Posts

20 Tahun Menanti Jawaban Doa

Oleh Raganata Bramantyo

Saat aku masih berusia 9 tahunan, guru-guru sekolah Minggu di gerejaku selalu menasihatiku begini, “Doain papah terus ya, jangan nyerah.”

Di usiaku yang masih kecil dengan pikiran yang belum terbuka, aku menganggap sumber permasalahan dan keributan dalam keluargaku adalah sosok papaku. Setiap hari dia kerjanya marah-marah, memukuli mamaku, mengumpat kasar, berjudi, juga selingkuh dengan wanita lain. Saking seringnya aku melihat keburukan, aku hampir tak bisa melihat sisi baiknya, padahal ada momen-momen ketika papaku bersikap begitu manis dan baik.

Nasihat untuk mendoakan papa tak pernah kubantah. Setiap hari, sejak ingatanku mulai tumbuh aku selalu berdoa untuknya. Tapi, aku sendiri tak terlalu paham detail doanya. Perubahan seperti apa yang aku dambakan pada papa? Aku cuma ingin papaku seperti papa-papa lainnya, sosok papa yang tak cuma memberi nafkah keluarga, tapi juga memberi curahan kasih sayang dan bersikap lemah lembut.

Tahun demi tahun, aku beranjak menjadi remaja hingga dewasa dan mapan bekerja, tetapi perubahan yang kudambakan itu malah semakin jauh terwujud. Di tahun 2014 papaku akhirnya menikahi wanita lain dan merahasiakannya dariku, juga dari mamaku yang relasi dengannya sudah amat renggang tapi tak pernah secara resmi bercerai.

Memberi apa yang tak dimiliki

Kekalutan keluarga itu mendorongku untuk pergi menjauh. Selepas SMA, aku pergi merantau ke kota lain, tetapi di antara jarak jauh yang membentang itu Tuhan perlahan menumbuhkan benih-benih rekonsiliasi.

Aku masih tetap berdoa untuk papaku, memohon hal yang sama agar dia berubah, hingga suatu ketika aku mendapat kesempatan untuk pergi ke sebuah pulau kecil di Sumatra, tempat kelahiran papaku. Di sana, aku mengobrol dengan banyak kerabat dan mendapati cerita akan kelamnya masa lalu papaku. Cerita-cerita itu menohokku. Jika papaku sejak lahir berjibaku dengan kerasnya hidup, tak mengenal kasih Tuhan, dan tak pernah menerima kasih sayang berupa kata-kata manis dan sentuhan lembut, bagaimana dia dapat memberikannya buatku? Toh kita tak mungkin memberikan sesuatu yang tak kita punya.

Sejak saat itu, tumbuhlah sebuah pemahaman baru dalam hatiku akan papaku. Aku mengubah isi doaku. Bukan lagi meminta agar Tuhan mengubah papaku, tetapi aku memohon agar Tuhan mengubah hatiku untuk bisa memahami dan menerima perangai serta pribadi papaku. Doa itu kulanjutkan dengan tindakan meminta maaf. Melalui pesan SMS, aku tanya apa kabarnya dan kumintakan maaf. Pesan itu tak dijawab hangat. Mungkin dia gengsi. Tetapi, setahun dan dua tahun setelahnya, relasi antara ayah dan anak yang semula amat dingin dan kaku perlahan berubah. Setelah aku lulus dan kerja, aku sering pulang. Dalam setiap pulangku, papaku berkenan menjemputku dan setiap pertemuan jadi terasa akrab meskipun aku sendiri tak banyak tahu tentang kehidupan papaku sebenarnya, tentang di mana rumah barunya, siapa gerangan istri keduanya, bagaimana usaha dia, dan sebagainya. Yang kutahu dari cerita yang disampaikannya dengan singkat dan tertutup adalah dia mencoba membangun kehidupannya dengan iman dan lingkungan yang baru, bukan lagi iman Kristen. Aku mencoba menghormati keputusannya dengan tidak banyak melakukan interogasi.

Keakraban di ujung nafas

Meskipun aku merasa sudah cukup dekat dengan papaku, tetapi hatiku tetap merasa tidak puas. Dalam doaku kutambah lagi permohonan agar aku bisa mengenalnya lebih erat dan membawa papaku kembali pada Kristus.

Pada akhir Maret 2022, jantungku serasa berhenti ketika aku mendapat kabar bahwa papaku mengalami kecelakaan. Dia jatuh ke sungai saat berjalan kaki. Bonggol sendi antara paha dan panggulnya patah, namun di awal-awal kejadian dia menolak untuk dioperasi. Setelah dibiarkan tanpa pengobatan medis selama enam hari, kondisi fisik papaku semakin menurun hingga dia pun nyaris kehilangan kesadaran dan masuk ICU.

Mendapati kabar tragedi ini aku segera pulang menuju kota kelahiranku tengah malam. Saat paginya aku tiba di rumah sakit, betapa kaget aku melihat sosok wanita lain yang menjadi ibu tiriku. Mengetahui kalau aku pulang dan menunggui di rumah sakit, mama kandungku menentangku. Pikirnya, biarlah papaku dan keluarga barunya yang mengurusi semuanya, jangan aku.

“Mah, aku paham maksud hati mama bahwa mama tidak ingin aku direpotkan… tapi, aku mau merawat papaku. Bagiku gak ada istilah mantan anak dan bapak,” kutenangkan mamaku dengan argumen itu. Lalu tambahku, “Lagian, mama juga pasti pengen kan kalau papa bisa kenal Tuhan Yesus lagi? Kalau iya, siapa dong yang bisa kenalin Yesus ke papa kalau bukan aku, anaknya?”

Tiga hari pasca dirawat di ICU, papaku berhasil melewati masa kritisnya. Jam satu dini hari, bersama seorang suster kudorong ranjangnya menuju bangsal perawatan biasa. Lega hatiku, karena maut tak jadi menjemput. Hari-hari setelahnya operasi dilakukan dan keadaan papaku pun semakin baik. Selama dua belas hari di RS, aku benar-benar mengalami keakraban antara ayah dan anak yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku menyanyi bersamanya, mendoakannya, menyuapinya, bercanda, hingga membersihkan kotorannya.

Di malam kesekian, saat kesadaran papaku sedang prima, kutanya begini: “Pah, papa percaya gak kalau Tuhan Yesus menuntun dan memberkati langkah kita?”

“Iya, nak, papa percaya semua ini karena Tuhan baik,” jawabnya sambil memegang pundakku.

“Papa mau gak kembali lagi beriman sama Tuhan Yesus?”

Tak kuduga, jawaban papaku penuh semangat. “Iya! Papa mau beriman serius sama Yesus.”

Malam itu, kutuntun papaku dalam doa untuk mendeklarasikan iman percayanya. Papaku pun bernazar bahwa setelah sembuh dia akan menanggalkan cara hidupnya yang lama dan hidup serius bagi Tuhan.

Sukacitaku membuncah. Di hari ke-12, papaku akhirnya diperbolehkan pulang dan aku pun kembali ke kota perantauanku. Namun, sukacita itu tak berlangsung lama. Tak sampai 12 jam, papaku kembali masuk rumah sakit dengan kendala sulit buang air dan sesak nafas. Awalnya kupikir tidak ada yang serius, tetapi kenyataan berkata lain. Aku kembali pulang dan menemaninya di rumah sakit, sementara keadaannya semakin memburuk.

Hari ke-13 dan seterusnya, terjadi pendarahan hebat yang sungguh menyiksa papaku. Dalam sehari, puluhan kali darah segar mengalir dari anusnya. Dokter mendiagnosis ini sebagai kanker pada usus, namun betapa leganya kami setelah dilakukan endoskopi ternyata tak ditemukan adanya kanker.

“Ini mah disentri aja karena ususnya lecet,” ucapan dokter ini melegakanku.

Antibiotik diberikan dan selang tiga hari tak ada lagi pendarahan. Tapi… di hari ke 27 perawatan papaku di RS, pendarahan yang sempat terhenti itu terjadi lagi, malah lebih masif. Darah encer dan segar tak bisa berhenti mengalir. Sambil terisak, aku berlari ke ruangan suster dan meminta pertolongan segera. Dokter jaga melarikan papaku ke ICU dan sebelum ranjangnya dipindah, dia merintih kesakitan.

“Saya gak kuat lagi, gak kuat lagi…” ucapan ini menggetarkan hatiku. Papaku berulang kali menegaskan bahwa penyakit yang tak jelas ini begitu berat untuk ditanggungnya. Maka, meskipun aku sangat ingin melanjutkan kisah kasihku bersamanya, aku belajar untuk menerima kemungkinan melepasnya.

“Pah, jika memang sakit ini terlalu berat untuk dilalui dan papa mau berpulang, aku menerima keputusan ini. Di dalam Kristus, papa telah diampuni dan beroleh keselamatan sejati,” kubisikkan ucapan ini di telinga papaku sesaat sebelum dia koma.

Dua puluh empat jam kemudian menjadi pertarungan antara hidup dan mati. Setelah papaku dimasukkan ke ICU, kesadarannya hilang total. Di dalam tenggorokannya tertanam ventilator. Di lehernya tertusuk jarum infus. Kedua tangannya diikat. Yang bisa kulihat hanyalah denyut jantungnya pada monitor. Operasi pun dilakukan. Hasilnya sudah bisa ditebak: papaku tak mampu diselamatkan. Pada ususnya terjadi autoimun yang mengakibatkan seluruh dinding usus hancur, tak lagi bisa diselamatkan. Jikalaupun ada mukjizat untuk hidup, akan sangat sulit bagi papaku hidup tanpa usus besar.

Aku, jam tiga pagi, sendirian di ruangan ICU menerima kabar itu dengan kaki bergetar. Air mataku berderai. “Tuhan, mengapa secepat ini Engkau panggil papaku? Tidakkah aku diberikan kesempatan untuk mengasihinya lebih lagi di usianya yang enam dekade pun belum?”

Isakanku tak berjawab. Ia memantul di antara dinding-dinding rumah sakit yang dingin. Jelang sore hari, akhirnya nafas papaku pun terhenti sepenuhnya, dengan aku terduduk sayu di sampingnya, memegangi tangannya sembari mulutku tak henti-hentinya menyanyikan ratusan kidung pujian.

Sedih dan hancur hatiku. Aku bingung memaknai cara kerja Tuhan, tetapi ketika kantung air mataku mulai mengering, kurasakan ketenangan di jiwaku. Betapa 29 hari di rumah sakit ini Tuhan menjawab penantian doaku selama 20 tahun. Aku ingin keakraban, diberinya lebih dari sekadar akrab. Diberi-Nya rahmat yang tak berkesudahan, yang mengikat aku dan papaku dengan ikatan kasih yang tak terputuskan—kasih dari Kristus, Sang Ilahi yang telah mati bagi setiap orang berdosa. Sepanjang hari-hari ke belakang, terkhusus selama masa perawatan papaku, Tuhan telah menunjukkan jejak kasih-Nya, sekalipun itu tak menjawab keinginanku tetapi selalu mencukupi kebutuhanku.

Jika akhirnya papaku berpulang dalam keadaan telah memegang teguh imannya pada Kristus, bukankah itu sebuah kemenangan? Jika aku sebagai anak bisa mendapat kesempatan untuk senantiasa hadir di sisinya sampai ujung nafasnya, bukankah itu sebuah momen yang terlampau mahal? Jika segala kebutuhan finansial yang jumlahnya luar biasa besar ini bisa tercukupi dengan uluran tangan dari banyak sekali orang, bukankah itu bukti bahwa aku tidak sendirian?

Di hadapan peti jenazah papaku, kumenangis keras. Bukan sebagai tangisan kecewa, tetapi tangisan syukur betapa Tuhan menjawab doaku dan memulihkan papaku dengan pemulihan yang sejati.

Meskipun jawaban doa itu tidak terwujud pada tempat yang kudambakan, tetapi atas kasih setia dan rahmat-Nya, diberikan-Nya sesuatu yang jauh lebih baik dari harapanku. Jika aku sebagai manusia mendambakan perubah sikap, Tuhan Sang Ilahi dalam kedaulatan-Nya tak hanya mengubahkan sikap papaku menjadi lembut, tetapi juga meneguhkan jiwa dan rohnya untuk beroleh keselamatan kekal, tinggal damai bahagia dalam rumah Bapa Surgawi, pada sebuah tempat dan keadaan yang penuh damai sejahtera di mana tak akan ada lagi kesakitan, ratap, dan kertak gigi (Wahyu 21:4).

Hari ini, papaku telah menang atas segala sakit dan deritanya.

Cara Tuhan mengubah pandanganku adalah salah satu cara-Nya juga mengasihiku.

Terpujilah Tuhan, kini dan sepanjang segala masa.

“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8).

Kulihat Betapa Baiknya Tuhan Melalui Sakitnya Papaku

Oleh Agustinus Ryanto

Tahun 2022 tak pernah kubayangkan akan semengerikan ini. Setelah serangkaian kejadian yang memahitkan hati, di akhir Maret kudapati telepon mendadak di tengah malam yang mengabariku kalau papaku yang bertubuh prima tanpa ada riwayat sakit apa pun kini tergolek tak berdaya, di batas antara hidup dan maut. Dia dilarikan ke ICU setelah kecelakaan tiga hari sebelumnya. Nyawanya ditopang oleh deru ventilator dan alat monitor jantung.

Telepon itu kuterima jam sebelas malam. Sudah tak ada lagi kendaraan antarkota yang bisa membawaku pulang ke. Sembari menunggu bus pertama yang akan berangkat jam lima subuh, pikiranku kacau. Tak menyangka apabila peristiwa yang musababnya terdengar konyol bisa menghancurkan hidup papaku. Kisah nahas ini bermula saat papaku beserta istri dan anaknya yang lain tengah berjalan-jalan di kompleks perumahan. Karena melihat ular, dia melompat dan terperosok ke selokan sedalam kira-kira tiga meter. Bonggol sendi yang menghubungkan tulang paha dan pinggangnya patah. Setelah serangkaian pengobatan non-medis yang dilakukan, keadaannya terus memburuk sehingga dia pun dilarikan ke ICU. Patah tulang itu turut membangkitkan penyakit lain dalam tubuhnya. Dia didiagnosis Pneumonia dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), komplikasi pada paru-paru yang diakibatkan paparan asap rokok dan polusi, juga infeksi pada ususnya.

Dua belas malam kuhabiskan menemaninya di tepi ranjang. Banyak orang datang memberiku penghiburan dan dukungan, tetapi itu tak menghilangkan rasa heran dalam benakku.

Papaku bukanlah orang yang dekat dengan Tuhan. Di balik tubuh tegapnya, dia memang seorang perokok berat yang bisa menghabiskan tiga bungkus rokok dalam sehari. Keluarga kami pun retak setelah keputusan papa untuk meninggalkan kami dan membangun hidup barunya bersama orang lain. Beberapa orang yang dulu pernah disakiti olehnya menyebut bahwa sakit ini adalah karma atas tindakan papa, tetapi hatiku menolak konsep itu.

Sungguhkah Tuhan menghukum papa dengan intensi untuk membalaskan dendam?

Cara pemulihan yang tak terbayangkan

Hingga hari ini, papaku masih tergolek lemah tak berdaya. Kondisi fisiknya yang telah membaik, kembali memburuk. Namun, pengalamanku selama 12 hari berada di sisinya memberiku sebuah pemahaman baru tentang apa itu pemulihan yang sejati, yang datangnya dari Sang Ilahi.

Dunia memaknai konsep pulih berdasarkan ekspektasi manusia. Yang rusak menjadi utuh. Yang hilang menjadi ditemukan. Yang sakit menjadi sembuh. Pemulihan yang setiap kita harapkan adalah sebuah keadaan yang secara kasat mata berbalik 180 derajat. Tetapi, tak selalu pemulihan itu memberikan hasil yang demikian. Alkitab mencatat akan kisah Lazarus yang sakit hingga ia pun meninggal.

Kabar sakitnya Lazarus telah disampaikan oleh Maria dan Marta. Mereka berseru, “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” (Yohanes 11:3). Kita bisa menerka bagaimana perasaan kedua wanita tersebut menghadapi saudara mereka yang kesakitan. Mungkin mereka panik, gusar, dan berharap agar mukjizat kesembuhan segera dinyatakan oleh Yesus. Ketika mendengar kabar itu, Yesus pun merespons. Kata-Nya, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (ayat 4). Alih-alih segera berangkat, Yesus malah sengaja tinggal dua hari lebih lama, dan ketika Dia tiba, Lazarus telah terbaring empat hari lamanya dalam kubur. Maria dan Marta mengungkapkan rasa sedih dan kecewanya pada Yesus dengan berkata, “Tuhan sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (ayat 21&32).

Yesus mengerti dukacita yang Maria dan Marta alami sehingga Dia pun turut menangis (ayat 35). Syahdan, mukjizat pun terjadi. Oleh kuasa-Nya, Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Kita tidak tahu bagaimana respons Maria dan Marta terhadap kebangkitan saudaranya itu sebab Alkitab tidak mencatat lebih detail. Tetapi, kebenaran yang kupetik dari kisah Lazarus ini begitu menguatkan hatiku.

Betapa Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri yang tak mampu kita jelaskan dengan jalan pikiran kita. Pemulihan yang sejati, yang datang dari Tuhan bukanlah membalikkan keadaan agar sesuai dengan harapan dan kehendak kita, tetapi agar Allah dimuliakan dan kemuliaan-Nya itulah yang akan membawa orang-orang percaya kepada Dia yang diutus Bapa (ayat 42). Ada kalanya cara pemulihan-Nya membuat kita tak percaya. Mungkin Tuhan mengizinkan sakit berat, kehilangan, atau dukacita terjadi, tetapi jika itu adalah kehendak-Nya, maka biarlah itu terjadi, sebab kita tahu bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:16) dan segala jalan-jalan-Nya sempurna (Mzm 18:31). Bukan untuk membawa kecelakaan bagi kita, tetapi untuk mendatangkan kebaikan. Bukan sebagai karma dan hukuman agar kita menderita tak berdaya, tetapi sebagai dekapan kasih-Nya agar kita tahu bahwa di tengah dunia yang telah jatuh dalam dosa, segala hal buruk bisa menimpa, tetapi orang yang percaya dan dikasihi-Nya dipelihara-Nya selalu dalam segala musim kehidupan.

Di tengah malam, kala kuusap rambut papaku, kuajak dia berdoa dan bernyanyi. Dengan suara lemah dan tetesan air mata, dia mengikuti ucapan doaku. Dia yang menghilang jauh dari keluarga dan Tuhan Yesus, kembali mengucap lewat mulutnya bahwa Kristus adalah Juruselamat dan dia pun bersemangat untuk pulih, untuk kelak dalam tubuhnya memuliakan Tuhan.

Hingga hari ini papaku masih tergolek lemas di rumah sakit. Operasi telah dilakukan, bahkan sudah dibolehkan pulang, tetapi ada penyakit lain yang menggerogoti tubuhnya yang membuatnya kembali lagi dilarikan ke bangsal perawatan, dengan selang oksigen dan sonde yang masuk ke dalam tubuhnya.

Masa-masa ini sungguh tidak mudah, tidak hanya untuk papaku, bahkan untuk aku cerna juga. Rasanya seperti masuk ke dalam terowongan yang gelap dan aku belum bisa melihat cahaya di ujung sana. Namun satu yang aku percaya, apabila Tuhan berkenan memberikan kesembuhan saat ini juga, maka mudah bagi-Nya seperti membalikkan telapak tangan. Namun, apabila Dia mengizinkan papaku melewati proses yang lebih berat dan lama, maka aku percaya tentunya Tuhan punya maksud, dan maksud-Nya selalu baik. Jadilah kehendak-Nya di bumi seperti di surga. Hanya, kumohonkan dalam hati agar dalam segala keadaan, kami tak pernah melepaskan iman percaya kami kepada-Nya. Sebab iman itulah yang menjadikan kami hidup, dan iman itu jugalah yang kelak akan membawa kami menyaksikan kemuliaan-Nya dinyatakan bagi kami maupun semua orang yang percaya kepada-Nya.

Selalu Ada Kesempatan Kedua yang Tuhan Berikan Untukmu

Oleh Edwin Petrus, Medan

Sudah sekian lama aku tidak menginjakkan kaki di bioskop karena pandemi Covid-19. Akhirnya, pada awal Januari 2022, aku kembali memanjakan diri dengan menonton di layar lebar. Aku memilih film “Spider-Man: No Way Home.” Tidak ada alasan lain di balik pilihan ini. Spider-Man memang telah menjadi favoritku sejak Marvel merilis seri pertamanya.

Selama lebih kurang dua setengah jam menyaksikan sang manusia laba-laba beraksi, aku berulang kali memikirkan tentang frasa yang secara terus menerus dicetuskan oleh beberapa pemain: second chance (kesempatan kedua). Spider-Man sangat meyakini kalau semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Pemikiran Spider-Man ini sempat mendapatkan penolakan keras dari rekan-rekannya. Namun, adegan demi adegan terus memperlihatkan segala daya upaya dari Spider-Man yang tidak berhenti memperjuangkan kesempatan kedua kepada tokoh-tokoh yang dianggap tidak layak untuk mendapatkan kesempatan itu sekali lagi. Pada akhirnya, Spider-Man menjadi seorang yang terlupakan oleh publik, termasuk sahabat karibnya, tetapi dia tetap memilih konsekuensi itu demi kesempatan kedua.

Orang-orang sering berkata: “Seandainya saja waktu bisa diputar kembali.” Ya, mereka berharap bahwa dengan memutar kembali waktu, mereka bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat pada masa lalu. Pada kenyataannya, waktu terus bergerak maju dan keinginan untuk kembali ke waktu silam hanyalah angan-angan belaka. Kawan, sadarkah kamu kalau hidup kita sekarang ini adalah “kesempatan kedua” yang dianugerahkan oleh Allah?

Memang benar, kejatuhan manusia ke dalam dosa yang dinarasikan di Kejadian 3 seakan menutup kesempatan kedua. Keputusan dari Adam dan Hawa untuk melawan kehendak Allah telah mengantarkan mereka kepada kematian rohani, yaitu keterpisahan dengan Allah. Namun, Allah selalu membuka tangan-Nya lebar-lebar untuk menawarkan kesempatan kedua kepada kita. Sesungguhnya, kesempatan kedua itu selalu tersedia bagi semua orang.

Allah mengetahui bahwa orang-orang yang gagal ini membutuhkan kesempatan yang kedua. Ia menyodorkan solusi yang berkemenangan bagi ketidakberhasilan manusia. Ia tidak perlu memutar kembali waktu dan menghindarkan manusia untuk jatuh dalam dosa. Di dalam kasih-Nya, kesempatan kedua justru diberikan oleh Allah melalui Anak-Nya, Yesus Kristus. Melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, Allah menawarkan kesempatan kedua kepada semua orang yang mau menerima anugerah keselamatan ini. Di dalam Kristus, semua orang percaya berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, yaitu hidup kekal dengan relasi yang telah dipulihkan bersama-sama dengan Allah untuk selama-lamanya.

Kalau kita sudah memperoleh kesempatan kedua di dalam Kristus, bagaimana seharusnya respons kita terhadap kesempatan kedua itu? Aku mau mengajak kamu untuk memberikan tiga respons yang akan membuat hidupmu dipenuhi dengan damai sejahtera dari Allah.

Menerima kesempatan kedua dari Allah

Kamu pasti mengenal seorang murid Yesus yang bernama Simon Petrus. Mantan nelayan dari Galilea ini adalah pribadi yang memiliki pengaruh yang besar di dalam kelompok murid-murid Yesus. Petrus menjadi satu-satunya murid yang dengan tegas dan yakin mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13, Mrk. 8:29, Luk. 9:20). Petrus tampil beda di tengah kebimbangan dari saudara-saudaranya yang masih bertanya-tanya “Siapakah Yesus?”

Namun, jawaban Petrus yang mengesankan ini berakhir dengan tragedi di mana si pemberani berubah menjadi si pengecut. Di tengah kerumunan orang banyak yang menonton Sang Anak Allah ditangkap dan diolok-olok oleh prajurit Romawi, Petrus justru menyangkal pengenalannya terhadap Mesias sebanyak tiga kali. Petrus yang pernah tampil menonjol, harus menangis dengan penuh penyesalan karena ia gagal mempertahankan pengakuan publiknya terhadap Mesias (Mat. 26:75, Mrk. 14:72, Luk. 22:62).

Kisah kemuridan Petrus tidak berakhir di sini. Pasca kebangkitan, Yesus mendatangi Petrus secara pribadi dan berbicara empat mata dengannya (Yoh. 21). Yesus seakan mengulangi lagi momen pertemuan pertama antara mereka berdua di danau Galilea (bnd. Mat. 4:18-22). Yesus memberikan kesempatan yang kedua kepada Petrus untuk menjalankan tugasnya sebagai penjala manusia (Mat. 4:19). Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15-19). Kedua terminologi ini memang terdengar berbeda, tetapi memiliki makna yang sama. Kesempatan kedua bagi Petrus adalah menjadi saksi Injil bagi seluruh bangsa di dunia dan iapun telah menerima dan mengerjakan kesempatan kedua itu pada sisa hidupnya.

Kawan, kesempatan kedua dari Yesus juga tersedia buat kamu hari ini. Masa lalumu yang kelam bukan persoalan bagi Dia, karena kedatangan-Nya adalah untuk memulihkan hidupmu. Yesus memiliki rencana yang luar biasa dalam hidupmu. Oleh karena itu, Dia mau memberimu kesempatan kedua. Aku sudah menerima kesempatan kedua ini. Yuk, jangan sungkan untuk menerima anugerah Ilahi itu pada hari ini dan jangan sampai kelewatan ya karena kesempatan kedua belum tentu juga datang dua kali ya kawan.

Menghidupi kesempatan kedua pada diri sendiri

Kesempatan kedua akan mengubahkan setiap anak-anak Tuhan menjadi manusia baru di dalam Yesus. Rasul Paulus mengatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Kor. 5:17). Ketika setiap anak Tuhan sudah menerima kesempatan kedua, kita bertanggung jawab untuk menghidupi kesempatan kedua sesuai dengan kehendak Allah.

Hidup sebagai manusia baru di dalam kesempatan kedua adalah hidup yang dipenuhi dengan ucapan syukur. Chuck Colson adalah seorang mantan narapidana yang sudah putus asa dengan keadaan dirinya; belum lagi, anaknya juga terjerat kasus narkoba. Namun, di balik jeruji penjara, ia mengalami pembaruan iman melalui saudara-saudara seiman yang selalu silih berganti menjenguknya dan berdoa baginya siang dan malam. Iman Colson kembali diteguhkan dan ia juga mendapatkan visi baru untuk dapat melayani para narapidana dan keluarga mereka serta memberikan bantuan hukum. Setelah menghabiskan masa tahanannya, ia mendirikan Prison Fellowship (Persekutuan Penjara) pada 1976 dan sampai hari ini, organisasi nirlaba ini masih eksis untuk membawa pengharapan kepada mereka yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu.

Kawan, mungkin kamu seperti aku yang mempunyai kebiasaan untuk menuliskan resolusi di awal tahun. Ya, kita pasti mengidamkan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru. Resolusi-resolusi itu hanya akan berupa tulisan yang mati jika kita tidak pernah menghidupi kesempatan kedua itu. Ketika suara alarm membangunkan kita dari tidur, inilah penanda bahwa hari baru telah dimulai dan saatnya bagi kita untuk kembali menjalani kesempatan kedua. Di dalam tuntunan Roh Kudus, kita dipimpin untuk menghidupi iman kita di dalam Kristus agar hidup kita semakin memuliakan Allah.

Aku pun menyadari kalau sering kali diri kita sendirilah yang justru menjadi penghalang untuk bisa menikmati kesempatan kedua itu. Sejuta alasan menjadi dalih yang terus menghantui dan menghakimi kita. Aku terlalu lemah dan tidak berdaya, aku tidak bisa memaafkan diriku, kesalahanku yang sangat buruk, trauma itu terlalu mendalam buatku, aku menderita luka batin yang amat menggores hatiku, aku itu sampah busuk…. Benar gak kawan?

Namun, bukankah salib Kristus sudah membereskan semua masa lalu kita dan kasih anugerah-Nya lebih besar dari semua ketidaklayakan yang pernah kita bayangkan itu? Yuk, jalani kehidupan dalam kesempatan kedua bersama Yesus dengan penuh antusias! Ingat kawan, kesempatan kedua terkadang tidak datang dua kali. Jadi, mari kita berjuang menghidupi kesempatan kedua seolah-olah itu adalah kesempatan terakhir kita.

Memberi kesempatan kedua bagi orang lain

Kawan, setelah kita memperoleh kesempatan kedua dan menghidupi kesempatan kedua itu, saatnya bagi kita untuk memberi kesempatan kedua kepada orang lain. Siapa sih yang tidak butuh dengan kesempatan kedua?

Markus, sang penulis Injil Markus adalah seorang yang mendapatkan kesempatan kedua dari rekan pelayanannya, Paulus. Kisah Para Rasul 15:35-41 mencatat bahwa Markus menjadi penyebab perselisihan sengit antara Barnabas dan Paulus. Barnabas ingin mengajak Markus lagi dalam perjalanan misi mereka berikutnya, tetapi Paulus menentang hal ini. Markus pernah diajak dalam perjalanan sebelumnya, tetapi dia tidak menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik.

Kesalahan yang pernah dibuat oleh Markus bukan menjadi akhir dari segalanya. Paulus tidak langsung mendaftarhitamkan Markus di dalam tim pelayanannya. Markus kembali mendapatkan kesempatan kedua dari Paulus. Di kemudian hari, Markus dan Paulus bekerja sama lagi bagi pemberitaan Injil. Markus pernah diutus oleh Paulus untuk mewakilinya di dalam mengunjungi jemaat di kota Kolose (Kol. 4:10). Markus pun pernah mendapatkan pujian dari Paulus bahwa pelayanannya adalah penting bagi Paulus (2Tim. 4:11).

Kawan, aku menyadari bahwa memberi kesempatan kedua memang terasa lebih sulit dibandingkan dengan menerima dan menikmati kesempatan kedua itu. Kita sering memandang bahwa kegagalan orang lain lebih besar daripada kesalahan kita. Namun, kemampuan untuk bisa memberi kesempatan kedua menunjukkan kedewasaan rohani kita. Jikalau kita masih sulit memberikan kesempatan kedua itu bagi orang lain, kita bisa berdoa dan meminta Roh Kudus yang melembutkan hati kita untuk melakukan hal itu. Yesus sendiri yang mengajarkan kita untuk bisa mengampuni dosa orang lain sebagaimana kita telah diampuni oleh Bapa di surga (Mat. 6:12). Dia juga pasti rindu untuk memampukan kita melepaskan kesempatan kedua bagi sesama kita.

Damai sejahtera dari Allah baru dapat kita rasakan dengan utuh jika kita sudah menerima kesempatan kedua dari Allah, menghidupi kesempatan kedua pada diri sendiri, dan memberi kesempatan kedua bagi orang lain. Kawan, sudahkah kamu melakukan ketiga hal ini?

Duta Pengampunan di Tengah Budaya Pengenyahan

Oleh Antonius Martono

Bagi mereka yang sering berkelana dalam media sosial, pasti sudah tidak asing dengan fenomena para pelanggar yang mendadak diangkat menjadi seorang duta. Alih-alih mendapatkan sanksi mereka justru diminta berkampanye untuk bidang yang mereka langgar. Biasanya mereka diangkat oleh lembaga masyarakat atau lembaga formal lainnya. Fenomena ini tentu membuat kita garuk kepala kebingungan. Sebab idealnya seorang duta adalah seseorang yang secara konsisten memberi pengaruh positif dan telah menjadi teladan terhadap bidang yang disuarakannya. Sehingga adalah wajar jika kita curiga dan mempertanyakan keefektifitasan peran mereka. Selain itu, menjadikan seorang pelanggar sebagai duta cenderung tidak menimbulkan efek jera kepada pelaku dan calon pelaku.

Secara bersamaan di media sosial sedang berkembang juga budaya pengenyahan atau lebih dikenal dengan istilah cancel culture. Secara singkat, budaya pengenyahan adalah sebuah gagasan untuk “membatalkan” pengaruh orang tersebut di dunia maya ataupun nyata. Sehingga pendapatnya dan dirinya tidak lagi perlu diperhitungkan oleh masyarakat. Budaya ini digunakan sebagai sanksi atas tindak pelanggaran atau sekadar perkataan yang dianggap menyinggung opini populer. Siapapun dapat menjadi target sasaran budaya ini, baik figur publik ataupun orang biasa. Namun, umumnya figur publiklah yang paling merasakan dampaknya. Pembatalan semacam ini akan mempengaruhi banyak aspek si penerimanya. Baik dari segi karir dengan memboikot segala karyanya ataupun kesehatan mental si penerima karena dipermalukan oleh masyarakat.

Tentu itu adalah sebuah sanksi yang berat. Oleh sebab itu wajar jika akhirnya banyak bermunculan video klarifikasi, sebagai sebuah upaya pertanggungjawaban dan permintaan maaf kepada publik. Lantas bukankah sebaiknya mereka yang melanggar “dibatalkan” saja daripada menjadi seorang duta?

Di dalam Alkitab sendiri kita melihat banyak sekali tokoh-tokoh berpengaruh yang melakukan pelanggaran terhadap hukum Tuhan. Baik dari raja, nabi, bahkan sampai murid-murid Yesus sendiri. Dari kisah perzinahan Daud, pelarian Yunus, sampai kepada penyangkalan Petrus, adalah bukti bahwa tidak ada satu manusia pun yang tidak melakukan kesalahan. Oleh karena itu manusia layak untuk “dibatalkan” oleh Tuhan. Namun, Tuhan tidak melakukannya.

Contohnya, perjanjian Tuhan dengan Daud tidak dibatalkan sekalipun Daud harus menerima kematian anaknya sebagai konsekuensi dosanya. Yunus tidak dibiarkan tenggelam di lautan. Dia diselamatkan seekor ikan raksasa atas kehendak Tuhan dan diizinkan untuk melakukan misinya kembali. Petrus pun tidak dimaki Yesus atas tindakanya yang pengecut, justru Yesus mempercayakan kepadanya jemaat untuk digembalakan. Hal-hal tersebut mencerminkan isi hati Tuhan kepada para pelanggar. Dia rela mengampuni, mengasihi, dan memanggil mereka untuk melayani Dia kembali bahkan menjadikan mereka sebagai duta kasih pengampunan-Nya.

Tuhan tidak sedang naif ketika memberikan manusia kesempatan kedua. Dia melakukan hal itu bukan karena isi hati manusia dapat diandalkan. Melainkan, Tuhan memberikan kesempatan kedua karena kesetiaan-Nya. Justru ketika Tuhan memberikan kesempatan kedua, Dia sedang merisikokan hati-Nya untuk disakiti kembali atau misi-Nya untuk diabaikan lagi. Namun, Tuhan tidak memilih seorang duta kasih secara ceroboh. Tuhan tidak meninggalkan mereka sendiri dan membiarkan mereka melakukan kesalahan yang sama. Tuhan mengirimkan Roh-Nya yang kudus ke dalam hati setiap duta-Nya. Roh itu yang akan menginsafkan mereka dari dosa dan memimpin mereka melaksanakan misi Tuhan. Selain itu Tuhan juga memberikan komunitas tubuh Kristus yang bisa menopang mereka di kala susah. Nyatalah bahwa Tuhan yang penuh kasih memang serius memperlengkapi duta perwakilan-Nya.

Lantas bagaimana dengan kita? Kita pun juga tidak berbeda dengan tokoh-tokoh di Alkitab. Kita juga melakukan kesalahan. Meskipun begitu Tuhan tidak membuang kita. Dia mau menerima kita. Dia menunggu kita untuk datang menikmati kasih pengampunan-Nya. Lebih menakjubkannya lagi Dia menjadikan kita duta kasih pengampunan-Nya supaya semakin banyak orang yang dapat menikmati kasih pengampunan-Nya.

Menjadi duta pengampunan Tuhan adalah sebuah anugerah dan tanggung jawab yang besar. Ini berarti kita perlu mewakili hati Tuhan kepada setiap yang bersalah kepada kita. Kita perlu rela mengampuni mereka sekalipun mereka akan berkesempatan menyakiti kita kembali. Kita perlu sabar mendampingi mereka yang berulang kali gagal dalam komitmen. Kita perlu membangun komunitas pemberi kesempatan kedua, karena kita sedang melayani Tuhan pemberi kesempatan kedua, yang siap menandingi budaya pengenyahan di dekat kita. Ini bukan tugas yang mudah tapi, Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan akan memampukan kita.

Pada akhirnya budaya pengenyahan dapat menjadi saran keadilan jika terjadi pelanggaran pada taraf tertentu. Namun, praktiknya banyak disalahgunakan untuk mengintimidasi dan menyakiti hidup orang lain. Pada dua ribu tahun yang lalu, seorang Pribadi tak bercela dibatalkan sepihak oleh sekelompok pendosa. Pribadi itu dituduh telah menista Tuhan dan dijatuhi hukuman mati salib. Pribadi itu bernama Yesus Kristus, Anak Allah. Dia yang tidak bersalah dijadikan bersalah. Dia yang seharusnya layak diterima justru dibatalkan agar kita para pelanggar dapat diterima dan diampuni Tuhan yang kudus.

Sekarang Pribadi yang kudus itu mengajak kita untuk menjadi duta-Nya, Duta pengampunan kasih-Nya agar kasih-Nya semakin terang bersinar dalam dunia gelap ini.

Baca Juga:

3 Pelajaran Berharga Dariku, Seorang Penyintas Covid-19

Iman adalah hal penting dalam hidup orang percaya, namun bukan berarti itu meniadakan tindakan kita untuk mewaspadai supaya tidak terkena Covid-19. Sebab iman tanpa perbuatan adalah mati.

Kasih Yang Melukai

Oleh Jessica Tanoesoedibjo, Jakarta

“Pasti kamu tidak pernah merasakan yang namanya dilukai,” saut seseorang di grup kecil kami pada suatu acara Psychological First Aid Training yang aku hadiri. Aku hanya tersenyum pada Ibu tersebut, dan berkata, “Pasti pernah dong, Bu. Semua orang memiliki pengalamannya masing-masing.” Tanpa ibu itu sadari, pada saat itu juga, persepsinya yang penuh asumsi pun telah menggores hatiku, yang merasa disalahpahami dan dianggap remeh.

Banyak dari kita beranggapan bahwa wajah yang ceria mencerminkan kehidupan yang mudah. Namun, dibalik senyuman terlebar pun, setiap orang punya cerita. Aku berharap setelah membaca ini, kita semua dapat menjadi pribadi yang lebih memiliki empati terhadap orang lain.

Ketika aku merenungkan apa yang dapat aku bagikan tentang pengalaman keterlukaanku, beberapa hal muncul di benakku. Masa-masa patah hati, pengalaman dikhianati, serta perselisihan paham yang pernah dilalui dengan orang-orang yang aku kasihi…namun tidak semuanya perlu diceritakan. Karena tujuanku menulis bukan untuk mendapat belas kasihan, melainkan untuk mengingatkan diriku kembali akan Kasih dan Pengampunan yang telah terlebih dahulu aku terima. Jika aku dituntut untuk mengampuni, sesungguhnya, Tuhan hanya memintaku untuk meneruskan kepada sesama, apa yang telah Ia berikan secara cuma-cuma kepadaku.

Luka yang Memicu Emosi Terdalam

Beberapa waktu lalu, ada suatu kejadian di mana aku mendapati diriku marah besar. Aku sendiri bahkan terkejut, tak mengira emosiku dapat terpancing sedemikian rupa sehingga aku menggebrak meja dan mengangkat suaraku. Pada saat itu, perasaanku bercampur aduk: antara amarah, kekecewaan, kesedihan, dan ketidakpercayaan atas apa yang telah orang tersebut lakukan.

Tanpa menjelaskan dengan detail apa yang orang tersebut perbuat, yang hanya perlu kukatakan adalah orang ini telah mengkhianatiku dan orang yang aku kasihi. Kami telah memberi orang ini kepercayaan yang begitu besar, namun ternyata dibalik raut wajahnya yang polos dan tutur katanya yang penuh sopan santun, ia telah mengkhianati, berbohong, dan membodohi kami selama bertahun-tahun. Dan yang paling aku sesali adalah, ia adalah seseorang yang sering mengutip Firman dan membawa-bawa nama Tuhan dalam percakapan kita. Aku pun selama ini menganggap dan mengasihi orang tersebut sebagai saudara seiman.

Aku mengingat dengan jelas kejadian di malam hari itu, ketika semuanya terungkapkan. Pada awalnya aku masih duduk tenang dan mencoba untuk mendengarkan penjelasannya. Aku pikir, mungkin ada hal yang mendesaknya untuk melakukan hal tersebut. Tetapi, setelah berbagai macam pertanyaan klarifikasi, ia malah bersifat defensif, bahkan menyalahkan keadaan dan orang lain.

Dalam Kemarahan, Berdoa dan Jangan Berdosa

Suatu prinsip yang aku pegang, dan yang kuharapkan Tuhan akan selalu beriku kekuatan dalam menjalankannya, adalah bahwa aku tidak boleh mengutarakan perkataan jahat yang bertujuan melukai orang lain dalam kemarahanku. Lebih baik aku diam sejenak, daripada mengucapkan sesuatu yang akan aku sesali. Firman mengajarkan kita, “hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah,” (Yakobus 1:19).

Tapi apakah artinya sebagai orang Kristen kita tidak boleh marah? Apalagi marah yang besar? Tentu tidak. Karena Yesus sendiri marah, bahkan sampai membalikkan meja-meja dan kursi-kursi para pedagang yang pada berjualan di halaman Bait Allah (Matius 21:12-13). Walaupun Allah memang panjang sabar (Mazmur 103:8), salah satu hal yang dapat kita pelajari dari ayat tersebut adalah bahwa Tuhan tidak mentoleransi dosa. 

Kita memang seharusnya membenci dan marah terhadap dosa—karena sesungguhnya, setiap kejahatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap yang lain, adalah kejahatan terhadap Sang Pencipta sendiri. Orang-orang yang berjualan di halaman Bait Suci bukan hanya sedang merampas orang miskin, melainkan telah mencemarkan dan merampas dari Rumah Tuhan itu sendiri.

Pada saat itu juga, ketika emosi menggebu-gebu dalam diriku, hati kecilku hanya dapat berdoa agar Tuhan juga menolongku dalam kemarahanku itu. Jangan sampai amarahku terhadap dosa orang lain membuatku malah berdosa terhadap Tuhanku sendiri.

Pengampunan Tidak Berarti Membiarkan Dosa

Yang sangat kusesali, setelah konfrontasi, orang tersebut tidak menunjukkan sedikitpun rasa penyesalan atas perbuatannya, bahkan setelah beberapa hari, mencoba untuk melarikan diri dari konsekuensi perbuatannya. Awalnya kami ingin menyelesaikannya dengan begitu saja, namun orang ini malah menunjukkan itikad tidak baik. Setelah berdoa dan bergumul dengan beberapa orang-orang yang aku percayai, kami akhirnya memutuskan untuk bertindak dengan disiplin.

Jujur, hal tersebut sangat menyedihkan bagiku. Karena harapanku adalah agar orang tersebut berpaling dari perbuatannya dan kembali pada Tuhan. Aku tidak ingin melihat orang tersebut harus mengalami yang namanya proses disiplin. Namun, jika aku diamkan dan biarkan perbuatan kejahatannya, yang telah ia lakukan berulang-ulang kali selama bertahun-tahun, berarti aku tidak peduli akan kondisinya di hadapan Tuhan. Sesungguhnya, aku juga memiliki tanggung jawab di hadapan Yang Maha Kudus, untuk menegakkan kebenaran.

Memang, pengampunan tidak bergantung pada penyesalan orang yang telah melukai kita. Sebaliknya, kita harus tetap mengampuni, bahkan jika orang tersebut tidak menyesal. Yesus mengajarkan kita untuk “[mengasihi] musuhmu dan berbuat baiklah kepada orang yang membencimu.” (Lukas 6:27).

Namun, Firman juga mengajarkan bahwa “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,” (Ibrani 12:6), dan kadang memang kita perlu menjalankan disiplin, untuk kebaikan orang lain. Mengampuni tidak berarti kita harus selalu diam dan menjadi orang yang nerimo, namun, mencerminkan kondisi hati kita di hadapan Tuhan yang melihat segalanya. Apakah kita bersenang-senang atas kesukaran yang dialami orang lain sebagai konsekuensi perbuatan mereka yang telah melukai kita? Atau sebaliknya—karena kita mengasihi orang yang melukai kita, kita berberat hati, dan bahkan terluka, dalam menjalankan disiplin tersebut?

Salah satu kisah dalam Alkitab yang memberikan kita pandangan sepintas pada hati Tuhan dalam menjalankan disiplin ada dalam kitab Yunus. Sesungguhnya, cerita Yunus bukan tentang seseorang yang ditelan oleh ikan besar, seperti yang banyak dari kita ketahui, melainkan menkontraskan hati seorang nabi Yunus, dengan hati Tuhan. Di mana seseorang nabi Yunus berberat hati untuk memberitakan Firman Tuhan kepada orang-orang bebal di Niniwe, Tuhan berberat hati untuk menghukum orang-orang yang tidak mengenal-Nya itu. Cerita tentang Yunus yang ditelan oleh sebuah ikan besar hanyalah sebuah gambaran kecil tentang tindakan disiplin yang Tuhan berikan, agar hamba-Nya, yang (ironisnya) juga bebal, dapat kembali pada panggilan-Nya.

Apakah hati kita telah menyerupai Tuhan, bahkan ketika kita menjalankan disiplin? Karena disiplin yang sesungguhnya harus bertujuan untuk merekonsiliasi orang yang telah menyakiti kita, bukan hanya pada diri kita sendiri, tapi juga dengan Bapa kita yang Maha Pengampun.

Kasih Yang Melukai Yang Memberikan Kita Pengampunan

Ketika kita merenungkan cerita Paskah yang kita rayakan di bulan ini, suatu hal yang perlu kita sadari: Tuhan tidak pernah mentoleransi dosa. Tidak ada dosa yang terlalu kecil untuk Tuhan abaikan dan biarkan begitu saja. Harga dosa begitu mahal, sampai Tuhan harus membayarnya dengan darah-Nya sendiri (Ibrani 9:12).

Kebenaran Firman mengajarkan kita bahwa setiap dosa memiliki konsekuensi (Roma 6:23). Namun Yesus sendiri, Sang Anak Allah yang Kudus, dengan sukarela menyerap segala dosa, segala amarah Allah Bapa yang seharusnya tertuju pada kita semua. Di atas Kayu Salib kita melihat “keadilan dan damai sejahtera [berciuman].” (Mazmur 85:10), karena disanalah murka dan kasih Allah berjumpa, merelakan Anak Allah yang tidak bercela, agar kita dapat memperoleh pengampunan dan keselamatan.

Aku yakin semua pasti pernah mengalami yang namanya dilukai. Semua orang memiliki pengalamannya masing-masing. Namun jika kita dituntut untuk mengampuni, sesungguhnya, Tuhan hanya meminta kita untuk meneruskan kepada sesama, apa yang telah Ia berikan secara cuma-cuma kepada kita di atas Kayu Salib, dimana Yesus menyerahkan diri-Nya untuk dilukai oleh ciptaan-Nya. Sekarang, dengan pengampunan yang telah Ia anugerahkan kepada kita, kita hanya diminta untuk berpaling dari kebebalan kita, dan mengikuti-Nya, dalam kasih dan kebenaran.



Baca Juga:

Satu Penyebab Kekalahan dalam Bertanding

Kita merasa hidup kita di masa kini dan masa depan bergantung pada besarnya kapasitas diri kita sendiri. Namun, di lain pihak, lubuk hati kita sadar bahwa diri ini tidak sanggup diandalkan.

Memaafkan yang Tak Termaafkan

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Suara tembakan tiba-tiba menggemparkan halaman Basilika Santo Petrus, Vatikan. Hari itu, 13 Mei 1981 dalam suasana sore yang cerah, Paus Yohanes Paulus II mengalami peristiwa upaya pembunuhan. Dari kerumunan yang sedang hangat menyapanya, seorang pemuda menembakkan empat tembakan dari senjata semi-otomatis. Paus pun terluka parah. Beruntung melalui pertolongan medis yang sigap, nyawanya terselamatkan. Sementara itu, sang penembak segera dibekuk oleh aparat dan setelah serangkaian proses peradilan, dia dijatuhi hukuman penjara.

Peristiwa itu menjadi berita teror yang menyebar ke berbagai belahan dunia, namun ada kisah menarik yang terjadi setelahnya. Dua hari selepas Natal tahun 1983, Sri Paus yang bernama asli Karol Josef Wojtyla itu menyambangi sebuah penjara. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari penjara yang dikunjunginya itu, tetapi seorang lelaki muda bernama Mehmet Ali Agca mendekam di sana. Mehmed ialah sang pelaku teror, yang dari pistolnya menyambar empat tembakan kepada sang Paus.

“Aku memaafkanmu, sahabat. Aku mengampunimu,” ujar Karol seraya memeluk Mehmed.

Momen singkat nan hangat tersebut membuat dunia terkesima. Seorang pelaku kejahatan yang seharusnya tidak terampuni malah mendapatkan pengampunan. Alih-alih mengutuki si pelaku, Karol meminta agar umat berdoa bagi Mehmet. Tindakan Karol menggemakan kembali teladan sempurna yang sudah lebih dulu ditunjukkan oleh Yesus, ketika Dia mengampuni orang-orang yang telah menganiaya-Nya.

Sulitnya memaafkan

Memaafkan pada kenyataannya bisa jadi tindakan yang sangat sulit. Memaafkan tak semudah mengucap “aku memaafkanmu”. Memaafkan adalah sebuah tindakan yang melibatkan proses rumit, yang untuk mengucapkannya kita perlu mengorek kembali segala memori dan luka hati, dan menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup kita. Saat pasangan mengkhianati kepercayaan kita, saat orangtua yang seharusnya mengayomi kita malah menghujani kita dengan kekerasan fisik, saat kita ditipu oleh orang lain, atau saat kita pernah dipermalukan dan dirundung yang berakibat kita mengalami trauma mendalam. Siapa pun yang pernah atau sedang menderita luka hati yang besar tahu, bahwa ketika batin kita tercabik-cabik, akan sangat sulit untuk tidak membenci dan menaruh dendam pada orang yang telah bersalah pada kita. Memaafkan itu sulit, setidaknya dari penelusuranku ada tiga alasan yang menyebabkannya:

Pertama, memori kita cenderung memikirkan masa lalu yang pahit, yang menghantui kita. Memori kita terampil dalam mengenang rasa sakit yang diakibatkan oleh tindakan atau kata-kata, yang pada akhirnya menjebak kita hidup dalam bayang-bayang momen pedih tersebut. Akibatnya, sulit bagi kita untuk move-on. Berbagai upaya untuk lepas dari masa lalu menjadi mandek. Malahan, kenangan buruk tersebut semakin terbayang-bayang, yang berujung pada semakin jauhnya kita dari kebesaran hati untuk mengampuni.

Meski mungkin terkadang mengampuni itu sulit, namun Yesus mengatakan sesuatu tentang pengampunan, ketika Petrus bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?”, Yesus menjawab dengan tegas, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:21-22).

Pengampunan adalah sebuah proses. Ibarat menyembuhkan luka hingga menutup sempurna yang membutuhkan perawatan, demikian juga dengan pengampunan. Setiap upaya dan doa kita untuk melepas pengampunan ibarat obat yang membalut luka-luka di hati kita.

Kedua, seringkali ketika kita terjebak dalam memori pahit, amarah hadir dan berakibat kita menjadi kurang mampu mengendalikan diri. Gejolak emosi yang membuncah saat kita marah bisa begitu kuat dan membutakan mata batin kita, sehingga memaafkan menjadi opsi terakhir yang muncul di pikiran kita. Tentu rasa marah tersebut adalah wajar karena kita ada di posisi benar dan teraniaya, tetapi tanpa kita sadar kemarahan yang tidak terkendali itu ibarat bensin yang menjadikan api dendam semakin membara.

Ketiga, kita mungkin enggan memaafkan karena kita takut disakiti lagi. Akibatnya, kita membuang jauh-jauh pilihan untuk rekonsiliasi. Kita membangun tembok pemisah yang tak mampu ditembus, dan kita mendekamkan diri di dalam bilik luka batin. Secara psikologis, ini adalah mekanisme pertahanan diri yang secara natural dikembangkan oleh manusia untuk mencegah hati mereka dari cedera kembali.

* * *

Kita tidak menampik, sebagai manusia yang penuh keterbatasan ketiga alasan di atas mungkin kita rasakan pula. Namun, hendaklah kita tidak lupa bahwa di balik keterbatasan kita ada Allah yang tiada terbatas, yang telah menunjukkan pada kita bahwa pengampunan dan kasih adalah berasal dari-Nya. Yesus telah mengulurkan belas kasihan kepada mereka yang telah merugikan-Nya, mendekap mereka yang tak layak, yaitu kita sekalian, ke dalam kehangatan kasih-Nya yang memerdekakan kita dari belenggu dosa dan kutuk.

Teladan yang telah ditunjukkan oleh Yesus tidak berarti kita menyangkal kenyataan bahwa ada orang yang melukai kita, atau berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja, tetapi dari teladan Yesuslah kita belajar untuk memahami bahwa pengampunan adalah sikap hati yang benar dalam menghadapi situasi yang menyakitkan.

Melalui pengampunan, Yesus memberi kita kelepasan penuh dari hukuman dosa. Kitab Suci mengatakan, “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu…telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib” (Kolose 2:13-4).

Mengampuni adalah panggilan bagi semua murid Kristus untuk mengikuti teladan-Nya. Ini bukanlah tentang perkara sulit atau gampang, tetapi adalah sebuah perjuangan, karena kita diajak untuk melawan sifat alamiah kita yang cenderung menyimpan kesalahan orang lain dan memupuk dendam.

Ketika kita bersedia diproses-Nya untuk memaafkan, tanpa kita sadari secara psikologis itu dapat membantu kita meningkatkan harga diri dan memberikan kekuatan dan rasa keamanan batin. Mengampuni dapat menyembuhkan luka-luka kita dan memungkinkan kita melanjutkan hidup dengan makna dan tujuan. Ada pula penelitian yang mengatakan bahwa dengan mengampuni, kita bisa mengurangi depresi, kecemasan, kemarahan, dan sederet emosi negatif lainnya. Tetapi, yang perlu kita ingat: kita tidak memaafkan hanya demi menolong diri kita sendiri, melainkan kita memaafkan karena itu adalah respons otentik kita kepada kasih Allah yang telah lebih dahulu mengampuni kita. Seperti nasihat Kitab Suci, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolose 3:13).

Secuplik kisah Karol, sang Paus yang memaafkan orang yang hendak membunuhnya menjadi salah satu contoh nyata dari aksi ‘memaafkan yang tak termaafkan’. Di dunia yang diwarnai oleh dendam dan kebencian, hendaklah kita menabur kasih dan pengampunan.

Allah Bapa melalui kasih Kristus kiranya memampukan kita untuk mengampuni orang-orang yang ‘tak terampuni’ dalam hidup kita.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Secuplik Mitos tentang LDR

Banyak survey bilang bahwa pasangan LDR lebih berisiko mengalami kandasnya hubungan. Tetapi, itu tidak selalu berarti bahwa LDR adalah bentuk relasi yang buruk. Yuk kenali mitos-mitos apa saja yang sering muncul tentang LDR.

Kebahagiaan Sejati Hanya di Dalam Yesus

Oleh Pesta Manurung, Pekanbaru

Jika ditanya apa yang menjadi sumber kebahagiaan kita? Tentu jawabannya bisa beragam. Ada yang menjawab sumber kebahagiaannya adalah memiliki tabungan berlimpah, rumah, mobil, pekerjaan tetap, anak-anak yang sehat dan pintar, bahkan pensiun di masa tua dengan pemasukan yang terus berjalan.

Baru-baru ini, aku menonton sebuah video yang berjudul “Adulterous Woman, The Life of Jesus.” Video ini diambil dari Injil Yohanes 8:1-11. Dalam video, terlihat kaum Farisi membawa seorang wanita yang ketahuan berzinah ke hadapan Yesus. Mereka berniat mencobai Yesus, dengan bertanya, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita yang telah berzinah ini? Musa berkata kalau ada orang yang ketahuan berzinah, maka akan dilempari dengan batu sampai mati.” Yesus menjawab, “Siapa di antara kamu yang tidak berdosa hendaklah dia yang melempar terlebih dahulu.” Satu persatu mereka menjatuhkan batunya dan pergi meninggalkan tempat itu.

Aku membayangkan si wanita yang hendak dihukum tentu sangat ketakutan. Hidupnya sedang terancam mengingat hukum yang berlaku pada masa itu, wanita yang kedapatan berbuat zinah akan dirajam sampai mati. Satu-satunya yang menentukan hidupnya adalah keputusan dari Yesus. Jawaban Yesus pun tak terduga, “Pergilah, Aku pun tidak akan menghukum engkau, jangan berbuat dosa lagi.”

Cerita dalam video ini sebenarnya mengisahkan hidup kita semua, meskipun dalam konteks ini secara khusus diceritakan wanita yang berdosa karena berzinah. Namun terlepas dari jenis dosa yang dilakukan oleh si wanita ini, bukankah kita semua berdosa?

Aku pernah berada di posisi seperti si wanita yang kedapatan berzinah itu. Tahun 2013, ketika aku duduk di bangku perkuliahan, aku menghadiri suatu ibadah di kampus. Firman yang aku nikmati saat itu berbicara bahwa sesungguhnya aku adalah manusia yang berdosa. Segala kebaikan yang aku lakukan tidak dapat menyelamatkanku. Aku harusnya dihukum karena segala keberdosaan yang telah aku lakukan. Tetapi saat itu aku mendengar ada Pribadi yang berbicara kepadaku, “Aku mengampuni dosa-dosamu. Aku menerimamu, kembalilah kepada-Ku. Hanya Aku yang berhak menghakimimu, dan Aku tidak akan menghukummu.” Aku meyakini bahwa Roh Kuduslah yang bekerja saat itu, sehingga aku bisa mendengarkan Tuhan berbicara kepadaku. Momen yang aku ingat sampai saat ini. Momen di mana aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Allah begitu mengasihi kita. Kendati kita berdosa, Dia tidak menghukum kita setimpal. Dia justru mengampuni kita. Bukankah kita berulang kali jatuh ke dalam dosa? Tidak terhitung berapa kali kita berdosa. Setiap kita berdosa, kita bisa mengingat perkataan Yesus kepada wanita tersebut, “Pergilah Aku tidak menghukum engkau.” Namun, ini bukan berarti kita diperbolehkan untuk jatuh berulang kali ke dalam dosa. Perkataan Yesus dengan wanita itu diakhiri dengan “Jangan berbuat dosa lagi!” Kalimat ini memberikan kita pengertian bagaimana Yesus mengharapkan kita untuk meninggalkan dosa kita.

Inilah yang menjadi kebahagiaan sejati bagi aku pribadi, mengetahui bahwa Dia yang berhak menghukum aku justru berkata, “Pergilah, Aku tidak menghukum engkau.” Artinya, Dia menerimaku di tengah keberdosaanku dan memaafkanku yang penuh dengan dosa ini.

Baca Juga:

Tuhan, Mengapa Engkau Mengirimku Ke Padang Gurun?

Di saat kebanyakan temanku diterima di kampus negeri, aku melanjutkannya di kampus swasta, dan di jurusan yang tak kusuka pula. Tuhan, kenapa aku harus ke tempat ini? Keluhku pada-Nya.

Dalam Penyesalan Sekalipun, Anugerah-Nya Memulihkan Kita

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Menjadi orang yang minder dan kurang percaya diri membuatku sering kesulitan saat membuat pilihan dalam hidup ini. Bukan hanya pilihan dalam ruang lingkup besar dan krusial, tapi juga pilihan ‘sepele’ dalam kehidupan sehari-hari. Semisal: aku harus pakai baju apa hari ini agar terlihat bagus? Aku harus naik transportasi apa supaya tidak terlambat sampai kantor dan tidak ditegur atasan? Jawaban apa yang harus kuberikan pada temanku yang sedang curhat tanpa harus menghakimi atau melukai hatinya?

Takut salah. Dua kata yang aku sadari benar-benar terjadi dalam membuat pilihan di hidupku sehari-hari. Aku takut salah mengambil langkah dan berujung pada kerugian, baik untuk diriku sendiri maupun orang lain. Aku takut menyesal. Bagiku, rasa penyesalan itu rasanya menyakitkan. Tidak enak.

Waktu SMA, aku pernah mengalami penyesalan dalam hal relasi pertemanan. Kondisinya saat itu kami sedang mengobrol biasa melalui pesan singkat, layaknya teman baik yang saling curhat terkait masalah masing-masing. Namun ada perkataan dariku—yang menurutku baik-baik saja—ternyata menyinggung perasaannya. Dia jadi salah paham dan akhirnya marah padaku. Komunikasi lewat pesan di layar ponsel merupakan bahasa yang tidak berbunyi, tidak menampilkan bahasa tubuh, tidak bisa mengekspresikan nada bicara yang sebenarnya sehingga sangat rentan untuk disalahartikan. Akibat tersinggung itu, dia menuliskan satu kata yang pada akhirnya membuatku juga ikutan tersinggung: munafik. Satu kata yang sungguh tajam melukai hatiku. Di situ aku bingung dan bertanya-tanya: Aku salah di mana, sih? Sejak saat itu pertemanan kami cukup merenggang. Kami tidak saling sapa lagi ketika bertemu di sekolah, bahkan sampai lulus SMA. Padahal sebelumnya kami adalah teman baik.

Masalah relasi tersebut akhirnya makin memperbesar rasa ‘takut salah’ itu sendiri. Aku makin kesulitan untuk bersikap dan berkata-kata pada orang lain. Aku terus-menerus bertanya pada diri sendiri: harus bersikap seperti apa? Kata-kata apa yang paling baik untuk diucapkan pada orang lain? Pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran ini pun pada saat yang sama memperbesar rasa minder dan kurang percaya diri itu sendiri. Bukan hanya dalam hal relasi, tapi dalam banyak aspek kehidupan. Aku jatuh pada penyesalan.

Lalu aku sempat berpikir: seandainya waktu dapat diulang kembali, aku akan memilih kata- kata lain yang lebih kecil kemungkinannya untuk menyinggung perasaannya. Di saat yang sama, dalam keegoisanku, aku sering juga membela diri dalam pembenaran: tapi aku kan tidak mengucapkan kata-kata kasar padanya. Kok dia tersinggung, sih? Sungguh pikiran yang kontradiktif karena aku pun bingung menentukan apakah yang kulakukan itu benar atau salah.

Dalam perenunganku menghadapi rasa sesal di masa lalu, di tengah penulisan ini aku diingatkan tentang penyesalan yang dialami raja Daud dalam Mazmur 32. Daud mengatakan:

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran- pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.”

Mungkin pengalaman menyesal yang kualami tidak seberat apa yang raja Daud alami. Namun aku belajar bahwa penyesalan pun ternyata bisa dibawa kepada Tuhan dan hanya dalam anugerah Allah saja kita bisa diselamatkan dan terbebas dari belenggu rasa bersalah. Aku sedih telah membuat teman baikku tersinggung dan sampai membuahkan relasi yang retak. Aku juga menyesal mengapa aku pada waktu itu tidak minta maaf duluan tanpa perlu membela diri melakukan pembenaran dengan alasan aku juga ikut tersinggung dengan kata-katanya. Namun, sepertinya dari peristiwa ini aku sedang diajari untuk tetap rendah hati, mau mengakui kesalahan, kelemahan dan kerentanan di hadapan Tuhan, dan menyerahkan relasi yang retak untuk Tuhan pulihkan. Aku juga belajar bahwa kedepannya, aku bisa meminta hikmat pada Tuhan dalam menentukan pilihan-pilihan yang bijaksana, termasuk pilihan dalam cara berkomunikasi atau menyampaikan pesan pada orang lain.

Cerita penyesalanku ini hanya satu dari sekian banyak penyesalan yang kualami akibat pilihan-pilihan bodoh yang kuambil di masa lalu. Namun aku juga ternyata punya pilihan untuk menjadikan masa laluku sebagai pengingat, bahwa Tuhan tak pernah tinggalkan aku dalam momen apapun; bahwa Tuhan tak pernah bosan untuk menungguku menyapa-Nya setiap hari dan menyerahkan segala masalah serta pergumulan dosaku pada-Nya; bahwa Tuhan memberikan kasih-Nya yang luar biasa dari atas kayu salib buatku supaya terbebas dari belenggu rasa bersalah; bahwa anugerah pengampunan-Nya benar-benar nyata dan terjadi.

Sekarang, dalam penyertaan Tuhan aku pelan-pelan belajar untuk mengikis rasa minder dan tidak percaya diri akibat rasa bersalah yang menghalangiku dalam membuat sebuah pilihan. Mengutip apa yang ditulis oleh David G. Benner dalam bukunya yang berjudul Surrender To Love bahwa “rasa bersalah selalu menghasilkan halangan bagi kasih” juga membuatku mengizinkan diriku untuk tenggelam dalam kasih karunia-Nya. Aku memberi diri untuk ditolong Tuhan dalam membereskan luka penyesalan di masa lalu supaya kini aku bisa melangkah maju ke depan bersama-Nya tanpa dibelenggu rasa penyesalan.

Grace alone. Hanya karena kasih karunia.

“Grace alone which God supplies

Strength unknown He will provide

Christ in us our corner stone

We will go forth in grace alone.”

(Grace Alone – Scott Wesley Brown, Jeff Nelson)

Baca Juga:

Tak Diabaikan-Nya Ratapan Kita

Kisah pertolongan Allah atas Israel mengingatkanku bahwa Allah sejatinya tidak mengabaikan ratapan umat-Nya. Namun, ratapan seperti apakah yang seharusnya kita lakukan ketika kita menghadapi penindasan atau penderitaan?

Lahirnya Kedamaian Karena Pengampunan

Oleh Bertina Batuara, Pekanbaru

Adakalanya pergumulan dan kesesakan datang silih berganti entah itu dari diri sendiri atau dari luar. Baru-baru ini Tuhan izinkan aku mengalami masalah, sampai pada saat menuliskan renungan ini aku tersadar dan terkesima dengan Tuhanku yang menciptakan aku, bumi, dan segala makhluk. Ya, segala perkara dapat kutangggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku (Filipi 4:13).

Aku akui bahwa aku ialah orang yang sangat mudah terpengaruh dengan keadaan di sekitarku. Aku mudah terdistraksi. Masalah pertama adalah dengan teman dekatku. Karena sudah beberapa bulan tak bertemu, teguran lewat chat yang kulontarkan kepadanya itu rupanya dimaknai lain. Aku mengakui inilah kelemahan pesan lewat media sosial yang rentan salah paham. Karena salah paham itu, dia tidak lagi membalas pesanku. Sejak saat itu hatiku gusar. Waktuku untuk berdoa pun diliputi rasa kacau dan aku merasa tidak layak menyampaikan doaku kepada Tuhan, sebab relasiku yang sedang buruk dengan sesama.

Saat masalah salah paham itu terjadi, di kotaku juga turut diterapkan PSBB sebagai langkah pencegahan virus corona. Kami tak bisa bertemu secara langsung untuk menyelesaikan masalah tersebut. Aku menunggu waktu yang tepat, meminta pertolongan hikmat dari Tuhan bagaimana cara menyelesaikan perkara itu. Lewat kehadiran seorang kawan dekat kami, puji Tuhan kami bisa menyelesaikan masalah itu dengan cara empat mata. Kami tidak membiarkan ego kami masing-masing dimenangkan dengan cara kami berbicara jujur, saling mengutarakan, dan ditutup dengan saling memaafkan.

Setelah masalah pertama usai, aku mendapati masalah baru lagi di tempat tinggalku di perantauan. Masalah ini masih tentang kesalahpahaman. Aku selalu beranggapan temanku inilah yang salah, dia yang harus mengubah sikapnya dan harus meminta maaf terlebih dulu kepadaku. Itulah pikiran yang selalu menghinggapiku sepanjang beberapa minggu. Namun, lama-lama aku semakin tersadar kalau justru pikiran itulah yang menjeratku ke dalam kesesakan yang merenggut kedamaian batinku.

Sebagai orang yang jauh dari keluarga dan terbatas menyampaikan segala keluh-kesah, aku biasanya sharing dengan orang terdekatku di perantauan. Berbicara empat mata dengan orang-orang terkasih menolongku untuk bisa bersyukur dan bersukacita saat aku melewati kesesakan.

Jujur, saat itu aku ingin menghindar saja. Tapi, Tuhan tak ingin aku merespons masalah ini dengan egois. Saat aku menikmati waktu teduh pribadiku sembari memutar lagu rohani favoritku, aku merasa seperti ada suara yang berbisik, “Kalau kamu pergi berarti kamu kalah!” Kalah di sini berarti kalah dari si Iblis yang mengobrak-abrik hati dan pikiranku.

Ketika paginya bersaat teduh, ayat firman Tuhan berbicara tentang mengampuni. “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolose 3:13).

Setelah itu aku membuka YouTube dan secara tidak kebetulan membaca judul video dari motivator kesayanganku: “Ketika Hatimu Sulit Memaafkan”.

“Wahh kedua hal ini sedang menegurku”, gumamku. Kuputar video itu, mengikutinya sampai durasi akhir tanpa skip. Rasanya luar biasa, seperti ada tangan-tangan yang menamparku secara bersamaan. “Ini kebutuhanku!” teriakku dalam hati.

Aku pun beranjak dari tempat dudukku. Kutemui teman yang sedang bermasalah denganku. Kucoba mendamaikan hatiku terlebih dahulu, lalu kumulai berbicara meskipun terasa berat. “Maaf,” ucapku.

Puji Tuhan, temanku bersedia menerima permintaan maafku. Dia pun turut meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Aku merasa Tuhan begitu hebat, Tuhanlah yang mendamaikan kami, membenahi diriku, dan mendorong aku keluar dari zona nyamanku, yakni rasa gengsi untuk meminta maaf duluan. Aku diajar-Nya untuk meluruhkan pikiran “bukan salahku”.

Dua pengalaman ini perlahan mengupas satu per satu kebobrokan hati dan pikiranku. Dari titik itu, aku merasa diriku telah “naik kelas”. Mungkin jika aku tidak melewati masa-masa sulit seperti itu, aku akan terus di kelas yang membuat iman dan pertumbuhan rohaniku dangkal. Kedamaian ilahi pun perlahan bisa kuraih kembali sembari mengingat satu pesan seorang kakak yang berkata:

“Jika kamu percaya segala kebaikan adalah rancangan dari Allah, jangan lupa kalau kesakitan dan kesesakan pun adalah bentuk penyertaan Tuhan untuk kebaikanmu kelak”

Dia lalu menyarankanku membaca ayat dari Mazmur 138:7: “Jika Aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku, terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.”

Aku ingat kata-kata beliau dan kurenungkan ayat itu sambil terdiam dan menitikkan air mata yang tanpa sengaja menetes di pipi. Ternyata saat itu pula kusadari perkataan itu begitu bermakna. Mulutku spontan berkata : Engkaulah Allah yang sanggup menyelamatkanku dari berbagai-bagai perkara. Hatiku yang sedang berkecamuk digantikan dengan pemulihan.

Menghadapi berbagai perkara tentu semua orang mengalami, tapi ingat Tuhan turut hadir mengiring langkah kita dalam melewatinya, tetaplah fokus pada satu nama yang Ajaib yakni : Yesus Kristus sumber kedamaian dan sukacita yang Jauh lebih besar dari segala masalah yang telah dan akan kita hadapi.

Baca Juga:

Setelah Covid-19 Berakhir, Seperti Apa Gereja Kita Nanti?

Aku percaya bahwa salah satu tujuan Tuhan mengizinkan kita mengalami krisis adalah untuk menggoncangkan kita. Mungkinkah ada sesuatu yang harus berubah?