Posts

Artspace: Apa yang Kamu Berikan di Hari Natal?

Natal adalah tentang memberi. Allah telah memberikan Anak-Nya yang tunggal sebagai jalan keselamatan bagi kita (Yohanes 3:16). Lalu, sebagai anak-anak-Nya yang telah ditebus oleh-Nya, apa sudah kita berikan bagi Yesus?

Kita bisa memberikan kasih kita bagi sesama.

Selamat Natal!

Artspace ini didesain oleh Patricia Renata @ptrx.renata

3 Perenungan untuk Menyambut Natal

Oleh Yohanes Bensohur

Wah! Gak terasa sudah mau Natalan dan tahun baru lagi.

Rasanya baru kemarin, tetapi sekarang kita sudah akan memasuki tahun ketiga hidup bersama pandemi.

Teringat masa-masa di awal ketika orang-orang panik—memborong stok makanan, harga masker, sampai jahe pun jadi melangit. Ibadah dan persekutuan berubah menjadi online, semua berdoa agar pandemi berlalu.

Namun, kenyataan tidak demikian. Pertengahan tahun 2020, jumlah orang yang terpapar COVID semakin melonjak. Segala harapan untuk keadaan membaik seolah tampak sirna. Beberapa orang mungkin berpikir kenapa begitu lama pandemi ini terjadi, kenapa Tuhan mengizinkan hal ini, bahkan ekstremnya ada orang yang mempertanyakan tentang kebaikan Tuhan: jika Tuhan baik dan berkuasa mengapa mengizinkan kesulitan dan pandemi ini terjadi?

Sebaliknya, ada sebagian orang yang menanti kondisi terus membaik, melihat bagaimana Tuhan tetap berkuasa dan bekerja di dalam dan melalui pandemi. Memasuki tahun 2021 keadaan pun tidak lebih baik dari sebelumnya, peningkatan juga terus melonjak, ditambah dengan munculnya jenis varian baru. Kita semua menghadapi gelombang kedua yang membuat rumah sakit dan petugas medis kelabakan dalam mencari tempat dan merawat pasien, kita seperti terjebak di rumah, banyak orang di PHK, tidak bisa kerja, dsb.

Sekarang, 2021 hendak kita tutup dan tahun yang baru segera datang. Aku mengajakmu untuk berefleksi sejenak ke dalam diri melalui tiga pertanyaan ini:

1. Masih setiakah kita berdoa?

Ketika awal-awal pandemi, kita semua takut. Bersama komunitas gereja, persekutuan, atau secara pribadi kita berdoa memohon Tuhan memulihkan keadaan.

Namun, ketika pandemi tak juga kunjung usai, masih setiakah kita berdoa?

Doa-doa yang kita naikkan mungkin tidak akan mengubah keadaan dalam sekejap, tetapi ketika berdoa, kita sedang mengizinkan agar damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal memelihara hati dan pikiran kita (Filipi 4:7). Dan, janganlah kiranya kita pun lupa, bahwa doa orang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16).

2. Apakah kita bertumbuh?

Sebelum pandemi, dinamika kehidupan kita pun ada naik-turunnya. Lalu, pandemi hadir dan rasanya membuat dinamika naik turun itu semakin parah. Tetapi, ibarat grafik denyut jantung yang naik turun, demikian jugalah kehidupan.

Naik dan turun adalah tanda bahwa kita hidup. Pertumbuhan apa yang nampak dalam diri kita? Apakah kita bertumbuh semakin serupa dengan Kristus?

3. Bagaimana kita memaknai Natal tahun ini?

Perasaan seperti apa yang sedang kita rasakan dalam menantikan Natal? Sedang biasa saja? Merasa lelah? Tidak begitu bersemangat? Apa yang sebenarnya menjadi kerinduan kita dalam natal dan tahun baru ini?

Natal kali ini, Kita dapat melatih hati kita untuk melihat kebesaran karya Allah. Dia, yang Mahabesar hadir dalam rupa bayi yang kecil dan rapuh, tapi dari sosok bayi inilah hadir pula dampak yang begitu besar terhadap dunia.

Raja Herodes khawatir apabila ada sosok yang akan mengganggu kekuasaanya sehingga ingin membunuh seluruh bayi di bawah dua tahun. Para Gembala menjadi orang-orang terpilih untuk menjumpai bayi dibungkus lampin seperti yang dijanjikan malaikat. Orang Majusi jauh dari timur mencari dan menemui Yesus melalui petunjuk bintang serta memberikan persembahan kepada-Nya.

Kiranya Natal tahun ini kita boleh kembali menata hati kita, mempertanyakan kembali di manakah posisi kita saat ini dihadapan Tuhan, sehingga kita tidak melewati Natal dan tahun baru ini begitu saja.

We wish you merry Christmas and Happy New Year. Kiranya yang menjadi kerinduan kita akan Natal dan tahun baru ini bukanlah suatu hal yang rendah dan tak bernilai, tapi Kristuslah yang boleh menjadi kerinduan terbesar kita, Dia yang benar-benar kita nantikan, kita muliakan dan kita juga rindu agar orang-orang boleh memiliki kerinduan yang besar pula akan Dia.

Artspace: Natalku yang Berpohon

Si pohon cemara beserta ornamen bandul-bandulnya tegak berdiri. Kapas-kapas putih pun memberi kesan salju di sekujur tubuh pohon itu.

Tunggu…kapas? Kesan? Ya, itu bukan pohon sungguhan. Itu hanyalah pohon buatan yang menyerupai aslinya. Hadirnya pohon itu menandakan dimulainya sebuah masa yang disebut Natal, sebuah peristiwa agung ketika Allah yang kudus hadir ke dalam dunia melalui kelahiran Kristus.

Apa makna Natal bagimu, sobat muda?

—–

Artspace ini didesain oleh Shereen Feria diadaptasi dari artikel yang ditulis oleh Frans Hot Dame Tua yang telah ditayangkan di WarungSaTeKaMu pada 18 Desember 2017. Klik di sini untuk membaca artikelnya.

Beranikah Kamu Datang Merangkul Seterumu?

Oleh Jefferson

Beberapa minggu setelah Natal pertamaku di gereja, tepatnya pada awal 2013, banjir besar melanda berbagai sudut kota Jakarta. Salah satu bangunan yang kebanjiran adalah gedung gereja milik jemaat saudari (sister church) dari jemaat di mana aku sekeluarga beribadah. Sambil menunggu bangunannya selesai diperbaiki, semua aktivitas ibadah jemaat saudari kami digabungkan dengan jemaat kami, termasuk komisi remajanya.

Aku tidak menyangka bahwa orang-orang yang kujumpai dalam ibadah gabungan tersebut akan membangkitkan satu ingatan yang kukira telah lenyap hilang dalam rimba kenangan.

Kenangan Sebuah Perseteruan

Swung, tass, swung, tass. “Hahaha.”

Aku bisa mendengar jelas suara kotak pensilku yang dilempar dan ditangkap layaknya bola kasti oleh “teman-temanku”. Nada olokan di balik tawa mereka pun tak dapat dipungkiri. Dan di tengah kesulitan untuk merebut kembali kotak pensilku, tidak ada yang (berusaha untuk) membantuku. Beberapa orang hanya menonton seru dari bangku mereka seolah-olah kami sedang mengadakan pertandingan bola kasti, sementara yang lain menulikan diri terhadap keributan di kelas, sibuk dengan urusannya sendiri.

Dalam hati aku bertanya-tanya, “Apa salahku sehingga mereka memainkan kotak pensilku begitu? Apakah karena aku anak baru di SMP ini? Atau akunya yang terlalu serius jadi perlu diajak ‘main’?” Makin lama aku makin geram. Dan melihat emosiku yang meningkat, mereka yang mengaku “teman-temanku” semakin menjadi-jadi.

“Permainan” ini hanya berakhir ketika bel kelas berbunyi, menandakan waktu istirahat telah selesai. Tepat sebelum guru masuk ke dalam kelas, “teman-temanku” mengembalikan kotak pensilku dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa selama istirahat. Suasana semu ini menyebar dengan cepat ke setiap sudut kelas. Tidak ada yang melapor kepada guru, termasuk aku, karena tidak ada dari kami yang ingin dicap sebagai pengadu.

Dalam cerita pertobatanku, peristiwa tersebut adalah salah satu dorongan penentu yang membuatku menolak keberadaan Tuhan dan merangkul paham Ateisme. Ini bukan pertama kalinya “teman-temanku”—termasuk anggota-anggota jemaat saudari dari gerejaku di masa depan—mempermainkan maupun mengabaikan aku. Keberadaan Tuhan yang sudah terasa samar-samar pada tahun pertamaku di SMP Kristen ini seketika dilenyapkan pada tahun kedua oleh mereka yang mengaku sudah Kristen sejak lahir. Perilaku “teman-temanku” tidak menyerupai Yesus Kristus sama sekali dan membawaku kepada kesimpulan bahwa iman Kristen tidak lebih dari kepercayaan yang ompong.

Maka ketika aku sendiri pada akhirnya dituntun oleh Kristus untuk percaya bahwa Ia adalah Allah yang sejati, aku diperhadapkan pada sebuah pertanyaan: apa yang akan aku lakukan ketika aku menjumpai “teman-temanku” yang Kristen di lingkungan gereja?

Salah Satu Tujuan Kedatangan Pertama

Dalam perenunganku akan kejadian ini, Roh Kudus menuntunku kepada satu perikop dalam Efesus 2:11-20:

Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu – sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ”sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, –bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ”jauh”, sudah menjadi ”dekat” oleh darah Kristus. Karena Ialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ”jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang ”dekat”, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Walaupun di bagian ini Paulus sedang membicarakan pendamaian yang diadakan Kristus di atas kayu salib antara Allah dengan semua orang, khususnya dengan orang non-Yahudi (ay. 11–13), aku menemukan bahwa kebenaran di dalamnya juga berlaku pada situasi yang aku hadapi. Aku semakin yakin ketika menyadari bahwa Paulus sedang berbicara kepada orang Kristen yang bukan Yahudi (ay. 11); dalam kasusku, “teman-temanku” yang mengaku Kristen sejak lahir adalah yang “bersunat” sementara aku yang percaya kepada Tuhan Yesus belakangan adalah yang “tak bersunat”. Lantas apa yang ingin Tuhan sampaikan kepadaku lewat perikop ini?

Bahwa di dalam Kristus, aku yang dulu bukan orang Kristen (“jauh”) dan diolok-olok mereka yang mengaku orang Kristen (“dekat”) sekarang turut menjadi bagian dari keluarga-Nya (ay. 13). Oleh darah-Nya, aku mendapatkan bagian dalam “ketentuan-ketentuan yang dijanjikan” dan “pengharapan… di dalam dunia” (ay. 12). Sang Allah Anak yang datang 2000 tahun lalu itu terlebih lagi telah mengadakan damai sejahtera di antara aku dan teman-temanku serta mempersatukan kami sebagai bagian dari tubuh-Nya (ay. 14–18). Oleh karena karunia-Nya, kami yang dahulu adalah seteru sekarang adalah “kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (ay. 19).

Seteru yang Dijadikan Kristus “Saudara”

Melihat ke belakang, aku tidak tahu apakah teman-temanku menyadari kesalahan mereka ketika mereka memperlakukanku begitu semasa SMP. Meskipun begitu, aku tahu dengan pasti bahwa Ia yang telah membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati juga akan memampukanku (Rom. 8:11) untuk mengasihi musuh-musuhku (Mat. 5:44–45). Sebab Ialah batu penjuru yang mendasari hubungan antara sesama orang percaya (Ef. 2:20). Anggukan canggung disertai sapaan singkat ketika kami berpapasan di gereja menjadi langkah awal yang kuambil dalam perjalanan pemulihan relasiku dengan teman-teman.

Walaupun pada akhirnya banyak yang tidak berkembang lebih dari “kenalan di sekolah dan gereja” karena kepindahanku ke Singapura, ada seorang teman yang benar-benar menjadi saudara rohaniku di tanah perantauan. Karena hanya kami berdua dari angkatan kami yang melanjutkan studi ke Singapura, secara alamiah kami mulai sering berinteraksi dengan satu sama lain. Persaudaraan itu pun pelan-pelan bertumbuh, dari dimuridkan bersama dalam satu kelompok sampai akhirnya menjadi teman satu kos. Semuanya ini niscaya hanya dapat terjadi oleh karunia Tuhan Yesus sang “damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (ay. 14).

Inilah Kerajaan yang dinyatakan Tuhan Yesus pada kedatangan-Nya yang pertama, di mana Ia “menciptakan [pihak-pihak yang bertikai] menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” (ay. 15). Baik yang sudah Kristen sejak lahir maupun baru percaya kepada-Nya ketika dewasa, baik yang “tinggi” seperti orang-orang Majus maupun “rendah” seperti gembala, semua orang diundang tanpa terkecuali untuk berbagian di dalam damai sejahtera-Nya sebagai “anggota-anggota keluarga Allah” (ay. 19).

Merayakan Natal sebagai Keluarga Allah

Selama masa pandemi COVID-19, kamu mungkin terkurung di rumah atau terdampar di luar kota sepertiku. Maka dalam ibadah Natal tahun ini, baik secara online maupun fisik, aku mengajakmu untuk mengamati dengan saksama orang di sekeliling dan depanmu: inilah saudara-saudari dan paman dan bibimu secara rohani yang Tuhan Yesus telah berikan lewat kedatangan pertama-Nya ke dunia. Bersama mereka, “kamu bukan lagi orang asing” (ay. 19).

Terlebih lagi, mari kita mendatangi dan mengajak mereka yang merasa kesepian selama pandemi—terutama seteru-seteru kita—untuk menjadi bagian dalam satu-satunya keluarga abadi yang dikepalai oleh Bapa yang Kekal (Yes. 9:6), sebagaimana Ia telah datang untuk mengundang kita.

Selamat merayakan kedatangan pertama Tuhan Yesus tahun ini bersama orang percaya di segala abad dan tempat, soli Deo gloria!

Panduan renungan

1. Apakah kamu pernah mengalami hal yang serupa dengan yang kuceritakan di atas? Bagaimanakah perseteruan yang kamu hadapi itu berakhir? Apakah seteru-seterumu pun turut menjadi saudara-saudaramu dalam keluarga Allah?

2. Baca kembali Efesus 2:11–22 dengan saksama. Tuliskan poin-poin kebenaran yang menggugah hati dan pikiranmu, terutama dalam kaitannya dengan pengalamanmu di nomor 1.

3. Adakah orang(-orang) yang ingin kamu ajak untuk bergabung dengan keluarga Allah pada perayaan Natal? Doakan nama-nama tersebut, pikirkan bagaimana kamu akan mendatangi dan mengundang mereka untuk mengikuti ibadah Natal, lalu ajaklah mereka dengan kekuatan dari Allah Roh Kudus.

Natal dan Cabe Rawit

Oleh Edwin Petrus, Malang

“Aku hanya orang biasa. Apalah pekerjaanku ini! Pekerjaan yang hina, tapi apa boleh buat aku gak punya pendidikan yang tinggi. Tapi, aku bersyukur bisa bekerja dengan beberapa teman yang bernasib sama. Paling tidak, pekerjaan kami ini berguna buat orang lain, ya walaupun mereka memandang kami dengan sebelah mata.”

Percakapan monolog di atas adalah imajinasiku. Aku membayangkan bagaimana isi hati seorang gembala di Betlehem pada abad pertama masehi. Pada masa itu gembala ternak bukanlah pekerjaan yang bergengsi. Secara sosial, masyarakat memandang rendah profesi itu karena dianggap kotor. Tapi, keberadaan mereka pun dibutuhkan. Salah satunya oleh para penyembah di Bait Allah yang membutuhkan domba sebagai korban persembahan. Kalau sekarang ada peribahasa, “habis manis sepah dibuang.” Kira-kira begitulah nasib mereka, dicari kalau pas lagi butuh saja.

Namun, pada suatu hari, terjadi peristiwa besar yang menggemparkan dunia. Para gembala, yang dipandang rendah oleh masyarakat zaman itu, malah mendapatkan hak istimewa. Mereka tercatat dalam sejarah sebagai saksi mata pertama dari peristiwa mulia. Mungkin saat itu mata mereka sulit terbuka karena tidak kuat melihat cahaya kemuliaan Allah, lalu mereka mendengar sesosok makhluk surgawi yang bersabda: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Lukas 2:11). Bukan hanya itu, ketika mereka menatap ke langit, mata telinga mereka terpukau dengan merdunya suara bala tentara surga yang menyanyikan: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara semua manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14).

“Kristus? Ya, Mesias. Dia itu yang kita nanti-nantikan selama ini!” Aku coba menerka kira-kira apa yang ada di dalam pikiran para gembala.

Kelahiran Mesias adalah penantian panjang orang Israel. Sejak zaman Perjanjian Lama, para nabi nenek moyang mereka telah menyuarakan janji akan Sang Juruselamat dari Allah (Yesaya 9:6-7; Yeremia 23:5-6; Amos 9:11-12) . Tanpa henti, janji ini pun terus dibicarakan oleh orang-orang Yahudi dari orang tua kepada anak-anak mereka. Mereka mendambakan sosok pemimpin politik yang dapat segera melepaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Tetapi, kita yang hidup di zaman sekarang mengetahui bahwa Kristus, Sang Mesias bukanlah membawa kemerdekaan dari penjajahan politis. Lebih dari itu, kelahiran, kematian, dan kebangkitan Kristus membawa kemerdekaan dari dosa.

Jikalau aku adalah seorang dari gembala itu, aku pasti punya reaksi yang sama. Aku ingin segera pergi melihat Sang Mesias yang baru lahir itu. Dengan petunjuk yang diberikan oleh malaikat, para gembala bergegas pergi dari satu kandang ke kandang yang lain di kota Betlehem untuk menemukan bayi yang dibungkus lampin dan terbaring di dalam palungan. Tanpa alamat yang jelas, apalagi belum ada Google Maps atau Waze pada masa itu, pastilah gembala-gembala ini bertanya ke sana dan ke sini, mengetuk pintu dari rumah ke rumah, dan mengamat-amati dengan saksama dari kandang ke kandang. Jangan-jangan bayi itu tertutup jerami kering dan mereka tidak melihatnya dengan jelas.

“Aha!!! Bayi itu ada di sini!” Inilah jeritan dari salah seorang gembala sambil mengibaskan tangan kanannya untuk memanggil teman-temannya yang lain. Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat sosok Sang Raja atas segala raja yang lahir merendahkan diri untuk mengambil rupa sama dengan manusia demi menjalankan misi besar-Nya. Tidak ada ranjang empuk di istana yang mewah yang menyambut kedatangan-Nya di tengah-tengah manusia yang dikasihi-Nya. Hanya beberapa pasang mata dari orang awam yang memberikan penghormatan kepada-Nya.

Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya para gembala tak bernama ini. Mereka senang dapat bertatap muka langsung dengan Tuhan yang menurunkan status-Nya untuk menjadi sama rendah seperti mereka yang hina. Tak heran, sukacita yang amat besar ini dinyatakan dengan pujian yang memuliakan Allah tanpa henti sepulang dari melihat Yesus (Lukas 2:20). Bukan itu saja, mereka juga mewartakan Kabar Baik dari surga itu kepada orang-orang yang mereka jumpai di sepanjang jalan. Dengan ucapan bibir mereka, Kabar Baik ini dari surga itu menjadi viral di telinga anak cucu Daud yang pada waktu itu sedang berkumpul di Betlehem karena adanya sensus penduduk.

Coba kita lihat apa yang menjadi dampak dari cuitan-cuitan gembala ini? Lukas mencatat bahwa masyarakat luas “heran” dengan kabar ini (Lukas 2:18). Kata “heran” di sini bisa mengandung banyak arti. Orang banyak mempertanyakan keabsahan dari pemberitaan ini. Mereka meragukan berita ini, jangan-jangan hoaks, karena gembala-gembala ini bukan tokoh agama. Bukankah seharusnya para imam dan ahli Taurat yang menyampaikan berita seperti ini? Ada pula kelompok orang yang memang melongo dengan penuh kebingungan karena sudah lebih kurang 300-400 tahun, Allah diam dan tidak memberikan tanda sama sekali kepada umat-Nya. Tidak tertutup kemungkinan, ada yang tercengang dan sekaligus merasakan sukacita karena Mesias yang dinanti-nantikan akhirnya datang juga. Terlepas dari apapun respons yang diberikan orang banyak, kesaksian dari para gembala ini telah menggemparkan Betlehem.

Ibarat sebuah peribahasa berkata, “Kecil-kecil cabe rawit.” Jangan sepelekan bentuk cabe yang paling kecil dari semua ras cabe yang ada. Sebab, justru cabe rawit lah yang punya rasa paling pedas di antara semuanya. Para gembala memang hanyalah kaum kecil yang dipandang sebelah mata pada waktu itu. Namun, berita Natal yang pertama justru disampaikan kepada mereka dan mereka dipakai menjadi alat yang luar biasa untuk menyatakan Kabar Baik itu.

Lukas memang tidak memberitahu kita tentang apa yang terjadi dengan para gembala setelah ini. Namun, bayi yang terbungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan itu pada akhirnya menggenapkan misi-Nya sebagai Juruselamat. Yesus tidak menjadi Mesias politik yang membebaskan Israel dari penjajahan bangsa asing. Yesus menjadi Mesias yang melepaskan mereka, aku, dan kamu dari kematian kekal akibat dosa. Di atas kayu salib, Yesus menganugerahkan damai sejahtera dari Allah kepada orang-orang percaya kepada-Nya. Bahkan, Yesus juga mengundang kita semua untuk tinggal bersama-sama dengan-Nya di surga untuk selama-lamanya. Inilah seri komplit dari berita besar yang disebut malaikat itu sebagai “kesukaan besar bagi seluruh bangsa” (Lukas 2:10).

Episode pertama dari kisah Natal dengan para gembala sebagai aktor-aktornya telah lama berakhir. Namun, sang Sutradara belum ingin mengakhiri produksi dari kisah ini sampai di sana. Hari ini, Allah mengundang aku dan kamu untuk berlakon di dalam episode-episode yang akan segera diproduksi. Kita adalah orang-orang yang menikmati indahnya persekutuan yang dibangun oleh anugerah keselamatan di dalam Yesus Kristus. Saat ini, Allah memilih kita untuk dapat menyaksikan berita dari surga itu kepada dunia yang membutuhkan kasih anugerah-Nya.

Sobat muda, mungkin kamu bukan orang terkenal. Kamu tidak punya banyak talenta. Kamu pandang diri kamu biasa-biasa saja. Namun, sebagai anak-Nya, Tuhan tidak pernah memandangmu dengan sepele. Ia memandang kamu berharga dan bahkan mengundangmu untuk menjadi saksi dari karya keselamatan-Nya! Entah sudah berapa lama kita mendengarkan berita Natal. Namun, biarlah berita Natal itu tidak pernah menjadi kisah yang usang, karena kita mengalami kasih-Nya yang selalu baru tiap pagi (Ratapan 3:23–24). Dengan terus merasakan kasih-Nya, kita dapat membagikan pengalaman iman ini sebagai kabar sukacita bagi orang lain!

Di hari Natal ini, mari ceritakan Yesus kepada satu orang yang belum mengenal Sang Juruselamat itu! Cerita kita tentang Yesus pasti dapat berdampak bagi dunia ini karena Dia adalah Sang Allah yang membawa damai sejahtera ke bumi (Yesaya 9:6).

Lockscreen Mazmur 97:11

“Terang sudah terbit bagi orang benar dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati” (Mazmur 97:11).

Lockscreen ini didesain oleh Julia Rosalind.

Yuk download dan gunakan lock screenini di HP kamu.
Klik di sini untuk melihat koleksi lock screen WarungSaTeKaMu

Natal, Demensia, dan Bahagianya Jika Kita Diingat

Oleh Agustinus Ryanto

Hatiku was-was melihat langit Surabaya yang semakin mendung. Buru-buru kupacu motorku untuk tiba lebih dulu di toko buah-buahan sebelum kulanjutkan pergi ke rumah seorang lansia.

Lansia yang hendak kukunjungi ini bernama Opa Bhudi. Dia tinggal bersama istrinya yang juga usianya sudah sepuh. Tiga tahun lalu, tatkala aku melakukan perjalanan pelayanan di Surabaya, mereka menyediakan rumahnya sebagai tempat tinggalku. Tidak sehari dua hari, tapi selama sembilan malam. Di hari pertama aku tinggal, suasana terasa kaku. Barulah setelah tiga hari, ketika kami mulai banyak mengobrol, kehangatan pun terbangun. Opa dan Oma dikaruniai empat orang anak dan banyak cucu, tapi semua anaknya telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Tersisalah mereka berdua, merajut hari-hari di masa senja.

Kehadiranku selama sembilan malam itu rupanya menjadi simbiosis mutualisme. Opa dan Oma senang karena ada kawan yang bisa diajak mengobrol tentang banyak hal. Aku pun senang karena seolah menjumpai kembali kakek dan nenekku. Setelah dinas pelayananku usai, relasi kami tidak terputus. Dalam beberapa kesempatan saat aku ke Surabaya, aku selalu bertandang ke rumah mereka. Atau, jika aku tidak sempat ke sana, kukirimkan buah-buahan melalui toko daring.

Dihantam oleh demensia

Kira-kira lima bulan lalu, aku menghubungi Opa Bhudi lewat WhatsApp. Meski usianya sudah 86 tahun, Opa masih piawai menggunakan ponsel. Kalau membalas chatku, dia sering pakai sticker atau video-call. Dia pun masih aktif beraktivitas—menyetir mobil ke gereja, bahkan masih praktik sebagai dokter gigi!

Namun, hari itu tidak biasa. Buah dan pesan yang kukirim tidak direspons. Selama beberapa bulan aku kehilangan kontak mereka. Barulah setelah kucari informasi dari gereja tempat mereka berjemaat, aku tahu bagaimana keadaan mereka.

“Oh, Om Bhudi ya. Beberapa bulan lalu dia kena demensia dan stroke,” ketik seorang dari komisi pemuda.

“Waduh, terus gimana keadaannya?” tanyaku penasaran.

“Ya, sudah tidak bisa lagi aktivitas, tapi keadaannya ya bisa dikatakan stabil.”

Pesan itu membuatku tercenung. Seorang pria lansia yang biasanya aktif, kini harus tergolek lemah dan pelan-pelan kehilangan memorinya. Istrinya pun sudah sama rentanya, malah ada sakit punggung. Bagaimana mereka bisa saling merawat?

Sebulan setelahnya, aku pun menetapkan hati untuk pergi ke Surabaya. Kuingat-ingat kembali jalanan kota Surabaya yang lebar-lebar dan kadang bikin puyeng kepalaku. Kusinggah dahulu ke toko buah untuk membelikan mereka jeruk, apel, dan pir.

Rumah Opa Bhudi ada di tengah kota, tak jauh dari Stasiun Pasar Turi. Gerbangnya masih berwarna sama, tanpa ada pengecatan ulang. Yang jadi pembeda hanyalah tak lagi kulihat seekor kucing coklat yang biasanya menemani Opa di halaman.

Melihatku datang dengan menaiki sepeda motor dari Jakarta, istri dari Opa Bhudi menepuk kepalaku.

“Haduh! Kok nekat?!” katanya sembari memegang kedua bahuku, lalu mempersilakanku duduk sebentar.

“Opa sudah sakit. Stroke. Susah bangun. Ingatannya pudar,” tutur Oma. “Ayo sudah, sini kamu masuk ke kamar.”

Setahun kemarin saat aku singgah ke sini, badan Opa masih segar bugar terlepas usianya yang sudah lebih dari delapan dekade. Tapi, hari itu aku melihat rupa yang amat berbeda. Raga yang dahulu masih tegap, kini telah ringkih dan tak berdaya. Dia terbaring meringkuk di atas kasur. Urat-uratnya tampak jelas karena lapisan lemak telah susut dari balik kulitnya.

“Pah, coba ndelok, iki sopo sing teko?” Oma sambil menggoyang tubuh opa. “Coba lihat, siapa yang datang?” ujarnya.

Opa membuka matanya dan semenit lebih aku ditatap dalam diam. Matanya menyipit, dahinya mengernyit. Pelan-pelan dia coba membongkar kembali labirin otaknya yang rapuh dikikis oleh demensia.

“Lohhh! Kamu, kok baru ke siniii???”

“Lohh, Opa masih ingat nggak siapa aku?” aku balik bertanya.

“Ingat! Kamu Agus, dulu kamu sering main ke sini loh…” jawabnya sambil tertawa kecil.

Aku senang bukan main. Di dalam memorinya yang kian pudar, rupanya masih terjaga ruang kenangan bersamaku. Selama satu jam kemudian, aku menemani opa berdua. Aku bercerita tentang serunya naik motor dari Jakarta sampai ke Surabaya, dan setelahnya gantian Opa bercerita tentang beratnya hari-hari yang dia lalui pasca terkena stroke. Klinik praktiknya telah dia hibahkan pada gereja. Kata Opa, kendati dia sakit dan kesepian, dia bilang ini sudah jalannya. “Tuhan tetep baik, aku ndak ditinggalno sendiri,” pungkasnya.

“Gus,” sahut Opa. Tangannya memegangku. “Aku seneng. Sungguh seneng dan merasa terhormat kamu masih ingat aku… Terima kasih ya.”

Kalimat itu menghangatkan hatiku. Karena tubuh Opa yang makin ringkih, aku izin pamit. Mengobrol terlalu lama dengannya bisa membuatnya makin lemah. Kulanjutkan kembali perjalananku ke kota-kota lain di Jawa Timur.

Betapa sukacitanya ketika kita diingat

Kalimat terakhir Opa yang bilang bahwa dia senang karena aku masih mengingat dia menggemakan kembali dalam benakku surat-surat yang ditulis oleh Paulus.

Dalam surat Filipi 1:3, Paulus menulis, “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.”

Kalimat itu ditulis Paulus bukan sebagai bunga kata, tetapi menunjukkan sebuah kesan mendalam. Pada perikop lanjutan dari Filipi 1, dituliskan bahwa Paulus sedang dipenjara oleh karena pelayanannya memberitakan Injil. Penjara pada masa Romawi bukanlah penjara yang manusiawi seperti di negara-negara maju masa kini. Penjara itu terletak di bawah tanah, minim penerangan dan udara, serta dijaga oleh prajurit. Bisa kita bayangkan betapa beratnya hati Paulus menghadapi kekelaman itu. Dia sendirian, dia ketakutan, juga kesakitan.

Namun, surat Filipi menyingkapkan pada kita akan apa yang membuat Paulus tetap bertahan dan bersukacita. Paulus yakin bahwa Allah yang memulai pekerjaan baik akan tetap meneruskannya. Rekan-rekan pelayanan Paulus pun tidak meninggalkannya. Ayat 7-8 menuliskan bahwa “kamu [mereka] ada dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil…. Betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.”

Di tengah kesukaran dan kesepian, betapa menghangatkannya mengetahui bahwa kita senantiasa diingat oleh orang-orang yang kita kasihi.

Allah pun mengingat kita setiap waktu. Dia ingat dan tahu setiap detail pergumulan yang kita satu per satu harus hadapi (Matius 10:30). Dan…karena Dia mengingat kita, Dia pun hadir bagi kita melalui Kristus, sang Putera yang lahir dari anak dara Maria.

David Gibb dalam tulisannya yang berjudul “What If There Were No Christ In Christmas” menuliskan: Allah yang Mahabesar hadir dalam cara yang menjungkirbalikkan logika manusia. Allah tidak hadir dalam sosok raja duniawi yang penuh kemewahan untuk membuat kita terkesan, tetapi Dia hadir dalam rupa seorang bayi mungil, untuk menjadi sama seperti kita. Dia datang kepada kita di tengah kekacauan dunia, di tengah kesendirian dan tangis kita, untuk menuntun kita kepada tempat teraman, untuk membawa kita kepada diri-Nya sendiri.

Ketika Allah mengingat kita, Dia pun hadir di tengah kita.

Pertanyaan bagi kita adalah: Siapakah orang-orang yang Tuhan letakkan namanya di hati kita? Jika kita mengingat mereka, maukah kita turut hadir bagi mereka?

Kehadiran kita mungkin tidak akan melenyapkan pergumulan mereka, tetapi seperti kehadiran para rekan sepelayanan Paulus, kehadiran itu dapat dipakai Allah untuk menguatkan dan menghangatkan seseorang dalam perjalanan hidupnya.

Menikmati Allah di Segala Musim

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Aku sempat merasakan kekosongan di masa-masa menjelang Natal beberapa tahun terakhir ini. Aku terlibat di berbagai acara gereja, tetapi yang kurasa bukan sukacita. Aku bosan menjadi panitia, pemusik, mengiringi paduan suara dan segudang aktivitas lainnya. Momen Natal yang seharusnya menjadi saat-saat reflektif malah jadi terasa hambar.

Pada Natal tahun 2020 kemarin, ada hal lain yang juga menyita kesibukanku, yaitu pekerjaan. Saat ini aku bekerja di perusahaan start-up yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Menapaki pekerjaan di bidang start-up tentu banyak tantangannya: belum ada sistem yang terbentuk, struktur sumber daya manusia (SDM) pun belum kokoh, dan kami yang bekerja di dalamnya masih seperti berjalan di hutan rimba; menerka-nerka apa yang baik untuk keberlangsungan bisnis ini juga untuk setiap pegawai yang bekerja di dalamnya. Bahkan masing-masing kami masih harus melakoni dua hingga tiga jabatan sekaligus untuk beberapa proyek pekerjaan.

Di Desember kemarin aku dan rekan-rekan kerjaku memiliki beberapa proyek pekerjaan besar, mulai dari pembukaan outlet kafe baru, hingga mengirim parsel Natal ke berbagai pihak yang mendukung keberlangsungan perusahaan ini. Di suatu pagi ketika aku sedang menempuh perjalanan ke kantor, aku mengeluh di dalam doaku pada Tuhan.

“Tuhan, aku capek banget! Masa Desember gini kerjanya abis-abisan sih? Aku ingin menikmati momen Natal tanpa diganggu pekerjaan-pekerjaan yang super banyak ini! Aku ingin liburan.”

Aku mengeluh. Di samping memang tubuh dan pikiranku sedang letih, aku merasa seperti menolak kondisi dan tidak menikmati pekerjaan yang tengah kujalani di kantor. Namun ketika aku mendoakan keluhan itu, aku teringat akan doaku di tahun 2019 yang lalu: bahwa aku ingin menikmati Natal dengan cara tidak sekadar ritual dan pelayanan. Aku lantas merenung: pekerjaan yang kulakukan sekarang sesungguhnya adalah pemberian dari Tuhan. Aku pernah menuliskan proses perjalanan berkarierku dan menemukan bahwa ini adalah tempat terbaik untukku bekerja, setidaknya hingga saat ini. Mengingat proses bagaimana Tuhan tempatkan aku di perusahaan start-up, aku pun kembali mengingat-ingat ternyata banyak sekali hal baik yang Tuhan lakukan buatku, tapi aku sering tidak menyadarinya. Dan parahnya, aku masih saja sering mengeluh, mengasihani diri, dan kurang bersyukur.

Menyadari keberdosaanku, aku meminta ampun pada Tuhan karena tidak sadar akan hadirnya Pribadi yang selalu memimpin langkahku—si manusia yang sesat seperti domba dan mengambil jalannya sendiri (Yesaya 53:6). Dalam anugerah Tuhan, aku akhirnya menyadari dan menemukan sebuah jawaban dari rasa bosanku mengerjakan kegiatan atau aktivitas Natal selama bertahun-tahun: aku fokus pada aktivitas dan kegiatannya, bukan pada Kristusnya. Aku fokus pada berbagai macam pelayanan, kegiatan, perayaan, ritual, tradisi, tapi lupa pada Satu Pribadi yang merupakan fokus utama dari keberadaan Natal sesungguhnya. Aku tidak menikmati berbagai kegiatan yang berlangsung di penghujung tahun karena aku sulit menyadari kehadiran Kristus yang senantiasa memimpin hari-hariku.

Menikmati Allah Ketika Sibuk dan Tidak Sibuk

Lalu apakah salah jika dalam momen Natal kemarin yang seharusnya dilalui dengan refleksi aku malah sibuk bekerja di kantor? Pertanyaan refleksi ini aku tanyakan pada diri sendiri, dan mungkin bisa berlaku juga untuk kita semua. Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Judah Smith dalam bukunya yang berjudul “How’s Your Soul? – Why Everything That Matters Starts with The Inside You” menuliskan ada empat lingkungan kondusif yang Tuhan sediakan bagi kesehatan jiwa kita, salah satunya adalah Responsibility atau tanggung jawab. Tuhan menciptakan manusia untuk bekerja bukan sebagai bentuk hukuman. Konsep bekerja bahkan sudah ada sejak zaman Adam di taman Eden (Kejadian 2:15). “God created humans to bear responsibility. (Tuhan menciptakan manusia untuk memikul tanggung jawab.)”—dan ini adalah kondisi yang sehat yang Tuhan ciptakan untuk kita.

Bagian dari buku yang tengah kubaca tersebut mengingatkanku kembali bahwa pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita juga merupakan pelayanan bagi Tuhan, meskipun kelihatannya sulit meluangkan waktu untuk melakukan refleksi Natal secara pribadi. Apalagi jika kembali mengingat bagaimana cara Tuhan menempatkanku di kantor ini, aku kembali mengingatkan diri sendiri untuk mengurangi keluhan yang menghambat ucapan syukur. Sambil terus belajar bahwa segala sesuatu yang dikerjakan harusnya kulakukan dengan sekuat tenaga dan dengan segenap hatiku seperti untuk Tuhan (Pengkhotbah 9:10; Kolose 3:23).

Sibuk bekerja dengan penuh tanggung jawab tentu bukan berarti tidak ada istirahat. Masih berasal dari buku yang sama, elemen berikutnya yang menyehatkan jiwa kita adalah Rest atau beristirahat. Terus menjaga dan menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan merupakan bentuk istirahat jiwa kita. Menikmati langit biru sambil diterpa angin sepoi-sepoi merupakan bentuk istirahat jiwa kita. Menikmati makanan, waktu bersama teman dan orang tersayang, dan hal-hal yang disediakan Tuhan untuk kita merupakan bentuk istirahat bagi jiwa kita. Fokus pada kesibukan seringkali malah membuat kita lelah luar dalam; lelah bagi tubuh, lelah bagi jiwa. Akhirnya, momen yang kupilih menjadi waktu terbaik untuk merefleksikan makna Natal secara pribadi adalah ketika aku tengah menempuh perjalanan pergi dan pulang kantor menggunakan ojek daring, sambil mendengarkan lagu-lagu Natal dan diterpa angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.

“A restless soul is a soul that thinks it is in control and needs to take care of everything. If we do not rest, we are trying to be our own God. (Jiwa yang gelisah adalah jiwa yang berpikir bahwa dirinyalah yang mengatur dan perlu mengendalikan segalanya. Jika kita tidak beristirahat, kita sedang mencoba menjadi tuhan atas diri kita sendiri)”.–Judah Smith dalam buku “How’s Your Soul?”

Imanuel: Natal yang Sesungguhnya Setiap Hari

Dari perenungan pribadiku, aku belajar bahwa menikmati hadirat dan pimpinan Tuhan dalam segala aktivitas, kegiatan, dan kesibukan merupakan hal terbaik yang bisa kunikmati. Sebuah sukacita bagi jiwa ketika bisa menikmati dan merasakan pimpinan Tuhan baik ketika sedang bekerja, maupun ketika sedang beristirahat sambil menghirup wanginya air hujan yang jatuh ke tanah.

Natal tahun 2020 telah berlalu dan kini aku belajar bahwa makna Natal yang sesungguhnya tidak berfokus pada jenis kegiatan atau aktivitas yang kita lakukan pada bulan Desember, melainkan pada: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5). Dan Anak yang telah lahir itu ada bersama-sama dengan kita setiap hari, terlepas dari sibuk atau tidaknya kita. Mengapa? Karena Ia adalah Imanuel: Allah menyertai kita (Matius 1:23). Kelahiran-Nya ke dunia membawa kabar sukacita terbaik yang pernah ada, yaitu menyelamatkan umat manusia dari belenggu hukuman dosa dan memberikan kehidupan sejati karena kasih Allah yang begitu besar buat teman-teman dan juga aku; supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Natal selalu berbicara tentang tentang Tuhan Yesus Kristus yang lahir dan berkenan untuk dikenal (Yesaya 55:6). Dia menyertai kita di sepanjang tahun 2021 ini, dan kita bisa minta tolong pada-Nya supaya bisa menikmati Dia setiap hari, dalam setiap kegiatan apapun yang kita kerjakan.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Pahamilah Arti Kasih yang Sejati

Sedikit tindakan kasih yang kita lakukan tentulah tidak sebanding dengan apa yang Allah telah berikan pada kita, tetapi tindakan kasih itulah yang menunjukkan pada dunia bahwa kita telah dikasihi lebih dulu oleh Allah.

Siapakah Yesus bagi Kita? Sebuah Perenungan Menyambut Natal

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Pernahkah kamu mendengar nama Joe Biden, Xi Jinping, Camilla Rothe, Jennifer Hudson, dan Sundar Pichai? Mereka ialah segelintir dari 100 orang terpopuler di tahun 2020 versi majalah Time. Figur-figur ini dianggap memberi pengaruh besar pada masyarakat di generasi mereka. Contohnya, Camila Rothe. Pada Januari 2020 lalu spesialis penyakit menular di Munich itu menjadi salah satu orang pertama yang mendokumentasikan infeksi Covid-19 tanpa gejala. Laporannya itu pertama kali disambut dengan ketidakpercayaan, bahkan diremehkan. Tetapi, setelah banyak pasien mengalami kondisi tanpa gejala, laporan Camelia pun diterima secara luas. Kini, adanya Orang Tanpa Gejala (OTG) menjadi salah satu tantangan terbesar dalam perang melawan pandemi corona. Temuan Camilia itu telah menyelamatkan banyak jiwa. Menurut TIME, jika saja banyak orang mau mendengarkan dia sebelumnya, penyebaran lebih besar mungkin akan bisa dicegah.

Daftar 100 nama orang terpopuler berubah tiap tahun. Ada yang bertahan, ada pula yang terlempar ke luar. Namun, dari sekian banyak nama populer di setiap zaman di dunia ini, ada satu figur yang namanya selalu menempati posisi tertinggi dalam daftar orang terpopuler di lebih dari 2000 tahun terakhir. Namanya Yesus Kristus. Dailymail pada 15 Desember 2013 lalu melaporkan, Yesus adalah orang paling populer dan terpenting dalam sejarah menurut program pencarian internet baru. Nama Yesus disusul Napoleon, ada Aristoteles di peringkat 8, dan seterusnya. Software program yang dikembangkan di Amerika Serikat itu bekerja dengan cara menjelajahi internet untuk mencari pendapat warganet di seluruh dunia tentang orang-orang terkenal, dengan menggunakan algoritma khusus untuk melihat seberapa pentingnya pengaruh figur-figur populer itu hingga 200 tahun setelah kematian mereka

Yesus, Dia bukan hanya populer hingga 200 tahun setelah wafat-Nya, tetapi hingga kini pun nama-Nya masih dibicarakan orang. Putra Maria itu selama ribuan tahun telah menjadi titik tengkar sekaligus titik perdamaian. Selain karena popularitas-Nya, yang menjadi salah satu alasanku menulis tentang Dia adalah keinginan menjawab pertanyaan para sahabat kepadaku, “Mengapa kamu beragama Kristiani?” Memang, dalam pergaulan di antara kawan yang multi agama dan ras, aku jarang membicarakan tentang imanku, kecuali kepada mereka yang bertanya. Pertanyaan-pertanyaan itu pun tak jarang muncul dalam kesempatan atau waktu yang sangat singkat, sehingga untuk menjawabnya pun tidak bisa berlama-lama.

Tulisan ini kubuat bagi para sahabat yang pernah bertanya tentang alasan mengapa aku percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, juga bagi kita yang ingin sedikit “me-refresh” ingatannya tentang sosok Yesus. Isi dari tulisan ini tidak ada yang baru. Aku hanya mengulangnya saja. Ada banyak buku dan artikel yang mengulas tentang Yesus dari berbagai tradisi, baik Katolik, Ortodoks, Protestan maupun Pentakosta/Karismatik. Semoga setelah tulisan ini dimuat, akan ada diskusi-diskusi lanjutan yang menarik dengan sahabat-sahabatku itu, seperti yang sudah-sudah.

Siapakah Yesus?

Pertanyaan tentang figur Yesus sudah muncul sejak 2000 tahun lalu. Banyak orang yang keliru menafsirkan identitas Yesus sesungguhnya. Ada yang mengira Dia Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Dia nabi Elia, nabi Yeremia atau salah seorang dari para nabi (Matius 16:14). Di tengah simpang-siurnya anggapan orang tentang siapa Yesus sesungguhnya, Dia bertanya kepada para murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Lukas 9:20; Matius 16:15). Yesus bertanya kepada pengikut-pengikut-Nya yang sudah sekian lama melihat karya dan mendengar pengajaran-Nya secara langsung.

Pada waktu Dia mengajukan pertanyaan itu, seolah-olah semua murid-Nya tidak mempunyai jawaban. Tetapi ada satu murid, yaitu Petrus, yang menjawab dengan tegas, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Matius 16:16). Petrus tahu bahwa Yesus bukanlah Yohanes Pembaptis atau Elia atau seorang nabi di masa lalu. Dia lebih dari sekadar seorang reformator spiritual, lebih dari seorang pembuat mukjizat, lebih dari seorang nabi. Yesus adalah Kristus, Mesias. Anak Allah yang hidup.

Mesias

Kata “Mesias” berasal dari bahasa Ibrani, “Mashiach,” artinya “yang diurapi” atau “yang terpilih.” Pada zaman Perjanjian Lama, nabi, imam, dan raja diurapi dengan minyak ketika mereka ditetapkan untuk posisi dengan tanggung jawab ini. Urapan adalah tanda bahwa Tuhan telah memilih mereka dan menguduskan mereka untuk pekerjaan yang Dia berikan kepada mereka. Christos (Kristus) adalah padanan Yunani dari istilah Ibrani, Mesias (Yohanes 1:41). Ketika Andreas berkenalan dengan Yesus, hal pertama yang ia lakukan adalah menemui saudaranya, Simon (Petrus) dan memberi tahu dia tentang pertemuannya dengan Yesus. Andreas memberi tahu saudaranya bahwa ia telah bertemu Mesias (Kristus), dan Andreas membawa Simon kepada Yesus (Yohanes 1:41).

Ketika dalam Yohanes 1:41 Andreas mengatakan, “Kami telah menemukan Mesias,” ia ingin mengatakan bahwa pengharapan orang-orang Yahudi agar Tuhan mengirim seorang Mesias kini sudah terjawab. Mesias itu adalah Yesus. Komunitas Yahudi telah membaca nubuatan Perjanjian Lama (Yesaya 42:1; 61: 1-3; Mazmur 16, 22; Daniel 9, Dsb) yang berjanji bahwa Tuhan akan mengirimkan seorang penyelamat bagi umat-Nya, dan Andreas ingin mengatakan kepada Simon bahwa Sang Mesias yang dijanjikan itu telah datang.

Namun sayangnya, orang-orang Yahudi salah paham tentang apa yang akan dilakukan Mesias ini. Mereka membaca nubuatan tentang bagaimana Mesias akan mengalahkan musuh-musuh Tuhan dan menganggap bahwa Yesus akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Mereka mengharapkan Mesias untuk mendirikan kerajaan di bumi, di mana mereka akan menjadi penguasanya, bukan yang dikuasai. Anggapan Mesianis politis dan militeristis ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi mengabaikan peran spiritual Mesias sebagai pembebasan dari dosa dan Setan. Mereka tidak memahami bahwa kerajaan Sang Mesias bersifat spiritual, bukan politik. Hasilnya, hanya sedikit orang Yahudi yang bersedia menerima Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, sebab Dia tidak sesuai dengan pemikiran dan harapan mereka tentang apa yang akan dilakukan Mesias.

Injil berulang kali menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias—Yang dipilih oleh Tuhan dan diurapi oleh-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Matius 16:16; Lukas 4: 17-21; Yohanes 1: 40-49; 4:25, 26). Setelah kebangkitan Yesus, Petrus mengingatkan orang-orang yang mendengarkan khotbahnya tentang “Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia berkeliling sambil berkeliling baik-baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, karena Allah menyertai Dia” (Kisah Para Rasul 10:38, 39). Yesus sendiri mengaku sebagai Mesias yang dijanjikan. Ketika seorang wanita di sebuah sumur di Samaria berkata kepada Yesus, “Aku tahu bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami. Kata Yesus kepadanya: Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau” (Yohanes 4:25, 26).

Dari apa yang Injil laporkan tampak jelas, warta kepada para pembaca bahwa Yesus sebagai Mesias begitu kuat. Seperti kata Yohanes, “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yohanes 20:31). Yesus sebagai Mesias berarti Dia adalah yang dipilih Tuhan, yang diurapi untuk datang membebaskan manusia dari dosa dan Setan. Sebagai Mesias, Dia menawarkan pengampunan atas dosa-dosa manusia. Dia menjanjikan keselamatan dan tempat di kerajaan-Nya yang akan datang. “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu,… dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:28, 29).

Anak Allah

Istilah ini sering menimbulkan kesalahpahaman. “Anak Allah” merupakan istilah yang tidak bisa ditafsirkan tanpa kacamata teologi Kristiani. Yesus bukan Anak Allah dalam konteks hubungan antara ayah dan anak. Tentu, Allah tidak menikah kemudian memiliki seorang anak. Yesus sebagai Anak Allah perlu dipahami dalam konteks Dia sebagai Allah yang mengambil rupa manusia (Yohanes 1:1, 14). Yesus sebagai Anak Allah artinya, Ia dikandung oleh Roh Kudus, bukan hasil hubungan laki-laki dengan perempuan. Lukas 1:35 mengatakan, “Jawab malaikat itu kepadanya: ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.’”

Dalam konteks zaman itu, frasa ”anak manusia” digunakan untuk merujuk seorang manusia. Jadi, “anak manusia” berarti manusia, dan “Anak Allah” berarti Allah itu sendiri. Pada waktu Yesus dihakimi para pemimpin Yahudi, Imam Agung memerintahkan Yesus, “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak” (Matius 26:63). “Engkau telah mengatakannya,” Yesus menjawabnya. “Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit” (Matius 26:64). Para pemimpin Yahudi merespons dengan menuduh bahwa Yesus telah menghujat Allah (Matius 26:65-66). Kemudian, di hadapan Pontius Pilatus, “Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: ‘Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah'” (Yohanes 19:7).

Mengapa mengklaim sebagai Anak Allah dianggap penghujatan dan layak dihukum mati? Para pemimpin Yahudi tentu mengerti apa yang dimaksud Yesus dengan ungkapan “Anak Allah.” Menjadi Anak Allah adalah sama dengan Allah. Klaim yang menyamai natur Allah adalah sama dengan menjadi Allah, dan itu dianggap penghujatan bagi para pemimpin Yahudi, sehingga mereka menuntut kematian Yesus sesuai dengan Imamat 24:15. Ibrani 1:3 mengungkapkan hal ini secara jelas, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.”

Mengapa Allah-Manusia?

Dari uraian di atas dapat kita pahami dwinatur Yesus, yaitu sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Di dalam Yohanes 1:14, kita mengetahui bahwa melalui sabda, Allah menyingkapkan diri-Nya dengan berbagai-bagai cara sampai dengan puncaknya, yaitu inkarnasi-Nya menjadi manusia Yesus. Namun pertanyaannya, “Mengapa Allah-manusia?” Atau, “Mengapa Person ilahi dengan hakikat Allah (Sang Putra) harus menambahkan hakikat kemanusiaan menjadi hakikat-Nya juga?” Jika Dia Allah yang Mahakuasa, mengapa inkarnasi menjadi satu-satunya pilihan-Nya untuk menyatakan karya penyelamatan?

“Mengapa Allah-manusia?” Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan umum. Tidak juga dialamatkan kepada pikiran umum. Mengapa Allah (mengambil rupa) manusia (Cur Deus Homo) adalah pergumulan khas komunitas Kristen, yaitu orang-orang yang mendapat sapaan intim dari Sang Pencipta. Ini pertanyaan untuk kita. Di dalam konteks inilah, Cur Deus Homo sejak awal memang tidak diarahkan kepada mereka yang tidak percaya, apa lagi sekadar untuk memuaskan dahaga intelektual mereka.

Secara doktrinal, banyak usaha telah dilakukan dalam konteks teologis dan filosofis untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini. Solusi yang ditawarkan Anselmus (bahwa iman akan menuntun kepada pengertian) sudah lama berlalu dan tidak membuahkan hasil yang manis, bahkan masih menyisakan pertanyaan. Cur Deus Homo adalah suatu pertanyaan yang menuntut respons, ketimbang jawaban. “Mengapa Allah mengambil rupa manusia” bukanlah pertanyaan yang mengetuk pintu kognitif, melainkan menggedor-gedor gerbang hati yang berkarat.

Secara teologis, Cur Deus Homo dipahami sebagai pertanyaan batiniah manusia, yang merupakan respons terhadap panggilan dan tindakan Allah yang menantang, karena Ia telah mengutus Putra-Nya ke dalam dunia. Tindakan Allah ini menuntut suatu respons yang penting, sehingga inti dari permasalahannya bukan terletak pada pertanyaan “Bagaimana?” melainkan “Mengapa?” dalam keperluan ontologis dan apriori. Aku percaya, filsafat analitis menyediakan beberapa titik terang bagi kita untuk memahami kata “Mengapa” dalam pertanyaan ini.

Kata “Mengapa” biasanya mengandung dua aspek umum, yaitu kepedulian pragmatis dan keperluan ontologis (mencari hakikat). Menerapkan orientasi pemikiran yang terarah pada pertanyaan teologis tentang Cur Deus Homo, sadar atau tidak sadar, kita selalu memusatkan perhatian kepada orang yang bertanya. Dalam hal ini, pertanyaan teologis menjadi pertanyaan antropologis, sehingga doktrin Kristen hanya akan melayani minat para pemercaya dan pertanyaan-pertanyaan mereka.

Sang Putra menjadi manusia dan berdiam di antara manusia karena kemauan Bapa-Nya (Yohanes 20:21). Tuntutan Allah adalah menghukum manusia berdosa, karena upah dosa adalah maut (Roma. 6:23), tetapi Dia rela mengutus Putra-Nya menggantikan manusia untuk menerima hukuman. Singkatnya, dalam drama ini Yesus Kristus harus memenuhi dua persyaratan sebagai Pengganti (penebus manusia berdosa): Pertama, Ia adalah manusia; Kedua, Ia tidak berdosa. Dan Ia memenuhinya.

Penjelasan di atas cukup memadai, namun pertanyaan “Mengapa Allah-manusia?” tahun demi tahun akan terus mewarnai hati orang percaya. Orang Kristiani yang rata-rata tidak akan menanyakannya, hanya yang bergumul serius dengan imannya yang melakukannya. Orang Kristiani sejati berkomitmen penuh menerima kedatangan-Nya sebagai Mesias dan Anak Allah, Raja di atas segala raja, dan selalu mengingat “Kita hidup oleh iman kepada Putra Allah yang mengasihi kita dan memberikan diri-Nya bagi kita.” (Galatia 2:20).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Lepaskan Khawatirmu Supaya Kamu Mendapat Kedamaian

Naluri alamiahku ketika menghadapi kabar buruk adalah khawatir, over-thinking, dan panik. Tidakkah aku berdoa? Ya, aku berdoa. Tapi, doa yang kunaikkan bukan berasal dari hati, itu doa yang didasari putus asa dan kesuraman.