Memaafkan yang Tak Termaafkan

Info

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Suara tembakan tiba-tiba menggemparkan halaman Basilika Santo Petrus, Vatikan. Hari itu, 13 Mei 1981 dalam suasana sore yang cerah, Paus Yohanes Paulus II mengalami peristiwa upaya pembunuhan. Dari kerumunan yang sedang hangat menyapanya, seorang pemuda menembakkan empat tembakan dari senjata semi-otomatis. Paus pun terluka parah. Beruntung melalui pertolongan medis yang sigap, nyawanya terselamatkan. Sementara itu, sang penembak segera dibekuk oleh aparat dan setelah serangkaian proses peradilan, dia dijatuhi hukuman penjara.

Peristiwa itu menjadi berita teror yang menyebar ke berbagai belahan dunia, namun ada kisah menarik yang terjadi setelahnya. Dua hari selepas Natal tahun 1983, Sri Paus yang bernama asli Karol Josef Wojtyla itu menyambangi sebuah penjara. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari penjara yang dikunjunginya itu, tetapi seorang lelaki muda bernama Mehmet Ali Agca mendekam di sana. Mehmed ialah sang pelaku teror, yang dari pistolnya menyambar empat tembakan kepada sang Paus.

“Aku memaafkanmu, sahabat. Aku mengampunimu,” ujar Karol seraya memeluk Mehmed.

Momen singkat nan hangat tersebut membuat dunia terkesima. Seorang pelaku kejahatan yang seharusnya tidak terampuni malah mendapatkan pengampunan. Alih-alih mengutuki si pelaku, Karol meminta agar umat berdoa bagi Mehmet. Tindakan Karol menggemakan kembali teladan sempurna yang sudah lebih dulu ditunjukkan oleh Yesus, ketika Dia mengampuni orang-orang yang telah menganiaya-Nya.

Sulitnya memaafkan

Memaafkan pada kenyataannya bisa jadi tindakan yang sangat sulit. Memaafkan tak semudah mengucap “aku memaafkanmu”. Memaafkan adalah sebuah tindakan yang melibatkan proses rumit, yang untuk mengucapkannya kita perlu mengorek kembali segala memori dan luka hati, dan menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup kita. Saat pasangan mengkhianati kepercayaan kita, saat orangtua yang seharusnya mengayomi kita malah menghujani kita dengan kekerasan fisik, saat kita ditipu oleh orang lain, atau saat kita pernah dipermalukan dan dirundung yang berakibat kita mengalami trauma mendalam. Siapa pun yang pernah atau sedang menderita luka hati yang besar tahu, bahwa ketika batin kita tercabik-cabik, akan sangat sulit untuk tidak membenci dan menaruh dendam pada orang yang telah bersalah pada kita. Memaafkan itu sulit, setidaknya dari penelusuranku ada tiga alasan yang menyebabkannya:

Pertama, memori kita cenderung memikirkan masa lalu yang pahit, yang menghantui kita. Memori kita terampil dalam mengenang rasa sakit yang diakibatkan oleh tindakan atau kata-kata, yang pada akhirnya menjebak kita hidup dalam bayang-bayang momen pedih tersebut. Akibatnya, sulit bagi kita untuk move-on. Berbagai upaya untuk lepas dari masa lalu menjadi mandek. Malahan, kenangan buruk tersebut semakin terbayang-bayang, yang berujung pada semakin jauhnya kita dari kebesaran hati untuk mengampuni.

Meski mungkin terkadang mengampuni itu sulit, namun Yesus mengatakan sesuatu tentang pengampunan, ketika Petrus bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?”, Yesus menjawab dengan tegas, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:21-22).

Pengampunan adalah sebuah proses. Ibarat menyembuhkan luka hingga menutup sempurna yang membutuhkan perawatan, demikian juga dengan pengampunan. Setiap upaya dan doa kita untuk melepas pengampunan ibarat obat yang membalut luka-luka di hati kita.

Kedua, seringkali ketika kita terjebak dalam memori pahit, amarah hadir dan berakibat kita menjadi kurang mampu mengendalikan diri. Gejolak emosi yang membuncah saat kita marah bisa begitu kuat dan membutakan mata batin kita, sehingga memaafkan menjadi opsi terakhir yang muncul di pikiran kita. Tentu rasa marah tersebut adalah wajar karena kita ada di posisi benar dan teraniaya, tetapi tanpa kita sadar kemarahan yang tidak terkendali itu ibarat bensin yang menjadikan api dendam semakin membara.

Ketiga, kita mungkin enggan memaafkan karena kita takut disakiti lagi. Akibatnya, kita membuang jauh-jauh pilihan untuk rekonsiliasi. Kita membangun tembok pemisah yang tak mampu ditembus, dan kita mendekamkan diri di dalam bilik luka batin. Secara psikologis, ini adalah mekanisme pertahanan diri yang secara natural dikembangkan oleh manusia untuk mencegah hati mereka dari cedera kembali.

* * *

Kita tidak menampik, sebagai manusia yang penuh keterbatasan ketiga alasan di atas mungkin kita rasakan pula. Namun, hendaklah kita tidak lupa bahwa di balik keterbatasan kita ada Allah yang tiada terbatas, yang telah menunjukkan pada kita bahwa pengampunan dan kasih adalah berasal dari-Nya. Yesus telah mengulurkan belas kasihan kepada mereka yang telah merugikan-Nya, mendekap mereka yang tak layak, yaitu kita sekalian, ke dalam kehangatan kasih-Nya yang memerdekakan kita dari belenggu dosa dan kutuk.

Teladan yang telah ditunjukkan oleh Yesus tidak berarti kita menyangkal kenyataan bahwa ada orang yang melukai kita, atau berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja, tetapi dari teladan Yesuslah kita belajar untuk memahami bahwa pengampunan adalah sikap hati yang benar dalam menghadapi situasi yang menyakitkan.

Melalui pengampunan, Yesus memberi kita kelepasan penuh dari hukuman dosa. Kitab Suci mengatakan, “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu…telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib” (Kolose 2:13-4).

Mengampuni adalah panggilan bagi semua murid Kristus untuk mengikuti teladan-Nya. Ini bukanlah tentang perkara sulit atau gampang, tetapi adalah sebuah perjuangan, karena kita diajak untuk melawan sifat alamiah kita yang cenderung menyimpan kesalahan orang lain dan memupuk dendam.

Ketika kita bersedia diproses-Nya untuk memaafkan, tanpa kita sadari secara psikologis itu dapat membantu kita meningkatkan harga diri dan memberikan kekuatan dan rasa keamanan batin. Mengampuni dapat menyembuhkan luka-luka kita dan memungkinkan kita melanjutkan hidup dengan makna dan tujuan. Ada pula penelitian yang mengatakan bahwa dengan mengampuni, kita bisa mengurangi depresi, kecemasan, kemarahan, dan sederet emosi negatif lainnya. Tetapi, yang perlu kita ingat: kita tidak memaafkan hanya demi menolong diri kita sendiri, melainkan kita memaafkan karena itu adalah respons otentik kita kepada kasih Allah yang telah lebih dahulu mengampuni kita. Seperti nasihat Kitab Suci, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolose 3:13).

Secuplik kisah Karol, sang Paus yang memaafkan orang yang hendak membunuhnya menjadi salah satu contoh nyata dari aksi ‘memaafkan yang tak termaafkan’. Di dunia yang diwarnai oleh dendam dan kebencian, hendaklah kita menabur kasih dan pengampunan.

Allah Bapa melalui kasih Kristus kiranya memampukan kita untuk mengampuni orang-orang yang ‘tak terampuni’ dalam hidup kita.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Secuplik Mitos tentang LDR

Banyak survey bilang bahwa pasangan LDR lebih berisiko mengalami kandasnya hubungan. Tetapi, itu tidak selalu berarti bahwa LDR adalah bentuk relasi yang buruk. Yuk kenali mitos-mitos apa saja yang sering muncul tentang LDR.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

18 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!