Menentukan Jurusan Kuliah: Pilihanku atau Pilihan Tuhan?

Info

Oleh Jefferson, Singapura

Ketika dulu masih berstatus mahasiswa jurusan Environmental Earth Systems Science (Ilmu Lingkungan Hidup) di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, ada sekumpulan pertanyaan yang sering dilontarkan kepadaku baik oleh kerabat maupun teman, “Kok bisa ambil jurusan itu? Apa saja yang dipelajari? Kalau sudah lulus bekerja jadi apa?” Awalnya aku jengkel karena terus ditanyakan hal yang sama, tapi lambat laun aku menyadari bahwa memang tidak banyak orang—terutama dari Indonesia—yang tahu tentang keberadaan bidang ini, apalagi mengambilnya.

Dalam tulisan ini, aku akan membahas dengan singkat mata kuliah apa saja yang kupelajari sambil menceritakan bagaimana dan mengapa aku bisa mengambil jurusan itu. Seperti yang bisa kamu duga dari judul di atas, keputusanku untuk belajar Ilmu Lingkungan Hidup sangat berkaitan dengan kehendak Tuhan, dalam artian aku memahami pilihanku sebagai pilihan yang Tuhan ingin aku ambil.

4 cara Tuhan berkehendak dan memimpin umat-Nya

Apa maksudnya? Sebelum menceritakan kisahku lebih lanjut, aku ingin mengajakmu untuk memahami terlebih dulu jenis-jenis kehendak Tuhan dalam Alkitab. Dalam artikelnya, John Piper membedakan empat macam kehendak Tuhan, yang kuringkas sebagai berikut:

  1. Decree / Ketetapan Allah yang berdaulat. Lewat jenis kehendak ini, Allah mengerjakan segala sesuatu yang telah Ia rencanakan tanpa sepengetahuan maupun andil kita sama sekali sehingga semua unsur ciptaan-Nya berada dan bekerja sesuai dengan desain-Nya. Contoh dari dekrit Allah adalah peristiwa pemenjaraan Paulus dan Silas yang menuntun kepada pertobatan kepala penjara Filipi dan seisi rumahnya (Kis. 16:23–24). Ketetapan Allah melibatkan ketiga jenis kehendak lainnya dan pasti terjadi (bdk. Ayb. 42:2).
  2. Direction / Arahan mencakup perintah-perintah dan ajaran-ajaran dari Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Jenis kehendak ini mengarahkan kita secara spesifik tentang apa yang (tidak) boleh kita lakukan, seperti dalam Sepuluh Perintah Allah (Kel. 20) maupun Khotbah di Bukit (Mat. 5–7).
  3. Discernment / Pemahaman berlaku untuk keputusan-keputusan yang harus kita buat yang tidak tercatat dengan spesifik dalam Alkitab seperti jurusan kuliah dan yayasan mana yang patut kita dukung selama wabah COVID-19. Mentaati jenis kehendak ini memerlukan kepekaan dalam mengaplikasikan kebenaran Alkitab untuk menanggapi situasi yang dihadapi dengan tepat. Paulus mendeskripsikannya dalam Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna”. Terhadap banyak pilihan dalam kehidupan kita, Allah tidak memberikan arahan yang spesifik, tetapi oleh Roh Kudus memperbaharui budi kita melalui disiplin rohani—seperti saat teduh dan doa—sehingga kita dapat memahami dan membuat keputusan-keputusan yang paling memuliakan-Nya, memberikan kita sukacita-Nya, dan memberkati orang lain dan dunia ini.
  4. Declaration / Deklarasi adalah yang paling jarang ditemui di masa sekarang. Lewat jenis kehendak ini Allah mendeklarasikan langsung kepada kita apa yang harus kita lakukan, seperti yang dialami oleh Filipus dalam Kis. 8:26 dan 8:29.

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa “kehendak Tuhan” yang kumaksud di awal adalah jenis ketiga, discernment / pemahaman. Aplikasi praktis dari jenis kehendak Allah inilah yang akan kubahas untuk sisa artikel dalam konteks memilih jurusan kuliah. Dalam praktiknya, kamu akan menemukan bahwa langkah-langkah tersebut berlaku tidak hanya untuk memilih jurusan tapi juga dalam menentukan berbagai keputusan yang Tuhan tidak perintahkan secara spesifik dalam Alkitab.

Bisakah kamu menebak langkah pertamanya? Petunjuk: langkah itu sempat dibahas dalam penjelasan jenis kehendak ketiga.

#1: Dalami disiplin rohani hingga Roh Kudus memperbaharui akal budi kita

Kuharap kamu tidak bosan ketika aku sekali lagi membicarakan tentang disiplin rohani, terutama doa dan pembacaan Firman, sebagai salah satu poin dalam tulisan. Meskipun ada disiplin-disiplin rohani lain seperti penatalayanan dan puasa, doa dan merenungkan Firman adalah dua disiplin paling mendasar yang melaluinya kita dapat mengenal identitas TUHAN yang berdaulat atas hidup kita. Melalui perjumpaan dengan Allah setiap harinya, kita memberikan setiap inci diri kita untuk diperiksa, diajar, dan dikoreksi oleh Roh Kudus lewat Firman-Nya sehingga akal budi kita diperbaharui (Rm 12:2b). Kita tidak lagi ingin menjadi serupa dengan dunia (Rm. 12:2a); sebaliknya, kita ingin semakin menjadi serupa dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:29) yang dapat membedakan “apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna” (Rm. 12:2c). Dengan kata lain, hidup kita benar-benar diperbaharui oleh Roh Kudus sehingga kita mencerminkan Allah yang kudus dan baik dan sempurna dalam semua aspek kehidupan, termasuk pengambilan keputusan. Begitu radikalnya pembaharuan itu sehingga tidak ada satu inci pun dalam kehidupan kita yang tidak diperbaharui Roh Kudus.

Mengapa langkah ini sangat penting? John Piper dalam khotbahnya menjelaskan, “[K]arena 95% dari apa yang kamu lakukan sekarang kamu lakukan secara spontan [mengikuti kehendak daging yang berdosa]. Kalau kamu bukan ciptaan yang baru [yang akal budinya telah diperbaharui Roh Kudus], maka dari hati akan keluar hal-hal [keputusan-keputusan] yang salah.” Bagaimana kita dapat mengambil keputusan-keputusan besar yang sesuai dengan kehendak Allah? Dengan pertama-tama mengambil keputusan-keputusan kecil yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Aku percaya bahwa keputusanku untuk mengambil jurusan Ilmu Lingkungan Hidup di NTU dimulai sejak aku memutuskan untuk percaya kepada Yesus sebagai Tuhan atas hidupku. Kalau Tuhan tidak membawaku kembali kepadanya sejak kelas 10 dan mendidikku dalam disiplin-disiplin rohani, kurasa aku akan terus mengambil keputusan-keputusan yang salah dengan motivasi-motivasi yang salah: tidak ingin membantu teman-teman yang kesulitan dengan pelajaran, menjadi arogan ketika mewakili sekolah mengikuti olimpiade matematika tingkat provinsi, malas-malasan dan menggerutu saat mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk NTU yang materinya jauh lebih sulit dari Ujian Nasional, dan hal-hal lainnya yang serupa dengan dunia ini. Puji Tuhan, lewat perjumpaan dengan Tuhan Yesus dalam Firman-Nya, doa, kelompok kecil, dan pelayanan, Roh Kudus terus memperbaharui budiku sehingga aku dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Pembaharuan budi tidak hanya menolong kita untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tapi juga membantu kita untuk mengenal lebih dalam satu pihak penting dalam pengambilan keputusan kita.

#2: Diri sendiri juga perlu kita kenali

Dalam merenungkan berbagai implikasi dari kehendak discernment / pemahaman Tuhan, aku mengamati bahwa keputusan-keputusan yang berhubungan dengannya sedikit banyak didominasi oleh hal-hal yang bersifat pribadi. Di satu sisi, Tuhan telah memberikan panduan umum terhadap keputusan yang harus kita ambil dalam jenis kehendak ketiga ini: “apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna”, yaitu prinsip-prinsip dalam Alkitab yang bisa kita temui dalam kehendak direction / arahan Allah. Di sisi lain, selama keputusan itu dibuat mengikuti panduan Firman, kita dibebaskan untuk membuat keputusan sesuai dengan preferensi kita masing-masing. Dengan kata lain, pengenalan yang baik akan diri sendiri merupakan kunci keberhasilan dari langkah ini.

Berkenaan dengan pilihan jurusan maupun karir, aku akan menanyakan dua pertanyaan di bawah kepada diriku sendiri dan orang-orang lain yang mengenalku dengan dekat sebelum mengambil keputusan:

  1. Kelebihan apa saja yang telah Tuhan berikan kepadaku yang bisa Dia pakai untuk paling memuliakan-Nya dan memberkati sesama dan dunia?
  2. Bidang studi atau topik apa yang paling membebani hati dan pikiranku?

Sebenarnya orangtuaku telah mengarahkanku sejak masuk SMA untuk mengambil jurusan Teknik Sipil dengan alasan minat dan bakatku yang (waktu itu) cukup besar di matematika. Karena masih tidak tahu menahu tentang dunia perkuliahan, aku mengiyakan saja. Tetapi begitu naik ke kelas 12 dan mulai mempersiapkan diri untuk tes masuk NTU, aku jadi mempertanyakan arahan itu. Benarkah kuliah di jurusan Teknik Sipil adalah keputusanku sendiri, atau keputusan orangtuaku? Aku mulai berdoa lebih keras kepada Tuhan tentang hal ini dan menanyakan dua pertanyaan di atas kepada diriku sendiri.

Aku tidak mencatat proses pencarian jawabanku waktu itu dengan terperinci, tapi kira-kira jawaban yang kudapat adalah demikian: aku ingin melihat dan memahami dunia yang lebih luas, gambaran besar dari proses-proses yang terjadi di dunia. Aku tidak puas hanya belajar tentang rumus-rumus IPA maupun menghafal teori-teori IPS di ruangan kelas. Aku ingin terjun ke dunia di luar sana, melihat apa yang terjadi, dan memberikan kontribusi unikku yang menyatakan kemuliaan dan kebenaran Allah kepada dunia. Memakai istilah yang baru kuketahui belakangan, jurusan idealku adalah jurusan yang interdisipliner.

Sayangnya, NTU tidak menawarkan jurusan yang demikian, pada awalnya. Sekitar sebulan setelah mengikuti tes masuk di pertengahan Januari 2014, NTU mengumumkan peluncuran jurusan Ilmu Lingkungan Hidup di tahun ajaran 2014/2015. Awalnya aku tidak berminat sama sekali, tapi setelah berkali-kali disuruh orangtua untuk melihat-lihat jurusan ini lebih lanjut, akhirnya aku membuka brosur elektronik yang NTU kirimkan. Aku langsung tertarik dengan jurusan ini. Di tiga semester pertama, kami mempelajari sains dasar lingkungan hidup—seperti Ekologi Dasar, Geologi, dan Antropologi Lingkungan—sebelum mengambil salah satu spesialisasi di semester keempat: Ekologi, Geosains, atau Society and the Environment (Masyarakat dan Lingkungan). Spesialisasi yang terakhir sangat cocok dengan minatku karena mendalami perkembangan dan dinamika yang terjadi antara komunitas manusia dengan lingkungan di sekitarnya. Setelah mendoakannya di hadapan Tuhan bersama dengan teman-teman di gereja dan keluarga, aku mengirimkan dokumen-dokumen tambahan kepada NTU untuk melamar ke jurusan Ilmu Lingkungan Hidup.

Dunia ini berkata, “Ikutilah hatimu,” tetapi Tuhan berkata, “Ikutilah hatimu ketika kamu telah mempersembahkan dirimu sepenuhnya sebagai persembahan yang hidup kepada-Ku” (Rm. 12:1). Sebab hanya orang-orang yang telah diselidiki dan hatinya telah dikenal oleh Tuhanlah yang akan dituntun-Nya di jalan yang kekal (Mzm. 139:23–24).

#3: Dalam doa, serahkan keputusan kita kepada Tuhan dan maju

Tanpa sengaja aku telah menyebutkan langkah terakhir ini di beberapa kalimat sebelumnya. Ya, kalau kita merasa sudah membuat keputusan yang sejalan dengan prinsip-prinsip dalam Firman Tuhan dan preferensi kita, serta meminta pendapat yang lebih objektif dari orang lain, tidak ada lagi yang dapat kita lakukan selain menyerahkan keputusan itu ke dalam tangan-Nya dan melangkah maju dalam doa. Dalam setiap langkah ke depan, janji Tuhan dalam Mazmur 32:8 adalah pilar penopang yang teguh, “Aku akan mengajar dan mengarahkanmu di jalan yang harus kamu jalani, Aku akan menasihatimu dengan mata-Ku yang tertuju kepadamu.” Sesederhana itu.

Itulah yang kulakukan dalam tahap-tahap berikutnya selama mengikuti proses penerimaan ke jurusan Ilmu Lingkungan Hidup. Setelah mengirimkan dokumen tambahan, kukira aku hanya perlu menunggu kabar tentang diterima atau ditolaknya aku dari NTU. Ternyata tidak sesederhana itu. Seminggu setelahnya, pihak fakultas memintaku untuk mengirimkan esai singkat yang menjelaskan ketertarikanku terhadap jurusan ini. Beberapa hari kemudian, aku diundang untuk mengikuti wawancara dengan beberapa dosen melalui Skype. Waktu itu adalah masa persiapan Ujian Sekolah, jadi aku disibukkan dengan tryout, ujian praktik, les, dan sekarang persiapan wawancara. Puji Tuhan, semuanya itu dapat kulalui dengan tenang dan baik, satu langkah setiap waktunya, hingga akhirnya aku melihat diriku diterima sebagai orang Indonesia satu-satunya dari angkatan pertama jurusan Ilmu Lingkungan Hidup di NTU.

Enam tahun telah berlalu sejak aku melalui seluruh proses itu. Setelah mempelajari Ilmu Lingkungan Hidup selama empat tahun dan bekerja sebagai konsultan lingkungan hidup selama satu setengah tahun, dengan yakin aku dapat berkata bahwa aku tidak memiliki penyesalan sama sekali. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman seperti ini, yang semakin banyak kualami sejak pertobatanku, adalah mood-lifter-ku ketika sedang muram. Lewat mereka, aku terus diingatkan akan salib Tuhan Yesus yang menebus segala dosaku dan memberikan Roh Kudus untuk tinggal di dalamku serta memperbaharui akal budiku. Karya Roh Kudus inilah yang memampukanku untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Allah dan terus melangkah maju di jalan yang Tuhan kehendaki harus kujalani.

Hari-hariku sebagai mahasiswa Ilmu Lingkungan Hidup di NTU adalah sebuah pengucapan syukurku kepada Tuhan, yang pembelajaran daripadanya kurangkumkan di sini.

Penutup: kebebasan keputusan kita dalam kedaulatan Allah

Sebagai penutup, aku ingin mengajakmu membayangkan situasi berikut: Tuhan memberikan kita sebuah buku yang berisi setiap keputusan yang harus kita buat, yang pasti sesuai dengan kehendak-Nya. Bayangkan implikasinya: kita tidak perlu bergumul setiap kali ingin membuat keputusan, tidak perlu susah-susah mempelajari Alkitab dan memahami “apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya, dan yang sempurna”. Tinggal mengikuti apa yang tertulis dalam buku itu, maka keputusan kita pasti sesuai dengan kehendak-Nya. Apa yang akan menjadi reaksimu? Merasa sangat bersyukur, karena kehidupan ke depannya hanya perlu mengikuti isi buku? Atau merasa pemberian ini tidak konsisten dengan karakter Tuhan yang kita kenal?

Perhatikan kata kerja yang dipakai Tuhan dalam Mazmur 32:8—“mengajar”, “mengarahkan”, dan “menasihati”. Apa persamaan di antara ketiganya? Semuanya adalah kata kerja yang memberikan kita pilihan untuk memberi diri kita diajar, diarahkan, dan dinasihati oleh-Nya. Ilustrasi situasi di atas lebih mirip sebuah robot yang tidak punya pilihan kecuali melaksanakan apa yang sudah tertulis di dalam kodenya daripada kondisi manusia yang tetap bisa menjalankan kehendak bebasnya dalam kedaulatan Allah.

Layaknya orangtua yang ingin anak-anaknya memahami dan menimbang setiap alasan dan konsekuensi dari setiap pilihan yang ada serta mengambil keputusan terbaik tanpa perlu diberitahu terus menerus, Tuhan ingin kita benar-benar mengenal-Nya dan mengambil keputusan terbaik dalam ketaatan kepada-Nya. Tentu dari waktu ke waktu kita perlu menanyakan pendapat orang lain yang mengenal kita dekat, tapi pada akhirnya keputusan kita adalah milik kita sendiri di hadapan Tuhan.

Itulah salah satu alasan Dia mengirimkan Anak-Nya Yesus Kristus ke dalam dunia: agar Ia menjadi teladan ketaatan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya (bdk. Ibr. 5:8–9). Di mana buktinya? “Namun, bukan apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki,” kata Yesus seperti yang tercatat dalam Markus 14:36. Kristus memilih untuk taat kepada kehendak Bapa dan mati di kayu salib agar setiap keputusan yang kita ambil bukannya serupa dengan dunia melainkan sesuai dengan kehendak Bapa,.

Selamat bertekun dalam disiplin-disiplin rohani serta mengambil keputusan bersama-Nya!

Tuhan Yesus memberkati, soli Deo gloria.


Pertanyaan refleksi

  1. Sudahkah kamu bergaul dekat dengan Allah dan Firman-Nya?
  2. Apakah keputusan-keputusan yang kamu ambil telah dilandasi oleh prinsip-prinsip kebenaran Alkitab?
  3. Apakah kamu telah mengenal dirimu sendiri sehingga kamu mengetahui dengan jelas preferensi-preferensi dan pandangan-pandangan pribadimu?
  4. Sudahkah kamu menyerahkan segala keputusan yang kamu buat kepada Tuhan dalam doa?

Baca Juga:

Membuat Pilihan yang Berkenan pada Tuhan

Setiap hari dalam hidup kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan, dari yang sederhana sampai yang rumit. Bagaimana caranya supaya pilihan kita selaras dengan kehendak-Nya?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

8 Komentar Kamu

  • Desi S. Simanullang

    Sangat terberkati,
    Semoga saya dapat bertekun dalam disiplin rohani mulai dari hal kecil
    😇😇😇

  • sangat menyetuh hati, trimakasih.

  • aminnn moga bisa lebih tekun

  • Rini wati Simamora

    Shalom
    Sangat memotivasi dan memberkati
    Sesuai dengan yang Saya alami
    Saya berpikir apa yang akan Saya peroleh setelah lulus dari fakultas pertanian
    Tetapi saya menyerahkan semuanya pada Tuhan
    Dan itu Prinsip dalam diri Saya
    Jika memang Tuhan yang menunjukkan jurusan ini maka Tuhan yang ambil alih

    Shalom
    Tuhan Yesus memberkati

  • Samuel Angelo Hawanto

    saya msh bingung yg benar itu yg mana…

  • Bintang Hutagalung

    Saya sgt kagum pada penulis renungan ini. Berarti saat ini dia berumur kira2 24 thn. Usia yg belia tp bgitu teguh imannya, dekat dgn Tuhan melalui apa yg dilakukannya sejak kls 10 yi mjalankan disiplin rohani. Terimakasih padanya, kisahnya sgt membantu saya dlm memberi arahan kemana kira2 anak saya akan kuliah/mngambil jurusan, dimana selama ini anak kami dan kami rada bingung. Biarlah kedepannya Roh Tuhan yg akan mbuatnya semakin jelas bagi kami hingga tiba saatnya 3 thn mdatang anak kami hrs memilih dgn mantap, didalam nama Tuhan. Dan biarlah melalui jurusan yg diambilnya nama Tuhan semakin dipermuliakan.

  • Saya merasa benar-benar Terberkati melalui ini, semakin mengingatkan saya. Terima Kasih Banyak, Tuhan Yesus Memberkati 🙂

  • May Juwita Hutauruk

    Tuhan Yesus memberkati🙏

Bagikan Komentar Kamu!