Satu Penyebab Kekalahan dalam Bertanding

Oleh Antonius Martono

“Hampir master nasional,” begitu komentar GM Susanto terhadap permainan catur Pak Dadang Subur.

Pak Dadang Subur dikalahkan secara telak dalam duel persahabatan dengan WGM Irene Sukandar. Duel ini disiarkan langsung dari kanal Youtube miliki Deddy Corbuzier dan ditonton oleh jutaan orang. Menariknya, dari polling yang dibuat oleh Deddy Corbuzier, banyak netizen yang menunggu kemenangan Pak Dadang ketimbang Irene. Padahal, Pak Dadang tidak mendedikasikan hidup dan pengalamannya untuk dunia catur seperti Irene. Sepertinya netizen ingin melihat kisah Pak Dadang mengulang keberhasilan Daud muda mengalahkan Goliat, prajurit yang memiliki segudang pengalaman perang. Terlepas dari keperkasaan Goliat, sebenarnya dia kehilangan satu pengalaman penting di hidupnya yang menjadi penyebab kekalahannya kelak.

Dalam kisah Daud melawan Goliat, kita cenderung melihat Daud dari sudut pandang Saul, yang menganggap remeh. Ketika Goliat menantang pasukan Israel untuk bertarung, Daud berinisiatif untuk menghadapinya. Daud lalu menemui Raja Saul dan meminta izin untuk bertarung dengan Goliat. Saul ragu, dia memandang Daud dan Goliat bukanlah lawan yang sepadan. Goliat telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk berperang dan bertarung, sedangkan Daud masih sangat muda dan tidak memiliki pengalaman bertarung yang memadai. Namun, Daud tidak sependapat dengan Saul. Alkitab mencatatnya demikian:

Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.” (1 Samuel 17:34-37)

Jika kita cermati sosok Daud, dia bukanlah pemuda polos tanpa persiapan dan pengalaman. Dia tidak mengandalkan keberuntungan. Sebagai gembala, padang rumput adalah tempat pelatihannya, sehingga bisa dibilang kalau Daud sama berpengalamannya dengan Goliat untuk bertarung. Namun, Daud cukup bijak untuk tidak hanya mengandalkan pengalamannya bertarung sebagai satu-satunya modal kemenangan. Justru dalam pengalamannya, Daud sadar bahwa sumber kemenangannya berasal dari Tuhan. Pengalaman inilah yang menjadi titik buta bagi Goliat yang tidak pernah merasakannya.

Berkali-kali sudah Daud merasakan bagaimana Tuhan menyelamatkannya dari mulut singa dan beruang. Telah berulang kali Tuhan membuktikan diri-Nya sebagai pribadi yang sanggup dan mau melindungi Daud. Pengalaman ini memupuk iman percaya Daud kepada Tuhan. Bayangkan pengalaman pertama Daud dalam menghadapi seekor singa lapar. Jika dia bisa selamat dari cakar dan mulut singa tersebut tentu itu adalah pengalaman luar biasa yang dimilikinya. Bagaimana mungkin seorang anak muda dapat selamat melawan seekor singa lapar? Daud melihat keselamatan dirinya bukan berasal dari keahliannya melawan binatang buas, melainkan terletak pada Tangan yang sama yang membentuk gigi-gigi tajam seekor singa. Tangan yang sama juga yang akan melepaskan Daud dari tangan Goliat yang kecil.

Sedangkan Goliat sendiri tidak pernah mengalami pengalaman ini. Selama hidupnya Goliat hanya mengandalkan kekuatan, ketangkasan, dan kemahirannya untuk bertarung. Dia sudah terbiasa bergantung pada semua hal itu untuk menyelamatkan hidupnya. Dia tidak tahu tempat lain selain dirinya untuk diandalkan. Goliat tidak mengerti betapa amannya hidup ketika bersandar kepada Tuhan yang hidup.

Lantas, bagaimana dengan kita? Apa yang selama ini menjadi sumber kekuatan kita? Sangat mungkin bagi kita untuk mengandalkan Tuhan di setiap pengalaman pertama kita mencoba sesuatu. Namun, seiring berjalannya waktu, kita semakin terbiasa. Kita merasa semakin mahir dan semakin tahu apa yang harus kita lakukan. Pelan-pelan kita akhirnya tidak lagi memiliki tingkat kebergantungan yang sama kepada Tuhan seperti saat awal kita mencoba hal tersebut. Kita mulai mempercayai pengalaman-pengalaman dan hikmat yang pernah kita pelajari di dalamnya.

Budaya di sekitar kita terus mengatakan bahwa tidak ada orang lain yang dapat menolong kita selain diri sendiri. Secara tidak sadar hal ini membuat diri kita frustasi. Kita sibuk terus meng-upgrade diri tapi, tetap merasa tidak cukup. Kita merasa hidup masa depan bergantung pada besarnya kapasitas diri. Di lain pihak, lubuk hati kita sadar bahwa diri ini tidak sanggup diandalkan.

Tuhan sendiri tahu betapa rapuhnya manusia yang tidak mampu menebak masa depan. Dia selalu membuka lebar tangan-Nya agar setiap orang yang mau berpegang pada-Nya dapat menikmati penyertaan-Nya. Sehingga setiap kali kita mengalami kesulitan atau kemustahilan tidak lagi menjadi penghalang untuk mencapai tujuan kita. Melainkan kesulitan diubah menjadi sebuah kesempatan untuk memperdalam iman percaya kita kepada Tuhan, seperti Daud.

Pada akhirnya kita memang harus melatih diri dan memiliki jam terbang yang tinggi. Tuhan tidak meminta kita hanya berpangku tangan menunggu hujan keajaiban dari langit. Namun, adalah hal naif jika kita pikir kemampuan diri kita saja sanggup diandalkan. Selalu banyak faktor di luar diri yang sanggup merobohkan kita. Jangan sampai kita terlalu berfokus kepada diri dan kehilangan pengalaman yang utama dalam hidup kita, yaitu pengalaman kekal bersandar pada Tuhan yang perkasa.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

“Dengan Segenap Keberadaan”: Mengenal Tuhan Lewat Disiplin Rohani Belajar

Disiplin rohani pada dasarnya adalah sebuah ‘disiplin’. Kita perlu komitmen, juga perjuangan untuk melakukannya dengan sungguh.

Yuk baca artikel terakhir dari #SeriDisiplinRohani ini.

Bagikan Konten ini
10 replies
  1. Handoko
    Handoko says:

    Terima kasih utk sharing-nya.
    Setelah membaca, aq menyadari bahwa sangat penting bagiku utk selalu menyadari bhw Tuhan-lah yg selalu memerintahkan kebajikan & kemurahan kepadaku shg aq selalu -dgn sadar- bersyukur kpdNya, yg aq yakini, hal tsb akan menumbuhkan imanku kpdNya -sama spt Daud saat mengembalakan kambing dombanya.

  2. Julian Damaila
    Julian Damaila says:

    trimakasih sy merasa terberkati lewat warungsate ini, Tuhan Yesus berkati😇

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *