Sebuah Pelajaran dari Bapak Penjual Sandal

Info

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Apa yang akan kamu lakukan ketika ada seseorang yang meminta kepadamu? Sederhananya, ada dua jawaban yang mungkin aku atau kamu akan berikan, yaitu memberi atau menolak.

Namun, ada sebuah peristiwa di mana aku merasa bimbang dan dilema. Di satu sisi aku ingin memberi tapi aku enggan. Di sisi lainnya, aku ingin menolak tetapi tidak sampai hati.

Cerita ini bermula saat aku sedang makan bersama seorang teman di warung kaki lima. Waktu itu ada seorang bapak berjalan mendekat ke arah kami. Jalannya pincang, di punggungnya terkait sebuah tas besar, tangannya memegang beberapa pasang sandal, dan senyum tipis tersungging di wajahnya. Dia berusaha membujuk kami untuk membeli salah satu dari sandal yang dia jajakan. Awalnya aku berusaha acuh tak acuh terhadap bapak itu, tetapi dia bergeming dan menatapku dengan tatapan lunglai.

Akhirnya, aku bertanya. “Berapa harga sandalnya, pak?”

“60 ribu, mas,” sahutnya.

Saat itu aku hanya membawa sedikit uang di dompet, dan tepat di hari itu juga aku kehilangan sejumlah uang. Ingin rasanya aku menolak bapak itu supaya dia segera beranjak. Tapi, setelah kuamati sekali lagi bapak itu, aroma balsem tercium menyengat dari tubuhnya, matanya begitu sayu, wajahnya penuh keringat, dan nafasnya pun tersengal-sengal. Aku pikir sepertinya bapak itu memang sedang kelelahan, sakit, dan tentunya membutuhkan uang.

Hati kecilku terketuk, lalu kupegang tangan bapak itu dan berkata, “Pak, saya tidak punya cukup uang buat beli sandal bapak, dan saya juga saat ini belum membutuhkan sandal. Tapi, saya mau memberi buat bapak seadanya.”

Respons yang kudapat mengejutkanku. Bapak itu tersungkur di depanku dan menangis. Setelah kuajak bicara lebih lanjut, ternyata perjuangan bapak itu sungguh luar biasa. Aroma balsem yang menyeruak dari tubuhnya itu berasal dari kakinya yang membengkak karena kecelakaan. Aku mengajaknya untuk duduk makan bersamaku, namun dia menolak dengan halus. Katanya dia mau menggunakan uang yang diterimanya untuk pulang saja ke rumah. Kemudian bapak itu undur diri dan berjalan meninggalkan kami.

Saat aku melanjutkan makanku, pikiranku terus bertanya-tanya dan membayangkan tentang bapak itu.

Sudah sejauh mana dia berjalan? Bagaimana dengan kakinya yang bengkak itu? Bagaimana perasaannya apabila hari itu tak ada satupun yang membeli jualannya?

Walaupun aku telah memutuskan untuk memberi, tetapi aku merasa malu pada diriku sendiri. Sebagai seorang Kristen, aku sudah sering mendengar ayat-ayat yang berbicara tentang memberi. Namun, ketika dihadapkan pada pilihan di mana sudah seharusnya aku memberi, aku malah bingung dan bertanya-tanya. Apakah aku harus memberi kepada bapak ini? Atau, sampai sejauh mana aku harus memberi? Apakah aku memberi jika aku sedang berkelimpahan? Atau, apakah aku memberi jika kalau aku merasa ingin saja?

Alkitab tidak mengatakan pada kita bahwa kita harus memberi kalau kita diberi kembali, atau kita harus memberi kalau kita sedang punya. Dalam Kisah Para Rasul 20:35, Alkitab dengan jelas mengatakan pada kita bahwa adalah lebih baik memberi daripada menerima, titik. Tanpa ada persyaratan lainnya.

Malam itu aku menyadari bahwa aku masih terlalu egois. Yang ada dalam pikiranku hanyalah tentang diriku sendiri. Ketika bapak itu datang menghampiriku, aku mengesampingkan dahulu rasa kepedulianku dan lebih memikirkan tentang kemalangan yang sudah terlebih dahulu menimpaku. Aku lupa bahwa sesulit-sulitnya hidupku, ada orang lain yang hidupnya jauh lebih sulit. Aku pun lupa bahwa ketika aku menolong orang yang lemah dan hina, sesungguhnya aku sedang melakukan itu untuk Tuhan (Matius 25:40).

Aku berdoa memohon ampun kepada Tuhan dan juga mengucap syukur atas kehadiran bapak tadi yang boleh menegur dan mengajarku untuk menjadi seorang yang ikhlas memberi. Mungkin pemberianku yang kecil itu tidak akan mengubah kehidupan bapak itu seketika, tetapi minimal dia bisa kembali ke rumahnya, beristirahat, dan bertemu dengan keluarganya.

Aku yakin bahwa tak hanya bapak itu, tetapi ada banyak orang lain di lingkungan kita yang juga membutuhkan pertolongan. Entah itu seorang janda di gereja kita yang tak punya uang untuk berobat, teman sekelas kita yang tak mampu untuk membayar uang sekolah, atau bahkan para pedagang kecil yang sering menghampiri kita saat kita sedang makan. Pada intinya, realita yang tersaji di hadapan kita adalah ada banyak orang-orang yang sebetulnya membutuhkan bantuan dari kita. Hanya, apakah kita peka dan mau menaruh perhatian terhadap mereka?

Sebagai orang Kristen yang adalah pengikut Kristus, sudah seharusnya kita mengikuti teladan-Nya dan juga peka terhadap lingkungan sekitar kita. Ketika Kristus telah memberikan segala-galanya untuk kita yang seharusnya tak layak diberi (Roma 3:23-24), akankah kita memberikan sedikit yang ada daripada kita untuk sesama manusia yang membutuhkan?

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).

Baca Juga:

Masa Single: Sebuah Garis yang (Sepertinya) Tidak Bisa Kulewati

Apa gunanya sebuah garis? Jawabannya adalah untuk memisahkan dua sisi. Dari sisi di mana aku berdiri, aku melihat orang-orang di sisi seberangku sudah memiliki pacar atau menikah. Dan, di sinilah aku, sedang berdiri menanti untuk menyeberangi garis ini.

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 10 - Oktober 2017: Dunia, Artikel, Kesaksian, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

10 Komentar Kamu

  • @Aryanto Wijaya pengalaman rohani yg sangat menarik, kadang kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri, tanpa tau di sekeliling kita Tuhan Yesus butuh bantuan kita sebagai kepanjangan tanganNya untuk menyentuh orang-orang yg kesusahan. Tuhan Yesus membuat perumpaan tentang orang Samaria yg murah hati tertulis di Lukas 10 ayat 25-37. Saat itu ada yg terluka parah di jalan tanpa ada yg mau menolong baik seorang imam maupun seorang lewi, tapi ada seorang Samaria yg tergerak hatinya kemudian membalut luka-luka orang tersebut. Sebagai informasi orang Samaria sangat dibenci orang yahudi karena perbedaan agama dan kebiasaan. Tapi orang samaria telah buktikan kasih tanpa melihat status, agama serta garis keturunan. Orang seperti inilah yg akan memiliki hidup yg kekal di sorga. Begitu juga dengan orang kaya yg susah masuk sorga daripada orang miskin, ketika Tuhan Yesus membutuhkan tangan orang kaya ini untuk dipakai Tuhan menolong orang miskin dan kesusahan, orang kaya ini berat hatinya untuk ikut Tuhan, karena hartanya yg banyak sulit untuk dilepasnya. Sedangkan orang miskin, coba perhatikan ketika orang miskin beribadah minggu pagi, dia dengan kesederhanaannya datang memberikan persembahan roh dan tubuhnya untuk memuliakan Tuhan, tapi kita yg melihat orang miskin ini tidak tau mungkin hari itu uang untuk makan belum tercukupi ataupun tertunda karena utamakan ibadah ke gereja. Inilah yg dimaksud Tuhan dengan memberi dengan kekurangannya. Tapi Tuhan Yesus juga membenci orang-orang munafik, tidak semua orang peminta-minta di jalan perlu dikasihani. Saya sering pergi berkendara hujan-hujan di lampu merah, ternyata peminta-minta yg putus tangannya rupanya begitu hujan turun tangannya yg putus diikat dibelakang tubuhnya tembus gara-gara hujan jadi nampak tangannya. Saya juga sering jumpa anak-anak jalanan yg minta-minta di lampu merah ternyata di sudut-sudut pohon mereka merokok-rokok. Kalau mau menolong dan mengasihi sesama ada tempatnya yg lebih jelas seperti panti asuhan dan dinas sosial. Semoga kita lebih bijaksana dalam menolong orang. Satu sisi Tuhan Yesus anjurkan kasihilah sesama, orang miskin dan orang kesusahan. AlasanNya orang miskin dan orang kesusahan sampai kapanpun tidak akan mampu membalas kebaikan kita, sehingga Bapa kita di sorga akan melihat kemurahan hati kita dan akan membalaskannya kepada anak-anakNya yg menjalankan ajaran kasihNya. Tapi Tuhan Yesus juga membenci orang-orang munafik yg bertopeng belas kasihan, maka bijaksanalah menolong orang, kita harus tau mana orang yg benar-benar butuh pertolongan mana yg pura-pura hanya untuk menipu. Artikel ini sangat bagus untuk mengajari tentang Kasih Kristus yg harus berbuah dalam ucapan dan perbuatan. Tuhan Yesus memberkati

  • @Dan

    Terima kasih atas apresiasinya. Kiranya tulisan ini bisa menjadi berkat dan pengingat untuk kita bermurah hati terhadap sesama.

  • Saya mau mengkoreksi komentar saya di atas biar orang jangan salah paham seolah-olah berbuat baik saja bisa buat orang masuk sorga walaupun bukan pengikut Kristus. Itu komentar aturannya di berlakukan buat bangsa israel, memang 12 suku israel diberi pengecualian. Jadi ada 2 jalur keselamatan dari Kristus itulah yg kita yakini dan cari sekarang, kemudian hak 12 suku israel yg telah Tuhan janjikan buat bangsa Israel. Ketika Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang orang Samaria yg baik hati Lukas 10 ayat 25 : 37 itu dihadapan imam-iman Yahudi serta keturunan Israel, tujuanNya supaya mereka imam-imam Yahudi dan keturunan Israel mengerti mengasihi sesama manusia itu harus total jangan melihat agama, garis keturunan Israel serta adat istiadat. Jadi Tuhan hanya ingin menepati janjiNya buat bangsa Israel termasuk memberi jatah di akhir jaman yg dalam bahasa ibrani disebut Harmagedon sebanyak 144 ribu keturunan 12 suku israel akan memperoleh keselamatan karena anugrah Tuhan. Sedangkan non Israel, bangsa-bangsa di luar israel, memperoleh keselamatan hanya dengan mencari kerajaan Tuhan dan kebenaranNya, menjalankan ajaran kasihNya serta memiliki iman sebesar biji sesawi. Ketika akhir jaman juga non Israel diberi tempat untuk menantikan kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya tempat itu bernama kota kudus atau holy city. Disanalah Tuhan Yesus menyediakan tempat yg mampu memuat ratusan juta orang percaya. Baik orang Israel maupun non Israel setelah Tuhan Yesus turun kedua kalinya dan menghancurkan iblis serta kuasa dosanya, nantinya akan di tempatkan di Yerusalem baru. Disana janji Tuhan digenapi, murka Tuhan hilang dan berganti kasih setia. Tidak ada lagi kematian dan kesusahan yg seperti kita alami saat ini. Saya menuliskan ini supaya tidak ada salah paham dari tulisan saya di atas, keselamatan non Israel jelas melalui Kristus. Hanya anak-anakNya yg menjalankan aturanNya, keinginanNya dan KasihNya yg bisa memperoleh keselamatan di akhir jaman maupun di sorga nanti. Amin

  • sangat memberkati, makasih sharingnya! Gb

  • Didiet Febriany Kusmin

    Amin. God bless all of us

  • amin, luar biasa,

  • tears… jd ingat waktu jaman kuliah dulu, pas pergi ke kampus naik kereta ada bapak2 yg sudah paruh baya, sedih raut mukanya dan lusuh, trs tiba2 ngomong ke saya kalau cucunya masuk rumah sakit tp ga terima krn ga punya uang yg cukup. waktu itu uang yg bapak itu perlukan termasuk masuk bisa dijangkau, tp saat itu saya krn masih kuliah ga bisa membantu. Hanya bisa mendoakan, dan sampai sekarang muka bpk itu msh sering terlintas kalau tiba2 liat bpk2 yg sudah tua yg seusia dengan bpk tersebut. kadang msh sering bertanya sm Tuhan, knp sy ketemu bpk itu disaat saya msh kuliah dan blm punya penghasilan sendiri, dan kenapa bpk itu seperti curhat ke saya jadinya mengenai masalahnya, oia pada saat bpk itu curhat bpk itu sampai menangis.. itu yang buat saya ga bisa melupakan kejadian dan sosok bpk tsb sampai dgn hari ini. Berharap klo Tuhan ijinkan peristiwa yg sama sperti itu terjadi lg, aku memang benar2 sudah Tuhan siapkan utk membantu org yang memang Tuhan serahkan agar bisa jd saluran berkat yg Tuhan pakai dgn luar biasa. Amin

  • @Novi Talluta Jika kita mendoakan orang itu juga adalah bentuk kasih kita kepada orang itu. Bantuan bukan hanya berbentuk fisik misalnya barang atau uang, tapi doa juga adalah bantuan. Doa orang yg punya iman sebesar biji sesawi mampu memindahkan gunung, menyembuhkan penyakit juga mendatangkan berkat. Maka berdoalah kepada Tuhan Yesus, mintalah maka doamu akan didengarkan. Amin

  • Jika setiap orang kristen termasuk saya sendiri menyadari akan perbuatan hal semacam ini, maka berbahagialah, kiranya umat Tuhan yang sudah dibagikan berkat, Amin,..

  • Sangat diberkati

Bagikan Komentar Kamu!