3 Hal yang Perlu Ada dalam Sebuah Relasi

Info

Oleh Revy Halim, Jakarta

Apa saja sih yang dibutuhkan untuk memiliki hubungan yang baik?

Mungkin ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh kita di bulan Februari yang juga tanggal empat belasnya kita rayakan sebagai hari Valentine.

Sebelum aku mulai membahas jawaban dari pertanyaan tersebut, aku ingin mengingatkan bahwa jawaban yang akan kuberikan ini sangat berbeda dengan apa yang mungkin sering kita dengar. Percayalah, kunci sebuah hubungan yang baik tidak akan pernah ditemukan di film-film Hollywood, melainkan hanya dapat kita temukan melalui firman Tuhan.

1. Kasih. Mengasihi pasangan kita hanya bisa dimulai ketika kita mengenal Kasih yang sejati

“Tuhan adalah kasih”—ini adalah kalimat inti dari 1 Yohanes 4. Tuhan bukanlah sekadar penyalur kasih, pengajar kasih, atau pun sumber kasih—Tuhan adalah kasih itu sendiri. Maka, tidaklah mungkin bagi seseorang untuk sungguh-sungguh mengasihi orang lain dengan tidak bersyarat dan bertahan hingga akhir jika tanpa campur tangan Tuhan.

Jika kita melihat fenomena pernikahan masa kini, kita sering mendengar berita pasangan yang sudah menikah bercerai. Apakah itu terjadi karena banyak orang yang kasihnya hilang tiba-tiba di tengah jalan? Menurutku, bukan itu penyebabnya. Banyak orang tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi pasangannya karena sejak awal mereka tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Ingatlah bahwa kita tidak dapat memberikan sesuatu yang awalnya tidak kita miliki. Jika dari awal kita tidak mengenal dan memliki kasih yang sesungguhnya (yaitu Tuhan itu sendiri), tentu kita tidak dapat mengalirkannya kepada orang lain.

Bangunlah hubungan yang baik terlebih dahulu dengan Tuhan melalui doa dan pembacaan firman-Nya. Semakin kita memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan, semakin kita mengenal kasih yang sesungguhnya dan kita pun mampu mengalirkannya kepada orang lain.

2. Komitmen. Bukan yang sempurna yang kita butuhkan, melainkan yang berkomitmen

Tidak ada satu pun orang yang sempurna. Siapa pun pasanganmu, pastilah ia memiliki kesalahan, kekurangan, dan perbedaan denganmu. Atau, bisa pula ia tidak benar-benar memenuhi ekspektasimu. Oleh karena itu, hubungan yang bertahan hingga akhir sebenarnya bukanlah hubungan antara dua orang sempurna, melainkan hubungan antar dua orang yang tidak sempurrna tetapi memilih untuk mengasihi.

Kasih yang sesungguhnya tidaklah ditentukan oleh performa orang yang dikasihi, melainkan ditentukan oleh komitmen orang yang mengasihi. Ketika dua orang menikah, janji yang sebenarnya bukanlah janji yang diucapkan semata karena suasana haru saat itu, melainkan sebuah janji untuk selalu bersama, setia, dan bertahan hingga akhir.

1 Yohanes 4:10 mengatakan, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus anak-Nya sebagai pendamaian dosa-dosa kita.”

Kita bisa belajar dari Tuhan kita—Dia mengasihi bukan karena performa kita, melainkan karena Dia adalah kasih dan Dia mau mengasihi kita sebagaimana adanya. Meskipun kita tidak layak dikasihi, namun Tuhan tetap mau mengasihi kita, memberkati kita, dan menyelamatkan kita.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8).

3. Murah hati

Kasih itu tidak mementingkan diri sendiri dan kasih itu murah hati (1 Korintus 13:4). Kita semua tentu ingat Yohanes 3:16 yang mengatakan bahwa kasih Allah akan dunia ini begitu besar hingga Ia mengaruniakan Yesus supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa.

Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada kita dengan cara memberi. Lebih dari itu, Tuhan tidak memberikan pemberian yang ala kadarnya kepada kita, melainkan pemberian yang penuh pengorbanan. Ketika Tuhan berbicara kasih, Dia tidak hanya meneriakkannya dari Sorga, melainkan Tuhan sendiri turun dalam diri Yesus Kristus ke dunia dan menunjukkan kasih-Nya secara nyata kepada kita melalui pengorbanan di kayu salib.

Inilah kasih yang sesungguhnya, kasih yang murah hati, tidak mementingkan diri sendiri, dan mau berkorban.

Itulah ketiga hal penting yang harus kita pegang dalam hidup jika kita ingin memiliki relasi yang baik. Dunia mungkin mengatakan bahwa relasi yang baik harus ada kecantikan fisik, uang, atau hal lainnya. Namun, hendaknya kita hanya mengikuti apa yang firman Tuhan katakan pada kita.

Firman Tuhan adalah kunci untuk menemukan kehidupan yang sejati. Mari teman-teman, yuk kita menjadi orang-orang yang mau mengenal Tuhan, memiliki komitmen, dan bersikap murah hati.

Tuhan memberkati!

Baca Juga:

Mengevaluasi Kembali Masa Singleku

Aku belum pernah berpacaran seumur hidupku. Dan, aku pernah tergoda untuk mencoba berpacaran dengan seseorang supaya aku punya pengalaman. Namun, kupikir bukan itulah yang seharusnya kulakukan dalam masa singleku.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 02 - Februari 2019: Memupuk Perasaan Cinta, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

8 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!