Posts

Satu Penyebab Kekalahan dalam Bertanding

Oleh Antonius Martono

“Hampir master nasional,” begitu komentar GM Susanto terhadap permainan catur Pak Dadang Subur.

Pak Dadang Subur dikalahkan secara telak dalam duel persahabatan dengan WGM Irene Sukandar. Duel ini disiarkan langsung dari kanal Youtube miliki Deddy Corbuzier dan ditonton oleh jutaan orang. Menariknya, dari polling yang dibuat oleh Deddy Corbuzier, banyak netizen yang menunggu kemenangan Pak Dadang ketimbang Irene. Padahal, Pak Dadang tidak mendedikasikan hidup dan pengalamannya untuk dunia catur seperti Irene. Sepertinya netizen ingin melihat kisah Pak Dadang mengulang keberhasilan Daud muda mengalahkan Goliat, prajurit yang memiliki segudang pengalaman perang. Terlepas dari keperkasaan Goliat, sebenarnya dia kehilangan satu pengalaman penting di hidupnya yang menjadi penyebab kekalahannya kelak.

Dalam kisah Daud melawan Goliat, kita cenderung melihat Daud dari sudut pandang Saul, yang menganggap remeh. Ketika Goliat menantang pasukan Israel untuk bertarung, Daud berinisiatif untuk menghadapinya. Daud lalu menemui Raja Saul dan meminta izin untuk bertarung dengan Goliat. Saul ragu, dia memandang Daud dan Goliat bukanlah lawan yang sepadan. Goliat telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk berperang dan bertarung, sedangkan Daud masih sangat muda dan tidak memiliki pengalaman bertarung yang memadai. Namun, Daud tidak sependapat dengan Saul. Alkitab mencatatnya demikian:

Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.” (1 Samuel 17:34-37)

Jika kita cermati sosok Daud, dia bukanlah pemuda polos tanpa persiapan dan pengalaman. Dia tidak mengandalkan keberuntungan. Sebagai gembala, padang rumput adalah tempat pelatihannya, sehingga bisa dibilang kalau Daud sama berpengalamannya dengan Goliat untuk bertarung. Namun, Daud cukup bijak untuk tidak hanya mengandalkan pengalamannya bertarung sebagai satu-satunya modal kemenangan. Justru dalam pengalamannya, Daud sadar bahwa sumber kemenangannya berasal dari Tuhan. Pengalaman inilah yang menjadi titik buta bagi Goliat yang tidak pernah merasakannya.

Berkali-kali sudah Daud merasakan bagaimana Tuhan menyelamatkannya dari mulut singa dan beruang. Telah berulang kali Tuhan membuktikan diri-Nya sebagai pribadi yang sanggup dan mau melindungi Daud. Pengalaman ini memupuk iman percaya Daud kepada Tuhan. Bayangkan pengalaman pertama Daud dalam menghadapi seekor singa lapar. Jika dia bisa selamat dari cakar dan mulut singa tersebut tentu itu adalah pengalaman luar biasa yang dimilikinya. Bagaimana mungkin seorang anak muda dapat selamat melawan seekor singa lapar? Daud melihat keselamatan dirinya bukan berasal dari keahliannya melawan binatang buas, melainkan terletak pada Tangan yang sama yang membentuk gigi-gigi tajam seekor singa. Tangan yang sama juga yang akan melepaskan Daud dari tangan Goliat yang kecil.

Sedangkan Goliat sendiri tidak pernah mengalami pengalaman ini. Selama hidupnya Goliat hanya mengandalkan kekuatan, ketangkasan, dan kemahirannya untuk bertarung. Dia sudah terbiasa bergantung pada semua hal itu untuk menyelamatkan hidupnya. Dia tidak tahu tempat lain selain dirinya untuk diandalkan. Goliat tidak mengerti betapa amannya hidup ketika bersandar kepada Tuhan yang hidup.

Lantas, bagaimana dengan kita? Apa yang selama ini menjadi sumber kekuatan kita? Sangat mungkin bagi kita untuk mengandalkan Tuhan di setiap pengalaman pertama kita mencoba sesuatu. Namun, seiring berjalannya waktu, kita semakin terbiasa. Kita merasa semakin mahir dan semakin tahu apa yang harus kita lakukan. Pelan-pelan kita akhirnya tidak lagi memiliki tingkat kebergantungan yang sama kepada Tuhan seperti saat awal kita mencoba hal tersebut. Kita mulai mempercayai pengalaman-pengalaman dan hikmat yang pernah kita pelajari di dalamnya.

Budaya di sekitar kita terus mengatakan bahwa tidak ada orang lain yang dapat menolong kita selain diri sendiri. Secara tidak sadar hal ini membuat diri kita frustasi. Kita sibuk terus meng-upgrade diri tapi, tetap merasa tidak cukup. Kita merasa hidup masa depan bergantung pada besarnya kapasitas diri. Di lain pihak, lubuk hati kita sadar bahwa diri ini tidak sanggup diandalkan.

Tuhan sendiri tahu betapa rapuhnya manusia yang tidak mampu menebak masa depan. Dia selalu membuka lebar tangan-Nya agar setiap orang yang mau berpegang pada-Nya dapat menikmati penyertaan-Nya. Sehingga setiap kali kita mengalami kesulitan atau kemustahilan tidak lagi menjadi penghalang untuk mencapai tujuan kita. Melainkan kesulitan diubah menjadi sebuah kesempatan untuk memperdalam iman percaya kita kepada Tuhan, seperti Daud.

Pada akhirnya kita memang harus melatih diri dan memiliki jam terbang yang tinggi. Tuhan tidak meminta kita hanya berpangku tangan menunggu hujan keajaiban dari langit. Namun, adalah hal naif jika kita pikir kemampuan diri kita saja sanggup diandalkan. Selalu banyak faktor di luar diri yang sanggup merobohkan kita. Jangan sampai kita terlalu berfokus kepada diri dan kehilangan pengalaman yang utama dalam hidup kita, yaitu pengalaman kekal bersandar pada Tuhan yang perkasa.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

“Dengan Segenap Keberadaan”: Mengenal Tuhan Lewat Disiplin Rohani Belajar

Disiplin rohani pada dasarnya adalah sebuah ‘disiplin’. Kita perlu komitmen, juga perjuangan untuk melakukannya dengan sungguh.

Yuk baca artikel terakhir dari #SeriDisiplinRohani ini.

Dalam Momen Terkelam Sekalipun, Allah Tetap Setia

Oleh Puput Ertiandani, Palu

Dua tahun yang lalu, tepatnya di bulan September, aku mengalami kejadian yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku berada di Palu, Sulawesi Tengah ketika bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi tanah terjadi. Ketika aku merenungkan kembali kejadian itu, aku sadar betapa baiknya Tuhan. Dia memberikanku kesempatan untuk hidup hingga hari ini, bahkan aku bisa terbebas dari trauma dan ketakutan pun adalah kasih karunia-Nya.

Kala itu aku sedang berada di kantor untuk pertemuan tahunan. Tiba-tiba suara bergemuruh datang entah dari mana. Lantai-lantai keramik mulai terbuka dan ruangan kami ikut bergerak tak karuan. Buku-buku, laptop dan barang-barang di atas meja terserak-serak, menambah ketakutan kami. Teman-teman yang sedang bersamaku berteriak-teriak dan ada juga yang menangis. Aku secara refleks berusaha keluar dari ruangan dan menyelamatkan diri. Aku sempat terjatuh sebelum berhasil melewati pintu untuk keluar.

Di tengah kepanikan, aku berdoa meskipun tanpa suara keluar dari mulutku. Aku berdoa agar aku tidak tertinggal, juga supaya teman-temanku tidak mengalami sesuatu yang lebih buruk. Sekitar lima menit kami terjebak dan berusaha menyelamatkan diri. Ketika aku berhasil keluar dari bangunan, kulihat dan kudengar kekacauan di sekelilingku. Kontras dengan bumi yang luluh lantak, malam harinya kulihat langit tampak indah dengan bintang-bintang. Pemandangan itu menyadarkanku, bahwa Tuhan memegang kendali dan mampu memberikan ketenangan.

Hari-hari pasca bencana terasa lebih melelahkan. Sebagai pekerja kemanusiaan, aku membantu mengatur logistik untuk warga yang mengungsi. Aku mendata setiap yang datang, memberikan rekomendasi prioritas wilayah yang paling urgen untuk diberikan bantuan. Aku tidur di tenda, bangun dini hari dan terus bekerja sampai larut malam kembali. Tak jarang ada orang-orang yang malah berebutan meminta bantuan.

Mengalami bencana yang sama, aku dan rekan-rekan pekerja juga butuh dihibur dan dikuatkan, tapi di saat yang sama kami mengemban tugas untuk menghibur dan menguatkan orang lain. Ada waktu-waktu ketika aku merasa sangat kesepian dan hampir hilang harapan. Namun selalu ada cara Tuhan untuk membuatku bangkit. Doa dan semangat dari keluarga yang berada jauh di Jawa, pelukan orang-orang terdekat bahkan sekadar telepon dari teman gereja. Di tengah segala keterbatasan, aku merayakan ulang tahun yang ke-26 dengan diawali gempa susulan pada dini hari, beberapa hari setelah gempa besar terjadi. Sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bercampur dengan kewaspadaan setiap menitnya.

Kini dua tahun berlalu, dan aku sempat bertanya-tanya kenapa aku harus ada di kota perantauan yang mengalami kekacauan karena bencana sebesar itu. Firman Tuhan dalam Yeremia 29:7 (Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu) mengajarkanku bahwa di mana pun kita ditempatkan kita harus berdoa dan menjadi berkat untuk kota itu. Dan aku bersyukur aku boleh melewati situasi itu untuk berdoa, mengusahakan kesejahteraan orang-orang yang terdampak, dan menjadi berkat, yang pada akhirnya menjadi kesaksian hidup demi kemuliaan nama Tuhan.

Ada banyak hal yang Tuhan berikan agar aku belajar selama dua tahun ini. Bukan hanya hubunganku dengan Tuhan tetapi juga kepercayaan dan kapasitas yang lebih besar untuk melayani dan berkarya dalam pekerjaanku. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan banyak hal bisa terjadi di luar kendali kita. Namun kita punya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita sedetik pun. Dia mengerti setiap ketakutan dan kesedihan kita. Di titik terendah dalam hidup ada Tuhan Yesus yang senantiasa ada untuk kita anak-anak-Nya. Bahkan air mata kita ditampung dalam kirbat-Nya.

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Ulangan 31:6).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Yesus Kawan yang Sejati bagi Kita yang Lemah

Masa-masa penuh kekhawatiran dan kesepian membuatku terjaga sepanjang malam, hingga kuingat sebuah lagu yang mengatakan Yesus kawan yang sejati. Sungguhkah Yesus adalah kawan kita yang sejati?

Penderitaan yang Membingungkan dan Yesus yang Kukenal

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Kita hidup dalam dunia yang telah berteman akrab dengan penderitaan. Ketika dosa masuk ke dalam dunia ini, dimulailah konsekuensi yang saat ini kita tanggung. Ada derai air mata kepedihan, jerit kesakitan, dan berbagai luka kehancuran.

Ketika persoalan hidup seolah lebih banyak dari pasir di laut, kita masih bisa bersyukur karena firman Tuhan terus tersedia, menjadi pegangan yang kokoh dan tak tergoyahkan. Tetapi, jika kita harus bersikap jujur, bukankah kita tetap dibingungkan oleh pertanyaan hidup seputar penderitaan? Di satu sisi kita tahu Allah itu baik, tetapi di satu sisi yang lain, bertumpuklah pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di pikiran dan mungkin pula menggores hati.

Mengapa Allah yang baik mengizinkan penderitaan terjadi pada kita semua? Itulah inti semua pertanyaan kita.

Suatu kali seorang teman yang kukasihi datang kepadaku dan bercerita tentang kehidupannya yang berat. Dia dan keluarganya telah melayani Tuhan cukup lama. Di suatu malam yang disertai guyuran hujan, dia dengan nada pelan dan gaya bicaranya yang lembut mengisahkan bagaimana dia dan keluarganya harus melewati masa sulit terkait kehidupan ekonomi yang sangat memprihatinkan. Temanku itu seorang yang suka menolong. Sudah banyak orang yang menerima kebaikannya. Tetapi, suatu kali dia dirugikan oleh seorang yang telah dianggapnya sebagai keluarga. Akibatnya, mereka bergumul untuk biaya hidup sehari-hari. Kondisi keuangan yang berada pada titik nadir membuat kebutuhan dasar keluarganya susah dibeli. Aku berusaha tidak ikut menangis ketika mendengarkan cerita pilunya.

Sejujurnya aku kaget dengan keputusannya menceritakan sebuah hal yang benar-benar sangat pribadi itu. Tetapi aku memahami perasaannya. Dia tak mampu menanggungnya sendiri. Sebagai seorang pria yang merasa gagal bertanggungjawab atas istri yang dicintainya, dia membutuhkan tempat berkeluh kesah. Setelah percakapan emosional itu, dalam kebingungan aku bertanya, “Di manakah Engkau Tuhan? Mengapa Engkau mengizinkan mereka yang mengasihi-Mu mengalami penderitaan-penderitaan seberat ini?”

Pemahaman kita tentang kebaikan Allah

Sebagai orang percaya kita berkali-kali diajarkan tentang kebaikan Allah. Aku rasa pemahaman itu telah lama masuk dalam daftar utama pengetahuan kita. Bahkan mungkin sejak kita berada di sekolah Minggu, inilah yang paling sering disampaikan oleh para pengajar. Tetapi, mengapa Allah yang baik itu mengizinkan penderitaan, bahkan yang sangat berat, terjadi kepada kita anak-anak-Nya? Betapa hancurnya kehilangan seorang yang dicintai, divonis penyakit mematikan, melihat orang tersayang terkapar tak berdaya, dan dikhianati orang yang dipercaya. Semua itu benar-benar menyesakkan dada, juga menimbulkan jutaan pertanyaan membingungkan yang tak mungkin diabaikan begitu saja. Kita menantikan jawaban atasnya.

Tetapi sebelum masuk dan membahas masalah ini lebih jauh, aku berharap kita bersepakat dan mengakui satu hal terlebih dahulu. Meskipun tidak pada semua kasus, faktanya ada juga banyak penderitaan yang terjadi pada kita karena kecerobohan dan kelalaian kita sendiri. Dalam keadaan seperti ini kita harus dengan rendah hati mengakui kesalahan kita di hadapan Allah dan meminta-Nya agar menolong kita berubah menjadi lebih baik. Maafkan aku untuk memberikan contoh ini, namun kita yang tidak suka menjaga kesehatan dan yang senang berkendara dengan ugal-ugalan, lalu mendapat akibat buruk, tidak layak mempersalahkan orang lain, termasuk Allah. Karena sering kali kita yang menancapkan banyak pedang di hati Allah lalu menuduh-Nya jahat padahal hati kita tergores oleh pisau kecil yang kita pegang sendiri.

Tetapi bagaimana jika kasusnya lain? Bagaimana jika kita telah berusaha hidup benar tetapi masih tetap dihantam oleh gelombang penderitaan? Apakah itu adil? Jika kanker menyerang tubuh seorang seperti Adolf Hitler yang telah merenggut lebih dari sepuluh juta nyawa manusia demi ambisinya yang jahat, aku rasa banyak dari kita yang tidak akan merasa heran. Menanggapinya, mungkin kita dengan ketus akan berkata, “itu sebuah karma”.

Untuk membantu kita mendalami persoalan yang tidak mudah ini, sebenarnya kita bisa melihat ada begitu berlimpah tokoh hebat dalam Alkitab yang hidupnya dipenuhi dengan penderitaan. Dari kisah dan kesaksian mereka semua kita bisa melihat cara kerja dan karakter Allah. Karena aku yakin kehidupan mereka masing-masing akan membawa kita pada kesimpulan yang sama. Salah satunya Ayub. Dia bukan orang jahat. Kitab Ayub memberikan keterangan tentangnya membuat kita kagum. Ayub adalah orang saleh. Tetapi dia mengalami penderitaan hebat.

Namun dalam tulisan ini, aku tidak akan mengajak kita semua untuk membedah kisah Ayub atau tokoh lain dalam kitab Perjanjian Lama. Aku hanya akan membawa kita untuk secara khusus mengarahkan lampu sorot kepada kehidupan seorang rasul bernama Paulus dengan melihat sedikit perkataan dalam sebuah suratnya, kemudian mengaitkannya dengan sebuah peristiwa sejarah yang paling penting yang telah mengubah peradaban dunia, yaitu salib Yesus Kristus.

Dalam suratnya kepada Timotius yang merupakan seorang anak rohani yang dikasihinya, Paulus memberikan dorongan dan penghiburan yang memang sangat dibutuhkan di masa-masa sulit itu. Pada saat itu, menjadi orang Kristen sama saja dengan membawa diri pada bahaya-bahaya yang serius. Paulus bahkan sudah lebih dulu mengalaminya. Mengetahui bahwa sang murid juga nantinya akan menghadapi semuanya itu, Paulus tidak tinggal diam. Dia mengirimkan surat keduanya untuk Timotius. Demikian penggalan tulisannya:

“Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2 Timotius 1:12).

Seperti yang kita tahu, Paulus adalah seorang yang sangat akrab dengan penderitaan. Semenjak dia “ditangkap” oleh Tuhan dalam perjalanan ke Damsyik dan memutuskan untuk melayani-Nya, dia mulai berteman dekat dengan kepedihan. Dia kelaparan, kedinginan, dianiaya, dan dipenjarakan karena Kristus. Sampai di sini, aku yakin—sama seperti kita dan para tokoh Alkitab lainnya—Paulus karena keterbatasannya mungkin tidak dapat memahami secara utuh maksud dan rencana Tuhan. Namun dalam suratnya itu, dia berkata bahwa dia tahu kepada siapa dia percaya.

Mari perhatikan dengan cermat perkataannya. Ketika ia berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya”, dia sedang menegaskan pengenalannya akan sosok yang dia sebutkan, yaitu Yesus Kristus.

Mengapa hal ini menjadi penting? Karena poin inilah yang dapat membawa kita pada kelegaan.

Seperti yang telah sedikit aku singgung sebelumnya, dalam kehidupan kita seringkali pertanyaan-pertanyaan yang sulit muncul dan membelenggu kita. Kita tak bisa memahami rencana Allah dalam hidup kita secara utuh dan jelas. Ada banyak hal yang tersembunyi, dan keterbatasan kita seakan membuat kita tak berdaya hingga menjadi berpasrah diri dengan wajah lesu dan kecewa. Tetapi, beruntunglah kita karena pengenalan yang benar akan Yesus Kristus yang akan memberikan pijakan yang tak dapat menggoyahkan kaki kita. Inilah yang Paulus ingin agar kita lakukan, yakni mengenal siapa yang kita percayai. Walaupun mengetahui atau mengenal siapa yang kita percaya tidak lantas melenyapkan deretan pertanyaan membingungkan yang ada di kepala kita, namun itu akan menentukan cara kita melihat sesuatu dengan lebih baik.

Biarkan sebuah cerita pendek ini membantu menjelaskan hal ini.

Ada sebuah pasangan suami istri yang memiliki seorang bayi kecil yang cantik. Di suatu pagi sang istri mendapatkan tugas untuk membeli makanan bagi bayi mereka dan sang suami mendapat tugas untuk menjaga bayi itu di rumah. Tetapi setelah berjam-jam meninggalkan rumah, si istri tak kunjung kembali. Bayi kecil yang mulai menangis kelaparan mulai membuat sang ayah menjadi cemas, khawatir, dan marah. Dia khawatir dengan bayinya yang kelaparan itu. Dia marah dengan istri yang tak tahu ada di mana. Dia cemas dan menimbun banyak pertanyaan di kepalanya. Dengan wajah kesal dia mulai bergumam, “di mana wanita ini?”

Meskipun ada begitu banyak dugaan, dia tidak dapat memastikan keberadaan istrinya saat itu. Dia benar-benar tidak tahu. Tetapi teringatlah dia pada satu hal. Dia tahu siapa istrinya. Dia kenal siapa istrinya. Istrinya adalah seorang yang telah “meninggalkan” keluarganya demi menikah dengannya dan merawat dia dengan kasih sayang. Istrinya adalah seorang yang telah mempertaruhkan nyawanya pada saat melahirkan bayi mereka itu. Berkali-kali dia melihat istrinya memaksakan diri, melawan kantuk, untuk bangun di tengah malam, menggantikan popok, membuatkan susu, dan menyanyikan lagu dengan suaranya yang jelek itu demi menidurkan bayi yang dikasihi itu. Semuanya dilakukan dengan ketulusan dan tanpa keluhan, bahkan di saat istrinya sedang sakit. Sang suami tahu persis, istrinya mencintai bayi itu, bahkan melebihi nyawanya sendiri.

Tetapi kembali terbesit pertanyaan menjengkelkan itu. “Mengapa istriku belum kembali?” Dia tidak tahu! Tetapi ada satu hal yang dia tahu. Dia tahu dan mengenal baik siapa istrinya. Untuk semua yang pernah istrinya lakukan bagi bayi mereka, untuk segala kesetiaan dan pengorbanan yang tak kecil, dia yakin tak mungkin istrinya mau mencelakakan bayi itu. Lalu mengapa istrinya belum kembali? Ada di mana dia?” Jawabannya adalah “Tidak tahu!” Tetapi sekali lagi ada suara dari lubuk hati paling dalam yang berbisik dalam batinnya, “Untuk semua yang telah istriku lakukan bagi aku dan anakku, aku tahu siapa istriku! Aku tahu dia punya alasan.” Tetapi apa alasannya? “Aku tidak tahu! Tapi aku tahu dan aku kenal siapa dia.”

Sama seperti sang suami yang tidak mengetahui dengan pasti keberadaan istrinya, kita juga mungkin tidak memahami bagaimana cara Allah bekerja. Kita tidak mengerti mengapa Dia mengizinkan kita mengalami luka yang sedemikian menyakitkan. Kita benar-benar tidak tahu. Kita dibingungkan dengan sederet pertanyaan “mengapa”. Mengapa ini, mengapa itu, mengapa aku begini, mengapa terjadi begitu? Mengapa orang lain yang mendapatkannya padahal aku yang telah melakukan lebih baik? Mengapa bukan orang jahat itu yang menanggung semua beban ini? Begitulah keadaannya. Tetapi jika satu dari pertanyaan sulit itu dijawab, muncul lagi pertanyaan membingungkan lainnya. Terus-menerus begitu.

Lalu di mana kita harus berhenti? Mari menjawab satu pertanyaan penting ini:

Tahukah kita siapa Yesus Kristus? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin tidak melenyapkan pertanyaan-pertanyaan membingungkan sebelumnya. Tetapi aku percaya jawaban itu akan menjadi seperti air segar yang tercurah dari langit di tengah terik yang kering. Yesus Kristus adalah Pribadi Allah yang meninggalkan surga yang mulia dan memilih lahir di palungan sebuah kandang domba untukmu dan untukku. Dia ditelanjangi dan diludahi oleh mereka yang dikasihi-Nya. Tangan yang dikasihi-Nyalah yang menancapkan paku ke dalam tangan dan kaki-Nya. Dia yang tak bersalah bersedia mati bagi kita yang selalu menyakiti hati-Nya.

Apakah masuk akal jika Pribadi yang pernah terhina seperti itu, Pribadi yang menyerahkan nyawa-Nya supaya kita menerima pengampunan dan jaminan keselamatan, Pribadi yang membuktikan cinta tanpa syarat bagi kita, berniat mencelakai kita? Tidak mungkin!

Lalu mengapa Dia mengizinkan semua kepedihan ini menimpa kita? Aku tidak tahu! Tetapi aku tahu siapa Dia! Sama seperti Paulus berkata, aku juga akan mengatakan hal yang sama, “Aku tahu kepada siapa aku percaya”.

Allah yang aku percaya adalah Allah yang telah mengorbankan diri-Nya demi aku. Ia mencintai aku. Aku kenal siapa Dia. Dia adalah Allah yang punya rencana indah bagi anak-anak yang dikasihi-Nya.

Hari ini, saat ini, aku tidak memahami cara kerja-Nya. Aku dibingungkan dengan keputusan-keputusan-Nya. Tapi imanku tidak goyah. Tidak akan pernah. Karena aku tahu kepada siapa aku percaya!

Dia adalah Allah yang bisa dipercaya dan diandalkan. Dialah yang berkata kepada Yeremia, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

Tuhan Yesus memberkati kita. Amin

(Segala kelemahan dari tulisan ini berasal dariku, berkatnya berasal dari Dia)

Baca Juga:

Mengalami Kehadiran Allah Ketika Menghadapi Bullying

Teman-temanku menuduh dan menjulukiku sebagai “tukang ngadu”, akibatnya aku dijauhi dan dirundung secara mental dan fisik. Masa-masa sekolah jadi momen yang menyakitkan. Namun, Tuhan menolongku melalui masa-masa ini.

Doa Minta Dikuatkan, Tapi Kok Semakin Banyak Masalah?

Oleh Paramytha Magdalena, Surabaya

Hari itu aku masuk kerja seperti biasanya. Berangkat pagi dan selalu membuka pintu ruangan lebih dulu. Setelah aku tiba, datanglah salah seorang teman kerjaku. Dia tiba-tiba bersuara sambil berjalan ke arah meja kerjanya.

“Gusti, tolong kuatkan hamba-Mu ini dari semua masalah! Bu Myth, piye iki kerjaanku akeh banget. Doa njaluk kuat kok malah tambah akeh masalah. Huhu..”, kata temanku ini sambil merengek. Dia bilang pekerjaannya terlalu banyak. Sudah doa minta supaya Tuhan kuatkan, eh malah masalahnya tambah banyak.

Aku pun menjawabnya dengan candaan: “Bu dirimu njaluk kuat kan. Yo bener diparingi Gusti masalah sama tantanganlah. Kan biar tambah kuat bu. Makin banyak tantangan makin bakoh bu. Haha.” Bu kamu kan minta kuat. Ya betul diberi Tuhan masalah dan tantangan. Kan biar tambah kuat bu. Makin banyak tantangan makin kuat bu.

Temanku lalu terdiam sejenak, kemudian dia merespons, “Oalah iyaa ya bu. Wis aku ndak mau doa minta kuat lagi”.

Aku pun tertawa mendengar kata-katanya itu. Tapi, kata-kata itu malah menjadi bahan perenunganku sepanjang hari itu, bahkan sampai hari ini. Baik sadar maupun tidak, berdoa minta dikuatkan dari semua masalah hidup yang ada, nyatanya selalu menjadi kalimat pamungkas yang tidak akan aku lupakan ketika berdoa.

Mendoakan itu tidaklah salah, tapi dari perenunganku aku merasa motivasiku berdolah yang tidak benar. Selama ini, aku berdoa minta dikuatkan agar bisa menghadapi setiap masalah yang datang. Tapi, sejatinya di balik kata “dikuatkan” itu ada hal terselubung. Alih-alih minta supaya aku tekun menjalani proses, aku berharap ingin cepat-cepat masalah itu selesai, atau setidaknya berkurang, supaya aku bisa hidup bebas dan tidak ada beban tanggungan lagi. Aku ingin proses yang instan, proses yang durasi dan situasinya sesuai dengan kehendakku.

Namun pertanyaannya, apakah saat berdoa meminta dikuatkan, Tuhan secara otomatis begitu saja membuatku kuat dalam menghadapi semuanya?

Melalui pengalaman hidup, aku menyadari Dia membentuk, memproses, menempa, hingga akhirnya itu semua dipakai-Nya untuk menguatkanku. Meminta dikuatkan nyatanya bukan tentang dengan cepat menjadi kuat dan hebat dalam menyelesaikan masalah. Pergumulan hidup tetap ada, bahkan akan selalu ada.

Lalu apakah aku harus berhenti saja berdoa untuk minta dikuatkan? Sejujurnya ini juga pernah terlintas di pikiranku bahkan pernah kucoba, hehe.. Tapi tetap sama saja hasilnya. Masalah hidup tetap datang terus, bahkan lebih berat. Yang namanya masalah memang tidak pandang bulu; tua muda, kaya, miskin, orang percaya maupun tidak, semuanya pasti mengalami. Yang membedakan adalah respons masing-masing kita ketika menghadapinya.

Dari perenunganku tentang “doa meminta dikuatkan,” aku belajar melihat dengan cara pandang baru tentang sebuah doa. Meminta-Nya untuk menguatkanku adalah tentang bagaimana aku belajar merelakan diri diproses, dibentuk melalui apa yang Dia izinkan terjadi. Meminta dikuatkan juga bertujuan agar aku terus mengimani bahwa kekuatan-Nya yang tak terbatas itu selalu tersedia buatku saat aku mencari dan berada di hadirat-Nya. Aku bersyukur Dia menegur dan mengingatkanku tentang hal ini.

Meski mungkin saat aku berdoa minta dikuatkan akan ada pergumulan-pergumulan lain yang lebih berat yang menghampiriku, aku belajar untuk tidak takut mengucapkan doa tersebut. Tuhan tahu isi hatiku dan Dia tahu cara terbaik untuk membentuk dan menguatkanku. Selain mempercayai bahwa Tuhan akan menguatkanku, ternyata aku pun harus tetap kuat dan teguh didalam-Nya.

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, jangan takut dan jangan gemetar” (Ulangan 31:16a)

Aku belajar tentang sesuatu yang baru: untuk menjadi pribadi yang kuat tidak hanya diperlukan campur tangan dari pihak Tuhan saja, namun kita pun harus turut serta terlibat dalam proses pembentukan-Nya.

Baca Juga:

3 Kebenaran tentang Ketaatan yang Mengubahku

Apakah aku taat karena aku mengasihi Tuhan? Atau aku taat karena aku menyukai kegiatan-kegiatan yang kulakukan dalam ketaatanku?

Yuk temukan 3 hal tentang ketaatan yang benar di hadapan Tuhan dalam artikel ini.

Apa Sumber Kekuatanmu?

Hari ke-27 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 4:13

4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan padaku.

Kelihatannya, Filipi 4:13 adalah ayat terpopuler di negara asalku, Fiji. Ayat ini dipopulerkan oleh salah satu pahlawan olahraga terbaik di Fiji, Waisale Serevi, yang secara luas dikenal sebagai salah satu dari tujuh pemain rugby terbaik yang pernah ada.

Pernah dianggap terlalu kecil untuk bermain rugby, nyatanya Serevi malah mendatangkan popularitas internasional bagi tim rugby Fiji. Serevi memenangkan dua pertandingan di Rugby World Cup Sevens dan beberapa turnamen internasional. Ia terkenal akan sepatu boots atau gelang tangannya yang selalu ia tulisi “Phil 4:13” setiap kali ia bermain. Ketika diwawancara oleh media, Serevi mengaitkan kesuksesannya dengan Tuhan dan mengutip ayat favoritnya: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan padaku.”

Ketika kariernya sebagai pemain rugby berakhir, Serevi mengalami masa-masa yang sulit. Bersamaan dengan permasalahan ekonomi, ia juga bergumul dengan depresi dan kecanduan alkohol. Sebuah buku yang mengisahkan hidup Serevi menceritakan apa yang ia lewati selama masa-masa kelam itu. Serevi mengatakan ia merasakan kesendirian, “berjalan dalam lembah kematian,” dengan hanya Allah yang ada disisinya.

Pada masa-masa ini, aku penasaran apa yang Serevi rasakan mengenai ayat Alkitab yang selama ini ia agung-agungkan selama masa kejayaannya. Apakah ia tetap merasa bahwa ia dapat menanggung segala perkara “di dalam Dia yang memberi kekuatan padaku”?

Banyak orang, terutama atlet-atlet, menyukai ayat ini. Seringkali, ayat ini dipakai sebagai sugesti untuk meyakinkan tim tersebut akan kemenangan, atau bahwa kita bisa meraih apapun, dengan kekuatan Allah. Cara berpikir ini sangatlah mudah dipercaya dan diikuti saat kita sedang sukses di mata dunia. Namun bagaimana ceritanya ketika hidup tidak berjalan sesuai dengan kehendak kita?

Seperti yang telah kita baca pada renungan kemarin, Paulus mengatakan pada jemaat Filipi bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan dan kelimpahan (ayat 12). Ia tahu bagaimana rasanya “menang” dalam hidup, dan juga “kalah”. Lalu, Paulus mengisahkan cerita yang berbeda di Makedonia dan Tesalonika saat hidup tidaklah mudah, namun Allah datang dan memberikan padanya apa yang ia butuhkan (Filipi 4:15-16). Melalui pengalaman-pengalamannya itu, Paulus menyadari semuanya ini dapat ia lakukan karena Yesus yang menopangnya.

Sangatlah penting untuk menyadari Kristus sebagai sumber kekuatan kita, saat kita merasa diberkati dengan berlimpah. Namun, penting juga untuk bersandar pada Yesus ketika kita mengalami hal-hal sulit agar Ia menuntun dan memperkuat kita dalam kondisi sulit yang kita hadapi.

Bagi Severi, ia secara terbuka berterima kasih pada Allah karena memberikannya kekuatan untuk keluar dari depresi dan kecanduan alkohol yang dialaminya. Sejak saat itu, ia berkesempatan untuk membuka sekolah pelatihan rugby di Amerika, di mana ia mengajari orang-orang mengenai olahraga yang ia cintai bersamaan dengan nilai-nilai yang menopangnya.

Filipi 4:13 tidak menjanjikan kita kehidupan bahagia di dunia. Paulus dan rekan-rekan dalam Kristusnya, pada akhirnya hidup tersiksa. Sejarah gereja mengatakan pada kita bahwa Paulus dipenggal di Roma sekitar tahun 64M. Walaupun kita tidak mengetahui secara pasti, aku percaya bahwa Paulus berpegang pada keyakinannya bahwa ia dapat menanggung segala perkara dalam Kristus, meminta kekuatan pada Juruselamatnya dalam momen-momen terakhirnya.

Jadi entah kita merasa sedang berada pada puncak kesuksesan, atau dalam titik terendah dalam hidup, kita dapat dengan percaya diri mengatakan bahwa kita dapat melewati segala perkara dengan kekuatan yang diberikan oleh Juruselamat yang Mahakasih dan Mahakuasa. Hal ini tidak berarti kita akan selalu merasa “menang” setiap saat, tetapi kita dapat meyakini bahwa Yesus akan selalu ada bersama kita di setiap langkah kita, dan Ia akan memberikan kita kekuatan agar dapat menjalankan kehidupan dengan iman sampai pada akhirnya.—Caleb Young, Selandia Baru

Handlettering oleh Febronia

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Renungkanlah suatu waktu di mana kamu merasa sangat dikuatkan oleh Allah. Apa yang terjadi dan bagaimana hal ini membantumu menghadapi perkaramu?

2. Apakah kamu sedang merasa kesulitan saat ini? Bagaimana renungan hari ini menguatkanmu untuk meminta kekuatan pada Yesus?

3. Apakah kamu merasa tertantang untuk mempercayai bahwa kamu dapat menanggung “segala perkara” di dalam Allah yang memberikan kekuatan padamu? Bawalah segala kekhawatiranmu pada Allah dan mintalah pada-Nya untuk menguatkanmu.

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Caleb Young, Selandia Baru | Caleb adalah penyuka film, makanan, hiburan, dan juga keluarga. Dia ingin semakin menjadi serupa dengan Kristus, dan bersyukur memiliki Juruselamat yang mengasihinya meskipun dia punya banyak kekurangan.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Perbedaan Apa yang Yesus Sanggup Lakukan dalam Hidupmu?

Oleh Paul Wong, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: What Difference Does Jesus Make?

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan (Filipi 3:8-9).

Pria yang menulis kata-kata itu menulisnya di sebuah penjara yang dingin dan sepi sekitar tahun 60 masehi. Dia dibelenggu seorang tentara Romawi selama 24 jam penuh setiap harinya. Seiring dia menuliskan surat ini, reputasi dan nama baiknya sedang diruntuhkan oleh lawan-lawannya yang iri pada pengaruhnya terhadap gereja-gereja di Asia dan Makedonia. Dan, gereja-gereja yang telah dia bangun, termasuk jemaat Filipi yang menjadi penerima surat ini, sedang mengalami ancaman dari penganiayaan dan ajaran-ajaran sesat. Singkatnya, segala hal yang telah orang ini usahakan dan capai dalam hidupnya selama beberapa tahun terakhir sedang diserang dan menghadapi kemungkinan untuk dihancurkan.

Tahukah kamu siapa gerangan orang itu? Dia adalah Paulus. Alkitab mencatat kisah pertobatan Saulus yang kemudian berubah nama menjadi Paulus. Tapi, apakah dengan mengikut Yesus kisah hidup Paulus menjadi lebih baik? Dampak apa yang Paulus orang Tarsus rasakan melalui kepercayaannya pada Yesus? Mungkin pada satu sisi kita bisa berkata: Banyak, namun bukan dalam artian yang baik.

Ketika dalam suratnya Paulus menuliskan bahwa dia telah kehilangan segala sesuatunya, dia benar-benar merasakannya. Status, rasa aman—semua hilang.

Maka seharusnya pertanyaan besar kita adalah: Mengapa Paulus bisa menganggap bahwa “memperoleh Kristus” adalah hal yang lebih berharga dan mulia jika dibandingkan dengan kehilangan segala sesuatu secara harafiah? Mengapa dia menggambarkan kehidupan lamanya yang nyaman sebagai “sampah”, ketika dia sekarang tersiksa di penjara?

Pengampunan dan relasi

Ketika Yesus dilahirkan di Yudea, Dia datang dengan sebuah tujuan. Kejadian-kejadian yang terjadi pada kelahiran-Nya yang ajaib membuktikannya. Sebuah catatan saksi mata dari kehidupan-Nya mengatakan bahwa Dia dinamakan Yesus (yang berarti “Allah menyelamatkan”) “karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa” (Matius 1:21). Hal itu berarti tujuan-Nya di dunia adalah untuk menyelamatkan manusia dari hukuman yang pantas kita terima akibat penolakan kita terhadap Tuhan.

Aku ingin tahu pendapat kalian tentang hal itu. Mungkin kalian berpikir kalian sesungguhnya adalah orang yang baik—karena itu pemikiran tentang hukuman “dosa” adalah suatu hal yang konyol.

Namun, jujurlah pada diri kita sendiri: apakah kita benar-benar “orang baik”? Lagipula, siapa yang berhak menentukannya? Paulus mengatakan pada kita bahwa di mata semua orang dia adalah orang baik—tidak bercacat dalam pemahamannya tentang hukum Taurat (Filipi 3:4-6)—namun tetap sebuah kegagalan total di hadapan Allah yang kudus dan adil.

Ini alasannya: Allah tidak sekadar memandang “dosa” sebagai perbuatan buruk yang kamu dan aku lakukan setiap hari. Yang Allah artikan sebagai dosa adalah hal yang jauh lebih parah. Allah berkata bahwa kita hidup di dalam kegelapan, memberontak terhadap-Nya. Manusia sedang mendiami (bahkan menghancurkan) dunia-Nya, menggunakan benda-benda ciptaan-Nya dan menghirup udara-Nya, tanpa rasa hormat pada-Nya. Dan itu merupakan sebuah masalah karena jika Allah adalah kudus dan adil dan baik, dan jika kita menjalani hidup seakan-akan Dia tidak ada, maka sikap seperti itu pantas menerima penghakiman—tanya saja pada orang tua manapun.

Tetapi Allah, dalam kasih-Nya pada ciptaan-Nya dan kerinduan-Nya akan sebuah relasi dengan umat-Nya, berinisiatif memberikan obat penawarnya dengan mengutus Yesus. Dan caranya adalah dengan Yesus mati di kayu salib, menanggung segala hukuman tersebut sebagai ganti kita. Pengorbanan Yesus merupakan jaminan pengampunan bagi kita.

Meyakini pengorbanan itu berarti Allah sekarang memandang kita sebagaimana Allah memandang Yesus. Yang menakjubkan, Allah tidak lagi melihat dosa kita, melainkan kesempurnaan Anak-Nya. Dan hal yang paling krusial adalah, pertobatan (berbalik dari pemberontakan kita) dan iman (mempercayai Yesus) membawa kita pada relasi dengan Allah.

Inilah pemahaman yang mengubah segalanya.

Karena dia adalah seorang Kristen, Paulus dari Tarsus dapat yakin bahwa dia tidak perlu takut terhadap penghakiman Allah. Dia bisa saja mati dihukum sebagai seorang kriminal, namun sejatinya dia tahu bahwa dia telah didamaikan dengan Penciptanya.

Apa perbedaan dari hidup yang percaya pada Yesus? Ia menawarkan pengampunan atas penolakan kita terhadap Tuhan, dan sebuah relasi yang dimulai sejak sekarang dan akan bertahan selamanya. Dan itulah segala hal yang penting di dunia ini.

Jangka waktu yang berbeda

Meski begitu, bagi Paulus, semua itu tidak hanya sampai di sana.

Sebelum Yesus mati, Dia berjanji untuk datang kembali. Dan bagi mereka yang percaya pada-Nya, ada sebuah janji akan kehidupan yang kekal—namun bukan di dunia yang rusak ini, melainkan di sebuah tempat di mana kekecewaan dari hidup ini hanya akan menjadi sebuah kenangan. Sebuah surga yang sempurna, tanpa dosa, penderitaan, maupun rasa sakit.

Menjadi seorang Kristen tidak menjadikan hidupmu lebih baik sekarang juga. Justru dalam banyak hal menjadi seorang Kristen akan membuat hidupmu lebih sulit (tanyakan saja pada Paulus!). Tetapi dampak dari menjadi seorang Kristen adalah mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan secara radikal. Menjadi seorang Kristen akan menggeser pemahaman kita tentang “hidup” dari 70-90 tahun di bumi menjadi hidup di kekekalan.

Yang terpenting dari apa yang Yesus janjikan adalah sebuah relasi dengan-Nya yang memuaskan jiwa karena relasi tersebut bukanlah sekadar relasi yang sementara, melainkan sebuah relasi dengan Allah penguasa semesta yang dimulai dari sekarang dan akan bertahan melampaui kematian kita. Itulah pemahaman yang mengubah segalanya.

Menjalani hidup sebagai seorang Kristen yang berkomitmen di dunia bukanlah hal yang mudah seperti berjalan-jalan di taman. Pertempuran terhadap dosa membawaku untuk berlutut dan berdoa.

Pekerjaanku sebagai youth pastor seringkali menyibukkan, dan terkadang juga membuat stres dan kecewa. Beberapa kerabatku yang bukan Kristen menganggap pekerjaanku sebagai sesuatu yang tidak berguna. Rasanya ada banyak tantangan dan kekecewaan di tiap hal yang kulakukan. Kadang aku membayangkan bagaimana hidupku akan lebih baik dan menyenangkan jika aku waktu itu tetap memilh menjadi seorang pengacara. Aku tahu suara dalam hatiku itu adalah keinginan manusiawiku.

Namun di tengah masa-masa yang membuatku goyah ini, aku diteguhkan di hadapan sebuah kebenaran yang mulia, yaitu bahwa aku telah diampuni, dan sedang berjalan menuju masa depan yang lebih baik, cerah dan kekal bersama Juruselamatku. Jika Alkitab benar, maka kesulitan akibat menjadi Kristen yang sesungguhnya jarang terjadi ini hanyalah sebuah kilat di dalam jangka waktu Allah (Roma 8:18).

Jadi, apa perbedaan dari hidup mempercayai Yesus bagi Paulus? Sederhananya kamu dapat bilang: Banyak, dan dalam makna yang paling positif. Ketika Paulus menulis bahwa pengenalan akan Kristus adalah jauh lebih mulia, dia benar-benar serius. Dia mendapatkan pengampunan dan relasi dengan Allah yang terjamin, dan sebuah sukacita abadi untuk dinantikan. Dan semua ini diperoleh dari keselamatan melalui kepercayaannya pada Kristus.

Apakah kamu mau mempertimbangkan untuk menaruh kepercayaanmu pada Yesus?

* * *

Tentang penulis:

Paul adalah seorang pastor kampus di Singapore Management University’s Christian Fellowship (SMUCF). Dalam waktu senggangnya dia menikmati fotografi, membaca sejarah yang terkenal, dan menghabiskan waktu dengan keluarganya.

Baca Juga:

Pengakuan Terjujur di Hidupku

Sahabat, aku pernah remuk oleh karena dosa yang kuperbuat. Berat bagiku untuk mengakui ini. Tapi, melalui tulisan ini, izinkanlah aku menuturkannya kepadamu.

Menghadapi Penderitaan Tidak dengan Sikap Cengeng

Oleh Salsa, Jakarta

Masa kecil adalah masa-masa di mana kita mulai belajar dan mengenal berbagai perasaan, salah satunya adalah perasaan takut ketika mainan kita diambil. Namun, ketika kepunyaan kita diambil, biasanya orang tua kita akan memihak pada kita dan memberikan mainan itu kembali.

Ketika kita beranjak dewasa, kita mulai menyadari bahwa dunia tidak selalu berpihak kepada kita. Banyak ketidakadilan yang sering terjadi di sekitar kita dan kita merasa berhak untuk menuntut keadilan jika ketidakdilan itu menimpa kita. Salah satu contoh sederhana yang mungkin sering kita alami adalah kesedihan dan kekecewaaan kita ketika Tuhan tidak mengabulkan doa kita. Atau, ketika banyak masalah yang datang menimpa kita padahal kita merasa sudah melakukan banyak hal untuk melayani Tuhan. Tanpa sadar, kita lupa bahwa kesedihan dan kekecewaan kita tersebut mencerminkan sebuah cara untuk mengatur Tuhan agar Dia memenuhi keinginan-keinginan kita sesuai dengan apa yang kita kehendaki.

Mungkin penjelasan-penjelasan di atas terdengar membosankan karena terlalu sering kita mendengarnya dari pendeta-pendeta di gereja. Mungkin juga, ketika kita mendengarnya lagi, kita merasa hal itu tidak mungkin kita alami karena kita juga sudah terlalu sering mendengar “mengikut Kristus bukanlah perkara mudah”. Mengapa aku berkata demikian? Karena aku mengalaminya.

Selama ini aku memahami bahwa mengikut Kristus merupakan perkara yang tidak mudah dan penuh tantangan. Aku pun selalu mendapatkan penguatan-penguatan dari orang-orang di sekitarku mengenai hal tersebut. Namun, ada kalanya aku tetap merasa sedih dan mempertanyakan kesedihanku kepada Tuhan.

Belakangan aku merasa lelah dengan imanku. Sudah empat tahun aku mengikut Kristus secara diam-diam (Sebelumnya sudah pernah kutuliskan di sini). Sejak kelas 3 SMA, aku menyembunyikan imanku kepada Kristus dari keluarga dan sebagian besar teman-temanku. Awalnya aku sangat menggebu-gebu dan penuh sukacita menjalaninya, namun belakangan aku merasa lelah. Semuanya terasa seperti sandiwara. Aku sedih kehilangan relasi dengan sahabat-sahabatku karena imanku. Aku pun lelah karena ada orang-orang yang justru berburuk sangka tentang imanku. Mereka mengira aku tidak sungguh-sungguh mengikut Kristus. Mereka kira aku sekadar ikut-ikuan dan terpengaruh orang lain. Bahkan, ada juga yang mengira aku mengikut Kristus demi menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.

Kelelahanku membuatku bertanya-tanya kepada Tuhan, “Tuhan mengapa aku tidak dilahirkan di keluarga Kristen? Mengapa aku harus melalui semua ini? Mengapa orang-orang itu tidak memandangku dengan baik meski aku telah mengikut Engkau? Mengapa mereka bukannya menguatkan tapi malah menjatuhkan? Mengapa ibuku semakin fanatik dengan imannya dan membuatku sulit untuk mengabarkan Injil kepadanya? Mengapa ayah kandungku meninggal saat aku SD dan aku mendapatkan ayah baru yang fanatik? Mengapa aku harus berpura-pura? Sungguh, aku lelah Tuhan hidup dalam dua ‘dunia’ seperti ini. Sampai kapan Tuhan? Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?” dan sederet pertanyaan lainnya.

Pilihan sikap untuk menghadapi penderitaan

Aku menangis selama beberapa waktu sampai suatu hari aku diingatkan saat ibadah Minggu melalui firman yang ditulis oleh Petrus dalam 1 Petrus 2:11-3:12. Dalam bacaan tersebut, Petrus mengingatkan kembali bahwa identitas baru kita dalam Tuhan tidak mengubah relasi sosial kita dalam kehidupan bermasyarakat. Petrus secara khusus mengingatkan para hamba-hamba (budak) pada ayat 18 untuk tetap tunduk kepada tuan mereka, bukan hanya kepada tuan yang baik namun juga kepada tuan yang bengis. Tidak hanya itu, setelah para budak, Petrus juga menguatkan para istri untuk tunduk kepada suami mereka, bukan hanya kepada suami yang taat, namun juga kepada yang tidak taat.

Jika kita lihat dalam ayat-ayat tersebut, Petrus menghubungkan budak dengan istri melalui teladan Kristus. Mengapa demikian? Pada saat itu, para budak dan istri adalah dua kelompok masyarakat yang penderitaannya paling mirip dengan penderitaan yang Kristus alami (Innocent suffering). Petrus mengingatkan para budak dan para istri agar tetap menghormati tuan dan suami mereka dan tetap berbuat baik kepada mereka agar terang Kristus boleh terpancar melalui setiap perbuatan baik mereka.

Tentunya ini bukan hal yang mudah. Bagi para budak, mereka adalah kaum yang tidak dianggap dan sering mengalami penderitaan. Tetapi, justru secara khusus Petrus menuliskan surat yang menguatkan mereka dan mengingatkan mereka bahwa identitas mereka adalah manusia yang Tuhan kasihi; identitas mereka tidak bergantung kepada tuan mereka dan Tuhan telah rela mengalami penderitaan yang serupa karena kasih-Nya kepada manusia. Begitupun para istri yang menerima identitas baru dalam Kristus. Mereka mungkin tidak bisa mengabarkan Injil melalui perkataaan mereka kepada suami atau keluarga mereka. Mereka dikenal sebagai kaum yang sulit dipercaya dan harus selalu patuh kepada suami mereka. Dengan iman mereka yang baru (iman kepada Kristus), masyarakat akan menganggap mereka telah mencoreng nama baik keluarga, merusak relasi mereka dengan suami dan anak-anak mereka. Bahkan, mereka bisa saja diceraikan, dibuang, dan dibiarkan begitu saja. Oleh karena itu, Petrus menekankan agar mereka, para istri, tetap tunduk menghormati suaminya sebagai bentuk penyembahan mereka kepada Kristus.

Tidak hanya para istri, Petrus juga melanjutkan suratnya kepada para suami yang telah beriman kepada Kristus. Dalam suratnya, Petrus mengingatkan agar para suami yang pada zaman itu sangat berhak memaksa dan mengatur kehidupan keluarganya, tetap berlaku bijaksana dan menghormati istri mereka, walaupun mungkin istri dan anak-anak mereka bukan orang percaya. Petrus mengingatkan bahwa Kristus tidak mengajarkan pemaksaan, meskipun Kristus tentu memiliki kuasa untuk memaksa atau melawan musuh-musuh-Nya dalam penderitaan-Nya.

Mendengar setiap firman yang disampaikan itu, pikiranku benar-benar melayang, membayangkan keadaan pada masa itu dan membayangkan setiap peran yang Petrus sebutkan. Aku membayangkan pasti sangat sulit bagi para budak yang sudah melakukan setiap pekerjaan mereka dengan baik namun tetap harus menerima dengan kasih setiap bentakan, cacian, dan siksaan dari majikan yang kejam. Kemudian, aku mengaitkan kondisiku saat ini dengan kondisi para istri yang mungkin mirip sepertiku. Ya, aku seperti mereka. Aku belum bisa mengabarkan kabar baik secara langsung (lisan) kepada keluargaku. Tapi, aku tetap harus berbuat baik serta menghormati mereka dengan kasih Kristus. Aku juga membayangkan seandainya aku menjadi suami pada zaman itu, mungkin aku akan sangat tergoda untuk memaksa istri dan keluargaku untuk mengikuti iman yang sama seperti yang kuikuti. Akan sangat mudah bagiku untuk menjalani hidup tanpa harus merasakan rasa malu dari masyarakat sekitar maupun teman-teman karena imanku yang berbeda dari keluargaku.

Aku kembali merefleksikan semua itu kepada teladan yang Kristus ajarkan. Aku kembali menangis. Ya, kali ini aku menangis karena aku merasa terlalu cengeng jika dibandingkan dengan mereka semua yang Petrus sebutkan, terlebih lagi jika dibandingkan dengan Kristus. Aku kembali mengingat betapa Kristus sungguh mengasihiku sehingga Dia rela menderita, rela ikut “jatuh” ke dalam lumpur dosa, rela diam ketika dicaci dan dihina, bahkan rela terpisah dengan Bapa untuk menolong kita. Begitupun dengan Bapa yang rela memalingkan pandangan-Nya dari Anak yang sangat dikasihi-Nya, agar pandangan-Nya yang penuh kasih bisa sepenuhnya tercurah kepada kita.

Mungkin penderitaaan yang kita alami saat ini terasa sangat sulit untuk dilalui, namun marilah terus memandang kepada teladan yang Kristus telah berikan kepada kita. Jika Kristus sudah begitu mengasihi kita, maukah kita menerima kasih-Nya dan melalui setiap penderitaan kita dengan tetap berpengharapan dan bersukacita? Jika kita telah merasakan kasih-Nya yang begitu besar bagi kita, maukah kita juga mengabarkan kasih anugerah keselamatan itu kepada mereka yang belum mendengarnya melalui tiap perkataan dan tindakan kita?

Meski terkadang aku masih merasa lelah, namun kini aku selalu berusaha mengingat bahwa setiap kelelahan yang kualami tidak seberapa dengan kelelahan yang Tuhan telah alami. Selain itu, aku juga berusaha untuk melihat orang-orang lain yang mengalami penderitaan lebih berat daripada yang kualami. Semisal, ada beberapa pengungsi dari negara-negara terkoyak perang yang juga pengikut Kristus dan harus menyembunyikan imannya, sama sepertiku. Tak hanya itu, mereka pun harus bergumul dengan hal-hal lain yang lebih berat sepertit empat tinggal, makanan, bahkan kewarganegaraan. Aku tidak sedang menjalani perjalanan ini sendirian, ada Yesus yang menyertaiku juga kita sekalian.

Baca Juga:

3 Pertanyaan untuk Diajukan Saat Kamu Berpacaran

Berpacaran bisa menjadi sebuah petualangan yang mendebarkan, terutama karena berpacaran merupakan langkah awal yang nanti akan membawa kita ke jenjang pernikahan! Namun, sudahkah kamu menguji hatimu dalam menjalani fase ini?

Saat Aku Mengizinkan Ketakutan Menguasaiku

Oleh Agnes Lee, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When I Let Fear Rule Me

Setiap orang punya ketakutannya masing-masing. Kadang, ketakutan itu begitu mempengaruhi kita hingga kita terjebak di dalamnya. Buatku, ketakutan yang kualami bermula dari peristiwa masuk angin.

Suatu hari aku terbangun dengan rasa tidak enak di tenggorokan yang kemudian berubah menjadi batuk-batuk. Aku memutuskan untuk pergi menemui dokter. Apa diagnosisnya? Kata dokter, itu hanya gejala masuk angin biasa. Aku disarankan untuk cuti beristirahat di rumah selama dua hari.

Kupikir tubuhku akan lebih baik setelah itu, tapi batuknya malah semakin parah. Aku juga merasa mual. Aku kehilangan nafsu makan dan tidak bisa menyantap makanan apapun. Tapi, aku harus memaksa diriku makan supaya aku bisa minum obat. Sepanjang hari aku merasa mengantuk dan terkadang demam. Aktivitas yang kulakukan cuma tertidur, tapi karena batuk, aku jadi sering terbangun.

Keadaan terasa lebih parah karena aku khawatir akan pekerjaanku yang harus kuselesaikan di kantor. Bosku sedang pergi dan tidak ada staf lain yang terlatih untuk menjalin komunikasi dengan klien.

Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku. Saat aku berada di dalam kereta, aku mulai batuk-batuk. Orang-orang di sekelilingku pun menjauhiku.

Aku benci situasi itu—aku berharap seandainya saja aku tidak sakit. Aku berharap seandainya aku bisa menyembunyikan diri dari penumpang-penumpang lain. Orang-orang menghindariku seolah aku ini sedang menderita penyakit yang aneh dan menular. Rasanya begitu memalukan.

Bagaimana mungkin sekadar masuk angin membuatku merasa begitu tidak nyaman? Kapan aku akan sembuh? Sudah lima hari berlalu. Apakah ini benar-benar cuma masuk angin? Dokter yang memeriksaku sepertinya telah salah!

Bagaimana kalau ternyata aku menderita kanker paru-paru? Atau TBC? Aku tahu seseorang yang menderita TBC dan masa-masa pemulihannya itu sangat menyakitkan, penuh dengan jarum, obat-obatan yang berbeda, rawat inap, dan beberapa kali kunjungan ke dokter. Gejala awal penyakit parah itu dimulai dari sekadar masuk angin dan pilek juga.

Aku mencoba mengalihkan diriku dari pikiran-pikiran negatif dengan mendengarkan lagu-lagu. Aku menemukan sebuah lagu dari Casting Crowns yang berjudul Oh My Soul. Mark Hall, penulis sekaligus penyanyinya berkata: “Ada suatu tempat di mana ketakutan harus berhadapan dengan Tuhan yang kamu percaya.” Lagu ini melegakanku.

Tuhan sedang memberitahuku untuk tidak takut. Tuhan menggunakan lagu itu untuk meyakinkanku, agar aku meletakkan ketakutanku di hadapan-Nya sebab Dia begitu mengerti akan diriku. Ketika kita membawa ketakutan kita ke hadapan Tuhan, Dia memikulnya untuk kita dan membebaskan kita.

Ketika aku mencari tahu lebih tentang lagu itu, aku mendapati bahwa penulisnya menulis lagu itu saat dia berada di titik terendahnya—di suatu malam ketika dia didiagnosis menderita tumor di di dalam ginjalnya.

Aku terinspirasi dari iman yang diungkapkan oleh sang penulis lagu itu. Aku menyembah Tuhan yang selalu berada di sisiku di segala musim kehidupan, dan Dia tidak pernah meninggalkanku. Lantas, mengapa aku tidak menanggalkan segala ketakutanku? Aku begitu khawatir, terjebak di dalamnya, hingga aku lupa kalau sebenarnya aku bisa menyerahkan segala ketakutan itu kepada Tuhan.

Ketakutanku yang berlebihan itu rasanya adalah sesuatu yang konyol, sebab ketakutan itu tidak berdasar. Semakin aku berfokus kepadanya, semakin aku menjadi takut. Sebaliknya, aku dapat memberitahu diriku untuk fokus kepada Tuhan. Dan, dengan segera aku mendapatkan kedamaian hati karena aku mengetahui bahwa aku dapat menyerahkan segala ketakutanku kepada Tuhan yang kutahu.

Dalam diam, aku mengucapkan doa memohon ampun. Aku telah mengizinkan ketakutanku merampas kedamaian hatiku ketika seharusnya aku dapat menyerahkan segala rasa itu kepada Tuhan. Malam itu, aku menyembah Tuhan, berdoa, lalu tertidur.

Di tengah malam, aku batuk-batuk lagi. Tapi, anehnya, kali ini aku menangis. Aku merasa hadirat Tuhan melingkupiku tepat di saat aku benar-benar membutuhkan penghiburan. Saat itu aku merasakan kedamaian yang Ilahi dalam hatiku. Aku teringat Yohanes 14:27, ketika Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Perkataan ini memenuhi hatiku dan aku merasa terhibur oleh firman Tuhan. Dari ayat ini, aku diingatkan bahwa Tuhan memberikan damai-Nya bagi kita bahkan ketika kita sedang menghadapi masalah. Kita tidak perlu takut sebab Tuhan ada bersama dengan kita.

Setelah beberapa menit, aku merasa seperti ada sesuatu yang terangkat dari tenggorokanku dan secara ajaib Tuhan menyembuhkanku. Tenggorokanku tidak lagi terasa gatal dan kering seperti hari-hari sebelumnya, dan batukku pun lebih berkurang sejak saat itu dan seterusnya. Di akhir minggu, batuk itu lenyap seutuhnya.

Melalui sakit yang kualami, itulah cara Tuhan mengingatkanku bahwa ada sebuah tempat di mana kita bisa meletakkan segala ketakutan kita, sebuah tempat di mana kita dapat merasa aman. Tuhan adalah Gembala yang baik, yang menyerahkan hidup-Nya untuk domba-domba-Nya (Yohanes 10:11). Karena Tuhan ada di sisiku, aku tidak perlu takut kehilangan kesehatan atau kenyamanan hidupku. Meskipun aku tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi dalam hidupku, Tuhan sanggup melakukannya.

Baca Juga:

Di Balik Hambatan yang Kita Alami, Tuhan Sedang Merenda Kebaikan

Ketika melepas tahun 2018 yang lalu, kita mungkin mengidentikkan tahun 2019 ini dengan harapan-harapan baru. Tapi, mungkin juga kita bertanya-tanya, apakah tahun ini akan berbeda dari tahun sebelumnya? Atau, apakah sama saja?

#10YearChallenge, Hal Apakah yang Tuhan Telah Ubahkan dalam Hidupmu?

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Minggu lalu, dalam kelas diskusi di gereja, pemimpinku mengajukan pertanyaan kepada seluruh murid yang hadir. “Setelah bertahun-tahun menjalani hidup bersama Tuhan, apa sih yang paling berubah dalam hidup kalian?”

Pertanyaan itu membuat seisi kelas jadi hening. Kami saling melirik dan tersenyum. Setelah ditunjuk, barulah satu per satu kami menjawab. Jawabannya beragam. Kebanyakan temanku berkata bahwa secara umum mereka jadi lebih sabar, lebih semangat, dan lebih bersyukur. Lalu, tibalah giliranku untuk menjawab. Karena aku tinggal merantau di luar kota, pemimpin diskusi memintaku untuk sekalian bercerita tentang pengalamanku.

Kalau aku melihat ke belakang, perjalananku selama sepuluh tahun terakhir ini rasanya begitu luar biasa. Banyak hal yang semula begitu kutakuti, ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Tuhan menuntun langkah demi langkah yang kulalui, mulai dari pindah kota untuk kuliah, pindah kota lagi untuk bekerja, hingga masalah keluarga yang sempat membuatku hampir merasa putus asa. Perjalananku kini tentu belum mencapai garis finish, tapi segala pergumulan di belakang itu mengingatkanku akan betapa baiknya Tuhan yang telah menyertaiku.

Menjawab pertanyaan “apa sih yang paling berubah dalam hidupku”, kupikir jawabanku adalah caraku memaknai perjalanan hidupku hari demi hari. Setiap masalah yang datang dalam hidupku bisa saja menghujamku ke bawah, jika aku mengizinkan diriku untuk berlarut-larut di dalamnya. Namun, jika aku menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan, Ia mungkin tidak akan menghilangkan masalah itu dengan mengubah situasi hidupku menjadi baik dalam sekejap. Tapi, Ia bisa menggunakannya untuk membentuk diriku menjadi pribadi yang berkenan kepada-Nya.

Tiga tahun lalu, aku mengalami masa transisi yang sempat membuatku terguncang. Setelah lulus kuliah dan bekerja ke kota lain, aku merasa masa depanku kelam. Pekerjaan yang kutekuni pernah terasa amat menjemukan dan kupikir aku telah salah mengambil langkah. Pun, aku dilanda kesepian di kota yang baru ini, hidup jauh dari keluarga dan sahabat. Aku merasa gelombang hidup di depanku terlalu besar, dan aku tidak mampu mengatasinya.

Namun, seiring berjalannya waktu, aku mendapati bahwa sesungguhnya aku tidak sendirian. Ada Tuhan yang menyertaiku. Dan, melalui inilah aku mengubah cara pandangku. Aku menganggap perjalanan hidupku ini ibarat sebuah perjalanan ke puncak bukit dari suatu tempat yang terletak di pesisir pantai. Ketika aku berada di tepian pantai, lautan yang kulihat adalah air yang penuh gelombang. Tatkala badai datang, deburan ombaknya kian besar dan membuatku takut. Namun, aku melangkahkan kakiku, selangkah demi selangkah ke atas sebuah bukit. Tanah yang kupijak tak selalu berumput hijau, kadang dipenuhi kerikil tajam. Pun konturnya tak selalu rata. Kadang menanjak, menurun, datar, juga berkelok-kelok.

Hingga suatu ketika, saat aku tiba di puncak bukit yang tinggi, aku melihat ke bawah. Lautan tak lagi menampakkan deburan ombaknya yang ganas. Yang kulihat hanyalah sebuah kolam biru yang luas membentang, yang menyajikan suatu ketenangan yang tiada berbatas.

Kupikir, seperti itulah perjalanan hidup kita. Tiap kita sedang dalam perjalanannya menuju puncak bukit kita masing-masing. Kita bisa memilih untuk berdiam di tepi deburan ombak dan suatu saat terseret oleh kuatnya gelombang. Tapi, kita juga bisa memilih untuk berjalan ke atas, ke tempat yang lebih tinggi. Bukan untuk menghindari segala permasalahan hidup, melainkan untuk menyikapinya dengan cara pandang yang lebih luas. Kita bisa menghadapi tahun ini dengan segala tantangannya bukan dengan rasa panik dan khawatir, melainkan dengan kedamaian dan ketenangan hati sebab Tuhan senantiasa menyertai kita. Ulangan 32:11-12 memberikan kita gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana cara Tuhan menyertai kita.

“Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing menyertai dia.”

Kehadiran Allah dilambangkan sebagai burung rajawali yang dengan sengaja memporakporandakan sarang yang didiami anaknya. Namun, sang rajawali tetap mendampingi dan melindungi hingga anak-anaknya memiliki sayap yang kuat dan mampu terbang tinggi melintasi angkasa.

Sahabatku, sepuluh tahun, atau lebih, Tuhan kita adalah Tuhan yang setia, Tuhan yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Jika kita membuka Instagram dan mengikuti #10YearChallenge, jadikanlah itu bukan sekadar momen yang mengingatkan kita akan banyaknya perubahan fisik yang terjadi dalam hidup kita, tetapi betapa Tuhan telah dan terus menyertai kita sepanjang perjalanan hidup kita.

Sahabatku, bagaimana denganmu? Hal apakah yang Tuhan telah ubahkan dalam hidupmu?

Baca Juga:

Surat untuk Sahabatku yang Sedang Berduka

Sahabat, meskipun mungkin ada luka dalam hatimu yang belum mengering, namun aku percaya, bersama Tuhan kamu mampu melangkah di tahun ini. Inilah sepucuk suratku untukmu.