Gembok Cinta

Info

Jumat, 25 September 2020

Gembok Cinta

Baca: Kidung Agung 8:5-7

8:5 Siapakah dia yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya? –Di bawah pohon apel kubangunkan engkau, di sanalah ibumu telah mengandung engkau, di sanalah ia mengandung dan melahirkan engkau.

8:6 –Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!

8:7 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu. —Kidung Agung 8:6

Gembok Cinta

Saya berdiri takjub melihat ratusan ribu gembok yang dicantolkan pada setiap bagian dari pagar jembatan Pont des Arts di Paris. Banyak di antaranya yang terukir dengan inisial nama pasangan kekasih. Jembatan penyeberangan di atas Sungai Seine itu dipenuhi dengan gembok tanda cinta yang menjadi deklarasi komitmen “abadi” setiap pasangan. Namun, pada tahun 2014, seluruh gembok yang terpasang diperkirakan memiliki berat total lima puluh ton, dan karena sempat menyebabkan sebagian jembatan runtuh, seluruh gembok itu akhirnya disingkirkan.

Banyaknya gembok cinta tersebut menunjukkan kerinduan kita sebagai manusia akan kepastian bahwa cinta kita akan abadi. Dalam Kidung Agung, sebuah kitab dalam Perjanjian Lama yang menggambarkan dialog sepasang kekasih, sang perempuan menggambarkan hasratnya akan cinta yang abadi. Ia meminta kepada kekasihnya: “Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu” (Kid. 8:6). Ia rindu memiliki rasa aman dan cinta sejati yang abadi, layaknya meterai pada hati sang kekasih atau cincin pada jari kekasihnya.

Kerinduan memperoleh cinta romantis yang abadi dalam kitab Kidung Agung membawa kita kepada kebenaran dalam surat Efesus di Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa kita telah “dimeteraikan” dengan Roh Kudus (1:13). Bila cinta manusia dapat berubah-ubah, dan gembok bisa disingkirkan dari jembatan, Roh Kristus yang hidup di dalam kita adalah meterai abadi yang membuktikan keteguhan kasih Allah yang tidak berkesudahan bagi anak-anak-Nya.—Lisa M. Samra

WAWASAN
Walaupun ada tafsiran yang berbeda-beda terhadap kitab Kidung Agung, pembacaan secara langsung menunjukkan bahwa kitab ini adalah kumpulan puisi yang merayakan cinta kasih dan keintiman fisik yang mengalir dari cinta kasih itu, dan memperingatkan kita untuk menjaga cinta kasih itu dalam konteks yang benar (2:15). Kidung Agung menyajikan kepada kita sejumlah syair yang mengungkapkan hasrat kudus yang sesuai dengan keadaan manusia pada saat diciptakan Allah, yakni hasrat yang dipenuhi dalam relasi pernikahan “keduanya menjadi satu daging” yang ditetapkan di taman Eden. Namun, apakah kitab ini menyatakan sesuatu tentang Allah dan relasi kita dengan Dia? Tentu saja, ketika kita membacanya dalam konteks keseluruhan Alkitab dan melihat relasi kita dengan Allah kerap dibandingkan dengan pernikahan antarmanusia. Rasul Paulus menggambarkan relasi gereja dengan Tuhan Yesus dalam konsep pernikahan (Efesus 5:21-33) dan menyebutnya sebagai “rahasia . . . besar.”

Bagaimana pengalamanmu menerima kasih Allah Bapa yang pasti dan abadi? Maukah kamu mengizinkan kasih-Nya menuntun dan menguatkanmu hari ini?

Bapa Surgawi, terima kasih bahwa walaupun kasih manusia tidak selalu dapat dijamin, kasih-Mu kepadaku itu kuat, tetap, dan abadi.

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 6-8; Galatia 4

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

36 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!