Ketika Penolakan Menjadi Awal Baru Relasiku dengan Tuhan

Info

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Aku lahir bukan sebagai orang Kristen, setidaknya sampai aku berusia 6 tahun ketika ayahku menanyakan apakah aku bersedia mengikuti kepercayaannya. Di masa-masa setelahnya, sangat sulit untuk beradaptasi dengan identitas baruku itu karena budaya serta lingkungan sosial seakan-akan mencap aku ‘berbeda’. Beberapa konflik terjadi karena ‘perubahan’ ini, hingga akhirnya aku menyimpulkan bahwa diriku tidak berharga. Aku ditolak dan aku pantas untuk ditolak.

Pemikiran akan identitas tersebut ternyata sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan kehidupanku sehari-hari. Aku jadi serba takut untuk melakukan sesuatu karena takut salah, takut ditolak, takut orang membenciku karena aku melakukan ini dan itu, dan segala jenis takut lainnya terus menghantuiku sepanjang masa kecil hingga remaja. Aku tumbuh menjadi perempuan yang penakut.

Saat aku berada di universitas, aku dibina di persekutuan kampus. Masih menyandang identitas sebagai seorang ‘penakut’, aku menyadari bahwa perlahan-lahan Tuhan sedang membentuk dan mengajari aku melalui sebuah persekutuan. Dalam persekutuan tersebut, untuk pertama kalinya aku merasa diterima sebagai aku yang apa adanya. Tidak ada rasa penolakan, dan aku merasa sangat nyaman. Ditambah lagi dengan rasa sukacita karena aku ‘akhirnya’ diterima dalam sebuah lingkungan sosial yang menurutku sangat baik.

Saat lulus kuliah, aku pun tidak lepas dari kehidupan persekutuan. Meski tidak lagi di kampus, tapi aku mendapat kesempatan untuk bergabung lagi dengan sebuah persekutuan yang anggotanya lebih banyak dari kalangan alumni. Aku kembali merasa sangat senang karena aku tidak ditolak di sana. Awalnya aku merasa puas dengan fakta ini, sampai tiba pada masa Tuhan mengajak aku mengalami petualangan ‘ditolak’ yang cukup mengejutkanku.

Singkat cerita aku menyukai seorang partner pelayanan. Motivasi awalnya hanya karena aku melihat dia perlu ditolong. Jadilah aku sering mendoakan dia dan kehidupannya yang beberapa kali menjadi topik obrolan kami. Sayangnya, dalam hal ini aku sudah merasa cukup percaya diri bahwa dia akan menerimaku menjadi pacarnya. Sampai pada akhirnya ketika aku mulai merasa tidak nyaman dengan perasaanku sendiri, tidak nyaman dengan berbagai macam asumsi yang tidak terverifikasi, akhirnya aku nekat untuk menyatakan perasaanku padanya. Tujuannya memang supaya aku tidak penasaran lagi dengan segala asumsiku sendiri. Ternyata, aku ditolak. Aku tidak menanyakan apa pun, namun dengan pernyataan bahwa dia hanya menganggapku teman, itu sudah cukup menjelaskan bahwa dia menolakku untuk menjalin relasi yang lebih dari sekadar teman. Pada peristiwa inilah rasa takut yang sempat hilang itu muncul kembali. Segala ketakutan- ketakutan yang sempat hilang tiba-tiba muncul lagi. Sedih, kecewa, merasa tidak berharga, malu, bahkan aku sempat marah pada Tuhan karena mengalami penolakan lagi. Aku bertanya-tanya: apakah aku tidak berharga? Apakah hidupku hanya lelucon sehingga dunia menolakku?

Di tengah-tengah kekalutan pikiran dan emosi, Roh Kudus menolongku untuk bangkit perlahan-lahan. Salah satunya melalui media buku. Bertepatan dengan musim pandemi COVID-19 di Indonesia yang mengharuskan aku membatasi kegiatan di luar rumah, membaca buku akhirnya menjadi salah satu aktivitas pilihanku sembari work from home.

Sungguh tidak menyangka bahwa buku yang aku baca saat itu membawaku pada pengalaman rohani yang sangat menyegarkan. Judul bukunya “Surrender To Love” yang ditulis oleh David G. Benner. Dari buku tersebut aku belajar dan disadarkan kembali bahwa Allah benar-benar mengasihi aku dan Dia tidak bisa tidak mengasihi aku. Bahwa Allah sungguh-sungguh merindukan relasi dengan kita umat-Nya secara pribadi, bukan secara kewajiban agama semata. Dan kasih-Nya merupakan sebuah tawaran untuk kita supaya terbebas dari rasa takut.

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18 TB)

Hal inilah yang membuatku mau berserah dan dipulihkan oleh Tuhan dari rasa takut serta penolakan. Aku akhirnya menikmati fakta bahwa aku tidak akan pernah ditolak oleh Yesus, karena Dia adalah Kasih. Sekarang, ketika melihat ke belakang, aku sungguh bersyukur pernah mengalami berbagai macam penolakan. Sebab penolakan-penolakan tersebut membuatku makin mengenal diriku sendiri, terlebih belajar mengenal Allah Sang Pencipta dan mulai membuka diriku untuk berelasi dengan-Nya secara pribadi dari hati yang rindu, bukan lagi sekadar ‘rutinitas rohani’. Dari berbagai macam penolakan yang kualami, Tuhan lagi mengajari aku bahwa berharap diterima oleh manusia saja tidak cukup. Hanya Tuhan yang bisa memuaskan kebutuhan akan penerimaan ini.

Pelan-pelan, aku bisa berdamai dengan masa laluku, dan aku juga bisa berdamai dengan diriku sendiri yang memiliki banyak kelemahan ini. Rasa takut ditolak pun terkikis sedikit demi sedikit dan aku mulai memupuk keberanian dalam mengerjakan segala sesuatu atau ketika berelasi dengan siapapun—karena aku yakin aku berjalan bersama Tuhan.

Jika kita pernah atau sering merasa tertolak, tidak dianggap, tidak dihargai, hidup terasa tak berguna, mari sama-sama mengingat bahwa Allah tak pernah menolak kita. Kita selalu diterima oleh-Nya sekalipun dunia menolak kita.

Baca Juga:

Cerpen: Mamaku Terkena Stroke Tiba-tiba

Waktu mama divonis stroke, aku ingin menangis, tapi mamaku bilang, “Jangan nangis, Ka. Tuhan pasti akan memberi jalan.”

Aku memberikan sedikit kataku untuk menyemangati mama, “Ma, kami bertiga belum sukses, Ma. Masa mama sakit? Mama harus bisa sembuh. Apalagi kakak dan abang bentar lagi wisuda, Ma.”

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

18 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!