Posts

Anak Bawang Tuhan

Oleh Antonius Martono

Percuma saja. Badanku sudah dibungkus dua selimut, tapi tetap saja dingin menggigil. Seolah-olah ada balok es yang tak dapat cair di dalam tubuhku sekalipun aku berupaya menghangatkan tubuhku.

Kala itu adalah malam yang panjang. Aku menderita masuk angin. Segala usaha pun telah kulakukan agar tubuhku segera merasa hangat kembali. Mulai dari meminum air hangat, menutup tubuh dengan selimut tebal, melaburi tubuh dengan balsam panas, tapi kehangatan yang diharapkan tak kunjung kurasa. Aku seperti kehilangan kemampuan untuk merasakan kehangatan kala itu. Dalam ringkuk tidurku di balik selimut, aku merenungkan kondisi fisik diriku ini. Bukankah kondisi seperti ini juga dapat terjadi dengan hatiku? Ada masa di mana aku “tidak dapat” merasakan kehangatan kasih Tuhan.

Dari dulu aku telah diajarkan bahwa Tuhan itu baik dan aku mempercayainya. Hanya saja bagiku kebaikan Tuhan bersifat eksklusif. Tidak semua anak Tuhan merasakanya secara melimpah termasuk aku. Memang benar aku adalah anak Tuhan, tapi aku memandang diriku sebagai anak bawangnya Tuhan. Jika seandainya Tuhan mau memberkati anak-anak-Nya, pasti aku akan kebagian paling akhir. Sebab Tuhan memprioritaskan berkatnya untuk anak-anak emasnya, sedangkan aku tidak masuk hitungan.

Aku menyimpulkan seperti ini berdasarkan kondisi keluargaku. Aku berasal dari keluarga broken home. Kedua orang tuaku pisah rumah saat aku berumur 15 tahun. Ibuku meninggal saat aku berusia 19 tahun yang membuatku menjadi seorang yatim piatu, sebab ayahku telah tiada 3 tahun sebelumnya. Sejak saat itu aku harus hidup berdua dengan adikku. Berdasarkan kondisi ini aku menyimpulkan bahwa Tuhan tidak mengasihiku seperti Dia mengasihi orang lain yang memiliki keluarga harmonis.

Kesimpulan ini berpengaruh terhadap caraku memandang Tuhan dan kehidupan. Aku jadi menaruh kecurigaan terhadap Tuhan. Aku kesulitan mendoakan pergumulan-pergumulanku sebab bagiku Tuhan tidak terlalu peduli. Aku merasa seperti berjuang sendiri dalam kehidupan ini dan Tuhan menjadi sosok penentu nasib yang harus kulawan. Aku seperti sedang adu kekuatan dengan Tuhan ketimbang bergantung kepada-Nya dan berusaha memenangkan pertandingan agar bisa hidup bahagia.

Dengan sikap seperti ini aku cenderung melihat kehidupan secara negatif. Aku iri dengan kehidupan teman-teman sebayaku dan menjadi orang yang mengasihani diriku sendiri. Aku juga menjadi sulit bersyukur atas berkat-berkat kecil di sekelilingku. Sehingga kebaikan yang aku terima dari orang di sekitarku pun kuanggap biasa saja. Seolah-olah ada atau tidak ada kebaikan itu pun tidak mempengaruhi hidupku. Toh, tidak ada yang berubah juga pada akhirnya. Padahal kebaikan-kebaikan tersebut mungkin adalah cara Tuhan menyatakan kehangatan kasih-Nya, tapi aku bergeming. Hatiku terlalu dingin terfokus pada kondisi keluargaku.

Aku tahu ini adalah pandangan yang tidak tepat tentang Tuhan. Aku ingin mengubahnya, tapi rasanya sulit. Sampai suatu ketika aku diingatkan oleh sebuah bagian dari buku rohani yang kubaca. Buku itu mengatakan bahwa untuk mengubah orientasi hati, kita perlu sadar bahwa kita telah, sedang, dan selalu dicintai Tuhan dengan dalam. Bukan sekadar dicintai melainkan dicintai dengan dalam.

Aku akhirnya tersadar bahwa selama ini Tuhan telah mengasihiku dengan dalam sekalipun lewat kebaikan-kebaikan kecil. Aku telah salah menilai kasih Tuhan. Aku menjadikan kondisiku sebagai sebuah indikator kasih Tuhan. Aku teringat sebuah ayat:

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma5:8).

Salib Kristus adalah bukti solid bahwa Tuhan mengasihiku dengan dalam. Bahkan Dia mengasihiku saat aku masih musuh Tuhan. Kalau Tuhan sendiri telah memberikanku anak tunggal emas-Nya, bukankah adalah perkara kecil bagi Tuhan untuk merawat masa depanku?

Kesimpulanku tentang Tuhan mencerminkan betapa sempitnya hatiku. Aku hanya mau dikasihi dengan satu cara, yaitu berubahnya kondisi kehidupanku secara drastis. Jika Tuhan tidak memberikannya maka benar aku adalah anak bawangnya Tuhan. Padahal Tuhan telah mengasihiku seumur hidupku. Kasih Tuhan begitu luas. Tuhan memiliki banyak cara untuk menunjukan kasih-Nya. Selama ini justru akulah yang membatasinya. Aku mengharuskan Tuhan menunjukan kasih-Nya sesuai ekspektasiku. Sehingga aku tak menyadari kehangatan kasih-Nya yang telah lama Dia berikan.

Setelah kuevaluasi kembali hidupku, ternyata Tuhan telah banyak menunjukan jejak kasih-Nya. Ekspresi kasih-Nya, sekalipun terlihat tidak sesuai kondisiku atau tidak menjawab doaku, tapi selalu melayani kebutuhanku. Selalu saja ada ekspresi kasih-Nya yang selama ini tidak aku sadari. Jika aku mampu bertahan sampai hari ini bukankah itu karena kasih-Nya? Jika aku dapat mengenal komunitas yang mendorongku untuk bertumbuh bukankah itu bentuk kasih-Nya? Jika aku dapat menikmati hubungan pribadi dengan Tuhan, bukankah itu bentuk kasih-Nya?

Perlahan pandanganku terhadap Tuhan dan kehidupan berubah. Aku menjadi pribadi yang lebih positif dan optimis dari sebelumnya. Aku berhenti mengasihani diri sebab aku tersadar bahwa kasih Tuhan yang dalam juga tertuju padaku. Sekarang aku lebih terbuka terhadap bentuk kasih dari Tuhan dan orang sekitarku. Aku bukanlah anak bawang Tuhan meskipun kondisi tidak seideal ekspektasiku.

Bagiku, ketika aku menyadari bahwa aku dikasihi oleh-Nya adalah kunci untuk mengubah cara pandangku melihat Tuhan. Aku yakin perubahan cara pandangku ini pun juga termasuk salah satu cara Dia mengasihiku.

Baca Juga:

Dilema Memutuskan Keluar Kerja di Tengah Pandemi

Meninggalkan pekerjaan yang telah kutekuni selama 15 tahun terasa berat, dan semakin berat ketika itu kulakukan di tengah masa pandemi.

Ketika Penolakan Menjadi Awal Baru Relasiku dengan Tuhan

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Aku lahir bukan sebagai orang Kristen, setidaknya sampai aku berusia 6 tahun ketika ayahku menanyakan apakah aku bersedia mengikuti kepercayaannya. Di masa-masa setelahnya, sangat sulit untuk beradaptasi dengan identitas baruku itu karena budaya serta lingkungan sosial seakan-akan mencap aku ‘berbeda’. Beberapa konflik terjadi karena ‘perubahan’ ini, hingga akhirnya aku menyimpulkan bahwa diriku tidak berharga. Aku ditolak dan aku pantas untuk ditolak.

Pemikiran akan identitas tersebut ternyata sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan kehidupanku sehari-hari. Aku jadi serba takut untuk melakukan sesuatu karena takut salah, takut ditolak, takut orang membenciku karena aku melakukan ini dan itu, dan segala jenis takut lainnya terus menghantuiku sepanjang masa kecil hingga remaja. Aku tumbuh menjadi perempuan yang penakut.

Saat aku berada di universitas, aku dibina di persekutuan kampus. Masih menyandang identitas sebagai seorang ‘penakut’, aku menyadari bahwa perlahan-lahan Tuhan sedang membentuk dan mengajari aku melalui sebuah persekutuan. Dalam persekutuan tersebut, untuk pertama kalinya aku merasa diterima sebagai aku yang apa adanya. Tidak ada rasa penolakan, dan aku merasa sangat nyaman. Ditambah lagi dengan rasa sukacita karena aku ‘akhirnya’ diterima dalam sebuah lingkungan sosial yang menurutku sangat baik.

Saat lulus kuliah, aku pun tidak lepas dari kehidupan persekutuan. Meski tidak lagi di kampus, tapi aku mendapat kesempatan untuk bergabung lagi dengan sebuah persekutuan yang anggotanya lebih banyak dari kalangan alumni. Aku kembali merasa sangat senang karena aku tidak ditolak di sana. Awalnya aku merasa puas dengan fakta ini, sampai tiba pada masa Tuhan mengajak aku mengalami petualangan ‘ditolak’ yang cukup mengejutkanku.

Singkat cerita aku menyukai seorang partner pelayanan. Motivasi awalnya hanya karena aku melihat dia perlu ditolong. Jadilah aku sering mendoakan dia dan kehidupannya yang beberapa kali menjadi topik obrolan kami. Sayangnya, dalam hal ini aku sudah merasa cukup percaya diri bahwa dia akan menerimaku menjadi pacarnya. Sampai pada akhirnya ketika aku mulai merasa tidak nyaman dengan perasaanku sendiri, tidak nyaman dengan berbagai macam asumsi yang tidak terverifikasi, akhirnya aku nekat untuk menyatakan perasaanku padanya. Tujuannya memang supaya aku tidak penasaran lagi dengan segala asumsiku sendiri. Ternyata, aku ditolak. Aku tidak menanyakan apa pun, namun dengan pernyataan bahwa dia hanya menganggapku teman, itu sudah cukup menjelaskan bahwa dia menolakku untuk menjalin relasi yang lebih dari sekadar teman. Pada peristiwa inilah rasa takut yang sempat hilang itu muncul kembali. Segala ketakutan- ketakutan yang sempat hilang tiba-tiba muncul lagi. Sedih, kecewa, merasa tidak berharga, malu, bahkan aku sempat marah pada Tuhan karena mengalami penolakan lagi. Aku bertanya-tanya: apakah aku tidak berharga? Apakah hidupku hanya lelucon sehingga dunia menolakku?

Di tengah-tengah kekalutan pikiran dan emosi, Roh Kudus menolongku untuk bangkit perlahan-lahan. Salah satunya melalui media buku. Bertepatan dengan musim pandemi COVID-19 di Indonesia yang mengharuskan aku membatasi kegiatan di luar rumah, membaca buku akhirnya menjadi salah satu aktivitas pilihanku sembari work from home.

Sungguh tidak menyangka bahwa buku yang aku baca saat itu membawaku pada pengalaman rohani yang sangat menyegarkan. Judul bukunya “Surrender To Love” yang ditulis oleh David G. Benner. Dari buku tersebut aku belajar dan disadarkan kembali bahwa Allah benar-benar mengasihi aku dan Dia tidak bisa tidak mengasihi aku. Bahwa Allah sungguh-sungguh merindukan relasi dengan kita umat-Nya secara pribadi, bukan secara kewajiban agama semata. Dan kasih-Nya merupakan sebuah tawaran untuk kita supaya terbebas dari rasa takut.

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18 TB)

Hal inilah yang membuatku mau berserah dan dipulihkan oleh Tuhan dari rasa takut serta penolakan. Aku akhirnya menikmati fakta bahwa aku tidak akan pernah ditolak oleh Yesus, karena Dia adalah Kasih. Sekarang, ketika melihat ke belakang, aku sungguh bersyukur pernah mengalami berbagai macam penolakan. Sebab penolakan-penolakan tersebut membuatku makin mengenal diriku sendiri, terlebih belajar mengenal Allah Sang Pencipta dan mulai membuka diriku untuk berelasi dengan-Nya secara pribadi dari hati yang rindu, bukan lagi sekadar ‘rutinitas rohani’. Dari berbagai macam penolakan yang kualami, Tuhan lagi mengajari aku bahwa berharap diterima oleh manusia saja tidak cukup. Hanya Tuhan yang bisa memuaskan kebutuhan akan penerimaan ini.

Pelan-pelan, aku bisa berdamai dengan masa laluku, dan aku juga bisa berdamai dengan diriku sendiri yang memiliki banyak kelemahan ini. Rasa takut ditolak pun terkikis sedikit demi sedikit dan aku mulai memupuk keberanian dalam mengerjakan segala sesuatu atau ketika berelasi dengan siapapun—karena aku yakin aku berjalan bersama Tuhan.

Jika kita pernah atau sering merasa tertolak, tidak dianggap, tidak dihargai, hidup terasa tak berguna, mari sama-sama mengingat bahwa Allah tak pernah menolak kita. Kita selalu diterima oleh-Nya sekalipun dunia menolak kita.

Baca Juga:

Cerpen: Mamaku Terkena Stroke Tiba-tiba

Waktu mama divonis stroke, aku ingin menangis, tapi mamaku bilang, “Jangan nangis, Ka. Tuhan pasti akan memberi jalan.”

Aku memberikan sedikit kataku untuk menyemangati mama, “Ma, kami bertiga belum sukses, Ma. Masa mama sakit? Mama harus bisa sembuh. Apalagi kakak dan abang bentar lagi wisuda, Ma.”

Marriage Story: Mengapa Relasi yang Hancur Tetap Berharga untuk Diselamatkan?

Oleh Jiaming Zheng
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Marriage Story: Why Broken Relationship Are Still Worth Saving
Gambar diambil dari official trailer

Aku menonton film Netflix, Marriage Story yang dibintangi oleh Adam Driver dan Scarlett Johansson di suatu malam di akhir minggu yang santai. Film itu menceritakan tentang sepasang suami istri, Nicole dan Charlie (diperankan oleh Johansson dan Driver dengan apik) ketika mereka sepakat untuk bercerai dan bertengkar tentang hak asuh anak mereka, Henry. Film ini menarik perhatian dan masuk nominasi Oscar serta sangat direkomendasikan oleh Netflix. Oleh karena itulah, aku memutuskan untuk menontonnya.

Kupikir aku tidak asing dengan kata ‘perceraian’, tapi tak kusangka film itu malah membuatku menangis memikirkan tentang relasi yang gagal, pengampunan, dan penebusan selama 2 jam 17 menit.

Nicole dan Charlie telah memutuskan untuk bercerai karena ‘perbedaan yang tak bisa dipersatukan’. Charlie digambarkan sebagai sosok egois yang menyerap energi orang lain. Ia tidak peduli dengan Nicole dan bahkan berbohong bahwa ia telah berselingkuh. Nicole mengorbankan banyak hal demi Charlie, namun permintaan dan keinginannya tak digubris—sampai pada akhirnya, ia tak tahan lagi.

Sebagai seorang wanita, aku mudah bagiku bersimpati kepada Nicole. Namun tidak mudah juga untuk membenci Charlie. Ia adalah seorang direktur jenius, bos yang hebat, ayah, menantu yang terluka akibat perceraian yang sangat terluka karena perceraian.

Namun seiring dengan kisah yang mulai terungkap, aku melihat Nicole sebagai sosok pribadi yang juga memiliki kesalahan. Ia kurang percaya diri, tidak tahu apa yang ia inginkan dan dengan mudah dipengaruhi oleh pengacara perceraiannya, Nora. Diperdaya Nora di masa-masa rapuhnya, ia membawa para pengacara—yang menjadi satu-satunya pihak yang mungkin menyukai situasi ini—ke tempat kejadian.

Dalam film, nampaknya kebenaran yang dikenal secara umum ialah bahwa pernikahan mau tidak mau akan berakhir dalam perceraian. Kita melihat hal ini lewat kehidupan saudara perempuan Nicole, rekan kerjanya serta para pengacara. Meskipun semuanya setuju bahwa prosesnya menyusahkan, perceraian dianggap sebagai satu-satunya opsi dan hampir seperti seremoni dalam proses kedewasaan.

Namun kenyataannya ialah: tidak ada satu pun pemenang dari masing-masing pihak pada akhirnya. Nicole akhirnya menandatangani surat perceraian. Ia menjadi “mercusuar harapan untuk para wanita” karena ia menentang stereotip gender bahwa seorang istri harus selalu berlaku lembut dan selalu menyediakan apa pun untuk suaminya. Nicole menunjukkan kepada dunia bahwa ia layak mendapatkan yang lebih baik. Namun apakah ia benar-benar menang? Apakah ia menemukan sukacita dan kebahagiaannya?

Apakah perceraian adalah satu-satunya jalan?

Marriage Story adalah film yang menggambarkan kehidupan di mana Tuhan tidak pernah ada, seperti ditekankan dalam monolog Nora, “Tuhan adalah Bapa. Dan Ia tak pernah muncul” ketika Maria melihat anak-Nya, Yesus mati. Dalam dunia itu, tidak ada kebangkitan dan penebusan. Satu-satunya jalan untuk pernikahan yang hancur adalah perceraian.

Seiring dengan alur film yang terus berjalan, aku mulai menyadari betapa rumitnya kehancuran relasi Charlie dan Nicole. Meskipun mereka sudah menikah selama bertahun-tahun lamanya, mereka tidak bisa berkomunikasi satu sama lain. Ada banyak momen di dalam film di mana aku berpikir, jika seandainya Charlie melihat betapa Nicole sangat tidak ingin melakukan hal ini, jika seandainya Nicole membaca suratnya sejak awal dan mereka bisa melihat betapa mereka saling menyakiti satu sama lain… Jika seandainya...

Dan perlahan, aku mulai bertanya-tanya, apakah perbedaan di antara mereka benar-benar tidak bisa didamaikan?

Di dunia tanpa adanya Tuhan, jawabannya: ya.

Namun di dalam dunia di mana Tuhan hadir, rekonsiliasi adalah kemungkinan yang bisa diraih. Injil memberitahukan kepada kita bahwa pidato Nora yang menggebu-gebu disalahartikan. Tuhan tidak muncul. Tuhan ada di sana bersama Yesus di setiap langkah-Nya. Padahal dalam 3 hari, Ia membangkitkan putra-Nya dari antara yang mati dan ‘didudukkan-Nya di tempat yang tertinggi’ (Filipi 4: 9).

Terlepas dari kekeliruan kita, Tuhan masih mencintai, menolong dan menebus kita dari semua dosa. Injil yang sama juga memiliki kekuatan untuk mengubah relasi kita yang gagal.

Aku percaya bahwa jika Nicole dan Charlie mengetahui cinta ini, mereka bisa belajar dengan bimbingan Roh Kudus untuk menjadi pribadi yang baik hati dan saling mencintai, saling mengampuni kesalahan yang mereka lakukan satu sama lain, dan membangun ulang relasi mereka (Efesus 4: 31-32).

Masing-masing harus melalui perubahan yang serius dan bertobat. Nicole harus melepaskan kepahitan dan amarah di dalam hatinya dan menemukan keberanian untuk berdiri sendiri. Charlie harus lebih rendah hati dan mendengarkan keinginan istrinya juga. Proses ini akan sulit dan menyakitkan, namun berharga untuk diperjuangkan.

Mengapa mereka perlu bersusah payah untuk melakukannya? Satu momen yang paling meretakkan hati dalam film ini ialah tatkala Charlie akhirnya membaca surat Nicole yang mengungkapkan segala detail tentang apa yang ia sukai tentang sang suami. Sayangnya, semua itu terjadi di saat surat perceraian sudah ditandatangani.

Meskipun mereka bertengkar dan saling meneriaki satu sama lain, mereka masih saling mencintai. Dan karena mereka akan selalu terikat lewat putra mereka, Henry, lalu mengapa semua ini harus berakhir dalam satu tragedi?

Mengapa pernikahan layak untuk diperjuangkan

Aku belum pernah menikah. Sebelum kamu menghakimi semua yang aku katakan sebagai seorang wanita yang naif dan idealis, aku akan menceritakan sedikit kisah pribadiku.

Dalam ingatanku, kata perceraian adalah kata yang umum diucapkan di dalam keluargaku. Kapan pun orangtuaku bertengkar—seperti layaknya Nicole dan Charlie saat mereka mencapai puncak pertengkaran dan kebuntuan—ibuku akan berteriak dan meminta cerai.

Di tengah petengkaran itu, aku sering terdiam dan dalam hati berharap apa yang mereka inginkan itu terjadi saja. Apa masalahnya? Ini dunia modern. Kalau kalian merasa tak bahagia, bercerailah saja. Itu akan jauh lebih baik untuk semua orang. Jika jadi kalian, aku akan melakukannya.

“Kau tidak mengerti,” kata ibuku. “Ini sangatlah rumit.”

“Hanya karena ibu tidak bisa menyelesaikannya,” kataku sembari menantangnya.

Sebagai seorang anak, aku pikir ibukulah yang salah. Namun ketika aku semakin dewasa, aku sadar betapa banyak pengorbanannya untuk merawat keluargaku dan ayahku yang baik hati dan luar biasa, meskipun seringkali ia gagal menjadi seorang suami yang peduli.

Sampai akhirnya aku mengamatii dan menjalin relasi dengan orang lain, akhirnya aku memahami bahwa saat kita berelasi, tidak ada di antara kita yang benar-benar tidak bersalah. Tindakan kita bisa secara tidak sengaja menyakiti yang lain dan kita semua harus memberikan hati untuk mengampuni dan mencintai satu sama lain untuk keberlangsungan relasi itu.

Seiring berjalannya waktu, Tuhan telah menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak boleh hanya berfokus pada hal-hal yang negatif. Ketakutan dan kesulitan berlebihan karena merasa tidak bahagia atau terjebak dalam sebuah konflik, telah membutakan mataku akan kebaikan dalam relasi keluarga kami. Perlahan, aku mulai melihat momen-momen ketika ayah mempedulikan ibuku, ketika ibu belajar untuk mengampuni dan ketika mereka bekerja sama dengan baik. Aku berhenti membiarkan momen-momen yang gelap itu menutupi segala hal baik yang terjadi di dalam keluargaku.

Tahun lalu, ketika kami merayakan Natal bersama di balkon rumah sewa AirBnB, aku merasa bahagia karena orangtuaku tak pernah bercerai. Aku bahagia karena mereka telah melalui semuanya. Apa pun itu. Entah karena aku dan saudara perempuanku, karena ibuku tidak cukup kuat atau sederhananya, karena mereka memang tidak mampu melakukannya. Apa pun alasannya, aku bahagia karena kami berbagi momen itu bersama sebagai keluarga, dan aku menyesal karena pernah berharap yang sebaliknya.

Dan mungkin momen-momen itulah yang membuat relasi yang hancur layak untuk diperjuangkan. Kita bisa percaya bahwa melalui pengampunan dan perubahan, kita bisa menuliskan ulang narasi dunia tentang pernikahan, menemukan pendamaian, serta mencerminkan kasih dan berkat dari Kristus kepada dunia yang putus asa dan membutuhkannya.

Di dalam dunia yang menyuruh kita untuk memprioritaskan dan memenangkan diri sendiri, mari kita “saling mengasihi sebagai saudara” dan “saling mendahului dalam memberi hormat” (Roma 12:10).

Baca Juga:

Dalam Segala Situasi, Bersekutu Itu Selalu Perlu

Sebagai pemimpin Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) masa-masa ini jadi sulit buatku. KTB online tak semudah yang dikira. Perlu upaya ekstra untuk membeli kuota, mengumpulkan semangat, juga mengatur strategi. Tapi, di balik itu semua, persekutuan antar sesama orang percaya memang perlu senantiasa dibangun.

Kasih Tuhan di Masa Corona

Oleh Jefferson, Singapura

Memasuki bulan keempat di tahun 2020, aku tidak menyangka kalau wabah COVID-19 akan jadi separah ini. Situasi di Singapura sendiri bereskalasi dengan cepat selama beberapa minggu terakhir. Pengetatan berkala peraturan-peraturan social distancing pun mencapai puncaknya ketika pemerintah mengumumkan kebijakan “pemutus arus”—yang mirip dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta—hari Jumat minggu lalu. Salah satu upaya yang diperkenalkan untuk menghambat laju penyebaran coronavirus adalah menutup kantor-kantor dari berbagai sektor non-esensial selama satu bulan, dimulai dari Selasa kemarin. Kantorku yang bergerak di bidang konsultasi lingkungan pun terkena imbasnya.

Aku cukup terkejut ketika mendengar harus bekerja dari rumah selama sebulan, terutama karena perusahaanku belum pernah melakukannya sejak pandemi ini dimulai. Group chat kantor pun mulai ribut dalam keresahan, membuat aku yang tadinya tenang-tenang saja jadi ikutan panik.

Pada saat itulah aku mulai menyadari dan merasakan dampak dari wabah COVID-19 secara langsung. “Ketakutan dan penderitaan semakin nyata di mana-mana,” pikirku. Pengamatan ini kemudian berkembang menjadi pertanyaan, “Menghadapi situasi seperti ini, tanggapan seperti apa yang iman Kristen berikan? Dan apa bedanya dengan reaksi dari dunia?”

Di antara banyak tulisan dan opini yang disuarakan oleh berbagai kalangan, artikel karangan N. T. Wright menuntunku untuk merenungkan tentang hal ini lebih dalam dari yang kukira, di mana aku melihat keindahan dan keunikan dari jawaban Kekristenan untuk pandemi ini.

“Kekristenan tidak menawarkan jawaban apapun atas coronavirus

Artikel itu dibuka dengan pengamatan beliau terhadap suatu refleks—layaknya lutut yang diketuk palu karet—dari banyak kalangan untuk memberikan sebuah label kepada peristiwa ini, entah sebagai “hukuman”, “pertanda”, maupun “respons alam”. Teori-teori konspirasi pun menyebar secepat virus korona menular. Orang-orang ini dijuluki N. T. Wright sebagai “Rasionalis” karena menuntut penjelasan rasional atas segala kejadian. Berseberangan dengan mereka adalah kaum “Romantisis” yang sentimentalis, yang menuntut suatu “desahan lega“, kepastian instan bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja.

Terhadap kedua reaksi tersebut, N. T. Wright memberikan alternatif respons yang iman Kristiani usung dalam bentuk ratapan, di mana kita mengakui dengan jujur kalau kita sama sekali tidak mengetahui alasan di balik suatu kejadian maupun hasil akhirnya. Ratapan beliau jabarkan sebagai tindakan “bergerak keluar dari kecemasan kita terhadap dosa-dosa dan pergumulan pribadi yang egois untuk melihat penderitaan dunia dengan lebih luas”. Tradisi ratapan yang Alkitabiah mengajak kita untuk berempati dengan penderitaan mereka yang berhadapan dengan pandemi ini dalam kondisi yang jauh dari ideal, seperti di kamp pengungsi yang padat di Yordania dan daerah penuh kekerasan perang seperti Gaza.

Beliau kemudian mengajak kita untuk menilik isi dari sejumlah mazmur ratapan. Beberapa mazmur memang ditutup dengan pembaharuan keyakinan akan penyertaan dan pengharapan dari Tuhan di tengah permasalahan, namun ada juga mazmur-mazmur yang berakhir dalam kegelapan dan kekalutan (seperti Mazmur 88 dan 89). Dari kedua jenis mazmur ratapan ini, kita melihat bahwa praktik ratapan tidak selalu memberikan jawaban atas segala rasa duka dan frustrasi yang kita alami. Meskipun begitu, ratapan selalu menyingkapkan suatu misteri yang dinyatakan oleh Alkitab kepada para peratap: TUHAN sendiri pun meratap.

Ratapan Allah Tritunggal terekam jelas dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Ada banyak bagian yang mencatat hati Tuhan yang berduka, seperti ketika melihat keberdosaan dan kejahatan manusia (Kejadian 6:5-6) serta ketika bangsa Israel pilihan-Nya sendiri berpaling dari-Nya untuk menyembah berhala (Yesaya 63:10). Di sisi lain, dalam Perjanjian Baru kita melihat air mata sang Anak di makam Lazarus (Yohanes 11:35) dan ”erangan” Roh Kudus di dalam diri kita (Roma 8:26) sambil kita sendiri “mengerang” bersama seluruh ciptaan (Roma 8:23). [Terjemahan Bahasa Indonesia memakai kata “keluhan” untuk kata yang secara konsisten diterjemahkan sebagai “groan(-ings)” / “erangan” oleh terjemahan-terjemahan Bahasa Inggris.]

Dari semua pengamatan ini, N. T. Wright menyimpulkan bahwa orang Kristen tidak dipanggil untuk (mampu) menjelaskan apa yang sedang terjadi dan mengapa itu terjadi, melainkan untuk meratap. Bersama dengan Roh Tuhan yang meratap dalam diri kita, ratapan kita menjadikan kita bait-bait Allah yang menyatakan penyertaan dan kasih-Nya di tengah dunia yang sedang menderita karena wabah COVID-19.

Ikut meratap bersama Tuhan yang meratap

Walaupun tulisan yang kuringkas di atas memperluas wawasan dan mengajarkan sebuah cara bagaimana kita dapat merespons wabah COVID-19 dengan Alkitabiah dan bijak, aku merasa kurang puas dengan konklusi yang N. T. Wright ambil. Aku merasa masih ada kaitan yang lebih mendalam antara ratapan kita dengan ratapan Allah yang tidak dipaparkan oleh beliau. Dalam perenunganku tentang hal ini, sebuah frasa dari Yesaya 53:3 mendadak muncul dalam benakku: “man of sorrows”, yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai “seorang yang penuh kesengsaraan”. Frasa ini digunakan dalam nubuatan nabi Yesaya tentang Hamba TUHAN yang menderita untuk memikul ganjaran dari dosa dan kejahatan yang sepatutnya kita terima (Yesaya 52:13–53:12), yang kemudian digenapkan oleh Yesus Kristus ketika Ia disesah, dihina, dan disalibkan sekitar 2000 tahun yang lalu.

Deskripsi Yesus sebagai man of sorrows inilah yang menggugah hatiku. Sebagai Tuhan atas seluruh ciptaan, Yesus Kristus adalah satu-satunya Pribadi di jagat raya yang memahami penderitaan secara penuh. Ia mampu melenyapkan kesengsaraan hanya dengan satu patah kata (bdk. Matius 26:53)! Yesus tidak perlu datang ke dunia, tapi Ia tetap mengambil rupa manusia dan mengalami penderitaan dengan sensasi panca indera yang sama dengan kita (Yesaya 53:7) hingga mati (53:8) sehingga “oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh” (53:5; bdk. 1 Petrus 2:24). Kurasa terjemahan Indonesianya tidak menggambarkan dengan penuh makna dari frasa ini. Bukan hanya “penuh kesengsaraan”, penderitaan yang Yesus alami pada Jumat Agung menjadikan-Nya “seorang sengsara”, kesengsaraan dalam wujud darah dan daging manusia.

Dalam perenungan inilah aku melihat hubungan antara ratapan kita dengan ratapan Tuhan: Yesus Kristus telah lebih dulu meratapi dan berempati dengan semua dosa dan penderitaan kita, bahkan mengalami sendiri segala penderitaan itu dan menanggungnya di atas kayu salib sampai mati, sehingga kita dapat “bergerak keluar dari kecemasan kita… yang egois untuk melihat penderitaan dunia dengan lebih luas”, meratapi dan berempati dengan penderitaan orang lain. Kebenaran ini digambarkan dengan indah oleh Paulus, “[Pribadi Allah Bapa] yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)

Allah yang kita sembah, yang menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus, tidaklah jauh dari kita semua (bdk. Ibrani 4:15). Ia tidak tinggal diam ketika melihat ciptaan-Nya yang menurut hikmat mereka sendiri mencoba untuk merasionalisasi dan meromantisasi jawaban atas segala kejahatan dan penderitaan di dunia. Kepada kaum-kaum Rasionalis, Romantisis, dan semua pandangan manusiawi lainnya, Allah menjawab dengan memilih untuk datang sendiri ke dalam dunia, merasakan segala penderitaan itu dalam wujud dan indera yang sama dengan kita, meratap bersama kita, dan menebus upah dosa hingga tuntas di atas kayu salib.

Kurasa bertepatannya momen wabah COVID-19 ini dengan masa Lent atau prapaskah dan peringatan Jumat Agung dan Paskah bukanlah sebuah kebetulan. Mengapa begitu? Karena di tengah masa coronavirus yang gelap pekat, cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus (2 Korintus 4:4), terang kasih Tuhan yang terus menyertai kita, dapat terlihat bersinar lebih cemerlang.

Meratap di tengah kegelapan, berharap pada sang Terang kasih dunia

Jadi, bagaimana kita dapat melakukan praktik ratapan di masa kini? Yang jelas, ratapan tidak dilakukan dengan berusaha menemukan penjelasan di balik situasi COVID-19 yang kompleks seperti golongan Rasionalis, maupun mencari penghiburan instan seperti kaum Romantisis. Sebaliknya, kita meratap dengan melihat keluar dari diri kita untuk menolong dan berempati dengan penderitaan orang lain, seperti yang N. T. Wright usulkan dan, aku ingin menambahkan, mengarahkan orang lain untuk melihat dan percaya kepada Kristus yang meratap bersama kita dan menanggung semua penderitaan itu untuk kita.

Melalui doa-doa yang kita panjatkan, percakapan-percakapan online dengan teman dan kerabat kita, serta mencari tahu dan menolong mereka yang membutuhkan bantuan—baik secara dana, pangan, maupun emosi—untuk melewati pandemi ini, kita memberitakan Injil kasih keselamatan dalam Yesus Kristus. Teman-teman kosku membantu menajamkan langkah yang terakhir dengan mengingatkan bahwa bantuan yang dapat kita berikan kepada orang lain pun adalah berkat yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita terlebih dahulu. Dengan kata lain, pengucapan syukur yang tulus adalah bagian penting dari tindakan kita menyalurkan berkat Tuhan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Dengan segala waktu dan sumber daya tambahan yang kudapatkan dari keharusan untuk bekerja dari rumah selama sebulan ke depan, aku tahu apa yang akan kuaplikasikan dari perenungan ini: mengucap syukur setiap saat atas berkat-berkat yang Tuhan terus berikan, meratapi penderitaan demi penderitaan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, dan membantu mereka yang membutuhkan sejauh yang kubisa. Melalui semua tindakanku ini, aku berdoa agar dunia dapat mengenal dan berharap kepada Yesus Kristus yang meratap bersama kita dan telah memberi diri-Nya untuk menanggung segala penderitaan kita.

Maukah kamu ikut meratap bersamaku dan membagikan pengharapan ini sehingga realita kasih Tuhan di masa corona semakin nyata di tengah dunia yang terinfeksi oleh dosa?

Selamat Jumat Agung dan Paskah! Tuhan Yesus menyertai dan memberkati, soli Deo gloria.

P. S. Judul tulisan ini diadaptasi dari novel karangan Gabriel García Márquez yang berjudul Love in the Time of Cholera (“Kasih di Masa Kolera”)

Baca Juga:

Ketika Aku Divonis Sakit Oleh Pikiranku Sendiri

Tahun 2016 aku pernah menderita Pneumonia, lalu dinyatakan sembuh. Namun, berita-berita tentang virus yang kubaca membuatku cemas. Pikiran buruk pun menghantui, aku over-thinking.

Andrew Hui: Usiaku 32 Tahun dan Aku Menanti Ajalku

Ditulis oleh Janice, Singapura
Foto oleh Andrew Hui
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Andrew Hui: I’m 32 And I’m Dying

Di usia 32 tahun, Andrew hanya memiliki waktu dua hingga tiga bulan untuk hidup.

Pengobatan dengan cara radiasi telah dihentikan sebulan yang lalu setelah dianggap tak lagi efektif untuk mengendalikan penyebaran sel kanker dalam tubuhnya. Sejak saat itu, sel-sel kanker berkembang cepat dan menyerang ke hampir semua organ tubuh yang penting, juga menekan pembuluh darahnya.

Meskipun ia hanya punya waktu satu bulan atau lebih untuk tetap tersadar dan berpikir jernih, Andrew dengan antusias meluangkan waktunya untuk wawancara. Setelahnya, ia akan dipulangkan ke rumah agar merasa lebih nyaman sebelum kematiannya yang mendekat.

“Aku mau mendorong orang-orang untuk percaya kepada Tuhan di momen-momen tergelap hidup mereka,” katanya.

Penemuan yang Mengejutkan

Andrew tidak selalu melihat keadaannya dengan cara yang positif. Butuh perjuangan berbulan-bulan sampai akhirnya ia tiba di tahap ini: merasa damai dan menerima keadaan dirinya. Ini terjadi di bulan Juni lalu.

Para dokter menemukan kanker dalam tubuhnya ketika Andrew dilarikan ke UGD di suatu malam karena demam tinggi. Hasil rontgen menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan tumor di bagian atas dadanya. Tes biopsi setelahnya menunjukkan tumor itu sebagai tumor getah bening stadium-1.

Para dokter yakin bahwa ini bukanlah penyakit yang sulit disembuhkan, bahkan mengatakan kalau 90 persen orang-orang yang mengalami tumor pada tahap ini berhasil sembuh.

Jadi Andrew pun meletakkan harapannya pada perkataan dokter tersebut dan ilmu pengetahuan medis, menganggap bahwa perawatan-perawatan yang nanti dilakukannya akan seperti “liburan” beberapa bulan, lalu setelahnya pulih kembali.

Tapi, Andrew bukanlah termasuk 90 persen orang itu. Ia ada di 10 persennya.

Terapi R-EPOCH, sejenis kemoterapi yang dijalaninya ternyata tidak menolong.

Dokter lalu menggunakan jenis kemoterapi lain yang lebih kuat (RICE Therapy namanya). Kali ini, mereka mengatakan, ada kemungkinan 70-80 persen sembuh.

Andrew pun menjalani terapi ini sebanyak empat kali, tapi, lagi-lagi dia tidak termasuk dalam presentase orang yang berhasil sembuh.

Andrew harus menjalani terapi lain, immunotherapy, yang katanya cocok untuk 99 persen pasien.

Tapi, lagi-lagi Andrew tak termasuk dalam 99 persen itu. Tubuhnya tidak cocok menerima terapi ini karena efek samping yang muncul kemudian.

“Ini adalah pesan sederhana yang bisa kamu dapatkan dari Tuhan, tidakkah kamu berpikir begitu?” kata Andrew tanpa basa-basi, dengan diwarnai tawa.

“Aku telah meletakkan imanku pada ilmu pengetahuan medis dan ketika itu gagal, Tuhan menunjukkanku bahwa aku perlu mengubah cara pandangku dan berbalik kepada-Nya seutuhnya,” tambahnya.

Waktu-waktu penuh pertanyaan

Meskipun telah menjadi orang percaya sejak muda dan aktif melayani di gereja sebagai pemusik dan ketua, Andrew bergumul dengan Tuhan karena penyakitnya.

Kenapa aku?

Andrew bukanlah orang yang tidak menjaga gaya hidupnya.

Sebagai seorang bankir muda, dia tidak mabuk ataupun merokok. Malah, dia lebih memilih makan salad untuk makan siang lima hari dalam seminggu dan rutin berolahraga di gym sepulang kerja.

Kenapa sekarang?

Pertanyaan-pertanyaannya kepada Tuhan menumpuk dengan tebal dan cepat. “Aku baru memenuhi 10 persen saja dari mimpi-mimpiku, dan kupikir Tuhan akan memakaiku untuk tujuan yang lebih besar. Aku telah melayani di gereja selama 20 tahun, dan inikah caraku pergi meninggalkan dunia? Beginikah cara Tuhan memberi tahu pada dunia bahwa Ia peduli pada hamba-Nya?”

Dalam amarah dan kekecewaannya pada Tuhan, Andrew juga mengecam orang-orang Kristen lainnya.

“Mereka berkata dan mendeklarasikan kesembuhan atasku. Mereka percaya bahwa oleh bilur-bilur-Nya, Tuhan telah menanggung segala sakit kita (Yesaya 53:5). Tapi, aku tidak bisa menerima fakta bahwa kenyataannya aku tidak disembuhkan, tapi malah semakin parah. Rasanya mereka memberiku harapan palsu. Jadi aku memarahi dan mengusir mereka,” kata Andrew.

“Caraku melihat diriku, jika Tuhan memilih untuk menyembuhkanku, maka tugas-tugasku di dunia belum selesai dan aku akan melanjutkannya. Jika aku tidak sembuh, maka inilah waktuku untuk pulang. Jadi, sembuh atau tidak, kupikir itu solusi yang sama-sama menang.”

Pergumulan berat lain yang harus Andrew hadapi adalah kesakitan fisik yang luar biasa.

Andrew harus berjuang menghadapi mual, lesu, rambut rontok, dan seringkali dia muntah sampai semua isi perutnya mengotori dinding.

Batuk kronis juga membuatnya tidur meringkuk seperti bola di atas kasurnya. Ia merasa hatinya hancur setiap kali ibunya menangis di samping tempat tidurnya.


Liburan terakhir Andrew bersama Ibunya pada Desember 2018


Andrew dan keluarganya di bulan April 2019

Sebuah titik balik

Namun, perasaan damai yang mendalam dan kepasrahan diri menghadapi kematian datang ketika pandangan Andrew tentang Tuhan berubah.

“Aku selalu melihat kedaulatan Allah atas hidupku sebagai sesuatu yang tak bisa dipertanyakan. Tuhan bisa melakukan apapun seturut yang Ia mau dan suka, dan kita tidak punya hak untuk bertanya untuk apa, meminta sesuatu, kecuali Tuhan memberinya. Aku melihat kedaulatan-Nya sebagai kebijaksanaan yang amat tinggi dan luar biasa,” kata Andrew.

“Tapi kemudian aku sadar bahwa cara Tuhan menunjukkan kedaulatan-Nya adalah melalui kasih. Apa yang terjadi padaku mungkin tidaklah baik, tetapi Tuhan itu baik dan kedaulatan-Nya terlihat dari bagaimana Ia menggendongku melewati badai kehidupan ini.”

Salah satu ayat yang menolong Andrew tiba pada pemahaman ini adalah Efesus 3:17-18 yang berkata, “Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.”

Kepercayaan Andrew pada kasih Tuhan dan kedaulatan-Nya telah menyingkirkan segala takut yang dulu ia hadapi ketika harus menghadapi ajalnya.

“Aku tidak takut mati sekarang. Ketika aku menutup mataku untuk terakhir kalinya, aku yakin aku pergi dan berada bersama-Nya, lebih yakin daripada aku biasanya naik pesawat meskipun aku tahu ke mana tujuan pesawat itu.”

“Inilah keyakinan yang kepada-Nya aku bersandar. Tanpa itu, jika Allah ataupun Yesus tidak ada, aku akan memilih bunuh diri karena segala harapanku hilang dan hidupku tidak ada maknanya.”

Andrew juga amat bersyukur memiliki keluarga jemaat yang berpuasa, berdoa, dan menangis bersamanya selama masa-masa sakitnya. Banyak relawan membelikan makanan atau mengantarkannya dari rumah sakit ke rumah dan sebaliknya.

Sebuah momen yang menyentuh

Meskipun Andrew dilahirkan di keluarga Kristen dan tumbuh besar di gereja, dia baru benar-benar “datang kepada iman” atau memahami betul imannya pada usia 16 tahun.

Dia ikut kelompok paduan suara lelaki di gereja dan lagu berjudul “So You Would Come” menyentuh hatinya:

Nothing you can do
Could make Him love you more
And nothing that you’ve done
Could make Him close the door

Tiada yang bisa kamu lakukan
Yang bisa membuat-Nya lebih mengasihimu
Dan tiada hal yang telah kamu lakukan
Yang bisa membuat-Nya menutup pintu untukmu

Kata-kata itu merobek hati Andrew seiring ia selalu berusaha melakukan hal-hal baik atau melayani di gereja untuk memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya.

Lirik lagu itu memberikan Andrew kebebasan. Andrew sadar bahwa Tuhan mengasihi-Nya dan tidak ada yang perlu ia lakukan untuk mendapatkan itu. Hanya oleh anugerah saja ia diselamatkan, bukan karena hasil usahanya. Kebenaran ini memberikan Andrew harapan, meskipun banyak dosa-dosanya, Tuhan tidak pernah berhenti mengasihinya.

Tetapi, perjalanan hidup setelahnya tidak selalu berjalan mulus.

Meskipun ia kuliah di jurusan Komunikasi dan Media Massa, ia bekerja di sektor perbankan setelah lulus karena bidang ini lebih menjanjikan secara finansial.

Angka-angka tidak membuatnya bergairah, tapi ia menggunakan uangnya untuk memenuhi dirinya dengan pengalaman. Andrew suka traveling untuk mengalami budaya ataupun makanan yang baru. Ia pun mendukung gereja dengan mendanai program misi.

Andrew bekerja berjam-jam untuk meraih karier di perusahannya. Kerja selama 12 jam menjadi normal. Jabatan terakhirnya adalah sebagai seorang manajer di perusahaan perbankan.

Tetapi, apa yang dipelajarinya pada usia 16 tahun tidak pernah luput dari hidupnya. Kedamaian yang datang dari keyakinan akan penerimaan penuh dari Tuhan dan kasih-Nya untuk dirinya, adalah kasih yang sama yang menjagai hatinya sekarang ketika Andrew harus bertarung melawan pertempuran yang lebih besar menghadapi kematiannya.


Andrew dan teman-temannya menolong pembangunan panti asuhan di Thailand

Berkat melalui iman

Di samping memiliki jaminan akan kedamaian dan kepastian bertemu Yesus di surga kelak, Andrew berkata bahwa imannya memberikan cara yang berbeda untuk mengatasi sakitnya.

“Ketika aku berseru pada Tuhan memohon pertolongan-Nya di malam hari karena sakitku, aku mendapati sakit itu berkurang ketika aku berfokus kepada-Nya dan aku pun tertidur nyenyak setelahnya,” kata Andrew.

Iman Andrew juga memampukannya melihat berkat yang timbul dari sakitnya, seperti mengetahui kapan ia akan meninggal, dan juga untuk pergi meninggalkan dunia ini dan melepaskan segala penyakit yang besertanya.

“Karena ini, aku bisa mempersiapkan kematianku, mengatakan apa yang perlu kukatakan dan melakukan apa yang perlu kulakukan.

Obat-obatan dan terapi juga menolongku untuk meninggalkan dunia dengan lebih nyaman dan tentunya dengan senyuman di wajahku.”

Belakangan ini, ia mulai mampu mengobrol dengan orang tuanya tentang apa yang akan mereka lakukan ketika ia telah pergi dan akan dijadikan apa nanti kamarnya.

“Adalah sebuah berkat untuk bisa berdiskusi tentang hal itu, karena mereka bisa bertindak dengan lebih jelas setelahnya,” kata Andrew yang sedang menyiapkan “kotak ajal” yang isinya adalah pesan selamat tinggal untuk orang-orang yang dikasihinya.

“Aku tidak percaya pemakaman yang menyedihkan. Aku mau pemakamanku nanti dipenuhi sukacita dan sekarang aku mau bertemu dengan orang-orang selagi aku bisa, untuk mengucap syukur dan menguatkan mereka yang penting buatku, juga menikmati makan bersama-sama,” ucapnya. Adrew suka memasak dan sering menggunakan hobinya ini untuk kegiatan penggalangan dana di gerejanya.

Hari-hari ini, ia mendapati dirinya tidak banyak berpikir tentang kematian, tetapi tentang hal-hal “jangka pendek” seperti kerinduannya makan sup iga.

Satu impian yang belum terlaksana bersama kedua teman dekatnya adalah membuat warung makan yang menyediakan sup untuk para pekerja migran atau orang-orang yang kekurangan.

“Jika aku diizinkan untuk menghidupi hidupku lagi, aku pikir bagian yang ingin aku ubah adalah aku ingin lebih terlibat di pelayanan sosial karena itu akan memberi dampak banyak pada kehidupan orang lain. Tapi, sekali lagi, aku tidak tahu. Aku adalah aku hari ini karena segala pengalaman di masa lalu yang telah membentukku.”

Permintaan terakhir

Keinginan terbesarnya adalah untuk terhubung kembali dengan orang-orang yang pernah mewarnai hidupnya, teman-teman sekolahnya yang sudah lama hilang kontak.

Ketika ditanya mengapa ia mau memprioritaskan waktunya untuk orang-orang yang tidak dekat dengannya, Andre berkata hatinya ada buat mereka. Andrew ingin mereka tahu tentang kedamaian yang hanya bisa didapat dalam Kristus.

“Entah mereka sibuk bekerja atau bergumul dalam masalah masing-masing, aku mau membagikan bahwa kedamaian inilah yang aku miliki bersama mereka. Jadi, ketika tiba saatnya kehidupan mereka berakhir, yang tentunya bisa terjadi kapan saja, mereka mengenal sebuah kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh uang, relasi, ataupun kekayaan.”

“Aku mau mereka mendengarku bukan sebagai seseorang yang meninggal, tetapi sebagai seseorang yang menanti mereka di surga dan rindu bertemu mereka kembali di surga kelak.”


Tangkapan layar dari status Facebook Andrew pada 16 Agustus 2019

Catatan:
Andrew telah meninggal dunia dengan tenang pada pukul 23:25 di tanggal 31 Agustus 2019.

Baca Juga:

Mengasihi Tuhan dengan Melakukan yang Terbaik dalam Pekerjaanku

Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang berdampak bagi banyak orang. Tapi, pertanyaan yang muncul di benakku adalah: “apakah yang aku kerjakan sudah memberi dampak ya?”

5 Cara Mengatasi Patah Hati

Penulis: Michele Ong, New Zealand
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: How To Get Over a Breakup

How-to-get-over-a-break-up

Minggu terakhir di semester terakhir sekolah jurnalisme adalah minggu yang sangat menyakitkan. Pacarku memutuskan hubungan dengan cara yang sangat tidak enak. Aku menerima SMS-nya pada hari Minggu malam lalu segera menghubungi sahabat baikku. Di telepon, aku tidak bisa berhenti menangis, dan masih terus menangis lama setelah telepon ditutup.

Dengan susah payah aku berusaha menenangkan diri dan tetap mengikuti kelas di hari Senin. Tetapi, pertanyaan sederhana seperti “Kamu ngapain saja akhir minggu kemarin?” sudah membuatku menangis lagi. Hari itu penampilanku pasti sangat kacau, aku berjalan di kampus dengan mata bengkak dan tangan meremas-remas gumpalan tisu.

Mengapa ia tega melakukannya? Apa salahku? Pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Aku merasa sudah berusaha menjadi pacar termanis yang bisa dimilikinya. Aku selalu ingat hari ulang tahunnya, dan tidak pernah lupa merayakan hari jadian kami. Aku juga selalu siap mendengarkan setiap kali ia punya masalah.

Namun kenyataannya, kami tidak cocok satu sama lain. Kami berdua memiliki tujuan hidup yang berbeda dan memiliki rencana yang berbeda untuk mewujudkannya. Aku ingin bekerja dan bepergian ke luar negeri, sementara ia cukup senang melanjutkan hidupnya di New Zealand. Aku jengkel karena merasa ia kurang punya ambisi dan kejelasan arah hidup, sementara ia menganggapku sebagai cewek yang manja dan terlalu bergantung kepada orang lain.

Sayangnya, pada saat itu aku tidak bisa melihat perbedaan yang ada di antara kami. Aku berusia 23 tahun, masih muda dan naif, tidak bisa berpikir jauh melampaui apa yang ada di depan mataku. Sebab itu aku marah ketika berbagai hal tidak berjalan sesuai dengan yang kuharapkan. Aku pikir aku tidak beruntung dalam cinta, dan kebahagiaan itu hanya untuk orang lain.

Setahun sebelumnya, aku juga mengalami patah hati. Aku mendapati pacarku saat itu selingkuh. Putusnya hubungan kami membuatku sangat marah, muak, dan sakit hati. Rasanya aku ingin menemui pria itu dan mengacak-ngacak wajahnya seperti mainan Mr. Potato Head. Namun, pada satu titik, aku ingin melarikan diri jauh-jauh darinya, hingga aku pun memilih terbang ke Australia, mengunjungi teman dan kerabatku di sana.

Tidak heran bila Greg Behrendt, penulis buku It’s Called A Breakup Because It’s Broken berkata, “Patah hati itu seperti patah tulang rusuk. Dari luar kelihatannya baik-baik saja, tetapi setiap menarik napas, sakitnya sangat terasa.”

Pernahkah kamu juga mengalami patah hati? Beberapa hal berikut telah menolongku. Semoga bisa menolongmu juga.

1. Bawalah rasa sakitmu kepada Tuhan

Entah bagaimana aku bisa menggambarkan masa-masa patah hatiku saat itu. Hampir setiap malam aku hanya bisa menelungkup di tempat tidur dengan air mata berderai. Di sela-sela tangis, aku menyebut nama Tuhan, tetapi aku tidak punya kekuatan untuk melanjutkan doaku.

Jujur kuakui, peristiwa patah hati itulah yang mendorongku mencari Tuhan.

C.S. Lewis berkata, “Rasa sakit menuntut perhatian. Suara Allah terdengar sayup saat kita senang, terdengar jelas saat kita memeriksa hati kita, namun terdengar sangat nyaring saat kita merasa sakit. Rasa sakit adalah megafon Allah untuk membangunkan dunia yang sudah tuli.”

Rasa sakit dipakai Tuhan untuk menarikku kembali kepada-Nya. Jadi, aku pun datang menumpahkan isi hatiku kepada-Nya, sama seperti aku datang kepada ayahku saat aku sedang sedih.

Sebuah penghiburan besar kutemukan dalam Mazmur 147:3. Pemazmur menulis, “Ia [Tuhan] menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.”

Ketika aku merasa sangat kesepian setelah putus dengan pacarku, aku juga dihiburkan dengan Yohanes 16:32 yang menggambarkan bagaimana Yesus pernah ditinggalkan sendirian, namun Dia tetap yakin akan penyertaan Bapa-Nya. Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.”

Jangan pernah tergoda untuk mencari solusi sesaat, seperti mengonsumsi minuman energi, obat-obatan alternatif, atau pelukan seseorang. Selain berisiko, semua pelarian itu nantinya akan membuat kita makin mudah terluka.

Carilah pemulihan yang sejati: Allah, Sang Penyembuh, yang dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan sanggup memulihkan hati kita agar kembali utuh seperti sediakala.

2. Ingatlah bahwa kamu dicintai Tuhan

Hari-hari setelah putus dengan pacarku sangatlah berat. Aku merasa diriku tidak menarik, tidak berarti, tak berbeda dengan sebuah pion dalam permainan catur. Rasanya ingin makan keripik kentang saja sepanjang hari sambil meratapi nasibku yang buruk. Pikiran-pikiran negatif menjadi teman setiaku, “Ah, seandainya saja aku lebih cantik, lebih pintar, punya pekerjaan yang lebih baik…

Suatu hari, saat aku lagi-lagi mengeluh kepada Tuhan tentang betapa aku merasa tidak dicintai, Tuhan berkata dalam hatiku, “Kamu lupa, Aku mencintaimu.” Pernyataan itu sangat kuat menyentak hatiku. Meski tumbuh besar menyanyikan lagu sekolah minggu “Yesus sayang padaku”, aku sebenarnya masih sulit membayangkan dan memahami seberapa besar Tuhan mengasihiku. Namun, hari itu, saat aku merasa benar-benar lemah, bahkan bisa dibilang saat aku merasa sangat jelek (bayangkan saja waktu itu aku hanya memakai piyama, rambutku acak-acakan, dan hidungku berair seperti bendungan jebol), hatiku terasa sangat teduh karena mengetahui dengan pasti bahwa kasih Yesus kepadaku tidak berubah sedikit pun. Kegalauan karena merasa diri tidak cukup baik dan berharga setelah ditinggal pacarku, dengan segera menguap tanpa bekas.

Jika kamu mengalami hal serupa, ingatlah bahwa putus dengan pacar tidak menentukan identitasmu. Yang menentukan identitasmu adalah Tuhan, yang menciptakan dirimu. Mantan pacarmu mungkin tidak menghargai dirimu, tetapi di mata Tuhan, kamu sangatlah berharga (Yesaya 43:4), kamu utuh, lengkap di dalam-Nya (Kolose 2:10), kamu adalah buatan tangan-Nya, yang diciptakan untuk melakukan hal-hal yang baik (Efesus 2:10).

Ingatlah akan identitasmu di dalam Kristus, ingatlah bahwa kamu sangat dikasihi Tuhan (Efesus 2:4).

3. Arahkan pandanganmu ke masa depan

Mungkin sekali kamu tergoda untuk terus mengingat kenangan masa lalu bersama mantan pacarmu. Namun, hidup dalam bayang-bayang masa lalu hanya akan menghambatmu untuk melangkah maju. Aku sendiri saat itu sudah menghapus semua SMS dan e-mail, membuang semua hadiah yang pernah diberikan mantan pacarku. Tetapi, aku masih menahan sebuah boneka kelinci, dan masih mendengar lagu-lagu dengan tema patah hati—berulang kali.

Alkitab mengajar kita untuk melupakan apa yang telah di belakang kita dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapan kita (Filipi 3:13). Jadi, aku menetapkan tekad untuk berhenti mengenang masa lalu dan memakai waktuku untuk menata ulang prioritas-prioritas dalam hidupku. Aku memutuskan untuk meluangkan lebih banyak waktu dengan Tuhan, dan berfokus memulai karirku sebagai seorang jurnalis.

Aku juga mulai mengucap syukur atas peristiwa patah hati yang Tuhan izinkan aku alami. “Tuhan, Engkau tahu bahwa hubungan kami akan berakhir,” kataku, “Engkau menopang dunia ini dalam tangan-Mu.” Menyadari bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu yang akan kita alami, termasuk putus dengan pacar, membuat hatiku tenang (Mazmur 139:16). Tuhan mengizinkan aku mengalaminya karena Dia telah mempersiapkan hal-hal yang lebih baik untukku. Pada saat itu aku tidak tahu apa “hal-hal yang lebih baik” yang dipersiapkan Tuhan. Namun, dengan iman aku bergantung pada janji-janji-Nya, mengetahui bahwa Dia Tuhan, dan Dia peduli.

4. Hitunglah berkat-berkat yang sudah Tuhan berikan

Waktu terasa begitu lambat saat aku berusaha memulihkan diri dari patah hati. Siang hari terasa sangat panjang, malam hari apalagi. Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun rasanya waktu berjalan terlalu lambat untukku.

Dalam masa-masa transisi yang sulit itu, memastikan diriku selalu punya kesibukan adalah salah satu hal yang sangat menolong. Aku menyibukkan diri dengan menghitung berkat-berkat yang kuterima, dan itu ternyata lebih sulit daripada yang kubayangkan.

Pada saat aku punya pacar, mudah saja mengucap syukur dalam hidup dan merasa diberkati. “Terima kasih Tuhan untuk pacar, untuk keluarga, untuk sahabat-sahabat yang mengasihiku.” Namun, ketika itu diambil (pacar, bukan keluarga dan sahabat), aku harus secara sengaja mengingatkan diri untuk bisa tetap mengucap syukur dalam hal-hal yang sederhana.

Aku membuat catatan harian berisi hal-hal yang membuatku bersyukur setiap hari. Aku bersyukur kepada Tuhan bisa pergi nonton dengan teman-temanku, menikmati makan siang dan malam dengan keluargaku, bisa mendapatkan pakaian baru (jika hari itu aku pergi belanja), dan seterusnya. Dengan sibuk menghitung berkat, tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk berkubang dalam kemarahan, kepahitan, dan rasa tidak terima.

Mungkin menghitung berkat itu kedengarannya sedikit klise, tetapi Alkitab mengajar kita untuk mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kita (1 Tesalonika 5:18). Tidak berarti kita harus melompat-lompat gembira, mengatakan kepada semua orang betapa senangnya kita sudah putus dari pacar kita. Menghitung berkat bagiku berarti mempertahankan sikap bersyukur, senantiasa berterimakasih kepada Tuhan yang sudah menyertaiku selama masa-masa yang sulit.

5. Maafkanlah mantanmu

Harus kuakui dengan jujur, awalnya aku tidak mau memaafkan mantan pacarku. Bagiku, memaafkan itu seperti memberi jaminan bebas penjara kepada seorang penjahat. Mengapa aku harus memberinya kesempatan istimewa itu?

Aku kemudian teringat pada percakapanku dengan Tuhan saat aku sedang mendoakan beasiswa yang akan memungkinkan aku bekerja di sebuah surat kabar kota Beijing selama 3 bulan. Aku berkata kepada Tuhan betapa aku sangat-sangat menginginkan beasiswa itu. Tuhan berkata, “Kamu harus mengampuni mantan pacarmu dulu.” Aku tidak mungkin bisa melakukannya, jawabku. Namun, Roh Kudus mengingatkanku pada Markus 11:25, “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”

Aku tidak suka dengan pemikiran harus mengampuni mantan pacarku. Tetapi aku tahu itu harus kulakukan.

Aku tidak lantas buru-buru menemui mantan pacarku, membuka tangan lebar-lebar dan siap memberinya pelukan hangat sembari berkata bahwa aku sudah memaafkannya. Semua kemarahan yang pernah ada dalam hatiku harus perlahan-lahan aku lepaskan. Aku sadar bahwa aku tidak bisa menyebut diriku sendiri sebagai seorang pengikut Kristus bila aku tidak dapat melepaskan pengampunan bagi orang yang telah menyakitiku.

Betapa lega rasanya ketika aku akhirnya bisa memaafkan mantan pacarku. Beberapa minggu kemudian, aku menerima sebuah e-mail yang memberitahukan bahwa aku mendapat beasiswa ke Beijing. Aku yakin bahwa Tuhan sedang menguji dan membangun karakterku pada saat yang sama. Dia mau aku mengampuni sesamaku sama seperti Dia telah mengampuniku (Matius 6:14), mengasihi musuhku (Lukas 6:27), dan memberkati mereka yang menyakitiku (Lukas 6:28).

Patah hati itu tidak mudah dijalani, mengacaukan hidup, dan menguras emosi. Kabar baiknya, malam-malam yang kelam itu tidaklah abadi. Meski perihnya luka membuat kita sukar menatap masa depan, semua pasti akan berlalu juga.

Ingatlah, Tuhan menyayangimu dan peduli kepadamu. Frank Laubach, seorang misionaris berkata, “Kristus memperhatikan setiap detail kehidupan kita, karena Dia mengasihi kita lebih dari seorang ibu mengasihi anaknya.”

Saat Dia Berkata Dia Tidak Mencintaiku

Penulis: Joanne Lau
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: When He Said He Didn’t Like Me

When-He-Said-He-Did-Not-Like-Me

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.–1 Yohanes 4:19

Punya pasangan. Banyak di antara kita, termasuk aku, sangat menginginkannya. Pada satu masa dalam hidupku, aku sangat menyukai seorang pemuda, sebut saja namanya Andy.

Aku ingat betapa aku memimpikan hari saat Andy akan mengajakku kencan, dan betapa aku ingin menghargai setiap momen yang kami lewatkan bersama. Kami sudah bersahabat di sekolah, dan sekalipun ada suara dalam hatiku yang berkata bahwa hubungan kami hanya sebatas sahabat, aku tetap saja suka dekat-dekat dengan dia dan selalu ingin mendapatkan perhatiannya.

Suatu malam, seperti biasa kami jalan-jalan bersama. Singkat cerita, Andy mengatakan dengan sangat jelas bahwa hubungan kami hanya sebatas sahabat, dan dia menganggapku sebagai seorang saudara perempuannya di dalam Kristus.

Harapanku hancur berkeping-keping. Malam itu aku hampir tidak bisa tidur. Setiap kali aku menutup mata, aku teringat akan apa yang dia katakan. Aku menangis sepanjang malam. Aku merasa tidak mungkin mencintai orang lain lagi dalam hidup ini. Aku merasa frustrasi, marah, dan sangat sedih. Parahnya lagi, aku tidak bisa menceritakan apa yang kurasakan itu kepada siapa pun, termasuk kepada teman-temanku. Tidak pernah aku merasa sendirian seperti itu. Dalam rasa putus asaku, aku menangis di hadapan Tuhan, mohon agar Dia mengaruniakan sukacita dan damai di dalam hatiku. Setelah itu, aku pun tertidur, lelah dengan kesedihanku sendiri.

Keesokan paginya, setelah tidur selama tiga jam saja, aku terbangun. Yang mengejutkan, perasaan pedih dan frustrasi yang dalam itu telah lenyap, digantikan perasaan sukacita dan bahkan sebentuk kasih persaudaraan yang baru untuk Andy (bagiku ini sangat aneh, mengingat beberapa jam sebelumnya aku masih merasa begitu marah terhadapnya!)

Pertama-tama, aku harus menegaskan di sini bahwa aku bukan seorang perempuan super. Aku tahu betul bahwa mustahil bagiku bisa mengasihi Andy seperti itu dengan kekuatanku sendiri. Kebanyakan kita mengasihi dengan syarat-syarat tertentu. Kita mengasihi mereka yang membuat kita merasa berharga, jantung kita berdebar-debar, dan hati kita berbunga-bunga.

Satu-satunya alasan aku bisa mengasihi Andy sebagai seorang sahabat adalah karena Tuhan telah lebih dulu menyatakan kasih-Nya kepadaku. Sekalipun kata-kata Andy menyakitiku dan harapanku tidak terwujud, aku masih dapat mengasihinya karena Tuhan mengingatkan aku betapa Dia telah lebih dulu mengasihiku.

Tuhan telah menunjukkan kasih-Nya yang rela berkorban di dalam Yesus. Dia tidak menghukum kita yang sudah berdosa, namun justru memberikan anugerah yang sebenarnya tidak pantas kita terima. Dia bisa saja tidak mau lagi berurusan dengan kita, namun Dia malah mengulurkan tangan-Nya kepada kita, mengasihi kita agar kita juga dapat belajar mengasihi orang yang telah menyakiti kita, baik secara sengaja atau tidak.

Pengalaman telah mengajarkan aku bahwa memiliki pasangan itu tidak akan pernah bisa memuaskan kebutuhan kita untuk dicintai sepenuhnya. Hanya Tuhan yang dapat mengasihiku dengan sempurna. Kasih-Nya tidak akan pernah mengecewakan, tidak pernah gagal, dan selalu memuaskan hidupku.

Hari ini, aku memiliki pernikahan yang bahagia. Namun, meskipun pernikahan itu indah, pernikahan tetap tidak dapat memuaskan kita sepenuhnya. Pernikahan juga tidak dapat mengambil alih posisi Tuhan di dalam hidupku.

Tuhan selalu hadir, menanti kita untuk berseru kepada-Nya dan untuk menerima kasih-Nya. Semua kerinduan dan kebutuhan kita akan dipuaskan oleh kasih-Nya. Maukah kamu mengalami kasih-Nya hari ini juga?

Saat Aku Merasa Tidak Dicintai

Penulis: Kelty Tjhin

saat-aku-merasa-tidak-dicintai

Semua manusia haus akan perhatian, cinta, dan kasih sayang. Tidak terkecuali diriku. Namun, sejak kecil hingga SMA, aku sangat sering merasa tidak dicintai, terutama oleh mamaku sendiri. Orang terdekat yang paling kuharapkan mencintaiku apa adanya itu sering sekali memarahi dan memukulku. Kata-katanya selalu menyakiti hatiku.

Kerap aku membandingkan mamaku dengan mama temanku. Aku sangat heran mengapa mamaku tidak bisa mencintaiku seperti mama temanku mencintai anaknya. Aku merasa marah, hatiku tidak terima. Tidak hanya kepada mama, tetapi juga kepada Tuhan yang memberiku mama seperti itu. Aku menyesal terlahir dalam keluargaku. Aku ingin punya mama yang penyayang, lembut, dan mendukung semua yang kulakukan. Aku tidak pernah menemukan semua itu dalam diri mamaku. Aku bahkan merasa keberadaanku, kehidupanku, sebenarnya tidak pernah diharapkan oleh mamaku.

Lulus SMA, aku pindah dari Aceh ke Jakarta untuk melanjutkan studi di sebuah universitas swasta. Setiap kali liburan, aku biasanya kembali ke Aceh. Suatu kali aku bertemu dengan seorang guru sekolahku dulu. Beliau memiliki perjalanan hidup yang mirip denganku. Ia membagikan sebuah ayat Alkitab yang tidak pernah aku lupakan: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (Yeremia 1:5).

Ayat itu adalah firman Tuhan kepada nabi Yeremia, yang merasa masih muda dan bukan siapa-siapa. Air mataku mengalir membacanya. Tuhan yang mengasihi dan merencanakan kehidupan nabi Yeremia juga adalah Tuhan yang sama, yang mengasihi dan merencanakan kehidupanku, bahkan sebelum aku dikandung oleh mamaku. Tuhan mengenal dan memperhatikan hidupku. Yesus bahkan mati untuk menggantikan hukumanku sebagai orang berdosa. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat dicintai.

Perlahan, Tuhan juga menyadarkanku bahwa aku pun sebenarnya dicintai oleh mamaku. Setelah kepergian papaku, mama harus membesarkan aku seorang diri. Setiap kali ia memandang wajahku, mungkin hatinya sakit mengingat wajah laki-laki yang telah meninggalkannya. Namun, ia tetap memeliharaku. Sikapnya memang keras, karena seperti itulah ia dulu dibesarkan oleh orangtuanya. Ia memang tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya dengan cara yang sama seperti mama temanku, tetapi satu hal menjadi makin jelas bagiku: ia mencintaiku.

Aku pun mulai belajar untuk menerima mamaku seutuhnya sebagaimana Tuhan juga telah menerimaku seutuhnya. Aku tidak lagi menunggu mama mengekspresikan cintanya dengan cara yang aku mau. Aku mulai mengambil inisiatif untuk menunjukkan cinta kepada mamaku lebih dulu. Aku berusaha melakukan apa yang aku bisa untuk membuat mama tahu bahwa ia sangat dicintai. Tidak saja olehku, tetapi juga oleh Tuhan.

Hidup tidak akan pernah sama lagi ketika kita berjumpa dengan Tuhan secara pribadi dan mengetahui bahwa Dia sangat mengasihi kita. Firman-Nya akan mengubah cara kita berpikir dan bertindak. Kita tidak akan lagi menangisi diri karena merasa tidak dicintai. Sebaliknya, karena kita tahu bahwa kita dicintai Tuhan, kita akan makin mencintai orang-orang di sekitar kita. Kita ingin mereka juga tahu bahwa mereka sangat dicintai Tuhan.

Ketika Orang Menjulukiku Gendut

Oleh: Chrisanty L, Indonesia
(Artikel asli dalam Bahasa Inggris: When Others Called Me Fat)

ketika-aku-dijuluki-gendut

Saat aku kuliah di China dan melihat-lihat pakaian di toko-toko sekitar kampus, kerap aku tidak dihiraukan para penjaga toko. Bila melayani, biasanya mereka akan berkata, “Maaf, kami hanya punya ukuran kecil.”

Kebanyakan dari 15.000 mahasiswa di kampusku memang bertubuh kecil. Para pendatang yang posturnya lebih tinggi dan besar biasanya akan tampak menonjol. Aku sendiri adalah orang Indonesia keturunan Tionghoa, namun posturku lebih besar dari rata-rata mahasiswi Tionghoa. Sebab itu, lambat laun aku mulai takut untuk memasuki toko-toko di sekitar kampus. Aku merasa orang memperhatikan dan memberi penilaian minus terhadap penampilanku.

Aku selalu merasa tidak nyaman dengan posturku yang besar dan bahuku yang lebar. Mungkin perasaan itu muncul karena aku selalu merasa orang melihat dan menilaiku sebagai “cewek gendut”. Aku sangat tidak suka bila ada orang yang meraih lenganku dan mulai memberi komentar tentang betapa besarnya lenganku itu. Aku juga kesal setiap kali teman atau anggota keluargaku bercanda tentang berat badanku, menasihatiku untuk mulai diet, atau membanding-bandingkan aku dengan gadis-gadis lain seusiaku. Parahnya lagi, setiap kali aku berusaha menguruskan badan, biasanya aku akan jatuh sakit. Dan, orang tetap saja menjulukiku “gendut”.

Pada akhirnya, menjadi “gendut” membuat aku membenci diriku sendiri. Makin lama, makin tertanam di benakku bahwa aku memang gendut dan jelek, dan hal itu tidak akan pernah berubah.

Aku mulai menjadi orang yang sangat sensitif. Sangat mudah aku tersinggung oleh kata-kata orang lain, bahkan saat mereka sebenarnya berniat baik dan komentar mereka tidak berkaitan dengan postur tubuhku. Aku merasa semua orang mengejekku. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Aku tidak suka berkenalan dengan orang baru dan kehilangan rasa percaya diri. Aku tidak ingin berteman dengan orang lain atau melakukan apapun. Aku jengkel kepada orang-orang di sekitarku. Ketika kita tidak menyukai diri sendiri, hampir mustahil kita bisa bersikap baik dan murah hati kepada orang lain, karena kita sendiri tidak punya pikiran dan sikap yang positif untuk dibagikan.

Pemikiranku mulai berubah ketika kemudian aku bertemu dengan seorang mahasiswi lain di China. Ia juga kesulitan menemukan pakaian yang pas dengan ukuran tubuhnya di toko-toko sekitar kampus. Ia juga menghadapi orang-orang yang menganggapnya gendut. Tetapi, bukan kesamaan itu yang mengesankan aku. Mahasiswi tersebut datang ke China penuh kerinduan melayani Tuhan melalui panti-panti asuhan. Ia bertekad untuk membagikan kasih yang telah ia terima kepada anak-anak yang sangat sedikit merasakan kasih sayang. Selepas pembicaraan kami pada suatu sore, aku sempat berpikir: “Tuhan pasti melihatnya sebagai seorang yang cantik dan menyayanginya, meskipun orang lain atau bahkan ia sendiri tidak melihat dirinya demikian.”

Aku pun mulai memikirkan situasiku sendiri. Bagaimana Tuhan melihatku? Bagaimana Sang Pencipta melihat ciptaan-Nya?

1 Samuel 16:7 berkata, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Selama ini aku tidak bisa menerima diriku sendiri. Aku hanya bisa melihat diriku sebagai seorang yang gendut. Aku lupa bahwa yang dilihat Tuhan, Sang Pencipta, melampaui penampilanku di depan orang lain. Tuhan melihat hati dan hidup kita. Dia melihat bahwa semua ciptaan-Nya itu baik. Kebenaran ini mengubahkan hidupku.

Ketika kita mulai memikirkan betapa besar Tuhan kita dan betapa luar biasa kasih-Nya, kita akan mulai mengobarkan kembali kasih kita kepada diri sendiri, orang lain, bahkan mereka yang mungkin telah menyakiti kita. Harus kuakui prosesnya tidak mudah, apalagi karena aku sendiri telah banyak mendengar dan percaya dengan komentar-komentar orang lain tentang tubuhku. Aku mengawali perubahan sikapku dengan bersyukur atas tubuh yang dianugerahkan Tuhan kepadaku, lalu menjaganya agar selalu sehat. Aku tidak lagi terobsesi dengan bentuk dan ukuran tubuh yang menurut orang baik untukku.

Kupikir wajar saja jika kadang-kadang kita merasa tidak percaya diri dengan penampilan kita—namun jangan biarkan perasaan itu merusak hidupmu. Ada Bapa di surga yang tidak menilaimu berdasarkan penampilan belaka, dan yang mengasihimu bagaimanapun keadaanmu. Aku juga menyadari bahwa sekalipun sebagai manusia kita selalu mendambakan penampilan yang baik, tak seharusnya pengejaran itu menghalangi kita untuk membangun persahabatan dan mengerjakan hal-hal yang memuliakan Tuhan.