Melajang di Usia 30+: Menyerah atau Bertahan dengan Pendirian?

Oleh Nelle Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 30+, Single, And Trying Not To Settle

Kencan online di usia 30-an sepertinya tidak cocok untuk orang yang hatinya lemah.

Aku pikir aku perlu mengulangi jawaban-jawaban yang sama selama berbulan-bulan, berpikir keras untuk menciptakan obrolan yang santai, dan berusaha untuk tidak melirik jam di pertemuan pertama kami yang terasa membosankan. Meski ketakutan itu mungkin terwujud, tapi tidak ada salahnya untuk tetap mencoba. Kepada seorang laki-laki, aku coba memberanikan diriku untuk memulai obrolan.

Setelah beberapa bulan, aku mulai melihat sifat aslinya. Laki-laki ini orang yang menyenangkan. Dia merespons pertanyaan-pertanyaanku dengan serius, dia mengajukan pertanyaan yang sopan, dan perilakunya juga santun. Meskipun dia termasuk orang yang cukup serius, tapi dia masih punya selera humor (dan senyumannya yang manis). Kami suka menonton acara komedi, jalan-jalan ke luar ruangan, dan belajar hal-hal baru. Di tiga jam pertama dari pertemuan pertama, kami mengobrol dengan lancar sampai-sampai aku lupa pulang.

Tapi, meskipun dia mencantumkan status ‘Kristen’ di profilnya, aku melihat kalau dia tidak punya relasi personal dengan Tuhan. “Tuhan” baginya adalah sosok dengan kuasa yang lebih besar, dan dia tidak yakin dengan konsep bagaimana Salib itu bekerja menyelamatkan manusia. Semakin banyak kami berbicara, semakin terlihat tanda-tanda kehidupan yang hampa darinya. Meskipun dia orang yang ambisius dan sedang berada pada jalannya untuk mencapai kesuksesan, kehampaan itu muncul dari perasaan insecure-nya. Dia mengakui kalau dia takut jadi orang yang tidak relevan dan diabaikan. Untuk mengalahkan kekhawatiran itu, dia tidak mengizinkan ada orang lain yang mengontrol hidupnya—termasuk Tuhan. Dia terus mendorong dirinya untuk jadi yang terdepan.

Godaan untuk menyerah

Setelah putus empat tahun lalu, aku tahu orang yang seharusnya menjadi calonku harus mengasihi dan takut akan Tuhan. Aku bisa menebak masalah apa yang akan datang jika aku berelasi dengan seseorang yang mengandalkan dirinya sendiri untuk menjalani hidup. Kehidupan telah menunjukkanku akan apa yang Yeremia katakan, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9).

Hatiku sendiri, meskipun aku sudah mencoba menyerahkannya pada Tuhan, sering membawaku pada kesulitan. Jadi, jika pasanganku jelas-jelas menolak menyerahkan hatinya pada Tuhan, bagaimana aku dapat percaya pada setiap keputusan atau kata-katanya? Aku akan selalu menebak-nebak apakah itu keputusan dia yang egois. Dan, kurasa dia pun tidak akan pernah bisa jadi pemimpin rohani bagi keluarga.

Dengan harapan untuk memiliki pasangan yang berfokus pada Kristus, kurasa itu sudah cukup buatku untuk mengakhiri relasiku dengan laki-laki itu. Tapi, ketika keputusan itu muncul di otak, aku teringat:

Kamu itu nggak lagi muda.
Kamu siap buat membangun lagi komunikasi dengan orang lain?
Kapan lagi kamu bisa dapet chemistry kayak begini?
Kalau kamu terlalu pemilih, ya terima aja kalau kamu sendirian
Duh, orang seperti dia sih masih gapapa; dia bukan ateis kok.

Melepaskan seseorang yang cukup layak dalam standar masyarakat zaman ini menjadi sangat susah saat berada di usiaku. Aku bisa merasakan pikiranku bergulat untuk menemukan semacam kompromi. Mungkin aku bisa berjuang keras untuk memuridkan dia. Mungkin menginginkan calon suami yang bisa jadi pemimpin rohani cuma angan-angan saja, bukan sesuatu yang wajib? Lagipula, beberapa temanku yang Kristen baik-baik saja kok relasinya selama mereka jadi istri yang kerohaniannya lebih kuat?

Naluriku (atau mungkin Roh Kudus) melihat semua upayaku merasionalkan pemikiran-pemikiranku ini adalah mengangkat alis sebagai tanda heran. Tapi, pikiranku yang dicengkeram rasa takut terus menekanku.

Rumah yang kuharap ingin kubangun

Aku tahu aku bisa berdoa memohon petunjuk dari Tuhan untukku melakukan apa yang perlu. Suatu malam, saat aku sedang mencuci piring, sebuah pertanyaan muncul di pikiranku, “Nilai apa yang paling penting, yang ingin kamu berikan kepada anak-anakmu?”

Hening tetapi menohok, kurasa pertanyaan itu datang dari Roh Kudus. “Ini sih gampang,” pikirku, “aku mau anak-anakku punya relasi yang nyata dengan Tuhan yang mengasihi mereka. Ketaatan mereka adalah sikap hormat bagi Allah yang kudus. Dan supaya mereka bisa melihat setiap orang diciptakan seturut gambar-Nya, yang dengan demikian layak mendapatkan martabat dan kehormatan.”

Bagiku, beberapa nilai yang ingin kuberikan itu akan menolong mereka menemukan versi kehidupan terbaik yang bisa mereka miliki. Aku pernah mencoba hidup tanpa Tuhan, menentang-Nya, tetapi kemudian aku sadar bahwa dikasihi oleh Tuhan akan membentuk hidup kita. Aku percaya penuh bahwa Tuhanlah satu-satunya jalan menuju keutuhan hidup.

Pertanyaan kedua segera datang, “Tapi, bagaimana jika pasanganmu tidak percaya dengan itu semua, atau menolak harapan-harapanmu itu sebagai sebuah prioritas?”

Dan tiba-tiba… pergumulan pikiran selama berminggu-minggu pun hilang. Jika aku tahu apa yang terbaik untuk anak-anakku kelak, bagaimana bisa kelak kami hidup dalam rumah yang tidak bersatu, yang mungkin akan menghalangi mereka untuk tumbuh mendapati kehidupan yang terbaik untuk mereka?

Mungkin Tuhan tahu karena aku tipe orang yang mudah berkompromi, Dia mengajakku untuk berpikir keras. Pikiran-pikiran itu menolongku melihat bahwa pilihan-pilihan yang kubuat terkait pasangan hidupku tidak cuma akan mempengaruhiku, tetapi juga bagi orang lain.

Aku menyadari sekali lagi, ini adalah ujian bagi hatiku. Apakah aku percaya bahwa ketika Tuhan menetapkan batasan yang jelas bagi pernikahan, Dia tahu apa yang terbaik bagi kita? Atau, aku sombong karena kupikir akulah yang lebih tahu? Kupikir aku cukup kuat untuk menanggung semua akibat dari tidak berpegang pada tuntunan Tuhan dan menciptakan pernikahan berdasarkan standarku sendiri?

Ketika aku mengobrol dengan teman-temanku yang menikah dengan bukan orang Kristen, atau menikahi orang-orang yang tidak dewasa secara rohani, semua ilusiku pun buyar. Mereka bercerita betapa kesepiannya mereka karena tidak bisa membagikan isi hati terdalam mereka—perjalanan mereka bersama Tuhan—dengan pasangan mereka. Atau, betapa melelahkannya untuk berjalan secara rohani sendirian. Karena mereka sudah terikat dalam pernikahan, mereka berkata perlu tetap berkomitmen untuk mempertahankannya. Sementara itu, aku masih punya pilihan.

Teman-temanku yang menikahi seorang yang saleh menemukan sukacita tak terduga dari kehidupan pasangannya yang mengasihi Tuhan dan gereja (Efesus 5:25-29), serta bertanggung jawab menjadi pemimpin spiritual dalam keluarga. Mereka juga punya pergumulan, tapi secara karakter mereka semakin bertumbuh. Tanpa mereka perlu berkata, aku bisa melihat sendiri alasan untukku tidak berpasrah diri asal saja menerima siapa pun untuk menjadi pasanganku.

Setelah beberapa minggu mengelola pikiranku, aku memberitahu laki-laki itu kalau aku tidak mampu membangun hubungan ini lebih lanjut dengannya.

Lajang untuk hari ini

Bertumbuh dalam kedewasaan rohani berarti keputusanku—bahkan tentang pernikahan—harus tidak berpusat pada diriku sendiri dan seharusnya lebih kepada apa yang dapat memuliakan Tuhan (1 Korintus 10:31).

Tetapi, menetapkan keputusan berdasarkan apakah keputusan ini mencerminkanku sebagai anak Tuhan terkadang terasa membebani. Di hari-hariku yang sunyi, memuliakan dan menaati Tuhan terasa seperti latihan untuk menekan egoku.

Di hari-hari yang terasa lebih baik, aku ingat janji ini: “Siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati” (1 Samuel 2:30). Janji ini mengingatkanku bahwa ketika Tuhan tidak ingin aku berpasangan dengan seseorang yang tidak mengasihi-Nya, itu tidak berarti Dia ingin aku hidup dalam penderitaan sebagai seorang yang melajang dan kesepian. Meskipun Tuhan tidak memenuhi kebutuhanku dengan cara yang aku inginkan, Dia akan membuatku bertumbuh.

Dalam masa-masa ini, aku melihat bagaimana Dia membawaku kepada relasi spiritual yang dalam, supaya aku bisa mengatasi kesepianku dan memberiku kesempatan untuk membangun kerajaan-Nya. Aku belajar percaya kebaikan-Nya—apa pun bentuknya—pasti akan memberiku kepuasan.

Sejujurnya aku masih belum berani jika Tuhan mengatakan kehendak-Nya bagiku adalah aku melajang seumur hidupku. Aku harus belajar percaya sepenuhnya pada-Nya. Pada tahap ini, akan lebih mudah bagiku untuk “melajang” pada hari ini, tanpa perlu terlalu mengkhawatirkan hari depan. Satu mazmur yang sering kuingat ketika aku menaikkan doa pagi, “Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku” (Mazmur 143:8).

Ini adalah tindakan imanku untuk hari-hari yang kujalani bahwa akan selalu tersedia anugerah yang cukup untuk hidup dan bertumbuh dalam masa-masa lajangku.

Baca Juga:

Cerpen: Ngobrol Dengan Tuhan Itu Asyik

Aku mendengar pintu depan terbuka.

“Lima…Empat…Tiga…Dua…Satu.”

“Dewi…Dewi…Kamu ada di mana?”

Bagikan Konten Ini
13 replies
  1. Irma Siahaan
    Irma Siahaan says:

    Saya percaya rancangan Tuhan yang paling luar biasa dalam kehidupan kita. Saya berusaha memahami RancanganNya

  2. Audrey Yohana Jeruscha Parengkuan
    Audrey Yohana Jeruscha Parengkuan says:

    kau tau, hari ini benar” suatu kehancuran bagiku, baru beberapa hari yg lalu aku begitu bahagia saat Tuhan ijinkanku bersama seorang hambaNya tpi hari ini Tuhan kmbali memutuskan untuk memisahkan kami yg alasannyapun begitu sulit untuk hati dan fikiranku terima. tapi apapun itu Tuhan Yesus baik😇

  3. Sandy Tyas
    Sandy Tyas says:

    relate banged sama apa yg saya alami,sy 1 bulan lalu putus dengan org yg 11 tahun pcrn dgn saya bahkan sdh ada rencana menikah, di situ perasaan sy hancur..
    knp Tuhan bgni atau bgtu
    sy takut di usia sy yg hampir 30 tahun, takut tdk dpt pasangan hidup yg cocok, tp setelah 1 bulan sy coba lbh intim dengan Tuhan..
    harusnya sy ga perlu khawatir, karna rencana Tuhan indah pd waktunya..

  4. Francisca Suharti
    Francisca Suharti says:

    seperti pengalaman temanku… dia menunggu selama 7 th.. agar ” calon ” pasangannya mau belajar ttg visi & misi yg sama ttg Bagaimana Yesus mengasihi…… dan begitu sdh belajar, & mantap… barulah menuju gerbang pernikahan yg kudus… agar jelak anak-anaknyapun menjadi anak Tuhan yg baik & setia…. so sweet.. hingga kini perkawinan bisa langgeng Amin.

  5. Gloria Halim
    Gloria Halim says:

    Aku lg ngalamin ini bgt, makasih utk artikelnya yg menguatkan dan membuka mata aku utk percaya rencana Tuhan jauh lbh baik dr pd apa yg aku pikirkan skrg.. Dan dlm masa2 pencarian dan penantianku skrg, aku benar2 berharap dan berserah sama Tuhan aja dan ga mau terburu2 lg..

  6. Eva Dewi
    Eva Dewi says:

    how blessed🙏 Tuhan Yesus memberkati kita yg sedang bergumul dalam memilih pasangan 🙏

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *