Kisah Raja dan Penjual Beras

Info

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Cerita-cerita tentang relasi antara raja dan rakyat biasa nampaknya bukanlah cerita yang terlalu asing di telinga kita. Ada cerita-cerita rakyat yang banyak bertutur tentang ini. Lalu, jika kita membuka Alkitab, di sana pun terdapat beberapa ilustrasi yang menggambarkan relasi antara seorang raja dengan orang-orang biasa.

Menjelang momen Natal kali ini, aku teringat akan sebuah cerita pernah kudengar ketika aku masih tinggal di Yogyakarta dulu. Cerita ini adalah kisah nyata yang pernah terjadi puluhan tahun silam, sebuah cerita sederhana yang menggetarkan sekaligus menggelitik hati. Mari kuceritakan cerita ini untukmu.

Dulu, di kaki gunung Merapi, tepatnya di daerah Kaliurang, terdapat seorang simbok penjual beras yang setiap harinya berjualan di pasar Kranggan, kota Yogyakarta. Suatu pagi, dia berdiri di tepi jalan menanti kendaraan jip yang hendak menuju ke kota. Dari kejauhan dia melihat ada sebuah mobil jip yang sedang bergerak ke selatan,kemudian tangannya melambai-lambai dan mobil itu pun berhenti. Simbok ini memang sudah biasa menumpang kendaraan jip yang datang dari arah utara ke selatan, dan pulangnya pun dia selalu kembali menumpang jip yang bertolak ke arah utara.

Mobil jip itu berhenti tepat di depan simbok. Seperti biasanya, simbok itu meminta sang supir untuk mengangkat beras bawaannya yang entah jumlahnya berapa karung. Supir itu menurut. Semua karung beras dinaikkannya di bagian belakang mobil jip, kemudian mereka meluncur menuju selatan.

Setibanya di pasar yang dituju, supir itu kembali membantu simbok untuk menurunkan semua karung beras yang diangkut di atas jip. Setelah semua karung beras selesai diturunkan, simbok ini memberikan uang sebagai upah atas bantuan supir. Akan tetapi, dengan sopan, supir tersebut menolak pemberian uang dan mengembalikannya kepada simbok. Karena uangnya dikembalikan, simbok malah jadi marah-marah dan mengira bahwa supir ini meminta uang dengan jumlah yang lebih banyak. Simbok membanding-bandingkan supir ini dengan supir lainnya yang biasanya menerima uang pemberian simbok. Tanpa membalas ocehan simbok, supir ini menjalankan jipnya dan meninggalkan pasar.

Setelah jip tersebut hilang dari pandangan mata, seorang polisi yang kebetulan sedang berada di pasar menghampiri simbok itu dan bertanya. “Apakah mbakyu tahu siapa supir tadi?” Masih dalam suasana hati yang kesal, simbok itu menjawab, “Supir ya supir. Habis perkara! Saya tidak perlu tahu namanya. Memang supir yang satu ini agak aneh.” Polisi itu menanggapi simbok, “Kalau mbakyu belum tahu, akan saya kasih tahu. Supir tadi adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, raja di Ngayogyakarta ini.” Saat itu juga simbok tadi pingsan dan jatuh ke tanah. Dia amat menyesali tindakannya yang tidak hormat terhadap supir jip yang sesungguhnya adalah rajanya.

Cerita tentang seorang raja yang mengambil rupa sebagai rakyat biasa memang menjadi kisah yang menggugah hati. Rasanya ada sebuah sukacita dan harapan yang kembali hidup. Bagi orang biasa seperti kita, tentu adalah suatu kehormatan dan sukacita yang besar apabila ada “Raja” yang kedudukannya jauh lebih tinggi daripada kita sudi untuk hadir di tengah-tengah kita. Sebagai orang biasa, kita memiliki jarak yang sangat jauh dalam relasi kita dengan sang “Raja”. Kita ada di tempat yang rendah, sedangkan sang “Raja” ada di tempat yang mahatinggi. Namun, hati kita takjub bergetar manakala sang Raja yang dari tempat tinggi tersebut sudi melawat dan hadir secara nyata di tengah-tengah kita yang sejatinya ada di tempat yang rendah.

Inilah yang sejatinya terjadi pada hari Natal. Hari yang kita peringati di 25 Desember nanti, sesungguhnya bukanlah hari yang berbicara tentang gemerlap lampu, diskon belanja, ataupun tentang liburan panjang. Natal adalah hari peringatan yang seharusnya kembali mengingatkan kita akan keberdosaan dan ketidakberdayaan kita hingga Allah datang ke dunia untuk menyelamatkan kita.

“Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:5-7).

“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28).

Kristus yang adalah Raja, sudi datang ke dunia, hadir secara nyata di tengah-tengah kumpulan manusia berdosa yang tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Kedatangan Kristus memberikan kita jaminan akan tersedianya tempat untuk kita bersama-sama dengan Bapa di surga kelak.

Baca Juga:

Tuhan Mampu, Tapi Mengapa Dia Tidak Melakukannya?

Sebagai seorang atlet bulutangkis, aku berlatih sekuat tenaga untuk mengikuti kompetisi di Singapore Open. Namun, betapa kecewanya aku ketika menjelang hari pertandingan, aku gagal berangkat. Aku bertanya, “Tuhan, aku tahu Tuhan bisa meloloskan aku, tapi mengapa Tuhan tidak melakukan itu?”

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 12 - Desember 2017: Natal, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

5 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!