Posts

Tindakan-tindakan Sederhana yang (Bisa) Menyentuh Hati Seseorang

Tak perlu segudang emas atau segenggam berlian untuk menghangatkan hati seseorang.

Sedikit tindakan kasih yang dilakukan dengan tulus hati dapat Tuhan pakai untuk menyentuh hati seseorang.

Hari ini, siapakah nama seseorang yang Tuhan tanamkan di hatimu untuk kamu jangkau?

Artspace ini didesain oleh Yosi Octavia @yoctaviaa

1 Hal yang Tak Boleh Terlupakan Saat Kamu Berbuat Baik

Oleh Meili Ainun

Kita tidak asing dengan konsep “berbuat baik”. Budaya hingga agama mengajar agar sesama manusia saling berbuat kebaikan. Kita pun pasti setuju bahwa kebaikan adalah “bahasa universal” yang bisa diterima oleh semua manusia.

Namun, kebaikan seperti apa yang seharusnya kita lakukan sebagai orang Kristen? Apakah dengan memberi sebanyak mungkin? Atau, apakah dengan merelakan diri untuk selalu berkorban? Untuk menemukan jawaban spesifiknya, aku mengajakmu untuk menilik kembali suatu kisah dari Alkitab yang tentu tak asing kita dengar.

Yohanes 13:1-20 mencatat kisah tentang Yesus yang membasuh kaki para murid-Nya. Pada masa itu, membasuh kaki adalah kebiasaan umum di wilayah tempat Yesus tinggal. Orang-orang berjalan kaki dengan memakai kasut yang bentuknya tidak seperti sepatu modern sehingga debu dan kotoran bisa dengan mudah menempel di kaki. Agar debu dan kotoran itu tidak terbawa masuk, maka setiap orang harus membasuh kakinya dulu. Tuan rumah pun menyediakan wadah yang bisa terbuat dari emas, perak, besi, ataupun tanah liat berisi air di muka rumah.

Seseorang tidak membasuh kakinya sendiri. Umumnya seorang budak atau pelayan dari tuan rumah yang melakukannya. Namun, Injil Yohanes menyajikan cerita yang berbeda. “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu” (Yohanes 13:4-5).

Momen pembasuhan kaki ini terjadi saat Yesus dan para murid sedang melakukan perjamuan Paskah, tetapi pada saat itu tidak ada pelayan di ruangan itu, dan tak ada pula satu pun di antara para murid yang berinisiatif melakukannya. Ada banyak alasasan di balik tindakan para murid itu, tetapi kita dapat melihat sikap Yesus yang luar biasa. Renungan Reforming Heart menuliskan analisis mendetail tentang sikap Yesus ini: “Kasihlah yang menggerakkan Kristus untuk menebus murid-murid-Nya. Kasih bukanlah konsep abstrak yang bisa dipisahkan dengan relasi. Kasih berarti yang mengasihi menginginkan pihak lain untuk menjadi satu di dalam relasi dengan yang mengasihi… sedangkan kasih yang palsu menginginkan kebaikan orang lain, tetapi tidak terlalu menginginkan berada di dalam relasi dengan orang lain.”

Kasih Yesus kepada murid-murid-Nya mewujud melalui tindakan kerendahan hati-Nya. Yesus yang adalah Raja, merendahkan diri-Nya dengan menjadi sosok pelayan yang membasuh kaki para murid. Kebaikan Yesus tak akan ada artinya apabila Dia tidak melakukannya dengan rendah hati. Sehingga, jelaslah bagi kita bahwa prinsip utama dari kebaikan yang kita lakukan adalah: kita melakukannya dengan rendah hati… bukan agar kita dibalas dengan kebaikan yang sama, tetapi kita ingin agar melalui kebaikan itu orang melihat kasih Bapa terpancar melalui kita.

Namun pertanyaannya, bagaimanakah kita bisa melatih diri untuk rendah hati dalam setiap perbuatan baik yang kita lakukan?

1. Latihlah diri untuk tidak bersungut-sungut

Dalam bahasa Indonesia, bersungut-sungut dapat diartikan sebagai mengomel atau menggerutu. Namun, dalam bahasa Yunani kata yang digunakan adalah “gonggusomos” yang artinya tidak sekadar menggerutu, tetapi menjurus pada tindakan memberontak.

Wow. Pengertian ini mungkin membuat kita terkejut. Bersungut-sungut agak berbeda dengan mengeluh yang kadang memang kita lakukan sebagai luapan perasaan. Bersungut-sungut itu sama dengan mengomel tetapi secara terus-menerus sembari tidak mengerjakan tanggung jawab dengan maksimal, sehingga ini dapat pula diasosiasikan sebagai sebuah pemberontakan. Bangsa Israel pun pernah bersungut-sungut dan memberontak terhadap tuntunan Allah dalam perjalanan mereka keluar dari Mesir.

Apa yang menyebabkan kita bersungut-sungut? Tentu tiap orang punya alasan masing-masing, tetapi secara umum mungkin karena kita merasa melakukan pelayanan itu sendirian, lalu merasa berat memikulnya. Lalu, bisa jadi juga karena kita mengandalkan kekuatan sendiri dan merasa mampu melakukannya sendirian. Atau, secara tidak sadar kita memelihara kesombongan. Kita merasa pekerjaan yang kita lakukan terlalu rendah nilainya dan tidak memberi manfaat apa pun. Tetapi, hendaklah kita ingat bahwa Yesus yang adalah Tuhan dan Raja telah melakukan pekerjaan yang hina dengan membasuh kaki murid-murid-Nya.

2. Latihlah diri untuk tidak mengharapkan balasan

Naluri kita seringkali menganggap kebaikan sebagai tindakan timbal balik. Jika aku memberi kebaikan pada si A, maka dia seharusnya membalasku dengan kebaikan yang sama.

Namun, marilah kita mengingat kembali bahwa pada kita telah diberi pemberian terbesar yakni Kristus yang menebus dosa-dosa kita (Yohanes 3:16), sehingga saat kita melayani-Nya dengan memberikan kebaikan bagi orang lain, lakukanlah itu dengan tulus. Dia sudah memberikan segalanya dan yang Dia mau dari kita adalah kita hidup di dalam-Nya.

3. Latihlah diri untuk tidak hitung-hitungan

Perbuatan baik yang didasari kerendahan hati tidak bicara tentang seberapa banyak dan besar kita sudah melakukan kebaikan. Kadang kita merasa sudah berbuat banyak untuk melayani-Nya. Kita aktif di gereja bertahun-tahun, mengorbankan waktu dan uang, berdoa dan baca Alkitab tiap hari. Tapi, apakah balasan Tuhan atas semua kesetiaan kita? Lantas kita pun hitung-hitungan akan hal apa saja yang telah kita lakukan untuk-Nya dan membandingkannya dengan apa yang kita dapatkan.

Bagaimana kalau dibalik? Apa yang dapat kita lakukan jika Tuhan yang hitung-hitungan dengan kita?

Alangkah malunya karena kita akan mendapati begitu sedikit yang telah kita lakukan kepada Tuhan dan begitu banyak berkat yang tidak terhitung yang telah Tuhan berikan sepanjang hidup kita. Bahkan, nyawa-Nya yang telah menyelamatkan kita tidak dapat kita balas sampai kapan pun.

Efesus 6:5-8 mengingatkan kita untuk tulus dan segenap hati dalam melayani, rela menjalankan pelayanan seperti untuk Tuhan, serta senantiasa berbuat baik. Kalau kita telah berbuat baik, kita akan menerima balasannya dari Tuhan. Namun, jangan sampai kita salah pemahaman, mengartikannya dengan berbuat baik agar mendapatkan balasan setimpal dari-Nya. Bukan itu. Perbuatan baik haruslah lahir dari rasa syukur atas hidup kita yang dipelihara oleh Tuhan. Jikalau kita mendapat balasan dari Tuhan, bersyukurlah. Karena telah dan akan selalu ada hal yang dapat kita syukuri dari-Nya. Bersyukur pun merupakan salah satu wujud sikap rendah hati.

Sesungguhnya, bersikap rendah hati ketika melayani bukanlah tugas yang mudah. Ketika kita semakin melayani Tuhan, tantangan pun akan semakin banyak dan sulit.

Maka, inilah pertanyaan untuk kita renungkan bersama: Jika melayani Tuhan adalah untuk memuliakan-Nya dan menjadi berkat bagi sesama, maukah kita merendahkan diri seperti seorang hamba ketika melayani?

Perjumpaan yang Singkat Itu Mengingatkan Tugasku yang Belum Selesai

Oleh Syahniati Berutu

Hari ini, aku beribadah dengan adikku. Sepulang ibadah, kita memilih pulang berjalan kaki. Padahal, kami biasanya naik kendaraan umum, tapi hari ini entah apa yg membuat kami memutuskan jalan kaki.

Di perjalanan pulang, kami bertemu seorang nenek yang sedang kebingungan. Nenek itu memanggil kami dan bertanya, “Dek, kalian tahu di mana gereja GKII di sini?” Tapi, aku dan adikku tidak tahu letak gereja yang sedang dicari si nenek itu. Kami pun berusaha mencari tahu. Kita coba lihat dari Google Map. Tapi, tetap saja tidak ketemu tempatnya. Karena kata nenek itu, tempat itu masih baru, dan itu gedung yang disewa, jadi agak sulit untuk dicari. Sekitar setengah jam kita mencoba berjalan sambil bertanya ke orang-orang sekitar. Tapi, tetap saja tak kunjung ketemu. Aku dan adikku berusaha bertanya sama sang nenek, tempat apa dekat gereja yang nenek itu ingat. Tapi, nenek hanya ingat kalau di situ tempatnya banyak jualan, sehingga sangat sulit untuk kita bisa menemukan tempat yang dimaksud.

Singkat cerita, kita sudah mencoba berjalan lagi untuk mencari, tapi tidak ketemu. Nenek pun akhirnya berkata kepada kami, “Makasih ya, dek, kalian pulang aja. Nenek jalani aja lagi, siapa tau nanti ketemu. Kalau pun tidak ketemu, nanti nenek pulang aja. Walau sia-sialah kalau hari ini tidak jadi ibadah.” Tapi, aku dan adikku tidak mau balik. Kita tidak mau membiarkan si nenek mencari lagi sendirian. Aku pun bertanya ke nenek, apakah bersedia gereja di tempat lain hari ini. Kalau nenek mau, biar kita ke gereja yang terdekat dari sini, kataku. Nenek mau, tapi sedikit ragu, karena takut tidak ada yang dikenal dan bingung. Aku dan adikku memutuskan untuk menemani si nenek beribadah lagi, kalau kita tidak menemukan tempatnya yang memang dituju nenek.

Singkat cerita, kita berjalan ke arah gereja tempat kami beribadah tadi. Dalam hati, aku cuma berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, Engkau lihat kerinduan nenek ini. Engkau lihat imannya. Izinkan kami menemukan tempat yang nenek itu maksud.” Perjalanan kita saat itu lumayan jauh. Kita jalan, karena nenek tidak mau naik kendaraan umum, takut nanti tidak bisa memperhatikan gereja yang masih kita cari. Aku yang masih muda saja merasakan lelah. Tapi, aku bisa melihat nenek masih berharap menemukan tempat itu. Dalam hati, aku hanya terus berdoa, “Tuhan, lihat Iman nenek ini.”

Dan akhirnya, puji Tuhan, kita menemukan tempat yang nenek itu cari. Dan puji Tuhannya lagi, nenek itu belum terlambat. Setelah kita berpisah, aku meneteskan air mata. Bahagia, karena aku merasakan kebaikan Tuhan saat itu menolong kita. “Sungguh baik Engkau, Tuhan,” kataku dalam hati. Engkau melihat hati dari setiap anak-anak-Mu. Engkau melihat kerinduan nenek ini.

Perjumpaan yang singkat itu mengingatkanku beberapa hal hari ini:

1. Hati yang penuh kasih

Memiliki hati yang penuh kasih, yaitu hati yang tulus dan ikhlas untuk terus menabur kasih. Hati yang mau menolong dan mengasihi orang-orang. Mengulurkan tangan bagi mereka-mereka yang ada di sekeliling kita. Yohanes 15:12, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”

2. Percaya sama Tuhan

Dalam hidup, kita sering berada di titik ketidakpastian. Tapi, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Percaya saja pada-Nya. Dia menuntun dan menyertai kita. Yesaya 41:10, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

3. Melayani dengan sungguh

Pelayanan tidak melulu harus dalam hal-hal besar. Tapi, hari ini aku diingatkan kembali, kalau hal kecil itu juga adalah bagian dari melayani. Tuhan kadang mengirim orang-orang ke sekeliling kita untuk kita layani. Jangan mengabaikannya.

Seperti nenek yang usianya sudah menua, dengan ingatan yang sudah berkurang, tapi masih punya kerinduan untuk datang beribadah. Walau pergi sendiri, dia tidak takut dan tidak merasa lelah. Semoga kita juga sampai masa tua setia mengikut Tuhan. Tugas kita belum selesai, sampai kita berakhir dari dunia ini. Teladan hidup yang Tuhan berikan saat Dia ada di dunia, kiranya menolong kita untuk melangkah, hari lepas hari. Hiduplah penuh dengan arti, menjalani hari dengan penuh sukacita dan penuh ucapan syukur. Jangan takut, Tuhan menyertai dan menuntun kita.

Belajar Jadi Anak: Proses Seumur Hidup untuk Kita Semua

Oleh Edwin Petrus

Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), aku meninggalkan kota kelahiranku. Aku merantau ke negeri orang untuk mendapatkan gelar sarjana. Selanjutnya, aku pun berkelana lagi ke kota orang untuk meniti karier. Enam tahun kemudian, aku melanjutkan studi ke sebuah kota yang jaraknya kurang lebih dua ribu kilometer dari rumahku. Tiga belas tahun sudah, aku pergi merantau.

Aku adalah seorang anak tunggal yang mendapatkan kasih dan perhatian penuh dari kedua orang tuaku. Namun, secara perlahan dan tanpa aku sadari, kehidupan di perantauan telah mengikis kemanjaanku dan mengubahnya menjadi kemandirian, hingga aku terbiasa melakukan banyak hal seorang diri. Sampai-sampai, banyak orang sering meragukan kalau aku adalah anak satu-satunya dalam keluargaku. Gambaran tentang anak tunggal yang manja sepertinya sudah hilang dari hidupku.

Selama merantau, aku tidak pernah menyia-nyiakan momen liburan bersama keluarga di rumah. Sekali setahun, aku pasti pulang ke rumah untuk beberapa hari lamanya. Aku memanfaatkan hari-hari libur untuk bercengkrama dengan papa dan mama. Walaupun biasanya selalu berkomunikasi melalui sambungan telepon maupun pesan singkat, tapi aku dapat merasakan kehangatan yang berbeda ketika kami banyak bertukar cerita sambil menyantap makanan-makanan khas dari kota kelahiranku. Namun, momen kebersamaan dengan mereka hanya dilalui beberapa hari dalam setahun, yang selalu dihabiskan dengan sukacita tanpa perbedaan cara pandang dan konflik yang berarti.

Di penghujung tahun 2021, aku memilih untuk pulang kampung. Kali ini aku sudah menetap kembali di rumah. Dan ternyata, aku menjumpai diriku berada di sebuah lingkungan yang tampak asing. Padahal aku kembali ke rumah yang pernah ku tinggali selama delapan belas tahun. Namun, aku mendapati bahwa aku harus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan pola hidup dari kedua orang tuaku yang sudah kutinggalkan hidup berdua selama ini. Aku perlu mengatur ulang tatanan rutinitasku yang selama ini sudah terbiasa dijalani seorang diri karena aku perlu memikirkan dampaknya bagi kedua orang tuaku. Aku pun belajar memahami cara berpikir orang tuaku yang sudah semakin memutih rambutnya dan membangun cara berkomunikasi yang pas dengan mereka.

Saking banyaknya hal-hal yang harus aku pelajari ketika aku kembali pulang, aku sampai pada titik di mana aku merenungkan sebuah pertanyaan: sampai pada usia berapa sebenarnya seseorang perlu belajar sebagai seorang anak?

Selama ini, di dalam benakku, aku mengira bahwa hanya orang tua saja yang perlu mengikuti kelas parenting. Peran anak hanyalah sebagai objek yang menerima seluruh pengasuhan itu.

Namun, setelah aku merefleksikan lagi pertanyaan tadi, aku menemukan bahwa sekolah menjadi anak adalah pembelajaran seumur hidup. Secara konsisten, kita perlu terus belajar menjadi seorang anak karena sampai akhir hayat, seseorang tetap menyandang gelar sebagai anak dari orang tuanya. Bahkan, pada sebagian suku bangsa, nama orang tua melekat di balik nama anaknya. Akta kelahiran juga menuliskan dengan jelas nama orang tua dari sang anak pemilik surat itu.

Di sisi lain, ketika aku membaca kembali hukum kelima dari sepuluh hukum Taurat (Keluaran 20:1-17), aku menyadari bahwa perintah Allah yang mengatur relasi orang tua-anak ini juga membicarakan hal yang sama dengan pesan yang sangat jelas:

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu” (Keluaran 20:12).

Dari perintah ini, aku menyadari bahwa hormat yang diberikan oleh seorang anak kepada ayah-ibunya berlaku seumur hidup. Tidak ada pengecualian dari Tuhan bahwa seorang anak boleh berhenti menunjukkan respeknya kepada kedua orang tuanya setelah ia menginjak usia delapan belas tahun.

Hukum ke-5 ini juga memiliki banyak keunikan dibandingkan dengan sembilan lainnya. Jikalau hukum lainnya lebih terdengar seperti larangan bagi umat Allah untuk tidak boleh melakukan beberapa hal, maka menghormati orang tua adalah sebuah perintah yang harus dikerjakan secara aktif oleh setiap umat Allah. Selain itu, hukum ke-5 ini adalah satu-satunya hukum yang mengandung janji, bahwa setiap orang yang mengerjakan perintah ini akan mendapatkan berkat dari Allah.

Selain itu, sebuah kata yang menarik perhatianku dalam hukum ini adalah kata “hormat”. Empat hukum yang mengawalinya adalah tuntutan Allah kepada umat-Nya untuk menunjukkan hormat mereka kepada kekudusan Allah. Namun, Allah juga menggunakan kata “hormat” yang sama ketika Ia menginstruksikan agar setiap orang percaya menghormati orang tua mereka. Jadi, ketika kita menghormati ayah dan ibu sebagai anugerah dari Allah dalam hidup kita, pada waktu sama, kita juga memuliakan Allah. Wow!

Kawan, aku menyadari bahwa menghormati orang tua bukanlah perkara mudah bagi sebagian orang. Aku pun pernah mendengarkan berbagai kisah tentang orang tua yang sepertinya tidak layak untuk dihormati oleh anaknya. Ada anak yang bertumbuh dari keluarga dengan orang tua tunggal ataupun orang tua angkat karena mereka telah “dibuang” oleh orang tuanya sejak kecil. Sebagian lain hidup di dalam ketakutan karena salah satu dari orang tuanya mempraktikkan kekerasan dalam rumah tangga. Anak-anak lainnya tidak pernah bangga dengan figur papa maupun mamanya karena perilaku dan tindakan mereka yang menyakiti hati anak-anaknya. Kawan, mungkin kamu adalah salah satu dari anak-anak itu.

Keluargaku juga bukan keluarga yang sempurna. Aku juga pernah menemukan kekurangan dari ayah-ibuku ketika aku membandingkan mereka dengan orang tua dari teman-temanku. Dalam Alkitab pun, kita tidak dapat menemukan keluarga yang sempurna karena relasi manusia telah dirusak oleh dosa. Walaupun demikian, aku mau belajar untuk meneladani Yesus di dalam menghormati orang tua-Nya. Walaupun Maria hanyalah seorang wanita yang dipinjam rahimnya oleh Allah untuk melahirkan Anak-Nya, tetapi selama hidup-Nya di dunia ini, Yesus menunjukkan respek yang tinggi terhadap ibu-Nya. Bahkan, sesaat sebelum Ia mati di kayu salib, Yesus menitipkan ibu-Nya kepada Yohanes, salah satu murid-Nya, untuk dapat merawat Maria (Yohanes 19:27).

Ketika aku semakin dewasa dan kedua orang tuaku semakin memutih rambutnya, aku menyadari bahwa bentuk hormatku kepada mereka juga perlu mengalami perubahan. Benak hati mereka berkata bahwa mereka merindukan anak yang bisa mereka banggakan. Mereka menginginkan telinga seorang anak yang siap mendengarkan tutur kata mereka. Mereka mengharapkan dukungan dari anak yang memaklumi sedikit kelambanan dan kepikunan mereka. Mereka mengharapkan kasih dan perhatian yang bukan hanya sekadar omongan belaka, tetapi nyata dalam tindakan yang menemani masa tua mereka. Mereka membutuhkan tuntunan untuk dapat menggunakan teknologi yang semakin canggih. Aku mau terus belajar untuk menjadi anak yang menunjukkan hormat kepada orangtuaku, sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka.

Yesus telah menjadi Guruku dalam menjalani pembelajaran ini, Roh Kudus telah menjadi Penolongku dalam mempraktikkannya, dan Allah Bapa memberiku anugerah dan kesempatan untuk terus belajar di tengah jatuh bangunku. Aku juga berdoa, kiranya teman-teman juga mau belajar menjadi seorang anak yang menghormati orang tua.

Memulihkan Sisi “Parentless” Bersama Pacar, Mungkinkah?

Oleh Tabita Davinia Utomo

Pernahkah kamu berpikir mengapa pertengahan tahun sangat sering diwarnai dengan ketidakpastian dan gairah yang berkurang untuk melakukan apa pun? Kalau kamu pernah, well, kamu tidak sendirian, kok. Aku juga sedang mengalaminya saat ini, apalagi kalau bukan karena orang yang sedang mengerjakan tugasnya di depanku itu.

“Avery, kamu kenapa? ”

Aku menoleh ketika mendengar suara Matthew yang sedang menatap laptopnya, lalu menggelengkan kepala. “Nggak. Aku nggak apa-apa, kok.”

“Soalnya ekspresimu kelihatan beda, sih. Kayak lagi galau gitu. Ada yang kamu pikirin, ya?” Kali ini Matthew menatapku dalam-dalam.

Sebegitu jelasnyakah ekspresi wajahku di balik masker ini? batinku tak percaya.

Seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan, Matthew berkata, “Kita keluar sebentar, yuk. Biar nggak makin jompo badannya.”

Aku hampir saja tertawa, kalau tidak teringat bahwa sebentar lagi obrolan seperti ini tidak akan terjadi lagi dalam waktu dekat. Namun, dengan pura-pura ceria, aku menjawab, “Boleh.”

Di luar dugaan, Matthew mengajakku ke coffee shop yang ada di dekat kampus. Tidak seperti biasanya, kami berjalan dalam diam. Padahal selama ini, kami akan saling mengobrol ringan di dalam perjalanan kami. Rasanya aneh kalau kami diam saja. Kenapa, sih, aku ini? pikirku dengan tidak nyaman. Bahkan setibanya di coffee shop itu, kami masih tetap diam—kecuali saat memesan spicy bulgogi, creamy shroom, susu matcha, dan kopi pandan.

Setelah duduk di meja kami, Matthew kembali bertanya, “Ada yang menggelisahkan kamu, Ve?”

“Hmmm…” aku menggembungkan pipi, lalu berkata dengan pelan, “Kalau aku bilang nanti, kamu bakal kesel, nggak?”

Matthew mengerutkan dahi. “Kan, aku belum denger kamu mau bilang apa… Jadi belum tahu mau merespons apa…”

“Aku nggak mau kamu pergi.”

Tanpa sadar, aku menyela perkataan Matthew. Aku tidak tahan untuk bersikap baik-baik saja saat Matthew akan pergi ke luar pulau selama beberapa bulan ke depan untuk melakukan pengabdian masyarakat di sana. Bukannya ingin posesif: aku tahu kalau mengabdi di suku Asmat adalah salah satu cita-cita Matthew, dan aku senang kalau bisa mendukungnya berkarya di sana. Namun, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan diriku sendiri saat ini. Rasanya senang, tetapi juga khawatir dan… sedih.

Seakan memikirkan hal yang sama, Matthew berujar, “Tapi nanti aku akan tetep dateng ke wisudamu, kok… Masih keburu…”

“Bukan, sih. Bukan itu,” selaku lagi. “Aku tahu kamu pasti akan datang ke wisudaku setelah pengabdian itu. Cuma… aku juga bingung kenapa selebai ini buat LDR sebentar lagi. Sedih banget, ya.”

“Hmm… nggak juga.”

Jawaban Matthew membuatku menatapnya heran, karena selama berbicara tadi, aku berusaha menghindari tatapannya. Aku takut akan menangis di sini tanpa tahu alasan yang sebenarnya, dan itu justru membuat Matthew kesal. Tepat di waktu yang sama, sang pelayan memanggil Matthew untuk mengambil pesanannya, kemudian kami melanjutkan obrolan yang terputus.

“Maksudnya?” tanyaku sambil mengambil cream shroom-ku.

“Responsmu itu wajar, Avery.” Matthew tersenyum, sementara tangannya mengelus-elus tanganku dengan lembut. “Masa lalumu dengan papamu bisa membuatmu berespons demikian, dan aku bisa paham, kok. Nggak ada yang mau ditinggal pergi sama orang terdekat—apalagi saat kita masih bener-bener butuh perhatian dan kasih sayangnya, kan?”

“Iya, sih…” balasku dengan ragu-ragu, karena merasa titik lemahku dikulik-kulik.

Apa yang Matthew bilang membuatku teringat pada Papa yang meninggalkan Mama demi tugas negara, bahkan hingga hari kelahiranku tiba beliau tidak ada di samping Mama. Akibatnya, Mama jadi bersikap sangat keras padaku karena tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang Papa selama masa-masa kritisnya—bahkan hingga saat ini. Namun, mau bagaimana lagi? Tugas negara yang diemban itu membuat Papa terpaksa pergi dalam jangka waktu lama, sampai akhirnya beliau ditugaskan untuk bertugas di kota asalku hingga sekarang. Hanya saja, kebutuhan terhadap kelekatan yang sudah absen sejak kecil membuatku sangat canggung untuk berelasi dekat dengan Papa. Begitu pula dengan Mama yang otoriter. Tidak heran kalau kondisi seperti itu membuatku haus akan kasih sayang, bukan?

“Apa mungkin itu, ya, yang dibilang sama Kak Dhea?” tanyaku tiba-tiba saat teringat salah satu sesi konselingku bersama Kak Dhea, konselor kami (iya, kami mengikuti couple counseling bersamanya).

“Yang mana?” Matthew balik bertanya.

“Yang aku pernah ceritain itu… Waktu dia bilang, “Kepribadian Matthew yang friendly itu mengisi sisi “fatherless”-mu, kan?””

“Ohh…” Matthew tersenyum, lalu membalas, “Kamu juga, kok, Ve. Kamu juga mengisi sisi “motherless”-ku, bahkan lebih dari yang bisa aku bayangin sebelumnya.”

“Hmm… Kayak gimana maksudmu?” aku mengerucutkan bibir.

“Hehe… Dengan kamu mau dengerin dan kasih penguatan ke aku, itu lebih dari cukup. Aku jarang banget dengerin Mamaku kayak gitu.” Dia menggaruk kepalanya dengan salah tingkah.

“Iya, sih. Syukurlah kalau aku bisa memperlakukanmu sesuai kebutuhanmu.” Aku balas tersenyum, kemudian melanjutkan, “Tapi aku bersyukur karena bisa menjalin hubungan ini setelah punya gambaran yang baru tentang Bapa di surga…”

“Yaps. Kamu pernah share itu di paduan suara, kan? Waktu Bu Tracy tanya apa yang kamu bakal lakuin pertama kali kalau ketemu Dia?”

Aku mengangguk. “Dari dulu aku paling nggak suka kalau harus peluk Papaku. Entah. Aku merasa canggung, tapi juga ambigu. Mungkin antara love and hatred kali, ya. Tapi akhirnya aku sadar kalau seburuk-buruknya Papaku, aku punya Bapa yang pelukan-Nya selalu menyambutku, bahkan kalaupun aku nggak bisa peluk Papaku buat cari perlindungan…”

Sambil menyesap kopi pandannya yang sudah dingin, Matthew berujar, “Iya, ya… Pada akhirnya, nggak ada siapa pun atau apa pun yang bisa gantiin “parentless” yang kita alami—kecuali Tuhan sendiri.”

Matthew benar. Dulu, aku berpikir bahwa ironis ketika orang tua kita merelakan diri untuk menolong orang lain dan berjibaku di medan yang berbahaya, tetapi kehadirannya justru absen dari anggota keluarganya sendiri. Aku butuh beberapa tahun untuk bisa pulih dari cara pandang bahwa aku berhak untuk tidak mengasihi orang tuaku, sampai akhirnya membuat rasa haus akan kasih sayang itu mendorongku mencari pemenuhannya dari orang lain. Berkali-kali aku ingin punya pacar yang mampu menyayangi dan menerimaku, tetapi hasilnya selalu nihil. Entah karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, perbedaan latar belakang yang menjadi “tembok” bagi relasiku, hingga verbal abuse yang aku terima dari mantanku.

“Kamu nggak akan bisa nemuin orang lain sebaik aku, Avery!” kata mantanku itu dengan keras saat aku mau putus. “Aku cinta kamu sampai mau ngalah terus-terusan, tapi ini balasanmu!? Haha! Kamu egois banget!!”

Padahal momen itu adalah awal mula dari pemulihan hidupku. Aku—yang sedang menjalani konseling dengan konselor lain—pelan-pelan sadar bahwa karena sisi parentless-ku, aku menurunkan standarku dalam mencari pasangan hidup. Aku seolah-olah rela berelasi dengan siapa saja, selama dia seiman dan sanggup mengayomiku sebagai wanita. Namun, kenyataannya berkata lain: secara tidak sadar, hal itu juga membuatku ingin “kabur” dari orang tuaku sendiri tanpa mengalami rekonsiliasi yang diperlukan. Mungkin itu juga yang menyebabkan relasiku dengan mereka makin menjauh.

“He’em,” aku mengiyakan Matthew, “kalau bukan karena Tuhan, aku nggak akan sadar secepat ini kalau isu “parentless” bisa jadi “tembok” untuk relasi kita. Jadi… maafkan aku, ya, Matt, kalau tadi aku kedengarannya egois.”

“Nggak apa-apa, kok, Ve…,” balas Matthew. “Aku juga bersyukur karena lewat relasi ini, aku merasa Tuhan sedang memulihkanku. Bukan berarti aku pengen pacaran biar bisa pulih dari “parentless”-ku, ya. Tapi aku juga mau konteks relasi ini jadi sesuatu yang mendewasakan kita dan bikin kita makin kenal Tuhan dan saling kenal diri sendiri.”

“Iya. Makasih udah ingetin aku, Matthew.” Aku tersenyum, mengingat naik-turunnya relasi kami ternyata tidak sia-sia untuk dijalani.

“Jadi, aku dibolehin pergi nggak, nih?” Matthew bertanya dengan iseng.

Aku tertawa dan mengangguk. “Iya. Hahaha… Pergilah dengan damai sejahtera, Kakakk. Dua bulan LDR mah bisalah, yaa.”

Di luar dugaan, Matthew membalas dengan kalimat dan gestur yang menghangatkan hatiku.

“Kalau pun nanti aku pergi, Avery tetep pegang tangan Tuhan, ya. Dia akan selalu bersamamu, dan cuma Dia yang layak untuk Avery percayai sepenuhnya. Tapi kalau Tuhan berkenan kasih kesempatan buatku…”

Tiba-tiba Matthew menggenggam tanganku yang sedang memegang susu matcha di meja. Sambil sesekali mengalihkan pandangannya ke tangan yang digenggamnya, dia melanjutkan, “Aku mau diutus-Nya untuk pegang tangan ini dan melindungi pemiliknya sebagai pendamping hidupku.”

Ya, sisi parentless yang kami miliki mungkin dapat membuat kami kehilangan harapan akan adanya kasih sayang dan penerimaan yang utuh. Ada kalanya pula Matthew mengecewakanku, pun sebaliknya. Namun, relasi ini justru mengajarkan kami bahwa ketika Tuhan memulihkan anak-anak-Nya dengan cara-Nya, Dia bisa memakai apa pun—termasuk relasi yang Dia anugerahkan pada mereka. Terlepas bagaimana ujung kisah kami, aku berdoa agar aku tidak menyesali relasi ini, karena kami sama-sama melihat bahwa ada pertumbuhan dan pemulihan yang Tuhan hadirkan bagi kami secara pribadi—maupun sebagai pasangan.

20 Tahun Menanti Jawaban Doa

Oleh Raganata Bramantyo

Saat aku masih berusia 9 tahunan, guru-guru sekolah Minggu di gerejaku selalu menasihatiku begini, “Doain papah terus ya, jangan nyerah.”

Di usiaku yang masih kecil dengan pikiran yang belum terbuka, aku menganggap sumber permasalahan dan keributan dalam keluargaku adalah sosok papaku. Setiap hari dia kerjanya marah-marah, memukuli mamaku, mengumpat kasar, berjudi, juga selingkuh dengan wanita lain. Saking seringnya aku melihat keburukan, aku hampir tak bisa melihat sisi baiknya, padahal ada momen-momen ketika papaku bersikap begitu manis dan baik.

Nasihat untuk mendoakan papa tak pernah kubantah. Setiap hari, sejak ingatanku mulai tumbuh aku selalu berdoa untuknya. Tapi, aku sendiri tak terlalu paham detail doanya. Perubahan seperti apa yang aku dambakan pada papa? Aku cuma ingin papaku seperti papa-papa lainnya, sosok papa yang tak cuma memberi nafkah keluarga, tapi juga memberi curahan kasih sayang dan bersikap lemah lembut.

Tahun demi tahun, aku beranjak menjadi remaja hingga dewasa dan mapan bekerja, tetapi perubahan yang kudambakan itu malah semakin jauh terwujud. Di tahun 2014 papaku akhirnya menikahi wanita lain dan merahasiakannya dariku, juga dari mamaku yang relasi dengannya sudah amat renggang tapi tak pernah secara resmi bercerai.

Memberi apa yang tak dimiliki

Kekalutan keluarga itu mendorongku untuk pergi menjauh. Selepas SMA, aku pergi merantau ke kota lain, tetapi di antara jarak jauh yang membentang itu Tuhan perlahan menumbuhkan benih-benih rekonsiliasi.

Aku masih tetap berdoa untuk papaku, memohon hal yang sama agar dia berubah, hingga suatu ketika aku mendapat kesempatan untuk pergi ke sebuah pulau kecil di Sumatra, tempat kelahiran papaku. Di sana, aku mengobrol dengan banyak kerabat dan mendapati cerita akan kelamnya masa lalu papaku. Cerita-cerita itu menohokku. Jika papaku sejak lahir berjibaku dengan kerasnya hidup, tak mengenal kasih Tuhan, dan tak pernah menerima kasih sayang berupa kata-kata manis dan sentuhan lembut, bagaimana dia dapat memberikannya buatku? Toh kita tak mungkin memberikan sesuatu yang tak kita punya.

Sejak saat itu, tumbuhlah sebuah pemahaman baru dalam hatiku akan papaku. Aku mengubah isi doaku. Bukan lagi meminta agar Tuhan mengubah papaku, tetapi aku memohon agar Tuhan mengubah hatiku untuk bisa memahami dan menerima perangai serta pribadi papaku. Doa itu kulanjutkan dengan tindakan meminta maaf. Melalui pesan SMS, aku tanya apa kabarnya dan kumintakan maaf. Pesan itu tak dijawab hangat. Mungkin dia gengsi. Tetapi, setahun dan dua tahun setelahnya, relasi antara ayah dan anak yang semula amat dingin dan kaku perlahan berubah. Setelah aku lulus dan kerja, aku sering pulang. Dalam setiap pulangku, papaku berkenan menjemputku dan setiap pertemuan jadi terasa akrab meskipun aku sendiri tak banyak tahu tentang kehidupan papaku sebenarnya, tentang di mana rumah barunya, siapa gerangan istri keduanya, bagaimana usaha dia, dan sebagainya. Yang kutahu dari cerita yang disampaikannya dengan singkat dan tertutup adalah dia mencoba membangun kehidupannya dengan iman dan lingkungan yang baru, bukan lagi iman Kristen. Aku mencoba menghormati keputusannya dengan tidak banyak melakukan interogasi.

Keakraban di ujung nafas

Meskipun aku merasa sudah cukup dekat dengan papaku, tetapi hatiku tetap merasa tidak puas. Dalam doaku kutambah lagi permohonan agar aku bisa mengenalnya lebih erat dan membawa papaku kembali pada Kristus.

Pada akhir Maret 2022, jantungku serasa berhenti ketika aku mendapat kabar bahwa papaku mengalami kecelakaan. Dia jatuh ke sungai saat berjalan kaki. Bonggol sendi antara paha dan panggulnya patah, namun di awal-awal kejadian dia menolak untuk dioperasi. Setelah dibiarkan tanpa pengobatan medis selama enam hari, kondisi fisik papaku semakin menurun hingga dia pun nyaris kehilangan kesadaran dan masuk ICU.

Mendapati kabar tragedi ini aku segera pulang menuju kota kelahiranku tengah malam. Saat paginya aku tiba di rumah sakit, betapa kaget aku melihat sosok wanita lain yang menjadi ibu tiriku. Mengetahui kalau aku pulang dan menunggui di rumah sakit, mama kandungku menentangku. Pikirnya, biarlah papaku dan keluarga barunya yang mengurusi semuanya, jangan aku.

“Mah, aku paham maksud hati mama bahwa mama tidak ingin aku direpotkan… tapi, aku mau merawat papaku. Bagiku gak ada istilah mantan anak dan bapak,” kutenangkan mamaku dengan argumen itu. Lalu tambahku, “Lagian, mama juga pasti pengen kan kalau papa bisa kenal Tuhan Yesus lagi? Kalau iya, siapa dong yang bisa kenalin Yesus ke papa kalau bukan aku, anaknya?”

Tiga hari pasca dirawat di ICU, papaku berhasil melewati masa kritisnya. Jam satu dini hari, bersama seorang suster kudorong ranjangnya menuju bangsal perawatan biasa. Lega hatiku, karena maut tak jadi menjemput. Hari-hari setelahnya operasi dilakukan dan keadaan papaku pun semakin baik. Selama dua belas hari di RS, aku benar-benar mengalami keakraban antara ayah dan anak yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku menyanyi bersamanya, mendoakannya, menyuapinya, bercanda, hingga membersihkan kotorannya.

Di malam kesekian, saat kesadaran papaku sedang prima, kutanya begini: “Pah, papa percaya gak kalau Tuhan Yesus menuntun dan memberkati langkah kita?”

“Iya, nak, papa percaya semua ini karena Tuhan baik,” jawabnya sambil memegang pundakku.

“Papa mau gak kembali lagi beriman sama Tuhan Yesus?”

Tak kuduga, jawaban papaku penuh semangat. “Iya! Papa mau beriman serius sama Yesus.”

Malam itu, kutuntun papaku dalam doa untuk mendeklarasikan iman percayanya. Papaku pun bernazar bahwa setelah sembuh dia akan menanggalkan cara hidupnya yang lama dan hidup serius bagi Tuhan.

Sukacitaku membuncah. Di hari ke-12, papaku akhirnya diperbolehkan pulang dan aku pun kembali ke kota perantauanku. Namun, sukacita itu tak berlangsung lama. Tak sampai 12 jam, papaku kembali masuk rumah sakit dengan kendala sulit buang air dan sesak nafas. Awalnya kupikir tidak ada yang serius, tetapi kenyataan berkata lain. Aku kembali pulang dan menemaninya di rumah sakit, sementara keadaannya semakin memburuk.

Hari ke-13 dan seterusnya, terjadi pendarahan hebat yang sungguh menyiksa papaku. Dalam sehari, puluhan kali darah segar mengalir dari anusnya. Dokter mendiagnosis ini sebagai kanker pada usus, namun betapa leganya kami setelah dilakukan endoskopi ternyata tak ditemukan adanya kanker.

“Ini mah disentri aja karena ususnya lecet,” ucapan dokter ini melegakanku.

Antibiotik diberikan dan selang tiga hari tak ada lagi pendarahan. Tapi… di hari ke 27 perawatan papaku di RS, pendarahan yang sempat terhenti itu terjadi lagi, malah lebih masif. Darah encer dan segar tak bisa berhenti mengalir. Sambil terisak, aku berlari ke ruangan suster dan meminta pertolongan segera. Dokter jaga melarikan papaku ke ICU dan sebelum ranjangnya dipindah, dia merintih kesakitan.

“Saya gak kuat lagi, gak kuat lagi…” ucapan ini menggetarkan hatiku. Papaku berulang kali menegaskan bahwa penyakit yang tak jelas ini begitu berat untuk ditanggungnya. Maka, meskipun aku sangat ingin melanjutkan kisah kasihku bersamanya, aku belajar untuk menerima kemungkinan melepasnya.

“Pah, jika memang sakit ini terlalu berat untuk dilalui dan papa mau berpulang, aku menerima keputusan ini. Di dalam Kristus, papa telah diampuni dan beroleh keselamatan sejati,” kubisikkan ucapan ini di telinga papaku sesaat sebelum dia koma.

Dua puluh empat jam kemudian menjadi pertarungan antara hidup dan mati. Setelah papaku dimasukkan ke ICU, kesadarannya hilang total. Di dalam tenggorokannya tertanam ventilator. Di lehernya tertusuk jarum infus. Kedua tangannya diikat. Yang bisa kulihat hanyalah denyut jantungnya pada monitor. Operasi pun dilakukan. Hasilnya sudah bisa ditebak: papaku tak mampu diselamatkan. Pada ususnya terjadi autoimun yang mengakibatkan seluruh dinding usus hancur, tak lagi bisa diselamatkan. Jikalaupun ada mukjizat untuk hidup, akan sangat sulit bagi papaku hidup tanpa usus besar.

Aku, jam tiga pagi, sendirian di ruangan ICU menerima kabar itu dengan kaki bergetar. Air mataku berderai. “Tuhan, mengapa secepat ini Engkau panggil papaku? Tidakkah aku diberikan kesempatan untuk mengasihinya lebih lagi di usianya yang enam dekade pun belum?”

Isakanku tak berjawab. Ia memantul di antara dinding-dinding rumah sakit yang dingin. Jelang sore hari, akhirnya nafas papaku pun terhenti sepenuhnya, dengan aku terduduk sayu di sampingnya, memegangi tangannya sembari mulutku tak henti-hentinya menyanyikan ratusan kidung pujian.

Sedih dan hancur hatiku. Aku bingung memaknai cara kerja Tuhan, tetapi ketika kantung air mataku mulai mengering, kurasakan ketenangan di jiwaku. Betapa 29 hari di rumah sakit ini Tuhan menjawab penantian doaku selama 20 tahun. Aku ingin keakraban, diberinya lebih dari sekadar akrab. Diberi-Nya rahmat yang tak berkesudahan, yang mengikat aku dan papaku dengan ikatan kasih yang tak terputuskan—kasih dari Kristus, Sang Ilahi yang telah mati bagi setiap orang berdosa. Sepanjang hari-hari ke belakang, terkhusus selama masa perawatan papaku, Tuhan telah menunjukkan jejak kasih-Nya, sekalipun itu tak menjawab keinginanku tetapi selalu mencukupi kebutuhanku.

Jika akhirnya papaku berpulang dalam keadaan telah memegang teguh imannya pada Kristus, bukankah itu sebuah kemenangan? Jika aku sebagai anak bisa mendapat kesempatan untuk senantiasa hadir di sisinya sampai ujung nafasnya, bukankah itu sebuah momen yang terlampau mahal? Jika segala kebutuhan finansial yang jumlahnya luar biasa besar ini bisa tercukupi dengan uluran tangan dari banyak sekali orang, bukankah itu bukti bahwa aku tidak sendirian?

Di hadapan peti jenazah papaku, kumenangis keras. Bukan sebagai tangisan kecewa, tetapi tangisan syukur betapa Tuhan menjawab doaku dan memulihkan papaku dengan pemulihan yang sejati.

Meskipun jawaban doa itu tidak terwujud pada tempat yang kudambakan, tetapi atas kasih setia dan rahmat-Nya, diberikan-Nya sesuatu yang jauh lebih baik dari harapanku. Jika aku sebagai manusia mendambakan perubah sikap, Tuhan Sang Ilahi dalam kedaulatan-Nya tak hanya mengubahkan sikap papaku menjadi lembut, tetapi juga meneguhkan jiwa dan rohnya untuk beroleh keselamatan kekal, tinggal damai bahagia dalam rumah Bapa Surgawi, pada sebuah tempat dan keadaan yang penuh damai sejahtera di mana tak akan ada lagi kesakitan, ratap, dan kertak gigi (Wahyu 21:4).

Hari ini, papaku telah menang atas segala sakit dan deritanya.

Cara Tuhan mengubah pandanganku adalah salah satu cara-Nya juga mengasihiku.

Terpujilah Tuhan, kini dan sepanjang segala masa.

“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8).

Merespons “Tamparan” Orang Pada Kita

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan kejahatan. Kriminalitas terjadi di mana-mana. Hubungan yang hancur ada di berbagai tempat. Kita melihat berbagai berita yang membuat mata kita terbelalak dan kepala kita bergeleng terheran-heran. Ada seorang ayah yang begitu tega memerkosa anak kandungnya sendiri yang masih kecil. Ada seorang ibu yang dibunuh oleh anaknya karena tidak membelikannya gawai yang diinginkan. Dunia benar-benar telah dirusak oleh dosa.

Namun, di dalam dunia yang semengerikan ini, di mana kecurangan dan ketidakadilan seakan-akan berkuasa, kita diperintahkan Kristus untuk tetap hidup dengan penuh kasih—sesuatu yang terdengar menggelikan dan mungkin agak menjengkelkan bagi banyak orang. “Kenapa aku harus baik pada orang yang telah merusak hidupku?” Gumamku ketika difitnah oleh orang yang sering aku tolong. “Pembalasan harus lebih kejam dari perbuatan yang telah dia lakukan” adalah semboyan yang terdengar lebih masuk akal untuk mereka yang sudah dilukai berkali-kali.

Itu sebabnya pernyataan Yesus yang sangat terkenal, “Siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:39), telah membingungkan banyak orang, khususnya para pembaca masa kini. Seorang teman dari keyakinan lain bahkan menantangku untuk mempraktikannya. Apakah orang Kristen benar-benar mampu melakukannya? Jika iya, berapa kali?

Kita harus tahu bahwa bagian ini hanyalah salah satu bagian dari panjangnya khotbah Yesus di atas bukit, sehingga untuk memahaminya secara lebih komprehensif, membutuhkan ruang cukup besar karena kita harus mempertimbangkan konteks budaya pada saat itu. Oleh karena itu, aku akan mengajak kita untuk melihat beberapa titik penting yang akan membawa kita pada pengertian yang benar terhadap perkataan kontroversial Yesus yang sedang kita bahas.

Secara umum sejak pasal 5 ayat 17, Yesus mulai berbicara tentang hukum kasih. Pada momen itu, Sang Juruselamat juga mengoreksi pemahaman-pemahaman yang keliru dari orang-orang Yahudi terhadap Hukum Musa. Sebenarnya Hukum itu sengaja diberikan agar mereka dapat hidup dengan teratur dan tidak saling merugikan. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika mereka mengeksploitasi hukum-hukum yang ada itu untuk mencapai tujuan pribadi mereka. Mungkin, Imamat 19:18 menjadi salah satu contoh yang paling nyata: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN”. Berdasarkan ayat ini, para pengajar saat itu malah memelintirnya dengan mengajarkan “bencilah musuhmu” (Matius 5:43).

Mengatasnamakan hukum-hukum itu mereka lantas meluapkan kebencian mereka pada orang lain. Itu sebabnya, di dalam ayat 44 pada pasal yang sama, Yesus memberikan satu kalimat yang semakin membuat mereka mengernyitkan dahi, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, karena bagian ini berbicara tentang kasih, maka kita harus memberikan definisi yang benar terhadap istilah kasih sendiri. Meskipun kata “kasih” memiliki makna yang amat luas, aku tetap yakin kita akan setuju jika kasih itu tidak egois. Dengan kata lain, kasih membuat kita mengupayakan kebaikan terjadi kepada orang lain.

Tetapi yang harus dicatat, kasih sama sekali tidak mengizinkan orang lain melakukan segala sesuatu yang dia inginkan. Mengasihi bukan berarti kita membiarkan orang lain melakukan apapun yang dia mau lakukan terhadap kita bahkan jika itu melukai kita dan orang yang kita sayangi.

Jadi, kasih juga bisa terwujud dalam rupa menghukum. Semua yang sudah punya anak pasti memahaminya. Namun, kasih menghukum bukan didasari karena benci, melainkan dengan harapan agar orang yang dihukum itu menyadari kesalahannya dan memperbaiki diri menjadi lebih baik, sehingga apa yang sedang dikatakan Yesus Kristus tentang memberi pipi yang lain pada saat pipi yang satu ditampar orang, bukan dimaksudkan secara hurufiah, melainkan dalam arti simbolik untuk mengajak kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia sedang mendorong kita menjadi pribadi yang tidak suka mendendam. Malahan Dia ingin kita memberi respon berkelas pada saat kita dilukai, yaitu mengasihi!

Namun, di sisi yang lain Yesus tidak berharap kita semua menjadi bodoh. Kita tidak boleh membiarkan diri kita dan mereka yang kita cintai diperlakukan semena-mena. Melindungi diri dan orang sekitar kita adalah tanggung jawab kita. Kita juga harus tahu bahwa pada saat kita membiarkan seseorang berlaku semaunya sendiri pada kita, sama dengan membiarkannya menuju pada kecelakaan, dan itu bukan kasih. Jangan lupa, kasih juga bisa diwujudkan dalam rupa menghukum, bahkan dalam kondisi tertentu hukumannya harus keras. Tetapi sekali lagi, kita menghukum karena kita mau dia menjadi lebih baik.

Jadi, jika kita ditempatkan pada kondisi di mana kita terpaksa harus melaporkan oknum-oknum tertentu kepada pihak berwajib demi melindungi diri dan orang lain, maka lakukanlah tanpa kebencian. Berdoalah juga untuk melepaskan pengampunan.

Lagipula ada satu peristiwa dalam Injil Yohanes yang tidak boleh lolos dari pengamatan kita, yaitu respon Yesus ketika Dia ditampar oleh seorang bawahan si Imam Besar (Yoh. 18:23). Alkitab sama sekali tidak memberikan keterangan bahwa setelah Yesus ditampar, Ia menawarkan pipi-Nya yang lain. Ia memang mengajukan beberapa pertanyaan, tetapi Ia tidak membenci. Ia tidak mendendam. Dan Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Yang aku tidak habis pikir mengapa Sang Penguasa jagad raya, Allah yang berkuasa atas semua nyawa, membiarkan diri-Nya ditampar oleh ciptaan-Nya, bahkan dibunuh, untuk aku. Aku tidak habis pikir, tetapi itulah keagungan kasih-Nya yang melampaui segala akal dan pengertianku

Berelasi di Umur 20-an, Kamu Akan Mengalami Ini…

Manusia adalah makhluk sosial… kamu tentu ingat kutipan ini, yang pernah disebut dalam masa-masa sekolahmu di bangku SD dulu.

Itu memang benar. Manusia membutuhkan sesamanya, untuk saling menolong, untuk berbagi kisah, untuk berbagi sedih, dan berbagi jutaan hal.

Memasuki usia 20-an, cara kita berelasi dengan sesama akan mengalami perubahan.

Hal-hal apa nih yang kamu alami dalam berteman di fase-fase ini?

Lockscreen Kolose 3:14

“Dan di atas semuanya itu, kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kolose 3:14).

Yuk download dan gunakan lock screen ini di HP kamu.
Klik di sini untuk mengunduh.