Posts

Menikmati Allah di Segala Musim

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Aku sempat merasakan kekosongan di masa-masa menjelang Natal beberapa tahun terakhir ini. Aku terlibat di berbagai acara gereja, tetapi yang kurasa bukan sukacita. Aku bosan menjadi panitia, pemusik, mengiringi paduan suara dan segudang aktivitas lainnya. Momen Natal yang seharusnya menjadi saat-saat reflektif malah jadi terasa hambar.

Pada Natal tahun 2020 kemarin, ada hal lain yang juga menyita kesibukanku, yaitu pekerjaan. Saat ini aku bekerja di perusahaan start-up yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Menapaki pekerjaan di bidang start-up tentu banyak tantangannya: belum ada sistem yang terbentuk, struktur sumber daya manusia (SDM) pun belum kokoh, dan kami yang bekerja di dalamnya masih seperti berjalan di hutan rimba; menerka-nerka apa yang baik untuk keberlangsungan bisnis ini juga untuk setiap pegawai yang bekerja di dalamnya. Bahkan masing-masing kami masih harus melakoni dua hingga tiga jabatan sekaligus untuk beberapa proyek pekerjaan.

Di Desember kemarin aku dan rekan-rekan kerjaku memiliki beberapa proyek pekerjaan besar, mulai dari pembukaan outlet kafe baru, hingga mengirim parsel Natal ke berbagai pihak yang mendukung keberlangsungan perusahaan ini. Di suatu pagi ketika aku sedang menempuh perjalanan ke kantor, aku mengeluh di dalam doaku pada Tuhan.

“Tuhan, aku capek banget! Masa Desember gini kerjanya abis-abisan sih? Aku ingin menikmati momen Natal tanpa diganggu pekerjaan-pekerjaan yang super banyak ini! Aku ingin liburan.”

Aku mengeluh. Di samping memang tubuh dan pikiranku sedang letih, aku merasa seperti menolak kondisi dan tidak menikmati pekerjaan yang tengah kujalani di kantor. Namun ketika aku mendoakan keluhan itu, aku teringat akan doaku di tahun 2019 yang lalu: bahwa aku ingin menikmati Natal dengan cara tidak sekadar ritual dan pelayanan. Aku lantas merenung: pekerjaan yang kulakukan sekarang sesungguhnya adalah pemberian dari Tuhan. Aku pernah menuliskan proses perjalanan berkarierku dan menemukan bahwa ini adalah tempat terbaik untukku bekerja, setidaknya hingga saat ini. Mengingat proses bagaimana Tuhan tempatkan aku di perusahaan start-up, aku pun kembali mengingat-ingat ternyata banyak sekali hal baik yang Tuhan lakukan buatku, tapi aku sering tidak menyadarinya. Dan parahnya, aku masih saja sering mengeluh, mengasihani diri, dan kurang bersyukur.

Menyadari keberdosaanku, aku meminta ampun pada Tuhan karena tidak sadar akan hadirnya Pribadi yang selalu memimpin langkahku—si manusia yang sesat seperti domba dan mengambil jalannya sendiri (Yesaya 53:6). Dalam anugerah Tuhan, aku akhirnya menyadari dan menemukan sebuah jawaban dari rasa bosanku mengerjakan kegiatan atau aktivitas Natal selama bertahun-tahun: aku fokus pada aktivitas dan kegiatannya, bukan pada Kristusnya. Aku fokus pada berbagai macam pelayanan, kegiatan, perayaan, ritual, tradisi, tapi lupa pada Satu Pribadi yang merupakan fokus utama dari keberadaan Natal sesungguhnya. Aku tidak menikmati berbagai kegiatan yang berlangsung di penghujung tahun karena aku sulit menyadari kehadiran Kristus yang senantiasa memimpin hari-hariku.

Menikmati Allah Ketika Sibuk dan Tidak Sibuk

Lalu apakah salah jika dalam momen Natal kemarin yang seharusnya dilalui dengan refleksi aku malah sibuk bekerja di kantor? Pertanyaan refleksi ini aku tanyakan pada diri sendiri, dan mungkin bisa berlaku juga untuk kita semua. Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Judah Smith dalam bukunya yang berjudul “How’s Your Soul? – Why Everything That Matters Starts with The Inside You” menuliskan ada empat lingkungan kondusif yang Tuhan sediakan bagi kesehatan jiwa kita, salah satunya adalah Responsibility atau tanggung jawab. Tuhan menciptakan manusia untuk bekerja bukan sebagai bentuk hukuman. Konsep bekerja bahkan sudah ada sejak zaman Adam di taman Eden (Kejadian 2:15). “God created humans to bear responsibility. (Tuhan menciptakan manusia untuk memikul tanggung jawab.)”—dan ini adalah kondisi yang sehat yang Tuhan ciptakan untuk kita.

Bagian dari buku yang tengah kubaca tersebut mengingatkanku kembali bahwa pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita juga merupakan pelayanan bagi Tuhan, meskipun kelihatannya sulit meluangkan waktu untuk melakukan refleksi Natal secara pribadi. Apalagi jika kembali mengingat bagaimana cara Tuhan menempatkanku di kantor ini, aku kembali mengingatkan diri sendiri untuk mengurangi keluhan yang menghambat ucapan syukur. Sambil terus belajar bahwa segala sesuatu yang dikerjakan harusnya kulakukan dengan sekuat tenaga dan dengan segenap hatiku seperti untuk Tuhan (Pengkhotbah 9:10; Kolose 3:23).

Sibuk bekerja dengan penuh tanggung jawab tentu bukan berarti tidak ada istirahat. Masih berasal dari buku yang sama, elemen berikutnya yang menyehatkan jiwa kita adalah Rest atau beristirahat. Terus menjaga dan menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan merupakan bentuk istirahat jiwa kita. Menikmati langit biru sambil diterpa angin sepoi-sepoi merupakan bentuk istirahat jiwa kita. Menikmati makanan, waktu bersama teman dan orang tersayang, dan hal-hal yang disediakan Tuhan untuk kita merupakan bentuk istirahat bagi jiwa kita. Fokus pada kesibukan seringkali malah membuat kita lelah luar dalam; lelah bagi tubuh, lelah bagi jiwa. Akhirnya, momen yang kupilih menjadi waktu terbaik untuk merefleksikan makna Natal secara pribadi adalah ketika aku tengah menempuh perjalanan pergi dan pulang kantor menggunakan ojek daring, sambil mendengarkan lagu-lagu Natal dan diterpa angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.

“A restless soul is a soul that thinks it is in control and needs to take care of everything. If we do not rest, we are trying to be our own God. (Jiwa yang gelisah adalah jiwa yang berpikir bahwa dirinyalah yang mengatur dan perlu mengendalikan segalanya. Jika kita tidak beristirahat, kita sedang mencoba menjadi tuhan atas diri kita sendiri)”.–Judah Smith dalam buku “How’s Your Soul?”

Imanuel: Natal yang Sesungguhnya Setiap Hari

Dari perenungan pribadiku, aku belajar bahwa menikmati hadirat dan pimpinan Tuhan dalam segala aktivitas, kegiatan, dan kesibukan merupakan hal terbaik yang bisa kunikmati. Sebuah sukacita bagi jiwa ketika bisa menikmati dan merasakan pimpinan Tuhan baik ketika sedang bekerja, maupun ketika sedang beristirahat sambil menghirup wanginya air hujan yang jatuh ke tanah.

Natal tahun 2020 telah berlalu dan kini aku belajar bahwa makna Natal yang sesungguhnya tidak berfokus pada jenis kegiatan atau aktivitas yang kita lakukan pada bulan Desember, melainkan pada: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5). Dan Anak yang telah lahir itu ada bersama-sama dengan kita setiap hari, terlepas dari sibuk atau tidaknya kita. Mengapa? Karena Ia adalah Imanuel: Allah menyertai kita (Matius 1:23). Kelahiran-Nya ke dunia membawa kabar sukacita terbaik yang pernah ada, yaitu menyelamatkan umat manusia dari belenggu hukuman dosa dan memberikan kehidupan sejati karena kasih Allah yang begitu besar buat teman-teman dan juga aku; supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Natal selalu berbicara tentang tentang Tuhan Yesus Kristus yang lahir dan berkenan untuk dikenal (Yesaya 55:6). Dia menyertai kita di sepanjang tahun 2021 ini, dan kita bisa minta tolong pada-Nya supaya bisa menikmati Dia setiap hari, dalam setiap kegiatan apapun yang kita kerjakan.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Pahamilah Arti Kasih yang Sejati

Sedikit tindakan kasih yang kita lakukan tentulah tidak sebanding dengan apa yang Allah telah berikan pada kita, tetapi tindakan kasih itulah yang menunjukkan pada dunia bahwa kita telah dikasihi lebih dulu oleh Allah.

Siapakah Yesus bagi Kita? Sebuah Perenungan Menyambut Natal

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Pernahkah kamu mendengar nama Joe Biden, Xi Jinping, Camilla Rothe, Jennifer Hudson, dan Sundar Pichai? Mereka ialah segelintir dari 100 orang terpopuler di tahun 2020 versi majalah Time. Figur-figur ini dianggap memberi pengaruh besar pada masyarakat di generasi mereka. Contohnya, Camila Rothe. Pada Januari 2020 lalu spesialis penyakit menular di Munich itu menjadi salah satu orang pertama yang mendokumentasikan infeksi Covid-19 tanpa gejala. Laporannya itu pertama kali disambut dengan ketidakpercayaan, bahkan diremehkan. Tetapi, setelah banyak pasien mengalami kondisi tanpa gejala, laporan Camelia pun diterima secara luas. Kini, adanya Orang Tanpa Gejala (OTG) menjadi salah satu tantangan terbesar dalam perang melawan pandemi corona. Temuan Camilia itu telah menyelamatkan banyak jiwa. Menurut TIME, jika saja banyak orang mau mendengarkan dia sebelumnya, penyebaran lebih besar mungkin akan bisa dicegah.

Daftar 100 nama orang terpopuler berubah tiap tahun. Ada yang bertahan, ada pula yang terlempar ke luar. Namun, dari sekian banyak nama populer di setiap zaman di dunia ini, ada satu figur yang namanya selalu menempati posisi tertinggi dalam daftar orang terpopuler di lebih dari 2000 tahun terakhir. Namanya Yesus Kristus. Dailymail pada 15 Desember 2013 lalu melaporkan, Yesus adalah orang paling populer dan terpenting dalam sejarah menurut program pencarian internet baru. Nama Yesus disusul Napoleon, ada Aristoteles di peringkat 8, dan seterusnya. Software program yang dikembangkan di Amerika Serikat itu bekerja dengan cara menjelajahi internet untuk mencari pendapat warganet di seluruh dunia tentang orang-orang terkenal, dengan menggunakan algoritma khusus untuk melihat seberapa pentingnya pengaruh figur-figur populer itu hingga 200 tahun setelah kematian mereka

Yesus, Dia bukan hanya populer hingga 200 tahun setelah wafat-Nya, tetapi hingga kini pun nama-Nya masih dibicarakan orang. Putra Maria itu selama ribuan tahun telah menjadi titik tengkar sekaligus titik perdamaian. Selain karena popularitas-Nya, yang menjadi salah satu alasanku menulis tentang Dia adalah keinginan menjawab pertanyaan para sahabat kepadaku, “Mengapa kamu beragama Kristiani?” Memang, dalam pergaulan di antara kawan yang multi agama dan ras, aku jarang membicarakan tentang imanku, kecuali kepada mereka yang bertanya. Pertanyaan-pertanyaan itu pun tak jarang muncul dalam kesempatan atau waktu yang sangat singkat, sehingga untuk menjawabnya pun tidak bisa berlama-lama.

Tulisan ini kubuat bagi para sahabat yang pernah bertanya tentang alasan mengapa aku percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, juga bagi kita yang ingin sedikit “me-refresh” ingatannya tentang sosok Yesus. Isi dari tulisan ini tidak ada yang baru. Aku hanya mengulangnya saja. Ada banyak buku dan artikel yang mengulas tentang Yesus dari berbagai tradisi, baik Katolik, Ortodoks, Protestan maupun Pentakosta/Karismatik. Semoga setelah tulisan ini dimuat, akan ada diskusi-diskusi lanjutan yang menarik dengan sahabat-sahabatku itu, seperti yang sudah-sudah.

Siapakah Yesus?

Pertanyaan tentang figur Yesus sudah muncul sejak 2000 tahun lalu. Banyak orang yang keliru menafsirkan identitas Yesus sesungguhnya. Ada yang mengira Dia Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Dia nabi Elia, nabi Yeremia atau salah seorang dari para nabi (Matius 16:14). Di tengah simpang-siurnya anggapan orang tentang siapa Yesus sesungguhnya, Dia bertanya kepada para murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Lukas 9:20; Matius 16:15). Yesus bertanya kepada pengikut-pengikut-Nya yang sudah sekian lama melihat karya dan mendengar pengajaran-Nya secara langsung.

Pada waktu Dia mengajukan pertanyaan itu, seolah-olah semua murid-Nya tidak mempunyai jawaban. Tetapi ada satu murid, yaitu Petrus, yang menjawab dengan tegas, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Matius 16:16). Petrus tahu bahwa Yesus bukanlah Yohanes Pembaptis atau Elia atau seorang nabi di masa lalu. Dia lebih dari sekadar seorang reformator spiritual, lebih dari seorang pembuat mukjizat, lebih dari seorang nabi. Yesus adalah Kristus, Mesias. Anak Allah yang hidup.

Mesias

Kata “Mesias” berasal dari bahasa Ibrani, “Mashiach,” artinya “yang diurapi” atau “yang terpilih.” Pada zaman Perjanjian Lama, nabi, imam, dan raja diurapi dengan minyak ketika mereka ditetapkan untuk posisi dengan tanggung jawab ini. Urapan adalah tanda bahwa Tuhan telah memilih mereka dan menguduskan mereka untuk pekerjaan yang Dia berikan kepada mereka. Christos (Kristus) adalah padanan Yunani dari istilah Ibrani, Mesias (Yohanes 1:41). Ketika Andreas berkenalan dengan Yesus, hal pertama yang ia lakukan adalah menemui saudaranya, Simon (Petrus) dan memberi tahu dia tentang pertemuannya dengan Yesus. Andreas memberi tahu saudaranya bahwa ia telah bertemu Mesias (Kristus), dan Andreas membawa Simon kepada Yesus (Yohanes 1:41).

Ketika dalam Yohanes 1:41 Andreas mengatakan, “Kami telah menemukan Mesias,” ia ingin mengatakan bahwa pengharapan orang-orang Yahudi agar Tuhan mengirim seorang Mesias kini sudah terjawab. Mesias itu adalah Yesus. Komunitas Yahudi telah membaca nubuatan Perjanjian Lama (Yesaya 42:1; 61: 1-3; Mazmur 16, 22; Daniel 9, Dsb) yang berjanji bahwa Tuhan akan mengirimkan seorang penyelamat bagi umat-Nya, dan Andreas ingin mengatakan kepada Simon bahwa Sang Mesias yang dijanjikan itu telah datang.

Namun sayangnya, orang-orang Yahudi salah paham tentang apa yang akan dilakukan Mesias ini. Mereka membaca nubuatan tentang bagaimana Mesias akan mengalahkan musuh-musuh Tuhan dan menganggap bahwa Yesus akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Mereka mengharapkan Mesias untuk mendirikan kerajaan di bumi, di mana mereka akan menjadi penguasanya, bukan yang dikuasai. Anggapan Mesianis politis dan militeristis ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi mengabaikan peran spiritual Mesias sebagai pembebasan dari dosa dan Setan. Mereka tidak memahami bahwa kerajaan Sang Mesias bersifat spiritual, bukan politik. Hasilnya, hanya sedikit orang Yahudi yang bersedia menerima Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, sebab Dia tidak sesuai dengan pemikiran dan harapan mereka tentang apa yang akan dilakukan Mesias.

Injil berulang kali menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias—Yang dipilih oleh Tuhan dan diurapi oleh-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Matius 16:16; Lukas 4: 17-21; Yohanes 1: 40-49; 4:25, 26). Setelah kebangkitan Yesus, Petrus mengingatkan orang-orang yang mendengarkan khotbahnya tentang “Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia berkeliling sambil berkeliling baik-baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, karena Allah menyertai Dia” (Kisah Para Rasul 10:38, 39). Yesus sendiri mengaku sebagai Mesias yang dijanjikan. Ketika seorang wanita di sebuah sumur di Samaria berkata kepada Yesus, “Aku tahu bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami. Kata Yesus kepadanya: Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau” (Yohanes 4:25, 26).

Dari apa yang Injil laporkan tampak jelas, warta kepada para pembaca bahwa Yesus sebagai Mesias begitu kuat. Seperti kata Yohanes, “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yohanes 20:31). Yesus sebagai Mesias berarti Dia adalah yang dipilih Tuhan, yang diurapi untuk datang membebaskan manusia dari dosa dan Setan. Sebagai Mesias, Dia menawarkan pengampunan atas dosa-dosa manusia. Dia menjanjikan keselamatan dan tempat di kerajaan-Nya yang akan datang. “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu,… dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:28, 29).

Anak Allah

Istilah ini sering menimbulkan kesalahpahaman. “Anak Allah” merupakan istilah yang tidak bisa ditafsirkan tanpa kacamata teologi Kristiani. Yesus bukan Anak Allah dalam konteks hubungan antara ayah dan anak. Tentu, Allah tidak menikah kemudian memiliki seorang anak. Yesus sebagai Anak Allah perlu dipahami dalam konteks Dia sebagai Allah yang mengambil rupa manusia (Yohanes 1:1, 14). Yesus sebagai Anak Allah artinya, Ia dikandung oleh Roh Kudus, bukan hasil hubungan laki-laki dengan perempuan. Lukas 1:35 mengatakan, “Jawab malaikat itu kepadanya: ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.’”

Dalam konteks zaman itu, frasa ”anak manusia” digunakan untuk merujuk seorang manusia. Jadi, “anak manusia” berarti manusia, dan “Anak Allah” berarti Allah itu sendiri. Pada waktu Yesus dihakimi para pemimpin Yahudi, Imam Agung memerintahkan Yesus, “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak” (Matius 26:63). “Engkau telah mengatakannya,” Yesus menjawabnya. “Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit” (Matius 26:64). Para pemimpin Yahudi merespons dengan menuduh bahwa Yesus telah menghujat Allah (Matius 26:65-66). Kemudian, di hadapan Pontius Pilatus, “Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: ‘Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah'” (Yohanes 19:7).

Mengapa mengklaim sebagai Anak Allah dianggap penghujatan dan layak dihukum mati? Para pemimpin Yahudi tentu mengerti apa yang dimaksud Yesus dengan ungkapan “Anak Allah.” Menjadi Anak Allah adalah sama dengan Allah. Klaim yang menyamai natur Allah adalah sama dengan menjadi Allah, dan itu dianggap penghujatan bagi para pemimpin Yahudi, sehingga mereka menuntut kematian Yesus sesuai dengan Imamat 24:15. Ibrani 1:3 mengungkapkan hal ini secara jelas, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.”

Mengapa Allah-Manusia?

Dari uraian di atas dapat kita pahami dwinatur Yesus, yaitu sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Di dalam Yohanes 1:14, kita mengetahui bahwa melalui sabda, Allah menyingkapkan diri-Nya dengan berbagai-bagai cara sampai dengan puncaknya, yaitu inkarnasi-Nya menjadi manusia Yesus. Namun pertanyaannya, “Mengapa Allah-manusia?” Atau, “Mengapa Person ilahi dengan hakikat Allah (Sang Putra) harus menambahkan hakikat kemanusiaan menjadi hakikat-Nya juga?” Jika Dia Allah yang Mahakuasa, mengapa inkarnasi menjadi satu-satunya pilihan-Nya untuk menyatakan karya penyelamatan?

“Mengapa Allah-manusia?” Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan umum. Tidak juga dialamatkan kepada pikiran umum. Mengapa Allah (mengambil rupa) manusia (Cur Deus Homo) adalah pergumulan khas komunitas Kristen, yaitu orang-orang yang mendapat sapaan intim dari Sang Pencipta. Ini pertanyaan untuk kita. Di dalam konteks inilah, Cur Deus Homo sejak awal memang tidak diarahkan kepada mereka yang tidak percaya, apa lagi sekadar untuk memuaskan dahaga intelektual mereka.

Secara doktrinal, banyak usaha telah dilakukan dalam konteks teologis dan filosofis untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini. Solusi yang ditawarkan Anselmus (bahwa iman akan menuntun kepada pengertian) sudah lama berlalu dan tidak membuahkan hasil yang manis, bahkan masih menyisakan pertanyaan. Cur Deus Homo adalah suatu pertanyaan yang menuntut respons, ketimbang jawaban. “Mengapa Allah mengambil rupa manusia” bukanlah pertanyaan yang mengetuk pintu kognitif, melainkan menggedor-gedor gerbang hati yang berkarat.

Secara teologis, Cur Deus Homo dipahami sebagai pertanyaan batiniah manusia, yang merupakan respons terhadap panggilan dan tindakan Allah yang menantang, karena Ia telah mengutus Putra-Nya ke dalam dunia. Tindakan Allah ini menuntut suatu respons yang penting, sehingga inti dari permasalahannya bukan terletak pada pertanyaan “Bagaimana?” melainkan “Mengapa?” dalam keperluan ontologis dan apriori. Aku percaya, filsafat analitis menyediakan beberapa titik terang bagi kita untuk memahami kata “Mengapa” dalam pertanyaan ini.

Kata “Mengapa” biasanya mengandung dua aspek umum, yaitu kepedulian pragmatis dan keperluan ontologis (mencari hakikat). Menerapkan orientasi pemikiran yang terarah pada pertanyaan teologis tentang Cur Deus Homo, sadar atau tidak sadar, kita selalu memusatkan perhatian kepada orang yang bertanya. Dalam hal ini, pertanyaan teologis menjadi pertanyaan antropologis, sehingga doktrin Kristen hanya akan melayani minat para pemercaya dan pertanyaan-pertanyaan mereka.

Sang Putra menjadi manusia dan berdiam di antara manusia karena kemauan Bapa-Nya (Yohanes 20:21). Tuntutan Allah adalah menghukum manusia berdosa, karena upah dosa adalah maut (Roma. 6:23), tetapi Dia rela mengutus Putra-Nya menggantikan manusia untuk menerima hukuman. Singkatnya, dalam drama ini Yesus Kristus harus memenuhi dua persyaratan sebagai Pengganti (penebus manusia berdosa): Pertama, Ia adalah manusia; Kedua, Ia tidak berdosa. Dan Ia memenuhinya.

Penjelasan di atas cukup memadai, namun pertanyaan “Mengapa Allah-manusia?” tahun demi tahun akan terus mewarnai hati orang percaya. Orang Kristiani yang rata-rata tidak akan menanyakannya, hanya yang bergumul serius dengan imannya yang melakukannya. Orang Kristiani sejati berkomitmen penuh menerima kedatangan-Nya sebagai Mesias dan Anak Allah, Raja di atas segala raja, dan selalu mengingat “Kita hidup oleh iman kepada Putra Allah yang mengasihi kita dan memberikan diri-Nya bagi kita.” (Galatia 2:20).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Lepaskan Khawatirmu Supaya Kamu Mendapat Kedamaian

Naluri alamiahku ketika menghadapi kabar buruk adalah khawatir, over-thinking, dan panik. Tidakkah aku berdoa? Ya, aku berdoa. Tapi, doa yang kunaikkan bukan berasal dari hati, itu doa yang didasari putus asa dan kesuraman.

Menjadi Sahabat Bagi Semua Orang

Oleh Still Ricardo Peea, Tangerang

Natal sudah berlalu, namun beberapa waktu belakangan, tema Natal “Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang” terus terngiang-ngiang di benakku. Tema itu terdengar baik, tapi sekaligus juga seperti utopis bagiku. Pikiranku pun merespons:

“Sepertinya tema itu cuma bisa jadi wacana deh, sulit untuk diwujudkan.”

“Memangnya semua orang bisa ngertiin aku?”

“Hmm, bisa sih jadi sahabat, tapi nggak ke semua orang juga.”

Mungkin kamu pun merespons hal yang sama ketika membaca tema tersebut. Namun, saat aku merenungkannya baik-baik, makna dari tema itu menamparku. Selama ini aku memilih-milih dengan siapa aku ingin menjadi sahabat. Kepada orang yang kuanggap tidak membuatku nyaman, atau yang tidak terima dengan ‘standar’ persahabatanku, cukup jadi teman atau sekadar kenal saja deh. Itu cukup buatku.

Namun, ketika aku melihat kembali isi Alkitab, aku mendapati Tuhan memanggil kita untuk menjadi sahabat. Amsal 17:17 berkata, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Ayat tersebut bukan sekadar ungkapan kata, karena tanpa kita sadari Allah sudah melakukannya terlebih dulu buat kita. Ketika kita masih berdosa, Allah dalam rupa Yesus hadir ke dunia, memberikan nyawa-Nya untuk kita. Itulah kasih yang teramat besar (Yohanes 15:13).

Sahabat sejati tidak meletakkan standar persahabatannya pada syarat-syarat yang ditetapkannya untuk keuntungan pribadinya. Amsal tidak mengatakan agar kita bersahabat dan menaruh kasih kepada orang-orang yang membuat kita nyaman, atau yang sesuai dengan kriteria kita. Amsal memanggil kita untuk menjadi sahabat, atau bersikap selayaknya sahabat untuk siapa pun. Standarnya adalah “kasih”, bukan kenyamanan kita pribadi.

Aku pun membayangkan. Betapa mengerikannya jika Yesus menerapkan standar sesuai dengan standar-standar manusia atau seperti standar kenyamanan yang kita terapkan. Jika demikian, tentu Yesus takkan bersedia untuk menderita sejak lahir, mengalami kesepian, disiksa dan mati di salib. Syukur kepada Allah karena standar yang Yesus gunakan bukanlah standar manusia. Standar yang Yesus kenakan adalah kasih, sebab Dia sendiri adalah kasih.

Yesus menanggalkan keilahian-Nya, rela mengenakan tubuh manusia yang rentan dan rapuh karena kasih-Nya bagi kita. Dia pun bersedia menjadi sahabat bagi para penyamun, pelacur, pemungut cukai, janda, anak-anak, orang tua, dan orang-orang yang terpinggirkan karena kasih-Nya.

Tidak ada keuntungan diri sendiri yang dicari Yesus ketika Dia menjadi sahabat bagi kita. Malah, Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan bagi orang-orang yang tidak layak, seperti aku dan kamu, dan semua orang di dunia ini.

Jauh berbeda seperti standarku yang memilih-milih orang, Yesus tidak memilih-milih. Kasih-Nya diberikan-Nya kepada semua orang. Pengorbanan-Nya dilakukan-Nya supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan pengampunan dari Bapa dan beroleh keselamatan, sebab kita sendiri tak mampu menyelamatkan diri kita.

Teladan Yesus tersebut menggambarkan betapa indahnya persahabatan yang tidak didasari pada standar lahiriah semata. Standar lahiriah, atau standar manusia yang kita terapkan bisa berubah kapan pun. Ketika kita disakiti, mungkin kita bisa kecewa dan balik membenci kawan kita. Namun, Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, hari ini, dan selama-lamanya (Ibrani 13:8).

Meski terkesan sulit, namun aku berdoa agar menjadi sahabat bagi semua orang menjadi resolusiku di tahun ini pula. Tuhan telah menunjukkan teladan yang terbaik. Dia menagajak dan memanggil kita untuk melakukan-Nya, untuk menjadi sahabat bagi orang-orang yang kita jumpai.

Baca Juga:

Tuhan, Kapan Aku Harus Memulai?

Mengawali tahun 2020, aku diingatkan tentang beberapa ide dan mimpi yang sudah cukup lama aku tunda. Cukup lama terkubur karena kesibukan, akhirnya muncul pertanyaan ini dalam doaku, “Tuhan, kapan aku harus memulai?”

Ketika Perayaan Natal Telah Usai

Oleh Marlena V.Lee, Jakarta

Hari Natal, 25 Desember, baru saja selesai. Semua kemeriahan, dekorasi, dan pernak-pernik sebentar lagi akan diturunkan. Bukan hanya di mal, tapi di gereja dan di rumah juga, secantik apa pun segala hiasan itu, semuanya akan disimpan kembali. Begitu pula dengan lagu-lagu, khotbah-khotbah, atau cerita-cerita yang akan berganti membahas tema-tema lainnya.

Setiap tahunnya kita mengalami dan menikmati siklus ini. Ketika Natal datang, atmosfer sukacita dan kedamaian membalut kita. Aku pun selalu menikmati momen-momen Natal, hingga suatu ketika di tahun lalu, ada sebuah pemikiran menghampiriku:

Apakah dengan berlalunya Natal berarti Natal sudah berakhir?

Ya, jika kita melihat pada nuansa kemeriahannya: pohon cemara, bintang berwarna emas, kado-kado berbungkus cantik, sinterklas berjanggut putih, rusa-rusa hidung merah, palungan, lengkap dengan Yusuf dan Maria, tiga orang Majus, gembala, bintang-bintang, dan para malaikat; atau, jika kita hanya berfokus pada apa yang terjadi di hari Natal, pada saat malaikat datang kepada Maria dengan membawa pesan, pada gembala-gembala di padang rumput, dan pada perjalanan jauh orang Majus… Natal memang sudah berlalu.

Namun, sekali lagi, apakah Natal benar-benar sudah berakhir?

Sekarang, aku mengajakmu untuk menggeser sedikit sudut pandang kita. Tanggalkan segala imaji akan hiasan dan peristiwa kronologis yang terjadi di hari Natal. Mulailah memikirkan mengapa semua itu terjadi.

Apa yang sejatinya kita rayakan setiap tahunnya? Kelahiran seorang bayi? Atau alasan mengapa bayi tersebut dilahirkan ke dunia?

Setidaknya, dua ayat firman Tuhan ini memberikan kita jawabannya:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).

Ya, melalui peristiwa Natal, Allah ingin agar kita memperoleh keselamatan, untuk kelak tinggal bersama dengan-Nya di surga. Allah juga ingin memberikan pemulihan, jaminan, dan pemeliharaan bagi hidup kita. Tuhan tidak hanya peduli akan urusan kekekalan, tetapi juga bagaimana kita menjalani kehidupan selama kita berada di dunia. Itulah sebabnya, Yesus yang dilahirkan pada hari Natal disebut pula sebagai Imanuel—Allah menyertai kita (Matius 1:23).

Temanku, kita boleh saja tenggelam dalam kemeriahan dan sukacita sebuah perayaan, tetapi hendaknya kita tidak melupakan apa yang sesungguhnya kita rayakan. Kalau saja kita mengingat alasan di balik peristiwa kelahiran Tuhan Yesus, damai dan sukacita Natal seharusnya tak akan pernah beranjak dari hati kita. Sepanjang tahun. Sepanjang hari. Seumur hidup kita.

25 Desember boleh berganti di kalender. Namun sesungguhnya, sejak bayi Yesus dibaringkan dalam palungan dua ribu tahun silam, Natal tidak pernah berhenti. Peristiwa kelahiran-Nya hanyalah permulaan. Sejak saat itu, sampai sekarang, dan sampai akhir zaman nanti, Tuhan tidak akan pernah berhenti melanjutkan karya-Nya untuk memberikan keselamatan kepada tiap-tiap orang.

Natal bukanlah sebuah momen penanda akhir tahun yang akan kita nantikan kembali di tahun berikutnya. Natal adalah sebuah pesan ilahi yang terus-menerus memberikan kita harapan.

Baca Juga:

Sidang di Hari Natal, Ini Perjalananku Bersama Tuhan

Aku tidak pernah berpikir hari Natal menjadi hari sidangku. Dua puluh empat tahun aku hidup dan merasakan Natal yang penuh sukacita, tapi Natal tahun 2018 menjadi Natal yang rumit, sulit kuungkapkan dengan kata-kata bagaimana perasaanku saat itu. Sukacita, tapi rasanya lebih banyak ketakutannya.

Sidang di Hari Natal, Ini Perjalananku Bersama Tuhan

Oleh Vina Agustina Gultom, Bekasi

Jika hari Natal adalah hari yang dipenuhi syukur dan sukacita, pernah ada satu masa bagiku di mana Natal menjadi hari yang menakutkan, hari yang menentukan lulus atau tidaknya aku.

Tepat setahun lalu, 25 Desember 2018, Tuhan menganugerahkan hari Natal sebagai hari penentuan lulus tidaknya pendidikan S-2ku. Aku tidak pernah berpikir hari Natal menjadi hari sidangku. Dua puluh empat tahun aku hidup dan merasakan Natal yang penuh sukacita, tapi Natal tahun 2018 menjadi Natal yang rumit, sulit kuungkapkan dengan kata-kata bagaimana perasaanku saat itu. Sukacita, tapi rasanya lebih banyak ketakutannya.

Tepat di bulan Oktober, aku dan profesorku sepakat supaya sidangku bisa diselenggarakan pada tanggal 18 Desember 2018. Profesorku tahu kalau aku orang Kristen dan beliau ingin aku bisa bahagia dan lega sebelum aku merayakan Natal. Aku bersyukur memiliki profesor seperti beliau yang selalu menghargaiku meskipun dia bukanlah orang Kristen. Sebulan berlalu, aku merasa menulis tesis tidak semudah yang kurencanakan. Aku berdoa, memohon Tuhan supaya sidangku bisa mundur dari kesepakatan awal.

Pertengahan November biasanya aku selalu bersukacita karena Natal semakin dekat. Namun, saat itu aku hanya bisa berpikir kalau sidangku sudah semakin dekat. Bukannya semangat, aku malah menyalahkan diri. Kenapa aku tidak bisa menyelesaikan tesisku lebih cepat? Lebih parahnya, aku malah menyalahkan kondisi, kenapa waktu cepat sekali berjalan.

Tanggal 19 November 2018, waktunya aku mengirim email kepada dua dosen pengujiku untuk menanyakan kepada mereka, apakah mereka bisa mengujiku pada tanggal 18 Desember. Satu pengujiku menjawab bisa dan satunya lagi tidak. Aku bahagia ketika salah satu pengujiku tidak bisa pada tanggal 18. Bibirku sontak berkata, “Terima kasih Tuhan.” Aku langsung mengabari profesorku bahwa salah satu penguji tidak bisa hadir pada tanggal 18. Alhasil, profesor memintaku untuk menanyakan kapan penguji tersebut bisa mengujiku.

“25 Desember”, jawabnya.

Email itu kuterima tanggal 27 November. Beliau bersedia mengujiku pada hari Natal pukul 10.00. Membaca itu, aku sangat senang karena sidangku benar-benar mundur. Namun, profesorku kaget dan bertanya. “Apa kamu yakin mau sidang saat Natal?”

“Ya, Prof,” bibirku refleks menjawab.

Beberapa menit setelah jawaban itu terlontar, perasaanku berubah dan aku merenung. “Iya ya, sidangku bakalan di hari Natal. Di saat semua orang Kristen pergi ke gereja dengan sukacita, aku malah harus ke ruang sidang sendirian dengan ketakutan luar biasa.”

Hari terus berganti. H-21, H-14, H-7, sampai akhirnya H-1, air mataku terus mengalir, jantungku terasa berdetak lebih cepat dan tubuhku terasa sangat lelah. Aku ingat, suatu ketika air mataku menetes karena aku memaksa diri begadang. Klimaksnya terjadi pada H-7 di saat aku hanya tidur 3 jam karena berlatih sidang berturut-turut di depan profesor, asisten profesor, juga teman-teman labku.

Jiwaku seperti tidak memiliki Allah

Aku selalu membiarkan diriku hanyut akan ketakutan dan kelelahanku daripada menyadari bahwa aku punya Allah yang berkuasa. Namun, dengan kuasa-Nya, Roh Kudus yang diam dalamku mengingatkanku akan firman Tuhan yang pernah ditabur.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16).

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihat, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibrani 10:25).

Aku sangat bersyukur dengan dua benih firman ini. Di tengah waktuku yang terbatas, Tuhan mengingatkanku untuk terus berjuang mengikuti dan menikmati setiap pertemuan komunitas yang dianugerahkan-Nya kepadaku. Mulai dari kelompok tumbuh bersama dengan sesama pelajar Indonesia, sampai ibadah gereja. Aku benar-benar dibentuk untuk tidak egois dengan pengejaranku semata, yaitu hanya berfokus kepada tesisku dan menjauhkan diri dari persekutuan yang ada. Melalui persekutuan ini, selain firman Tuhan yang kudapat, perhatian dan kehadiran teman-temanku seperti pupuk yang tidak hanya menumbuhkan benih firman, tapi juga menumbuhkan kesehatan jasmani yang hampir tak pernah kuperhatikan karena mengejar tesis.

Di hari Natal ini, yang juga bertepatang dengan satu tahun peringatan sidangku, aku tetap menikmati pertumbuhan dari Tuhan lewat firman-Nya yang penuh kuasa. Dia benar-benar Allah yang setia. Kesetiaan-Nya tak hanya berhenti di satu titik kehidupanku, tetapi juga terus mengiringiku melewat titik-titik kehidupanku berikutya. Tuhan menjadi bunga di dalam duri ketakutanku dan Dia juga menjadi buah manis, tidak hanya di saat sidang sampai proses revisiku selesai, tapi juga sampai detik ini ketika aku bisa mendapatkan pekerjaan.

Tuhanlah satu-satunya Pribadi yang selalu berhasrat untuk menabur dan memberi pertumbuhan. Namun, harus ada orang yang bersedia menjadi tempat benih itu bertumbuh, yaitu hatiku dan juga hatimu.

Doaku, kiranya di Natal tahun ini, kita tidak lagi menjadikan Natal sebagai formalitas perayaan semata, pergi ke gereja-gereja untuk mengikuti ibadah perayaan. Biarlah lewat Natal tahun ini, hasrat Tuhan yang besar bisa kita rasakan bersama-sama, sehingga damai sejahtera kelahiran-Nya benar-benar hidup di dalam hati kita.

Selamat hari Natal! Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga:

Natal adalah Pengorbanan dan Pembaharuan Diri

“Lip, pernah nggak kepikiran, kenapa kalau jelang Natal orang sibuk mendandani pohon Natal?” ucap temanku memecah senyap.

Natal adalah Pengorbanan dan Pembaharuan Diri

Oleh Olive Bendon

Hujan yang baru saja datang, memaksaku kembali duduk lesehan di teras gereja. Desember, bulan di penghujung tahun yang sering basah. Bulan sibuk bagi umat Kristiani menyambut Natal dengan beragam kegiatan yang sering jadi boomerang bagiku, kamu, dan dia yang kebersamaannya dengan orang–orang dekat tersita karena kegiatan bertumpuk–tumpuk yang mungkin (sengaja) diborong. Serupa malam itu, ketika keriuhan di gereja sendiri usai, kuikuti langkah kawan untuk melihat persiapan Natal di gerejanya. Tawaran secangkir teh panas dari ibu pengurus gereja untuk menghangatkan badan tentu saja tak kutampik.

Kami—aku dan Titi, serta beberapa pemuda di gereja tersebut—ngariung menghadap pohon pinus di samping gerbang gereja yang disulap menjadi pohon terang, dihiasi lampu berwarna–warni. Keberadaannya mengingatkanku pada satu hari menjelang Natal 13 tahun lalu, ketika ayah meminta kami, anak–anaknya untuk pulang dan merayakan Natal di rumah. Dua minggu sebelum Natal, ayah kena serangan jantung, dan harus “pulang” sebelum anak–anaknya pulang ke rumah. Saat berkumpul di hari Natal itu tak pernah mewujud, karena tenyata Tuhan telah menyiapkan hari berkumpul lebih awal dalam suasana yang berbeda. Keadaan yang dulu membuatku kesal kenapa Tuhan menjadikan hari berkabung di saat kami merencanakan hari sukacita?

Lip, pernah nggak kepikiran, kenapa kalau jelang Natal orang sibuk mendandani pohon natal? Tanya Titi memecah senyap.

Pertanyaan sederhana yang memotong ingatanku pada hari yang telah mengubah pemahamanku akan arti kehadiran Tuhan di dalam kehidupan ini. Pertanyaan yang mengingatkanku pada benturan di grup WhatsApp paduan suara gereja beberapa hari lalu karena perkara foto diri seorang kawan untuk ID Card kegiatan Natal tak sesuai dengan keinginannya. Dia minta gambar dirinya diganti. Sayang, dirinya lupa, dia hanya fokus memandangi gambar dirinya sendiri. Sedangkan yang mengerjakan pemotretan, pengumpulan hingga editing gambar dirinya dan 50 orang lainnya; satu orang saja.

Meski menyebut diri pelayanan tapi kita sering lupa, sebenarnya pelayanan kita hanya sebatas sebagai aktifis BUKAN melayani. Pelayan itu berarti berada di posisi terendah, bahkan diinjak–injak! Namun, ego sering membuat kita lebih fokus mendandani diri kita sendiri secara fisik. Senangnya komplain dengan mengedepankan keinginan diri. Tidak mau berkorban dan mengambil tanggung jawab. Padahal, jika kita mau membaca dan memahami lebih dalam makna dari kelahiran Kristus, sejatinya Natal adalah pengorbanan!

Kok bisa? Pertanyaan yang sama terlintas di pikiranku ketika mendengar khotbah di satu ibadah sore menjelang Natal beberapa waktu lalu. Setidaknya 4 (empat) pribadi berikutlah yang berkorban untuk natal:

  1. Maria: ia rela dan siap untuk difitnah karena hamil di luar nikah, namun Tuhan menetapkannya menjadi perempuan terpilih untuk melahirkan Putra Tunggal-Nya [Lukas 1:38]
  2. Yusuf: ia mau bertanggung jawab meski anak yang dikandung Maria tunangannya, bukan dari benihnya [Matius 1:24-25]
  3. Tuhan: karena begitu besar kasih-Nya akan dunia yang penuh dosa DIA rela memberikan Putra Tunggal-Nya turun takhta, berdiam di antara manusia bahkan rela disiksa memberikan nyawa-Nya agar manusia yang berdosa diselamatkan [Yohanes 3:16-17]
  4. Kita: siap atau tidak menerima segala konsekuensi menjadi anak Tuhan? [Efesus 5:1-2,8]

Selain pengorbanan, bagiku, Natal adalah pembaharuan! Saat komitmen kembali dieratkan, saat langkah tetap konsisten meski jalan yang dilalui tak selalu rata. Natal adalah saat pundak disorongkan menjadi sandaran bagi yang membutuhkan penyemangat, Natal adalah Kasih.

Sayangnya, sering kita terlalu sibuk dengan ini itu demi mempersiapkan hari untuk merayakan kelahiran-Nya lalu lupa menata hati juga melupakan yang utama, DIA yang lahir untuk kita. Kita terlalu sibuk mendekorasi pohon Natal, menghiasinya dengan lampu kelap–kelip. Lupa, lampu yang berkelap–kelip itu pun berkorban untuk menerangi kegelapan, bukan menerangi dirinya sendiri.

Sudahkah kita melakukan hal–hal baik yang Tuhan inginkan dalam hidup kita dan menjadi terang bagi sekeliling kita? Selamat Natal dan semangat menyongsong Tahun Baru.

Baca Juga:

Bolehkah Orang Kristen Merayakan Natal?

Sebagai orang Kristen, haruskah kita bersikap menentang terhadap segala nuansa Natal yang mungkin tidak berhubungan dengan Natal?

Bolehkah Orang Kristen Merayakan Natal?

Oleh Deborah Fox, Australia
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Hang On, Should Christians Be Celebrating Christmas?

Aku tidak tahu bagaimana kamu memandang Natal, namun bagiku sendiri, aku sering memandang Natal dari dekorasi yang meriah, lampu-lampu yang berkelap-kelip, toko-toko yang dibanjiri pengunjung dan membayangkan bagaimana aku bisa ikut serta dalam segala kemeriahan itu. Sebagai orang Kristen, haruskah kita bersikap menentang terhadap segala nuansa Natal yang mungkin tidak berhubungan dengan Natal?

Pengalamanku beberapa tahun lalu membuatku memikirkan pertanyaan itu dengan serius.

Aku sedang membaca buku dengan serius ketika dua pasang mata menatapku tajam. Waktu itu aku berada di rumah sakit, menanti hasil tes laboratorium dan sama sekali tidak berharap untuk mendiskusikan hal-hal yang berat tentang teologi.

Buku yang kubaca ditulis oleh John Piper dengan judul Meditations of a Christian Hedonist. Buku ini tidak dimaksudkan untuk mendukung pikiran-pikiran berdosa, melainkan sebuah buku cetakan ulang dari seri terlaris Desiring God yang bahasan utamanya adalah, “Tuhan paling dimuliakan dalam ketika kita kita merasa puas di dalam-Nya”.

Dua wanita yang duduk di seberangku bercerita tentang iman mereka dan kita berdiskusi tentang bahayanya mengikuti keinginan hati kita sendiri alih-alih menyenangkan hati Tuhan. Namun, diskusi itu dengan cepat berubah jadi membahas tentang ulang tahun, Natal, dan Paskah. Mereka mempermasalahkan betapa mudahnya hari libur agamawi kehilangan makna aslinya.

Di saat aku setuju dengan pandangan mereka tentang berubahnya makna hari-hari keagamaan, ternyata yang mereka permasalahkan dari perayaan Natal bukanlah tentang hadiah dan selebrasi yang berlebihan, melainkan objek yang dirayakan.

Aku baru menyadari kalau dua perempuan itu berasal dari sekte Kristen yang menolak doktrin tentang Allah Tritunggal sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Meskipun mereka percaya otoritas Alkitab dan Yesus yang disalibkan, mereka tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan. Bagi mereka, Yesus hanya orang istimewa, tapi bukan inkarnasi Allah. Mereka pun bertanya: “Mengapa kamu merayakan kelahiran seseorang yang hidup dan mati lebih dari 2000 tahun lalu?”

Menariknya, respons mereka menolongku untuk menyelidiki apa yang sejatinya istimewa tentang Natal bagi kita, orang percaya. Kita tidak sekadar merayakan kelahiran manusia biasa, kita merayakan sebuah fakta bahwa Yesus—tak seperti manusia lainnya—mengalami kehidupan, kematian fisik, dan mengalahkan maut. Tidakkah itu berharga untuk dirayakan?

Berbicara mengenai perayaan, Yesus sendiri pun berpartisipasi di banyak perayaan Yahudi. Mukjizat-Nya yang pertama terjadi di pesta perkawinan di Kana (Yohanes 2:1-12). Yesus juga menghadiri jamuan makan malam Matius, di mana para pendosa datang kepada-Nya dan hidup mereka pun diubahkan (Matius 9:9-13). Dan, di Wahyu 19:6-9, kita mendapatkan sekilas gambaran mengenai perjamuan kawin Anak Domba, di mana seluruh kerajaan Allah diundang untuk berpartisipasi dalam perayaan, bersukacita menyembah Tuhan selamanya. Jika Yesus dapat menikmati perayaan bersama kerabat-kerabat-Nya, betapa kita juga tidak bersukacita dan merayakan pemberian terbesar yang telah diberikan-Nya bagi kita?

Jadi, dapatkah orang Kristen merayakan Natal? Jawabannya, kita bisa, selama kita berfokus kepada esensi utama dari iman kita: Kristus. Aku ditantang untuk mundur selangkah dan merenungkan apakah aku sudah menghargai Kristus di Natal kali ini? Apakah aku menempatkan Kristus sebagai pusatku? Aku perlu memikirkan cara-cara perayaan yang dapat mengingatkanku bahwa Allah itu Imanuel, selalu beserta kita. Aku perlu membagikan kisah imanku dan Natal adalah waktu yang baik untuk memulai diskusi tentang Yesus yang adalah hadiah terbesar yang kita pernah terima.

Tahun ini, aku memutuskan untuk mengundang teman-temanku ikut ibadah Malam Natal di gerejaku. Aku juga merencanakan acara mengobrol di Christmas Dinner untukku membagikan kisah tentang harapan dan sukacitaku dalam Kristus. Ada juga beberapa acara outreach yang bisa kuikuti untuk membagikan kabar baik tentang Kristus.

Jika “Tuhan paling dimuliakan dalam ketika kita kita merasa puas di dalam-Nya”, maka kita seharusnya menunjukkan sukacita yang besar kepada orang-orang di sekitar kita. Kita bisa merayakan Natal dengan merayakan Kristus.

Baca Juga:

Bagian Natal yang Terhilang

Mungkin Natal yang kita dambakan adalah Natal yang penuh dengan kado, barang-barang baru, perayaan yang meriah, dan kumpul bersama sanak saudara. Hal tersebut tidaklah sepenuhnya salah, namun bagaimana jika yang kita inginkan tersebut ternyata tidak kita dapatkan? Apakah Natal hanya dapat dinikmati oleh mereka yang keinginannya dikabulkan?

Bagian Natal yang Terhilang

Oleh Cornelius Ferian Ardiano, Jakarta

Tidak terasa, hari Natal di tanggal 25 Desember tinggal sebentar lagi. Persiapan apa sajakah yang sudah kamu lakukan untuk menyambut hari Natal tersebut?

Mungkin Natal yang kita dambakan adalah Natal yang penuh dengan kado, barang-barang baru, perayaan yang meriah, dan kumpul bersama sanak saudara. Hal tersebut tidaklah sepenuhnya salah, namun bagaimana jika yang kita inginkan tersebut ternyata tidak kita dapatkan? Apakah Natal hanya dapat dinikmati oleh mereka yang keinginannya dikabulkan?

Kedatangan Yesus Kristus ke dunia sudah dinubuatkan sejak dalam Perjanjian Lama. Nubuatan tentang kedatangan-Nya ditulis kebanyakan di kitab Yesaya dan Zakharia dan penggenapannya ditulis dalam Injil Matius.

Menjelang hari Natal yang kian mendekat, aku ingin mengajak kita semua untuk merenungan kembali peristiwa Natal pertama. Injil Lukas pasal kedua ayat 6 dan 7 menggambarkan sekilas situasi kelahiran Yesus. Bayi Yesus dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan sebab tidak ada tempat penginapan bagi mereka. Kisah Natal ini mungkin sudah kita ketahui dengan jelas sejak dari sekolah Minggu, namun kisah ini sejatinya begitu menarik untuk kita telaah lebih dalam.

Kelahiran Kristus pada waktu itu tidak menggambarkan sesuatu yang kesannya begitu istimewa. Bahkan, bisa dibilang kelahiran Kristus itu sungguh berbeda dari kelahiran “orang besar” pada umumnya. Yesus yang disebut sebagai “anak Raja” nyatanya tidak lahir dalam istana atau tempat yang mewah, Dia malah dilahirkan di sebuah kandang domba, suatu tempat yang tidak layak untuk dilakukan proses persalinan. Namun, tempat kelahiran-Nya tidak menghapus status-Nya sebagai Raja. Alkitab mencatat orang-orang Majus dari Timur datang menemui Sang Juruselamat.

Dari perikop singkat tersebut, aku merenungkan: ketika Mesias lahir, Dia tidak memberikan kegemerlapan duniawi kepada orang-orang yang menantikan-Nya. Padahal, mungkin saja orang-orang pada saat itu berpikir jika seorang anak raja lahir, pastilah akan dirayakan semeriah mungkin. Namun, dalam kesederhanaanlah Yesus memilih untuk dilahirkan. Yesus lahir dan datang ke dunia bukan hanya untuk menyelamatkan golongan tertentu, Yesus datang supaya setiap orang, termasuk kita dapat menerima keselamatan dan pengharapan yang baru.

Meskipun kabar kebenaran ini sering didengungkan, baik dalam khotbah maupun tulisan seperti ini, mungkin kita masih sering salah fokus dalam memakani perayaan Natal. Kita tahu pesan kebenarannya, tetapi sikap hati kita melenceng dari situ. Kita menaruh pikiran mengenai hal-hal lahiriah apakah yang bisa menjadikan Natal lebih berkesan, tetapi lupa bahwa poin utama perayaan Natal adalah Kristus, bukan acara maupun selebrasi.

Jika kita memiliki pemahaman yang benar tentang Natal dan menghidupinya dalam pikiran kita, maka kita tidak akan terintimidasi dengan segala usaha untuk mencapai “kesempurnaan” Natal seperti yang dunia lakukan. Mungkin hari ini ada di antara kita yang kecewa dengan diri sendiri, orang tua, dan teman-teman yang tidak melengkapi atau bahkan menghilangkan sukacita Natal kita. Namun, yuk, aku mengajakmu untuk bangkit. Aku pernah kehilangan sukacita Natalku karena aku berfokus hanya pada kebiasaan soal apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan saat Natal. Hari ini, marilah kita memberi hati untuk semakin mengenal-Nya. Bagian terpenting dari semua perayaan Natal adalah Kristus sendiri dan bagaimana sikap hati kita. Sudahkah kita mengucap syukur atas apa yang Tuhan telah berikan, dan apakah kita memiliki pengharapan baru di Natal kali ini?

Hosea 6:6 menuliskan demikian, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada korban-korban bakaran.”

Melakukan persiapan Natal, membeli barang-barang yang diperlukan sama sekali tidak salah ya, kawanku. Aku yakin ketika kita semua mempersiapkan Natal dengan baik, itu menunjukkan penghargaan kita pada momen Natal yang kita nanti-nantikan. Namun, lebih daripada itu semua, kita perlu mengingat bahwa Tuhan melihat hati kita dalam merayakan kelahiran-Nya.

Apa pun kondisimu saat ini, janganlah sampai kehilangan sukacita Natal. Yesus datang ke dunia untuk memberikan sukacita itu kepadamu, sukacita yang teguh yang tak tergoyahkan oleh keadaan apa pun.

Selamat menikmati dan menghayati momen Natal. Damai sejahtera Tuhan selalu bersamamu!

“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).

Baca Juga:

Yang Kuinginkan Untuk Natal Hanyalah…

Emosiku memuncak ketika rekanku dengan isengnya memberi kado yang tidak layak. Namun, kemarahan itu membuatku jadi bertanya, “Apa yang sesungguhnya aku inginkan dari Natal?”

Yang Kuinginkan Untuk Natal Hanyalah…

Oleh Jefferson, Singapura

Gambar meme “Namaku Jeff” yang menyembul di antara tumpukan kado seolah-olah memang diletakkan demikian untuk menarik perhatianku. Di komisi remaja, kami memang sedang mengadakan pertukaran kado untuk merayakan Natal, tapi tidak kusangka pemberi kadoku memutuskan untuk mengemas hadiahnya sejelas itu. Melirik ke para remaja yang kumuridkan dan pemuda-pemudi lain yang melayani di komisi remaja, daftar tersangka pemberi kadoku langsung mengerucut ke beberapa nama.

Waktu membuka kado pun tiba. Jantungku berdebar penuh antusiasme. Si pemberi kado dengan cerdik membungkus kadonya dengan beberapa lapis koran. Rasa ingin tahuku semakin menjadi-jadi. Ia pasti memilih kado yang sangat cocok untukku! Lapisan demi lapisan kertas bungkusan kubuka hingga tiba pada isi kadonya.

Seketika aku tertegun.

Aku memelototi benda yang seharusnya adalah hadiah untukku. Dan, bukan hanya aku saja, satu ruangan nampaknya ikutan sunyi senyap, menunggu dan memperhatikan dengan saksama apa yang akan menjadi reaksiku terhadap “kado” yang kupegang. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Aku seperti menemukan granat tangan yang setelah kuperiksa lebih lanjut, ternyata sudah kehilangan pin pengamannya. Tentu saja bom itu meledak beberapa detik kemudian. Tapi bukan hadiahnya; aku yang meledak dalam murka putih-panas.

“APA-APAAN INI?! MEMANGNYA INI SEBUAH LELUCON?!”

Seperti korban ledakan bom yang setengah sadar setelah bom itu meledak, aku hanya dapat mengingat sekelebat dari apa yang terjadi setelahnya. Aku berusaha mengendalikan amarah semampuku sambil meletakkan “hadiah” itu sejauh mungkin dariku. Beberapa orang mencoba menghibur. Aku mengingat para remaja dan pemuda-pemudi lainnya mendapatkan hadiah yang layak. Wajah mereka terlihat gembira sementara aku hanya duduk di bangku, memasang senyuman terpaksa di tengah-tengah badai yang berkecamuk hebat di dalam hatiku.

Sambil menyaksikan yang lain membuka kado, mendadak ada suara yang berbisik dalam hatiku, “Apa yang sesungguhnya kamu inginkan dari Natal?”

Pertanyaan itu mengusikku selama beberapa waktu, bahkan setelah pemberi kadoku yang usil meminta maaf kepadaku dengan sungguh-sungguh, bahkan setelah aku mengampuninya dengan penuh, bahkan setelah aku menerima kado pengganti darinya, bahkan setelah aku melewati beberapa acara tukar kado berikutnya. Usikan itu baru berhenti ketika aku menemukan jawabannya dari tempat yang paling tidak kuduga: acara Natal Sekolah Minggu yang turut kupersiapkan sebagai salah satu panitia.

“Apa yang sesungguhnya kamu inginkan dari Natal?”

Di tahun-tahun sebelumnya, adalah drama yang diperankan oleh guru-guru yang membedakan acara Natal Sekolah Minggu dengan pelajaran biasa, entah dalam bentuk cerita kelahiran Yesus, adaptasi buku cerita anak, atau percakapan dengan seorang anak gembala. Tapi, tidak ada drama tahun ini. Oleh karena keterbatasan waktu dan pelayan, panitia memutuskan untuk mengadakan acara Natal yang sederhana namun bermakna. Berangkat dari senandung lagu “All I Want for Christmas is You” setelah sekitar dua jam mendiskusikan tema tanpa hasil, kami di tim panitia menyadari bahwa judul lagu itu dapat menjadi pelajaran yang baik bagi anak-anak.

“Apa yang kamu inginkan untuk Natal?” Dunia mengajarkan anak-anak (dan juga kita) untuk mengharapkan hadiah yang bagus, santapan yang mewah, serta perjalanan liburan yang menyenangkan untuk Natal. Semuanya itu baik, tapi tidak menggambarkan makna Natal dengan utuh. Di balik segala gemerlap gemilang Natal adalah kedatangan pertama yang sederhana daripada Yesus Kristus, sang Tuhan dan Juruselamat, untuk memberikan diri-Nya sendiri sebagai korban penebusan atas manusia berdosa. Dibandingkan dengan Tuhan Yesus, kado, makanan, maupun liburan kehilangan daya tariknya. Tidak ada hadiah yang lebih baik dan berharga daripada Tuhan Yesus. Berangkat dari perenungan ini, kami di tim panitia ingin anak-anak Sekolah Minggu pertama-tama dan terutama menginginkan sang Pemberi dan Sumber dari segala berkat yang mereka akan terima di masa Natal ini.

Di saat yang sama, kami memahami konteks Singapura, “kota ke mana [kami Tuhan] buang” (Yeremia 29:7) yang aman dan nyaman serta dapat membatasi pemahaman anak-anak terhadap tema di atas. Bagaimana mereka dapat mengerti betapa berharga dan menakjubkannya kedatangan pertama Tuhan Yesus kalau mereka terus diimingi-imingi dengan hal lain sebagai makna utama dari Natal? Dalam rahmat Tuhan, kami mengantisipasinya dengan menunjukkan kepada anak-anak realita penganiayaan terhadap orang Kristen di belahan bumi lain di mana Injil Kristus dilarang dibagikan. Anggota-anggota tubuh Kristus yang lain ini memahami dengan jelas (dan sangat mungkin lebih dalam dari kita) signifikansi dari kedatangan Tuhan Yesus yang pertama. Begitu besar dampak dari makna sesungguhnya Natal bagi kehidupan mereka sehingga mereka terus bertekun dalam iman dan membagikan Injil di tengah-tengah penganiayaan dan penderitaan. Harapan kami adalah anak-anak bisa belajar dari dan meneladani saudara-saudari kita ini. Puji Tuhan, kami menemukan sebuah video yang menyampaikan pesan ini dengan baik.

Dua bulan berikutnya kami gunakan semaksimal mungkin untuk mempersiapkan acara Natal di minggu kedua bulan Desember. Kulalui rapat-rapat lanjutan, latihan ibadah, pembuatan properti pendukung acara, serta pemanjatan doa kepada Tuhan agar Ia sendiri yang beracara dan berbicara kepada setiap pribadi yang menghadiri acara Natal Sekolah Minggu.

Doaku pun dijawab oleh Tuhan. Di tengah-tengah perayaan Natal, setelah mengikuti ibadah dan mendengarkan Firman Tuhan disampaikan oleh guru injil, dan sambil mengawasi proses berjalannya keseluruhan acara, tiba-tiba aku teringat acara tukar kado di komisi remaja minggu sebelumnya. Dalam retrospeksiku, aku menyadari reaksiku agak terlalu berlebihan dan pada level yang fundamental merupakan reaksi yang keliru. Sebagai salah satu panitia yang merumuskan tema di atas, seharusnya aku sendiri telah memahami dengan baik kebenaran tentang apa yang harusnya kuinginkan untuk Natal: Tuhan Yesus. Namun, dalam naturku sebagai manusia yang hidup di tengah-tengah dunia yang berdosa, tanpa sadar aku telah menginginkan hal-hal lain di luar Kristus sebagai yang terutama untuk Natal tahun ini. Aku jatuh ke dalam godaan untuk mengutamakan diri sendiri di atas Tuhan dan sesama sehingga ketika mendapatkan “hadiah” tersebut, aku langsung emosi dan merasa egoku telah dilukai.

Di satu sisi, kasih antara saudara seiman sepatutnya dinyatakan dengan cara yang tepat dan memikirkan perasaan pribadi si penerima, tidak seperti “hadiah” yang kuterima waktu itu. Di sisi yang lain, ketika kita sudah menerima Kristus yang adalah hadiah yang terbaik dan berharga melebihi segalanya, kita seharusnya menjadi lebih sulit tersinggung karena kita memiliki sukacita dan damai sejahtera Kristus yang tidak dapat digoncangkan oleh suatu hal apa pun (Yohanes 14:27). Kita juga jadi lebih memahami dan dimampukan untuk melakukan perintah Tuhan dalam Efesus 4:32, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Syukur kepada Allah Tritunggal atas pembelajaran yang memperkaya pengenalanku akan dan memperdalam kasihku kepada diri-Nya dan sesama.

Sebuah ajakan untuk Natal 2019

Awalnya aku tidak berencana untuk menulis bulan ini, tetapi ketika Tuhan mengizinkan peristiwa-peristiwa yang kuceritakan di atas terjadi, aku tahu aku tidak bisa tidak membagikannya dalam tulisan. Aku berharap Tuhan dapat memberkatimu lewat pengalamanku tersebut. Melaluinya juga aku ingin mengajakmu melakukan beberapa tindakan di bawah untuk Natal di tahun 2019 ini:

  • Memeriksa diri akan kesalahan-kesalahan kita, mengakui dosa-dosa kita, dan meminta pengampunan kepada Tuhan dan pihak yang telah kita lukai;
  • Mengampuni kesalahan-kesalahan orang lain terhadap diri kita, mengingat bahwa Tuhan telah terlebih dulu mengampuni kita di dalam Kristus;
  • Mendoakan, menghubungi, dan membagikan Kabar Baik akan kesukaan yang besar (Lukas 2:10) kepada satu teman/kerabat yang belum percaya; dan
  • Ketika mengikuti acara tukar kado, memikirkan dengan baik apakah hadiah yang akan diberikan dapat semakin membangun si penerima kado dalam kasih dan sukacita di dalam Kristus Yesus.

Mungkin kita biasanya menghindari melakukan hal-hal yang kusebutkan di atas, tapi ketika momen tahunan untuk memperingati kedatangan Tuhan Yesus yang pertama tiba, kita memiliki dua pilihan: terus berusaha menghindar, atau menghadap takhta Kristus dengan seluruh keberadaan kita sehingga kasih-Nya mengalir dan melimpah dalam hidup kita. Pilihan manakah yang akan kamu ambil?

Baca Juga:

Sebuah Salib yang Menegurku

““Ah, paling isinya gelas, mug, pigura, atau dompet,” kataku dalam hati.

Namun, tebakanku salah.

Bukan benda biasa yang ada dalam kado itu, melainkan sebuah salib kecil.”