Dalam Momen Terkelam Sekalipun, Allah Tetap Setia

Info

Oleh Puput Ertiandani, Palu

Dua tahun yang lalu, tepatnya di bulan September, aku mengalami kejadian yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku berada di Palu, Sulawesi Tengah ketika bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi tanah terjadi. Ketika aku merenungkan kembali kejadian itu, aku sadar betapa baiknya Tuhan. Dia memberikanku kesempatan untuk hidup hingga hari ini, bahkan aku bisa terbebas dari trauma dan ketakutan pun adalah kasih karunia-Nya.

Kala itu aku sedang berada di kantor untuk pertemuan tahunan. Tiba-tiba suara bergemuruh datang entah dari mana. Lantai-lantai keramik mulai terbuka dan ruangan kami ikut bergerak tak karuan. Buku-buku, laptop dan barang-barang di atas meja terserak-serak, menambah ketakutan kami. Teman-teman yang sedang bersamaku berteriak-teriak dan ada juga yang menangis. Aku secara refleks berusaha keluar dari ruangan dan menyelamatkan diri. Aku sempat terjatuh sebelum berhasil melewati pintu untuk keluar.

Di tengah kepanikan, aku berdoa meskipun tanpa suara keluar dari mulutku. Aku berdoa agar aku tidak tertinggal, juga supaya teman-temanku tidak mengalami sesuatu yang lebih buruk. Sekitar lima menit kami terjebak dan berusaha menyelamatkan diri. Ketika aku berhasil keluar dari bangunan, kulihat dan kudengar kekacauan di sekelilingku. Kontras dengan bumi yang luluh lantak, malam harinya kulihat langit tampak indah dengan bintang-bintang. Pemandangan itu menyadarkanku, bahwa Tuhan memegang kendali dan mampu memberikan ketenangan.

Hari-hari pasca bencana terasa lebih melelahkan. Sebagai pekerja kemanusiaan, aku membantu mengatur logistik untuk warga yang mengungsi. Aku mendata setiap yang datang, memberikan rekomendasi prioritas wilayah yang paling urgen untuk diberikan bantuan. Aku tidur di tenda, bangun dini hari dan terus bekerja sampai larut malam kembali. Tak jarang ada orang-orang yang malah berebutan meminta bantuan.

Mengalami bencana yang sama, aku dan rekan-rekan pekerja juga butuh dihibur dan dikuatkan, tapi di saat yang sama kami mengemban tugas untuk menghibur dan menguatkan orang lain. Ada waktu-waktu ketika aku merasa sangat kesepian dan hampir hilang harapan. Namun selalu ada cara Tuhan untuk membuatku bangkit. Doa dan semangat dari keluarga yang berada jauh di Jawa, pelukan orang-orang terdekat bahkan sekadar telepon dari teman gereja. Di tengah segala keterbatasan, aku merayakan ulang tahun yang ke-26 dengan diawali gempa susulan pada dini hari, beberapa hari setelah gempa besar terjadi. Sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bercampur dengan kewaspadaan setiap menitnya.

Kini dua tahun berlalu, dan aku sempat bertanya-tanya kenapa aku harus ada di kota perantauan yang mengalami kekacauan karena bencana sebesar itu. Firman Tuhan dalam Yeremia 29:7 (Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu) mengajarkanku bahwa di mana pun kita ditempatkan kita harus berdoa dan menjadi berkat untuk kota itu. Dan aku bersyukur aku boleh melewati situasi itu untuk berdoa, mengusahakan kesejahteraan orang-orang yang terdampak, dan menjadi berkat, yang pada akhirnya menjadi kesaksian hidup demi kemuliaan nama Tuhan.

Ada banyak hal yang Tuhan berikan agar aku belajar selama dua tahun ini. Bukan hanya hubunganku dengan Tuhan tetapi juga kepercayaan dan kapasitas yang lebih besar untuk melayani dan berkarya dalam pekerjaanku. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan banyak hal bisa terjadi di luar kendali kita. Namun kita punya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita sedetik pun. Dia mengerti setiap ketakutan dan kesedihan kita. Di titik terendah dalam hidup ada Tuhan Yesus yang senantiasa ada untuk kita anak-anak-Nya. Bahkan air mata kita ditampung dalam kirbat-Nya.

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Ulangan 31:6).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Yesus Kawan yang Sejati bagi Kita yang Lemah

Masa-masa penuh kekhawatiran dan kesepian membuatku terjaga sepanjang malam, hingga kuingat sebuah lagu yang mengatakan Yesus kawan yang sejati. Sungguhkah Yesus adalah kawan kita yang sejati?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

9 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!