Posts

Hati Hamba

Jumat, 23 Agustus 2019

Hati Hamba

Baca: Markus 9:33-37

9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?”

9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.

9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”

9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:

9:37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya. —Markus 9:35

Hati Hamba

Koki. Perencana acara. Ahli nutrisi. Perawat. Itu hanya sebagian dari banyaknya tanggung jawab yang biasa dilakukan oleh ibu rumah tangga zaman modern. Pada tahun 2016, diperkirakan kaum ibu bekerja antara lima puluh sembilan sampai sembilan puluh enam jam setiap minggunya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan anak-anak mereka.

Tidak heran ibu rumah tangga selalu merasa kelelahan! Menjadi ibu berarti merelakan banyak waktu dan energi untuk merawat anak-anak, yang membutuhkan banyak pertolongan dalam menjalani hidupnya.

Ketika saya lelah dan perlu diingatkan bahwa merawat orang lain adalah pekerjaan mulia, saya dikuatkan ketika melihat bagaimana Yesus meneguhkan orang-orang yang melayani.

Dalam Injil Markus, para murid berdebat tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus pun mengingatkan, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (9:35). Lalu Dia mengambil seorang anak untuk melukiskan pentingnya melayani sesama, terutama kaum yang tidak berdaya (ay.36-37).

Respons Yesus mengubah standar tentang apa artinya menjadi yang terkemuka dalam Kerajaan-Nya. Standar itu adalah hati yang rela melayani sesama, dan Yesus berjanji bahwa penyertaan dan penguatan dari Allah akan menyertai mereka yang memilih untuk melayani (ay.37).

Ketika kamu berkesempatan melayani keluarga atau komunitas, kiranya kamu terhibur saat mengetahui bahwa Yesus sangat menghargai waktu dan usaha yang kamu berikan untuk melayani. —Lisa Samra

WAWASAN
Dalam kebudayaan Israel abad pertama, membuka pintu rumah bagi para pengelana adalah tindakan sosial yang bernilai penting. Menurut salah satu tradisi pengajaran rabbi pada masa itu, keramahtamahan lebih besar nilainya daripada menerima shekinah, yang menandakan kemuliaan atau kehadiran Allah di Bait-Nya. Namun, anehnya, dalam budaya mereka, tidak ditanamkan nilai agar kaum pria ‘membuka pintu hati’ mereka bagi anggota masyarakat yang dianggap lebih rendah martabatnya. Mereka memandang dan memperlakukan para budak, istri, dan anak-anak hanya sebagai properti. Oleh karena itu, murid-murid Kristus tidak memiliki pemahaman sebelumnya tentang suatu kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang juga hamba, yang rela mati untuk mewujudkan rencana-Nya membentuk dunia yang lebih baik (Markus 9:30-32). Yesus memutarbalikkan pandangan mereka tentang kerajaan-Nya dengan menyambut, memeluk, dan menghargai seorang anak kecil sebagai gambaran kerendahan hati yang belum mereka pahami. Kemudian Dia memperluas pengertian mereka tentang siapa yang seharusnya kita terima dalam hati (ay.37). —Mart DeHaan

Bagaimana kamu dapat melayani seseorang hari ini? Dapatkah kamu meluangkan waktu untuk menyatakan rasa terima kasih kepada seseorang yang telah melayani dan mengasihimu dengan sepenuh hati?

Tuhan Yesus, terima kasih Kau telah mengingatkan kami tentang perhatian-Mu kepada anak-anak dan mereka yang tak berdaya. Tolonglah kami agar dapat mengikuti teladan pelayanan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 113-115; 1 Korintus 6

Handlettering oleh Novelia

Yesus yang Menyamar

Selasa, 13 Agustus 2019

Yesus yang Menyamar

Baca: Matius 25:31-40

25:31 “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.

25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,

25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.

25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu. —Amsal 19:17

Yesus yang Menyamar

Baru-baru ini, anak saya, Geoff, ikut dalam kegiatan yang disebut “simulasi tunawisma.” Ia menggelandang di jalan-jalan kota selama 3 hari 2 malam, tidur di alam terbuka dengan suhu di bawah titik beku. Tanpa makanan, uang, maupun tempat berlindung, ia bergantung pada kebaikan orang yang tidak dikenal untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Ia pernah hanya makan sepotong roti lapis yang dibelikan oleh seorang pria yang mendengarnya meminta roti basi dari sebuah restoran cepat saji.

Geoff mengatakan kepada saya bahwa pengalaman itu merupakan salah satu hal terberat dalam hidupnya, tetapi yang juga sangat mempengaruhi cara pandangnya terhadap orang lain. Sehari setelah melakukan simulasi itu, ia pergi mencari para tunawisma yang pernah begitu baik kepadanya selama ia menggelandang di jalanan dan berusaha semampunya membantu mereka dengan cara-cara yang sederhana. Para tunawisma itu terkejut saat mengetahui bahwa ternyata Geoff bukan tunawisma sungguhan dan bersyukur atas kepeduliannya untuk mau memahami kehidupan mereka secara langsung.

Pengalaman Geoff mengingatkan saya pada perkataan Yesus: “Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. . . . Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (mat. 25:36,40). Baik dengan kata-kata penyemangat ataupun sekantong belanjaan, kita dipanggil Allah untuk memperhatikan kebutuhan orang lain dalam kasih. Kebaikan kita kepada sesama adalah kebaikan yang kita lakukan untuk-Nya. —James Banks

WAWASAN
Dalam bacaan hari ini, Yesus mengundang mereka yang diberkati oleh Bapa untuk menerima warisan. Apakah warisan adalah berkat itu sendiri? Warisan tersebut adalah sesuatu yang baik, tetapi mungkin yang disebut berkat adalah sesuatu yang memampukan mereka untuk menerima warisan itu. Ketika Yesus menjelaskan mengapa warisan itu menjadi milik mereka, Dia menyebutkan daftar perbuatan baik mereka kepada orang-orang yang berkekurangan. Berkat itu bukanlah upah atau warisannya, melainkan suatu karunia yang memampukan mereka berbelas kasihan kepada orang yang membutuhkan. Lain halnya dengan kelompok yang diusir pergi (ay.41-43), mereka kurang berbelas kasih. Berkat dari Allah—yakni keselamatan dan karunia Roh Kudus—itulah yang membuat kita menyadari berbagai kebutuhan orang-orang lain. —J.R. Hudberg

Adakah kebaikan sederhana yang dapat kamu lakukan bagi orang lain? Pernahkah kamu menerima kebaikan orang lain baru-baru ini?

Tuhan Yesus, tolonglah diriku agar mampu melihat-Mu dalam kebutuhan sesamaku hari ini dan mengasihi-Mu dengan cara mengasihi mereka.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 87-88; Roma 13

Handlettering oleh Novia Jonatan

Merayakan Kreativitas Allah

Senin, 12 Agustus 2019

Merayakan Kreativitas Allah

Baca: Roma 12:3-8

12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

12:4 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,

12:5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.

12:6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.

12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;

12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. —Roma 12:6

Merayakan Kreativitas Allah

Lance Brown, seorang seniman buta warna, naik ke atas panggung diiringi alunan musik yang memenuhi aula gereja. Dengan membelakangi jemaat, ia berdiri di depan kanvas putih besar, dan mencelupkan kuasnya ke cat hitam. Dengan lincah, tangannya bergerak membuat gambar salib. Lewat goresan demi goresan di atas kanvas, Lance menuturkan kisah penyaliban dan kebangkitan Kristus. Ia menutup beberapa bagian kanvas dengan cat hitam, lalu menambahkan warna biru dan putih untuk menyelesaikan lukisan yang kini terlihat abstrak itu dalam waktu kurang dari enam menit. Kemudian ia memegang kanvas itu, membaliknya, dan tampaklah sebuah gambar yang tersembunyi, yaitu wajah Yesus yang penuh kasih.

Brown berkata bahwa ia sempat ragu saat seorang teman mengusulkan agar ia melukis cepat di dalam sebuah kebaktian. Namun, sekarang ia pergi ke seluruh dunia untuk membawa jemaat menyembah Tuhan sambil ia melukis dan bercerita tentang Yesus.

Rasul Paulus menegaskan nilai dan tujuan dari bermacam-macam karunia yang Allah bagikan kepada umat-Nya. Setiap anggota keluarga Allah diperlengkapi dengan karunia untuk memuliakan Dia dan membangun hidup orang lain dalam kasih (rm. 12:3-5). Paulus mendorong kita untuk mengenali karunia kita dan menggunakannya untuk membangun orang lain dan membawa mereka kepada Yesus, lewat pelayanan yang kita lakukan dengan tekun dan penuh sukacita (ay.6-8).

Kepada masing-masing dari kita, Allah telah memberikan karunia rohani, talenta, keterampilan, dan pengalaman untuk melayani dengan sepenuh hati baik di belakang maupun di depan layar. Saat kita merayakan kreativitas Allah, Dia pun memakai keunikan kita masing-masing untuk memberitakan Injil dan membangun hidup umat-Nya dalam kasih. —Xochitl Dixon

WAWASAN
Pasal 12 merupakan titik balik dalam surat Roma. Sebelumnya, Rasul Paulus menjelaskan karya keselamatan Allah, dengan Yesus sebagai Adam kedua yang datang untuk menebus yang terhilang karena ketidaktaataan nenek moyang kita di taman Eden. Selanjutnya, Paulus beralih kepada cara menghidupi keselamatan itu. Pertama, dengan menasihati setiap orang yang telah ditebus untuk menjadi “persembahan yang hidup” (ay.1), fokusnya adalah menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah dengan melayani sesama. Selanjutnya, ada karunia-karunia rohani untuk memperlengkapi anak-anak Allah dalam pelayanan mereka kepada orang lain (ay.3-8). Daftar karunia rohani lain ada dalam 1 Korintus 12:7-11, dan peran kepemimpinan (karunia untuk gereja) terdapat di Efesus 4:11. Melalui setiap karunia tersebut, Roh Kudus memampukan kita untuk berfungsi dalam pelayanan rohani masing-masing. —Bill Crowder

Siapa yang dapat kamu dorong untuk memakai karunia, talenta, dan keterampilan yang mereka miliki untuk melayani orang lain dengan penuh sukacita? Bagaimana caramu memakai karuniamu secara unik untuk melayani-Nya?

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 84-86; Roma 12

Handlettering oleh Kent Nath

Bekerja Keras Untuk Allah

Minggu, 28 Juli 2019

Bekerja Keras Untuk Allah

Baca: Ibrani 6:9-12

6:9 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan.

6:10 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.

6:11 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya,

6:12 agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.

Kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya. —Ibrani 6:11

Bekerja Keras Untuk Allah

Masa awal kehidupan William Carey (1761-1834) rasanya tidak menjanjikan, tetapi kemudian ia dikenal sebagai pelopor gerakan misi modern. Sebagai anak tukang tenun, Carey pernah menjadi guru dan tukang sepatu yang tidak terlalu sukses, sambil mempelajari sendiri bahasa Yunani, Ibrani, dan Latin. Bertahun-tahun kemudian, mimpinya untuk menjadi misionaris ke India pun terwujud. Namun, di sana ia mengalami banyak kesulitan, termasuk kematian anaknya, masalah kesehatan mental istrinya, dan kurangnya respons dari orang-orang yang ia layani.

Apa yang membuatnya setia melayani di tengah kesulitan yang dihadapinya ketika menerjemahkan seluruh bagian Alkitab ke dalam enam bahasa, dan beberapa bagian Alkitab ke dalam dua puluh sembilan bahasa lainnya? “Saya bisa bekerja keras,” katanya. “Saya dapat bertahan dalam usaha apa pun yang saya tekuni.” Ia telah berkomitmen untuk melayani Allah, tak peduli apa pun tantangan yang ia hadapi.

Kesetiaan yang teguh kepada Kristus itulah yang dinasihatkan oleh penulis surat Ibrani. Dia menyerukan kepada para pembaca suratnya untuk tidak “menjadi lamban” (Ibr. 6:12), tetapi “menunjukkan kesungguhan yang sama . . . sampai pada akhirnya” (ay.11) dalam kerinduan mereka menghormati Allah. Ia meyakinkan mereka bahwa Allah tidak “lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan” (ay.10).

Pada masa akhir hidupnya, William Carey merenungkan bagaimana Allah telah secara konsisten memenuhi kebutuhannya. “Dia tidak pernah lalai dalam menggenapi janji-Nya, maka aku pun tidak boleh lalai dalam pelayananku kepada-Nya.” Kiranya Allah juga memberi kita kesanggupan untuk melayani Dia dari hari ke hari. —Amy Boucher Pye

WAWASAN
Penulis surat Ibrani tidak diketahui secara pasti. Beberapa pandangan mengatakan bahwa surat itu ditulis oleh Barnabas dan Paulus.
Penulis tanpa nama ini banyak mendorong para pembacanya (yang kemungkinan besar adalah orang Kristen Yahudi) untuk tetap bertekun dan setia. Bacaan dari kitab Ibrani hari ini memberikan nasihat kepada para pembaca untuk tidak “malas”, melainkan bekerja dengan rajin (6:11-12). Alkitab versi English Standard Version menerjemahkan kata malas sebagai “lamban” atau “bodoh,” yang tampaknya merupakan padanan yang lebih tepat untuk tema perikop ini: untuk mendorong ketekunan di tengah penderitaan, setia sampai akhir. Agar dapat menjadi tekun, orang Kristen tidak boleh “lamban” dalam pertumbuhan iman. Mereka harus menunjukkan kesungguhan dan tetap melayani (ay. 10-11). Untuk mencapai hal ini, mereka didorong untuk “menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah” (ay. 12). —Alyson Kieda

Bagaimana Allah telah menolongmu setia dalam pelayanan kamu kepada-Nya? Dengan cara apa kamu bisa membantu orang lain dalam pergumulan mereka?

Ya Tuhanku, tolong aku untuk mengikuti-Mu—saat tantangan menghadang dan juga saat menikmati kesenangan. Aku yakin Engkau selalu menyertaiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 46-48; Kisah Para Rasul 28

Handlettering oleh Julio Mesak Nangkoda

Mulai Dari Sekarang

Sabtu, 6 Juli 2019

Mulai Dari Sekarang

Baca: 1 Petrus 4:7-11

4:7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

4:9 Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.

4:10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.

4:11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain. —1 Petrus 4:8

Mulai Dari Sekarang

Pada akhir Februari 2017, ketika biopsi yang dijalani kakak sulung saya menunjukkan ia terkena kanker, saya berkata kepada teman-teman, “Saya perlu meluangkan waktu sebanyak mungkin bersama Carolyn—mulai dari sekarang.” Sejumlah teman mengatakan bahwa saya memberikan reaksi yang berlebihan terhadap berita itu. Namun, Carolyn meninggal dunia sepuluh bulan kemudian. Saya memang menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya, tetapi ketika kita mengasihi seseorang, rasanya tidak pernah ada cukup waktu bagi kita untuk menunjukkan kasih tersebut.

Rasul Petrus menyerukan kepada para pengikut Yesus dalam gereja mula-mula untuk “[mengasihi] sungguh-sungguh seorang akan yang lain” (1ptr. 4:8). Mereka menderita karena penganiayaan dan sangat membutuhkan kasih dari saudara-saudari mereka dalam komunitas Kristen dalam masa-masa sulit tersebut. Karena Allah telah mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati mereka, sudah sepatutnya mereka rindu mengasihi orang lain sebagai balasannya. Kasih mereka dapat dinyatakan dengan cara mendoakan orang, menawarkan tumpangan dengan murah hati, dan menyampaikan kebenaran firman Tuhan dengan lembut—semuanya itu “dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah” (ay.9-11). Oleh anugerah-Nya, Allah telah memberikan mereka karunia untuk dapat melayani satu sama lain dengan rela demi maksud baik-Nya, yakni “supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus” (ay.11). Itulah rencana besar Allah yang menggenapi kehendak-Nya melalui kita.

Kita memerlukan orang lain dan orang lain memerlukan kita. Biarlah kita menggunakan seberapapun waktu atau daya yang telah kita terima dari Allah untuk mengasihi mereka—mulai dari sekarang. —Anne Cetas

WAWASAN
Salah satu yang menarik dalam tulisan Petrus adalah sasaran pembacanya. Surat 1 Petrus 1:1 ditujukan kepada “orang-orang pendatang yang tersebar di seluruh provinsi Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia.” Ini adalah lima provinsi Romawi yang ada di Asia Kecil (sekarang Turki). Hal ini menarik karena pelayanan Petrus utamanya ditujukan kepada orang Yahudi, sedangkan Paulus melayani orang non-Yahudi (Galatia 2:9). Oleh karena itu, sebagian besar kegiatan misionaris Paulus adalah memberitakan Injil ke tempat-tempat yang ditulis Petrus ini. Wilayah Asia kecil sebelumnya pernah menerima surat dari Paulus (Galatia 1:1-2). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun misi mereka berbeda, Paulus dan Petrus tetap punya kepedulian yang sama terhadap gereja di Galatia, mungkin karena sebagian besar jemaat non-Yahudi di sana telah dipenuhi dengan orang pelarian Yahudi yang kabur dari Yerusalem sehingga mereka menjadi suatu gereja multi-etnis. —Bill Crowder

Bentuk kasih apa yang telah kamu terima dari orang lain? Hal apa yang telah kamu terima dari Allah yang dapat kamu gunakan untuk melayani orang lain hari ini?

Tidak ada yang bernilai kecil dalam pelayanan kepada Allah. Francis de Sales

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 32-33; Kisah Para Rasul 14

Handlettering oleh Novia Jonatan

Sudah Lapar?

Senin, 1 Juli 2019

Sudah Lapar?

Baca: Yakobus 2:14-18

2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?

2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,

2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?

2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? —Yakobus 2:14

Sudah Lapar?

Thomas lahir dari keluarga miskin di India lalu diadopsi oleh orang Amerika. Dalam kunjungan ke India, ia menyaksikan banyak anak berkekurangan di kampung halamannya. Ia pun tahu ia harus membantu mereka. Mulailah ia membuat rencana untuk kembali ke AS, menyelesaikan pendidikannya, menabung banyak uang, dan kembali ke India suatu saat nanti.

Kemudian, setelah membaca Yakobus 2:14-18, yang bertanya, “Apakah gunanya . . . jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan?” Thomas mendengar seorang gadis kecil di negara asalnya berseru kepada ibunya: “Ibu, aku sudah lapar!” Thomas teringat bagaimana semasa kecil ia pernah merasa sangat kelaparan sampai harus mengorek-ngorek tong sampah untuk mencari makanan. Thomas sadar bahwa ia tidak bisa menunggu beberapa tahun lagi untuk membantu. Ia pun memutuskan, “Aku akan mulai sekarang!”

Hari ini panti asuhan yang dirintisnya menampung lima puluh anak yang mendapat cukup makanan dan perawatan. Di panti itu mereka belajar tentang Yesus dan menerima pendidikan—semua karena ada seseorang yang tidak menunda-nunda dalam melakukan apa yang Allah minta darinya.

Pesan Yakobus berlaku juga untuk kita semua. Iman kita kepada Yesus Kristus memberi kita keuntungan besar—hubungan dengan Dia, kehidupan yang berkelimpahan, dan pengharapan masa depan yang pasti. Namun, apa gunanya bagi orang lain jika kita tidak menjangkau dan menolong mereka yang membutuhkan? Dapatkah kamu mendengar teriakan: “Aku sudah lapar”? —Dave Branon

WAWASAN
Surat Yakobus dimulai dengan “Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan” (1:1). Siapakah Yakobus? Sebagian besar pakar Alkitab berpendapat bahwa ia adalah saudara Yesus. Markus 6:3 memberikan informasi tentang saudara-saudara Yesus, dan dalam daftar tersebut ada nama Yakobus. Rasul Paulus menceritakan bahwa Yesus menampakkan diri kepada Yakobus setelah kebangkitan-Nya (1 Korintus 15:7; Galatia 1:19), sementara saudara-saudara-Nya yang lain tidak langsung percaya kepada-Nya. Mungkin inilah sebabnya nama Yakobus dan saudara-saudaranya ada dalam daftar orang-orang percaya yang hadir di ruang atas seperti yang disampaikan oleh Kisah Para Rasul 1:14. Setelah Yakobus, saudara Yohanes, dibunuh dengan pedang (Kisah Para Rasul 12:2), Yakobus, saudara Kristus, menjadi pemimpin gereja (ay. 17), menengahi sidang gereja mula-mula di Yerusalem (15:13-29). Yakobus ini dijuluki “Yakobus yang Adil,” mati sebagai martir sekitar tahun 60 M. —Bill Crowder

Kebutuhan apa yang saat ini menggugah hatimu? Apa satu hal yang bisa kamu lakukan untuk membantu orang lain—sekalipun kelihatannya tidak terlalu berarti?

Arahkan langkah-langkahku, ya Allah, agar aku bertindak aktif sesuai kehendak-Mu untuk menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan. Terima kasih Engkau melibatkanku dalam pekerjaan-Mu di muka bumi.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 20–21; Kisah Para Rasul 10:24-48

Background photo credit: Ian Tan

Rencana Pensiun dari Allah

Minggu, 28 April 2019

Rencana Pensiun dari Allah

Baca: Keluaran 3:1-10

3:1 Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.

3:2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.

3:3 Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?”

3:4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.”

3:5 Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”

3:6 Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.

3:7 Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.

3:8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.

3:9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka.

3:10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.”

Lalu Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. —Keluaran 3:2

Rencana Pensiun dari Allah

Seorang arkeolog, Dr. Warwick Rodwell, sedang bersiap memasuki masa pensiun ketika ia menemukan sesuatu yang luar biasa di Katedral Lichfield, Inggris. Ketika para pekerja menggali sebagian lantai gereja untuk menggantinya dengan alas yang baru, mereka malah menemukan patung Gabriel, sang penghulu malaikat. Patung itu diperkirakan berusia 1.200 tahun. Seketika itu juga Dr. Rodwell batal untuk pensiun karena ia langsung sibuk menggarap proyek baru yang ditemukannya itu.

Musa berusia delapan puluh tahun waktu ia diperhadapkan pada sebuah peristiwa yang akan mengubah hidupnya selamanya. Meski berstatus anak angkat putri Mesir, Musa tidak pernah melupakan darah Ibrani yang mengalir dalam dirinya, sehingga ia sangat marah saat menyaksikan ketidakadilan yang dialami bangsanya (Kel. 2:11-12). Saat Firaun tahu bahwa Musa telah membunuh orang Mesir yang sudah memukul seorang Ibrani, ia berencana membunuh Musa hingga Musa terpaksa kabur dan menetap di Midian (ay.13-15).

Empat puluh tahun kemudian, saat Musa sudah berumur delapan puluh tahun dan sedang menjaga ternak ayah mertuanya, “Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api” (kel. 3:2). Saat itulah, Allah memanggil Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir (ay.3-22).

Dalam kehidupan Anda saat ini, tugas apa yang Allah ingin Anda lakukan demi tujuan besar-Nya? Apa rencana-rencana baru yang Allah taruh dalam jalan hidup Anda? —Ruth O’Reilly-Smith

WAWASAN

Allah menyuruh Musa melepaskan kasutnya karena “tempat di mana [ia] berdiri itu, adalah tanah yang kudus” (Keluaran 3:5). Apa yang membuat tanah itu kudus? Hadirat Allah. Itulah hadirat yang sama yang menguduskan ruang Maha Kudus di Kemah Pertemuan dan Bait Allah sehingga membuat adanya berbagai batasan untuk dapat memasukinya (Imamat 16:2-3).—J.R. Hudberg

Apa yang Anda pelajari dari Musa dan panggilan Allah atasnya? Mengapa penting bersikap terbuka terhadap hal baru yang sedang Allah kerjakan dalam hidup Anda?

Allah yang kudus, jadilah Tuhan atas seluruh hidupku, dan kuserahkan semua hari-hariku kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-Raja 3–5; Lukas 20:1-26

Handlettering oleh Catherine Tedjasaputra

Melayani yang Terkecil

Rabu, 24 April 2019

Melayani yang Terkecil

Baca: Lukas 14:15-23

14:15 Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.”

14:16 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang.

14:17 Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.

14:18 Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan.

14:19 Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.

14:20 Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.

14:21 Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.

14:22 Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat.

14:23 Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.

Apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah. —1 Korintus 1:28

Melayani yang Terkecil

Sebuah video menunjukkan seorang laki-laki berlutut di tepi jalan raya yang ramai saat sedang terjadi kebakaran hutan yang hebat. Ia tampak bertepuk tangan dan memanggil-manggil dengan nada membujuk. Apakah yang dinantikannya? Seekor anjing? Sesaat kemudian seekor kelinci muncul. Laki-laki tersebut meraup kelinci yang ketakutan itu lalu berlari menuju tempat aman.

Bagaimana tindakan penyelamatan yang sepele seperti itu bisa menjadi berita besar? Karena belas kasihan yang ditunjukkan kepada mereka yang tidak berdaya sungguh menyentuh hati kita. Dibutuhkan kebesaran hati untuk memberi tempat bagi makhluk yang terkecil.

Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah itu seperti seorang tuan yang mengadakan perjamuan dan menyiapkan tempat bagi siapa saja yang mau datang. Tidak hanya pembesar dan berpengaruh, tetapi juga “orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh” (Luk. 14:21). Saya bersyukur Allah mencari mereka yang lemah dan sepertinya tak berarti, sebab jika tidak, saya tidak akan pernah diselamatkan. Paulus berkata, “Apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, . . . supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1Kor. 1:27-29).

Alangkah luar biasanya kebesaran hati Allah hingga Dia mau menyelamatkan orang kecil seperti saya! Oleh karena itu, saya perlu bertanya, seberapa besar hati saya sudah bertumbuh? Saya hanya perlu melihat sejauh mana saya telah melayani mereka yang dipandang kurang berarti oleh masyarakat, bukan bagaimana saya berusaha menyenangkan mereka yang “terpandang”. —Mike Wittmer

WAWASAN

Alkitab menggunakan gambaran perjamuan atau pesta untuk melambangkan tawaran keselamatan Allah bagi dunia ini. Yesaya menyatakan bahwa “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan” (25:6). Lukas menggunakan kiasan seseorang yang mengundang banyak tamu ke “perjamuan besar” (14:16-17). Matius mengumpamakannya dengan “perjamuan kawin” anak raja yang berlangsung satu minggu penuh (22:2). Yohanes berbicara mengenai sebuah “perjamuan kawin Anak Domba” (Wahyu 19:9), di mana umat percaya dari segala bangsa berkumpul untuk merayakan keselamatan kekal Allah. Mereka akan datang “dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub” (Matius 8:11). “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (Lukas 14:15).—K.T. Sim

Orang-orang seperti apa yang sulit Anda hargai? Bagaimana cara Allah menolong Anda untuk mengubah sikap Anda tersebut?

Tuhan, tolonglah kami, pelayan-pelayan-Mu, menghargai orang lain seperti yang Kau lakukan, terlepas dari siapa mereka dan apa yang mereka lakukan.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 19–20; Lukas 18:1-23

Handlettering oleh Agnes Paulina

Berkat Itu Pasti Datang

Senin, 25 Maret 2019

Berkat Itu Pasti Datang

Baca: Galatia 6:7-10

6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. —Galatia 6:9

Daily Quotes ODB

Suatu hari, saya berjalan-jalan dengan seorang teman wanita yang membawa serta cucu-cucunya. Sambil mendorong kereta bayi, ia berkata kalau jalan paginya kali itu sia-sia—karena alat pelacak di pergelangan tangannya tidak menghitung hanya karena ia tidak mengayunkan lengan. Saya mengingatkan bahwa kegiatan pagi itu tidak akan sia-sia karena masih berguna bagi kesehatan tubuhnya. “Memang,” ia tertawa. “Tapi aku benar-benar ingin mendapat bintang emas dari alat pelacakku!”

Saya mengerti perasaannya! Mengerjakan sesuatu tanpa langsung mendapatkan hasilnya tentu terasa mengecewakan. Namun, suatu hasil tidak selalu langsung didapat atau terlihat.

Ketika itu terjadi, sering kali kita merasa bahwa hal-hal baik yang kita lakukan, seperti menolong teman atau bersikap baik kepada orang asing, ternyata tidak berguna. Paulus menjelaskan kepada jemaat di Galatia bahwa “apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal. 6:7). Namun, jangan sampai kita “jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai” (ay.9). Kita berbuat baik bukan untuk memperoleh keselamatan, dan Alkitab tidak memperinci apakah upah itu kita tuai sekarang atau nanti di surga, tetapi kita dapat meyakini bahwa berkat pasti akan kita tuai.

Berbuat baik itu sulit, terutama ketika kita tidak melihat atau mengetahui apa yang akan kita tuai. Namun, seperti teman saya yang tetap memperoleh manfaat fisik dari berjalan kaki bersama cucu, kita patut terus berbuat baik karena berkat itu pasti datang! —Julie Schwab

Apakah kamu kecewa? Mintalah agar Tuhan menolongmu tetap setia menunaikan panggilanmu. Hal baik apa yang bisa kamu lakukan untuk orang lain hari ini?

Upah dan berkat kita tidak selalu langsung didapat atau terlihat.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 19-21; Lukas 2:25-52