Posts

Mau Glowing Kok Nunggu Putus Dulu? Itu Keputusan yang Bisa Kamu Lakukan Sekarang

Oleh Tabita Davinia Utomo

“Kenapa, ya, mantanku jadi lebih glowing setelah putus?”

“Kok, mantanku kelihatan lebih bahagia sama pacar yang sekarang, ya?”

Hayo, siapa yang pernah bertanya demikian ketika melihat mantan yang terlihat lebih shinning, shimmering, dan splendid justru setelah relasi bersamanya usai?

Mungkin pikiran seperti ini sering muncul ketika kita melihat (atau bahkan mengalami sendiri) usainya relasi yang membawa dampak berupa upgrading diri, baik dari salah satu maupun kedua pihak. Karena itu, tidak jarang ada yang berpikir seperti ini:

“Duh, nyesel, deh, udah sia-siain dia…”

“Jadi pengen balikan aja, nih…”

“Kenapa, ya, mantan selalu lebih kelihatan menarik daripada pas masih jadi pacar?”

Tidak heran kalau pada akhirnya usainya relasi seolah-olah menjadi “ajang” pembaruan diri. Yang dulunya belum pernah belajar make up, sekarang jadi terlatih pakai make up. Yang sebelumnya tidak pernah pakai skincare, sekarang sudah tahu kegunaan serum dan spot gel saat jerawat menyerang. Yang awalnya sebodo amat dengan kesehatan mental, sekarang jadi semangat mempelajari—bahkan membagikan—isu di media sosial. Wah, ternyata kata “putus” bisa menjadi awal baru yang positif, ya?

Sebaliknya, ada juga yang justru menyalahkan pasangan ketika mereka tidak lagi menjalin relasi seperti dulu. Bukannya meng-upgrade diri, mereka memilih menarik diri dari semua pergaulan yang dimiliki, enggan untuk merawat diri, merasa tidak dikasihi, dan (ada juga) yang ingin mengakhiri hidup. Ironisnya lagi, label “lebay” bisa tersemat bagi orang-orang yang sedang bergumul seperti ini.

Pertanyaannya adalah… benarkah bahwa hanya dari usainya relasi maka kita baru bisa berusaha menjadi glowing (baca: meng-upgrade diri)?

Ini jawaban dari pengalamanku—yang masih tetap terus aku gumulkan hingga detik ini.

Penerimaan kasih Tuhan bagi diri sendiri adalah awal dari upgrading diri

Kalau melihat perbandingan foto-fotoku dari enam tahun yang lalu dan saat ini, mungkin orang-orang akan mengatakan bahwa aku tidak banyak berubah. Paling-paling yang tampak hanya kemampuan make up yang meningkat dan pemilihan pakaian yang lebih diperhatikan. Padahal kalau mau jujur, enam tahun lalu, aku sama sekali tidak tahu bagaimana harus memperhatikan diri sendiri. Terjebak dalam sebuah relasi yang menguras pikiran, tenaga, dan emosi membuatku “hidup segan, mati pun tak tahu caranya”. Aku justru beranggapan make up hanya menutupi kecantikan batin. Aku juga tidak tahu bahwa ada yang namanya skincare yang bermanfaat untuk mengurangi jerawat dan merawat wajah. Apalagi karena sejak kecil, mamaku mengajarkan, “Yang terpenting itu cantik hatinyaaa.” Well, kecantikan batin itu memang harus ditumbuhkan, tetapi (jujurlah, hai pencari cinta) apa yang dilihat pertama kali adalah penampilan, kan?

Namun, ketika relasi itu usai, perlahan-lahan aku menyadari bahwa ternyata selama berelasi itu, aku menolak untuk membiarkan kasih Tuhan yang berlimpah bekerja di hidupku saking tidak masuk akalnya untuk diterima. Secara teori, aku tahu bahwa Tuhan mengasihiku (Yohanes 3:16). Aku juga tersentuh setiap kali ada orang yang menceritakan bagaimana Tuhan mengubahkan hidupnya—dan tidak jarang menangis kalau teringat pada kasih Tuhan yang sempurna mau melayakkanku yang berdosa ini untuk melayani-Nya. Masalahnya adalah… aku tidak mau kalau harus kehilangan “orang yang mengasihiku”. Walaupun tahu Tuhan mengasihiku luar dan dalam, tetapi rasanya aku hanya bisa menemukan kasih tersebut dari mantanku kala itu. Bagaimana mungkin aku bisa menyadari dengan utuh kebenaran bahwa Tuhan mengasihiku dengan sempurna, kalau orang lain seolah-olah menunjukkan hal yang sebaliknya? Bagaimana kasih Tuhan itu menjadi nyata kalau aku merasa terus-menerus dituntut dan tidak pernah diafirmasi?

Ternyata, hanya “tahu” tidak akan menjamin diriku mampu menerima hal-hal yang tidak masuk akal seperti kasih Tuhan tadi. Hanya karena anugerah Tuhanlah aku bisa menerima kasih-Nya dan menghidupinya melalui iman kepada-Nya. Ketika membuka hati terhadap kasih Tuhan, afirmasi sesederhana, “Tulisanmu memberkatiku, Tabi. Thank you, ya,” sudah cukup untuk membuatku tetap beriman bahwa aku dikasihi dan dilayakkan-Nya untuk membagikan kabar baik.

Berdamai dengan diri sendiri sebagai proses upgrading diri

Aku teringat pada pengalaman seorang teman yang juga bergumul hebat setelah putus. Dia merasa tidak mudah untuk memaafkan dirinya sendiri karena dia merasa hanya mantannya yang sanggup menerimanya apa adanya. Akibatnya, saat dia mau putus, mantannya langsung bereaksi, “Kamu nggak akan bisa menemukan yang lebih baik dari aku.” Butuh waktu berbulan-bulan baginya untuk bisa memaafkan diri sendiri dan mantannya. Belakangan aku baru tahu, kalau temanku yang selalu terlihat ceria itu menyimpan kemarahan terhadap relasinya yang telah usai, yaitu karena “diagnosis” sang mantan tentang dirinya yang memiliki bipolar karena mood swing yang tidak jelas. Yang membuatku tidak habis pikir adalah selama ini temanku tidak menunjukkan gejala-gejala tersebut, walaupun setelah putus dia memang lebih kelihatan bahagia dan menikmati hidup, sih.

“Waktu itu aku takut banget kalau aku emang punya bipolar, Tab,” katanya. “Mana ada orang yang mau sama orang bipolar?”

Syukur pada Tuhan, “diagnosis” sang mantan dipatahkan oleh kondisinya yang makin membaik pasca putus. Ditambah lagi, setelah melalui proses konseling, temanku belajar bahwa masa lalunya bukanlah alasan untuk tidak memperbaiki diri, melainkan justru jadi batu loncatan dalam pengenalannya terhadap Tuhan dan diri sendiri. Plus, dia juga tidak lagi menyalahkan mantan yang memanipulasinya, tetapi memaafkannya di dalam ketidaktahuannya terhadap kondisi yang sebenarnya.

Berkaca dari pengalaman temanku itu, aku belajar untuk menerima kondisiku yang sangat rapuh setelah putus, dan memperbaikinya setahap demi setahap. Perlahan-lahan, aku menyadari bahwa aku juga ada andil dari berakhirnya relasi kami, sehingga kesadaran itu membantuku agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Aku jadi teringat pada Paulus yang menulis Filipi 3:4-14, yang salah satu pernyataan tegasnya tertuang di ayat ini:

“Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Move on tidak hanya berbicara bahwa kita tidak boleh menutup diri dari cinta yang mengetuk hati, tetapi juga bagaimana kita harus meng-upgrade diri menjadi anak-anak Tuhan yang berjuang memenuhi panggilan hidup di dalam Kristus.

Menemukan support system yang tepat untuk menjadi teman seperjalanan dalam upgrading diri

Aku bersyukur karena selama pra dan pasca putus, Tuhan mengirimkan teman-teman seperjalanan dalam proses pemulihan diri. Ada konselor yang menolongku menyadari bahwa minimnya afirmasi yang aku terima membuatku mencari pemenuhannya dari orang lain. Ada juga teman-teman yang bersedia mendengarkan dengan sabar ketika aku mengeluh berulang kali tentang relasi yang sudah usai itu. Tidak sedikit pula kata-kata penguatan yang aku terima dari post maupun story yang ada di Instagram, seakan-akan Tuhan ingin berkata agar aku tidak putus asa dalam proses pemulihan ini. Bahkan ada juga kakak KTB yang mengajariku self make-up dan berbagi tips pemilihan skincare sebagai salah satu bentuk upgrading diri.

Benarlah yang dikatakan oleh penulis Amsal dan Ibrani ini:

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” – Amsal 17:17

“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” – Ibrani 10:24

Makin bertambahnya usia, aku belajar bahwa support system tidak harus dalam jumlah orang yang banyak. Tidak semua orang bisa cocok dengan kita, kan? Namun, bukan berarti cukup satu-dua orang saja, karena kehilangan salah satu (atau semuanya) akan sangat berdampak buruk bagi kita. Mungkin kita bergumul dengan trust issue, sehingga untuk bisa percaya pada orang lain membutuhkan effort yang luar biasa. Tidak apa-apa, Tuhan memahami, kok. Ketika kita meminta support system kepada-Nya, Dia sanggup memberikannya dengan cara-Nya yang melampaui akal pikiran kita. Yang kita perlukan hanyalah percaya kepada-Nya dan membuka hati terhadap kehadiran orang-orang yang mengasihi kita.

Aku jadi ingat dengan analogi kentang dan sayur-sayuran lainnya yang direbus di dalam panci. Sebelum dimasak, semuanya masih mentah dan keras, sehingga diperlukan sebuah proses untuk membuatnya menjadi matang, empuk, dan bisa dimakan (misalnya saja dengan direbus). Proses perebusan itu akan membuat kentang dan sayur-sayuran saling bertabrakan. Namun, proses itulah yang membuat mereka bisa menjadi sop sayur yang bisa disantap. Sama halnya dengan analogi ini, ada kalanya kita akan saling “bertabrakan” dengan orang lain, dan pastinya hal ini tidak mudah. Ada luka yang tertoreh, kekecewaan yang tersimpan, bahkan kemarahan untuk sebuah fakta pahit yang terungkap. Namun, kalau Tuhan memang mengizinkannya terjadi, kita perlu belajar percaya bahwa proses itu membentuk kita agar menjadi teachable dan memberkati orang lain. Memang tidak mudah, tetapi semoga perkataan Ibu Lidya Siah ini bisa kita hidupi di tengah-tengah komunitas yang Tuhan percayakan:

“Jadilah komunitas yang memulihkan, ya.”

 

“Just take care what God has given to you.”

Poin terakhir ini berasal dari pasanganku, yang waktu itu masih baru dalam masa pendekatan. Jujur saja, aku belajar banyak darinya bagaimana harus memperhatikan penampilan dan merawat diri sendiri. Dari sekian banyak orang yang aku kenal, dia termasuk yang cukup concern dan berani memberikan masukan dengan terus-terang padaku. Mulai dari masker yang lusuh (dan sudah tergantikan dengan masker medis), hingga membangun kebiasaan hidup sehat seperti berolahraga. Dia bukan hanya asal bicara, tetapi juga do the talk.

“Nggak ada kata terlambat untuk self-love dan self-care. Jadi jangan kebanyakan mikirin orang lain terus, ya. Pikirin diri lo juga.”

Ungkapan pasanganku itu bukanlah tanpa alasan, karena sejak pertama kali bertemu, dia sudah memiliki kesan bahwa aku memikirkan lebih banyak hal lain daripada diriku sendiri. Ketika mendengarnya, aku bingung. Bukannya sebagai orang percaya, kita harus mementingkan orang lain di atas diri sendiri? Kalau tidak, nanti jadi egois, dong?

“Hukum yang Terutama” ini bisa menjadi pengingat bagaimana kasih kepada Allah dan sesama ternyata berhubungan dengan kasih kepada diri sendiri:

”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” – Matius 22:37-40

Seperti poin pertama, kita tidak akan sanggup mengasihi siapa pun kalau tidak pernah mengalami kasih Tuhan secara nyata. Sebagai manusia, kasih kita cenderung dipenuhi oleh tuntutan dan ekspektasi. Ketika keduanya tidak terpenuhi, kita rentan kecewa. Itulah sebabnya, hanya kasih Tuhan yang mampu menjadi bahan bakar bagi kita untuk mengasihi-Nya, diri sendiri, dan sesama. Kita tidak akan bisa mengasihi sesama kalau kita tidak pernah men-treat diri sendiri dengan baik, kan?

“Lalu, seperti apa self-care yang bisa aku lakukan?”

Buatku pribadi, self-care tidak harus mahal dan membuat kita terpaksa melakukannya. Self-care bisa jadi adalah istirahat setelah kerja lembur berhari-hari. Bisa juga self-care merupakan perawatan wajah dan kulit dengan skincare supaya nutrisinya juga terjaga. Self-care juga bisa berupa cluttering barang-barang yang tidak digunakan lagi (menyimpan barang tanpa menggunakannya bisa menimbulkan stres tersendiri). Apa pun bentuknya, ketika kita melakukannya dengan sukacita, self-care menjadi ungkapan syukur kita kepada Tuhan atas keunikan diri kita.

Glowing yang jadi perpanjangan kasih Tuhan

Di tengah gelapnya dunia akibat dosa, Tuhan memanggil kita untuk menjadi “bintang-bintang” yang menunjukkan kehadiran-Nya bagi dunia, termasuk buat orang-orang di sekitar kita. Seperti itu juga yang Yesus katakan di dalam Matius 5:14-16:

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

“Lalu, bagaimana caranya untuk menjadi glowing seperti yang Tuhan mau?”

Salah satu doaku adalah, “Tuhan, selama aku masih hidup, tolong agar aku bisa menjadi berkat—baik dari tulisan maupun kehadiranku—setidaknya untuk satu orang saja.”

Dan itu yang aku (coba) hidupi.

Meskipun sebagai content creator, angka engagement menentukan strategi pembuatan konten, aku belajar untuk tidak mementingkan jumlah likes dan share dari post-ku. Selama ada satu orang yang terberkati dengan tulisanku, itu cukup, karena artinya Tuhan masih memercayakan tugas padaku untuk menghadirkan diri-Nya.

Begitu juga melalui pertolongan yang ditawarkan. Walaupun tidak selalu diterima, setidaknya ketika kita mau menolong orang lain, Tuhan bisa memakainya untuk menyapa yang bersangkutan agar tidak merasa sendirian. Yang perlu diingat adalah kita perlu tetap berintegritas, konsisten berbuat baik, dan menyadari bahwa kita bukan superhero yang bisa menyelamatkan semua orang. Cukup Tuhan Yesus saja yang jadi Juru selamat, jangan ambil alih peran-Nya.

 

***

Masa lalu kita memang tidak bisa diubah, tetapi kita bertanggung jawab pada apa yang sedang dan akan kita hadapi nanti. Begitu juga dengan upgrading diri, yang tidaklah harus disebabkan oleh usainya relasi atau masalah-masalah berat lainnya. Upgrading diri bisa kita mulai kapan saja, tetapi tentunya membutuhkan ketekunan agar ada hasil yang bisa kita nikmati di kemudian hari. Namun, jangan takut: Tuhan beserta dengan kita dan berkenan memulihkan hati yang hancur, sehingga setiap kepingannya yang dipulihkan menceritakan kasih-Nya yang mengubahkan hidup kita.

Kiranya melalui upgrading diri, kita dapat menikmati kehadiran Tuhan yang selalu bersama kita, mensyukuri perubahan yang diizinkan-Nya terjadi, dan membagikan kabar baik-Nya bagi orang lain melalui hidup kita.

Selamat menjadi glowing bersama Tuhan!

Ketika Calon Pasangan Hidup Tidak Satu Suku

Oleh Santi Jaya Hutabarat

“Kamu menikah dengan anak Namborumu itu saja,” ungkap papa saat aku berusaha membujuknya lagi.

Kutarik nafas dalam-dalam agar emosiku terkendali. Udara sore itu terasa lebih panas sekalipun teras kami dinaungi pohon rimbun. Sebenarnya bayangan perbincangan ini pernah terbersit di pikiranku sejak menjalin hubungan dengan Brema tiga tahun lalu. Perbedaan suku di antara kami membuatku menghindari perbincangan panjang tentang Brema pada papa dan mama. Namun, kami tidak mungkin seterusnya menjalin hubungan backstreet dari mereka. Karena itu sore ini aku memberanikan diri berbicara serius tentang hubunganku pada mereka.

Aku dan Brema bertemu di acara Kamp Regional Mahasiswa untuk daerah Sumatera bagian Utara. Bersama peserta lain yang ditetapkan panitia, kami sekelompok selama seminggu rangkaian kegiatan.

“Halo! Namaku Brema Tarigan. Aku Batak Karo, lahir dan besar di Tanah Karo.” Brema memperkenalkan diri.

Berawal dari perkenalan dalam diskusi komsel, kami terus berteman dan semakin dekat hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Dan akhir tahun lalu, aku menjawab “ya” saat Brema menembakku secara pribadi.

“Brema baik, Pa. Aku sudah lama mengenalnya. Kami juga pernah mengikuti konseling. Kami cocok kok!” beberku pada papa.

“Pasti lebih mudah kalau menikah dengan yang satu suku. Lihat abang dan edamu (kakak ipar perempuan), kalau ada masalah kita lebih mudah menyelesaikan, karena kedua keluarga sama-sama tahu apa yang perlu dilakukan sesuai adat dan budaya batak Toba,” terang papa mengulang ketidaksetujuannya.

Memakai marga dibelakang namanya–tidak hanya tulen–menurutku papa dan mama sangat cinta dengan budaya batak Toba. Mereka terbilang aktif dalam berbagai kegiatan adat. Papaku juga beberapa kali berkesempatan jadi “parhata” dalam pesta kerabat. Parhata merupakan juru bicara acara adat yang harus memahami seluk-beluk adat Batak Toba pada umumnya, adat yang berlaku bagi rumpun semarganya, dan aturan batak Toba lainnya. Tidak heran kalau mereka ingin aku dan abangku menikah dengan orang Batak Toba juga.

Dibesarkan dengan prinsip dan nilai kebudayaan suku ini tentu membuatku bersyukur karena banyak prinsip dan nilai yang baik dan juga bermanfaat. Pun sedari kecil aku sudah dibekali dengan beragam nilai adat, jadi aku tidak mengingkari kalau aku semakin bangga terlahir jadi boru ni raja dan terus belajar menghidupi karakternya. Istilah boru ni raja (putri raja) merupakan identitas bagi perempuan batak Toba, yang artinya perempuan Batak itu sosok yang harus disayangi dan dihormati, sekaligus sebagai panggilan agar terus menjaga nilai-nilai kehormatan, seperti kepatutan, moral, etika, sensitivitas dan lain sebagainya.

“Pariban-mu itu baik, Ito. Kita sudah mengenalnya. Meski bukan sekandung, tapi amangboru dan bou-mu itu dekat dengan papa, mereka pasti setuju kamu jadi menantunya. Lagian, dia sekarang sudah PNS. Penugasannya juga disini, jadi dekat kalau ada apa-apa sama kalian.” Mama berusaha meyakinkanku.

Menikah dengan pariban sering terjadi dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, bahkan dianggap ideal. Pariban merujuk kepada saudara sepupu. Anak laki- laki akan memanggil “pariban” kepada anak perempuan dari tulang (tulang = paman, saudara laki-laki ibu), sebaliknya anak perempuan akan menyebut “pariban” kepada anak laki-laki dari namboru-nya (namboru = bibi, saudara perempuan ayah). Selain mempererat hubungan kekeluargaan, pernikahan ini biasanya mempermudah komunikasi keluarga mengenai acara adat, terlebih dalam urusan sinamot (mahar) untuk perempuan yang sering menyulitkan calon mempelai pria karena nominalnya dianggap terlalu besar.

“Kalau kau nikah sama pacarmu, nanti jadi tambah kerjaan. Kau akan diberi marga Karo dulu, adatnya juga berbeda. Semua jambar dan ulos pun tak akan lagi bisa dijalankan di pestamu. Kek mana lah nanti,” tambah Papa.

Ya, seperti kata Papa, dalam budaya Batak, jika ada pesta pernikahan adat Batak Karo, Uis tidak diberikan untuk pengantin dan orang tua pengantin, sedangkan dalam pesta pernikahan adat Batak Toba, pemberian ulos untuk pengantin dan orang tua termasuk dalam agenda acara adat. Ulos yang diberikan tersebut berasal dari saudara-saudara sedarah maupun semarga/rumpun marga. Lalu ada jambar yang menunjuk kepada hak atau bagian yang ditentukan bagi seseorang (sekelompok orang), seperti pemberian nama dan beberapa bagian yang diberikan. Pemberian hak ini berbeda antar batak Toba dengan batak Karo.

“Kami setuju kalau nanti ada pesta adat Batak Toba dan Batak Karo,” belaku.

“Ya, sudah. Terserah kamu!”

“Apa yang Papa takutkan sebenarnya? Yang nikah ‘kan aku!”

Papa mengalihkan pandangan, ia menggeleng tanpa suara lalu beranjak meninggalkanku bersama mama.

Huft.. Jika boleh memilih, lebih baik aku melakukan negosiasi pengadaan barang (procurement), seperti kesibukanku saat ini, dan mengurus penawaran (bidding) dari beragam penjual (vendor) yang kaya pengalaman dengan rata-rata tender berdigit-digit agar mau mengerjakan proyek yang sedang digarap NGO tempatku bekerja.

Sealot-alotnya perdebatan dalam pekerjaan, ini takkan membuahkan penyesalan dalam diriku. Tetapi ini berbeda. Rasanya berat harus beradu pendapat dengan papa dan mamaku sendiri. Silap sedikit, tidak hanya restu yang terhalang, relasi dengan orang tuaku pun bisa rusak.

“Kamu sudah yakin akan menikah dengan Brema?” tanya mama menatapku serius.

Belum sempat kujawab, ponselku berdering, ada panggilan video dari Brema.

“Boleh mama yang ngobrol dengan Brema?”

Dengan kikuk, aku menjawab panggilan video itu bersama mama di sampingku.

“Halo, Nantulang. Sehat?” sapa Brema dari seberang. Sepertinya ia sengaja memanggil nantulang agar bisa lebih akrab dengan mamaku. Selain panggilan untuk istri tulang, nantulang juga bisa dipakai laki-laki Batak Toba untuk menyapa calon ibu mertua.

“Sehat, Nak. Kamu bagaimana? Pekerjaanmu lancar?”

“Aman, Nantulang. Sedang apa, Nantulang?”

“Lagi duduk santai, Nak, cerita-cerita sama Ito. Dia banyak ngomongin kamu, lho.” Mama menggodaku.

Walau tidak direncanakan, aku melihat percakapan Mama dan Brema mengalir begitu saja. Sebelumnya, mereka tidak pernah bertemu langsung, tapi pernah beberapa kali berbicara lewat telepon saat aku sambungkan, itu pun tidak lama.

Aku lantas masuk ke rumah, beres-beres, dan menyiapkan makan malam. Aku membiarkan Mama dan Brema berbicara berdua.

“Kamu tidak ada rencana membawa Brema kesini?” tanya Mama saat mengembalikan ponselku.

Mama berlalu melihatku yang mengangguk tidak yakin. Pertanyaan mama sungguh diluar dugaanku.

“Kamu tadi ngomong apa sama mama?” Aku kirim pesan pada Brema.

“Aku bilang kalau putrinya tidak akan bisa hidup tanpaku.” balasnya disertai emoji meledek.

Saking penasaran, aku segera menelponnya.

“Tadi nantulang cerita kalau kamu baru selesai berdebat sama papamu. Terus nantulang undang aku ke rumah, katanya biar papamu ngobrol langsung dulu denganku,” jawab Brema atas rasa penasaranku.

“Terus kamu bilang apa?”

“Boleh, Nantulang, tapi Ito belum kasih kesempatan, nih. Begitu jawabku.”

Dalam hati aku membenarkan jawaban Brema. Selama ini aku belum pernah mengajak ia bertemu langsung dengan papa dan mama, aku hanya fokus bagaimana agar papa dan mama percaya dengan semua ceritaku tentang Brema dan menyetujui rencana pernikahanku. Padahal, selain perbedaan suku di antara kami, bisa saja papa dan mama tidak setuju karena belum mengenal Brema.

Bagaimanapun, pertimbangan papa dan mama tentang tantangan dalam pernikahan antar suku ada benarnya. Tidak semudah yang dibayangkan karena masing-masing suku memiliki cara pandang dan kebiasaan sendiri. Dan tanpa disadari, semua itu akan diadopsi oleh anggota suku masing-masing. Jika dua orang dari suku yang berbeda mengikatkan diri dalam sebuah pernikahan, mereka pasti membutuhkan penyesuaian lebih banyak dibandingkan dengan pasangan lain yang berlatar belakang sama.

Selain penyesuaian antara suami-istri, adaptasi dengan keluarga besar pasangan juga diperlukan. Bagi beberapa suku atau keluarga, sangat lazim untuk ikut mengurus permasalahan yang dialami anggota keluarga lain. Misalnya, sebuah persoalan dalam pernikahan si anak bisa dipandang sebagai urusan seluruh keluarga besar. Ya, batasan privasi tidak selalu diperhatikan, karena begitulah cara menolong sesuai adat yang berlaku dalam suku tersebut. Lebih jauh, cara mereka menyelesaikan persoalan tentu mengikuti kebiasaan adat mereka, di mana apa yang dianggap baik oleh suku tersebut belum tentu baik bagi yang lain. Aku setuju hal-hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan.

“Kalau aku ajak di liburan paskah mendatang, mau?” tanyaku pada Brema.

Brema mengangkat jempolnya pertanda setuju.

Kendati Brema hanya berkunjung sebentar, aku melihat perubahan sikap orang tuaku, terlebih papa. Tidak terlalu besar, tapi aku menangkap adanya sinyal persetujuan dari papa untuk hubungan kami. Hampir sepekan berinteraksi langsung dengan Brema, tampaknya Papa dan Mama juga merasakan hal yang sama denganku mengenai Brema, ia supel dan apa adanya.

“Modal yang dikumpulkan belum banyak Tulang. Ke sini juga rencananya sekalian mengajukan pinjaman lunak.”

Kami terkekeh mendengar jawaban Brema saat papa iseng menanyakan besaran “sinamot” yang ia sanggupi untukku. Meski terkesan bercanda, papa tampaknya senang Brema mau terbuka. Brema juga tidak segan menceritakan beberapa hal yang menjadi ketakutannya saat memintaku menjadi istrinya. Bukan saja tentang perbedaan budaya di antara kami, Brema juga mengaku ada kalanya ia khawatir bagaimana kecukupan kebutuhan rumah tangga kami nantinya, mengingat kami masih sama-sama pegawai kontrak. Untuk kondisi yang terakhir, Brema sudah pernah mengatakannya padaku, namun aku tidak menyangka ia tidak sungkan membagikan hal yang sama pada papa dan mamaku.

Saat itu tidak mudah bagi kami untuk meyakinkan diri masing-masing. Di satu sisi, aku punya “bucket list” untuk pernikahanku, termasuk agar aku dan pasanganku mandiri secara finansial. Sementara akan sangat egois kalau aku hanya menuntut Brema mencukupi semua hal yang menjadi “dream wedding-ku”. Perbedaan sering mewarnai percakapan kami.
“Kayaknya, budget untuk souvenir dan prewedding bisa di-cut,” kata Brema.

“Kamu yakin? Bukannya kamu yang bilang prewedding masuk top of the list karena ada konsep Toba dan Karo yang akan jadi representatif kita?”

Memori obrolan kami sebelumnya terlintas di benakku. Salah satu momen dimana aku mengandalkan mauku, terkesan ngotot. Sebaliknya Brema bersikap lebih tenang.

“Nanti kita bahas lagi ya. Sekalian kita ambil waktu melirik ulang catatan “our dream wedding”, aku banyak lupa sepertinya.” Ia mengingatkanku.

Aku tidak mengingat persis kapan kami memulainya. Selain menikmati banyak hal berdua, aku dan Brema juga punya satu jurnal bersama. Di buku itu, beragam perkara kami catat. Mulai dari remeh temeh seperti ulasan film, makanan atau tempat wisata hingga menyangkut prinsip penting yang kami sepakati harus ada dalam relasi ini.

“Yakin dong, kayaknya kemarin itu aku terlalu memaksakan mauku. Rasanya keren bisa berkunjung dan berfoto langsung di Rumah Bolon dan di Rumah Si Waluh Jabu, dua rumah adat sekaligus. Dipantengin netizen kan pasti kece…….Setelah kupikir-pikir, kalau semua keinginanku dituruti, susah bukan?!” ucapanku seperti bertanya dan menjawab diriku sendiri.

Good! I wonder God, what I’ve done to deserve a wise girl like you.” Senyumnya merekah.

Kendati aku merasa kalimat ini berlebihan, aku juga bersyukur dipertemukan dengan Brema.

***

Perbedaan suku yang aku kira akan mengakhiri relasiku dengan Brema ternyata membuka jalinan hubungan keluarga yang berbeda secara suku. Diam-diam aku memperhatikan Brema berusaha belajar budaya batak Toba, terkhusus bahasanya, agar ia bisa nyambung berbicara dengan papa dan mama. Sama halnya dengan papa dan mama, kini keluarga besarku tidak lagi memintaku menikah dengan paribanku, mereka malah sering mengingatkanku untuk lebih mengakrabkan diri dengan keluarga Brema.

Lagi-lagi aku belajar, ternyata perbedaan tidak selalu jadi alasan untuk tidak bersama, baik dalam relasi kita dengan sesama, berpacaran, pekerjaan, bahkan untuk seluruh kehidupan kita sehari-hari. Lagipula, Alkitab secara konsisten mengajarkan bagaimana semua ras setara karena semua orang telah berbuat berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23), tetapi oleh kasih karunia, orang yang menerima Kristus beroleh anugerah pengampunan. Inilah kuncinya. Dalam mencari dan memilih pasangan hidup, Alkitab mengatakan agar kita mencari pasangan yang seimbang (2 Kor 6:14), yang mengarah pada kesepadanan. Sepadan tak harus seratus persen sama, tetapi berakar kuat pada dasar yang sama: Kristus, dan bertumbuh di dalam-Nya. Kesepadanan itulah yang akan mengikat suatu pasangan untuk hidup setia satu sama lain seraya melayani Tuhan dalam bahtera pernikahan.

Bertemu dan menjalin relasi dengan orang lain tidak selalu mudah, terlebih saat kita menemui banyak hal yang berbeda. Pasang surut tentu saja sering terjadi. Dalam relasiku dengan Brema, ada saat kami merasa perbedaan yang ada tidak jadi penghalang, semua mengalir baik-baik saja, penuh romansa. Pun sebaliknya terkadang gesekan perbedaan yang membuat kami seperti kehilangan makna dari setiap kebersamaan hingga merasa perlu berdiam dan merenungkan kembali apa yang menjadi tujuan hubungan kami. Dalam perjalanan menuju pernikahan, kami terus berusaha meyakini untuk melakukan bagian kami dan percaya bahwa dalam penyertaan-Nya, segala sesuatu akan dicukupkan atas rencana kami (Amsal 16:3).

Soli Deo Gloria

Artspace: Lelaki dan Perempuan Bersahabat, Beneran Sahabat atau PDKT?

“Gak ada yang namanya laki-laki dan perempuan bisa bersahabat. Kalau ga saling jatuh cinta, ya salah satunya pasti cinta dalam diam.

Menurut KaMu, bagaimana kamu memandang persahabatan lawan jenis? Kalau kamu pernah punya cerita tentangnya, yuk share di komentar.

Artspace ini dibuat oleh Ivana Laurencia dan Shania Vebyta.

Persahabatan Lelaki dan Perempuan: Beneran Sahabat atau PDKT?

Oleh Jacq So
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Can Guys and Girls Really Just Be Friends

Kebanyakan orang berpikir kalau persahabatan yang murni antara lelaki dan perempuan itu tidak mungkin. Film When Harry Met Sally menegaskan pemikiran itu: bahwa persahabatan lawan jenis tidak mungkin terjadi tanpa salah satu atau kedua belah pihak akhirnya saling jatuh cinta. Sementara itu, sepengetahuanku gereja biasanya melihat relasi antara laki-laki dan perempuan hanya sebatas pada apa yang boleh dan tidak.

Sebagai remaja yang sudah terpengaruh oleh pemikiran bahwa setiap lelaki bisa saja jadi jodohku, aku berteman dengan banyak lelaki dan memfilter manakah yang kira-kira cocok jadi jodohku. . Tapi, aku kesal karena bukannya menjadi sosok yang terlihat romantis, aku malah dianggap seolah jadi saudara perempuan sendiri.

Barulah ketika Tuhan menghadiahiku kesempatan untuk menjadi single kembali, aku menyadari betapa beruntungnya memiliki teman laki-laki yang benar-benar teman. Temanku datang untuk menemaniku, mengobrol selama berjam-jam. dan berbagi makanan dan film tanpa terjebak dalam romantisme. Aku menikmati banyak keuntungan untuk lebih mengenal secara natural, tanpa terjebak dalam upaya untuk membuat satu sama lain terkesan.

Yesus memberikan contoh tentang indahnya persahabatan lawan jenis. Dia dekat dengan sepasang saudari, Maria dan Marta dari Betania. Pada dua kesempatan, Yesus disambut hangat sebagai tamu di rumah mereka, dan mereka pun cukup terbuka satu sama lain. Martha tidak sungkan meminta agar Yesus memberitahu adiknya (Lukas 10:40). Kedua saudara perempuan itu juga berani untuk meminta Yesus datang dan menyembuhkan saudara laki-laki mereka ketika Dia berada di tengah-tengah pelayanan-Nya (Yohanes 11:3). Yesus secara terbuka menangis bersama mereka dalam kesusahan mereka ( Yohanes 11:35 ).

Yesus menunjukkan bagaimana pria dapat menjaga dan memahami wanita secara terhormat sebagai teman, terutama pada saat wanita dianggap lebih rendah derajatnya dibanding laki-laki. Maria dan Marta pun menunjukkan bagaimana wanita dapat membalas perlakuan hormat seperti itu melalui persahabatan murni yang membuat cinta mereka kepada-Nya menjadi nyata.

Di zaman modern ini ketika relasi menjadi kompleks, bagaimana kita bisa menumbuhkan persahabatan antar gender yang sehat?

1. Selalu ada kesamaan

Aku belajar mengemudi lebih lambat dibanding teman-temanku. Supaya lebih mahir, aku meminta sekelompok pria yang sudah kukenal sejak SMA untuk mengajariku seminggu sekali. Kami pun berteman baik, dan seusai sesi menyetir, kami sering menonton film dan berdiskusi intens tentang masalah karakter fiksi superhero.

Melangkah ke dunia pria cukup mudah bagiku karena aku tumbuh di sekitar anak laki-laki dan memiliki minat yang sama dengan mereka. Tetapi, terlepas dari tipe perempuan seperti apa kamu, menurutku selalu ada kesamaan yang bisa ditemukan dengan laki-laki. Selain hobi dan minat, kita semua berbagi pengalaman hidup seperti sekolah, pekerjaan, dan bagi orang percaya: satu minat bersama yang selalu kita miliki adalah Yesus Kristus.

Aku pernah ikut beberapa kelompok belajar Alkitab di mana aku mendapat berkat tidak hanya dari kebijaksanaan dan nasihat para pria, tetapi juga dari kesediaan mereka untuk terbuka tentang kesulitan mereka. Mendoakan mereka jadi cara sederhana yang memampukanku untuk melayani rekan-rekan lelakiku seolah saudaraku sendiri.

2. Tidak semua perbuatan baik yang dilakukan adalah kode

Ketika aku berada di Amerika untuk bertemu dengan beberapa teman, aku benar-benar terkesima dengan betapa sopannya mereka. Mereka akan bergegas membukakan pintu untukku dan teman perempuan lain dan melangkah mundur untuk membiarkan kami masuk lebih dulu. Mereka memastikan kami sampai di hotel dengan selamat. Tindakan itu menunjukkan kesopanan yang sudah lama tidak kulihat. Tetapi aku kembali tersadar ketika aku kembali ke rumah dan menyaksikan lima rekan laki-lakiku berdiri sementara seorang wanita berjuang untuk memindahkan meja sendirian.

“Kesatria sudah mati,” keluh banyak wanita. Tapi, kurasa kesatria itu tidaklah mati. Dunia kita mendefinisikan gentleman hanya sebagai perilaku romantis. Akibatnya, melakukan hal-hal baik kepada lawan jenis itu seperti menebar ranjau. Para lelaki takut apabila kebaikan dan sikap sopan itu malah disalahartikan, yang membuat canggung. ,

Di masa lalu, aku terjebak overthinking. Tindakan baik yang dilakukan para lelaki terhadapku kumaknai sebagai kode. Akibatnya, aku sulit menanggapi mereka dengan natural. Respon inilah yang membuat persahabatan menjadi canggung dan mungkin membuat beberapa pria enggan untuk bersikap lembut kepada wanita di masa depan.

Sekarang aku menilai setiap tindakan baik dari lawan jenisku murni sebagai tindakan baik. Aku mengizinkan mereka bersikap sopan padaku, dan kuucapkan terima kasih setiap kali mereka menawarkan diri untuk membayar kopi, atau mengantarku pulang agar aku tidak perlu bolak-balik. Cukup itu saja. Perbuatan baik adalah perbuatan baik, tidak perlu selalu diartikan sebagai kode kecuali dia memang mengirimkan sinyal yang jelas.

3. Komunikasikan status kamu dengan jelas

Aku kenal seorang wanita yang mengomunikasikan intensinya hanya untuk berteman sejak awal pertemuan. Di awal mungkin terlihat aneh untuk bersikap sangat terbuka mengenai relasi, tapi aku menganggapnya sebagai langkah yang bijaksana. Bagaimanapun, faktor utama dalam persahabatan lawan jenis yang baik adalah kejelasan tentang siapa kamu untuk satu sama lain. Ada kalanya pria mencoba memikat wanita melalui gerakan tubuh atau isyarat lain dengan harapan si wanita akan merespons balik. Cara terbaik untuk menghindari kebingungan adalah komunikasikan secara terbuka bahwa kamu hanya seorang teman.

Sebagai aturan umum untuk pertemanan, aku juga menghindari waktu berdua dengan laki-laki kecuali dengan mereka yang sudah sepaham kalau kami “hanya teman”. Jika memang tidak ada diskusi serius yang harus kami lakukan secara empat mata, aku lebih suka mengobrol bersama teman-teman lain supaya batasannya jelas, dan agar tidak menimbulkan gosip dari teman-teman lain.

4. Jangan biarkan gosip mempengaruhi caramu memandang teman lawan jenis

Beberapa tahun yang lalu, aku ketahuan oleh ibu-ibu gereja sedang sarapan dengan seorang teman dekat setelah kebaktian hari Minggu. Minggu berikutnya, salah satu dari mereka kepo apakah aku ada hubungan khusus dengan lelaki itu. Kujelaskan bahwa kami hanya berteman, tetapi tampaknya itu tidak cukup untuk menghentikan pembicaraan bahwa ada (atau seharusnya) relasi lebih dari teman di antara kami.

Omongan orang lain seringkali menjadi batu sandungan bagi berkembangnya persahabatan lawan jenis, terutama antara pria dan wanita lajang. Gosip membuat sepasang sahabat jadi ikut-ikutan berpikir, jangan-jangan memang relasi ini lebih dari sekadar persahabatan. . Persahabatan yang baik pun terguncang oleh ekspektasi orang lain.

Jika persahabatanmu dijadikan bahan gosip, kamu dan sahabatmu harus sepakat tentang status relasi kalian. Jika memang tidak ada intensi pacaran, hindarilah obrolan-obrolan romantis dan dengan sopan mintalah orang-orang yang berlagak seperti mak comblang untuk tidak ikut campur dalam relasi kalian.

Ketika berbicara tentang persahabatan lawan jenis, jagalah selalu hati dan pikiran, dan pastikan kita memperlakukan teman kita dengan tepat: apakah kita hanya ingin berteman atau mau berkomitmen lebih? Paulus memberi kita wejangan dalam 2 Timotius 5:1-2: selama belum menikah, laki-laki dan perempuan harus memperlakukan satu sama lain seperti keluarga.

Bagi para wanita, jangan bersikap genit atau ingin diprioritaskan oleh seorang lelaki yang statusnya hanya teman. Lihatlah para teman lelaki kita sebagai saudara dan perlakukan mereka sebagaimana teladan Yesus. Doakan mereka, berusahalah untuk membangun hubungan yang erat dengan Yesus (atau jika mereka belum mengenal Yesus, kamu bisa bercerita juga tentang-Nya) ), dan doronglah mereka untuk melakukan “kasih dan perbuatan baik” (Ibrani 10: 24).

Aku Suka Kamu, Tapi…

Sebuah cerpen oleh Meili Ainun

Aini melirik ponselnya untuk kesekian kali. Tidak ada notifikasi. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 23.12, dan rasa kantuk mulai menyerangnya.

“Ku tunggu sebentar lagi,” ucapnya dalam hati.

Aini mengambil salah satu novel, membolak-baliknya tanpa niat. Sekali lagi melirik ponselnya, memastikan baterainya masih ada.

Tit…tit… Terdengar bunyi notifikasi pesan.

Lagi ngapain?

Aini tersenyum lebar.

Siap-siap mau tidur.
Aku ganggu kamu ya?
Ah…nggak kok. Kamu ngapain aja hari ini?
Biasa. Sibuk kerja. Kamu?
Sibuk kerja juga.
Sudah malam. Kamu tidur dulu deh. Besok kita sambung lagi.
Okay. Sampai besok ya.

Aini meletakkan ponselnya di atas meja. Setelah mengucapkan doa singkat, dia berbaring, memejamkan mata sambil membayangkan sosok yang menghiasi hidupnya belakangan ini.

Beberapa minggu yang lalu…

Aini sedang membaca novel ketika ponselnya berdering. Dia melirik dan merasa heran melihat nama yang tertera di sana. “Tumben, tante Mona menelepon. Tidak biasanya.” Aini mengangkat ponselnya sambil membayangkan wajah kakak kandung papa yang tinggal di Medan itu.

Halo, tante. Apa kabar?
Halo, Aini. Bagaimana kabarmu?
Baik, tante. Tante gimana? Sehat kan ya?
Iya. Sehat. Kamu sendiri gimana? Sibuk kerja ya?
Iya. Lumayan, tante.
Begini…Aini. Tante rencananya mau kenalin kamu dengan seseorang.
Hmm…siapa ya, tante?
Dia itu anak dari sahabat baik tante. Orangnya baik. Jujur dan rajin kayak kamu. Usia kalian juga hampir sama. Kamu sudah hampir 30 tahun kan, ya?
Iya, tante. 29 tahun.
Nah…usia dia 30 tahun. Cocoklah sama kamu. Kamu mau kenalan ama dia?
Yah…untuk teman, boleh, tante.
Iya, kenalan dulu saja. Siapa tahu nanti cocok.
Iya, tante. Dia orang Kristen, bukan?
Bukan sepertinya. Ah…agama nggak pentinglah. Usia yang paling penting. Kamu sudah nggak muda lagi, lho. Jadi tante kasih nomor kamu ke dia ya. Oh ya, nama dia Albert. Nanti tante kirimkan foto dia.
Hm…iya, Ok, tante. Terima kasih banyak.
Semoga kalian cocok ya. Bye…Aini.
Bye…Tante.

Tidak lama kemudian, ada pesan masuk dari Tante Mona disertai foto seseorang.

Aini, ini Albert.

Aini memperhatikan foto itu, sesosok pria ramping, tinggi, sedang tersenyum lebar.

“Kelihatannya dia lebih tinggi dariku,” pikir Aini.

Aini tidak lagi terlalu mengingat pembicaraan itu sampai seminggu kemudian, ada bunyi notifikasi pesan di ponselnya. Aini membaca pesan yang muncul.

Hai, aku Albert. Salam kenal ya. Aku dapat nomor kamu dari tante Mona.

“Oh, iya. Dia yang mau dikenalin tante waktu itu.”

Hai juga. Aku Aini. Salam kenal juga.
Apa aku lagi ganggu kamu?
Oh…nggak kok. Aku lagi santai saja.
Kamu kerja apa?
Aku guru. Ngajar anak-anak TK. Kalau kamu apa?
Aku kerja di IT. Programmer. Kamu senang anak-anak ya? Pasti kamu orangnya sabar deh.
Hahahahaha…nggak juga. Kadang aku bisa marah juga kok.
Sudah lama ya kerja jadi guru?
Iya. Sejak lulus sampai sekarang. Kamu gimana?
Iya. Aku juga, sejak lulus kuliah, sudah kerja di sini. Kita banyak kesamaan ya?
Iya, sepertinya.

Aini tidak menyangka percakapan pertama itu menjadi awal dari percakapan rutin yang mengisi hari-harinya. Albert akan mengirimkan pesan setiap hari kepada Aini. Biasanya menanyakan apa yang Aini lakukan, mengirim foto makanan, atau tempat-tempat yang sedang dikunjunginya. Aini merasa hidupnya menjadi berbeda. Kebosanan akibat pandemi yang membatasi ruang gerak, rutinitas pekerjaan dan kesepian yang kadang dia rasakan, menjadi tidak lagi mengganggunya karena kehadiran Albert. Meski hanya lewat chat, atau kadang video-call, perhatian Albert terasa sangat menyenangkan. Albert menanyakan kabarnya, memintanya menceritakan kegiatannya bersama anak-anak, memberikan semangat bila Aini merasa sedang putus asa, bahkan mengirimkan hadiah ulang tahun.

Memang mereka belum pernah bertemu karena Albert tinggal di Medan sedangkan Aini di Jakarta, dan juga karena larangan bepergian akibat pandemi, namun tiada hari terlewati tanpa obrolan lewat ponsel. Suara Albert yang menentramkan sanggup membuat rasa lelah Aini karena bekerja sepanjang hari, menjadi hilang.

Meski Aini merasa hidupnya sekarang menyenangkan, namun, dia juga merasakan kegelisahan. Beberapa kali ayat Alkitab 2 Korintus 6:14 tergiang di kepalanya. “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya…” Aini berusaha menyakinkan dirinya bahwa dia dan Albert hanya berteman saja. Tetapi perasaan suka yang dia rasakan dari hari ke hari semakin kuat. Aini selalu menunggu Albert mengirimkan pesan atau meneleponnya. Pernah Albert tidak memberi kabar sepanjang hari, Aini merasa cemas berpikir hal buruk mungkin sudah terjadi. Ternyata kesibukan kerja membuat Albert tidak bisa memberi kabar. Aini baru merasa lega setelah Albert mengirimkan pesan keesokan harinya.

Aini menyadari perasaan suka yang mengetuk pintu hatinya, namun terselip juga perasaan bersalah karena Albert bukan orang Kristen. Karena itu Aini memutuskan untuk mendoakan Albert agar dapat percaya kepada Tuhan Yesus. Aini menyakinkan dirinya bahwa dia sedang menginjili. Bukankah penginjilan itu perintah Tuhan?

Maka suatu kali Aini menanyakan kepada Albert mengenai Tuhan.

Bert, kamu percaya ada Tuhan?
Iya…aku percaya ada Tuhan. Kalau tidak, bumi tidak mungkin tercipta seperti ini.
Kamu pernah dengar Tuhan Yesus?
Iya, pernah. Aku pernah diajak teman ke gereja beberapa kali.
Menurutmu, gimana?
Yah…menurutku. Setiap orang boleh saja memilih agamanya. Dan semua agama sama kan? Masing-masing mengajarkan yang baik. Mungkin selera saja, masing-masing pilih agamanya.
Tidak sama. Tuhan Yesus berbeda. Dia satu-satunya Juruselamat.
Aini, kita jangan bicarakan ini ya. Aku nggak suka dengar kamu bicara soal Tuhan Yesus. Aku tahu siapa itu Tuhan Yesus. Aku sudah sering dengar tentang Dia. Kita bicarakan yang lain saja deh.

Setiap kali Aini mencoba bercerita mengenai Tuhan Yesus, tanggapan Albert menjadi dingin. Beberapa kali Aini pun sempat mengirim ayat-ayat Alkitab seperti Yohanes 3:16 dengan harapan agar Albert mau membacanya. Tetapi pesan-pesan itu tidak digubris. Akhirnya Aini tidak pernah lagi membicarakan tentang Tuhan Yesus, tetapi dia masih terus mendoakan agar suatu hari nanti Albert dapat menjadi orang percaya.

Suatu kali, tanpa sengaja, Aini menemukan video khotbah dengan judul Putus Atau Terus. Pembicaraan yang berkisar sekitar 30 menit itu membekas di hati Aini. Dia teringat pembicara itu menanyakan “Are you dating the right person?” Sudahkah kamu bertanya kepada Tuhan, apakah dia orang yang cocok untukku? Apakah dia seiman dan sepadan untukku?” Aini memikirkan pertanyaan itu selama berhari-hari. Dia memikirkan relasinya dengan Albert selama ini, percakapan mereka, hal-hal yang disukainya dari diri Albert, termasuk tanggapan Albert jika diajak berdiskusi mengenai iman. Aini bergumul di hadapan Tuhan, sungguhkah dia menginginkan Albert menjadi pasangan hidupnya? Aini kembali teringat akan 2 Korintus 6:14, perintah Tuhan yang dengan jelas melarangnya berpasangan dengan orang yang tidak seiman. Pada akhirnya, Aini pun mengambil keputusan.

Beberapa hari kemudian ponsel Aini berdering ketika dia sedang mengerjakan materi ajar.

Hai.
Hai.
Sedang apa?
Lagi persiapan ngajar untuk minggu depan.
Oh….
Ada apa? Kamu kedengarannya serius sekali.
Gini…Aini. Aku sedang berpikir tentang kita. Sepertinya kita sudah berteman cukup lama ya. Sudah 4 bulan ya kalau ngak salah. Aku ingin kita lebih dari teman. Aku suka kamu, Aini. Dan kita juga cocok. Aku senang ngobrol sama kamu, kita punya banyak kesamaan juga. Gimana menurut kamu?
Aku juga suka berteman denganmu, tetapi….aku nggak bisa lebih dari teman.
Kenapa nggak?
Karena kamu bukan orang Kristen. Aku tidak bisa pacaran dengan orang yang tidak seiman. Itu melanggar perintah Tuhan. Maaf ya, aku nggak bisa.
Yah…aku ngerti sih. Aku tahu juga soal itu. Yah…aku sedih, tetapi aku ngerti alasan itu.
Kita berteman saja ya. Bye..Albert.
Bye…Aini.

Aini meletakkan ponselnya. Dia merasakan matanya basah. Aini tahu mungkin dia tidak akan bertemu lagi dengan orang seperti Albert. Bahwa dia telah melewati kesempatan yang mungkin dia tidak akan pernah dapatkan lagi. Usianya yang hampir menginjak 30 tahun membuat peluang bertemu dengan pria baik seperti Albert semakin kecil. Aini juga berpikir tentang reaksi Tante Mona bila dia tahu keputusan yang telah diambilnya. Mungkin Tante Mona akan menganggapnya bodoh dengan melepaskan Albert. Aini tahu dia perlu menyesuaikan diri lagi dengan kehidupannya tanpa Albert sekarang. Mungkin rasa kesepian akan datang kembali seperti yang dia rasakan dulu sebelum bertemu Albert. Namun, semua itu tidak lagi menjadi penting karena Tuhan sudah menunggunya untuk kembali. Damai sejahtera kembali mengisi hatinya. Bukankah menyenangkan Tuhan adalah hal yang paling penting?

Aini tahu dia sudah membuat keputusan yang benar. “Terima kasih, Tuhan telah menolongku. Maafkan aku yang butuh waktu lama untuk menyadarinya. Tolong aku untuk tidak terlalu bersedih. Tuhan akan sediakan seseorang untukku bila Tuhan ingin aku menikah nanti.”

4 Pertanyaan Penting Sebelum Memulai Hubungan yang Serius

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Questions To Ask Yourself Before Embarking On A Relationship

Pernikahan adalah sesuatu yang aku inginkan sedari kecil, semenjak aku melihat dan mempelajari dari kedua orang tuaku tentang apa rasanya berada dalam pernikahan. Cinta dan komitmen mereka, begitu pula stabilitas dari pernikahan yang berpusat pada Tuhan yang mereka bawa ke dalam rumah tangga—kemampuan mengasihi, menerima, dan tidak mementingkan diri sendiri—merupakan hal-hal yang aku kagumi. Memang, tidak ada keluarga atau pernikahan yang sempurna, tetapi usaha untuk mengasihi dan melayani satu sama lain bersama Tuhan telah memungkinkan adanya pengampunan dan rekonsiliasi.

Harus kuakui bahwa tahun-tahunku melajang (bukan karena pilihan) nyatanya cukup sulit aku jalani. Dari masa remaja hingga dewasa muda, aku yakin kalau ada sesuatu yang ‘salah’ denganku sehingga aku tidak dateable. Aku sempat berpikir mungkin itu karena diriku yang terlalu atletis, terlalu intelek, atau bahkan terlalu serius dengan imanku.

Syukurnya, aku bukan seorang ahli dalam pernikahan—tetapi Tuhan-lah ahlinya. Lagi pula, pernikahan kan ide-Nya. Aku bersyukur atas semua saran dan dukungan doa dari mentor dan teman-teman rohaniku—untuk tidak puas dengan kualitas yang belum ideal, untuk jadi lebih spesifik dalam mendoakan seorang pasangan, untuk terus mengingat bahwa Tuhan mengasihiku dan mengetahui hasratku untuk menikah, dan untuk percaya pada waktu dan ketentuan Tuhan.

Dalam waktuku melajang, ada banyak hal yang aku tanyakan mengenai diriku. Kini ketika aku sudah memasuki hubungan romantis untuk pertama kalinya, aku bersyukur telah menunggu dan meluangkan waktu untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini.

1. Apa tujuanku dalam menjalin hubungan?

Awalnya aku menginginkan hubungan romantis dan pernikahan untuk merasa “normal” di kalangan teman sebayaku, sekaligus supaya aku mendapat perhatian dan kasih sayang yang istimewa. Namun pada akhirnya aku sadar bahwa tujuan tersebut sangatlah remeh di mata Tuhan.

Dalam sebuah serial khotbah tentang pernikahan, Timothy Keller mengatakan bahwa tujuan utama dari pernikahan duniawi adalah untuk membawa pemurnian rohani—sehingga pasangan suami istri dapat membantu satu sama lain untuk jadi semakin serupa dengan Kristus, sampai hari mereka masuk ke surga tiba.

Dengan pertolongan dari pernyataan itu—dan beberapa rekomendasi buku, khotbah, dan podcast tentang kencan dan pernikahan—aku pun mulai mendefinisikan ulang tujuan pribadiku dalam menjalin hubungan:

  • Untuk mengasihi dan melayani Tuhan lebih sungguh bersama-sama—walaupun aku sedang melayani Tuhan sekarang, hal itu harus diperkuat seiring aku dan calon suamiku bekerja berdampingan untuk Kerajaan Allah.
  • Untuk mengenali sisi lain dari Yesus. Aku telah mengenal Yesus sebagai Teman dan Tuhan sebagai Bapa. Sebagian diriku ingin mengenal-Nya sebagai Mempelai, sehingga pernikahan duniawi-ku dapat menjadi bayangan atas persatuan Kristus dan Pengantin-Nya, Gereja.

Akankah pernikahan duniawiku mendekatkan atau menjauhkanku dari tujuan Tuhan untuk hidupku (dan hidup pasanganku) dalam terang Kerajaan-Nya? Semua yang tidak mengarah pada tujuan Tuhan rasanya bukanlah yang terbaik bagi pernikahan.

2. Maukah aku mengencani diriku sendiri?

Seiring aku berdoa kepada Tuhan untuk calon pasangan hidupku, aku menemukan bahwa beberapa ciri dalam ‘daftar’ kriteriaku ternyata tetap konsisten selama bertahun-tahun, dalam hal:

  • Iman: memiliki hubungan personal yang aktif dengan Tuhan, mengetahui tujuan hidupnya, dan mampu menjadi pemimpin rohani untuk keluarga.
  • Sosial: Lucu, pendengar yang baik, bisa mengobrol dalam percakapan, jujur dalam kesaksian, menghormati dan peduli pada keluarganya.
  • Kesehatan emosi: Mau diajar dan memiliki kepercayaan diri.
  • Kesehatan intelektual: Memiliki mindset untuk bertumbuh.
  • Tekun dalam merawat kesehatan fisik dan penampilan.

Suatu hari, ketika sedang mendoakan daftar ini dalam waktu teduh, aku merasa Tuhan mencelikkan hatiku dengan bertanya, “Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga sudah sesuai dengan kriteriamu sendiri?” Pertanyaan ini menohokku. Akupun mulai memakai daftar kriteria tadi sebagai cermin untuk diriku sendiri—”Apakah aku punya hubungan yang aktif dengan Tuhan? Apakah aku menghormati dan peduli pada keluargaku? Apakah aku mau diajar dan jujur dalam kesaksianku?”

Sampai saat itu, aku pikir bahwa hidup baru akan dimulai ketika aku mulai berkencan dan berjalan mengarah pada pernikahan. Tapi, siapa yang ingin menjalin hubungan denganku kalau aku masih menunggu orang lain untuk ‘mengawali’ hidupku?

Dan jika calon suamiku memiliki kualitas-kualitas ini, bukankah ia juga seharusnya mencari kualitas yang sama dalam calon istrinya?

Pada hari itu aku berdoa, “Tuhan, aku nggak mau lagi pakai standar ganda. Engkau yang telah memberiku hasrat untuk kualitas-kualitas tertentu pada calon pasangan hidupku. Tolong bentuk aku untuk menjadi wanita dengan kualitas seperti yang Kau inginkan aku miliki. Kiranya Engkau tidak membiarkanku mengharapkan orang lain apa yang tidak aku harapkan pada diriku sendiri.”

3. Apakah aku punya ruang untuk hubungan yang serius di dalam hidupku saat ini?

Untuk mengukurnya, aku merenungkan hal ini: jika aku akan menikah dalam waktu dekat, apakah aku akan siap—secara praktis, emosional, spiritual, dan finansial—dalam segala hal yang diperlukan untuk pernikahan?

Itu adalah pertanyaan yang menakutkan, tetapi aku tahu kalau memiliki seseorang signifikan dalam hidupku (dan sebaliknya) akan membutuhkan kerjasama dan kompromi. Berikut adalah hal yang aku harus pikirkan:

  • Secara spiritual, apakah aku semakin konsisten dalam waktu teduhku bersama Tuhan, dan dalam membiarkan-Nya menghancurkan pola pikiran dan kebiasaan burukku? Apakah aku sudah berakar dalam komunitas rohani yang kuat untuk bertanggung jawab membangun imanku?
  • Secara praktik, apakah jadwal dan kesibukan yang aku miliki memungkinkanku untuk menghabiskan waktu bersama calon suamiku secara rutin?
  • Secara sosial dan emosional, apakah aku sudah mempunyai keterbukaan dan kedewasaan untuk menceritakan tentang diriku secara jujur? Apakah aku sudah siap untuk mendengar tentang hidup orang lain secara rutin—tentang sukacita dan pergumulannya?
  • Secara finansial, apakah aku sudah siap untuk menanggung biaya acara pernikahan dan rumah? Apakah aku sudah siap untuk membicarakan tentang bagaimana mengatur keuangan bersama?
  • Dalam hal kesehatan, apakah aku sudah puas dengan cara makan, olahraga, dan waktu tidurku?

Melihat ke belakang, aku bersyukur atas waktu Tuhan yang sempurna karena Ia telah membentuk hatiku—menghancurkan tembok, keterikatanku pada dosa, dan kebiasaanku mengeluh, yang bisa saja membahayakan relasiku jika saja aku mulai berkencan lebih awal.

4. Apakah aku mengidolakan romansa dan pernikahan?

Pada masa aku kuliah, dalam sebuah acara persekutuan, seorang pengkhotbah membagikan kepada kami tentang perjalanannya menuju pernikahan. Ia mengatakan bahwa sangat memungkinkan kalau ia kehilangan istrinya (yang pada saat itu sedang hamil anak pertama) dalam sebuah kecelakaan kapan saja.

Jika hal itu itu terjadi, ia bertanya-tanya apakah ia akan marah kepada Tuhan dan berhenti percaya kepada-Nya. Ia kemudian sadar bahwa istrinya dan anak dalam kandungannya adalah pertama-tama milik Tuhan, dan Tuhan sebenarnya tidak berutang kepada mereka untuk memberikan ‘hidup bahagia selamanya’ yang mungkin selama ini kita harapkan.

Ini mengingatkanku pada ayat, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21b). Aku terdorong oleh pesan dari pengkhotbah tadi, dan aku jadi berpikir, bisakah aku berpandangan seperti itu bersama pacarku sekarang?

Kurang dari sebulan setelah artikelku tentang menerima berkat dari masa-masa lajang diterbitkan, pacarku yang sekarang datang di hidupku. Kini sudah hampir setahun setelah kami menjalin hubungan, dan aku mengucap syukur kepada Tuhan setiap hari karena kehadirannya dan bagaimana Tuhan telah memakai dia dalam mendalami imanku, menajamkan keahlian hidupku, dan menumbuhkan mimpi-mimpi kreatif kami.

Namun, terkadang aku masih merasa kurang utuh ketika aku melihat teman-teman sebayaku menikah dan seakan “move on” dalam kehidupan mereka, sementara aku masih di sini-sini saja. Tetapi aku kemudian sadar bahwa aku sedang menggantungkan semua pengharapan dan impianku pada sesama manusia berdosa, seakan mengharapkan dia untuk “menyelamatkan” diriku dari kehidupan yang “kurang”, sekaligus membuatku merasa utuh.

Tuhan tahu betul bagaimana aku sudah menunggu lama dan menjaga diriku tetap murni. Tetapi, jika pacarku meninggalkanku, apakah aku akan menyalahkan Tuhan? Padahal Tuhan tidak berutang untuk memberiku seorang pacar atau suami. Tuhan pun tidak berutang agar Ia menebus kita. Semua itu dilakukan-Nya hanya karena kasih karunia-Nya. Jika Tuhan memandang baik untuk aku menikah, maka jadilah kehendak-Nya. Jika Tuhan memandang baik untuk aku melajang, maka jadilah kehendak-Nya. Tuhan tahu yang terbaik dan jalan-jalan-Nya lebih hebat dan lebih tinggi dari jalanku.

Menjalin hubungan romantis memang bisa mengasyikkan sekaligus menegangkan. Setiap hari aku pun belajar apa artinya mengasihi dan dikasihi oleh pacarku. Pada saat yang sama, aku yakin kalau selama kita menetapkan fokus kita kepada Tuhan dan tetap tertanam dalam suatu komunitas rohani, sebuah hubungan romantis yang menuju pernikahan dapat menjadi relasi yang tetap memuliakan Tuhan dan membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Baca Juga:

5 Hal untuk Direnungkan Ketika Iri dengan Privilese Orang Lain

Pada masa-masa aku mulai menyerah karena merasakan privilese terbatas, ada beberapa hal terkait privilese yang kurenungkan dan mulai kutemukan jawabannya ketika aku membaca Alkitab.

Dengan Berhenti, Maka Kamu Bisa Berjalan

Oleh Bintang Lony Vera, Jakarta

Ai holan ho do sasude di ngolunghi
(Hanya kamu segalanya dalam hidupku)

Tung so hubaen hita marimba hasian
(Tidak ada perbedaan di antara kita)

Botoonmu ma sude na lao di ho
(Kau akan tahu semua dilakukan hanya untukmu)

Dang parduli au manang na songon diape ho
(Aku tidak peduli seperti apa dirimu, itulah cintaku)

Reff: Hupasahat ma tu ho ngolunghi, dang mangolu au molo soada ho
(Reff: Kuserahkan cintaku kepadamu, aku tak bisa hidup tanpamu)

Lirik di atas adalah sebuah lagu berbahasa Batak yang belakangan ini sering kudengar. Lagu itu dipopulerkan oleh Nirwana Trio dan telah kumasukkan ke dalam daftar putar lagu-lagu favoritku. Selain aku jadi bisa belajar bahasa Batak, suara yang lembut dipadu dengan iringan musik yang apik membuat lagu ini selalu enak didengar. Dan, liriknya juga mengusikku. Kukirimkan lagu ini kepada kekasihku kala itu. Menurutku, setiap kata-kata dalam baitnya mewakili perasaanku.

Tapi, di balik romantisnya kisah cinta seperti yang tertuang dari lirik lagu itu, aku menyadari kalau aku mengasihi dia (kekasihku) lebih daripada aku mengasihi siapapun. Hampir seluruh waktu kupakai untuk memikirkan dia dan juga relasi kami. Aku selalu semangat untuk membaca pesan dari dia, yang cuma bisa memberi kabar di waktu-waktu tertentu saja. Dia tinggal jauh dariku, dan kesehariannya di atas kapal membuatnya tidak selalu terhubung dengan akses internet. Ketika dia tidak sedang melaut, aku sering menyusun rencana tentang kami mau pergi ke mana dan mau melakukan apa.

Ketika kami dapat saling bertukar kabar, rasa senang memenuhi hatiku. Hingga tanpa kusadari, aku melupakan hal-hal dan orang-orang lain yang Tuhan telah berikan untukku jaga dan perhatikan. Tuhan menegurku, tapi aku bergeming. Aku amat mengasihi dia lebih dari siapapun, termasuk Tuhan sendiri. Tanpa kusadari, aku sedang menipu diriku sendiri saat aku mulai mengatur rencana pernikahan kami agar terjadi sesuai dengan kehendak Tuhan. Padahal jauh di dasar hatiku, aku hanya ingin bersamanya. Aku hanya ingin menghabiskan waktu hidupku bersama dirinya.

Hingga tiba di bulan Februari lalu, Tuhan menjawab “tidak” atas doa kami agar hidup bersama.

Aku sangat kecewa karena kehilangan seseorang yang begitu aku kasihi. Kurang lebih empat tahun kami telah menjalin kasih dan berdoa kiranya Tuhan berkenan agar kami dapat sampai pada jenjang pernikahan.

Kandasnya relasi kami meninggalkanku dalam kondisi hancur hati. Aku sangat berduka.

Tetapi, syukur kepada Allah. Dalam momen duka pun, Dia bekerja. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun Perkantas ke-50, aku membaca kalimat pada leaflet undangan ibadah yang dibagikan oleh pengurus divisi alumni: It is the stop that make you move.

Kalimat itu menohokku. Perpisahan yang terjadi mungkin jadi cara Tuhan untuk memulihkanku dari perasaan cinta dan kasih yang salah. Pesan itu juga membuatku menyadari bahwa Tuhan sedang meraih kami (terkhusus aku) untuk kembali pada-Nya. Tuhan tidak sedang mengoyak kami, tetapi Dia menjagai kami. Kisah cinta kami perlu berakhir untuk menolong aku yang terlalu mengasihinya, agar kami tetap dapat meneruskan perjalanan hidup–hidup yang memuji dan memuliakan Allah, di mana Dia sebagai pusat hidup dan satu-satunya Pribadi yang layak mendapatkan seluruh cinta kita.

Dalam bukunya yang berjudul Struggles, Craig Groeschel menulis:

“Mengapa mendahulukan orang lain atau hal lain daripada Allah itu salah? Jiwa kita diciptakan untuk mengenal Allah, mengasihi Dia, menyembah Dia, dan menjalani keidupan bersama Dia. Inilah pentingnya harus menjaga kasih dan jiwa kita serta mendahulukan-Nya. Kapan saja kita membiarkan jiwa kita terobsesi dengan apa saja selain Allah, kita takkan pernah puas. Jika Anda tahu obsesi Anda mengganggu hubungan-hubungan yang terpenting dengan sesama dan Allah, sudah saatnya bertindak. Allah tidak mau kita memiliki ilah yang lain, apapun bentuknya, di hadapan-Nya. Allah merindukan kita mengenal Dia, menikmati hadirat-Nya dan kebaikan-Nya, hidup dalam kasih-Nya”.

Ketika Dia mengizinkan relasi kami usai, aku mulai memahami bahwa ini adalah bentuk kasih-Nya kepadaku, kepada kami.

Seharusnya lirik lagu di awal tulisan ini adalah kata-kata dalam doaku yang kusampaikan kepada-Nya.

Seharusnya aku lebih mencintai Dia yang telah menganugerahkan cinta di antara kami.

Sekarang tidak ada lagi penyesalan. Aku merasa diberkati dengan relasi kami. Meskipun tidak sampai kepada pernikahan, tetapi sampai kepada pemahaman bahwa Dia sangat mencintai kami dan rindu agar kami pun mencintai diri-Nya.

Allah yang telah mempertemukan kami empat tahun yang lalu juga akan menolong kami dalam menempuh perjalanan kami masing-masing ke depan. Terpujilah Tuhan.

Baca Juga:

4 Langkah untuk Mendoakan Temanmu

Doa adalah disiplin rohani sepanjang waktu. Sangat penting untuk berdoa dalam komunitas, agar kita bisa saling mendukung satu sama lain sepanjang waktu.

Melajang di Usia 30+: Menyerah atau Bertahan dengan Pendirian?

Oleh Nelle Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 30+, Single, And Trying Not To Settle

Kencan online di usia 30-an sepertinya tidak cocok untuk orang yang hatinya lemah.

Aku pikir aku perlu mengulangi jawaban-jawaban yang sama selama berbulan-bulan, berpikir keras untuk menciptakan obrolan yang santai, dan berusaha untuk tidak melirik jam di pertemuan pertama kami yang terasa membosankan. Meski ketakutan itu mungkin terwujud, tapi tidak ada salahnya untuk tetap mencoba. Kepada seorang laki-laki, aku coba memberanikan diriku untuk memulai obrolan.

Setelah beberapa bulan, aku mulai melihat sifat aslinya. Laki-laki ini orang yang menyenangkan. Dia merespons pertanyaan-pertanyaanku dengan serius, dia mengajukan pertanyaan yang sopan, dan perilakunya juga santun. Meskipun dia termasuk orang yang cukup serius, tapi dia masih punya selera humor (dan senyumannya yang manis). Kami suka menonton acara komedi, jalan-jalan ke luar ruangan, dan belajar hal-hal baru. Di tiga jam pertama dari pertemuan pertama, kami mengobrol dengan lancar sampai-sampai aku lupa pulang.

Tapi, meskipun dia mencantumkan status ‘Kristen’ di profilnya, aku melihat kalau dia tidak punya relasi personal dengan Tuhan. “Tuhan” baginya adalah sosok dengan kuasa yang lebih besar, dan dia tidak yakin dengan konsep bagaimana Salib itu bekerja menyelamatkan manusia. Semakin banyak kami berbicara, semakin terlihat tanda-tanda kehidupan yang hampa darinya. Meskipun dia orang yang ambisius dan sedang berada pada jalannya untuk mencapai kesuksesan, kehampaan itu muncul dari perasaan insecure-nya. Dia mengakui kalau dia takut jadi orang yang tidak relevan dan diabaikan. Untuk mengalahkan kekhawatiran itu, dia tidak mengizinkan ada orang lain yang mengontrol hidupnya—termasuk Tuhan. Dia terus mendorong dirinya untuk jadi yang terdepan.

Godaan untuk menyerah

Setelah putus empat tahun lalu, aku tahu orang yang seharusnya menjadi calonku harus mengasihi dan takut akan Tuhan. Aku bisa menebak masalah apa yang akan datang jika aku berelasi dengan seseorang yang mengandalkan dirinya sendiri untuk menjalani hidup. Kehidupan telah menunjukkanku akan apa yang Yeremia katakan, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9).

Hatiku sendiri, meskipun aku sudah mencoba menyerahkannya pada Tuhan, sering membawaku pada kesulitan. Jadi, jika pasanganku jelas-jelas menolak menyerahkan hatinya pada Tuhan, bagaimana aku dapat percaya pada setiap keputusan atau kata-katanya? Aku akan selalu menebak-nebak apakah itu keputusan dia yang egois. Dan, kurasa dia pun tidak akan pernah bisa jadi pemimpin rohani bagi keluarga.

Dengan harapan untuk memiliki pasangan yang berfokus pada Kristus, kurasa itu sudah cukup buatku untuk mengakhiri relasiku dengan laki-laki itu. Tapi, ketika keputusan itu muncul di otak, aku teringat:

Kamu itu nggak lagi muda.
Kamu siap buat membangun lagi komunikasi dengan orang lain?
Kapan lagi kamu bisa dapet chemistry kayak begini?
Kalau kamu terlalu pemilih, ya terima aja kalau kamu sendirian
Duh, orang seperti dia sih masih gapapa; dia bukan ateis kok.

Melepaskan seseorang yang cukup layak dalam standar masyarakat zaman ini menjadi sangat susah saat berada di usiaku. Aku bisa merasakan pikiranku bergulat untuk menemukan semacam kompromi. Mungkin aku bisa berjuang keras untuk memuridkan dia. Mungkin menginginkan calon suami yang bisa jadi pemimpin rohani cuma angan-angan saja, bukan sesuatu yang wajib? Lagipula, beberapa temanku yang Kristen baik-baik saja kok relasinya selama mereka jadi istri yang kerohaniannya lebih kuat?

Naluriku (atau mungkin Roh Kudus) melihat semua upayaku merasionalkan pemikiran-pemikiranku ini adalah mengangkat alis sebagai tanda heran. Tapi, pikiranku yang dicengkeram rasa takut terus menekanku.

Rumah yang kuharap ingin kubangun

Aku tahu aku bisa berdoa memohon petunjuk dari Tuhan untukku melakukan apa yang perlu. Suatu malam, saat aku sedang mencuci piring, sebuah pertanyaan muncul di pikiranku, “Nilai apa yang paling penting, yang ingin kamu berikan kepada anak-anakmu?”

Hening tetapi menohok, kurasa pertanyaan itu datang dari Roh Kudus. “Ini sih gampang,” pikirku, “aku mau anak-anakku punya relasi yang nyata dengan Tuhan yang mengasihi mereka. Ketaatan mereka adalah sikap hormat bagi Allah yang kudus. Dan supaya mereka bisa melihat setiap orang diciptakan seturut gambar-Nya, yang dengan demikian layak mendapatkan martabat dan kehormatan.”

Bagiku, beberapa nilai yang ingin kuberikan itu akan menolong mereka menemukan versi kehidupan terbaik yang bisa mereka miliki. Aku pernah mencoba hidup tanpa Tuhan, menentang-Nya, tetapi kemudian aku sadar bahwa dikasihi oleh Tuhan akan membentuk hidup kita. Aku percaya penuh bahwa Tuhanlah satu-satunya jalan menuju keutuhan hidup.

Pertanyaan kedua segera datang, “Tapi, bagaimana jika pasanganmu tidak percaya dengan itu semua, atau menolak harapan-harapanmu itu sebagai sebuah prioritas?”

Dan tiba-tiba… pergumulan pikiran selama berminggu-minggu pun hilang. Jika aku tahu apa yang terbaik untuk anak-anakku kelak, bagaimana bisa kelak kami hidup dalam rumah yang tidak bersatu, yang mungkin akan menghalangi mereka untuk tumbuh mendapati kehidupan yang terbaik untuk mereka?

Mungkin Tuhan tahu karena aku tipe orang yang mudah berkompromi, Dia mengajakku untuk berpikir keras. Pikiran-pikiran itu menolongku melihat bahwa pilihan-pilihan yang kubuat terkait pasangan hidupku tidak cuma akan mempengaruhiku, tetapi juga bagi orang lain.

Aku menyadari sekali lagi, ini adalah ujian bagi hatiku. Apakah aku percaya bahwa ketika Tuhan menetapkan batasan yang jelas bagi pernikahan, Dia tahu apa yang terbaik bagi kita? Atau, aku sombong karena kupikir akulah yang lebih tahu? Kupikir aku cukup kuat untuk menanggung semua akibat dari tidak berpegang pada tuntunan Tuhan dan menciptakan pernikahan berdasarkan standarku sendiri?

Ketika aku mengobrol dengan teman-temanku yang menikah dengan bukan orang Kristen, atau menikahi orang-orang yang tidak dewasa secara rohani, semua ilusiku pun buyar. Mereka bercerita betapa kesepiannya mereka karena tidak bisa membagikan isi hati terdalam mereka—perjalanan mereka bersama Tuhan—dengan pasangan mereka. Atau, betapa melelahkannya untuk berjalan secara rohani sendirian. Karena mereka sudah terikat dalam pernikahan, mereka berkata perlu tetap berkomitmen untuk mempertahankannya. Sementara itu, aku masih punya pilihan.

Teman-temanku yang menikahi seorang yang saleh menemukan sukacita tak terduga dari kehidupan pasangannya yang mengasihi Tuhan dan gereja (Efesus 5:25-29), serta bertanggung jawab menjadi pemimpin spiritual dalam keluarga. Mereka juga punya pergumulan, tapi secara karakter mereka semakin bertumbuh. Tanpa mereka perlu berkata, aku bisa melihat sendiri alasan untukku tidak berpasrah diri asal saja menerima siapa pun untuk menjadi pasanganku.

Setelah beberapa minggu mengelola pikiranku, aku memberitahu laki-laki itu kalau aku tidak mampu membangun hubungan ini lebih lanjut dengannya.

Lajang untuk hari ini

Bertumbuh dalam kedewasaan rohani berarti keputusanku—bahkan tentang pernikahan—harus tidak berpusat pada diriku sendiri dan seharusnya lebih kepada apa yang dapat memuliakan Tuhan (1 Korintus 10:31).

Tetapi, menetapkan keputusan berdasarkan apakah keputusan ini mencerminkanku sebagai anak Tuhan terkadang terasa membebani. Di hari-hariku yang sunyi, memuliakan dan menaati Tuhan terasa seperti latihan untuk menekan egoku.

Di hari-hari yang terasa lebih baik, aku ingat janji ini: “Siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati” (1 Samuel 2:30). Janji ini mengingatkanku bahwa ketika Tuhan tidak ingin aku berpasangan dengan seseorang yang tidak mengasihi-Nya, itu tidak berarti Dia ingin aku hidup dalam penderitaan sebagai seorang yang melajang dan kesepian. Meskipun Tuhan tidak memenuhi kebutuhanku dengan cara yang aku inginkan, Dia akan membuatku bertumbuh.

Dalam masa-masa ini, aku melihat bagaimana Dia membawaku kepada relasi spiritual yang dalam, supaya aku bisa mengatasi kesepianku dan memberiku kesempatan untuk membangun kerajaan-Nya. Aku belajar percaya kebaikan-Nya—apa pun bentuknya—pasti akan memberiku kepuasan.

Sejujurnya aku masih belum berani jika Tuhan mengatakan kehendak-Nya bagiku adalah aku melajang seumur hidupku. Aku harus belajar percaya sepenuhnya pada-Nya. Pada tahap ini, akan lebih mudah bagiku untuk “melajang” pada hari ini, tanpa perlu terlalu mengkhawatirkan hari depan. Satu mazmur yang sering kuingat ketika aku menaikkan doa pagi, “Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku” (Mazmur 143:8).

Ini adalah tindakan imanku untuk hari-hari yang kujalani bahwa akan selalu tersedia anugerah yang cukup untuk hidup dan bertumbuh dalam masa-masa lajangku.

Baca Juga:

Cerpen: Ngobrol Dengan Tuhan Itu Asyik

Aku mendengar pintu depan terbuka.

“Lima…Empat…Tiga…Dua…Satu.”

“Dewi…Dewi…Kamu ada di mana?”

Suka, Cinta, dan Penantian

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Langit sore tampak cerah. Matahari bersinar di balik awan putih dan angin pantai menyapu wajah muda-mudi yang bersemangat . Setelah melangkahkan kaki ke luar dari parkiran, mereka pun berjalan menuju pantai. Tiga orang remaja SMP bersama seorang kakak pembinanya berniat untuk melakukan pendalaman Alkitab di alam terbuka. Tempat yang berbeda untuk melakukan kegiatan mingguan mereka.

Sembari berjalan, Gracia membuka obrolan, “Kak, kakak tahu Dery nggak?”

Kak Nindy, nama kakak pembina rohani para remaja ini menatap Gracia. “Iya, tahu. Kenapa?”

“Kemarin dia confess ke aku,” lanjut Gracia sambil terus berjalan.

Kak Nindy memasang wajah kaget, kemudian memandang ke belakang sambil memberi isyarat tangan pada Luke dan Bisma yang jauh tertinggal di belakang untuk lebih mendekat. Ternyata kedua laki-laki itu sedang bermain adu gulat sambil berjalan.

“Memangnya dia bilang gimana?” Kak Nindy menatap Gracia yang terus memandangi jalan setapak di hadapan mereka.

“Dia bilang: ‘Gracia, aku mau bilang sesuatu sama kamu. I like you.’ Udah gitu aja,” Jawab Gracia.

“Terus kamu bilang apa sama dia?” tanya kak Nindy lagi.

“Ya udah, he is just like me kan, not love me.” Kak Nindy tertawa geli mendengar jawaban itu. Anak SMP berusia 13 tahun pun tahu bedanya dicintai dan disukai ya?

“Memangnya kenapa kalau dia suka sama kamu bukan cinta sama kamu?” Belum sempat Gracia menjawab, Kak Nindy segera berteriak, “Hai gaes, Gracia baru dapat pernyataan cinta nih!” “Wah tunggu, kita juga mau dengar!” Luke dan Bisma antusias lalu berlari mendekat.

“Ya kan cuma suka kak, kayak nge-fans gitu kan. Kalau cinta berarti dia kan lebih dalam lagi perasaannya,” jelas Gracia lagi. Kak Nindy mengangguk-angguk.

“Ceritanya waktu kita sudah sampai tempat tujuan aja,” saran Luke.

“Enak sekarang aja, sambil jalan biar nggak kerasa capeknya,” sahut Gracia.

Mereka berempat terus berjalan menuju gubuk di tepi pantai, bagian paling favorit versi mereka dari tempat wisata ini. Bersyukur sore ini tidak banyak pengunjung yang datang, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

“Terus, terus, kakak tahu Michael? Dia chatting aku lagi, panjang lebar.” Mata Gracia tampak berbinar mengucapkannya.

“Ehem, chatting gimana?” Tanya kak Nindy mempersiapkan hati untuk mendengar ceritanya lagi.

“Intinya dia mau bilang, I still love you.” Kali ini Gracia menatap Kak Nindy yang memasang wajah pura-pura kaget. Bahkan sampai menutup mulut. Gracia tahu itu berlebihan, tetapi dia nampak senang dengan reaksi itu.

“Wow!” Teriak Bisma dari belakang sambil bertepuk tangan. Kak Nindy lalu menggeleng-gelengkan kepala. Sungguh anak SMP zaman sekarang bisa dengan mudah mengekspresikan perasaan mereka. Entah apakah di balik pernyataan itu mereka sudah tahu makna sesungguhnya.

“Aneh kan kak? Padahal kita sudah lama lost kontak lho,” lanjut Gracia. Jadi, Gracia pernah berpacaran dengan Michael selama beberapa hari (iya, hari). Jangan heran, bahkan Kak Nindy pernah mendengar anak kelas 5 SD sudah berpacaran.

“Lalu, kamu senang dia bilang begitu?” Tanya kak Nindy lagi. Dia ingin membiarkan Gracia untuk bercerita banyak terlebih dahulu.

“Ya…” Gracia memainkan tangannya. Ragu-ragu mau bilang apa.

“Tapi, kayaknya aku cuma dijadikan pelarian deh. Jadi aku biasa aja,” lanjut gadis itu kemudian.

“Kamu masih suka ya, sama Michael?” Pertanyaan ini mendapat respon dengan nada yang cukup ngegas. “Ya nggak lah kak, ngapain.”

“Hemm, okay,” Kak Nindy tersenyum kecil.

Mereka pun tiba di gubuk yang menghadap ke pantai. Setelah duduk di lantai kayu tanpa beralaskan apapun, mereka mengeluarkan Alkitab dan buku PA (pendalaman Alkitab) mereka. “Wah indah ya, pemandangannya,” seru kak Nindy sembari menatap garis pantai yang ada di hadapan mereka.

“Kak aku mau tanya deh. Nggak papa kan?” Luke menatap Kak Nindy.

“Oke, kita sharing dulu sebelum masuk ke bahan PA. Mau tanya apa dek?”

“Kak Nindy pernah bilang, kalau kita boleh pacaran waktu kita sudah siap. Nah itu biasanya umur berapa sudah siapnya?” Tanya laki-laki berusia 13 tahun itu. Ya, tiga remaja ini baru berusia 13 tahun. Namun, nampaknya mereka sudah penuh dengan gejolak cinta remaja.

“Sebenernya nggak ada umur yang pasti, kapan kita bisa dikatakan siap pacaran. Karena siap itu bukan bicara soal umur, tapi kedewasaan seseorang. Nah, mereka yang sudah berumur 20 tahun tapi masih egois dan nggak tahu tujuan hidupnya, kayaknya juga belum siap buat pacaran.” Jelas Kak Nindy.

“Berarti, nanti kalau SMA aku sudah dewasa dan tahu tujuan hidup, aku boleh pacaran?” Sahut Gracia.

“Ngebet amat lu.” Celetuk Bisma sambil melirik pada Gracia, gadis itu memukul pelan paha Bisma dengan buku di tangannya.

“Ya, kalau kalian sudah merasa siap dan sudah mendoakan dengan sungguh-sungguh, silahkan pacaran. Tapi ingat ya, pacaran itu bukan untuk anak-anak, karena ada banyak hal yang akan kalian usahakan dan berikan. Seperti emosi, perhatian, saling melayani, saling mengenal lebih dalam. Nah, kalau kalian nggak siap, terus putus, itu bisa bikin kalian kalang kabut. Bahkan ada yang berpikiran ingin mengakhiri hidup karena putus cinta. Makanya, kakak bilang: kenallah Tuhan dan dirimu sendiri dengan baik, sebelum mau memulai relasi dengan lawan jenis.”

“Kalau kakak, kenapa belum pacaran? Kakak kan sudah dewasa, sudah tahu tujuan hidupnya, kayaknya kakak juga sudah siap. Nunggu apa coba?” Gracia menatap kakak rohaninya itu yang sudah setahun ini menemani mereka dalam kelompok kecil.

“Iya, kakak sudah 27 tahun kan,” Tambah Luke.

Kak Nindy tersenyum mendengar pertanyaan itu sambil menatap mereka satu per-satu, “Kalau kita merasa siap, bukan berarti Tuhan juga menilai demikian. Karena rencana kita bukan rencana Allah.” Lalu pandangannya beralih pada laut di hadapannya, bau air laut dibawa oleh angin memecah keheningan di antara mereka.

“Kalau kita hidup dengan sebuah tujuan, kakak yakin pacaran dan pernikahan seharusnya juga punya tujuan. Bukan hanya karena cinta, ya meskipun itu juga penting. Tapi menurut kakak, ada yang jauh lebih penting dari itu.” Kak Nindy berhenti lagi menunggu reaksi dari ketiga adiknya.

“Apa?” Tanya Gracia.

“Pernikahan itu alat yang dipakai Tuhan untuk membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Pernikahan itu juga untuk menggenapi rencana Tuhan bagi dunia ini. Apa coba, rencana Tuhan bagi dunia ini?” Kak Nindy menyipitkan matanya sambil melayangkan telunjuknya kepada wajah para remaja itu.

“Nggak tau kak,” rengek Gracia.

“Kak Nindy sudah pernah bilang lho padahal.” Wanita itu meraih Alkitabnya, “Coba baca Wahyu 7:9…” Mereka pun memulai diskusi tentang salah satu bagian perikop tersebut, bahkan juga membuka beberapa bagian kitab lain.

Ada yang berbicara tentang rasa suka terhadap lawan jenis atau tentang cinta yang tumbuh entah sejak kapan, tetapi juga ada yang masih tetap berbicara tentang penantiannya. Bukankah kita semua adalah kekasih-kekasih Allah yang telah ditebus dan dimerdekakan-Nya?

Kiranya mata kita senantiasa tertuju kepada Kristus. Hingga suatu saat kau temukan orang lain yang juga berlari ke arah yang sama, beririsan dengan hidupmu. Jika penantian akan pasangan hidup seakan selamanya, sesungguhnya Kekasih Jiwa kita tetap sama. Penantian kita tidak akan sia-sia.

Dan jika dirimu adalah jiwa yang terluka karena cinta yang sebelumnya, mungkin ini waktu yang tepat untuk datang ke pelukan Bapa. Dia peduli dan akan membalut setiap luka.

Baca Juga:

Pendeta yang Tidak Aku Sukai

Siapa pendeta yang akan berkhotbah sering jadi motivasiku untuk ikut ibadah. Kalau pendeta X yang khotbahnya menurutku tidak bagus, aku pun malas ke gereja. Tapi, ini pemikiran yang salah, dan aku bersyukur Roh Kudus menolongku.