Kasih Tuhan di Masa Corona

Info

Oleh Jefferson, Singapura

Memasuki bulan keempat di tahun 2020, aku tidak menyangka kalau wabah COVID-19 akan jadi separah ini. Situasi di Singapura sendiri bereskalasi dengan cepat selama beberapa minggu terakhir. Pengetatan berkala peraturan-peraturan social distancing pun mencapai puncaknya ketika pemerintah mengumumkan kebijakan “pemutus arus”—yang mirip dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta—hari Jumat minggu lalu. Salah satu upaya yang diperkenalkan untuk menghambat laju penyebaran coronavirus adalah menutup kantor-kantor dari berbagai sektor non-esensial selama satu bulan, dimulai dari Selasa kemarin. Kantorku yang bergerak di bidang konsultasi lingkungan pun terkena imbasnya.

Aku cukup terkejut ketika mendengar harus bekerja dari rumah selama sebulan, terutama karena perusahaanku belum pernah melakukannya sejak pandemi ini dimulai. Group chat kantor pun mulai ribut dalam keresahan, membuat aku yang tadinya tenang-tenang saja jadi ikutan panik.

Pada saat itulah aku mulai menyadari dan merasakan dampak dari wabah COVID-19 secara langsung. “Ketakutan dan penderitaan semakin nyata di mana-mana,” pikirku. Pengamatan ini kemudian berkembang menjadi pertanyaan, “Menghadapi situasi seperti ini, tanggapan seperti apa yang iman Kristen berikan? Dan apa bedanya dengan reaksi dari dunia?”

Di antara banyak tulisan dan opini yang disuarakan oleh berbagai kalangan, artikel karangan N. T. Wright menuntunku untuk merenungkan tentang hal ini lebih dalam dari yang kukira, di mana aku melihat keindahan dan keunikan dari jawaban Kekristenan untuk pandemi ini.

“Kekristenan tidak menawarkan jawaban apapun atas coronavirus

Artikel itu dibuka dengan pengamatan beliau terhadap suatu refleks—layaknya lutut yang diketuk palu karet—dari banyak kalangan untuk memberikan sebuah label kepada peristiwa ini, entah sebagai “hukuman”, “pertanda”, maupun “respons alam”. Teori-teori konspirasi pun menyebar secepat virus korona menular. Orang-orang ini dijuluki N. T. Wright sebagai “Rasionalis” karena menuntut penjelasan rasional atas segala kejadian. Berseberangan dengan mereka adalah kaum “Romantisis” yang sentimentalis, yang menuntut suatu “desahan lega“, kepastian instan bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja.

Terhadap kedua reaksi tersebut, N. T. Wright memberikan alternatif respons yang iman Kristiani usung dalam bentuk ratapan, di mana kita mengakui dengan jujur kalau kita sama sekali tidak mengetahui alasan di balik suatu kejadian maupun hasil akhirnya. Ratapan beliau jabarkan sebagai tindakan “bergerak keluar dari kecemasan kita terhadap dosa-dosa dan pergumulan pribadi yang egois untuk melihat penderitaan dunia dengan lebih luas”. Tradisi ratapan yang Alkitabiah mengajak kita untuk berempati dengan penderitaan mereka yang berhadapan dengan pandemi ini dalam kondisi yang jauh dari ideal, seperti di kamp pengungsi yang padat di Yordania dan daerah penuh kekerasan perang seperti Gaza.

Beliau kemudian mengajak kita untuk menilik isi dari sejumlah mazmur ratapan. Beberapa mazmur memang ditutup dengan pembaharuan keyakinan akan penyertaan dan pengharapan dari Tuhan di tengah permasalahan, namun ada juga mazmur-mazmur yang berakhir dalam kegelapan dan kekalutan (seperti Mazmur 88 dan 89). Dari kedua jenis mazmur ratapan ini, kita melihat bahwa praktik ratapan tidak selalu memberikan jawaban atas segala rasa duka dan frustrasi yang kita alami. Meskipun begitu, ratapan selalu menyingkapkan suatu misteri yang dinyatakan oleh Alkitab kepada para peratap: TUHAN sendiri pun meratap.

Ratapan Allah Tritunggal terekam jelas dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Ada banyak bagian yang mencatat hati Tuhan yang berduka, seperti ketika melihat keberdosaan dan kejahatan manusia (Kejadian 6:5-6) serta ketika bangsa Israel pilihan-Nya sendiri berpaling dari-Nya untuk menyembah berhala (Yesaya 63:10). Di sisi lain, dalam Perjanjian Baru kita melihat air mata sang Anak di makam Lazarus (Yohanes 11:35) dan ”erangan” Roh Kudus di dalam diri kita (Roma 8:26) sambil kita sendiri “mengerang” bersama seluruh ciptaan (Roma 8:23). [Terjemahan Bahasa Indonesia memakai kata “keluhan” untuk kata yang secara konsisten diterjemahkan sebagai “groan(-ings)” / “erangan” oleh terjemahan-terjemahan Bahasa Inggris.]

Dari semua pengamatan ini, N. T. Wright menyimpulkan bahwa orang Kristen tidak dipanggil untuk (mampu) menjelaskan apa yang sedang terjadi dan mengapa itu terjadi, melainkan untuk meratap. Bersama dengan Roh Tuhan yang meratap dalam diri kita, ratapan kita menjadikan kita bait-bait Allah yang menyatakan penyertaan dan kasih-Nya di tengah dunia yang sedang menderita karena wabah COVID-19.

Ikut meratap bersama Tuhan yang meratap

Walaupun tulisan yang kuringkas di atas memperluas wawasan dan mengajarkan sebuah cara bagaimana kita dapat merespons wabah COVID-19 dengan Alkitabiah dan bijak, aku merasa kurang puas dengan konklusi yang N. T. Wright ambil. Aku merasa masih ada kaitan yang lebih mendalam antara ratapan kita dengan ratapan Allah yang tidak dipaparkan oleh beliau. Dalam perenunganku tentang hal ini, sebuah frasa dari Yesaya 53:3 mendadak muncul dalam benakku: “man of sorrows”, yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai “seorang yang penuh kesengsaraan”. Frasa ini digunakan dalam nubuatan nabi Yesaya tentang Hamba TUHAN yang menderita untuk memikul ganjaran dari dosa dan kejahatan yang sepatutnya kita terima (Yesaya 52:13–53:12), yang kemudian digenapkan oleh Yesus Kristus ketika Ia disesah, dihina, dan disalibkan sekitar 2000 tahun yang lalu.

Deskripsi Yesus sebagai man of sorrows inilah yang menggugah hatiku. Sebagai Tuhan atas seluruh ciptaan, Yesus Kristus adalah satu-satunya Pribadi di jagat raya yang memahami penderitaan secara penuh. Ia mampu melenyapkan kesengsaraan hanya dengan satu patah kata (bdk. Matius 26:53)! Yesus tidak perlu datang ke dunia, tapi Ia tetap mengambil rupa manusia dan mengalami penderitaan dengan sensasi panca indera yang sama dengan kita (Yesaya 53:7) hingga mati (53:8) sehingga “oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh” (53:5; bdk. 1 Petrus 2:24). Kurasa terjemahan Indonesianya tidak menggambarkan dengan penuh makna dari frasa ini. Bukan hanya “penuh kesengsaraan”, penderitaan yang Yesus alami pada Jumat Agung menjadikan-Nya “seorang sengsara”, kesengsaraan dalam wujud darah dan daging manusia.

Dalam perenungan inilah aku melihat hubungan antara ratapan kita dengan ratapan Tuhan: Yesus Kristus telah lebih dulu meratapi dan berempati dengan semua dosa dan penderitaan kita, bahkan mengalami sendiri segala penderitaan itu dan menanggungnya di atas kayu salib sampai mati, sehingga kita dapat “bergerak keluar dari kecemasan kita… yang egois untuk melihat penderitaan dunia dengan lebih luas”, meratapi dan berempati dengan penderitaan orang lain. Kebenaran ini digambarkan dengan indah oleh Paulus, “[Pribadi Allah Bapa] yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)

Allah yang kita sembah, yang menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus, tidaklah jauh dari kita semua (bdk. Ibrani 4:15). Ia tidak tinggal diam ketika melihat ciptaan-Nya yang menurut hikmat mereka sendiri mencoba untuk merasionalisasi dan meromantisasi jawaban atas segala kejahatan dan penderitaan di dunia. Kepada kaum-kaum Rasionalis, Romantisis, dan semua pandangan manusiawi lainnya, Allah menjawab dengan memilih untuk datang sendiri ke dalam dunia, merasakan segala penderitaan itu dalam wujud dan indera yang sama dengan kita, meratap bersama kita, dan menebus upah dosa hingga tuntas di atas kayu salib.

Kurasa bertepatannya momen wabah COVID-19 ini dengan masa Lent atau prapaskah dan peringatan Jumat Agung dan Paskah bukanlah sebuah kebetulan. Mengapa begitu? Karena di tengah masa coronavirus yang gelap pekat, cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus (2 Korintus 4:4), terang kasih Tuhan yang terus menyertai kita, dapat terlihat bersinar lebih cemerlang.

Meratap di tengah kegelapan, berharap pada sang Terang kasih dunia

Jadi, bagaimana kita dapat melakukan praktik ratapan di masa kini? Yang jelas, ratapan tidak dilakukan dengan berusaha menemukan penjelasan di balik situasi COVID-19 yang kompleks seperti golongan Rasionalis, maupun mencari penghiburan instan seperti kaum Romantisis. Sebaliknya, kita meratap dengan melihat keluar dari diri kita untuk menolong dan berempati dengan penderitaan orang lain, seperti yang N. T. Wright usulkan dan, aku ingin menambahkan, mengarahkan orang lain untuk melihat dan percaya kepada Kristus yang meratap bersama kita dan menanggung semua penderitaan itu untuk kita.

Melalui doa-doa yang kita panjatkan, percakapan-percakapan online dengan teman dan kerabat kita, serta mencari tahu dan menolong mereka yang membutuhkan bantuan—baik secara dana, pangan, maupun emosi—untuk melewati pandemi ini, kita memberitakan Injil kasih keselamatan dalam Yesus Kristus. Teman-teman kosku membantu menajamkan langkah yang terakhir dengan mengingatkan bahwa bantuan yang dapat kita berikan kepada orang lain pun adalah berkat yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita terlebih dahulu. Dengan kata lain, pengucapan syukur yang tulus adalah bagian penting dari tindakan kita menyalurkan berkat Tuhan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Dengan segala waktu dan sumber daya tambahan yang kudapatkan dari keharusan untuk bekerja dari rumah selama sebulan ke depan, aku tahu apa yang akan kuaplikasikan dari perenungan ini: mengucap syukur setiap saat atas berkat-berkat yang Tuhan terus berikan, meratapi penderitaan demi penderitaan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, dan membantu mereka yang membutuhkan sejauh yang kubisa. Melalui semua tindakanku ini, aku berdoa agar dunia dapat mengenal dan berharap kepada Yesus Kristus yang meratap bersama kita dan telah memberi diri-Nya untuk menanggung segala penderitaan kita.

Maukah kamu ikut meratap bersamaku dan membagikan pengharapan ini sehingga realita kasih Tuhan di masa corona semakin nyata di tengah dunia yang terinfeksi oleh dosa?

Selamat Jumat Agung dan Paskah! Tuhan Yesus menyertai dan memberkati, soli Deo gloria.

P. S. Judul tulisan ini diadaptasi dari novel karangan Gabriel García Márquez yang berjudul Love in the Time of Cholera (“Kasih di Masa Kolera”)

Baca Juga:

Ketika Aku Divonis Sakit Oleh Pikiranku Sendiri

Tahun 2016 aku pernah menderita Pneumonia, lalu dinyatakan sembuh. Namun, berita-berita tentang virus yang kubaca membuatku cemas. Pikiran buruk pun menghantui, aku over-thinking.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Dunia

Ayo berikan komentar yang pertama!

Bagikan Komentar Kamu!