Posts

Belajar Mengasihi Orang Asing: Aku vs Ketakutanku

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Mengemban tugas pelayanan sebagai pemimpin kelompok kecil (PKK) semasa kuliah dulu merupakan hal tersulit bagiku. Bahkan aku sempat ‘bersumpah’ pada rekan-rekan sepelayananku bahwa: “Aku tuh enggak bisa gampang deket sama orang yang baru dikenal. Susah, lho. Takut banget”. Itulah mengapa aku cukup kesulitan ketika mendapat bagian melayani sebagai PKK bagi adik-adik mahasiswa baru di kampus sekitar 8 tahun lalu. Mengasihi orang asing atau orang yang baru kukenal menjadi hal yang tak pernah kuinginkan.

Keenggananku itu perlahan terkikis, ketika akhirnya Tuhan memberiku berbagai proses yang mengarahkanku untuk mengasihi diri sendiri.

Sejak aku belajar dan menyadari bahwa aku sangat dikasihi Tuhan meskipun mengalami penolakan, sejak aku menyadari bahwa menikmati relasi pribadi dengan Tuhan ternyata banyak sekali mengubah hidupku, pelan-pelan aku berani membuka diriku terhadap hal-hal baru dan juga orang-orang baru. Awalnya memang pikiranku dikuasai oleh ketakutan dan kekhawatiran. Terlebih lagi aku memiliki isu ketidakpercayaan terhadap orang baru. Namun, ‘belajar’ menjadi motivasi utamaku ketika mulai menjalin relasi bersama mereka. Aku berkata pada diriku sendiri, “Mau sampai kapan kamu menutup diri terus, Meista?” Dan ketika aku memahami, menyadari, serta mengalami betapa besarnya kasih Tuhan dalam hidupku, keberanian untuk membuka hati dan kepercayaan diri pun muncul.

Belajar Mengasihi Orang Asing: Menerima Pelayanan Sebagai Mentor

Tahun 2020 aku mendapat tawaran sebagai mentor untuk sebuah pembinaan yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga pelayanan. Pembinaan ini dilakukan selama 6 bulan dengan sistem daring. Peranku sebagai mentor adalah membimbing adik-adik mahasiswa semester akhir dalam menggumulkan panggilan hidup mereka setelah lulus kuliah nanti. Sebagai orang yang pernah menikmati pemuridan semasa kuliah, juga sebagai orang yang tahu betul bagaimana sulitnya bertumbuh seorang diri tanpa komunitas kecil, pelayanan tersebut langsung aku terima.

Aku sempat merasa takut. Aku dihantui kecemasan dan keraguan terhadap diriku sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tiba-tiba muncul dalam pikiranku: apa motivasimu terima pelayanan ini? Apa kamu sedang merasa dibutuhkan?

Aku pun lebih tekun berdoa menjelang hari-H pelayanan. Aku bertanya dalam doaku: Tuhan, apakah hal yang kulakukan ini benar? Jika Engkau tidak berkenan aku mengambil pelayanan ini, lebih baik aku mundur saja. Tuhan lantas tidak menjawab doaku secara langsung. Namun, dalam hatiku aku merasa yakin bahwa alasanku menerima pelayanan ini hanyalah karena aku telah dan sedang menikmati pimpinan Tuhan dalam proses menemukan serta menjalani panggilan hidup. Prosesnya berlangsung hingga saat ini, dan aku tidak ragu untuk membagikan bagaimana Tuhan menuntun dan memimpin hidupku melalui banyak hal. Aku juga ingin mengimani dan membuktikan apa yang tertulis dalam kitab Ulangan 31:6 :

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”

Inilah yang menjadi alasan kuat bagiku untuk tidak mundur menggembalakan adik-adik yang Tuhan berikan menjadi bagianku sepanjang pembinaan berlangsung.

Ternyata, ada banyak hal yang menjadi berkat buat diriku sendiri ketika aku melayani sebagai mentor. Pertama, tentu aku mendapat teman-teman baru. Baik itu adik-adik dalam kelompok mentoring, hingga teman-teman panitia. Kedua, materi dari pembinaan itu sendiri. Meskipun statusku adalah mentor, namun aku kembali diingatkan esensi tentang menggumulkan panggilan hidup. Aku kembali belajar bahwa panggilan hidup tidak terbatas pada apa jabatan, jenis pekerjaan, atau di mana aku bekerja. Panggilan hidup dalam Tuhan berbicara tentang berjalan dan berelasi bersama-Nya dalam kehidupan ini. Jadi, segala sesuatu benar-benar harus dipusatkan pada Kristus, bukan mengedepankan apa yang kita mau—meskipun tidak ada salahnya juga untuk menyampaikan apa yang kita inginkan pada-Nya di dalam doa. Ketiga, aku juga makin dimampukan untuk melihat lebih tajam tentang kepribadianku, talenta, serta minatku. Hal ini tentu menolongku juga untuk makin serius melakukan pekerjaan dan pelayanan yang tengah dipercayakan padaku.

Dari beberapa pelajaran dan pengalaman yang dinikmati, aku bersyukur karena tidak mengikuti rasa takutku dalam menjalin relasi dengan adik-adik mentoring yang ‘statusnya’ adalah orang-orang asing. Kasih dari Tuhan yang lembut mengubah ketakutan itu menjadi berkat yang tak pernah aku sesali hingga saat ini.

Belajar Mengasihi Orang Asing: Menjadi Pendengar yang Baik untuk Teman Baru

Suatu kali aku tengah menceritakan kisah kegagalanku pada salah satu teman dekat. Kemudian ia menyarankan aku mendengarkan siaran podcast yang ia buat bersama temannya. Podcast yang mereka produksi ternyata berbicara tentang kegagalan juga. Singkat cerita, aku sangat terberkati melalui konten tersebut, dan aku langsung mempublikasikannya di akun Instagram Story-ku.

Tak berapa lama, tiba-tiba aku dikontak oleh temannya temanku yang berada dalam podcast itu melalui pesan Instagram (Direct Message/DM). Temannya temanku. Aku tidak tahu dia siapa, aku tidak mengenalnya, lalu tiba-tiba dia merespon postingan yang aku buat. Untuk aku yang cukup tertutup terhadap orang asing, menjadi tantangan tersendiri bagiku ketika hendak memberikan respon balik. Namun salah satu komitmen pribadiku di tahun 2021 ini adalah belajar untuk lebih membuka diri, termasuk dalam hal relasi. Aku sempat bertanya pada diri sendiri, “Apa sih yang salah dengan punya teman baru di luar lingkaran terdekat, Meista? Enggak ada kan?” Akhirnya dengan mengingat hal ini, aku memberanikan diri untuk membalas pesannya.

Obrolan demi obrolan berlangsung, hingga aku mengetahui bahwa ia memiliki isu pada kesehatan mental (ia menceritakannya langsung kepadaku). Topik mengenai kesehatan mental ini tentu menjadi hal menarik bagiku karena aku juga pernah merasakan situasi yang sama meski dengan detail yang berbeda. Jadilah aku juga membuka diri untuk bercerita tentang beberapa pergumulan hidupku padanya dengan motivasi siapa tahu ceritaku bisa menguatkannya juga.

Hari demi hari berlalu dan kami jadi cukup sering mengobrol melalui aplikasi chat. Hingga tiba pada masa di mana aku mulai merasa khawatir, cemas, dan takut jika relasi kami makin dekat. Jika teman baruku ini perempuan, mungkin aku tidak masalah. Namun dia adalah laki-laki. Kecenderungan perempuan, atau lelaki pun, pada umumnya jika cukup sering berkomunikasi dengan teman lawan jenis adalah mudah dibawa perasaan (baper)—meski memang kondisi ini tidak bisa digeneralisasikan. Aku sempat terpikir untuk tidak lagi membalas chat-nya, tidak ingin lagi meresponi curhatannya, tidak ingin lagi mengetahui cerita-cerita hidupnya meski ia terus mengontakku. Namun, saat itu aku sadar aku memang diperhadapkan pada 2 pilihan: tetap merespons dengan sewajarnya, atau diamkan saja.

Lalu aku merenung dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada diriku sendiri: apa yang membuatku khawatir, cemas, dan takut ketika berkomunikasi dengannya? Apakah aku terganggu dengan pesan-pesan singkatnya? Ketika merenungkan hal ini, aku teringat salah satu bagian Firman yang berkata:

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18)

Ditambah lagi dengan Firman yang kudapat dari saat teduh pada tanggal 15 April 2021 tentang “Berbagi Beban”. Imamat 19:34 sangat jelas menyatakan, “…kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.” Lalu ada bagian yang menguatkanku hingga aku memutuskan untuk tidak berfokus pada ketakutanku sendiri:

“Terkadang beban yang orang lain tanggung membuat mereka merasa seperti orang asing—sendirian dan tidak dimengerti—bahkan di antara orang-orang sebayanya. …mungkin kita belum pernah mengalami kesulitan yang orang lain alami. Meski demikian, kita dapat memperlakukan siapa pun yang dihadirkan Allah dalam hidup kita dengan penuh hormat dan pengertian, seperti yang kita sendiri inginkan. Kita menghormati Allah ketika kita melakukannya.”

Tanpa ingin melakukan ‘cocoklogi’, aku yakin pilihan ada di tanganku untuk tetap berteman dengannya atau hentikan saja karena akunya ketakutan. Akhirnya aku pelan-pelan menyadari bahwa mungkin bagianku hanya menjadi teman yang mendengar saja. Belajar menjadi pendengar yang baik di kala dia bercerita. Aku tidak perlu takut dalam mengasihi teman sendiri selama tidak ada ekspektasi yang dipautkan padanya. Jadi, saat ini aku belajar untuk menikmati relasi pertemanan kami yang masih berlangsung hingga sekarang dan tetap mengasihinya sebagai teman tanpa harus merasa takut baper.

* * *

Kehadiran orang asing dalam konteks orang yang sengaja dilayani di pelayanan tertentu atau bahkan dalam ranah pekerjaan profesional sekalipun, atau orang asing yang hadir secara tak disengaja (random) ke dalam hidup kita pastinya bukanlah suatu kebetulan. Namun bukan bagian kita untuk mengetahui, “Apa sih maksud Tuhan dalam hal ini?”.

Kadang, tidak semua hal Tuhan beritahu kepada kita maksud dan tujuan dari segala sesuatu yang terjadi. Namun satu hal yang pasti: pimpinan dan penyertaan-Nya selalu ada. Kasih-Nya selalu nyata, dan kasih inilah yang sepatutnya bisa kita bagikan kepada orang-orang asing yang datang ke hidup kita jika kita sudah mengalami sendiri bagaimana indahnya kasih Allah itu.

Baca Juga:

Berhadapan dengan Rekan Kerja yang Menyebalkan

Ketika bekerja, kita pasti akan berurusan dengan orang lain. Senyaman apapun lingkungan kerja kita, sebesar apapun nominal gaji kita, semudah apapun jobdesc kita, kita tidak bisa menghindar dari urusan relasi ini.

Berhadapan dengan Rekan Kerja yang Menyebalkan

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Dalam kehidupan pekerjaan profesional, tantangan tentu menjadi hal yang tidak mungkin kita hindari. Pergumulan terkait kecukupan gaji, nyaman-tidaknya lingkungan bekerja, tinggi-rendahnya tingkat stres dari pekerjaan yang kita lakukan, hingga apakah pekerjaan tersebut membawa pertumbuhan dan perkembangan pada diri kita tentu selalu ada. Dari beberapa tempat kerja yang memberiku banyak sekali pengalaman dan pelajaran, ada satu hal lainnya juga yang pasti akan kita temui ketika bekerja di manapun: berhadapan dengan karakter orang lain.

Ketika bekerja, kita pasti akan berurusan dengan orang lain. Entah banyak, atau sedikit. Entah dengan usia yang lebih tua, atau lebih muda. Entah dengan perempuan, atau laki-laki. Senyaman apapun lingkungan kerja kita, sebesar apapun nominal gaji kita, semudah apapun jobdesc kita, kita tidak bisa menghindar dari urusan relasi ini.

Seperti relasi antar manusia pada umumnya (dengan keluarga, teman dekat, dan lain-lain), relasi dengan rekan kerja pun tentu akan mengalami dinamika. Ada masa di mana kita kompak dengan mereka ketika mengerjakan suatu pekerjaan, namun ada juga masa di mana kita harus berhadapan dengan karakter atau tingkah mereka yang menyebalkan dan tidak kita sukai. Meskipun indikator ‘menyebalkan’ dan ‘tidak suka’ antara satu orang dengan yang lain akan berbeda, namun fase ini tentu tidak terhindarkan. Ini hal yang wajar, karena pada dasarnya Allah menciptakan manusia unik dan berbeda satu sama lain (Efesus 4:7). Juga tidak boleh dilupakan bahwa kita semua telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).

Lalu apa yang harus kita lakukan jika tengah berhadapan dengan rekan kerja yang menyebalkan, atau bahkan sampai muncul konflik yang tak terhindarkan?

1. Akui emosi hatimu pertama-tama pada Tuhan

Aku pernah memiliki rekan kerja yang tidak mau berbicara padaku gara-gara kami berdebat soal konten media sosial apa yang harus diprioritaskan untuk publikasi hari itu. Aku sedih karena dia mendiamkanku selama beberapa hari dan itu sangat mengganggu jalannya kinerja harian kami (kebetulan pekerjaan harianku selalu berkorelasi dengannya). Mudah bagiku untuk terus larut dalam emosi, berpikiran negatif, hingga berpengaruh pada pekerjaan. Namun, masih ada pilihan untuk berdoa dan mengakui apa yang kurasakan pada Tuhan. Awalnya aku gengsi, ingin berada di posisi yang paling benar, tapi lama-lama Tuhan tolong aku untuk melihat situasi dengan hati dan pikiran yang lebih jernih. Dengan keberanian yang Tuhan anugerahkan, aku akhirnya meminta maaf duluan padanya meskipun dia tetap tidak membalas pesanku. Sedih dan sedikit kecewa, tapi setidaknya itu hal terbaik yang bisa kulakukan.

Mengakui keadaan hati kita pada Tuhan mungkin tidak menolong konflik mereda seketika, tetapi itu akan memberikan damai sejahtera pada hati kita. Ketika hati kita lebih damai, kita lebih mampu untuk melihat lebih jelas dan luas konflik yang sedang kita alami.

2. Bicarakan pada pimpinan atau atasan jika sudah mengganggu profesionalitas kerja

Masih lanjutan dari cerita di atas, karena dia masih mendiamkanku, sedangkan urusan publikasi masih harus terus berlangsung setiap harinya, akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengan atasan kami. Menjadi suatu berkat yang harus disyukuri ketika memiliki pimpinan yang mau peduli dengan masalah yang dialami anak buahnya. Singkat cerita, ia mengajak ngobrol rekan yang mendiamkanku itu, lalu tak berapa lama kemudian ia akhirnya membuka komunikasi denganku dan relasi kami kembali baik seperti semula.

Namun bagaimana jika atasan kita malah tidak mau ikut campur dengan konflik antar rekan kerja yang sedang terjadi?

Tetap tenangkan diri dan pikiran, lalu coba sampaikan pada atasan bahwa kita butuh pertolongan atau masukan atas pekerjaan yang terhambat akibat konflik tersebut. Usahakan kita tidak perlu fokus pada perilaku rekan kerja yang membuat kita marah, kesal hingga berkonflik, namun fokus pada mencari solusi dari masalah pekerjaan yang sedang dilakukan.

3. Belajar rendah hati untuk terus perbaiki diri

Meski rasanya kesal dan seringkali tidak mau berada di posisi salah, namun kita juga tetap rendah hati untuk terus belajar dalam memperbaiki diri sendiri. Seperti yang ditulis oleh Suzanne Stabile dalam bukunya yang berjudul The Path Between Us: “Sangatlah bagus jika Anda menghabiskan energi untuk mengobservasi dan memperbaiki diri sendiri ketimbang mengobservasi serta memperbaiki orang lain.”

Kesal dengan tingkah laku si rekan kerja tentu bukan berarti kita menjadi pihak yang paling berdosa. Bukan juga artinya dia yang paling berdosa. Namun, Firman dalam Efesus 4:2 mengatakan perintah yang jelas: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar.” Sulit? Tentu. Keberdosaan kita membuat kita ingin menjadi pihak yang selalu benar dan tidak ingin salah. Pada akhirnya, meminta tolong kerendahan hati untuk mau belajar pada Allah adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan.

4. Komunikasikan dengan baik ketidaksukaan kita dengan cara yang tidak menghakimi

Ada kalanya kita kesal dengan rekan kerja kita hanya karena tingkahnya yang memang tidak kita sukai, misalkan: si dia terlalu banyak bicara, si dia sok tahu, si dia memiliki kebiasaan menghentak-hentakkan kaki sehingga ruangan kantor jadi berisik, si dia tidak sabaran, si dia pemalas, si dia suka datang terlambat, dan lain-lain. Jika hal itu tidak mengganggu pekerjaan kita, tentu harusnya tidak ada masalah. Namun, jika sudah mengganggu, membuka komunikasi secara baik-baik menjadi cara yang layak dicoba.

Sewaktu bekerja di perusahaan media, salah satu rekanku sering sekali berbicara dengan nada menuntut dan cukup tinggi kepadaku. Konteksnya seperti ini: alur kerja kami memang dimulai dari aku dulu yang membuat konsep, kemudian dia yang membuatkan desain. Aku selalu berupaya untuk memberikan konsep tepat waktu, namun dalam beberapa kesempatan ia tetap marah-marah padaku. Emosinya membuatku merasa di posisi serba salah. Aku jadi kesal. Hingga pada suatu hari aku mencoba iseng mengungkapkan rasa kesal itu. Dimulai dengan berdoa singkat dalam hati meminta ketenangan, aku bertanya, “Woy, kamu kenapa sih? Lagi dikejar kereta api? Ngomong sama aku kok ngegas mulu gitu lho.” Lalu dia menjawab, “Hah? Aduh aku emang ngegas ya? Maaf, maaf.” Responnya dia ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan. Dia bahkan meminta maaf dan setelah itu menceritakan bahwa ada masalah yang tengah mengganggunya sehingga di saat itu ia sebenarnya tidak sedang berkonsentrasi bekerja.

Singkat cerita, hubungan kami malah jadi semakin dekat, dan ketika dia mulai berbicara dengan nada yang sama, aku tidak masukkan ke dalam perasaan lagi, selama memang pekerjaan kami sudah pada alur dan waktu yang tepat.

Jadi, belum tentu tingkah menyebalkan seseorang selalu tanpa alasan. Kadang mungkin saja ada permasalahan atau beban berat yang sedang mereka pikul namun enggan membicarakannya pada siapapun, sehingga membuat tingkahnya jadi menyebalkan untuk orang sekitar. Di sini, kita bisa meminta hikmat pada Tuhan untuk menjadi pendengar yang baik, atau bahkan kita bisa membantu dan menolongnya sesuai kapasitas yang Tuhan anugerahkan untuk kita.

5. Hindari membicarakan kelemahan atau keburukannya kepada orang lain

Aku menuliskan ini bukan berarti aku berhasil menghindarinya. Tidak. Membicarakan keanehan atau kelemahan orang lain yang tidak kita senangi rasanya menjadi makanan sehari-hari dan kita sadar-tidak sadar senang melakukannya. Aku pribadi mengakui bahwa masih sangat sulit untuk mengekang lidah dan sulit untuk menjaga hati agar tidak bergunjing, apalagi jika itu menyangkut orang yang menyebalkan bagiku.

Sayangnya, Tuhan tidak menghendaki demikian. Yakobus 1:26 secara jelas menyampaikan: “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” Ketika ‘terjebak’ pada situasi bergosip yang sungguh menggoda, kita bisa minta tolong pada Allah dalam doa untuk menahan motivasi hati kita yang ingin ikut-ikutan membicarakannya. Aku sendiri beberapa kali lebih memilih diam atau bermain ponsel ketika topik tentang si orang-yang-menyebalkan mulai muncul dalam percakapanku bersama rekan-rekan kerjaku yang lain. Ada kalanya aku juga jatuh dan ikut tergoda membicarakannya. Minta tolong pada Allah menjadi cara terbaik yang bisa kita lakukan.

* * *

Beberapa pengalaman bekerja di ranah profesional sebelumnya mengajariku bahwa meskipun kita bisa memilih perusahaan, ladang, gaji, hingga jenis pekerjaan dan jabatan yang kita mau, kita tidak bisa memilih pemimpin, tim, serta rekan kerja yang akan bekerja bersama kita. Aku belajar bahwa jika pun aku memperoleh semua yang aku mau dalam pekerjaan tersebut, aku tidak bisa mengelak dari dinamika relasi yang terjadi antara aku dan rekan sekerjaku. Talenta yang kumiliki untuk berkontribusi dalam pekerjaan tersebut ternyata satu paket dengan bayar harga dan penderitaan di dalamnya, termasuk juga ketika menghadapi konflik dan masalah dengan sesama.

Pertanyaannya: apakah kita mau untuk selalu mengandalkan kekuatan Tuhan dalam pekerjaan hari ke hari, atau lebih memilih untuk mengandalkan kekuatan sendiri?

Baca Juga:

7 Langkah Berdamai Saat Berkonflik dengan Teman Dekat

Berteman lama dan sangat dekat tidak jadi jaminan kalau pertemanan itu akan bebas dari konflik. Lalu, bagaimana caranya kita berekonsiliasi kala konflik terjadi dengan kawan dekat?

7 Langkah Berdamai Saat Berkonflik dengan Teman Dekat

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Dulu aku sempat berpikir bahwa relasi pertemanan yang sudah terjalin lama dan sangat dekat tidak akan pernah bersentuhan dengan konflik atau perseteruan. Aku pikir karena kita sudah sama-sama saling mengenal, saling tahu kelemahan dan kelebihan, harusnya relasi kami baik-baik saja.

Ternyata aku salah.

Tahun 2020 merupakan tahun pembelajaran besar buatku akan hal ini. Aku mengalami konflik dan gesekan karakter dengan teman-temanku sendiri yang berada dalam lingkaran pertemanan kelompok tumbuh bersama (KTB). Hal-hal yang sempat kurasakan waktu itu adalah mereka sudah tidak peduli denganku, berbeda dengan masa-masa kuliah di mana kami benar-benar saling memperhatikan satu sama lain. Nyatanya, kehidupan di dunia alumni merubah semuanya. Aku yang saat itu tengah kesepian merasa ‘tidak aman’ berada bersama-sama dengan mereka. Obrolan di grup chat kami pun terasa hambar dan tidak sesuai ekspektasiku. Belum lagi ditambah dengan momen kesalahpahaman yang terjadi. Niatnya aku hanya peduli pada salah satu temanku, ternyata dia merespon aku berbeda. Tersinggung dan merasa direndahkan, katanya. Aku pun ikut tersinggung karena merasa dihakimi. Akhirnya dengan emosi yang campur aduk antara sedih, kesal, dan kecewa, aku meninggalkan grup chat kami dan memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengan mereka.

Jika aku menyelesaikan cerita sampai sini, mungkin rasanya sedih sekali, bukan? Memutuskan relasi dengan teman-teman dekat tentu tidak menjadi mimpi dan anganku. Singkat cerita, saat ini aku sudah kembali berteman baik dengan mereka, kembali masuk grup chat—setelah dua kali kutinggalkan, dan aku pribadi mendapat banyak sekali pelajaran berharga dari konflik yang kami alami. Nah, izinkan aku untuk membagikan hal-hal apa saja yang kita perlu lakukan ketika sedang terlibat konflik, khususnya dengan mereka yang sudah sangat dekat dengan kita:

1. Pahami dan kenali diri sendiri dengan baik

Orang lain, termasuk teman-teman dekat kita, mungkin tidak sepenuhnya mengenal kita. Untuk itu, kita sendiri yang terlebih dahulu harus mengenal diri sendiri. Lihat bagaimana respons kita ketika menghadapi konflik, bagaimana cara kita menyelesaikannya, apakah kita termasuk orang yang lebih baik kabur atau cari aman alih-alih menghadapi konflik tersebut, dan sebagainya. Kita bisa juga melakukan tes kepribadian seperti MBTI, Enneagram, atau tes kepribadian lain yang sejenis. Kita juga bisa mencari tahu apa bentuk bahasa kasih yang dimiliki diri sendiri dan juga teman-teman kita. Mengetahui bahasa kasih ini dapat menolong untuk memahami bagaimana bentuk kasih yang perlu disampaikan secara nyata melalui tindakan kita.

2. Terus belajar bahwa konflik dalam relasi pertemanan itu adalah hal yang wajar

Konflik yang aku sebut di sini mengarah pada konflik yang sehat; konflik yang membawa pertumbuhan baik bagi diriku sendiri, maupun bagi relasi kami. Menurut situs christiantoday.com, relasi pertemanan akan mengalami ujian tersendiri. Ujian tersebut dapat membawa kita pada 3 pelajaran penting: pengampunan, kerendahan hati, dan pertumbuhan.

Dalam pertemanan, biasanya kita menjadi dekat karena menemukan persamaan-persamaan. Entah itu karena persamaan hobi, selera musik, atau masalah yang sedang dihadapi. Namun, sekadar menemukan persamaan saja tidak cukup. Seiring berjalannya waktu, pertemanan akan menunjukkan perbedaan-perbedaan, dan di sinilah biasanya konflik terjadi. Pertemanan yang baik bukanlah pertemanan yang bebas konflik, karena tentunya perbedaan-perbedaan bisa menimbulkan gesekan, tetapi pertemanan yang baik dapat terjadi ketika masing-masing pihak bersedia untuk memahami perbedaan.

3. Lebih baik jujur namun menyakitkan, daripada ‘cari aman’ tapi tidak menjadi diri sendiri

Hal yang membuat kita takut untuk jujur dan sulit menjadi diri sendiri adalah: rasa malu (shame). Curt Thompson dalam bukunya yang berjudul “The Soul of Shame” mengatakan bahwa: “Kita hidup dalam sebuah budaya di mana kita takut menunjukkan siapa kita karena takut dipermalukan karena menjadi diri sendiri.” Pilihannya jatuh di tangan kita: menjadi jujur demi kesehatan emosi dan relasi, atau tidak menjadi diri sendiri.

Hal yang kuakui secara jujur pada mereka waktu itu adalah aku merasa tidak ditanggapi ketika sedang menceritakan masalahku. Di saat aku butuh didengar, mereka malah meresponi ceritaku dengan masalah pribadi mereka juga. Mungkin ini sebenarnya tidak masalah, tapi yang kurasakan saat itu tentu kecewa. Akhirnya aku tinggalkan grup, dan sempat menuliskan sekelumit perasaanku dalam tulisan blog—yang kemudian tulisan itu kukirimkan ke mereka satu-satu. Aku tahu ini sangat berisiko, namun saat itu aku tetap terbuka jika mereka ingin menegur atau memberikan respons lainnya. Seperti ada tertulis: “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi” (Amsal 27:5). Jadi aku memilih untuk tetap jujur meskipun dengan risiko, daripada menyembunyikan apa yang kurasakan dan tenggelam dalam situasi relasi yang kurang sehat.

4. Ambil waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu supaya tidak dikuasai emosi

Emosi marah, kesal, dan kecewa bisa berdampak pada keputusan-keputusan yang kita ambil. Itulah mengapa pilihan untuk menyudahi pertemanan sempat terlintas di pikiranku. Alasannya karena aku gagal menjadi teman yang baik, karena mereka tidak mengerti diriku, dan alasan-alasan lainnya yang dikendalikan oleh emosi. Aku tahu sangat sulit untuk mengaplikasikan Firman yang tertulis dalam Efesus 4:6. Namun ternyata membuat hati dan pikiran tenang adalah cara terbaik yang bisa kita lakukan demi memperoleh solusi terbaik ketika berkonflik. Tidak perlu paksakan waktu, dan izinkan diri kita berserah pada kasih Allah yang sanggup membuat hati kita tenang.

Emosi bersifat sementara, tetapi keputusan yang kita ambil bisa berdampak permanen.
Mengambil keputusan dalam emosi yang lebih stabil menolong kita untuk melihat secara lebih luas dampak apa yang akan timbul dari keputusan yang akan kita buat.

5. Berdoa, dan akui sakit hati serta kekecewaan kita pada Tuhan

Sebagai Pencipta, Tuhan tahu betul karakter, kepribadian, serta emosi-emosi diri kita. Selain belajar jujur pada diri sendiri dan teman, belajar juga untuk jujur pada Tuhan di dalam doa. Aku pernah mendoakan bahwa aku sulit sekali mengampuni. Aku sulit memaafkan diriku sendiri yang gagal dan juga sulit memaafkan teman-teman yang mengecewakanku. Pada akhirnya, Tuhan sendirilah yang memberikan jalan keluar bagi relasi kami hingga saat ini.

Memulihkan hati yang terluka tidak cukup hanya dengan upaya kita sendiri. Kita butuh sentuhan kasih Ilahi yang tak hanya menutup luka itu, tapi juga membaharui hati kita.

6. Ceritakan kondisimu pada orang yang dipercaya

Ketika aku tengah menangis dan tidak tahu harus berbuat apa, aku teringat akan beberapa kakak dan abang senior yang menurutku dapat menolongku. Awalnya aku khawatir dan sempat tidak bisa mempercayakan ceritaku pada mereka. Namun, aku memberanikan diri saja untuk mengontak mereka demi mendapat pertolongan. Mereka memberiku nasihat yang bijak, aplikatif, dan netral (tidak membela teman-temanku, juga tidak membelaku). Aku makin percaya bahwa di luar dari lingkaran pertemanan dengan teman-teman dekat, masih ada orang-orang lain yang Tuhan pasti sediakan untuk menolong kita.

Menceritakan pergumulan kita pada orang yang dipercaya bukanlah tergolong sebagai gosip atau gibah, melainkan itu dapat menjadi sarana agar kita menerima perspektif baru yang benar dan baik. Namun, yang perlu diperhatikan ialah sikap hati kita. Apakah kita bercerita untuk mendapatkan masukan, atau untuk menjelekkan nama teman atau seseorang yang sedang berkonflik dengan kita?

7. Buka komunikasi kembali, dan sampaikan permintaan maaf ketika kondisi hati kita sudah jauh lebih baik

Butuh waktu beberapa bulan sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk bergabung kembali dalam grup chat kami. Di masa itu, aku merasa bahwa aku sudah cukup pulih, sudah bisa menerima segala sesuatunya, dan ada dorongan dari dalam diriku untuk terus berelasi dengan mereka apa adanya.

Pengkhotbah berkata, untuk segala sesuatu ada waktunya. Konflik memang tidak terelakkan, tetapi tidak selamanya konflik itu perlu dipelihara. Jika kita memahami relasi sebagai karunia yang berharga dari Allah, tentu kita akan berupaya untuk melakukan rekonsiliasi.

Apa saja hal yang berubah?

Yang pertama tentu hatiku. Aku belajar menerima bahwa aku berkawan dengan orang-orang yang berbeda denganku. Tidak semua hal dalam relasi kami harus selalu sama. Aku belajar menghargai perbedaan karakter, sifat, bagaimana kami saling merespon satu sama lain, bahkan belajar juga untuk menerima kondisi terluka akibat kejujuran kami masing-masing.

Yang kedua adalah ekspektasiku. Awalnya aku berpikir bahwa teman-teman terdekatku harusnya yang lebih mengerti diriku, yang paling tahu aku maunya apa, dan lain sebagainya. Namun, konflik yang terjadi mengajariku bahwa ekspektasi pribadi dapat melukai diri sendiri. Aku tahu bahwa berekspektasi adalah hal yang wajar terjadi dalam setiap relasi. Hanya, pengenalan yang lebih mendalam terhadap teman-teman kita dapat membantu untuk mengatur tingkat ekspektasi tersebut.

Ketiga, cara pandangku ketika berelasi. Persahabatan adalah salah satu anugerah Tuhan yang Ia sediakan untuk menolongku menjalani kehidupan ini. Tidak kebetulan kami bertemu dalam persekutuan kampus, tidak kebetulan kami berada dalam sebuah pelayanan bersama, dan tidak kebetulan masih ada komunikasi yang terjalin hingga kini kami berada di jalur hidup masing-masing. Aku menemukan bahwa kasih adalah landasan utama dari setiap relasi pertemanan. Seperti yang tertulis dalam Amsal 17:17 yang berbunyi:

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

Kasih yang membuat suatu relasi pertemanan tetap bertahan. Kasih juga yang diajarkan oleh Yesus pada murid-murid-Nya:

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34).

Tentu tidak ada yang salah dengan momen bersenang-senang bersama teman. Akan tetapi, mengasihi mereka bukan berarti kondisi akan selalu baik-baik saja. Ada konsekuensi penderitaan yang harus kita terima ketika kita bergesekan karakter dan muncul konflik. Di kali kedua aku meninggalkan grup chat kami, aku sempat berpikir bahwa pertemanan kami akan kandas. Aku gagal mempertahankan relasi berharga yang sudah terjalin sejak kami kuliah. Rasanya sedih sekali memutuskan relasi pertemanan dengan orang-orang yang sebenarnya Tuhan anugerahkan untuk mengenal aku sangat dalam. Namun, Tuhan begitu baik kepada kami hingga akhirnya kami dapat berteman seperti biasa lagi. Tuhan menolongku untuk belajar dan berproses pelan-pelan mengenal mereka satu persatu secara lebih baik lagi. Ia juga yang membuat kami sama-sama tidak ‘mengusir’ satu sama lain, melainkan memberi kami kesempatan untuk makin bertumbuh dalam kedewasaan (Efesus 4:13).

Terakhir, aku juga belajar bahwa dalam pertemanan atau persahabatan dengan konteks relasi yang sangat dekat, kita tidak mungkin hanya berhadapan dengan sifat yang baik-baik saja. Semakin mengenal teman-teman kita, seiring dengan berjalannya waktu, kita pasti akan diperhadapkan dengan sifat-sifat buruk hingga keberdosaan masing-masing yang terlihat sedikit demi sedikit. Pilihan ada di tangan kita: mau tetap memperjuangkan relasi tersebut dan terus bertumbuh sama-sama, atau memilih untuk berada pada relasi yang hambar dan dibiarkan begitu saja?

Baca Juga:

Berdamai dengan Keluarga, Mengampuni Masa Lalu

Alih-alih sebagai komunitas yang merangkul, terkadang keluarga jadi tempat di mana kita menyaksikan luka dan kesedihan.

Yuk ikuti cerita Meista tentang bagaimana dia mampu berdamai dengan keluarganya di artikel kedua dari seri Lika-liku dalam Relasi.

Berdamai dengan Keluarga, Mengampuni Masa Lalu

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Keinginan untuk kabur dari rumah. Berseteru. Berteriak. Berkonflik.

Hal-hal di atas sering sekali terjadi ketika aku berseteru dengan orang tuaku, khususnya di masa-masa pandemi ini. Masalah demi masalah seperti silih berganti tak kunjung habis hingga membuatku lelah berada di rumah. Sayangnya, keberadaan virus COVID-19 ini justru membuatku harus berada di rumah.

Ada satu momen berkonflik di mana aku mengakui kepahitan masa laluku terhadap mereka. Aku tumbuh besar dalam didikan yang cukup dikekang. Di masa-masa sekolah, aku mengalami cukup banyak pembatasan dalam mengikuti aktivitas-aktivitas yang kusenangi. Alasannya adalah mereka khawatir aku terserang penyakit asma—yang memang kumiliki sejak kecil—dan khawatir akan bahaya yang menyerangku di luar rumah (misal: penjahat, penculikan, dan lain-lain).

Memasuki masa perkuliahan hingga bekerja, pembatasan itu memang sudah semakin longgar. Namun, satu hal yang masih membuatku risih adalah ketika aku masih sering ditanya, “Belum pulang?” ketika aku memang masih di kampus atau kantor karena urusan tertentu hingga jam 8 malam lewat. Aku paham bahwa mereka peduli dan khawatir dengan keberadaanku. Namun, kekhawatiran mereka justru membuatku jadi khawatir juga. Bagiku, ini jenis kekhawatiran yang akhirnya tidak sehat karena aku jadi merasa terkekang dan tidak bisa belajar menjaga diriku sendiri.

Berkali-kali aku memaksa diriku sendiri untuk mengerti realita ini. Berkali-kali aku mengajarkan diriku untuk bersyukur bahwa aku masih memiliki orang tua yang lengkap. Berkali-kali aku mengingatkan diriku sendiri bahwa banyak teman-temanku yang rindu bisa bersama dengan kedua orang tua mereka (beberapa dari mereka ada yang mengalami broken-home, ada yang ditinggal selamanya karena maut, bahkan ada pula yang sedari kecil tidak tahu siapa orang tua kandungnya). Aku terus mendoktrin diriku sendiri untuk selalu bersyukur, bersyukur, bersyukur.

Namun, upayaku untuk memahami realita ternyata tidak semudah itu, terlebih ketika kembali diperhadapkan dengan kekhawatiran orang tua padaku. Seberapapun kuatnya usaha diriku untuk bersyukur, tapi aku tidak bisa. Kekhawatiran mereka yang berlebihan sungguh membuat aku makin merasa terkekang bahkan hingga dewasa.

Februari 2021, adalah momen di mana aku mencapai titik lelah dan jenuh luar biasa akibat hal tersebut. Berawal dari aku yang kesal dengan mereka lantaran ditanya, “Masih di kantor?”, “Sudah jalan pulang?” ketika jam di kantor menunjukkan pukul 8 malam dan aku masih menyantap semangkuk mi ayam karena aku lapar. Dalam emosiku saat itu, muncullah pikiran-pikiran negatif yang sebenarnya tidak esensial: apakah aku harus memberitahu mereka kalau aku lagi makan mi ayam? Kenapa sih jam segini udah ditanyain? Harus update banget setiap detik ya? Mau sampe kapan sih dikekang kayak gini terus?

Akhirnya aku pulang dengan rasa kesal dan memutuskan untuk lebih banyak diam. Menjadi ciri khas dari diriku bahwa jika aku diam, berarti aku sedang kesal luar biasa—mengingat biasanya sehari-hari aku lebih banyak ceria dan bercanda. Aku masih tidak mau bicara dengan siapapun di rumah karena masih kesal, hingga keesokan harinya.

Momen rekonsiliasi

Menyadari bahwa sikap diamku tak akan membuat keadaan menjadi lebih baik, akhirnya aku ungkapkan secara jujur apa yang kurasakan pada mereka. Singkat cerita, ternyata kami malah terlibat adu mulut. Emosi masing-masing pribadi pun tak tertahankan lagi. Hingga aku tiba pada detik di mana aku mengeluarkan satu kata makian—yang sebenarnya diperuntukkan untuk memaki diriku sendiri yang merasa gagal jadi seorang anak—namun ternyata kata itu melukai hati mereka. Konflik pun makin memuncak. Orang tuaku marah-marah, dan aku berteriak saking muaknya. Sungguh sebuah keadaan yang sama sekali tidak diinginkan olehku.

Aku menangis sejadi-jadinya. Rasanya hidup terlalu berat dan aku berharap saat itu lebih baik aku tak sadarkan diri saja saking tidak kuatnya menghadapi situasi tersebut. Dalam keadaan kalut, aku hanya bisa berdoa; meminta tolong pada Tuhan dan menanyakan apa yang harus kulakukan. Aku hanya bisa berserah pada keadaan.

Apa yang selanjutnya terjadi?

Setelah kami menenangkan diri masing-masing sekitar kurang lebih 20 menit, ayahku membuka percakapan dengan lebih tenang. Ayah dan ibuku meminta maaf padaku karena mereka terlalu mengekang aku sewaktu kecil. Mereka juga meminta maaf karena sering khawatir berlebihan ketika aku berada terpisah dengan mereka. Di situ aku pun meminta maaf karena telah berkata kasar dan menyinggung hati mereka. Setelah itu, kami berdoa bersama meminta pertolongan dan penyertaan Tuhan di dalam keluarga kami saat menjalani kehidupan hari demi hari.

Kisah ini adalah salah satu dari sekian banyak kisah perseteruan lainnya di mana aku belajar untuk mengampuni masa lalu, khususnya bersama orang tuaku. Apakah setelah konflik ini semuanya selalu baik-baik saja? Tentu tidak. Relasi dalam keluarga kami masih terus diuji dan ditempa. Namun, aku percaya bahwa kita semua mengalami pertumbuhan karakter melalui relasi dalam keluarga; sebesar apapun konflik yang pernah muncul, dan seberapa sakitnya penderitaan yang kami rasakan di dalamnya. Di sini aku mengingat lagi apa yang Tuhan katakan di dalam Keluaran 20:12, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.”

Apakah mudah? Tidak. Aku mengakui pada Tuhan bahwa aku tak sanggup menjalankan Firman-Nya yang ini, terlebih ketika berada di masa-masa sulit. Namun, ketidaksanggupan itu bukan menjadi alasanku untuk tidak taat. Jika aku bersandar pada pengertian dan kekuatanku sendiri sebagai manusia, tentu aku tidak mampu untuk mengasihi mereka. Naluriku yang berdosa ialah membantah dan membangkang terhadap mereka. Tetapi, satu hal yang menarik bagi kita orang Kristen ialah: kita mampu mengasihi orang lain karena Allah telah lebih dulu mengasihi kita. Pada akhirnya, aku memang butuh Tuhan untuk bisa mengasihi kedua orang tuaku apa adanya, dan di situasi apapun.

Kasih itulah yang mendorongku untuk jujur dan terbuka kepada mereka. Tapi, untuk melakukannya memang butuh keberanian dan penuh risiko. Memberi pengampunan pun membutuhkan kebesaran hati. Hal-hal ini tentu tidak bisa kulakukan sendiri dengan kemampuan manusiawiku. Butuh Tangan Yang Lebih Besar yang sanggup memberiku keberanian untuk jujur, terbuka, mengampuni, serta mengasihi keluargaku dalam relasi yang penuh lika-liku.

Mungkin konteks ceritaku berbeda dengan apa yang teman-teman alami. Mungkin banyak dari kita yang bahkan tidak bisa lagi melihat kedua orang tua secara utuh—atau bahkan tidak sama sekali. Kita tentu punya pergumulan yang berbeda satu sama lain di dalam keluarga. Namun, aku yakin satu hal yang pasti: siapapun yang Tuhan tempatkan menjadi keluarga kita adalah anugerah terbaik dari-Nya. Jaga relasi itu. Minta tolong pada Allah untuk diberikan keberanian menghadapi konflik yang muncul, dan minta juga pada-Nya supaya kita dimampukan untuk menjaga relasi dengan keluarga kita. Kita juga bisa berdoa pada Tuhan agar diberi kemampuan untuk mengampuni masa lalu bersama keluarga yang mungkin telah membelenggu dan membuat kita sulit untuk melangkah maju ke depan.

Ada satu lagu tentang doa yang sering aku dengar dan nyanyikan ketika tengah bergumul dalam persoalan keluarga. Judulnya “Doa Mengubah Segala Sesuatu”. Ketika aku sulit berdoa karena bingung dan pusing dengan situasi konflik yang terjadi, kadang aku hanya mendengarkan lagu ini dan menyanyikannya dalam hati sebagai doa pribadi:

Saat keadaan sek’lilingku ada di luar kemampuanku
Ku berdiam diri mencari-Mu
Doa mengubah segala sesuatu
Saat kenyataan di depanku mengecewakan perasaanku
Ku menutup mata memandang-Mu
S’bab doa mengubah segala sesuatu

Doa orang benar bila didoakan dengan yakin besar kuasanya
Dan tiap doa yang lahir dari iman berkuasa menyelamatkan

S’perti mata air di tangan-Mu mengalir ke manapun Kau mau
Tiada yang mustahil di mata-Mu
Doa mengubah segala sesuatu

Baca Juga:

Self-love yang Selfless untuk Mengasihi Sesama

Self-love artinya mencintai diri sendiri, tetapi bukan berarti memenuhi diri dengan segala keinginan. Mengapa self-love penting? Bukankah kita diminta untuk mengasihi orang lain?

Yuk temukan jawabannya di artikel pertama dari seri Lika-liku dalam Relasi yang ditulis oleh Meista.

Self-love yang Selfless untuk Mengasihi Sesama

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia sejak tahun 2020 lalu memberiku kesempatan untuk belajar banyak tentang bagaimana mengasihi diri sendiri. Semua berawal dari konflik-konflik relasi yang terjadi antara aku dan keluarga, serta aku dan teman-teman dekatku. Awalnya konflik tersebut membuatku sangat minder dan tidak berharga karena merasa paling bersalah. Bahkan aku juga sering menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab dari munculnya konflik-konflik tersebut. Namun, seiring dengan proses-proses pemulihan yang Tuhan anugerahkan, aku mendapat kesimpulan bahwa ternyata aku juga perlu belajar mengenal diriku sendiri lebih baik; memahami identitas diriku yang sebenarnya bukan terletak pada apa yang ada di dunia ini (ciptaan), melainkan pada gambar Sang Pencipta itu sendiri (Kejadian 1:27).

Ketika belajar mengenal diri sendiri, aku pun mendapati ada satu konsep atau istilah baru yang ternyata banyak digaungkan di berbagai media sosial selama masa pandemi: self-love. Mengutip dari situs alodokter.com, self-love artinya mencintai diri sendiri, tetapi bukan berarti memenuhi diri dengan segala keinginan. Self-love mengharuskan kita untuk memperlakukan dan menerima diri sendiri dengan baik dan apa adanya. Konsep self-love atau konsep penerimaan diri yang baik ini juga terbilang penting karena berpengaruh pada kesehatan mental. Apalagi, penelusuran informasi tentang isu kesehatan mental di mesin pencari Google mengalami peningkatan sejak tahun 2020 kemarin. Artinya, bisa dibilang sudah banyak orang yang mulai memerhatikan kesehatan mentalnya sendiri.

Kemudian aku sempat terpikir hal yang lain: jika self-love merupakan sebuah konsep untuk menerima diri sendiri, apakah kecenderungan untuk egois (selfish) bisa terjadi? Jawabannya: tentu saja bisa, bergantung pada di mana fokus kita ketika sedang menerapkan self-love. Psikolog Felicia Maukar memaparkan bahwa konsep self-love bukanlah sesuatu hal yang negatif karena motivasinya dilakukan untuk kebaikan banyak orang. Ketika kita mencintai diri sendiri, kita akan mampu mencintai orang lain juga. Sedangkan konsep egois didasari pada mencintai diri sendiri secara berlebihan; fokusnya lebih banyak memikirkan perasaan diri sendiri dan apapun yang dimilikinya dijadikan bahan pamer dengan tujuan membuat orang lain iri (dikutip dari berita suara.com yang tayang pada Rabu, 6 November 2019).

Firman Tuhan pun sebenarnya sudah mencatat konsep self-love yang tertulis dalam Matius 22:39 “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Aku pernah salah mengartikan bagian kebenaran Firman ini. Aku memahaminya sebagai: aku harus terus mengasihi orang lain, dan tidak perlu mempedulikan diri sendiri. Namun pada ayat itu tertulis jelas “…seperti dirimu sendiri”. Sehingga, konsep mengasihi diri pun memang bukanlah hal yang salah atau berkesan negatif. Bahkan Allah saja melihat diri kita berharga (Yesaya 43:4), masa kita tidak mau menghargai hidup dan diri kita sendiri sebagaimana Allah telah melakukan hal yang sama kepada kita?

Memahami hal ini sebagai bentuk pembelajaranku secara pribadi, aku mendoakan pada Tuhan untuk dimampukan menerapkan self-love yang selfless. Aku ingin belajar bagaimana menerapkan kasih pada diriku sendiri (dengan cara menjaga kesehatan fisik, mental, jiwa, pikiran, emosi, dan seluruh aspek hidupku dengan takaran yang sewajarnya atau tidak berlebihan), sambil di saat yang sama aku juga bisa mengasihi orang lain dengan hati yang tulus.

Aku + Kamu = Kita

Mengapa harus ada “kita”?

Bukankah hidup ini segalanya tentang “aku”?

Jika dilihat dari sisi egoisme akibat keberdosaan kita sebagai manusia, jawabannya pasti “ya”. Namun, Tuhan tidak menghendakinya demikian. Sejak awal manusia dijadikan, Tuhan membuat manusia menjadi makhluk sosial. “Tidak baik kalau manusia itu sendiri saja…” (Kejadian 2:18). Kehadiran Adam dan Hawa menjadi cikal bakal keluarga, pertemanan, komunitas, hingga terbentuknya bangsa yang menetap dan menyebar di seluruh pelosok bumi hingga kini.

Dalam buku “How’s Your Soul: Why Is Everything That Matters Starts With The Inside You”, Judah Smith menuliskan bahwa salah satu lingkungan sehat untuk jiwa kita adalah Relationship (Relasi). Secara alamiah, kita semua adalah makhluk sosial. Kita diciptakan untuk berelasi dan berkomunitas. Bahkan untuk orang dengan kepribadian paling introver sekalipun tetap membutuhkan interaksi dengan sesama manusia yang bertujuan untuk mempertahankan kesehatan, perkembangan, dan rasa semangat dalam jiwa. Tanpa adanya relasi, jiwa kita menjadi terisolasi dan ini merupakan kondisi yang tidak sehat.

Dalam realitasnya, mungkin kita berharap relasi yang terjalin antara kita dengan sesama akan berjalan mulus dan serba baik-baik saja. Aku pun juga berharap demikian. Namun, sayangnya dosa membuat kondisi ideal tersebut hancur berantakan. Kita berseteru. Berkonflik. Sering mengedepankan ego pribadi dan lupa caranya mengasihi. Maka dari itu, tentu mengandalkan Allah yang adalah Kasih menjadi satu-satunya cara agar kita bisa terus-menerus belajar mengasihi sesama dengan hati yang tulus.

Di bulan ini aku mengajak kita semua untuk sama-sama belajar dan merenungkan bagaimana berelasi dengan sesama seharusnya tidak dilihat sebagai sesuatu yang diterima begitu saja (taken for granted). Relasi dengan sesama sepatutnya kita lihat sebagai anugerah Tuhan bagi kesehatan, sukacita, dan juga kesejahteraan jiwa kita; baik itu relasi dengan keluarga, teman kampus, rekan kantor, tetangga, bahkan mungkin orang asing yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita.

Baca Juga:

‘Kesombongan’ Terselubung di Balik Bersyukur

Tujuan yang baik bila dilakukan dengan cara yang salah bisa saja hasilnya pun jadi melenceng, demikian pula dalam halnya ucapan syukur. Apa yang mendasari kita untuk mengucap syukur?

Menikmati Allah di Segala Musim

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Aku sempat merasakan kekosongan di masa-masa menjelang Natal beberapa tahun terakhir ini. Aku terlibat di berbagai acara gereja, tetapi yang kurasa bukan sukacita. Aku bosan menjadi panitia, pemusik, mengiringi paduan suara dan segudang aktivitas lainnya. Momen Natal yang seharusnya menjadi saat-saat reflektif malah jadi terasa hambar.

Pada Natal tahun 2020 kemarin, ada hal lain yang juga menyita kesibukanku, yaitu pekerjaan. Saat ini aku bekerja di perusahaan start-up yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Menapaki pekerjaan di bidang start-up tentu banyak tantangannya: belum ada sistem yang terbentuk, struktur sumber daya manusia (SDM) pun belum kokoh, dan kami yang bekerja di dalamnya masih seperti berjalan di hutan rimba; menerka-nerka apa yang baik untuk keberlangsungan bisnis ini juga untuk setiap pegawai yang bekerja di dalamnya. Bahkan masing-masing kami masih harus melakoni dua hingga tiga jabatan sekaligus untuk beberapa proyek pekerjaan.

Di Desember kemarin aku dan rekan-rekan kerjaku memiliki beberapa proyek pekerjaan besar, mulai dari pembukaan outlet kafe baru, hingga mengirim parsel Natal ke berbagai pihak yang mendukung keberlangsungan perusahaan ini. Di suatu pagi ketika aku sedang menempuh perjalanan ke kantor, aku mengeluh di dalam doaku pada Tuhan.

“Tuhan, aku capek banget! Masa Desember gini kerjanya abis-abisan sih? Aku ingin menikmati momen Natal tanpa diganggu pekerjaan-pekerjaan yang super banyak ini! Aku ingin liburan.”

Aku mengeluh. Di samping memang tubuh dan pikiranku sedang letih, aku merasa seperti menolak kondisi dan tidak menikmati pekerjaan yang tengah kujalani di kantor. Namun ketika aku mendoakan keluhan itu, aku teringat akan doaku di tahun 2019 yang lalu: bahwa aku ingin menikmati Natal dengan cara tidak sekadar ritual dan pelayanan. Aku lantas merenung: pekerjaan yang kulakukan sekarang sesungguhnya adalah pemberian dari Tuhan. Aku pernah menuliskan proses perjalanan berkarierku dan menemukan bahwa ini adalah tempat terbaik untukku bekerja, setidaknya hingga saat ini. Mengingat proses bagaimana Tuhan tempatkan aku di perusahaan start-up, aku pun kembali mengingat-ingat ternyata banyak sekali hal baik yang Tuhan lakukan buatku, tapi aku sering tidak menyadarinya. Dan parahnya, aku masih saja sering mengeluh, mengasihani diri, dan kurang bersyukur.

Menyadari keberdosaanku, aku meminta ampun pada Tuhan karena tidak sadar akan hadirnya Pribadi yang selalu memimpin langkahku—si manusia yang sesat seperti domba dan mengambil jalannya sendiri (Yesaya 53:6). Dalam anugerah Tuhan, aku akhirnya menyadari dan menemukan sebuah jawaban dari rasa bosanku mengerjakan kegiatan atau aktivitas Natal selama bertahun-tahun: aku fokus pada aktivitas dan kegiatannya, bukan pada Kristusnya. Aku fokus pada berbagai macam pelayanan, kegiatan, perayaan, ritual, tradisi, tapi lupa pada Satu Pribadi yang merupakan fokus utama dari keberadaan Natal sesungguhnya. Aku tidak menikmati berbagai kegiatan yang berlangsung di penghujung tahun karena aku sulit menyadari kehadiran Kristus yang senantiasa memimpin hari-hariku.

Menikmati Allah Ketika Sibuk dan Tidak Sibuk

Lalu apakah salah jika dalam momen Natal kemarin yang seharusnya dilalui dengan refleksi aku malah sibuk bekerja di kantor? Pertanyaan refleksi ini aku tanyakan pada diri sendiri, dan mungkin bisa berlaku juga untuk kita semua. Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Judah Smith dalam bukunya yang berjudul “How’s Your Soul? – Why Everything That Matters Starts with The Inside You” menuliskan ada empat lingkungan kondusif yang Tuhan sediakan bagi kesehatan jiwa kita, salah satunya adalah Responsibility atau tanggung jawab. Tuhan menciptakan manusia untuk bekerja bukan sebagai bentuk hukuman. Konsep bekerja bahkan sudah ada sejak zaman Adam di taman Eden (Kejadian 2:15). “God created humans to bear responsibility. (Tuhan menciptakan manusia untuk memikul tanggung jawab.)”—dan ini adalah kondisi yang sehat yang Tuhan ciptakan untuk kita.

Bagian dari buku yang tengah kubaca tersebut mengingatkanku kembali bahwa pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita juga merupakan pelayanan bagi Tuhan, meskipun kelihatannya sulit meluangkan waktu untuk melakukan refleksi Natal secara pribadi. Apalagi jika kembali mengingat bagaimana cara Tuhan menempatkanku di kantor ini, aku kembali mengingatkan diri sendiri untuk mengurangi keluhan yang menghambat ucapan syukur. Sambil terus belajar bahwa segala sesuatu yang dikerjakan harusnya kulakukan dengan sekuat tenaga dan dengan segenap hatiku seperti untuk Tuhan (Pengkhotbah 9:10; Kolose 3:23).

Sibuk bekerja dengan penuh tanggung jawab tentu bukan berarti tidak ada istirahat. Masih berasal dari buku yang sama, elemen berikutnya yang menyehatkan jiwa kita adalah Rest atau beristirahat. Terus menjaga dan menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan merupakan bentuk istirahat jiwa kita. Menikmati langit biru sambil diterpa angin sepoi-sepoi merupakan bentuk istirahat jiwa kita. Menikmati makanan, waktu bersama teman dan orang tersayang, dan hal-hal yang disediakan Tuhan untuk kita merupakan bentuk istirahat bagi jiwa kita. Fokus pada kesibukan seringkali malah membuat kita lelah luar dalam; lelah bagi tubuh, lelah bagi jiwa. Akhirnya, momen yang kupilih menjadi waktu terbaik untuk merefleksikan makna Natal secara pribadi adalah ketika aku tengah menempuh perjalanan pergi dan pulang kantor menggunakan ojek daring, sambil mendengarkan lagu-lagu Natal dan diterpa angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.

“A restless soul is a soul that thinks it is in control and needs to take care of everything. If we do not rest, we are trying to be our own God. (Jiwa yang gelisah adalah jiwa yang berpikir bahwa dirinyalah yang mengatur dan perlu mengendalikan segalanya. Jika kita tidak beristirahat, kita sedang mencoba menjadi tuhan atas diri kita sendiri)”.–Judah Smith dalam buku “How’s Your Soul?”

Imanuel: Natal yang Sesungguhnya Setiap Hari

Dari perenungan pribadiku, aku belajar bahwa menikmati hadirat dan pimpinan Tuhan dalam segala aktivitas, kegiatan, dan kesibukan merupakan hal terbaik yang bisa kunikmati. Sebuah sukacita bagi jiwa ketika bisa menikmati dan merasakan pimpinan Tuhan baik ketika sedang bekerja, maupun ketika sedang beristirahat sambil menghirup wanginya air hujan yang jatuh ke tanah.

Natal tahun 2020 telah berlalu dan kini aku belajar bahwa makna Natal yang sesungguhnya tidak berfokus pada jenis kegiatan atau aktivitas yang kita lakukan pada bulan Desember, melainkan pada: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5). Dan Anak yang telah lahir itu ada bersama-sama dengan kita setiap hari, terlepas dari sibuk atau tidaknya kita. Mengapa? Karena Ia adalah Imanuel: Allah menyertai kita (Matius 1:23). Kelahiran-Nya ke dunia membawa kabar sukacita terbaik yang pernah ada, yaitu menyelamatkan umat manusia dari belenggu hukuman dosa dan memberikan kehidupan sejati karena kasih Allah yang begitu besar buat teman-teman dan juga aku; supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Natal selalu berbicara tentang tentang Tuhan Yesus Kristus yang lahir dan berkenan untuk dikenal (Yesaya 55:6). Dia menyertai kita di sepanjang tahun 2021 ini, dan kita bisa minta tolong pada-Nya supaya bisa menikmati Dia setiap hari, dalam setiap kegiatan apapun yang kita kerjakan.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Pahamilah Arti Kasih yang Sejati

Sedikit tindakan kasih yang kita lakukan tentulah tidak sebanding dengan apa yang Allah telah berikan pada kita, tetapi tindakan kasih itulah yang menunjukkan pada dunia bahwa kita telah dikasihi lebih dulu oleh Allah.

Suka dan Luka Mengenal Diri Sendiri

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Pada bulan April lalu, aku mendapatkan pelajaran berharga dari peristiwa patah hati yang kualami. Aku belajar bahwa berharap diterima oleh manusia saja tidak akan pernah bisa membuatku merasa cukup atau memperoleh kepuasan sejati (aku sempat menuliskan prosesnya di sini). Aku pikir peristiwa penolakan itu sudah cukup membuatku sadar akan pentingnya berelasi dengan Tuhan dengan motivasi hati yang murni; bukan hanya rutinitas keagamaan belaka. Namun ternyata Tuhan masih ingin membentuk aku dan menyingkapkan hal-hal baru tentang diriku sendiri, meski rasanya sakit dan aku harus terluka secara emosi dalam prosesnya.

Menyadari Masalah di Dalam Diri dari Konflik Relasi

Salah satu hal yang tidak aku sukai dari masa-masa pandemi ini—aku rasa banyak orang bisa merasakan hal yang sama—adalah menurunnya intensitas pertemuan tatap muka. Sehingga semua alur komunikasi diusahakan sebisa mungkin dilakukan melalui media elektronik dan aplikasi pesan singkat. Sayangnya, bahasa chat yang menjadi fitur utama aplikasi tersebut benar-benar terbatas dalam menyampaikan makna pesan ketika berkomunikasi. Tidak ada bahasa tubuh, ekspresi dan intonasi nada bicara yang sebenarnya bisa makin melengkapi makna dari pesan yang ingin disampaikan. Sehingga, salah paham kerap kali terjadi.

Ceritanya begini. Aku berselisih paham dengan salah satu teman kelompok tumbuh bersama (KTB). Di suatu pagi, kami sedang mengobrol santai melalui grup WhatsApp. Ketika sedang membicarakan sebuah topik, aku merasa ada perubahan gaya bahasa chat dari temanku itu. “Terdengar” lebih cuek dan jutek, menurutku. Lalu aku klarifikasi saja di sana apakah dia memang sedang kesal padaku, atau mungkin aku telah menyampaikan hal yang menyinggung perasaannya. Aku meminta dia untuk jujur saja. Ternyata benar. Dia merasa direndahkan oleh kata-kataku. Padahal, aku mengatakan hal yang dimaksudkan untuk kesehatan mentalnya sendiri (saat itu kami tengah membicarakan topik tentang bermain media sosial). Ironisnya, aku meminta dia jujur tapi aku sendiri ternyata tidak siap untuk menerima kejujuran itu. Aku ikut tersinggung, karena motivasiku sama sekali tidak ingin merendahkan atau menggurui dia. Sakit hati karena merasa dihakimi, aku pun meluapkan emosiku di grup tersebut dan berjanji untuk tidak akan berbagi hal baik apapun lagi di sana.

Aku sedih sekali. Tangis air mata tidak dapat kubendung, padahal saat itu aku sedang berada di kantor (bersyukur sekali aku sedang mendapat shift sendirian jadi tidak akan ada yang melihat). Konsentrasiku hilang saat bekerja. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di dalam pikiran: aku mengasihi dia, kenapa dia malah menilaiku begitu? Aku sudah biasa dihakimi orang lain, tapi mengapa dia, yang adalah teman baikku, ikut menghakimiku juga?

Aku berdoa dengan air mata dan tanpa kata-kata. Saat itu hanya kebingungan dan kesedihan yang melanda. Ketika tangisanku sudah mereda, barulah aku bertanya: Tuhan, aku kenapa ya? Aku arahkan pikiranku sejenak untuk merenung, lalu aku mengontak beberapa orang yang kupercaya untuk mencurahkan isi hati. Dari beberapa orang yang kuceritakan masalah ini, ada benang merah yang kuperoleh untuk “pertolongan pertama pada konflik”: tenangkan diri terlebih dahulu. Akhirnya aku putuskan untuk tidak melanjutkan pertengkaran di grup WhatsApp, bahkan temanku itu pun sudah mengontakku secara personal tapi aku putuskan untuk tidak membuka chat darinya. Pertimbangannya karena emosiku masih belum stabil dan aku belum tenang.

Beberapa hari setelahnya, temanku yang lain—masih satu grup KTB yang sama—mengajakku berbincang-bincang lewat telepon. Kondisinya saat itu aku sudah lebih tenang, tapi aku memang masih belum mau berkomunikasi dengan si teman yang berkonflik. Dalam percakapan di telepon, dia mengatakan bahwa ini bukan soal siapa yang paling benar, tapi apa isu pribadi yang ada di dalam diri kami masing-masing? Lalu ia memulai dengan mengajukan dua pertanyaan yang membuatku merenung:

1. Apa yang kamu rasakan saat ini?
2. Apa yang kamu pikirkan saat ini?

Dalam merenungkan dua pertanyaan ini, aku akhirnya menemukan bahwa aku bergumul dengan rasa takut dihakimi, rasa takut ditolak, sehingga aku sering jatuh pada overthinking, dan akibatnya aku menjadi orang yang sangat minder dan rendah diri di segala situasi.

Menarik sejarah hidupku ke belakang, aku menyadari ternyata memang ada beberapa peristiwa di masa lalu yang membuatku merasa dihakimi dan ditolak sampai rasa minder juga rendah diri menguasai. Salah satunya adalah waktu SD aku sering sekali dibandingkan tinggi badannya dengan teman-temanku yang lebih tinggi. Mereka mengejekku karena memang tubuhku pendek. Posturku yang kecil memang sering menjadi bahan olok-olok beberapa teman atau kerabat pada masa itu. Ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh seperti ini ternyata menjadi akar minder dan rendah diri yang tertanam kuat sampai aku dewasa—ini pun baru aku sadari akhir-akhir ini saat masa pandemi. Dan masih ada beberapa peristiwa ‘traumatik’ lainnya yang tidak dapat aku ceritakan secara rinci di tulisan ini. Intinya, secara tidak sadar aku masih membawa luka-luka di masa lalu yang membuatku penuh dengan ketakutan, rasa minder, rendah diri, dan—parahnya—aku mengkonfirmasikan hal-hal itu menjadi identitas sejatiku; bahwa Meista memang perempuan yang penakut, layak untuk minder, dan tidak patut dihargai meskipun memiliki prestasi atau talenta positif. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang Meista karena hidupnya hanya penuh dengan kesalahan—itu pemikiranku.

Menolak Diri Sendiri, Berpura-pura Menjadi Orang Lain

Merenungkan hasil perbincangan kami di telepon, aku tiba-tiba teringat sebuah lirik lagu tentang menjadi diri sendiri. Judulnya: Reflection yang dipopulerkan oleh Christina Aguilera. Lirik lagu original soundtrack dari film “Mulan” ini cukup membantuku untuk merenung: apakah selama ini aku kurang menjadi diri sendiri demi supaya selalu bisa diterima oleh orang lain? Izinkan aku mengutip beberapa penggalan lirik yang aku nikmati dari lagu tersebut:

“Now I see, if I wear a mask, I can fool the world. But I cannot fool my heart.”
(Sekarang aku paham, jika aku menggunakan topeng, aku bisa menipu dunia. Tapi aku tak bisa menipu hatiku sendiri.)

“Who is that girl I see staring straight back at me?”
(Siapakah perempuan yang kulihat sedang menatap langsung ke arahku?)

“Must I pretend that I’m someone else for all time?”
(Haruskah aku berpura-pura menjadi orang lain sepanjang waktu?)

“Why must we all conceal what we think, how we feel?”
(Mengapa kita harus menyembunyikan apa yang kita pikirkan dan rasakan?)

“I won’t pretend that I’m someone else for all time.”
(Aku tak akan berpura-pura menjadi orang lain sepanjang waktu.)

“When will my reflection show who I am inside?”
(Kapan bayanganku akan menunjukkan siapakah diriku yang sesungguhnya?)

Baris terakhir pada lirik lagu tersebut merupakan pertanyaan refleksi untukku pribadi. Sambil berkaca—dalam arti sesungguhnya, berdiri di depan kaca/cermin—aku merenung: apakah aku menaruh identitasku pada penerimaan orang lain? Siapa role model yang ingin kujadikan identitas sehingga aku bisa diterima orang lain dan tidak ditolak lagi? Sebenarnya siapakah perempuan yang sedang aku lihat di cermin ini? Dalam merenungkan hal ini, aku teringat 3 bagian Firman Tuhan yang sebenarnya telah menyatakan identitasku sebagai manusia:

  1. Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah Sang Pencipta (Kejadian 1:27)
  2. Karena dosa, gambaran tersebut akhirnya rusak dan diri ini sudah kehilangan kemuliaan Allah. Bahkan relasi kita dengan-Nya pun rusak akibat dosa (Roma 3:23)
  3. Yesus Kristus datang ke dalam dunia karena kasih Allah yang begitu besar kepada kita, sehingga relasi antara kita dengan Tuhan kembali dipulihkan oleh karena karya Kristus di kayu salib (Yohanes 3:16)

Mungkin selama ini aku ingin menjadi si A yang, menurutku, parasnya lebih cantik, tubuhnya lebih langsing dan lebih tinggi. Atau aku ingin menjadi si B yang, lagi-lagi menurutku, lebih berprestasi di sekolah atau kampus, lebih jago main musiknya, lebih banyak teman-temannya, lebih besar gaji di kantornya, lebih sukses dan mapan kelihatannya. Dari keinginan-keinginan yang berakar pada hasrat ‘ingin diterima’ tersebut, aku sebenarnya sedang jatuh pada penolakan diri sendiri. Aku merasa diriku tidak berharga—sangat bertolak belakang dengan apa yang tertulis pada kitab Yesaya 43:4a.

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau…”.

Aku malah cenderung melukai mental diriku sendiri (seorang psikolog bernama Guy Winch—pada sebuah artikel tentang bagaimana menghadapi penolakan—memberi istilah self-inflicted: melukai emosi dan harga diri sendiri, merasa jijik pada diri sendiri, dan berdampak pada emosi yang tidak sehat). Sadar bahwa menolak diri sendiri itu tidak baik, pelan-pelan aku mengizinkan diriku untuk belajar mengenal diriku sendiri. Belajar peka tentang bagaimana responku ketika menghadapi konflik dan masalah, apa yang kurasakan jika aku mengalami hal ini dan itu, bagaimana responku saat ada orang-orang yang ternyata menerimaku apa adanya dengan tulus, juga bagaimana responku ketika lagi-lagi dihakimi atau ditolak. Dan yang terpenting: mengizinkan diri untuk ditolong Tuhan dan menjadi rentan (vulnerable). Curt Thompson dalam bukunya yang berjudul “The Soul of Shame” menuliskan:

“Bagian-bagian dari kita yang terasa paling rusak dan yang paling kita sembunyikan adalah bagian-bagian yang paling butuh dikenal oleh Allah, agar bisa dikasihi dan disembuhkan.”

Dari sini, pelan-pelan aku mengizinkan diriku untuk berproses dalam mengenal diri sendiri. Mengakui kerapuhanku, luka masa lalu, dan akar pahit yang mengganggu ke hadapan Tuhan. Memberi diriku untuk dikasihi dan disembuhkan oleh-Nya—kadang aku hanya tahu secara teoretis bahwa Tuhan mengasihiku, tapi terlalu takut dan mengerikan jika aku harus melakukan penyerahan diri secara total, termasuk menyerahkan luka-luka dan akar pahit hidup ini ke dalam tangan-Nya. Butuh perenungan yang tidak sebentar sampai aku benar-benar siap untuk percaya dan merasa dikasihi oleh-Nya.

Lega dan Bebas Menjadi Diri Sendiri dalam Yesus

Akhirnya aku tidak lagi menjadikan manusia manapun sebagai role model identitasku, karena aku paham satu-satunya Manusia yang sempurna hanyalah Yesus Kristus. Dialah role model identitasku. Benar, bahwa aku hanya manusia berdosa dan bukan Juruselamat seperti Dia. Tapi menyadari dan menghayati hal ini membuatku menikmati fakta bahwa aku akan selalu berhadapan dengan sesama orang berdosa, termasuk menghadapi diriku sendiri yang juga berdosa. Oh iya, namun bukan berarti kita tidak boleh meneladani sesama manusia ya. Tetap boleh, kok. Maksudku, aku yakin Tuhan hadirkan orang-orang di sekitar kita untuk menjadi teladan, panutan, dan inspirasi bagi sesama. Semisal kita mengagumi seorang artis karena talentanya, atau pendeta di gereja karena kebijaksanaannya, atau bahkan teman sepersekutuan kita karena teladannya yang lemah lembut, menurutku itu tidak masalah jika kekaguman tersebut mendorong kita untuk semakin bertumbuh. Yang bisa membuat kita ‘tergelincir’ adalah ketika kita sudah menancapkan identitas kita harus semakin serupa dengan orang yang kita idolakan tersebut. Padahal kita sama-sama orang berdosa, dan padahal seharusnya kita semakin serupa dengan Yesus Kristus (Roma 8:29).

Mengenal diri sendiri dengan baik merupakan proses yang akan berlangsung terus-menerus seumur hidup. Sekarang, dengan kasih karunia Allah, aku bersukacita dan bebas mengenal diriku sendiri lebih dalam. Dulu aku stres memikirkan dan mengharapkan apa yang orang lain pandang tentang diriku. Setelah itu merasa terluka dan kecewa karena ternyata pandangan mereka berbeda dengan apa yang aku pikir dan harapkan. Sekarang aku ‘stres’ kalau tidak menjadi diriku yang apa adanya, karena aku merasa palsu jika tidak jujur dengan diri sendiri. Dan aku percaya: Tuhan pasti menolong kita masing-masing untuk mengenal diri kita yang sebenarnya, lalu di saat yang sama menolong kita juga untuk mengenal dan berelasi dengan Dia di dalam kasih-Nya yang tak terbatas. Maukah kita bersukacita dengan diri sendiri dan menyerahkan luka-luka kita kepada-Nya? (Ngomong-ngomong, aku sudah baikan dengan teman KTB-ku itu, dan konflik tersebut membuat kami justru jadi makin mengenal lebih dalam satu sama lain. Tuhan memperbaiki relasi kami dan menolong kami untuk berdamai melalui kasih dari teman-teman lain dalam grup itu. Terpujilah Tuhan!).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

4 Alasan untuk Tidak Perlu Takut Bertemu Ahli Kesehatan Mental

Pergi menemui ahli kesehatan mental bukanlah aib. Aku punya pengalaman pribadi bertemu rutin dengan konselor untuk menolongku mengendalikan emosiku. Lewat pertemuan itulah Tuhan menolongku.

Menemukan Passion: Kombinasi Sukacita dan Derita

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Musik adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan pribadiku. Bukan karena keberadaannya yang sanggup menentukan situasi mood, tapi aku juga meyakini bahwa bidang ini menjadi salah satu panggilan Tuhan dalam hidupku. Atau, dengan kata lain, bermain musik menjadi salah satu passion pribadiku. Namun, jika aku melihat kembali ke belakang, sebenarnya bermain musik pernah menjadi kepahitan untukku.

Menari Lebih Keren Daripada Main Musik

Bakat bermain musik yang kumiliki diturunkan dari papa. Beliau berprofesi sebagai pengajar piano sejak muda hingga saat ini. Waktu kelas 3 SD, aku mulai diajari bermain musik melalui sebuah alat bernama organ (alat musik melodis semacam piano namun memiliki tingkatan atas dan bawah). Namun sayangnya kegiatan ini tidak berlangsung lama. Banjir besar tahun 2000 silam membuat organ tersebut rusak total sehingga harus dibuang. Akhirnya aku tidak melanjutkan latihan musik secara rutin selama beberapa tahun.

Jujur, aku tidak merasa kecewa atau sedih dengan rusaknya alat musik tersebut. Pada waktu itu, sebenarnya aku lebih tertarik mempelajari seni tari. Hal ini karena dipengaruhi oleh film “Petualangan Sherina”, sebuah film musikal di tahun 2000-an yang di dalamnya cukup banyak menampilkan adegan menari bersama teman. Aku pun cukup terinspirasi dan kagum dengan talenta yang dimiliki Sherina, sang pemeran utama, hingga aku bahkan sempat berpikir: aku ingin menjadi balerina suatu hari nanti–mengikuti jejak Sherina yang juga pandai menari balet. Namun, ternyata Tuhan lebih banyak membukakan padaku jalur bermain musik, walaupun pada saat itu aku hanya mengikuti arus saja; mengikuti arahan papa yang terus memupuk talenta bermusik di dalam diriku meski harus ‘menumpang’ main piano di tempat kerjanya. Perasaan dan minatku pun juga bisa dibilang datar-datar saja ketika sedang dilatih bermain piano.

Lima tahun berlalu dan papaku memiliki cukup dana untuk membeli piano baru. Saat itu aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Tentunya, papa kembali melatihku dengan ilmu-ilmu serta teknik baru, dan aku seperti biasa hanya menurut saja. Hingga tiba pada suatu hari aku mendapat tugas kelompok di sekolah pada pelajaran Seni Musik. Dalam rangka pengambilan nilai, kami secara berkelompok diminta menampilkan karya musik bebas. Vocal group, menyanyi dengan koreografi, pertunjukkan musik akustik, apa saja. Salah satu teman kelompokku yang mengetahui bahwa aku bisa bermain piano, memintaku untuk mengiringi kelompok ini. Singkat cerita, aku mengiyakannya. Kami latihan di rumahku sambil dibantu papa untuk sedikit mengaransemen paduan vokalnya dan juga melatihku teknik iringan sederhana untuk pemula.

Setelah latihan selama beberapa hari, tibalah kami pada hari-H. Aku dan teman sekelompok berniat meminjam keyboard milik sekolah untuk digunakan saat pengambilan nilai. Kami meminta izin pada salah satu guru yang menjadi penanggung jawab alat tersebut. Tak disangka, ternyata momen tersebut menjadi penghantar bagiku untuk mulai menjalani proses bertumbuh di bidang musik. Mengetahui aku bisa bermain keyboard, sang guru memintaku untuk menjadi pengiring musik di setiap upacara sekolah hari Senin. Awalnya tentu aku sangat gugup. Siapakah aku ini? Permainanku belum bagus! Aku masih belajar. Aku masih pemula. Rasa minder dan takut yang cukup besar menguasaiku. Namun beliau meyakinkanku bahwa tidak masalah untuk mencoba dulu di awal. Tidak harus bermain dengan cara yang profesional atau kelas papan atas. Cukup level murid yang masih belajar pun beliau tidak mempermasalahkan. Di situ akhirnya aku setuju, dan singkat cerita aku berproses, bertumbuh, dan terus belajar mengembangkan talenta tersebut melalui momen upacara setiap hari Senin dan acara-acara internal sekolah yang sejenis. Pada titik inilah akhirnya aku menyadari secara kognitif bahwa aku memiliki talenta di bidang musik, dan rasa senang bermain piano tumbuh semakin besar. Aku menyukainya, dan bertahan melakukannya hingga lulus SMP. Ketika lulus, aku bertekad untuk melanjutkan proses ini di SMA.

Ternyata, Tuhan izinkan aku mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan di level selanjutnya. Sampai-sampai aku sempat bersumpah untuk tidak bermain piano lagi selamanya.

Sebuah Penderitaan

Salah satu kegiatan siswa yang aku ikuti saat SMA adalah rohkris (rohani kristen)–sebuah ekstrakurikuler resmi untuk siswa-siswi Kristen di sekolah. Ketika tiba pada acara retreat tahunan, aku turut dilibatkan sebagai pengiring musik ibadah. Awalnya aku menolak karena merasa belum memiliki kemampuan yang cukup. Apalagi saat itu kondisinya aku masih anak baru. Namun salah seorang kakak senior–yang juga ikut menjadi pemusik–mendorongku untuk terlibat saja dulu, tidak perlu memikirkan sudah sejauh mana batas kemampuanku bermain musik. Akhirnya, aku membekali diri dengan cara membawa beberapa buku lagu rohani Kristen yang kumiliki ke lokasi retreat.

Tiba pada sebuah sesi di mana salah satu guru pembimbing meminta aku memainkan lagu yang tidak ada dalam buku acara retreat. Bagiku, mengiringi lagu secara dadakan tanpa latihan matang merupakan sebuah ‘neraka’ pada saat itu. Aku gugup. Aku bisa merasakan detak jantung yang makin berdegup kencang saat menyadari sesi tersebut akan dimulai 15 menit lagi. Beliau memang mengajariku cara mengiringinya, namun apalah aku ini yang pada saat itu belum sampai pada tahap mampu bermain lagu dadakan. Bahkan lagu tersebut tidak ada partiturnya di buku-buku lagu rohani yang kubawa. Sadar aku tidak dapat memenuhi permintaannya, beliau mengatakan sesuatu yang ternyata menyakitkan hatiku:

“Bisa, nggak? Yah kamu sih bisanya cuma mainin lagu yang kamu tahu aja ya. Kalau lagunya nggak tahu kamu pasti nggak bisa.”

Mungkin ketika aku menuliskan kembali secuil memori ini, rasanya perkataan itu tidak berarti apa-apa. Namun untuk aku yang mengalaminya saat itu, rasa minder dan rendah diri menguasaiku seratus persen. Aku hanya bisa terdiam dan menyerah ketika akhirnya beliau yang mengambil alih memainkan lagu tersebut. Lima menit sebelum sesi dimulai, aku pergi ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Aku merasa tidak berguna. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang pemain piano yang baik. Ketika menangis, aku bersumpah di dalam diriku untuk tidak akan pernah menyentuh alat musik itu lagi selamanya. Aku bertekad akan berhenti latihan, dan retreat saat itu menjadi kesempatan terakhirku untuk bermain piano.

Kenyataan yang terjadi pada masa-masa setelahnya berbanding terbalik dengan apa yang sudah kurencanakan. Tuhan ternyata tidak ingin aku mengubur talenta ini. Emosi sesaat yang kurasakan memang sempat membuatku enggan bermain piano lagi. Rasa benci terhadap sang guru pun juga tidak aku sangkal pada saat itu. Namun kesempatan demi kesempatan terbuka begitu banyak dan lebarnya hingga aku semakin diproses. Mulai dari diminta mengiringi paduan suara sekolah, mulai dilibatkan sebagai pengiring musik ibadah Minggu di gereja, mengiringi kelompok musik ensemble binaan papa, mengiringi kelompok paduan suara guru-guru dalam sebuah lomba, dan berbagai kesempatan lainnya yang terus menerus menjadi proses pembelajaran serta pengembangan talentaku hingga saat ini. Aku juga makin mengonfirmasi bahwa bermain piano merupakan salah satu panggilan Tuhan di dalam hidupku. Konfirmasi ini tentu aku peroleh melalui proses yang panjang. Seiring dengan berjalannya waktu, aku pun makin mencintai talenta ini. Aku senang mengiringi orang lain bernyanyi dan makin senang pula jika orang tersebut bersukacita saat bernyanyi. Aku sudah lupa sama sekali dengan keinginanku waktu kecil untuk menjadi seorang penari atau ballerina seperti Sherina.

Passion: Sukacita dan Menderita

Dalam perenunganku, aku akhirnya paham bahwa passion tidak hanya dibatasi oleh rasa senang dalam melakukan sesuatu atau hanya sekadar hobi. Misalnya: aku senang bermain piano maka passion-ku adalah di bidang musik, atau aku senang menulis maka passion-ku adalah di bidang media literatur, dan sebagainya. Mungkin memang bisa dimulai dari kesenangan hati, tapi seiring dengan prosesnya, kita bisa saja diperhadapkan dengan tantangan dan rintangan yang menguji apakah kita tetap setia melakukannya? Apakah kita tetap mau berproses di dalamnya sekalipun kita menderita? Tidak akan pernah ada proses jika tidak ada titik awal.

Berbicara sedikit soal passion, aku pun jadi teringat sebuah judul film yang mungkin tak asing bagi kita sebagai orang percaya: “The Passion of The Christ”, karya Mel Gibson. Film ini dikemas dengan sangat baik dalam menceritakan peristiwa penderitaan Yesus hingga mati di kayu salib demi menebus dosa kita. Refleksi pribadiku dalam meneladani passion-Nya setelah merenungkan film ini adalah: apakah aku tetap setia bermain piano meskipun harus menderita? Apakah aku bisa tetap bertahan dan konsisten mengiringi orang lain menyanyikan puji-pujian sekalipun mengalami tantangan? Satu hal yang selalu menguatkanku adalah: Tuhan pasti menyertai dalam setiap prosesnya. “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar…sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Ulangan 31:6)—sebuah ayat penguatan untukku pribadi ketika aku mulai takut untuk melangkah dalam menjalani panggilan-Nya.

Dalam proses mencari panggilan hidup kita, izinkan aku mengutip sebuah pertanyaan refleksi dari seorang penulis buku dan content creator, Raditya Dika, pada sebuah acara workshop berjudul “Writing is Empowering”: Apa yang menjadi bara di dalam hatimu? Dan sedikit tambahan pesan dariku, jika kita sudah menemukan apa yang menjadi kemampuan kita, dan kita yakin itu adalah talenta dari-Nya, kembangkanlah. Pertajam. Lalu belajar pelan-pelan membagikannya supaya menjadi dampak dan berkat untuk orang lain. Ada banyak sekali talenta yang Tuhan anugerahkan untuk dunia ini. Cara mengembangkannya pun berbeda-beda. Tinggal seberapa besar niat, tekad, konsistensi, komitmen, dan ketekunan kita untuk berlatih dan melakukannya. Semangat ya!

Kiranya Tuhan menolong kita untuk peka akan panggilan-Nya dalam hidup kita masing-masing.

To GOD be the glory!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Keluargaku di Bawah Bayang-bayang Maut

Ketika aku sekeluarga positif terjangkit Covid-19, ketakutan segera menguasaiku. Mengapa Tuhan izinkan kami mengalami ini? Mendekam berhari-hari dalam ruang isolasi sembari harap-harap cemas.

Lebih Dari Kain Kering Bekas

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Rabu, 1 Januari 2020

Pagi itu, sekitar jam setengah lima, aku dan keluarga cukup panik saat mengetahui genangan air banjir mulai memasuki rumah. Sambil memindahkan beberapa barang ke tempat yang lebih tinggi, aku masih terus berharap dan berdoa hujan deras bisa segera reda supaya genangan air tidak makin naik. Namun alam sepertinya berkata lain. Hujan tak kunjung reda, tetap deras, dan air di dalam rumah naik perlahan-lahan, menyebabkan bencana banjir Jakarta dan wilayah sekitarnya kembali terjadi di awal tahun 2020.

Dalam kebingungan dan ketakutanku, pertanyaan yang kulontarkan pada Tuhan dalam doa adalah: “Tuhan, ini aku harus ngapain lagiiiii?”. Akhirnya aku beranikan diri mengambil keputusan. “Pa, ini hujannya enggak berhenti. Airnya makin tinggi. Apa enggak sebaiknya kita keluar dulu aja?” Papa mamaku setuju. Kami masukkan beberapa baju dan makanan kering seadanya secara cepat ke dalam tas, lalu berjalan perlahan-lahan ke luar rumah. Saat itu kondisi banjir di dalam rumah sudah mencapai tinggi di atas lutut. Mama dan adikku berjalan bersama di bawah payung—karena saat itu hujan masih turun dengan sangat deras— sedangkan aku dan papa melakukan pemeriksaan terakhir sebelum meninggalkan rumah, mulai dari mengunci pintu hingga mematikan arus listrik utama. Karena belum menentukan tujuan, kami berempat memutuskan untuk berteduh sebentar di area berkanopi depan komplek yang memang lokasinya lebih tinggi sehingga tidak terdampak banjir.

Singkat cerita, kami akhirnya mengungsi ke kontrakan tanteku yang lokasinya satu komplek dengan kami namun lokasinya lebih tinggi. Kontrakan yang ditinggali tanteku berada di lantai 2, sehingga kami bisa aman sementara di sana. Dari tempat tersebut aku bisa melihat ke area lapangan belakang kontrakan. Biasanya aku melihat beberapa ekor rusa yang berjalan, berlarian, ataupun sedang makan dedaunan dari semak-semak. Namun saat itu, yang kulihat hanyalah genangan air layaknya sungai beserta tetesan air hujan yang masih sangat deras. Aku memikirkan kemana rusa-rusa itu pergi? Aku juga memikirkan apa yang akan terjadi dengan rumahku? Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi dan belum ada tanda-tanda hujan memperlambat derasnya. Akhirnya aku memilih tidur karena tidak tahu bisa melakukan apa lagi.

Aku terbangun pukul delapan pagi dan langsung melihat ke luar. Hujan sudah agak reda namun masih terus turun. Mungkin ini yang biasa disebut sebagai ‘hujan awet’. Saat itu aku tidak bisa mendefinisikan emosiku; perasaan yang campur aduk antara cemas, panik, takut, sedih, tapi di saat yang sama tetap berusaha berpikir jernih supaya bisa tahu apa yang harus dilakukan. Aku hanya bisa menunggu melewati waktu yang terus berjalan. Ketika sedang melamun, tanteku membuatkan sarapan dan aku sangat bersyukur dalam kondisi tersebut aku masih bisa menikmati berkat Tuhan berupa makanan. Sambil menikmati sarapan, aku mendengar kabar dari ayah bahwa ternyata komplek kami kebagian banjir kiriman dari komplek sebelah. Dinding perbatasan yang memisahkan antar komplek entah mengapa jebol—hingga kini pun aku masih belum mengetahui alasan jebolnya kenapa; apakah perbuatan sengaja tangan manusia yang jahil, atau memang ada kerusakan yang belum sempat diperbaiki. Ayahku juga mengatakan bahwa air banjir di komplek semakin tinggi. Ketika mendengar berita ini jujur aku mati rasa. Tidak tahu apakah harus makin sedih, atau makin takut, yang aku ketahui saat itu adalah aku sedang sarapan dan aku harus menghabiskannya.

Sekitar jam dua belas, ayah menyampaikan informasi bahwa sepupunya—yang adalah pamanku—meminta kami untuk mengungsi ke rumahnya yang ada di Tanjung Priok. Kondisi di sana ternyata aman dari banjir. Setelah berdiskusi dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami menyetujuinya. Sebelum kami berangkat, aku dan ayah sekali lagi pulang ke rumah untuk mengambil berkas-berkas pendidikan aku dan adik untuk diselamatkan sementara ke kontrakan tanteku. Ketika sampai di rumah, tinggi airnya sudah mencapai dadaku, itupun berdirinya sambil jinjit. Aku sudah ‘tutup mata’ dengan kondisi tersebut dan hanya fokus pada tujuan utama. Aku tidak bisa menangis lagi melihat pianoku yang posisinya sudah miring dan speaker-nya nyelup ke dalam air, TV yang sudah nyebur, kulkas yang mengapung, dan entah harta benda apa lagi yang aku sudah tidak mau lihat kondisinya. Sebelum keluar rumah, aku sempat berkata dalam hati sambil mengelus dinding: “Baik-baik ya, rumah. Nanti kita bersihin kamu.”

Singkat cerita, kami akhirnya menempuh perjalanan ke salah satu tempat di area Senayan untuk janjian dengan pamanku yang akan mengantar kami ke Tanjung Priok. Kami pergi menggunakan mobil online—ini sungguh pertolongan Tuhan juga karena masih ada bapak driver yang mau mengambil orderan kami. Padahal kondisi jalanan Jakarta banyak yang putus akibat banjir. Beliau mau dan rela mengantar kami, si pengungsi yang belum mandi dari pagi dan kebanjiran, sambil memutar-mutar Jakarta mencari jalan yang bisa ditembus ke arah tujuan. Syukur kepada Tuhan, kami sampai dengan selamat di tempat bertemu, kemudian pamanku mengantarkan kami ke rumahnya, dan tiba juga dengan selamat di Tanjung Priok sekitar pukul enam sore.

Kain kering bekas

Di malam kedua menginap, kami berdiskusi tentang langkah apa yang harus diambil selanjutnya. Setelah mengetahui dari tetangga bahwa banjir di komplek sudah surut, aku dan ayah memutuskan untuk pulang ke rumah duluan di hari Jumat pagi untuk menyicil bersih- bersih rumah. Aku sudah membuat daftar perencanaan, mulai dari alat-alat kebersihan apa saja yang harus dibeli, hingga urutan pekerjaan yang harus dilakukan nanti sesampainya di rumah. Lalu tiba-tiba terbesit suatu hal di dalam benakku: aku butuh kain kering bekas untuk setidaknya mengeringkan kaki dan tangan kami yang pastinya akan selalu basah saat bersih- bersih nanti. Namun aku tidak tahu bisa mendapatkannya di mana. Kemudian aku mencoba iseng mengunggah status di Instagram Story bahwa aku membutuhkan kain kering bekas. Jujur, aku tidak terlalu berharap banyak. Aku bukan tipe yang senang meminta pertolongan dari orang lain. Malah kalau bisa, aku harus berjuang sendiri menyelesaikan masalah hidupku. Aku tidak mau merepotkan orang lain atau melibatkan mereka di dalamnya. Namun, kali ini Tuhan lagi-lagi sedang mengajari aku sesuatu.

Aku sungguh tidak menyangka bahwa apa yang kudapat melebihi harapanku. Pertolongan dalam berbagai bentuk mulai berdatangan; mulai dari kain kering bekas yang aku minta, kiriman makanan dan minuman, alat-alat kebersihan, alas tidur beserta bantal, dan masih banyak lagi bantuan lainnya yang tidak bisa kujelaskan satu-satu. Bahkan beberapa teman- temanku sampai ada yang datang membantu membersihkan rumah. Sungguh pertolongan- pertolongan yang sangat mengejutkanku. Padahal yang aku minta di awal hanyalah kain kering bekas, tapi Tuhan berikan jauh lebih banyak dari itu. Rumahku bersih dalam waktu 2 hari, waktu yang lebih cepat dibandingkan ketika kami mengalami banjir besar yang sama di tahun 2007 silam.

Hal yang menjadi perenunganku dari peristiwa ini adalah bahwa pertolongan Tuhan selalu tepat waktu, dan Ia mampu memberikan lebih dari yang kita mau. Aku tidak menyesal sama sekali telah meminta tolong lewat status Instagram Story tersebut, meski sempat dilanda rasa gengsi dan takut tidak ada yang mau menolongku. Aku menyadari bahwa rasa gengsi ini berakar dari perasaan tidak ingin dikasihani. Karena kalau dikasihani, harga diriku rasanya jatuh. Tadinya aku lebih memilih untuk menyelesaikan berbagai masalahku sendirian, termasuk dalam penanggulangan serta pemulihan dari bencana. Inilah yang kadang menghambatku dalam hal mencari pertolongan. Namun syukur kepada Tuhan dari bencana banjir ini aku belajar bahwa meminta pertolongan adalah hal yang baik untuk dilakukan, dan tidak perlu dikaitkan dengan harga diri atau takut ditolak. Aku percaya kok jika pun aku tidak meng-update status tersebut, anugerah pertolongan Tuhan tetap tersedia. Namun aku sadar saat itu aku tengah dilatih dan diajari sesuatu yang baru oleh-Nya, yang sungguh mengubah pandanganku terkait meminta pertolongan.

Aku belajar bahwa sukacita tidak ditentukan oleh kondisi atau keadaan yang kita kehendaki. Seperti yang pernah aku tuliskan dalam tulisanku sebelumnya, bahwa sukacita identik dengan rasa syukur dan rasa cukup, meski apa yang dialami tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan inginkan. Tentu, aku pun tidak ingin kena banjir lagi. Hingga saat ini, kami sekeluarga tetap berupaya sedikit demi sedikit meminimalisir risiko banjir dengan cara melakukan beberapa perbaikan di rumah yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi aku dan ayah. Namun di saat yang sama, kami juga mau percaya kalau pertolongan Tuhan akan selalu ada.

Aku tidak tahu bencana apa yang pernah atau sedang dialami teman-teman saat ini. Terdampak COVID-19, sakit, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang dikasihi, kondisi ekonomi yang memburuk, atau apa pun itu, tapi aku harap kita bisa sama-sama belajar percaya bahwa Tuhan akan selalu menolong kita. Mungkin dengan cara yang tidak sama dengan yang kita mau. Mungkin dengan waktu yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Tak lupa, sukacita itu pun juga tersedia meski kita dilanda penderitaan. Apakah percaya pada Tuhan itu susah? Karena keberdosaan kita: iya, tapi kepercayaan itu bisa dilatih kalau kita mau dan memberi diri ditolong Tuhan.

To GOD be the glory!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Tuhanlah Sumber Kekuatan, Sebuah Surat Dariku yang Pernah Kehilangan

Berlarut-larut dalam rasa kehilangan, mungkin bagi sebagian kita itu membuat kita tidak lagi bersemangat, tidak nafsu makan, dan tidak berdaya. Namun, aku percaya bahwa Tuhan Yesus memberikan damai sejahtera bagi kita.