Cerpen: Rapat Kedua

Oleh Meili Ainun

“Gak bisa begini. Kalian datang telat!” suara Vika memenuhi ruangan rapat. Siang itu, panitia kebaktian padang yang dipimpin Vika melangsungkan rapat kedua. Sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, Vika membuka aplikasi WA di HPnya. Dengan kesal, HP itu dia tunjukkan ke semua anggota yang hadir.

“Jelas-jelas dalam WA grup udah diingatkan kalau kita ada rapat hari ini jam 2 siang. Dan aku juga udah minta kalian untuk email rencana tiap divisi sebelum rapat hari ini. Tapi sampai sekarang, aku belum terima laporan apa-apa dari kalian.”

“Vik, santai sedikitlah. Ini kan baru rapat kedua. Kita masih punya banyak waktu,” Benny menyahut sambil menyengir.

Vika melirik Benny kesal lalu berdiri dari kursinya. Dengan cepat dia berjalan ke papan kaca yang dipasang di tembok ruangan. Jarinya menunjukkan selembar karton lebar yang tertulis ‘Kebaktian Padang’. “Lihat nih, timeline yang kita susun. Hari ini seharusnya kalian semua sudah lapor rencana masing-masing divisi.”

Semua bergeming. Tidak ada yang bersuara memberikan komentar, saling menunggu ada yang berbicara. Sebenarnya tidak ada yang meragukan kemampuan Vika memimpin rapat. Setiap acara yang dipimpinnya berjalan baik dan sesuai rencana. Tapi, saking terobsesinya dia pada kesuksesan sebuah acara, Vika menuntut kesempurnaan dari setiap anggota timnya. Lebih dari itu, dia juga sulit dikritik, selalu merasa kalau cara dan idenya adalah yang paling benar. Alhasil, di balik acara yang tampak sukses terselip banyak luka hati antara dia dengan anggota panitianya.

Dua menit berlalu dengan lambat. Tak ada yang bersuara. Barulah suara Benny memecah keheningan.

Sorry, Vik. Kami gak sengaja datang telat tadi. Kamu kan tau, kebaktian selesai lebih lama dari biasanya hari ini. Dan.. Ya… Soal email, kalau aku memang lupa buat. Kantor lagi sibuk, nih. Tiba-tiba ada yang mengundurkan diri. Jadi pekerjaanku dobel. Sorry, ya. Aku usahakan susun acara secepatnya. Terus langsung email kamu, deh.” Nada bicara Benny ramah tetapi jelas. Yang lain mengangguk setuju dengan komentar Benny karena mereka semua juga sibuk dengan pekerjaan yang tidak jarang mengharuskan mereka bekerja lembur. Kebanyakan anggota panitia ini baru lulus dan masuk kerja, jadi masih kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan pelayanan.

Masih dengan wajah kesal, Vika berkata, “Oke. Kalau kalian tidak sempat email, kalian bisa ceritakan rencana kalian sekarang.” Kemudian Vika memulai pertanyaan pada Siska yang menundukkan kepalanya. “Kamu gimana, Siska? Apa rencanamu untuk transportasi?”

“Eh..Hmm… Aku kepikiran mau pinjam beberapa mobil teman-teman. Kalau gak cukup, baru pesan online,” Siska menjawab dengan terbata-bata. Dia gemetar, takut kalau jadi sasaran murkanya Vika. “Ta-tapi… aku..aku… gak berani tanya ke mereka, apakah mereka bersedia pinjamkan mobil atau gak. Belum tentu juga mereka akan ikut. Yaa.. aku gak tau, sih. Gimana, ya?”

“Aduh! Kamu gimana, sih? Kenapa kamu tanya aku? Itu tugasmu. Kamulah yang harus tanya ke mereka, memastikan mereka bersedia atau tidak meminjamkan mobilnya. Masa aku yang harus turun tangan? Buat apa ada divisi transportasi kalau gitu?”

Siska yang tadinya berusaha menatap Vika, kembali menundukkan kepalanya. Terlihat butiran air mengalir di pipinya. Suasana rapat siang itu semakin jauh dari kondusif. Alih-alih sebuah rapat anak muda gereja yang asyik, banyak canda, dan bisa sambil ngemil, rapat itu ibarat sesi interogasi di pengadilan dengan Vika yang berlagak hakim.

“Tenang. Tenang, Vika. Sabar. Berikan waktu pada Siska untuk memikirkan caranya. Aku yakin dia pasti bisa. Ya kan, Sis?” Benny mengarahkan wajahnya ke Siska dengan seberkas senyum.

Siska mengangguk pelan. Dia tidak biasa dibentak juga diinterogasi. Tak semua teman terbiasa dengan gaya rapat yang penuh ketegangan seperti ini. Untunglah Benny bisa hadir menengahi. Tak terbayangkan bila di rapat hari ini Benny absen. Mungkin akan lebih banyak lagi yang menangis.

“Oke. Mari kita lanjutkan. Bagaimana dengan konsumsi?” Nada bicara Vika makin ketus.

Meski sudah membuat Siska menangis, Vika bersikukuh rapat ini harus dilanjutkan. Lagi-lagi, Vika memang tak terlalu peduli dengan perasaan orang lain. Yang tertanam di benaknya selalu tentang bagaimana mencapai target tepat waktu. Minggu kedua sudah harus ada progress ini dan itu, maka harus mutlak tercapai. Alasan apa pun bagi Vika dianggap sebagai alibi semata.

Mori, dari divisi konsumsi mengangkat tangannya. Dia sudah menyusun rencana, tetapi karena ini baru minggu kedua, rencana ini belum sempat dibedah detail. Rencananya simpel. Karena kebaktian padangnya di sebuah taman wisata yang ada restorannya, makan langsung di sana jadi opsi yang gampang.

“Kedengarannya cukup bagus untuk pesan makanan di tempatnya langsung. Tapi. Tunggu dulu. Kebaktian Padang kita kan tanggal merah, hari libur. Kamu yakin kita bisa dapat tempat?”

“Ng… Yah… Gimana, ya?” Bagai tersambar petir di siang bolong, Mori lupa kalau taman wisata itu pasti ramai di tanggal merah. “Benar juga, aku gak kepikiran. Aku sempat nanya, restoran itu tidak menerima reservasi sebelumnya. Jadi kita harus datang langsung. Aduh.. Gimana dong? Apa lebih baik nasi kotak saja ya?”

Lagi-lagi Vika dibuat kesal. “Mori, Mori, seharusnya ini semua sudah kamu pikirkan sebelum kita rapat. Kalau seperti ini kan jadi buang-buang waktu. Kamu langsung putuskan saja, maunya divisi konsumsi apa?”

Mori bingung. Dia berharap kalau langsung ditembak gitu, ya Vika sendiri saja yang putuskan. Memutuskan hal penting dalam hitungan detik itu bukan sifat Mori. Untuk mengambil satu keputusan dia butuh waktu lama buat merenung dan menganalisa. Tapi, setelah keputusan diambil, dia tidak serta merta yakin. Ragu masih terus ada dan diam-diam dia akan menceritakannya ke orang lain, berharap mereka akan membantunya memberi pertimbangan.

Sesi rapat yang tak kunjung menunjukkan hasil ini terus dilanjutkan Vika. Setiap divisi dicecarnya. “Kurang detail. Harus lebih spesifik! Lumayan, tapi cari alternatif lain. Catat semuanya, bla bla bla.”

Tak ada pujian yang keluar dari ucapan Vika. Setelah semua divisi tuntas dikritiknya, dia menutup rapat dengan doa. Tak ada tawa riang. Semua buru-buru keluar ruangan. Hanya satu orang yang tinggal tetap sembari menatap Vika yang membereskan catatan rapatnya.

“Kenapa? Ada yang masih mau dibicarakan?” Vika sadar kalau ada satu orang yang belum keluar dan terus menatapnya.

“Vika, aku tahu kamu itu seorang ketua yang baik. Acara yang kamu pimpin biasanya berjalan baik,” dengan nada santun Benny menyusun kata-kata ini. Tapi, belum juga tuntas, sudah dipotong duluan oleh Vika.

“Langsung saja deh Ben. Kamu mau bicara apa?”

“Oke, aku langsung to the point. Tolong dengarkan dulu dan jangan marah,” Benny mengambil jeda untuk mengambil napas dan menghembuskannya pelan. “Aku pikir kamu perlu mengubah sedikit gaya kepemimpinanmu. Aku tahu kamu adalah orang yang teratur, terencana, dan rapi. Tapi tidak semua orang seperti kamu. Teman-teman yang ada dalam tim kita, misalnya. Masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda. Aku pikir ada baiknya kamu mencoba memahami keadaan mereka.”

“Jadi maksudmu aku harus mengalah? Membiarkan mereka melakukan segala sesuatu seenaknya saja?”

“Bukan. Bukan itu maksudku. Tetap perlu ada disiplin, tapi dengan lebih ramah, misalnya,” ucap Benny. Tanpa dicerna, nasihat ini langsung ditentang. “Aku gak bisa bersikap ramah. Itu bukan aku. Kalau mereka tidak suka, aku bisa kok kerjakan semua ini sendirian.”

“Aduh.. Kamu ini gampang marah, deh. Dengarkan dulu. Aku tahu kamu bisa mengerjakan semua ini sendirian. Tapi kita semua kan dalam satu tubuh Kristus. Paulus saja bilang ada banyak anggota, tetapi satu tubuh. Tiap anggota itu berbeda, tapi saling membutuhkan satu sama lain…” Benny menghentikan sejenak ucapannya. Ditatapnya Vika yang tak mau menatap balik, malah tangannya sibuk mengayun-ayunkan bolpen. Benny melanjutkan wejangannya, “Gak ada yang bisa kerja sendirian karena kita adalah satu dalam tubuh Kristus. Percaya atau tidak, kamu juga membutuhkan orang lain.”.

Hening menyebar di seantero ruangan. Hanya suara AC yang bisa terdengar jelas diiringi suara bolpen yang masih diayun-ayun Vika. Dalam hatinya, Vika pun sebenarnya sadar bahwa caranya memimpin itu lebih banyak melukai orang lain ketimbang menyemangati mereka. Tapi, jika bicara soal perubahan sikap, Vika selalu gagal mewujudkannya. Setiap kali dia berdiri di depan banyak orang, detak jantungnya berdegup lebih kencang. Bukan karena takut, tetapi dia terpacu untuk menjadikan semua target tercapai. Empatinya seolah menguap. Yang terlintas di pikirannya hanya: sukses, sukses, dan suksesnya acara. Namun, untaian kata-kata Benny yang lembut siang itu menembus benteng hatinya.

“Vik… I know you’re a good leader. Tapi, pemimpin yang baik itu gak cuma yang tegas dan disiplin, tapi juga yang punya hati, Vik,” kata-kata ini membuat Vika menurunkan tatapannya menuju lantai, pun tangannya berhenti mengayun bolpen. “Hati…” dia membatin.

Benny melanjutkan ucapannya, “Yang perlu diubah hanya cara kamu memimpin saja, Vika. Buka hatimu dengan cara cobalah untuk mendengarkan kesulitan mereka. Siska, misalnya. Kamu kan tau dia memang pemalu. Untuk berbicara seperti tadi saja dia butuh keberanian yang besar. Jadi untuk bertanya kepada teman-teman lain, dia memang butuh bantuan.”

Ucapan Benny sebenarnya ingin membuat Vika membela diri, tapi dia tidak menanggapi. Semenit lebih Vika diam. Matanya terpejam. Teringat lagi adegan ketika Siska menangis, ketika nada bicaranya meninggi. “Ya… Aku rasa kamu ada benarnya, Ben. Tapi itu sulit. Seperti kamu bilang, aku ini memang sangat terencana dan ingin semuanya berjalan baik. Aku gak bisa mengubah diriku begitu saja.”

“Siapa juga yang ingin mengubah Vika? Siapa yang berani?” Benny tertawa. Dalam hati dia senang kalau Vika dapat menerima pendapatnya. “Kamu tidak perlu berubah jadi orang lain. Jadi dirimu sendiri saja. Hanya cobalah lebih sabar, dan tolong teman-teman yang butuh bantuanmu. Kepantiaan ini, kebaktian padang ini, semua kita lakukan buat Tuhan kan, Vik? Dialah yang seharusnya disenangkan dalam semuanya.”

Ucapan Benny ada benarnya. Kali ini Vika tak punya amunisi untuk membantah. Buat Tuhan, frasa ini sering didengar dan diucapnya dalam doa, tapi pada praktiknya Vika lupa akan sosok utama ini. Sungguhkah Tuhan berkenan pada caranya memimpin? Jikalaupun acara sukses tetapi kepanitiaan ini menjadi lahan subur tumbuhnya kepahitan, sungguhkah Tuhan dimuliakan?

Ditelannya ceramah singkat itu ke dalam hati dan pikirannya, yang memunculkan segaris tipis senyum dari bibirnya. Tiada kesal pun benci pada Benny. “Yah…akan kucoba. Kamu bersedia kan menolongku?”

“Tentu saja. Aku siap untuk menolong. Semua anggota panitia siap, mau, dan dengan senang hati menolong, Vik. Bukankah kita sama-sama anggota tubuh Kristus?”

Vika berdiri dengan semangat dan bersiap keluar dari ruangan. “Thanks, Benny. Tapi laporan acaramu tetap kutunggu, ya. Gak boleh telat lagi kayak tadi.”

Benny tersenyum lebar sembari melakukan sikap “hormat grak” pada Vika. “Siap, bu ketua! Ayo, kita pulang.”

***

Dunia kita bukanlah dunia yang seragam. Dalam satu gereja yang berisi kumpulan orang percaya pun tetap kita jumpai berjuta perbedaan, sebab memang begitulah Allah menciptakan dunia dengan penuh keragaman. Segala sifat, watak, juga latar belakang yang berbeda inilah yang menjadikan tubuh Kristus itu kaya.

Dengan adanya perbedaan, di sinilah kita belajar untuk membangun sinergi, saling menopang dan melengkapi satu dengan lainnya. Jika semua sama, di manakah tantangannya?

“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain” (Roma 12:4-5).

Ketika Calon Pasangan Hidup Tidak Satu Suku

Oleh Santi Jaya Hutabarat

“Kamu menikah dengan anak Namborumu itu saja,” ungkap papa saat aku berusaha membujuknya lagi.

Kutarik nafas dalam-dalam agar emosiku terkendali. Udara sore itu terasa lebih panas sekalipun teras kami dinaungi pohon rimbun. Sebenarnya bayangan perbincangan ini pernah terbersit di pikiranku sejak menjalin hubungan dengan Brema tiga tahun lalu. Perbedaan suku di antara kami membuatku menghindari perbincangan panjang tentang Brema pada papa dan mama. Namun, kami tidak mungkin seterusnya menjalin hubungan backstreet dari mereka. Karena itu sore ini aku memberanikan diri berbicara serius tentang hubunganku pada mereka.

Aku dan Brema bertemu di acara Kamp Regional Mahasiswa untuk daerah Sumatera bagian Utara. Bersama peserta lain yang ditetapkan panitia, kami sekelompok selama seminggu rangkaian kegiatan.

“Halo! Namaku Brema Tarigan. Aku Batak Karo, lahir dan besar di Tanah Karo.” Brema memperkenalkan diri.

Berawal dari perkenalan dalam diskusi komsel, kami terus berteman dan semakin dekat hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Dan akhir tahun lalu, aku menjawab “ya” saat Brema menembakku secara pribadi.

“Brema baik, Pa. Aku sudah lama mengenalnya. Kami juga pernah mengikuti konseling. Kami cocok kok!” beberku pada papa.

“Pasti lebih mudah kalau menikah dengan yang satu suku. Lihat abang dan edamu (kakak ipar perempuan), kalau ada masalah kita lebih mudah menyelesaikan, karena kedua keluarga sama-sama tahu apa yang perlu dilakukan sesuai adat dan budaya batak Toba,” terang papa mengulang ketidaksetujuannya.

Memakai marga dibelakang namanya–tidak hanya tulen–menurutku papa dan mama sangat cinta dengan budaya batak Toba. Mereka terbilang aktif dalam berbagai kegiatan adat. Papaku juga beberapa kali berkesempatan jadi “parhata” dalam pesta kerabat. Parhata merupakan juru bicara acara adat yang harus memahami seluk-beluk adat Batak Toba pada umumnya, adat yang berlaku bagi rumpun semarganya, dan aturan batak Toba lainnya. Tidak heran kalau mereka ingin aku dan abangku menikah dengan orang Batak Toba juga.

Dibesarkan dengan prinsip dan nilai kebudayaan suku ini tentu membuatku bersyukur karena banyak prinsip dan nilai yang baik dan juga bermanfaat. Pun sedari kecil aku sudah dibekali dengan beragam nilai adat, jadi aku tidak mengingkari kalau aku semakin bangga terlahir jadi boru ni raja dan terus belajar menghidupi karakternya. Istilah boru ni raja (putri raja) merupakan identitas bagi perempuan batak Toba, yang artinya perempuan Batak itu sosok yang harus disayangi dan dihormati, sekaligus sebagai panggilan agar terus menjaga nilai-nilai kehormatan, seperti kepatutan, moral, etika, sensitivitas dan lain sebagainya.

“Pariban-mu itu baik, Ito. Kita sudah mengenalnya. Meski bukan sekandung, tapi amangboru dan bou-mu itu dekat dengan papa, mereka pasti setuju kamu jadi menantunya. Lagian, dia sekarang sudah PNS. Penugasannya juga disini, jadi dekat kalau ada apa-apa sama kalian.” Mama berusaha meyakinkanku.

Menikah dengan pariban sering terjadi dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, bahkan dianggap ideal. Pariban merujuk kepada saudara sepupu. Anak laki- laki akan memanggil “pariban” kepada anak perempuan dari tulang (tulang = paman, saudara laki-laki ibu), sebaliknya anak perempuan akan menyebut “pariban” kepada anak laki-laki dari namboru-nya (namboru = bibi, saudara perempuan ayah). Selain mempererat hubungan kekeluargaan, pernikahan ini biasanya mempermudah komunikasi keluarga mengenai acara adat, terlebih dalam urusan sinamot (mahar) untuk perempuan yang sering menyulitkan calon mempelai pria karena nominalnya dianggap terlalu besar.

“Kalau kau nikah sama pacarmu, nanti jadi tambah kerjaan. Kau akan diberi marga Karo dulu, adatnya juga berbeda. Semua jambar dan ulos pun tak akan lagi bisa dijalankan di pestamu. Kek mana lah nanti,” tambah Papa.

Ya, seperti kata Papa, dalam budaya Batak, jika ada pesta pernikahan adat Batak Karo, Uis tidak diberikan untuk pengantin dan orang tua pengantin, sedangkan dalam pesta pernikahan adat Batak Toba, pemberian ulos untuk pengantin dan orang tua termasuk dalam agenda acara adat. Ulos yang diberikan tersebut berasal dari saudara-saudara sedarah maupun semarga/rumpun marga. Lalu ada jambar yang menunjuk kepada hak atau bagian yang ditentukan bagi seseorang (sekelompok orang), seperti pemberian nama dan beberapa bagian yang diberikan. Pemberian hak ini berbeda antar batak Toba dengan batak Karo.

“Kami setuju kalau nanti ada pesta adat Batak Toba dan Batak Karo,” belaku.

“Ya, sudah. Terserah kamu!”

“Apa yang Papa takutkan sebenarnya? Yang nikah ‘kan aku!”

Papa mengalihkan pandangan, ia menggeleng tanpa suara lalu beranjak meninggalkanku bersama mama.

Huft.. Jika boleh memilih, lebih baik aku melakukan negosiasi pengadaan barang (procurement), seperti kesibukanku saat ini, dan mengurus penawaran (bidding) dari beragam penjual (vendor) yang kaya pengalaman dengan rata-rata tender berdigit-digit agar mau mengerjakan proyek yang sedang digarap NGO tempatku bekerja.

Sealot-alotnya perdebatan dalam pekerjaan, ini takkan membuahkan penyesalan dalam diriku. Tetapi ini berbeda. Rasanya berat harus beradu pendapat dengan papa dan mamaku sendiri. Silap sedikit, tidak hanya restu yang terhalang, relasi dengan orang tuaku pun bisa rusak.

“Kamu sudah yakin akan menikah dengan Brema?” tanya mama menatapku serius.

Belum sempat kujawab, ponselku berdering, ada panggilan video dari Brema.

“Boleh mama yang ngobrol dengan Brema?”

Dengan kikuk, aku menjawab panggilan video itu bersama mama di sampingku.

“Halo, Nantulang. Sehat?” sapa Brema dari seberang. Sepertinya ia sengaja memanggil nantulang agar bisa lebih akrab dengan mamaku. Selain panggilan untuk istri tulang, nantulang juga bisa dipakai laki-laki Batak Toba untuk menyapa calon ibu mertua.

“Sehat, Nak. Kamu bagaimana? Pekerjaanmu lancar?”

“Aman, Nantulang. Sedang apa, Nantulang?”

“Lagi duduk santai, Nak, cerita-cerita sama Ito. Dia banyak ngomongin kamu, lho.” Mama menggodaku.

Walau tidak direncanakan, aku melihat percakapan Mama dan Brema mengalir begitu saja. Sebelumnya, mereka tidak pernah bertemu langsung, tapi pernah beberapa kali berbicara lewat telepon saat aku sambungkan, itu pun tidak lama.

Aku lantas masuk ke rumah, beres-beres, dan menyiapkan makan malam. Aku membiarkan Mama dan Brema berbicara berdua.

“Kamu tidak ada rencana membawa Brema kesini?” tanya Mama saat mengembalikan ponselku.

Mama berlalu melihatku yang mengangguk tidak yakin. Pertanyaan mama sungguh diluar dugaanku.

“Kamu tadi ngomong apa sama mama?” Aku kirim pesan pada Brema.

“Aku bilang kalau putrinya tidak akan bisa hidup tanpaku.” balasnya disertai emoji meledek.

Saking penasaran, aku segera menelponnya.

“Tadi nantulang cerita kalau kamu baru selesai berdebat sama papamu. Terus nantulang undang aku ke rumah, katanya biar papamu ngobrol langsung dulu denganku,” jawab Brema atas rasa penasaranku.

“Terus kamu bilang apa?”

“Boleh, Nantulang, tapi Ito belum kasih kesempatan, nih. Begitu jawabku.”

Dalam hati aku membenarkan jawaban Brema. Selama ini aku belum pernah mengajak ia bertemu langsung dengan papa dan mama, aku hanya fokus bagaimana agar papa dan mama percaya dengan semua ceritaku tentang Brema dan menyetujui rencana pernikahanku. Padahal, selain perbedaan suku di antara kami, bisa saja papa dan mama tidak setuju karena belum mengenal Brema.

Bagaimanapun, pertimbangan papa dan mama tentang tantangan dalam pernikahan antar suku ada benarnya. Tidak semudah yang dibayangkan karena masing-masing suku memiliki cara pandang dan kebiasaan sendiri. Dan tanpa disadari, semua itu akan diadopsi oleh anggota suku masing-masing. Jika dua orang dari suku yang berbeda mengikatkan diri dalam sebuah pernikahan, mereka pasti membutuhkan penyesuaian lebih banyak dibandingkan dengan pasangan lain yang berlatar belakang sama.

Selain penyesuaian antara suami-istri, adaptasi dengan keluarga besar pasangan juga diperlukan. Bagi beberapa suku atau keluarga, sangat lazim untuk ikut mengurus permasalahan yang dialami anggota keluarga lain. Misalnya, sebuah persoalan dalam pernikahan si anak bisa dipandang sebagai urusan seluruh keluarga besar. Ya, batasan privasi tidak selalu diperhatikan, karena begitulah cara menolong sesuai adat yang berlaku dalam suku tersebut. Lebih jauh, cara mereka menyelesaikan persoalan tentu mengikuti kebiasaan adat mereka, di mana apa yang dianggap baik oleh suku tersebut belum tentu baik bagi yang lain. Aku setuju hal-hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan.

“Kalau aku ajak di liburan paskah mendatang, mau?” tanyaku pada Brema.

Brema mengangkat jempolnya pertanda setuju.

Kendati Brema hanya berkunjung sebentar, aku melihat perubahan sikap orang tuaku, terlebih papa. Tidak terlalu besar, tapi aku menangkap adanya sinyal persetujuan dari papa untuk hubungan kami. Hampir sepekan berinteraksi langsung dengan Brema, tampaknya Papa dan Mama juga merasakan hal yang sama denganku mengenai Brema, ia supel dan apa adanya.

“Modal yang dikumpulkan belum banyak Tulang. Ke sini juga rencananya sekalian mengajukan pinjaman lunak.”

Kami terkekeh mendengar jawaban Brema saat papa iseng menanyakan besaran “sinamot” yang ia sanggupi untukku. Meski terkesan bercanda, papa tampaknya senang Brema mau terbuka. Brema juga tidak segan menceritakan beberapa hal yang menjadi ketakutannya saat memintaku menjadi istrinya. Bukan saja tentang perbedaan budaya di antara kami, Brema juga mengaku ada kalanya ia khawatir bagaimana kecukupan kebutuhan rumah tangga kami nantinya, mengingat kami masih sama-sama pegawai kontrak. Untuk kondisi yang terakhir, Brema sudah pernah mengatakannya padaku, namun aku tidak menyangka ia tidak sungkan membagikan hal yang sama pada papa dan mamaku.

Saat itu tidak mudah bagi kami untuk meyakinkan diri masing-masing. Di satu sisi, aku punya “bucket list” untuk pernikahanku, termasuk agar aku dan pasanganku mandiri secara finansial. Sementara akan sangat egois kalau aku hanya menuntut Brema mencukupi semua hal yang menjadi “dream wedding-ku”. Perbedaan sering mewarnai percakapan kami.
“Kayaknya, budget untuk souvenir dan prewedding bisa di-cut,” kata Brema.

“Kamu yakin? Bukannya kamu yang bilang prewedding masuk top of the list karena ada konsep Toba dan Karo yang akan jadi representatif kita?”

Memori obrolan kami sebelumnya terlintas di benakku. Salah satu momen dimana aku mengandalkan mauku, terkesan ngotot. Sebaliknya Brema bersikap lebih tenang.

“Nanti kita bahas lagi ya. Sekalian kita ambil waktu melirik ulang catatan “our dream wedding”, aku banyak lupa sepertinya.” Ia mengingatkanku.

Aku tidak mengingat persis kapan kami memulainya. Selain menikmati banyak hal berdua, aku dan Brema juga punya satu jurnal bersama. Di buku itu, beragam perkara kami catat. Mulai dari remeh temeh seperti ulasan film, makanan atau tempat wisata hingga menyangkut prinsip penting yang kami sepakati harus ada dalam relasi ini.

“Yakin dong, kayaknya kemarin itu aku terlalu memaksakan mauku. Rasanya keren bisa berkunjung dan berfoto langsung di Rumah Bolon dan di Rumah Si Waluh Jabu, dua rumah adat sekaligus. Dipantengin netizen kan pasti kece…….Setelah kupikir-pikir, kalau semua keinginanku dituruti, susah bukan?!” ucapanku seperti bertanya dan menjawab diriku sendiri.

Good! I wonder God, what I’ve done to deserve a wise girl like you.” Senyumnya merekah.

Kendati aku merasa kalimat ini berlebihan, aku juga bersyukur dipertemukan dengan Brema.

***

Perbedaan suku yang aku kira akan mengakhiri relasiku dengan Brema ternyata membuka jalinan hubungan keluarga yang berbeda secara suku. Diam-diam aku memperhatikan Brema berusaha belajar budaya batak Toba, terkhusus bahasanya, agar ia bisa nyambung berbicara dengan papa dan mama. Sama halnya dengan papa dan mama, kini keluarga besarku tidak lagi memintaku menikah dengan paribanku, mereka malah sering mengingatkanku untuk lebih mengakrabkan diri dengan keluarga Brema.

Lagi-lagi aku belajar, ternyata perbedaan tidak selalu jadi alasan untuk tidak bersama, baik dalam relasi kita dengan sesama, berpacaran, pekerjaan, bahkan untuk seluruh kehidupan kita sehari-hari. Lagipula, Alkitab secara konsisten mengajarkan bagaimana semua ras setara karena semua orang telah berbuat berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23), tetapi oleh kasih karunia, orang yang menerima Kristus beroleh anugerah pengampunan. Inilah kuncinya. Dalam mencari dan memilih pasangan hidup, Alkitab mengatakan agar kita mencari pasangan yang seimbang (2 Kor 6:14), yang mengarah pada kesepadanan. Sepadan tak harus seratus persen sama, tetapi berakar kuat pada dasar yang sama: Kristus, dan bertumbuh di dalam-Nya. Kesepadanan itulah yang akan mengikat suatu pasangan untuk hidup setia satu sama lain seraya melayani Tuhan dalam bahtera pernikahan.

Bertemu dan menjalin relasi dengan orang lain tidak selalu mudah, terlebih saat kita menemui banyak hal yang berbeda. Pasang surut tentu saja sering terjadi. Dalam relasiku dengan Brema, ada saat kami merasa perbedaan yang ada tidak jadi penghalang, semua mengalir baik-baik saja, penuh romansa. Pun sebaliknya terkadang gesekan perbedaan yang membuat kami seperti kehilangan makna dari setiap kebersamaan hingga merasa perlu berdiam dan merenungkan kembali apa yang menjadi tujuan hubungan kami. Dalam perjalanan menuju pernikahan, kami terus berusaha meyakini untuk melakukan bagian kami dan percaya bahwa dalam penyertaan-Nya, segala sesuatu akan dicukupkan atas rencana kami (Amsal 16:3).

Soli Deo Gloria

“Aku Gak Suka Dipanggil Si Batak!” Sebuah Kisah tentang Streotip

Oleh Santi Jaya Hutabarat

“Aku tidak suka dipanggil “si Batak”, mamaku menamaiku Togar!” ucapnya kesal setiba di mes.

Aku kaget mendengar reaksinya itu, mengingat saat kejadian sebelumnya dia tidak berkomentar apapun.

“Si Batak tidak usah dikasih mic. Suaranya sudah besar kok sejak orok,” kata salah satu rekan kerja kami saat Togar diminta menyampaikan sambutan untuk teman-teman yang sedang berpuasa. Hari ini ada acara berbuka bersama dengan teman-teman beragama Islam dari tempat kami bekerja.

Menganggap hal itu sebagai gurauan yang biasa saja, kami menyambutnya dengan gelak tawa. Sebaliknya, Togar ternyata merasakan hal berbeda.

Di kantor, Togar terkenal dengan logatnya yang khas serta bicaranya yang kuat. Pria bermarga yang lahir dan dibesarkan di Dolok Sanggul, Sumatera Utara ini, memang bersuku Batak Toba. Jadi, menurutku wajar saja kalau ia dipanggil “si Batak”. Lagipula selama ini kami tidak tahu kalau dia tidak nyaman dengan panggilan dan gurauan kami tentang ke-batakannya itu.

“Aku kan bicara keras tidak dibuat-buat, begitulah caraku ngomong. Janggal kali kurasa kalau pelan-pelan, macam berbisik,” terangnya tanpa kuminta.

“Tapi memang kamu kan orang Batak, mengapa kamu tidak nyaman dipanggil begitu?” tanyaku memberanikan diri.

“Jadi kalau kamu kupanggil Padang “si manusia pelit” mau?” balasnya seperti menyerangku balik.

Aku tertegun. Dalam diam aku memikirkan bagaimana hal yang terkesan sepele ini bisa menyulut emosi Togar. Aku tidak tahu pasti sudah berapa lama dia tidak nyaman dengan stereotip yang kami anggap candaan itu, dan aku yakin rekan kerjaku yang lain juga tidak menyadari hal itu.

Tidak hanya merusak relasi, dalam dampak yang lebih besar, pemberian stereotip juga bisa menimbulkan masalah. Seperti salah satu kasus yang terjadi di 2020 silam. Saat itu, di tengah pandemi Covid-19 yang menghantam hampir seluruh dunia, perhatian publik tertuju pada kematian pria kulit hitam, George Floyd. Hal ini bermula dari penangkapan dirinya oleh oknum polisi karena diduga melakukan transaksi dengan uang palsu. Derek Chauvin, polisi yang menangkapnya, memborgol kedua tangan Floyd dan menjatuhkannya ke aspal. Ia juga menekan leher Floyd dengan lututnya sampai lemas dan menyebabkan Floyd meninggal dunia di rumah sakit.

Peristiwa George Floyd tidak hanya menggugah kesadaran publik tentang stereotip yang berujung pada tindakan diskriminasi, namun kerusuhan atas aksi demonstran juga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Meski tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh adanya stereotip tertentu pada kulit hitam, kejadian ini mengingatkan kita bagaimana pandangan atau stereotip terhadap kelompok tertentu sangat membahayakan. Dalam kejadian ini, seseorang sampai kehilangan nyawanya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan stereotip berbentuk tetap atau berbentuk klise. Lebih lanjut didefinisikan bahwa stereotip merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tetap. Stereotip tidak sesederhana pandangan positif maupun negatif pada kelompok tertentu. Penyematan label-label tertentu pada etnis atau ras, gender, kelas sosial, usia, warna kulit, kebangsaan hingga agama tersebut, lahir dari anggapan yang dapat menimbulkan prasangka hingga diskriminasi.

Dalam konteks kehidupan kita sebagai umat Kristen di Indonesia yang sarat dengan perbedaan, beragam stereotip terhadap kelompok tertentu mungkin sudah sering kita dengar. Wajah ber-siku, mudah emosi, ngomong kasar, serta logat yang khas untuk suku batak Toba. Ada juga sebutan “si mata sipit dan kikir” pada etnis Tionghoa, “rambut keriting, kulit hitam” untuk teman-teman dari Timur, “Dang Jolma” (Batak Toba: tidak berkemanusiaan) bagi suku Nias, serta ragam penyebutan untuk suku dan ras lainnya. Di satu sisi penyebutan ini terkadang dianggap candaan, namun di sisi yang berbeda, hal ini juga bisa menimbulkan masalah dalam relasi.

Belajar dari hubungan orang Yahudi dan orang Samaria yang banyak sekat (Yohanes 4:9). Orang Yahudi memandang najis orang Samaria karena nenek moyang mereka yang melakukan kawin campur. Begitu juga orang Samaria menganggap orang Yahudi memegang ajaran yang salah karena berkeyakinan bahwa Taurat dan syariat Yahudi berasal dari Tuhan.

Lebih lanjut, kita juga dapat membaca kisah Natanael dalam Yohanes 1:45-46. “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” tanya Natanael ragu saat Filipus mengaku bertemu dengan Mesias, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret. Tidak ada yang salah dengan Kota Nazaret, namun kota ini tidak pernah disebut sebagai kota asal sang Juru Selamat dalam nubuatan para nabi. Lain hal dengan Kota Betlehem, kota ini sudah dinubuatkan oleh Nabi Mikha bahwa akan bangkit seorang pemimpin bagi Israel (Mikha 5:1). Hal ini juga yang mungkin mendorong keraguan Natanael. Padahal Yesus lahir di kota Daud, Betlehem. Tetapi, demi penggenapan rancangan Allah, Yesus disebut orang Nazaret (Matius 2:23).

Tentang penggolongan, dalam pasalnya yang kedua dari ayat 1 sampai 4, Yakobus mengingatkan agar tidak ada pembedaan dalam hati yang membuat kita memperlakukan orang lain dengan berbeda. Yakobus memberikan nasihat agar tidak menilai dan memperlakukan seseorang berdasarkan penampilan atau kelas sosialnya.

Sama seperti pengalamanku dalam pertemananku dengan Togar, kita tidak pernah bisa mengetahui secara pasti bagaimana stereotip tertentu memberikan dampak bagi orang lain. Bagi sebagian orang, sebutan/panggilan tertentu mungkin terkesan biasa saja, namun untuk sebagian lainnya, penyebutan tersebut menyinggung atau mengganggu.

Yesus pun pernah menjadi korban dari prasangka. Ketika Dia menjumpai seorang perempuan Samaria di sumur Yakub, hal tersebut bukanlah tindakan lazim pada zaman itu, mengingat orang Yahudi tidak bergaul dengan perempuan Samaria. Komunikasi antara pria Yahudi dengan seorang perempuan Samaria tidaklah dibenarkan menurut budaya karena orang Samaria dianggap lebih rendah derajatnya. Belajar dari sikap Yesus yang mematahkan prasangka itu dengan hadir secara langsung dan bercakap dengan si perempuan Samaria, kita bisa memulai dengan belajar mengenal orang lain secara pribadi tanpa embel-embel stereotip tertentu.

Seperti keraguan Natanael yang terjawab setelah ia bertemu dengan Yesus, tentu saja pengenalan kita yang bersifat pribadi tidak boleh kita jadikan sebagai penilaian yang sama pada semua orang, meski mereka berasal dari daerah yang sama atau memiliki latar belakang yang mirip. Lebih dari itu, sebagai anak-anak Allah hendaknya kita juga terus belajar untuk mengasihi Allah dan sesama (Matius 22:37, 39) tanpa membeda-bedakan, sebab kita adalah satu di dalam Kristus Yesus (Galatia 3:28).

Soli Deo Gloria

5 Cara Hidup dalam Keluarga Disfungsional

Oleh Jane Lim
Artikel asli dalam bahasa inggris : 5 Ways I Learned To Love My Dysfunctional Family

Keluargaku bisa dikatakan sebagai “Keluarga Kristen Harmonis”. Kami pergi ke gereja setiap hari Minggu, menghadiri persekutuan, dan ikut retret. Kami juga membaca Alkitab, bergabung dengan grup komsel, dan mengadakan sesi belajar Alkitab di rumah. Kami percaya bahwa keluarga yang berdoa bersama akan tetap bersama.

Namun, selalu ada hal yang menyakitkan bagiku, yaitu melihat betapa banyak konflik dan ketegangan yang kami miliki di rumah. Sebagai seorang anak, aku selalu merasa tidak nyaman setiap kali melihat orang tuaku bertengkar hebat sebelum ke gereja, kemudian pertengkaran itu terhenti saat tiba di gereja. Lalu mereka pergi ke tempat masing-masing—ayah ke ruang ibadah dan ibu bergabung dengan paduan suara atau mengajar kelas, sementara aku ke kelas sekolah Minggu dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Entah bagaimana, secara tidak langsung aku mengerti bahwa aku harus memendam hal tersebut untuk diriku sendiri.

Aku pun tidak ingat bahwa aku pernah mendengar orang tuaku saling meminta maaf, apalagi untuk membahas masalah pertengkaran mereka setelahnya.

Ketika aku tumbuh dewasa dan menyadari betapa disfungsionalnya—tidak normal dan tidak sehat—interaksi semacam itu, semakin sulit bagiku hanya untuk berdiam diri dan tidak mengatakan apa-apa. Oleh karena itu, aku memilih berbicara. Tentu saja hal ini tidak disambut baik, mengingat bagaimana konsep hubungan orang tua dan anak dalam budaya kita.

Selama bertahun-tahun, aku terus belajar untuk menyerahkan keadaan ini kepada Tuhan. Aku pun diberkati karena dapat berteman dengan para pendeta yang peduli dan mentor-mentor yang bijaksana, dan mereka juga yang menemaniku melalui berbagai konflik yang kualami. Aku juga mengikuti terapi dengan seorang konselor Kristen, dan memiliki teman-teman yang mau melakukan yang terbaik untuk berada di sisiku. Secara pribadi, aku telah melakukan apa yang bisa kulakukan untuk belajar hidup dalam keluargaku yang tidak baik-baik saja.

Aku juga telah belajar untuk menyebut situasiku sebagai disfungsional, sesuatu yang tidak dapat aku lakukan sebelumnya. Hampir satu dekade yang lalu, aku bercerita pada seorang teman tentang bagaimana orang tuaku bertengkar dan bagaimana hal tersebut terlihat normal, sampai ketika dia dengan blak-blakan menjawab, “Uhm, itu tidak normal.”

Tanggapannya mengejutkanku, dan setelah itu, aku langsung merasa malu. Apa maksudnya keluargaku tidak normal? Apakah ini berarti kami disfungsional? Bagaimana bisa dia mengatakan itu? Betapa beraninya dia mengatakan itu? Orang tuanya bahkan bukan orang percaya — setidaknya keluargaku orang percaya. Bagaimana kami bisa ‘bermasalah’ jika kami orang Kristen?

Kalau dipikir-pikir, itu adalah momen pembelajaran yang penting bagiku. Walau temanku mungkin bisa mengatakan istilah yang lebih baik, tapi apa yang dia katakan itu benar. Tidak normal bagi keluarga untuk menjadi seperti ini. Dan menjadi orang Kristen tidak membebaskan kita dari masalah.

Tuhan dengan jelas menggambarkan visi-Nya tentang kehidupan keluarga dalam Efesus 5:2-6:4 — melibatkan penyerahan yang sama dan kasih yang rela berkorban, untuk mencerminkan hubungan antara Kristus dan gereja. Di keluargaku, sebagian besar konflik kami berasal dari ketidaksabaran dan keinginan kuat untuk “melakukan segala sesuatu dengan caraku” ( Yakobus 4:1 ). Yang terpenting, kedua bagian ini menyajikan kesimpulan yang sama—kita perlu tunduk kepada Tuhan.

Seiring waktu, aku telah melihat bagaimana teman-temanku juga berjuang dengan keluarga mereka sendiri dan memilih membawa keadaan disfungsional tersebut kepada Tuhan. Itu menggerakkanku untuk tetap setia pada imanku. Mereka mengajariku berulang kali bahwa kekacauan keluarga yang tampaknya permanen tidak menghapus kebenaran Alkitab dan apa yang telah Yesus lakukan di kayu salib. Tanggapan mereka mengingatkanku bahwa Tuhan terus bekerja dalam kita dan akan menyelesaikan pekerjaan-Nya sampai kita melihat-Nya lagi.

Aku juga belajar untuk mempertimbangkan kembali bagaimana kita menggunakan kata “normal’. Walaupun konflik adalah hal normal dan merupakan bagian dari kehidupan, konflik yang sering terjadi dan tidak terselesaikan tidak boleh diperlakukan sebagai hal yang normal.

Seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 6: “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (ay.1-2). Ini berarti bahwa meskipun kesulitan melawan dosa terus berlanjut, perjuangan juga harus terus berlanjut, dan kemenangan pasti ada karena perbuatan Yesus di kayu salib (11-14).

Lalu bagaimana kita bisa hidup dengan ketidaknormalan dan tetap sehat? Bagaimana kita menerimanya dan tidak mengabaikan dampak dan konsekuensinya dalam hidup kita?

1. Mengakui dan meratapi kehancuran dosa

Kita tahu konsekuensi dari dosa, tetapi hidup dalam dosa setiap hari bisa menjadi sangat berat. Mengakui dosa terus-menerus tidak berarti kita menyerahkan diri kepada kuasa dosa, sebaliknya itu berarti kita tidak lagi menganggap remeh dosa atau melakukan pembenaran bahwa dosa yang kita lakukan adalah ‘normal’.

Ketika aku berbicara dengan seorang teman tentang keluargaku, dia mengingatkanku betapa disfungsionalnya beberapa keluarga dalam Alkitab (misalnya, Abraham, Yakub, Daud), dan bagaimana Tuhan memelihara dan memakai mereka untuk memenuhi rencana-Nya. Kami juga membahas bagaimana kita harus merefleksikan peran kita dalam keluarga yang rusak: selain mengakui luka kita sendiri, kita juga perlu dengan rendah hati memeriksa keadaan hati kita dan mengakui bahwa kita telah menyakiti orang lain.

Bukan berarti kita dapat berpikir bahwa satu luka menghapuskan luka lainnya. Ini berarti bahwa “kita semua telah berbuat dosa” ( Roma 3:23 ), namun “… Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” ( Roma 5:8 ).

2. Kembalilah kepada Tuhan dan renungkan janji-Nya

Setiap kali konflik muncul dalam keluargaku, aku tergoda untuk melarikan diri dan bersembunyi, untuk tidak ikut campur kalau aku bisa. Tapi mengelak sebaik apa pun hanyalah jeda singkat. Aku menyadari bahwa aku dapat bersembunyi di guaku sendiri atau aku dapat memilih untuk bersembunyi di hadirat Tuhan ( Mazmur 32:7 ).

Bersembunyi di hadirat Tuhan berarti berpaling pada Firman-Nya dan menyalurkan seluruh kesedihan kita kepada-Nya, meletakkannya di kaki-Nya. Bersembunyi di dalam Tuhan tidak berakhir dengan tangisan dan ratapan (Mazmur 30), karena Dia “hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” ( Mazmur 32:8 ).

Ketika sakit hati dan putus asa, aku sering mengingat kembali Ratapan 3 :

”Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”
Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
”Tuhan adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. (ay.19-24).

3. Carilah pemulihan

Kita tahu bahwa kehidupan di bumi tidak pernah mulus, tetapi kita dapat (dan harus) berdoa dan berharap bahwa Tuhan akan membawa pertobatan, penyembuhan, dan pemulihan hubungan yang sempurna. Namun, kita juga perlu belajar untuk berdamai dengan kemungkinan bahwa pemulihan itu mungkin tak selalu selaras dengan yang kita dambakan.

Ada saat ketika aku berharap semua orang di keluargaku akan mencari bantuan konseling sehingga kami dapat menyelesaikan semua masalah kami, tetapi aku sadar bahwa keputusan tersebut adalah keputusan pribadi. Dulu aku merasa sangat putus asa, bahkan pahit akan penolakan keluargaku untuk mencari pertolongan konselor. Tetapi melalui sesi konselingku sendiri, dan para mentor yang mendengarkan, serta teman-teman yang mendoakanku, perlahan aku belajar menerima pilihan keluargaku dan mencintai mereka dengan kemampuan terbaikku. Ini berarti melayani mereka sebanyak yang aku bisa sambil menjaga batasan yang sehat, dan terus berdoa agar Tuhan menyembuhkan dan memulihkan mereka.

4. Tetapkan batasan yang sehat dan cari pemulihan untuk diri sendiri

Dalam budaya tempat aku tumbuh, konsep menciptakan ‘batasan’ dengan orang-orang atau konflik sangatlah asing, bahkan dianggap tidak berbakti. Tetapi dengan bantuan terapi, buku, dan literatur Kristen, aku telah belajar bahwa memberi batasan sebenarnya sehat.

Hal pertama yang aku pelajari adalah mengenali peranku dalam konflik. Ketika orang tuaku bertengkar, aku tahu bukan tanggung jawabku sepenuhnya untuk menengahi dan membantu mereka berdamai. Bagian yang sulit adalah mengatakan tidak, tetapi aku telah belajar melakukannya demi kesehatan mentalku. Sebaliknya, aku berdoa sebanyak yang aku bisa. Aku juga menghadiri sesi konseling secara teratur karena ini selalu menjadi jalan keluar yang bermanfaat bagiku dan merupakan kunci untuk perjalanan penyembuhanku.

5. Terus berusaha dalam doa

Lebih dari sekadar kata-kata yang kita ucapkan, doa ada dalam sikap hati kita—bagaimana kita mengarahkan pikiran dan emosi kita kepada Tuhan. Itu berarti, mengakui bahwa Dia mengasihi kita dan melihat serta mendengar segala sesuatu yang kita katakan dan tidak katakan. Dari sana, kita dapat mengingat bahwa Dia “yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita” ( Efesus 3:20 ).

Jangan menyerah mendoakan keluargamu, sebesar apapun kehancuran di dalamnya. Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita untuk kehidupan yang akan datang, Dia terus menyelamatkan kita setiap hari (Mazmur 68:19) dan Dia telah memberi kita pengharapan hidup dalam Yesus (1 Petrus 1:3).

Mengapa Harus Menegur Jika Bisa Membiarkan?

Oleh Toar Taufik Inref Luwuk, Minahasa

“Duuuh! Kamu gimana, sih. Harusnya nggak kaya gini…”

Mungkin beberapa dari kita ada yang menegur seperti itu ketika seseorang melakukan kesalahan atau ada juga yang memilih untuk mendiamkannya (tidak menegur). Padahal kita tahu kalau seseorang salah, kita punya kewajiban untuk mengingatkannya. Tapi, bagaimanakah cara kita menegur? Apakah teguran dapat menyadarkan dan memperbaiki kesalahan? Atau malah membuat seseorang itu jadi cuek terhadap kita (tidak peduli, sakit hati lalu pergi, dan semacamnya)?

Semua orang tak luput dari kesalahan atau melakukan dosa, tetapi tidak semua kesalahan dapat disadari. Oleh karena itu terkadang kita butuh bantuan orang lain untuk melihat kesalahan-kesalahan yang kita sendiri tidak menyadarinya.

Tapi, menegur memang bukan perkara mudah. Dari dulu sampai sekarang, aku kurang berani menegur orang sekalipun aku yakin teguranku itu benar. Aku khawatir akan respons orang tersebut setelah aku menegurnya, apakah mereka akan menerima teguran itu atau malah membenciku. Ditambah lagi, aku itu orangnya gak enakan. Padahal aku tahu bahwa ketika menegur, perasaan tidaklah jadi indikator utama.

Asumsi-asumsi itu menciptakan berbagai pertanyaan dalam benakku. Bagaimana cara menyampaikan teguran agar bisa diterima dengan baik? Kenapa harus aku yang terbeban melihat kesalahannya? Kenapa aku tidak bisa merasa “bodo amat” terhadap urusan orang lain? Sebagai orang Kristen, apakah menegur itu perlu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab lewat bacaan buku dan refleksi pribadi. Secara sederhana, teguran adalah bukti kasih kita kepada sesama karena setiap orang memiliki blind spot yang bisa menyeret seseorang ke dalam dosa. Tidak salah untuk menegur orang lain karena ini adalah tanggung jawab orang Kristen untuk saling menjaga. Sebaliknya, tidak menegur berarti mengabaikan tanggung jawab moral yang Allah berikan sebagai saudara seiman. 2 Timotius 4:2 “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

Melalui ayat di atas, kita juga diingatkan bahwa menegur bukan berarti menjatuhkan, melainkan membantu orang lain menyadari kesalahannya, memperbaikinya, kemudian menjadi lebih baik dan serupa dengan Kristus.

Amsal 27:17 mengatakan “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”

Ayat ini mungkin sudah sangat familiar bagi orang Kristen. Jika membaca ayat ini, yang terlintas dalam benakku adalah konflik. Kenapa konflik? Tidak dipungkiri, teguran kadang mengantar kita pada konflik. Tetapi, konflik bukanlah hal yang tabu. Melalui konflik kita dapat saling menajamkan karakter dan hati sesama, tetapi tergantung bagaimana kita meresponi suatu konflik, apakah dengan berhikmat atau tidak. Amsal 10:13 “Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.”

Oleh karena itu, ketika terjadi konflik, kita harus mengembangkan sikap hati yang peduli. Saling menegur adalah salah satu kunci untuk membentuk relasi yang sehat dan bertumbuh dalam Tuhan. Tapi kenyataannya, masih banyak dari kita yang memilih tidak menegur atau mungkin kita sudah menegur, tapi tidak diterima dengan baik. Meskipun ketika kita sudah menegur dengan baik tetapi teguran itu dimaknai lain, kita tidak boleh kecewa. Menegur adalah perbuatan baik dan harus dilakukan (Yakobus 4:17). Diterima atau tidaknya teguran merupakan campur tangan Allah. Bagian kita adalah memilih untuk menegur dalam kasih serta mendoakannya.

Dalam menegur, hal utama yang dibutuhkan adakah kasih, diikuti kedewasaan rohani (kebijaksanaan & hikmat) serta rasa tanggung jawab membimbing seseorang yang berbuat salah untuk memperbaiki kesalahannya dan menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi, bukan berarti si penegur tidak bisa kebal dari kesalahan. Paulus pun mengingatkan hal itu dalam Galatia 6:1 yang berkata:

“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”

Setiap teguran yang hendak kita lontarkan harus didahului dengan tiga hal, yaitu fakta, firman Tuhan, dan doa.

Sebelum menegur seseorang, kita harus mengetahui dengan jelas dan rinci apa yang sebenarnya terjadi. Akan lebih baik jika kita tanya sudut pandangnya (ini membuktikan bahwa kita menghargai orang tersebut). Jika terbukti salah, kita dapat menegurnya di waktu yang tepat (Amsal 25:11) dan tentu saja dengan penuh kasih. Selain itu, usahakanlah untuk menegurnya secara pribadi, bukan di depan orang lain (Matius 18:15).

Aku teringat akan pembuatan sebuah pedang yang prosesnya panjang. Besi harus ditempa, dibentuk, dan dibakar hingga menghasilkan sebuah pedang tajam dan siap pakai. Demikian juga manusia, untuk menjadi seperti pedang yang tajam dan berguna, kita akan melalui proses panjang dan berat. Setiap teguran dan konflik adalah cara-cara Tuhan untuk membentuk kita agar kita siap dipakai dalam pekerjaan-Nya.

Ingatlah selalu, bahwa tujuan kita menegur seseorang bukan untuk menjatuhkan atau melampiaskan kekesalan kita atas perbuatannya, tapi karena kita mengasihinya dan kita rindu untuk sama-sama bertumbuh dalam Kristus.

Efesus 4:15 “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

*Tulisan ini dibuat terinspirasi dari Buku yang ditulis oleh Sen Sendjaya “Jadilah Pemimpin Demi Kristus” dalam topik Seni Menegur Pemimpin.

Persahabatan Lelaki dan Perempuan: Beneran Sahabat atau PDKT?

Oleh Jacq So
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Can Guys and Girls Really Just Be Friends

Kebanyakan orang berpikir kalau persahabatan yang murni antara lelaki dan perempuan itu tidak mungkin. Film When Harry Met Sally menegaskan pemikiran itu: bahwa persahabatan lawan jenis tidak mungkin terjadi tanpa salah satu atau kedua belah pihak akhirnya saling jatuh cinta. Sementara itu, sepengetahuanku gereja biasanya melihat relasi antara laki-laki dan perempuan hanya sebatas pada apa yang boleh dan tidak.

Sebagai remaja yang sudah terpengaruh oleh pemikiran bahwa setiap lelaki bisa saja jadi jodohku, aku berteman dengan banyak lelaki dan memfilter manakah yang kira-kira cocok jadi jodohku. . Tapi, aku kesal karena bukannya menjadi sosok yang terlihat romantis, aku malah dianggap seolah jadi saudara perempuan sendiri.

Barulah ketika Tuhan menghadiahiku kesempatan untuk menjadi single kembali, aku menyadari betapa beruntungnya memiliki teman laki-laki yang benar-benar teman. Temanku datang untuk menemaniku, mengobrol selama berjam-jam. dan berbagi makanan dan film tanpa terjebak dalam romantisme. Aku menikmati banyak keuntungan untuk lebih mengenal secara natural, tanpa terjebak dalam upaya untuk membuat satu sama lain terkesan.

Yesus memberikan contoh tentang indahnya persahabatan lawan jenis. Dia dekat dengan sepasang saudari, Maria dan Marta dari Betania. Pada dua kesempatan, Yesus disambut hangat sebagai tamu di rumah mereka, dan mereka pun cukup terbuka satu sama lain. Martha tidak sungkan meminta agar Yesus memberitahu adiknya (Lukas 10:40). Kedua saudara perempuan itu juga berani untuk meminta Yesus datang dan menyembuhkan saudara laki-laki mereka ketika Dia berada di tengah-tengah pelayanan-Nya (Yohanes 11:3). Yesus secara terbuka menangis bersama mereka dalam kesusahan mereka ( Yohanes 11:35 ).

Yesus menunjukkan bagaimana pria dapat menjaga dan memahami wanita secara terhormat sebagai teman, terutama pada saat wanita dianggap lebih rendah derajatnya dibanding laki-laki. Maria dan Marta pun menunjukkan bagaimana wanita dapat membalas perlakuan hormat seperti itu melalui persahabatan murni yang membuat cinta mereka kepada-Nya menjadi nyata.

Di zaman modern ini ketika relasi menjadi kompleks, bagaimana kita bisa menumbuhkan persahabatan antar gender yang sehat?

1. Selalu ada kesamaan

Aku belajar mengemudi lebih lambat dibanding teman-temanku. Supaya lebih mahir, aku meminta sekelompok pria yang sudah kukenal sejak SMA untuk mengajariku seminggu sekali. Kami pun berteman baik, dan seusai sesi menyetir, kami sering menonton film dan berdiskusi intens tentang masalah karakter fiksi superhero.

Melangkah ke dunia pria cukup mudah bagiku karena aku tumbuh di sekitar anak laki-laki dan memiliki minat yang sama dengan mereka. Tetapi, terlepas dari tipe perempuan seperti apa kamu, menurutku selalu ada kesamaan yang bisa ditemukan dengan laki-laki. Selain hobi dan minat, kita semua berbagi pengalaman hidup seperti sekolah, pekerjaan, dan bagi orang percaya: satu minat bersama yang selalu kita miliki adalah Yesus Kristus.

Aku pernah ikut beberapa kelompok belajar Alkitab di mana aku mendapat berkat tidak hanya dari kebijaksanaan dan nasihat para pria, tetapi juga dari kesediaan mereka untuk terbuka tentang kesulitan mereka. Mendoakan mereka jadi cara sederhana yang memampukanku untuk melayani rekan-rekan lelakiku seolah saudaraku sendiri.

2. Tidak semua perbuatan baik yang dilakukan adalah kode

Ketika aku berada di Amerika untuk bertemu dengan beberapa teman, aku benar-benar terkesima dengan betapa sopannya mereka. Mereka akan bergegas membukakan pintu untukku dan teman perempuan lain dan melangkah mundur untuk membiarkan kami masuk lebih dulu. Mereka memastikan kami sampai di hotel dengan selamat. Tindakan itu menunjukkan kesopanan yang sudah lama tidak kulihat. Tetapi aku kembali tersadar ketika aku kembali ke rumah dan menyaksikan lima rekan laki-lakiku berdiri sementara seorang wanita berjuang untuk memindahkan meja sendirian.

“Kesatria sudah mati,” keluh banyak wanita. Tapi, kurasa kesatria itu tidaklah mati. Dunia kita mendefinisikan gentleman hanya sebagai perilaku romantis. Akibatnya, melakukan hal-hal baik kepada lawan jenis itu seperti menebar ranjau. Para lelaki takut apabila kebaikan dan sikap sopan itu malah disalahartikan, yang membuat canggung. ,

Di masa lalu, aku terjebak overthinking. Tindakan baik yang dilakukan para lelaki terhadapku kumaknai sebagai kode. Akibatnya, aku sulit menanggapi mereka dengan natural. Respon inilah yang membuat persahabatan menjadi canggung dan mungkin membuat beberapa pria enggan untuk bersikap lembut kepada wanita di masa depan.

Sekarang aku menilai setiap tindakan baik dari lawan jenisku murni sebagai tindakan baik. Aku mengizinkan mereka bersikap sopan padaku, dan kuucapkan terima kasih setiap kali mereka menawarkan diri untuk membayar kopi, atau mengantarku pulang agar aku tidak perlu bolak-balik. Cukup itu saja. Perbuatan baik adalah perbuatan baik, tidak perlu selalu diartikan sebagai kode kecuali dia memang mengirimkan sinyal yang jelas.

3. Komunikasikan status kamu dengan jelas

Aku kenal seorang wanita yang mengomunikasikan intensinya hanya untuk berteman sejak awal pertemuan. Di awal mungkin terlihat aneh untuk bersikap sangat terbuka mengenai relasi, tapi aku menganggapnya sebagai langkah yang bijaksana. Bagaimanapun, faktor utama dalam persahabatan lawan jenis yang baik adalah kejelasan tentang siapa kamu untuk satu sama lain. Ada kalanya pria mencoba memikat wanita melalui gerakan tubuh atau isyarat lain dengan harapan si wanita akan merespons balik. Cara terbaik untuk menghindari kebingungan adalah komunikasikan secara terbuka bahwa kamu hanya seorang teman.

Sebagai aturan umum untuk pertemanan, aku juga menghindari waktu berdua dengan laki-laki kecuali dengan mereka yang sudah sepaham kalau kami “hanya teman”. Jika memang tidak ada diskusi serius yang harus kami lakukan secara empat mata, aku lebih suka mengobrol bersama teman-teman lain supaya batasannya jelas, dan agar tidak menimbulkan gosip dari teman-teman lain.

4. Jangan biarkan gosip mempengaruhi caramu memandang teman lawan jenis

Beberapa tahun yang lalu, aku ketahuan oleh ibu-ibu gereja sedang sarapan dengan seorang teman dekat setelah kebaktian hari Minggu. Minggu berikutnya, salah satu dari mereka kepo apakah aku ada hubungan khusus dengan lelaki itu. Kujelaskan bahwa kami hanya berteman, tetapi tampaknya itu tidak cukup untuk menghentikan pembicaraan bahwa ada (atau seharusnya) relasi lebih dari teman di antara kami.

Omongan orang lain seringkali menjadi batu sandungan bagi berkembangnya persahabatan lawan jenis, terutama antara pria dan wanita lajang. Gosip membuat sepasang sahabat jadi ikut-ikutan berpikir, jangan-jangan memang relasi ini lebih dari sekadar persahabatan. . Persahabatan yang baik pun terguncang oleh ekspektasi orang lain.

Jika persahabatanmu dijadikan bahan gosip, kamu dan sahabatmu harus sepakat tentang status relasi kalian. Jika memang tidak ada intensi pacaran, hindarilah obrolan-obrolan romantis dan dengan sopan mintalah orang-orang yang berlagak seperti mak comblang untuk tidak ikut campur dalam relasi kalian.

Ketika berbicara tentang persahabatan lawan jenis, jagalah selalu hati dan pikiran, dan pastikan kita memperlakukan teman kita dengan tepat: apakah kita hanya ingin berteman atau mau berkomitmen lebih? Paulus memberi kita wejangan dalam 2 Timotius 5:1-2: selama belum menikah, laki-laki dan perempuan harus memperlakukan satu sama lain seperti keluarga.

Bagi para wanita, jangan bersikap genit atau ingin diprioritaskan oleh seorang lelaki yang statusnya hanya teman. Lihatlah para teman lelaki kita sebagai saudara dan perlakukan mereka sebagaimana teladan Yesus. Doakan mereka, berusahalah untuk membangun hubungan yang erat dengan Yesus (atau jika mereka belum mengenal Yesus, kamu bisa bercerita juga tentang-Nya) ), dan doronglah mereka untuk melakukan “kasih dan perbuatan baik” (Ibrani 10: 24).

Move On dari Persahabatan yang Retak

Oleh Jane Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Moving on From a Friendship Breakup

Sudah lebih dari delapan bulan berlalu sejak malam ketika aku dan temanku mengobrol serius.

Dalam relasi pacaran, obrolan serius biasanya mengindikasikan adanya  masalah besar. Tetapi, di dalam kasus kami—sebagai teman—aku mengharapkan supaya masalah kami  berakhir dengan permintaan maaf diwarnai tangisan dan pelukan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Salah paham berlanjut jadi saling menuduh, dan setelahnya kami pun jadi saling menghindar. Aku dan temanku telah berkawan lebih dari 19 tahun. Ketika aku kabur dari rumah dulu, aku tinggal di rumahnya. Itulah sekelumit kesan akan betapa dekatnya kami.

Setelah bertahun-tahun tinggal di negara berbeda, di tahun 2020 kami akhirnya kembali ke tempat yang sama. Kami bersemangat untuk berkawan akrab lagi. Namun, kedekatan kami yang tak lagi terhalang jarak membuat banyak perbedaan yang sebelumnya tak terlihat, malah menjadi jelas. Dan, sedihnya itu memperluas jurang di antara kami. 

Aku pernah punya sahabat, yang sekarang tak lagi dekat karena kami telah bertumbuh dewasa, pindah rumah, menikah, punya anak, dan sebagainya. Tetapi, aku belum pernah mengalami “putus” persahabatan yang dilakukan secara sengaja, lalu aku pun dijauhi. Aku mengatakan ini sebagai “putus” karena saat obrolan terakhir kami, jelas bahwa kami masih peduli satu sama lain. Tetapi juga jelas bahwa kami tidak bisa mengembalikan pertemanan kami seperti semula. 

Tidak seperti putus cinta, di mana orang-orang yang move-on dengan baik dapat berteman dengan mantannya, dalam persahabatan, aku belum mengerti seperti apa rasanya “masih berteman” dengan mantan sahabat.

Saat aku merawat lukaku dan berduka atas kehilangan dan perasaan dimusuhi, aku pun merenungkan melalui peristiwa ini apa yang mungkin Tuhan ajarkan kepadaku. Tentu saja, memang tidak semua masalah memberikan pelajaran berharga. Tetapi, bagi kita orang-orang percaya, penderitaan dapat mendorong kita untuk memikirkan tentang Allah dan bagaimana Dia mungkin bekerja dalam kita.

Jadi, inilah beberapa pelajaran yang aku raih dari pengalaman ini:

  1. Longgarkan sedikit ikatan persahabatanmu, tetapi kuatkanlah ikatanmu pada Tuhan

Aku baru-baru ini sadar bahwa apa yang menyebabkan putusnya persahabatan kami adalah perbedaan mencolok dalam cara pandang kami, yang diperparah dengan asumsi bahwa kami harus selalu memahami dan setuju satu sama lain.

Temanku berharap pengalaman dan kesuksesannya dapat membimbingku menuju kesuksesanku sendiri; tetapi ketika ia merasa aku tidak tertarik untuk mengikuti nasihatnya, ia kecewa. Aku, di sisi lain, berharap kalau dia akan berempati dengan perjuanganku Lama-lama aku kesal karena dia selalu berusaha mengoreksiku. Kita tahu orang-orang berubah, tetapi jika menyangkut hubungan terdekat kita, mungkin sulit untuk menerima perubahan ini. Kita ingin orang yang kita kasihi “tidak pernah berubah”, karena jika mereka berubah, itu dapat merusak harmoni dalam hubungan yang sudah kita bangun. Dan jika hubungan itu rusak, kita pun kehilangan dukungan dari orang yang kita andalkan. 

Pengalaman ini mengajarkanku betapa baiknya mengetahui bahwa Allah tidak berubah. Bilangan 23:19 mengatakan, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.”

Setiap kali aku mengeluh tentang Allah yang terasa jauh dariku, sungguh sebuah penghiburan untuk mengetahui bahwa Tuhan bukanlah manusia. Dia tidak akan berubah pikiran tentang aku besok, atau selamanya. Kasih yang Dia janjikan akan ditepati.

  1. Memaafkan memang menyakitkan

Setiap kali rasa sakitku muncul kembali, memilih untuk memaafkan—agar aku tidak memendam kebencian—bisa terasa sangat menyakitkan. Kadang-kadang, dalam upayaku untuk menutupi lukaku, aku melampiaskan kemarahan—aku berpikir kok bisa temanku itu dengan sengaja menyakitiku, dengan kata-katanya, bagaimana dia mengatakan satu hal dan melakukan hal lain, bagaimana dia telah merusak kepercayaanku.

Tetapi, ketika badai rasa sakit itu berlalu, aku melihat Allah berdiri di sana, dengan sabar menungguku untuk mendengarkan apa yang Dia katakan. Dia kemudian menunjukkan kepadaku lagi seperti apa pengampunan-Nya—meskipun menyakitkan bagiku untuk mengampuni dan mengasihi, betapa lebih menyakitkan bagi Dia ketika Yesus tergantung di kayu salib.  Betapa lebih sakitnya Dia ketika kita berpaling dari-Nya.

Memaafkan itu menyakitkan, oleh karena itu saat kita belajar untuk memaafkan, lihatlah kepada Dia yang paling terluka, dan percayalah bahwa luka-Nya akan menyembuhkan kita, dan memperbesar kapasitas hati kita untuk mengasihi.

  1. Cinta manusia itu bersyarat

Temanku bukan seorang Kristen, dan aku sungguh-sungguh berdoa agar ia diselamatkan. Tetapi setelah konflik, ada hari-hari ketika aku tidak ingin mendoakannya. Di saat-saat terburukku, aku mengaku kepada Tuhan bahwa kurasa aku tidak lagi peduli dengannya.

Tetapi Tuhan, dalam belas kasihan-Nya yang tak terbatas, tidak menghajarku karena pikiranku. Sebaliknya, Dia dengan kuat memegangku dan menyadarkanku dengan  kebenaran-Nya:

Jika kamu mencintai orang yang mencintai kamu, apa bedanya kamu?

Apakah kamu lebih layak untuk diselamatkan? Begitukah cara kerja kasih karunia-Ku?

Dan sekali lagi, dengan rendah hati aku tergerak untuk mengakui dosa-dosaku.

  1. Menaruh harapanku pada Allah terkadang berarti melepaskan ekspektasi kita sendiri 

Suatu kali aku membaca sebuah artikel yang membahas tentang kehilangan relasi, yang mengingatkanku betapa aku menginginkan kami bisa kembali bersahabat seperti dulu. Namun, aku masih bergumul dengan kepahitan di hati. Hatiku seolah berkata kalau  aku mau melakukan apa pun demi pulihnya relasi kami. Aku akan memaafkan dan melupakan jika itu berarti kita bisa berteman lagi.

Tapi, aku tahu itu bukanlah cara memaafkan yang baik. Ketika Tuhan memanggilku untuk memaafkan, Dia tidak meyakinkanku bahwa setelah aku memaafkan temanku, relasi kami dapat kembali hangat seperti sebelumnya. Dia juga tidak berjanji untuk memberiku teman baru yang akan menggantikan teman lama. Faktanya, Dia tidak mengatakan sesuatu yang spesifik untuk tujuan itu, tentang hasil penuh harapan seperti apa yang dapat aku harapkan di sisi kehidupan ini.

Sebaliknya, Dia mengajarku bahwa pemulihan yang dijanjikan-Nya tidak berarti segala sesuatunya kembali seperti semula. Pemulihan dari Allah juga bukan untuk memenuhi harapan duniawi kita. Seperti Roma 8:23-25 katakan kepada kita:

Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

Dua minggu lalu, aku memutuskan untuk mengirim pesan kepada temanku dan mengajaknya bertemu. Selama beberapa jam aku merasa ketakutan, tidak tahu bagaimana dia akan merespons. Tetapi coba tebak—ia dengan senang hati menjawab ya, jadi kami pergi minum kopi dan mengobrol selama beberapa jam.

 “Obrolan kami asyik, seperti dulu.” Mungkin itu respons yang kamu harapkan. Tapi, ada perubahan yang membuat pertemuan kami tak seperti saat-saat ketika kami begitu akrab, dan mungkin tak akan pernah kembali seperti itu. 

Tapi, itu tidaklah masalah . Itulah yang aku pelajari dari pengalamanku: ketika pergumulanmu tak menemui solusi yang kamu harapkan,Tuhan senantiasa ada buatmu Janji-Nya untuk menemaniku, melindungiku, dan mencintaiku dalam segala keadaan selalu benar dan ditepati-Nya.

Artikel ini diterjemahkan oleh Joel Adefrid

Dua Hal yang Kupelajari dari Terhubung Kembali

Oleh Vika Vernanda, Jakarta

Siapa yang tidak familiar dengan kata reconnect?

Di masa serba daring seperti sekarang, kata itu sepertinya sering terdengar atau bahkan terucap oleh kita sendiri. Reconnect identik dengan jaringan internet yang sebelumnya terganggu atau bahkan terputus. Dalam Bahasa Indonesia, reconnect berarti terhubung kembali.

Seperti jaringan internet, tahun 2021ku dipenuhi oleh relasi yang terganggu atau bahkan terputus. Pandemi yang menyebabkan isolasi membuatku banyak menikmati waktu sendiri. Relasi dengan teman-teman persekutuan dan kuliah yang biasanya terjalin setiap hari terpaksa berhenti. Namun, sejak awal tahun ini, aku memberanikan diri kembali menghubungi beberapa pribadi dan rutin berkomunikasi hingga saat ini. Aku melakukan reconnect versiku.

Proses reconnect yang paling berarti buatku adalah dengan adik-adik kelompok kecilku. Sekitar 2 tahun lalu, aku memimpin kelompok kecil (KK), yaitu sebuah kelompok pendalaman Alkitab di sebuah sekolah asrama di Jakarta. Kelompok ini beranggotakan aku dan tiga orang siswa dari sekolah tersebut. Saat ini, siswa-siswa yang kupimpin sudah menduduki bangku kuliah di kota yang berbeda-beda. Satu dari mereka berkuliah di Depok, satu di Surabaya, dan satu lagi di Bandung, dan aku di Jakarta. Harapan awalku untuk terhubung kembali dengan mereka adalah untuk membangun persahabatan personal. Aku menghubungi satu persatu dari mereka via daring, dan tidak berharap akan adanya pertemuan kelompok mengingat lokasi dan kesibukan yang berbeda tentunya akan menyulitkan.

Dari komunikasi dengan ketiga adik kelompok kecilku tersebut, aku belajar dua hal yang membuatku sangat bersyukur kepada Tuhan.

Pertama, ternyata bukan hanya aku yang merasa sendirian.

Setiap pertemuanku dengan masing-masing dari mereka diawali dengan mereka yang berkata “Ya ampun, kangen banget, Kak”. Pembahasan kami kemudian dilanjutkan dengan cerita hidup di masa pandemi yang semuanya seringkali merasa sendirian. Seperti yang ku alami, mereka juga mengalami isolasi di masa pandemi ini. Mereka tidak bisa dengan mudah berkomunikasi dengan teman-teman yang biasa bersama mereka 24/7. Satu kesimpulan yang aku dapat dari pembicaraan dengan mereka adalah mereka juga merasa sendiri, bukan hanya aku yang merasakannya. Hal ini menyadarkanku bahwa setiap kita membutuhkan satu sama lain, yang membawaku pada poin dua.

Hal kedua yang kupelajari adalah meskipun sulit, kehadiran komunitas harus tetap diperjuangkan.

Kalimat yang juga muncul dalam obrolanku dengan masing-masing dari mereka adalah “Kangen rohkris banget, Kak.” Aku mengangguk, sebagai tanda setuju dengan mereka. Ketika masih berada dalam percakapan tersebut, aku tidak tahu harus berkata atau berbuat apa. Namun keesokan harinya, salah seorang dari mereka mengatakan “KK lagi apa kita, Kak?”. Aku sempat mengira dia hanya bercanda, mengingat aku tidak memiliki ekspektasi akan hal ini sebelumnya. Ternyata dia serius. Aku pun langsung menghubungi kedua adik yang lain untuk mengajak melanjutkan KK lagi, dan mereka sangat antusias! Salah satu dari mereka bahkan ada yang berkata “Plis banget lah kak yok, udah mohon-mohon ini mah.”

Apakah aku senang? Jawabannya iya. Tapi apakah aku langsung setuju? Tentunya tidak.

Saat ini aku adalah seorang karyawan swasta dan mereka adalah mahasiswa dari kampus yang berbeda-beda sehingga hal yang pertama terbayang olehku adalah sulitnya mengatur jadwal antara kami. Tapi kemudian aku teringat kembali bagian alkitab yang kami bahas dua tahun lalu dari Pengkhotbah 4:9-12: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”

Bagian firman itu mengingatkan kembali tentang prinsip persahabatan yaitu tolong-menolong, saling membangun, dan saling menjaga. Masing-masing dari kami merasa sendirian, tapi kami tidak sendirian seorang diri. Lewat kelompok kecil, kami bisa kembali saling menjaga, tolong-menolong, dan saling membangun menuju keserupaan dengan Kristus. Aku-pun setuju dengan usulan mereka untuk kembali melanjutkan kelompok kecil ini. Memang kesulitannya sudah berada di depan mata, tapi kehadiran komunitas ini harus tetap diperjuangkan.

***

Hal ini menjadi salah satu peristiwa reconnect dalam hidupku yang membuatku tidak bisa tidak bersyukur kepada Tuhan. Aku semakin menyadari bahwa manusia memang diciptakan untuk terhubung. Terhubung dengan Tuhan, dan juga dengan sesama.

Untukmu yang juga mengalami gangguan atau putusnya relasi akibat pandemi atau apapun itu, mari berjuang untuk kembali terhubung dengan mereka. Karena lewat keterhubungan kembali, natur manusia dipenuhi dan kasih Tuhan terus terbagi.

Serunya Bertumbuh Sambil Memuridkan dalam Kelompok Mentoring

Oleh Meista Yuki Crisinta

Setiap orang butuh mentor. Sadar ataupun tidak, kita pasti membutuhkan seseorang yang bisa kita teladani hidupnya, orang yang dengan tulus dan setia membimbing kita untuk menjadi diri sendiri versi yang terbaik dalam perjalanan hidup kita di dunia ini, seseorang yang bisa membawa kita untuk semakin mengenal siapa Allah di dalam Yesus Kristus.

Di tahun 2020, teman kelompok kecilku (TKK) mengajakku untuk membentuk sebuah sistem mentorship dengan visi menolong para lulusan kampus (fresh graduate) dalam proses mencari pekerjaan. Proyek ini tercetus tatkala kami melihat kondisi pandemi yang menyebabkan proses mencari kerja sangat sulit. Singkat cerita, saat itu aku mencoba menjadi mentor dalam masa-masa percobaan proyek perdana kami. Aku “dipasangkan” dengan seorang mentee mahasiswi lulusan baru yang ingin mencari pekerjaan di bidang Ilmu Komunikasi.

Proses mentoring selama beberapa bulan berjalan baik, dan aku menemukan bahwa ternyata aku bersemangat dan senang mengerjakannya. Aku senang bisa membantu satu adik mentee tersebut menjawab berbagai kebingungan dan keraguan yang dia rasakan terkait dunia pekerjaan.

Entah ini sebuah kebetulan atau tidak—tapi aku yakin di dalam Tuhan tak ada yang kebetulan—di tahun yang sama aku tiba-tiba diminta melayani sebagai salah satu mentor di sebuah pembinaan mentoring yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga pelayanan mahasiswa Kristen. Pembinaan mentoring ini diadakan dengan melihat kondisi bahwa tidak sedikit mahasiswa yang kebingungan ketika mereka berada di semester akhir—dan ini memang fenomena yang wajar sekali terjadi. Bingung harus mengambil langkah apa selanjutnya setelah nanti mereka lulus kuliah. Oleh karena itu, dibentuklah kelompok-kelompok mentoring. Para mahasiswa tingkat akhir ini akan dibantu dan dibina oleh kakak-kakak alumni yang telah lebih dahulu merasakan bagaimana asam-manisnya dunia pekerjaan. Dalam kelompok mentoring tersebut juga para kakak alumni akan menceritakan kesaksian hidup mereka tentang perjalanan hidup bersama Tuhan menempuh banyak ketidakpastian ketika memasuki dunia kerja.

Mentor dalam pengertian menurut Oxford Learner’s Dictionaries artinya seseorang berpengalaman (konteks: dunia pekerjaan) yang menolong dan memberikan saran-saran kepada mereka yang belum berpengalaman/pengalamannya lebih sedikit, selama periode waktu tertentu. Darlene Zschech dalam bukunya yang berjudul The Art of Mentoring juga menuliskan:

“…seni menjadi mentor…bukanlah berkaitan dengan mengajarkan saya-ologi. Esensi dari kegiatan mentor adalah usaha membantu orang-orang mencapai potensi terbesarnya, sehingga mereka mampu mengetahui, mengapresiasi, dan menggunakan warisan iman yang besar yang tersedia dalam Kristus.”

Pengalaman menjadi mentor ternyata menjadi cara Tuhan untuk menaburkan benih-benih kasih di hatiku dalam memuridkan adik-adik mentee. Dalam anugerah dan kesempatan pelayanan yang Tuhan berikan, aku sungguh menikmati peranku sebagai mentor dan juga menikmati relasi pertemanan yang terjalin di antara kami. Di sini aku belajar bahwa ternyata penting untuk tetap mewariskan konsep nilai kerajaan Allah kepada generasi muda. Meskipun ada kesaksian hidup pribadi yang dibagikan selama kegiatan mentoring, aku belajar bahwa menjadi mentor bukanlah tentang “menjadi seperti saya”, tetapi menjadi semakin serupa dengan Kristus. Menjadi mentor rohani memiliki esensi dan peranan yang sama untuk menjadikan generasi muda sebagai murid Kristus; berkarakter seperti Kristus.

Jujur, aku pun mengakui ini tidak mudah untuk dijalani, karena terkadang aku juga masih sering mengkotak-kotakkan antara pekerjaan (area duniawi) dengan panggilan hidup (area rohani). Padahal, Allah berdaulat juga di dalam area pekerjaan, dan salah satu panggilan hidup yang Ia tetapkan buat murid-murid-Nya adalah bekerja (Kejadian 1:28). Sehingga yang menjadi tantangan ketika aku menjalankan peran sebagai mentor adalah bagaimana aku harus mengarahkan adik-adik mentee ini nantinya bisa (sedikitnya) memahami hidup dan diri mereka sendiri di dalam Tuhan. Memahami minat dan talenta, passion, peristiwa-peristiwa hidup di masa lalu yang membentuk mereka menjadi pribadi yang sekarang, mimpi mereka, dan lain-lain.

***

Tahun ini, aku kembali dianugerahkan kesempatan melayani sebagai mentor, dengan adik-adik mentee yang berbeda. Salah satu pelajaran yang aku nikmati sepanjang menjadi mentor dalam 2 tahun belakangan ini adalah bahwa jika kita sudah terlebih dahulu menikmati kasih Allah, menikmati penyertaan-Nya di dalam hidup kita, merasakan banyak sekali pertolongan Tuhan di masa-masa sulit, maka bagikan dan ceritakanlah itu. Kesaksian iman pribadi dalam perjalanan bersama Kristus bukanlah hal yang harus disimpan sendiri. Dalam hal ini, kegiatan pelayanan mentoring menjadi jalan yang Tuhan buka untukku membagikan cerita Kasih itu kepada adik-adik mahasiswa.

Kedua, hal yang aku pelajari lainnya adalah bahwa aku sebagai mentor pun ikut bertumbuh. Meskipun pembinaan ini ditujukan untuk adik-adik mahasiswa semester akhir, namun Firman yang dibagikan sepanjang pembinaan ternyata kembali mengingatkanku akan esensi dari pekerjaan menurut sudut pandang Allah. Aku mendapati bahwa meskipun aku berharap terjadi pertumbuhan rohani di dalam adik-adik mentee, ternyata Tuhan juga turut bekerja memberi pertumbuhan untuk kita yang berperan sebagai mentor.

Ketiga, menjadi seorang mentor bukan berarti kita harus “paling tahu segalanya”. Cukup menjadi diri sendiri sesuai dengan karunia dan talenta yang Tuhan anugerahkan. Saat hati kita rindu untuk memuridkan, jalani dan kerjakan sambil terus minta Tuhan untuk menyertai langkah kita sebagai mentor.

Adakah adik-adik atau generasi muda di sekelilingmu yang ingin kamu bagikan dan ceritakan tentang kasih-Nya yang nyata? Mungkin menjadi mentor rohani bisa menjadi salah satu cara yang unik dan menarik untuk membuka jalur pemuridan, sekaligus persahabatan di kalangan saudara seiman.