Bagaimana Mendengar Suara Tuhan di Zaman Sekarang?

Oleh Andrew Koay
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How I Discovered The Key To Hearing God’s Voice

“Tuhan bilang sama aku…”

Selama aku hidup sebagai orang Kristen, aku sering mendengar orang-orang di sekitarku mengucapkan kata-kata di atas. Mereka akan bersaksi tentang bagaimana Tuhan secara dramatis telah mengubah jalan hidup mereka melalui suara yang dapat didengar. Teman-teman sebayaku pun suka berdiskusi tentang bagaimana mereka sering mendengar Tuhan berbicara dan mengarahkan mereka pada keputusan sehari-hari.

Secara pribadi, aku tidak pernah mengalami pengalaman rohani yang sedekat itu dengan-Nya. Jujur, aku cemburu. Jika Pencipta alam semesta berbicara dengan teman-temanku, aku juga ingin ikut serta dalam percakapan itu.

Kebingungan soal mendengar suara Tuhan sebenarnya bukanlah hal baru, malah dalam pendapatku sendiri kita memang perlu bisa mendengar suara-Nya. Seperti teman-temanku yang tampaknya membuat banyak keputusan—entah yang penting atau remeh—berdasar suara Tuhan, bagaimana kita bisa tahu keputusan kita tepat atau tidak kalau kita tidak dengar suara-Nya?

Apa aku salah pilih jurusan kuliah sehingga pilihan karierku pun salah?
Apakah cara berpakaianku salah?
Apakah aku melewatkan penunjuk Ilahi?

Aku sangat ingin punya pengalaman seperti teman-temanku. Untuk meraihnya, aku membaca buku-buku, menghabiskan waktu sendiri di ruangan yang gelap, juga menerima tantangan dari seorang pendeta untuk percaya Yesus dengan harapan supaya aku bisa mendengar suara Tuhan secara langsung.

Sampai tibalah aku pada suatu momen. Waktu itu aku baru mulai kuliah dan ikut persekutuan Kristen di kampus. Setelah beberapa waktu, salah satu staf yang bernama Joel mengajakku bertemu dan membaca Alkitab di saat jam makan.

Siapa sangka. Di situlah aku akhirnya mendengar Tuhan berbicara kepadaku dengan jelas dan pasti. Tidak ada keraguan bahwa itu bukanlah Dia.

Selama ini aku tidak menyadarinya… bahwa kunci untuk mendengar suara-Nya telah ada di depanku sepanjang waktuku hidup. Hari itu, saat Joel dan aku membuka Alkitab, kami membaca surat Paulus untuk jemaat Kolose. Kata-kata yang ada di sana bukan sekadar tulisan… tetapi melaluinya Allah yang hidup berbicara kepada kita.

Kami mempelajari Alkitab secara mendalam, berpikir keras tentang apa yang Paulus coba sampaikan kepada jemaat Kolose, dan bagaimana tiap ayat dalam surat itu mendukung tujuan ini—untuk mengingatkan mereka akan kuasa Kristus dan kecukupan kita ada dalam Dia, dan meyakinkan mereka bahwa tidak ada hal lain yang dibutuhkan seorang Kristen untuk menjadi benar di hadapan-Nya. Dua ribu tahun yang lalu, Tuhan berbicara melalui Paulus kepada jemaat Kolose, dan ketika kami berusaha untuk memahami apa yang Dia katakan saat itu, Dia juga sedang berbicara tentang pesan yang sama kepada kami.

Aku menyadari bahwa mendengar Tuhan berbicara berarti membuka firman-Nya dan melihat apa yang ditulis-Nya untuk kita.

Dulu ketika aku berusaha keras untuk mendengar Tuhan berbicara, secara tidak sadar aku menurunkan Alkitab ke tingkat yang lebih rendah. Aku menganggap sabda firman-Nya seperti suara-suara lahiriah lain yang mudah ditangkap telinga. Aku bingung dengan kata-kata temanku dulu yang bilang ‘mendengar suara Tuhan’ sehingga aku lupa bahwa suara-Nya dapat didengar melalui Alkitab.

Alkitab berisikan kata-kata yang diilhamii oleh Allah. Meskipun Alkitab ditulis oleh manusia, Tuhanlah yang melakukan pekerjaan itu dan berbicara melalui penulisnya. Artinya, ketika Paulus menulis kepada jemaat Kolose untuk mengingatkan mereka akan suatu kebenaran, Allahlah yang berbicara melalui Paulus kepada mereka, dan Tuhan yang sama juga sedang berbicara melalui firman kepada kita hari ini.

Kebenaran inilah yang memberiku kepastian tentang imanku. Sepanjang upayaku untuk mencari tahu bagaimana mendengar suara-Nya, ada banyak waktu ketika aku berpikir bahwa akhirnya aku mungkin mendengar Dia berbicara. Aku sering membayangkan kalau nanti aku pasti bisa mendengar suara Tuhan secara audibel dan aku menjawab, “Apa, Tuhan? Apakah Engkau mau aku pergi ke restoran itu hari ini?”

Meski suara seperti itu sering dianggap sebagai suara Tuhan, aku tak bisa sungguh yakin jika itu adalah Tuhan yang berbicara. Namun, saat aku membaca dan mempelajari Alkitab, aku bisa yakin 100 persen bahwa itulah sabda Sang Pencipta alam semesta buatku. Keyakinan inilah yang menjadi dasar iman kita. Dengan firman-Nya kita bisa punya keteguhan hati untuk membuat keputusan sulit sembari yakin bahwa tindakan kita berkenan pada-Nya.

Alkitab itu kaya, tetapi kita hanya akan menemukan kekayaan yang akan membuat iman kita bertumbuh jika kita bersedia menggalinya. Aku tidak pernah bisa menanyakan apakah Tuhan ingin saya melakukan sesuatu karena saya dapat membacanya dengan jelas di dalam Alkitab. Kita yang hidup pada zaman kini mungkin tak akan mendengar suara Tuhan menjawab kita dengan menggelegar ketika kita bertanya boleh tidak melakukan ini dan itu… tetapi kita selalu menemukan jawabannya dari apa yang kita baca di Alkitab. Hubunganku dengan Tuhan pun tak cuma bergantung pada pengalaman pribadi, tetapi berakar pada keyakinan bahwa Roh Kudus yang bekerja dalam hatiku melalui firman yang kubaca.

Aku yakin meskipun komunikasi dengan Tuhan di luar Alkitab mungkin ada, itu tidak dapat menggantikan—atau bahkan sama pentingnya dengan—cara Tuhan berbicara pada kita melalui Alkitab. Seperti yang dikatakan John Piper, seorang teolog Kristen, “Ada sesuatu yang sangat salah ketika kata-kata yang kita dengar di luar Kitab Suci lebih kuat dan lebih berpengaruh pada kita daripada firman Allah yang diilhami-Nya.” Lagipula, jika kita bertanya-tanya apa yang ingin Tuhan katakan pada kita, bukankah seharusnya kita mulai dengan apa yang telah dengan sengaja Dia berikan untuk jadi petunjuk kita?

Aku mungkin tidak punya petunjuk khusus tentang kehidupan sehari-hariku seperti yang mungkin dimiliki teman-temanku. Tetapi dengan mendengar apa yang Tuhan katakan melalui Alkitab, aku jadi lebih akrab dengan karakter-Nya, dan ini melengkapiku untuk membuat keputusan sehari-hari yang aku tahu akan sejalan dengan apa yang Dia perintahkan untuk kita lakukan.

Misalnya, ketika memutuskan kalau aku harus mengambil pekerjaan part-time sementara masih kuliah, aku mempertimbangkan apa yang Dia katakan kepada orang-orang Tesalonika dalam 1 Tesalonika 4:11-12, untuk bertanggung jawab dan tidak menjadi beban bagi orang lain dalam Gereja. Namun, aku juga mempertimbangkan apa misi para murid—untuk menyebarkan Injil dan mendorong sesama dalam Kristus. Apakah dengan memiliki pekerjaan paruh waktu masih memungkinkanku untuk mencapai hal-hal tersebut?

Jadi, hari ini aku tidak lagi iri atau menginginkan pengalaman yang teman-temanku miliki, karena aku tahu bahwa tiap hari ketika aku membuka Alkitab, Tuhan berbicara padaku. Tidak dapat disangkal, jelas, dan menakjubkan. Aku tahu pasti bahwa ini adalah firman Tuhan yang hidup, yang memegang alam semesta di telapak tangan-Nya.

4 Salah Paham Tentang Mengikut Yesus

Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Misconceptions about Following Jesus

Apa sih artinya mengikut Yesus? Apakah itu cuma tugas dan kewajiban, tentang apa yang boleh dan tidak?

Kadang cara kita memandang kehidupan Kristen bisa jadi hambatan buat pertumbuhan iman kita. Ibaratnya kamu punya daftar panjang aktivitas yang harus dilakukan, tapi kamu tahu kamu tidak bisa maksimal melakukannya… jadi kamu pun berjuang susah payah untuk mencapai target. Kita tahu bahwa perbuatan baik kita bukanlah syarat untuk diselamatkan dan menerima kasih Allah, tapi kita juga tahu bahwa kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik, dan kasih Allah yang memampukan kita untuk mengasihi dan berbuat baik.

Dalam upaya kita untuk menemukan titik terang dari pengajaran ini, mudah bagi kita untuk terlalu berfokus pada satu atau dua kebenaran dengan mengorbankan kebenaran lainnya. Akhirnya kita pun jatuh pada sudut pandang yang ekstrem, yang membuat perjalanan kita mengikut Yesus jauh dari sukacita.

Jika kamu sulit mengalami sukacita dalam relasimu dengan Tuhan, mungkin itu karena kamu memercayai beberapa miskonsepsi tentang kasih Allah.

Miskonsepsi #1: Hidup orang Kristen itu isinya cuma penderitaan dan gak ada kebahagiaan sama sekali

Kebenarannya: Allah ingin kita mengalami kebahagiaan sejati yang berasal dari kepuasan di dalam-Nya.

Kita sering diberitahu bahwa penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup Kristen (1 Petrus 4:12; 1 Yohanes 3:13)… yang jika kita pahami dengan parsial akan membuat kita berpikir kalau yang Allah mau ialah kita hidup menderita dan tak boleh bahagia.

Alkitab tidak berkata bahwa mengikut Tuhan berarti menjalani hidup yang tidak bahagia. Faktanya, Alkitab memberi tahu sebaliknya—kebahagiaan dan kepuasan datang dari Allah (Pkh 3:12-13; Kis 14:17), dan Dia memanggil kita untuk bersukacita (Fil 4:4), berpuas di dalam-Nya (Maz 37:4). Perjanjian Lama mencatat banyak momen perayaan dan sukacita bagi umat Allah, dan ketika Yesus melayani di bumi, Dia bercengkrama dengan anak-anak, makan bersama, bahkan diundang ke pesta perkawinan.

Si Jahat mau kita berpikir bahwa penderitaan dan kebahagiaan tidak bisa berjalan berdampingan, dan jika Allah mengizinkan penderitaan, Dia jelas tidak suka dengan kebahagiaan. Kita pun mudah terjebak pada pemahaman bahwa bahagia itu selalu terkait dengan kenyamanan, memanjakan diri sendiri, dan hidup yang minim masalah. Semuanya tentang apa yang aku mau, apa pun kondisinya.

Allah ingin kita mengerti bahwa Dia peduli akan kebahagiaan kita dan Dia memberikannya melalui berbagai cara, entah itu dari menikmati ciptaan-Nya, merayakan hari-hari istimewa dengan orang terkasih, atau menemukan kepuasan dari pekerjaan kita. Yang terpenting, Allah ingin kita tahu bahwa kebahagiaan datang dari taat pada-Nya (Mazmur 68:3). Yesus memberi tahu kita untuk tinggal tetap di dalam kasih-Nya dengan menaati perintah-Nya supaya “sukacitamu menjadi penuh” (Yohanes 15:10-11).

Lebih dari sekadar perasaan atau khayalan, kebahagiaan yang sejati datang dari memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Pribadi yang tahu betul siapa kita, yang memberi hidup-Nya bagi kita semua, dan yang hanya akan melakukan yang terbaik buat kita.

Miskonsepsi #2: Segala sesuatu dirancangkan Tuhan untuk “mendatangkan kebaikan”, jadi pada akhirnya semua harus berhasil!

Kebenarannya: Tidak semua hal pasti berhasil, tetapi Allah selalu bekerja di dalam segala sesuatu dan melalui kita untuk kemuliaan-Nya.

Beberapa dari kita mungkin punya pemahaman dari sisi ekstrem: bahwa jika kita sungguh percaya pada Yesus, Dia akan membantu dan menjadikan semuanya berhasil seturut pikiran kita.

Namun, gagasan tentang ‘kebaikan’ versi kita seringkali berbeda dari versinya Tuhan. Dalam ayat Roma 8:28, kita mungkin berpikir bahwa “…mendatangkan kebaikan” itu kebaikan yang sesuai dengan yang kita harapkan.

Hasilnya, ketika keadaan kita tidak membaik, kita menerka-nerka apakah Tuhan tidak peduli, atau mungkin iman kita kurang besar? Kita terbiasa dengan pemahaman “kerja keras pasti sukses”, dan kita pun akhirnya menciptakan pemikiran sendiri akan isi Alkitab bahwa ketika Yesus menjanjikan hidup yang ‘penuh’ itu berarti tentang menerima lebih dan lebih. Jika kerangka pikir ini kita pakai, alhasil kita akan bingung: apa arti ikut Tuhan kalau gak membuat hidup kita jadi lebih baik?

Roma 8:28 memang membahas soal ‘kebaikan’, tetapi konteks sebenarnya adalah Allah tidak hanya rindu untuk mengubah keadaan kita, tetapi Dia bekerja di dalam dan melalui kita untuk kebaikan kita dan kemuliaan-Nya, supaya kita menjadi serupa dengan Putra-Nya (Roma 8:29). Artinya, meskipun hasil baik yang kita harapkan tidak terwujud, Allah bekerja di dalamnya sehingga kita diubah menjadi semakin baik. Kita bertumbuh dewasa, lebih sabar, dan semakin serupa dengan Kristus melalui momen-momen sulit.

Karena itulah kita dapat tegar beriman meskipun keadaan ada di luar kendali kita. Seperti orang-orang kudus yang telah mendahului kita, menaati perintah-Nya, percaya pada pribadi dan waktu-Nya, Allah sendiri yang akan meneguhkan iman kita dengan Roh Kudus-Nya dan Dia berjanji menyertai kita setiap saat.

Miskonsepsi #3: Kamu gak boleh punya keinginan, semuanya hanya tentang maunya Tuhan, iya kan?

Kebenarannya: Allah memberi kita keinginan dan kehendak bebas. Ketika kita membawa semua ini kepada-Nya, Dia akan menolong kita tumbuh dewasa supaya keinginan kita selaras dengan kehendak-Nya.

Miskonsepsi ketiga adalah kita berpikir bahwa ketika Yesus memanggil kita untuk ‘menyangkal diri’ (Matius 16:24), seolah Dia berkata bahwa kita tidak boleh lagi punya keinginan karena itu dianggap tidak penting. Sederhananya: kita hanya boleh ingin apa yang Tuhan juga inginkan.

Namun, cara berpikir ini membuat kita melihat dunia dari sudut pandang yang salah. Kita secara tak sadar membagi dua, antara yang ‘rohani’ dan ‘duniawi’. Contoh: kita hanya boleh membaca Alkitab dan tidak menonton Neteflix; kita hanya boleh pergi ke gereja daripada nongkrong dengan teman yang bukan Kristen… Alhasil segala aktivitas yang kita nikmati kita anggap sebagai tidak saleh dan tidak berkenan bagi Tuhan.

Ketika Allah memanggil kita untuk menyangkal diri, yang Dia minta adalah kita menyerahkan hasrat keberdosaan kita—bukan keinginan dan kepribadian kita yang unik yang Dia berikan pada kita. Jika Allah tidak peduli akan keinginan dan siapa kita, Dia tidak akan memberi kita kehendak bebas agar kita membuat pilihan. Jika yang Allah inginkan hanyalah mematahkan setiap rencana kita agar kita seperti robot, rencana penebusan-Nya dengan menunjukkan kasih bagi kita tak akan mungkin.

Coba pikirkan ini: ketika kita muda, sulit untuk mengerti mengapa orang tua kita mengatakan “tidak”, atau ketika mereka memberi sesuatu yang bukan keinginan kita. Namun, saat kita dewasa dalam berpikir, lebih mudah untuk mengerti apa yang jadi kehendak dan isi hati para orang tua.

Dengan cara yang sama, Paulus berulang kali memanggil gereja untuk bertumbuh dewasa (Ef 4-5, Fil 3) agar mereka (juga kita) mencintai hal-hal yang menyenangkan Tuhan, dan mengerti bagaimana caranya menyelaraskan talenta dan keinginan kita dengan rencana-Nya bagi kita.

Miskonsepsi #4: Yang penting mengampuni, selebihnya ya udah terserah orang itu

Kebenarannya: pengampunan itu tidak bicara soal menoleransi dosa, tetapi memilih untuk tidak membenci atau tidak berdiam diri dalam rasa sakit.

Sebagai orang Kristen, kita diajar untuk mengampuni sebagaimana kita telah diampuni, dan pembalasan itu hak Tuhan (Roma 12:19)… jadi tugas kita cuma ‘ampuni’ lalu ‘biarkan’. Pemahaman ini sering berujung menjadi rasa cuek yang justru menunjukkan ‘penerimaan’ kita terhadap perilaku berdosa tanpa meminta orang tersebut bertanggung jawab atas perbuatannya.

Kitab Mazmur menegaskan kita bahwa Alkitab tidak menganggap lalu begitu saja kejahatan dan ketidakadilan, tetapi semuanya akan dibawa pada Allah pada akhirnya. Pemazmur juga secara gamblang berseru agar Allah memberi hukuman, yang di zaman modern ini membuat kita berpikir “kok bisa Allah yang katanya penuh kasih malah begitu?”

Perjanjian Baru memberikan contoh yang tampak berkontradiksi. Orang-orang percaya dipanggil untuk saling menegur dan memperbaiki (Matius 18:15-17, Lukas 17:3), tapi di lain ayat malah dipanggil untuk jangan lagi bergaul dengan pendosa (1 Kor 5:9-12, 2 Tes 3:6, Titus 3:10).

Melalui ayat-ayat ini, kita melihat bahwa pengampunan bukanlah tentang dengan sengaja menoleransi atau mengabaikan untuk memperbaiki apa yang jelas-jelas salah, terutama di dalam tubuh Kristus, tetapi memilih untuk tidak menyimpan kebencian atau memikirkan luka yang kita alami.

Jangan biarkan pemikiran ekstrem ini mengurangi pemahamanmu tentang kasih Tuhan. Ketika keraguan dan kekecewaan muncul, larilah kepada-Nya dan mintalah pengertian. Mintalah Dia untuk membantumu merasakan dan melihat bahwa Dia baik.

Dan ketika kita belajar untuk menaati perintah-Nya bagi kita, kita juga perlu menerima ketentuan dan janji-Nya—bahwa Yesus yang hidup di dalam kita, Rohlah yang memberi kita pengertian dan kuasa, dan Allah Bapa yang akan menyelesaikan pekerjaan baik yang telah Dia mulai di dalam kita.

Pendonor yang Memberi Lebih dari Sekantong Darah

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Ada sebuah kisah haru yang pernah diceritakan Max Lucado dalam bukunya. Pada musim semi 2010, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa Taylor, puteri dari seorang wanita bernama Tara Storch. Kehilangan anak yang saat itu masih berusia 13 tahun tentu bukanlah hal yang mudah. Tara dan suaminya mengambil keputusan berani untuk menyumbangkan organ-organ tubuh Taylor kepada para pasien yang membutuhkannya. Patricia Winters adalah salah satu pasien yang sangat membutuhkan donor organ. Sehari-harinya dia cuma bisa berbaring tempat tidur karena mengalami gagal jantung dalam waktu yang cukup lama. Jantung itu pun diberikan. Dari Taylor untuk Patricia.

Tara Storch punya satu permintaan. Setelah jantung ditransplantasi, dia mau mendengarkan detak jantung sang putri dalam tubuh yang lain. Dia dan suaminya pun terbang dari Dallas menuju Phoenix untuk bertemu keluarga Winters. Saat tiba di sana, kedua ibu itu saling berpelukan. Kemudian Patricia memberikan sebuah stetoskop kepada Tara dan suaminya. Meskipun ada dalam tubuh orang lain, mereka kemudian mendengarkan detak jantung Taylor, putri yang tercinta.

Siapa yang dapat menahan air mata jika berada di sana menyaksikan keindahan itu?

Mari merenungkan kisah itu dan melihat apa hubungannya dengan kita. Apa yang dapat dilakukan Patricia sebelum dia “memiliki” jantung barunya? Kuyakin dia tidak diperbolehkan dokter untuk menikmati banyak kebersaman bersama rekan-rekannya. Dia tidak diizinkan berlari-larian, menyucurkan banyak keringat, sambil tertawa lepas berebut bola basket bersama sahabat-sahabatnya di atas lapangan yang disinari mentari sore. Dengan penyakit gagal jantung yang dideritanya, sebagian orang mungkin akan menganggapnya tidak berdaya, terbatas, tak berguna, beban, dan sekarat.

Namun sayang sekali, sebagian orang yang sama, tidak bisa melihat dirinya dalam kondisi yang jauh lebih mengerikan dari Patricia. Jika Patricia sedang sekarat karena jantungnya yang gagal berfungsi normal, maka kamu dan aku secara rohani sudah lama mati dan membusuk bersama dosa-dosa kita (Efesus 2:1). Kita tahu konsekuensi dosa adalah maut (Roma 6:23) tetapi, ingatkah kita berapa sering kita melawan Allah? Kita memandang kematian tubuh dengan ngeri, tetapi di satu sisi lainnya kita lupa bahwa tanpa Allah, rohani kita akan mati.

Kematian rohani hanya bisa diatasi apabila kita menemukan “pendonor” yang rela memberikan kita hidup. Kita butuh seorang seperti Tara Stroch, yang memiliki kebesaran hati. Beruntungnya, kita punya Sosok yang jauh lebih besar dari Tara, yaitu Bapa di surga.

Kita tidak hidup karena kekuatan kita. Kita hidup karena belas kasih dan kemurahan. Apa yang bisa kita sombongkan? Jabatan yang akan berakhir di masa pensiun? Kecantikan yang memudar seiring bertambah usia? Kekayaan yang tidak bisa dibawa mati? Sekali lagi, semua itu tidak memberikan bagi kita kepuasan sejati.

Tetapi, Anak yang dicintai oleh Bapa diberikan untuk orang seperti aku? Sang Anak itu dilecehkan. Senyum direbut dari wajah-Nya saat Dia disiksa dengan kasar. Dia menangis, menjerit kesakitan, tapi tidak melawan, padahal Dia bisa. Dia seperti domba yang dibawa ke tempat pembantaian.

Seorang penjahat menderita penyakit aneh yang mematikan dan dia butuh pendonor dan dokter spesialis. Semua dokter sudah angkat tangan dan berkata, “tidak ada harapan lagi, kami tidak punya spesialis untuk penyakit ini”. Dari pihak Palang Merah mengaku, ”kami punya banyak stok darah dengan berbagai macam golongan, tapi pasien membutuhkan jenis darah yang berbeda”.

Siapakah yang rela memberi nyawanya untuk seorang penjahat yang sepantasnya dihukum?

Ketika semua terdiam karena tidak ada satu pun yang mampu dan tidak ada satu pun yang mau, Yesus Kristus menembus keheningan. Dia mengangkat tangan-Nya, mengacungkan telunjuk-Nya, dan berkata “Aku bersedia!”

Yang amat mengagumkan, Dialah dokter ahli dalam menangani hati yang hancur dan masa lalu yang kelam. Dialah spesialis menyucikan kita dari dosa.

Dia juga Pendonornya, Dia menyodorkan bukan hanya satu atau dua kantong. Dia berkata “seluruh darah akan ditumpahkan”. Supaya penjahat itu hidup, tidak akan pernah mati, dan berjuang untuk jadi lebih baik.

Penjahat itu adalah kita.

Jika mau sembuh, jika mau hidup itu, terimalah tanda tangan berkas itu. Kuasa penebusan dari Tuhan, Sang Ilahi, akan terjadi seketika, saat ini juga.

Selalu Ada Kesempatan Kedua yang Tuhan Berikan Untukmu

Oleh Edwin Petrus, Medan

Sudah sekian lama aku tidak menginjakkan kaki di bioskop karena pandemi Covid-19. Akhirnya, pada awal Januari 2022, aku kembali memanjakan diri dengan menonton di layar lebar. Aku memilih film “Spider-Man: No Way Home.” Tidak ada alasan lain di balik pilihan ini. Spider-Man memang telah menjadi favoritku sejak Marvel merilis seri pertamanya.

Selama lebih kurang dua setengah jam menyaksikan sang manusia laba-laba beraksi, aku berulang kali memikirkan tentang frasa yang secara terus menerus dicetuskan oleh beberapa pemain: second chance (kesempatan kedua). Spider-Man sangat meyakini kalau semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Pemikiran Spider-Man ini sempat mendapatkan penolakan keras dari rekan-rekannya. Namun, adegan demi adegan terus memperlihatkan segala daya upaya dari Spider-Man yang tidak berhenti memperjuangkan kesempatan kedua kepada tokoh-tokoh yang dianggap tidak layak untuk mendapatkan kesempatan itu sekali lagi. Pada akhirnya, Spider-Man menjadi seorang yang terlupakan oleh publik, termasuk sahabat karibnya, tetapi dia tetap memilih konsekuensi itu demi kesempatan kedua.

Orang-orang sering berkata: “Seandainya saja waktu bisa diputar kembali.” Ya, mereka berharap bahwa dengan memutar kembali waktu, mereka bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat pada masa lalu. Pada kenyataannya, waktu terus bergerak maju dan keinginan untuk kembali ke waktu silam hanyalah angan-angan belaka. Kawan, sadarkah kamu kalau hidup kita sekarang ini adalah “kesempatan kedua” yang dianugerahkan oleh Allah?

Memang benar, kejatuhan manusia ke dalam dosa yang dinarasikan di Kejadian 3 seakan menutup kesempatan kedua. Keputusan dari Adam dan Hawa untuk melawan kehendak Allah telah mengantarkan mereka kepada kematian rohani, yaitu keterpisahan dengan Allah. Namun, Allah selalu membuka tangan-Nya lebar-lebar untuk menawarkan kesempatan kedua kepada kita. Sesungguhnya, kesempatan kedua itu selalu tersedia bagi semua orang.

Allah mengetahui bahwa orang-orang yang gagal ini membutuhkan kesempatan yang kedua. Ia menyodorkan solusi yang berkemenangan bagi ketidakberhasilan manusia. Ia tidak perlu memutar kembali waktu dan menghindarkan manusia untuk jatuh dalam dosa. Di dalam kasih-Nya, kesempatan kedua justru diberikan oleh Allah melalui Anak-Nya, Yesus Kristus. Melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, Allah menawarkan kesempatan kedua kepada semua orang yang mau menerima anugerah keselamatan ini. Di dalam Kristus, semua orang percaya berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, yaitu hidup kekal dengan relasi yang telah dipulihkan bersama-sama dengan Allah untuk selama-lamanya.

Kalau kita sudah memperoleh kesempatan kedua di dalam Kristus, bagaimana seharusnya respons kita terhadap kesempatan kedua itu? Aku mau mengajak kamu untuk memberikan tiga respons yang akan membuat hidupmu dipenuhi dengan damai sejahtera dari Allah.

Menerima kesempatan kedua dari Allah

Kamu pasti mengenal seorang murid Yesus yang bernama Simon Petrus. Mantan nelayan dari Galilea ini adalah pribadi yang memiliki pengaruh yang besar di dalam kelompok murid-murid Yesus. Petrus menjadi satu-satunya murid yang dengan tegas dan yakin mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13, Mrk. 8:29, Luk. 9:20). Petrus tampil beda di tengah kebimbangan dari saudara-saudaranya yang masih bertanya-tanya “Siapakah Yesus?”

Namun, jawaban Petrus yang mengesankan ini berakhir dengan tragedi di mana si pemberani berubah menjadi si pengecut. Di tengah kerumunan orang banyak yang menonton Sang Anak Allah ditangkap dan diolok-olok oleh prajurit Romawi, Petrus justru menyangkal pengenalannya terhadap Mesias sebanyak tiga kali. Petrus yang pernah tampil menonjol, harus menangis dengan penuh penyesalan karena ia gagal mempertahankan pengakuan publiknya terhadap Mesias (Mat. 26:75, Mrk. 14:72, Luk. 22:62).

Kisah kemuridan Petrus tidak berakhir di sini. Pasca kebangkitan, Yesus mendatangi Petrus secara pribadi dan berbicara empat mata dengannya (Yoh. 21). Yesus seakan mengulangi lagi momen pertemuan pertama antara mereka berdua di danau Galilea (bnd. Mat. 4:18-22). Yesus memberikan kesempatan yang kedua kepada Petrus untuk menjalankan tugasnya sebagai penjala manusia (Mat. 4:19). Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15-19). Kedua terminologi ini memang terdengar berbeda, tetapi memiliki makna yang sama. Kesempatan kedua bagi Petrus adalah menjadi saksi Injil bagi seluruh bangsa di dunia dan iapun telah menerima dan mengerjakan kesempatan kedua itu pada sisa hidupnya.

Kawan, kesempatan kedua dari Yesus juga tersedia buat kamu hari ini. Masa lalumu yang kelam bukan persoalan bagi Dia, karena kedatangan-Nya adalah untuk memulihkan hidupmu. Yesus memiliki rencana yang luar biasa dalam hidupmu. Oleh karena itu, Dia mau memberimu kesempatan kedua. Aku sudah menerima kesempatan kedua ini. Yuk, jangan sungkan untuk menerima anugerah Ilahi itu pada hari ini dan jangan sampai kelewatan ya karena kesempatan kedua belum tentu juga datang dua kali ya kawan.

Menghidupi kesempatan kedua pada diri sendiri

Kesempatan kedua akan mengubahkan setiap anak-anak Tuhan menjadi manusia baru di dalam Yesus. Rasul Paulus mengatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Kor. 5:17). Ketika setiap anak Tuhan sudah menerima kesempatan kedua, kita bertanggung jawab untuk menghidupi kesempatan kedua sesuai dengan kehendak Allah.

Hidup sebagai manusia baru di dalam kesempatan kedua adalah hidup yang dipenuhi dengan ucapan syukur. Chuck Colson adalah seorang mantan narapidana yang sudah putus asa dengan keadaan dirinya; belum lagi, anaknya juga terjerat kasus narkoba. Namun, di balik jeruji penjara, ia mengalami pembaruan iman melalui saudara-saudara seiman yang selalu silih berganti menjenguknya dan berdoa baginya siang dan malam. Iman Colson kembali diteguhkan dan ia juga mendapatkan visi baru untuk dapat melayani para narapidana dan keluarga mereka serta memberikan bantuan hukum. Setelah menghabiskan masa tahanannya, ia mendirikan Prison Fellowship (Persekutuan Penjara) pada 1976 dan sampai hari ini, organisasi nirlaba ini masih eksis untuk membawa pengharapan kepada mereka yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu.

Kawan, mungkin kamu seperti aku yang mempunyai kebiasaan untuk menuliskan resolusi di awal tahun. Ya, kita pasti mengidamkan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru. Resolusi-resolusi itu hanya akan berupa tulisan yang mati jika kita tidak pernah menghidupi kesempatan kedua itu. Ketika suara alarm membangunkan kita dari tidur, inilah penanda bahwa hari baru telah dimulai dan saatnya bagi kita untuk kembali menjalani kesempatan kedua. Di dalam tuntunan Roh Kudus, kita dipimpin untuk menghidupi iman kita di dalam Kristus agar hidup kita semakin memuliakan Allah.

Aku pun menyadari kalau sering kali diri kita sendirilah yang justru menjadi penghalang untuk bisa menikmati kesempatan kedua itu. Sejuta alasan menjadi dalih yang terus menghantui dan menghakimi kita. Aku terlalu lemah dan tidak berdaya, aku tidak bisa memaafkan diriku, kesalahanku yang sangat buruk, trauma itu terlalu mendalam buatku, aku menderita luka batin yang amat menggores hatiku, aku itu sampah busuk…. Benar gak kawan?

Namun, bukankah salib Kristus sudah membereskan semua masa lalu kita dan kasih anugerah-Nya lebih besar dari semua ketidaklayakan yang pernah kita bayangkan itu? Yuk, jalani kehidupan dalam kesempatan kedua bersama Yesus dengan penuh antusias! Ingat kawan, kesempatan kedua terkadang tidak datang dua kali. Jadi, mari kita berjuang menghidupi kesempatan kedua seolah-olah itu adalah kesempatan terakhir kita.

Memberi kesempatan kedua bagi orang lain

Kawan, setelah kita memperoleh kesempatan kedua dan menghidupi kesempatan kedua itu, saatnya bagi kita untuk memberi kesempatan kedua kepada orang lain. Siapa sih yang tidak butuh dengan kesempatan kedua?

Markus, sang penulis Injil Markus adalah seorang yang mendapatkan kesempatan kedua dari rekan pelayanannya, Paulus. Kisah Para Rasul 15:35-41 mencatat bahwa Markus menjadi penyebab perselisihan sengit antara Barnabas dan Paulus. Barnabas ingin mengajak Markus lagi dalam perjalanan misi mereka berikutnya, tetapi Paulus menentang hal ini. Markus pernah diajak dalam perjalanan sebelumnya, tetapi dia tidak menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik.

Kesalahan yang pernah dibuat oleh Markus bukan menjadi akhir dari segalanya. Paulus tidak langsung mendaftarhitamkan Markus di dalam tim pelayanannya. Markus kembali mendapatkan kesempatan kedua dari Paulus. Di kemudian hari, Markus dan Paulus bekerja sama lagi bagi pemberitaan Injil. Markus pernah diutus oleh Paulus untuk mewakilinya di dalam mengunjungi jemaat di kota Kolose (Kol. 4:10). Markus pun pernah mendapatkan pujian dari Paulus bahwa pelayanannya adalah penting bagi Paulus (2Tim. 4:11).

Kawan, aku menyadari bahwa memberi kesempatan kedua memang terasa lebih sulit dibandingkan dengan menerima dan menikmati kesempatan kedua itu. Kita sering memandang bahwa kegagalan orang lain lebih besar daripada kesalahan kita. Namun, kemampuan untuk bisa memberi kesempatan kedua menunjukkan kedewasaan rohani kita. Jikalau kita masih sulit memberikan kesempatan kedua itu bagi orang lain, kita bisa berdoa dan meminta Roh Kudus yang melembutkan hati kita untuk melakukan hal itu. Yesus sendiri yang mengajarkan kita untuk bisa mengampuni dosa orang lain sebagaimana kita telah diampuni oleh Bapa di surga (Mat. 6:12). Dia juga pasti rindu untuk memampukan kita melepaskan kesempatan kedua bagi sesama kita.

Damai sejahtera dari Allah baru dapat kita rasakan dengan utuh jika kita sudah menerima kesempatan kedua dari Allah, menghidupi kesempatan kedua pada diri sendiri, dan memberi kesempatan kedua bagi orang lain. Kawan, sudahkah kamu melakukan ketiga hal ini?

4 Hal Istimewa dari Kisah Yesus dan Perempuan Samaria

Oleh Paramytha Magdalena

Apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar Samaria?

Dari sebuah literatur yang kubaca, Samaria merupakan kata yang mengacu kepada tempat di wilayah pegunungan antara Galilea di utara dan Yudea di selatan. Orang-orang yang tinggal di sana disebut juga sebagai orang ‘Samaria’. Pada masa-masa pelayanan Yesus di bumi, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.

Kalau kita menelisik lebih lagi, Alkitab mencatat dengan jelas bagaimana relasi antara orang Samaria dan Yahudi dalam kehidupan sehari-hari. Yohanes 4:9 menuliskan demikian: “Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)”. Orang-orang Yahudi menganggap orang Samaria itu kafir atau ras tidak murni karena mereka melakukan perkawinan campur dengan bangsa lain.

Kisah orang Yahudi dan Samaria yang tercatat di Alkitab memunculkan paradoks, terlebih jika kita menyimak detail kisah pertemuan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Perempuan itu mengambil air sekitar tengah hari, mungkin maksudnya agar dia tidak berjumpa dengan banyak orang. Namun, dia malah berjumpa dengan Yesus, seorang Yahudi yang notabene bermusuhan dengan orang Samaria.

Respons Yesus kepada perempuan itu luar biasa. Alih-alih menjauhinya, Yesus malah meminta minum darinya. Di sinilah Yesus menunjukkan cinta dan kasih Tuhan yang manis itu.

Ada 4 hal istimewa yang kudapatkan dari pertemuan Perempuan Samaria dan Yesus.

1. Apa pun latar belakang kita, kita dicintai dan diterima oleh Yesus

Perempuan Samaria ini memiliki latar belakang dan perilaku yang bisa dikatakan buruk karena sering berganti pasangan. Bahkan pasangan yang saat itu bersama dengannya bukanlah suaminya (ayat 18). Jadi, bukanlah hal yang mengejutkan lagi jika sikap orang sekitarnya akan menjauhi atau bahkan memandang rendah. Akan tetapi, Yesus mau menemui secara pribadi dan menghampiri perempuan tersebut.

Betapa seringnya aku berpikir bahwa aku harus melakukan semua hal dengan baik dulu agar bisa merasa layak dikasihi dan diterima oleh-Nya. Yesus menerima kita bukan berdasarkan apa yang kita perbuat, tetapi karena kasih-Nya sajalah (Roma 5:10).

Perempuan Samaria ini tidak melakukan apa-apa untuk membuat Yesus tertarik menemuinya. Cinta dan penerimaan-Nya tidak berdasar pada moral, status sosial, latar belakang, pengalaman, maupun kegagalan seseorang. Kasih-Nya adalah sebuah pemberian dan anugerah. Jadi, setiap kita memiliki kesempatan yang sama untuk menikmatinya.

Apakah kita mau menerima cinta-Nya dan memberikan cinta kita pada-Nya?

2. Kita dicari, ditemukan, dan diselamatkan oleh Yesus

Perempuan Samaria menimba air di sumur saat siang hari. Ini bukanlah kebiasaan yang lazim. Ia menyadari keadaannya dan berusaha menghindari orang-orang dengan datang ke sumur ketika sedang sepi dari perempuan-perempuan lain. Namun, Yesus sengaja bertemu dengannya dan menawarkan air kehidupan yaitu keselamatan.

Ini mengingatkanku akan seberapa seringnya aku bersembunyi, menghindari, dan lari dari berbagai macam situasi, orang-orang, bahkan dari Tuhan karena besarnya perasaan malu dan ketidaklayakanku. Akan tetapi berita baiknya adalah Dia rela datang untuk menyelamatkan kita yang terhilang agar bisa diselamatkan (Yohanes 1:29). Tidak ada perlindungan teraman selain di dalam-Nya dan tidak ada tempat yang teramat sulit untuk Dia bisa menemukan kita. Asalkan kita mau diselamatkan oleh-Nya.

3. Tuhan rindu berelasi dengan kita

Ketika Yesus bertemu dengan perempuan Samaria, ada percakapan antara mereka berdua. Bagian ini menarik buatku karena dari sini aku melihat bahwa Yesus tidak sekadar datang ke dunia untuk menebus dosa, tetapi juga berelasi dengan manusia. Lewat percakapan sederhana itu, Dia mendengar apa yang jadi kerisauan umat-Nya.

Apakah tentang kejatuhan, kegagalan, ketakutan, atau yang lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita mau bercakap-cakap denganNya? Dia siap mendengar dan menyegarkan kita dengan kebenaran-Nya.

4. Kita dapat mengakui dengan jujur isi hati kita

Dalam percakapan-Nya, Yesus menyuruh perempuan Samaria untuk memanggil suaminya, tetapi sang perempuan menjawab, “Aku tidak mempunyai suami” (ayat 17). Yesus lanjut merespons, “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar” (ayat 18).

Coba kita perhatikan lagi ucapan Yesus. Kendati Yesus tahu bahwa perempuan Samaria itu bergonta-ganti pasangan, tetapi tidak ada penghakiman yang keluar dari mulut-Nya. Maksud Yesus di sini bukanlah dia membenarkan dosa yang diperbuat oleh sang perempuan, tetapi Dia hendak menunjukkan keselamatan yang sejati (ayat 21-24).

Sebelum sang perempuan mengakui identitasnya, Yesus telah tahu lebih dulu, tetapi Dia ingin kita mengakui dengan jujur dan rendah hati apa yang telah kita lakukan. Ini bukanlah demi kepentingan Tuhan, tapi demi kepentingan kita. Karena saat kita mengakui dengan jujur dan rendah hati kepada-Nya atas segala yang kita perbuat, dan kita menyadari kesalahan serta berbalik kepada-Nya, maka akan tersedia pemulihan dan pengampunan-Nya bagi kita.

Apakah kita mau mengakui bahwa kita telah berdosa dan membutuhkan anugerah kasih pengampunan-Nya setiap waktu?

Baca Juga:

4 Pertanyaan Penting Sebelum Memulai Hubungan yang Serius

Pernikahan adalah sesuatu yang aku inginkan sedari kecil, semenjak aku melihat dan mempelajari dari kedua orang tuaku tentang apa rasanya berada dalam pernikahan. Tapi sebelum memulai relasi yang mengarah ke sana, kuajukan dulu 4 pertanyaan ini pada diriku.

Tentang Doa yang Tidak Terkabul: Apakah Kita Kurang Sungguh Berdoa?

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Ada seseorang yang telah berdoa dengan bersungguh-sungguh dan meneteskan banyak sekali air mata. Dia berseru kepada Tuhan bagai pengemis kurus kelaparan yang sedang meminta-meminta, memohon belas kasihan dari Tuhan yang kuasanya tak terbatas.

Namun, sayang sekali, kegigihannya berdoa itu tidak memberikan hasil yang diinginkannya. Orang yang amat dia cintai berakhir tak berdaya, tanpa nyawa dalam sebuah ruangan di rumah sakit. Tindakan operasi tidak menyelamatkan anaknya dari penyakit mematikan yang telah menyiksa selama bertahun-tahun. Singkat kata, perjuangan bertahan hidup diakhiri dengan getir.

Penyakit kronis itu telah merusak kondisi tubuh sang anak. Kepalanya membengkak. Tanpa terganggu dengan penampakan jenazah, dengan wajah datar sang ibu memandangi tubuh anaknya tercinta yang telah kaku.

Setelah upacara pemakaman selesai, dia berteriak keras, menembakkan ribuan peluru keluhan yang menghujam hati para pelayat. “Aku telah berdoa pada Allah yang Mahakuasa. Aku tahu tentang kisah-Nya yang mengubah air dalam tempayan menjadi anggur dengan kualitas nomor satu hanya untuk sebuah pesta, dan aku tidak meminta lebih. Aku hanya meminta-Nya setetes belas kasihan.” Lanjutnya lagi, “Aku mau menagih sebuah janji yang disampaikan ribuan tahun lalu oleh Dia yang tak pernah ingkar melalui hamba-Nya, ‘Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya’” (Yakobus 5:16b).

* * *

Kisah pilu di atas berbicara tentang seorang Kristen yang telah menghabiskan begitu banyak energi saat dia berjuang demi kesembuhan orang terkasihnya. Dia membeli obat yang mahal, mengunjungi dokter terbaik, memanjatkan doa bertubi-tubi. Namun, ketika pada akhirnya keadaan berkata lain, jauh dari apa yang diharapkan, dia, dan juga banyak orang percaya menjadi kebingungan.

Fenomena ini membangkitkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang terkesan usang tetapi terus bergema di sepanjang zaman bagi para pengikut Kristus. Apakah tidak terkabulnya doa itu karena seseorang kurang bersungguh-sungguh? Apakah perkataan Yakobus dapat dipercaya?

Suka atau tidak suka, tentu saja pada saat kita melihat ayat-ayat dalam Alkitab kita tidak bisa sembarangan mengartikannya sesuai dengan kemauan kita. Sebenarnya, bukan hanya Alkitab, prinsip yang sama juga berlaku pada semua tulisan di mana konteks harus benar-benar diperhatikan. Kegagalan melihat konteks dapat membuat kita gagal paham, atau tragisnya: tersesat. Sampai di sini, aku harap kamu tidak bingung atau takut, lalu berhenti membaca tulisan ini. Aku tidak akan mengajakmu untuk mempelajari Hermeneutika (ilmu menafsir Alkitab) sebanyak tiga sampai empat SKS.

Aku ingin mengajakmu menaruh perhatian lebih serius pada isu krusial ini. Jika kamu belum berdoa saat membaca tulisan ini, adalah baik untuk berdoa memohon hikmat dari-Nya.

Menelaah maksud tulisan Yakobus

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16b).

Ada satu hal yang harus kita ketahui terlebih dulu saat membaca perkataan Yakobus ini. Di sana, setelah ayat 16, Yakobus turut menyertakan kisah tentang Elia yang berdoa agar langit menahan dan menurunkan hujan yang dikutip dari 1 Raja-raja 8:41-46. Bagi kita yang telah membaca kisah itu, secara cepat kita mungkin langsung tahu bahwa tujuan utama dari mukjizat Elia bukanlah untuk dirinya sendiri. Elia tidak meminta Allah mengendalikan langit agar dia dipuji oleh mereka yang menyaksikannya, atau sekadar demi kepuasan hati Elia semata. Semua hal menakjubkan yang dilakukan Elia ditujukan bagi kemuliaan Allah yang mengasihi umat-Nya. Hal ini mungkin terasa asing bagi sebagian orang yang pemahamannya tentang doa adalah mengenai pemenuhan dan pemuasan bagi si pendoa. Dari kisah Elia, kita mendapati bahwa fokus utama dari doa Kristen bukanlah untuk itu, melainkan untuk kemuliaan Allah.

Maksud dari pernyataanku pada paragraf di atas bukan berarti kita tidak boleh mencurahkan isi hati dan permohonan kita kepada Allah. Aku dan kamu dapat menangis di hadapan-Nya. Allah adalah sahabat kita. Namun di sini, aku mendorong kita untuk memusatkan segala kerinduan hati kita kepada kemuliaan-Nya ketika kita sedang berdoa. Mungkin pandangan ini terkesan keras, tetapi kita perlu mengingat bahwa ketika kita memiliki fokus lain selain Allah dalam hidup kita—termasuk di dalam doa—itu dapat dikategorikan sebagai ‘pemujaan berhala’. Hal-hal baik yang kita lakukan, jika didasari pada pandangan kita yang keliru bisa menuntun kita kepada dosa.

Itulah sebabnya, Yakobus menekankan kebenaran di dalam doa. Dia dengan jelas berkata tentang doa orang yang benar. Kata-kata ini tidak bisa kita sepelekan. Kata ‘benar’ menentukan begitu banyak hal yang telah dan yang akan kita definisikan dalam hidup kita.

Jika kita melihat secara keseluruhan pasal dalam ayat ini, sebenarnya ada banyak hal yang dibicarakan oleh Yakobus, tetapi perhatian kita akan kita arahkan secara khusus untuk ayat yang sering disalahpahami ini.

Jadi, apa yang dimaksud dengan “orang yang benar” oleh Yakobus?

Ada tiga hal yang sebenarnya sangat erat yang kita akan bedah bersama agar lebih mudah dipahami.

1. Orang yang benar adalah orang yang dibenarkan oleh darah Kristus

Orang yang benar adalah orang yang telah beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya Juru selamat, yang telah memberinya jaminan keselamatan melalui pengorbanan-Nya di Kalvari, sebagaimana tertulis “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Roma 5:1). Yesus memberikan kepastian akan hari esok, bukan teka-teki.

2. Orang yang benar adalah orang beriman yang hidup benar di hadapan Allah

Poin kedua ini tidak sedang berkata bahwa ada manusia yang dapat hidup sempurna tanpa cacat. Yang kumaksudkan di sini adalah orang yang telah dibenarkan karena beriman kepada Kristus yang akan berjuang hidup benar bagi-Nya. Dengan kata lain, imannya diwujudnyatakan dalam perjuangan hidupnya (Yakobus 2:14).

3. Orang yang benar adalah orang yang doanya benar

Poin ketiga ini sebenarnya mengembalikan kita pada poin yang sudah kita bicarakan sebelumnya mengenai fokus doa. Mungkin kita adalah orang yang telah dibenarkan oleh darah Kristus dan sedang berjuang hidup benar bagi kemuliaan-Nya, tetapi dalam motivasi berdoa, kita terkadang salah. Dan, sebenarnya inilah yang telah Yakobus bahas dalam pasal sebelumnya (Yakobus 4:3). Doa orang yang besar kuasanya bukan sekadar siapa pendoanya, melainkan juga apa isi doanya.

Allah tidak mengabulkan doa yang didasari atas motivasi yang salah, segigih apa pun itu.

Beberapa tahun yang lalu, seseorang memberikan kesaksian padaku saat dia kehilangan anaknya. Hatinya hancur. Dia telah berdoa agar anaknya selamat, namun hal yang diinginkannya tidak terkabul. Lalu, di suatu momen, dia mengubah isi doanya. Dia ingin agar nama Tuhan dimuliakan.

Dengan tersenyum, dia memandangku dan berkata, “Tahukah kau, Fandri, pada saat upacara pemakaman anakku, ada banyak orang dengan dengan latar belakang yang berbeda datang. Dan hari itu, mereka mendengarkan kisah kasih Injil keselamatan, kasih Tuhan melalui pengorbanan Kristus lewat sang pengkhotbah.”

Iman Kristen sejatinya bukanlah iman yang sadis, yang seolah Allah hanya bisa dimuliakan ketika kita mengalami penderitaan berat. Tapi, bukan juga iman yang dangkal, yang hanya mengharap hal-hal baik dan takut terhadap penderitaan. Dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, rupa-rupa kemalangan seringkali tidak terelakkan dalam kehidupan kita, tetapi dalam segalanya: entah baik atau buruk, Allah dapat memakai kita sebagai alat-Nya untuk memberi kebaikan bagi kita (Roma 8:28), sekaligus membawa kemuliaan bagi nama-Nya (Roma 11:36).

Kuasa kebenaran di dalam doa terjadi ketika kita telah jujur tentang apa yang kita inginkan, tetapi tetap berani berkata, “Jadilah kehendak-Mu untuk kemuliaan-Mu.”

Baca Juga:

Melajang di Usia 30+: Menyerah atau Bertahan dengan Pendirian?

Melepaskan seseorang yang cukup layak dalam standar masyarakat zaman ini menjadi sangat susah saat berada di usiaku. Aku bisa merasakan pikiranku bergulat untuk menemukan semacam kompromi.

Minggu Palma: Menantikan Pemulihan Dunia dalam Doa

Oleh Chintya Napitupulu, Bekasi

Minggu Palma selalu identik dengan peringatan disambutnya Tuhan Yesus saat Ia memasuki Yerusalem dengan menunggang keledai. Beberapa Gereja—salah satunya Gereja Katolik—juga tidak lupa membawa daun-daun palma dalam liturgi ibadah. Akan tetapi, tidak semua orang menyadari bahwa Minggu Palma juga merupakan bayang-bayang akan penggenapan kedatangan kedua Yesus Kristus dan berdirinya Kerajaan Allah di Bumi seperti di Surga.

Dalam tulisan ini, aku ingin mengajakmu menikmati kelimpahan Firman Tuhan melalui Yohanes 12:12—19. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul perikop ini sebagai Yesus Dielu-elukan di Yerusalem. Namun, perikop ini diberi judul berbeda oleh Alkitab Bahasa Inggris versi ESV. Mereka memberi judul The Triumphal Entry yang jika kita alihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira menjadi Dimulainya Kemenangan. Kalau kita perhatikan, suasana yang tergambar dalam Yohanes 12:12-19 memiliki kemiripan dengan apa yang tertulis di dalam Wahyu 7:9-10, yang menggambarkan orang-orang memuji Tuhan di hadapan takhta-Nya seraya melambai-lambaikan daun palma.

Daun palma sendiri merupakan simbol yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah penggenapan nubuat Daud mengenai Raja yang akan datang (Mazmur 118:26). Sayangnya, umat Israel zaman itu begitu ngotot menjadikan Kristus sebagai Raja yang membebaskan mereka dari penjajahan Kekasiran Romawi. Padahal, Kerajaan Kristus adalah kerajaan yang bertakhta bukan hanya untuk orang Israel, tetapi juga untuk orang-orang Batak, Jawa, Manado, dan setiap suku bangsa, oleh karena itu kita diperintahkan untuk memuridkan semua suku bangsa (Matius 28:18-20). Kita menyebut perintah ini dengan Amanat Agung. Sesuai dengan namanya, inilah perintah utama yang Tuhan amanatkan bagi tiap-tiap orang percaya—termasuk kamu dan aku. Bahkan Tuhan menjanjikan bahwa seluruh suku bangsa akan terlebih dulu mendengar Injil sebelum Tuhan Yesus datang dalam kemuliaan kelak (Matius 24:14).

Kedegilan hati Israel membuat mereka menolak kebenaran Firman Tuhan. Orang-orang Israel dalam perikop ini sebenarnya adalah representasi dari kita semua. Pasti pernah ada masa ketika kita menolak kebenaran Firman Tuhan dan memilih bersandar kepada standar kebenaran yang kita buat sendiri. Betapa kacau balau hidup ini jika kita tidak mau bersandar di dalam Tuhan dan Firman-Nya.

Janji-Janji Tuhan Mendasari Kita Berdoa

Seorang pengkhotbah bernama Voddie Baucham pernah mengatakan bahwa tidak mungkin keadilan di dunia dapat terwujud sampai Kristus bertakhta dalam kemuliaan. Hanya Kristus yang dapat mewujudkan keadilan. Mengharapkan manusia—yang naturnya sudah rusak oleh dosa—untuk mewujudkan keadilan adalah kemustahilan.

Aku ingat ketika Daniel menemukan janji Tuhan atas pemulihan Israel dalam kurun waktu 70 tahun, Daniel segera menghitung waktu yang tersisa menuju penggenapan janji tersebut. Ia mendapati bahwa waktunya telah sangat dekat, dan ia berdoa agar Tuhan segera menepati janji-Nya. Tuhan memang tidak perlu diingatkan, tetapi kita perlu mendoakan janji Tuhan. Hal ini adalah cara kita menunjukkan kepada Tuhan bahwa kita percaya penuh akan janji-janji-Nya (Daniel 9). Terlebih dahulu Daniel memohon pengampunan Tuhan dan belas kasihan-Nya kepada Israel, kemudian memohon agar Tuhan tidak membinasakan mereka. Menarik bahwa berikutnya, malaikat Gabriel memghampiri Daniel dan menyatakan bahwa Tuhan bukan hanya menyelamatkan kehidupan Israel seperti yang telah dijanjikan-Nya, tetapi juga mengutarakan janji lahirnya Mesias, yaitu Yesus Kristus, yang kelak akan menjadi Raja segala raja dan memulihkan segala sesuatu (Daniel 9:25-27)

Seperti Daniel, kita juga dapat mendoakan janji-janji Tuhan mengenai pemulihan dunia dan dipenuhinya seluruh dunia oleh kemuliaan Tuhan. Kita mungkin telah menemukan begitu banyak ketidakadilan yang menimpa umat manusia sepanjang zaman. Ketidakadilan membuat sulitnya akses terhadap pendidikan yang lebih baik, kualitas hidup yang lebih layak, fasilitas kesehatan yang memadai, dan perlakukan yang lebih manusiawi kepada para pekerja—entah itu pekerja kerah putih maupun kerah biru. Aku sendiri merasa lelah dengan berbagai berita mengenai ketidakadilan di mana-mana. Berita-berita itu terus mengalir dengan tidak henti-hentinya. Rasanya aku pun tidak tahan lagi dengan semua berita itu.

Janji kedatangan Kristus kedua kalinya bukan hanya bicara soal penghukuman atas orang-orang jahat, tetapi juga pemulihan dunia. Dunia yang telah rusak karena kejahatan akan dipulihkan menjadi dunia yang penuh damai sejahtera, kita menyebutnya Yerusalem yang baru (Wahyu 21:2). Di tempat inilah kita dapat merasakan kesempurnaan menikmati Allah. Bukankah setiap kita begitu merindukan hal-hal ini terjadi?

Mengingat janji-janji Tuhan akan pemulihan dunia yang rusak seharusnya membuat kita tidak jemu-jemu berdoa. Justru karena kita percaya Tuhan akan memulihkan dunia, kita tidak boleh berhenti menantikannya dengan cara mendoakan janji-janji pemulihan-Nya.

Di tengah dunia yang penuh sengsara, kedatangan kedua Kristus seharusnya menjadi sesuatu yang paling dinanti. Hanya Kristus yang sanggup memulihkan dunia. Berdoa atas janji-janji pemulihan dunia adalah bukti bahwa kita percaya penuh akan janji itu—bahkan janji-janji itulah yang mendasari kita untuk tidak berhenti berharap.

Kelak akan datang masanya, ketika dunia penuh damai sejahtera dan kita dapat menikmati persekutuan dengan Tuhan secara sempurna.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Renungan untuk Kaum Rebahan

Kala libur, paling asyik itu rebahan! Bangun pagi, berjalan ke meja untuk bersaat teduh, lalu kembali lagi ke kasur menikmati dinginnya udara pagi yang menempel di seluruh bagian kasur dan bantal. Ah nikmatnya!

Bukan Cuma Tentang Romantis, Inilah Sesungguhnya Kasih Itu

Oleh Aldi Darmawan Sie

Hari Valentine atau dikenal sebagai hari kasih sayang, sering kali menjadi momen yang dinanti, khususnya bagi kita para kaum muda. Kepada orang-orang yang kita kasihi, di tanggal 14 Februari kita mengungkapkan perasaan kasih itu, entah dengan sekadar ucapan selamat, atau juga dengan coklat.

Nuansa yang muncul pun identik dengan romantisme dan kemesraan. Di media sosial, orang-orang menyatakan kasih sayangnya dengan mengunggah gambar atau cerita romantis. Secara sederhana, hari Valentine membuat perasaan cinta diidentikkan dengan ungkapan perasaan suka atau sayang kepada seseorang. Bertepatan dengan momen hari kasih sayang inilah aku ingin mengajak kita memikirkan kembali tentang bagaimana Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita. Apakah cinta Allah kepada kita hanya sekedar suatu perasaan suka atau sayang?

Di dalam Alkitab, terdapat suatu model relasi yang Allah gunakan sebagai landasan untuk berhubungan dengan umat-Nya. Model relasi itu adalah perjanjian atau kovenan. Model relasi ini sangat kuat mewarnai Alkitab, dimulai dari masa Perjanjian Lama hingga diperbarui di dalam dan melalui Yesus Kristus pada masa Perjanjian Baru. Segala rencana dan karya Allah bagi umat-Nya selalu berdiri di atas dasar kovenan. Perjanjian adalah inisiatif Allah. Tujuannya adalah agar umat Allah dapat menikmati kasih dan persekutuan dengan-Nya. Salah satu ide yang menggaung kuat dari konsep perjanjian ialah komitmen. Dua pihak yang terikat di dalam sebuah kovenan akan berkomitmen untuk melakukan sesuatu yang telah disepakati di dalam perjanjian tersebut. Sederhananya, kasih Allah di dalam kerangka konsep perjanjian, bukan hanya berbicara mengenai ungkapan perasaan yang muncul dari hati, melainkan terkandung suatu komitmen untuk mengasihi umat-Nya di dalam situasi apapun.

Hal ini secara konsisten Allah tunjukkan kepada bangsa Israel. Meskipun Alkitab secara gamblang mengungkapkan sederet kegagalan bangsa Israel dalam mengasihi Allah dan memelihara perjanjian-Nya, tetapi seruan kasih Allah terus bergema untuk menarik mereka kembali menikmati kasih dan persekutuan dengan-Nya. Seruan kasih Allah tentu saja tidak terlepas dari janji-Nya untuk menjadikan umat Allah sebagai milik kepunyaan-Nya. Salah satu seruan kasih Allah telah disampaikan melalui Nabi Yeremia kepada bangsa Israel, “Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yer. 31:3).

Kasih yang kekal. Begitulah kasih Allah kepada umat-Nya. Seruan kasih Allah inilah yang dinyatakan secara sempurna di dalam dan melalui pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Salib menjadi sebuah “pertunjukkan” kasih Allah yang paling agung kepada manusia. Melalui salib, jelas bahwa kasih Allah tidak dapat kita maknai sekadar ungkapan perasaan belaka, tetapi sebagai komitmen nyata untuk mengasihi, bahkan hingga titik darah penghabisan.

Belajar dari Perjanjian Allah

Jika menilik kembali betapa indahnya kasih Allah yang terbingkai di dalam perjanjian-Nya, maka aku seolah ditarik untuk memikirkan kembali tentang apa artinya kasih. Aku merenungkan bagaimana model kasih yang sering kali dipertontonkan, entah itu melalui film, sinetron, atau lagu-lagu. Model kasih itu adalah kasih yang bersyarat. “Kamu cantik, karena itu aku jatuh cinta kepadamu. Kamu pintar, karena itu aku menyukaimu.” Mungkin saja itu membuat orang-orang terobsesi untuk tampil cantik atau tampan, hanya demi supaya dirinya dikasihi. Tentu saja, menjaga diri untuk tetap cantik atau tampan bukanlah suatu hal yang salah di dalam lensa kekristenan. Namun, ketampanan atau kecantikan seseorang seharusnya tidak menjadi dasar kelayakan mutlak agar seseorang dapat dikasihi. Model kasih seperti ini membuat kita perlu memenuhi standar yang menurut dunia sebagai suatu hal yang berharga dan diagung-agungkan, maka baru kemudian kita akan dikasihi. Jikalau model kasih ini yang diambil Allah, maka aku yakin sudah lama Allah tidak lagi mengasihi kita, karena kita jauh di bawah standar kasih Allah.

Lantas, mungkin kita bertanya-tanya, “mungkinkah ada kasih yang tak bersyarat di dunia? Mungkinkah ada kasih yang menerimaku apa adanya?”

Pencarian akan jawaban dari pertanyaan itu membuatku mengingat kembali pertunjukkan kasih Allah yang kekal, yang terekam jelas melalui pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Dari sanalah tampak riil sebuah pernyataan kasih yang tidak didasari dengan apa yang kita miliki, tetapi sebuah pertunjukkan kasih yang tak bersyarat. Meskipun kita sebagai umat-Nya sering kali gagal mengasihi-Nya, tetapi Allah tidak pernah berhenti mengasihi kita. Kasih Allah yang kekal itu, tidak pernah berhenti hanya sebatas ungkapan perasaan kasih sayang yang romantis, tetapi melampaui itu, adalah suatu demonstrasi kasih yang penuh komitmen yang begitu deras membanjiri diri kita melalui perjanjian-Nya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Secuplik Mitos tentang LDR

Banyak survey bilang bahwa pasangan LDR lebih berisiko mengalami kandasnya hubungan. Tetapi, itu tidak selalu berarti bahwa LDR adalah bentuk relasi yang buruk. Yuk kenali mitos-mitos apa saja yang sering muncul tentang LDR.

Siapakah Yesus bagi Kita? Sebuah Perenungan Menyambut Natal

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Pernahkah kamu mendengar nama Joe Biden, Xi Jinping, Camilla Rothe, Jennifer Hudson, dan Sundar Pichai? Mereka ialah segelintir dari 100 orang terpopuler di tahun 2020 versi majalah Time. Figur-figur ini dianggap memberi pengaruh besar pada masyarakat di generasi mereka. Contohnya, Camila Rothe. Pada Januari 2020 lalu spesialis penyakit menular di Munich itu menjadi salah satu orang pertama yang mendokumentasikan infeksi Covid-19 tanpa gejala. Laporannya itu pertama kali disambut dengan ketidakpercayaan, bahkan diremehkan. Tetapi, setelah banyak pasien mengalami kondisi tanpa gejala, laporan Camelia pun diterima secara luas. Kini, adanya Orang Tanpa Gejala (OTG) menjadi salah satu tantangan terbesar dalam perang melawan pandemi corona. Temuan Camilia itu telah menyelamatkan banyak jiwa. Menurut TIME, jika saja banyak orang mau mendengarkan dia sebelumnya, penyebaran lebih besar mungkin akan bisa dicegah.

Daftar 100 nama orang terpopuler berubah tiap tahun. Ada yang bertahan, ada pula yang terlempar ke luar. Namun, dari sekian banyak nama populer di setiap zaman di dunia ini, ada satu figur yang namanya selalu menempati posisi tertinggi dalam daftar orang terpopuler di lebih dari 2000 tahun terakhir. Namanya Yesus Kristus. Dailymail pada 15 Desember 2013 lalu melaporkan, Yesus adalah orang paling populer dan terpenting dalam sejarah menurut program pencarian internet baru. Nama Yesus disusul Napoleon, ada Aristoteles di peringkat 8, dan seterusnya. Software program yang dikembangkan di Amerika Serikat itu bekerja dengan cara menjelajahi internet untuk mencari pendapat warganet di seluruh dunia tentang orang-orang terkenal, dengan menggunakan algoritma khusus untuk melihat seberapa pentingnya pengaruh figur-figur populer itu hingga 200 tahun setelah kematian mereka

Yesus, Dia bukan hanya populer hingga 200 tahun setelah wafat-Nya, tetapi hingga kini pun nama-Nya masih dibicarakan orang. Putra Maria itu selama ribuan tahun telah menjadi titik tengkar sekaligus titik perdamaian. Selain karena popularitas-Nya, yang menjadi salah satu alasanku menulis tentang Dia adalah keinginan menjawab pertanyaan para sahabat kepadaku, “Mengapa kamu beragama Kristiani?” Memang, dalam pergaulan di antara kawan yang multi agama dan ras, aku jarang membicarakan tentang imanku, kecuali kepada mereka yang bertanya. Pertanyaan-pertanyaan itu pun tak jarang muncul dalam kesempatan atau waktu yang sangat singkat, sehingga untuk menjawabnya pun tidak bisa berlama-lama.

Tulisan ini kubuat bagi para sahabat yang pernah bertanya tentang alasan mengapa aku percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, juga bagi kita yang ingin sedikit “me-refresh” ingatannya tentang sosok Yesus. Isi dari tulisan ini tidak ada yang baru. Aku hanya mengulangnya saja. Ada banyak buku dan artikel yang mengulas tentang Yesus dari berbagai tradisi, baik Katolik, Ortodoks, Protestan maupun Pentakosta/Karismatik. Semoga setelah tulisan ini dimuat, akan ada diskusi-diskusi lanjutan yang menarik dengan sahabat-sahabatku itu, seperti yang sudah-sudah.

Siapakah Yesus?

Pertanyaan tentang figur Yesus sudah muncul sejak 2000 tahun lalu. Banyak orang yang keliru menafsirkan identitas Yesus sesungguhnya. Ada yang mengira Dia Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Dia nabi Elia, nabi Yeremia atau salah seorang dari para nabi (Matius 16:14). Di tengah simpang-siurnya anggapan orang tentang siapa Yesus sesungguhnya, Dia bertanya kepada para murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Lukas 9:20; Matius 16:15). Yesus bertanya kepada pengikut-pengikut-Nya yang sudah sekian lama melihat karya dan mendengar pengajaran-Nya secara langsung.

Pada waktu Dia mengajukan pertanyaan itu, seolah-olah semua murid-Nya tidak mempunyai jawaban. Tetapi ada satu murid, yaitu Petrus, yang menjawab dengan tegas, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Matius 16:16). Petrus tahu bahwa Yesus bukanlah Yohanes Pembaptis atau Elia atau seorang nabi di masa lalu. Dia lebih dari sekadar seorang reformator spiritual, lebih dari seorang pembuat mukjizat, lebih dari seorang nabi. Yesus adalah Kristus, Mesias. Anak Allah yang hidup.

Mesias

Kata “Mesias” berasal dari bahasa Ibrani, “Mashiach,” artinya “yang diurapi” atau “yang terpilih.” Pada zaman Perjanjian Lama, nabi, imam, dan raja diurapi dengan minyak ketika mereka ditetapkan untuk posisi dengan tanggung jawab ini. Urapan adalah tanda bahwa Tuhan telah memilih mereka dan menguduskan mereka untuk pekerjaan yang Dia berikan kepada mereka. Christos (Kristus) adalah padanan Yunani dari istilah Ibrani, Mesias (Yohanes 1:41). Ketika Andreas berkenalan dengan Yesus, hal pertama yang ia lakukan adalah menemui saudaranya, Simon (Petrus) dan memberi tahu dia tentang pertemuannya dengan Yesus. Andreas memberi tahu saudaranya bahwa ia telah bertemu Mesias (Kristus), dan Andreas membawa Simon kepada Yesus (Yohanes 1:41).

Ketika dalam Yohanes 1:41 Andreas mengatakan, “Kami telah menemukan Mesias,” ia ingin mengatakan bahwa pengharapan orang-orang Yahudi agar Tuhan mengirim seorang Mesias kini sudah terjawab. Mesias itu adalah Yesus. Komunitas Yahudi telah membaca nubuatan Perjanjian Lama (Yesaya 42:1; 61: 1-3; Mazmur 16, 22; Daniel 9, Dsb) yang berjanji bahwa Tuhan akan mengirimkan seorang penyelamat bagi umat-Nya, dan Andreas ingin mengatakan kepada Simon bahwa Sang Mesias yang dijanjikan itu telah datang.

Namun sayangnya, orang-orang Yahudi salah paham tentang apa yang akan dilakukan Mesias ini. Mereka membaca nubuatan tentang bagaimana Mesias akan mengalahkan musuh-musuh Tuhan dan menganggap bahwa Yesus akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Mereka mengharapkan Mesias untuk mendirikan kerajaan di bumi, di mana mereka akan menjadi penguasanya, bukan yang dikuasai. Anggapan Mesianis politis dan militeristis ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi mengabaikan peran spiritual Mesias sebagai pembebasan dari dosa dan Setan. Mereka tidak memahami bahwa kerajaan Sang Mesias bersifat spiritual, bukan politik. Hasilnya, hanya sedikit orang Yahudi yang bersedia menerima Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, sebab Dia tidak sesuai dengan pemikiran dan harapan mereka tentang apa yang akan dilakukan Mesias.

Injil berulang kali menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias—Yang dipilih oleh Tuhan dan diurapi oleh-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Matius 16:16; Lukas 4: 17-21; Yohanes 1: 40-49; 4:25, 26). Setelah kebangkitan Yesus, Petrus mengingatkan orang-orang yang mendengarkan khotbahnya tentang “Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia berkeliling sambil berkeliling baik-baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, karena Allah menyertai Dia” (Kisah Para Rasul 10:38, 39). Yesus sendiri mengaku sebagai Mesias yang dijanjikan. Ketika seorang wanita di sebuah sumur di Samaria berkata kepada Yesus, “Aku tahu bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami. Kata Yesus kepadanya: Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau” (Yohanes 4:25, 26).

Dari apa yang Injil laporkan tampak jelas, warta kepada para pembaca bahwa Yesus sebagai Mesias begitu kuat. Seperti kata Yohanes, “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yohanes 20:31). Yesus sebagai Mesias berarti Dia adalah yang dipilih Tuhan, yang diurapi untuk datang membebaskan manusia dari dosa dan Setan. Sebagai Mesias, Dia menawarkan pengampunan atas dosa-dosa manusia. Dia menjanjikan keselamatan dan tempat di kerajaan-Nya yang akan datang. “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu,… dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:28, 29).

Anak Allah

Istilah ini sering menimbulkan kesalahpahaman. “Anak Allah” merupakan istilah yang tidak bisa ditafsirkan tanpa kacamata teologi Kristiani. Yesus bukan Anak Allah dalam konteks hubungan antara ayah dan anak. Tentu, Allah tidak menikah kemudian memiliki seorang anak. Yesus sebagai Anak Allah perlu dipahami dalam konteks Dia sebagai Allah yang mengambil rupa manusia (Yohanes 1:1, 14). Yesus sebagai Anak Allah artinya, Ia dikandung oleh Roh Kudus, bukan hasil hubungan laki-laki dengan perempuan. Lukas 1:35 mengatakan, “Jawab malaikat itu kepadanya: ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.’”

Dalam konteks zaman itu, frasa ”anak manusia” digunakan untuk merujuk seorang manusia. Jadi, “anak manusia” berarti manusia, dan “Anak Allah” berarti Allah itu sendiri. Pada waktu Yesus dihakimi para pemimpin Yahudi, Imam Agung memerintahkan Yesus, “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak” (Matius 26:63). “Engkau telah mengatakannya,” Yesus menjawabnya. “Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit” (Matius 26:64). Para pemimpin Yahudi merespons dengan menuduh bahwa Yesus telah menghujat Allah (Matius 26:65-66). Kemudian, di hadapan Pontius Pilatus, “Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: ‘Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah'” (Yohanes 19:7).

Mengapa mengklaim sebagai Anak Allah dianggap penghujatan dan layak dihukum mati? Para pemimpin Yahudi tentu mengerti apa yang dimaksud Yesus dengan ungkapan “Anak Allah.” Menjadi Anak Allah adalah sama dengan Allah. Klaim yang menyamai natur Allah adalah sama dengan menjadi Allah, dan itu dianggap penghujatan bagi para pemimpin Yahudi, sehingga mereka menuntut kematian Yesus sesuai dengan Imamat 24:15. Ibrani 1:3 mengungkapkan hal ini secara jelas, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.”

Mengapa Allah-Manusia?

Dari uraian di atas dapat kita pahami dwinatur Yesus, yaitu sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Di dalam Yohanes 1:14, kita mengetahui bahwa melalui sabda, Allah menyingkapkan diri-Nya dengan berbagai-bagai cara sampai dengan puncaknya, yaitu inkarnasi-Nya menjadi manusia Yesus. Namun pertanyaannya, “Mengapa Allah-manusia?” Atau, “Mengapa Person ilahi dengan hakikat Allah (Sang Putra) harus menambahkan hakikat kemanusiaan menjadi hakikat-Nya juga?” Jika Dia Allah yang Mahakuasa, mengapa inkarnasi menjadi satu-satunya pilihan-Nya untuk menyatakan karya penyelamatan?

“Mengapa Allah-manusia?” Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan umum. Tidak juga dialamatkan kepada pikiran umum. Mengapa Allah (mengambil rupa) manusia (Cur Deus Homo) adalah pergumulan khas komunitas Kristen, yaitu orang-orang yang mendapat sapaan intim dari Sang Pencipta. Ini pertanyaan untuk kita. Di dalam konteks inilah, Cur Deus Homo sejak awal memang tidak diarahkan kepada mereka yang tidak percaya, apa lagi sekadar untuk memuaskan dahaga intelektual mereka.

Secara doktrinal, banyak usaha telah dilakukan dalam konteks teologis dan filosofis untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini. Solusi yang ditawarkan Anselmus (bahwa iman akan menuntun kepada pengertian) sudah lama berlalu dan tidak membuahkan hasil yang manis, bahkan masih menyisakan pertanyaan. Cur Deus Homo adalah suatu pertanyaan yang menuntut respons, ketimbang jawaban. “Mengapa Allah mengambil rupa manusia” bukanlah pertanyaan yang mengetuk pintu kognitif, melainkan menggedor-gedor gerbang hati yang berkarat.

Secara teologis, Cur Deus Homo dipahami sebagai pertanyaan batiniah manusia, yang merupakan respons terhadap panggilan dan tindakan Allah yang menantang, karena Ia telah mengutus Putra-Nya ke dalam dunia. Tindakan Allah ini menuntut suatu respons yang penting, sehingga inti dari permasalahannya bukan terletak pada pertanyaan “Bagaimana?” melainkan “Mengapa?” dalam keperluan ontologis dan apriori. Aku percaya, filsafat analitis menyediakan beberapa titik terang bagi kita untuk memahami kata “Mengapa” dalam pertanyaan ini.

Kata “Mengapa” biasanya mengandung dua aspek umum, yaitu kepedulian pragmatis dan keperluan ontologis (mencari hakikat). Menerapkan orientasi pemikiran yang terarah pada pertanyaan teologis tentang Cur Deus Homo, sadar atau tidak sadar, kita selalu memusatkan perhatian kepada orang yang bertanya. Dalam hal ini, pertanyaan teologis menjadi pertanyaan antropologis, sehingga doktrin Kristen hanya akan melayani minat para pemercaya dan pertanyaan-pertanyaan mereka.

Sang Putra menjadi manusia dan berdiam di antara manusia karena kemauan Bapa-Nya (Yohanes 20:21). Tuntutan Allah adalah menghukum manusia berdosa, karena upah dosa adalah maut (Roma. 6:23), tetapi Dia rela mengutus Putra-Nya menggantikan manusia untuk menerima hukuman. Singkatnya, dalam drama ini Yesus Kristus harus memenuhi dua persyaratan sebagai Pengganti (penebus manusia berdosa): Pertama, Ia adalah manusia; Kedua, Ia tidak berdosa. Dan Ia memenuhinya.

Penjelasan di atas cukup memadai, namun pertanyaan “Mengapa Allah-manusia?” tahun demi tahun akan terus mewarnai hati orang percaya. Orang Kristiani yang rata-rata tidak akan menanyakannya, hanya yang bergumul serius dengan imannya yang melakukannya. Orang Kristiani sejati berkomitmen penuh menerima kedatangan-Nya sebagai Mesias dan Anak Allah, Raja di atas segala raja, dan selalu mengingat “Kita hidup oleh iman kepada Putra Allah yang mengasihi kita dan memberikan diri-Nya bagi kita.” (Galatia 2:20).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Lepaskan Khawatirmu Supaya Kamu Mendapat Kedamaian

Naluri alamiahku ketika menghadapi kabar buruk adalah khawatir, over-thinking, dan panik. Tidakkah aku berdoa? Ya, aku berdoa. Tapi, doa yang kunaikkan bukan berasal dari hati, itu doa yang didasari putus asa dan kesuraman.