Posts

Duta Pengampunan di Tengah Budaya Pengenyahan

Oleh Antonius Martono

Bagi mereka yang sering berkelana dalam media sosial, pasti sudah tidak asing dengan fenomena para pelanggar yang mendadak diangkat menjadi seorang duta. Alih-alih mendapatkan sanksi mereka justru diminta berkampanye untuk bidang yang mereka langgar. Biasanya mereka diangkat oleh lembaga masyarakat atau lembaga formal lainnya. Fenomena ini tentu membuat kita garuk kepala kebingungan. Sebab idealnya seorang duta adalah seseorang yang secara konsisten memberi pengaruh positif dan telah menjadi teladan terhadap bidang yang disuarakannya. Sehingga adalah wajar jika kita curiga dan mempertanyakan keefektifitasan peran mereka. Selain itu, menjadikan seorang pelanggar sebagai duta cenderung tidak menimbulkan efek jera kepada pelaku dan calon pelaku.

Secara bersamaan di media sosial sedang berkembang juga budaya pengenyahan atau lebih dikenal dengan istilah cancel culture. Secara singkat, budaya pengenyahan adalah sebuah gagasan untuk “membatalkan” pengaruh orang tersebut di dunia maya ataupun nyata. Sehingga pendapatnya dan dirinya tidak lagi perlu diperhitungkan oleh masyarakat. Budaya ini digunakan sebagai sanksi atas tindak pelanggaran atau sekadar perkataan yang dianggap menyinggung opini populer. Siapapun dapat menjadi target sasaran budaya ini, baik figur publik ataupun orang biasa. Namun, umumnya figur publiklah yang paling merasakan dampaknya. Pembatalan semacam ini akan mempengaruhi banyak aspek si penerimanya. Baik dari segi karir dengan memboikot segala karyanya ataupun kesehatan mental si penerima karena dipermalukan oleh masyarakat.

Tentu itu adalah sebuah sanksi yang berat. Oleh sebab itu wajar jika akhirnya banyak bermunculan video klarifikasi, sebagai sebuah upaya pertanggungjawaban dan permintaan maaf kepada publik. Lantas bukankah sebaiknya mereka yang melanggar “dibatalkan” saja daripada menjadi seorang duta?

Di dalam Alkitab sendiri kita melihat banyak sekali tokoh-tokoh berpengaruh yang melakukan pelanggaran terhadap hukum Tuhan. Baik dari raja, nabi, bahkan sampai murid-murid Yesus sendiri. Dari kisah perzinahan Daud, pelarian Yunus, sampai kepada penyangkalan Petrus, adalah bukti bahwa tidak ada satu manusia pun yang tidak melakukan kesalahan. Oleh karena itu manusia layak untuk “dibatalkan” oleh Tuhan. Namun, Tuhan tidak melakukannya.

Contohnya, perjanjian Tuhan dengan Daud tidak dibatalkan sekalipun Daud harus menerima kematian anaknya sebagai konsekuensi dosanya. Yunus tidak dibiarkan tenggelam di lautan. Dia diselamatkan seekor ikan raksasa atas kehendak Tuhan dan diizinkan untuk melakukan misinya kembali. Petrus pun tidak dimaki Yesus atas tindakanya yang pengecut, justru Yesus mempercayakan kepadanya jemaat untuk digembalakan. Hal-hal tersebut mencerminkan isi hati Tuhan kepada para pelanggar. Dia rela mengampuni, mengasihi, dan memanggil mereka untuk melayani Dia kembali bahkan menjadikan mereka sebagai duta kasih pengampunan-Nya.

Tuhan tidak sedang naif ketika memberikan manusia kesempatan kedua. Dia melakukan hal itu bukan karena isi hati manusia dapat diandalkan. Melainkan, Tuhan memberikan kesempatan kedua karena kesetiaan-Nya. Justru ketika Tuhan memberikan kesempatan kedua, Dia sedang merisikokan hati-Nya untuk disakiti kembali atau misi-Nya untuk diabaikan lagi. Namun, Tuhan tidak memilih seorang duta kasih secara ceroboh. Tuhan tidak meninggalkan mereka sendiri dan membiarkan mereka melakukan kesalahan yang sama. Tuhan mengirimkan Roh-Nya yang kudus ke dalam hati setiap duta-Nya. Roh itu yang akan menginsafkan mereka dari dosa dan memimpin mereka melaksanakan misi Tuhan. Selain itu Tuhan juga memberikan komunitas tubuh Kristus yang bisa menopang mereka di kala susah. Nyatalah bahwa Tuhan yang penuh kasih memang serius memperlengkapi duta perwakilan-Nya.

Lantas bagaimana dengan kita? Kita pun juga tidak berbeda dengan tokoh-tokoh di Alkitab. Kita juga melakukan kesalahan. Meskipun begitu Tuhan tidak membuang kita. Dia mau menerima kita. Dia menunggu kita untuk datang menikmati kasih pengampunan-Nya. Lebih menakjubkannya lagi Dia menjadikan kita duta kasih pengampunan-Nya supaya semakin banyak orang yang dapat menikmati kasih pengampunan-Nya.

Menjadi duta pengampunan Tuhan adalah sebuah anugerah dan tanggung jawab yang besar. Ini berarti kita perlu mewakili hati Tuhan kepada setiap yang bersalah kepada kita. Kita perlu rela mengampuni mereka sekalipun mereka akan berkesempatan menyakiti kita kembali. Kita perlu sabar mendampingi mereka yang berulang kali gagal dalam komitmen. Kita perlu membangun komunitas pemberi kesempatan kedua, karena kita sedang melayani Tuhan pemberi kesempatan kedua, yang siap menandingi budaya pengenyahan di dekat kita. Ini bukan tugas yang mudah tapi, Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan akan memampukan kita.

Pada akhirnya budaya pengenyahan dapat menjadi saran keadilan jika terjadi pelanggaran pada taraf tertentu. Namun, praktiknya banyak disalahgunakan untuk mengintimidasi dan menyakiti hidup orang lain. Pada dua ribu tahun yang lalu, seorang Pribadi tak bercela dibatalkan sepihak oleh sekelompok pendosa. Pribadi itu dituduh telah menista Tuhan dan dijatuhi hukuman mati salib. Pribadi itu bernama Yesus Kristus, Anak Allah. Dia yang tidak bersalah dijadikan bersalah. Dia yang seharusnya layak diterima justru dibatalkan agar kita para pelanggar dapat diterima dan diampuni Tuhan yang kudus.

Sekarang Pribadi yang kudus itu mengajak kita untuk menjadi duta-Nya, Duta pengampunan kasih-Nya agar kasih-Nya semakin terang bersinar dalam dunia gelap ini.

Baca Juga:

3 Pelajaran Berharga Dariku, Seorang Penyintas Covid-19

Iman adalah hal penting dalam hidup orang percaya, namun bukan berarti itu meniadakan tindakan kita untuk mewaspadai supaya tidak terkena Covid-19. Sebab iman tanpa perbuatan adalah mati.

Kasih Yang Melukai

Oleh Jessica Tanoesoedibjo, Jakarta

“Pasti kamu tidak pernah merasakan yang namanya dilukai,” saut seseorang di grup kecil kami pada suatu acara Psychological First Aid Training yang aku hadiri. Aku hanya tersenyum pada Ibu tersebut, dan berkata, “Pasti pernah dong, Bu. Semua orang memiliki pengalamannya masing-masing.” Tanpa ibu itu sadari, pada saat itu juga, persepsinya yang penuh asumsi pun telah menggores hatiku, yang merasa disalahpahami dan dianggap remeh.

Banyak dari kita beranggapan bahwa wajah yang ceria mencerminkan kehidupan yang mudah. Namun, dibalik senyuman terlebar pun, setiap orang punya cerita. Aku berharap setelah membaca ini, kita semua dapat menjadi pribadi yang lebih memiliki empati terhadap orang lain.

Ketika aku merenungkan apa yang dapat aku bagikan tentang pengalaman keterlukaanku, beberapa hal muncul di benakku. Masa-masa patah hati, pengalaman dikhianati, serta perselisihan paham yang pernah dilalui dengan orang-orang yang aku kasihi…namun tidak semuanya perlu diceritakan. Karena tujuanku menulis bukan untuk mendapat belas kasihan, melainkan untuk mengingatkan diriku kembali akan Kasih dan Pengampunan yang telah terlebih dahulu aku terima. Jika aku dituntut untuk mengampuni, sesungguhnya, Tuhan hanya memintaku untuk meneruskan kepada sesama, apa yang telah Ia berikan secara cuma-cuma kepadaku.

Luka yang Memicu Emosi Terdalam

Beberapa waktu lalu, ada suatu kejadian di mana aku mendapati diriku marah besar. Aku sendiri bahkan terkejut, tak mengira emosiku dapat terpancing sedemikian rupa sehingga aku menggebrak meja dan mengangkat suaraku. Pada saat itu, perasaanku bercampur aduk: antara amarah, kekecewaan, kesedihan, dan ketidakpercayaan atas apa yang telah orang tersebut lakukan.

Tanpa menjelaskan dengan detail apa yang orang tersebut perbuat, yang hanya perlu kukatakan adalah orang ini telah mengkhianatiku dan orang yang aku kasihi. Kami telah memberi orang ini kepercayaan yang begitu besar, namun ternyata dibalik raut wajahnya yang polos dan tutur katanya yang penuh sopan santun, ia telah mengkhianati, berbohong, dan membodohi kami selama bertahun-tahun. Dan yang paling aku sesali adalah, ia adalah seseorang yang sering mengutip Firman dan membawa-bawa nama Tuhan dalam percakapan kita. Aku pun selama ini menganggap dan mengasihi orang tersebut sebagai saudara seiman.

Aku mengingat dengan jelas kejadian di malam hari itu, ketika semuanya terungkapkan. Pada awalnya aku masih duduk tenang dan mencoba untuk mendengarkan penjelasannya. Aku pikir, mungkin ada hal yang mendesaknya untuk melakukan hal tersebut. Tetapi, setelah berbagai macam pertanyaan klarifikasi, ia malah bersifat defensif, bahkan menyalahkan keadaan dan orang lain.

Dalam Kemarahan, Berdoa dan Jangan Berdosa

Suatu prinsip yang aku pegang, dan yang kuharapkan Tuhan akan selalu beriku kekuatan dalam menjalankannya, adalah bahwa aku tidak boleh mengutarakan perkataan jahat yang bertujuan melukai orang lain dalam kemarahanku. Lebih baik aku diam sejenak, daripada mengucapkan sesuatu yang akan aku sesali. Firman mengajarkan kita, “hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah,” (Yakobus 1:19).

Tapi apakah artinya sebagai orang Kristen kita tidak boleh marah? Apalagi marah yang besar? Tentu tidak. Karena Yesus sendiri marah, bahkan sampai membalikkan meja-meja dan kursi-kursi para pedagang yang pada berjualan di halaman Bait Allah (Matius 21:12-13). Walaupun Allah memang panjang sabar (Mazmur 103:8), salah satu hal yang dapat kita pelajari dari ayat tersebut adalah bahwa Tuhan tidak mentoleransi dosa. 

Kita memang seharusnya membenci dan marah terhadap dosa—karena sesungguhnya, setiap kejahatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap yang lain, adalah kejahatan terhadap Sang Pencipta sendiri. Orang-orang yang berjualan di halaman Bait Suci bukan hanya sedang merampas orang miskin, melainkan telah mencemarkan dan merampas dari Rumah Tuhan itu sendiri.

Pada saat itu juga, ketika emosi menggebu-gebu dalam diriku, hati kecilku hanya dapat berdoa agar Tuhan juga menolongku dalam kemarahanku itu. Jangan sampai amarahku terhadap dosa orang lain membuatku malah berdosa terhadap Tuhanku sendiri.

Pengampunan Tidak Berarti Membiarkan Dosa

Yang sangat kusesali, setelah konfrontasi, orang tersebut tidak menunjukkan sedikitpun rasa penyesalan atas perbuatannya, bahkan setelah beberapa hari, mencoba untuk melarikan diri dari konsekuensi perbuatannya. Awalnya kami ingin menyelesaikannya dengan begitu saja, namun orang ini malah menunjukkan itikad tidak baik. Setelah berdoa dan bergumul dengan beberapa orang-orang yang aku percayai, kami akhirnya memutuskan untuk bertindak dengan disiplin.

Jujur, hal tersebut sangat menyedihkan bagiku. Karena harapanku adalah agar orang tersebut berpaling dari perbuatannya dan kembali pada Tuhan. Aku tidak ingin melihat orang tersebut harus mengalami yang namanya proses disiplin. Namun, jika aku diamkan dan biarkan perbuatan kejahatannya, yang telah ia lakukan berulang-ulang kali selama bertahun-tahun, berarti aku tidak peduli akan kondisinya di hadapan Tuhan. Sesungguhnya, aku juga memiliki tanggung jawab di hadapan Yang Maha Kudus, untuk menegakkan kebenaran.

Memang, pengampunan tidak bergantung pada penyesalan orang yang telah melukai kita. Sebaliknya, kita harus tetap mengampuni, bahkan jika orang tersebut tidak menyesal. Yesus mengajarkan kita untuk “[mengasihi] musuhmu dan berbuat baiklah kepada orang yang membencimu.” (Lukas 6:27).

Namun, Firman juga mengajarkan bahwa “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,” (Ibrani 12:6), dan kadang memang kita perlu menjalankan disiplin, untuk kebaikan orang lain. Mengampuni tidak berarti kita harus selalu diam dan menjadi orang yang nerimo, namun, mencerminkan kondisi hati kita di hadapan Tuhan yang melihat segalanya. Apakah kita bersenang-senang atas kesukaran yang dialami orang lain sebagai konsekuensi perbuatan mereka yang telah melukai kita? Atau sebaliknya—karena kita mengasihi orang yang melukai kita, kita berberat hati, dan bahkan terluka, dalam menjalankan disiplin tersebut?

Salah satu kisah dalam Alkitab yang memberikan kita pandangan sepintas pada hati Tuhan dalam menjalankan disiplin ada dalam kitab Yunus. Sesungguhnya, cerita Yunus bukan tentang seseorang yang ditelan oleh ikan besar, seperti yang banyak dari kita ketahui, melainkan menkontraskan hati seorang nabi Yunus, dengan hati Tuhan. Di mana seseorang nabi Yunus berberat hati untuk memberitakan Firman Tuhan kepada orang-orang bebal di Niniwe, Tuhan berberat hati untuk menghukum orang-orang yang tidak mengenal-Nya itu. Cerita tentang Yunus yang ditelan oleh sebuah ikan besar hanyalah sebuah gambaran kecil tentang tindakan disiplin yang Tuhan berikan, agar hamba-Nya, yang (ironisnya) juga bebal, dapat kembali pada panggilan-Nya.

Apakah hati kita telah menyerupai Tuhan, bahkan ketika kita menjalankan disiplin? Karena disiplin yang sesungguhnya harus bertujuan untuk merekonsiliasi orang yang telah menyakiti kita, bukan hanya pada diri kita sendiri, tapi juga dengan Bapa kita yang Maha Pengampun.

Kasih Yang Melukai Yang Memberikan Kita Pengampunan

Ketika kita merenungkan cerita Paskah yang kita rayakan di bulan ini, suatu hal yang perlu kita sadari: Tuhan tidak pernah mentoleransi dosa. Tidak ada dosa yang terlalu kecil untuk Tuhan abaikan dan biarkan begitu saja. Harga dosa begitu mahal, sampai Tuhan harus membayarnya dengan darah-Nya sendiri (Ibrani 9:12).

Kebenaran Firman mengajarkan kita bahwa setiap dosa memiliki konsekuensi (Roma 6:23). Namun Yesus sendiri, Sang Anak Allah yang Kudus, dengan sukarela menyerap segala dosa, segala amarah Allah Bapa yang seharusnya tertuju pada kita semua. Di atas Kayu Salib kita melihat “keadilan dan damai sejahtera [berciuman].” (Mazmur 85:10), karena disanalah murka dan kasih Allah berjumpa, merelakan Anak Allah yang tidak bercela, agar kita dapat memperoleh pengampunan dan keselamatan.

Aku yakin semua pasti pernah mengalami yang namanya dilukai. Semua orang memiliki pengalamannya masing-masing. Namun jika kita dituntut untuk mengampuni, sesungguhnya, Tuhan hanya meminta kita untuk meneruskan kepada sesama, apa yang telah Ia berikan secara cuma-cuma kepada kita di atas Kayu Salib, dimana Yesus menyerahkan diri-Nya untuk dilukai oleh ciptaan-Nya. Sekarang, dengan pengampunan yang telah Ia anugerahkan kepada kita, kita hanya diminta untuk berpaling dari kebebalan kita, dan mengikuti-Nya, dalam kasih dan kebenaran.



Baca Juga:

Satu Penyebab Kekalahan dalam Bertanding

Kita merasa hidup kita di masa kini dan masa depan bergantung pada besarnya kapasitas diri kita sendiri. Namun, di lain pihak, lubuk hati kita sadar bahwa diri ini tidak sanggup diandalkan.

Memaafkan yang Tak Termaafkan

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Suara tembakan tiba-tiba menggemparkan halaman Basilika Santo Petrus, Vatikan. Hari itu, 13 Mei 1981 dalam suasana sore yang cerah, Paus Yohanes Paulus II mengalami peristiwa upaya pembunuhan. Dari kerumunan yang sedang hangat menyapanya, seorang pemuda menembakkan empat tembakan dari senjata semi-otomatis. Paus pun terluka parah. Beruntung melalui pertolongan medis yang sigap, nyawanya terselamatkan. Sementara itu, sang penembak segera dibekuk oleh aparat dan setelah serangkaian proses peradilan, dia dijatuhi hukuman penjara.

Peristiwa itu menjadi berita teror yang menyebar ke berbagai belahan dunia, namun ada kisah menarik yang terjadi setelahnya. Dua hari selepas Natal tahun 1983, Sri Paus yang bernama asli Karol Josef Wojtyla itu menyambangi sebuah penjara. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari penjara yang dikunjunginya itu, tetapi seorang lelaki muda bernama Mehmet Ali Agca mendekam di sana. Mehmed ialah sang pelaku teror, yang dari pistolnya menyambar empat tembakan kepada sang Paus.

“Aku memaafkanmu, sahabat. Aku mengampunimu,” ujar Karol seraya memeluk Mehmed.

Momen singkat nan hangat tersebut membuat dunia terkesima. Seorang pelaku kejahatan yang seharusnya tidak terampuni malah mendapatkan pengampunan. Alih-alih mengutuki si pelaku, Karol meminta agar umat berdoa bagi Mehmet. Tindakan Karol menggemakan kembali teladan sempurna yang sudah lebih dulu ditunjukkan oleh Yesus, ketika Dia mengampuni orang-orang yang telah menganiaya-Nya.

Sulitnya memaafkan

Memaafkan pada kenyataannya bisa jadi tindakan yang sangat sulit. Memaafkan tak semudah mengucap “aku memaafkanmu”. Memaafkan adalah sebuah tindakan yang melibatkan proses rumit, yang untuk mengucapkannya kita perlu mengorek kembali segala memori dan luka hati, dan menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup kita. Saat pasangan mengkhianati kepercayaan kita, saat orangtua yang seharusnya mengayomi kita malah menghujani kita dengan kekerasan fisik, saat kita ditipu oleh orang lain, atau saat kita pernah dipermalukan dan dirundung yang berakibat kita mengalami trauma mendalam. Siapa pun yang pernah atau sedang menderita luka hati yang besar tahu, bahwa ketika batin kita tercabik-cabik, akan sangat sulit untuk tidak membenci dan menaruh dendam pada orang yang telah bersalah pada kita. Memaafkan itu sulit, setidaknya dari penelusuranku ada tiga alasan yang menyebabkannya:

Pertama, memori kita cenderung memikirkan masa lalu yang pahit, yang menghantui kita. Memori kita terampil dalam mengenang rasa sakit yang diakibatkan oleh tindakan atau kata-kata, yang pada akhirnya menjebak kita hidup dalam bayang-bayang momen pedih tersebut. Akibatnya, sulit bagi kita untuk move-on. Berbagai upaya untuk lepas dari masa lalu menjadi mandek. Malahan, kenangan buruk tersebut semakin terbayang-bayang, yang berujung pada semakin jauhnya kita dari kebesaran hati untuk mengampuni.

Meski mungkin terkadang mengampuni itu sulit, namun Yesus mengatakan sesuatu tentang pengampunan, ketika Petrus bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?”, Yesus menjawab dengan tegas, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:21-22).

Pengampunan adalah sebuah proses. Ibarat menyembuhkan luka hingga menutup sempurna yang membutuhkan perawatan, demikian juga dengan pengampunan. Setiap upaya dan doa kita untuk melepas pengampunan ibarat obat yang membalut luka-luka di hati kita.

Kedua, seringkali ketika kita terjebak dalam memori pahit, amarah hadir dan berakibat kita menjadi kurang mampu mengendalikan diri. Gejolak emosi yang membuncah saat kita marah bisa begitu kuat dan membutakan mata batin kita, sehingga memaafkan menjadi opsi terakhir yang muncul di pikiran kita. Tentu rasa marah tersebut adalah wajar karena kita ada di posisi benar dan teraniaya, tetapi tanpa kita sadar kemarahan yang tidak terkendali itu ibarat bensin yang menjadikan api dendam semakin membara.

Ketiga, kita mungkin enggan memaafkan karena kita takut disakiti lagi. Akibatnya, kita membuang jauh-jauh pilihan untuk rekonsiliasi. Kita membangun tembok pemisah yang tak mampu ditembus, dan kita mendekamkan diri di dalam bilik luka batin. Secara psikologis, ini adalah mekanisme pertahanan diri yang secara natural dikembangkan oleh manusia untuk mencegah hati mereka dari cedera kembali.

* * *

Kita tidak menampik, sebagai manusia yang penuh keterbatasan ketiga alasan di atas mungkin kita rasakan pula. Namun, hendaklah kita tidak lupa bahwa di balik keterbatasan kita ada Allah yang tiada terbatas, yang telah menunjukkan pada kita bahwa pengampunan dan kasih adalah berasal dari-Nya. Yesus telah mengulurkan belas kasihan kepada mereka yang telah merugikan-Nya, mendekap mereka yang tak layak, yaitu kita sekalian, ke dalam kehangatan kasih-Nya yang memerdekakan kita dari belenggu dosa dan kutuk.

Teladan yang telah ditunjukkan oleh Yesus tidak berarti kita menyangkal kenyataan bahwa ada orang yang melukai kita, atau berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja, tetapi dari teladan Yesuslah kita belajar untuk memahami bahwa pengampunan adalah sikap hati yang benar dalam menghadapi situasi yang menyakitkan.

Melalui pengampunan, Yesus memberi kita kelepasan penuh dari hukuman dosa. Kitab Suci mengatakan, “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu…telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib” (Kolose 2:13-4).

Mengampuni adalah panggilan bagi semua murid Kristus untuk mengikuti teladan-Nya. Ini bukanlah tentang perkara sulit atau gampang, tetapi adalah sebuah perjuangan, karena kita diajak untuk melawan sifat alamiah kita yang cenderung menyimpan kesalahan orang lain dan memupuk dendam.

Ketika kita bersedia diproses-Nya untuk memaafkan, tanpa kita sadari secara psikologis itu dapat membantu kita meningkatkan harga diri dan memberikan kekuatan dan rasa keamanan batin. Mengampuni dapat menyembuhkan luka-luka kita dan memungkinkan kita melanjutkan hidup dengan makna dan tujuan. Ada pula penelitian yang mengatakan bahwa dengan mengampuni, kita bisa mengurangi depresi, kecemasan, kemarahan, dan sederet emosi negatif lainnya. Tetapi, yang perlu kita ingat: kita tidak memaafkan hanya demi menolong diri kita sendiri, melainkan kita memaafkan karena itu adalah respons otentik kita kepada kasih Allah yang telah lebih dahulu mengampuni kita. Seperti nasihat Kitab Suci, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolose 3:13).

Secuplik kisah Karol, sang Paus yang memaafkan orang yang hendak membunuhnya menjadi salah satu contoh nyata dari aksi ‘memaafkan yang tak termaafkan’. Di dunia yang diwarnai oleh dendam dan kebencian, hendaklah kita menabur kasih dan pengampunan.

Allah Bapa melalui kasih Kristus kiranya memampukan kita untuk mengampuni orang-orang yang ‘tak terampuni’ dalam hidup kita.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Secuplik Mitos tentang LDR

Banyak survey bilang bahwa pasangan LDR lebih berisiko mengalami kandasnya hubungan. Tetapi, itu tidak selalu berarti bahwa LDR adalah bentuk relasi yang buruk. Yuk kenali mitos-mitos apa saja yang sering muncul tentang LDR.

Kebahagiaan Sejati Hanya di Dalam Yesus

Oleh Pesta Manurung, Pekanbaru

Jika ditanya apa yang menjadi sumber kebahagiaan kita? Tentu jawabannya bisa beragam. Ada yang menjawab sumber kebahagiaannya adalah memiliki tabungan berlimpah, rumah, mobil, pekerjaan tetap, anak-anak yang sehat dan pintar, bahkan pensiun di masa tua dengan pemasukan yang terus berjalan.

Baru-baru ini, aku menonton sebuah video yang berjudul “Adulterous Woman, The Life of Jesus.” Video ini diambil dari Injil Yohanes 8:1-11. Dalam video, terlihat kaum Farisi membawa seorang wanita yang ketahuan berzinah ke hadapan Yesus. Mereka berniat mencobai Yesus, dengan bertanya, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita yang telah berzinah ini? Musa berkata kalau ada orang yang ketahuan berzinah, maka akan dilempari dengan batu sampai mati.” Yesus menjawab, “Siapa di antara kamu yang tidak berdosa hendaklah dia yang melempar terlebih dahulu.” Satu persatu mereka menjatuhkan batunya dan pergi meninggalkan tempat itu.

Aku membayangkan si wanita yang hendak dihukum tentu sangat ketakutan. Hidupnya sedang terancam mengingat hukum yang berlaku pada masa itu, wanita yang kedapatan berbuat zinah akan dirajam sampai mati. Satu-satunya yang menentukan hidupnya adalah keputusan dari Yesus. Jawaban Yesus pun tak terduga, “Pergilah, Aku pun tidak akan menghukum engkau, jangan berbuat dosa lagi.”

Cerita dalam video ini sebenarnya mengisahkan hidup kita semua, meskipun dalam konteks ini secara khusus diceritakan wanita yang berdosa karena berzinah. Namun terlepas dari jenis dosa yang dilakukan oleh si wanita ini, bukankah kita semua berdosa?

Aku pernah berada di posisi seperti si wanita yang kedapatan berzinah itu. Tahun 2013, ketika aku duduk di bangku perkuliahan, aku menghadiri suatu ibadah di kampus. Firman yang aku nikmati saat itu berbicara bahwa sesungguhnya aku adalah manusia yang berdosa. Segala kebaikan yang aku lakukan tidak dapat menyelamatkanku. Aku harusnya dihukum karena segala keberdosaan yang telah aku lakukan. Tetapi saat itu aku mendengar ada Pribadi yang berbicara kepadaku, “Aku mengampuni dosa-dosamu. Aku menerimamu, kembalilah kepada-Ku. Hanya Aku yang berhak menghakimimu, dan Aku tidak akan menghukummu.” Aku meyakini bahwa Roh Kuduslah yang bekerja saat itu, sehingga aku bisa mendengarkan Tuhan berbicara kepadaku. Momen yang aku ingat sampai saat ini. Momen di mana aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Allah begitu mengasihi kita. Kendati kita berdosa, Dia tidak menghukum kita setimpal. Dia justru mengampuni kita. Bukankah kita berulang kali jatuh ke dalam dosa? Tidak terhitung berapa kali kita berdosa. Setiap kita berdosa, kita bisa mengingat perkataan Yesus kepada wanita tersebut, “Pergilah Aku tidak menghukum engkau.” Namun, ini bukan berarti kita diperbolehkan untuk jatuh berulang kali ke dalam dosa. Perkataan Yesus dengan wanita itu diakhiri dengan “Jangan berbuat dosa lagi!” Kalimat ini memberikan kita pengertian bagaimana Yesus mengharapkan kita untuk meninggalkan dosa kita.

Inilah yang menjadi kebahagiaan sejati bagi aku pribadi, mengetahui bahwa Dia yang berhak menghukum aku justru berkata, “Pergilah, Aku tidak menghukum engkau.” Artinya, Dia menerimaku di tengah keberdosaanku dan memaafkanku yang penuh dengan dosa ini.

Baca Juga:

Tuhan, Mengapa Engkau Mengirimku Ke Padang Gurun?

Di saat kebanyakan temanku diterima di kampus negeri, aku melanjutkannya di kampus swasta, dan di jurusan yang tak kusuka pula. Tuhan, kenapa aku harus ke tempat ini? Keluhku pada-Nya.

Dalam Penyesalan Sekalipun, Anugerah-Nya Memulihkan Kita

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Menjadi orang yang minder dan kurang percaya diri membuatku sering kesulitan saat membuat pilihan dalam hidup ini. Bukan hanya pilihan dalam ruang lingkup besar dan krusial, tapi juga pilihan ‘sepele’ dalam kehidupan sehari-hari. Semisal: aku harus pakai baju apa hari ini agar terlihat bagus? Aku harus naik transportasi apa supaya tidak terlambat sampai kantor dan tidak ditegur atasan? Jawaban apa yang harus kuberikan pada temanku yang sedang curhat tanpa harus menghakimi atau melukai hatinya?

Takut salah. Dua kata yang aku sadari benar-benar terjadi dalam membuat pilihan di hidupku sehari-hari. Aku takut salah mengambil langkah dan berujung pada kerugian, baik untuk diriku sendiri maupun orang lain. Aku takut menyesal. Bagiku, rasa penyesalan itu rasanya menyakitkan. Tidak enak.

Waktu SMA, aku pernah mengalami penyesalan dalam hal relasi pertemanan. Kondisinya saat itu kami sedang mengobrol biasa melalui pesan singkat, layaknya teman baik yang saling curhat terkait masalah masing-masing. Namun ada perkataan dariku—yang menurutku baik-baik saja—ternyata menyinggung perasaannya. Dia jadi salah paham dan akhirnya marah padaku. Komunikasi lewat pesan di layar ponsel merupakan bahasa yang tidak berbunyi, tidak menampilkan bahasa tubuh, tidak bisa mengekspresikan nada bicara yang sebenarnya sehingga sangat rentan untuk disalahartikan. Akibat tersinggung itu, dia menuliskan satu kata yang pada akhirnya membuatku juga ikutan tersinggung: munafik. Satu kata yang sungguh tajam melukai hatiku. Di situ aku bingung dan bertanya-tanya: Aku salah di mana, sih? Sejak saat itu pertemanan kami cukup merenggang. Kami tidak saling sapa lagi ketika bertemu di sekolah, bahkan sampai lulus SMA. Padahal sebelumnya kami adalah teman baik.

Masalah relasi tersebut akhirnya makin memperbesar rasa ‘takut salah’ itu sendiri. Aku makin kesulitan untuk bersikap dan berkata-kata pada orang lain. Aku terus-menerus bertanya pada diri sendiri: harus bersikap seperti apa? Kata-kata apa yang paling baik untuk diucapkan pada orang lain? Pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran ini pun pada saat yang sama memperbesar rasa minder dan kurang percaya diri itu sendiri. Bukan hanya dalam hal relasi, tapi dalam banyak aspek kehidupan. Aku jatuh pada penyesalan.

Lalu aku sempat berpikir: seandainya waktu dapat diulang kembali, aku akan memilih kata- kata lain yang lebih kecil kemungkinannya untuk menyinggung perasaannya. Di saat yang sama, dalam keegoisanku, aku sering juga membela diri dalam pembenaran: tapi aku kan tidak mengucapkan kata-kata kasar padanya. Kok dia tersinggung, sih? Sungguh pikiran yang kontradiktif karena aku pun bingung menentukan apakah yang kulakukan itu benar atau salah.

Dalam perenunganku menghadapi rasa sesal di masa lalu, di tengah penulisan ini aku diingatkan tentang penyesalan yang dialami raja Daud dalam Mazmur 32. Daud mengatakan:

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran- pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.”

Mungkin pengalaman menyesal yang kualami tidak seberat apa yang raja Daud alami. Namun aku belajar bahwa penyesalan pun ternyata bisa dibawa kepada Tuhan dan hanya dalam anugerah Allah saja kita bisa diselamatkan dan terbebas dari belenggu rasa bersalah. Aku sedih telah membuat teman baikku tersinggung dan sampai membuahkan relasi yang retak. Aku juga menyesal mengapa aku pada waktu itu tidak minta maaf duluan tanpa perlu membela diri melakukan pembenaran dengan alasan aku juga ikut tersinggung dengan kata-katanya. Namun, sepertinya dari peristiwa ini aku sedang diajari untuk tetap rendah hati, mau mengakui kesalahan, kelemahan dan kerentanan di hadapan Tuhan, dan menyerahkan relasi yang retak untuk Tuhan pulihkan. Aku juga belajar bahwa kedepannya, aku bisa meminta hikmat pada Tuhan dalam menentukan pilihan-pilihan yang bijaksana, termasuk pilihan dalam cara berkomunikasi atau menyampaikan pesan pada orang lain.

Cerita penyesalanku ini hanya satu dari sekian banyak penyesalan yang kualami akibat pilihan-pilihan bodoh yang kuambil di masa lalu. Namun aku juga ternyata punya pilihan untuk menjadikan masa laluku sebagai pengingat, bahwa Tuhan tak pernah tinggalkan aku dalam momen apapun; bahwa Tuhan tak pernah bosan untuk menungguku menyapa-Nya setiap hari dan menyerahkan segala masalah serta pergumulan dosaku pada-Nya; bahwa Tuhan memberikan kasih-Nya yang luar biasa dari atas kayu salib buatku supaya terbebas dari belenggu rasa bersalah; bahwa anugerah pengampunan-Nya benar-benar nyata dan terjadi.

Sekarang, dalam penyertaan Tuhan aku pelan-pelan belajar untuk mengikis rasa minder dan tidak percaya diri akibat rasa bersalah yang menghalangiku dalam membuat sebuah pilihan. Mengutip apa yang ditulis oleh David G. Benner dalam bukunya yang berjudul Surrender To Love bahwa “rasa bersalah selalu menghasilkan halangan bagi kasih” juga membuatku mengizinkan diriku untuk tenggelam dalam kasih karunia-Nya. Aku memberi diri untuk ditolong Tuhan dalam membereskan luka penyesalan di masa lalu supaya kini aku bisa melangkah maju ke depan bersama-Nya tanpa dibelenggu rasa penyesalan.

Grace alone. Hanya karena kasih karunia.

“Grace alone which God supplies

Strength unknown He will provide

Christ in us our corner stone

We will go forth in grace alone.”

(Grace Alone – Scott Wesley Brown, Jeff Nelson)

Baca Juga:

Tak Diabaikan-Nya Ratapan Kita

Kisah pertolongan Allah atas Israel mengingatkanku bahwa Allah sejatinya tidak mengabaikan ratapan umat-Nya. Namun, ratapan seperti apakah yang seharusnya kita lakukan ketika kita menghadapi penindasan atau penderitaan?

Lahirnya Kedamaian Karena Pengampunan

Oleh Bertina Batuara, Pekanbaru

Adakalanya pergumulan dan kesesakan datang silih berganti entah itu dari diri sendiri atau dari luar. Baru-baru ini Tuhan izinkan aku mengalami masalah, sampai pada saat menuliskan renungan ini aku tersadar dan terkesima dengan Tuhanku yang menciptakan aku, bumi, dan segala makhluk. Ya, segala perkara dapat kutangggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku (Filipi 4:13).

Aku akui bahwa aku ialah orang yang sangat mudah terpengaruh dengan keadaan di sekitarku. Aku mudah terdistraksi. Masalah pertama adalah dengan teman dekatku. Karena sudah beberapa bulan tak bertemu, teguran lewat chat yang kulontarkan kepadanya itu rupanya dimaknai lain. Aku mengakui inilah kelemahan pesan lewat media sosial yang rentan salah paham. Karena salah paham itu, dia tidak lagi membalas pesanku. Sejak saat itu hatiku gusar. Waktuku untuk berdoa pun diliputi rasa kacau dan aku merasa tidak layak menyampaikan doaku kepada Tuhan, sebab relasiku yang sedang buruk dengan sesama.

Saat masalah salah paham itu terjadi, di kotaku juga turut diterapkan PSBB sebagai langkah pencegahan virus corona. Kami tak bisa bertemu secara langsung untuk menyelesaikan masalah tersebut. Aku menunggu waktu yang tepat, meminta pertolongan hikmat dari Tuhan bagaimana cara menyelesaikan perkara itu. Lewat kehadiran seorang kawan dekat kami, puji Tuhan kami bisa menyelesaikan masalah itu dengan cara empat mata. Kami tidak membiarkan ego kami masing-masing dimenangkan dengan cara kami berbicara jujur, saling mengutarakan, dan ditutup dengan saling memaafkan.

Setelah masalah pertama usai, aku mendapati masalah baru lagi di tempat tinggalku di perantauan. Masalah ini masih tentang kesalahpahaman. Aku selalu beranggapan temanku inilah yang salah, dia yang harus mengubah sikapnya dan harus meminta maaf terlebih dulu kepadaku. Itulah pikiran yang selalu menghinggapiku sepanjang beberapa minggu. Namun, lama-lama aku semakin tersadar kalau justru pikiran itulah yang menjeratku ke dalam kesesakan yang merenggut kedamaian batinku.

Sebagai orang yang jauh dari keluarga dan terbatas menyampaikan segala keluh-kesah, aku biasanya sharing dengan orang terdekatku di perantauan. Berbicara empat mata dengan orang-orang terkasih menolongku untuk bisa bersyukur dan bersukacita saat aku melewati kesesakan.

Jujur, saat itu aku ingin menghindar saja. Tapi, Tuhan tak ingin aku merespons masalah ini dengan egois. Saat aku menikmati waktu teduh pribadiku sembari memutar lagu rohani favoritku, aku merasa seperti ada suara yang berbisik, “Kalau kamu pergi berarti kamu kalah!” Kalah di sini berarti kalah dari si Iblis yang mengobrak-abrik hati dan pikiranku.

Ketika paginya bersaat teduh, ayat firman Tuhan berbicara tentang mengampuni. “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolose 3:13).

Setelah itu aku membuka YouTube dan secara tidak kebetulan membaca judul video dari motivator kesayanganku: “Ketika Hatimu Sulit Memaafkan”.

“Wahh kedua hal ini sedang menegurku”, gumamku. Kuputar video itu, mengikutinya sampai durasi akhir tanpa skip. Rasanya luar biasa, seperti ada tangan-tangan yang menamparku secara bersamaan. “Ini kebutuhanku!” teriakku dalam hati.

Aku pun beranjak dari tempat dudukku. Kutemui teman yang sedang bermasalah denganku. Kucoba mendamaikan hatiku terlebih dahulu, lalu kumulai berbicara meskipun terasa berat. “Maaf,” ucapku.

Puji Tuhan, temanku bersedia menerima permintaan maafku. Dia pun turut meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Aku merasa Tuhan begitu hebat, Tuhanlah yang mendamaikan kami, membenahi diriku, dan mendorong aku keluar dari zona nyamanku, yakni rasa gengsi untuk meminta maaf duluan. Aku diajar-Nya untuk meluruhkan pikiran “bukan salahku”.

Dua pengalaman ini perlahan mengupas satu per satu kebobrokan hati dan pikiranku. Dari titik itu, aku merasa diriku telah “naik kelas”. Mungkin jika aku tidak melewati masa-masa sulit seperti itu, aku akan terus di kelas yang membuat iman dan pertumbuhan rohaniku dangkal. Kedamaian ilahi pun perlahan bisa kuraih kembali sembari mengingat satu pesan seorang kakak yang berkata:

“Jika kamu percaya segala kebaikan adalah rancangan dari Allah, jangan lupa kalau kesakitan dan kesesakan pun adalah bentuk penyertaan Tuhan untuk kebaikanmu kelak”

Dia lalu menyarankanku membaca ayat dari Mazmur 138:7: “Jika Aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku, terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.”

Aku ingat kata-kata beliau dan kurenungkan ayat itu sambil terdiam dan menitikkan air mata yang tanpa sengaja menetes di pipi. Ternyata saat itu pula kusadari perkataan itu begitu bermakna. Mulutku spontan berkata : Engkaulah Allah yang sanggup menyelamatkanku dari berbagai-bagai perkara. Hatiku yang sedang berkecamuk digantikan dengan pemulihan.

Menghadapi berbagai perkara tentu semua orang mengalami, tapi ingat Tuhan turut hadir mengiring langkah kita dalam melewatinya, tetaplah fokus pada satu nama yang Ajaib yakni : Yesus Kristus sumber kedamaian dan sukacita yang Jauh lebih besar dari segala masalah yang telah dan akan kita hadapi.

Baca Juga:

Setelah Covid-19 Berakhir, Seperti Apa Gereja Kita Nanti?

Aku percaya bahwa salah satu tujuan Tuhan mengizinkan kita mengalami krisis adalah untuk menggoncangkan kita. Mungkinkah ada sesuatu yang harus berubah?

Teladan Kasih-Nya Memampukanku untuk Mengampuni

Oleh Ananda Utami*, Jakarta

Malam semakin larut, namun aku tetap terjaga. Air mataku terus mengalir. Sudah hampir setahun aku dan pacarku berkomitmen untuk saling mengenal, tapi perjalanan relasi kami terasa terjal. Sehari sebelumnya, pacarku bercerita mengenai sesuatu yang membuatku kecewa.

Aku tidak dilahirkan dalam keluarga yang percaya pada Kristus, namun beberapa tahun lalu aku mengenal-Nya dan memantapkan diriku untuk sungguh-sungguh jadi orang Kristen. Sejak saat itu, aku mengalami penolakan dari orang-orang terdekatku yang sampai hari ini masih kugumulkan. Berbagai label negatif disematkan padaku. Mereka juga menjauhiku, menganggap aku tak lagi segolongan dengan mereka.

Latar belakang inilah yang menjadi salah satu faktor yang meragukan bagi ibu pacarku. Beliau tidak ingin ambil risiko dengan keluarga besarku yang bukan Kristen apabila kelak anaknya menikah denganku. Dan, beliau juga berasumsi bahwa keputusanku untuk berpindah iman itu adalah strategi untuk bisa berpacaran dengan anaknya. Padahal sebelum aku menjalin relasi ini, aku telah lebih dulu menjadi Kristen.

Dalam kekecewaanku, beberapa kali aku sempat marah dan bertanya pada Tuhan. “Mengapa, Tuhan? Mengapa orang yang bahkan terlihat baik dan ramah di depanku ternyata tidak sebaik yang kukira? Mengapa pula orang tersebut tidak ingin mengenalku lebih jauh terlebih dulu sebelum menyimpulkan? Mengapa beliau menuduh ini dan itu tentang imanku? Bukankah seharusnya orang Kristen saling mendukung dalam Tuhan? Bukankah seharusnya beliau bersukacita ketika ada satu orang anak yang berbalik pada Tuhan? Mengapa citra diriku terlihat sangat buruk di mata beliau padahal aku telah berusaha sebaik mungkin?”

Pertanyaan-pertanyaan itu semakin membuatku sedih, dan aku malah jadi iri dengan orang-orang yang sudah Kristen sejak lahir, yang tak perlu mengalami penolakan sepertiku. Aku lelah terus menerus disalah mengerti oleh keluargaku, temanku, dan sahabatku.

Air mataku masih berderai, namun aku berusaha berdoa. “Tuhan, meski rasanya sakit, tolong sembuhkan hatiku.”

Aku tahu benar bahwa mengikut Kristus tidaklah mudah dan pada hakikatnya manusia memang selalu mengecewakan karena manusia telah jatuh ke dalam dosa. Ketika manusia dapat saling mengasihi, itu terjadi karena anugerah Allah dan kasih-Nya yang memampukan. Aku pun tahu bahwa sebagai pengikut Kristus, sudah semestinya kita saling mengasihi dan memaafkan. Namun, nyatanya hal inilah yang sangat sulit kulakukan saat itu. Semuanya terasa seperti teori belaka. Mungkin pada saat itu, aku belum mau membuka hatiku untuk memaafkan.

Di tengah kebinganku, aku teringat firman Tuhan yang pernah kudengar dari Yakobus 1:19-27. Yakobus mengajar kita untuk cepat mendengar namun lambat berkata-kata dan tidak cepat marah. Dalam hal ini, bukan berarti kita tidak boleh marah, tapi ketika kita sadar bahwa kita dalam keadaan hati yang tidak baik, kita harus menguji apakah hal yang kita rasakan merupakan sesuatu yang benar. Bisa jadi, apa yang kita rasakan adalah sesuatu yang wajar dan diperbolehkan, bisa juga tidak. Bahkan, bisa jadi pula kondisi tersebut muncul karena berhala tersembunyi yang masih tersimpan dalam diri kita.
Lantas, bagaimana mengujinya?

Yakobus mengajak kita untuk bercermin kepada hukum yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Mungkin saja selama ini kita sudah sering bercermin dan sudah tahu bagian mana dalam diri kita yang perlu diperbaiki. Namun, kita sering lupa untuk memperbaiki bagian-bagian tersebut. Kita cenderung mengingat hal-hal yang dianggap penting seperti: nomor telepon darurat, tanggal ulang tahun, dan sebagainya. Ketika kita melupakan sesuatu, bisa jadi hal tersebut kita anggap kurang penting. Begitu juga dengan hukum Allah. Mungkin kita tidak menganggap penting hukum Allah hingga kita lupa menaatinya. Di ayat 25 dituliskan bahwa hukum Allah adalah hukum yang sempurna dan memerdekakan. Setiap orang yang menaatinya akan berbahagia. Mungkin selama ini kita kurang percaya bahwa hukum Allah adalah hukum yang sempurna dan memerdekakan, sehingga kita cenderung menuruti hukum yang dibuat oleh budaya manusia atau pemikiran kita sendiri.

Ketika aku bercermin kepada hukum Allah, aku mendapati ada berhala dalam diriku, yaitu menginginkan kasih dan pengakuan dari orang lain. Kadang aku masih menggantungkan identitasku kepada manusia, bukan kepada Tuhan. Aku merasa orang lain akan lebih mengasihiku ketika aku bersikap baik pada mereka, sehingga ketika sikap baikku dibalas dengan hal buruk, aku kecewa. Padahal aku tahu betul bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Allah dan sesama. Sudah seharusnya aku tetap mengashi orang yang berlaku buruk padaku. Namun, mengasihi mereka rasanya teramat sulit karena saat itu aku belum benar-benar percaya bahwa hukum Allah adalah hukum yang memerdekakan.

Malam itu, aku benar-benar berdoa dan memohon pada Tuhan supaya aku dapat mengampuni orang yang telah menyakiti hatiku. “Tuhan, aku tidak bisa, tolong aku.” Seketika itu air mataku terhenti, saat aku teringat akan salib-Nya. Di tengah penderitaan-Nya pun, Yesus tetap mengasihi orang-orang yang menganiayanya. Bukannya menyalahkan Bapa atas keadaan-Nya saat itu, Yesus malah mendoakan orang-orang yang menganiaya-Nya.

Jika Tuhan telah menujukkan padaku untuk mengasihi dan mendoakan, mengapa aku tidak bisa melakukannya? Pantaskah aku untuk tidak mengampuni orang yang melakukan kesalahan kecil padaku jika Tuhan saja rela berkorban bagi dosa-dosaku yang sangat hina?

Aku memohon ampun pada Tuhan dan Dia memulihkan hatiku. Aku belajar menerima keadaan, mengampuni, serta mendoakan. Dan, memang benar bahwa hukum Allah adalah hukum yang memerdekakan. Aku merasakan kelegaan, dan aku pun dapat kembali melanjutkan aktivitasku di keesokan harinya dengan sukacita, persis seperti apa yang dituliskan Yakobus.

Mengasihi adalah pekerjaan yang sulit dilakukan, terlebih jika orang yang semestinya kita kasihi tidak memperlakukan kita dengan baik. Namun, mari terus berusaha menaati Tuhan dan hukum-Nya yang sempurna dan memerdekakan. Teruslah mengasihi bagaimana pun keadaannya, karena Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita.

*bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Yesus Sayang Semua, Aku Masih Berusaha, Kamu?

Yesus menyatakan pentingnya hidup kudus, mengampuni dan juga mengasihi musuh kita.

Mudahkah melakukan itu semua?

Sepanjang sejarah kekristenan,dari masa lalu sampai masa kini, meneladani teladan kasih Yesus bukanlah hal mudah.

Allah Bekerja dalam Kehilangan Kita

Oleh Daniel Alexander Oktavianus, Bekasi

Tidak ada orang yang ingin merasakan kehilangan. Bahkan, banyak yang berpikir bahwa kehilangan akan menghasilkan rasa sakit dan tidak perlulah menjadi bagian hidup manusia. Namun, tidak bisa kita pungkiri, semua orang pasti akan merasakan kehilangan.

Aku pun pernah kehilangan, dan yang terbaru terjadi dua bulan lalu. Aku kehilangan bapakku di saat aku sebagai anak tertua tidak bisa melakukan apa-apa untuk keluargaku.

Singkat cerita, bapak tidak tinggal bersama kami karena beliau dan mama bertengkar sejak lama, bahkan hampir bercerai hingga akhirnya berpisah rumah cukup jauh. Kami tinggal di Bekasi sementara bapak tinggal bersama saudaranya di Siantar, Sumatera Utara.

Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menyatukan mereka kembali. Mereka berdua sudah terlanjur terlalu membenci. Aku hanya bisa mendoakan mereka, karena setiap usahaku untuk menyatukan mereka, selalu gagal.

Lalu, ketika bapak dalam kondisi sakit parah, aku pun terbang ke Siantar, merawatnya sampai bapak meninggal di sebelahku. Yang aku pikirkan saat bapak pergi hanya satu, “Aku hanya orang yang gagal, yang gak bisa menyatukan keluarga.” Rasa kehilangan bercampur dengan perasaan gagal. Beberapa jam aku merenung, dan yang ada hanyalah perasaan terintimidasi.

Sampai pada akhirnya, ada satu kalimat terlintas dalam pikiranku, “Mungkin Tuhan ingin ini terjadi agar ada pengampunan dalam keluarga.”

Kalimat inilah yang membebaskanku dari perasaan bersalahku.

Bagaimana bisa?

Semenjak hari itu, sampai sekarang, aku melihat sendiri bagaimana peristiwa dukacita itu menjadi momen pemulihan bagi keluargaku. Mama membuka pintu hatinya dan mengampuni bapak, bahkan malah semakin merindukan kehadran bapak. Pengampunan turun atas keluarga kami.

Dukacita dan kehilangan, perisitwa yang agaknya kelam, namun Tuhan pakai untuk mendatangkan kebaikan. Dari kejadian ini, aku samkin yakin satu hal, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28).

Kadang, kita sering melihat momen hidup yang tidak mengenakkan sebagai sebuah hal yang harus dihindari.

Namun, kenyataannya, tidaklah selalu demikian.

Kita diizinkan tidak jadian dengan wanita yang kita suka bukan karena Tuhan tidak ingin kita senang, tapi karena Tuhan tidak ingin kita bersedih karena salah pilih orang.

Kita diizinkan gagal masuk sekolah yang kita inginkan, bukan karena Tuhan tidak ingin kita masuk ke sekolah yang terbaik, tapi karena mungkin Tuhan ingin mempertemukan kita dengan orang yang bisa mengubah atau menolong kita di sekolah lain.

Tuhan mengizinkan orang tua kita berpulang lebih dahulu kepada-Nya bukan karena Tuhan ingin kita kesempian, tapi Dia ingin kita bergantung kepada-Nya.

Segala sesuatu yang Tuhan lakukan senantiasa untuk kebaikan kita. Bahkan, sekalipun hal itu buruk di mata kita, Tuhan selalu menyajikan kebaikan di dalamnya.

Yohanes 3:16 berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita dari kebinasaan dan membawa kita ke hidup kekal, Tuhan sendiri pun merasakan kehilangan. Bapa di surga kehilangan Anak-Nya yang tunggal demi membawa keselamatan bagi kita semua.

Kehilangan tidaklah selalu buruk. Dikecewakan tidaklah selalu buruk. Disakiti tidaklah selalu buruk. Yang membuat itu semua buruk adalah respons kita yang menolak untuk menerima peristiwa tersebut dan kita enggan meletakkan kepercayaan kita kepada Tuhan.

Namun, menerima kehilangan dan beragam peristiwa buruk bukanlah proses yang mudah. Bisa jadi itu adalah proses bertahun-tahun yang melibatkan kemelut emosi dan derai air mata. Kiranya kita tidak tawar hati dan sama-sama berkenan untuk belajar bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Selalu ada maksud Tuhan dalam setiap momen hidup kita, bahkan dalam kehilangan kita sekalipun.

Baca Juga:

Kini dan Nanti, Penyertaan-Nya Tetap Ada

Kegagalan yang terjadi bukan selalu berarti Tuhant idak merestui rencana kita. Izinkanlah diri kita untuk percaya akan kebaikan dan penyertaan Tuhan meskipun lewat hal pahit sekalipun.

Memandang Salib Yesus, Aku Belajar Mengampuni

Oleh Veronica*, Jakarta

Dalam kehidupan orang percaya, tiap kita punya pergumulan yang berbeda-beda. Ada yang bergumul dengan dosa seksual, masalah keluarga, keuangan, dan lain-lain. Aku sendiri bergumul dengan proses memaafkan, yang awalnya begitu sulit kulakukan, tetapi puji Tuhan aku dimampukan-Nya untuk melakukannya.

Beginilah kisahku.

Aku melayani di sekolah Minggu di gerejaku. Namun, studi S-2 dan bekerja penuh waktu (pukul 8-5 sore) membuat aku kewalahan mengatur jadwalku. Belum lagi untuk menyiapkan sekolah Minggu aku membutuhkan waktu yang cukup banyak: mulai dari kelas persiapan sebulan sekali, kunjungan ke anak-anak pada periode tertentu, games, pemberian hadiah, juga persiapan lainnya untuk acara besar seperti Paskah dan Natal. Itu belum ditambah dengan persiapan membuat cerita tentang firman Tuhan dan membuat aktivitas lanjutannya. Kalau aku mendapat tugas sebagai pemimpin pujian di minggu itu, persiapannya akan lebih banyak lagi.

Suatu ketika, akan diselenggarakan acara tahunan sekolah Minggu. Kelas kecil sampai besar akan digabung untuk bermain games. Untuk bisa mengikuti games ini, tiap anak harus mengumpulkan kupon dalam satu tahun. Banyak yang harus disiapkan, mulai dari jenis games yang akan diadakan sampai hadiah apa yang harus disediakan. Pula kupon yang harus didesain untuk diberikan ke anak-anak dan guru-guru lain. Singkat cerita, persiapannya akan cukup rumit.

Aku pun ditunjuk untuk menjadi ketua. Aku mengelak. Setiap hari Senin sampai Jumat, aku bekerja di kantor pukul 8 pagi sampai 5 sore dan sorenya aku kuliah pukul setengah 7 malam hingga pulang jam 21:30 dari kampus, belum ditambah dengan kemacetan di jalan raya yang menyita waktu. Dengan jadwalku yang sangat padat itu aku tentu tidak akan mampu mengurusi setiap detail persiapan acara. Hari Sabtu kugunakan untuk mengerjakan tugas kuliah dan menyiapkan aktivitas sekolah Minggu. Tetapi, tetap saja aku yang ditunjuk untuk menjadi ketua.

Setiap Minggu, aku ditagih progress yang sudah dibuat. Aku benar-benar kewalahan. Hampir tiap hari, sepulang kuliah aku menyiapkan benda-benda yang perlu dibuat dan baru selesai hampir jam 1 pagi. Aku lelah dan menangis, mengapa beban ini dilimpahkan kepadaku. Aku berkata pada Tuhan kalau aku rasanya tidak sanggup, tapi aku memohon kekuatan dari-Nya.

Ketika rapat persiapan acara berlangsung, ketua sekolah Minggu tidak puas dengan apa yang kusiapkan. Dia berkata kalau aku tidak prepare dan menyindirku atas proses yang lambat. Katanya, aku belum memiliki anak tetapi kok tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Kucoba jelaskan tentang padatnya jadwalku dan aku telah melakukan yang terbaik. Tapi, tetap saja, kurasa rekan-rekanku di panitia itu pun menyalahkanku. Aku merasa terpukul.

Tapi, aku bersyukur karena saat itu ada hamba Tuhan yang menenangkanku. Dia menolongku untuk menyiapkan dan merapikan apa yang perlu kubuat.

Singkat cerita, acara berlangsung. Puji Tuhan bisa terselenggara dengan baik meskipun ada kekurangan di sana sininya. Selepas acara ini selesai, aku pun bergumul untuk mengampuni.

“Jangan menyimpan kesalahan orang dalam hati,” agaknya kata-kata ini mudah diucapkan tapi sulit dipraktikkan.

Aku berdoa, meminta kekuatan daripada-Nya untuk memaafkan dan tidak menyimpan hal-hal yang membuat sakit hati. Secara manusia, kurasa aku tidak bisa dan sulit sekali untuk tidak sakit hati. Tapi, Tuhan memberiku hikmat melalui Matius 5:43-47:

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?”

Aku diingatkan sekaligus ditegur, bahwa sebagai manusia berdosa, aku tidak boleh menghakimi orang lain. Aku belajar untuk tidak menyimpan kesalahan orang lain dalam hatiku, dan menyerahkan hidupku ke tangan Tuhan. Pun aku berdoa meminta kekuatan dari Tuhan supaya aku diberikan hati seperti hati Yesus yang mengampuni orang-orang yang menyalibkan Dia.

Untuk bisa mengampuni adalah proses yang cukup panjang. Aku tidak ingat berapa lama persisnya. Tapi, sejak aku berdoa memohon kekuatan untuk mengampuni, aku diteguhkan bahwa pelayananku adalah untuk Tuhan, bukan manusia. Mentor rohaniku juga memberitahuku bahwa pertanggungjawaban kita kelak adalah pada Tuhan, dalam hal apapun di setiap aspek kehidupan kita. Ketika aku bertemu dengan mereka yang telah menyakitiku, aku berusaha tidak lagi mengingat-ngingat keburukannya. Aku belajar untuk menumbuhkan dan menunjukkan kasihku dengan cara yang sederhana, menyapa dan senyum pada mereka.

Melayani di gereja bukan berarti akan terbebas dari konflik, karena pada dasarnya kita semua adalah manusia berdosa. Alih-alih menghakimi, aku harus melihat kepada pengorbanan Yesus, Dia mau mengampuniku meskipun sesungguhnya aku tidak pantas mendapatkannya.

Kawan-kawan, mungkin ada di antara kalian ang bergumul untuk mengampuni orang lain. Siapapun itu, entah orang terdekat, atau mungkin orang yang jauh, marilah kita sama-sama belajar menyerahkan apa yang kita rasakan kepada Tuhan. Mintalah Tuhan memperbaharui hati kita, supaya semakin hari kita semakin dibentuk-Nya. Meski secara manusia rasanya sangat sulit, tetapi kekuatan yang melampaui akal pikiran dan hikmat manusia diberikan Tuhan bagi anak-anak-Nya yang mau berserah dan mengandalkan Dia dalam segala hal.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Andrew Hui: Usiaku 32 Tahun dan Aku Menanti Ajalku

Di usia 32 tahun, Andrew hanya memiliki waktu dua hingga tiga bulan untuk hidup. “Aku mau mendorong orang-orang untuk percaya kepada Tuhan di momen-momen tergelap hidup mereka,” ucap Andrew.