Tuhan Bukan Kepo, Tapi Dia Mau Kepo-in Kamu

Oleh Edwin Petrus, Medan

Sebagai seorang pecinta kopi, aku cukup sering memesan kopi. Apalagi kalau otakku sudah buntu dan mulai mumet dengan pekerjaan yang harus diselesaikan, aku mendengar sanubariku berteriak: “Aku butuh kopi!” Segera saja aku menjelajahi aplikasi pemesanan makanan untuk mencari restoran favoritku. Aku sudah beberapa kali memesan makanan dan minuman dari restoran ini, tapi kali ini aku menemukan sesuatu yang berbeda di kemasan pembungkusnya. 

Di kantong plastik yang diantarkan oleh kurir berhelm hijau itu, ada sebuah kartu yang diselipkan di antara es kopi susu dan camilan yang aku pesan. Kartu itu tampak mencolok, warnanya kuning. Aku penasaran dengan isinya. Saat kubuka,  kulihat isi pesan yang ditulis oleh si penjual yang mengucapkan terima kasih disertai sebuah ayat yang sudah tidak asing lagi.

Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1 Korintus 10:31). 

Ayat firman Tuhan itu bisa jadi terdengar klise. Namun, bagiku yang sedang mencurahkan isi otakku dengan mencoret-coret di atas kertas kosong, aku disadarkan bahwa ada Tuhan yang rindu menuntun aku dalam segala urusan dan perencanaan hidup. Tuhan menunjukkan bahwa Dia mau “kepoin” aktivitas sehari-hariku yang rutin dan sepele sekali pun, agar aku bisa memuliakan-Nya bahkan melalui makanan dan minuman yang aku santap. Kalau begitu, bukankah Tuhan juga pasti mau memimpinku untuk merencanakan dan mengerjakan hal-hal besar, agar melalui hidupku, kemuliaan-Nya dapat dinyatakan? 

Sampai sini, aku menyadari kalau ternyata selama ini aku gagal paham dengan kerinduan Tuhan yang ingin terlibat dalam setiap agenda kehidupan anak-anak-Nya. Kawan, mungkin kamu juga baru menyadari hal ini. Dan dari kejadian ini, aku membagikan tiga refleksiku:

1. Tuhan mau terlibat dalam segala rancangan kita, baik yang sederhana maupun kompleks

Sering kali, kita hanya melibatkan Tuhan dalam membuat rencana besar yang membutuhkan pemikiran dan pertimbangan matang. Seperti saat kita mempersiapkan studi lanjutan, pernikahan, pekerjaan baru, perpindahan ke rumah baru, atau pengobatan untuk penyakit kronis. Kita akan berdoa dengan sungguh-sungguh akan hal-hal itu, bahkan berdiskusi dengan hamba Tuhan atau kakak rohani di gereja untuk mencari tahu kehendak-Nya. Namun, kita cenderung mengabaikan tahapan bergumul dan bertanya kepada Tuhan ketika kita merencanakan hal-hal simpel dalam hidup. 

Aku terkesima dengan kesaksian dari seorang ibu rumah tangga yang setiap harinya selalu berdoa sebelum memasak. Singkatnya, ia menyerahkan seluruh proses dalam mengolah makanan pada hari itu kepada Tuhan, dan memohon pimpinan Tuhan agar ia bisa menghidangkan makanan yang lezat dan sehat bagi suami dan anak-anaknya.

Kita terkadang berpikir bahwa Tuhan tidak tertarik untuk tahu dan mengurusi hal-hal remeh. Padahal, sebenarnya kita salah besar. Rasul Paulus menuliskan:Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).

2. Tuhan rindu hadir di tengah-tengah kehidupan kita karena Dia adalah Imanuel

Imanuel atau Allah menyertai kita bukan hanya suatu sebutan untuk Sang Mesias yang telah dinubuatkan kelahiran-Nya oleh nabi Yesaya (Yesaya 7:14). Inkarnasi Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus adalah bukti bahwa Sang Mesias itu telah hadir di tengah-tengah umat-Nya.

Yesus Kristus telah menyelesaikan misi-Nya di dunia, dan Dia telah kembali ke kerajaan-Nya. Tetapi, Dia meninggalkan sebuah janji, yaitu akan menyertai umat-Nya sampai kepada akhir zaman  (Matius 28:20). Janji ini pun telah digenapi ketika Roh Kudus dicurahkan kepada setiap orang percaya. Inilah bukti bahwa Allah hadir di dalam kehidupan anak-anak-Nya. 

Namun, nama Imanuel biasanya hanya menjadi sebuah sebutan pada masa menjelang Natal. Begitu bulan Desember berlalu, sebutan Imanuel itu pun sirna. Padahal, janji penyertaan Tuhan adalah kekal sampai kepada akhir zaman.

Ketika menyusun resolusi untuk tahun baru, kita meminta hikmat dan pimpinan Tuhan. Namun, di tahun yang baru, ketika tiba gilirannya untuk mengerjakan satu per satu perencanaan yang sudah tersusun dengan apik itu, kita mengeksekusinya tanpa melibatkan Tuhan yang sebenarnya senantiasa hadir. Seruan minta tolong kepada Tuhan barulah muncul lagi ketika rencana itu terhambat atau gagal. 

Aku teringat dengan nyanyian Daud di Mazmur 23. Daud melantunkan bahwa Tuhan adalah Gembala yang baik. Sebagai Sang Gembala, Tuhan selalu berjalan bersama dengan domba-domba-Nya, baik di padang rumput hijau maupun lembah kekelaman. Jikalau demikian, sebenarnya kita tidak perlu takut untuk menjalani tahun yang baru dan mengerjakan seluruh perencanaan kita. Asalkan, kita mau berjalan seturut dengan tuntunan Sang Imanuel..

Ketika kita mengalami kondisi yang baik dan lancar, ingatlah Dia ada bersama kita. Ketika kita berada dalam situasi terpuruk dan dihantam oleh kegagalan, ingatlah juga bahwa Dia pun hadir untuk menghibur dan menguatkan kita.  

3. Tuhan ingin agar kita hanya mengandalkan Dia saja

Dalam suratnya, Yakobus mengilustrasikan tentang seorang pedagang yang menyombongkan diri karena kemampuannya mempersiapkan sebuah rancangan bisnis yang hebat. Dengan sistematis, dia telah memperkirakan kalau dalam jangka waktu tertentu, dia akan mampu untuk mengekspansi usahanya ke kota tertentu, dan mendapat keuntungan besar. Padahal, si pedagang sendiri tidak tahu tentang apa yang akan dialami esok harinya (Yakobus 4:13-17). 

Dari kisah ini, aku belajar bahwa si pedagang tidak salah ketika menyusun rencana bisnis. Dalam Alkitab pun, kita menemukan bahwa Tuhan juga memiliki rencana bagi dunia ini dari awal hingga akhir. Si pedagang juga tidak salah akan kalkulasi ekonomi, sehingga ia bisa mendapatkan keuntungan. Namun, teguran Yakobus ditujukan kepada kecongkakan si pedagang yang besar kepala ketika rencananya telah rampung, dan ia merasa bahwa ia tidak lagi membutuhkan Tuhan, baik di dalam perencanaan maupun pelaksanaannya. 

Kita juga rentan untuk jatuh ke lubang dosa kesombongan yang sama ketika kita membuat rencana demi rencana. Kita membuat rencana ini dan itu berdasarkan kemauan kita, tanpa bertanya apa maunya Tuhan dalam hidup kita. Kita merasa diri kita mampu untuk mengerjakan segala sesuatu, hingga kita lupa dengan Tuhan yang berkuasa atas kehidupan manusia. Padahal, untuk bisa hidup satu hari lagi saja, kita membutuhkan anugerah Tuhan.

Kawan, di akhir refleksiku aku sempat bertanya, apakah kalau Tuhan mau campur tangan untuk segala urusan dalam hidupku itu menandakan kalau Tuhan sebenarnya kepo? Dan aku menemukan kalau Tuhan itu bukan kepo, tetapi Dia mau kepoin hidup kita karena Dia ingin yang terbaik untuk kita. Karena hidup kita telah ditebus oleh Kristus dan kita adalah milik Kristus, ciptaan baru yang diciptakan bagi kemuliaan Allah.

Tuhan mau menuntun aku dan kamu dalam perencanaan besar maupun kecil di hidup kita, karena Dia rindu aku dan kamu bisa hidup bagi kemuliaan-Nya.  

 

Ilmu Teologi: Bukan Cuma untuk Pendeta, Ini Ilmu Tentang Hidup yang Berfokus pada Tuhan

Oleh Jovita Hutanto

Sobat muda, pernahkah kamu bertanya apakah tujuan hidupmu, atau merenungkan bagaimana hidup setelah kematian? Apakah kamu juga yakin bahwa Tuhan kitalah satu-satunya yang benar dan hidup?

Pada suatu momen dalam hidup, kita semua pasti pernah berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun, tak semua mendapat jawaban yang pasti dan memuaskan. Bagi kebanyakan orang, hidup selalu menyajikan ruang-ruang kosong, pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawab.

Merenungkan hal ini, aku ingat bahwa filsuf Agustinus pernah berkata, “My heart is restless until it rests in You”. Jika diterjemahkan, artinya, “hatiku gelisah sampai aku menemukan peristirahatan di dalam-Mu.” Perkataan Agustinus menggemakan kembali suatu kenyataan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dengan satu ruang kosong di hatinya, di mana ruang tersebut hanya bisa diisi dengan kepuasan yang datangnya dari Tuhan. Namun, seringkali manusia mencari pemenuhan atas ruang kosong itu dengan mengejar kesenangan dan kepuasaan sesaat tanpa sungguh-sungguh mencari tahu apa yang jadi esensi dari kehidupan.

Ada beberapa pertanyaan sederhana yang bisa kita tanyakan ke diri sendiri. Apa yang membuat kita semangat bangun di pagi hari untuk menjalankan tugas dan kewajiban kita? Lalu, apa motivasi kita dalam melakukan hal tersebut?

Pertanyaan ini terkesan remeh, tapi sebenarnya ini menyangkut fondasi kehidupan kita yang seharusnya kita ketahui dan pahami. Jawaban yang tepat dapat kita temukan dari Alkitab.

Mempelajari Teologi, bukan sekadar membaca Alkitab

Semasa sekolah, aku banyak bergumul akan ujung dari hidup ini. Jujur, aku murid yang cukup rajin belajar, sampai di satu titik aku muak dengan rutinatis yang sifatnya fana. Memang para senior dan guru banyak mengingatkan agar kita belajar dengan baik agar kelak dapat pekerjaan yang baik dan meraih mimpi kita. Namun, setelah mendapatkan pekerjaan yang baik dan seluruh mimpi tercapai, apa yang akan jadi finish line-nya?

Kematian.

Walaupun aku diajarkan oleh guru sekolah minggu tentang adanya new creation (ciptaan baru setelah kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya), aku tidak mengerti cara menikmati prosesnya bersama Tuhan di luar gereja. Di situlah timbulnya sebuah kerinduan untuk memaknai rutinitas hidup yang fana ini. Aku sadar aku perlu mencari Tuhan dalam keseharianku dan merenungkan teks Alkitab dengan lebih sungguh-sungguh. Akhirnya aku bertekad lebih rajin membaca Alkitab dan buku-buku kekrsitenan lainnya dan aku mulai menjumpai banyak topik kontroversial di dalam Alkitab bermunculan. Salah satu contoh topiknya adalah konsep predestinasi (mengapa Tuhan hanya memilih sebagian?) atau mengapa kematian Tuhan Yesus harus di atas kayu salib? Bahkan tulisan Alkitab itu sendiri sering menimbulkan pertanyaan, layaknya cerita pemanggilan arwah Samuel, atau percakapan antara Tuhan dengan Iblis di kitab Ayub. Pertanyaan berat seperti ini mulai menumpuk seiring aku banyak membaca, sampai di satu titik saya mulai meragukan imanku sendiri. Keraguan ini menimbulkan gejolak ketidaktenangan hatiku akan sosok satu-satunya yang bisa diandalkan, yaitu Tuhan Yesus. Tuhan menanamkan dalam hati rasa haus dan kerinduan untuk menjawab seluruh pertanyaan ini dan aku memutuskan untuk mempelajari ilmu teologi.

Ketika Alkitab menyajikan jawaban atas beragam pertanyaan dalam hidup, hal yang sepatutnya kita lakukan bukanlah sekadar membacanya sambil lalu. Alkitab diberikan Tuhan untuk kita pelajari, tetapi banyak orang berpikir bahwa mempelajari Alkitab atau ilmu teologi itu hanya tugas dari hamba Tuhan. Padahal, mempelajari teologi adalah kewajiban orang Kristen. Alkitab itu bagaikan buku manual bagi orang-orang percaya, buku panduan hidup yang lengkap karena isinya bukan hanya memberikan cerita nyata yang baik dan benar saja, namun juga menyatakan sisi buruk dari realita kehidupan manusia berdosa. Apapun yang kita hadapi di muka bumi ini bukanlah hal yang baru lagi; prinsipnya sama, hanya alur cerita nya saja yang berbeda.

Alkitab bersifat kontekstual bagi seluruh umat manusia, khususnya bagi umat yang percaya. Belajar ilmu ketuhanan tidak hanya diperuntukan mereka yang terpanggil menjadi pendeta, namun untuk kita semua yang ingin mempertanggung-jawabkan iman kita di hadapan Tuhan. Kamu dan aku, sebagai umat percaya tentu ingin mempertanggung jawabkan siapa dan apa yang kita percayai, betul kan? Oleh sebab itu aku lebih senang menggunakan parafrase “ilmu hidup yang berfokus pada Tuhan Yesus” daripada “ilmu teologi” yang terdengar dan terkesan lebih tabu, bahkan untuk kalangan komunitas Kristen sendiri.

Dengan mempelajari ilmu teologi, kita menjadi lebih memahami penulisan Alkitab di dalam konteks yang benar. Alkitab tidak ditujukan secara eksklusif agar dapat dimengerti oleh segelintir orang yang mempelajarinya. Dengan pertolongan Roh Kudus, pesan firman Tuhan yang terkandung di Alkitab dapat kita mengerti dengan membacanya. Namun, untuk mendapatkan pengertian yang lebih utuh kita perlu menyingkap banyak hal terselubung dalam Alkitab, yang tentu kita bisa pahami lebih detail dan jelas lagi jika kita mempelajari di dalam konteks yang benar, baik konteks geografis, sejarah, maupun kultur di zaman tersebut. Bukan hanya menerima ilmu mentahnya saja, ‘Ilmu hidup yang berfokus pada Tuhan Yesus’ juga mengajarkan kita cara membaca dan menganalisis teks Alkitab. Tujuannya adalah supaya kita dapat mengerti maksud dan alasan dari si penulis menuliskan surat/teks tersebut. Setelah mengerti keseluruhan dari pasal atau kitab tersebut, barulah kita dapat merenungkan dan merefleksikan apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada diri kita masing-masing melalui pembacaan tersebut.

Pengertian akan Alkitab yang benar akan mengonfirmasi iman kita kepada Tuhan. Dengan pengertian yang lebih menyeluruh ini, pemahaman kita akan siapa diri kita dan panggilan pribadi kita akan lebih diperluas dan diperjelas. Secara tidak sadar, ilmu yang kita pelajari akan mempengaruhi cara pandang kita dalam kehidupan keseharian kita. Dengan perlahan, perspektif kita akan dibentuk menjadi lebih sesuai dengan kehidupan Kristiani yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kamu dan aku dibuat menjadi lebih peka akan Dia dan mengetahui beban apa yang Tuhan telah titipkan dalam hidup kita.

Ingat bahwa Tuhan adalah pencipta kita, pengenalan akan Tuhan itu erat hubungannya dengan pengenalan akan diri. Semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita mengenal diri lebih baik lagi. Semakin kita mengenal diri lebih baik lagi, semakin kita tahu apa yang harus kita lakukan di dalam hidup. Pengetahuan akan Tuhan itu kunci kehidupan pribadi kita semua.

Dari pengalaman pribadiku, ‘Ilmu hidup yang berfokus pada Tuhan’ ini mengubah perspektif dan cara hidupku. Setelah mempelajari kesinambungan Alkitab dengan realita kehidupan, tentu imanku kepada Tuhan Yesus lebih diyakinkan. Aku pun menjadi lebih mengerti dengan arti hidup yang sesungguhnya, lebih semangat menjalani hari-hariku karena aku tahu jelas tujuan hidupku.

Di kala pergumulan dan kesusahan datang melanda, ilmu yang telah kupelajari membantu memperlengkapi imanku. Selain itu, ilmu yang telah aku pelajari juga sangat membantuku dalam keseharianku membaca alkitab, khususnya dalam cara menganalisis teks-teksnya. Jika membandingkan buku refleksi renunganku pada saat aku masih bersekolah dengan yang sekarang (sudah bekerja), aku melihat banyak perubahan dari segi analisis teks dan refleksi ke kehidupan pribadiku. Meski memang umur mempengaruhi cara pikir dan daya tangkapku, namun aku percaya ilmu yang aku telah pelajari juga menambah pengetahuan Alkitabku dan meningkatkan kemampuanku dalam menganalisis teks demi teks yang tertulis di Alkitab. Aku menjadi lebih paham dan berpikir lebih kritis untuk setiap pembacaan, sehingga respons penerapan ke kehidupan pribadiku pun menjadi lebih konkrit dan terjalani.

Saat ini, walau aku bekerja di bidang usaha yang tentunya sangat tidak berkaitan dengan gelar ilmu yang aku pelajari (psikologi dan teologi), aku dapat mengintegrasikan prinsip kekristenanku dalam menjalani bisnis kecil keluargaku, sehingga hari-hariku menjadi lebih spesial dan bermakna.

Di dalam bisnis, persaingan sengit kadang membuat kita menghalakan segala cara untuk mencapai goal dan profit. Namun, aku terus diingatkan untuk mengaplikasikan prinsip Kristus dalam usahaku (Christ-centered business). Mottoaku adalah serving while earning profit. Bisnis memang bertujuan meraih profit, tapi aku juga mengutamakan pelayanan kepada manusianya, baik itu client maupun karyawanku. Aku berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dan bertanggung-jawab atas produk-produk yang aku jual. Pada beberapa kesempatan, aku juga memperlakukan karyawanku sebagai seorang teman sehingga terbentuk relasi yang baik. Memang awalnya konsep melayani dalam dunia bisnis ini terasa aneh, namun setelah 3 tahun menjalaninya, melayani para client dan karyawanku juga merupakan pelayanan yang nyata sebagaimana aku melayani di gereja.

Bagaimana denganmu? Apa yang akan kamu lakukan untuk semakin memperdalam pengenalan imanmu?

5 Tips Makin Intim Bersahabat dengan Tuhan

Oleh YMI

Kita tidak asing dengan konsep menjadikan Tuhan Yesus sebagai tempat bercerita tentang apa pun. Tapi, seberapa sering kita berpikir bagaimana kita bisa berteman dengan-Nya? Alih-alih menjalin relasi yang cuma satu arah, bagaimana caranya membangun relasi yang intim dengan Tuhan Yesus?

Semua hubungan membutuhkan kerjasama dua pihak, layaknya dibutuhkan dua tangan agar dapat bertepuk tangan. Ada beberapa tips yang dapat menolong kita belajar untuk semakin bertumbuh dan bersukacita di dalam-Nya

1. Undang Tuhan masuk dalam setiap aspek hidup kita

Yohanes 15:15 mengatakan bahwa sebagai pengikut Yesus, kita tidak lagi disebut-Nya hamba, tetapi sahabat, yang bersama kita, Dia berbagi segala sesuatu yang telah Dia “pelajari dari Bapa”. Inilah keakraban yang Yesus rindukan. Dia ingin kita masuk dalam “inner-circle”-Nya. Betapa indahnya menjadi sahabat Kristus dan melibatkan Dia dalam setiap proses pembuatan keputusan dan rencana kita.

Memandang Tuhan sebagai sahabat tidak berarti hanya datang kepada-Nya ketika kita dalam masalah atau ketika kita sedang menjalankan rencana kita (dan meminta-Nya memberkati kita). Mintalah nasihat-Nya, libatkan Dia dalam tiap aspek hidup kita, dan serahkan pada-Nya “seluruh jalan kita”. (Amsal 3:5-6), dengan begitu kita akan berjalan semakin dekat dengan-Nya melalui tiap musim kehidupan dan tetap berada di jalan kebenaran.

2. Ambil waktu untuk mengikuti dan mengenal-Nya

Seperti kita yang senang berbagi cerita tentang keseharian kita pada seorang teman, kita juga bisa melakukan hal yang sama dengan Tuhan. Kapan pun kita bersukacita sepanjang hari, melihat karya tangan-Nya dalam ciptaan atau dalam ayat Alkitab yang kita renungkan, atau menyaksikan rencana yang Dia rajut datang terwujud, bagikanlah momen-momen tersebut dengan Tuhan. Melakukan semua ini akan memperdalam sukacita kita, seiring kita juga melihat berkat-berkat yang Dia sediakan bagi kita.

Namun, selain menikmati pemberian baik yang Dia berikan kepada kita, mari kita juga berikan waktu dan upaya untuk sungguh-sungguh mengenal Sang Pemberi, dengan menggemakan keinginan yang sama yang diungkapkan Musa dalam Keluaran 33:13 : “Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu…”

Mari minta Tuhan memberi tahu kita jalan-Nya agar kita dapat mengenal-Nya dan terus mendapatkan kasih karunia-Nya. Dan saat Dia melakukannya, mari kita simpan Firman-Nya dalam hati kita, dan biarkan firman-Nya mengarahkan jalan dan tindakan kita. Semakin banyak kita menghabiskan waktu bersama-Nya, semakin persahabatan dengan-Nya menggembirakan hati kita (Mazmur 37:4).

3. Ingatlah betapa Dia berbelas kasih kepada kita

Apa yang kamu lakukan ketika seorang teman baik mengecewakanmu atau membuat keputusan yang tidak kamu mengerti sama sekali?

Ada momen ketika kita kecewa pada Tuhan, ketika kita bimbang dan kita rasa Dia hanya diam saja. Atau, ketika kita bingung akan alasan mengapa Tuhan melakukan semua ini. Apakah kita memilih untuk meninggalkan-Nya atau memilih untuk tetap percaya?

Di masa-masa sulit, penting untuk mengingat dengan siapa kita membangun relasi sejak awal. Yesus adalah imam besar kita yang dicobai dalam segala hal sama seperti kita, dan Dia mampu berbelas kasih pada kelemahan kita, serta menunjukkan kepada kita jalan yang lebih baik ke depannya (Ibrani 4:15).

Saat kita berjalan bersama-Nya melalui pencobaan, penderitaan, dan rintangan dalam hidup ini, kita belajar bahwa hanya Dia satu-satu-Nya pribadi yang dapat kita percaya.

4. Terimalah rencana-Nya dengan rela dan terbuka

Pernahkah kamu cuma membaca chat dari temanmu karena menurutmu kata-katanya membuat perasaanmu hancur dan terluka? Kata-kata itu jadi begitu perih ketika kamu sedang mengalami ketidakadilan dan bergumul dengan masalah-masalahmu. Kadang, tanpa kita sadari kita pun suka ‘mengabaikan’ Tuhan seperti kita mengabaikan chat teman kita. Kita menganggap sabda-Nya itu terlalu keras dan kita lantas menyembunyikan luka dan dosa kita dari-Nya.

Teman sejati tetap bersama, bahkan saat kita sendiri merasa tidak layak dikasihi. Teman sejati ingin agar kita mampu melepaskan diri dari hal-hal yang membebani kita dan kita dapat berjalan dalam kebebasan (Ibrani 12:1).

Janganlah mengeraskan hati kita terhadap suara-Nya (Ibrani 3:12-14) atau mengabaikan Dia ketika kita merasa bahwa apa yang Dia minta dari kita terlalu sulit. Memahami isi hati Allah bagi kita—bahwa Dia ingin menyelamatkan kita dari cara-cara kita yang merusak diri sendiri—menolong kita melihat kebaikan yang menuntun pada pertobatan (Roma 2:4).

5. Bergabung dalam misi-Nya

Banyak dari kita yang berjuang menghidupi kata-kata Yesus dari Yohanes 15:14, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”, karena kita tahu Dia memanggil kita untuk ketaatan yang tidak terikat pada kenyamanan atau kesenangan, tetapi untuk relasi yang terikat perjanjian dengan-Nya (Mazmur 25:14).

Tetapi, bagaimana jika kita melihat ketaatan dan persahabatan ini sebagai hak istimewa—jalan bagi kita untuk memahami hati dan rencana Allah bagi kita (Yohanes 15:15)? Sama seperti menghabiskan waktu bersama seorang teman dengan melakukan kegiatan yang kamu sukai yang membawa sukacita dalam persahabatan, tidak ada cara yang lebih baik untuk menumbuhkan sukacita yang lebih dalam dari persahabatan kita dengan Tuhan selain berjalan bersama-Nya, bermitra dengan-Nya, dan menjalankan misi bersama-Nya.

Misi Yesus jelas: untuk menarik semua orang kepada terang Allah yang luar biasa dan mendamaikan kita dengan Bapa (2 Korintus 5:18-20). Menjadi bagian dari misi-Nya (Matius 25:40) bisa berarti melakukan hal-hal yang membuat kita tidak nyaman: seperti berteman dengan orang-orang yang paling dekat di hat Tuhan—yang patah hati (Mazmur 38:14), berbagi apa yang kita miliki dengan orang lemah (Amsal 19:17), atau membela mereka yang tertindas (Amsal 31:8-9).

Melakukan semua hal di atas membuat kita paham besarnya kasih karunia-Nya terhadap kita, juga mengingatkan kita betapa kudusnya Dia, betapa berdosa dan tak berdayanya kita, dan betapa hebatnya Raja segala raja yang mengulurkan kasih dan persahabatan-Nya kepada kitia. Dan saat kita membawa harapan Tuhan ke dalam hati orang-orang yang putus asa, harapan itu dapat menyalakan hati yang bersyukur atas kasih dan kemurahan-Nya.

Ketika kita melihat kasih Tuhan untuk kita di Alkitab dan melihat Dia sebagai sahabat, cara kita berhubungan dengan-Nya akan berubah—Dia akan menjadi seseorang yang kita kasihi, dan pribadi yang kita inginkan untuk berbagi berbagai pikiran dan rencana kita.

Bagaimana Mendengar Suara Tuhan di Zaman Sekarang?

Oleh Andrew Koay
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How I Discovered The Key To Hearing God’s Voice

“Tuhan bilang sama aku…”

Selama aku hidup sebagai orang Kristen, aku sering mendengar orang-orang di sekitarku mengucapkan kata-kata di atas. Mereka akan bersaksi tentang bagaimana Tuhan secara dramatis telah mengubah jalan hidup mereka melalui suara yang dapat didengar. Teman-teman sebayaku pun suka berdiskusi tentang bagaimana mereka sering mendengar Tuhan berbicara dan mengarahkan mereka pada keputusan sehari-hari.

Secara pribadi, aku tidak pernah mengalami pengalaman rohani yang sedekat itu dengan-Nya. Jujur, aku cemburu. Jika Pencipta alam semesta berbicara dengan teman-temanku, aku juga ingin ikut serta dalam percakapan itu.

Kebingungan soal mendengar suara Tuhan sebenarnya bukanlah hal baru, malah dalam pendapatku sendiri kita memang perlu bisa mendengar suara-Nya. Seperti teman-temanku yang tampaknya membuat banyak keputusan—entah yang penting atau remeh—berdasar suara Tuhan, bagaimana kita bisa tahu keputusan kita tepat atau tidak kalau kita tidak dengar suara-Nya?

Apa aku salah pilih jurusan kuliah sehingga pilihan karierku pun salah?
Apakah cara berpakaianku salah?
Apakah aku melewatkan penunjuk Ilahi?

Aku sangat ingin punya pengalaman seperti teman-temanku. Untuk meraihnya, aku membaca buku-buku, menghabiskan waktu sendiri di ruangan yang gelap, juga menerima tantangan dari seorang pendeta untuk percaya Yesus dengan harapan supaya aku bisa mendengar suara Tuhan secara langsung.

Sampai tibalah aku pada suatu momen. Waktu itu aku baru mulai kuliah dan ikut persekutuan Kristen di kampus. Setelah beberapa waktu, salah satu staf yang bernama Joel mengajakku bertemu dan membaca Alkitab di saat jam makan.

Siapa sangka. Di situlah aku akhirnya mendengar Tuhan berbicara kepadaku dengan jelas dan pasti. Tidak ada keraguan bahwa itu bukanlah Dia.

Selama ini aku tidak menyadarinya… bahwa kunci untuk mendengar suara-Nya telah ada di depanku sepanjang waktuku hidup. Hari itu, saat Joel dan aku membuka Alkitab, kami membaca surat Paulus untuk jemaat Kolose. Kata-kata yang ada di sana bukan sekadar tulisan… tetapi melaluinya Allah yang hidup berbicara kepada kita.

Kami mempelajari Alkitab secara mendalam, berpikir keras tentang apa yang Paulus coba sampaikan kepada jemaat Kolose, dan bagaimana tiap ayat dalam surat itu mendukung tujuan ini—untuk mengingatkan mereka akan kuasa Kristus dan kecukupan kita ada dalam Dia, dan meyakinkan mereka bahwa tidak ada hal lain yang dibutuhkan seorang Kristen untuk menjadi benar di hadapan-Nya. Dua ribu tahun yang lalu, Tuhan berbicara melalui Paulus kepada jemaat Kolose, dan ketika kami berusaha untuk memahami apa yang Dia katakan saat itu, Dia juga sedang berbicara tentang pesan yang sama kepada kami.

Aku menyadari bahwa mendengar Tuhan berbicara berarti membuka firman-Nya dan melihat apa yang ditulis-Nya untuk kita.

Dulu ketika aku berusaha keras untuk mendengar Tuhan berbicara, secara tidak sadar aku menurunkan Alkitab ke tingkat yang lebih rendah. Aku menganggap sabda firman-Nya seperti suara-suara lahiriah lain yang mudah ditangkap telinga. Aku bingung dengan kata-kata temanku dulu yang bilang ‘mendengar suara Tuhan’ sehingga aku lupa bahwa suara-Nya dapat didengar melalui Alkitab.

Alkitab berisikan kata-kata yang diilhamii oleh Allah. Meskipun Alkitab ditulis oleh manusia, Tuhanlah yang melakukan pekerjaan itu dan berbicara melalui penulisnya. Artinya, ketika Paulus menulis kepada jemaat Kolose untuk mengingatkan mereka akan suatu kebenaran, Allahlah yang berbicara melalui Paulus kepada mereka, dan Tuhan yang sama juga sedang berbicara melalui firman kepada kita hari ini.

Kebenaran inilah yang memberiku kepastian tentang imanku. Sepanjang upayaku untuk mencari tahu bagaimana mendengar suara-Nya, ada banyak waktu ketika aku berpikir bahwa akhirnya aku mungkin mendengar Dia berbicara. Aku sering membayangkan kalau nanti aku pasti bisa mendengar suara Tuhan secara audibel dan aku menjawab, “Apa, Tuhan? Apakah Engkau mau aku pergi ke restoran itu hari ini?”

Meski suara seperti itu sering dianggap sebagai suara Tuhan, aku tak bisa sungguh yakin jika itu adalah Tuhan yang berbicara. Namun, saat aku membaca dan mempelajari Alkitab, aku bisa yakin 100 persen bahwa itulah sabda Sang Pencipta alam semesta buatku. Keyakinan inilah yang menjadi dasar iman kita. Dengan firman-Nya kita bisa punya keteguhan hati untuk membuat keputusan sulit sembari yakin bahwa tindakan kita berkenan pada-Nya.

Alkitab itu kaya, tetapi kita hanya akan menemukan kekayaan yang akan membuat iman kita bertumbuh jika kita bersedia menggalinya. Aku tidak pernah bisa menanyakan apakah Tuhan ingin saya melakukan sesuatu karena saya dapat membacanya dengan jelas di dalam Alkitab. Kita yang hidup pada zaman kini mungkin tak akan mendengar suara Tuhan menjawab kita dengan menggelegar ketika kita bertanya boleh tidak melakukan ini dan itu… tetapi kita selalu menemukan jawabannya dari apa yang kita baca di Alkitab. Hubunganku dengan Tuhan pun tak cuma bergantung pada pengalaman pribadi, tetapi berakar pada keyakinan bahwa Roh Kudus yang bekerja dalam hatiku melalui firman yang kubaca.

Aku yakin meskipun komunikasi dengan Tuhan di luar Alkitab mungkin ada, itu tidak dapat menggantikan—atau bahkan sama pentingnya dengan—cara Tuhan berbicara pada kita melalui Alkitab. Seperti yang dikatakan John Piper, seorang teolog Kristen, “Ada sesuatu yang sangat salah ketika kata-kata yang kita dengar di luar Kitab Suci lebih kuat dan lebih berpengaruh pada kita daripada firman Allah yang diilhami-Nya.” Lagipula, jika kita bertanya-tanya apa yang ingin Tuhan katakan pada kita, bukankah seharusnya kita mulai dengan apa yang telah dengan sengaja Dia berikan untuk jadi petunjuk kita?

Aku mungkin tidak punya petunjuk khusus tentang kehidupan sehari-hariku seperti yang mungkin dimiliki teman-temanku. Tetapi dengan mendengar apa yang Tuhan katakan melalui Alkitab, aku jadi lebih akrab dengan karakter-Nya, dan ini melengkapiku untuk membuat keputusan sehari-hari yang aku tahu akan sejalan dengan apa yang Dia perintahkan untuk kita lakukan.

Misalnya, ketika memutuskan kalau aku harus mengambil pekerjaan part-time sementara masih kuliah, aku mempertimbangkan apa yang Dia katakan kepada orang-orang Tesalonika dalam 1 Tesalonika 4:11-12, untuk bertanggung jawab dan tidak menjadi beban bagi orang lain dalam Gereja. Namun, aku juga mempertimbangkan apa misi para murid—untuk menyebarkan Injil dan mendorong sesama dalam Kristus. Apakah dengan memiliki pekerjaan paruh waktu masih memungkinkanku untuk mencapai hal-hal tersebut?

Jadi, hari ini aku tidak lagi iri atau menginginkan pengalaman yang teman-temanku miliki, karena aku tahu bahwa tiap hari ketika aku membuka Alkitab, Tuhan berbicara padaku. Tidak dapat disangkal, jelas, dan menakjubkan. Aku tahu pasti bahwa ini adalah firman Tuhan yang hidup, yang memegang alam semesta di telapak tangan-Nya.

4 Salah Paham Tentang Mengikut Yesus

Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Misconceptions about Following Jesus

Apa sih artinya mengikut Yesus? Apakah itu cuma tugas dan kewajiban, tentang apa yang boleh dan tidak?

Kadang cara kita memandang kehidupan Kristen bisa jadi hambatan buat pertumbuhan iman kita. Ibaratnya kamu punya daftar panjang aktivitas yang harus dilakukan, tapi kamu tahu kamu tidak bisa maksimal melakukannya… jadi kamu pun berjuang susah payah untuk mencapai target. Kita tahu bahwa perbuatan baik kita bukanlah syarat untuk diselamatkan dan menerima kasih Allah, tapi kita juga tahu bahwa kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik, dan kasih Allah yang memampukan kita untuk mengasihi dan berbuat baik.

Dalam upaya kita untuk menemukan titik terang dari pengajaran ini, mudah bagi kita untuk terlalu berfokus pada satu atau dua kebenaran dengan mengorbankan kebenaran lainnya. Akhirnya kita pun jatuh pada sudut pandang yang ekstrem, yang membuat perjalanan kita mengikut Yesus jauh dari sukacita.

Jika kamu sulit mengalami sukacita dalam relasimu dengan Tuhan, mungkin itu karena kamu memercayai beberapa miskonsepsi tentang kasih Allah.

Miskonsepsi #1: Hidup orang Kristen itu isinya cuma penderitaan dan gak ada kebahagiaan sama sekali

Kebenarannya: Allah ingin kita mengalami kebahagiaan sejati yang berasal dari kepuasan di dalam-Nya.

Kita sering diberitahu bahwa penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup Kristen (1 Petrus 4:12; 1 Yohanes 3:13)… yang jika kita pahami dengan parsial akan membuat kita berpikir kalau yang Allah mau ialah kita hidup menderita dan tak boleh bahagia.

Alkitab tidak berkata bahwa mengikut Tuhan berarti menjalani hidup yang tidak bahagia. Faktanya, Alkitab memberi tahu sebaliknya—kebahagiaan dan kepuasan datang dari Allah (Pkh 3:12-13; Kis 14:17), dan Dia memanggil kita untuk bersukacita (Fil 4:4), berpuas di dalam-Nya (Maz 37:4). Perjanjian Lama mencatat banyak momen perayaan dan sukacita bagi umat Allah, dan ketika Yesus melayani di bumi, Dia bercengkrama dengan anak-anak, makan bersama, bahkan diundang ke pesta perkawinan.

Si Jahat mau kita berpikir bahwa penderitaan dan kebahagiaan tidak bisa berjalan berdampingan, dan jika Allah mengizinkan penderitaan, Dia jelas tidak suka dengan kebahagiaan. Kita pun mudah terjebak pada pemahaman bahwa bahagia itu selalu terkait dengan kenyamanan, memanjakan diri sendiri, dan hidup yang minim masalah. Semuanya tentang apa yang aku mau, apa pun kondisinya.

Allah ingin kita mengerti bahwa Dia peduli akan kebahagiaan kita dan Dia memberikannya melalui berbagai cara, entah itu dari menikmati ciptaan-Nya, merayakan hari-hari istimewa dengan orang terkasih, atau menemukan kepuasan dari pekerjaan kita. Yang terpenting, Allah ingin kita tahu bahwa kebahagiaan datang dari taat pada-Nya (Mazmur 68:3). Yesus memberi tahu kita untuk tinggal tetap di dalam kasih-Nya dengan menaati perintah-Nya supaya “sukacitamu menjadi penuh” (Yohanes 15:10-11).

Lebih dari sekadar perasaan atau khayalan, kebahagiaan yang sejati datang dari memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Pribadi yang tahu betul siapa kita, yang memberi hidup-Nya bagi kita semua, dan yang hanya akan melakukan yang terbaik buat kita.

Miskonsepsi #2: Segala sesuatu dirancangkan Tuhan untuk “mendatangkan kebaikan”, jadi pada akhirnya semua harus berhasil!

Kebenarannya: Tidak semua hal pasti berhasil, tetapi Allah selalu bekerja di dalam segala sesuatu dan melalui kita untuk kemuliaan-Nya.

Beberapa dari kita mungkin punya pemahaman dari sisi ekstrem: bahwa jika kita sungguh percaya pada Yesus, Dia akan membantu dan menjadikan semuanya berhasil seturut pikiran kita.

Namun, gagasan tentang ‘kebaikan’ versi kita seringkali berbeda dari versinya Tuhan. Dalam ayat Roma 8:28, kita mungkin berpikir bahwa “…mendatangkan kebaikan” itu kebaikan yang sesuai dengan yang kita harapkan.

Hasilnya, ketika keadaan kita tidak membaik, kita menerka-nerka apakah Tuhan tidak peduli, atau mungkin iman kita kurang besar? Kita terbiasa dengan pemahaman “kerja keras pasti sukses”, dan kita pun akhirnya menciptakan pemikiran sendiri akan isi Alkitab bahwa ketika Yesus menjanjikan hidup yang ‘penuh’ itu berarti tentang menerima lebih dan lebih. Jika kerangka pikir ini kita pakai, alhasil kita akan bingung: apa arti ikut Tuhan kalau gak membuat hidup kita jadi lebih baik?

Roma 8:28 memang membahas soal ‘kebaikan’, tetapi konteks sebenarnya adalah Allah tidak hanya rindu untuk mengubah keadaan kita, tetapi Dia bekerja di dalam dan melalui kita untuk kebaikan kita dan kemuliaan-Nya, supaya kita menjadi serupa dengan Putra-Nya (Roma 8:29). Artinya, meskipun hasil baik yang kita harapkan tidak terwujud, Allah bekerja di dalamnya sehingga kita diubah menjadi semakin baik. Kita bertumbuh dewasa, lebih sabar, dan semakin serupa dengan Kristus melalui momen-momen sulit.

Karena itulah kita dapat tegar beriman meskipun keadaan ada di luar kendali kita. Seperti orang-orang kudus yang telah mendahului kita, menaati perintah-Nya, percaya pada pribadi dan waktu-Nya, Allah sendiri yang akan meneguhkan iman kita dengan Roh Kudus-Nya dan Dia berjanji menyertai kita setiap saat.

Miskonsepsi #3: Kamu gak boleh punya keinginan, semuanya hanya tentang maunya Tuhan, iya kan?

Kebenarannya: Allah memberi kita keinginan dan kehendak bebas. Ketika kita membawa semua ini kepada-Nya, Dia akan menolong kita tumbuh dewasa supaya keinginan kita selaras dengan kehendak-Nya.

Miskonsepsi ketiga adalah kita berpikir bahwa ketika Yesus memanggil kita untuk ‘menyangkal diri’ (Matius 16:24), seolah Dia berkata bahwa kita tidak boleh lagi punya keinginan karena itu dianggap tidak penting. Sederhananya: kita hanya boleh ingin apa yang Tuhan juga inginkan.

Namun, cara berpikir ini membuat kita melihat dunia dari sudut pandang yang salah. Kita secara tak sadar membagi dua, antara yang ‘rohani’ dan ‘duniawi’. Contoh: kita hanya boleh membaca Alkitab dan tidak menonton Neteflix; kita hanya boleh pergi ke gereja daripada nongkrong dengan teman yang bukan Kristen… Alhasil segala aktivitas yang kita nikmati kita anggap sebagai tidak saleh dan tidak berkenan bagi Tuhan.

Ketika Allah memanggil kita untuk menyangkal diri, yang Dia minta adalah kita menyerahkan hasrat keberdosaan kita—bukan keinginan dan kepribadian kita yang unik yang Dia berikan pada kita. Jika Allah tidak peduli akan keinginan dan siapa kita, Dia tidak akan memberi kita kehendak bebas agar kita membuat pilihan. Jika yang Allah inginkan hanyalah mematahkan setiap rencana kita agar kita seperti robot, rencana penebusan-Nya dengan menunjukkan kasih bagi kita tak akan mungkin.

Coba pikirkan ini: ketika kita muda, sulit untuk mengerti mengapa orang tua kita mengatakan “tidak”, atau ketika mereka memberi sesuatu yang bukan keinginan kita. Namun, saat kita dewasa dalam berpikir, lebih mudah untuk mengerti apa yang jadi kehendak dan isi hati para orang tua.

Dengan cara yang sama, Paulus berulang kali memanggil gereja untuk bertumbuh dewasa (Ef 4-5, Fil 3) agar mereka (juga kita) mencintai hal-hal yang menyenangkan Tuhan, dan mengerti bagaimana caranya menyelaraskan talenta dan keinginan kita dengan rencana-Nya bagi kita.

Miskonsepsi #4: Yang penting mengampuni, selebihnya ya udah terserah orang itu

Kebenarannya: pengampunan itu tidak bicara soal menoleransi dosa, tetapi memilih untuk tidak membenci atau tidak berdiam diri dalam rasa sakit.

Sebagai orang Kristen, kita diajar untuk mengampuni sebagaimana kita telah diampuni, dan pembalasan itu hak Tuhan (Roma 12:19)… jadi tugas kita cuma ‘ampuni’ lalu ‘biarkan’. Pemahaman ini sering berujung menjadi rasa cuek yang justru menunjukkan ‘penerimaan’ kita terhadap perilaku berdosa tanpa meminta orang tersebut bertanggung jawab atas perbuatannya.

Kitab Mazmur menegaskan kita bahwa Alkitab tidak menganggap lalu begitu saja kejahatan dan ketidakadilan, tetapi semuanya akan dibawa pada Allah pada akhirnya. Pemazmur juga secara gamblang berseru agar Allah memberi hukuman, yang di zaman modern ini membuat kita berpikir “kok bisa Allah yang katanya penuh kasih malah begitu?”

Perjanjian Baru memberikan contoh yang tampak berkontradiksi. Orang-orang percaya dipanggil untuk saling menegur dan memperbaiki (Matius 18:15-17, Lukas 17:3), tapi di lain ayat malah dipanggil untuk jangan lagi bergaul dengan pendosa (1 Kor 5:9-12, 2 Tes 3:6, Titus 3:10).

Melalui ayat-ayat ini, kita melihat bahwa pengampunan bukanlah tentang dengan sengaja menoleransi atau mengabaikan untuk memperbaiki apa yang jelas-jelas salah, terutama di dalam tubuh Kristus, tetapi memilih untuk tidak menyimpan kebencian atau memikirkan luka yang kita alami.

Jangan biarkan pemikiran ekstrem ini mengurangi pemahamanmu tentang kasih Tuhan. Ketika keraguan dan kekecewaan muncul, larilah kepada-Nya dan mintalah pengertian. Mintalah Dia untuk membantumu merasakan dan melihat bahwa Dia baik.

Dan ketika kita belajar untuk menaati perintah-Nya bagi kita, kita juga perlu menerima ketentuan dan janji-Nya—bahwa Yesus yang hidup di dalam kita, Rohlah yang memberi kita pengertian dan kuasa, dan Allah Bapa yang akan menyelesaikan pekerjaan baik yang telah Dia mulai di dalam kita.

Pendonor yang Memberi Lebih dari Sekantong Darah

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Ada sebuah kisah haru yang pernah diceritakan Max Lucado dalam bukunya. Pada musim semi 2010, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa Taylor, puteri dari seorang wanita bernama Tara Storch. Kehilangan anak yang saat itu masih berusia 13 tahun tentu bukanlah hal yang mudah. Tara dan suaminya mengambil keputusan berani untuk menyumbangkan organ-organ tubuh Taylor kepada para pasien yang membutuhkannya. Patricia Winters adalah salah satu pasien yang sangat membutuhkan donor organ. Sehari-harinya dia cuma bisa berbaring tempat tidur karena mengalami gagal jantung dalam waktu yang cukup lama. Jantung itu pun diberikan. Dari Taylor untuk Patricia.

Tara Storch punya satu permintaan. Setelah jantung ditransplantasi, dia mau mendengarkan detak jantung sang putri dalam tubuh yang lain. Dia dan suaminya pun terbang dari Dallas menuju Phoenix untuk bertemu keluarga Winters. Saat tiba di sana, kedua ibu itu saling berpelukan. Kemudian Patricia memberikan sebuah stetoskop kepada Tara dan suaminya. Meskipun ada dalam tubuh orang lain, mereka kemudian mendengarkan detak jantung Taylor, putri yang tercinta.

Siapa yang dapat menahan air mata jika berada di sana menyaksikan keindahan itu?

Mari merenungkan kisah itu dan melihat apa hubungannya dengan kita. Apa yang dapat dilakukan Patricia sebelum dia “memiliki” jantung barunya? Kuyakin dia tidak diperbolehkan dokter untuk menikmati banyak kebersaman bersama rekan-rekannya. Dia tidak diizinkan berlari-larian, menyucurkan banyak keringat, sambil tertawa lepas berebut bola basket bersama sahabat-sahabatnya di atas lapangan yang disinari mentari sore. Dengan penyakit gagal jantung yang dideritanya, sebagian orang mungkin akan menganggapnya tidak berdaya, terbatas, tak berguna, beban, dan sekarat.

Namun sayang sekali, sebagian orang yang sama, tidak bisa melihat dirinya dalam kondisi yang jauh lebih mengerikan dari Patricia. Jika Patricia sedang sekarat karena jantungnya yang gagal berfungsi normal, maka kamu dan aku secara rohani sudah lama mati dan membusuk bersama dosa-dosa kita (Efesus 2:1). Kita tahu konsekuensi dosa adalah maut (Roma 6:23) tetapi, ingatkah kita berapa sering kita melawan Allah? Kita memandang kematian tubuh dengan ngeri, tetapi di satu sisi lainnya kita lupa bahwa tanpa Allah, rohani kita akan mati.

Kematian rohani hanya bisa diatasi apabila kita menemukan “pendonor” yang rela memberikan kita hidup. Kita butuh seorang seperti Tara Stroch, yang memiliki kebesaran hati. Beruntungnya, kita punya Sosok yang jauh lebih besar dari Tara, yaitu Bapa di surga.

Kita tidak hidup karena kekuatan kita. Kita hidup karena belas kasih dan kemurahan. Apa yang bisa kita sombongkan? Jabatan yang akan berakhir di masa pensiun? Kecantikan yang memudar seiring bertambah usia? Kekayaan yang tidak bisa dibawa mati? Sekali lagi, semua itu tidak memberikan bagi kita kepuasan sejati.

Tetapi, Anak yang dicintai oleh Bapa diberikan untuk orang seperti aku? Sang Anak itu dilecehkan. Senyum direbut dari wajah-Nya saat Dia disiksa dengan kasar. Dia menangis, menjerit kesakitan, tapi tidak melawan, padahal Dia bisa. Dia seperti domba yang dibawa ke tempat pembantaian.

Seorang penjahat menderita penyakit aneh yang mematikan dan dia butuh pendonor dan dokter spesialis. Semua dokter sudah angkat tangan dan berkata, “tidak ada harapan lagi, kami tidak punya spesialis untuk penyakit ini”. Dari pihak Palang Merah mengaku, ”kami punya banyak stok darah dengan berbagai macam golongan, tapi pasien membutuhkan jenis darah yang berbeda”.

Siapakah yang rela memberi nyawanya untuk seorang penjahat yang sepantasnya dihukum?

Ketika semua terdiam karena tidak ada satu pun yang mampu dan tidak ada satu pun yang mau, Yesus Kristus menembus keheningan. Dia mengangkat tangan-Nya, mengacungkan telunjuk-Nya, dan berkata “Aku bersedia!”

Yang amat mengagumkan, Dialah dokter ahli dalam menangani hati yang hancur dan masa lalu yang kelam. Dialah spesialis menyucikan kita dari dosa.

Dia juga Pendonornya, Dia menyodorkan bukan hanya satu atau dua kantong. Dia berkata “seluruh darah akan ditumpahkan”. Supaya penjahat itu hidup, tidak akan pernah mati, dan berjuang untuk jadi lebih baik.

Penjahat itu adalah kita.

Jika mau sembuh, jika mau hidup itu, terimalah tanda tangan berkas itu. Kuasa penebusan dari Tuhan, Sang Ilahi, akan terjadi seketika, saat ini juga.

Selalu Ada Kesempatan Kedua yang Tuhan Berikan Untukmu

Oleh Edwin Petrus, Medan

Sudah sekian lama aku tidak menginjakkan kaki di bioskop karena pandemi Covid-19. Akhirnya, pada awal Januari 2022, aku kembali memanjakan diri dengan menonton di layar lebar. Aku memilih film “Spider-Man: No Way Home.” Tidak ada alasan lain di balik pilihan ini. Spider-Man memang telah menjadi favoritku sejak Marvel merilis seri pertamanya.

Selama lebih kurang dua setengah jam menyaksikan sang manusia laba-laba beraksi, aku berulang kali memikirkan tentang frasa yang secara terus menerus dicetuskan oleh beberapa pemain: second chance (kesempatan kedua). Spider-Man sangat meyakini kalau semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Pemikiran Spider-Man ini sempat mendapatkan penolakan keras dari rekan-rekannya. Namun, adegan demi adegan terus memperlihatkan segala daya upaya dari Spider-Man yang tidak berhenti memperjuangkan kesempatan kedua kepada tokoh-tokoh yang dianggap tidak layak untuk mendapatkan kesempatan itu sekali lagi. Pada akhirnya, Spider-Man menjadi seorang yang terlupakan oleh publik, termasuk sahabat karibnya, tetapi dia tetap memilih konsekuensi itu demi kesempatan kedua.

Orang-orang sering berkata: “Seandainya saja waktu bisa diputar kembali.” Ya, mereka berharap bahwa dengan memutar kembali waktu, mereka bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat pada masa lalu. Pada kenyataannya, waktu terus bergerak maju dan keinginan untuk kembali ke waktu silam hanyalah angan-angan belaka. Kawan, sadarkah kamu kalau hidup kita sekarang ini adalah “kesempatan kedua” yang dianugerahkan oleh Allah?

Memang benar, kejatuhan manusia ke dalam dosa yang dinarasikan di Kejadian 3 seakan menutup kesempatan kedua. Keputusan dari Adam dan Hawa untuk melawan kehendak Allah telah mengantarkan mereka kepada kematian rohani, yaitu keterpisahan dengan Allah. Namun, Allah selalu membuka tangan-Nya lebar-lebar untuk menawarkan kesempatan kedua kepada kita. Sesungguhnya, kesempatan kedua itu selalu tersedia bagi semua orang.

Allah mengetahui bahwa orang-orang yang gagal ini membutuhkan kesempatan yang kedua. Ia menyodorkan solusi yang berkemenangan bagi ketidakberhasilan manusia. Ia tidak perlu memutar kembali waktu dan menghindarkan manusia untuk jatuh dalam dosa. Di dalam kasih-Nya, kesempatan kedua justru diberikan oleh Allah melalui Anak-Nya, Yesus Kristus. Melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, Allah menawarkan kesempatan kedua kepada semua orang yang mau menerima anugerah keselamatan ini. Di dalam Kristus, semua orang percaya berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, yaitu hidup kekal dengan relasi yang telah dipulihkan bersama-sama dengan Allah untuk selama-lamanya.

Kalau kita sudah memperoleh kesempatan kedua di dalam Kristus, bagaimana seharusnya respons kita terhadap kesempatan kedua itu? Aku mau mengajak kamu untuk memberikan tiga respons yang akan membuat hidupmu dipenuhi dengan damai sejahtera dari Allah.

Menerima kesempatan kedua dari Allah

Kamu pasti mengenal seorang murid Yesus yang bernama Simon Petrus. Mantan nelayan dari Galilea ini adalah pribadi yang memiliki pengaruh yang besar di dalam kelompok murid-murid Yesus. Petrus menjadi satu-satunya murid yang dengan tegas dan yakin mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13, Mrk. 8:29, Luk. 9:20). Petrus tampil beda di tengah kebimbangan dari saudara-saudaranya yang masih bertanya-tanya “Siapakah Yesus?”

Namun, jawaban Petrus yang mengesankan ini berakhir dengan tragedi di mana si pemberani berubah menjadi si pengecut. Di tengah kerumunan orang banyak yang menonton Sang Anak Allah ditangkap dan diolok-olok oleh prajurit Romawi, Petrus justru menyangkal pengenalannya terhadap Mesias sebanyak tiga kali. Petrus yang pernah tampil menonjol, harus menangis dengan penuh penyesalan karena ia gagal mempertahankan pengakuan publiknya terhadap Mesias (Mat. 26:75, Mrk. 14:72, Luk. 22:62).

Kisah kemuridan Petrus tidak berakhir di sini. Pasca kebangkitan, Yesus mendatangi Petrus secara pribadi dan berbicara empat mata dengannya (Yoh. 21). Yesus seakan mengulangi lagi momen pertemuan pertama antara mereka berdua di danau Galilea (bnd. Mat. 4:18-22). Yesus memberikan kesempatan yang kedua kepada Petrus untuk menjalankan tugasnya sebagai penjala manusia (Mat. 4:19). Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15-19). Kedua terminologi ini memang terdengar berbeda, tetapi memiliki makna yang sama. Kesempatan kedua bagi Petrus adalah menjadi saksi Injil bagi seluruh bangsa di dunia dan iapun telah menerima dan mengerjakan kesempatan kedua itu pada sisa hidupnya.

Kawan, kesempatan kedua dari Yesus juga tersedia buat kamu hari ini. Masa lalumu yang kelam bukan persoalan bagi Dia, karena kedatangan-Nya adalah untuk memulihkan hidupmu. Yesus memiliki rencana yang luar biasa dalam hidupmu. Oleh karena itu, Dia mau memberimu kesempatan kedua. Aku sudah menerima kesempatan kedua ini. Yuk, jangan sungkan untuk menerima anugerah Ilahi itu pada hari ini dan jangan sampai kelewatan ya karena kesempatan kedua belum tentu juga datang dua kali ya kawan.

Menghidupi kesempatan kedua pada diri sendiri

Kesempatan kedua akan mengubahkan setiap anak-anak Tuhan menjadi manusia baru di dalam Yesus. Rasul Paulus mengatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Kor. 5:17). Ketika setiap anak Tuhan sudah menerima kesempatan kedua, kita bertanggung jawab untuk menghidupi kesempatan kedua sesuai dengan kehendak Allah.

Hidup sebagai manusia baru di dalam kesempatan kedua adalah hidup yang dipenuhi dengan ucapan syukur. Chuck Colson adalah seorang mantan narapidana yang sudah putus asa dengan keadaan dirinya; belum lagi, anaknya juga terjerat kasus narkoba. Namun, di balik jeruji penjara, ia mengalami pembaruan iman melalui saudara-saudara seiman yang selalu silih berganti menjenguknya dan berdoa baginya siang dan malam. Iman Colson kembali diteguhkan dan ia juga mendapatkan visi baru untuk dapat melayani para narapidana dan keluarga mereka serta memberikan bantuan hukum. Setelah menghabiskan masa tahanannya, ia mendirikan Prison Fellowship (Persekutuan Penjara) pada 1976 dan sampai hari ini, organisasi nirlaba ini masih eksis untuk membawa pengharapan kepada mereka yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu.

Kawan, mungkin kamu seperti aku yang mempunyai kebiasaan untuk menuliskan resolusi di awal tahun. Ya, kita pasti mengidamkan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru. Resolusi-resolusi itu hanya akan berupa tulisan yang mati jika kita tidak pernah menghidupi kesempatan kedua itu. Ketika suara alarm membangunkan kita dari tidur, inilah penanda bahwa hari baru telah dimulai dan saatnya bagi kita untuk kembali menjalani kesempatan kedua. Di dalam tuntunan Roh Kudus, kita dipimpin untuk menghidupi iman kita di dalam Kristus agar hidup kita semakin memuliakan Allah.

Aku pun menyadari kalau sering kali diri kita sendirilah yang justru menjadi penghalang untuk bisa menikmati kesempatan kedua itu. Sejuta alasan menjadi dalih yang terus menghantui dan menghakimi kita. Aku terlalu lemah dan tidak berdaya, aku tidak bisa memaafkan diriku, kesalahanku yang sangat buruk, trauma itu terlalu mendalam buatku, aku menderita luka batin yang amat menggores hatiku, aku itu sampah busuk…. Benar gak kawan?

Namun, bukankah salib Kristus sudah membereskan semua masa lalu kita dan kasih anugerah-Nya lebih besar dari semua ketidaklayakan yang pernah kita bayangkan itu? Yuk, jalani kehidupan dalam kesempatan kedua bersama Yesus dengan penuh antusias! Ingat kawan, kesempatan kedua terkadang tidak datang dua kali. Jadi, mari kita berjuang menghidupi kesempatan kedua seolah-olah itu adalah kesempatan terakhir kita.

Memberi kesempatan kedua bagi orang lain

Kawan, setelah kita memperoleh kesempatan kedua dan menghidupi kesempatan kedua itu, saatnya bagi kita untuk memberi kesempatan kedua kepada orang lain. Siapa sih yang tidak butuh dengan kesempatan kedua?

Markus, sang penulis Injil Markus adalah seorang yang mendapatkan kesempatan kedua dari rekan pelayanannya, Paulus. Kisah Para Rasul 15:35-41 mencatat bahwa Markus menjadi penyebab perselisihan sengit antara Barnabas dan Paulus. Barnabas ingin mengajak Markus lagi dalam perjalanan misi mereka berikutnya, tetapi Paulus menentang hal ini. Markus pernah diajak dalam perjalanan sebelumnya, tetapi dia tidak menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik.

Kesalahan yang pernah dibuat oleh Markus bukan menjadi akhir dari segalanya. Paulus tidak langsung mendaftarhitamkan Markus di dalam tim pelayanannya. Markus kembali mendapatkan kesempatan kedua dari Paulus. Di kemudian hari, Markus dan Paulus bekerja sama lagi bagi pemberitaan Injil. Markus pernah diutus oleh Paulus untuk mewakilinya di dalam mengunjungi jemaat di kota Kolose (Kol. 4:10). Markus pun pernah mendapatkan pujian dari Paulus bahwa pelayanannya adalah penting bagi Paulus (2Tim. 4:11).

Kawan, aku menyadari bahwa memberi kesempatan kedua memang terasa lebih sulit dibandingkan dengan menerima dan menikmati kesempatan kedua itu. Kita sering memandang bahwa kegagalan orang lain lebih besar daripada kesalahan kita. Namun, kemampuan untuk bisa memberi kesempatan kedua menunjukkan kedewasaan rohani kita. Jikalau kita masih sulit memberikan kesempatan kedua itu bagi orang lain, kita bisa berdoa dan meminta Roh Kudus yang melembutkan hati kita untuk melakukan hal itu. Yesus sendiri yang mengajarkan kita untuk bisa mengampuni dosa orang lain sebagaimana kita telah diampuni oleh Bapa di surga (Mat. 6:12). Dia juga pasti rindu untuk memampukan kita melepaskan kesempatan kedua bagi sesama kita.

Damai sejahtera dari Allah baru dapat kita rasakan dengan utuh jika kita sudah menerima kesempatan kedua dari Allah, menghidupi kesempatan kedua pada diri sendiri, dan memberi kesempatan kedua bagi orang lain. Kawan, sudahkah kamu melakukan ketiga hal ini?

4 Hal Istimewa dari Kisah Yesus dan Perempuan Samaria

Oleh Paramytha Magdalena

Apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar Samaria?

Dari sebuah literatur yang kubaca, Samaria merupakan kata yang mengacu kepada tempat di wilayah pegunungan antara Galilea di utara dan Yudea di selatan. Orang-orang yang tinggal di sana disebut juga sebagai orang ‘Samaria’. Pada masa-masa pelayanan Yesus di bumi, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.

Kalau kita menelisik lebih lagi, Alkitab mencatat dengan jelas bagaimana relasi antara orang Samaria dan Yahudi dalam kehidupan sehari-hari. Yohanes 4:9 menuliskan demikian: “Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)”. Orang-orang Yahudi menganggap orang Samaria itu kafir atau ras tidak murni karena mereka melakukan perkawinan campur dengan bangsa lain.

Kisah orang Yahudi dan Samaria yang tercatat di Alkitab memunculkan paradoks, terlebih jika kita menyimak detail kisah pertemuan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Perempuan itu mengambil air sekitar tengah hari, mungkin maksudnya agar dia tidak berjumpa dengan banyak orang. Namun, dia malah berjumpa dengan Yesus, seorang Yahudi yang notabene bermusuhan dengan orang Samaria.

Respons Yesus kepada perempuan itu luar biasa. Alih-alih menjauhinya, Yesus malah meminta minum darinya. Di sinilah Yesus menunjukkan cinta dan kasih Tuhan yang manis itu.

Ada 4 hal istimewa yang kudapatkan dari pertemuan Perempuan Samaria dan Yesus.

1. Apa pun latar belakang kita, kita dicintai dan diterima oleh Yesus

Perempuan Samaria ini memiliki latar belakang dan perilaku yang bisa dikatakan buruk karena sering berganti pasangan. Bahkan pasangan yang saat itu bersama dengannya bukanlah suaminya (ayat 18). Jadi, bukanlah hal yang mengejutkan lagi jika sikap orang sekitarnya akan menjauhi atau bahkan memandang rendah. Akan tetapi, Yesus mau menemui secara pribadi dan menghampiri perempuan tersebut.

Betapa seringnya aku berpikir bahwa aku harus melakukan semua hal dengan baik dulu agar bisa merasa layak dikasihi dan diterima oleh-Nya. Yesus menerima kita bukan berdasarkan apa yang kita perbuat, tetapi karena kasih-Nya sajalah (Roma 5:10).

Perempuan Samaria ini tidak melakukan apa-apa untuk membuat Yesus tertarik menemuinya. Cinta dan penerimaan-Nya tidak berdasar pada moral, status sosial, latar belakang, pengalaman, maupun kegagalan seseorang. Kasih-Nya adalah sebuah pemberian dan anugerah. Jadi, setiap kita memiliki kesempatan yang sama untuk menikmatinya.

Apakah kita mau menerima cinta-Nya dan memberikan cinta kita pada-Nya?

2. Kita dicari, ditemukan, dan diselamatkan oleh Yesus

Perempuan Samaria menimba air di sumur saat siang hari. Ini bukanlah kebiasaan yang lazim. Ia menyadari keadaannya dan berusaha menghindari orang-orang dengan datang ke sumur ketika sedang sepi dari perempuan-perempuan lain. Namun, Yesus sengaja bertemu dengannya dan menawarkan air kehidupan yaitu keselamatan.

Ini mengingatkanku akan seberapa seringnya aku bersembunyi, menghindari, dan lari dari berbagai macam situasi, orang-orang, bahkan dari Tuhan karena besarnya perasaan malu dan ketidaklayakanku. Akan tetapi berita baiknya adalah Dia rela datang untuk menyelamatkan kita yang terhilang agar bisa diselamatkan (Yohanes 1:29). Tidak ada perlindungan teraman selain di dalam-Nya dan tidak ada tempat yang teramat sulit untuk Dia bisa menemukan kita. Asalkan kita mau diselamatkan oleh-Nya.

3. Tuhan rindu berelasi dengan kita

Ketika Yesus bertemu dengan perempuan Samaria, ada percakapan antara mereka berdua. Bagian ini menarik buatku karena dari sini aku melihat bahwa Yesus tidak sekadar datang ke dunia untuk menebus dosa, tetapi juga berelasi dengan manusia. Lewat percakapan sederhana itu, Dia mendengar apa yang jadi kerisauan umat-Nya.

Apakah tentang kejatuhan, kegagalan, ketakutan, atau yang lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita mau bercakap-cakap denganNya? Dia siap mendengar dan menyegarkan kita dengan kebenaran-Nya.

4. Kita dapat mengakui dengan jujur isi hati kita

Dalam percakapan-Nya, Yesus menyuruh perempuan Samaria untuk memanggil suaminya, tetapi sang perempuan menjawab, “Aku tidak mempunyai suami” (ayat 17). Yesus lanjut merespons, “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar” (ayat 18).

Coba kita perhatikan lagi ucapan Yesus. Kendati Yesus tahu bahwa perempuan Samaria itu bergonta-ganti pasangan, tetapi tidak ada penghakiman yang keluar dari mulut-Nya. Maksud Yesus di sini bukanlah dia membenarkan dosa yang diperbuat oleh sang perempuan, tetapi Dia hendak menunjukkan keselamatan yang sejati (ayat 21-24).

Sebelum sang perempuan mengakui identitasnya, Yesus telah tahu lebih dulu, tetapi Dia ingin kita mengakui dengan jujur dan rendah hati apa yang telah kita lakukan. Ini bukanlah demi kepentingan Tuhan, tapi demi kepentingan kita. Karena saat kita mengakui dengan jujur dan rendah hati kepada-Nya atas segala yang kita perbuat, dan kita menyadari kesalahan serta berbalik kepada-Nya, maka akan tersedia pemulihan dan pengampunan-Nya bagi kita.

Apakah kita mau mengakui bahwa kita telah berdosa dan membutuhkan anugerah kasih pengampunan-Nya setiap waktu?

Baca Juga:

4 Pertanyaan Penting Sebelum Memulai Hubungan yang Serius

Pernikahan adalah sesuatu yang aku inginkan sedari kecil, semenjak aku melihat dan mempelajari dari kedua orang tuaku tentang apa rasanya berada dalam pernikahan. Tapi sebelum memulai relasi yang mengarah ke sana, kuajukan dulu 4 pertanyaan ini pada diriku.

Tentang Doa yang Tidak Terkabul: Apakah Kita Kurang Sungguh Berdoa?

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Ada seseorang yang telah berdoa dengan bersungguh-sungguh dan meneteskan banyak sekali air mata. Dia berseru kepada Tuhan bagai pengemis kurus kelaparan yang sedang meminta-meminta, memohon belas kasihan dari Tuhan yang kuasanya tak terbatas.

Namun, sayang sekali, kegigihannya berdoa itu tidak memberikan hasil yang diinginkannya. Orang yang amat dia cintai berakhir tak berdaya, tanpa nyawa dalam sebuah ruangan di rumah sakit. Tindakan operasi tidak menyelamatkan anaknya dari penyakit mematikan yang telah menyiksa selama bertahun-tahun. Singkat kata, perjuangan bertahan hidup diakhiri dengan getir.

Penyakit kronis itu telah merusak kondisi tubuh sang anak. Kepalanya membengkak. Tanpa terganggu dengan penampakan jenazah, dengan wajah datar sang ibu memandangi tubuh anaknya tercinta yang telah kaku.

Setelah upacara pemakaman selesai, dia berteriak keras, menembakkan ribuan peluru keluhan yang menghujam hati para pelayat. “Aku telah berdoa pada Allah yang Mahakuasa. Aku tahu tentang kisah-Nya yang mengubah air dalam tempayan menjadi anggur dengan kualitas nomor satu hanya untuk sebuah pesta, dan aku tidak meminta lebih. Aku hanya meminta-Nya setetes belas kasihan.” Lanjutnya lagi, “Aku mau menagih sebuah janji yang disampaikan ribuan tahun lalu oleh Dia yang tak pernah ingkar melalui hamba-Nya, ‘Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya’” (Yakobus 5:16b).

* * *

Kisah pilu di atas berbicara tentang seorang Kristen yang telah menghabiskan begitu banyak energi saat dia berjuang demi kesembuhan orang terkasihnya. Dia membeli obat yang mahal, mengunjungi dokter terbaik, memanjatkan doa bertubi-tubi. Namun, ketika pada akhirnya keadaan berkata lain, jauh dari apa yang diharapkan, dia, dan juga banyak orang percaya menjadi kebingungan.

Fenomena ini membangkitkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang terkesan usang tetapi terus bergema di sepanjang zaman bagi para pengikut Kristus. Apakah tidak terkabulnya doa itu karena seseorang kurang bersungguh-sungguh? Apakah perkataan Yakobus dapat dipercaya?

Suka atau tidak suka, tentu saja pada saat kita melihat ayat-ayat dalam Alkitab kita tidak bisa sembarangan mengartikannya sesuai dengan kemauan kita. Sebenarnya, bukan hanya Alkitab, prinsip yang sama juga berlaku pada semua tulisan di mana konteks harus benar-benar diperhatikan. Kegagalan melihat konteks dapat membuat kita gagal paham, atau tragisnya: tersesat. Sampai di sini, aku harap kamu tidak bingung atau takut, lalu berhenti membaca tulisan ini. Aku tidak akan mengajakmu untuk mempelajari Hermeneutika (ilmu menafsir Alkitab) sebanyak tiga sampai empat SKS.

Aku ingin mengajakmu menaruh perhatian lebih serius pada isu krusial ini. Jika kamu belum berdoa saat membaca tulisan ini, adalah baik untuk berdoa memohon hikmat dari-Nya.

Menelaah maksud tulisan Yakobus

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16b).

Ada satu hal yang harus kita ketahui terlebih dulu saat membaca perkataan Yakobus ini. Di sana, setelah ayat 16, Yakobus turut menyertakan kisah tentang Elia yang berdoa agar langit menahan dan menurunkan hujan yang dikutip dari 1 Raja-raja 8:41-46. Bagi kita yang telah membaca kisah itu, secara cepat kita mungkin langsung tahu bahwa tujuan utama dari mukjizat Elia bukanlah untuk dirinya sendiri. Elia tidak meminta Allah mengendalikan langit agar dia dipuji oleh mereka yang menyaksikannya, atau sekadar demi kepuasan hati Elia semata. Semua hal menakjubkan yang dilakukan Elia ditujukan bagi kemuliaan Allah yang mengasihi umat-Nya. Hal ini mungkin terasa asing bagi sebagian orang yang pemahamannya tentang doa adalah mengenai pemenuhan dan pemuasan bagi si pendoa. Dari kisah Elia, kita mendapati bahwa fokus utama dari doa Kristen bukanlah untuk itu, melainkan untuk kemuliaan Allah.

Maksud dari pernyataanku pada paragraf di atas bukan berarti kita tidak boleh mencurahkan isi hati dan permohonan kita kepada Allah. Aku dan kamu dapat menangis di hadapan-Nya. Allah adalah sahabat kita. Namun di sini, aku mendorong kita untuk memusatkan segala kerinduan hati kita kepada kemuliaan-Nya ketika kita sedang berdoa. Mungkin pandangan ini terkesan keras, tetapi kita perlu mengingat bahwa ketika kita memiliki fokus lain selain Allah dalam hidup kita—termasuk di dalam doa—itu dapat dikategorikan sebagai ‘pemujaan berhala’. Hal-hal baik yang kita lakukan, jika didasari pada pandangan kita yang keliru bisa menuntun kita kepada dosa.

Itulah sebabnya, Yakobus menekankan kebenaran di dalam doa. Dia dengan jelas berkata tentang doa orang yang benar. Kata-kata ini tidak bisa kita sepelekan. Kata ‘benar’ menentukan begitu banyak hal yang telah dan yang akan kita definisikan dalam hidup kita.

Jika kita melihat secara keseluruhan pasal dalam ayat ini, sebenarnya ada banyak hal yang dibicarakan oleh Yakobus, tetapi perhatian kita akan kita arahkan secara khusus untuk ayat yang sering disalahpahami ini.

Jadi, apa yang dimaksud dengan “orang yang benar” oleh Yakobus?

Ada tiga hal yang sebenarnya sangat erat yang kita akan bedah bersama agar lebih mudah dipahami.

1. Orang yang benar adalah orang yang dibenarkan oleh darah Kristus

Orang yang benar adalah orang yang telah beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya Juru selamat, yang telah memberinya jaminan keselamatan melalui pengorbanan-Nya di Kalvari, sebagaimana tertulis “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Roma 5:1). Yesus memberikan kepastian akan hari esok, bukan teka-teki.

2. Orang yang benar adalah orang beriman yang hidup benar di hadapan Allah

Poin kedua ini tidak sedang berkata bahwa ada manusia yang dapat hidup sempurna tanpa cacat. Yang kumaksudkan di sini adalah orang yang telah dibenarkan karena beriman kepada Kristus yang akan berjuang hidup benar bagi-Nya. Dengan kata lain, imannya diwujudnyatakan dalam perjuangan hidupnya (Yakobus 2:14).

3. Orang yang benar adalah orang yang doanya benar

Poin ketiga ini sebenarnya mengembalikan kita pada poin yang sudah kita bicarakan sebelumnya mengenai fokus doa. Mungkin kita adalah orang yang telah dibenarkan oleh darah Kristus dan sedang berjuang hidup benar bagi kemuliaan-Nya, tetapi dalam motivasi berdoa, kita terkadang salah. Dan, sebenarnya inilah yang telah Yakobus bahas dalam pasal sebelumnya (Yakobus 4:3). Doa orang yang besar kuasanya bukan sekadar siapa pendoanya, melainkan juga apa isi doanya.

Allah tidak mengabulkan doa yang didasari atas motivasi yang salah, segigih apa pun itu.

Beberapa tahun yang lalu, seseorang memberikan kesaksian padaku saat dia kehilangan anaknya. Hatinya hancur. Dia telah berdoa agar anaknya selamat, namun hal yang diinginkannya tidak terkabul. Lalu, di suatu momen, dia mengubah isi doanya. Dia ingin agar nama Tuhan dimuliakan.

Dengan tersenyum, dia memandangku dan berkata, “Tahukah kau, Fandri, pada saat upacara pemakaman anakku, ada banyak orang dengan dengan latar belakang yang berbeda datang. Dan hari itu, mereka mendengarkan kisah kasih Injil keselamatan, kasih Tuhan melalui pengorbanan Kristus lewat sang pengkhotbah.”

Iman Kristen sejatinya bukanlah iman yang sadis, yang seolah Allah hanya bisa dimuliakan ketika kita mengalami penderitaan berat. Tapi, bukan juga iman yang dangkal, yang hanya mengharap hal-hal baik dan takut terhadap penderitaan. Dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, rupa-rupa kemalangan seringkali tidak terelakkan dalam kehidupan kita, tetapi dalam segalanya: entah baik atau buruk, Allah dapat memakai kita sebagai alat-Nya untuk memberi kebaikan bagi kita (Roma 8:28), sekaligus membawa kemuliaan bagi nama-Nya (Roma 11:36).

Kuasa kebenaran di dalam doa terjadi ketika kita telah jujur tentang apa yang kita inginkan, tetapi tetap berani berkata, “Jadilah kehendak-Mu untuk kemuliaan-Mu.”

Baca Juga:

Melajang di Usia 30+: Menyerah atau Bertahan dengan Pendirian?

Melepaskan seseorang yang cukup layak dalam standar masyarakat zaman ini menjadi sangat susah saat berada di usiaku. Aku bisa merasakan pikiranku bergulat untuk menemukan semacam kompromi.