4 Cara untuk Menentramkan Hati Sahabat dalam Masa Sulitnya

Info

Oleh Chong Shou En, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Walking With Suffering Friends

Teman yang bersedia mendengar curhat, merelakan bahunya untuk bersandar, dan mengerti tetesan air mata. Dalam hidup ini, kita membutuhkan dan perlu menjadi teman seperti itu.

Namun, menjadi seorang kawan di kala susah bukanlah hal yang mudah. Ketika seseorang sedang berada di titik nadir, seringkali apa yang kita ucapkan atau lakukan bisa berdampak besar. Peduli tapi dengan cara yang salah, pemilihan kata yang tidak tepat, bisa mematahkan semangat teman yang awalnya menghampiri kita untuk mendapatkan penghiburan dan dukungan.

Dalam bahasa Inggris, ada frasa “Job’s comforter”, atau dalam bahasa Indonesia bisa disebut juga sebagai “Penghibur Ayub”. Jika dicari di Google, frasa itu berarti seseorang yang “memperburuk keadaan dengan dalih menghibur”. Jika kamu tidak asing dengan kisah Ayub di Alkitab, mungkin kamu bisa menebak frasa itu mengacu kepada tiga sahabat Ayub yang bukannya mendukung dan menghibur Ayub yang tengah menderita, malah membuatnya semakin berduka dengan menuduh dan mengkritiknya.

Namun, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kisah Ayub, terkhusus untuk kita belajar bagaimana seharusnya menjadi sahabat bagi seorang kawan yang tengah melalui masa-masa sulit.

1. Proaktiflah untuk menjangkau lebih dulu

Ayub adalah orang yang saleh, dia diberkati Allah dengan keluarga besar dan makmur. Suatu hari, Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub untuk melihat bagaimana dia akan merespons. Dalam waktu singkat, Ayub kehilangan seluruh anak dan harta kekayaannya, serta menderita sakit parah. Lalu, tiga orang sahabatnya datang mengunjunginya.

“Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing…mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia” (Ayub 2:11). Ketiga sahabat Ayub bahkan mengoyakkan pakaiannya serta menangis, dan duduk meratap bersama Ayub selama tujuh hari (Ayub 2:12-13).

Tindakan yang menunjukkan ketulusan dan kepedulian ini amatlah mengagumkan dan dapat kita teladani. Kita pun harus berani untuk proaktif mengambil langkah, mendekati teman yang membutuhkan penghiburan.

2. Jangan menghakimi

Meskipun ketiga sahabat Ayub melakukan langkah yang baik di awal, mereka kemudian dikenal sebagai sahabat yang buruk.

Awalnya mereka mampu berempati dan ikut berduka bersama Ayub selama tujuh hari, tapi kemudian masalah dimulai saat mereka mulai bicara. Alih-alih menghibur dan menyemangati Ayub, mereka malah menghakimi.

Mereka mengatakan pada Ayub bahwa dia telah berdosa dan layak menerima semua penderitaan ini karena kesalahannya sendiri. Padahal, Alkitab menuliskan bahwa Ayub adalah seorang yang saleh dan jujur (Ayub 1:1).

Mereka mengatakan bahwa Ayub lancang, tidak jujur, dan tidak takut akan Allah. Mereka bahkan menuduh Ayub menikmati kejahatannya (Ayub 20:12), dan anak-anaknya pantas mendapatkan musibah (Ayub 18:19). Semua perkataan ini bukanlah hal yang perlu Ayub dengar saat itu.

Suatu ketika aku bercerita tentang pengalaman pahitku kepada seorang teman. Aku menjelaskan beberapa perubahan sifatku yang menurutnya meresahkan. Tapi, aku malah sakit hati ketika dia menanggapiku dengan mengkritik apa yang kuceritakan. Meskipun kritikan itu ada benarnya dan aku meminta maaf atasnya, pengalaman ini membuat relasi kami merenggang dan aku melihatnya dengan persepsi yang berbeda.

Kita perlu berhati-hati untuk tidak menghakimi satu sama lain dan menarik kesimpulan sendiri tentang penderitaan yang dialami orang lain.

3. Tetaplah diam dan mendengarkan

Elihu, sahabat Ayub yang keempat, tetap berdiam di saat tiga sahabat yang lain saling berargumen. Dia hanya bicara saat yang lain sudah selesai mengemukakan pendapat mereka.

Seperti Elihu, kita seharusnya tidak cepat untuk mengutarakan apa yang terpikirkan di pikiran kita, karena bisa saja itu bukanlah hal yang baik atau sungguh diperlukan oleh teman kita.

Seorang teman tentaraku baru-baru ini bercerita bagaimana dia dan pacarnya sering bertengkar. Setiap kali dia bercerita tentang masalah-masalah yang dihadapinya sebagai tentara, pacarnya malah mendikte dia langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menuntaskan masalah itu. Sebenarnya temanku sudah tahu solusinya, dia cuma ingin telinga yang bersedia mendengar. Ketika mendengarkan masalahnya, aku dalam hati mengucap syukur karena mampu mendengarkan keluh kesahnya tanpa berusaha mengguruinya dengan memberinya solusi menurut pandanganku atas masalahnya.

4. Doronglah dan semangatilah

Ketika akhirnya Elihu berbicara, dia tidak menghakimi Ayub dengan menerka-nerka dosa apa yang sudah Ayub lakukan di masa lalu. Elihu memberi masukan atas apa yang Ayub katakan. “Lalu marahlah Elihu… karena ia [Ayub] menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah” (Ayub 32:2).

Namun, Elihu juga satu-satunya dari empat sahabat yang menawarkan harapan kepada Ayub. Elihu mengakui keadaan sulit yang Ayub alami, kemudian menyampaikan janji pemulihan dan kebaikan Allah: “Ia berdoa kepada Allah, dan Allah berkenan menerimanya; ia akan memandang wajah-Nya dengan bersorak-sorai, dan Allah mengembalikan kebenaran kepada manusia” (Ayub 33:26).

Elihu memberitahu Ayub bahwa Allah punya rencana dan Dia mengizinkan penderitaan bagi kebaikan kita. Elihu memberikan harapan dan sudut pandang yang positif bagi Ayub.

Ketika aku masuk wajib militer, aku mengalami titik terendah dalam hidupku karena bergumul dengan dosa-dosa dan keraguanku akan keselamatan hidupku. Setiap Jumat malam, aku mulai ikut acara kelompok pemuda sepupuku.

Kelompok itu ramah dan baik, tapi seorang mentor, perempuan muda berusia 30 tahunanlah yang berinisiatif pertama kali untuk mengenalku dan bertanya bagaimana perjalanan rohaniku selama ini. Dia tampak tulus dan dewasa, jadi aku dengan yakin menceritakan pergumulanku padanya.

Pembicaraan kami terasa hangat dan jujur. Meskipun aku sebenarnya tahu harus melakukan apa dalam menghadapi situasiku, dorongan semangat dan doa darinya terasa begitu mengangkatku dan menghiburku.

Wajib militer yang harus kulalui menghalangiku untuk ikut kelompok pemuda itu lagi. Namun, syukur kepada Allah, aku dimampukan-Nya lepas dari masa-masa keraguan dan depresi, yang salah satunya karena dukungan dan persahabatan dari seorang mentor yang kutemui itu.

Pada akhirnya, marilah kita jadi orang yang cepat untuk mendengar dan merangkul, lambat untuk bicara, bahkan lebih lambat lagi untuk menghakimi.

Paling terutama, janganlah ragu untuk menjangkau, karena meskipun kita tidak sempurna dan sering salah berkata atau bertindak, kita bisa berdoa dan percaya Allah akan memimpin kita dalam tiap interaksi kita dengan teman-teman yang sedang berbeban berat.

Kiranya kita menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita, di saat mereka sungguh membutuhkan penguatan dan penghiburan.

Baca Juga:

Apa yang Kamu Lihat? Penghiburan atau Penghakiman?

Dalam bahasa Ibrani ada dua pilihan kata untuk “melihat”, yakni blepo dan horao. Blepo artinya melihat dengan mata. Horao, artinya melihat dengan hati. Kata yang manakah yang mewakili cara kita melihat dan memaknai sesuatu?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Komunitas

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!