Ketika Kutemukan Bagian yang Hilang dari Kesuksesan

Oleh Michele Ong
Artikel ini dalam bahasa Inggris: When I Found The Missing Piece To Success

Beberapa waktu lalu, aku mulai merenungkan apa artinya sukses.

Semua dimulai ketika ayahku berkomentar betapa suksesnya salah satu sepupu jauhku yang berprofesi sebagai ahli bedah. Aku ingat, aku pernah memberi tahu ayahku—dengan agak kesal—bahwa lulusan seni bisa sama suksesnya seperti rekan-rekan mereka yang belajar kedokteran. Maksudku, lihatlah sutradara film dari Selandia Baru, Taika Waititi. Dia sukses! Aktor Inggris, Tom Hiddleston begitu memuji Waititi dan mengaguminya karena kecakapannya. Tom juga menyukai film Waititi, Hunt For The Wilderpeople.

Namun, komentar itu tetap membuatku berpikir tentang definisi sukses.

Apakah dengan memiliki jumlah saldo rekening yang besar, pakaian, sepatu mahal, dan tinggal di apartemen mewah? Apakah dengan melepaskan pekerjaan yang nyaman dan penghasilan tetap untuk menjadi sukarelawan di negara dunia ketiga? Atau apakah dengan memiliki keluarga, menetap di rumah yang bagus, dan menikmati kehidupan sosial yang baik bersama keluarga dan teman?

Aku mencari di Google, “Apa itu sukses?”, dan mendapatkan 1,040,000 hasil pencarian. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah playlist pembicaraan yang menampilkan orang-orang terkemuka yang berbagi ide dan definisi tentang kesuksesan mereka. Dua dari mereka menonjol secara khusus.

Yang pertama adalah penulis Amerika, Elizabeth Gilbert, yang menulis memoar populer pada tahun 2006, yaitu Eat Pray Love. Baginya, kesuksesan berarti gigih dalam menghadapi rintangan. Gilbert menerima banyak surat penolakan selama enam tahun sebelum dia menerbitkan buku pertamanya. Namun, sama seperti penolakan-penolakan yang menghancurkannya itu, dia tidak pernah melihat berhenti sebagai pilihan.

Yang kedua adalah pemain dan pelatih bola basket Amerika, John Wooden, yang mendefinisikan kesuksesan sebagai “ketenangan pikiran yang dicapai hanya melalui kepuasan diri dengan mengetahui bahwa kamu melakukan yang terbaik untuk menjadi yang terbaik yang kamu mampu”.

Setelah mendengar kedua pembicaraan tersebut, aku merasa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang apa yang membuat hidup menjadi sukses. Rumus sukses banyak bicara tentang mengatasi kesulitan dan menjadi yang terbaik semampu kita. Dan prinsip-prinsip ini selaras dengan apa yang diajarkan Alkitab. Alkitab memperingatkan tentang kemalasan (Amsal 6:10-11; Amsal 10:4) dan mendorong kita untuk memberikan yang terbaik dalam segala hal yang kita lakukan, memahami bahwa kita bekerja untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23-24).

Tapi, tetap saja aku merasa ada yang kurang dalam “rumus sukses” ini.

Jadi, aku melihat buku favoritku sepanjang waktu, The Purpose Driven Life, ditulis oleh pendeta Amerika, Rick Warren. Dia menulis bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk mengonsumsi sumber daya atau untuk “mendapatkan” hasil maksimal dari kehidupan, namun Tuhan telah menciptakan kita untuk membuat perbedaan dalam hidup dengan memberi dan melayani. Bunda Teresa, contohnya. Dia tidak memiliki rumah besar, tapi karya-karyanya telah mempengaruhi jutaan orang di sekitarnya.

Dan tentu saja, ada Yesus sendiri. Ia dilahirkan dalam kehidupan yang sederhana, tanpa kemegahan atau kemewahan. Dia mengabdikan hidup-Nya untuk membantu dan melayani orang lain, melakukan banyak mukjizat di antara mereka untuk menunjukkan kuasa dan kasih Bapa-Nya. Kemudian, Yesus menunjukkan tindakan pelayanan dan pengorbanan terbesar, yaitu menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Sampai hari ini, nama-Nya dikenang dan satu tindakan tanpa pamrih-Nya terus mengubah kehidupan di seluruh dunia. Apakah itu kehidupan yang sukses?

Jadi, jika kehidupan Yesus adalah lambang kesuksesan, kita dapat yakin bahwa Tuhan tidak mengukur kesuksesan kita dengan kekayaan materi kita. Dia juga tidak mengukur kesuksesan kita dengan perbuatan baik yang kita lakukan atau pencapaian yang kita miliki.

Meski begitu, tidak salah jika kita diberkati dengan penghasilan yang lumayan, prestasi yang membanggakan, atau jika kita ingin menjadi relawan di masyarakat. Aku mengenal beberapa pengusaha dan wiraswasta yang mendapatkan gaji besar dan menyumbang sebagian dari pendapatan mereka ke gereja sebagai sarana pelayanan mereka. Ada juga orang yang terpanggil untuk menjadi misionaris dan meninggalkan kenyamanan rumah mereka untuk melayani di lingkungan yang asing. Di mata Tuhan, kedua kelompok itu sama berharga dan suksesnya karena motivasi mereka sama—melayani dan memberi kepada Tuhan.

Aku tahu, kesuksesan dapat dengan mudah didefinisikan berdasarkan gaji, jabatan, dan pencapaian dalam hidup kita. Aku pun jatuh ke dalam perangkap ini sesekali, dan membandingkan pekerjaanku dengan pekerjaan teman-temanku yang memiliki jam terbang tinggi. Terkadang aku bahkan merasa malu karena tidak mengambil bagian dalam tiap misi besar di hidupku, dan merasa seperti aku telah gagal mencapai “kesuksesan”.

Tetapi aku harus terus-menerus mengingatkan diri sendiri bahwa Tuhan tidak peduli dengan hal-hal tersebut. Akan ada hari ketika kita harus berdiri di hadapan Tuhan untuk memberikan pertanggungjawaban tentang bagaimana kita hidup. Akankah kita dapat berdiri dengan percaya diri di hadapan-Nya karena mengetahui bahwa kita telah melayani-Nya dengan sepenuh hati dan memberikan yang terbaik kepada-Nya? Jika demikian, aku benar-benar percaya bahwa itulah tanda kehidupan yang sukses!

Cari Cuan “Yes”, Langgar Kehendak Tuhan “No”

Oleh Stanlee Wijaya, Palembang

Sebagai seorang keturunan Tionghoa, aku sangat dekat dengan kata dan konsep “cuan” yang berarti “untung”. Kata ini sering kali kudengar di perbincangan keluarga, khususnya ketika sudah membahas hal-hal yang berkaitan dengan perkara jual beli.

Aku pun diajarkan untuk mempertimbangkan cuan dalam segala keputusan yang kuambil. Contohnya, ketika aku berbelanja kebutuhan pribadi, aku diajarkan untuk semaksimal mungkin mencari barang-barang yang sedang diskon. Dengan demikian, pengeluaranku jadi lebih kecil dan barang-barang yang kudapat pun jadi lebih banyak. Ketika berhasil melakukannya, tentu aku dengan bangga merasa diri telah bijaksana dalam membelanjakan uang dan telah mendapatkan cuan.

Masa kini, kata dan konsep cuan mendapatkan perhatian yang cukup besar, bahkan menjadi populer dalam perbincangan kita anak-anak muda. Kuakui bahwa aku bangga karena sebagai keturunan Tionghoa, kata dan konsep ini jadi sesuatu yang populer di lingkunganku juga menyebar ke masyarakat luas. Kita sering kali menggunakan kata cuan baik dalam bercanda maupun obrolan tentang bisnis dan perencanaan usaha kita, dan tak jarang pula ada orang-orang yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk mengejar cuan. Ada yang jadi workaholic, materialistis, bahkan ada yang sampai tega menipu demi mendapat cuan yang lebih banyak lagi.

Konsep hidup yang berfokus hanya mencari cuan, cuan, dan cuan saja ini turut membuatku takut kalau-kalau kita menerapkannya juga dalam kehidupan spiritualitas kita, khususnya ketika kita melakukan firman Tuhan. Kita bisa jadi orang yang tawar-menawar dengan Tuhan. Apabila melakukan firman Tuhan membuatku dijauhi, maka ketaatanku pada-Nya kita anggap tidak mendatangkan cuan bagiku. Apabila karena melakukan firman Tuhan aku tidak bisa menjadi pejabat negara, maka maaf Tuhan, Engkau tahu aku membutuhkan posisi ini untuk kehidupanku. Apabila melakukan firman Tuhan membuatku menjadi orang yang tidak bisa menikmati masa muda yang penuh kebebasan, maaf nampaknya aku tidak akan melakukan firman-Mu. Tuhan tahu kok, masa muda hanya sekali dan Dia pasti bisa mengerti.

Coba selidiki hati kita. Apakah pikiran-pikiran seperti itu lahir di benak kita? Apakah kita akan mengelak jika ditantang untuk melakukan firman Tuhan yang dalam beberapa hal tidak akan mendatangkan cuan bagi kita? Apakah boleh demikian?

Hari ini, aku mengajakmu untuk mendengar apa yang Tuhan sampaikan bagi kita melalui 1 Samuel 26. Pasal tersebut mengisahkan tentang Daud yang lagi-lagi membiarkan Saul hidup, padahal Daud bisa saja membunuhnya. Jika ditimbang-timbang dengan pola pikir yang mengutamakan cuan, Daud sebenarnya dapat mengakhiri masa-masa buronnya jika ia membunuh Saul saat itu. Dengan begitu, Daud tidak perlu hidup dalam ketakutan karena dikejar-kejar oleh sang Raja Israel untuk dibunuh. Kalau Daud membunuh Saul, maka musuh Daud seharusnya berkurang. Lagipula, Daud sudah diurapi sebagai raja. Apabila Saul mati, maka Daud dapat menggantikan Saul sebagai raja. Sebilah tombak sebenarnya dapat mengakhiri masa sulit Daud sebagai buronan nomaden dan membuatnya segera menjadi seorang raja.

Akan tetapi, bagi Daud, justru membunuh Saul sebenarnya tidak mendatangkan cuan sama sekali. Bagi Daud, membunuh sang raja yang mengincarnya tidak akan membuat hidupnya aman dan tentram. Justru sebaliknya, keputusan membiarkan Saul tetap hidup  adalah keputusan yang lebih bijak bagi Daud, sebab Daud tahu bahwa membunuh adalah pelanggaran terhadap Tuhan, sang Pemberi hidup (Keluaran 20:13; Ulangan 5:17; 27:24). Daud masih menghormati Saul sebagai orang yang diurapi Tuhan, meskipun Saul berulang kali berusaha membunuhnya (1 Samuel 24:7, 12, 18; 26:9). Bagi Daud, hanya Allah yang berhak membalas apa yang Saul lakukan, sekeji apa pun itu (1 Samuel 26:9-10). Dengan melakukan kehendak Tuhan, Daud justru memperoleh cuan paling besar, yaitu perkenanan Allah, karena dia melakukan apa yang Tuhan kehendaki.

Dalam hidup sebagai orang percaya, melakukan kehendak Tuhan adalah hal yang tidak boleh dikompromi. Melakukan kehendak Tuhan tidak dapat diukur dengan untung dan rugi dari perspektif manusiawi. Mungkin kita akan dikucilkan. Namun, kemuliaan yang akan datang lebih besar daripada penderitaan yang dialami saat ini. Perkenanan Tuhan adalah cuan paling berharga. Untuk apa mempunyai segala cuan di hidup ini kalau Tuhan tidak berkenan dengan hidup kita? Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang kekal. Yesus sendiri mengatakan “… kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19)

“Lah terus gimana dong, kan kita hidup juga butuh cuan?” Betul. Tapi sebagai orang percaya, perspektif kita harus beda dengan orang tidak kenal Tuhan. Yesus sendiri menegaskan untuk mencari kerajaan Allah dan kebenarannya lebih dahulu (Matius 6:33). Kemudian, segala cuan yang kita butuhkan akan Tuhan tambahkan pada kita, sebab Tuhan tahu bahwa kita memerlukan itu (Matius 6:32-33). Paulus sendiri menganggap segala cuan dalam hidupnya dulu menjadi tidak berharga jika dibanding dengan Yesus Kristus (Filipi 3:8-10). Kita tetap membutuhkan cuan dalam hidup ini, tetapi jangan sampai cuan itu menggeser supremasi Kristus dalam hidup kita.

Kita tetap membutuhkan cuan dalam hidup ini, tapi Tuhan, kehendak-Nya, dan perkenanan-Nya harus menjadi yang terutama bagi hidup kita.

Harta Dunia vs Harta Surgawi, Ini Pengalamanku Meraih Keduanya

Oleh Cristal Tarigan

Aku terlahir dari keluarga sederhana. Ketika orang tuaku menikah, tidak ada harta warisan sama sekali yang mereka peroleh dari kakek pihak bapak maupun mamakku. Hal ini membuat orang tuaku berjuang keras dalam mencari uang untuk bisa bertahan dalam perjalanan rumah tangga mereka.

Sebagai anak pertama dalam keluarga, aku melihat benar perjuangan yang dialami oleh kedua orang tuaku, sampai akhirnya kini kami bisa hidup cukup. Sampai aku kelas 1 SD, orang tuaku hanya menjadi petani yang sehari-harinya–dari pagi sampai sore–ada di ladang. Kemudian saat aku kelas 2 SD, ayahku mulai menjadi pengepul buah pisang yang ada di desa kami, untuk kemudian dijual kepada agen pisang yang datang dari kota. Hingga aku duduk di bangku SMA, ada banyak jenis pekerjaan yang dikerjakan oleh bapakku. Buah apa saja yang sedang musim, akan dimanfaatkan bapakku untuk menjadi pengepulnya. Ada buah pisang, alpukat, jengkol, duku, manggis, bahkan bapak juga pernah menjadi pengumpul berbagai jenis barang bekas. Pengalaman hidup menjadi anak “Pengepul Buah” membuatku banyak belajar tentang dunia jual-beli. Bukan hanya itu, aku bahkan bermimpi kelak aku harus menjadi orang yang berhasil dalam keuangan. Menjadi orang kaya adalah salah satu hal yang ingin aku capai.

Aku tidak mau hanya menjadi seorang pemimpi. Aku benar-benar memulai sesuatu yang bisa menghasilkan uang. Di desaku, ada banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan anak kecil untuk bisa menghasilkan uang. Aku memetik hasil tanaman di kebun dan mengupas pisang, juga pekerjaan-pekerjaan lainnya di kebun. Dari pekerjaan itu, aku akan diberi uang oleh pemilik kebun. Jadi, sejak SD aku sudah mulai menabung dari pekerjaan kecil yang bisa kulakukan. Saat SMA, aku mulai untuk berjualan di sekolahku, bahkan sampai kuliah kuterapkan misi ini. Berjualan online maupun offline aku lakukan demi nominal di tabungan yang harus terus bertambah. Tidak banyak memang yang kuhasilkan saat itu, tapi ada perasaan bangga sekali ketika aku bisa membeli sesuatu dengan hasilku sendiri. Begitulah aku, sampai akhirnya selesai kuliah pun aku tetap melakukan hal yang sama.

Aku wisuda bulan Desember 2019 dengan gelar Sarjana Pendidikan. Aku sempat bekerja sebagai freelancer di sebuah bimbingan belajar, di sini gajinya lumayan untuk hidup di kota Medan, apalagi jika kita masih mau mencari tambahan pekerjaan lain. Tapi suasana dunia kerjanya yang seperti “ajang bisnis” membuatku tidak nyaman. Selain itu, di tahun pertamaku setelah wisuda, aku masih mempunyai tanggung jawab di sebuah pelayanan kampus. Dengan kondisiku yang seperti itu—freelancer dan pelayanan di kampus—kadang waktunya pun bertabrakan dan membuatku merasa sangat bersalah ketika tidak maksimal mengerjakan keduanya.

Setelah aku pikirkan kondisiku saat itu, aku memutuskan untuk resign. Aku tidak tahu keputusan itu salah atau benar, mengingat aku baru 3 bulan bekerja. Tapi aku mengikuti hati, prioritasku saat itu adalah pelayanan. Pekerjaan dan keuangan biar Tuhan yang aturkan menurut cara-Nya. Aku benar-benar mengikuti kata hati saja saat itu. Sebenarnya ada banyak dilema yang kurasakan: harus bagaimana selanjutnya, kerja apa yang tidak membuatku harus menyerah terhadap komitmen di pelayanan, apa yang akan kukatakan kepada orangtua dan orang lain yang melihatku berhenti bekerja, dan masih banyak lagi yang ada di benakku. Tapi, Virus Corona yang membuat semua orang akan dirumahkan seakan menjawab semua pertanyaanku. Tepat setelah aku resign, 2 minggu kemudian diberlakukan WFH.

Tiga bulan lamanya aku di rumah sambil membantu orang tua, juga terus berdoa, berserah dan menunggu bagaimana cara Tuhan selanjutnya agar aku bisa mempertahankan komitmen pelayanan tersebut. Tepat 4 bulan kemudian, Tuhan jawab doaku, yaitu aku bisa bekerja tanpa harus mengesampingkan pelayananku. Banyak yang kusyukuri saat itu, termasuk waktuku bersama keluarga. Bahkan yang tidak aku sangka, Tuhan memberi berkat materi lebih besar dengan pekerjaan baruku.

Apa yang aku dapat dari pengalaman ini adalah: pertama, jalan dan waktu Tuhan itu sebuah misteri, jadi kita perlu doa, percaya, berserah dan setia. Hasilnya, rencana-Nya selalu lebih baik dan terbaik. Yang kedua, kita harus punya keberanian dalam memutuskan sesuatu. Aku tidak tahu, kondisi apa yang sedang kita alami dan membuat kita harus memilih serta memprioritaskan hal lain dibanding iman kita saat ini. Tapi, kadang kita terlalu takut untuk memulai atau berhenti terhadap sesuatu karena kita belum tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Padahal, bukankah kita punya Tuhan yang akan senantiasa menyertai? Terlepas itu berhenti atau memulai pekerjaan seperti ceritaku, aku rasa usia 20-30 an yang kerap dekat dengan kata “tantangan dan pencarian jati diri”, berani melangkah dalam iman, wajib hukumnya bagi semua kaula muda.

Kini tujuanku menjadi orang kaya dengan apa yang aku rencanakan sirna sudah. Pengalaman itu justru membawaku untuk mengumpulkan “kekayaan lain” yang tidak bisa diambil oleh pencuri atau dirusak oleh ngengat maupun karat. Lebih besar lagi, perjalanan 2 tahun setelah wisuda itu, dengan segala lika-likunya, membawaku menemukan visi hidupku. Aku ingin berkecimpung dalam bidang sosial, seperti membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Memang, menjadi kaya tidak salah selagi materi hanya sebagai alat dan bukan tujuan, tapi yang terutama adalah sebelum kita memiliki segala kepunyaan di dunia, pastikan kita memiliki dahulu kepastian di sorga, yaitu jika kita mempercayai Yesus saja dengan segenap hati.

Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi ngengat dan karat dapat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya (Matius 6:19-20).

Setia: Kualitas yang Langka?

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Ketika tulisan ini ditulis, berita soal perselingkuhan Adam Levine dan Reza Arap sedang menjadi trending topic di Twitter dan juga sosial media lainnya. Orang-orang di dunia maya ramai membicarakannya dan muncul beragam respons. Ada yang mulai meragukan kesetiaan pasangannya, ada juga yang mempertanyakan apakah masih ada laki-laki yang setia di dunia ini?

Sebagai seorang wanita yang menjalani masa single selama 12 tahun, mungkin aku dirasa kurang tepat untuk membicarakan perihal kesetiaan. Namun, aku memiliki kisah yang meneguhkanku bahwa kesetiaan adalah sebuah keputusan dan komitmen luhur yang seharusnya dimiliki oleh semua orang. Kesetiaan adalah kualitas diri, dan untuk menjadi seorang yang “setia” tidak perlu menunggu untuk memiliki pasangan terlebih dulu.

Aku berteman dengan laki-laki yang sudah memiliki pacar, mereka sedang menjalani hubungan jarak jauh (LDR). Ketika kami bekerja di kota yang sama, beberapa kali dia menawarkan bantuan untuk mengantar-jemputku untuk mengikuti kelompok pendalaman Alkitab bersama yang ada di kota tersebut. Bagi seseorang yang tidak memiliki kendaraan pribadi, aku sangat bersyukur dengan tawaran itu. Namun, ada kegelisahan dalam diriku. Karena aku tahu dia sudah berpacaran, aku khawatir pacarnya keberatan jika aku diantar jemput untuk pendalaman Alkitab bersama.

“Pacarmu tahu nggak, kalau kamu jemput aku?” tanyaku pada suatu hari ketika aku sedang dibonceng olehnya.

“Tahu, kok.”

Namun aku tetap gelisah, meski aku hanya menganggapnya seorang teman. Aku tidak ingin jadi orang yang oportunis, yang diuntungkan dengan diberi tebengan tetapi tak peduli dengan dampak di baliknya. Pergi berdua dengan teman lelakiku ini membuatku bertanya-tanya, bagaimana perasaan pacarnya: apakah dia akan cemburu?

Sesampainya di kos, aku mengirim pesan kepada pacar teman lelakiku itu. Kebetulan aku juga mengenalnya. Aku memberi tahu bahwa beberapa kali aku keluar dengan pacarnya untuk PA bersama dan bertanya apakah dia tidak keberatan akan hal tersebut.

Benar saja, ternyata mereka sempat bertengkar perihal pacarnya mengantar-jemputku beberapa kali. Aku meminta maaf kepadanya, karena sudah merepotkan dan membuatnya khawatir. Kemudian aku meyakinkan hati pacar temanku ini untuk percaya bahwa aku akan menjaga relasi pertemanan di antara kami bertiga. Aku menghormati hubungan pacaran mereka berdua.

Pengalamanku ini mengajariku bahwa perlu ada batasan ketika kita berelasi dengan seseorang yang sudah berpasangan, entah itu sudah menikah atau mungkin baru di tahap berpacaran. Bukan berarti kita tidak bisa berteman dengan mereka yang telah berpasangan, tetapi dalam tiap aktivitas kita, kita dapat mengomunikasikan batasan kita dengan jelas sehingga terbangun pengertian. Bagi yang sudah berpasangan, bukan berarti kita harus selalu meng-update apa pun aktivitas kita, tetapi kepada hal-hal yang berisiko disalahpahami, kita dapat membangun pengertian dan meyakinkan sang pasangan bahwa kita adalah sosok yang berkomitmen untuk setia. Dan, selalu minta tuntunan Allah agar berhikmat dalam mengambil tindakan.

Setia dimulai dari diri sendiri

Karena sebuah relasi adalah kesepakatan dari dua belah pihak, perselingkuhan yang kerap dituding murni sebagai ketidaksetiaan satu pihak mungkin tidak sepenuhnya akurat. Masing-masing punya andil di balik perilaku curang ini. Salah satu penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Sex & Marital Therapy tahun 2021 menemukan bahwa ada delapan alasan utama mengapa seseorang selingkuh: kemarahan, menginginkan harga diri, kurangnya cinta, lemahnya komitmen, tidak adanya variasi, pengabaian, hasrat seksual, dan situasi-kondisi yang mendukung.

Alkitab pun menjunjung kesetiaan sebagai nilai yang luhur. Allah menunjukkan pada kita bahwa Dia setia (Ibrani 13:5), dan kita pun dipanggil untuk hidup di dalam-Nya agar hidup kita menghasilkan buah-buah roh yang salah satunya adalah kesetiaan (Galatia 5:22-23).

Buah roh berupa kesetiaan tidak muncul dengan tiba-tiba. Itu bisa muncul jika kita sebagai ranting terhubung pada pokok yang benar (Yohanes 15). Jika Kristus adalah pokok yang menjadi dasar kita, maka buah-buah roh dapat kita hasilkan. Artinya, kesetiaan adalah sebuah proses yang perlu diupayakan, dimulai dari hal-hal kecil dan tak selalu berkaitan dengan relasi romantis. Alkitab berkata barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia juga akan setia dalam perkara besar (Lukas 16:10).

Bagiku yang sedang menjalani masa single, kesetiaan bisa kulatih dengan hidup jujur dan kudus di dalam Tuhan. Kesetiaan adalah komitmen luhur yang kita persembahkan bagi Allah, sang empunya hidup. Jadi, jika kepada Allah kita mampu bersikap setia, itu akan memudahkan kita untuk juga berlaku setia bagi sesama kita. Aku menghormati masa single-ku sebagai masa indah, yang kudus, dan berkenan bagi Allah, sehingga aku pun membangun batasan yang jelas dalam berelasi dengan orang-orang yang telah berpasangan. Firman Tuhan berkata bahwa kita perlu memiliki cara hidup yang baik, supaya pada akhirnya nama Tuhan dipermuliakan (1 Petrus 2:12). Kisah perselingkuhan Daud dan Batsyeba di Alkitab pun menunjukkan bahwa di hadapan Allah, perselingkuhan merupakan hal yang jahat dan perbuatan yang menghina Tuhan (2 Samuel 12:9).

Pada akhirnya, menjaga kekudusan dan kesetiaan bukan hanya karena kita mencintai pasangan hidup kita di dunia ini, tetapi karena kita mau menghormati Allah. Dia adalah Allah yang kudus dan setia, maka sebagai pribadi yang telah ditebus sudah sepatutnya kita menjalani hidup yang kudus dan setia serta tidak merusak hubungan yang dimiliki oleh pasangan lain dengan menjadi selingkuhan.

Di tengah dunia yang penuh dengan curiga, anak-anak Tuhan diundang untuk merayakan kesetiaan sehingga setiap orang dapat memuliakan Tuhan ketika melihat dan mengalaminya. Memelihara karakter yang setia dapat kita lakukan dengan terus melekat kepada Yesus, karena di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Merenungkan dan menjadi pelaku firman, bersedia untuk melayani dan dilayani dalam komunitas, mewujud-nyatakan kasih dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kiranya Allah yang adalah kasih itu memampukan kita untuk memiliki kualitas pribadi yang setia pertama-tama kepada-Nya, Kekasih jiwa kita. Serta menjadi teladan di dalam relasi kita dan menunjukkan kepada dunia bahwa kesetiaan bukanlah hal yang langka.

Soli Deo Gloria!

3 Teladan Produktivitas dari Tokoh Alkitab

Oleh Philip Roa
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Productivity Tips From 3 Bible Characters

Dunia digital membuat pekerjaan kita seolah tiada habisnya. Artikel dari American Psychological Association tahun 2022 mencatat statistik yang menyoroti tingkat kelelahan dan stres yang tinggi di semua industri.

Dari 1.500 orang yang disurvey, hasilnya:

  • Sekitar 19% mencatat kurangnya usaha dalam pekerjaan mereka.
  • Sekitar 26% merasa kurang berenergi.
  • Hampir 40% merasa kelelahan kognitif (lelah berpikir).
  • Lebih dari 30% berjuang dalam kelelahan emosional.
  • 44% merasa lelah secara fisik–meningkat hampir 40% dibandingkan tahun 2019.

Produktivitas, kelelahan, dan kejenuhan menjadi kata-kata yang tak asing dalam perbendaharaan bahasa di otak kita. Aku pun berpikir, inilah saatnya untuk menilai cara dan prinsip kerja kita berdasarkan kebenaran Alkitab. Kutemukan tiga tokoh yang menyelesaikan tugasnya sembari tetap mengupayakan kewarasan di dalam proses kerja yang berat.

1. Musa: Belajar untuk mendelegasikan tugas/meminta pertolongan

Kalau kamu merasa habis tenaga setelah ikut Zoom berjam-jam (meskipun pesertanya kurang dari 10 orang), coba bayangkan bagaimana Musa setiap hari berbicara kepada ribuan orang. Konteksnya, saat itu populasi bangsa Israel diperkirakan mencapai 2 juta jiwa, dan Musa menangani semua persilisihan mereka sendirian.

Mertua Musa, Yitro, melihat bahwa Musa pasti akan kewalahan (ayat 17-18), maka dia mengusulkan agar Musa memilih para pemimpin yang kepada mereka Musa dapat mendelegasikan tugas-tugasnya. Tujuan utamanya agar Musa dapat fokus pada perannya sebagai nabi dan pemimpin Israel.

Aku mengelola kelompok PA kecil yang terdiri dari delapan orang dan menurutku nasihat Yitro amat menolong. Dulu aku selalu memimpin setiap sesi dan mengoordinasikan segalanya sendirian, tapi aku telah belajar untuk membagi tugasku kepada mereka yang kulatih untuk menjadi pemimpin selanjutnya. Ketika aku memiliki orang lain yang mendukungku, itu tak hanya mengurangi stres, tapi juga melengkapi timku untuk bertumbuh. Sekarang aku punya dua murid yang juga memimpin kelompok komsel mereka sendiri, dan dua lainnya sedang belajar untuk mulai merintis.

Nasihat Yitro tidak cuma berlaku bagi para manajer atau kelompok komsel, tapi kepada setiap kita! Kalau kamu merasa kewalahan, bolehkah aku menyarankan beberapa tips di bawah ini?

  •  Jika kamu sudah bekerja, bicarakan pada atasanmu tentang beban kerjamu. Kamu bisa berikan usulan pribadimu tentang bagaimana kamu dapat bekerja lebih baik, atau mengatur ulang prioritas kerjamu. Cara ini lebih baik daripada kamu bersungut-sungut setiap hari tanpa mengomunikasikan permasalahan utamanya pada atasanmu.
  • Kalau kamu dapat kesempatan atau tanggung jawab baru, pertimbangkan juga untuk bertanya pada atasan/pemimpinmu apakah mungkin untuk berbagi tugas dengan anggota tim yang lain.
  • Kalau kamu merasa terjebak/stagnan dalam pekerjaanmu, mintalah nasihat dari anggotamu tentang bagaimana mengerjakan suatu tanggung jawab… terkhusus dari mereka yang sudah pernah menyelesaikannya.

Ingatlah, meminta tolong bukanlah tanda kelemahan (Pengkhotbah 4:9-10).

2. Paulus: Mengatasi kecemasan dengan menyerahkannya pada Yesus

Kamu butuh pola pikir yang benar untuk mengalahkan kebiasaan buruk yang mengarahkanmu pada bekerja berlebihan… atau sebaliknya: kurang berusaha! Riset-riset menunjukkan bahwa kecemasan bisa menurunkan performa kerja, tapi bisa juga mendorong seseorang untuk bekerja secara over. Kamu mungkin bekerja mati-matian, tapi tetap saja tidak maksimal kalau kamu mengerjakannya dengan cemas.

Kecemasan bicara tentang ketidaktahuan akan masa depan—di mana kita akan kerja dan apakah penghasilannya cukup, dan sebagainya. Alkitab mendorong kita untuk tidak khawatir akan apa pun juga, tetapi menyerahkannya dalam doa dan permohonan pada Allah (Filipi 4:6-7).

Selama beberapa waktu aku mendoakan Tuhan mencukupi kebutuhan finansialku agar aku dan pacarku bisa menikah. Kami tidak ingin meminta bantuan uang dari keluarga. Di masa ketika inflasi dan biaya hidup meningkat, aku butuh Tuhan untuk mengatasi kekhawatiranku akan tak punya cukup uang untuk biaya menikah nanti (juga untuk kehidupan berkeluarga kelak).

Syukurlah, doaku dijawab Tuhan. Aku naik jabatan setelah disahkan menjadi karyawan tetap. Ini meneguhkanku bahwa Tuhan selalu menjawab doa kita ketika kita sungguh menyerahkan beban dan kekhawatiran kita pada-Nya.

Mudah bagi kita untuk menganggap klise apa yang tertulis di Filipi 4:6-7, tetapi coba membacanya dengan seksama dan perlahan. Ayat itu bicara tentang damai sejahtera Allah memelihara “hati dan pikiran” (ayat 7).

Damai-Nya melindungi kita dari pikiran-pikiran yang penuh kekhawatiran. Ketika kita tahu kita memiliki Bapa yang mengasihi, yang peduli dan mengasihi, kekhawatiran kita akan berkurang. Kita pun akan terbebas dari kecenderungan untuk bekerja terlalu keras dalam upaya untuk menjaga diri kita sendiri.

3. Yesus: Ketahui kapan harus beristirahat atau berhenti

Tahukah kamu bahwa Tuhan Yesus sendiri mempraktikkan kebiasaan kerja yang sehat dengan menolak orang di akhir hari kerja-Nya yang panjang? (Matius 14:22-23). Yesus memberi waktu agar diri-Nya dan murid-Nya beristirahat. Dalam keilahian-Nya, Yesus juga manusia seratus persen sehingga tubuh-Nya masih merasakan lelah, lapar, dan haus seperti kita.

Tanpa beristirahat, kita takkan bisa sungguh produktif. Artinya, istirahat berupa mengesampingkan sejenak tugas dan tanggung jawab untuk kegiatan yang sehat seperti tidur, rekreasi, dan waktu bersama Tuhan adalah bagian dari produktivitas juga.

Kita perlu mengatur batasan waktu kerja, terlebih bagi kita yang bekerja secara remote. Sudahi pekerjaanmu setelah jam kerja berakhir. Bagi mereka yang ada di posisi pimpinan juga dapat menginisiasi budaya kerja yang sehat dengan meneladankan jam masuk dan pulang yang tepat, agar tim kita pun mengikutinya. Bahkan untuk kelompok komsel, kita juga bisa menerapkannya.

Hal lain yang kupelajari ialah, jika sesuatu tidak sangat-sangat mendesak, aku bisa mengerjakannya di besok paginya. Selama bertahun-tahun aku kerja, aku juga belajar untuk mengatur waktu-waktuku dengan bijak, tidak mengerjakan tugas dengan sistem kebut semalam.

Saat kita bekerja untuk Tuhan, kita harus produktif dalam cara yang menunjukkan kesetiaan pada apa yang kita punya seperti talenta dan waktu. Tunjukkan juga bahwa dalam upaya kita, kita tidak melupakan istirahat dan menikmati buah dari usaha tersebut. Pengkotbah 3:13 berkata, adalah baik untuk makan, minum, dan menemukan kepuasan dalam pekerjaan kita—tak sekadar menghabiskan seluruh waktu kita buat kerja. Kepuasan adalah karunia Tuhan, dan marilah kita dengan senang hati menerimanya supaya hadir sukacita yang mendorong kita hidup lebih produktif.

Hal-hal yang Receh dan Kerap Diabaikan, Di Sanalah Ladang Subur untuk Menanam Kebaikan

Oleh Agustinus Ryanto

Hari-hari anak muda yang telah lulus kuliah dan bekerja tidak lagi seseru dulu. Meski tak semua anak muda merasa begitu, itulah yang kualami beberapa tahun ke belakang. Di umur yang masih muda ini aku sudah punya sakit lambung, dan jumlah temanku pun mulai menyusut seiring dengan banyak di antara mereka yang menikah atau merantau ke lain kota.

Tahun kemarin, untuk merayakan hari ulang tahunku, aku mentraktir diriku sendiri. “Beli burger vegan ah!” celetuk otakku. Burger ini ukurannya lumayan besar. Meskipun tidak ada daging hewani sama sekali, tapi menyantapnya sampai habis sungguh membuat perutku kenyang.

Setengah jam pasca tuntas memakan burger itu, aku merasa ada yang tidak beres dengan perutku. “Dung…dung…” suara kembung dan begah saat ditepuk. Meski kembung setelah makan adalah hal normal, tapi instingku merasa ini bukan kembung yang wajar… apalagi aku memang sejak 2019 aku mengidap gerd. Kutunggulah sampai beberapa jam ke depan, tapi kembungnya tidak hilang-hilang. Malahan, muncul rasa mual dan sesak. Napasku jadi pendek-pendek.

Sampai empat hari berselang, kembungnya tidak benar-benar hilang dan perasaanku selalu mual. Kuputuskan untuk menemui dokter spesialis langgananku.

“Hayo, kenapa lagi ini?” dokter ini sudah hafal denganku karena memang aku sering kontrol dengannya.

“Iya dok, ini, kemarin Kamis saya sesek di dada. Di tenggorokan banyak lendir. Terus perutnya kembung terus, gak enak,” tuturku mendetail sambil batuk. “Nah dok, ada batuk juga sih ini. Berasa banyak lendir tapi susah dikeluarin.”

“Jangan dipaksa. Jangan didehemin. Nanti takutnya luka tenggorokannya. Coba duduk sini.”

Di kursi yang mirip dengan kursi dokter gigi, alat seperti pistol air dengan ujung runcing dimasukkan ke mulutku. Di pucuknya ada kamera. Lalu muncullah citra isi tenggorokanku di monitor.

“Nah, ini radang. Bengkak laring kamu.”

“Kok bisa, dok?”

“Ini gara-gara lambung,” katanya. “Asam lambung kamu naik, jadi dinding kerongkonganmu itu memproduksi lendir untuk melindungi diri. Cuma lendirnya banyak, dan tenggorokanmu radang. Lendirnya jadi nyangkut, itu yang bikin sesak napas.”

“Lambung lagi lambung lagi,” gumamku. Sesi singkat di ruang praktik itu perlu ditebus dengan harga 200 ribu: 150 ribu untuk konsultasi dokter dan 50 ribu untuk endoskopi. Aku diberi resep empat obat. Total uang yang kukeluarkan hari itu 460 ribu. Angka yang cukup besar di tanggal yang hampir tua. Sialnya, bulan itu tidak ada anggaran yang kualokasikan untuk uang darurat.

Sepulang dari dokter, semua peristiwa di ruang praktik tadi kuceritakan pada kawan di grup WhatsApp yang isinya cuma tiga orang: aku, dan sebut saja Yos, dan Jon.

Yos menanggapi dengan serius. Jam sebelas malam, dia meneleponku dan mendoakanku. “Sembuh ya, udah jangan terlalu dipikirin. Nanti Sabtu pulang aja udah jangan di kosan, ketemu kita.” Tawaran yang menggiurkan, tapi kutolak lembut. “Iya pengen sih, tapi bulan depan aja deh.”

Berbeda dengan Yos, si Jon ini memang yang paling petakilan polahnya. “Lah mahal juga itu berobat. Memang gak bisa dicover asuransi?” tanyanya.

“Kaga bisa. Asuransi gua cuma bisa berlaku rawat inap. Kudu ngendog dulu di IGD minimal 6 jam.”

“Ya udah atuh lu ke RS, opname aja,” ketiknya datar tanpa emoticon apa pun.

“Pret..” balasku dengan agak kesal. Kok sakitnya orang dijadikan candaan. “Opname tuh ribet, gak gampang. Terus kerjaan gimana kalau sampai opname?”

“Wkwk” balasnya.

Aku tidak ada ekspektasi apa pun dari sesi curhat malam itu, terlebih ekspektasi kepada si Jon. Mereka membalas dan menyimak pun aku sudah senang. Jelang jam 12, aku tidur duluan.

Kira-kira tiga hari setelahnya, aku pergi ke ATM untuk menarik uang. Seingatku, jika kutarik uang hari ini saldonya harusnya di bawah 10 ribu. “Loh….kok ada segini?” Terhenyak aku. Kok saldonya jauh lebih besar dari perkiraan. Sudah kutarik kok tidak berkurang?

Kuingat-ingat apakah ada orang yang berutang lalu bayar diam-diam, rasanya tidak ada. Lalu kuceklah mutasi saldo selama seminggu ke belakang. Rupanya di malam saat aku curhat, si Jon mentransferku uang.

“Eh, lu kok transfer gua uang?” kutanya si Jon lewat WhatsApp.

“Uang apa? Gua gak tau,” jawabnya pura-pura.

Kutanya lagi, jawabannya tetap sama: “gak tau” tanpa tanda baca ataupun emoticon.

“Udah, ambil aja itu duitnya,” ketiknya lagi. “Nanti bayarnya 10 tahun lagi aja, kalau bisa bayar 10x lipat ya.”

“Ih, gak mau lah! Itu kalau elu salah transfer, gua mau transfer balik ya.”

“Nggak, itu buat elu. Terima aja.”

Dari lima bahasa kasih, temanku si Jon ini memang paling kurang di kata-kata. Dia sukanya ceplas-ceplos, tapi dia jadi orang yang tampil apa adanya, terutama dalam hal mengkritik orang lain. Karena kami telah berteman lebih dari dua puluh tahun, candaan-candaannya tak pernah lagi jadi soal yang membuatku tersinggung. Akan beda cerita jika aku baru mengenalnya kemarin sore, mungkin aku akan tersinggung dan berpikir kalau orang ini tak punya hati.

Hari itu, setelah aku pulang dari ATM untuk mengambil uang, aku merenungkan tindakan kasih yang dilakukan Si Jon. Karena harus berobat mendadak, uangku jadi berkurang dan ada pos-pos anggaran yang harus aku ubah alokasinya. Tetapi, melalui si Jon aku merasakan betapa Tuhan peduli padaku, dan Tuhan juga selalu punya cara untuk menolong umat-Nya.

Setiap kita punya cara yang berbeda dalam merespons cerita seseorang. Namun, pada hari ketika aku cuma sekadar curhat, si Jon belajar peka terhadap apa yang jadi persoalan di balik ceritaku—bahwa bulan itu aku sakit dan kekurangan dana. Curhatanku tidak dianggapnya enteng, meskipun saat itu dia mengetik guyonan yang kuanggap tak sensitif. Empatinya mewujud dalam tindakan. Dia tahu kalau dalam kisah persahabatan kami, akulah yang punya pendapatan paling rendah. Memang, uang yang kukeluarkan tidak membuatku jadi makan nasi hanya dengan garam dan kecap, tapi itu cukup menguras tabunganku yang bisa kupakai untuk banyak hal lain. Nominal uang yang ditransfernya adalah wujud ungkapan empati yang nyata.

Dari pengalaman ini aku belajar mendengarkan ketika orang lain mengizinkanku untuk menjadi tempat curhat mereka. Setelahnya, aku juga belajar peka: pertolongan apakah yang bisa kuberikan? Aku berdoa lebih dulu memohon agar Tuhan memberiku hikmat mengenai pertolongan apa yang bisa kuberi. Namun, perlu digarisbawahi di sini bahwa peka tidak berarti kita memaksa untuk memberi pertolongan apabila keadaan tidak memungkinkan atau yang bersangkutan menolak untuk ditolong. Semisal, pada saat temanku cerita akan beratnya perjuangannya merawat orang tuanya di rumah sakit dia pasti lelah dan butuh makanan sehat, tapi dia juga tentu sibuk untuk mengurus banyak urusan. Jadi, ketika aku tergerak menolongnya aku bertanya, “Aku pengen kirim sesuatu buat kamu. Kira-kira kamu lagi butuh apa?” Temanku menjawab kalau dia ingin makanan sehat dan berserat karena tubuhnya lelah, tetapi siang itu dia masih sibuk mengurus urusan administrasi jadi tak memungkinkan untuk turun ke lobi dan menemui ojol. Makanan pun kukirim di malam hari. Dia menerima pemberian itu dengan senang hati.

Menolong dan ditolong adalah dua hal yang berkenan bagi Tuhan, yang sama-sama baik nilainya. Ditolong tidak berarti kita lebih buruk daripada yang menolong, sebab semua manusia setara di mata Allah dan tolong-menolong sejatinya tidak bicara soal status. Allah selalu menolong kita melalui berbagai cara, dan bahkan Dia peduli pada setiap hal kecil yang sejatinya kita butuhkan tapi kadang tak kita sadari. Ketika Elia diutus-Nya untuk menyampaikan nubuatan berupa kekeringan hebat, Allah memelihara Elia dengan memberinya air dari anak sungai dan burung gagak membawakan makanan untuknya (1 Raja-raja 17:4). Ketika Yunus terombang-ambing di lautan yang bergelora, Allah mengirim seekor ikan besar bukan untuk membunuh Yunus, tetapi menyelamatkannya sampai ia dimuntahkan pada keadaan laut yang lebih tenang (Yunus 1:17). Ketika sepasang pengantin kehabisan anggur pada pesta perkawinannya, Yesus pun menyatakan mukjizat-Nya dengan mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11).

Kita semua adalah perpanjangan tangan-Nya untuk menolong orang lain. Saat kita memiliki sesuatu yang lebih—tak melulu soal uang—kita bisa membagikannya kepada mereka yang Tuhan letakkan namanya di hati kita.

Begini Rasanya Kesepian di Usia yang Masih Muda

Oleh Sandyakala Senandika

Di umurku yang masih di angka 20-an, kesepian adalah pil pahit yang harus kutelan setiap hari. Bukannya aku tak punya teman. Temanku banyak. Tetapi, fase kehidupan yang telah berubah turut mempengaruhi aspek relasiku dengan teman-temanku.

Izinkan kuceritakan sekelumit kisahku. Sebenarnya, kesepian bukanlah hal baru di hidupku. Aku lahir di luar pernikahan yang sah. Bisa dibilang, ayah ibuku tidak secara intensional menginginkan kelahiranku. Saat tumbuh dewasa pun lingkunganku tidak suportif. Orang tuaku bertengkar setiap hari hingga akhirnya berpisah rumah. Sebagai anak bungsu dengan tiga kakak tiri, relasiku pun tidak terlalu dekat dengan mereka, menjadikanku tidak banyak bicara di rumah. Hingga akhirnya saat aku lulus sekolah, aku memutuskan merantau sampai hari ini.

Saat kuceritakan keluhan ini ke teman-teman kantor, gereja, atau sahabatku sejak zaman bocah, respons mereka kurang lebih sama.

“Makanya, udah deh sekarang cepetan cari pacar…”
“Masa sih se-kesepian itu lu? IG lu aktif banget loh…”
“Ah, kamu mah pasti bisa hadepin ini. Kan kamu suka petualangan. Keluyuran sendiri juga fine kan?”

Tidak ada yang salah dengan semua respons itu. Benar aku perlu mendoakan dan mencari pasangan hidup. Benar pula aku aktif di media sosial, juga aku rutin melakukan perjalanan ke alam dan ikut beragam komunitas.

Namun, kesepian adalah sebuah perasaan yang seringkali hadirnya tidak dipengaruhi oleh keadaan luar. Aku sadar, setelah lulus kuliah, aku tak lagi bisa sebebas dulu. Teman-temanku pun sama. Kami punya kesibukan masing-masing yang membuat perjumpaan fisik semakin susah. Semua ini tidak bisa dielakkan. Jadi, meskipun aku bisa saja menjumpai temanku, tapi perjumpaan itu tidak bisa lama dan rutin. Semakin terobsesi mencari teman justru membuat rasa sepi semakin nyata… dan diliputi banyak teman pun bukan jaminan rasa kesepian itu akan lenyap. Les Carter berkata: “Kesepian adalah perasaan terpisah, terisolasi, atau berjarak dari relasi antar manusia. Kesepian adalah luka emosional, perasaan kosong, dan hasrat untuk dimengerti dan diterima oleh seseorang.” Kamu bisa tetap merasa sepi meskipun ada di tengah-tengah kerumunan yang seru.

Kesepian, masa muda, dan kata Alkitab

Studi yang dilakukan oleh BBC Loneliness Experiment di Inggris Raya menunjukkan fakta mencengangkan. Jika biasanya kesepian sering diidentikkan kepada warga lansia yang sudah tak bisa melakukan banyak hal, temuan riset ini malah memaparkan bahwa 40% responden yang mengaku kesepian ada di kelompok usia 16-24 tahun. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang para lansia yang ada di angka 27%.

Fakta ini begitu kontras. Bagaimana bisa seorang muda dengan akses koneksi Internet, keluwesan berjejaring secara daring, bisa merasa sepi?

Meskipun masa muda memang adalah waktu penuh kebebasan dan petualangan, tak dipungkiri banyak transisi terjadi di masa ini. Merantau, memulai kuliah, meraih pekerjaan baru, akan mencabut kita dari pertemanan yang dibangun selama masa-masa kita tumbuh besar.

Teman yang kita temukan pasca usia 25 akan berbeda taraf keakrabannya dengan mereka yang kita jumpai di dekade sebelumnya. Alasannya simpel: dengan teman lama kita melewati proses pertumbuhan dan banyak fase transisi—dari sekolah ke kuliah, remaja ke dewasa. Sedangkan pada teman yang kita jumpai di usia dewasa, tak banyak waktu dan proses yang kita lewati bersama. Umumnya kesempatan bersama itu sekadar hang-out atau urusan kerja saja sehingga ikatan emosional yang terbentuk tidak begitu kuat.

Jika kita membuka Alkitab, kita pun akan disuguhi oleh kisah tentang orang pilihan Tuhan yang mengalami kesepian. Ini membuktikan kesepian adalah perasaan manusiawi yang dialami oleh siapapun, bahkan nabi sekalipun.

Yeremia dalam Perjanjian Lama dipanggil Allah untuk menjalani panggilan yang berat—mewartakan firman Allah kepada bangsa yang bebal dan menyimpang. Kabar yang dibawa Yeremia pun bukanlah kabar gembira, melainkan kabar penghakiman bahwa jika tidak ada pertobatan yang sungguh-sungguh, murka Allah akan datang. Maka, jelaslah bahwa Yeremia akan dibenci oleh bangsanya sendiri. Yeremia pun meratap, “Celaka aku, ya ibuku, bahwa engkau melahirkan aku, seorang yang menjadi buah perbantahan dan buah percederaan bagi seluruh negeri” (Yer 15:10). Dalam kesukarannya itu, Allah pun melarangnya dari menikah dan memiliki keturunan (Yer 16:2). Dapat kita bayangkan akan beratnya pergumulan seorang Yeremia. Sendirian, pun dibenci oleh bangsanya sendiri.

Yeremia merupakan salah satu nabi yang tidak cuma menyampaikan nubuatannya, tapi juga mengalami itu. Pada tahun 586SM Yeremia masih hidup dan menyaksikan bagaimana Babel menyerbu Yehuda, menghancurkan Yerusalem dan Bait Suci. Hukuman Tuhan berupa pembuangan Israel ke Babel pun tergenapi.

Menghadapi tugas berat itu, Yeremia sendiri sebenarnya bukanlah orang pemberani. Dia takut dan ada kalanya dia meragukan Allah. “Mengapa penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai” (Yer 15:18), tetapi Allah berjanji menyertainya (ayat 20).

Sisi yang menarik dari kisah Yeremia ialah: dalam kesepiannya, dia mengutarakan segenap perasaannya pada Allah. Apa yang dia luapkan merupakan perasaan campur aduk. Satu sisi dia mengeluh, tapi dia tidak melupakan kebaikan Allah, lalu meratap lagi. Hingga akhirnya Yeremia tuntas menunaikan tugas panggilannya, semua itu karena dia selalu kembali pada Allah dan mengingat janji-Nya (Yer 32:17).

Kisah kesepian yang aku, mungkin juga kamu alami pastilah berbeda dengan jenis kesepian nabi Yeremia karena dimusuhi oleh seisi bangsa. Tetapi, kita bisa meraih banyak pelajaran dari perjalanan Yeremia. Betul, dia merasa kesepian, tetapi dia tidak pernah kehilangan sosok teman sejati, yakni Allah sendiri. Yeremia mampu, hidup, bertahan, dan bertumbuh karena Allah hadir bersamanya. Dalam Yeremia 15:19 terselip pesan bagi setiap kita yang merasa kesepian, tidak berguna, atau surut imannya, sebab di sana Allah sedang memberi tahu Yeremia untuk kembali pada-Nya karena Dialah yang akan memulihkan sukacita keselamatannya.

Kesepian memang tidak terelakkan karena kejatuhan manusia dalam dosa menghancurkan persekutuan kita dengan Allah. Namun, kabar baiknya adalah Allah tidak membiarkan keterpisahan itu. Dia hadir dalam rupa Kristus untuk memulihkan kembali relasi yang hilang dengan anak-anak-Nya.

Selagi kita masih hidup dalam tubuh fana ini, kita tak bisa seratus persen tak pernah merasa sepi. Namun, janji dan kebenaran firman Tuhan menguatkan kita dan memampukan kita untuk menghidupi hari-hari yang sepi dengan cara-cara kreatif. Bukan dalam kemurungan dan semakin mengisolasi diri, tetapi dengan semangat baru bahwa kita disertai Allah dan ke dalam dunia inilah kita diutus (Yoh 17:18).

Sepanjang tahun ini aku telah belajar untuk hidup berdampingan dengan rasa sepiku, sebab kutahu dalam hidup manusia di dunia, kesepian adalah buah dari kejatuhan manusia yang tetap harus kita tanggung dan dalam upaya kita menanggung itu, ada jaminan bahwa Allah senantiasa melindungi kita (Yoh 17:15). Namun, ini tidak berarti kita membiarkan diri saja dalam kesepian. Sebagai ciptaan yang dikarunia hikmat, kita bisa mengubah kesepian ataupun perasaan negatif lainnya menjadi tindakan-tindakan aktif yang bisa mendatangkan hasil positif baik bagi diri kita sendiri, maupun lingkungan di sekitar kita.

Ketika rasa kesepian itu datang, aku menuliskannya dalam jurnal doaku dan mencari cara-cara kreatif untuk melalui hari-hariku setelahnya. Aku mulai bergabung dengan komunitas gereja lokal dekat tempat kerjaku, menginisiasi akun YouTube yang mendokumentasikan perjalanan-perjalanan rutinku, juga mengontak kembali teman-teman lama yang dahulu pernah akrab. Semua cara ini kendati tidak seratus persen mengeyahkan rasa sepi, berhasil menolongku melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda: dalam kesendirianku, aku tidak pernah sendirian.

Dari Pilunya Kehilangan, Kita Belajar Ketenangan

Oleh Raganata Bramantyo

“Ril… mamah pulang dulu ke Indonesia, ya.”

Sepenggal kalimat yang membuka caption panjang ini mendapat respons yang luar biasa banyak di Instagram milik Atalia, istri dari gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Seminggu ke belakang, keluarga pak gubernur jadi sorotan publik lantaran Eril, putra mereka hanyut dan hilang di sungai Aare di Swiss. Seminggu lebih pencarian belum membuahkan hasil. Pihak keluarga pun akhirnya menyatakan bahwa Eril telah meninggal dunia kendati jenazahnya belum ditemukan.

Pencarian Eril menjadi dramatis bukan hanya karena dia adalah anak dari seorang tokoh terkenal, tetapi ada perasaan sepenanggungan yang juga dirasakan oleh banyak orang—termasuk kita—jika kita bicara mengenai kehilangan. Saat kita kehilangan sesuatu atau seseorang yang kita kasihi, dunia kita berubah. Kehilangan di sini tak hanya tentang kematian. Apa pun yang direnggut daripada kita, tanpa kita berdaya untuk mencegahnya, akan menyisakan pilu di hati.

Narasi kehilangan

Belum lama ini, aku pun mengalami kehilangan yang pilu. Saking pilunya buatku, aku mendatangi konselor yang juga psikolog dan mendapatkan pertolongan profesional darinya. Kisah kehilangan ini pernah kutuliskan di sini. Selama 20 tahun aku mendoakan papaku untuk menjadi seorang ayah yang karib denganku, dan doa itu terjawab di tahun ini. Namun, kebersamaan yang sungguh erat itu tidak berlangsung lama, hanya 29 hari sebelum akhirnya ayahku berpulang. Kehilangan ini mengguncangku. Tak pernah aku menyiapkan diri akan kehilangan sosok ayah yang secara usia belum masuk kategori lansia. Apalagi dengan diagnosis sakit yang menurut logikaku tak masuk akal. Namun, inilah realitasnya, kehilangan adalah bagian dari hidup yang mau tak mau, suka tak suka, harus aku dan kamu hadapi. Yang kelak membedakan fatalitas kehilangan ini hanyalah waktu dan bagaimana alur ceritanya. Namun pada dasarnya, semua kehilangan memberi duka mendalam.

Jika aku yang adalah seorang anak kehilangan ayah yang usianya jauh di atasku saja merasa begitu berat, tak terbayangkan apabila kehilangan yang terjadi adalah sebaliknya. Seorang ayah yang harus kehilangan anak, yang secara usia jauh lebih muda. Seperti apa yang dituliskan oleh Ridwan Kamil: anak yang kehilangan orang tua disebut yatim. Istri atau suami yang kehilangan pasangan disebut janda atau duda, tapi tak ada istilah yang bisa diberikan kepada orang tua yang kehilangan anaknya. Dukanya begitu dalam.

Seiring usia kita yang menanjak, kehilangan dan dukacita pasti akan kita alami, meski kita tak tahu kapan dan bagaimana itu akan terjadi. Kehilangan yang pilu juga pernah dialami oleh seorang Kristen yang hidup pada abad 19 yang bernama Horatio Spafford. Ia adalah seorang pengacara kenamaan sekaligus wirausahawan di Amerika Serikat. Pada tahun 1871, kebakaran hebat di Chicago menghancurkan bisnisnya. Tragedi ini memaksa Horatio untuk memikirkan strategi baru bagaimana melanjutkan usahanya. Dua tahun pasca kebakaran, istri dan anak-anaknya pergi berlayar ke Eropa, namun Spafford tidak ikut karena masih harus mengurusi pekerjaannya. Jika sudah selesai, barulah dia menyusul.

Namun, nahas tak pernah disangka. Tanggal 22 November 1873, kapal uap Ville du Havre yang ditumpangi oleh istri dan empat anaknya tenggelam. Sebanyak 226 orang tewas, termasuk di dalamnya anak-anak Spafford. Sang istri berhasil selamat. Saat dia tiba di Wales, barulah dia mengirimkan telegram dengan pesan “Saved alone” kepada Spafford.

Mendapati berita duka, Spafford menyusul berlayar ke Wales untuk berjumpa sang istri. Dalam pelayarannya, saat kapal yang dia tumpangi melewati titik karam kapal du Havre, Spafford menuliskan sebuah himne yang sampai hari ini masih kita nikmati melodi dan liriknya.

It is well with my soul… yang dalam beberapa versi kidung pujian diterjemahkan sebagai “tenanglah jiwaku,” “s’lamatlah jiwaku,” atau “nyamanlah jiwaku.”

Apa yang ditulis Spafford bukanlah sebuah ilusi. Bagaimana bisa jiwa yang hancur merasa tenang dan nyaman di tengah dukacita hebat? Spafford memberi jawaban pada lirik-liriknya. “Ketika hidupku sentosa teduh ataupun sengsara penuh, di dalam kasih-Mu ku tinggal teguh, nyamanlah, nyamanlah jiwaku…” (NP 221).

Ketenangan dan kekuatan itu datang bukan dari kekuatan kita sendiri, tetapi dari tinggal tetap dalam kasih yang teguh, yang tak pernah berubah, yaitu kasih Allah. Kematian dan kehilangan selalu membangkitkan reaksi emosional yang kuat. Dalam kisah Lazarus yang mati karena sakit, Alkitab mencatat Yesus sangat terharu (Yohanes 11:33). Kata terharu oleh para penafsir dapat diterjemahkan pula dengan lebih rinci, “kemarahan besar lalu meluap dari dalam hati-Nya.”

Yesus terharu, bahkan marah, tetapi terhadap apa? Sangat mungkin Dia marah terhadap dosa dan akibat yang ditimbulkannya. Allah tidak menciptakan dunia yang dipenuhi penyakit, penderitaan, dan kematian. Namun, dosa masuk ke dalam dunia dan mencemari rencana Allah yang indah. Hidup kita yang telah jatuh ke dalam dosa membuat maut, dukacita, dan segala penderitaan menjadi tak terelakkan. Namun, Allah tidak tinggal diam. Dia hadir bersama kita (Yohanes 1:14), mengerti apa yang jadi dukacita dan ketakutan kita (Yohanes 11:1-44). Namun lebih daripada itu, Kristus mengalahkan dosa dan kematian dengan mati menggantikan kita dan bangkit dari maut (1 Korintus 15:56-57).

Apa pun yang hari ini menjadi kehilangan dan dukacita kita, aku berdoa kiranya kasih Allah melingkupimu dan memampukanmu untuk menjalani hidup dan berbuah bagi-Nya.

3 Hal yang Kupelajari Tentang Hidup untuk Saat Ini

Oleh Vika Vernanda, Bekasi

“Umur 25 udah bisa apa?” merupakan pembahasan yang cukup ramai dibahas di sosial media akhir-akhir ini. Ada sekelompok orang yang sudah berhasil mengumpulkan uang milyaran rupiah, membeli rumah, kuliah di luar negeri, atau lainnya. Namun, ada kelompok lain yang merasa relate dengan lirik lagu “Takut” oleh Idgitaf : Takut tambah dewasa, Takut aku kecewa, Takut tak seindah yang kukira..

Aku adalah bagian dari keduanya: terus bertanya “udah bisa apa dan mau apa lagi?”, namun juga yang terus merasa takut kecewa.

Orang-orang terdekatku mengenalku sebagai sosok yang ambisius. Banyak keinginan dan mimpi yang kuperjuangkan dengan keras. Satu tercapai, aku mengejar yang lain, begitu seterusnya. Dalam upaya mengejar berbagai hal tersebut, aku sangat takut kecewa dan selalu memikirkan kemungkinan terburuk. Akibatnya, aku jadi tidak bisa menikmati anugerah Tuhan saat ini. Ketakutanku akan kekecewaan ini juga diperparah oleh berbagai pengalaman masa lalu yang seringkali membuatku berpikir, “kalau seperti itu lagi, nanti akan bagaimana?”

Pemikiran-pemikiran tersebut terus menerus menghantuiku, sehingga aku memilih mendiskusikan hal ini dengan dua orang kakak rohaniku, sebut saja kakak A dan kakak B. Mereka berdua memberi saran kepadaku untuk “hidup untuk saat ini” saja, yang sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa maksudnya dan bagaimana caranya. Kakak B kemudian mengenalkanku pada sebuah buku yang mengulas tentang Kitab Pengkhotbah yang berjudul Living Life Backward.

Lewat diskusi dengan kedua kakak rohaniku dan pembahasan Kitab Pengkhotbah dalam buku Living Life Backward, berikut 3 hal yang kupelajari tentang hidup untuk saat ini:

1. Upaya menggenggam kebahagiaan masa depan adalah sia-sia

Tujuan utamaku ketika mengejar keinginan atau mimpi adalah agar aku bisa menikmati masa depan. Melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, mengejar karier yang lebih baik, semuanya demi menggenggam masa depan yang bahagia. Namun, bagaimana dengan masa kini? Apakah kebahagiaan hanya bisa kunikmati ketika aku sudah berhasil menggenggam masa depan?

Kitab Pengkhotbah 1:1 menyatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Terjemahan Ibrani dari kata “sia-sia” ini adalah hebel, yang secara literal artinya uap. Upaya menggenggam uap justru mempercepat hilangnya uap tersebut, sehingga upaya menggenggamnya membuat kita tidak bisa menikmatinya.

Bagian ini mengingatkanku bahwa upaya meraih kebahagiaan masa depan lewat ambisi-ambisi yang ada justru membuatku tidak bisa hidup untuk saat ini. Padahal ada banyak alasan yang membuatku bisa memilih untuk bahagia hari ini, seperti waktu berbincang dengan orang terkasih, pekerjaan dan kehidupan yang layak, serta waktu istirahat yang cukup.

Jadi, apakah ini berarti kita tidak boleh menyiapkan masa depan? Atau, haruskah kita hidup dengan prinsip gimana nanti aja?

Jawabannya: mempersiapkan masa depan tidaklah salah. Justru itu adalah langkah bijaksana, yang menolong kita untuk tidak serampangan dalam menghidupi hari-hari kita saat ini. Namun, apabila dalam upaya kita memikirkan masa depan itu membuat kita khawatir berlebihan dan meragukan penyertaan Allah, di sinilah letak permasalahannya. Padahal, Yesus menyatakan bahwa hidup setiap kita dijamin oleh-Nya, sebagaimana burung pipit di udara yang dipelihara-Nya (Matius 6:26). Rasa khawatir tidak memberikan manfaat apa pun, malahan itu membuat pandangan kita menjadi kabur akan banyak hal indah yang sejatinya bisa kita nikmati setiap hari.

Mari belajar untuk bahagia hari ini tanpa perlu risau memastikan kebahagiaan masa depan berada dalam genggaman, karena untuk segala sesuatu ada masanya (Pengkhotbah 3:1).

2. Ketakutan akan masa depan adalah kesia-siaan

Aku sangat takut untuk kecewa. Sangat sulit bagiku berhadapan dengan perasaan kecewa. Hal ini selalu membuatku menyusun berbagai skenario terburuk untuk setiap hal yang akan kupilih dengan tujuan mempersiapkan diriku untuk tidak terlalu kecewa. Meski terlihat berlawanan dengan poin 1, hal ini juga merupakan upayaku untuk menggenggam kebahagiaan. Namun caranya adalah bukan dengan langsung mengejarnya, melainkan menghindari kekecewaan. Ketakutan berlebihan tentang masa depan lagi-lagi membuatku tidak bisa menikmati saat ini. Padahal, untuk segala sesuatu ada masanya.

Ketakutan akan masa depan adalah kesia-siaan. Kakak A memberikanku sebuah trik untuk belajar melepaskan ketakutan ini, yaitu untuk berhenti memikirkan “what if” dan menggantinya dengan “what is”. Pikirkan berbagai hal yang terjadi saat ini, bukan masa depan.

Untukku yang biasa memikirkan berbagai kemungkinan terburuk, hal ini sangat sulit. Salah satu langkah awal yang akan kulakukan adalah memberikan proporsi untuk setiap kemungkinan yang kubuat dan menyertakan kemungkinan baik juga dalam pertimbangannya. Memahami hal ini membuatku sadar bahwa memang selalu ada kemungkinan untuk kecewa, tapi banyak juga kemungkinan baik yang bisa terjadi, dan ini menolongku untuk bisa menikmati saat ini. Hal ini sejalan dengan buku Living Life Backward yang mengajak kita untuk belajar memegang sesuatu dengan tangan terbuka, karena kita benar-benar hanya memiliki kendali atas satu hal, yaitu respon kita terhadap saat ini.

3. Kehidupan ini akan berakhir

Akhir dari kehidupan manusia di dunia ini adalah kematian. Semua hal yang kita alami dalam dunia ini suatu saat akan berakhir. Mengetahui dan memahami bahwa kehidupan akan berakhir mengubah perspektif kita untuk menjalani kehidupan saat ini.

David Gibson dalam buku Living Life Backward mengatakan bahwa pemahaman tentang hidup akan berakhir dapat menolong kita memiliki hati yang besar dan tangan yang terbuka, dan memungkinkan kita untuk menikmati semua hal kecil dalam hidup dengan cara yang sangat mendalam.

Mempelajari ketiga hal tersebut membuatku belajar memandang ambisi dan ketakutanku dengan cara yang baru. Perjuangan meraih mimpi bukan lagi sebuah upaya untuk menggenggam masa depan, dan ketakutan menghadapi kekecewaan masa depan harus segera kusampingkan. Bagianku adalah hidup untuk saat ini, yaitu dengan menikmati setiap keindahan dan rasa sakitnya, dengan tetap berpengharapan pada hari akhir kelak.

Mari hidup untuk saat ini dengan menyadari bahwa kehidupan adalah pemberian Tuhan, dan menjalaninya dengan hati yang besar serta tangan yang terbuka, sehingga pada akhirnya kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang mengatakan bahwa hidup kita adalah a life well lived.