Lima, Dua, Satu

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Bulan mengambang dengan diam. Sinarnya memancarkan kelembutan yang memukau. Malam terasa hening dan damai. Namun, suasana hatiku gundah gulana. Beberapa kejadian siang ini terlintas kembali dalam benakku dengan sangat jelas.

Aku baru saja selesai membereskan catatan kehadiran anak, ketika merasa perutku mulai lapar. “Eh, ada Susan,” kataku ketika melihat keluar jendela.

“Hai, Susan, yuk, makan siang. Aku yang traktir.”

“Sorry, Bren. Aku tidak bisa. Aku mau persiapan pelayanan buat minggu depan. Lain kali ya.”

“Oh…OK, selamat persiapan.” Aku melambaikan tangan dan mencoba untuk tersenyum.

Sepulang dari kantin gereja, aku bertemu Lia di tengah jalan. “Sudah lama nggak ngobrol dengan Lia, aku ingin tahu bagaimana kabarnya,” pikirku.

“Lia, kamu lagi sibuk, ya?”

“Oh, hai, Bren. Iya, aku mau latihan paduan suara. Mengapa?”

“Oh, tidak apa-apa. Hanya ingin ngobrol saja dengan kamu. Tetapi kamu sepertinya sibuk. Kita ngobrol lain kali ya.”

“Iya, sorry ya, Bren. Akhir-akhir ini memang lagi sibuk persiapan buat acara bulan Agustus nanti.”

Aku mengangguk dan melangkah dengan gontai. “Semua orang sepertinya sibuk pelayanan. Hanya aku yang tidak.”

Aku sedang berdiri di pintu gerbang gereja ketika melihat Yunita berdiri juga di sana.

“Hai, Yun.”

“Hai, Bren. Apa kabar?”

“Kabar baik. Kamu sedang apa?”

“Aku sedang siap-siap menunggu jemputan. Mau pergi pembesukan ke rumah sakit. Hari ini adalah jadwal kelompokku.”

“Oh…kalau begitu, selamat membesuk ya.”

Aku melambaikan tangan kepada Yunita yang segera naik mobil jemputannya.

Aku menghela nafas. Sungguh sulit bertemu dengan teman-temanku sekarang. Sepertinya semua orang sangat sibuk dengan pelayanan. Susan, misalnya, selain aktif menjadi worship leader ibadah Minggu, dia juga aktif di perpustakaan gereja, dan Persekutuan Doa. Lia pun demikian, seorang penyanyi andalan di gereja, dan Ketua Komisi Anak. Yunita terlibat aktif di pelayanan rumah sakit, pemimpin kelompok kecil, sekaligus pemimpin kelompok Pemahaman Alkitab.

Sebuah perasaan asing menyelip di hatiku. Aku merasa begitu kecil dan sendiri. Merasa diriku tidak berharga, dan tidak diakui oleh orang lain. Aku hanya melayani di satu bidang, yaitu sie pemerhati untuk komisi anak. Tugasku hanya mencatat kehadiran anak-anak setiap hari Minggu, menelepon mereka bila ada yang sakit, mengucapkan selamat ulang tahun, dan mendoakan mereka. Hanya itu. Pelayanan yang sudah kulakukan selama hampir 1 tahun ini. Apakah Tuhan itu adil? Mengapa Dia tidak memberikanku pelayanan yang lain juga? Mengapa aku hanya melayani di satu bidang saja? Mengapa aku tidak bisa seperti Susan, Lia atau Yunita?

Persekutuan Doa berjalan seperti biasa. Tetapi aku sulit sekali berkonsentrasi, aku bernyanyi dengan setengah hati, dan merasa tidak bersemangat ketika renungan dimulai. Pembicara itu mengajak kami membuka bagian Alkitab dari kitab Matius 25:14-30.

“Ah…itu lagi,” kataku dalam hati.

“Aku sudah tahu bagian Alkitab itu. Tentang talenta. Ada yang diberi lima, dua dan satu.”

Beberapa kalimat pembuka tidak terdengar, karena aku sibuk dengan pemikiranku. Namun tiba-tiba, ada yang menarik perhatianku.

“Jika kita membaca bagian ini, banyak orang berpikir Tuhan tidak adil ketika dia memberikan talenta yang berbeda-beda. Mengapa tidak sama? Mengapa harus berbeda?”

“Iya, tentu saja tidak adil. Bukankah yang adil itu harus sama?”jawabku dalam hati.

“Nah, justru di sanalah letak kesalahpahaman kita. Bila kita menganggap Tuhan tidak adil hanya karena talenta yang diberi tidak sama, maka kita telah salah memahami keadilan Tuhan. Keadilan Tuhan tidak sama dengan keadilan manusia. Bagi kita manusia, yang disebut adil adalah setiap orang memiliki bagian yang sama.”

Aku memajukan dudukku. Sekarang perhatianku kembali penuh. Pembicara itu seolah-olah sedang membaca pikiranku.

Dia kemudian mengeluarkan sekotak kue dan menunjukkannya kepada kami. “Misalnya jika saya ingin membagikan kue ini kepada kalian, saya harus membagikannya secara sama, bukan? Yang adil adalah kalian masing-masing mendapatkan satu potong kue. Dan akan menjadi tidak adil, jika salah seorang dari antara kalian mendapatkan dua potong kue. Hasilnya kalian akan marah, dan tentu saya tidak ingin kena marah.” Dia menyengir lucu.

Aku tersenyum kecil melihatnya.

“Tetapi jika kita berbicara keadilan Tuhan, yang berlaku tidak seperti itu. Talenta dalam perumpamaan ini adalah sesuatu yang dipercayakan tuan itu kepada hamba-hambanya. Besarnya memang tidak sama, tetapi apa yang dipercayakan itu sesuai dengan kemampuan masing-masing hamba. Jadi apakah tuan itu tidak adil? Tidak. Justru tuan itu sangat adil karena masing-masing diberikan sesuai dengan kemampuannya. Coba bayangkan bila hamba yang diberikan dua talenta itu diberikan lebih banyak dari kemampuannya, apa yang akan terjadi?”

Pembicara itu diam sejenak, menatap kami yang sedang memperhatikannya.

“Kemungkinan yang terjadi adalah hamba tersebut tidak akan dapat memberikan hasil yang maksimal karena kemampuannya hanya terbatas dua talenta. Dan lihatlah, ketika tuan itu memuji hamba-hambanya, dia tidak memuji jumlah yang mereka hasilkan. Tetapi yang dipuji justru kesetiaan para hamba tersebut menjalankan apa yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Bila kita setia pada apa yang dipercayakan pada kita, bukankah Tuhan pun akan menambahkan tanggung jawab yang lain?”

Aku mengulang dalam hati kalimat terakhir yang disampaikan pembicara itu, dan mencoba memikirkan kegelisahan hatiku selama beberapa hari ini.

“Ternyata yang diminta oleh Tuhan adalah kesetiaan untuk menjalankan pelayanan yang dipercayakan itu. Bukan berapa banyak pelayanan yang dilakukan.” Aku kembali teringat akan kesibukan pelayanan teman-temanku. Aku menetapkan hati untuk belajar setia pada pelayananku saat ini sama seperti mereka.

Langkah kakiku terasa ringan saat meninggalkan gereja. Mengucap syukur aku memiliki Tuhan yang adil, yang memberi sesuai dengan kemampuan setiap orang.

Baca Juga:

Cerpen: Menyenangkan Hati Orang Lain

Aku memang selalu suka membantu orang lain. Sampai kadang-kadang dalam beberapa kasus, aku merasa lelah sendiri. Aku jadi berpikir apa motivasiku menolong orang lain.

Cerpen: Menyenangkan Hati Orang Lain

Oleh Desy Dina Vianney, Medan

Aku dan Ica sedang asyik menikmati bakso kuah di kantin kampus ketika dua orang temanku datang menghampiri meja kami.

“Eh, Dian, makan di sini juga,” seru salah seorang dari mereka.

Aku menoleh dan tersenyum.

“Di, kamu sudah selesai print paper buat mata kuliah sore ini?” tanya temanku.

Aku mengangguk. “Iya, sudah.”

“Yah, sayang banget.”

“Memangnya kenapa?”

“Begini, Di. Kita berdua mau balik sebentar ke kos, mau ambil buku yang ketinggalan. Tapi, kita belum print paper, sepertinya tidak sempat kalau harus print dulu,” keluh temanku.

“Iya, Di. Kita pikir kamu belum print jadi bisa sekalian, mau nitip tadinya. Tetapi karena kamu sudah selesai, kita coba minta bantuan teman lain saja,” jawab teman di sebelahnya. Dan mereka pun siap-siap untuk beranjak pergi.

“Eh, nggak apa-apa. Biar aku saja yang print, aku juga gak ada kegiatan lain setelah ini.”

“Wah, serius, Di?” sahut mereka hampir bersamaan. Aku mengangguk. Mereka buru-buru meletakkan flash disk dan beberapa lembar uang di atas meja.

“Terima kasih banyak, Di. Kamu memang orang yang baik,” puji mereka sebelum beranjak ke pintu keluar kantin.

Aku memasukkan flash disk dan uang itu ke dalam tas lalu melanjutkan makan. Aku melirik Ica sekilas, tetapi dia tidak berkata apa-apa.

Ica adalah temanku sejak SMP. Kami bersekolah di tempat yang sama dan sekarang kuliah di kampus yang sama juga meski dengan jurusan yang berbeda. Awalnya aku ingin mengambil jurusan yang sama dengan Ica, karena kami memang punya minat yang sama. Tetapi tahun lalu ketika mengisi daftar pilihan jurusan, Bapak memintaku untuk memilih jurusan yang sekarang aku jalani ini. Alasan yang diberikan Bapak adalah jurusan ini memiliki prospek pekerjaan yang lebih luas di masa depan. Sebenarnya aku tidak terlalu menikmati belajar di jurusan ini, tetapi aku tidak ingin mengecewakan Bapak. Aku ingin menjadi anak yang menyenangkan hati orang tuaku.

Drrrt…drrrt…

Aku merogoh ponsel di dalam tas lalu berbicara selama beberapa menit.

“Siapa, Di?” tanya Ica.

“Teman kelompok. Dia minta tolong aku membuat materi presentasi buat besok, dia sedang ada urusan,” jawabku santai.

“Kamu mau?”

Aku mengangguk. “Aku tidak enak menolak. Dia ‘kan minta tolong. Aku juga yang bikin makalahnya, jadi seharusnya tidak begitu susah untuk membuat materi presentasinya.”

“Bukannya kamu ada jadwal pelayanan nanti malam?” Ica mengingatkanku.

“Oh, iya!” seruku menepuk jidat. Aku berpikir sejenak.

“Sepertinya aku akan lembur, nih,” kataku akhirnya.

Ica menghembuskan napas kesal. “Mau sampai kapan kamu berusaha menyenangkan hati semua orang, Di? Apalagi sepertinya hanya membebani diri kamu sendiri saja.”

Aku menanggapinya dengan meringis.

“Kita tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang, Di, karena manusia itu tidak akan pernah merasa puas. Dan juga kamu bukan penyedia jasa untuk menyenangkan hati orang lain, kan?” lanjutnya dengan pelan dan lembut, memandangku dengan penuh perhatian.

Aku terdiam.

Aku memang selalu suka membantu orang lain. Sampai kadang-kadang dalam beberapa kasus, aku merasa lelah sendiri. Aku jadi berpikir apa motivasiku menolong orang lain. Apakah aku melakukan semua itu karena aku memang ingin melakukannya, atau karena aku ingin punya citra yang baik di mata orang-orang sekitarku, supaya aku dapat diterima oleh mereka?

Ica sudah sering mengingatkanku akan hal ini tetapi baru sekarang kupikirkan dengan serius. Mungkinkah selama ini Tuhan berusaha mengingatkanku lewat Ica, tetapi aku sengaja mengabaikan-Nya?

Aku tersadar, adalah hal baik untuk menolong orang lain dan melakukan sesuatu yang menyenangkan mereka, tetapi bila hal itu kemudian membuatku mengejar penerimaan dari mereka, apakah Tuhan senang kalau aku melakukannya?

Aku pun perlu berhikmat dan belajar memeriksa motivasiku sebelum menolong orang lain.

Kita tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang, dan hal itu tidak salah. Bukankah hanya ada Satu Pribadi yang harus kita senangkan hati-Nya? (Kolose 3:23).

Baca Juga:

Doa: Sebuah Usaha Bergantung Pada Kebaikan Hati Bapa

Semakin sering aku melihat teman-temanku berdoa, maka semakin sering aku merasa ada yang salah dengan relasiku dengan Tuhan, khususnya dalam hal berdoa.

4 Langkah untuk Mendoakan Temanmu

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Ways to Pray God-Centered Prayers For Your Friends

Ketika berada dalam satu komunitas orang percaya, aku percaya tiada hal yang paling berkesan selain berdoa bersama. Tapi seringkali, ketika kita menjalani jadwal yang sibuk, kita mungkin tidak terpikir untuk mendoakan teman kita.

Di awal Januari lalu, aku ikut persekutuan bersama temanku. Kami menulis lagu dan mengakhirinya dengan berdoa. Namun, setelah persekutuan itu selesai aku malah merasa kecewa. Aku datang terlambat, dan kurasa aku jadi berdoa dengan terburu-buru. Padahal, seharusnya dalam doa itu aku bisa menaikkan doa yang berfokus pada Tuhan—menyoroti apa yang Tuhan ingin lakukan melalui temanku itu. Berkaca dari pengalaman itu dan pengalaman doa lainnya, aku berpikir bagaimana caranya berdoa dengan lebih efektif, doa yang bersifat Allah-sentris (berpusat pada Allah) bagi teman-temanku.

Beberapa hari kemudian, di reading-plan aku menemukan ayat dari 2 Timotius. Paulus menuliskan doa dan penguatan untuk Timotius dari ayat 3 sampai 7 yang isinya berfokus pada Tuhan:

Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

Dalam doanya, Paulus pertama-tama mengucap syukur pada Allah (ayat 3), mengingat pergumulan Timotius (ayat 4), mendoakan dengan spesifik atas situasi yang Timotius sedang hadapi (ayat 6), dan mengingatkan Timotius akan janji dan pemeliharaan Allah. Kata-kata Paulus terasa meyakinkan sekaligus juga hangat.

Berdasarkan bacaan itu, aku menemukan empat cara kita bisa mendoakan teman kita dengan lebih baik—meletakkan fokus doa kita kepada Allah, bukan pada kata-kata dan hikmat kita sendiri.

1. Ambil waktu untuk memahami pokok doa mereka

Paulus bisa berdoa secara spesifik buat Timotius karena pertemanan dan komunikasi yang mereka jalin, yang terus berlanjut meskipun Paulus mendekam di penjara. Hal ini menunjukkan ketika kita membagikan apa yang jadi pokok doa kita, itu dapat menolong orang lain untuk mendoakan kita dengan lebih spesifik.

Memang lebih mudah untuk berdoa secara ‘default’, alias doa-doa rutin yang tanpa sadar seperti sudah jadi template bagi kita. Semisal, doa sebelum makan. Namun, doa seperti itu bisa jadi tidak relevan untuk mendoakan kebutuhan teman kita yang spesifik. Adalah baik jika memungkinkan untuk kita mendengar lebih dulu cerita dari teman kita terkait apa yang jadi pokok doanya. Ini beberapa pertanyaan untuk memulai:

  • Apa yang bisa aku doakan buatmu?
  • Apa yang kamu pikirkan atau khawatirkan belakangan ini? Dan bagaimana caramu menyerahkan semua ini pada Tuhan?

Setelah mendapat jawaban temanku, aku akan menuliskannya entah di kertas atau di HP, sehingga kami punya catatan tentang pokok doa kami. Kelak ketika doa-doa itu terjawab, dokumentasi ini menolong kita untuk melihat kembali pertolongan Allah dan tentunya membuat kita bersyukur.

2. Akuilah Tuhan dan mintalah hikmat-Nya

Paulus membuka doanya untuk Timotius dengan mengucap syukur. Betapa menakjubkannya Tuhan kita yang dalam segala kebesaran-Nya menerima setiap doa-doa kita melalui Yesus (Ibrani 4:14-15), dan Dia pun selalu menyediakan anugerah dan belas kasih bagi kita (4:16).

Inilah beberapa doa sederhana yang bisa menolongmu untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat doamu:

  • “Tuhan, berbicaralah melalui aku. Apa yang ingin Engkau katakan untuk temanku melalui aku?” Memberi jeda sejenak setelah berdoa menolong kita untuk berdoa secara dengan lebih luwes.
  • “Tuhan, kiranya apa yang jadi kerinduan hati-Mu untuk temanku juga dapat kurasakan.”
  • “Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengasihi dan menyelamatkan kami. Terima kasih Engkau selalu mendengarkan kami dan tahu apa yang hendak kami ucapkan. Karena kasih-Mu, Engkau pun mengerti apa yang jadi pokok doa kami. Kami percaya di dalam kuasa-Mu, Engkau akan menjawab doa kami seturut hikmat dan waktu-Mu.”

Ketika aku menyerahkan doa-doaku pada Tuhan, Dia menolongku juga untuk berdoa sesuai kehendak-Nya (Roma 8:27).

3. Carilah firman Tuhan

Ketika Paulus berdoa agar Timotius mengobarkan kasih karunia Allah, itu mengingatkanku akan apa yang Alkitab katakan tentang Roh Kudus yang digambarkan seperti api (Matius 3:11). Mungkin Paulus sedang mengucapkan kembali firman Tuhan dalam doanya.

  • Kita bisa membaca Alkitab lebih dulu sebelum berdoa.
    Menuliskan atau menemukan ayat-ayat rujukan dari Alkitab akan lebih menolong kita.

    Inilah beberapa ayat yang sering kugunakan:

    Efesus 6 untuk perlindungan spiritual
    Filipi 4 untuk pikiran yang saleh
    Roma 8 untuk melawan rasa bersalah, malu, dan perasaan tidak berharga
    Mazmur juga menyediakan contoh-contoh doa yang baik. Alkitab akan selalu mengingatkan kita akan kebaikan Tuhan dan bagaimana Dia menjagai iman kita. Kita dapat mendeklarasikan janji-janji Tuhan dengan yakin atas teman kita.

  • Bergabunglah atau mulailah komunitas doa.
    Menghadiri persekutuan doa di gereja atau mengajak sesama teman untuk saling mendoakan adalah awal yang baik. Beberapa orang menganggap doa itu ibarat otot yang akan semakin kuat ketika kita sering melatihnya.


4. Dengar-dengaranlah akan bisikan Tuhan dan bersyukurlah atas doa-doa yang dijawab

Terakhir, jika ada sesuatu yang Tuhan letakkan dalam hatimu untuk kamu sampaikan pada temanmu, lakukanlah. Temanmu akan merasa tertolong untuk melangkah di jalan yang tepat. Kamu bisa mendorong mereka untuk menemukan pertolongan dari orang yang profesional, merekomendasikan bacaan atau konten lainnya yang berguna buat dia, atau sesederhana mengingatkan mereka akan janji Tuhan.

Kadang ketika kita mendoakan teman kita, Tuhan menggunakan diri kita sendiri sebagai bagian dari jawaban-Nya. Jadi, janganlah kita mengabaikan bisikan Tuhan dan tetaplah mendoakan teman kita. Tanyakan apakah mereka butuh untuk ditolong lebih lanjut dan seberapa sering, karena masing-masing kita punya cara sendiri-sendiri untuk menerima kasih dan dukungan dari saudara seiman.

Terakhir, ingatlah untuk berbagi sukacita atas tiap doa yang dijawab. Lihatlah kembali catatan doamu dan ingatlah bagaimana Tuhan bekerja. Bersukacita dan mengucap syukur adalah hal yang berkenan bagi Dia—seperti kisah seorang kusta yang disembuhkan oleh Tuhan (Lukas 17:7-18).

Kembali ke malam sepulang dari persekutuan, aku bersyukur karena saat di perjalanan pulang aku teringat untuk berdoa, “Tuhan, kiranya apa yang jadi kerinduan-Mu buat temanku itu jadi kerinduanku juga.” Roh Kudus seolah memberiku inspirasi kata-kata di pikiranku, lalu kukirim chat kepada temanku itu tentang apa yang kurasa Tuhan ingin katakan padanya, dan dia berkata kalau doa yang kuucapkan itu pas dengan keadaan yang memang sedang dia hadapi. Setelah itu, kurasa kedamaian memenuhi hatiku.

Doa adalah disiplin rohani sepanjang waktu. Sangat penting untuk berdoa dalam komunitas, agar kita bisa saling mendukung satu sama lain sepanjang waktu. Dalam perjalananku sendiri, aku mendapati sungguh berharga apabila kita bisa saling mendoakan, menaikkan apa yang jadi kebutuhan kita bersama-sama kepada Allah yang mendengar dan menjawab kita.

Menjadikan Allah sebagai pusat dari doa-doa kita sebagai resolusi kita di sisa tahun ini, mengapa tidak? Saat kita makin sering mengizinkan diri dipakai Tuhan untuk menyampaikan isi hati-Nya bagi orang lain, kita akan berdoa lebih giat daripada sebelumnya, dan lihatlah iman kita bertumbuh melampaui ekspektasi kita.

Baca Juga:

Jurnal Doa

Kita tahu berdoa itu penting, tetapi ada kalanya kita merasa jenuh untuk berdoa. Kita ingin berdoa, tapi kita bosan melakukannya. Salah satu sebabnya mungkin karena cara doa kita yang tidak pernah berubah.

Belajar Mengasihi Orang Asing: Aku vs Ketakutanku

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Mengemban tugas pelayanan sebagai pemimpin kelompok kecil (PKK) semasa kuliah dulu merupakan hal tersulit bagiku. Bahkan aku sempat ‘bersumpah’ pada rekan-rekan sepelayananku bahwa: “Aku tuh enggak bisa gampang deket sama orang yang baru dikenal. Susah, lho. Takut banget”. Itulah mengapa aku cukup kesulitan ketika mendapat bagian melayani sebagai PKK bagi adik-adik mahasiswa baru di kampus sekitar 8 tahun lalu. Mengasihi orang asing atau orang yang baru kukenal menjadi hal yang tak pernah kuinginkan.

Keenggananku itu perlahan terkikis, ketika akhirnya Tuhan memberiku berbagai proses yang mengarahkanku untuk mengasihi diri sendiri.

Sejak aku belajar dan menyadari bahwa aku sangat dikasihi Tuhan meskipun mengalami penolakan, sejak aku menyadari bahwa menikmati relasi pribadi dengan Tuhan ternyata banyak sekali mengubah hidupku, pelan-pelan aku berani membuka diriku terhadap hal-hal baru dan juga orang-orang baru. Awalnya memang pikiranku dikuasai oleh ketakutan dan kekhawatiran. Terlebih lagi aku memiliki isu ketidakpercayaan terhadap orang baru. Namun, ‘belajar’ menjadi motivasi utamaku ketika mulai menjalin relasi bersama mereka. Aku berkata pada diriku sendiri, “Mau sampai kapan kamu menutup diri terus, Meista?” Dan ketika aku memahami, menyadari, serta mengalami betapa besarnya kasih Tuhan dalam hidupku, keberanian untuk membuka hati dan kepercayaan diri pun muncul.

Belajar Mengasihi Orang Asing: Menerima Pelayanan Sebagai Mentor

Tahun 2020 aku mendapat tawaran sebagai mentor untuk sebuah pembinaan yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga pelayanan. Pembinaan ini dilakukan selama 6 bulan dengan sistem daring. Peranku sebagai mentor adalah membimbing adik-adik mahasiswa semester akhir dalam menggumulkan panggilan hidup mereka setelah lulus kuliah nanti. Sebagai orang yang pernah menikmati pemuridan semasa kuliah, juga sebagai orang yang tahu betul bagaimana sulitnya bertumbuh seorang diri tanpa komunitas kecil, pelayanan tersebut langsung aku terima.

Aku sempat merasa takut. Aku dihantui kecemasan dan keraguan terhadap diriku sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tiba-tiba muncul dalam pikiranku: apa motivasimu terima pelayanan ini? Apa kamu sedang merasa dibutuhkan?

Aku pun lebih tekun berdoa menjelang hari-H pelayanan. Aku bertanya dalam doaku: Tuhan, apakah hal yang kulakukan ini benar? Jika Engkau tidak berkenan aku mengambil pelayanan ini, lebih baik aku mundur saja. Tuhan lantas tidak menjawab doaku secara langsung. Namun, dalam hatiku aku merasa yakin bahwa alasanku menerima pelayanan ini hanyalah karena aku telah dan sedang menikmati pimpinan Tuhan dalam proses menemukan serta menjalani panggilan hidup. Prosesnya berlangsung hingga saat ini, dan aku tidak ragu untuk membagikan bagaimana Tuhan menuntun dan memimpin hidupku melalui banyak hal. Aku juga ingin mengimani dan membuktikan apa yang tertulis dalam kitab Ulangan 31:6 :

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”

Inilah yang menjadi alasan kuat bagiku untuk tidak mundur menggembalakan adik-adik yang Tuhan berikan menjadi bagianku sepanjang pembinaan berlangsung.

Ternyata, ada banyak hal yang menjadi berkat buat diriku sendiri ketika aku melayani sebagai mentor. Pertama, tentu aku mendapat teman-teman baru. Baik itu adik-adik dalam kelompok mentoring, hingga teman-teman panitia. Kedua, materi dari pembinaan itu sendiri. Meskipun statusku adalah mentor, namun aku kembali diingatkan esensi tentang menggumulkan panggilan hidup. Aku kembali belajar bahwa panggilan hidup tidak terbatas pada apa jabatan, jenis pekerjaan, atau di mana aku bekerja. Panggilan hidup dalam Tuhan berbicara tentang berjalan dan berelasi bersama-Nya dalam kehidupan ini. Jadi, segala sesuatu benar-benar harus dipusatkan pada Kristus, bukan mengedepankan apa yang kita mau—meskipun tidak ada salahnya juga untuk menyampaikan apa yang kita inginkan pada-Nya di dalam doa. Ketiga, aku juga makin dimampukan untuk melihat lebih tajam tentang kepribadianku, talenta, serta minatku. Hal ini tentu menolongku juga untuk makin serius melakukan pekerjaan dan pelayanan yang tengah dipercayakan padaku.

Dari beberapa pelajaran dan pengalaman yang dinikmati, aku bersyukur karena tidak mengikuti rasa takutku dalam menjalin relasi dengan adik-adik mentoring yang ‘statusnya’ adalah orang-orang asing. Kasih dari Tuhan yang lembut mengubah ketakutan itu menjadi berkat yang tak pernah aku sesali hingga saat ini.

Belajar Mengasihi Orang Asing: Menjadi Pendengar yang Baik untuk Teman Baru

Suatu kali aku tengah menceritakan kisah kegagalanku pada salah satu teman dekat. Kemudian ia menyarankan aku mendengarkan siaran podcast yang ia buat bersama temannya. Podcast yang mereka produksi ternyata berbicara tentang kegagalan juga. Singkat cerita, aku sangat terberkati melalui konten tersebut, dan aku langsung mempublikasikannya di akun Instagram Story-ku.

Tak berapa lama, tiba-tiba aku dikontak oleh temannya temanku yang berada dalam podcast itu melalui pesan Instagram (Direct Message/DM). Temannya temanku. Aku tidak tahu dia siapa, aku tidak mengenalnya, lalu tiba-tiba dia merespon postingan yang aku buat. Untuk aku yang cukup tertutup terhadap orang asing, menjadi tantangan tersendiri bagiku ketika hendak memberikan respon balik. Namun salah satu komitmen pribadiku di tahun 2021 ini adalah belajar untuk lebih membuka diri, termasuk dalam hal relasi. Aku sempat bertanya pada diri sendiri, “Apa sih yang salah dengan punya teman baru di luar lingkaran terdekat, Meista? Enggak ada kan?” Akhirnya dengan mengingat hal ini, aku memberanikan diri untuk membalas pesannya.

Obrolan demi obrolan berlangsung, hingga aku mengetahui bahwa ia memiliki isu pada kesehatan mental (ia menceritakannya langsung kepadaku). Topik mengenai kesehatan mental ini tentu menjadi hal menarik bagiku karena aku juga pernah merasakan situasi yang sama meski dengan detail yang berbeda. Jadilah aku juga membuka diri untuk bercerita tentang beberapa pergumulan hidupku padanya dengan motivasi siapa tahu ceritaku bisa menguatkannya juga.

Hari demi hari berlalu dan kami jadi cukup sering mengobrol melalui aplikasi chat. Hingga tiba pada masa di mana aku mulai merasa khawatir, cemas, dan takut jika relasi kami makin dekat. Jika teman baruku ini perempuan, mungkin aku tidak masalah. Namun dia adalah laki-laki. Kecenderungan perempuan, atau lelaki pun, pada umumnya jika cukup sering berkomunikasi dengan teman lawan jenis adalah mudah dibawa perasaan (baper)—meski memang kondisi ini tidak bisa digeneralisasikan. Aku sempat terpikir untuk tidak lagi membalas chat-nya, tidak ingin lagi meresponi curhatannya, tidak ingin lagi mengetahui cerita-cerita hidupnya meski ia terus mengontakku. Namun, saat itu aku sadar aku memang diperhadapkan pada 2 pilihan: tetap merespons dengan sewajarnya, atau diamkan saja.

Lalu aku merenung dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada diriku sendiri: apa yang membuatku khawatir, cemas, dan takut ketika berkomunikasi dengannya? Apakah aku terganggu dengan pesan-pesan singkatnya? Ketika merenungkan hal ini, aku teringat salah satu bagian Firman yang berkata:

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18)

Ditambah lagi dengan Firman yang kudapat dari saat teduh pada tanggal 15 April 2021 tentang “Berbagi Beban”. Imamat 19:34 sangat jelas menyatakan, “…kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.” Lalu ada bagian yang menguatkanku hingga aku memutuskan untuk tidak berfokus pada ketakutanku sendiri:

“Terkadang beban yang orang lain tanggung membuat mereka merasa seperti orang asing—sendirian dan tidak dimengerti—bahkan di antara orang-orang sebayanya. …mungkin kita belum pernah mengalami kesulitan yang orang lain alami. Meski demikian, kita dapat memperlakukan siapa pun yang dihadirkan Allah dalam hidup kita dengan penuh hormat dan pengertian, seperti yang kita sendiri inginkan. Kita menghormati Allah ketika kita melakukannya.”

Tanpa ingin melakukan ‘cocoklogi’, aku yakin pilihan ada di tanganku untuk tetap berteman dengannya atau hentikan saja karena akunya ketakutan. Akhirnya aku pelan-pelan menyadari bahwa mungkin bagianku hanya menjadi teman yang mendengar saja. Belajar menjadi pendengar yang baik di kala dia bercerita. Aku tidak perlu takut dalam mengasihi teman sendiri selama tidak ada ekspektasi yang dipautkan padanya. Jadi, saat ini aku belajar untuk menikmati relasi pertemanan kami yang masih berlangsung hingga sekarang dan tetap mengasihinya sebagai teman tanpa harus merasa takut baper.

* * *

Kehadiran orang asing dalam konteks orang yang sengaja dilayani di pelayanan tertentu atau bahkan dalam ranah pekerjaan profesional sekalipun, atau orang asing yang hadir secara tak disengaja (random) ke dalam hidup kita pastinya bukanlah suatu kebetulan. Namun bukan bagian kita untuk mengetahui, “Apa sih maksud Tuhan dalam hal ini?”.

Kadang, tidak semua hal Tuhan beritahu kepada kita maksud dan tujuan dari segala sesuatu yang terjadi. Namun satu hal yang pasti: pimpinan dan penyertaan-Nya selalu ada. Kasih-Nya selalu nyata, dan kasih inilah yang sepatutnya bisa kita bagikan kepada orang-orang asing yang datang ke hidup kita jika kita sudah mengalami sendiri bagaimana indahnya kasih Allah itu.

Baca Juga:

Berhadapan dengan Rekan Kerja yang Menyebalkan

Ketika bekerja, kita pasti akan berurusan dengan orang lain. Senyaman apapun lingkungan kerja kita, sebesar apapun nominal gaji kita, semudah apapun jobdesc kita, kita tidak bisa menghindar dari urusan relasi ini.

Berhadapan dengan Rekan Kerja yang Menyebalkan

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Dalam kehidupan pekerjaan profesional, tantangan tentu menjadi hal yang tidak mungkin kita hindari. Pergumulan terkait kecukupan gaji, nyaman-tidaknya lingkungan bekerja, tinggi-rendahnya tingkat stres dari pekerjaan yang kita lakukan, hingga apakah pekerjaan tersebut membawa pertumbuhan dan perkembangan pada diri kita tentu selalu ada. Dari beberapa tempat kerja yang memberiku banyak sekali pengalaman dan pelajaran, ada satu hal lainnya juga yang pasti akan kita temui ketika bekerja di manapun: berhadapan dengan karakter orang lain.

Ketika bekerja, kita pasti akan berurusan dengan orang lain. Entah banyak, atau sedikit. Entah dengan usia yang lebih tua, atau lebih muda. Entah dengan perempuan, atau laki-laki. Senyaman apapun lingkungan kerja kita, sebesar apapun nominal gaji kita, semudah apapun jobdesc kita, kita tidak bisa menghindar dari urusan relasi ini.

Seperti relasi antar manusia pada umumnya (dengan keluarga, teman dekat, dan lain-lain), relasi dengan rekan kerja pun tentu akan mengalami dinamika. Ada masa di mana kita kompak dengan mereka ketika mengerjakan suatu pekerjaan, namun ada juga masa di mana kita harus berhadapan dengan karakter atau tingkah mereka yang menyebalkan dan tidak kita sukai. Meskipun indikator ‘menyebalkan’ dan ‘tidak suka’ antara satu orang dengan yang lain akan berbeda, namun fase ini tentu tidak terhindarkan. Ini hal yang wajar, karena pada dasarnya Allah menciptakan manusia unik dan berbeda satu sama lain (Efesus 4:7). Juga tidak boleh dilupakan bahwa kita semua telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).

Lalu apa yang harus kita lakukan jika tengah berhadapan dengan rekan kerja yang menyebalkan, atau bahkan sampai muncul konflik yang tak terhindarkan?

1. Akui emosi hatimu pertama-tama pada Tuhan

Aku pernah memiliki rekan kerja yang tidak mau berbicara padaku gara-gara kami berdebat soal konten media sosial apa yang harus diprioritaskan untuk publikasi hari itu. Aku sedih karena dia mendiamkanku selama beberapa hari dan itu sangat mengganggu jalannya kinerja harian kami (kebetulan pekerjaan harianku selalu berkorelasi dengannya). Mudah bagiku untuk terus larut dalam emosi, berpikiran negatif, hingga berpengaruh pada pekerjaan. Namun, masih ada pilihan untuk berdoa dan mengakui apa yang kurasakan pada Tuhan. Awalnya aku gengsi, ingin berada di posisi yang paling benar, tapi lama-lama Tuhan tolong aku untuk melihat situasi dengan hati dan pikiran yang lebih jernih. Dengan keberanian yang Tuhan anugerahkan, aku akhirnya meminta maaf duluan padanya meskipun dia tetap tidak membalas pesanku. Sedih dan sedikit kecewa, tapi setidaknya itu hal terbaik yang bisa kulakukan.

Mengakui keadaan hati kita pada Tuhan mungkin tidak menolong konflik mereda seketika, tetapi itu akan memberikan damai sejahtera pada hati kita. Ketika hati kita lebih damai, kita lebih mampu untuk melihat lebih jelas dan luas konflik yang sedang kita alami.

2. Bicarakan pada pimpinan atau atasan jika sudah mengganggu profesionalitas kerja

Masih lanjutan dari cerita di atas, karena dia masih mendiamkanku, sedangkan urusan publikasi masih harus terus berlangsung setiap harinya, akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengan atasan kami. Menjadi suatu berkat yang harus disyukuri ketika memiliki pimpinan yang mau peduli dengan masalah yang dialami anak buahnya. Singkat cerita, ia mengajak ngobrol rekan yang mendiamkanku itu, lalu tak berapa lama kemudian ia akhirnya membuka komunikasi denganku dan relasi kami kembali baik seperti semula.

Namun bagaimana jika atasan kita malah tidak mau ikut campur dengan konflik antar rekan kerja yang sedang terjadi?

Tetap tenangkan diri dan pikiran, lalu coba sampaikan pada atasan bahwa kita butuh pertolongan atau masukan atas pekerjaan yang terhambat akibat konflik tersebut. Usahakan kita tidak perlu fokus pada perilaku rekan kerja yang membuat kita marah, kesal hingga berkonflik, namun fokus pada mencari solusi dari masalah pekerjaan yang sedang dilakukan.

3. Belajar rendah hati untuk terus perbaiki diri

Meski rasanya kesal dan seringkali tidak mau berada di posisi salah, namun kita juga tetap rendah hati untuk terus belajar dalam memperbaiki diri sendiri. Seperti yang ditulis oleh Suzanne Stabile dalam bukunya yang berjudul The Path Between Us: “Sangatlah bagus jika Anda menghabiskan energi untuk mengobservasi dan memperbaiki diri sendiri ketimbang mengobservasi serta memperbaiki orang lain.”

Kesal dengan tingkah laku si rekan kerja tentu bukan berarti kita menjadi pihak yang paling berdosa. Bukan juga artinya dia yang paling berdosa. Namun, Firman dalam Efesus 4:2 mengatakan perintah yang jelas: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar.” Sulit? Tentu. Keberdosaan kita membuat kita ingin menjadi pihak yang selalu benar dan tidak ingin salah. Pada akhirnya, meminta tolong kerendahan hati untuk mau belajar pada Allah adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan.

4. Komunikasikan dengan baik ketidaksukaan kita dengan cara yang tidak menghakimi

Ada kalanya kita kesal dengan rekan kerja kita hanya karena tingkahnya yang memang tidak kita sukai, misalkan: si dia terlalu banyak bicara, si dia sok tahu, si dia memiliki kebiasaan menghentak-hentakkan kaki sehingga ruangan kantor jadi berisik, si dia tidak sabaran, si dia pemalas, si dia suka datang terlambat, dan lain-lain. Jika hal itu tidak mengganggu pekerjaan kita, tentu harusnya tidak ada masalah. Namun, jika sudah mengganggu, membuka komunikasi secara baik-baik menjadi cara yang layak dicoba.

Sewaktu bekerja di perusahaan media, salah satu rekanku sering sekali berbicara dengan nada menuntut dan cukup tinggi kepadaku. Konteksnya seperti ini: alur kerja kami memang dimulai dari aku dulu yang membuat konsep, kemudian dia yang membuatkan desain. Aku selalu berupaya untuk memberikan konsep tepat waktu, namun dalam beberapa kesempatan ia tetap marah-marah padaku. Emosinya membuatku merasa di posisi serba salah. Aku jadi kesal. Hingga pada suatu hari aku mencoba iseng mengungkapkan rasa kesal itu. Dimulai dengan berdoa singkat dalam hati meminta ketenangan, aku bertanya, “Woy, kamu kenapa sih? Lagi dikejar kereta api? Ngomong sama aku kok ngegas mulu gitu lho.” Lalu dia menjawab, “Hah? Aduh aku emang ngegas ya? Maaf, maaf.” Responnya dia ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan. Dia bahkan meminta maaf dan setelah itu menceritakan bahwa ada masalah yang tengah mengganggunya sehingga di saat itu ia sebenarnya tidak sedang berkonsentrasi bekerja.

Singkat cerita, hubungan kami malah jadi semakin dekat, dan ketika dia mulai berbicara dengan nada yang sama, aku tidak masukkan ke dalam perasaan lagi, selama memang pekerjaan kami sudah pada alur dan waktu yang tepat.

Jadi, belum tentu tingkah menyebalkan seseorang selalu tanpa alasan. Kadang mungkin saja ada permasalahan atau beban berat yang sedang mereka pikul namun enggan membicarakannya pada siapapun, sehingga membuat tingkahnya jadi menyebalkan untuk orang sekitar. Di sini, kita bisa meminta hikmat pada Tuhan untuk menjadi pendengar yang baik, atau bahkan kita bisa membantu dan menolongnya sesuai kapasitas yang Tuhan anugerahkan untuk kita.

5. Hindari membicarakan kelemahan atau keburukannya kepada orang lain

Aku menuliskan ini bukan berarti aku berhasil menghindarinya. Tidak. Membicarakan keanehan atau kelemahan orang lain yang tidak kita senangi rasanya menjadi makanan sehari-hari dan kita sadar-tidak sadar senang melakukannya. Aku pribadi mengakui bahwa masih sangat sulit untuk mengekang lidah dan sulit untuk menjaga hati agar tidak bergunjing, apalagi jika itu menyangkut orang yang menyebalkan bagiku.

Sayangnya, Tuhan tidak menghendaki demikian. Yakobus 1:26 secara jelas menyampaikan: “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” Ketika ‘terjebak’ pada situasi bergosip yang sungguh menggoda, kita bisa minta tolong pada Allah dalam doa untuk menahan motivasi hati kita yang ingin ikut-ikutan membicarakannya. Aku sendiri beberapa kali lebih memilih diam atau bermain ponsel ketika topik tentang si orang-yang-menyebalkan mulai muncul dalam percakapanku bersama rekan-rekan kerjaku yang lain. Ada kalanya aku juga jatuh dan ikut tergoda membicarakannya. Minta tolong pada Allah menjadi cara terbaik yang bisa kita lakukan.

* * *

Beberapa pengalaman bekerja di ranah profesional sebelumnya mengajariku bahwa meskipun kita bisa memilih perusahaan, ladang, gaji, hingga jenis pekerjaan dan jabatan yang kita mau, kita tidak bisa memilih pemimpin, tim, serta rekan kerja yang akan bekerja bersama kita. Aku belajar bahwa jika pun aku memperoleh semua yang aku mau dalam pekerjaan tersebut, aku tidak bisa mengelak dari dinamika relasi yang terjadi antara aku dan rekan sekerjaku. Talenta yang kumiliki untuk berkontribusi dalam pekerjaan tersebut ternyata satu paket dengan bayar harga dan penderitaan di dalamnya, termasuk juga ketika menghadapi konflik dan masalah dengan sesama.

Pertanyaannya: apakah kita mau untuk selalu mengandalkan kekuatan Tuhan dalam pekerjaan hari ke hari, atau lebih memilih untuk mengandalkan kekuatan sendiri?

Baca Juga:

7 Langkah Berdamai Saat Berkonflik dengan Teman Dekat

Berteman lama dan sangat dekat tidak jadi jaminan kalau pertemanan itu akan bebas dari konflik. Lalu, bagaimana caranya kita berekonsiliasi kala konflik terjadi dengan kawan dekat?

7 Langkah Berdamai Saat Berkonflik dengan Teman Dekat

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Dulu aku sempat berpikir bahwa relasi pertemanan yang sudah terjalin lama dan sangat dekat tidak akan pernah bersentuhan dengan konflik atau perseteruan. Aku pikir karena kita sudah sama-sama saling mengenal, saling tahu kelemahan dan kelebihan, harusnya relasi kami baik-baik saja.

Ternyata aku salah.

Tahun 2020 merupakan tahun pembelajaran besar buatku akan hal ini. Aku mengalami konflik dan gesekan karakter dengan teman-temanku sendiri yang berada dalam lingkaran pertemanan kelompok tumbuh bersama (KTB). Hal-hal yang sempat kurasakan waktu itu adalah mereka sudah tidak peduli denganku, berbeda dengan masa-masa kuliah di mana kami benar-benar saling memperhatikan satu sama lain. Nyatanya, kehidupan di dunia alumni merubah semuanya. Aku yang saat itu tengah kesepian merasa ‘tidak aman’ berada bersama-sama dengan mereka. Obrolan di grup chat kami pun terasa hambar dan tidak sesuai ekspektasiku. Belum lagi ditambah dengan momen kesalahpahaman yang terjadi. Niatnya aku hanya peduli pada salah satu temanku, ternyata dia merespon aku berbeda. Tersinggung dan merasa direndahkan, katanya. Aku pun ikut tersinggung karena merasa dihakimi. Akhirnya dengan emosi yang campur aduk antara sedih, kesal, dan kecewa, aku meninggalkan grup chat kami dan memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengan mereka.

Jika aku menyelesaikan cerita sampai sini, mungkin rasanya sedih sekali, bukan? Memutuskan relasi dengan teman-teman dekat tentu tidak menjadi mimpi dan anganku. Singkat cerita, saat ini aku sudah kembali berteman baik dengan mereka, kembali masuk grup chat—setelah dua kali kutinggalkan, dan aku pribadi mendapat banyak sekali pelajaran berharga dari konflik yang kami alami. Nah, izinkan aku untuk membagikan hal-hal apa saja yang kita perlu lakukan ketika sedang terlibat konflik, khususnya dengan mereka yang sudah sangat dekat dengan kita:

1. Pahami dan kenali diri sendiri dengan baik

Orang lain, termasuk teman-teman dekat kita, mungkin tidak sepenuhnya mengenal kita. Untuk itu, kita sendiri yang terlebih dahulu harus mengenal diri sendiri. Lihat bagaimana respons kita ketika menghadapi konflik, bagaimana cara kita menyelesaikannya, apakah kita termasuk orang yang lebih baik kabur atau cari aman alih-alih menghadapi konflik tersebut, dan sebagainya. Kita bisa juga melakukan tes kepribadian seperti MBTI, Enneagram, atau tes kepribadian lain yang sejenis. Kita juga bisa mencari tahu apa bentuk bahasa kasih yang dimiliki diri sendiri dan juga teman-teman kita. Mengetahui bahasa kasih ini dapat menolong untuk memahami bagaimana bentuk kasih yang perlu disampaikan secara nyata melalui tindakan kita.

2. Terus belajar bahwa konflik dalam relasi pertemanan itu adalah hal yang wajar

Konflik yang aku sebut di sini mengarah pada konflik yang sehat; konflik yang membawa pertumbuhan baik bagi diriku sendiri, maupun bagi relasi kami. Menurut situs christiantoday.com, relasi pertemanan akan mengalami ujian tersendiri. Ujian tersebut dapat membawa kita pada 3 pelajaran penting: pengampunan, kerendahan hati, dan pertumbuhan.

Dalam pertemanan, biasanya kita menjadi dekat karena menemukan persamaan-persamaan. Entah itu karena persamaan hobi, selera musik, atau masalah yang sedang dihadapi. Namun, sekadar menemukan persamaan saja tidak cukup. Seiring berjalannya waktu, pertemanan akan menunjukkan perbedaan-perbedaan, dan di sinilah biasanya konflik terjadi. Pertemanan yang baik bukanlah pertemanan yang bebas konflik, karena tentunya perbedaan-perbedaan bisa menimbulkan gesekan, tetapi pertemanan yang baik dapat terjadi ketika masing-masing pihak bersedia untuk memahami perbedaan.

3. Lebih baik jujur namun menyakitkan, daripada ‘cari aman’ tapi tidak menjadi diri sendiri

Hal yang membuat kita takut untuk jujur dan sulit menjadi diri sendiri adalah: rasa malu (shame). Curt Thompson dalam bukunya yang berjudul “The Soul of Shame” mengatakan bahwa: “Kita hidup dalam sebuah budaya di mana kita takut menunjukkan siapa kita karena takut dipermalukan karena menjadi diri sendiri.” Pilihannya jatuh di tangan kita: menjadi jujur demi kesehatan emosi dan relasi, atau tidak menjadi diri sendiri.

Hal yang kuakui secara jujur pada mereka waktu itu adalah aku merasa tidak ditanggapi ketika sedang menceritakan masalahku. Di saat aku butuh didengar, mereka malah meresponi ceritaku dengan masalah pribadi mereka juga. Mungkin ini sebenarnya tidak masalah, tapi yang kurasakan saat itu tentu kecewa. Akhirnya aku tinggalkan grup, dan sempat menuliskan sekelumit perasaanku dalam tulisan blog—yang kemudian tulisan itu kukirimkan ke mereka satu-satu. Aku tahu ini sangat berisiko, namun saat itu aku tetap terbuka jika mereka ingin menegur atau memberikan respons lainnya. Seperti ada tertulis: “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi” (Amsal 27:5). Jadi aku memilih untuk tetap jujur meskipun dengan risiko, daripada menyembunyikan apa yang kurasakan dan tenggelam dalam situasi relasi yang kurang sehat.

4. Ambil waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu supaya tidak dikuasai emosi

Emosi marah, kesal, dan kecewa bisa berdampak pada keputusan-keputusan yang kita ambil. Itulah mengapa pilihan untuk menyudahi pertemanan sempat terlintas di pikiranku. Alasannya karena aku gagal menjadi teman yang baik, karena mereka tidak mengerti diriku, dan alasan-alasan lainnya yang dikendalikan oleh emosi. Aku tahu sangat sulit untuk mengaplikasikan Firman yang tertulis dalam Efesus 4:6. Namun ternyata membuat hati dan pikiran tenang adalah cara terbaik yang bisa kita lakukan demi memperoleh solusi terbaik ketika berkonflik. Tidak perlu paksakan waktu, dan izinkan diri kita berserah pada kasih Allah yang sanggup membuat hati kita tenang.

Emosi bersifat sementara, tetapi keputusan yang kita ambil bisa berdampak permanen.
Mengambil keputusan dalam emosi yang lebih stabil menolong kita untuk melihat secara lebih luas dampak apa yang akan timbul dari keputusan yang akan kita buat.

5. Berdoa, dan akui sakit hati serta kekecewaan kita pada Tuhan

Sebagai Pencipta, Tuhan tahu betul karakter, kepribadian, serta emosi-emosi diri kita. Selain belajar jujur pada diri sendiri dan teman, belajar juga untuk jujur pada Tuhan di dalam doa. Aku pernah mendoakan bahwa aku sulit sekali mengampuni. Aku sulit memaafkan diriku sendiri yang gagal dan juga sulit memaafkan teman-teman yang mengecewakanku. Pada akhirnya, Tuhan sendirilah yang memberikan jalan keluar bagi relasi kami hingga saat ini.

Memulihkan hati yang terluka tidak cukup hanya dengan upaya kita sendiri. Kita butuh sentuhan kasih Ilahi yang tak hanya menutup luka itu, tapi juga membaharui hati kita.

6. Ceritakan kondisimu pada orang yang dipercaya

Ketika aku tengah menangis dan tidak tahu harus berbuat apa, aku teringat akan beberapa kakak dan abang senior yang menurutku dapat menolongku. Awalnya aku khawatir dan sempat tidak bisa mempercayakan ceritaku pada mereka. Namun, aku memberanikan diri saja untuk mengontak mereka demi mendapat pertolongan. Mereka memberiku nasihat yang bijak, aplikatif, dan netral (tidak membela teman-temanku, juga tidak membelaku). Aku makin percaya bahwa di luar dari lingkaran pertemanan dengan teman-teman dekat, masih ada orang-orang lain yang Tuhan pasti sediakan untuk menolong kita.

Menceritakan pergumulan kita pada orang yang dipercaya bukanlah tergolong sebagai gosip atau gibah, melainkan itu dapat menjadi sarana agar kita menerima perspektif baru yang benar dan baik. Namun, yang perlu diperhatikan ialah sikap hati kita. Apakah kita bercerita untuk mendapatkan masukan, atau untuk menjelekkan nama teman atau seseorang yang sedang berkonflik dengan kita?

7. Buka komunikasi kembali, dan sampaikan permintaan maaf ketika kondisi hati kita sudah jauh lebih baik

Butuh waktu beberapa bulan sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk bergabung kembali dalam grup chat kami. Di masa itu, aku merasa bahwa aku sudah cukup pulih, sudah bisa menerima segala sesuatunya, dan ada dorongan dari dalam diriku untuk terus berelasi dengan mereka apa adanya.

Pengkhotbah berkata, untuk segala sesuatu ada waktunya. Konflik memang tidak terelakkan, tetapi tidak selamanya konflik itu perlu dipelihara. Jika kita memahami relasi sebagai karunia yang berharga dari Allah, tentu kita akan berupaya untuk melakukan rekonsiliasi.

Apa saja hal yang berubah?

Yang pertama tentu hatiku. Aku belajar menerima bahwa aku berkawan dengan orang-orang yang berbeda denganku. Tidak semua hal dalam relasi kami harus selalu sama. Aku belajar menghargai perbedaan karakter, sifat, bagaimana kami saling merespon satu sama lain, bahkan belajar juga untuk menerima kondisi terluka akibat kejujuran kami masing-masing.

Yang kedua adalah ekspektasiku. Awalnya aku berpikir bahwa teman-teman terdekatku harusnya yang lebih mengerti diriku, yang paling tahu aku maunya apa, dan lain sebagainya. Namun, konflik yang terjadi mengajariku bahwa ekspektasi pribadi dapat melukai diri sendiri. Aku tahu bahwa berekspektasi adalah hal yang wajar terjadi dalam setiap relasi. Hanya, pengenalan yang lebih mendalam terhadap teman-teman kita dapat membantu untuk mengatur tingkat ekspektasi tersebut.

Ketiga, cara pandangku ketika berelasi. Persahabatan adalah salah satu anugerah Tuhan yang Ia sediakan untuk menolongku menjalani kehidupan ini. Tidak kebetulan kami bertemu dalam persekutuan kampus, tidak kebetulan kami berada dalam sebuah pelayanan bersama, dan tidak kebetulan masih ada komunikasi yang terjalin hingga kini kami berada di jalur hidup masing-masing. Aku menemukan bahwa kasih adalah landasan utama dari setiap relasi pertemanan. Seperti yang tertulis dalam Amsal 17:17 yang berbunyi:

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

Kasih yang membuat suatu relasi pertemanan tetap bertahan. Kasih juga yang diajarkan oleh Yesus pada murid-murid-Nya:

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34).

Tentu tidak ada yang salah dengan momen bersenang-senang bersama teman. Akan tetapi, mengasihi mereka bukan berarti kondisi akan selalu baik-baik saja. Ada konsekuensi penderitaan yang harus kita terima ketika kita bergesekan karakter dan muncul konflik. Di kali kedua aku meninggalkan grup chat kami, aku sempat berpikir bahwa pertemanan kami akan kandas. Aku gagal mempertahankan relasi berharga yang sudah terjalin sejak kami kuliah. Rasanya sedih sekali memutuskan relasi pertemanan dengan orang-orang yang sebenarnya Tuhan anugerahkan untuk mengenal aku sangat dalam. Namun, Tuhan begitu baik kepada kami hingga akhirnya kami dapat berteman seperti biasa lagi. Tuhan menolongku untuk belajar dan berproses pelan-pelan mengenal mereka satu persatu secara lebih baik lagi. Ia juga yang membuat kami sama-sama tidak ‘mengusir’ satu sama lain, melainkan memberi kami kesempatan untuk makin bertumbuh dalam kedewasaan (Efesus 4:13).

Terakhir, aku juga belajar bahwa dalam pertemanan atau persahabatan dengan konteks relasi yang sangat dekat, kita tidak mungkin hanya berhadapan dengan sifat yang baik-baik saja. Semakin mengenal teman-teman kita, seiring dengan berjalannya waktu, kita pasti akan diperhadapkan dengan sifat-sifat buruk hingga keberdosaan masing-masing yang terlihat sedikit demi sedikit. Pilihan ada di tangan kita: mau tetap memperjuangkan relasi tersebut dan terus bertumbuh sama-sama, atau memilih untuk berada pada relasi yang hambar dan dibiarkan begitu saja?

Baca Juga:

Berdamai dengan Keluarga, Mengampuni Masa Lalu

Alih-alih sebagai komunitas yang merangkul, terkadang keluarga jadi tempat di mana kita menyaksikan luka dan kesedihan.

Yuk ikuti cerita Meista tentang bagaimana dia mampu berdamai dengan keluarganya di artikel kedua dari seri Lika-liku dalam Relasi.

Berdamai dengan Keluarga, Mengampuni Masa Lalu

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Keinginan untuk kabur dari rumah. Berseteru. Berteriak. Berkonflik.

Hal-hal di atas sering sekali terjadi ketika aku berseteru dengan orang tuaku, khususnya di masa-masa pandemi ini. Masalah demi masalah seperti silih berganti tak kunjung habis hingga membuatku lelah berada di rumah. Sayangnya, keberadaan virus COVID-19 ini justru membuatku harus berada di rumah.

Ada satu momen berkonflik di mana aku mengakui kepahitan masa laluku terhadap mereka. Aku tumbuh besar dalam didikan yang cukup dikekang. Di masa-masa sekolah, aku mengalami cukup banyak pembatasan dalam mengikuti aktivitas-aktivitas yang kusenangi. Alasannya adalah mereka khawatir aku terserang penyakit asma—yang memang kumiliki sejak kecil—dan khawatir akan bahaya yang menyerangku di luar rumah (misal: penjahat, penculikan, dan lain-lain).

Memasuki masa perkuliahan hingga bekerja, pembatasan itu memang sudah semakin longgar. Namun, satu hal yang masih membuatku risih adalah ketika aku masih sering ditanya, “Belum pulang?” ketika aku memang masih di kampus atau kantor karena urusan tertentu hingga jam 8 malam lewat. Aku paham bahwa mereka peduli dan khawatir dengan keberadaanku. Namun, kekhawatiran mereka justru membuatku jadi khawatir juga. Bagiku, ini jenis kekhawatiran yang akhirnya tidak sehat karena aku jadi merasa terkekang dan tidak bisa belajar menjaga diriku sendiri.

Berkali-kali aku memaksa diriku sendiri untuk mengerti realita ini. Berkali-kali aku mengajarkan diriku untuk bersyukur bahwa aku masih memiliki orang tua yang lengkap. Berkali-kali aku mengingatkan diriku sendiri bahwa banyak teman-temanku yang rindu bisa bersama dengan kedua orang tua mereka (beberapa dari mereka ada yang mengalami broken-home, ada yang ditinggal selamanya karena maut, bahkan ada pula yang sedari kecil tidak tahu siapa orang tua kandungnya). Aku terus mendoktrin diriku sendiri untuk selalu bersyukur, bersyukur, bersyukur.

Namun, upayaku untuk memahami realita ternyata tidak semudah itu, terlebih ketika kembali diperhadapkan dengan kekhawatiran orang tua padaku. Seberapapun kuatnya usaha diriku untuk bersyukur, tapi aku tidak bisa. Kekhawatiran mereka yang berlebihan sungguh membuat aku makin merasa terkekang bahkan hingga dewasa.

Februari 2021, adalah momen di mana aku mencapai titik lelah dan jenuh luar biasa akibat hal tersebut. Berawal dari aku yang kesal dengan mereka lantaran ditanya, “Masih di kantor?”, “Sudah jalan pulang?” ketika jam di kantor menunjukkan pukul 8 malam dan aku masih menyantap semangkuk mi ayam karena aku lapar. Dalam emosiku saat itu, muncullah pikiran-pikiran negatif yang sebenarnya tidak esensial: apakah aku harus memberitahu mereka kalau aku lagi makan mi ayam? Kenapa sih jam segini udah ditanyain? Harus update banget setiap detik ya? Mau sampe kapan sih dikekang kayak gini terus?

Akhirnya aku pulang dengan rasa kesal dan memutuskan untuk lebih banyak diam. Menjadi ciri khas dari diriku bahwa jika aku diam, berarti aku sedang kesal luar biasa—mengingat biasanya sehari-hari aku lebih banyak ceria dan bercanda. Aku masih tidak mau bicara dengan siapapun di rumah karena masih kesal, hingga keesokan harinya.

Momen rekonsiliasi

Menyadari bahwa sikap diamku tak akan membuat keadaan menjadi lebih baik, akhirnya aku ungkapkan secara jujur apa yang kurasakan pada mereka. Singkat cerita, ternyata kami malah terlibat adu mulut. Emosi masing-masing pribadi pun tak tertahankan lagi. Hingga aku tiba pada detik di mana aku mengeluarkan satu kata makian—yang sebenarnya diperuntukkan untuk memaki diriku sendiri yang merasa gagal jadi seorang anak—namun ternyata kata itu melukai hati mereka. Konflik pun makin memuncak. Orang tuaku marah-marah, dan aku berteriak saking muaknya. Sungguh sebuah keadaan yang sama sekali tidak diinginkan olehku.

Aku menangis sejadi-jadinya. Rasanya hidup terlalu berat dan aku berharap saat itu lebih baik aku tak sadarkan diri saja saking tidak kuatnya menghadapi situasi tersebut. Dalam keadaan kalut, aku hanya bisa berdoa; meminta tolong pada Tuhan dan menanyakan apa yang harus kulakukan. Aku hanya bisa berserah pada keadaan.

Apa yang selanjutnya terjadi?

Setelah kami menenangkan diri masing-masing sekitar kurang lebih 20 menit, ayahku membuka percakapan dengan lebih tenang. Ayah dan ibuku meminta maaf padaku karena mereka terlalu mengekang aku sewaktu kecil. Mereka juga meminta maaf karena sering khawatir berlebihan ketika aku berada terpisah dengan mereka. Di situ aku pun meminta maaf karena telah berkata kasar dan menyinggung hati mereka. Setelah itu, kami berdoa bersama meminta pertolongan dan penyertaan Tuhan di dalam keluarga kami saat menjalani kehidupan hari demi hari.

Kisah ini adalah salah satu dari sekian banyak kisah perseteruan lainnya di mana aku belajar untuk mengampuni masa lalu, khususnya bersama orang tuaku. Apakah setelah konflik ini semuanya selalu baik-baik saja? Tentu tidak. Relasi dalam keluarga kami masih terus diuji dan ditempa. Namun, aku percaya bahwa kita semua mengalami pertumbuhan karakter melalui relasi dalam keluarga; sebesar apapun konflik yang pernah muncul, dan seberapa sakitnya penderitaan yang kami rasakan di dalamnya. Di sini aku mengingat lagi apa yang Tuhan katakan di dalam Keluaran 20:12, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.”

Apakah mudah? Tidak. Aku mengakui pada Tuhan bahwa aku tak sanggup menjalankan Firman-Nya yang ini, terlebih ketika berada di masa-masa sulit. Namun, ketidaksanggupan itu bukan menjadi alasanku untuk tidak taat. Jika aku bersandar pada pengertian dan kekuatanku sendiri sebagai manusia, tentu aku tidak mampu untuk mengasihi mereka. Naluriku yang berdosa ialah membantah dan membangkang terhadap mereka. Tetapi, satu hal yang menarik bagi kita orang Kristen ialah: kita mampu mengasihi orang lain karena Allah telah lebih dulu mengasihi kita. Pada akhirnya, aku memang butuh Tuhan untuk bisa mengasihi kedua orang tuaku apa adanya, dan di situasi apapun.

Kasih itulah yang mendorongku untuk jujur dan terbuka kepada mereka. Tapi, untuk melakukannya memang butuh keberanian dan penuh risiko. Memberi pengampunan pun membutuhkan kebesaran hati. Hal-hal ini tentu tidak bisa kulakukan sendiri dengan kemampuan manusiawiku. Butuh Tangan Yang Lebih Besar yang sanggup memberiku keberanian untuk jujur, terbuka, mengampuni, serta mengasihi keluargaku dalam relasi yang penuh lika-liku.

Mungkin konteks ceritaku berbeda dengan apa yang teman-teman alami. Mungkin banyak dari kita yang bahkan tidak bisa lagi melihat kedua orang tua secara utuh—atau bahkan tidak sama sekali. Kita tentu punya pergumulan yang berbeda satu sama lain di dalam keluarga. Namun, aku yakin satu hal yang pasti: siapapun yang Tuhan tempatkan menjadi keluarga kita adalah anugerah terbaik dari-Nya. Jaga relasi itu. Minta tolong pada Allah untuk diberikan keberanian menghadapi konflik yang muncul, dan minta juga pada-Nya supaya kita dimampukan untuk menjaga relasi dengan keluarga kita. Kita juga bisa berdoa pada Tuhan agar diberi kemampuan untuk mengampuni masa lalu bersama keluarga yang mungkin telah membelenggu dan membuat kita sulit untuk melangkah maju ke depan.

Ada satu lagu tentang doa yang sering aku dengar dan nyanyikan ketika tengah bergumul dalam persoalan keluarga. Judulnya “Doa Mengubah Segala Sesuatu”. Ketika aku sulit berdoa karena bingung dan pusing dengan situasi konflik yang terjadi, kadang aku hanya mendengarkan lagu ini dan menyanyikannya dalam hati sebagai doa pribadi:

Saat keadaan sek’lilingku ada di luar kemampuanku
Ku berdiam diri mencari-Mu
Doa mengubah segala sesuatu
Saat kenyataan di depanku mengecewakan perasaanku
Ku menutup mata memandang-Mu
S’bab doa mengubah segala sesuatu

Doa orang benar bila didoakan dengan yakin besar kuasanya
Dan tiap doa yang lahir dari iman berkuasa menyelamatkan

S’perti mata air di tangan-Mu mengalir ke manapun Kau mau
Tiada yang mustahil di mata-Mu
Doa mengubah segala sesuatu

Baca Juga:

Self-love yang Selfless untuk Mengasihi Sesama

Self-love artinya mencintai diri sendiri, tetapi bukan berarti memenuhi diri dengan segala keinginan. Mengapa self-love penting? Bukankah kita diminta untuk mengasihi orang lain?

Yuk temukan jawabannya di artikel pertama dari seri Lika-liku dalam Relasi yang ditulis oleh Meista.

Self-love yang Selfless untuk Mengasihi Sesama

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia sejak tahun 2020 lalu memberiku kesempatan untuk belajar banyak tentang bagaimana mengasihi diri sendiri. Semua berawal dari konflik-konflik relasi yang terjadi antara aku dan keluarga, serta aku dan teman-teman dekatku. Awalnya konflik tersebut membuatku sangat minder dan tidak berharga karena merasa paling bersalah. Bahkan aku juga sering menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab dari munculnya konflik-konflik tersebut. Namun, seiring dengan proses-proses pemulihan yang Tuhan anugerahkan, aku mendapat kesimpulan bahwa ternyata aku juga perlu belajar mengenal diriku sendiri lebih baik; memahami identitas diriku yang sebenarnya bukan terletak pada apa yang ada di dunia ini (ciptaan), melainkan pada gambar Sang Pencipta itu sendiri (Kejadian 1:27).

Ketika belajar mengenal diri sendiri, aku pun mendapati ada satu konsep atau istilah baru yang ternyata banyak digaungkan di berbagai media sosial selama masa pandemi: self-love. Mengutip dari situs alodokter.com, self-love artinya mencintai diri sendiri, tetapi bukan berarti memenuhi diri dengan segala keinginan. Self-love mengharuskan kita untuk memperlakukan dan menerima diri sendiri dengan baik dan apa adanya. Konsep self-love atau konsep penerimaan diri yang baik ini juga terbilang penting karena berpengaruh pada kesehatan mental. Apalagi, penelusuran informasi tentang isu kesehatan mental di mesin pencari Google mengalami peningkatan sejak tahun 2020 kemarin. Artinya, bisa dibilang sudah banyak orang yang mulai memerhatikan kesehatan mentalnya sendiri.

Kemudian aku sempat terpikir hal yang lain: jika self-love merupakan sebuah konsep untuk menerima diri sendiri, apakah kecenderungan untuk egois (selfish) bisa terjadi? Jawabannya: tentu saja bisa, bergantung pada di mana fokus kita ketika sedang menerapkan self-love. Psikolog Felicia Maukar memaparkan bahwa konsep self-love bukanlah sesuatu hal yang negatif karena motivasinya dilakukan untuk kebaikan banyak orang. Ketika kita mencintai diri sendiri, kita akan mampu mencintai orang lain juga. Sedangkan konsep egois didasari pada mencintai diri sendiri secara berlebihan; fokusnya lebih banyak memikirkan perasaan diri sendiri dan apapun yang dimilikinya dijadikan bahan pamer dengan tujuan membuat orang lain iri (dikutip dari berita suara.com yang tayang pada Rabu, 6 November 2019).

Firman Tuhan pun sebenarnya sudah mencatat konsep self-love yang tertulis dalam Matius 22:39 “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Aku pernah salah mengartikan bagian kebenaran Firman ini. Aku memahaminya sebagai: aku harus terus mengasihi orang lain, dan tidak perlu mempedulikan diri sendiri. Namun pada ayat itu tertulis jelas “…seperti dirimu sendiri”. Sehingga, konsep mengasihi diri pun memang bukanlah hal yang salah atau berkesan negatif. Bahkan Allah saja melihat diri kita berharga (Yesaya 43:4), masa kita tidak mau menghargai hidup dan diri kita sendiri sebagaimana Allah telah melakukan hal yang sama kepada kita?

Memahami hal ini sebagai bentuk pembelajaranku secara pribadi, aku mendoakan pada Tuhan untuk dimampukan menerapkan self-love yang selfless. Aku ingin belajar bagaimana menerapkan kasih pada diriku sendiri (dengan cara menjaga kesehatan fisik, mental, jiwa, pikiran, emosi, dan seluruh aspek hidupku dengan takaran yang sewajarnya atau tidak berlebihan), sambil di saat yang sama aku juga bisa mengasihi orang lain dengan hati yang tulus.

Aku + Kamu = Kita

Mengapa harus ada “kita”?

Bukankah hidup ini segalanya tentang “aku”?

Jika dilihat dari sisi egoisme akibat keberdosaan kita sebagai manusia, jawabannya pasti “ya”. Namun, Tuhan tidak menghendakinya demikian. Sejak awal manusia dijadikan, Tuhan membuat manusia menjadi makhluk sosial. “Tidak baik kalau manusia itu sendiri saja…” (Kejadian 2:18). Kehadiran Adam dan Hawa menjadi cikal bakal keluarga, pertemanan, komunitas, hingga terbentuknya bangsa yang menetap dan menyebar di seluruh pelosok bumi hingga kini.

Dalam buku “How’s Your Soul: Why Is Everything That Matters Starts With The Inside You”, Judah Smith menuliskan bahwa salah satu lingkungan sehat untuk jiwa kita adalah Relationship (Relasi). Secara alamiah, kita semua adalah makhluk sosial. Kita diciptakan untuk berelasi dan berkomunitas. Bahkan untuk orang dengan kepribadian paling introver sekalipun tetap membutuhkan interaksi dengan sesama manusia yang bertujuan untuk mempertahankan kesehatan, perkembangan, dan rasa semangat dalam jiwa. Tanpa adanya relasi, jiwa kita menjadi terisolasi dan ini merupakan kondisi yang tidak sehat.

Dalam realitasnya, mungkin kita berharap relasi yang terjalin antara kita dengan sesama akan berjalan mulus dan serba baik-baik saja. Aku pun juga berharap demikian. Namun, sayangnya dosa membuat kondisi ideal tersebut hancur berantakan. Kita berseteru. Berkonflik. Sering mengedepankan ego pribadi dan lupa caranya mengasihi. Maka dari itu, tentu mengandalkan Allah yang adalah Kasih menjadi satu-satunya cara agar kita bisa terus-menerus belajar mengasihi sesama dengan hati yang tulus.

Di bulan ini aku mengajak kita semua untuk sama-sama belajar dan merenungkan bagaimana berelasi dengan sesama seharusnya tidak dilihat sebagai sesuatu yang diterima begitu saja (taken for granted). Relasi dengan sesama sepatutnya kita lihat sebagai anugerah Tuhan bagi kesehatan, sukacita, dan juga kesejahteraan jiwa kita; baik itu relasi dengan keluarga, teman kampus, rekan kantor, tetangga, bahkan mungkin orang asing yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita.

Baca Juga:

‘Kesombongan’ Terselubung di Balik Bersyukur

Tujuan yang baik bila dilakukan dengan cara yang salah bisa saja hasilnya pun jadi melenceng, demikian pula dalam halnya ucapan syukur. Apa yang mendasari kita untuk mengucap syukur?

Ketika Perbuatan Baik Malah Disalahartikan

Oleh Agnes Lee
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When My Good Deeds Backfired

Sudah lama aku tidak bertemu dengan temanku, jadi ketika ada waktu luang kuajaklah dia untuk pergi makan bersama. Usia temanku jauh lebih tua dariku dan dia tinggal sendirian. Acara makan bersama yang kupikir akan menyenangkan berubah menjadi aneh ketika maksud baikku malah jadi bumerang.

Kami makan di pujasera. Dari banyak restoran di sana, kami memilih satu restoran yang sama. Kulihat dia cuma memesan sayur-sayuran. Dalam hati kuberpikir, “Makanan cuma segitu mana cukup buat dia?”

Ketika akhirnya kami duduk, aku mengambil dua sendok nasi dari piringku dan meletakkannya di piringnya. Kupikir dia akan berterima kasih tapi dia malah mengeluh, “Kamu tahu gak sih tadi aku nggak pesan nasi itu karena aku memang nggak mau makan nasi? Kok malah kamu kasih aku nasi? Tadi pagi aku udah sarapan banyak dan masih kenyang. Kamu harusnya tanya dulu. Kamu itu selalu melukai orang. Kamu terlalu naif.”

Gara-gara kejadian itu, temanku lalu mengomel. Dia merinci perbuatan-perbuatan baikku yang ternyata tidak bermanfaat buatnya, seperti membelikannya rak sepatu dan beberapa biskuit.

Aku terkejut dengan tanggapannya. Aku merasa sangat bersalah. Aku memberikan uang yang kudapat dari kerja keras untuk membelikannya hadiah, berpikir kalau temanku itu akan menyukai pemberianku, tapi nyatanya dia malah tidak menghargai niat baikku.

Aku ingin membela diri, tapi kuputuskan menahan ucapanku karena temanku itu sudah tua dan aku ingin menghormatinya. Tanpa bicara, kuambil lagi dua sendok nasi dari piringnya ke piringku. Kami pun makan bersama dalam keheningan. Aku tidak tahu harus bicara apa karena hatiku rasanya campur aduk. Maksud baikku disalahartikan dan aku menyesali tindakanku. Sampai akhirnya pulang pun kami tidak banyak bicara.

Sampai di rumah, kata-kata temanku itu berputar terus di otakku. Sungguhkah aku tidak peka dan menjengkelkan? Apakah aku terlalu naif dalam pikiran dan tindakanku? Apakah aku jadi pemaksa ketika aku mencoba jadi orang baik?

Aku ingat sebuah nasihat yang mengatakan agar aku bisa menetapkan garis batas antara kita dengan orang yang tidak menghargai kebaikan kita. Menjaga jarak itu dibutuhkan supaya kita tidak disalahpahami lagi. Meskipun itu kedengarannya bijak, kurasa melakukan nasihat itu hanya akan membuat kita menjauh dari rekonsiliasi dan malah membuat kita berfokus pada luka-luka saja. Jika aku akhirnya menjaga jarak, sungguhkan aku bisa menunjukkan kasih Tuhan pada temanku itu? (1 Koritnus 13:2).

Seiring aku merenung dan berdoa, aku mulai menyadari pandangan berbeda dari situasiku. Aku sadar bahwa di balik tindakan baikku atau caraku merespons temanku, aku bersadarkan pada pengertianku sendiri tanpa mencari tahu hikmat-Nya.

Temanku ialah seorang wanita tua yang tinggal sendirian. Aku ingin agar dia tahu kalau dia punya teman yang peduli padanya dan dia tidak sendirian. Tapi, dalam proses untuk mewujudkan itu, aku tidak benar-benar mengerti apa yang jadi kebutuhannya. Aku hanya berasumsi seolah aku tahu apa yang dia butuhkan dariku—dan mungkin tindakanku berlebihan sehingga bukannya membuatnya bersyukur, malah merasa tersinggung.

Setelah hatiku lebih tenang, aku pergi ke rumahnya untuk meminta maaf. Puji Tuhan, dia memaafkanku lalu menertawakanku. Katanya aku terlalu menganggap serius persoalan tempo hari. Ketika obrolan kami jadi lebih ringan, dia pun mulai terbuka tentang apa yang sungguh jadi kebutuhan dan keinginannya.

Lewat pengalaman ini, aku belajar apa artinya berbuat baik dengan hati yang murni dan iman yang tulus ikhlas (1 Timotius 1:5). Seperti yang ditulis di Kolose 3:12, aku seharusnya menunjukkan kebaikan dan belas kasih dengan cara menanyakan apa yang sungguh jadi kebutuhannya. Aku seharusnya lebih lemah lembut dan rendah hati dengan mendengarkan lebih dulu apa yang dia butuhkan, alih-alih memaksakan asumsiku yang akhirnya meletakkan dia pada posisi sulit untuk menolak. Konflik ini menolongku mengetahui apa yang dia sukai dan tidak sukai, dan mengikat kami dalam ikatan persahabatan yang lebih erat.

Tindakanku untuk berbuat baik hampir saja mengandaskan persahabatan kami. Kupikir aku sedang menolong temanku, tapi dia malah melihat hal sebaliknya. Tanpa respons temanku yang blak-blakan di pujasera, aku mungkin tidak akan menyadari betapa pentingnya melakukan kebaikan bagi orang dengan cara yang sungguh membangun mereka. Niatan kita mungkin baik, tapi jika kita tidak mencari pengertian akan apa yang sesungguhnya orang itu butuhkan, tindakan kita malah seolah menunjukkan kita sedang melayani diri sendiri.

Carilah Tuhan dengan hati dan tangan yang terbuka, agar kita diberi-Nya kesempatan untuk melayani mereka yang ada di sekitar kita. Aku berdoa agar aku juga kamu dapat peka pada pimpinan-Nya agar kita pun memiliki hati dan pikiran Kristus dalam segala aksi yang kita lakukan.

Tindakan kita sendiri bisa saja gagal, tetapi dengan Kristus yang bekerja di dalam kita, setiap tindakan kita disempurnakan-Nya agar menjadi persembahan yang harum bagi-Nya.

Baca Juga:

3 Tipe Teman yang Kita Semua Butuhkan

Tidak semua pertemanan berjalan hangat dan langgeng, tapi Alkitab mengajar kita untuk tetap saling berelasi dan tidak hidup secara terasing.