Posts

Dengan Berhenti, Maka Kamu Bisa Berjalan

Oleh Bintang Lony Vera, Jakarta

Ai holan ho do sasude di ngolunghi
(Hanya kamu segalanya dalam hidupku)

Tung so hubaen hita marimba hasian
(Tidak ada perbedaan di antara kita)

Botoonmu ma sude na lao di ho
(Kau akan tahu semua dilakukan hanya untukmu)

Dang parduli au manang na songon diape ho
(Aku tidak peduli seperti apa dirimu, itulah cintaku)

Reff: Hupasahat ma tu ho ngolunghi, dang mangolu au molo soada ho
(Reff: Kuserahkan cintaku kepadamu, aku tak bisa hidup tanpamu)

Lirik di atas adalah sebuah lagu berbahasa Batak yang belakangan ini sering kudengar. Lagu itu dipopulerkan oleh Nirwana Trio dan telah kumasukkan ke dalam daftar putar lagu-lagu favoritku. Selain aku jadi bisa belajar bahasa Batak, suara yang lembut dipadu dengan iringan musik yang apik membuat lagu ini selalu enak didengar. Dan, liriknya juga mengusikku. Kukirimkan lagu ini kepada kekasihku kala itu. Menurutku, setiap kata-kata dalam baitnya mewakili perasaanku.

Tapi, di balik romantisnya kisah cinta seperti yang tertuang dari lirik lagu itu, aku menyadari kalau aku mengasihi dia (kekasihku) lebih daripada aku mengasihi siapapun. Hampir seluruh waktu kupakai untuk memikirkan dia dan juga relasi kami. Aku selalu semangat untuk membaca pesan dari dia, yang cuma bisa memberi kabar di waktu-waktu tertentu saja. Dia tinggal jauh dariku, dan kesehariannya di atas kapal membuatnya tidak selalu terhubung dengan akses internet. Ketika dia tidak sedang melaut, aku sering menyusun rencana tentang kami mau pergi ke mana dan mau melakukan apa.

Ketika kami dapat saling bertukar kabar, rasa senang memenuhi hatiku. Hingga tanpa kusadari, aku melupakan hal-hal dan orang-orang lain yang Tuhan telah berikan untukku jaga dan perhatikan. Tuhan menegurku, tapi aku bergeming. Aku amat mengasihi dia lebih dari siapapun, termasuk Tuhan sendiri. Tanpa kusadari, aku sedang menipu diriku sendiri saat aku mulai mengatur rencana pernikahan kami agar terjadi sesuai dengan kehendak Tuhan. Padahal jauh di dasar hatiku, aku hanya ingin bersamanya. Aku hanya ingin menghabiskan waktu hidupku bersama dirinya.

Hingga tiba di bulan Februari lalu, Tuhan menjawab “tidak” atas doa kami agar hidup bersama.

Aku sangat kecewa karena kehilangan seseorang yang begitu aku kasihi. Kurang lebih empat tahun kami telah menjalin kasih dan berdoa kiranya Tuhan berkenan agar kami dapat sampai pada jenjang pernikahan.

Kandasnya relasi kami meninggalkanku dalam kondisi hancur hati. Aku sangat berduka.

Tetapi, syukur kepada Allah. Dalam momen duka pun, Dia bekerja. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun Perkantas ke-50, aku membaca kalimat pada leaflet undangan ibadah yang dibagikan oleh pengurus divisi alumni: It is the stop that make you move.

Kalimat itu menohokku. Perpisahan yang terjadi mungkin jadi cara Tuhan untuk memulihkanku dari perasaan cinta dan kasih yang salah. Pesan itu juga membuatku menyadari bahwa Tuhan sedang meraih kami (terkhusus aku) untuk kembali pada-Nya. Tuhan tidak sedang mengoyak kami, tetapi Dia menjagai kami. Kisah cinta kami perlu berakhir untuk menolong aku yang terlalu mengasihinya, agar kami tetap dapat meneruskan perjalanan hidup–hidup yang memuji dan memuliakan Allah, di mana Dia sebagai pusat hidup dan satu-satunya Pribadi yang layak mendapatkan seluruh cinta kita.

Dalam bukunya yang berjudul Struggles, Craig Groeschel menulis:

“Mengapa mendahulukan orang lain atau hal lain daripada Allah itu salah? Jiwa kita diciptakan untuk mengenal Allah, mengasihi Dia, menyembah Dia, dan menjalani keidupan bersama Dia. Inilah pentingnya harus menjaga kasih dan jiwa kita serta mendahulukan-Nya. Kapan saja kita membiarkan jiwa kita terobsesi dengan apa saja selain Allah, kita takkan pernah puas. Jika Anda tahu obsesi Anda mengganggu hubungan-hubungan yang terpenting dengan sesama dan Allah, sudah saatnya bertindak. Allah tidak mau kita memiliki ilah yang lain, apapun bentuknya, di hadapan-Nya. Allah merindukan kita mengenal Dia, menikmati hadirat-Nya dan kebaikan-Nya, hidup dalam kasih-Nya”.

Ketika Dia mengizinkan relasi kami usai, aku mulai memahami bahwa ini adalah bentuk kasih-Nya kepadaku, kepada kami.

Seharusnya lirik lagu di awal tulisan ini adalah kata-kata dalam doaku yang kusampaikan kepada-Nya.

Seharusnya aku lebih mencintai Dia yang telah menganugerahkan cinta di antara kami.

Sekarang tidak ada lagi penyesalan. Aku merasa diberkati dengan relasi kami. Meskipun tidak sampai kepada pernikahan, tetapi sampai kepada pemahaman bahwa Dia sangat mencintai kami dan rindu agar kami pun mencintai diri-Nya.

Allah yang telah mempertemukan kami empat tahun yang lalu juga akan menolong kami dalam menempuh perjalanan kami masing-masing ke depan. Terpujilah Tuhan.

Baca Juga:

4 Langkah untuk Mendoakan Temanmu

Doa adalah disiplin rohani sepanjang waktu. Sangat penting untuk berdoa dalam komunitas, agar kita bisa saling mendukung satu sama lain sepanjang waktu.

Suka, Cinta, dan Penantian

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Langit sore tampak cerah. Matahari bersinar di balik awan putih dan angin pantai menyapu wajah muda-mudi yang bersemangat . Setelah melangkahkan kaki ke luar dari parkiran, mereka pun berjalan menuju pantai. Tiga orang remaja SMP bersama seorang kakak pembinanya berniat untuk melakukan pendalaman Alkitab di alam terbuka. Tempat yang berbeda untuk melakukan kegiatan mingguan mereka.

Sembari berjalan, Gracia membuka obrolan, “Kak, kakak tahu Dery nggak?”

Kak Nindy, nama kakak pembina rohani para remaja ini menatap Gracia. “Iya, tahu. Kenapa?”

“Kemarin dia confess ke aku,” lanjut Gracia sambil terus berjalan.

Kak Nindy memasang wajah kaget, kemudian memandang ke belakang sambil memberi isyarat tangan pada Luke dan Bisma yang jauh tertinggal di belakang untuk lebih mendekat. Ternyata kedua laki-laki itu sedang bermain adu gulat sambil berjalan.

“Memangnya dia bilang gimana?” Kak Nindy menatap Gracia yang terus memandangi jalan setapak di hadapan mereka.

“Dia bilang: ‘Gracia, aku mau bilang sesuatu sama kamu. I like you.’ Udah gitu aja,” Jawab Gracia.

“Terus kamu bilang apa sama dia?” tanya kak Nindy lagi.

“Ya udah, he is just like me kan, not love me.” Kak Nindy tertawa geli mendengar jawaban itu. Anak SMP berusia 13 tahun pun tahu bedanya dicintai dan disukai ya?

“Memangnya kenapa kalau dia suka sama kamu bukan cinta sama kamu?” Belum sempat Gracia menjawab, Kak Nindy segera berteriak, “Hai gaes, Gracia baru dapat pernyataan cinta nih!” “Wah tunggu, kita juga mau dengar!” Luke dan Bisma antusias lalu berlari mendekat.

“Ya kan cuma suka kak, kayak nge-fans gitu kan. Kalau cinta berarti dia kan lebih dalam lagi perasaannya,” jelas Gracia lagi. Kak Nindy mengangguk-angguk.

“Ceritanya waktu kita sudah sampai tempat tujuan aja,” saran Luke.

“Enak sekarang aja, sambil jalan biar nggak kerasa capeknya,” sahut Gracia.

Mereka berempat terus berjalan menuju gubuk di tepi pantai, bagian paling favorit versi mereka dari tempat wisata ini. Bersyukur sore ini tidak banyak pengunjung yang datang, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

“Terus, terus, kakak tahu Michael? Dia chatting aku lagi, panjang lebar.” Mata Gracia tampak berbinar mengucapkannya.

“Ehem, chatting gimana?” Tanya kak Nindy mempersiapkan hati untuk mendengar ceritanya lagi.

“Intinya dia mau bilang, I still love you.” Kali ini Gracia menatap Kak Nindy yang memasang wajah pura-pura kaget. Bahkan sampai menutup mulut. Gracia tahu itu berlebihan, tetapi dia nampak senang dengan reaksi itu.

“Wow!” Teriak Bisma dari belakang sambil bertepuk tangan. Kak Nindy lalu menggeleng-gelengkan kepala. Sungguh anak SMP zaman sekarang bisa dengan mudah mengekspresikan perasaan mereka. Entah apakah di balik pernyataan itu mereka sudah tahu makna sesungguhnya.

“Aneh kan kak? Padahal kita sudah lama lost kontak lho,” lanjut Gracia. Jadi, Gracia pernah berpacaran dengan Michael selama beberapa hari (iya, hari). Jangan heran, bahkan Kak Nindy pernah mendengar anak kelas 5 SD sudah berpacaran.

“Lalu, kamu senang dia bilang begitu?” Tanya kak Nindy lagi. Dia ingin membiarkan Gracia untuk bercerita banyak terlebih dahulu.

“Ya…” Gracia memainkan tangannya. Ragu-ragu mau bilang apa.

“Tapi, kayaknya aku cuma dijadikan pelarian deh. Jadi aku biasa aja,” lanjut gadis itu kemudian.

“Kamu masih suka ya, sama Michael?” Pertanyaan ini mendapat respon dengan nada yang cukup ngegas. “Ya nggak lah kak, ngapain.”

“Hemm, okay,” Kak Nindy tersenyum kecil.

Mereka pun tiba di gubuk yang menghadap ke pantai. Setelah duduk di lantai kayu tanpa beralaskan apapun, mereka mengeluarkan Alkitab dan buku PA (pendalaman Alkitab) mereka. “Wah indah ya, pemandangannya,” seru kak Nindy sembari menatap garis pantai yang ada di hadapan mereka.

“Kak aku mau tanya deh. Nggak papa kan?” Luke menatap Kak Nindy.

“Oke, kita sharing dulu sebelum masuk ke bahan PA. Mau tanya apa dek?”

“Kak Nindy pernah bilang, kalau kita boleh pacaran waktu kita sudah siap. Nah itu biasanya umur berapa sudah siapnya?” Tanya laki-laki berusia 13 tahun itu. Ya, tiga remaja ini baru berusia 13 tahun. Namun, nampaknya mereka sudah penuh dengan gejolak cinta remaja.

“Sebenernya nggak ada umur yang pasti, kapan kita bisa dikatakan siap pacaran. Karena siap itu bukan bicara soal umur, tapi kedewasaan seseorang. Nah, mereka yang sudah berumur 20 tahun tapi masih egois dan nggak tahu tujuan hidupnya, kayaknya juga belum siap buat pacaran.” Jelas Kak Nindy.

“Berarti, nanti kalau SMA aku sudah dewasa dan tahu tujuan hidup, aku boleh pacaran?” Sahut Gracia.

“Ngebet amat lu.” Celetuk Bisma sambil melirik pada Gracia, gadis itu memukul pelan paha Bisma dengan buku di tangannya.

“Ya, kalau kalian sudah merasa siap dan sudah mendoakan dengan sungguh-sungguh, silahkan pacaran. Tapi ingat ya, pacaran itu bukan untuk anak-anak, karena ada banyak hal yang akan kalian usahakan dan berikan. Seperti emosi, perhatian, saling melayani, saling mengenal lebih dalam. Nah, kalau kalian nggak siap, terus putus, itu bisa bikin kalian kalang kabut. Bahkan ada yang berpikiran ingin mengakhiri hidup karena putus cinta. Makanya, kakak bilang: kenallah Tuhan dan dirimu sendiri dengan baik, sebelum mau memulai relasi dengan lawan jenis.”

“Kalau kakak, kenapa belum pacaran? Kakak kan sudah dewasa, sudah tahu tujuan hidupnya, kayaknya kakak juga sudah siap. Nunggu apa coba?” Gracia menatap kakak rohaninya itu yang sudah setahun ini menemani mereka dalam kelompok kecil.

“Iya, kakak sudah 27 tahun kan,” Tambah Luke.

Kak Nindy tersenyum mendengar pertanyaan itu sambil menatap mereka satu per-satu, “Kalau kita merasa siap, bukan berarti Tuhan juga menilai demikian. Karena rencana kita bukan rencana Allah.” Lalu pandangannya beralih pada laut di hadapannya, bau air laut dibawa oleh angin memecah keheningan di antara mereka.

“Kalau kita hidup dengan sebuah tujuan, kakak yakin pacaran dan pernikahan seharusnya juga punya tujuan. Bukan hanya karena cinta, ya meskipun itu juga penting. Tapi menurut kakak, ada yang jauh lebih penting dari itu.” Kak Nindy berhenti lagi menunggu reaksi dari ketiga adiknya.

“Apa?” Tanya Gracia.

“Pernikahan itu alat yang dipakai Tuhan untuk membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Pernikahan itu juga untuk menggenapi rencana Tuhan bagi dunia ini. Apa coba, rencana Tuhan bagi dunia ini?” Kak Nindy menyipitkan matanya sambil melayangkan telunjuknya kepada wajah para remaja itu.

“Nggak tau kak,” rengek Gracia.

“Kak Nindy sudah pernah bilang lho padahal.” Wanita itu meraih Alkitabnya, “Coba baca Wahyu 7:9…” Mereka pun memulai diskusi tentang salah satu bagian perikop tersebut, bahkan juga membuka beberapa bagian kitab lain.

Ada yang berbicara tentang rasa suka terhadap lawan jenis atau tentang cinta yang tumbuh entah sejak kapan, tetapi juga ada yang masih tetap berbicara tentang penantiannya. Bukankah kita semua adalah kekasih-kekasih Allah yang telah ditebus dan dimerdekakan-Nya?

Kiranya mata kita senantiasa tertuju kepada Kristus. Hingga suatu saat kau temukan orang lain yang juga berlari ke arah yang sama, beririsan dengan hidupmu. Jika penantian akan pasangan hidup seakan selamanya, sesungguhnya Kekasih Jiwa kita tetap sama. Penantian kita tidak akan sia-sia.

Dan jika dirimu adalah jiwa yang terluka karena cinta yang sebelumnya, mungkin ini waktu yang tepat untuk datang ke pelukan Bapa. Dia peduli dan akan membalut setiap luka.

Baca Juga:

Pendeta yang Tidak Aku Sukai

Siapa pendeta yang akan berkhotbah sering jadi motivasiku untuk ikut ibadah. Kalau pendeta X yang khotbahnya menurutku tidak bagus, aku pun malas ke gereja. Tapi, ini pemikiran yang salah, dan aku bersyukur Roh Kudus menolongku.

Salah Kaprah Tentang Kasih

Oleh Minerva Siboro, Tangerang

Aku pernah jatuh cinta dan begitu mengasihi seseorang. Dia seolah-olah menjadi matahari, pusat dan sumber benderang di tata surya. Lalu, aku memosisikan diriku seperti planet bumi. Tak terlalu jauh, juga tak terlalu dekat. Jika posisi bumi tidak presisi dari matahari, maka pasti kehidupan tak akan ada. Bumi bisa terlampau panas atau dingin. Jika posisi bumi terlalu jauh dari matahari, maka takkan ada kehidupan yang mampu bertahan, kupikir seperti planet Uranus. Sejauh pengamatan para ilmuwan dan bukti-bukti sains, di sana hanya ada es dan bebatuan yang dilapisi lagi oleh es.

Namun…ada suatu masa dalam hidupku ketika aku tidak lagi menjadi seperti bumi yang punya jarak presisi, yang dapat melihat dan merasakan matahari. Aku berubah menjadi seperti planet Uranus yang jauh. Semuanya tandus dan dingin. Lalu, kupaksakan diriku untuk menjadi planet Merkurius. Tapi, jaraknya terlalu dekat. Tak ada apa pun yang bisa hidup karena tiada air dan udara yang terlampau panas.

Kisah di atas adalah analogi keadaanku saat aku tidak menjadikan Tuhan sebagai sumber utama kehidupanku. Relasi yang dimulai dengan hangat dan karib dilanda dengan kekecewaan yang mendalam. Lalu muncullah trust-issue—seolah-olah kekecewaan itu akan terus menghantuiku selamanya, sehingga rasanya aku tak perlu lagi untuk mengasihi orang lain. Aku lantas mengagungkan diriku sendiri dengan menyatakan kalau di dunia ini tidak ada ketulusan selain ketulusan milik diriku sendiriku. Kemudian aku pun menutup diri untuk orang lain, dan membiarkan hatiku yang hancur tidak diobati.

Momen-momen kelam itu mengingatkanku akan perkataan dari St. Agustinus. Kala itu, Agustinus menggambarkan kesedihan karena kematian temannya, Nebridius (buku Confessions IV, halaman 10). Katanya, ‘inilah akibat memberikan hati kita kepada sesuatu atau seseorang selain Allah. Semua manusia akan mati. Jangan biarkan kebahagiaan Anda bergantung pada sesuatu yang dapat hilang dari Anda. Jika cinta itu suatu berkat—bukan penderitaan—ia harus ditujukan kepada satu-satunya Kekasih yang tidak akan pernah mati’ (dikutip dalam buku C.S Lewis, The Four Loves).

Mungkin dari situlah muncul kutipan terkenal, Don’t let your happiness depends on something you may lose. Tapi, jika kita ‘tidak perlu mengasihi’ orang lain dan hanya mengasihi Dia saja, apakah kita tidak akan merasakan sakit hati lagi? Tidak. Bukan itu yang Kristus harapkan pada kita. Mengasihi Allah bukan berarti abai dalam mengasihi sesama. Ketika kita mengasihi, itu berarti kita siap menanggung akibatnya. Kasihilah sesuatu atau seseorang, ada kemungkinan kita akan terluka atau sakit hati. Sengaja atau tidak sengaja, bisa saja seseorang melukai kita. Namun, CS. Lewis mengatakan dalam bukunya, ‘satu-satunya tempat di luar Sorga di mana kita dapat benar-benar merasa aman dari semua bahaya dan gangguan ‘kasih’ adalah neraka.’

Tuhan Yesus sendiri berkata dalam Matius 5:43-33, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Kita akan lebih mendekat dan menempel pada Allah (Abide in Him) bukan dengan berusaha menghindari setiap penderitaan yang akan terjadi akibat dari mengasihi, melainkan dengan cara menerima semua penderitaan akibat kasih, lalu menyerahkan penderitaan itu kepada Dia dan melepaskan semua kecintaan diri yang berlebih. Sebab, “Jika hati kita harus hancur, dan jika Dia telah menentukannya harus demikian, jadilah demikian” (C.s Lewis, The Four Loves).

Tuhan memang tidak pernah mengatakan dalam Alkitab secara spesifik kepada kita bagaimana cara membagikan kasih kita. Entah itu 50 untuk Tuhan, lalu 50 untuk yang lainnya. Atau mungkin 80 untuk Tuhan, lalu 20 untuk manusia dan yang lainnya. Tetapi, yang Tuhan tekankan adalah agar kita menghindari segala jenis kasih yang dapat membawa kita jauh dari pada-Nya.

Jadi, aku belajar bahwa untuk menjadi kuat ketika mengasihi orang lain, bertopanglah lebih dulu pada Kasih yang tidak akan pernah roboh. “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama” (Matius 22:37-38). Aku juga belajar untuk tetap mengasihi meski aku akan menanggung dampak dari mengasihi, seperti yang dikatakan Tuhan Yesus “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39)”.

Selamat mengasihi!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Minggu Palma: Menantikan Pemulihan Dunia dalam Doa

Kita mengingat Minggu Palma sebagai momen ketika Yesus masuk ke Yerusalem, tapi momen ini punya makna lain, yakni bayang-bayang akan penggenakan kedatangan Yesus yang kedua dan berdirinya kerajaan Allah di bumi seperti di surga.

Bukan Cuma Tentang Romantis, Inilah Sesungguhnya Kasih Itu

Oleh Aldi Darmawan Sie

Hari Valentine atau dikenal sebagai hari kasih sayang, sering kali menjadi momen yang dinanti, khususnya bagi kita para kaum muda. Kepada orang-orang yang kita kasihi, di tanggal 14 Februari kita mengungkapkan perasaan kasih itu, entah dengan sekadar ucapan selamat, atau juga dengan coklat.

Nuansa yang muncul pun identik dengan romantisme dan kemesraan. Di media sosial, orang-orang menyatakan kasih sayangnya dengan mengunggah gambar atau cerita romantis. Secara sederhana, hari Valentine membuat perasaan cinta diidentikkan dengan ungkapan perasaan suka atau sayang kepada seseorang. Bertepatan dengan momen hari kasih sayang inilah aku ingin mengajak kita memikirkan kembali tentang bagaimana Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita. Apakah cinta Allah kepada kita hanya sekedar suatu perasaan suka atau sayang?

Di dalam Alkitab, terdapat suatu model relasi yang Allah gunakan sebagai landasan untuk berhubungan dengan umat-Nya. Model relasi itu adalah perjanjian atau kovenan. Model relasi ini sangat kuat mewarnai Alkitab, dimulai dari masa Perjanjian Lama hingga diperbarui di dalam dan melalui Yesus Kristus pada masa Perjanjian Baru. Segala rencana dan karya Allah bagi umat-Nya selalu berdiri di atas dasar kovenan. Perjanjian adalah inisiatif Allah. Tujuannya adalah agar umat Allah dapat menikmati kasih dan persekutuan dengan-Nya. Salah satu ide yang menggaung kuat dari konsep perjanjian ialah komitmen. Dua pihak yang terikat di dalam sebuah kovenan akan berkomitmen untuk melakukan sesuatu yang telah disepakati di dalam perjanjian tersebut. Sederhananya, kasih Allah di dalam kerangka konsep perjanjian, bukan hanya berbicara mengenai ungkapan perasaan yang muncul dari hati, melainkan terkandung suatu komitmen untuk mengasihi umat-Nya di dalam situasi apapun.

Hal ini secara konsisten Allah tunjukkan kepada bangsa Israel. Meskipun Alkitab secara gamblang mengungkapkan sederet kegagalan bangsa Israel dalam mengasihi Allah dan memelihara perjanjian-Nya, tetapi seruan kasih Allah terus bergema untuk menarik mereka kembali menikmati kasih dan persekutuan dengan-Nya. Seruan kasih Allah tentu saja tidak terlepas dari janji-Nya untuk menjadikan umat Allah sebagai milik kepunyaan-Nya. Salah satu seruan kasih Allah telah disampaikan melalui Nabi Yeremia kepada bangsa Israel, “Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yer. 31:3).

Kasih yang kekal. Begitulah kasih Allah kepada umat-Nya. Seruan kasih Allah inilah yang dinyatakan secara sempurna di dalam dan melalui pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Salib menjadi sebuah “pertunjukkan” kasih Allah yang paling agung kepada manusia. Melalui salib, jelas bahwa kasih Allah tidak dapat kita maknai sekadar ungkapan perasaan belaka, tetapi sebagai komitmen nyata untuk mengasihi, bahkan hingga titik darah penghabisan.

Belajar dari Perjanjian Allah

Jika menilik kembali betapa indahnya kasih Allah yang terbingkai di dalam perjanjian-Nya, maka aku seolah ditarik untuk memikirkan kembali tentang apa artinya kasih. Aku merenungkan bagaimana model kasih yang sering kali dipertontonkan, entah itu melalui film, sinetron, atau lagu-lagu. Model kasih itu adalah kasih yang bersyarat. “Kamu cantik, karena itu aku jatuh cinta kepadamu. Kamu pintar, karena itu aku menyukaimu.” Mungkin saja itu membuat orang-orang terobsesi untuk tampil cantik atau tampan, hanya demi supaya dirinya dikasihi. Tentu saja, menjaga diri untuk tetap cantik atau tampan bukanlah suatu hal yang salah di dalam lensa kekristenan. Namun, ketampanan atau kecantikan seseorang seharusnya tidak menjadi dasar kelayakan mutlak agar seseorang dapat dikasihi. Model kasih seperti ini membuat kita perlu memenuhi standar yang menurut dunia sebagai suatu hal yang berharga dan diagung-agungkan, maka baru kemudian kita akan dikasihi. Jikalau model kasih ini yang diambil Allah, maka aku yakin sudah lama Allah tidak lagi mengasihi kita, karena kita jauh di bawah standar kasih Allah.

Lantas, mungkin kita bertanya-tanya, “mungkinkah ada kasih yang tak bersyarat di dunia? Mungkinkah ada kasih yang menerimaku apa adanya?”

Pencarian akan jawaban dari pertanyaan itu membuatku mengingat kembali pertunjukkan kasih Allah yang kekal, yang terekam jelas melalui pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Dari sanalah tampak riil sebuah pernyataan kasih yang tidak didasari dengan apa yang kita miliki, tetapi sebuah pertunjukkan kasih yang tak bersyarat. Meskipun kita sebagai umat-Nya sering kali gagal mengasihi-Nya, tetapi Allah tidak pernah berhenti mengasihi kita. Kasih Allah yang kekal itu, tidak pernah berhenti hanya sebatas ungkapan perasaan kasih sayang yang romantis, tetapi melampaui itu, adalah suatu demonstrasi kasih yang penuh komitmen yang begitu deras membanjiri diri kita melalui perjanjian-Nya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Secuplik Mitos tentang LDR

Banyak survey bilang bahwa pasangan LDR lebih berisiko mengalami kandasnya hubungan. Tetapi, itu tidak selalu berarti bahwa LDR adalah bentuk relasi yang buruk. Yuk kenali mitos-mitos apa saja yang sering muncul tentang LDR.

Tuhanlah Sumber Kekuatan, Sebuah Surat Dariku yang Pernah Kehilangan

Oleh Nia Andrei, Sampit

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan Yesus, sekitar satu bulan yang lalu aku menuliskan kesaksian yang berjudul “Dia yang Kukasihi, Dia yang Berpulang Lebih Dulu”. Di tulisan itu aku menceritakan momen-momen ketika Tuhan akhirnya memanggil pulang suamiku. Dan di tulisan ini, aku ingin bercerita kembali tentang kebaikan Tuhan, terkhusus setelah kehilangan berat yang kulalui.

Sebelum dan setelah menikah, aku dan suamiku melayani bersama-sama di gereja. Dia melayani sebagai pemain musik, sedangkan aku sebagai singer. Sempat beberapa kali kami mendapatkan jadwal pelayanan bersama. Sungguh suatu sukacita bisa melayani Tuhan dan jemaat-Nya di gereja. Walaupun saat itu kondisi suamiku telah sakit, dan dalam beberapa minggu sekali dia harus bolak-balik ke rumah sakit untuk transfusi darah. Namun, dia tetap semangat untuk pelayanan musik di gereja.

Singkat cerita, ketika Tuhan akhirnya memanggilnya pulang, aku kembali mengingat pesan-pesan berharga yang pernah dia sampaikan kepadaku. “Jangan hidup dalam kekhawatiran, ada Tuhan yang pelihara.” Dia juga memintaku untuk jadi wanita yang kuat, bijak, dan mandiri. Aku tidak perlu menangis karena dia baik-baik saja. Aku sangat percaya bahwa sekarang dia baik-baik saja bersama Bapa di surga, sudah sehat dan tidak lagi merasakan penderitaan di dunia. Pesan-pesan itulah yang selalu kuingat sampai saat ini. Sampai pada saat kehilangan itu terjadi, aku tetap berkomitmen memberikan hidupku untuk melayani Tuhan walaupun tidak lagi bersama-sama dengan suamiku.

Aku melakukan aktivitasku seperti biasa: bekerja dan melayani di gereja. Aku minta kekuatan dari Tuhan sebab aku hanyalah manusia yang terbatas. Aku menyadari bahwa kematian itu pasti akan kita alami, namun di balik itu, aku menyadari pula bahwa kehidupan ini berharga bagi Tuhan. Kita bisa menjalani hari demi hari karena kasih dan penyertaan Tuhan. Kita percaya bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan kita tidak lepas dari campur tangan Tuhan.

Mungkin akan ada saatnya ketika kita tiba di satu titik, kita menyadari bahwa hari-hari yang kita jalani tanpa lagi ditemani oleh orang-orang yang kita cintai. Namun, karena kita punya iman kepada Yesus, kita mampu untuk melalui rasa kesepian dan kesendirian.

Berlarut-larut dalam rasa kehilangan, mungkin bagi sebagian kita itu membuat kita tidak lagi bersemangat, tidak nafsu makan, dan tidak berdaya. Namun, aku percaya bahwa Tuhan Yesus mengatakan dalam Yohanes 14:16-17 bahwa Dia menjanjikan Penghibur, Penolong, dan memberikan kita damai sejahtera untuk menjalani hari-hari di hidup kita. Tuhan Yesus juga mengingatkan dalam Yesaya 46:4 bahwa “sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu, Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Dalam satu buku yang kubaca berjudul Dear God-Season One karya Vonny Evelyn Jingga, terdapat ilustrasi percakapan seperti ini:

God : Kau kecewa pada-Ku karena semuanya Ku-ambil darimu?
Me : Tidak, Tuhan. Segala sesuatu boleh Kau ambil dariku. Asal jangan Kau tinggalkan aku.
God : Aku tahu sesungguhnya Aku tidak mengambil semuanya darimu. Ada satu yang Ku-tinggalkan untukmu.
Me : Apakah itu, Tuhan?
God : Hati-Ku.

Aku percaya, melalui tulisanku ini Tuhan hendak menunjukkan bahwa Dia berkuasa penuh dalam hidup kita, tetapi Dia juga ingin menyatakan kemuliaan-Nya di hidup kita. Dia ingin hidup kita menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Meskipun kita mengalami kehilangan yang pedih, kita bisa mempercayai hati-Nya.

Kiranya kehidupan kita sehari-hari dapat berdampak positif dan bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Bagaimana Usia 20-an Mengajariku Cara Pandang Baru untuk Menjalin Relasi

Di usia 20-an kita bukan lagi remaja. Relasi dengan orang-orang di sekitar kita perlu dibina dengan cara yang benar.

Dia yang Kukasihi, Dia yang Berpulang Lebih Dulu

Oleh Nia Andrei, Sampit

Kawanku terkasih, tulisan ini adalah cerita singkat dari perjalanan pernikahanku dan suamiku.

Sekitar sebulan lebih setelah pernikahan kami, barulah diketahui bahwa suamiku menderita Leukimia atau kanker darah. Selama beberapa bulan setelahnya, suamiku harus kontrol bolak-balik ke rumah sakit dan transfusi darah.

Karena kondisi sakit kankernya yang membutuhkan perawatan lebih intensif, kami sekeluarga memutuskan untuk melanjutkan perawatannya di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Pada hari Sabtu, 2 Februari 2019, aku mendapatkan cuti dari kantorku. Aku sengaja tidak menghubungi suamiku. Aku tidak bilang kalau aku akan menyusulnya ke Jakarta. Hari itu, aku tiba-tiba datang ke ruang perawatannya.

Aku membuka tirai ruangannya dan berkata, “Hai..”

Papa mertuaku yang sedang menemaninya di ruangan pun tersenyum ketika aku datang.

Suamiku kaget, lalu bilang, “Hah?!”

“Kamu seneng nggak aku datang?”

“Iya,” jawabnya lirih.

“Tapi kok biasa aja?”

“Memangnya aku harus loncat-loncat di ranjang?” jawabnya begitu.

Aku tertawa dan menimpalinya dengan candaan, “Iya lah, sambil loncat-loncat di bed.”

Waktu melihat keadaannya, aku hampir menangis, tapi aku tetap berusaha tegar di hadapannya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangis di depan suamiku. Aku melihat lebam besar di pergelangan tangan kanan dan di paha sebelah kirinya. Kuoleskan salep di kedua bagian itu.

Mulai hari itu, aku menginap di RS, menenami dia. Setiap hari sebelum dia tidur, aku mengelus dahinya supaya dia merasa nyaman.

Minggu, 3 Februari 2019

Kegiatanku selama di rumah sakit tiap pagi dan sore adalah mengambil air panas di sudut ruangan. Tiap subuh jam 5, perawat datang untuk mengambil darah suamiku melalui selang cvc yang terpasang di dada kanannya, diukur tekanan darahnya, dan suhu tubuhnya. Aku melap seluruh badannya menggunakan waslap dan mengganti bajunya dengan baju pasien. Sprei dan sarung bantalnya pun tak lupa kuganti. Tiap mengusap wajahnya dengan waslap, aku berkata, “Ayang… Ayang…,” inginku menangis rasanya, tapi aku selalu menahan. Setiap kali dia buang air kecil selalu kucatat berapa mililiter volumenya, demikian juga jika dia minum dan buang air besar. Dia pun rutin menggunakan pengobatan uap untuk perbaikan infeksi di paru-parunya. Kadang hanya berselang satu hari jikalau Hb dan trombositnya turun, pasti dia harus melakukan transfusi darah.

Aku membawa Alkitab pernikahan kami. Setiap pagi sesudah sarapan aku membacakan beberapa ayat Alkitab dan dia hanya memandang diriku. Aku pun memandangi dirinya. Kami berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Rasanya kami mampu menjalani hari ke hari hanya oleh penyertaan dan kasih setia Tuhan yang begitu luar biasa bagi kami.

Senin, 4 Februari 2019

Sama seperti hari-hari sebelumnya, ambil darah setiap pagi lewat selang cvc, disuntikkan antibiotik untuk paru-paru, minum obat pagi siang sore (4 macam), tetap pakai uap untuk perbaikan paru-parunya. Pagi hari itu, aku membacakan sebagian ayat Alkitab dan berdoa bersama. Sempat aku terdiam pada ayat Alkitab dari 2 Korintus 4:16, 5:1-8. Aku menangis dan diam, lalu dia memintaku untuk membacanya sampai habis.

Aku sempat mengobrol serius dengannya, “Hun, aku mau resign dari kerjaanku.”

Dia menjawab, “Kenapa? Pikirkan juga kerjaan.”

“Tapi kamu mau aku di sini sama kamu, kan? Mengurus kamu kan?”

“Iya,”

“Ya udah, jangan dipikirkan dulu.”

Selasa, 5 Februari 2019

Menjalani hari-hari bersama dia di RS, mengurus ini dan itu kebutuhannya setiap hari. Siangnya bertemu dokter paru dan dokter mengatakan bahwa pengobatan untuk paru-parunya perlu tetap dijalankan supaya nanti bisa dilakukan kemoterapi. Dokter sempat mengatakan dia perlu keluar dahulu sejenak supaya bisa menghirup udara segar dan terkena sinar matahari, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk keluar karena dia masih bergantung dengan selang oksigen.

Rabu, 6 Februari 2019

Kami menjalani hari-hari seperti hari-hari sebelumnya. Kami membaca Alkitab dan berdoa bersama.

Kamis, 7 Februari 2019

Sekitar jam 5 subuh, dokter Hematologi datang dan mengatakan kalau dia perlu dibawa keluar dari ruang perawatan supaya mendapat udara segar dan terkena sinar matahari karena udara dalam ruangan tidak baik untuk paru-parunya, antibiotik pun sudah resisten. Tapi, kondisinya masih tidak memungkinkan untuk keluar dari ruangan karena dia terlihat mulai sesak nafas dan bergantung dengan selang oksigen.

Hari itu adalah hari yang berat bagiku karena aku harus kembali ke Sampit dan meninggalkan dia di Jakarta.

Aku bertanya lagi memastikan keputusanku, “Hun, aku mau nanya lagi ni, memastikan. Kamu mau aku di sini kan nemenin kamu, mengurus kamu?”

“Iya, terserah saja. Yang terbaik ya.”

Aku bilang, “Oke kamu gak usah pikirin dulu karena keputusan ada di tanganku, aku mau resign.”

Pagi itu dia sudah terlihat mulai sesak nafas dan aku tak tega meninggalkan dia. Aku menghubungi atasanku untuk memperpanjang izinku, tapi tidak diperbolehkan. Mau tidak mau aku perlu pulang ke Sampit dan bilang bahwa aku ingin resign. Waktu aku pamit pada suamiku, wajahnya memerah. Matanya menatapku seolah ingin berkata, “Hun, jangan pergi.” Tapi aku tetap pergi waktu itu dan kembali ke Sampit.

Jumat, 8 Februari 2019

Pagi harinya aku masuk kantor dan sore hari tepat di jam pulang kantor aku memberanikan diri bilang ke atasanku bahwa aku ingin resign dan keputusan ini sudah bulat. Aku mau fokus merawat suamiku. Atasanku setuju.

Malam harinya aku mendapat kabar kalau dia sudah mulai sesak nafas dan di ruang perawatan pun sudah digunakan monitor jantung dan rencananya suamiku akan segera dibawa ke ICU. Aku menangis, berlutut, dan berdoa kiranya Tuhan dapat menolong dia melewati kondisi yang harus dihadapi. Aku pun bergegas membeli tiket pesawat untuk berangkat ke Jakarta besok paginya lewat Palangkaraya. Singkat cerita, saat dia yang kukasihi sedang berjuang di ruang ICU, waktu menunjukkan pukul 23:45 dan aku mendapat kabar bahwa Tuhan Yesus telah memanggilnya pulang.

Aku tersentak. Aku menangis. Aku meraung dan malam hari itu di Sampit turun hujan yang sungguh deras.

* * *

Aku mampu melewati semuanya, sepanjang perjalanan hubungan kami hingga menikah, semuanya karena kekuatan dan penyertaan daripada Tuhan. Aku mengingat kembali semua kebaikan-Nya pada kami. Walaupun waktu-waktu kami bersama begitu singkat, tetapi aku tetap bersyukur karena Tuhan masih memberikanku waktu untuk merawat suamiku dengan intens selama 6 hari di RS Kanker Dharmais Jakarta. Tuhan Yesus, terima kasih, Engkau sangat baik.

Sampai saat ini pun, aku tetap merasakan kasih dan penyertaan Tuhan dalam kehidupanku walau terkadang aku sangat rindu dengan suamiku, dia yang kukasihi.

Semoga kesaksian tentang sekelumit kisah kehidupanku dan alharhum suamiku bisa menjadi berkat bagi semua yang membaca kisah kehidupan kami.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Baca Juga:

Wanita untuk Kemuliaan Allah

Pada saat Ia bangkit dari kematian-Nya, saksi pertama dari kisah yang mengguncangkan sejarah itu adalah Maria Magdalena, seorang wanita. Mengapa bukan tokoh yang dianggap penting seperti Petrus, Yohanes, Yakobus, atau murid pria lainnya?

Ketika Penolakan Menjadi Awal Baru Relasiku dengan Tuhan

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Aku lahir bukan sebagai orang Kristen, setidaknya sampai aku berusia 6 tahun ketika ayahku menanyakan apakah aku bersedia mengikuti kepercayaannya. Di masa-masa setelahnya, sangat sulit untuk beradaptasi dengan identitas baruku itu karena budaya serta lingkungan sosial seakan-akan mencap aku ‘berbeda’. Beberapa konflik terjadi karena ‘perubahan’ ini, hingga akhirnya aku menyimpulkan bahwa diriku tidak berharga. Aku ditolak dan aku pantas untuk ditolak.

Pemikiran akan identitas tersebut ternyata sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan kehidupanku sehari-hari. Aku jadi serba takut untuk melakukan sesuatu karena takut salah, takut ditolak, takut orang membenciku karena aku melakukan ini dan itu, dan segala jenis takut lainnya terus menghantuiku sepanjang masa kecil hingga remaja. Aku tumbuh menjadi perempuan yang penakut.

Saat aku berada di universitas, aku dibina di persekutuan kampus. Masih menyandang identitas sebagai seorang ‘penakut’, aku menyadari bahwa perlahan-lahan Tuhan sedang membentuk dan mengajari aku melalui sebuah persekutuan. Dalam persekutuan tersebut, untuk pertama kalinya aku merasa diterima sebagai aku yang apa adanya. Tidak ada rasa penolakan, dan aku merasa sangat nyaman. Ditambah lagi dengan rasa sukacita karena aku ‘akhirnya’ diterima dalam sebuah lingkungan sosial yang menurutku sangat baik.

Saat lulus kuliah, aku pun tidak lepas dari kehidupan persekutuan. Meski tidak lagi di kampus, tapi aku mendapat kesempatan untuk bergabung lagi dengan sebuah persekutuan yang anggotanya lebih banyak dari kalangan alumni. Aku kembali merasa sangat senang karena aku tidak ditolak di sana. Awalnya aku merasa puas dengan fakta ini, sampai tiba pada masa Tuhan mengajak aku mengalami petualangan ‘ditolak’ yang cukup mengejutkanku.

Singkat cerita aku menyukai seorang partner pelayanan. Motivasi awalnya hanya karena aku melihat dia perlu ditolong. Jadilah aku sering mendoakan dia dan kehidupannya yang beberapa kali menjadi topik obrolan kami. Sayangnya, dalam hal ini aku sudah merasa cukup percaya diri bahwa dia akan menerimaku menjadi pacarnya. Sampai pada akhirnya ketika aku mulai merasa tidak nyaman dengan perasaanku sendiri, tidak nyaman dengan berbagai macam asumsi yang tidak terverifikasi, akhirnya aku nekat untuk menyatakan perasaanku padanya. Tujuannya memang supaya aku tidak penasaran lagi dengan segala asumsiku sendiri. Ternyata, aku ditolak. Aku tidak menanyakan apa pun, namun dengan pernyataan bahwa dia hanya menganggapku teman, itu sudah cukup menjelaskan bahwa dia menolakku untuk menjalin relasi yang lebih dari sekadar teman. Pada peristiwa inilah rasa takut yang sempat hilang itu muncul kembali. Segala ketakutan- ketakutan yang sempat hilang tiba-tiba muncul lagi. Sedih, kecewa, merasa tidak berharga, malu, bahkan aku sempat marah pada Tuhan karena mengalami penolakan lagi. Aku bertanya-tanya: apakah aku tidak berharga? Apakah hidupku hanya lelucon sehingga dunia menolakku?

Di tengah-tengah kekalutan pikiran dan emosi, Roh Kudus menolongku untuk bangkit perlahan-lahan. Salah satunya melalui media buku. Bertepatan dengan musim pandemi COVID-19 di Indonesia yang mengharuskan aku membatasi kegiatan di luar rumah, membaca buku akhirnya menjadi salah satu aktivitas pilihanku sembari work from home.

Sungguh tidak menyangka bahwa buku yang aku baca saat itu membawaku pada pengalaman rohani yang sangat menyegarkan. Judul bukunya “Surrender To Love” yang ditulis oleh David G. Benner. Dari buku tersebut aku belajar dan disadarkan kembali bahwa Allah benar-benar mengasihi aku dan Dia tidak bisa tidak mengasihi aku. Bahwa Allah sungguh-sungguh merindukan relasi dengan kita umat-Nya secara pribadi, bukan secara kewajiban agama semata. Dan kasih-Nya merupakan sebuah tawaran untuk kita supaya terbebas dari rasa takut.

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18 TB)

Hal inilah yang membuatku mau berserah dan dipulihkan oleh Tuhan dari rasa takut serta penolakan. Aku akhirnya menikmati fakta bahwa aku tidak akan pernah ditolak oleh Yesus, karena Dia adalah Kasih. Sekarang, ketika melihat ke belakang, aku sungguh bersyukur pernah mengalami berbagai macam penolakan. Sebab penolakan-penolakan tersebut membuatku makin mengenal diriku sendiri, terlebih belajar mengenal Allah Sang Pencipta dan mulai membuka diriku untuk berelasi dengan-Nya secara pribadi dari hati yang rindu, bukan lagi sekadar ‘rutinitas rohani’. Dari berbagai macam penolakan yang kualami, Tuhan lagi mengajari aku bahwa berharap diterima oleh manusia saja tidak cukup. Hanya Tuhan yang bisa memuaskan kebutuhan akan penerimaan ini.

Pelan-pelan, aku bisa berdamai dengan masa laluku, dan aku juga bisa berdamai dengan diriku sendiri yang memiliki banyak kelemahan ini. Rasa takut ditolak pun terkikis sedikit demi sedikit dan aku mulai memupuk keberanian dalam mengerjakan segala sesuatu atau ketika berelasi dengan siapapun—karena aku yakin aku berjalan bersama Tuhan.

Jika kita pernah atau sering merasa tertolak, tidak dianggap, tidak dihargai, hidup terasa tak berguna, mari sama-sama mengingat bahwa Allah tak pernah menolak kita. Kita selalu diterima oleh-Nya sekalipun dunia menolak kita.

Baca Juga:

Cerpen: Mamaku Terkena Stroke Tiba-tiba

Waktu mama divonis stroke, aku ingin menangis, tapi mamaku bilang, “Jangan nangis, Ka. Tuhan pasti akan memberi jalan.”

Aku memberikan sedikit kataku untuk menyemangati mama, “Ma, kami bertiga belum sukses, Ma. Masa mama sakit? Mama harus bisa sembuh. Apalagi kakak dan abang bentar lagi wisuda, Ma.”

Yesus Sayang Semua, Aku Masih Berusaha, Kamu?

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Yesus cinta semua anak, semua anak di dunia
Kuning, putih dan hitam, semua dicinta Tuhan
Yesus cinta semua anak di dunia

Siapa nih yang baca tulisan di atas sambil menyanyi atau bersenandung? Sebagian dari kita mungkin tahu judul lagu di atas saat kita berada di sekolah Minggu, yaitu “Yesus Cinta Semua Anak” atau judul aslinya, “Jesus Loves The Little Children”. Kita tentu setuju kalau lagu di atas mencerminkan iman kita bahwa Yesus mencintai kita semua. Penebusan-Nya diberikan pada semua manusia, bahkan pada seluruh ciptaan-Nya, sebagaimana tertulis dalam Galatia 3:13, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’”

Ketika kita menerima kasih Allah melalui penebusan Kristus, kita juga dituntut agar menjadi serupa dengan-Nya. Injil Matius 5:48 dengan jelas menyatakan, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Pada perikop tersebut, Yesus menyatakan pentingnya hidup kudus, mengampuni dan juga mengasihi musuh kita.

Mudahkah melakukan itu semua?

Sepanjang sejarah kekristenan,dari masa lalu sampai masa kini, meneladani teladan kasih Yesus bukanlah hal mudah. Ada banyak peristiwa kelam yang terjadi, seperti Perang Salib demi merebut ‘Tanah Suci’ Yerusalem, konflik berdarah pasca reformasi Protestan di abad 16, hingga semangat 3G: Gold, Glory, Gospel yang menjadi salah satu faktor penjajahan bangsa Eropa atas bangsa lain. Pertanyaannya, apakah orang-orang Kristen di masa lampau benar-benar menghidupi kasih Kristus?

“Itu kan masa lalu, kekristenan sudah berubah,” mungkin ada yang mengatakan begitu. Apakah benar umat Kristen sekarang sudah menjadi lebih baik?

Mungkin kita perl sama-sama berefleksi pada pengalaman kita sebagai orang Kristen di Indonesia. Secara statistik, kita adalah golongan kecil dibandingkan dengan penganut agama lain. Pun, tak jarang kita menerima ancaman maupun persekusi dari pihak lain. Kita ingat pada Mei 2018 silam terjadi peledakan bom di tiga gereja di Surabaya. Ketika pelaku ataupun sindikat dari kekerasan dan kejahatan tersebut tertangkap, apakah kita berpikir, “mati saja orang itu!”? Atau, ketika kita mendapati orang-orang yang menghina iman kita ternyata menghadapi musibah atau terciduk oleh aparat, apakah yang terlintas di pikiran kita? Apakah kita berkata, “Sukurin, rasakan hukuman Tuhan”? Atau, dari setiap peristiwa buruk tersebut, apakah kita sanggup dan berani merespons dengan memaafkan dan mendoakan mereka?

Bagiku, sangat susah untuk menjadi serupa dengan Kristus yang sayang pada semua orang, tapi susah bukan berarti tidak bisa. Kita lupa bahwa ada Roh Kudus yang sejatinya memampukan kita untuk melakukan hal-hal yang kita anggap terlampau sulit. Yesus berkata dalam Yohanes 16:13, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitkan kepadamu hal-hal yang akan datang. Dengan meminta pertolongan Allah melalui Roh Kudus, kita akan terus menerus diberdayakan untuk menjadi serupa dengan Yesus untuk mengasihi sesama.

Yesus sayang semua dan Ia ingin kita juga melakukan hal yang sama. Jika saat ini kita masih belum bisa, masih memiliki dendam kepada orang lain, maka bukan berarti kita telah gagal. Kita masih bisa kok untuk mengasihi mereka. Menjadi sempurna bukan sepraktis memasak mie instan. Ada proses yang harus kita lalui bersama Roh Kudus. Dengan meminta tuntunan Roh Kudus terus menerus terus menerus, kita akan diingatkan bahwa kita lebih dahulu dikasihi Tuhan dan kita dimampukan mengasihi orang yang bersalah pada kita.

Menutup tulisan ini, sebuah lagu dari Barasuara berjudul Hagia kiranya dapat menjadi pengingat kita akan salah satu frasa dari “Doa Bapa Kami”.

Baca juga artikel lainnya terkait topik ini di sini.

Baca Juga:

Bahasa Cinta: Lebih dari Sekadar Kata

Sobat muda, tahukah kamu bahwa memahami bahasa cinta dapat menolong kita mengasihi orang lain dengan lebih baik?

Yuk baca artikel Dorkas berikut ini.

Bahasa Cinta: Lebih dari Sekadar Kata

Oleh Dorkas Febria Krisprianugraha, Karanganyar

Ajarilah kami bahasa cinta-Mu
Agar kami dekat pada-Mu ya Tuhanku
Ajarilah kami bahasa cinta-Mu
Agar kami dekat pada-Mu

Sebagian besar dari kita mungkin tidak asing dengan penggalan lirik lagu di atas. Namun, pernahkah kita berpikir: bagaimana sih bahasa cinta itu? Bagaimana kita bisa mempelajarinya? Dan, mengapa bahasa cinta bisa menolong kita lebih dekat pada Tuhan?

Ketika kita belajar bahasa, pasti kita akan diajarkan juga tentang aturan baku tata bahasa. Misalnya, ketika kita belajar bahasa Indonesia, kita diajak untuk mengenal susunan kalimat yang baik, yang terdiri dari subyek, predikat, obyek, dan keterangan (S-P-O-K), juga tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Atau, ketika kita belajar bahas Inggris, kita turut juga belajar tentang grammar dan vocabulary. Ketika kita sudah fasih mengaplikasikan bahasa yang kita pelajari, maka kita bisa dianggap berhasil mempelajarinya. Lantas, bagaimana dengan bahasa cinta?

Dr. Gary Chapman, seorang pendeta senior di Calvary Baptist Church, di Amerika Serikat pernah menulis buku yang membahas tentang 5 Love Languages alias 5 Bahasa Cinta. Dalam bukunya, beliau menjelaskan bahwa setidaknya ada lima bahasa cinta yang dimiliki manusia. Ketika kubaca ringkasan buku tersebut yang sudah banyak beredar di berbagai website, kupikir apa yang ditulis Dr. Gary Chapman tentunya sudah terlebih dahulu diteladankan oleh Tuhan Yesus, karena Dialah sumber kasih tersebut.

Inilah lima bahasa kasih dan teladan Kristus:

1. Words of affirmation (kata-kata penguatan)

Dalam beberapa kisah, Yesus memberi teladan bagaimana Dia melontarkan kata-kata yang membangun. Ketika murid-murid meminta-Nya untuk mengusir wanita yang meminta tolong pada-Nya dengan berteriak, Yesus tidak lantas memperlakukan wanita itu dengan kasar. Yang Yesus katakan adalah kalimat penghargaan kepadanya, “Hai ibu, besar imanmu maka jadilah padamu seperti yang kaukehendaki” (Matius 15:28).

Kalimat pujian, kalimat penghargaan, atau ucapan terima kasih adalah contoh dari kalimat yang membangun. Namun, kalimat yang membangun juga tidak selalu harus berupa pujian atau penghargaan, melainkan bisa juga berupa teguran. Amsal 27:5 mengatakan, “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi”. Mengasihi bukan berarti membiarkan seseorang terus menerus melakukan kesalahan. Teguran adalah salah satu bukti kasih yang nyata. Namun, hendaknya kita menegur dengan kata-kata yang membangun, bukan dengan cacian atau kata-kata yang menjatuhkan.

2. Quality time (waktu yang berkualitas)

Menghabiskan waktu bersama orang yang kita kasihi tentu adalah hal yang sangat menyenangkan. Orang-orang yang kita kasihi pun tentu berharap kita dapat menyediakan waktu bersama mereka.

Di tengah pelayanan-Nya dari satu kota ke kota lain, Yesus tetap menyediakan waktu berkualitas untuk membangun kedekatan dengan murid-murid-Nya. Di beberapa perikop, disebutkan bahwa ada waktu-waktu di mana Yesus makan bersama dengan murid-murid-Nya dan berbincang bersama mereka (Yohanes 21:20; Lukas 7:49; Yohanes 13:2).

Terkadang pekerjaan maupun pelayanan kita membuat kita lupa bahwa ada orang-orang di sekitar kita—pasangan, orang tua, anak, saudara, maupun sahabat—yang menunggu untuk sekadar mengobrol atau beraktivitas dengan kita. Yuk sediakan waktu terbaik sebagai wujud kasih kita, karena waktu adalah salah satu pemberian terbaik yang bisa kita berikan kepada orang-orang yang kita kasihi.

3. Receiving gifts (menerima hadiah)

Menerima sebuah hadiah adalah salah satu cara yang membuat kita merasa dikasihi.

Ketika menerima hadiah, mungkin kita tak asing apabila si pemberi mengatakan, “Ini hadiah untukmu, jangan dilihat dari harganya ya.” Kalimat ini menunjukkan bahwa makna dari pemberian hadiah lebih penting dari harga sebuah barang yang menjadi hadiah tersebut. Hadiah memang identik dengan pemberian barang, namun bagi Zakheus dan seorang perempuan sundal, hadiah memiliki makna yang lebih dalam daripada sebuah barang. Mereka merasa dikasihi Yesus bukan karena hadiah berwujud barang, namun hadiah yang berwujud penerimaan (Lukas 19:1-10; Lukas 7:36-50). Mengasihi seseorang berarti kita mampu menerima mereka apa adanya dengan kesadaran bahwa setiap manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26), itulah salah satu hadiah terbaik yang bisa kita berikan.

4. Acts of service (tindakan melayani)

Tindakan melayani tentu menjadi hal yang sangat kita teladani dari Yesus, salah satu tindakan pelayanan-Nya adalah ketika Dia membasuh kaki murid-murid-Nya (Yohanes 13:5). Yesus menunjukkan bagaimana Dia mengasihi murid-murid-Nya. Dia yang disebut sebagai rabi, namun tidak menempatkan diri-Nya untuk selalu dilayani. Mungkin kita memiliki jabatan, status sosial, atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari orang lain, namun ini bukanlah alasan bagi kita untuk tidak melayani.

Tindakan melayani bisa kita lakukan mulai dari hal-hal sederhana, misalnya saat sedang makan bersama, kita menolong teman, pasangan, atau orang tua kita mengambilkan makanan, dan segudang hal sederhana lainnya.

5. Physical touch (sentuhan fisik)

Yesus juga memberikan teladan bahwa kasih dapat diwujudkan melalui sentuhan fisik. Yesus memeluk anak-anak yang dibawa kepada-Nya pada saat Dia sedang mengajar (Markus 10:16). Sentuhan bisa menjadi wujud kehadiran kita secara nyata untuk orang-orang yang kita kasihi, dan dalam kondisi tertentu sentuhan bisa mengungkapkan hal-hal yang lebih dari sebatas kata-kata.

* * *

Belajar tentang bahasa cinta tentu tidak terbatas pada lima bentuk yang dituliskan Dr. Gary Chapman. Ada banyak bentuk bahasa cinta yang telah diteladankan oleh Yesus. Semakin kita mengenal Yesus, maka akan semakin banyak pula perbendaharaan bentuk bahasa cinta yang bisa kita teladani untuk mengungkapkan kasih kita kepada orang-orang sekitar. Dengan demikian, kita pun akan semakin dekat dengan Kristus seperti yang diungkapkan dalam penggalan lagu “Bahasa Cinta”.

“Barangsiapa mengasihi Allah, ia juga harus mengasihi saudaranya” (1 Yohanes 4:21).

Baca Juga:

Dalam Kegagalanku, Rencana Tuhan Tidak Pernah Gagal

“Gagal”, kata ini hinggap di pikiranku hingga aku berpikir untuk tidak usah kuliah saja setelah SMA. Namun, keluarga dan orang-orang terdekatku tidak menyerah menyemangatiku. Aku ingat sahabatku berkata, “ke mana pun kita coba lari dari hadapan-Nya, Dia pasti akan menaruh kita di tempat yang memang sudah Dia pilih.”