Posts

Belajar Melihat Hidup dari Kacamata Orang Lain

Oleh Charles, Jakarta

Ketika aku dan beberapa temanku sedang makan malam di sebuah rumah makan, seorang anak kecil mendatangi kami. Dia berjualan tissue dan menawarkannya kepada kami.

Kami tidak memberikan respons apa-apa karena kami tidak berminat membeli tissue saat itu. Namun, anak itu dengan pantang menyerah tetap berdiri di sana dengan muka memelas. Hingga akhirnya seorang temanku bertanya, “Tissuenya berapa harganya, dik?”

“Lima ribu,” jawabnya.

Temanku lalu mengeluarkan selembar uang lima ribu dan membeli satu pak tissue yang dijualnya. Kemudian anak itu pun beralih ke meja lain.

Aku lalu teringat bahwa aku pernah membeli tissue yang serupa di sebuah toko beberapa waktu yang lalu. Harganya juga lima ribu. Kemudian aku juga teringat kalau tissue di mobilku sudah mau habis. Jadi kupikir tidak ada ruginya membeli tissue dari anak itu. Sebelum meninggalkan rumah makan itu, aku menghampiri anak itu dan menyodorkan selembar lima ribu untuk membeli satu pak tissue yang dijualnya.

Setelah meninggalkan rumah makan tersebut, dalam perjalanan pulang tiba-tiba ada beberapa hal yang terlintas dalam pikiranku.

Aku lalu berpikir, seandainya tadi aku beli semua tissue yang dibawanya (dia hanya bawa 5 pak tissue) dan aku memberikannya uang Rp 50.000 tanpa meminta kembali, kira-kira apa yang dirasakannya?

Mungkin dia akan merasa lega karena dia dapat beristirahat sejenak karena dagangannya sudah laku semua.

Mungkin juga dia menganggap hal itu menjadi bukti bahwa kerja keras akan menghasilkan hasil, dan itu memotivasinya untuk bekerja dengan tekun setiap hari.

Dan lebih daripada itu, mungkin juga dia menjadi percaya sebuah hal: Masih ada orang di dunia ini yang ingin berbuat baik kepadanya. Masih ada yang peduli dengannya, masih ada yang mengasihi dia.

Tiba-tiba, aku menjadi menyesal karena aku hanya membeli satu pak tissue seharga lima ribu Rupiah darinya. Aku telah melewatkan kesempatan untuk mencerahkan hati seorang anak yang mungkin sedang haus kasih sayang.

Namun, peristiwa singkat ini memberikan sebuah pelajaran berharga bagiku.

Mengapa pola pikirku bisa berubah drastis ketika aku ada di rumah makan dan ketika aku ada dalam perjalanan pulang? Jawabannya sederhana. Di rumah makan, aku hanya melihat kebutuhanku: “Apakah aku sedang butuh tissue?”, “Apakah harga tissuenya masuk akal?”, “Haruskah aku ingin membantu anak ini?” Semua fokusnya ada di “aku”. Namun, ketika dalam perjalanan, aku melihat dari sudut pandang yang berbeda. Aku memikirkan kebutuhan anak itu: “Berapa penolakan yang telah dilaluinya?”, “Cukupkah uang yang dihasilkannya untuk biaya hidupnya?”, “Apakah dia mendapatkan kasih sayang yang layak didapatkannya?”. Semua fokusnya beralih dari “aku” kepada “dia”. Dan inilah yang mengubah pemikiranku.

Sekali lagi Tuhan mengingatkanku bahwa hidup ini terlalu sayang untuk dijalani dengan hanya memperhatikan kepentingan diriku semata. Banyak kesempatan-kesempatan emas yang dapat kuambil hanya dengan mengubah sudut pandangku dan mulai memperhatikan kepentingan orang lain seperti aku memperhatikan kepentinganku.

Ketika Tuhan memanggil kita suatu saat nanti, aku percaya Tuhan tidak akan menanyakan, “Seberapa banyak keuntungan yang telah kamu hasilkan di dunia?”. Yang Dia akan tanyakan adalah, “Seberapa banyak kasih yang telah kamu bagikan dengan sesamamu manusia?”

Marilah kita perluas sudut pandang kita dan mulai melihat hidup ini dari kacamata orang lain juga, termasuk musuh-musuh kita. Perhatikanlah apa yang menjadi kebutuhan mereka. Jika kita setia melakukannya, aku yakin hati kita dan dunia ini bisa menjadi lebih indah dan damai.

Baca Juga:

10 Tahun Bekerja dengan Sikap Hati yang Salah, Inilah Cara Tuhan Menegurku

Selama 10 tahun bekerja, aku takut kalau aku dicap sebagai orang yang ceroboh dan tidak kompeten. Bukannya belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah kuperbuat, yang ada aku malah merasa kesal. Hingga akhirnya, Tuhan pun menyadarkanku dari sikap hatiku yang salah.

Teruslah Melayani

Senin, 27 Agustus 2018

Teruslah Melayani

Baca: Daniel 6:11-23

6:11 Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.

6:12 Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya.

6:13 Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: “Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?” Jawab raja: “Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.”

6:14 Lalu kata mereka kepada raja: “Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya.”

6:15 Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya.

6:16 Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!”

6:17 Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: “Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!”

6:18 Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa.

6:19 Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur.

6:20 Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa;

6:21 dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: “Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?”

6:22 Lalu kata Daniel kepada raja: “Ya raja, kekallah hidupmu!

6:23 Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.”

Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu? —Daniel 6:21

Teruslah Melayani

Ketika psikolog pendidikan, Benjamin Bloom, mengadakan penelitian tentang pengembangan bakat kaum muda dengan memperhatikan masa kanak-kanak dari 120 tokoh pilihan—atlet, seniman, ilmuwan—ia menemukan bahwa mereka semua memiliki satu kesamaan: mereka telah berlatih secara intensif selama jangka waktu yang lama.

Penelitian Bloom menunjukkan bahwa dibutuhkan disiplin untuk dapat berkembang dalam bidang kehidupan apa pun. Perjalanan kita bersama Allah pun sama. Membangun disiplin rohani dengan menyediakan waktu bersama-Nya merupakan salah satu cara bagi kita untuk bertumbuh dalam iman kepada-Nya.

Daniel adalah contoh yang baik tentang seseorang yang memprioritaskan disiplin rohani dalam perjalanan imannya. Di masa mudanya, Daniel mulai membuat keputusan-keputusan yang cermat dan bijaksana (1:8). Ia juga berkomitmen untuk berdoa secara teratur dan “memuji Allahnya” (6:11). Ketekunannya dalam mencari Allah telah menghasilkan kehidupan iman yang sangat jelas terlihat oleh orang-orang di sekitarnya. Raja Darius bahkan menyebut Daniel sebagai “hamba Allah yang hidup” (ay.21) dan dua kali menyebut Daniel sebagai orang yang menyembah Allah “dengan tekun” (ay.17,21).

Seperti Daniel, kita sangat membutuhkan Allah. Sungguh indah saat mengetahui bahwa Allah bekerja di dalam kita untuk membuat kita rindu dan rela menyediakan waktu bersama-Nya! (Flp. 2:13). Jadi, marilah kita datang kepada Allah setiap hari, dengan meyakini bahwa waktu yang kita habiskan bersama-Nya akan menghasilkan dalam diri kita suatu kasih yang senantiasa mengalir dan pengertian serta pengenalan yang terus bertumbuh akan Juruselamat kita (Flp. 1:9-11). —Keila Ochoa

Bapa, terima kasih atas hak istimewa yang kuterima untuk melayani-Mu. Tolonglah aku untuk menyediakan waktu untuk bertemu dengan-Mu secara teratur agar aku makin bertumbuh dan mengenal-Mu.

Waktu bersama Allah akan mengubah hidup kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 120-122; 1 Korintus 9

Artikel Terkait:

Pelayanan di Balik Layar

Waktu yang Diberikan

Senin, 13 Agustus 2018

Waktu yang Diberikan

Baca: Lukas 6:37-38

6:37 “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. —Amsal 11:25

Waktu yang Diberikan

Hari itu, saya sangat tergesa-gesa masuk ke kantor pos karena ada sejumlah hal yang hendak saya kerjakan. Namun, setelah masuk, saya merasa frustrasi karena melihat antrean yang mengular panjang sampai ke pintu. “Sudah cepat-cepat, tetapi masih harus menunggu,” gumam saya sambil melirik arloji dengan kesal.

Di saat tangan saya masih memegang pintu, seorang bapak tua yang tidak saya kenal mendekati saya. “Saya tak bisa menggunakan mesin fotokopi ini,” katanya sambil menunjuk mesin di belakang kami. “Uang saya terlanjur masuk ke mesin, dan saya tak tahu harus berbuat apa.” Saat itu, saya langsung tahu apa yang Tuhan mau untuk saya lakukan. Saya pun keluar dari antrean untuk membantunya dan berhasil menyelesaikan masalah itu dalam waktu sepuluh menit.

Orang tersebut mengucapkan terima kasih dan kemudian pergi. Lalu saat saya berbalik untuk antre lagi, antreannya sudah tidak ada! Saya bisa langsung berjalan ke depan loket pelayanan.

Pengalaman hari itu mengingatkan saya pada perkataan Yesus: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk. 6:38).

Penantian saya terasa singkat karena Allah menyela sikap saya yang tergesa-gesa. Dengan mengalihkan perhatian saya pada kebutuhan orang lain dan memampukan saya untuk memberikan waktu saya, Allah pun memberi saya sebuah berkat. Pelajaran itulah yang ingin saya ingat manakala saya melirik arloji saya. —James Banks

Bapa Surgawi, seluruh waktu yang kupunya adalah pemberian-Mu. Tunjukkanlah bagaimana aku dapat memakai waktuku agar memuliakan dan menghormati-Mu.

Adakalanya kita perlu mengesampingkan tugas-tugas yang ingin kita kerjakan demi melakukan hal lain yang lebih mendesak.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 87-88; Roma 13

Sukacita Memberi

Senin, 6 Agustus 2018

Sukacita Memberi

Baca: 1 Tesalonika 5:12-24

5:12 Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu;

5:13 dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.

5:14 Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.

5:15 Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.

5:16 Bersukacitalah senantiasa.

5:17 Tetaplah berdoa.

5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

5:19 Janganlah padamkan Roh,

5:20 dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.

5:21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.

5:22 Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.

5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

5:24 Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.

Tabahkan hati orang yang takut; tolonglah orang yang perlu ditolong dan sabarlah terhadap semua orang. —1 Tesalonika 5:14 BIS

Sukacita Memberi

Minggu itu terasa sangat menjemukan, entah mengapa saya merasa lesu dan tidak bersemangat.

Di penghujung minggu, saya mendapat kabar bahwa salah seorang bibi saya menderita sakit ginjal. Saya sadar saya harus mengunjunginya—tetapi terus terang, saya merasa enggan. Walaupun demikian, akhirnya saya pergi mengunjunginya. Di sana kami menikmati makan malam, mengobrol, dan berdoa bersama. Setelah satu jam, saya pun pulang dengan semangat baru, sesuatu yang tidak saya rasakan sepanjang minggu itu. Tindakan memperhatikan orang lain lebih daripada diri sendiri ternyata dapat memperbaiki suasana hati saya.

Para psikolog telah menemukan bahwa tindakan memberi dapat menghasilkan kepuasan dalam hati, yakni ketika sang pemberi melihat ucapan syukur dari sang penerima. Sejumlah pakar bahkan yakin bahwa manusia sebenarnya mempunyai kecenderungan untuk bermurah hati!

Mungkin untuk alasan itulah, dalam nasihat kepada jemaat di Tesalonika, Paulus mendorong mereka agar “[menolong] orang yang perlu ditolong” (1Tes. 5:14 bis). Sebelumnya, ia telah mengutip perkataan Yesus, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35). Walaupun nasihat itu diberikan dalam konteks pemberian finansial, tetapi berlaku juga dalam hal memberikan waktu dan tenaga.

Dengan memberi, kita memahami sedikit banyak apa yang Allah rasakan. Kita memahami mengapa Allah sangat senang memberikan kasih-Nya kepada kita, dan kita pun menikmati sukacita-Nya dan kepuasan dalam menjadi berkat bagi orang lain. Karena itulah, rasanya saya akan mengunjungi bibi saya lagi dalam waktu dekat. —Leslie Koh

Bapa, Engkau menghendaki aku untuk memberi kepada orang lain seperti Engkau telah memberi begitu banyak bagiku. Ajarlah aku untuk memberi agar aku dapat mencerminkan karakter-Mu dan menjadi makin serupa dengan-Mu hari ini.

Berkat terbesar diterima oleh mereka yang rela memberi.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 70-71; Roma 8:22-39

Mengatasi Tantangan

Senin, 30 Juli 2018

Mengatasi Tantangan

Baca: Nehemia 6:1-9, 15

6:1 Ketika Sanbalat dan Tobia dan Gesyem, orang Arab itu dan musuh-musuh kami yang lain mendengar, bahwa aku telah selesai membangun kembali tembok, sehingga tidak ada lagi lobang, walaupun sampai waktu itu di pintu-pintu gerbang belum kupasang pintunya,

6:2 maka Sanbalat dan Gesyem mengutus orang kepadaku dengan pesan: “Mari, kita mengadakan pertemuan bersama di Kefirim, di lembah Ono!” Tetapi mereka berniat mencelakakan aku.

6:3 Lalu aku mengirim utusan kepada mereka dengan balasan: “Aku tengah melakukan suatu pekerjaan yang besar. Aku tidak bisa datang! Untuk apa pekerjaan ini terhenti oleh sebab aku meninggalkannya dan pergi kepada kamu!”

6:4 Sampai empat kali mereka mengirim pesan semacam itu kepadaku dan setiap kali aku berikan jawaban yang sama kepada mereka.

6:5 Lalu dengan cara yang sama untuk kelima kalinya Sanbalat mengirim seorang anak buahnya kepadaku yang membawa surat yang terbuka.

6:6 Dalam surat itu tertulis: “Ada desas-desus di antara bangsa-bangsa dan Gasymu membenarkannya, bahwa engkau dan orang-orang Yahudi berniat untuk memberontak, dan oleh sebab itu membangun kembali tembok. Lagipula, menurut kabar itu, engkau mau menjadi raja mereka.

6:7 Bahkan engkau telah menunjuk nabi-nabi yang harus memberitakan tentang dirimu di Yerusalem, demikian: Ada seorang raja di Yehuda! Sekarang, berita seperti itu akan didengar raja. Oleh sebab itu, mari, kita sama-sama berunding!”

6:8 Tetapi aku mengirim orang kepadanya dengan balasan: “Hal seperti yang kausebut itu tidak pernah ada. Itu isapan jempolmu belaka!”

6:9 Karena mereka semua mau menakut-nakutkan kami, pikirnya: “Mereka akan membiarkan pekerjaan itu, sehingga tak dapat diselesaikan.” Tetapi aku justru berusaha sekuat tenaga.

6:15 Maka selesailah tembok itu pada tanggal dua puluh lima bulan Elul, dalam waktu lima puluh dua hari.

Maka selesailah tembok itu pada tanggal dua puluh lima bulan Elul, dalam waktu lima puluh dua hari. —Nehemia 6:15

Mengatasi Tantangan

Saya dan beberapa teman berkumpul tiap bulan untuk saling mengingatkan tentang hal-hal yang ingin kami capai masing-masing. Teman saya, Mary, ingin melapis ulang kursi-kursi ruang makannya sebelum akhir tahun. Pada pertemuan bulan November, dengan bercanda ia melaporkan kemajuan yang dialaminya di bulan Oktober: “Butuh waktu sepuluh bulan dan dua jam untuk memperbaiki kursi-kursiku.” Setelah berbulan-bulan gagal mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan, atau sulit menemukan waktu luang di sela-sela pekerjaan yang padat atau mengasuh anak balitanya, proyek tersebut ternyata hanya membutuhkan waktu dua jam jika dikerjakan dengan sepenuh hati.

Tuhan memanggil Nehemia mengerjakan proyek yang jauh lebih besar: memulihkan Yerusalem setelah temboknya runtuh selama 150 tahun (Neh. 2:3-5,12). Ketika ia memimpin bangsanya bekerja, mereka diolok-olok, diserang, diganggu, dan digoda untuk berbuat dosa (4:3,8; 6:10-12). Namun, Allah memampukan mereka berdiri teguh dan bertekad baja sehingga tugas yang sulit itu diselesaikan hanya dalam waktu 52 hari.

Mengatasi tantangan sesulit itu membutuhkan lebih dari hasrat atau tekad diri yang kuat. Nehemia digerakkan oleh pemahaman bahwa Allah telah menunjuknya untuk melakukan tugas itu. Kesadaran akan tujuan itu menguatkan orang lain untuk mengikuti kepemimpinannya, meski mereka mendapat perlawanan yang luar biasa. Ketika Allah menugaskan kita—baik untuk memulihkan hubungan yang retak atau memberi kesaksian tentang apa yang telah diperbuat-Nya dalam hidup kita—Dia akan memberi kita apa pun keterampilan dan kekuatan yang diperlukan untuk terus melakukan apa yang Dia minta, apa pun tantangan yang mungkin menghadang kita. —Kirsten Holmberg

Ya Tuhan, perlengkapi aku dengan kuasa-Mu agar aku bertekun hingga menyelesaikan tugas-tugas yang Engkau berikan kepadaku. Kiranya jerih lelahku memuliakan-Mu.

Tuhan memperlengkapi kita untuk mengatasi rintangan dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan-Nya untuk kita lakukan.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 51-53; Roma 2

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Ferren Manuela

Pelayanan yang Murah Hati

Kamis, 26 Juli 2018

Pelayanan yang Murah Hati

Baca: Yesaya 58:6-12

58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,

58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.

58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.

Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap. —Yesaya 58:10

Pelayanan yang Murah Hati

Sekelompok kecil orang berdiri di sekeliling pohon raksasa yang tumbang di halaman rumah. Seorang wanita berusia lanjut dengan tongkat di tangannya bercerita bagaimana ia menyaksikan angin badai pada malam sebelumnya menghempaskan “pohon tua raksasa kami. Lebih parahnya lagi,” lanjutnya dengan suara yang serak karena emosi, “badai itu merobohkan tembok batu kami yang indah. Suami saya membangun tembok itu setelah kami menikah. Kami menyukai tembok itu! Sekarang tembok itu tidak ada lagi; sama seperti dirinya.”

Esok paginya, saat wanita tua itu melihat para pekerja sedang membersihkan pohon yang tumbang, ia pun tersenyum lebar. Di antara ranting-ranting ia bisa melihat dua orang dewasa dan seorang anak laki-laki yang pernah menolongnya memotong rumput halaman itu kini sedang mengukur dan membangun kembali tembok batu kesayangannya!

Nabi Yesaya pernah menulis tentang jenis pelayanan yang disukai Allah, yakni perbuatan-perbuatan yang menguatkan hati orang-orang di sekitar kita, seperti yang dilakukan mereka yang memperbaiki tembok wanita tua itu. Bacaan Alkitab hari ini mengajarkan bahwa Allah lebih menghargai pelayanan yang mementingkan kebutuhan orang lain daripada ritual agamawi yang tanpa makna. Allah bahkan memberikan berkat dua arah lewat pelayanan tanpa pamrih yang dilakukan anak-anak-Nya. Pertama, Allah memakai kerelaan kita dalam melayani untuk membantu kaum yang tertindas dan membutuhkan pertolongan (Yes. 58:7-10). Lalu Allah menghargai mereka yang terlibat dalam pelayanan itu dengan membangun atau meneguhkan kembali reputasi mereka sebagai kekuatan yang memberikan dampak positif dalam Kerajaan-Nya (ay.11-12). Pelayanan apa yang akan kamu berikan hari ini? —Randy Kilgore

Terima kasih, Bapa, untuk pelayanan orang lain yang Engkau pakai untuk menolong kami. Terima kasih karena Engkau memanggil kami untuk melakukan hal yang sama.

Kita memuliakan Allah dengan melayani sesama tanpa pamrih.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 40-42; Kisah Para Rasul 27:1-26

Setiap Momen Berarti

Rabu, 20 Juni 2018

Setiap Momen Berarti

Baca: Filipi 1:12-24

1:12 Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,

1:13 sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.

1:14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.

1:15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.

1:16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,

1:17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.

1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,

1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.

1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.

1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus—itu memang jauh lebih baik;

1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. —Filipi 1:21

Setiap Momen Berarti

Ketika saya bertemu seorang wanita lanjut usia bernama Ada, ia telah hidup lebih lama dari semua sahabat dan kerabatnya. Ada kini tinggal di panti wreda. “Bagian tersulit dari bertambah tua,” katanya kepada saya, “adalah melihat satu demi satu kenalan kita berpulang dan meninggalkan kita.” Suatu hari saya bertanya kepada Ada apa yang membuatnya bertahan dan bagaimana ia mengisi waktunya. Ia menjawab dengan mengutip sebuah ayat Kitab Suci yang ditulis Rasul Paulus: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21). Kemudian ia berkata, “Selagi masih diberi napas, masih ada yang harus kulakukan. Jika kondisiku baik, aku bisa bercerita tentang Yesus kepada orang-orang di panti ini; jika kondisiku menurun, aku masih bisa berdoa.”

Penting untuk diketahui bahwa Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi saat ia berada di dalam penjara. Ia mengakui kenyataan yang dipahami oleh banyak orang Kristen menjelang kematian mereka: Sekalipun surga tampak begitu memikat, sisa masa hidup yang masih kita miliki di bumi sangatlah berarti bagi Allah.

Seperti Paulus, Ada menyadari bahwa setiap tarikan napasnya merupakan kesempatan untuk melayani dan memuliakan Allah. Jadi, Ada mengisi hari-harinya dengan mengasihi orang lain dan memperkenalkan mereka kepada Juruselamatnya.

Dalam momen-momen tergelap sekalipun, kita sebagai orang Kristen dapat berpegang pada janji bahwa kita akan menerima sukacita abadi bersama Allah di surga kelak. Namun, selama kita masih hidup, kita menikmati hubungan yang erat dengan-Nya. Dia menjadikan setiap momen dalam hidup kita berarti. —Randy Kilgore

Tuhan, berilah aku kekuatan untuk melayani-Mu dengan setiap tarikan napasku, supaya setiap momen dari sisa hidupku ini menjadi berarti bagi Kerajaan-Mu.

Ketika tiba waktunya Allah memanggil kita pulang, kiranya Dia menemukan kita sedang melayani-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Ester 1-2; Kisah Para Rasul 5:1-21

Bahu-Membahu

Rabu, 6 Juni 2018

Bahu-Membahu

Baca: Nehemia 3:1-12

3:1 Maka bersiaplah imam besar Elyasib dan para imam, saudara-saudaranya, lalu membangun kembali pintu gerbang Domba. Mereka mentahbiskannya dan memasang pintu-pintunya. Mereka mentahbiskannya sampai menara Mea, menara Hananeel.

3:2 Berdekatan dengan mereka orang-orang Yerikho membangun, dan berdekatan dengan orang-orang itu Zakur bin Imri.

3:3 Pintu gerbang Ikan dibangun oleh bani Senaa. Mereka memasang balok-balok lalu memasang pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing dan palang-palangnya.

3:4 Berdekatan dengan mereka Meremot bin Uria bin Hakos mengadakan perbaikan, dan berdekatan dengan dia Mesulam bin Berekhya bin Mesezabeel. Berdekatan dengan dia Zadok bin Baana mengadakan perbaikan,

3:5 dan berdekatan dengan dia orang-orang Tekoa. Hanya pemuka-pemuka mereka tidak mau memberi bahunya untuk pekerjaan tuan mereka.

3:6 Pintu gerbang Lama diperbaiki oleh Yoyada bin Paseah dan Mesulam bin Besoja. Mereka memasang balok-balok lalu memasang pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing dan palang-palangnya.

3:7 Berdekatan dengan mereka Melaca, orang Gibeon, dan Yadon, orang Meronot, mengadakan perbaikan beserta orang-orang Gibeon dan Mizpa, yang berada di wilayah kekuasaan bupati daerah sebelah barat sungai Efrat.

3:8 Berdekatan dengan mereka Uziel bin Harhaya, salah seorang tukang emas, mengadakan perbaikan, dan berdekatan dengan dia Hananya, seorang juru campur rempah-rempah. Mereka memperkokoh Yerusalem sampai tembok Lebar.

3:9 Berdekatan dengan mereka Refaya bin Hur, penguasa setengah wilayah Yerusalem yang satu mengadakan perbaikan.

3:10 Berdekatan dengan dia Yedaya bin Harumaf mengadakan perbaikan, tepat di depan rumahnya, dan berdekatan dengan dia Hatus bin Hasabneya.

3:11 Malkia bin Harim dan Hasub bin Pahat-Moab memperbaiki bagian yang lain dan menara Perapian.

3:12 Berdekatan dengan mereka Salum bin Halohesh, penguasa setengah wilayah Yerusalem yang lain mengadakan perbaikan bersama-sama anak-anak perempuannya.

Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. —Pengkhotbah 4:9

Bahu-Membahu

Pada zaman kuno, kota yang temboknya rusak menjadi indikasi bahwa penduduknya telah dikalahkan. Mereka terancam bahaya dan berisiko dipermalukan. Itulah alasan orang Yahudi membangun kembali tembok kota Yerusalem. Nehemia 3 menunjukkan bahwa mereka melakukannya dengan bahu-membahu.

Sekilas, pasal 3 mungkin terlihat seperti cerita bertele-tele tentang apa tugas orang-orang dalam pembangunan tersebut. Namun, jika dicermati, pasal itu memperlihatkan bagaimana bangsa itu bergotong royong. Para imam bahu-membahu dengan para penguasa. Juru campur rempah-rempah dan tukang emas sama-sama bekerja. Orang-orang dari kota-kota sekitar datang membantu. Yang lainnya memperbaiki rumah di depan rumah mereka. Anak-anak perempuan Salum ikut mengadakan perbaikan (3:12) dan ada yang memperbaiki dua bagian, seperti orang-orang Tekoa (ay.5,27).

Ada dua hal yang menonjol dari pasal ini. Pertama, mereka semua bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Kedua, mereka semua dipuji karena telah mengambil bagian dalam pekerjaan itu dan bukan karena besar-kecilnya pekerjaan mereka masing-masing.

Saat ini kita melihat banyaknya keluarga yang hancur dan masyarakat yang rusak. Namun, Yesus datang untuk membangun Kerajaan Allah dengan mengubah hidup manusia. Kita dapat mengambil bagian untuk membangun kembali lingkungan kita dengan menunjukkan kepada sesama kita bahwa mereka bisa menemukan pengharapan dan hidup baru di dalam Yesus Kristus. Tugas itu memanggil kita semua. Karena itu, marilah kita bahu-membahu dalam mengerjakan bagian kita—besar atau kecil—untuk menciptakan komunitas kasih yang memungkinkan orang bertemu dengan Yesus. —Keila Ochoa

Allah terkasih, tolong aku untuk dapat bekerja sama dengan sesamaku, dengan bahu-membahu dalam menunjukkan kasih dan mengarahkan orang lain kepada Yesus.

Marilah kita bahu-membahu membangun Kerajaan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 25-27; Yohanes 16

Mengikuti Pimpinan-Nya

Kamis, 15 Februari 2018

Mengikuti Pimpinan-Nya

Baca: 1 Raja-Raja 19:19-21

19:19 Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya.

19:20 Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.”

19:21 Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.

Sesudah itu bersiaplah [Elisa], lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya. —1 Raja-Raja 19:21

Mengikuti Pimpinan-Nya

Saat masih anak-anak, saya selalu menantikan kebaktian hari Minggu sore di gereja kami. Ibadah Minggu sore terasa sangat menyenangkan, karena mimbar gereja kami sering diisi oleh para misionaris dan pembicara tamu lainnya. Isi khotbah mereka menggugah iman saya karena kerelaan mereka untuk meninggalkan keluarga dan sahabat—dan ada juga yang meninggalkan rumah, harta, dan karier—untuk pergi ke tempat-tempat yang asing dan terkadang berbahaya demi melayani Allah.

Seperti para misionaris tersebut, Elisa meninggalkan banyak hal demi mengikuti Allah (1Raj. 19:19-21). Sebelum Allah memanggil Elisa ke dalam pelayanan melalui Nabi Elia, tidak banyak yang kita ketahui tentang Elisa kecuali bahwa ia adalah seorang petani. Ketika menemui Elisa yang sedang membajak di ladang, Nabi Elia memakaikan jubahnya ke bahu Elisa (lambang dari peran Elia sebagai nabi) dan memanggil Elisa untuk mengikutnya. Setelah mengajukan satu permintaan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada ayah dan ibunya, Elisa pun mengorbankan lembunya dan membakar bajaknya, pamit kepada orangtuanya, lalu mengikut Elia.

Meskipun tidak banyak dari kita yang dipanggil untuk meninggalkan keluarga dan sahabat untuk melayani Allah sebagai misionaris penuh waktu, Allah menghendaki kita semua untuk mengikut Dia dan “tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan bagi [kita] dan dalam keadaan seperti waktu [kita] dipanggil Allah” (1Kor. 7:17). Seperti yang sering saya alami, melayani Allah bisa terasa menyenangkan sekaligus menantang, di mana pun kita berada—sekalipun kita tidak pergi ke tempat-tempat yang jauh. —Alyson Kieda

Ya Tuhan, perlengkapi kami untuk menjadi utusan-Mu di mana pun Engkau menempatkan kami—dekat ataupun jauh, di negeri kami atau di negara lain.

Allah akan menunjukkan kepada kita cara yang terbaik untuk melayani-Nya di mana pun kita berada.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 17-18; Matius 27:27-50