Posts

3 Tipe Teman yang Kita Semua Butuhkan

Oleh Alwin Thomas
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Types of Friends We All Need

Friends, How I Met Your Mother, The Big Bang Theory—itulah sedikit dari tontonan favoritku. Aku pernah membayangkan bagaimana asyiknya tinggal bersama teman-teman dekat di satu apartemen, seperti yang dikisahkan di film-film. Kami bisa nonton bareng, main game bareng, juga curhat tentang segalanya. Impian yang menyenangkan!

Impian itu jadi kenyataan ketika aku pindah ke luar negeri untuk kuliah. Aku tinggal di semacam apartemen khusus mahasiswa. Tapi, meski impian tinggal bersama teman-teman itu terwujud, realitanya tidak semua impian itu menyenangkan. Sepanjang waktu kuliahku, aku mengalami beberapa kejadian sakit hati, pengkhianatan, dan kekecewaan.

Aku yakin kita semua pernah mengalami relasi yang rusak. Mungkin pengalaman inilah yang mempengaruhi pandangan kita kalau mempertahankan pertemanan yang sejati dan dalam itu mustahil dan menyusahkan. Tapi, Alkitab memberitahu kita sebaliknya.

Ada beragam jenis pertemanan yang diceritakan Alkitab, dan tidak semuanya hangat dan menyenangkan. Tapi, Alkitab menegaskan bahwa kita diciptakan untuk saling berelasi dan tidak untuk hidup secara terasing (1 Korintus 12:12-27).

Dari perenungan pribadiku akan hidupku dan Alkitab, aku menemukan ada tiga tipe teman yang kita semua butuhkan dalam hidup ini:

1. Teman yang, “Yuk kita selesaikan bareng-bareng”

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Amsal 17:17).

Tumbuh besar di lingkungan orang Asia, kita sering mendengar orang tua kita memberi nasihat, “pilih-pilih kalau cari teman”. Tapi kita pun tahu nasihat itu tidak sepenuhnya benar. Satu kutipan yang aku paling suka berkata, “Pertemanan itu aneh. Kamu memilih satu manusia yang kamu temui dan kamu seperti berkata, ‘Yes, aku suka orang ini’, dan kamu pun lalu melakukan banyak hal bersama dia”.

Sahabatku adalah contoh yang baik. Ada banyak hal tentang dia yang jika kuceritakan kepada orang tuaku, mereka mungkin tidak akan senang mendengarnya (contohnya, dia orang yang kurang perhatian dan tidak bersemangat). Tapi, dialah teman yang bisa kuandalkan ketika aku butuh teman bicara atau sedang melewati hari-hari berat. Meskipun terkadang respons dia atas masalahku hanya, “Bro, memang berat sih. Yuk deh kita main tenis minggu depan,” justru itulah yang membuatku merasa lebih baik.

Dalam surat-surat yang ditulis Paulus, dia memberi kesaksian tentang bagaimana kawan-kawannya mendukungnya dalam masa-masa sukar. Entah itu ketika Paulus mengalami penganiayaan atau kemiskinan, ketika misi Paulus sukses atau malah dipenjara, Paulus selalu diberkati dengan relasi yang erat. Kehadiran para sahabat Paulus itulah yang menolong pelayanannya tetap berjalan. Tidak semua sahabat Paulus memberinya kata-kata indah, atau kekayaan untuk dibagikan, tapi pelayanan Paulus tumbuh dan berkembang berkat dukungan doa dan tindakan kasih sederhana dari mereka.

Itulah jenis teman yang kita butuhkan ketika kita melalui masa-masa sukar. Seseorang yang bersedia berdiri bersama kita di sepanjang musim kehidupan.

2. Teman yang, “Aku bilang begini buat kebaikanmu”

“Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah” (Amsal 27:6).

Dalam suratnya kepada Timotius, kasih dan perhatian Paulus kepada anak rohaninya sungguh jelas. Namun, kelembutan Paulus tidak selalu mudah dilihat karena seringkali berisi realita dan kebenaran yang keras. Contohnya, dalam 2 Timotius 4:3-5, Paulus menasihati Timotius untuk menguasai “diri dalam segala hal, sabarlah menderita, dan tunaikanlah tugas pelayananmu”.

Paulus berkata demikian karena dia tahu pelayanan yang akan dilakukan Timotius itu penuh tantangan dan pertentangan, karena orang-orang menganggap Timotius masih muda dan tidak berpengalaman. Paulus ingin memberikan dukungan dan petunjuk kepada Timotius di tengah suara-suara yang mengancam untuk memandang rendah otoritas Timotius.

Belajar dari Paulus, kita tidak seharusnya memandang rendah teman yang—dalam upayanya untuk mengasihi kita—menyampaikan nasihat yang tidak menyenangkan hati. Teman dekatku pernah menegurku karena aku menganggap remeh kesempatan studi ke luar negeri. Awalnya aku merasa terganggu karena aku punya alasan kuat kenapa tidak ingin pergi merantau.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku sangat bersyukur karena temanku tidak bosan memberitahuku, meskipun itu berarti kenyamananku terganggu dan ada sebagian rencana hidupku yang harus diubah. Momen itu terjadi ketika aku berada jauh dari rumah, di mana aku merasa benar-benar perlu menemukan kembali imanku pada Tuhan, dan menyesuaikan diriku dengan rencana-Nya.

Ketika menerima nasihat yang keras dari seorang teman, penting bagi kita untuk fokus pada apa yang dikatakan, bukan pada bagaimana itu disampaikan. Pemahaman ini menolong kita untuk mengerti bahwa teman kita mungkin lebih mampu melihat titik buta diri kita atau aspek lain dalam diri kita yang perlu dibenahi tetapi kita tak menyadarinya.

3. Teman yang, “Ayo fokus sama tujuan utamamu”

Teman jenis ini mungkin tidak ingin kehadirannya selalu diketahui. Mereka mungkin menolak jika diajak makan atau sekadar mengobrol. Tapi, kamu bisa yakin kalau mereka pasti ada ketika kamu membutuhkan dukungan. Mereka bisa diandalkan untuk memberimu nasihat yang kokoh—nasihat yang tidak cuma menolongmu untuk mengatasi masalah sekarang, tapi juga konsekuensi setelahnya.

Kata-kata yang mereka lontarkan mungkin sedikit, atau bahkan tidak jelas, tapi itu karena mereka selalu melihat gambaran yang lebih besar daripada satu masalah yang sedang kamu hadapi.

Dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus, orang-orang di sekitar-Nya sering mencari solusi praktis dari masalah-masalah fana: kesakitan, kemiskinan, ketidakadilan, dan keinginan untuk bebas dari penjajahan. Namun, Yesus tidak pernah kehilangan tujuan utama dari misi-Nya ke dunia—untuk memberitakan kabar Kerajaan Surga dan pengampunan dosa.

Sebagai orang percaya, penting bagi kita untuk mempertahankan relasi dengan teman-teman yang berfokus kepada Injil, yang tak pernah lelah untuk mengarahkan kita kepada firman Allah meskipun kita berupaya melarikan diri. Ketika dunia menyajikan bagi kita nilai-nilai sementara (seperti: bagaimana berinvestasi, membeli rumah, mencari pekerjaan impian), teman yang berfokus pada Injil akan menolong kita untuk tidak sekar mengejar keinginan atau memberi solusi praktis, tapi juga memberi kita masukan dari sudut pandang Ilahi.

Tiga jenis teman ini kurasa adalah teman yang paling kita butuhkan untuk hadir dalam hidup kita. Mereka bisa saja gagal atau mengecewakan kita, atau kata-kata mereka terasa pedas dan menyinggung, tapi merekalah orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita untuk bertumbuh bersama-sama.

Aku bersyukur atas teman-teman yang telah menolongku bertumbuh dalam kedewasaan, belas kasihan, dan juga kebijaksanaan untuk menghadapi kegilaan yang hadir dalam menjalani hidup di dunia.

Baca Juga:

Meminta dan Menerima Pertolongan Bukanlah Tanda bahwa Kamu Lemah: Sebuah Pelajaran dari Galon Air

Bianca ialah wanita serba bisa. Dia jarang meminta tolong, ataupun menerima pertolongan. Tapi, pada suatu momen, dia menyadari bahwa selalu menolak pertolongan bukanlah hal yang baik.

Kejahatan ‘Terbesar’ di Dunia

Oleh Salsabila

Perang Dunia bukan sekadar kisah yang hadir di buku sejarah. Itu adalah peristiwa kelam yang pernah dialami oleh umat manusia. Ketika aku berkunjung ke Ereveld—sebuah pemakaman khusus korban Perang Dunia II di Ancol—aku terperanjat melihat dan mendengar kisah-kisah yang tak tertuliskan di buku pelajaran sekolah dulu.

“Kalau makam yang di sana milik siapa, Pak?”, tanyaku kepada petugas.

“Apakah kamu punya adik laki-laki?”, dia balik bertanya.

“Punya pak, ada dua”, jawabku. Aku agak bingung kok malah aku balik ditanya.

“Makam yang di sana itu adalah makam seorang kakak perempuan bernama Luchien Ubels. Kabarnya, Ia menyerahkan diri untuk dieksekusi pada saat pemerintah Jepang mencari adik laki-lakinya.”

Dari ribuan makam yang ada di Ereveld, makam milik Luchien Ubels mencuri perhatianku. Makam itu lokasinya menyendiri, terpisah dari makam-makam lain. Ada kisah pilu di balik kematian Luchien Ubels.

Luchien Ubels (Luut) memiliki seorang adik yang bernama Lambert Ubels. Masyarakat Eropa pada era kolonial dulu lebih sering mengenal seseorang dengan nama keluarganya ketimbang nama depan. Setelah pasukan Jepang berhasil menginvasi Jawa, Lambert dan teman-temannya yang merupakan pegawai dari Sindikat Pertanian Umum (ALS) melakukan perlawanan dengan membuat petisi. Akibatnya, pasukan Jepang pun memburunya. Pasukan Jepang lantas mendatangi rumah Lambert untuk menahannya, tapi Lambert tidak ada di sana, hanya kakaknya saja yang tertinggal. Di dokumen petisi itu tertulis nama L. Ubels. Pihak Jepang tidak tahu apabila nama Ubels yang tertera di petisi ialah Lambert. Untuk menyelamatkan adiknya, Luut pun mengakui bahwa dia yang telah menandatangani petisi itu. Luut akhirnya dieksekusi bersama 18 orang lainnya. Untuk menghormati jasanya, keluarga Ubels kemudian memohon agar makam Luut ditempatkan secara istimewa di Ereveld Ancol.

Dalam kemelut perang, mengorbankan nyawa demi seseorang adalah tindakan heroik yang tak dapat dilakukan oleh semua orang. Keberanian Luchien Ubels demi menyelamatkan sang adik mengingatkanku kepada kisah Seseorang yang juga mengorbankan diri-Nya di Golgota dua ribu tahun silam. Bukan hanya demi menyelamatkan satu orang, Ia menyerahkan diri-Nya bagi seluruh dunia. Agar setiap orang yang percaya kepada-Nya, beroleh hidup yang kekal.

Orang itu tak lain adalah Kristus. Anak Allah yang rela merendahkan diri-Nya dan berkorban bagi kita, manusia yang kecil dan hina ini. Bukan atas hasil usaha kita, melainkan oleh karena kasih karunia-Nya kita Ia selamatkan.

Seringkali kita lupa bahwa keselamatan yang kita peroleh itu sungguh merupakan sebuah anugerah dari Allah. Alih-alih menerimanya dengan perasaan syukur dan rendah hati, tak jarang kita malah bersikap arogan, merasa lebih tahu dan bahkan merasa lebih pantas menerima keselamatan jika dibandingkan dengan orang-orang yang belum mengenal Kristus. Kita lupa bahwa oleh karena kemurahan hati-Nya sajalah, kita dimampukan untuk mengenal Dia. Sebab seperti yang Paulus katakan, bahwa manusia duniawi sejatinya tidak dapat menerima dan memahami Roh Allah (1 Korintus 2:14-15).

Aku terlahir di dalam non-Kristen. Ketika akhirnya aku mengenal Kristus dan menjadi Kristen, aku sangat bersemangat dalam mengabarkan Kabar Baik ini kepada anggota keluarga yang belum mengenal Kristus. Namun seringkali, semangatku tidak dibarengi dengan sikap hati yang baik dalam menyampaikannya. Sikap arogan pun muncul tanpa kusadari ketika orang-orang yang kuceritakan tentang Kabar Baik itu malah meresponsku dengan buruk. Alih-alih berfokus memberitakan kisah Kabar Baik itu, aku malah berupaya tampil lebih unggul daripada mereka. Aku berfokus untuk “menang” dalam setiap lontaran pertanyaan yang mereka berikan buatku. Dan, tak hanya itu, aku tanpa sadar menuntut mereka untuk melihat dengan cara pandang yang sama sepertiku.

Sekilas upayaku menyampaikan Kabar Baik itu terkesan baik, tetapi aku sesungguhnya sedang lupa dan salah. Aku telah menempatkan diriku lebih tinggi dari Allah, seolah akulah yang memegang kendali untuk meyakinkan mereka. Aku lupa bahwa hanya melalui pekerjaan Roh Kudus sajalah, orang lain dapat terbuka mata dan hatinya.

Aku terlalu sibuk dengan egoku sehingga enggan memberi ruang bagi Kristus untuk dapat terlibat di dalam perjalanan pengenalan akan kasih-Nya kepada mereka. Aku terlalu angkuh untuk mengingat bahwa aku pun pernah mengalami kesulitan untuk untuk benar-benar memahami kasih Kristus yang mulia.

Aku lupa bahwa sesungguhnya aku tidak layak bermegah atas pengertian yang telah Tuhan berikan kepadaku mengenai anugerah keselamatan-Nya. Bukan atas hasil usahaku, juga bukan karena banyaknya buku yang telah habis kubaca, melainkan oleh karena kasih karunia-Nya saja.

Keangkuhanku itu bukan hanya menjauhkan relasiku dengan keluargaku, tetapi juga menjauhkanku dari Allah. Meski aku telah bersaksi tentang Allah melalui perkataanku, nyatanya aku telah gagal memperkenalkan kasih-Nya yang nyata melalui diriku. Sungguh mengerikan ketika menyadari kebobrokan yang telah kulakukan di dalam selubung iman ini.

C.S. Lewis dalam bukunya Mere Christianity mengatakan bahwa “kejahatan yang terbesar di dunia ini adalah kesombongan.” Kesombongalah yang pada awalnya menggiring Adam dan Hawa merasa lebih mengetahui apa yang baik dan menentang kehendak Allah. Melalui kesombongan pula, Lucifer diusir dari surga dan menjadi Iblis.

Kesombongan yang terbalut oleh kehidupan rohani dapat mengaburkan pengenalan yang benar akan kasih Allah yang rendah hati. Itu jugalah yang menyebabkan seteru antara manusia dengan sesamanya, serta manusia dengan Tuhannya. Jika kesombongan terus dibiarkan tumbuh di dalam dunia, bukankah wajar jika perseteruan antar manusia semakin marak bermunculan?

Kita tahu bahwa dunia memang sudah tercemar oleh pelbagai rupa kejahatan, mulai dari kejahatan kecil sampai kejahatan besar seperti aksi teror yang terjadi di Makassar beberapa waktu lalu. Namun, alangkah baiknya jika kita tidak semakin menambah jumlah daftar kejahatan yang terjadi, dengan cara merendahkan hati dan membagikan kasih yang sudah Yesus ajarkan kepada kita.

Mari kembali merenungkan, sudahkah kita benar-benar merendahkan hati kita dalam memberitakan kasih-Nya, melalui setiap perkataan dan perbuatan kita kepada mereka yang belum mengenal Dia?

Kiranya kita yang telah mengenal Dia, serta diubahkan oleh kasih karunia-Nya, boleh senantiasa dimampukan untuk meneladani kerendahan hati-Nya melalui kasih terhadap sesama. Amin.

Baca Juga:

4 Jurus Melawan Pikiran Negatif

Bagaimana caranya kita bisa tetap bersukacita dan merasa cukup sebagai orang Kristen di tengah dunia yang telah jatuh dalam dosa?

Penginjilan lewat Media Sosial, Bagaimana Caranya?

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Facebook, Instagram, Twitter, Snapchat, TikTok, Podcast di Spotify, ada banyak aplikasi dan media sosial yang saat ini digandrungi bukan hanya oleh kalangan remaja tetapi juga oleh orang dewasa. Aku juga merupakan pengguna media sosial yang cukup aktif, meskipun aku tidak punya akun di semua medsos tersebut. Di zaman post-modern ini, segala lini di media sosial dapat menjadi ladang yang subur untuk kita menuai benih firman Tuhan. Ada jutaan pengguna media sosial di Indonesia dan mereka selalu berpetualang di dunia maya. Bayangkan jika konten yang ada di media sosial kita dapat mengenalkan mereka tentang kasih Tuhan.

Perintah untuk memberitakan Injil bukan hanya untuk rohaniawan seperti misionaris atau pun pendeta, tetapi adalah tugas semua orang percaya (Matius 28:18-20). Sebagai seseorang yang belajar untuk memberitakan Injil melalui media sosial, aku ingin membagikan 5 tips untuk melakukannya:

1. Sebelum memulai menginjili orang lain, milikilah hubungan pribadi dengan Tuhan melalui merenungkan firman-Nya

2 Timotius 3:16-17 mengatakan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Alkitab adalah sumber dari segala hikmat dalam kita melakukan sesuatu. Ya, buku yang ditulis lebih dari 2000 tahun yang lalu itu masih sangat relevan untuk membimbing bagaimana cara kita hidup seharusnya. Alkitab mungkin tidak secara spesifik memberi arahan bermedia sosial, toh pada saat Alkitab ditulis, media sosial belum eksis. Tapi, Alkitab dengan jelas memberi arahan apa saja yang bisa kita bagi dan pelajari di sosial media.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8

Kita tidak bisa membagikan sesuatu yang tidak kita miliki, bukan? Ketika kita ingin memberitakan Injil, kita perlu melekat dan memiliki hubungan dengan Sang Sumber pemberi hikmat, yaitu Tuhan sendiri. Dengan setia membaca, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan, kita akan memiliki hikmat untuk memberitakan kasih Allah kepada dunia melalui media sosial kita.

2. Jadi dirimu sendiri

Menjadi diri sendiri adalah cara terbaik bagi kita untuk melayani orang lain. David G. Benner dalam bukunya, The Gift of Being Yourself, mengatakan: “Saat kita menjadi semakin serupa dengan Kristus, maka kita akan menjadi semakin unik sebagai diri kita yang sejati.” Benner mengajak kita untuk menjalani kehidupan yang otentik di hadapan Allah dan dunia.

Menjadi diri sendiri akan mempengaruhi apa yang akan kita bagikan di media sosial kita. Mengetahui apa yang menjadi bakat dan minat kita, memaksimalkannya dan menunjukkannya kepada dunia adalah kombinasi yang sempurna untuk menyatakan kebaikan Allah. Misalnya, ketika kita hobi menulis maka kita akan menciptakan sebuah tulisan yang memuliakan Allah. Jika dirimu menyukai fashion, otomotif, menyanyi, menggambar, atau memiliki kepedulian di bidang kesehatan, semua hal itu dapat kita pakai untuk menyatakan kemuliaan Tuhan jika dibagikan.

Jadi mari mengenal diri kita sendiri di dalam Tuhan, melayani orang lain dengan bakat kita dapat kita lakukan dengan memberitakannya melalui media sosial.

3. Membaca lebih banyak, belajar lebih banyak

Mengetahui apa yang menjadi bakat kita saja tidaklah cukup, kita perlu terus berlatih dan belajar untuk memaksimalkannya menjadi lebih baik. Bisa dengan membaca buku, menonton video tutorial, dengan rendah hati mau belajar dari orang yang lebih berpengalaman, mengikuti kursus dan berbagai macam cara lainnya yang berkaitan dengan bakat dan minat kita itu.

Terkhusus jika kita ingin bersaksi di sosial media kita perlu belajar seperti bagaimana cara mengambil gambar dengan baik, mengedit foto, video, audio atau membuat desain tulisan menggunakan aplikasi di gawai kita masing-masing. Saat ini sudah ada banyak aplikasi di playstore yang dapat mendukung tampilan konten supaya lebih menarik.

Namun, tidak perlu menunggu menjadi profesional yang sempurna dalam membuat konten untuk memulai memberitakan kabar baik di sosial media. Langkah pertama perlu dilakukan, meski seringkali sulit. Kita akan diperhadapkan dengan rasa malu, kurang percaya diri, takut menerima kesan negatif dari orang lain, tapi jangan berkecil hati. Niat baik kita untuk memberitakan Injil akan senantiasa didukung oleh Allah. Mulailah saat ini dengan apa yang kita miliki sembari terus memperbaiki diri.

4. Tidak lupa menjadi berkat di dunia nyata

Craig Groeschel dalam bukunya #Struggles mengatakan bahwa “Hidup bukanlah tentang berapa banyak hitungan likes yang kamu dapatkan. Melainkan tentang seberapa banyak kasih yang kamu perlihatkan.” Dia juga menambahkan demikian “Mereka (followers kita di sosial media) takkan tahu kamu adalah murid-Nya dari berapa banyak followers-mu. Mereka takkan tahu kamu adalah murid-Nya dari berapa banyak hitungan likes yang kamu dapatkan. Mereka takkan tahu kamu adalah murid-Nya dari seberapa cepat kamu membalas email. Percaya atau tidak, mereka bahkan takkan tahu kamu adalah murid-Nya dari berapa banyak ayat Alkitab yang kamu posting. Tidak, mereka akan tahu kamu murid Yesus ketika mereka melihat kasih-Nya di dalammu lewat tindakan-tindakanmu.”

Jangan sampai keinginan kita untuk menjadi berkat di media sosial menghalangi hubungan kita dengan manusia di dunia nyata. Kita perlu hadir di tengah-tengah mereka sama seperti yang Yesus teladankan kepada kita. Dia Allah yang mau duduk dan makan bersama dengan orang-orang berdosa yang dipandang sebelah mata oleh dunia, yaitu kita. Menjalin hubungan dengan orang lain dan hadir dalam hidup mereka merupakan cara yang tidak akan pernah gagal untuk membangun Gereja.

Yang terpenting dari menjadi pemberita Injil di media sosial bukan seberapa banyak jumlah likes dan followers kita, tetapi apakah yang kita tuliskan di dunia maya juga kita lakukan di dunia nyata? Apa yang kita bagikan di dunia maya seharusnya selaras dengan sikap dan tindakan kita di kehidupan nyata, supaya kesaksian kita bukan kesaksian bohong atau munafik.

5. Memiliki fokus dan sikap hati yang benar

Ketika kita mulai menggunakan media sosial akan ada kemungkinan kita akan kecanduan. Memiliki hasrat untuk semakin terkenal, berpikir keras untuk memiliki banyak likes di setiap postingan, mendapatkan semakin banyak followers dan mungkin juga membandingkan diri dengan pengguna media sosial lainnya. Kita perlu berhati-hati karena manusia tidak ada yang kebal dengan dosa kesombongan dan iri hati.

Aku pun pernah mengalami kecanduan media sosial dan membandingkan diriku dengan orang lain. Tuhan menegurku dengan firman-Nya yang aku baca di Alkitab dan buku rohani. Ternyata untuk terus memiliki motivasi hati yang murni, kita perlu terus memelihara hubungan pribadi kita dengan Tuhan.

“Allah yang menciptakan segala sesuatu. Semuanya berasal dari Allah dan adalah untuk Allah. Terpujilah Allah untuk selama-lamanya! Amin.” Roma 11:36 (BIMK).

Dia terus bekerja membentuk karakter dan bakat kita hingga saat ini. Terkadang, Tuhan juga memakai orang lain untuk menegur kita. Diperlukan kerendahan hati untuk mau mengakui kesombongan dan motivasi kita yang salah. Tak mengapa kita sedang berproses bersama-sama, ketika menyadari kesalahan kita bisa segera bangkit dan bertobat. Akhir dari semuanya: kiranya hanya nama Tuhan saja yang dipermuliakan ketika kita menggunakan media sosial.

Baca Juga:

3 To-Do-List Saat Kita Melakukan Penginjilan

Memberitakan Injil adalah tugas semua orang percaya. Tapi, untuk melakukannya ada tiga hal yang harus kita siapkan lebih dulu.

3 To-Do-List Saat Kita Melakukan Penginjilan

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

Saat ini aku bertumbuh di salah satu gereja lokal di Korea Selatan. Melihat kehidupan saudara-saudari di gereja di sini, aku banyak belajar tentang apakah dasar yang tepat buat penginjilan dan bagaimana semestinya penginjilan dilakukan. Terlepas dari kesibukan pekerjaan masing-masing, mereka tetap bergiat melakukan penginjilan di universitas-universitas buat mahasiswa yang masih belum mengenal Kristus.

Melalui apa yang kulihat dan kupelajari dari kehidupan mereka dan pengajaran di gereja, ada tiga hal tentang penginjilan yang harus kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. MENUMBUHKAN kasih buat orang lain, terutama berkaitan dengan keselamatan

Tuhan menginginkan semua orang tidak binasa dan memperoleh keselamatan yang kekal melalui Kristus Yesus (1 Timotius 2:4). Pertanyaannya, apakah kita juga memiliki kerinduan yang sama seperti hati Tuhan? Sebelum kita mengabarkan kabar baik-Nya, tugas kita adalah membuat isi hati kita selaras dengan isi hati Tuhan. Sama seperti pertumbuhan rohani kita, proses ini tidak dapat berlangsung dengan instan. Ini membutuhkan latihan dan komitmen dalam kehidupan kita.

Kita dapat melihat contohnya dalam kehidupan Musa. Sebelum dipakai Tuhan untuk menyelamatkan orang Israel keluar dari Mesir, Musa berpikir biar orang lain saja yang melakukannya. Musa selalu melihat kekurangan di dalam dirinya (Keluaran 4:1-17). Tetapi pada akhirnya, Musalah yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.

Salah satu hal yang kukagumi dari Musa adalah walaupun bangsa Israel sering bersungut-sungut atas penyertaan Tuhan dan memberontak, Musa tetap berdoa buat keselamatan mereka. “Ampunilah kiranya kesalahan bangsa-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari” (Bilangan 14:19), seru Musa kepada Tuhan. Di ayat selanjutnya, kita mengetahui bahwa Tuhan mengabulkan doa Musa dan mengampuni bangsa Israel.

Di Bilangan 14:13-19, Musa mengungkapkan argumennya ketika Tuhan hendak menghukum bangsa Israel. Jika kamu membaca nats tersebut, kira-kira bagaimanakah Musa dapat mengatakan itu semua? Jawabannya adalah: Musa tahu isi hati Tuhan. Musa memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Tuhan. Melalui kehidupan Musa, kita juga bisa menumbuhkan hati kita buat orang lain melalui hubungan yang akrab bersama Tuhan, caranya dengan saat teduh dan berdoa.

“Dan Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya” (Keluaran 33:11a).

2. MEMPERSIAPKAN diri untuk memberitakan Injil

Langkah selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah mempersiapkan diri kita. 1 Petrus 3:15 memberikan kita gambaran bagaimana kita dapat melakukannya:

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.”

Mempersiapkan diri berlangsung pada segala waktu untuk menjelaskan pengharapan yang ada dalam kehidupan kita. Sebagai contohnya, kita bisa mempersiapkan diri kita dengan menghafal beberapa ayat yang berkaitan dengan keselamatan melalui Yesus Kristus untuk memudahkan kita bercerita kepada orang di sekitar kita. Atau, kita juga dapat menulis kesaksian kita tentang keadaan kita sebelum dan sesudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Di tengah dunia yang penuh tantangan dan penderitaan, memiliki pengharapan yang teguh adalah kebutuhan. Sebagai orang Kristen, kita memiliki pengharapan tersebut di dalam Kristus, yang memampukan kita untuk bersukacita, mengampuni, memberi, dan melakukan teladan-teladan Kristus lainnya yang secara manusia sulit untuk dilakukan. Ketika kita menghidupi pengharapan tersebut, orang-orang lain akan tertarik dengan kehidupan kita. Kita dapat mengarahkan mereka kepada Pengharapan sejati yang memampukan kita untuk hidup seperti itu.

Setelah kita mempersiapkan ini semua, berdoalah kepada Tuhan agar kita diberi kesempatan memberitakan Injil kepada orang-orang di sekitar kita.

3. MENGINGAT terus makna kasih karunia dalam kehidupan kita

Poin ketiga berkaitan dengan bagaimana kita harus tetap memandang kasih karunia Tuhan sebagai alasan kita untuk melakukan penginjilan. Kita diselamatkan karena kasih karunia Yesus dan kita juga harus hidup berdasarkan kasih karunia. Penginjilan tidak boleh melupakan kebenaran ini.. Ketika kita lupa bahwa keselamatan adalah kasih karunia Allah, kita akan lebih berfokus pada perbuatan atau hal-hal yang tidak esensial dalam penginjilan. Kita lebih mementingkan hasil dibanding dengan proses ketika kita menginjili. Kita bisa menjadi kecewa ketika penginjilan gagal, sekaligus kita juga bisa jatuh dalam dosa kesombongan ketika penginjilan kita berhasil. Terlepas dari hasil yang kita peroleh, kita harus tetap mengingat bahwa semua karena kasih karunia-Nya ketika kita dipakai Tuhan buat melakukan penginjilan.

“Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia” (Roma 11:6).

Aku berharap melalui tiga poin di atas, kita semua bisa bertumbuh dalam penginjilan kepada orang-orang di sekitar kita. Selamat menginjili!

Baca Juga:

Kasih-Nya Merobohkan dan Membangun

Kasih Kristus mampu merobohkan tembok-tembok dosa dalam hidup kita dan menggantinya dengan anugerah yang mengubahkan kehidupan. Sudahkah kamu mengalaminya?

Belajar Penginjilan dari Petrus (Pengajaran dari 1 Petrus 3:15-16)

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepda tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetpai haruslah dengan lemah lembut dan hormat,
dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”

1 Petrus 3:15-16

Sebagian orang berpikir bahwa membela kebenaran itu cuma melibatkan aspek substansi dan strategi. Materi dikuasai dan metode diikuti. Yang dipentingkan hanya pengetahuan yang mendalam dan pendekatan yang relevan.

Tanpa bermaksud meremehkan penguasaan materi dan manfaat suatu metode, kita perlu menegaskan bawa membela kebenaran membutuhkan lebih daripada dua hal itu. Seorang pemberita kebenaran seyogyanya menghidupi kebenaran. Kebenaran tersebut juga seyogyanya disampaikan dengan cara yang benar. Seluruh kehidupan pemberita kebenaran harus dikuasai oleh kebenaran itu. Kita dipanggil bukan hanya untuk memberitakan, tetapi juga menghidupi kebenaran.

Itulah yang akan diajarkan daam teks kita hari ini. Hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang pekabar Injil yang baik?

1. Menguduskan Kristus dalam hati kita (ayat 15a)

Penginjilan dimulai dengan hati kita. Yang terpenting bukan seberapa banyak pengetahuan kita tentang kebenaran. Bukan pula seberapa besar pengalaman kita dalam penginjilan atau pengenalan kita terhadap orang lain. Bagaimana kondisi hati kita jauh lebih penting daripada perkataan yang kita ucapkan.

Rasul Petrus menasihati penerima suratnya untuk menguduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hati mereka (3:15a). Menguduskan di sini jelas bukan berarti membuat Kristus menjadi kudus secara moral. Menguduskan berarti mengkhususkan. Menguduskan berarti menghargai keunikan Kristus, memberi tempat yang sepantasnya bagi Dia. Dengan kata lain, menguduskan Kristus berarti menghormati Kristus lebih daripada yang lain.

Makna di atas didasarkan pada perbandingan antara 1 Petrus 3:14-15 dan Yesaya 8:12-13. Ada beberapa kemiripan yang signifikan di antara dua teks ini, sehingga para penafsir Alkitab menduga Petrus memang sedang memikirkan Yesaya 8:12-13.

– Yesaya 8:12-13, “Jangan sebut persepakatan dengan segala apa yang disebut bangsa ini persepakatan, dan apa yang mereka takuti janganlah kamu takuti dan janganlah gentar melihatnya. Tetapi TUHAN semesta alam, Dialah yang harus kamu akui sebagai Yang Kudus; kepada-Nyalah harus kamu takut dan terhadap Dialah harus kamu gentar.

– 1 Petrus 3:14b-15a, “Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!”

Jika Yesaya 8:12-13 memang berada di balik 1 Petrus 3:14-15, maka kita sebaiknya menafsirkan “menguduskan Kristus” dengan “mempertimbangkan Kristus sebagai objek rasa hormat kita”. Dia adalah Tuhan yang kudus. Dia harus mendapatkan tempat yang terutama dalam hati kita (NIV, “But in your hearts set apart Christ as Lord”)

2. Meyakini pengharapan kita (ayat 15b)

Di ayat ini Rasul Petrus mengantisipasi suatu keadaan: orang-orang luar menanyakan pengharapan yang ada pada orang-orang Kristen. Ini bukan sekadar tentang pengharapan yang abstrak. Bukan hanya sebuah konsep yang belum tentu terwujud atau terbukti. Ini adalah tentang pengharapan yang ada pada mereka. Bukan yang tidak ada pada diri mereka.

Pembicaraan tentang pengharapan merupakan topik yang sangat relevan bagi penerima surat 1 Petrus. Mereka adalah orang-orang Kristen yang berada di perantauan (1:1). Mereka adalah para pendatang dan perantau (2:11). Mereka adalah orang-orang asing. Keterasingan ini bukan cuma secara rasial atau sosial, tetapi juga spiritual. Dalam dunia yang sementara ini mereka hanya menumpang (1:17). Dunia bukan rumah mereka. Mereka mengarahkan pandangan ke depan.

Sebagai kelompok minoritas, mereka juga menghadapi berbagai tekanan. Fitnah seringkali ditujukan kepada mereka (2:12, 3:16). Beberapa bahkan menderita karena kebenaran atau kebaikan (2:19-21). Jika hanya memperhatikan apa yang terjadi pada saat itu, mereka pasti akan kehilangan semangat dan sukacita. Mereka sangat memerlukan jaminan untuk masa depan. Bukan di dunia ini, melainkan di dunia selanjutnya. Itulah yang disebut pengharapan.

Yang sedang dibicarakan di sini adalah pengharapan, bukan tindakan berharap. Ini bukan tentang apa yang dilakukan oleh orang-orang Kristen. Ini tentang apa yang ada pada mereka (3:15b “tentang pengharapan yang ada padamu”). Ada unsur kepastian di dalamnya. Semua yang dihidupkan melalui kuasa kebangkitan Kristus pasti memiliki “suatu hidup yang penuh dengan pengharapan” (1:3). Iman dan pengharapan kita tertuju pada Allah yang membangkitkan Kristus dari kematian dan yang memuliakan Dia di surga (1:21).

Mempunyai pengharapan di tengah dunia yang penuh tantangan dan penderitaan merupakan sebuah kebutuhan. Pengharapan ini membuat orang-orang Kristen memiliki gaya hidup dan semangat yang berbeda dengan dunia. Kita tidak mudah mengeluh, selalu optimis, senantiasa bersukacita. Dengan demikian, orang-orang lain akan tertarik dengan kehidupan yang seperti ini. Mereka akan terdorong untuk menanyakan rahasia di balik kehidupan itu. Di baliknya, ada pengharapan.

3. Siap memberikan pembelaan (ayat 15b)

Memiliki pengharapan adalah satu hal. Memberikan penjelasan tentang pengharapan itu adalah hal yang berbeda. Kita dituntut bukan hanya untuk menunjukkan kehidupan yang berpengharapan, melainkan juga memberikan “pertanggungjawaban” (LAI:TB).

Dalam teks Yunani, kata yang digunakan di bagian ini adalah apologia. Secara hurufiah kata ini berarti pembelaan, bukan pertanggungjawaban. Paulus beberapa kali memberikan pembelaan terhadap dirinya maupun Injil yang dia sampaikan (Kis 22:1; 1 Kor 9:3). Tidak jarang pembelaan ini dilakukan dalam konteks tuntutan legal atau pemenjaraan (Filipi 1:7, 16), sehingga tidak semua orang mau melibatkan diri dalam pembelaan tersebut (2 Tes 4:16).

Dalam teks kita hari ini Petrus memerintahkan penerima surat untuk selalu siap (hetoimoi aei) memberikan pembelaan. Kesiapan ini bukan hanya dalam konteks waktu (selalu siap), tetapi juga orang. Siapa saja yang menanyakan. Tidak peduli kapan dan kepada siapa, kita harus senantiasa siap memberitakan pembelaan.

Pembelaan yang kita berikan harus rasional. Yang mereka tanyakan bukan hanya pengharapan, tetapi alasan di balik pengharapan itu. Dalam teks Yunani, ayat 15b berbunyi: “senantiasa siap memberikan pembelaan kepada siapa saja yang menanyakan alasan tentang pengharapan yang ada pada diri kalian”. Ada kata “alasan” (logos) di bagian tadi (lihat mayoritas versi Inggris “who asks you for a reason for the hope that is in you”).

Apakah kita tahu apa yang kita percayai? Apakah kita tahu mengapa kita memercayai hal itu?

4. Memberikan pembelaan dengan sikap yang benar (ayat 15b-16)

Pembelaan bukan hanya harus rasional. Pembelaan juga harus disertai dengan kesalehan. Kekuatan intelektual bukan substitusi bagi kematangan spiritual, emosional, dan sosial.

Petrus menasihati orang-orang Kristen di perantauan untuk menunjukkan sikap lemah lembut dan hormat serta hati nurani yang baik. Tiga hal ini sebenarnya lebih berkaitan dengan hati daripada tindakan. Namun, apa yang ada dalam hati seseorang akan terlihat dari tindakan orang itu. Hati yang dikuasai oleh kekudusan Kristus (ayat 15a) adalah hati yang memunculkan sikap lemah lembut, hormat, dan tulus kepada orang lain.

Dengan demikian Petrus sedang mengerjakan tentang keseimbangan antara kebenaran suatu ajaran (ortodoksi) dan tindakan yang benar (ortopraksi). Apa yang kita percayai harus selaras dengan apa yang kita hidupi. Apa yang kita ucapkan sama pentingnya dengan bagaimana kita mengucapkannya.

Sebagian orang sukar diyakinkan oleh kebenaran, bukan karena kebenaran itu kurang rasional. Yang menjadi persoalannya seringkali adalah orang yang menyampaikannya. Adalah ironis apabila banyak orang yang sagat gigih memperjuangkan kebenaran ternyata adalah orang-orang yang hidupnya tidak diubahkan oleh kebenaran yang mereka perjuangkan.

Di mata Petrus, kesalehan memegang peranan cukup sentra. Allah bisa membawa seseorang kepada diri-Nya melalui kesalehan orang Kristen. Dia memerintahkan orang-orang Kristen untuk memiliki gaya hidup yang baik “supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka” (2:12b). Kepada para isteri yang bersuamikan orang non-Kristen, Petrus menasihati mereka untuk menunjukkan kesalehan dengan tujuan “supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu” (3:1b-2).

Sudahkah kamu memiliki pengharapan di dalam Kristus? Sudahkah kamu menunjukkan hal itu melalui kehidupan yang penuh semangat dan sukacita? Mampukah kamu memberikan alasan rasional bagi pengharapan itu? Maukah kamu membagikan hal itu kepada orang lain dengan sikap yang benar?

Soli Deo Gloria.

* * *

Tentang Penulis:
Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M adalah gembala di Reformed Exodus Community Surabaya. Tulisan ini sebelumnya sudah ditayangkan di sini.

Baca Juga:

Belajar Penginjilan dari Yesus (Pengajaran dari Yohanes 4:3-26)

Orang-orang Kristen tidak hanya dihidupkan oleh Injil dan dipanggil untuk menghidupi Injil, melainkan juga untuk hidup bagi Injil. Memberitakan Injil adalah salah satu wujud kehidupan yang dipersembahkan bagi Injil. Sayangnya, tidak semua orang Kristen bergairah dalam membagikan Injil.

Jejak Juang Saksi Injil

Dua abad lalu adalah masa-masa ketika banyak misionaris pergi ke berbagai belahan dunia untuk mewartakan Injil. Buah pelayanan mereka tidak seketika terlihat, tetapi atas anugerah Tuhan, Kabar Baik yang disampaikan bertumbuh, berkembang, dan terus disampaikan dari generasi ke generasi.

Bagaimana dengan perjalanan imanmu? Ingatkah kamu akan sosok yang mengenalkanmu pertama kali kepada Tuhan? Yuk bagikan sedikit ceritamu di kolom komentar.

Digitalkan Kabar Baikmu!

Oleh Cornelius Ferian Ardiano, Jakarta

Halo kawan,

Tahukah kamu tentang penyakit kanker? Kupikir semua orang tahu dengan salah satu penyakit paling mematikan ini. Sampai sekarang pun, belum ada obat kanker yang dapat 100% memulihkan semua orang yang terjangkit olehnya. Aku ingin mengajakmu membayangkan, jika semisal kita terkena penyakit tersebut dan kita sembuh total karena diberi “obat mujarab” oleh kerabat terdekat kita, dan kita sembuh total, menurutmu bagaimana perasaan kita? Tentu kita akan sangat bersukacita, dan besar kemungkinannya kita akan menceritakan pengalaman yang luar biasa ini ke kerabat-kerabat kita supaya mereka juga mendengar kabar baik tentang obat yang bisa menyembuhkan.

Berangkat dari ilustrasi di atas, aku ingin mengajakmu untuk merenungkan kembali sebuah ayat.

“Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:18-20).

Ayat tersebut bukanlah ayat yang asing buat kita.

Perintah Yesus untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya sering kita dengar sebagai Amanat Agung. Seperti yang kita pahami bersama, setelah Yesus terangkat ke surga, murid-murid-Nya pergi ke segala penjuru dunia untuk mengabarkan Injil supaya setiap orang yang bahkan belum mendengar nama Kristus juga boleh menerima keselamatan. Menurutmu, apa sih yang membuat murid-murid Yesus bergairah untuk mewartakan Kabar Baik? Kita yang hidup di masa sekarang ini dapat mengenal Yesus pun karena pekerjaan murid-murid-Nya.

Murid-murid Yesus sangat mengenal pribadi-Nya. Pada zaman Yesus, kata murid yang dimaksud tidaklah seperti murid yang hadir di sekolah masa kini. Seorang murid pada waktu itu harus mengikut dan meniru gurunya. Mereka juga harus mengingat apa yang guru mereka sabdakan. Murid-murid Yesus bukanlah orang yang suci, akan tetapi karena pengenalan mereka kepada Kristus dan pengorbanan-Nya, mereka mengalami perubahan hidup yang signifikan dan hidup mereka pun berdampak. Mereka telah melihat sendiri mukjizat-mukjizat yang Yesus kerjakan selama di bumi, yang bagi orang lain mustahil untuk dikerjakan. Dan, mereka pun melihat bahwa pengorbanan Yesus memberikan obat yang paling mujarab untuk manusia, yakni pemulihan dari dosa dan jaminan akan kehidupan yang kekal.

Kembali ke ilustrasi yang kutuliskan di atas, ketika kita berada di posisi di mana sakit keras menimpa kita dan kita mendapatkan obat mujarab, tentu kita akan bergairah mewartakan kepada orang-orang akan obat itu. Kita punya tujuan agar orang-orang yang sakit itu pun bisa mengalami kesembuhan seperti kita.

Di masa sekarang ini, ada banyak banget loh cara-cara untuk mewartakan Kabar Baik. Salah satunya adalah lewat menulis di akun media sosial atau blog pribadi.

Aku mengalami lahir baru pada tahun 2014, ketika aku masuk di awal perkuliahan. Dulu, aku merasa hidupku baik-baik saja sampai aku sadar bahwa sebenarnya hidupku sangat jauh dari Kristus. Ketika aku dipulihkan dalam acara retreat, aku diminta untuk menuliskan kesaksianku di blog pelayanan mahasiswa dulu. Pada tahun 2016, Tuhan mengizinkanku untuk melakukan mission trip ke Kendari. Suatu waktu di sana, aku bertemu dengan seorang adik yang orang tuanya berbeda agama dan dia bingung untuk menetapkan ke mana dia mau menambatkan imannya. Saat aku mulai mewartakan Injil, adik ini pun bertanya, apakah benar aku yang menulis kesaksian mengenai lahir baru? Dia pun menunjukkanku website yang di dalamnya terdapat tulisanku. Aku diam seketika, aku sangat bersyukur bahwa yang kukira menulis kesaksian adalah hal percuma, ternyata itu bisa dipakai Tuhan untuk menjamah orang yang tidak pernah kupikirkan sekalipun.

Kawanku, apa yang kualami itu sungguh terjadi. Jika kamu merasa hidupmu sudah dipulihkan, banyak loh teman-teman kita yang mungkin terlihat baik, tetapi sebenarnya mereka sedang mencari-cari kebenaran.

Terlepas dari banyaknya konten negatif di Internet, kita bisa memeranginya dengan mewartakan Kabar Baik. Aku pribadi terus percaya bahwa tulisan-tulisan yang kita posting akan sangat berarti bagi mereka yang haus dan lapar akan pengenalan kepada Tuhan.

“Tetapi, bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengarkan tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Roma 10:14).

Ayo kita budayakan menulis untuk tujuan yang kekal. Teruslah berkarya lewat tulisan sebagai salah satu caramu melaksanakan Amanat Agung. Digitalkan Kabar Baikmu!

Baca Juga:

Apakah yang Kupercayai Sungguh Membuatku Berbeda?

Panggilan kita sejatinya begitu jelas: Orang Kristen harus berbeda karena apa yang kita percayai. Alkitab memanggil kita untuk menjadi pelita dan garam dunia (Matius 5:13-16). Jadi, tentu hidup kita dipanggil untuk membuat perbedaan yang mendasar dan kekal. Tapi, bagaimana?

Apa yang Kau Kejar dalam Hidupmu?

Hari ke-4 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 1:19-26

1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.

1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. 1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik;

1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. 1:25 Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,

1:26 sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

Berlari, aku sedang berlari

Untuk mendapatkan segalanya.

Cepat, ayo cepatlah,

Aku perlu meraih

Satu hal lagi

Aku menulis puisi ini lebih dari 10 tahun yang lalu. Beberapa tahun sebelumnya, aku hampir kehilangan ibuku karena kanker, tak lama setelah aku menjadi seorang Kristen. Kematian memiliki kesan baru bagiku: rasa sakit yang ditinggalkannya benar-benar nyata. Aku merasa kesal, takut, dan kebingungan. Aku mulai mengejar hal-hal seperti harta, pencapaian dan keluarga yang harmonis, untuk menghilangkan rasa sakit dan sedih.

Sementara itu, aku tetap melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan orang Kristen: pergi ke gereja, memberi persembahan, berdoa, menyanyikan beberapa lagu, dan membaca Alkitab. Semua hal ini baik dan penting untuk perjalananku bersama Tuhan, namun aku kehilangan hati untuk berelasi dengan-Nya. Kekristenan hanyalah suatu hal yang kutambahkan ke dalam daftar hal-hal yang membuatku aman, sebuah jaminan untuk memperoleh puncak kebahagiaan—kehidupan abadi. Bagiku, hidup berarti bahagia, dan mati adalah sebuah tragedi.

Yang belum kumengerti adalah berelasi dengan Allah berarti menjadikan segalanya tentang Yesus. Termasuk menjadikan kerinduan dan misi-Nya—menjadikan segala bangsa murid-Nya (Matius 28:19)—menjadi kerinduan dan misiku. Inilah bagaimana Paulus menjalani hidupnya.

Surat Paulus kepada jemaat Filipi banyak berisi hasrat terdalam dan harapannya: bahwa Kristus dimuliakan di dalamnya baik dalam hidup maupun matinya. Cara pandang Paulus sangat bertentangan denganku—karena baginya, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (ayat 21).

Seluruh kehidupan Paulus adalah tentang Kristus. Ketika ia menuliskan deklarasinya yang indah mengenai kesetiaannya pada Kristus, ia sedang berada di dalam penjara yang dijaga oleh tentara Romawi. Deklarasi tersebut bukanlah kata-kata kosong belaka, namun sebuah pernyataan yang berasal dari kepercayaan diri. Paulus siap menanggung segala konsekuensi dari menjalani hidup bagi Kristus—bahkan kematian.

Kematian bukanlah tamu yang tidak diundang bagi Paulus, karena mati berarti pulang untuk bersama dengan Kristus, yang baginya adalah jauh lebih baik daripada hidup (ayat 23)—sebuah keuntungan terbesar bagi orang yang alasan keberadaannya dalam hidup adalah Kristus. Namun bahkan dalam pemikirannya mengenai apakah ia lebih memilih untuk hidup atau mati, Paulus memilih apa yang lebih mendatangkan kebaikan bagi orang lain dibanding bagi dirinya sendiri (ayat 24-25). Ia menuntun orang lain untuk semakin bersukacita di dalam Kristus (ayat 26).

Pilihan Paulus adalah sebuah contoh yang indah mengenai pengosongan diri demi orang lain dan demi Kristus. Pilihan itu adalah sebuah jenis pilihan yang dapat dengan mudah tersingkirkan ketika kita berfokus pada kebahagiaan dan keuntungan diri kita sendiri. Paulus tidak berpegang erat pada apapun, kecuali Kristus. Ia menyambut apapun yang terjadi demi Kristus.

Teladan Paulus mengubah tujuan pribadiku dalam hidup. Alih-alih mengejar hal-hal duniawi, kini kerinduanku adalah untuk mengenal Yesus lebih lagi dan mengarahkan orang-orang pada-Nya—meskipun itu berarti beranjak dari zona nyamanku dan membagikan Injil dengan orang-orang di sekitarku.

Aku berdoa untuk semua orang percaya di seluruh dunia, termasuk diriku, supaya memiliki visi yang sama yang dimiliki Paulus—sebuah kerinduan untuk menjalani hidup kita bagi Kristus di atas segalanya, dan sebuah sikap yang tidak takut pada kematian karena itu berarti kita akan “bersama-sama dengan Kristus” (ayat 23). Mari kita terus mengevaluasi apa yang kita kejar dalam hidup, mengarahkan kembali prioritas kita dengan prioritas Allah, dan membuat keputusan yang akan mengarahkan orang lain pada Kristus.

Aku berdoa agar seperti Paulus, mengenal, mengejar, dan hidup bagi Kristus adalah satu-satunya hal yang berarti bagi kita.—Kezia Lewis, Filipina

Handlettering oleh Elizabeth Rachel Soetopo

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Renungkan apa yang Paulus tulis dalam Filipi 1:19-26 dan minta Tuhan untuk menunjukkan isi hatimu. Apa tujuan hidupmu? Hal apa yang deminya kamu rela mati?

2. Dalam hal apa cara pandangmu mengenai kehidupan dan kematian sama atau berbeda dengan cara pandang Paulus?

3. Bagaimana teladan Paulus dapat mendorongmu untuk menjalani hidupmu dengan berbeda hari ini?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Kezia Lewis, Filipina | Tiada hal yang lebih menyenangkan bagi Kezia selain naik mobil selama dua jam bersama suaminya, sembari mendengarkan rekaman khotbah. Tapi, menikmati hujan ditemani secangkir kopi juga merupakan waktu yang berkualitas buatnya.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Apakah Kamu Takut Membagikan Injil?

Hari ke-3 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 1:12-18

1:12 Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,

1:13 sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.

1:14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.

1:15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.

1:16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,

1:17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.

1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.

Seberapa besarkah rasa peduli kita terhadap kesempatan orang-orang mendengar Injil?

Aku mengingat kesempatan yang kudapat baru-baru ini untuk memberitahu seorang temanku tentang Yesus Kristus. John telah membagikan pergumulannya padaku tentang keluarganya dan perjuangannya melawan depresi.

Pada saat itu, aku tahu persis apa yang perlu kukatakan, namun entah mengapa kata-kata tersebut tersangkut di tenggorokanku, seperti sebuah gumpalan yang besar dan membuat tidak nyaman. Pada akhirnya, dalam pembicaraan tersebut untuk sebagian besarnya aku hanya mendengar dan menawarkan beberapa nasihat, sementara aku sadar bahwa yang seharusnya kulakukan adalah membagikan pengharapan Kristus padanya.

Mengapa aku tidak melakukannya? Dalam perenunganku, aku takut. Sejak kami berkenalan, John selalu berkata terus terang mengenai kepercayaan ateisnya dan kritikannya terhadap agama. Dan meskipun kami pernah membahas topik seputar Tuhan, aku selalu gagal membagikan Injil secara lengkap karena rasa takut akan bagaimana John merespons.

Bagaimana jika ia tersinggung akibat aku membagikan Injil? Tidakkah itu akan membuat pertemanan akrabku menjadi retak dan canggung? Lebih lagi, bagaimana jika ia kesal hingga ia memberitahu teman-teman kami yang lainnya mengenai usahaku yang dianggapnya ingin mendorongnya berubah kepercayaan? Tidakkah itu akan menghancurkan reputasiku, dan dengan efektif membuatku dikucilkan?

Teladan Paulus dalam Filipi 1:12-18 merupakan teguran yang keras buatku. Dalam ayat-ayat ini Paulus mencontohkan bagaimana seharusnya kita memiliki pola pikir. Ketika kita fokus menyebarkan Injil, maka mencari kenyamanan diri sendiri tidaklah menjadi suatu hal yang penting.

Dalam ayat-ayat ini, kita mendapati Paulus sedang berada di situasi yang tidak mudah. Tidak hanya menulis surat untuk jemaat Filipi di dalam penjara, namun sebagaimana ditulis di ayat 17, Paulus memiliki alasan untuk khawatir yang berasal dari ketidakhadirannya akibat pemenjaraannya. Nampaknya beberapa orang yang menggantikan Paulus untuk menyebarkan Injil memiliki motivasi yang buruk; sebagaimana Paulus menuliskan “sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.”

Namun, respon Pauluslah yang paling menguatkan kita. Alih-alih bersedih atas situasinya, ia justru bersukacita (ayat 18)! Yang terpenting bagi Paulus adalah pemenjaraannya telah terbukti menghasilkan buah bagi Injil. Pemenjaraannya memberikan kesempatan bagi Paulus untuk membagikan Injil pada penjaga penjara, dan telah membuat orang-orang Kristen lainnya memiliki keberanian untuk memberitakan Injil (ayat 13-14). Di tengah situasinya yang buruk dan motivasi jahat yang dimiliki orang-orang lain (ayat 17-18), yang paling Paulus pedulikan adalah tersebarnya Injil itu.

Jadi seberapa besarkah rasa peduli kita terhadap kesempatan orang-orang mendengar Injil?

Kegagalanku untuk membagikan Injil pada John membuktikan bahwa aku lebih memperhatikan kenyamanan dan reputasiku; aku tidak bersedia menanggung kemungkinan yang membuat tidak nyaman dan canggung. Aku perlu memiliki pola pikir yang Paulus tunjukkan di surat Filipi—pola pikir untuk mengasihi John, untukku memiliki keberanian membagikan kabar terbaik yang pernah kudengar apapun resikonya.

Hal itu tidak berarti aku harus menjadi orang yang kurang ajar dan menghancurkan setiap percakapan, namun contoh Paulus mendorongku untuk berpikir lebih jauh tentang bagaimana aku bisa membagikan Injil dengan teman-temanku. Kiranya kita menjadi seperti Paulus, tidak membiarkan ketakutan kita menghalangi tersebarnya Injil. Melihat lebih banyak orang menemukan pengetahuan tentang Kristus yang menyelamatkan merupakan hal yang jauh lebih penting.—Andrew Koay, Australia

Handlettering oleh Septianto Nugroho

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Ketakutan apa yang menghalangimu dari memberitakan Yesus Kristus pada orang-orang di sekitarmu?

2. Kesulitan apa yang sedang kamu jalani saat ini? Bagaimana caranya kamu dapat mendoakan supaya kesulitan tersebut menjadi kesempatan untuk menyebarkan Injil?

3. Apa yang kamu rasakan ketika kamu melihat Injil dibagikan dengan motivasi yang tidak murni? Bagaimana sikap Paulus dapat menantangmu untuk memberikan respon yang berbeda?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Andrew Koay, Australia | Andrew meluangkan waktunya untuk menonton film dokumenter. Andrew juga suka mendengarkan suara Tuhan lewat firman-Nya dalam Alkitab.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi