Posts

Memulihkan Sisi “Parentless” Bersama Pacar, Mungkinkah?

Oleh Tabita Davinia Utomo

Pernahkah kamu berpikir mengapa pertengahan tahun sangat sering diwarnai dengan ketidakpastian dan gairah yang berkurang untuk melakukan apa pun? Kalau kamu pernah, well, kamu tidak sendirian, kok. Aku juga sedang mengalaminya saat ini, apalagi kalau bukan karena orang yang sedang mengerjakan tugasnya di depanku itu.

“Avery, kamu kenapa? ”

Aku menoleh ketika mendengar suara Matthew yang sedang menatap laptopnya, lalu menggelengkan kepala. “Nggak. Aku nggak apa-apa, kok.”

“Soalnya ekspresimu kelihatan beda, sih. Kayak lagi galau gitu. Ada yang kamu pikirin, ya?” Kali ini Matthew menatapku dalam-dalam.

Sebegitu jelasnyakah ekspresi wajahku di balik masker ini? batinku tak percaya.

Seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan, Matthew berkata, “Kita keluar sebentar, yuk. Biar nggak makin jompo badannya.”

Aku hampir saja tertawa, kalau tidak teringat bahwa sebentar lagi obrolan seperti ini tidak akan terjadi lagi dalam waktu dekat. Namun, dengan pura-pura ceria, aku menjawab, “Boleh.”

Di luar dugaan, Matthew mengajakku ke coffee shop yang ada di dekat kampus. Tidak seperti biasanya, kami berjalan dalam diam. Padahal selama ini, kami akan saling mengobrol ringan di dalam perjalanan kami. Rasanya aneh kalau kami diam saja. Kenapa, sih, aku ini? pikirku dengan tidak nyaman. Bahkan setibanya di coffee shop itu, kami masih tetap diam—kecuali saat memesan spicy bulgogi, creamy shroom, susu matcha, dan kopi pandan.

Setelah duduk di meja kami, Matthew kembali bertanya, “Ada yang menggelisahkan kamu, Ve?”

“Hmmm…” aku menggembungkan pipi, lalu berkata dengan pelan, “Kalau aku bilang nanti, kamu bakal kesel, nggak?”

Matthew mengerutkan dahi. “Kan, aku belum denger kamu mau bilang apa… Jadi belum tahu mau merespons apa…”

“Aku nggak mau kamu pergi.”

Tanpa sadar, aku menyela perkataan Matthew. Aku tidak tahan untuk bersikap baik-baik saja saat Matthew akan pergi ke luar pulau selama beberapa bulan ke depan untuk melakukan pengabdian masyarakat di sana. Bukannya ingin posesif: aku tahu kalau mengabdi di suku Asmat adalah salah satu cita-cita Matthew, dan aku senang kalau bisa mendukungnya berkarya di sana. Namun, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan diriku sendiri saat ini. Rasanya senang, tetapi juga khawatir dan… sedih.

Seakan memikirkan hal yang sama, Matthew berujar, “Tapi nanti aku akan tetep dateng ke wisudamu, kok… Masih keburu…”

“Bukan, sih. Bukan itu,” selaku lagi. “Aku tahu kamu pasti akan datang ke wisudaku setelah pengabdian itu. Cuma… aku juga bingung kenapa selebai ini buat LDR sebentar lagi. Sedih banget, ya.”

“Hmm… nggak juga.”

Jawaban Matthew membuatku menatapnya heran, karena selama berbicara tadi, aku berusaha menghindari tatapannya. Aku takut akan menangis di sini tanpa tahu alasan yang sebenarnya, dan itu justru membuat Matthew kesal. Tepat di waktu yang sama, sang pelayan memanggil Matthew untuk mengambil pesanannya, kemudian kami melanjutkan obrolan yang terputus.

“Maksudnya?” tanyaku sambil mengambil cream shroom-ku.

“Responsmu itu wajar, Avery.” Matthew tersenyum, sementara tangannya mengelus-elus tanganku dengan lembut. “Masa lalumu dengan papamu bisa membuatmu berespons demikian, dan aku bisa paham, kok. Nggak ada yang mau ditinggal pergi sama orang terdekat—apalagi saat kita masih bener-bener butuh perhatian dan kasih sayangnya, kan?”

“Iya, sih…” balasku dengan ragu-ragu, karena merasa titik lemahku dikulik-kulik.

Apa yang Matthew bilang membuatku teringat pada Papa yang meninggalkan Mama demi tugas negara, bahkan hingga hari kelahiranku tiba beliau tidak ada di samping Mama. Akibatnya, Mama jadi bersikap sangat keras padaku karena tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang Papa selama masa-masa kritisnya—bahkan hingga saat ini. Namun, mau bagaimana lagi? Tugas negara yang diemban itu membuat Papa terpaksa pergi dalam jangka waktu lama, sampai akhirnya beliau ditugaskan untuk bertugas di kota asalku hingga sekarang. Hanya saja, kebutuhan terhadap kelekatan yang sudah absen sejak kecil membuatku sangat canggung untuk berelasi dekat dengan Papa. Begitu pula dengan Mama yang otoriter. Tidak heran kalau kondisi seperti itu membuatku haus akan kasih sayang, bukan?

“Apa mungkin itu, ya, yang dibilang sama Kak Dhea?” tanyaku tiba-tiba saat teringat salah satu sesi konselingku bersama Kak Dhea, konselor kami (iya, kami mengikuti couple counseling bersamanya).

“Yang mana?” Matthew balik bertanya.

“Yang aku pernah ceritain itu… Waktu dia bilang, “Kepribadian Matthew yang friendly itu mengisi sisi “fatherless”-mu, kan?””

“Ohh…” Matthew tersenyum, lalu membalas, “Kamu juga, kok, Ve. Kamu juga mengisi sisi “motherless”-ku, bahkan lebih dari yang bisa aku bayangin sebelumnya.”

“Hmm… Kayak gimana maksudmu?” aku mengerucutkan bibir.

“Hehe… Dengan kamu mau dengerin dan kasih penguatan ke aku, itu lebih dari cukup. Aku jarang banget dengerin Mamaku kayak gitu.” Dia menggaruk kepalanya dengan salah tingkah.

“Iya, sih. Syukurlah kalau aku bisa memperlakukanmu sesuai kebutuhanmu.” Aku balas tersenyum, kemudian melanjutkan, “Tapi aku bersyukur karena bisa menjalin hubungan ini setelah punya gambaran yang baru tentang Bapa di surga…”

“Yaps. Kamu pernah share itu di paduan suara, kan? Waktu Bu Tracy tanya apa yang kamu bakal lakuin pertama kali kalau ketemu Dia?”

Aku mengangguk. “Dari dulu aku paling nggak suka kalau harus peluk Papaku. Entah. Aku merasa canggung, tapi juga ambigu. Mungkin antara love and hatred kali, ya. Tapi akhirnya aku sadar kalau seburuk-buruknya Papaku, aku punya Bapa yang pelukan-Nya selalu menyambutku, bahkan kalaupun aku nggak bisa peluk Papaku buat cari perlindungan…”

Sambil menyesap kopi pandannya yang sudah dingin, Matthew berujar, “Iya, ya… Pada akhirnya, nggak ada siapa pun atau apa pun yang bisa gantiin “parentless” yang kita alami—kecuali Tuhan sendiri.”

Matthew benar. Dulu, aku berpikir bahwa ironis ketika orang tua kita merelakan diri untuk menolong orang lain dan berjibaku di medan yang berbahaya, tetapi kehadirannya justru absen dari anggota keluarganya sendiri. Aku butuh beberapa tahun untuk bisa pulih dari cara pandang bahwa aku berhak untuk tidak mengasihi orang tuaku, sampai akhirnya membuat rasa haus akan kasih sayang itu mendorongku mencari pemenuhannya dari orang lain. Berkali-kali aku ingin punya pacar yang mampu menyayangi dan menerimaku, tetapi hasilnya selalu nihil. Entah karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, perbedaan latar belakang yang menjadi “tembok” bagi relasiku, hingga verbal abuse yang aku terima dari mantanku.

“Kamu nggak akan bisa nemuin orang lain sebaik aku, Avery!” kata mantanku itu dengan keras saat aku mau putus. “Aku cinta kamu sampai mau ngalah terus-terusan, tapi ini balasanmu!? Haha! Kamu egois banget!!”

Padahal momen itu adalah awal mula dari pemulihan hidupku. Aku—yang sedang menjalani konseling dengan konselor lain—pelan-pelan sadar bahwa karena sisi parentless-ku, aku menurunkan standarku dalam mencari pasangan hidup. Aku seolah-olah rela berelasi dengan siapa saja, selama dia seiman dan sanggup mengayomiku sebagai wanita. Namun, kenyataannya berkata lain: secara tidak sadar, hal itu juga membuatku ingin “kabur” dari orang tuaku sendiri tanpa mengalami rekonsiliasi yang diperlukan. Mungkin itu juga yang menyebabkan relasiku dengan mereka makin menjauh.

“He’em,” aku mengiyakan Matthew, “kalau bukan karena Tuhan, aku nggak akan sadar secepat ini kalau isu “parentless” bisa jadi “tembok” untuk relasi kita. Jadi… maafkan aku, ya, Matt, kalau tadi aku kedengarannya egois.”

“Nggak apa-apa, kok, Ve…,” balas Matthew. “Aku juga bersyukur karena lewat relasi ini, aku merasa Tuhan sedang memulihkanku. Bukan berarti aku pengen pacaran biar bisa pulih dari “parentless”-ku, ya. Tapi aku juga mau konteks relasi ini jadi sesuatu yang mendewasakan kita dan bikin kita makin kenal Tuhan dan saling kenal diri sendiri.”

“Iya. Makasih udah ingetin aku, Matthew.” Aku tersenyum, mengingat naik-turunnya relasi kami ternyata tidak sia-sia untuk dijalani.

“Jadi, aku dibolehin pergi nggak, nih?” Matthew bertanya dengan iseng.

Aku tertawa dan mengangguk. “Iya. Hahaha… Pergilah dengan damai sejahtera, Kakakk. Dua bulan LDR mah bisalah, yaa.”

Di luar dugaan, Matthew membalas dengan kalimat dan gestur yang menghangatkan hatiku.

“Kalau pun nanti aku pergi, Avery tetep pegang tangan Tuhan, ya. Dia akan selalu bersamamu, dan cuma Dia yang layak untuk Avery percayai sepenuhnya. Tapi kalau Tuhan berkenan kasih kesempatan buatku…”

Tiba-tiba Matthew menggenggam tanganku yang sedang memegang susu matcha di meja. Sambil sesekali mengalihkan pandangannya ke tangan yang digenggamnya, dia melanjutkan, “Aku mau diutus-Nya untuk pegang tangan ini dan melindungi pemiliknya sebagai pendamping hidupku.”

Ya, sisi parentless yang kami miliki mungkin dapat membuat kami kehilangan harapan akan adanya kasih sayang dan penerimaan yang utuh. Ada kalanya pula Matthew mengecewakanku, pun sebaliknya. Namun, relasi ini justru mengajarkan kami bahwa ketika Tuhan memulihkan anak-anak-Nya dengan cara-Nya, Dia bisa memakai apa pun—termasuk relasi yang Dia anugerahkan pada mereka. Terlepas bagaimana ujung kisah kami, aku berdoa agar aku tidak menyesali relasi ini, karena kami sama-sama melihat bahwa ada pertumbuhan dan pemulihan yang Tuhan hadirkan bagi kami secara pribadi—maupun sebagai pasangan.

Mengapa Harus Menegur Jika Bisa Membiarkan?

Oleh Toar Taufik Inref Luwuk, Minahasa

“Duuuh! Kamu gimana, sih. Harusnya nggak kaya gini…”

Mungkin beberapa dari kita ada yang menegur seperti itu ketika seseorang melakukan kesalahan atau ada juga yang memilih untuk mendiamkannya (tidak menegur). Padahal kita tahu kalau seseorang salah, kita punya kewajiban untuk mengingatkannya. Tapi, bagaimanakah cara kita menegur? Apakah teguran dapat menyadarkan dan memperbaiki kesalahan? Atau malah membuat seseorang itu jadi cuek terhadap kita (tidak peduli, sakit hati lalu pergi, dan semacamnya)?

Semua orang tak luput dari kesalahan atau melakukan dosa, tetapi tidak semua kesalahan dapat disadari. Oleh karena itu terkadang kita butuh bantuan orang lain untuk melihat kesalahan-kesalahan yang kita sendiri tidak menyadarinya.

Tapi, menegur memang bukan perkara mudah. Dari dulu sampai sekarang, aku kurang berani menegur orang sekalipun aku yakin teguranku itu benar. Aku khawatir akan respons orang tersebut setelah aku menegurnya, apakah mereka akan menerima teguran itu atau malah membenciku. Ditambah lagi, aku itu orangnya gak enakan. Padahal aku tahu bahwa ketika menegur, perasaan tidaklah jadi indikator utama.

Asumsi-asumsi itu menciptakan berbagai pertanyaan dalam benakku. Bagaimana cara menyampaikan teguran agar bisa diterima dengan baik? Kenapa harus aku yang terbeban melihat kesalahannya? Kenapa aku tidak bisa merasa “bodo amat” terhadap urusan orang lain? Sebagai orang Kristen, apakah menegur itu perlu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab lewat bacaan buku dan refleksi pribadi. Secara sederhana, teguran adalah bukti kasih kita kepada sesama karena setiap orang memiliki blind spot yang bisa menyeret seseorang ke dalam dosa. Tidak salah untuk menegur orang lain karena ini adalah tanggung jawab orang Kristen untuk saling menjaga. Sebaliknya, tidak menegur berarti mengabaikan tanggung jawab moral yang Allah berikan sebagai saudara seiman. 2 Timotius 4:2 “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

Melalui ayat di atas, kita juga diingatkan bahwa menegur bukan berarti menjatuhkan, melainkan membantu orang lain menyadari kesalahannya, memperbaikinya, kemudian menjadi lebih baik dan serupa dengan Kristus.

Amsal 27:17 mengatakan “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”

Ayat ini mungkin sudah sangat familiar bagi orang Kristen. Jika membaca ayat ini, yang terlintas dalam benakku adalah konflik. Kenapa konflik? Tidak dipungkiri, teguran kadang mengantar kita pada konflik. Tetapi, konflik bukanlah hal yang tabu. Melalui konflik kita dapat saling menajamkan karakter dan hati sesama, tetapi tergantung bagaimana kita meresponi suatu konflik, apakah dengan berhikmat atau tidak. Amsal 10:13 “Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.”

Oleh karena itu, ketika terjadi konflik, kita harus mengembangkan sikap hati yang peduli. Saling menegur adalah salah satu kunci untuk membentuk relasi yang sehat dan bertumbuh dalam Tuhan. Tapi kenyataannya, masih banyak dari kita yang memilih tidak menegur atau mungkin kita sudah menegur, tapi tidak diterima dengan baik. Meskipun ketika kita sudah menegur dengan baik tetapi teguran itu dimaknai lain, kita tidak boleh kecewa. Menegur adalah perbuatan baik dan harus dilakukan (Yakobus 4:17). Diterima atau tidaknya teguran merupakan campur tangan Allah. Bagian kita adalah memilih untuk menegur dalam kasih serta mendoakannya.

Dalam menegur, hal utama yang dibutuhkan adakah kasih, diikuti kedewasaan rohani (kebijaksanaan & hikmat) serta rasa tanggung jawab membimbing seseorang yang berbuat salah untuk memperbaiki kesalahannya dan menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi, bukan berarti si penegur tidak bisa kebal dari kesalahan. Paulus pun mengingatkan hal itu dalam Galatia 6:1 yang berkata:

“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”

Setiap teguran yang hendak kita lontarkan harus didahului dengan tiga hal, yaitu fakta, firman Tuhan, dan doa.

Sebelum menegur seseorang, kita harus mengetahui dengan jelas dan rinci apa yang sebenarnya terjadi. Akan lebih baik jika kita tanya sudut pandangnya (ini membuktikan bahwa kita menghargai orang tersebut). Jika terbukti salah, kita dapat menegurnya di waktu yang tepat (Amsal 25:11) dan tentu saja dengan penuh kasih. Selain itu, usahakanlah untuk menegurnya secara pribadi, bukan di depan orang lain (Matius 18:15).

Aku teringat akan pembuatan sebuah pedang yang prosesnya panjang. Besi harus ditempa, dibentuk, dan dibakar hingga menghasilkan sebuah pedang tajam dan siap pakai. Demikian juga manusia, untuk menjadi seperti pedang yang tajam dan berguna, kita akan melalui proses panjang dan berat. Setiap teguran dan konflik adalah cara-cara Tuhan untuk membentuk kita agar kita siap dipakai dalam pekerjaan-Nya.

Ingatlah selalu, bahwa tujuan kita menegur seseorang bukan untuk menjatuhkan atau melampiaskan kekesalan kita atas perbuatannya, tapi karena kita mengasihinya dan kita rindu untuk sama-sama bertumbuh dalam Kristus.

Efesus 4:15 “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

*Tulisan ini dibuat terinspirasi dari Buku yang ditulis oleh Sen Sendjaya “Jadilah Pemimpin Demi Kristus” dalam topik Seni Menegur Pemimpin.

Persahabatan Lelaki dan Perempuan: Beneran Sahabat atau PDKT?

Oleh Jacq So
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Can Guys and Girls Really Just Be Friends

Kebanyakan orang berpikir kalau persahabatan yang murni antara lelaki dan perempuan itu tidak mungkin. Film When Harry Met Sally menegaskan pemikiran itu: bahwa persahabatan lawan jenis tidak mungkin terjadi tanpa salah satu atau kedua belah pihak akhirnya saling jatuh cinta. Sementara itu, sepengetahuanku gereja biasanya melihat relasi antara laki-laki dan perempuan hanya sebatas pada apa yang boleh dan tidak.

Sebagai remaja yang sudah terpengaruh oleh pemikiran bahwa setiap lelaki bisa saja jadi jodohku, aku berteman dengan banyak lelaki dan memfilter manakah yang kira-kira cocok jadi jodohku. . Tapi, aku kesal karena bukannya menjadi sosok yang terlihat romantis, aku malah dianggap seolah jadi saudara perempuan sendiri.

Barulah ketika Tuhan menghadiahiku kesempatan untuk menjadi single kembali, aku menyadari betapa beruntungnya memiliki teman laki-laki yang benar-benar teman. Temanku datang untuk menemaniku, mengobrol selama berjam-jam. dan berbagi makanan dan film tanpa terjebak dalam romantisme. Aku menikmati banyak keuntungan untuk lebih mengenal secara natural, tanpa terjebak dalam upaya untuk membuat satu sama lain terkesan.

Yesus memberikan contoh tentang indahnya persahabatan lawan jenis. Dia dekat dengan sepasang saudari, Maria dan Marta dari Betania. Pada dua kesempatan, Yesus disambut hangat sebagai tamu di rumah mereka, dan mereka pun cukup terbuka satu sama lain. Martha tidak sungkan meminta agar Yesus memberitahu adiknya (Lukas 10:40). Kedua saudara perempuan itu juga berani untuk meminta Yesus datang dan menyembuhkan saudara laki-laki mereka ketika Dia berada di tengah-tengah pelayanan-Nya (Yohanes 11:3). Yesus secara terbuka menangis bersama mereka dalam kesusahan mereka ( Yohanes 11:35 ).

Yesus menunjukkan bagaimana pria dapat menjaga dan memahami wanita secara terhormat sebagai teman, terutama pada saat wanita dianggap lebih rendah derajatnya dibanding laki-laki. Maria dan Marta pun menunjukkan bagaimana wanita dapat membalas perlakuan hormat seperti itu melalui persahabatan murni yang membuat cinta mereka kepada-Nya menjadi nyata.

Di zaman modern ini ketika relasi menjadi kompleks, bagaimana kita bisa menumbuhkan persahabatan antar gender yang sehat?

1. Selalu ada kesamaan

Aku belajar mengemudi lebih lambat dibanding teman-temanku. Supaya lebih mahir, aku meminta sekelompok pria yang sudah kukenal sejak SMA untuk mengajariku seminggu sekali. Kami pun berteman baik, dan seusai sesi menyetir, kami sering menonton film dan berdiskusi intens tentang masalah karakter fiksi superhero.

Melangkah ke dunia pria cukup mudah bagiku karena aku tumbuh di sekitar anak laki-laki dan memiliki minat yang sama dengan mereka. Tetapi, terlepas dari tipe perempuan seperti apa kamu, menurutku selalu ada kesamaan yang bisa ditemukan dengan laki-laki. Selain hobi dan minat, kita semua berbagi pengalaman hidup seperti sekolah, pekerjaan, dan bagi orang percaya: satu minat bersama yang selalu kita miliki adalah Yesus Kristus.

Aku pernah ikut beberapa kelompok belajar Alkitab di mana aku mendapat berkat tidak hanya dari kebijaksanaan dan nasihat para pria, tetapi juga dari kesediaan mereka untuk terbuka tentang kesulitan mereka. Mendoakan mereka jadi cara sederhana yang memampukanku untuk melayani rekan-rekan lelakiku seolah saudaraku sendiri.

2. Tidak semua perbuatan baik yang dilakukan adalah kode

Ketika aku berada di Amerika untuk bertemu dengan beberapa teman, aku benar-benar terkesima dengan betapa sopannya mereka. Mereka akan bergegas membukakan pintu untukku dan teman perempuan lain dan melangkah mundur untuk membiarkan kami masuk lebih dulu. Mereka memastikan kami sampai di hotel dengan selamat. Tindakan itu menunjukkan kesopanan yang sudah lama tidak kulihat. Tetapi aku kembali tersadar ketika aku kembali ke rumah dan menyaksikan lima rekan laki-lakiku berdiri sementara seorang wanita berjuang untuk memindahkan meja sendirian.

“Kesatria sudah mati,” keluh banyak wanita. Tapi, kurasa kesatria itu tidaklah mati. Dunia kita mendefinisikan gentleman hanya sebagai perilaku romantis. Akibatnya, melakukan hal-hal baik kepada lawan jenis itu seperti menebar ranjau. Para lelaki takut apabila kebaikan dan sikap sopan itu malah disalahartikan, yang membuat canggung. ,

Di masa lalu, aku terjebak overthinking. Tindakan baik yang dilakukan para lelaki terhadapku kumaknai sebagai kode. Akibatnya, aku sulit menanggapi mereka dengan natural. Respon inilah yang membuat persahabatan menjadi canggung dan mungkin membuat beberapa pria enggan untuk bersikap lembut kepada wanita di masa depan.

Sekarang aku menilai setiap tindakan baik dari lawan jenisku murni sebagai tindakan baik. Aku mengizinkan mereka bersikap sopan padaku, dan kuucapkan terima kasih setiap kali mereka menawarkan diri untuk membayar kopi, atau mengantarku pulang agar aku tidak perlu bolak-balik. Cukup itu saja. Perbuatan baik adalah perbuatan baik, tidak perlu selalu diartikan sebagai kode kecuali dia memang mengirimkan sinyal yang jelas.

3. Komunikasikan status kamu dengan jelas

Aku kenal seorang wanita yang mengomunikasikan intensinya hanya untuk berteman sejak awal pertemuan. Di awal mungkin terlihat aneh untuk bersikap sangat terbuka mengenai relasi, tapi aku menganggapnya sebagai langkah yang bijaksana. Bagaimanapun, faktor utama dalam persahabatan lawan jenis yang baik adalah kejelasan tentang siapa kamu untuk satu sama lain. Ada kalanya pria mencoba memikat wanita melalui gerakan tubuh atau isyarat lain dengan harapan si wanita akan merespons balik. Cara terbaik untuk menghindari kebingungan adalah komunikasikan secara terbuka bahwa kamu hanya seorang teman.

Sebagai aturan umum untuk pertemanan, aku juga menghindari waktu berdua dengan laki-laki kecuali dengan mereka yang sudah sepaham kalau kami “hanya teman”. Jika memang tidak ada diskusi serius yang harus kami lakukan secara empat mata, aku lebih suka mengobrol bersama teman-teman lain supaya batasannya jelas, dan agar tidak menimbulkan gosip dari teman-teman lain.

4. Jangan biarkan gosip mempengaruhi caramu memandang teman lawan jenis

Beberapa tahun yang lalu, aku ketahuan oleh ibu-ibu gereja sedang sarapan dengan seorang teman dekat setelah kebaktian hari Minggu. Minggu berikutnya, salah satu dari mereka kepo apakah aku ada hubungan khusus dengan lelaki itu. Kujelaskan bahwa kami hanya berteman, tetapi tampaknya itu tidak cukup untuk menghentikan pembicaraan bahwa ada (atau seharusnya) relasi lebih dari teman di antara kami.

Omongan orang lain seringkali menjadi batu sandungan bagi berkembangnya persahabatan lawan jenis, terutama antara pria dan wanita lajang. Gosip membuat sepasang sahabat jadi ikut-ikutan berpikir, jangan-jangan memang relasi ini lebih dari sekadar persahabatan. . Persahabatan yang baik pun terguncang oleh ekspektasi orang lain.

Jika persahabatanmu dijadikan bahan gosip, kamu dan sahabatmu harus sepakat tentang status relasi kalian. Jika memang tidak ada intensi pacaran, hindarilah obrolan-obrolan romantis dan dengan sopan mintalah orang-orang yang berlagak seperti mak comblang untuk tidak ikut campur dalam relasi kalian.

Ketika berbicara tentang persahabatan lawan jenis, jagalah selalu hati dan pikiran, dan pastikan kita memperlakukan teman kita dengan tepat: apakah kita hanya ingin berteman atau mau berkomitmen lebih? Paulus memberi kita wejangan dalam 2 Timotius 5:1-2: selama belum menikah, laki-laki dan perempuan harus memperlakukan satu sama lain seperti keluarga.

Bagi para wanita, jangan bersikap genit atau ingin diprioritaskan oleh seorang lelaki yang statusnya hanya teman. Lihatlah para teman lelaki kita sebagai saudara dan perlakukan mereka sebagaimana teladan Yesus. Doakan mereka, berusahalah untuk membangun hubungan yang erat dengan Yesus (atau jika mereka belum mengenal Yesus, kamu bisa bercerita juga tentang-Nya) ), dan doronglah mereka untuk melakukan “kasih dan perbuatan baik” (Ibrani 10: 24).

Move On dari Persahabatan yang Retak

Oleh Jane Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Moving on From a Friendship Breakup

Sudah lebih dari delapan bulan berlalu sejak malam ketika aku dan temanku mengobrol serius.

Dalam relasi pacaran, obrolan serius biasanya mengindikasikan adanya  masalah besar. Tetapi, di dalam kasus kami—sebagai teman—aku mengharapkan supaya masalah kami  berakhir dengan permintaan maaf diwarnai tangisan dan pelukan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Salah paham berlanjut jadi saling menuduh, dan setelahnya kami pun jadi saling menghindar. Aku dan temanku telah berkawan lebih dari 19 tahun. Ketika aku kabur dari rumah dulu, aku tinggal di rumahnya. Itulah sekelumit kesan akan betapa dekatnya kami.

Setelah bertahun-tahun tinggal di negara berbeda, di tahun 2020 kami akhirnya kembali ke tempat yang sama. Kami bersemangat untuk berkawan akrab lagi. Namun, kedekatan kami yang tak lagi terhalang jarak membuat banyak perbedaan yang sebelumnya tak terlihat, malah menjadi jelas. Dan, sedihnya itu memperluas jurang di antara kami. 

Aku pernah punya sahabat, yang sekarang tak lagi dekat karena kami telah bertumbuh dewasa, pindah rumah, menikah, punya anak, dan sebagainya. Tetapi, aku belum pernah mengalami “putus” persahabatan yang dilakukan secara sengaja, lalu aku pun dijauhi. Aku mengatakan ini sebagai “putus” karena saat obrolan terakhir kami, jelas bahwa kami masih peduli satu sama lain. Tetapi juga jelas bahwa kami tidak bisa mengembalikan pertemanan kami seperti semula. 

Tidak seperti putus cinta, di mana orang-orang yang move-on dengan baik dapat berteman dengan mantannya, dalam persahabatan, aku belum mengerti seperti apa rasanya “masih berteman” dengan mantan sahabat.

Saat aku merawat lukaku dan berduka atas kehilangan dan perasaan dimusuhi, aku pun merenungkan melalui peristiwa ini apa yang mungkin Tuhan ajarkan kepadaku. Tentu saja, memang tidak semua masalah memberikan pelajaran berharga. Tetapi, bagi kita orang-orang percaya, penderitaan dapat mendorong kita untuk memikirkan tentang Allah dan bagaimana Dia mungkin bekerja dalam kita.

Jadi, inilah beberapa pelajaran yang aku raih dari pengalaman ini:

  1. Longgarkan sedikit ikatan persahabatanmu, tetapi kuatkanlah ikatanmu pada Tuhan

Aku baru-baru ini sadar bahwa apa yang menyebabkan putusnya persahabatan kami adalah perbedaan mencolok dalam cara pandang kami, yang diperparah dengan asumsi bahwa kami harus selalu memahami dan setuju satu sama lain.

Temanku berharap pengalaman dan kesuksesannya dapat membimbingku menuju kesuksesanku sendiri; tetapi ketika ia merasa aku tidak tertarik untuk mengikuti nasihatnya, ia kecewa. Aku, di sisi lain, berharap kalau dia akan berempati dengan perjuanganku Lama-lama aku kesal karena dia selalu berusaha mengoreksiku. Kita tahu orang-orang berubah, tetapi jika menyangkut hubungan terdekat kita, mungkin sulit untuk menerima perubahan ini. Kita ingin orang yang kita kasihi “tidak pernah berubah”, karena jika mereka berubah, itu dapat merusak harmoni dalam hubungan yang sudah kita bangun. Dan jika hubungan itu rusak, kita pun kehilangan dukungan dari orang yang kita andalkan. 

Pengalaman ini mengajarkanku betapa baiknya mengetahui bahwa Allah tidak berubah. Bilangan 23:19 mengatakan, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.”

Setiap kali aku mengeluh tentang Allah yang terasa jauh dariku, sungguh sebuah penghiburan untuk mengetahui bahwa Tuhan bukanlah manusia. Dia tidak akan berubah pikiran tentang aku besok, atau selamanya. Kasih yang Dia janjikan akan ditepati.

  1. Memaafkan memang menyakitkan

Setiap kali rasa sakitku muncul kembali, memilih untuk memaafkan—agar aku tidak memendam kebencian—bisa terasa sangat menyakitkan. Kadang-kadang, dalam upayaku untuk menutupi lukaku, aku melampiaskan kemarahan—aku berpikir kok bisa temanku itu dengan sengaja menyakitiku, dengan kata-katanya, bagaimana dia mengatakan satu hal dan melakukan hal lain, bagaimana dia telah merusak kepercayaanku.

Tetapi, ketika badai rasa sakit itu berlalu, aku melihat Allah berdiri di sana, dengan sabar menungguku untuk mendengarkan apa yang Dia katakan. Dia kemudian menunjukkan kepadaku lagi seperti apa pengampunan-Nya—meskipun menyakitkan bagiku untuk mengampuni dan mengasihi, betapa lebih menyakitkan bagi Dia ketika Yesus tergantung di kayu salib.  Betapa lebih sakitnya Dia ketika kita berpaling dari-Nya.

Memaafkan itu menyakitkan, oleh karena itu saat kita belajar untuk memaafkan, lihatlah kepada Dia yang paling terluka, dan percayalah bahwa luka-Nya akan menyembuhkan kita, dan memperbesar kapasitas hati kita untuk mengasihi.

  1. Cinta manusia itu bersyarat

Temanku bukan seorang Kristen, dan aku sungguh-sungguh berdoa agar ia diselamatkan. Tetapi setelah konflik, ada hari-hari ketika aku tidak ingin mendoakannya. Di saat-saat terburukku, aku mengaku kepada Tuhan bahwa kurasa aku tidak lagi peduli dengannya.

Tetapi Tuhan, dalam belas kasihan-Nya yang tak terbatas, tidak menghajarku karena pikiranku. Sebaliknya, Dia dengan kuat memegangku dan menyadarkanku dengan  kebenaran-Nya:

Jika kamu mencintai orang yang mencintai kamu, apa bedanya kamu?

Apakah kamu lebih layak untuk diselamatkan? Begitukah cara kerja kasih karunia-Ku?

Dan sekali lagi, dengan rendah hati aku tergerak untuk mengakui dosa-dosaku.

  1. Menaruh harapanku pada Allah terkadang berarti melepaskan ekspektasi kita sendiri 

Suatu kali aku membaca sebuah artikel yang membahas tentang kehilangan relasi, yang mengingatkanku betapa aku menginginkan kami bisa kembali bersahabat seperti dulu. Namun, aku masih bergumul dengan kepahitan di hati. Hatiku seolah berkata kalau  aku mau melakukan apa pun demi pulihnya relasi kami. Aku akan memaafkan dan melupakan jika itu berarti kita bisa berteman lagi.

Tapi, aku tahu itu bukanlah cara memaafkan yang baik. Ketika Tuhan memanggilku untuk memaafkan, Dia tidak meyakinkanku bahwa setelah aku memaafkan temanku, relasi kami dapat kembali hangat seperti sebelumnya. Dia juga tidak berjanji untuk memberiku teman baru yang akan menggantikan teman lama. Faktanya, Dia tidak mengatakan sesuatu yang spesifik untuk tujuan itu, tentang hasil penuh harapan seperti apa yang dapat aku harapkan di sisi kehidupan ini.

Sebaliknya, Dia mengajarku bahwa pemulihan yang dijanjikan-Nya tidak berarti segala sesuatunya kembali seperti semula. Pemulihan dari Allah juga bukan untuk memenuhi harapan duniawi kita. Seperti Roma 8:23-25 katakan kepada kita:

Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

Dua minggu lalu, aku memutuskan untuk mengirim pesan kepada temanku dan mengajaknya bertemu. Selama beberapa jam aku merasa ketakutan, tidak tahu bagaimana dia akan merespons. Tetapi coba tebak—ia dengan senang hati menjawab ya, jadi kami pergi minum kopi dan mengobrol selama beberapa jam.

 “Obrolan kami asyik, seperti dulu.” Mungkin itu respons yang kamu harapkan. Tapi, ada perubahan yang membuat pertemuan kami tak seperti saat-saat ketika kami begitu akrab, dan mungkin tak akan pernah kembali seperti itu. 

Tapi, itu tidaklah masalah . Itulah yang aku pelajari dari pengalamanku: ketika pergumulanmu tak menemui solusi yang kamu harapkan,Tuhan senantiasa ada buatmu Janji-Nya untuk menemaniku, melindungiku, dan mencintaiku dalam segala keadaan selalu benar dan ditepati-Nya.

Artikel ini diterjemahkan oleh Joel Adefrid

Berelasi di Umur 20-an, Kamu Akan Mengalami Ini…

Manusia adalah makhluk sosial… kamu tentu ingat kutipan ini, yang pernah disebut dalam masa-masa sekolahmu di bangku SD dulu.

Itu memang benar. Manusia membutuhkan sesamanya, untuk saling menolong, untuk berbagi kisah, untuk berbagi sedih, dan berbagi jutaan hal.

Memasuki usia 20-an, cara kita berelasi dengan sesama akan mengalami perubahan.

Hal-hal apa nih yang kamu alami dalam berteman di fase-fase ini?

Dua Hal yang Kupelajari dari Terhubung Kembali

Oleh Vika Vernanda, Jakarta

Siapa yang tidak familiar dengan kata reconnect?

Di masa serba daring seperti sekarang, kata itu sepertinya sering terdengar atau bahkan terucap oleh kita sendiri. Reconnect identik dengan jaringan internet yang sebelumnya terganggu atau bahkan terputus. Dalam Bahasa Indonesia, reconnect berarti terhubung kembali.

Seperti jaringan internet, tahun 2021ku dipenuhi oleh relasi yang terganggu atau bahkan terputus. Pandemi yang menyebabkan isolasi membuatku banyak menikmati waktu sendiri. Relasi dengan teman-teman persekutuan dan kuliah yang biasanya terjalin setiap hari terpaksa berhenti. Namun, sejak awal tahun ini, aku memberanikan diri kembali menghubungi beberapa pribadi dan rutin berkomunikasi hingga saat ini. Aku melakukan reconnect versiku.

Proses reconnect yang paling berarti buatku adalah dengan adik-adik kelompok kecilku. Sekitar 2 tahun lalu, aku memimpin kelompok kecil (KK), yaitu sebuah kelompok pendalaman Alkitab di sebuah sekolah asrama di Jakarta. Kelompok ini beranggotakan aku dan tiga orang siswa dari sekolah tersebut. Saat ini, siswa-siswa yang kupimpin sudah menduduki bangku kuliah di kota yang berbeda-beda. Satu dari mereka berkuliah di Depok, satu di Surabaya, dan satu lagi di Bandung, dan aku di Jakarta. Harapan awalku untuk terhubung kembali dengan mereka adalah untuk membangun persahabatan personal. Aku menghubungi satu persatu dari mereka via daring, dan tidak berharap akan adanya pertemuan kelompok mengingat lokasi dan kesibukan yang berbeda tentunya akan menyulitkan.

Dari komunikasi dengan ketiga adik kelompok kecilku tersebut, aku belajar dua hal yang membuatku sangat bersyukur kepada Tuhan.

Pertama, ternyata bukan hanya aku yang merasa sendirian.

Setiap pertemuanku dengan masing-masing dari mereka diawali dengan mereka yang berkata “Ya ampun, kangen banget, Kak”. Pembahasan kami kemudian dilanjutkan dengan cerita hidup di masa pandemi yang semuanya seringkali merasa sendirian. Seperti yang ku alami, mereka juga mengalami isolasi di masa pandemi ini. Mereka tidak bisa dengan mudah berkomunikasi dengan teman-teman yang biasa bersama mereka 24/7. Satu kesimpulan yang aku dapat dari pembicaraan dengan mereka adalah mereka juga merasa sendiri, bukan hanya aku yang merasakannya. Hal ini menyadarkanku bahwa setiap kita membutuhkan satu sama lain, yang membawaku pada poin dua.

Hal kedua yang kupelajari adalah meskipun sulit, kehadiran komunitas harus tetap diperjuangkan.

Kalimat yang juga muncul dalam obrolanku dengan masing-masing dari mereka adalah “Kangen rohkris banget, Kak.” Aku mengangguk, sebagai tanda setuju dengan mereka. Ketika masih berada dalam percakapan tersebut, aku tidak tahu harus berkata atau berbuat apa. Namun keesokan harinya, salah seorang dari mereka mengatakan “KK lagi apa kita, Kak?”. Aku sempat mengira dia hanya bercanda, mengingat aku tidak memiliki ekspektasi akan hal ini sebelumnya. Ternyata dia serius. Aku pun langsung menghubungi kedua adik yang lain untuk mengajak melanjutkan KK lagi, dan mereka sangat antusias! Salah satu dari mereka bahkan ada yang berkata “Plis banget lah kak yok, udah mohon-mohon ini mah.”

Apakah aku senang? Jawabannya iya. Tapi apakah aku langsung setuju? Tentunya tidak.

Saat ini aku adalah seorang karyawan swasta dan mereka adalah mahasiswa dari kampus yang berbeda-beda sehingga hal yang pertama terbayang olehku adalah sulitnya mengatur jadwal antara kami. Tapi kemudian aku teringat kembali bagian alkitab yang kami bahas dua tahun lalu dari Pengkhotbah 4:9-12: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”

Bagian firman itu mengingatkan kembali tentang prinsip persahabatan yaitu tolong-menolong, saling membangun, dan saling menjaga. Masing-masing dari kami merasa sendirian, tapi kami tidak sendirian seorang diri. Lewat kelompok kecil, kami bisa kembali saling menjaga, tolong-menolong, dan saling membangun menuju keserupaan dengan Kristus. Aku-pun setuju dengan usulan mereka untuk kembali melanjutkan kelompok kecil ini. Memang kesulitannya sudah berada di depan mata, tapi kehadiran komunitas ini harus tetap diperjuangkan.

***

Hal ini menjadi salah satu peristiwa reconnect dalam hidupku yang membuatku tidak bisa tidak bersyukur kepada Tuhan. Aku semakin menyadari bahwa manusia memang diciptakan untuk terhubung. Terhubung dengan Tuhan, dan juga dengan sesama.

Untukmu yang juga mengalami gangguan atau putusnya relasi akibat pandemi atau apapun itu, mari berjuang untuk kembali terhubung dengan mereka. Karena lewat keterhubungan kembali, natur manusia dipenuhi dan kasih Tuhan terus terbagi.

Natal, Demensia, dan Bahagianya Jika Kita Diingat

Oleh Agustinus Ryanto

Hatiku was-was melihat langit Surabaya yang semakin mendung. Buru-buru kupacu motorku untuk tiba lebih dulu di toko buah-buahan sebelum kulanjutkan pergi ke rumah seorang lansia.

Lansia yang hendak kukunjungi ini bernama Opa Bhudi. Dia tinggal bersama istrinya yang juga usianya sudah sepuh. Tiga tahun lalu, tatkala aku melakukan perjalanan pelayanan di Surabaya, mereka menyediakan rumahnya sebagai tempat tinggalku. Tidak sehari dua hari, tapi selama sembilan malam. Di hari pertama aku tinggal, suasana terasa kaku. Barulah setelah tiga hari, ketika kami mulai banyak mengobrol, kehangatan pun terbangun. Opa dan Oma dikaruniai empat orang anak dan banyak cucu, tapi semua anaknya telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Tersisalah mereka berdua, merajut hari-hari di masa senja.

Kehadiranku selama sembilan malam itu rupanya menjadi simbiosis mutualisme. Opa dan Oma senang karena ada kawan yang bisa diajak mengobrol tentang banyak hal. Aku pun senang karena seolah menjumpai kembali kakek dan nenekku. Setelah dinas pelayananku usai, relasi kami tidak terputus. Dalam beberapa kesempatan saat aku ke Surabaya, aku selalu bertandang ke rumah mereka. Atau, jika aku tidak sempat ke sana, kukirimkan buah-buahan melalui toko daring.

Dihantam oleh demensia

Kira-kira lima bulan lalu, aku menghubungi Opa Bhudi lewat WhatsApp. Meski usianya sudah 86 tahun, Opa masih piawai menggunakan ponsel. Kalau membalas chatku, dia sering pakai sticker atau video-call. Dia pun masih aktif beraktivitas—menyetir mobil ke gereja, bahkan masih praktik sebagai dokter gigi!

Namun, hari itu tidak biasa. Buah dan pesan yang kukirim tidak direspons. Selama beberapa bulan aku kehilangan kontak mereka. Barulah setelah kucari informasi dari gereja tempat mereka berjemaat, aku tahu bagaimana keadaan mereka.

“Oh, Om Bhudi ya. Beberapa bulan lalu dia kena demensia dan stroke,” ketik seorang dari komisi pemuda.

“Waduh, terus gimana keadaannya?” tanyaku penasaran.

“Ya, sudah tidak bisa lagi aktivitas, tapi keadaannya ya bisa dikatakan stabil.”

Pesan itu membuatku tercenung. Seorang pria lansia yang biasanya aktif, kini harus tergolek lemah dan pelan-pelan kehilangan memorinya. Istrinya pun sudah sama rentanya, malah ada sakit punggung. Bagaimana mereka bisa saling merawat?

Sebulan setelahnya, aku pun menetapkan hati untuk pergi ke Surabaya. Kuingat-ingat kembali jalanan kota Surabaya yang lebar-lebar dan kadang bikin puyeng kepalaku. Kusinggah dahulu ke toko buah untuk membelikan mereka jeruk, apel, dan pir.

Rumah Opa Bhudi ada di tengah kota, tak jauh dari Stasiun Pasar Turi. Gerbangnya masih berwarna sama, tanpa ada pengecatan ulang. Yang jadi pembeda hanyalah tak lagi kulihat seekor kucing coklat yang biasanya menemani Opa di halaman.

Melihatku datang dengan menaiki sepeda motor dari Jakarta, istri dari Opa Bhudi menepuk kepalaku.

“Haduh! Kok nekat?!” katanya sembari memegang kedua bahuku, lalu mempersilakanku duduk sebentar.

“Opa sudah sakit. Stroke. Susah bangun. Ingatannya pudar,” tutur Oma. “Ayo sudah, sini kamu masuk ke kamar.”

Setahun kemarin saat aku singgah ke sini, badan Opa masih segar bugar terlepas usianya yang sudah lebih dari delapan dekade. Tapi, hari itu aku melihat rupa yang amat berbeda. Raga yang dahulu masih tegap, kini telah ringkih dan tak berdaya. Dia terbaring meringkuk di atas kasur. Urat-uratnya tampak jelas karena lapisan lemak telah susut dari balik kulitnya.

“Pah, coba ndelok, iki sopo sing teko?” Oma sambil menggoyang tubuh opa. “Coba lihat, siapa yang datang?” ujarnya.

Opa membuka matanya dan semenit lebih aku ditatap dalam diam. Matanya menyipit, dahinya mengernyit. Pelan-pelan dia coba membongkar kembali labirin otaknya yang rapuh dikikis oleh demensia.

“Lohhh! Kamu, kok baru ke siniii???”

“Lohh, Opa masih ingat nggak siapa aku?” aku balik bertanya.

“Ingat! Kamu Agus, dulu kamu sering main ke sini loh…” jawabnya sambil tertawa kecil.

Aku senang bukan main. Di dalam memorinya yang kian pudar, rupanya masih terjaga ruang kenangan bersamaku. Selama satu jam kemudian, aku menemani opa berdua. Aku bercerita tentang serunya naik motor dari Jakarta sampai ke Surabaya, dan setelahnya gantian Opa bercerita tentang beratnya hari-hari yang dia lalui pasca terkena stroke. Klinik praktiknya telah dia hibahkan pada gereja. Kata Opa, kendati dia sakit dan kesepian, dia bilang ini sudah jalannya. “Tuhan tetep baik, aku ndak ditinggalno sendiri,” pungkasnya.

“Gus,” sahut Opa. Tangannya memegangku. “Aku seneng. Sungguh seneng dan merasa terhormat kamu masih ingat aku… Terima kasih ya.”

Kalimat itu menghangatkan hatiku. Karena tubuh Opa yang makin ringkih, aku izin pamit. Mengobrol terlalu lama dengannya bisa membuatnya makin lemah. Kulanjutkan kembali perjalananku ke kota-kota lain di Jawa Timur.

Betapa sukacitanya ketika kita diingat

Kalimat terakhir Opa yang bilang bahwa dia senang karena aku masih mengingat dia menggemakan kembali dalam benakku surat-surat yang ditulis oleh Paulus.

Dalam surat Filipi 1:3, Paulus menulis, “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.”

Kalimat itu ditulis Paulus bukan sebagai bunga kata, tetapi menunjukkan sebuah kesan mendalam. Pada perikop lanjutan dari Filipi 1, dituliskan bahwa Paulus sedang dipenjara oleh karena pelayanannya memberitakan Injil. Penjara pada masa Romawi bukanlah penjara yang manusiawi seperti di negara-negara maju masa kini. Penjara itu terletak di bawah tanah, minim penerangan dan udara, serta dijaga oleh prajurit. Bisa kita bayangkan betapa beratnya hati Paulus menghadapi kekelaman itu. Dia sendirian, dia ketakutan, juga kesakitan.

Namun, surat Filipi menyingkapkan pada kita akan apa yang membuat Paulus tetap bertahan dan bersukacita. Paulus yakin bahwa Allah yang memulai pekerjaan baik akan tetap meneruskannya. Rekan-rekan pelayanan Paulus pun tidak meninggalkannya. Ayat 7-8 menuliskan bahwa “kamu [mereka] ada dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil…. Betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.”

Di tengah kesukaran dan kesepian, betapa menghangatkannya mengetahui bahwa kita senantiasa diingat oleh orang-orang yang kita kasihi.

Allah pun mengingat kita setiap waktu. Dia ingat dan tahu setiap detail pergumulan yang kita satu per satu harus hadapi (Matius 10:30). Dan…karena Dia mengingat kita, Dia pun hadir bagi kita melalui Kristus, sang Putera yang lahir dari anak dara Maria.

David Gibb dalam tulisannya yang berjudul “What If There Were No Christ In Christmas” menuliskan: Allah yang Mahabesar hadir dalam cara yang menjungkirbalikkan logika manusia. Allah tidak hadir dalam sosok raja duniawi yang penuh kemewahan untuk membuat kita terkesan, tetapi Dia hadir dalam rupa seorang bayi mungil, untuk menjadi sama seperti kita. Dia datang kepada kita di tengah kekacauan dunia, di tengah kesendirian dan tangis kita, untuk menuntun kita kepada tempat teraman, untuk membawa kita kepada diri-Nya sendiri.

Ketika Allah mengingat kita, Dia pun hadir di tengah kita.

Pertanyaan bagi kita adalah: Siapakah orang-orang yang Tuhan letakkan namanya di hati kita? Jika kita mengingat mereka, maukah kita turut hadir bagi mereka?

Kehadiran kita mungkin tidak akan melenyapkan pergumulan mereka, tetapi seperti kehadiran para rekan sepelayanan Paulus, kehadiran itu dapat dipakai Allah untuk menguatkan dan menghangatkan seseorang dalam perjalanan hidupnya.

Ingatlah 3 Hal Ini Sebelum Menghakimi Orang Lain

Oleh Vanessa
Artikel asli dalam bahasa Inggris: What My Assumptions Taught Me About Judging Others

Beberapa bulan lalu, seorang kenalanku bersikap dingin dan menjauhiku. Ketika kutanya kenapa, dia bilang kalau ekspresiku berlebihan di pertemuan terakhir dengannya. Kucoba mengerti alasannya dan meminta maaf, tapi baginya tindakanku itu tidak akan membuat relasi kami sama seperti dulu.

Tentu respons itu adalah keputusannya dan aku pun tahu bahwa untuk relasi yang sehat perlu ada batasan yang jelas. Tetapi, melihat ke belakang aku mendapati sulitnya merespons terhadap situasi penolakan seperti itu. Dari diskusiku dengan konselorku, aku sadar kalau reaksi berlebihanku muncul dari rasa sakit dan trauma masa kecil yang belum selesai. Fakta ini membuat peristiwa penolakan itu terasa lebih sakit, tapi sekaligus juga memberiku rasa lega. Alih-alih merasa bersalah dan malu, aku jadi sadar bahwa aku pun butuh dipulihkan.

Kita semua ingin dipandang, dimengerti, dan diterima sebagaimana adanya. Kita ingin semua orang mau menegur kita dengan kasih ketika dibutuhkan, tapi kita juga ingin mereka berbicara dengan kita, untuk mengerti siapa dan bagaimana sih kita itu sebenarnya. Aku ingat akan seniorku di tahun pertama kerja yang berkata, “Rasanya menyenangkan jika kita dikenal baik.” Itu memang betul, tapi lebih daripada sekadar dikenal baik, yang lebih baik ialah: kita dikenal sampai jelek-jeleknya, tapi tetap dikasihi.

Kasih yang melampaui kesan pertama

Kasih yang Allah berikan pada kita untuk kita berikan pada orang lain adalah kasih yang “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:7). Inilah kasih yang kita semua inginkan, tapi kusadari kalau kasih ini jugalah yang sulit untuk kuberikan. Kasih yang mengharuskanku untuk berhenti dan berpikir, untuk memahami siapa orang yang kutemui. Seringkali aku berpikir meremehkan dan buru-buru mencari topik bicara lain.

Seorang temanku bercerita tentang tetangga lamanya yang dikenal menyebalkan. Suatu kali, ketika dia membuang sampah, tetangga itu mendekatinya dan mengomel karena sampah itu tidak diletakkan di tempat yang spesifik. Alih-alih menanggapinya berdasarkan kata orang kalau tetangga itu menyebalkan, temanku tetap tenang dan minta maaf. Sikapnya yang damai itu menohok sang tetangga, yang akhirnya malah jadi terbuka dan mulai mengobrol dengan temanku. Melalui obrolan mereka, temanku mendapati sebenarnya tetangganya itu orang baik yang pernah dilukai oleh orang lain. Sikapnya yang defensif adalah caranya untuk melindungi dirinya dari terluka.

Aku harap kita semua seperti temanku itu, tapi sejujurnya, bukankah kita semua cenderung menghakimi orang lain berdasarkan apa yang mata kita lihat? Setelah menghakimi, lantas kita pun ‘membuang’ mereka dalam kotak yang berisikan asumsi-asumsi kita sendiri?

Ketika Allah membuatku memikirkan kembali

Meskipun kali ini akulah yang ditolak, aku tahu kalau aku sendiri pernah menolak dan menghakimi orang lain dengan buru-buru mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang kulihat. Ada masa-masa ketika Tuhan memaksaku untuk melihat kembali suatu hal secara utuh supaya aku memahami bahwa apa yang kupikirkan tak selalu benar.

Beberapa tahun lalu, aku ikut mission-trip bersama beberapa jemaat. Di akhir pekan, ada seseorang yang kata-katanya menggangguku. Kata-katanya tidak buruk, tapi karena itu menggangguku aku memutuskan kalau orang itu tidak akan kudekati, dan segera aku pun mengabaikan orang itu.

Namun Tuhan punya rencana lain. Lewat interaksi kami selama beberapa minggu, aku menyadari kalau orang yang kuanggap mengganggu itu ternyata murah hati, dan dia selalu berusaha untuk menunjukkan sikapnya yang tulus dan mengasihi pada orang lain. Orang itu pun menjadi teman baikku yang sampai hari ini aku senang meluangkan waktu bersamanya. Kalau seandainya aku terjebak pada pikiranku akan kesan pertama yang buruk, aku tidak akan mengalami pertemanan yang indah.

3 hal untuk diingat

Salah satu ayat favoritku adalah 1 Samuel 16:7, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Rasanya menenangkan sekaligus menantang mengetahui bahwa Allah melihat kita sebagaimana adanya kita. Menenangkan karena kita sungguh dikasihi oleh Tuhan Semesta Allah; menantang karena jika kita dikasihi sedemikian rupa, masa kita bertindak sebaliknya terhadap orang lain?

Setelah menyadari ini, aku berdoa agar Tuhan menolongku setiap hari untuk menjadi orang yang mampu melihat melampaui apa yang dilihat mata, dan untuk mengasihi orang lain dengan cara yang mencerminkan Kristus—dengan anugerah, belas kasih, dan pengertian. Untuk mewujudkan itu, aku mengingat 3 hal ini:

1. Lihat jangan dari sudut pandang sendiri

Setiap orang punya masalah masing-masing, dan itu bisa mempengaruhi bagaimana mereka meresponsku. Mengingat hal ini memberiku sedikit jarak untuk untuk mencerna sikap dan respons mereka.

2. Tanya sebelum membuat kesimpulan

Matius 18:15 menjelaskan bagaimana kita seharusnya menegur orang lain. Meskipun teguran itu tidak menyenangkan, ketika aku punya keberanian untuk memberitahu seseorang tentang sikap atau kata-katanya yang melukaiku, penjelasan ataupun permohonan maaf dari mereka menolongku untuk memahami situasi dari sudut pandang yang berbeda. Aku pun terdorong untuk melihat ke dalam diriku sendiri, akan apa yang jadi pikiranku yang berdosa.

3. Maafkan, sebagaimana kita telah diampuni (Kolose 3:13)

Pengampunan tidak hanya untuk dosa-dosa ‘besar’ yang dilakukan pada kita, tapi juga bagi kesalahan-kesalahan yang tampak kecil. Bagian dari mengampuni adalah belajar untuk merelakan dan tidak selalu mempermasalahkan setiap hal. Ingatlah, kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Petrus 4:8).

Aku berdoa kiranya kasih yang tidak bersyarat yang kuterima dari Tuhan setiap hari menolongku untuk mengasihi orang lain. Daripada menorehkan luka dalam hidup mereka, aku mau belajar untuk turut serta dalam pemulihan mereka.

Semoga tulisan ini memberkati kita semua.

Apa yang Harus Aku Lakukan Ketika Menyukai Seseorang?

Sebuah cerpen oleh Noni Elina

Suara pintu kamar terbuka, Obed dengan seragam SMP-nya memasuki ruangan dengan lunglai. Dia menatap sayu sesosok manusia yang sedang asik main game online di atas kasur miliknya, dia adalah kakak laki-lakinya. Setelah menaruh tas sekolah di atas meja belajar, Obed duduk di atas karpet dan bersandar pada dipan.

“Hmmmh.”

“Kenapa, Bed? Laper?” Tanya Timo pada adiknya. Tidak ada jawaban. Hanya keheningan dan suara permainan dari handphone yang terdengar. Timo menatap Obed, kemudian menutup aplikasi permainan online di handphonenya. Ia memegang pundak Obed dan bertanya, “Kamu marah kakak main di sini? Pinjam kasur sebentar soalnya AC di kamar kakak rusak.”

“Main aja kak, kan biasanya juga gitu,” sahut Obed dengan enggan.

“Terus kamu kenapa kok murung?” Belum juga adiknya menjawab, Timo bertanya lagi, “Kamu di-bully di sekolah? Siapa yang berani ngelakuin itu? Kamu nggak kenapa-napa?” Tatapan mata Timo khawatir. Obed hanya menggeleng kepala.

“Cerita dong, Bed. Sekarang banyak kasus tentang bullying dikalangan siswa. Kalau itu terjadi sama kamu, jangan disimpan sendiri. Harus cerita sama orang dewasa ya.” Timo menyenggol bahu Obed, memberi isyarat supaya adiknya berbicara.

Timothy adalah seorang mahasiswa semester akhir berusia 22 tahun, sedangkan Obed siswa SMP berusia 15 tahun. Meski rentang usia mereka cukup jauh, 7 tahun, kedua saudara ini memiliki hubungan yang sangat dekat. Obed menatap kakaknya, lalu kembali menunduk.

“Aku suka sama seseorang, sejak kelas 7,” kata Obed kemudian. Timo berusaha mencerna kalimat tersebut, “Sekarang kamu kelas berapa?”

“Kelas 9, masa kakak lupa adiknya kelas berapa?” Tanya Obed sedikit kesal.

“Oh iya, iya… Sekarang kamu sudah kelas 9 ya. Ya memang sudah waktunya suka sama lawan jenis,” sahut Timo kemudian.

“Jangan bilang sama Papa Mama.” Obed mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan hidung Timo dengan tatapan mengancam. “Iya, iya… Tenang, kakakmu ini bisa dipercaya.” Disambut dengan senyum di bibir Obed.

Timo melingkarkan tangannya di pundak Obed sambil menggodanya, “Terus gimana, kamu mau nyatain cinta?”

“Kan, Papa Mama bilang anak SMP belum boleh pacaran.” Obed menatap Timo dengan penuh tanya, “Kakak waktu SMP pacaran?” Timo menggeleng-geleng kepalanya untuk menjawab pertanyaan itu.

“Kalau sekarang kakak punya pacar?” Tanya Obed lagi. Mereka saling menatap, satu menit berlalu terasa begitu lama. Timo menggelengkan kepala lagi. “Bah…” diikuti dengan tawa kecil Obed.

“Tapi kakak pernah pacaran, kan?” Tanya Obed lagi, masih dengan senyum di bibirnya. Timo bergeming, dia hanya mendesah panjang dan berdiri dari duduknya.

“Jadi selama 22 tahun ini Kak Timo belum pernah punya pacar?” Obed tidak bisa bisa menahan tawanya lagi. Timo tampak kesal karena apa yang dikatakan adiknya benar, dia memang belum pernah berpacaran.

“Tapi kakak hampir berpacaran!” Kata Timo menatap adiknya dengan jengkel.

“Oh ya?” Tanya Obed dengan memasang wajah konyol ciri khasnya sehingga membuat Timo ingin menggelitiknya. Terjadilah ‘pertikaian’ sengit yang singkat siang itu.

“Jadi kakak punya beberapa tips buat kamu, ya. Kakak ingin kamu bisa lebih baik dari kakak.” Sembari membetulkan bajunya setelah ‘bertikai’ dengan Obed, Timo memasang wajah serius.

“Maksudnya, kakak mau ngasih tips supaya aku bisa pacaran sekarang?”

“Bukan gitu juga!” Jawab Timo cepat, dia menatap ke luar jendela kamar. Suara bising jalanan sayup-sayup terdengar.

“Nggak ada yang salah dengan menyukai seseorang. Kenapa kamu harus pasang wajah murung begitu?” Timo menatap Obed, yang sedang menunduk. Lalu remaja itu menceritakan kisahnya…

***

Di sekolah…

Sedang ada pertandingan basket antar kelas di sekolah Obed, dia duduk di tribun penonton bersama teman laki-lakinya yang lain. Lalu, dari jauh Obed melihat Rachel bersama satu teman perempuannya datang mendekat. Mereka berdua sempat beradu pandang selama sedetik, Obed langsung mengalihkan pandangannya ke pertandingan yang sedang berlangsung. Lalu Rachel duduk tepat di sampingnya. Rachel duduk di sampingnya! Obed dapat mengetahui hal itu dari gelak tawa Rachel yang khas. Posisi duduk Obed mulai gelisah, lalu akhirnya dia bangkit berdiri dan melangkah ke arah yang berlawanan dengan Rachel. Setelah 5 langkah, lalu dia kembali duduk dan menikmati pertandingan. Rachel yang menyadari hal itu, menatap ke arah Obed dari kejauhan.

Sepulang sekolah di depan kelas, Ezer dan Obed sedang mendiskusikan siapa yang perlu bergabung di kelompok kesenian mereka. “Menurutku, Rachel sama Lulu cocok banget buat gabung dengan kelompok kita. Gimana?” Ketika mendengar hal itu, Obed terdiam. Dia tampak sensitif ketika nama Rachel disebut, “Kalau Lulu sih oke, tapi kalau Rachel menurutku…”

“Hei, Rachel!” Teriak Ezer sambil melambaikan tangan. Obed belum menyelesaikan kalimatnya, namun Ezer telah memanggil Rachel yang kebetulan sedang lewat di depannya.

“Kamu mau gabung sama kelompok kesenian kami nggak?” Tanya Ezer. Obed mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Hai Ezer, hai Obed…” Rachel nampak kebingungan menatap Ezer dan Obed satu persatu. Tapi Obed tidak menatapnya. “Boleh… aku mau.” Sahut Rachel kemudian sembari tersenyum.

“Sorry aku nggak bisa gabung dengan kelompok ini.” Lalu Obed beranjak pergi meninggalkan kedua orang temannya yang kebingungan. Rachel menatap kepergian Obed dengan raut wajah sedih.

***

“Kamu pergi gitu aja?” Tanya Timo tidak percaya. Obed mengangguk pelan. Timo mendesah panjang lalu melipat kedua tangannya di dada.
“Kalau kamu suka sama dia, kenapa kamu bersikap seolah-olah dia tidak menarik?” Tanyanya lagi.

“Karena aku terlalu gugup.” Suara Obed terdengar lirih. Tatapan matanya begitu sayu, tidak seperti biasanya. Obed merupakan anak laki-laki yang cukup pintar karena masuk ke peringkat 5 besar di kelas, namun kali ini Timo melihat adiknya tersebut seakan-akan tidak mampu menjawab soal yang begitu sulit.

“Dengar ya dik, menyukai seseorang di usiamu, itu normal.”

“Aku tahu, tapi aku takut tidak bisa mengendalikan diri ketika ada di sekitarnya.”

“Seperti apa misalnya?”

“Ingin menjadikan dia pacar. Kakak tahu kan, di masa sekarang anak SD aja sudah ada yang pacaran. Kadang, aku ingin sama seperti teman-temanku yang lain. Tapi Papa Mama selalu mengingatkan kita waktu persekutuan doa keluarga, batasan relasi sama lawan jenis, kan.” Papa Mama mereka selalu memiliki kebiasaan untuk melakukan persekutuan doa sebelum tidur. Papa merupakan ketua majelis di Gereja, sedangkan Mama guru sekolah Minggu.

“Kakak setuju kalau anak di usiamu belum waktunya pacaran, tapi apa salahnya dengan berteman? Dengar ceritamu tadi, malah terlihat seperti kamu membenci Rachel.”

“Aku nggak benci Rachel.”

“Tapi sikapmu mengatakan itu.”

“Aku sedang lari dari pencobaan seperti Yusuf!” Kata Obed sambil mengerutkan keningnya dan menatap Timo dengan putus asa.

“Tapi Rachel tidak sedang menggodamu seperti istri Potifar, kan?” Mendengar jawaban kakaknya Obed termenung.

“Itu soal pengendalian diri dan sudut pandangmu yang perlu diubah.” Setelah melihat tidak ada perlawanan dari ekspresi Obed, Timo melanjutkan, “Jadi, kita perlu lihat perempuan, apalagi yang seiman dengan kita sebagai seorang saudara. Kamu nggak mungkin berbuat macam-macan sama Naomi, kan?” Timo menyebutkan nama sepupu mereka yang usianya sama dengan Obed.

“Macam-macam gimana?”

“Yah, you know… Seperti ciuman dan perbuatan lainnya yang biasa dilakukan suami istri.” Jelas Timo. Obed nampak membayangkan maksud perkataan Timo barusan lalu raut wajahnya berubah kaget.

“Ya nggak mungkin! Aku sama Naomi??” Membayangkannya saja membuat Obed ngeri, karena Naomi adalah saudara sepupunya, anak dari adik Papanya. Timo mengangguk, lalu melanjutkan penjelasannya.

“Ya, kan? Semua perempuan yang seiman dengan kita adalah saudara. Seperti kamu nggak mungkin melakukan hal ‘macam-macam’ dengan Naomi, seperti itu juga seharusnya sama Rachel. Selayaknya seorang saudara, kita bisa bersikap ramah, saling menolong, menghibur, hal semacam itu. Itu tidak dilarang di Alkitab, jadi meskipun kamu suka sama Rachel dan memandang dia spesial, it’s okay. Jadilah saudara seiman yang baik buat dia. Suatu saat kalau kamu sudah cukup dewasa dan siap ke hubungan yang serius, baru deh bisa pacaran. Cuma ya itu tadi, sewaktu pacaran pun, dia masih saudara. Setelah menikah, baru deh boleh ‘macam-macam’.”

Obed termangu mendengar penjelasan kakaknya itu. Dia kemudian bertanya, “Kakak belajar dari mana kalimat itu?”

Timo menghela nafasnya panjang, “Kakak berharap ada yang bilang semuanya itu waktu kakak umur 15 tahun.”

“Jadi, dulu kakak seperti aku? Makanya nggak pernah pacaran sampai umur segini?” Pertanyaan Obed membuat Timo tertawa.

“Setiap orang prosesnya beda-beda. Jadi, jangan malah cuek sama perempuan. Belajar jadi saudara yang baik. Kita juga perlu doa minta hikmat dan pengendalian diri sama Tuhan. Bersikap cuek dan menjauhkan diri itu bukan pengendalian diri, jatuhnya kamu jadi seperti nggak ramah. Oke?” Timo menepuk pundak Obed lalu berdiri. “Yuk kita makan siang bareng, kamu ganti baju sana.” Ajak Timo kemudian dan melangkah ke luar kamar. Sebelum Timo membuka pintu, Obed menyela “Kak ada satu pertanyaan lagi.” Timo menoleh ke belakang sedang tangannya memegang gagang pintu kamar.

“Kalau aku sudah jadi saudara yang baik buat Rachel, tapi dianya malah baper, gimana?”

Timo tersenyum dan berkata, “Itu tanggung jawab dia sendiri untuk mengendalikan perasaannya. You do you.” Lalu dia pun keluar kamar. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan Timo menunjukkan wajahnya kembali dan berkata, “Oh ya, satu lagi. Baca Kidung Agung 2:7.” Dengan senyum lebarnya.

Obed berdiri menatap kepergian kakaknya dan meraih handphone di tasnya. Lalu dia membuka aplikasi Alkitab dan membaca Kidung Agung 2:7 “…jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!