di kuliah lewat pekerjaan yang nanti kukerjakan? Pertanyaan itu membuatku memikirkan ulang langkah apa yang seharusnya kuambil.

Waktu itu, aku melihat ada lowongan kerja sebagai editor untuk sebuah website yang dikelola oleh yayasan non-profit di Jakarta. Aku tertarik untuk mendaftar karena walaupun bukan wartawan, pekerjaan sebagai editor itu erat kaitannya dengan jurnalistik. Tapi, aku ragu karena aku masih mendambakan supaya bisa bekerja di perusahaan ternama dengan gaji besar. Jadi, aku mencoba mendaftarkan diriku ke sebuah perusahaan lainnya yang menurutku terkenal. Walaupun yang kulamar tidak sesuai dengan jurusanku, tapi aku ingin sekali diterima di sana .

Namun, pertanyaan itu kembali menghantuiku. Di tengah rasa bimbang itu, aku memutuskan pergi sejenak ke rumah temanku yang berada di Cilacap supaya bisa menenangkan diri. Aku juga berdoa meminta Tuhan boleh memberiku petunjuk mengenai langkah apa yang harus kuambil. Setiap kali berdoa, aku merasakan ada dorongan di hatiku untuk mencoba mendaftar sebagai editor di yayasan non-profit itu. Setelah berkonsultasi dengan temanku, dia menjawab tidak ada salahnya untuk mencoba saja mendaftar di yayasan itu.

Akhirnya aku mendaftar di yayasan itu dan mengikuti serangkaian seleksi rekrutmen. Satu minggu berlalu, tatkala aku membuka e-mail, aku kaget. Perusahaan besar yang kulamar mengirimi aku e-mail bahwa aku lolos tahap psikotes dan diharap melanjutkan tahap seleksi di Jakarta. Sementara itu, yayasan non-profit itu juga mengirimi aku pesan serupa supaya aku tiba di Jakarta tepat keesokan hari.

Jika beberapa bulan lalu aku sempat khawatir karena ketakutan tidak bisa mendapat pekerjaan, hari itu aku bingung karena dua pilihan yang tersaji di depanku. Aku takut apabila pilihan yang kuambil ternyata salah. Aku berdoa lagi dan lagi, serta menceritakan kebimbangan ini kepada teman-teman di kost. Akhirnya, di malam hari aku mengambil kesimpulan demikian, “Perusahaan yang menerimaku duluan, itulah yang akan kuambil.” Seberapa pun gaji yang nanti akan diberikan, selama itu cukup untukku memenuhi kebutuhan hidup, aku akan menerima tawaran pekerjaan itu.

Keesokan paginya aku terbang ke Jakarta. Setelah melakukan wawancara lanjutan, yayasan non-profit itu menerimaku bekerja sebagai seorang editor. Sesuai dengan keputusanku malam sebelumnya, aku menerima tawaran bekerja di sana. Kemudian, aku mengirim e-mail mengundurkan diri ke perusahaan yang seharusnya aku melakukan seleksi lanjutan.

Pilihanku untuk bekerja sebagai seorang editor

Setelah aku menerima tawaran kerja sebagai editor, aku tidak lagi mencari-cari pekerjaan lainnya. Aku mengundurkan diri dari grup pencari kerja di LINE. Sembari menanti wisuda di akhir November 2016, aku menyiapkan diri untuk pindah ke Jakarta. Sejujurnya, aku takut akan hari-hariku nanti setelah lulus kuliah. Tapi, aku teringat akan firman Tuhan yang berkata bahwa “kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”. Aku berdoa supaya di hari-hari yang kulewati, aku boleh belajar taat.

“Apakah menjadi editor adalah memang panggilan Tuhan dalam hidupku?” Tanyaku dalam hati. Waktu itu aku tidak tahu jawabannya, apakah ya atau tidak. Tapi, satu yang aku tahu bisa lakukan adalah coba saja jalani dulu pekerjaan ini. Satu bulan pertama bekerja sebagai editor adalah masa-masa transisi. Di samping aku harus menyesuaikan diri dari lingkungan hidup yang kontras antara Yogyakarta dan Jakarta, aku juga harus belajar segala sesuatu tentang dunia editor dari nol. Ilmu yang kudapat selama kuliah ternyata belum cukup untuk menjadi seorang editor yang tak hanya mampu mengedit, namun juga mampu menulis dan bertindak amat teliti.

Setiap harinya, aku menerima tulisan-tulisan yang dikirim oleh penulis dari berbagai daerah di Indonesia. Tulisan-tulisan mereka itu unik. Ada yang berkisah tentang opininya, namun banyak pula yang bercerita mengenai pengalaman hidupnya. Dari sekian banyak tulisan, biasanya ada beberapa tulisan yang membuatku terharu. Ada seseorang yang mengalami kecelakaan, namun tidak menyerah dan tetap sanggup mengakui Tuhan itu baik. Ada yang menulis tentang hatinya yang hancur setelah berpacaran sekian lama namun putus tanpa alasan yang jelas. Bahkan, ada pula seorang nenek berusia 71 tahun yang tubuhnya tak lagi prima dan penglihatannya kabur, namun masih semangat menulis.

Penulis-penulis inilah yang membuatku bersukacita setiap harinya dan menguatkanku bahwa pekerjaan inilah yang memang Tuhan siapkan untukku. Untaian kata yang mereka kirimkan seolah menjadi bahan bakarku untuk semangat bekerja sebagai editor setiap harinya. Sekarang, aku telah tujuh bulan bekerja di yayasan non-profit ini dan menemukan diriku menikmati pekerjaan ini.

Dahulu, aku sempat berpikir bahwa pekerjaan yang ideal itu diukur dari seberapa besar gaji yang diterima. Dalam benakku, dengan gaji besar aku bisa bahagia, bisa membeli apa pun yang kuinginkan, juga bisa traveling ke tempat-tempat baru yang belum pernah aku kunjungi. Namun, pekerjaanku sebagai editor memberiku paradigma yang baru tentang pekerjaan.

Aku bersyukur karena lewat gaji yang kuterima setiap bulannya, aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku sendiri, mendukung orangtuaku, menabung, juga bisa pergi traveling ke beberapa tempat di pulau Jawa. Aku bekerja memang untuk mendapatkan gaji, namun lebih tinggi dari itu, pekerjaanku adalah untuk kemuliaan Tuhan sebagaimana Rasul Paulus pernah berkata, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).

Sebagai seorang mantan fresh graduate, aku tentu memiliki mimpi-mimpi besar. Hingga saat ini pun mimpi-mimpi itu tetap ada, namun lebih mengerucut. Aku masih berharap kelak dapat melanjutkan pendidikan kembali, namun tugasku saat ini adalah memberikan yang terbaik lewat pekerjaanku. Pekerjaanku adalah bagian dari rencana Tuhan supaya aku bisa memuliakan-Nya. Ketika aku menjadikan Tuhan sebagai yang utama dan terutama, aku percaya bahwa Tuhan sendirilah yang akan memenuhi tiap-tiap kebutuhanku seperti firman-Nya berkata “Janganlah kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Matius 6:25).

Apakah kamu sedang bergumul mencari pekerjaan? Jangan menyerah dan tetaplah berdoa. Naikkan permohonanmu kepada-Nya dan biarkan Tuhan bekerja dalam hidupmu hingga kelak, lewat pengalaman-pengalaman hidupmu kamu boleh melihat pekerjaan Tuhan yang luar biasa.

“Aku tahu Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2).

Baca Juga:

Gagal Bukan Berarti Masa Depanku Suram, Inilah Kisahku Ketika Dinyatakan Tidak Lulus SMA

Delapan tahun lalu, tepatnya di tanggal 16 Juni 2009 adalah hari yang tidak pernah bisa kulupakan. Siang itu, aku dan teman-teman seangkatanku sedang was-was menantikan pengumuman kelulusan kami. Seperti peribahasa untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, hari itu aku menerima sebuah amplop pengumuman yang menyatakan bahwa aku tidak lulus SMA.

Sebuah Penyakit yang Meruntuhkan Keegoisanku

sebuah-penyakit-yang-meruntuhkan-keegoisanku

Oleh Amanda, Bali

Terkadang, sulit bagi kita untuk melihat apa sesungguhnya rencana Tuhan untuk kita saat ini. Kita mungkin bersungut-sungut dan bertanya mengapa hal-hal ini terjadi? Mengapa harus seperti ini? Bahkan, tidak jarang kita marah atas segala sesuatu yang terjadi di luar keinginan kita.

Sebelas tahun yang lalu, aku merasa hidupku begitu sempurna. Aku tinggal di luar negeri, memiliki pekerjaan yang menjanjikan, serta keluarga dan teman-teman yang selalu mendukungku. Begitu nyamannya kehidupanku saat itu, hingga tidak pernah terpikir olehku untuk kembali pulang ke tanah air Indonesia.

Setelah lulus dari bangku SMA, aku melanjutkan pendidikanku di Singapura. Ketika aku lulus dari universitas, aku memilih untuk menetap di perantauan. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai seorang manajer retail di Singapura. Tapi, pekerjaan itu sejujurnya bukanlah passionku, sehingga di tengah kesibukan kerja aku pun mengambil kursus singkat untuk menjadi seorang make up artist atau penata rias profesional.

Ketika virus ganas menyerangku

Di tahun 2012, ketika aku baru saja terbangun di pagi hari, aku merasakan setengah dari wajahku tidak dapat digerakkan. Hari-hari sebelumnya memang ada sesuatu yang aneh dengan kondisi fisikku. Sepanjang hari terdengar suara berdengung tanpa henti di telingaku. Ketika aku memeriksakan diri ke pihak medis, diagnosa dokter pada mulanya menyebutkan bahwa suara itu disebabkan karena sinusitis—peradangan pada dinding sinus, yaitu rongga kecil yang terletak di belakang tulang pipi dan dahi.

Akan tetapi, ternyata penyakit itu sesungguhnya bukan sinusitis. Dokter yang menanganiku kemudian berkata bahwa aku terserang penyakit Bell’s Palsy. Penyakit inilah yang menyebabkan setengah dari wajahku lumpuh. Sebetulnya, penyakit Bell’s Palsy dapat sembuh dalam rentang waktu dua hingga empat minggu, tapi kasusku ini berbeda. Di belakang telingaku telah tumbuh suatu kelenjar yang ternyata sudah merusak saraf telinga dan wajahku.

Hari itu juga, dokter memutuskan untuk melakukan operasi terhadapku. Keluarga dan teman-temanku tidak mengira bahwa penyakit yang menyerangku saat itu adalah Bell’s Passy. Mereka mengira bahwa operasi yang kulakukan adalah operasi sinusitis.

Saat itu aku merasa sedih dan tidak tahu apa yang harus kuperbuat selanjutnya. Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Dia mengizinkan ini terjadi kepadaku? Setengah dari wajahku sama sekali tidak dapat digerakkan. Aku tidak bisa menutup salah satu mataku, bahkan minum pun harus dengan bantuan sedotan.

Para pengidap penyakit Bell’s Passy pada umumnya dapat sembuh secara total, tapi tidak denganku. Kelenjar yang telah tumbuh di belakang telingaku telah menginfeksi saraf-saraf, sehingga sampai hari ini pun wajahku belum pulih seutuhnya. Aku merasa sedih dan malu dengan keadaan wajahku.

Seharusnya saat itu aku marah kepada Tuhan, tapi entah mengapa, hatiku merasa bersyukur atas penyakit yang menimpaku. Waktu itu aku berpikir kalau bukan karena pertolongan Tuhan, mungkin dokter pada hari itu tidak dapat menolongku.

Kebaikan Tuhan mengalahkan rasa kecewaku

Setelah mengetahui bahwa aku menderita penyakit ini, kedua orangtuaku memaksaku untuk kembali pulang ke Indonesia. Keputusan itu amat berat bagiku. Singapura telah menjadi zona nyamanku. Aku menemukan pekerjaan dan lingkungan yang kurasa amat cocok denganku. Aku merasa hidupku begitu mulus tanpa masalah, tapi secara tidak kusadari, kehidupan itu telah membuatku menjadi sangat egois.

Sekembalinya di Indonesia, dukungan dari teman-teman dan keluarga terus mengalir seraya aku terus berjuang lewat terapi-terapi rutin yang kulakukan. Ketika aku merasakan bahwa orang-orang di sekitarku begitu peduli, aku sadar bahwa sejatinya Tuhan memiliki rencana atas hidupku. Wajahku belum sembuh secara sempurna, tetapi dari penyakit ini aku belajar bahwa Tuhan tidak meninggalkanku sendirian dalam lembah kekelaman.

Tuhan mempertemukanku dengan seorang lelaki yang mau menerima keadaanku apa adanya dan saat ini kami telah menikah. Tak hanya sampai di situ, ada begitu banyak kebaikan Tuhan lainnya yang terus aku rasakan. Dulu, dari pekerjaanku di Singapura, aku mendapatkan gaji yang amat besar. Namun, karena pekerjaan itu bukanlah passionku, jadi di sela-sela pekerjaan aku pun mengikuti kursus make up artist. Sekarang, aku amat bersyukur karena kursus singkat yang pernah kuikuti dulu di Singapura ternyata menjadi berguna saat ini. Sambil terus melakukan pengobatan atas wajahku, dengan penuh sukacita aku bekerja sebagai seorang make up artist yang adalah passionku. Aku sadar bahwa Tuhan meniti dengan indah setiap momen-momen kehidupanku, dan rancangan-Nya selalu tepat pada waktu-Nya.

Jika dulu penyakit ini tidak menimpaku, mungkin aku tidak akan pernah kembali ke Indonesia dan melakukan pekerjaan yang memang sesuai dengan passionku. Keadaan apapun yang terjadi dalam kehidupan kita saat ini, percayakan dan serahkan semuanya kepada Tuhan dan yakinlah bahwa suatu saat kita akan melihat rencana-Nya yang indah.

Dahulu aku adalah seorang yang egois dan tidak pernah sekalipun memikirkan orang lain. Tetapi, sekarang ketika aku membuka mataku, aku melihat kebaikan Tuhan hadir di setiap kehidupan kita.

“Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya” (Mazmur 33:21).

Baca Juga:

Manakah yang Lebih Baik, Menikah atau Tetap Single?

Topik seputar pernikahan nampaknya menjadi sesuatu yang hangat dibicarakan di mana-mana. Sebagai seorang single, kadang itu membuatku jadi penasaran dan bertanya. Hal apakah yang bisa mendorongku melepas status singleku untuk terikat dalam pernikahan dengan seseorang?

Pekerjaanku Bukanlah Passionku, Tapi Inilah Cara Tuhan Membentukku

Pekerjaanku-Bukanlah-Passionku-Tap- Inilah-Cara-Tuhan-Membentukku

Oleh Gracea Elyda Safaret Sembiring, Yogyakarta

Ketika aku diwisuda pada September 2015, kupikir itu adalah momen yang paling berbahagia dalam hidupku. Aku membayangkan akan masa depanku yang cerah setelah menyandang gelar sarjana. Aku bisa bekerja dengan segera di perusahaan-perusahaan bonafide yang aku inginkan. Tapi, momen bahagia itu perlahan pudar menjadi hari-hari penuh perjuangan tatkala aku harus bergumul mencari pekerjaan selama hampir tujuh bulan.

Setelah melepas status sebagai mahasiswa, dengan segera aku berganti status menjadi seorang jobseeker alias pencari kerja. Perjuanganku untuk mendapatkan pekerjaan kulakukan dengan mendatangi bursa pameran kerja, baik itu di dalam ataupun luar kota. Selain itu, setiap hari aku selalu mencari-cari lowongan kerja di beragam portal karier yang tersedia di internet. Selama enam bulan itu aku berjuang keras mondar-mandir mencari pekerjaan, dan saat memasuki bulan ketujuh akhirnya aku mendapatkan pekerjaan pertamaku.

Sebuah pertentangan idealisme

Tiga bulan pertama menjadi seorang jobseeker, idealismeku masih begitu tinggi. Aku hanya mau melamar kerja di perusahaan-perusahaan yang menurutku bonafide. Dalam sebuah pameran bursa kerja, aku mendaftarkan diriku ke sebuah bank. Namun, aku tidak mengetahui kalau pada hari itu juga langsung diberikan pengumuman untuk maju ke tahap wawancara keesokan harinya.

Di hari kedua pameran bursa kerja, aku tidak sengaja melihat bahwa ada namaku tercantum di papan pengumuman seleksi wawancara. Di sana tertulis bahwa jadwal wawancaraku akan berlangsung kurang dari 15 menit lagi sehingga aku pun segera berlari menuju lokasi wawancara. Tapi, ternyata wawancara sudah selesai. Aku memohon supaya bisa mengikuti seleksi wawancara di tahap selanjutnya, tapi pihak panitia seleksi tidak mengizinkan. Ketika aku keluar ruangan, perasaanku begitu campur aduk hingga aku pun menangis.

Setelah memasuki bulan keempat pencarian kerja, idealismeku yang semula begitu tinggi pun mulai menurun. Aku mulai pasrah, lalu sebagai seorang pencari kerja yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan, aku jadi lebih sering khawatir, bingung, dan bosan. Apalagi, orangtuaku juga menuntutku untuk segera bekerja.

Ketika pekerjaan tidak sesuai dengan passionku

Setelah melewati masa penantian selama beberapa bulan, akhirnya aku diterima bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang staf bagian keuangan. Sudah satu tahun aku lewati bekerja di sana, namun hingga kini sejujurnya aku belum merasakan damai sejahtera. Pekerjaan ini membuatku merasa tidak menjadi diri sendiri. Aku merasa bahwa aku tidak bisa mengembangkan talenta yang sudah Tuhan berikan, belum lagi faktor internal perusahaan tempatku bekerja yang membuatku semakin merasa tidak nyaman.

Aku tahu bahwa keputusanku untuk bekerja di tempat ini bukanlah karena pilihan yang kuambil dengan sepenuh hati. Aku sungkan kepada orangtuaku karena aku tidak ingin mereka melihatku menganggur terlalu lama. Belum lagi tekanan-tekanan dari lingkungan sekitar ketika mengetahui kalau aku tak juga kunjung bekerja, lalu aku sendiri pun sudah merasa bosan. Ketika tawaran bekerja di perusahaan ini datang, aku pikir ini adalah langkah yang tepat untukku.

Sesungguhnya, passionku adalah mengajar anak-anak, bukan melakukan pekerjaan yang kulakukan sekarang ini. Untuk menghidupi passion itu, aku sempat mendaftarkan diriku untuk mengikuti program Indonesia Mengajar, namun hanya berhenti sampai di tahap direct assessment. Kegagalan itu membuat perasaanku campur aduk, dan akhirnya aku mengambil keputusan “just do it” saja dan mengambil tawaran kerja di perusahaanku yang sekarang.

Kejutan-kejutan dari Tuhan

Terkadang aku bertanya-tanya kepada Tuhan tentang apa yang sebenarnya Dia ingin aku lakukan untuk-Nya. Sepanjang perjalanan hidupku, aku telah melihat banyak kejutan yang Dia berikan, yang jauh dari dugaanku semula.

Kejutan itu bermula dari akhir masa sekolahku dulu. Ketika lulus SMA, aku ingin mengambil kuliah di Jurusan Komunikasi ataupun Jurnalistik. Namun, setelah mengikuti beberapa kali seleksi, aku gagal. Sebagai anak SMA yang baru lulus, fokusku saat itu adalah harus bisa kuliah di tahun itu juga di perguruan tinggi negeri supaya tidak membebani orang tua. Akhirnya aku pun mengambil Jurusan Diploma Teknik Sipil di Yogyakarta yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku. Setelah lulus, aku melanjutkan program ekstensi di Surabaya untuk mendapatkan gelar sarjana di jurusan yang sama.

Saat melanjutkan kuliah ekstensi itulah aku bertemu dengan seorang dosen yang kukagumi karena menurutku beliau adalah sosok yang beritegritas. Aku berdoa supaya skripsiku nanti bisa dibimbing olehnya, dan Tuhan mengabulkan doaku. Tapi, teman-temanku mengatakan kalau skripsi yang kukerjakan itu bukan teknik sipil banget karena lebih membahas ke bidang ekonomi teknik. Dan saat ini, sebagai seorang Sarjana Teknik aku malah bekerja sebagai staf bagian keuangan di perusahaan desain interior. Tapi, sebenarnya jika disambung-sambungkan dengan skripsiku, pekerjaan ini masih ada kaitannya dengan bidang studi yang kutempuh, walaupun sedikit.

Keputusanku untuk menikmati pekerjaanku yang sekarang

Jika berbicara tentang passion, aku tahu beban apa yang ada di hatiku. Di tahun pertamaku kuliah, aku menjadi seorang pengajar les gratis yang diselenggarakan oleh persekutuan yang aku ikuti. Pengalaman itu membukakan mataku tentang kondisi anak-anak yang tinggal di daerah perkampungan. Hatiku menjadi luluh setiap kali melihat anak-anak yang terbaikan itu. Hingga hari ini, sekalipun pekerjaan yang kudapat bukanlah di bidang pendidikan, aku masih merasakan perasaan yang sama terhadap anak-anak yang terabaikan itu.

Aku menyadari mungkin untuk saat ini Tuhan memang belum mengizinkanku untuk bekerja sepenuhnya melayani anak-anak terabaikan itu. Untuk menghidupi passionku, di samping pekerjaan utamaku sebagai staf bagian keuangan, aku pun bergabung dengan komunitas Teaching and Traveling 1000 Guru Jogja, lalu mengikuti mission trip yang diselenggarakan oleh persekutuanku, dan juga menjadi panitia di Kelas Inspirasi Yogyakarta.

Kadang, tatkala aku merasa terbeban dengan pekerjaanku, komunitas-komunitas yang aku ikuti inilah yang menguatkanku dan membuatku mampu bertahan di pekerjaanku yang sekarang. Aku bersyukur karena walaupun pekerjaan utamaku bukanlah passionku, tapi aku beroleh kesempatan untuk menyalurkan passionku lewat komunitas-komunitas yang aku ikuti.

Sampai saat ini aku masih bergumul dengan pekerjaanku, tapi aku mau belajar untuk setia, dengar-dengaran dengan suara Tuhan, dan mempercayakan segala sesuatunya kepada Tuhan yang adalah Sang Pencipta. Kadangkala memang rencanaku tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi sebagaimana firman-Nya berkata, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:8-9). Aku mau belajar untuk setia dan taat pada apa yang jadi rancangan-Nya.

Di masa depan nanti aku masih memiliki cita-cita untuk suatu saat bisa bekerja di lembaga-lembaga yang melayani masyarakat terutama anak-anak. Aku ingin membaktikan diriku untuk berkarya secara aktif dan menyentuh masyarakat secara langsung. Namun, sebelum tiba sampai di tahap itu, aku harus setia dan melakukan yang terbaik atas apa yang sudah Tuhan berikan kepadaku saat ini.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10).

Baca Juga:

Jangan Melompat, Masih Ada Harapan!

Aku baru saja bersiap akan berangkat kerja ketika polisi-polisi datang ke wilayah apartemenku. Seorang wanita tua nekat mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 10 di apartemen kediamanku. Aku mungkin tidak tahu apa penyebab dia nekat melakukan bunuh diri, namun seandainya waktu itu aku bisa mencegahnya melompat, aku akan berkata, “Jangan melompat, masih ada harapan!”