Posts

Ketika Calon Pasangan Hidup Tidak Satu Suku

Oleh Santi Jaya Hutabarat

“Kamu menikah dengan anak Namborumu itu saja,” ungkap papa saat aku berusaha membujuknya lagi.

Kutarik nafas dalam-dalam agar emosiku terkendali. Udara sore itu terasa lebih panas sekalipun teras kami dinaungi pohon rimbun. Sebenarnya bayangan perbincangan ini pernah terbersit di pikiranku sejak menjalin hubungan dengan Brema tiga tahun lalu. Perbedaan suku di antara kami membuatku menghindari perbincangan panjang tentang Brema pada papa dan mama. Namun, kami tidak mungkin seterusnya menjalin hubungan backstreet dari mereka. Karena itu sore ini aku memberanikan diri berbicara serius tentang hubunganku pada mereka.

Aku dan Brema bertemu di acara Kamp Regional Mahasiswa untuk daerah Sumatera bagian Utara. Bersama peserta lain yang ditetapkan panitia, kami sekelompok selama seminggu rangkaian kegiatan.

“Halo! Namaku Brema Tarigan. Aku Batak Karo, lahir dan besar di Tanah Karo.” Brema memperkenalkan diri.

Berawal dari perkenalan dalam diskusi komsel, kami terus berteman dan semakin dekat hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Dan akhir tahun lalu, aku menjawab “ya” saat Brema menembakku secara pribadi.

“Brema baik, Pa. Aku sudah lama mengenalnya. Kami juga pernah mengikuti konseling. Kami cocok kok!” beberku pada papa.

“Pasti lebih mudah kalau menikah dengan yang satu suku. Lihat abang dan edamu (kakak ipar perempuan), kalau ada masalah kita lebih mudah menyelesaikan, karena kedua keluarga sama-sama tahu apa yang perlu dilakukan sesuai adat dan budaya batak Toba,” terang papa mengulang ketidaksetujuannya.

Memakai marga dibelakang namanya–tidak hanya tulen–menurutku papa dan mama sangat cinta dengan budaya batak Toba. Mereka terbilang aktif dalam berbagai kegiatan adat. Papaku juga beberapa kali berkesempatan jadi “parhata” dalam pesta kerabat. Parhata merupakan juru bicara acara adat yang harus memahami seluk-beluk adat Batak Toba pada umumnya, adat yang berlaku bagi rumpun semarganya, dan aturan batak Toba lainnya. Tidak heran kalau mereka ingin aku dan abangku menikah dengan orang Batak Toba juga.

Dibesarkan dengan prinsip dan nilai kebudayaan suku ini tentu membuatku bersyukur karena banyak prinsip dan nilai yang baik dan juga bermanfaat. Pun sedari kecil aku sudah dibekali dengan beragam nilai adat, jadi aku tidak mengingkari kalau aku semakin bangga terlahir jadi boru ni raja dan terus belajar menghidupi karakternya. Istilah boru ni raja (putri raja) merupakan identitas bagi perempuan batak Toba, yang artinya perempuan Batak itu sosok yang harus disayangi dan dihormati, sekaligus sebagai panggilan agar terus menjaga nilai-nilai kehormatan, seperti kepatutan, moral, etika, sensitivitas dan lain sebagainya.

“Pariban-mu itu baik, Ito. Kita sudah mengenalnya. Meski bukan sekandung, tapi amangboru dan bou-mu itu dekat dengan papa, mereka pasti setuju kamu jadi menantunya. Lagian, dia sekarang sudah PNS. Penugasannya juga disini, jadi dekat kalau ada apa-apa sama kalian.” Mama berusaha meyakinkanku.

Menikah dengan pariban sering terjadi dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, bahkan dianggap ideal. Pariban merujuk kepada saudara sepupu. Anak laki- laki akan memanggil “pariban” kepada anak perempuan dari tulang (tulang = paman, saudara laki-laki ibu), sebaliknya anak perempuan akan menyebut “pariban” kepada anak laki-laki dari namboru-nya (namboru = bibi, saudara perempuan ayah). Selain mempererat hubungan kekeluargaan, pernikahan ini biasanya mempermudah komunikasi keluarga mengenai acara adat, terlebih dalam urusan sinamot (mahar) untuk perempuan yang sering menyulitkan calon mempelai pria karena nominalnya dianggap terlalu besar.

“Kalau kau nikah sama pacarmu, nanti jadi tambah kerjaan. Kau akan diberi marga Karo dulu, adatnya juga berbeda. Semua jambar dan ulos pun tak akan lagi bisa dijalankan di pestamu. Kek mana lah nanti,” tambah Papa.

Ya, seperti kata Papa, dalam budaya Batak, jika ada pesta pernikahan adat Batak Karo, Uis tidak diberikan untuk pengantin dan orang tua pengantin, sedangkan dalam pesta pernikahan adat Batak Toba, pemberian ulos untuk pengantin dan orang tua termasuk dalam agenda acara adat. Ulos yang diberikan tersebut berasal dari saudara-saudara sedarah maupun semarga/rumpun marga. Lalu ada jambar yang menunjuk kepada hak atau bagian yang ditentukan bagi seseorang (sekelompok orang), seperti pemberian nama dan beberapa bagian yang diberikan. Pemberian hak ini berbeda antar batak Toba dengan batak Karo.

“Kami setuju kalau nanti ada pesta adat Batak Toba dan Batak Karo,” belaku.

“Ya, sudah. Terserah kamu!”

“Apa yang Papa takutkan sebenarnya? Yang nikah ‘kan aku!”

Papa mengalihkan pandangan, ia menggeleng tanpa suara lalu beranjak meninggalkanku bersama mama.

Huft.. Jika boleh memilih, lebih baik aku melakukan negosiasi pengadaan barang (procurement), seperti kesibukanku saat ini, dan mengurus penawaran (bidding) dari beragam penjual (vendor) yang kaya pengalaman dengan rata-rata tender berdigit-digit agar mau mengerjakan proyek yang sedang digarap NGO tempatku bekerja.

Sealot-alotnya perdebatan dalam pekerjaan, ini takkan membuahkan penyesalan dalam diriku. Tetapi ini berbeda. Rasanya berat harus beradu pendapat dengan papa dan mamaku sendiri. Silap sedikit, tidak hanya restu yang terhalang, relasi dengan orang tuaku pun bisa rusak.

“Kamu sudah yakin akan menikah dengan Brema?” tanya mama menatapku serius.

Belum sempat kujawab, ponselku berdering, ada panggilan video dari Brema.

“Boleh mama yang ngobrol dengan Brema?”

Dengan kikuk, aku menjawab panggilan video itu bersama mama di sampingku.

“Halo, Nantulang. Sehat?” sapa Brema dari seberang. Sepertinya ia sengaja memanggil nantulang agar bisa lebih akrab dengan mamaku. Selain panggilan untuk istri tulang, nantulang juga bisa dipakai laki-laki Batak Toba untuk menyapa calon ibu mertua.

“Sehat, Nak. Kamu bagaimana? Pekerjaanmu lancar?”

“Aman, Nantulang. Sedang apa, Nantulang?”

“Lagi duduk santai, Nak, cerita-cerita sama Ito. Dia banyak ngomongin kamu, lho.” Mama menggodaku.

Walau tidak direncanakan, aku melihat percakapan Mama dan Brema mengalir begitu saja. Sebelumnya, mereka tidak pernah bertemu langsung, tapi pernah beberapa kali berbicara lewat telepon saat aku sambungkan, itu pun tidak lama.

Aku lantas masuk ke rumah, beres-beres, dan menyiapkan makan malam. Aku membiarkan Mama dan Brema berbicara berdua.

“Kamu tidak ada rencana membawa Brema kesini?” tanya Mama saat mengembalikan ponselku.

Mama berlalu melihatku yang mengangguk tidak yakin. Pertanyaan mama sungguh diluar dugaanku.

“Kamu tadi ngomong apa sama mama?” Aku kirim pesan pada Brema.

“Aku bilang kalau putrinya tidak akan bisa hidup tanpaku.” balasnya disertai emoji meledek.

Saking penasaran, aku segera menelponnya.

“Tadi nantulang cerita kalau kamu baru selesai berdebat sama papamu. Terus nantulang undang aku ke rumah, katanya biar papamu ngobrol langsung dulu denganku,” jawab Brema atas rasa penasaranku.

“Terus kamu bilang apa?”

“Boleh, Nantulang, tapi Ito belum kasih kesempatan, nih. Begitu jawabku.”

Dalam hati aku membenarkan jawaban Brema. Selama ini aku belum pernah mengajak ia bertemu langsung dengan papa dan mama, aku hanya fokus bagaimana agar papa dan mama percaya dengan semua ceritaku tentang Brema dan menyetujui rencana pernikahanku. Padahal, selain perbedaan suku di antara kami, bisa saja papa dan mama tidak setuju karena belum mengenal Brema.

Bagaimanapun, pertimbangan papa dan mama tentang tantangan dalam pernikahan antar suku ada benarnya. Tidak semudah yang dibayangkan karena masing-masing suku memiliki cara pandang dan kebiasaan sendiri. Dan tanpa disadari, semua itu akan diadopsi oleh anggota suku masing-masing. Jika dua orang dari suku yang berbeda mengikatkan diri dalam sebuah pernikahan, mereka pasti membutuhkan penyesuaian lebih banyak dibandingkan dengan pasangan lain yang berlatar belakang sama.

Selain penyesuaian antara suami-istri, adaptasi dengan keluarga besar pasangan juga diperlukan. Bagi beberapa suku atau keluarga, sangat lazim untuk ikut mengurus permasalahan yang dialami anggota keluarga lain. Misalnya, sebuah persoalan dalam pernikahan si anak bisa dipandang sebagai urusan seluruh keluarga besar. Ya, batasan privasi tidak selalu diperhatikan, karena begitulah cara menolong sesuai adat yang berlaku dalam suku tersebut. Lebih jauh, cara mereka menyelesaikan persoalan tentu mengikuti kebiasaan adat mereka, di mana apa yang dianggap baik oleh suku tersebut belum tentu baik bagi yang lain. Aku setuju hal-hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan.

“Kalau aku ajak di liburan paskah mendatang, mau?” tanyaku pada Brema.

Brema mengangkat jempolnya pertanda setuju.

Kendati Brema hanya berkunjung sebentar, aku melihat perubahan sikap orang tuaku, terlebih papa. Tidak terlalu besar, tapi aku menangkap adanya sinyal persetujuan dari papa untuk hubungan kami. Hampir sepekan berinteraksi langsung dengan Brema, tampaknya Papa dan Mama juga merasakan hal yang sama denganku mengenai Brema, ia supel dan apa adanya.

“Modal yang dikumpulkan belum banyak Tulang. Ke sini juga rencananya sekalian mengajukan pinjaman lunak.”

Kami terkekeh mendengar jawaban Brema saat papa iseng menanyakan besaran “sinamot” yang ia sanggupi untukku. Meski terkesan bercanda, papa tampaknya senang Brema mau terbuka. Brema juga tidak segan menceritakan beberapa hal yang menjadi ketakutannya saat memintaku menjadi istrinya. Bukan saja tentang perbedaan budaya di antara kami, Brema juga mengaku ada kalanya ia khawatir bagaimana kecukupan kebutuhan rumah tangga kami nantinya, mengingat kami masih sama-sama pegawai kontrak. Untuk kondisi yang terakhir, Brema sudah pernah mengatakannya padaku, namun aku tidak menyangka ia tidak sungkan membagikan hal yang sama pada papa dan mamaku.

Saat itu tidak mudah bagi kami untuk meyakinkan diri masing-masing. Di satu sisi, aku punya “bucket list” untuk pernikahanku, termasuk agar aku dan pasanganku mandiri secara finansial. Sementara akan sangat egois kalau aku hanya menuntut Brema mencukupi semua hal yang menjadi “dream wedding-ku”. Perbedaan sering mewarnai percakapan kami.
“Kayaknya, budget untuk souvenir dan prewedding bisa di-cut,” kata Brema.

“Kamu yakin? Bukannya kamu yang bilang prewedding masuk top of the list karena ada konsep Toba dan Karo yang akan jadi representatif kita?”

Memori obrolan kami sebelumnya terlintas di benakku. Salah satu momen dimana aku mengandalkan mauku, terkesan ngotot. Sebaliknya Brema bersikap lebih tenang.

“Nanti kita bahas lagi ya. Sekalian kita ambil waktu melirik ulang catatan “our dream wedding”, aku banyak lupa sepertinya.” Ia mengingatkanku.

Aku tidak mengingat persis kapan kami memulainya. Selain menikmati banyak hal berdua, aku dan Brema juga punya satu jurnal bersama. Di buku itu, beragam perkara kami catat. Mulai dari remeh temeh seperti ulasan film, makanan atau tempat wisata hingga menyangkut prinsip penting yang kami sepakati harus ada dalam relasi ini.

“Yakin dong, kayaknya kemarin itu aku terlalu memaksakan mauku. Rasanya keren bisa berkunjung dan berfoto langsung di Rumah Bolon dan di Rumah Si Waluh Jabu, dua rumah adat sekaligus. Dipantengin netizen kan pasti kece…….Setelah kupikir-pikir, kalau semua keinginanku dituruti, susah bukan?!” ucapanku seperti bertanya dan menjawab diriku sendiri.

Good! I wonder God, what I’ve done to deserve a wise girl like you.” Senyumnya merekah.

Kendati aku merasa kalimat ini berlebihan, aku juga bersyukur dipertemukan dengan Brema.

***

Perbedaan suku yang aku kira akan mengakhiri relasiku dengan Brema ternyata membuka jalinan hubungan keluarga yang berbeda secara suku. Diam-diam aku memperhatikan Brema berusaha belajar budaya batak Toba, terkhusus bahasanya, agar ia bisa nyambung berbicara dengan papa dan mama. Sama halnya dengan papa dan mama, kini keluarga besarku tidak lagi memintaku menikah dengan paribanku, mereka malah sering mengingatkanku untuk lebih mengakrabkan diri dengan keluarga Brema.

Lagi-lagi aku belajar, ternyata perbedaan tidak selalu jadi alasan untuk tidak bersama, baik dalam relasi kita dengan sesama, berpacaran, pekerjaan, bahkan untuk seluruh kehidupan kita sehari-hari. Lagipula, Alkitab secara konsisten mengajarkan bagaimana semua ras setara karena semua orang telah berbuat berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23), tetapi oleh kasih karunia, orang yang menerima Kristus beroleh anugerah pengampunan. Inilah kuncinya. Dalam mencari dan memilih pasangan hidup, Alkitab mengatakan agar kita mencari pasangan yang seimbang (2 Kor 6:14), yang mengarah pada kesepadanan. Sepadan tak harus seratus persen sama, tetapi berakar kuat pada dasar yang sama: Kristus, dan bertumbuh di dalam-Nya. Kesepadanan itulah yang akan mengikat suatu pasangan untuk hidup setia satu sama lain seraya melayani Tuhan dalam bahtera pernikahan.

Bertemu dan menjalin relasi dengan orang lain tidak selalu mudah, terlebih saat kita menemui banyak hal yang berbeda. Pasang surut tentu saja sering terjadi. Dalam relasiku dengan Brema, ada saat kami merasa perbedaan yang ada tidak jadi penghalang, semua mengalir baik-baik saja, penuh romansa. Pun sebaliknya terkadang gesekan perbedaan yang membuat kami seperti kehilangan makna dari setiap kebersamaan hingga merasa perlu berdiam dan merenungkan kembali apa yang menjadi tujuan hubungan kami. Dalam perjalanan menuju pernikahan, kami terus berusaha meyakini untuk melakukan bagian kami dan percaya bahwa dalam penyertaan-Nya, segala sesuatu akan dicukupkan atas rencana kami (Amsal 16:3).

Soli Deo Gloria

Memulihkan Sisi “Parentless” Bersama Pacar, Mungkinkah?

Oleh Tabita Davinia Utomo

Pernahkah kamu berpikir mengapa pertengahan tahun sangat sering diwarnai dengan ketidakpastian dan gairah yang berkurang untuk melakukan apa pun? Kalau kamu pernah, well, kamu tidak sendirian, kok. Aku juga sedang mengalaminya saat ini, apalagi kalau bukan karena orang yang sedang mengerjakan tugasnya di depanku itu.

“Avery, kamu kenapa? ”

Aku menoleh ketika mendengar suara Matthew yang sedang menatap laptopnya, lalu menggelengkan kepala. “Nggak. Aku nggak apa-apa, kok.”

“Soalnya ekspresimu kelihatan beda, sih. Kayak lagi galau gitu. Ada yang kamu pikirin, ya?” Kali ini Matthew menatapku dalam-dalam.

Sebegitu jelasnyakah ekspresi wajahku di balik masker ini? batinku tak percaya.

Seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan, Matthew berkata, “Kita keluar sebentar, yuk. Biar nggak makin jompo badannya.”

Aku hampir saja tertawa, kalau tidak teringat bahwa sebentar lagi obrolan seperti ini tidak akan terjadi lagi dalam waktu dekat. Namun, dengan pura-pura ceria, aku menjawab, “Boleh.”

Di luar dugaan, Matthew mengajakku ke coffee shop yang ada di dekat kampus. Tidak seperti biasanya, kami berjalan dalam diam. Padahal selama ini, kami akan saling mengobrol ringan di dalam perjalanan kami. Rasanya aneh kalau kami diam saja. Kenapa, sih, aku ini? pikirku dengan tidak nyaman. Bahkan setibanya di coffee shop itu, kami masih tetap diam—kecuali saat memesan spicy bulgogi, creamy shroom, susu matcha, dan kopi pandan.

Setelah duduk di meja kami, Matthew kembali bertanya, “Ada yang menggelisahkan kamu, Ve?”

“Hmmm…” aku menggembungkan pipi, lalu berkata dengan pelan, “Kalau aku bilang nanti, kamu bakal kesel, nggak?”

Matthew mengerutkan dahi. “Kan, aku belum denger kamu mau bilang apa… Jadi belum tahu mau merespons apa…”

“Aku nggak mau kamu pergi.”

Tanpa sadar, aku menyela perkataan Matthew. Aku tidak tahan untuk bersikap baik-baik saja saat Matthew akan pergi ke luar pulau selama beberapa bulan ke depan untuk melakukan pengabdian masyarakat di sana. Bukannya ingin posesif: aku tahu kalau mengabdi di suku Asmat adalah salah satu cita-cita Matthew, dan aku senang kalau bisa mendukungnya berkarya di sana. Namun, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan diriku sendiri saat ini. Rasanya senang, tetapi juga khawatir dan… sedih.

Seakan memikirkan hal yang sama, Matthew berujar, “Tapi nanti aku akan tetep dateng ke wisudamu, kok… Masih keburu…”

“Bukan, sih. Bukan itu,” selaku lagi. “Aku tahu kamu pasti akan datang ke wisudaku setelah pengabdian itu. Cuma… aku juga bingung kenapa selebai ini buat LDR sebentar lagi. Sedih banget, ya.”

“Hmm… nggak juga.”

Jawaban Matthew membuatku menatapnya heran, karena selama berbicara tadi, aku berusaha menghindari tatapannya. Aku takut akan menangis di sini tanpa tahu alasan yang sebenarnya, dan itu justru membuat Matthew kesal. Tepat di waktu yang sama, sang pelayan memanggil Matthew untuk mengambil pesanannya, kemudian kami melanjutkan obrolan yang terputus.

“Maksudnya?” tanyaku sambil mengambil cream shroom-ku.

“Responsmu itu wajar, Avery.” Matthew tersenyum, sementara tangannya mengelus-elus tanganku dengan lembut. “Masa lalumu dengan papamu bisa membuatmu berespons demikian, dan aku bisa paham, kok. Nggak ada yang mau ditinggal pergi sama orang terdekat—apalagi saat kita masih bener-bener butuh perhatian dan kasih sayangnya, kan?”

“Iya, sih…” balasku dengan ragu-ragu, karena merasa titik lemahku dikulik-kulik.

Apa yang Matthew bilang membuatku teringat pada Papa yang meninggalkan Mama demi tugas negara, bahkan hingga hari kelahiranku tiba beliau tidak ada di samping Mama. Akibatnya, Mama jadi bersikap sangat keras padaku karena tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang Papa selama masa-masa kritisnya—bahkan hingga saat ini. Namun, mau bagaimana lagi? Tugas negara yang diemban itu membuat Papa terpaksa pergi dalam jangka waktu lama, sampai akhirnya beliau ditugaskan untuk bertugas di kota asalku hingga sekarang. Hanya saja, kebutuhan terhadap kelekatan yang sudah absen sejak kecil membuatku sangat canggung untuk berelasi dekat dengan Papa. Begitu pula dengan Mama yang otoriter. Tidak heran kalau kondisi seperti itu membuatku haus akan kasih sayang, bukan?

“Apa mungkin itu, ya, yang dibilang sama Kak Dhea?” tanyaku tiba-tiba saat teringat salah satu sesi konselingku bersama Kak Dhea, konselor kami (iya, kami mengikuti couple counseling bersamanya).

“Yang mana?” Matthew balik bertanya.

“Yang aku pernah ceritain itu… Waktu dia bilang, “Kepribadian Matthew yang friendly itu mengisi sisi “fatherless”-mu, kan?””

“Ohh…” Matthew tersenyum, lalu membalas, “Kamu juga, kok, Ve. Kamu juga mengisi sisi “motherless”-ku, bahkan lebih dari yang bisa aku bayangin sebelumnya.”

“Hmm… Kayak gimana maksudmu?” aku mengerucutkan bibir.

“Hehe… Dengan kamu mau dengerin dan kasih penguatan ke aku, itu lebih dari cukup. Aku jarang banget dengerin Mamaku kayak gitu.” Dia menggaruk kepalanya dengan salah tingkah.

“Iya, sih. Syukurlah kalau aku bisa memperlakukanmu sesuai kebutuhanmu.” Aku balas tersenyum, kemudian melanjutkan, “Tapi aku bersyukur karena bisa menjalin hubungan ini setelah punya gambaran yang baru tentang Bapa di surga…”

“Yaps. Kamu pernah share itu di paduan suara, kan? Waktu Bu Tracy tanya apa yang kamu bakal lakuin pertama kali kalau ketemu Dia?”

Aku mengangguk. “Dari dulu aku paling nggak suka kalau harus peluk Papaku. Entah. Aku merasa canggung, tapi juga ambigu. Mungkin antara love and hatred kali, ya. Tapi akhirnya aku sadar kalau seburuk-buruknya Papaku, aku punya Bapa yang pelukan-Nya selalu menyambutku, bahkan kalaupun aku nggak bisa peluk Papaku buat cari perlindungan…”

Sambil menyesap kopi pandannya yang sudah dingin, Matthew berujar, “Iya, ya… Pada akhirnya, nggak ada siapa pun atau apa pun yang bisa gantiin “parentless” yang kita alami—kecuali Tuhan sendiri.”

Matthew benar. Dulu, aku berpikir bahwa ironis ketika orang tua kita merelakan diri untuk menolong orang lain dan berjibaku di medan yang berbahaya, tetapi kehadirannya justru absen dari anggota keluarganya sendiri. Aku butuh beberapa tahun untuk bisa pulih dari cara pandang bahwa aku berhak untuk tidak mengasihi orang tuaku, sampai akhirnya membuat rasa haus akan kasih sayang itu mendorongku mencari pemenuhannya dari orang lain. Berkali-kali aku ingin punya pacar yang mampu menyayangi dan menerimaku, tetapi hasilnya selalu nihil. Entah karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, perbedaan latar belakang yang menjadi “tembok” bagi relasiku, hingga verbal abuse yang aku terima dari mantanku.

“Kamu nggak akan bisa nemuin orang lain sebaik aku, Avery!” kata mantanku itu dengan keras saat aku mau putus. “Aku cinta kamu sampai mau ngalah terus-terusan, tapi ini balasanmu!? Haha! Kamu egois banget!!”

Padahal momen itu adalah awal mula dari pemulihan hidupku. Aku—yang sedang menjalani konseling dengan konselor lain—pelan-pelan sadar bahwa karena sisi parentless-ku, aku menurunkan standarku dalam mencari pasangan hidup. Aku seolah-olah rela berelasi dengan siapa saja, selama dia seiman dan sanggup mengayomiku sebagai wanita. Namun, kenyataannya berkata lain: secara tidak sadar, hal itu juga membuatku ingin “kabur” dari orang tuaku sendiri tanpa mengalami rekonsiliasi yang diperlukan. Mungkin itu juga yang menyebabkan relasiku dengan mereka makin menjauh.

“He’em,” aku mengiyakan Matthew, “kalau bukan karena Tuhan, aku nggak akan sadar secepat ini kalau isu “parentless” bisa jadi “tembok” untuk relasi kita. Jadi… maafkan aku, ya, Matt, kalau tadi aku kedengarannya egois.”

“Nggak apa-apa, kok, Ve…,” balas Matthew. “Aku juga bersyukur karena lewat relasi ini, aku merasa Tuhan sedang memulihkanku. Bukan berarti aku pengen pacaran biar bisa pulih dari “parentless”-ku, ya. Tapi aku juga mau konteks relasi ini jadi sesuatu yang mendewasakan kita dan bikin kita makin kenal Tuhan dan saling kenal diri sendiri.”

“Iya. Makasih udah ingetin aku, Matthew.” Aku tersenyum, mengingat naik-turunnya relasi kami ternyata tidak sia-sia untuk dijalani.

“Jadi, aku dibolehin pergi nggak, nih?” Matthew bertanya dengan iseng.

Aku tertawa dan mengangguk. “Iya. Hahaha… Pergilah dengan damai sejahtera, Kakakk. Dua bulan LDR mah bisalah, yaa.”

Di luar dugaan, Matthew membalas dengan kalimat dan gestur yang menghangatkan hatiku.

“Kalau pun nanti aku pergi, Avery tetep pegang tangan Tuhan, ya. Dia akan selalu bersamamu, dan cuma Dia yang layak untuk Avery percayai sepenuhnya. Tapi kalau Tuhan berkenan kasih kesempatan buatku…”

Tiba-tiba Matthew menggenggam tanganku yang sedang memegang susu matcha di meja. Sambil sesekali mengalihkan pandangannya ke tangan yang digenggamnya, dia melanjutkan, “Aku mau diutus-Nya untuk pegang tangan ini dan melindungi pemiliknya sebagai pendamping hidupku.”

Ya, sisi parentless yang kami miliki mungkin dapat membuat kami kehilangan harapan akan adanya kasih sayang dan penerimaan yang utuh. Ada kalanya pula Matthew mengecewakanku, pun sebaliknya. Namun, relasi ini justru mengajarkan kami bahwa ketika Tuhan memulihkan anak-anak-Nya dengan cara-Nya, Dia bisa memakai apa pun—termasuk relasi yang Dia anugerahkan pada mereka. Terlepas bagaimana ujung kisah kami, aku berdoa agar aku tidak menyesali relasi ini, karena kami sama-sama melihat bahwa ada pertumbuhan dan pemulihan yang Tuhan hadirkan bagi kami secara pribadi—maupun sebagai pasangan.

Melajang di Usia 30+: Menyerah atau Bertahan dengan Pendirian?

Oleh Nelle Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 30+, Single, And Trying Not To Settle

Kencan online di usia 30-an sepertinya tidak cocok untuk orang yang hatinya lemah.

Aku pikir aku perlu mengulangi jawaban-jawaban yang sama selama berbulan-bulan, berpikir keras untuk menciptakan obrolan yang santai, dan berusaha untuk tidak melirik jam di pertemuan pertama kami yang terasa membosankan. Meski ketakutan itu mungkin terwujud, tapi tidak ada salahnya untuk tetap mencoba. Kepada seorang laki-laki, aku coba memberanikan diriku untuk memulai obrolan.

Setelah beberapa bulan, aku mulai melihat sifat aslinya. Laki-laki ini orang yang menyenangkan. Dia merespons pertanyaan-pertanyaanku dengan serius, dia mengajukan pertanyaan yang sopan, dan perilakunya juga santun. Meskipun dia termasuk orang yang cukup serius, tapi dia masih punya selera humor (dan senyumannya yang manis). Kami suka menonton acara komedi, jalan-jalan ke luar ruangan, dan belajar hal-hal baru. Di tiga jam pertama dari pertemuan pertama, kami mengobrol dengan lancar sampai-sampai aku lupa pulang.

Tapi, meskipun dia mencantumkan status ‘Kristen’ di profilnya, aku melihat kalau dia tidak punya relasi personal dengan Tuhan. “Tuhan” baginya adalah sosok dengan kuasa yang lebih besar, dan dia tidak yakin dengan konsep bagaimana Salib itu bekerja menyelamatkan manusia. Semakin banyak kami berbicara, semakin terlihat tanda-tanda kehidupan yang hampa darinya. Meskipun dia orang yang ambisius dan sedang berada pada jalannya untuk mencapai kesuksesan, kehampaan itu muncul dari perasaan insecure-nya. Dia mengakui kalau dia takut jadi orang yang tidak relevan dan diabaikan. Untuk mengalahkan kekhawatiran itu, dia tidak mengizinkan ada orang lain yang mengontrol hidupnya—termasuk Tuhan. Dia terus mendorong dirinya untuk jadi yang terdepan.

Godaan untuk menyerah

Setelah putus empat tahun lalu, aku tahu orang yang seharusnya menjadi calonku harus mengasihi dan takut akan Tuhan. Aku bisa menebak masalah apa yang akan datang jika aku berelasi dengan seseorang yang mengandalkan dirinya sendiri untuk menjalani hidup. Kehidupan telah menunjukkanku akan apa yang Yeremia katakan, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9).

Hatiku sendiri, meskipun aku sudah mencoba menyerahkannya pada Tuhan, sering membawaku pada kesulitan. Jadi, jika pasanganku jelas-jelas menolak menyerahkan hatinya pada Tuhan, bagaimana aku dapat percaya pada setiap keputusan atau kata-katanya? Aku akan selalu menebak-nebak apakah itu keputusan dia yang egois. Dan, kurasa dia pun tidak akan pernah bisa jadi pemimpin rohani bagi keluarga.

Dengan harapan untuk memiliki pasangan yang berfokus pada Kristus, kurasa itu sudah cukup buatku untuk mengakhiri relasiku dengan laki-laki itu. Tapi, ketika keputusan itu muncul di otak, aku teringat:

Kamu itu nggak lagi muda.
Kamu siap buat membangun lagi komunikasi dengan orang lain?
Kapan lagi kamu bisa dapet chemistry kayak begini?
Kalau kamu terlalu pemilih, ya terima aja kalau kamu sendirian
Duh, orang seperti dia sih masih gapapa; dia bukan ateis kok.

Melepaskan seseorang yang cukup layak dalam standar masyarakat zaman ini menjadi sangat susah saat berada di usiaku. Aku bisa merasakan pikiranku bergulat untuk menemukan semacam kompromi. Mungkin aku bisa berjuang keras untuk memuridkan dia. Mungkin menginginkan calon suami yang bisa jadi pemimpin rohani cuma angan-angan saja, bukan sesuatu yang wajib? Lagipula, beberapa temanku yang Kristen baik-baik saja kok relasinya selama mereka jadi istri yang kerohaniannya lebih kuat?

Naluriku (atau mungkin Roh Kudus) melihat semua upayaku merasionalkan pemikiran-pemikiranku ini adalah mengangkat alis sebagai tanda heran. Tapi, pikiranku yang dicengkeram rasa takut terus menekanku.

Rumah yang kuharap ingin kubangun

Aku tahu aku bisa berdoa memohon petunjuk dari Tuhan untukku melakukan apa yang perlu. Suatu malam, saat aku sedang mencuci piring, sebuah pertanyaan muncul di pikiranku, “Nilai apa yang paling penting, yang ingin kamu berikan kepada anak-anakmu?”

Hening tetapi menohok, kurasa pertanyaan itu datang dari Roh Kudus. “Ini sih gampang,” pikirku, “aku mau anak-anakku punya relasi yang nyata dengan Tuhan yang mengasihi mereka. Ketaatan mereka adalah sikap hormat bagi Allah yang kudus. Dan supaya mereka bisa melihat setiap orang diciptakan seturut gambar-Nya, yang dengan demikian layak mendapatkan martabat dan kehormatan.”

Bagiku, beberapa nilai yang ingin kuberikan itu akan menolong mereka menemukan versi kehidupan terbaik yang bisa mereka miliki. Aku pernah mencoba hidup tanpa Tuhan, menentang-Nya, tetapi kemudian aku sadar bahwa dikasihi oleh Tuhan akan membentuk hidup kita. Aku percaya penuh bahwa Tuhanlah satu-satunya jalan menuju keutuhan hidup.

Pertanyaan kedua segera datang, “Tapi, bagaimana jika pasanganmu tidak percaya dengan itu semua, atau menolak harapan-harapanmu itu sebagai sebuah prioritas?”

Dan tiba-tiba… pergumulan pikiran selama berminggu-minggu pun hilang. Jika aku tahu apa yang terbaik untuk anak-anakku kelak, bagaimana bisa kelak kami hidup dalam rumah yang tidak bersatu, yang mungkin akan menghalangi mereka untuk tumbuh mendapati kehidupan yang terbaik untuk mereka?

Mungkin Tuhan tahu karena aku tipe orang yang mudah berkompromi, Dia mengajakku untuk berpikir keras. Pikiran-pikiran itu menolongku melihat bahwa pilihan-pilihan yang kubuat terkait pasangan hidupku tidak cuma akan mempengaruhiku, tetapi juga bagi orang lain.

Aku menyadari sekali lagi, ini adalah ujian bagi hatiku. Apakah aku percaya bahwa ketika Tuhan menetapkan batasan yang jelas bagi pernikahan, Dia tahu apa yang terbaik bagi kita? Atau, aku sombong karena kupikir akulah yang lebih tahu? Kupikir aku cukup kuat untuk menanggung semua akibat dari tidak berpegang pada tuntunan Tuhan dan menciptakan pernikahan berdasarkan standarku sendiri?

Ketika aku mengobrol dengan teman-temanku yang menikah dengan bukan orang Kristen, atau menikahi orang-orang yang tidak dewasa secara rohani, semua ilusiku pun buyar. Mereka bercerita betapa kesepiannya mereka karena tidak bisa membagikan isi hati terdalam mereka—perjalanan mereka bersama Tuhan—dengan pasangan mereka. Atau, betapa melelahkannya untuk berjalan secara rohani sendirian. Karena mereka sudah terikat dalam pernikahan, mereka berkata perlu tetap berkomitmen untuk mempertahankannya. Sementara itu, aku masih punya pilihan.

Teman-temanku yang menikahi seorang yang saleh menemukan sukacita tak terduga dari kehidupan pasangannya yang mengasihi Tuhan dan gereja (Efesus 5:25-29), serta bertanggung jawab menjadi pemimpin spiritual dalam keluarga. Mereka juga punya pergumulan, tapi secara karakter mereka semakin bertumbuh. Tanpa mereka perlu berkata, aku bisa melihat sendiri alasan untukku tidak berpasrah diri asal saja menerima siapa pun untuk menjadi pasanganku.

Setelah beberapa minggu mengelola pikiranku, aku memberitahu laki-laki itu kalau aku tidak mampu membangun hubungan ini lebih lanjut dengannya.

Lajang untuk hari ini

Bertumbuh dalam kedewasaan rohani berarti keputusanku—bahkan tentang pernikahan—harus tidak berpusat pada diriku sendiri dan seharusnya lebih kepada apa yang dapat memuliakan Tuhan (1 Korintus 10:31).

Tetapi, menetapkan keputusan berdasarkan apakah keputusan ini mencerminkanku sebagai anak Tuhan terkadang terasa membebani. Di hari-hariku yang sunyi, memuliakan dan menaati Tuhan terasa seperti latihan untuk menekan egoku.

Di hari-hari yang terasa lebih baik, aku ingat janji ini: “Siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati” (1 Samuel 2:30). Janji ini mengingatkanku bahwa ketika Tuhan tidak ingin aku berpasangan dengan seseorang yang tidak mengasihi-Nya, itu tidak berarti Dia ingin aku hidup dalam penderitaan sebagai seorang yang melajang dan kesepian. Meskipun Tuhan tidak memenuhi kebutuhanku dengan cara yang aku inginkan, Dia akan membuatku bertumbuh.

Dalam masa-masa ini, aku melihat bagaimana Dia membawaku kepada relasi spiritual yang dalam, supaya aku bisa mengatasi kesepianku dan memberiku kesempatan untuk membangun kerajaan-Nya. Aku belajar percaya kebaikan-Nya—apa pun bentuknya—pasti akan memberiku kepuasan.

Sejujurnya aku masih belum berani jika Tuhan mengatakan kehendak-Nya bagiku adalah aku melajang seumur hidupku. Aku harus belajar percaya sepenuhnya pada-Nya. Pada tahap ini, akan lebih mudah bagiku untuk “melajang” pada hari ini, tanpa perlu terlalu mengkhawatirkan hari depan. Satu mazmur yang sering kuingat ketika aku menaikkan doa pagi, “Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku” (Mazmur 143:8).

Ini adalah tindakan imanku untuk hari-hari yang kujalani bahwa akan selalu tersedia anugerah yang cukup untuk hidup dan bertumbuh dalam masa-masa lajangku.

Baca Juga:

Cerpen: Ngobrol Dengan Tuhan Itu Asyik

Aku mendengar pintu depan terbuka.

“Lima…Empat…Tiga…Dua…Satu.”

“Dewi…Dewi…Kamu ada di mana?”

Suka, Cinta, dan Penantian

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Langit sore tampak cerah. Matahari bersinar di balik awan putih dan angin pantai menyapu wajah muda-mudi yang bersemangat . Setelah melangkahkan kaki ke luar dari parkiran, mereka pun berjalan menuju pantai. Tiga orang remaja SMP bersama seorang kakak pembinanya berniat untuk melakukan pendalaman Alkitab di alam terbuka. Tempat yang berbeda untuk melakukan kegiatan mingguan mereka.

Sembari berjalan, Gracia membuka obrolan, “Kak, kakak tahu Dery nggak?”

Kak Nindy, nama kakak pembina rohani para remaja ini menatap Gracia. “Iya, tahu. Kenapa?”

“Kemarin dia confess ke aku,” lanjut Gracia sambil terus berjalan.

Kak Nindy memasang wajah kaget, kemudian memandang ke belakang sambil memberi isyarat tangan pada Luke dan Bisma yang jauh tertinggal di belakang untuk lebih mendekat. Ternyata kedua laki-laki itu sedang bermain adu gulat sambil berjalan.

“Memangnya dia bilang gimana?” Kak Nindy menatap Gracia yang terus memandangi jalan setapak di hadapan mereka.

“Dia bilang: ‘Gracia, aku mau bilang sesuatu sama kamu. I like you.’ Udah gitu aja,” Jawab Gracia.

“Terus kamu bilang apa sama dia?” tanya kak Nindy lagi.

“Ya udah, he is just like me kan, not love me.” Kak Nindy tertawa geli mendengar jawaban itu. Anak SMP berusia 13 tahun pun tahu bedanya dicintai dan disukai ya?

“Memangnya kenapa kalau dia suka sama kamu bukan cinta sama kamu?” Belum sempat Gracia menjawab, Kak Nindy segera berteriak, “Hai gaes, Gracia baru dapat pernyataan cinta nih!” “Wah tunggu, kita juga mau dengar!” Luke dan Bisma antusias lalu berlari mendekat.

“Ya kan cuma suka kak, kayak nge-fans gitu kan. Kalau cinta berarti dia kan lebih dalam lagi perasaannya,” jelas Gracia lagi. Kak Nindy mengangguk-angguk.

“Ceritanya waktu kita sudah sampai tempat tujuan aja,” saran Luke.

“Enak sekarang aja, sambil jalan biar nggak kerasa capeknya,” sahut Gracia.

Mereka berempat terus berjalan menuju gubuk di tepi pantai, bagian paling favorit versi mereka dari tempat wisata ini. Bersyukur sore ini tidak banyak pengunjung yang datang, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

“Terus, terus, kakak tahu Michael? Dia chatting aku lagi, panjang lebar.” Mata Gracia tampak berbinar mengucapkannya.

“Ehem, chatting gimana?” Tanya kak Nindy mempersiapkan hati untuk mendengar ceritanya lagi.

“Intinya dia mau bilang, I still love you.” Kali ini Gracia menatap Kak Nindy yang memasang wajah pura-pura kaget. Bahkan sampai menutup mulut. Gracia tahu itu berlebihan, tetapi dia nampak senang dengan reaksi itu.

“Wow!” Teriak Bisma dari belakang sambil bertepuk tangan. Kak Nindy lalu menggeleng-gelengkan kepala. Sungguh anak SMP zaman sekarang bisa dengan mudah mengekspresikan perasaan mereka. Entah apakah di balik pernyataan itu mereka sudah tahu makna sesungguhnya.

“Aneh kan kak? Padahal kita sudah lama lost kontak lho,” lanjut Gracia. Jadi, Gracia pernah berpacaran dengan Michael selama beberapa hari (iya, hari). Jangan heran, bahkan Kak Nindy pernah mendengar anak kelas 5 SD sudah berpacaran.

“Lalu, kamu senang dia bilang begitu?” Tanya kak Nindy lagi. Dia ingin membiarkan Gracia untuk bercerita banyak terlebih dahulu.

“Ya…” Gracia memainkan tangannya. Ragu-ragu mau bilang apa.

“Tapi, kayaknya aku cuma dijadikan pelarian deh. Jadi aku biasa aja,” lanjut gadis itu kemudian.

“Kamu masih suka ya, sama Michael?” Pertanyaan ini mendapat respon dengan nada yang cukup ngegas. “Ya nggak lah kak, ngapain.”

“Hemm, okay,” Kak Nindy tersenyum kecil.

Mereka pun tiba di gubuk yang menghadap ke pantai. Setelah duduk di lantai kayu tanpa beralaskan apapun, mereka mengeluarkan Alkitab dan buku PA (pendalaman Alkitab) mereka. “Wah indah ya, pemandangannya,” seru kak Nindy sembari menatap garis pantai yang ada di hadapan mereka.

“Kak aku mau tanya deh. Nggak papa kan?” Luke menatap Kak Nindy.

“Oke, kita sharing dulu sebelum masuk ke bahan PA. Mau tanya apa dek?”

“Kak Nindy pernah bilang, kalau kita boleh pacaran waktu kita sudah siap. Nah itu biasanya umur berapa sudah siapnya?” Tanya laki-laki berusia 13 tahun itu. Ya, tiga remaja ini baru berusia 13 tahun. Namun, nampaknya mereka sudah penuh dengan gejolak cinta remaja.

“Sebenernya nggak ada umur yang pasti, kapan kita bisa dikatakan siap pacaran. Karena siap itu bukan bicara soal umur, tapi kedewasaan seseorang. Nah, mereka yang sudah berumur 20 tahun tapi masih egois dan nggak tahu tujuan hidupnya, kayaknya juga belum siap buat pacaran.” Jelas Kak Nindy.

“Berarti, nanti kalau SMA aku sudah dewasa dan tahu tujuan hidup, aku boleh pacaran?” Sahut Gracia.

“Ngebet amat lu.” Celetuk Bisma sambil melirik pada Gracia, gadis itu memukul pelan paha Bisma dengan buku di tangannya.

“Ya, kalau kalian sudah merasa siap dan sudah mendoakan dengan sungguh-sungguh, silahkan pacaran. Tapi ingat ya, pacaran itu bukan untuk anak-anak, karena ada banyak hal yang akan kalian usahakan dan berikan. Seperti emosi, perhatian, saling melayani, saling mengenal lebih dalam. Nah, kalau kalian nggak siap, terus putus, itu bisa bikin kalian kalang kabut. Bahkan ada yang berpikiran ingin mengakhiri hidup karena putus cinta. Makanya, kakak bilang: kenallah Tuhan dan dirimu sendiri dengan baik, sebelum mau memulai relasi dengan lawan jenis.”

“Kalau kakak, kenapa belum pacaran? Kakak kan sudah dewasa, sudah tahu tujuan hidupnya, kayaknya kakak juga sudah siap. Nunggu apa coba?” Gracia menatap kakak rohaninya itu yang sudah setahun ini menemani mereka dalam kelompok kecil.

“Iya, kakak sudah 27 tahun kan,” Tambah Luke.

Kak Nindy tersenyum mendengar pertanyaan itu sambil menatap mereka satu per-satu, “Kalau kita merasa siap, bukan berarti Tuhan juga menilai demikian. Karena rencana kita bukan rencana Allah.” Lalu pandangannya beralih pada laut di hadapannya, bau air laut dibawa oleh angin memecah keheningan di antara mereka.

“Kalau kita hidup dengan sebuah tujuan, kakak yakin pacaran dan pernikahan seharusnya juga punya tujuan. Bukan hanya karena cinta, ya meskipun itu juga penting. Tapi menurut kakak, ada yang jauh lebih penting dari itu.” Kak Nindy berhenti lagi menunggu reaksi dari ketiga adiknya.

“Apa?” Tanya Gracia.

“Pernikahan itu alat yang dipakai Tuhan untuk membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Pernikahan itu juga untuk menggenapi rencana Tuhan bagi dunia ini. Apa coba, rencana Tuhan bagi dunia ini?” Kak Nindy menyipitkan matanya sambil melayangkan telunjuknya kepada wajah para remaja itu.

“Nggak tau kak,” rengek Gracia.

“Kak Nindy sudah pernah bilang lho padahal.” Wanita itu meraih Alkitabnya, “Coba baca Wahyu 7:9…” Mereka pun memulai diskusi tentang salah satu bagian perikop tersebut, bahkan juga membuka beberapa bagian kitab lain.

Ada yang berbicara tentang rasa suka terhadap lawan jenis atau tentang cinta yang tumbuh entah sejak kapan, tetapi juga ada yang masih tetap berbicara tentang penantiannya. Bukankah kita semua adalah kekasih-kekasih Allah yang telah ditebus dan dimerdekakan-Nya?

Kiranya mata kita senantiasa tertuju kepada Kristus. Hingga suatu saat kau temukan orang lain yang juga berlari ke arah yang sama, beririsan dengan hidupmu. Jika penantian akan pasangan hidup seakan selamanya, sesungguhnya Kekasih Jiwa kita tetap sama. Penantian kita tidak akan sia-sia.

Dan jika dirimu adalah jiwa yang terluka karena cinta yang sebelumnya, mungkin ini waktu yang tepat untuk datang ke pelukan Bapa. Dia peduli dan akan membalut setiap luka.

Baca Juga:

Pendeta yang Tidak Aku Sukai

Siapa pendeta yang akan berkhotbah sering jadi motivasiku untuk ikut ibadah. Kalau pendeta X yang khotbahnya menurutku tidak bagus, aku pun malas ke gereja. Tapi, ini pemikiran yang salah, dan aku bersyukur Roh Kudus menolongku.

3 Hal yang Hilang Jika Kita Menikah dengan Pasangan Tidak Seiman

Oleh Antonius Martono

Semua manusia mencari kenyamanan. Ketika manusia telah menemukannya maka sangat sulit bagi mereka untuk meninggalkannya dan pergi menghadapi risiko-risiko baru. Begitu juga halnya dengan memilih pasangan hidup. Terkadang kita sudah memiliki firasat dan keyakinan untuk segera mengakhiri sebuah relasi tapi, kita tidak memiliki keberanian untuk melepaskannya. Rasanya terlalu berat. Terlalu sayang merelakan segala hal yang telah diinvestasikan dalam relasi tersebut. Lebih menyedihkannya lagi kita harus menghadapi rimba kesedihan dan kebingungan pencarian setelahnya.

Memang melepaskan seseorang yang telah membuat kita nyaman selama ini tidak pernah menjadi hal yang mudah, sekalipun kita tahu bahwa hubungan tersebut jelas tidak akan berfungsi dengan baik dalam jangka waktu panjang, seperti pacaran beda keyakinan.

Namun, meninggalkan kenyamanan sesaat demi menaaati firman Tuhan adalah hal yang layak untuk diperjuangkan. Firman Tuhan pada 2 Korintus 5:14a mengatakan bahwa: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya.” Tidaklah berlebihan jika kita menerapkan ayat ini dalam mencari pasangan hidup kita kelak. Sebab jika kita menikahi pasangan yang berbeda keyakinan, maka kita akan kehilangan beberapa kenikmatan di bawah ini yang telah Tuhan sediakan di dalam sebuah pernikahan Kristen.

1. Kehilangan nikmatnya hidup sesuai rancangan Tuhan

Bayangkan jika ada sebuah kuasa yang mewajibkan semua manusia berjalan menggunakan tangan ganti dari kaki. Meskipun bisa tapi, dalam jangka waktu panjang tangan manusia akan mengalami keram. Sebab tangan manusia bukan dirancang untuk berjalan. Begitupun dengan pernikahan. Pernikahan Kristen bukan sekedar kontrak sosial bukan juga sekedar berpadunya cinta ekslusif antara seorang laki-laki dan perempuan. Sehingga mereka memutuskan untuk menikmati cinta tersebut dalam sebuah komitmen pernikahan. Pernikahan Kristen dirancang Tuhan lebih dari itu, yaitu untuk mencerminkan relasi Kristus dengan gereja-Nya. Jadi pernikahan Kristen bukan sekedar bicara tentang ‘aku cinta kamu, aku sefrekuensi, dan nyambung dengan kamu maka dari itu mari kita habiskan waktu bersama.’ Melainkan pernikahan Kristen seharusnya mencerminkan bagaimana Kristus berkorban, melindungi, memaafkan, dan memimpin gereja yang Ia kasihi. Cerminan kasih Kristus inilah yang dapat terhilang saat menikah dengan mereka yang berbeda keyakinan.

2. Kehilangan nikmatnya persahabatan kudus dalam perjalan mengikut Kristus

Pernikahan Kristen dirancang untuk saling menajamkan pribadi satu dengan yang lainnya. Dalam pernikahan Kristen setiap pasangan perlu saling merawat kehidupan batin pasanganya. Mereka harus saling memperhatikan apakah ada hal-hal yang menghalangi setiap pasangan untuk semakin serupa dengan Yesus Kristus, yang adalah tujuan manusia diciptakan. Menikah dengan pasangan yang berbeda keyakinan tidak dapat memenuhi tujuan ini. Sebab salah satu pasangan tidak mengenal pribadi Yesus Kristus. Mereka akan kesulitan mengerti perjalanan rohani dan pergumulan batin seorang percaya seperti: dibenci karena menjadi seorang pengikut Kristus, menghayati Tuhan beserta kita, dan menikmati relasi intim dengan Tuhan. Semua ini adalah pengalaman unik yang hanya dapat dirasakan oleh orang percaya. Mereka yang tidak percaya tidak akan mengalaminya sebab mereka berjalan di dalam perjalanan rohani yang berbeda dengan tujuan akhir yang berbeda juga. Akan sangat sulit untuk saling menopang dan mendukung pasangan yang sedang berjalan dalam perjalanan dan tujuan yang saling terasing.

3. Kehilangan nikmatnya menjadi rekan sekerja Allah

Manusia adalah wakil Tuhan untuk memerintah di bumi. Tuhan menyatukan Adam dan Hawa dalam sebuah pernikahan dengan maksud untuk memenuhi amanat tersebut. Lewat keluargalah nilai-nilai kerajaan Allah mulai ditegakkan. Oleh sebab, itu setiap pasangan harus telah menikmati dan mengerti nilai-nilai kerajaan Allah. Agama yang dipeluk seseorang akan menentukan nilai-nilai hidup mereka dan ini akan mempengaruhi cara mereka mengambil keputusan. Bagaimana mereka menghabiskan uang, mengatur rumah tangga, menghabiskan waktu, membesarkan anak, dan masih banyak hal lain yang akan dipengaruhi oleh keyakinan agama seseorang. Perbedaan dalam isu-isu kecil seperti ini dapat memimpin kepada pertengkaran dan perceraian. Bukannya membangun kerajaan Allah justru malah membangun sebuah ring pertandingan.

Gelora asmara memang kuat, tapi bukan berarti tidak bisa dikuasai. Jika sudah terlanjur berpacaran dengan yang berbeda keyakinan maka lebih baik relasi tersebut dibatasi. Menarik diri dari mengekspresikan kasih romantis dan segera mengakhirinya. Sehingga cerita tidak berlanjut dan mengikat terlalu kuat. Sebab, semakin banyak cerita akan semakin pilu menghapusnya, semakin enggan menggantinya dengan cerita yang baru.

Namun, ada satu cerita kasih yang dimulai jauh sebelum kita dilahirkan, bahkan jauh sebelum dunia ini dijadikan. Cerita yang menghangatkan hati setiap orang yang menerimanya. Cinta itu berasal dari Yesus Kristus. Lewat hidup-Nya sengatan kasih itu selalu dirasakan mereka yang mau rendah hati menerima-Nya. Sedangkan di atas kayu salib Dia membuktikan cinta-Nya pada dunia. Kasih-Nya begitu meluap dan Dia mau agar kita menikmati limpahan kasih-Nya, termasuk kasih-Nya yang telah disediakan-Nya dalam sebuah pernikahan Kristen.

Baca Juga:

Jangan Pernah Berakhir Cerita Cinta Kita

Cerita cinta yang romantis, inilah yang sering kita dambakan dalam relasi antara sesama manusia, walaupun tak jarang dambaan ini berakhir pada kekecewaan. Namun, aku ingin mengajakmu untuk melihat kisah cinta yang lain.

5 Hal yang Menunjukkan Ia Calon (Istri) yang Tepat

“Kamu yakin ia adalah calon istri yang tepat?”⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Pertanyaan itu mungkin sering dilontarkan ketika kita berbicara tentang pasangan hidup. Jawabannya? Tak semua orang dengan mantap menjawab yakin, atau bahkan malah bergeming sembari menggelengkan kepala. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Memilih pasangan hidup adalah pilihan yang sulit dan membutuhkan komitmen untuk sama-sama bertumbuh dan mengenal. Teruntuk para pria, inilah lima hal sederhana yang bisa kamu cermati dalam diri pasanganmu untuk menguji, apakah si dia memang yang tepat untukmu. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Hal-hal apa lagikah yang menurutmu bisa menunjukkan seseorang tepat menjadi pendamping hidupmu?

Artspace ini diadaptasi dari artikel Alex Tee berjudul “Lima Hal yang Menunjukkan Ia Calon (Istri) yang Tepat”.

Ketika Penolakan Menjadi Awal Baru Relasiku dengan Tuhan

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Aku lahir bukan sebagai orang Kristen, setidaknya sampai aku berusia 6 tahun ketika ayahku menanyakan apakah aku bersedia mengikuti kepercayaannya. Di masa-masa setelahnya, sangat sulit untuk beradaptasi dengan identitas baruku itu karena budaya serta lingkungan sosial seakan-akan mencap aku ‘berbeda’. Beberapa konflik terjadi karena ‘perubahan’ ini, hingga akhirnya aku menyimpulkan bahwa diriku tidak berharga. Aku ditolak dan aku pantas untuk ditolak.

Pemikiran akan identitas tersebut ternyata sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan kehidupanku sehari-hari. Aku jadi serba takut untuk melakukan sesuatu karena takut salah, takut ditolak, takut orang membenciku karena aku melakukan ini dan itu, dan segala jenis takut lainnya terus menghantuiku sepanjang masa kecil hingga remaja. Aku tumbuh menjadi perempuan yang penakut.

Saat aku berada di universitas, aku dibina di persekutuan kampus. Masih menyandang identitas sebagai seorang ‘penakut’, aku menyadari bahwa perlahan-lahan Tuhan sedang membentuk dan mengajari aku melalui sebuah persekutuan. Dalam persekutuan tersebut, untuk pertama kalinya aku merasa diterima sebagai aku yang apa adanya. Tidak ada rasa penolakan, dan aku merasa sangat nyaman. Ditambah lagi dengan rasa sukacita karena aku ‘akhirnya’ diterima dalam sebuah lingkungan sosial yang menurutku sangat baik.

Saat lulus kuliah, aku pun tidak lepas dari kehidupan persekutuan. Meski tidak lagi di kampus, tapi aku mendapat kesempatan untuk bergabung lagi dengan sebuah persekutuan yang anggotanya lebih banyak dari kalangan alumni. Aku kembali merasa sangat senang karena aku tidak ditolak di sana. Awalnya aku merasa puas dengan fakta ini, sampai tiba pada masa Tuhan mengajak aku mengalami petualangan ‘ditolak’ yang cukup mengejutkanku.

Singkat cerita aku menyukai seorang partner pelayanan. Motivasi awalnya hanya karena aku melihat dia perlu ditolong. Jadilah aku sering mendoakan dia dan kehidupannya yang beberapa kali menjadi topik obrolan kami. Sayangnya, dalam hal ini aku sudah merasa cukup percaya diri bahwa dia akan menerimaku menjadi pacarnya. Sampai pada akhirnya ketika aku mulai merasa tidak nyaman dengan perasaanku sendiri, tidak nyaman dengan berbagai macam asumsi yang tidak terverifikasi, akhirnya aku nekat untuk menyatakan perasaanku padanya. Tujuannya memang supaya aku tidak penasaran lagi dengan segala asumsiku sendiri. Ternyata, aku ditolak. Aku tidak menanyakan apa pun, namun dengan pernyataan bahwa dia hanya menganggapku teman, itu sudah cukup menjelaskan bahwa dia menolakku untuk menjalin relasi yang lebih dari sekadar teman. Pada peristiwa inilah rasa takut yang sempat hilang itu muncul kembali. Segala ketakutan- ketakutan yang sempat hilang tiba-tiba muncul lagi. Sedih, kecewa, merasa tidak berharga, malu, bahkan aku sempat marah pada Tuhan karena mengalami penolakan lagi. Aku bertanya-tanya: apakah aku tidak berharga? Apakah hidupku hanya lelucon sehingga dunia menolakku?

Di tengah-tengah kekalutan pikiran dan emosi, Roh Kudus menolongku untuk bangkit perlahan-lahan. Salah satunya melalui media buku. Bertepatan dengan musim pandemi COVID-19 di Indonesia yang mengharuskan aku membatasi kegiatan di luar rumah, membaca buku akhirnya menjadi salah satu aktivitas pilihanku sembari work from home.

Sungguh tidak menyangka bahwa buku yang aku baca saat itu membawaku pada pengalaman rohani yang sangat menyegarkan. Judul bukunya “Surrender To Love” yang ditulis oleh David G. Benner. Dari buku tersebut aku belajar dan disadarkan kembali bahwa Allah benar-benar mengasihi aku dan Dia tidak bisa tidak mengasihi aku. Bahwa Allah sungguh-sungguh merindukan relasi dengan kita umat-Nya secara pribadi, bukan secara kewajiban agama semata. Dan kasih-Nya merupakan sebuah tawaran untuk kita supaya terbebas dari rasa takut.

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18 TB)

Hal inilah yang membuatku mau berserah dan dipulihkan oleh Tuhan dari rasa takut serta penolakan. Aku akhirnya menikmati fakta bahwa aku tidak akan pernah ditolak oleh Yesus, karena Dia adalah Kasih. Sekarang, ketika melihat ke belakang, aku sungguh bersyukur pernah mengalami berbagai macam penolakan. Sebab penolakan-penolakan tersebut membuatku makin mengenal diriku sendiri, terlebih belajar mengenal Allah Sang Pencipta dan mulai membuka diriku untuk berelasi dengan-Nya secara pribadi dari hati yang rindu, bukan lagi sekadar ‘rutinitas rohani’. Dari berbagai macam penolakan yang kualami, Tuhan lagi mengajari aku bahwa berharap diterima oleh manusia saja tidak cukup. Hanya Tuhan yang bisa memuaskan kebutuhan akan penerimaan ini.

Pelan-pelan, aku bisa berdamai dengan masa laluku, dan aku juga bisa berdamai dengan diriku sendiri yang memiliki banyak kelemahan ini. Rasa takut ditolak pun terkikis sedikit demi sedikit dan aku mulai memupuk keberanian dalam mengerjakan segala sesuatu atau ketika berelasi dengan siapapun—karena aku yakin aku berjalan bersama Tuhan.

Jika kita pernah atau sering merasa tertolak, tidak dianggap, tidak dihargai, hidup terasa tak berguna, mari sama-sama mengingat bahwa Allah tak pernah menolak kita. Kita selalu diterima oleh-Nya sekalipun dunia menolak kita.

Baca Juga:

Cerpen: Mamaku Terkena Stroke Tiba-tiba

Waktu mama divonis stroke, aku ingin menangis, tapi mamaku bilang, “Jangan nangis, Ka. Tuhan pasti akan memberi jalan.”

Aku memberikan sedikit kataku untuk menyemangati mama, “Ma, kami bertiga belum sukses, Ma. Masa mama sakit? Mama harus bisa sembuh. Apalagi kakak dan abang bentar lagi wisuda, Ma.”

Kamu Single? Fokuskan Dirimu pada 3 Hal Ini!

Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Things To Focus On When You’re Single

Apakah kamu lelah ditanya-tanya tentang status hubunganmu? Atau, apakah hubungan yang kamu pikir akan langgeng, nyatanya malah berakhir? Apakah kamu menghabiskan liburanmu melihat orang-orang menikah, sehingga kamu bertanya pada Tuhan, “Mengapa aku masih single?”

Mungkin kamu sudah berdoa cukup lama untuk kehadiran pasangan hidup, dan kamu pun merasa masa-masa single ini terasa berat dan menyakitkan. Mungkin juga kamu baru saja menjadi single, atau bahkan belum berkeinginan untuk berpacaran. Bagaimanapun keadaannya, inilah sejumlah hal yang sebaiknya kamu lakukan di masa single:

1. Fokuskan dirimu membangun relasi dengan Tuhan

Dari firman Tuhan, kita tahu bahwa hal terpenting yang bisa kita lakukan dengan waktu yang kita miliki adalah mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Tuhan Yesus memberi perintah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu, dan dengan segenap kekuatanmu” (Markus 12:30).

Ketika kita masih single, jadwal kegiatan kita tentunya lebih fleksibel. Kesempatan ini dapat kita gunakan untuk fokus mengasihi Tuhan dengan cara-cara yang kreatif, yang mungkin tidak dapat kita lakukan dengan leluasa di fase kehidupan yang lain.

Tanyakan pada dirimu, apakah ada cara-cara unik yang dapat dilakukan untuk meluangkan waktu bersama Tuhan? Mungkin kamu bisa mengosongkan waktumu dari kesibukan minggu ini untuk mencari Tuhan di tempat yang tenang. Coba evaluasi kembali jadwalmu, lalu luangkan waktu di satu hari untuk menghabiskan waktu bersama Tuhan meskipun kamu harus menunda pekerjaanmu. Lebih menarik lagi, kamu bahkan bisa mengambil kelas Alkitab online yang disediakan banyak lembaga Kristen!

Lihat ke sekelilingmu dan cobalah melakukan hal yang tidak biasa untuk meluangkan waktu bersama Tuhan.

2. Fokuskan dirimu mengulurkan bantuan kepada orang lain

KIta semua adalah anggota dari keluarga Allah, baik orang Yahudi atau Yunani, hamba ataupun orang merdeka, laki-laki ataupun perempuan, bahkan kita bisa menambahkan single maupun berpacaran! (Galatia 3:28). Apapun status kita saat ini, Tuhan sudah memanggil kita ke dalam keluarga-Nya.

Kebanyakan kita tidak kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman sebaya. Tetapi, anggota keluarga Allah juga meliputi para lansia, keluarga muda, orang tua yang baru saja berpisah dengan anak-anaknya yang merantau untuk berkuliah, dan lain sebagainya. Bagaimana jika kita turut meluangkan waktu kita untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi mereka (Galatia 6:10)?

Dapatkah kita membantu pasangan muda untuk menjaga anak mereka selama beberapa jam untuk memberi mereka waktu beristirahat? Atau mungkin membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seorang lansia sambil mendengarkan kesaksiannya tentang pekerjaan Tuhan yang luar biasa?

Tidak hanya itu, kita juga bisa mengajak sepasang suami istri yang merindukan anaknya untuk makan malam bersama, sambil berbincang tentang tantangan-tantangan yang tengah kita alami di dunia pekerjaan kita. Mungkin juga masa single ini menjadi periode waktu yang baik untuk belajar dari pasangan lain, bahkan mendorong mereka untuk bertumbuh dalam hubungan yang mengejar keserupaan dengan Kristus.

Memang, butuh sedikit keberanian untuk mendekatkan diri pada seseorang yang tidak begitu akrab dengan kita di gereja. Bisa jadi, kita baru mendapatkan respon yang kita harapkan setelah undangan kedua atau ketiga. Tetapi, Tuhan sudah memberkati kita dengan keluarga besar yang beragam untuk suatu tujuan! Yuk, mulai menjangkau mereka!

3. Fokuskan dirimu menikmati musim kehidupan ini

Menjadi single dapat terasa memberatkan jika kita amat mendambakan kehadiran pasangan, dan tentunya, pernikahan. Tetapi, daripada memfokuskan diri pada hal-hal yang belum kita peroleh, ada baiknya kita memusatkan perhatian kita pada hal-hal yang membawa kebahagiaan di musim kehidupan yang tengah kita hadapi.

Kita dapat mengejar karier yang kita sukai. Mungkin ada kesempatan-kesempatan berhaga yang bisa kita lakukan sebagai persembahan di gereja. Mungkin kita terberkati dengan kehadiran sahabat-sahabat yang menemani kita menjalani kehidupan. Kita juga bisa mencoba melakukan hobi-hobi baru.

Penulis kitab Pengkhotbah mengingatkan kita, “Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah” (Pengkhotbah 3:12-13).

Dapatkah kamu menemukan tiga hal yang kamu nikmati dari hidupmu saat ini? Bersyukurlah kepada Tuhan untuk berkat yang sudah disediakan-Nya bagi kita. Tuliskan, dan lihat kembali di minggu-minggu, bulan-bulan, dan tahun-tahun mendatang!

Kita tidak tahu berapa lama musim ini akan berlangsung dan apa yang menanti kita di masa depan. Namun, kita dapat mencari cara untuk menikmati musim ini. Rayakanlah kebaikan Tuhan yang sudah kita alami dari dahulu sampai sekarang!

Baca Juga:

Mati dan Bangkit Setiap Hari

Kita mungkin tidak asing dengan istilah KKR yang biasanya menjadi acara besar suatu gereja. Tetapi, pernahkah kita berpikir, bagaimana caranya agar kita mengalami kebangkitan rohani setiap hari?

Saat Aku Belajar untuk Berhenti Mengikuti Perasaanku

Oleh Debra Ayis, Nigeria
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When (Not) To Follow Your Feelings

Sebagai orang Kristen yang berjuang untuk berjalan mengikuti jejak Yesus, kita akan menjumpai momen-momen yang mengharuskan kita melawan kedagingan kita. Momen itu bisa berupa saat-saat di mana kita dengan sengaja harus melawan perasaan atau emosi kita, semisal: memilih untuk memaafkan orang yang sudah menyakiti kita, berbuat baik kepada orang yang jahat kepada kita, atau mengendalikan amarah agar kita tidak melakukan kekerasan.

Perjuangan untuk melakukan itu semua terasa sulit. Kita tahu bahwa perasaan kita itu salah, dan apabila kita mengikutinya, kita bisa saja melakukan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Tapi, seringkali kita berusaha untuk menganggap benar perasaan kita.

Beberapa tahun lalu, aku pernah berada di situasi seperti itu. Semuanya adalah tentang seorang lelaki. Seorang lelaki yang kepadanya aku jatuh cinta, seorang lelaki yang membuatku lebih memilih manusia daripada Tuhan. Mungkin sekarang kamu menggeleng-gelengkan kepala, sebab sepertinya ada terlalu banyak kisah tentang perempuan-perempuan Kristen yang baik yang “disesatkan” oleh pacar-pacar mereka yang tidak seiman. Tapi, aku bersyukur untuk kisah ini, karena inilah yang kemudian mengingatkanku untuk tidak selalu mengikuti perasaanku.

Aku bertemu lelaki itu di tempat kerja, dan seperti yang orang-orang katakan, ada chemistry yang tumbuh cepat di antara kami. Aku tertarik kepadanya. Bukan cuma karena penampilannya saja, tapi juga karena karakternya. Dia adalah orang yang lucu, baik, bijaksana, pekerja keras, murah hati, dan juga pintar. Dengan segera, aku mulai mengembangkan perasaanku padanya. Tapi ada satu masalah: dia adalah seorang ateis dan membenci Kekristenan.

Setiap kali dia memuji pekerjaanku atau kebaikan hatiku, aku memberitahunya bahwa itu bukan aku yang melakukannya—Kristuslah yang melakukannya. Tapi, dia tidak setuju dengan apa yang kukatakan. Katanya, itu semua hanyalah “jargon agama”. Dia bersikeras kalau segala kebaikan di dalam diriku itu ada karena aku memang orang yang baik, bukan karena Tuhan. Aku coba mengundangnya datang ke gereja, tapi dia selalu menolak dan berkata bahwa orang-orang beragama itu “sudah dicuci otak dan naif”.Dia tidak pernah memberiku alasan mengapa dia tidak menyukai Tuhan—ataupun agama. Dia selalu menghindar untuk mendiskusikan topik ini, dan aku pun akhirnya berhenti bertanya. Aku hanya percaya (dan sampai kini masih percaya) bahwa Tuhan akan menyentuh hatinya suatu hari kelak.

Meskipun aku tahu betul bahwa Alkitab menginstruksikan orang Kristen untuk tidak memilih pasangan yang tidak sepadan dengan orang yang tidak percaya (2 Korintus 6:14), aku menganggap diriku sendiri yang paling benar. Contohnya, aku percaya bahwa dengan berpacaran aku bisa membawa seseorang pada Kristus. Kupikir selama aku berdoa untuknya dan menjaga diriku sebagai orang Kristen yang baik, dia akan menyadari bahwa ada Kristus di dalam diriku. Hatiku mengatakan bahwa aku bisa mengubahnya. Lagipula, bagaimana caranya kita membawa orang lain kepada Kristus jika kita tidak berteman dengan mereka?

Tapi, pikiranku mengingatkanku bahwa hanya Tuhan yang bisa mengubah hati, bukan manusia (Yehezkiel 36:26). Semua yang bisa kulakukan hanyalah terus menjadi saksi Kristus sepanjang hidupku. Pada akhirnya, mengikut Kristus atau tidak, itu kembali lagi kepada pilihan lelaki itu.

Melalui kenyataan ini, aku tahu bahwa melibatkan diriku dalam relasi bersama seseorang yang punya standar dan kepercayaan yang berbeda dariku hanya akan membawaku kepada sakit hati di masa depan. Ketika aku berdoa untuknya, juga berdoa agar kehendak Tuhan dinyatakan dalam diriku, aku mulai memikirkan beberapa pertanyaan serius: Apa yang sesungguhnya aku inginkan dari sebuah relasi? Lelaki itu sudah memberitahuku bahwa dia tidak percaya bahwa seks itu hanya boleh dilakukan dalam pernikahan, jadi maukah aku mengkompromikan imanku untuknya? Bisakah aku terus menahan semua tekanan ini? Apakah aku ingin menikah? Apakah kelak anak-anak kami akan dididik secara Kristen? Apakah kami memberikan persembahan persepuluhan? Apakah kami bergabung dalam gereja lokal? Apakah kami akan mendasari nilai-nilai hidup kami dalam firman Tuhan? Apakah Kristus akan menjadi bagian dari rumah kami? Apakah kami mengizinkan diri kami dipimpin oleh Roh Tuhan?

Jawabannya jelas. Tidak.

Aku berdoa memohon anugerah dari Tuhan agar aku dapat mengendalikan perasaanku. Sulit untuk menghindari lelaki itu di tempat kerja, tapi Tuhan memberiku rahmat untuk secara bertahap mengalihkan pikiranku dan menganggap relasiku dengan lelaki itu tak lebih dari dari pertemanan. Aku melakukannya dengan cara lebih fokus dengan pekerjaanku, dan berelasi lebih erat dengan perempuan-perempuan lain di tempat kerjaku. Aku mengambil kesempatan untuk memindahkan posisi tempat kerjaku ke ujung kantor, menjauhi diri darinya dan membatasi percakapan kami hanya dalam lingkup pekerjaan saja.

Apakah keputusan untuk berpisah dengan seseorang yang kusukai tetapi tidak seiman itu sulit? Ya. Apakah aku menyesali keputusan itu? Tidak. Aku tidak menyesal karena aku tahu segala sesuatu terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan (Roma 8:28). Aku juga tahu bahwa Tuhan ingin melindungiku dari sebuah relasi yang kelak akan melukaiku.

Meski hatiku waktu itu merasa sakit, aku percaya bahwa pengalaman inilah yang menguatkan imanku. Sekarang, aku bisa lebih mengendalikan perasaanku, seperti kita aku merasa marah atau kesal, atau ketika aku tergoda untuk meletakkan cinta dan kesetiaanku pada orang yang salah. Meskipun tidaklah mudah untuk mengatasi perasaanku sendiri, aku tahu bahwa Tuhan tidak akan membiarkanku dicobai melampaui apa yang dapat kutanggung (1 Korintus 10:13). Aku telah belajar untuk menantikan Tuhan dan menjaga hatiku dengan segala kewaspadaan (Amsal 4:23), sungguh-sungguh mempercayai-Nya dan menanti petunjuk-Nya sebelum aku membuat suatu keputusan dalam hidupku (Amsal 3:5-6).

Baca Juga:

Apakah Denominasi Gerejaku Penting Buat Tuhan?

Aku berasal dari gereja karismatik, tapi setelah menikah aku mengikuti suamiku ke gereja yang lebih tradisional. Perpindahan ini awalnya terasa sulit dan kaku. Namun, seiring waktu aku belajar untuk memahami apa yang jadi kerinduan Tuhan bagi setiap umat gereja-Nya.