Semangat Fika

Info

Senin, 25 Februari 2019

Semangat Fika

Baca: Lukas 24:28-35

24:28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.

24:29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

24:30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.

24:31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.

24:32 Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

24:33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.

24:34 Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”

24:35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. —Lukas 24:30

Semangat Fika

Kedai kopi dekat rumah saya diberi nama Fika, kata dalam bahasa Swedia yang berarti beristirahat dengan menyantap roti dan segelas kopi bersama keluarga, rekan kerja, atau teman-teman. Saya bukan orang Swedia, tetapi kata fika menggambarkan satu hal yang paling saya sukai tentang Yesus—sikap-Nya yang senang mengambil waktu untuk makan dan bergaul dengan orang lain.

Para pakar Alkitab berpendapat bahwa perjamuan makan Yesus bukanlah sesuatu yang dilakukan tanpa tujuan. Teolog Mark Glanville menyebutnya sebagai “hidangan kedua yang menyenangkan” dari pesta dan perayaan yang biasa dilakukan bangsa Israel pada masa Perjanjian Lama. Di meja perjamuan-Nya, Yesus menjadi apa yang dikehendaki Allah dari bangsa Israel, yaitu “sumber sukacita, kemeriahan, dan keadilan bagi seluruh dunia.”

Lewat perjamuan yang dilayani Yesus, dari pemberian makan kepada 5.000 orang, Perjamuan Terakhir bersama para murid, hingga makan bersama dua murid setelah kebangkitan-Nya (Luk. 24:30)—kita diajak berhenti sejenak dari pergumulan kita dan berserah penuh kepada-Nya. Setelah kedua murid itu bersantap bersama Yesus, mereka baru menyadari bahwa Dialah Tuhan yang telah bangkit. “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia” (ay.30-31).

Baru-baru ini, saat duduk bersama seorang teman di kedai kopi Fika sembari menikmati cokelat panas dan bolu gulung, kami pun berbincang-bincang tentang Yesus. Dialah Sang Roti Hidup. Kiranya kita menikmati perjamuan-Nya dan semakin mengenal Dia. —Patricia Raybon

Tuhan, terima kasih karena Engkau menyediakan waktu dan tempat bagi kami di meja perjamuan-Mu agar kami semakin mengenal-Mu.

Luangkanlah waktu untuk menikmati Sang Roti Hidup.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 12-14; Markus 5:21-43

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

19 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!