3 Pertanyaan untuk Diajukan Saat Kamu Berpacaran

Info

Oleh Marissa Cathey, Hong Kong
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Questions To Ask When You’re Dating

Berpacaran bisa menjadi sebuah petualangan yang mendebarkan, terutama karena berpacaran merupakan langkah awal yang nanti akan membawa kita ke jenjang pernikahan! Namun, mungkin sebelum kita melangkah menuju masa berpacaran, kita punya banyak pertanyaan dalam pikiran kita. Contohnya, bagaimana aku bisa tahu bahwa aku sudah siap untuk berpacaran?

Meskipun aku bukan seorang ahli, ada tiga kualitas yang kudapati menjadi dasar dalam relasiku berpacaran, dan kuharap poin-poin ini bisa menuntunmu ke arah yang benar.

1. Apakah kamu tertarik pada pacarmu karena dia rupawan atau karena hatinya tertuju pada Tuhan?

Apa yang membuatmu tertarik pada seseorang? Apakah penampilan fisiknya? Karakter? Kepribadian? Karier? Aku yakin kamu bisa menambahkan beberapa sifat yang mungkin dapat membuat kita tertarik pada orang lain. Tetapi jika kita menggali lebih dalam, kita tahu bahwa tidak ada satu hal pun dari sifat ini yang akan membuat hubungan bertahan lama. Sebagai orang Kristen, kita harus memperhatikan hal yang jauh lebih penting: apakah Tuhan merupakan pemimpin hidup mereka?

Ketika aku pertama kali bertemu dengan tunanganku, Brian, aku tidak begitu tertarik padanya. Menurutku dia terlihat cukup manis, tapi aku tidak terlalu memikirkannya lebih jauh lagi setelah perjumpaan pertama kami. Namun, setelah melewati beberapa minggu bekerja di tata usaha gereja (kami berdua bekerja magang pada saat itu), menghabiskan waktu istirahat bersama-sama, dan diam-diam membicarakan tugas-tugas yang kami kerjakan, aku mulai melihat semangatnya akan Injil dan hasratnya untuk membagikan itu kemanapun dia pergi. Hal ini sangat cocok dengan hasrat dan panggilan hidupku—aku terbeban untuk melakukan misi keluar sejak beberapa tahun lalu.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa kagum pada Brian—karena dedikasi dan kesetiaannya pada Yesus. Sejak saat itu, perhatianku padanya mulai terlihat, dan aku menjadi tertarik padanya. Dapat dikatakan aku jatuh cinta. Dan ternyata dia pun juga.

Jadi, relasiku dengan Brian tidak terjadi sebagaimana diperkirakan kebanyakan orang. Alih-alih berpacaran karena ketertarikan fisik atau sifat, kebergantungannya pada Kristus sebagai penulis cerita hidupnyalah yang membuatku tertarik padanya. Aku mendapati bahwa ketertarikanku pada sifat-sifat Brian lainnya mulai mengikuti setelahnya.

2. Apakah ada peluang untuk bertumbuh secara sehat?

Mungkin kita pernah mendengar pepatah “cinta bukan cerita dongeng.” Pepatah ini benar, karena agar sebuah hubungan dapat berhasil, diperlukan tindakan, usaha, dan pengorbanan. Perasaan tidaklah cukup kuat untuk menjaga sebuah pasangan agar dapat bertahan melalui semua itu. Seberapapun kuatnya cinta pasangan tersebut, atau seberapa “lengket”nya mereka . . . perasaan bisa berubah.

Ada hari-hari di mana kami berargumen, tidak setuju tentang suatu hal, atau memiliki pandangan yang berbeda, dan kejadian-kejadian tersebut dapat membuat kami bertanya apakah Tuhan menghendaki agar kami bersama atau tidak. Dalam masa-masa itu, sangat penting bagi kami untuk menjaga diri dari perasaan frustrasi, amarah, ketidaksabaran, dan juga pembenaran diri.

Seiring kami berusaha melewati tantangan ini bersama-sama, kami belajar untuk menyediakan ruang bagi Tuhan untuk membentuk hati kami. Kami belajar untuk mengizinkan persoalan-persoalan ini menggerakkan kami untuk berdoa dan mencari nasihat di dalam Firman dan juga melalui orang-orang percaya lainnya. Sekarang inilah doa kami: agar kami memiliki kerendahan hati untuk menerima tuntunan Roh Kudus dan menaati apapun yang Tuhan katakan dalam hati kami.

Kesulitan dan pencobaan yang tak dapat dihindari dalam relasi menuntut lebih dari kekaguman antara satu dengan yang lain. Pada akhirnya, kita membutuhkan Kristus sebagai dasar kita bersama untuk membantu kita melihat bagaimana kita bisa menjadi sebuah tim yang baik, melengkapi satu sama lain, dan yang terpenting menjadi semakin serupa dengan Kristus melalui seluruh proses yang ada.

Ketika kami berdua ditarik mendekat pada Kristus dan saling membantu satu sama lain untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya, kami tidak perlu takut pada masalah—karena kami tahu bahwa dalam masa-masa pencobaan sekalipun, Tuhan sedang bekerja untuk menyucikan kita dan membuat kita kudus (Filipi 1:6).

3. Apakah perbedaan kalian memecah belah atau melengkapi?

Brian dan aku sangatlah berbeda. Aku adalah orang yang blak-blakan, berpendirian teguh, terkadang galak, dan wanita yang bebas yang berasal dari daerah yang dipenuhi hutan di Meksiko bagian tengah. Brian adalah orang yang penyendiri, penuh pertimbangan, kuat, pendiam, berasal dari kota metropolitan Hong Kong. Komentar-komentar tentang seberapa berbedanya kami nampaknya tidak pernah habis-habisnya datang, dan kami hanya tertawa karena orang-orang lain hanya mengetahui segelintir dari hal-hal lainnya.

Tentu, terkadang komentar-komentar tersebut dapat membuat kami kecil hati, terutama ketika kami mendengar orang lain berkata kami tidaklah cocok, atau kemungkinan besar menjalani hubungan yang penuh bencana karena perbedaan-perbedaan kami.

Bagi Brian dan aku, kami diingatkan bahwa pada masa-masa awal para rasul, Roh Kudus menyatukan orang-orang dari berbagai bangsa dan budaya dan bahasa untuk melahirkan gereja (Kisah Para Rasul 2). Dan kita tahu bahwa pada akhirnya bukanlah budaya dan tradisi yang akan bertahan hingga kekekalan, namun apa yang kita lakukan dalam ketaatan pada Allah.

Sebagaimana keberagaman dalam tubuh Kristus memungkinkan keberagaman tersebut bekerja dengan efektif (1 Korintus 12:12-14), kita percaya hal yang sama terjadi dalam pernikahan. Bersama dengan Brian, kami menemukan bahwa kami melengkapi satu sama lain melalui kelebihan dan kekurangan kami, dan mampu menjangkau lebih banyak orang dalam lingkup dunia karena hubungan multikultural yang diberikan pada kami.

Dengan pemahaman ini, kami juga meyakini bahwa mencari Tuhan dengan pemikiran yang terbuka dan kerendahan hati merupakan hal yang penting, terutama jika teman-teman yang kami percayai atau keluarga kami memiliki kekhawatiran mengenai hubungan kami. Terkadang ada beberapa permasalahan dalam relasi kami yang tidak terdeteksi oleh kami sendiri. Di tahap ini, kami butuh masukan dari orang lain, yang bisa melihat dari sudut pandang yang lebih jernih. Satu contoh kejadian di mana masukan dari pihak luar membantu kami adalah ketika salah satu orang tua rohani kami dengan lembut memberitahuku bahwa aku harus lebih sabar dan pengertian terhadap budaya Tionghoa yang menjadi latar belakang Brian. Aku juga perlu mengurangi kesalahan-kesalahan yang disebabkan karena perbedaan kebiasaanku dengan Brian. Contoh lainnya adalah ketika teman dekat Brian memberi masukan supaya Brian lebih tegas sebagai pemimpin dalam hubungan kami, terutama ketika kami sedang berada dalam masa-masa sulit. Masukan-masukan ini menolong kami untuk melihat titik-titik buta kami, dan memampukan kami untuk bertumbuh dengan cara kami dan juga memampukan kami untuk semakin mengasihi satu sama lain.

Memeriksa perbedaan yang kita miliki dengan pasangan kita dan mencari Tuhan untuk mengerti apakah perbedaan ini menolong kita untuk bertumbuh atau membuat perpecahan di dalam hubungan kita merupakan hal yang penting untuk dilakukan.

Seringkali menemukan kepuasan dan tujuan di dalam pasangan kita merupakan hal yang mudah. Namun kita mengetahui bahwa pada akhirnya tidak ada yang dapat memenuhi kebutuhan kita selain Tuhan. Apapun kondisinya, kita yang utama dan terutama merupakan milik Allah. Ia mengasihi dan menghargai kita dengan cara yang tidak dapat dilakukan orang lain (Matius 10:29-31). Dalam setiap langkah perjalanan hubungan kita, mari kita tidak mengejar apa yang berharga menurut dunia, melainkan mengejar untuk menyenangkan hati Tuhan.

Seiring kamu menggumulkan tentang berpacaran atau memulai sebuah hubungan, janganlah panik atau terlalu mencemaskan tentang seberapa baik kamu akan menjalaninya nanti. Doakanlah hal itu, dan mintalah kepada Tuhan untuk memberkatimu dengan hikmat, kekuatan, dan tuntunan-Nya. Lingkupi dirimu dengan orang-orang kudus yang dapat membantumu melewati tantangan-tantangan yang mungkin akan kamu hadapi. Gunakan kesempatan ini untuk semakin mempercayai dan mengenal Allah, dan Ia akan menunjukkan jalanmu, karena Allah adalah Allah yang setia.

Baca Juga:

Tuhan Merangkai Cerita yang Indah dalam Keluargaku

Orang tuaku pernah bertengkar hebat dan perceraian pun sempat terpikir oleh mereka. Sebagai anak, aku kecewa. Namun, di balik peristiwa buruk tersebut, nyatanya Tuhan merangkaikan cerita yang indah bagi keluargaku.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 06 - Juni 2019: Meniti Jalan Kehidupan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

4 Komentar Kamu

  • Thank God

  • Artikel yang positif.
    Memberikan pandangan dari salah satu pasangan Kristen yang konsisten berhubungan secara keterbukaan dan selalu percaya adanya tuntunan dari Tuhan.

  • Amin

  • Sonia Stefany Fradewita Laiskodat

    Shalom.
    Artikel ini sangat memotivasi sy dlm menjalani hubungan berpacaran yg berlandaskan Kristus. Artikel ini juga sy bagikan kepada pasangan sy dan akan kami sharing bersama.

Bagikan Komentar Kamu!