Apakah Denominasi Gerejaku Penting Buat Tuhan?

Info

Oleh Agnes Lee, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Does My Denomination Matter To God?

“Apa? Kamu datang ke pendalaman Alkitab di gereja Methodist?” Suamiku terkejut ketika aku pertama kali memberitahunya bahwa aku bergabung dengan kelompok pendalaman Alkitab itu. Gereja itu jaraknya cuma 10 menit berjalan kaki dari kantorku, dan pendalaman Alkitabnya diselenggarakan setelah jam pulang kerja. Waktu yang tepat buatku.

Saat ini aku tergabung di empat gereja dan organisasi Kristen yang semuanya berbeda denominasi. Tidaklah aneh apabila suamiku mungkin merasa khawatir kalau-kalau aku jadi kebingungan secara teologis. Tapi, aku malah semakin belajar bahwa kasih Tuhan itu tidak terbatas hanya kepada satu denominasi tertentu.

Gereja asalku adalah gereja Pentakosta di bawah naungan denominasi Sidang Jemaat Allah. Aku mulai menghadiri gereja itu karena pertolongan dan dukungan yang diberikan oleh para pemimpin dan jemaat ketika aku mengalami masa-masa sulit di awal pernikahanku. Merekalah yang menolongku melihat Tuhan di masa-masa paling gelapku. Di sinilah dasar teologisku dibangun, melalui mempelajari Alkitab yang dipimpin mentorku dan pemimpin lainnya di gereja.

Gereja kami adalah gereja karismatik. Kami tidak asing mendengar orang-orang berbicara dalam bahasa Roh (1 Korintus 14:3-5) dan melihat orang-orang mengangkat tangan mereka ketika menyembah Tuhan. Kami sering menyanyikan lagu-lagu pujian dan penyembahan yang modern. Aku senang terlibat dalam ibadah yang suasananya begitu hidup.

Namun, keluarga suamiku menginginkan aku datang ke gereja bersama mereka. Jadi untuk sekarang, aku lebih sering meluangkan hari Mingguku di gereja Anglikan daripada di gereja asalku.

Perpindahan ini awalnya terasa sulit. Aku merasa kaku dengan himne-himne tradisional dan musik di gereja Anglikan, juga cara beribadah jemaat yang tenang. Aku rindu suasana kebaktian yang hidup seperti di gereja asalku. Diam-diam aku mengkritik para pemimpin gereja dan jemaatnya karena gaya ibadah mereka. Rasanya mereka itu seperti hanya mengikuti rutinitas mingguan, dan tidak sepenuhnya digerakkan oleh Roh Kudus.

Meski awalnya aku merasa tidak nyaman, tapi tiap kali aku datang ke gereja, khotbah-khotbahnya menyentuhku—sama seperti khotbah yang kudengar di gereja asalku. Aku mulai menyadari bahwa meski cara ibadah atau cara menggunakan karunia rohaninya berbeda, kami sama-sama percaya pada firman Tuhan yang sempurna. Pendeta di kedua gereja itu memberitakan pengajaran yang sehat. Kedua gereja itu sama-sama berdiri teguh di atas dasar Alkitab. Dan, Tuhan menggunakan kedua gereja itu pula untuk berbicara kepada hatiku dan menyadarkanku akan dosa-dosaku.

Daripada menghakimi pemimpin gereja dan kebaktian di gereja baruku yang kuanggap tidak karismatik, aku sadar bahwa aku harus bertobat dari menjadikan diriku sebagai hakim. Lagipula, siapakah aku hingga aku dapat menghakimi orang lain (Roma 14:4)? Jemaat di gereja suamiku adalah orang-orang yang percaya pada Tuhan. Mereka berpegang pada harapan dan jaminan yang juga kumiliki di dalam Kristus. Roh Kudus yang menginspirasi para pengkhotbah dan pemimpin di kedua gereja adalah Roh Kudus yang juga bekerja di hidupku.

Kembali ke cerita tentang reaksi terkejut suamiku, pendalaman Alkitab yang kulakukan meski bertempat di gereja Methodist, tapi bukan eksklusif untuk satu denominasi tertentu. Pemimpin kelompok kami berasal dari gereja Presbiterian, sedangkan teman-teman lainnya berasal dari gereja yang berbeda pula. Meski kami datang dari latar belakang yang berbeda-beda, kami disatukan oleh kasih Kristus, kami rindu melihat Tuhan di dalam hidup kami. Aku mendapat manfaat dari diskusi dan pengajaran di kelompok ini. Bersama saudari-saudari dalam Kristus, aku belajar lebih dalam tentang firman Tuhan dan disadarkan dari beberapa caraku yang salah.

Melalui pendalaman Alkitab ini, aku akhirnya tahu bahwa gereja Methodist menyelenggarakan kebaktian tengah minggu di saat jam makan siang untuk para pekerja kantoran di sekitar gereja. Aku mulai menghadiri kebaktian ini yang dikemas secara singkat tapi tradisional. Aku belajar bahwa apapun denominasi atau cara yang setiap orang Kristen pilih, selama pengajaran yang diberikan itu sehat, kita bisa mendapatkan manfaatnya.

Tentu ada topik-topik tertentu yang disikapi secara berbeda oleh setiap gereja atau kelompok pendalaman Alkitab—seperti bahasa Roh dan nubuatan, atau tentang apakah anak kecil boleh dibaptis atau tidak. Tapi, seiring aku meluangkan waktu lebih banyak untuk mendalami aturan-aturan itu, aku semakin menyadari bahwa meskipun isu-isu ini penting, seringkali itu tidak seharusnya diperdebatkan. Lagipula, kita menyembah Tuhan yang sama. Dan meskipun ada perbedaan-perbedaan kecil di dalam tradisi dan pengajaran gereja, kami memberitakan Injil yang sama dan membagikan tujuan yang sama untuk memuliakan Tuhan.

Karena itu, adalah salah apabila aku menghakimi denominasi lain karena cara ibadah mereka yang berbeda atau karena perbedaan minor dalam pengajarannya. Menghakimi orang lain dan gereja bisa mengakibatkan perpecahan dan bukanlah sesuatu yang menyenangkan Tuhan. Siapakah aku hingga aku bisa menghakimi hamba-hamba yang setia dan takut akan Tuhan, yang kepada mereka Tuhan berkenan?

Berbahasa Roh, menyanyikan lagu-lagu penyembahan, dan mengangkat tangan tidak membuatku jadi lebih baik daripada orang Kristen lainnya. Tuhan melihat hati kita, dan melalui ukuran inilah, aku telah gagal. Aku telah mengizinkan kesombongan merayap masuk dalam diriku daripada berhati-hati menjaga diriku di hadapan Tuhan. Meskipun aku berbicara dalam bahasa Roh, aku hanya akan sama seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing kalau aku tidak dapat menunjukkan kasihku (1 Korintus 13:1-2).

Alih-alih berfokus pada perbedaan yang bisa mengakibatkan perselisihan atau perpecahan, Alkitab memerintahkan kita untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita, dan hukum yang kedua adalah untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri (Matius 22:36-40). Kita dapat menunjukkan kasih dengan menawarkan dukungan atau menolong sesama orang Kristen yang sedang membutuhkan—apapun latar belakang gereja mereka. Pemimpin di kelompok pendalaman Alkitabku contohnya, dia menghiburku saat aku sedih dan memberiku kata-kata penguatan. Dia mengingatkanku akan kasih dan kebenaran Tuhan, dan dengan cara inilah dia mengangkat semangatku.

Memiliki pengalaman dengan beberapa denominasi membuatku menyadari bahwa kasih dan kerinduan kita kepada Tuhanlah yang menyatukan kita sebagai tubuh Kristus—juga sebagai mempelai-Nya—dengan tujuan untuk menantikan kedatangan-Nya dan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Efesus 5:25-27). Seiring kita menanti, kita harus siap dan waspada sebagai satu tubuh Kristus dengan memfokuskan pandangan kita kepada Yesus, membagikan kasih kita kepada Kristus dengan satu sama lain, dan menyaksikan bagaimana Kristus bekerja di dalam kehidupan kita masing-masing terlepas dari latar belakang yang berbeda-beda. Betapa indahnya kasih dan harapan yang diberikan Tuhan, tidak ada bandingannya!

Baca Juga:

Hidup Ini Adalah Kesempatan, Sudahkah Aku Memanfaatkannya dengan Bijak?

Seorang teman yang dulu pernah duduk satu kelas denganku sekarang terbaring tak berdaya karena sebuah penyakit langka. Aku terdiam dan merenung. Bila aku yang berada di posisinya, apakah aku sudah menggunakan kesempatan yang ada dengan bijak?

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Saudara Seiman: Perjalanan untuk Saling Menguatkan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

8 Komentar Kamu

  • Puji Tuhan… benar sekali.
    landasannya tetap pd firman. itulah gereja yg benar.
    Gbu

  • Sangat memberkati. Amen!

  • Puji Tuhan
    artikel ini sangat memberkati

  • Hai, syaloom…
    Saya adl slh satu dri sekian org yg sdh lama tdk pernah membedakan gereja ini atau gereja itu. Krn mmg saya meyakini 1 hal, apapun golongan gerejanya, selama gereja itu mengajak dan mengajar saya utk menyembah Tri Tunggal, tdk jdi mslh.
    Tapi jujur skrg saya sdg dilema,, bukan krn denominasi apa atau cara ibadahnya yg slh atau gak nyaman, tapi saya dilema krn golongan grja yg saya ikuti skrg sdh dikotori dgn hal politik. Saya sgt menentang hal itu dgn cara bertanya apa yg sbnrnya terjadi, tapi saya hanya dicela. Bhkn scra tdk lgsg mereka mengucilkan dan mengusir saya.
    Tlg bantu saya, saat ini dipikiran saya hnya ingin pindah gereja saja.

  • Puji Tuhan saya pribadi jga pernah mengalami hal yg serupa..dan Tuhan sadarkan bahwa Grejanya Tuhan itu satu Tubuh beragam Fungsi saling melengkapi bukan menghakimi..semua punya karunia masing masing yg Tuhan beri….Tuhan lebih melihat isi hati..bukan dominasi..asalkan berdiri atas FirmanNya yg murni Tuhan slalu pakai dan urapi

  • Yesus itu agamanya apa? Yesus dari gereja apa? hmmm…. perbedaan denominasi bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Kalau Kristus mengijinkan perbedaan, mengapa masih ada gereja yang merasa bangga menghakimi sesamanya? Orang percaya berbeda-beda namun tetap satu tubuh. Misi kasih Kristus adalah yang pertama dan utama. Halleluya…

Bagikan Komentar Kamu!