Posts

Pendeta yang Tidak Aku Sukai

Oleh Elvira Sihotang, Balikpapan

Hari itu hari Rabu. Jam sudah menunjukkan pukul 17.35 ketika aku selesai melakukan suatu kegiatan dan tengah memikirkan apakah aku akan ke gereja atau tidak. Ibadah dimulai pukul 18.00 dan sejujurnya, aku masih ingin beristirahat sebentar lagi.

Kuizinkan diriku mengambil waktu 5 menit untuk istirahat sambil berpikir apakah aku perlu ke gereja atau tidak. Sebenarnya ada pilihan mengikuti ibadah secara virtual namun aku sudah melihat realitanya. Berkali-kali kalimat “Ah nanti ibadah virtual aja deh” berujung pada telat mengikuti atau bahkan tidak mengikuti sama sekali. Maka kuputuskan saja bahwa pada ibadah-ibadah berikutnya, baik hari Rabu maupun hari Minggu, aku akan mengikuti ibadah secara luring di gereja.

Tekad itu tampak kuat di awal-awal namun segera berubah ketika aku tahu pendeta yang akan melayani saat ibadah nanti. “Yah, Pdt. X”, ungkap hati kecilku saat itu.

Pernah mengalami kondisi yang sama sepertiku? Aku adalah orang yang motivasi ke gerejanya bisa berubah karena faktor luar, seperti pendeta yang akan melayani, jam ibadah, akan ada siapa saja di gereja, dan lain-lain. Dulu aku merasa bahwa pertimbangan-pertimbangan ini tidak salah. Aku merasa kadang firman Tuhan yang dibawakan oleh pendeta tertentu kurang mampu kupahami, atau kurang masuk dalam pemahamanku. Dengan kata lain, membosankan. Tidak ada selera humornya. Tidak seru, dan kata-kata lain yang serupa.

Dalam perenungan itu, aku merasakan dua suara: suara untuk pergi ke gereja dan suara negosiasi untuk ibadah di rumah. Toh, kamu capek. Emang bisa bersiap-siap dalam waktu 20 menit lagi, padahal belum juga mandi? Memang enak ya persiapan dalam waktu sedikit? Bukannya gak baik ya El, terburu-buru ke gereja? Kalaupun ke gereja juga, memang bakal sesuai ekspektasi ya?

Sebanyak itu suara yang muncul dan sebanyak itulah aku mulai merasa aku menuruti ego-ku. Aku telah mengalami suatu yang serupa di minggu-minggu kemarin dan rasanya tidak ada yang kudapat dengan mengikuti egoku. Oh, ada. Aku mendapatkan kesenangan sejenak. Tidak perlu buru-buru mandi, bisa main HP dulu, dan sebagainya.

Di segala suara-suara yang lebih banyak mendorongku untuk tidak ke gereja, aku memohon agar Tuhan memberikan jawaban atas situasi yang kuhadapi. Aku memohon pada Tuhan untuk memberikan suatu kesadaran akan apa yang kupertanyakan ini. Lalu aku menyadari suatu hal yang sebenarnya sudah sering muncul di situasi serupa di masa yang lalu. Setiap ada niat untuk tidak pergi ke gereja atau beribadah pada jam yang lain, selalu ada suara yang berkata, “Masa ke gereja karena lihat pendeta? Kamu ke gereja untuk bertemu Tuhan atau untuk mengagumi pendeta?” Suara itu kubalas dengan pikiranku yang bertanya:

“Tapi kalau pendeta nya gak bisa menjelaskan dengan baik firman pada hari itu, ga dapat juga dong pesannya. Sia-sia gak sih…”

Yang menurutku, kembali dijawab oleh Roh kudus dalam hatiku dengan, “Tuhan sendiri yang akan membuatmu mengerti, Tuhan yang membuat otakmu berjalan dan memahami maksud Firman Tuhan dengan baik.”

Suara itu terdengar tegas dan menegur. Saat aku mendapatkan kesadaran itu, aku merasakan bahwa pengertian itu rasanya ada dalam Alkitab. Aku tidak mencarinya pada hari itu, dan sampai pada tulisan ini kuketik, aku akhirnya mencoba mengeksplorasi perkataan yang pernah disampaikan kepadaku itu. Dalam 2 Timotius 2:7, dikatakan:

“Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.”

Dalam rasa sadar itu, aku pun segera mandi dan bersiap, secepat mungkin. Aku akhirnya siap pada 17.50, waktu yang sejujurnya membuatku memprediksi bahwa aku akan telat tiba di gereja. Namun, aku sudah setengah perjalanan, aku sudah mendapat kesadaran. Maka kuputuskan untuk pergi dan berharap yang terbaik. Jika memungkinkan, semoga bisa kutempuh dalam waktu 10 menit, walaupun aku sudah sering mengukur bahwa biasanya perjalananku dari rumah ke gereja memakan waktu 15 menit.

* * *

Aku tiba di gereja dan mengintip bahwa ibadah sudah dimulai dan aku mengecek HP-ku. Pukul 18.05. Telat, tapi aku sudah mengantisipasinya. Untungnya, jemaat sedang dalam posisi berdoa ketika aku masuk. Sesudahnya, aku mengikuti ibadah seperti biasa, bernyanyi dan berdoa, sebelum akhirnya Pendeta mengambil ahli mimbar untuk berkhotbah.

Satu kesadaran masuk lagi, “Kalau mau mendengar khotbah, posisikan dirimu seperti gelas yang kosong. Kamu sering gak ngerti karena apa yang dikatakan oleh Pendeta sering kamu pertanyakan dengan pengetahuan yang sudah kamu miliki.”

Aku kemudian mencoba mengikutinya. Gelas kosong. Tidak ada isinya dan siap untuk diisi.

Tahu apa yang terjadi?

Rasanya seperti click. Pendeta yang sebelumnya menurutku tidak memiliki gaya yang baik dalam menyampaikan pesan di Alkitab mengeluarkan setiap kata per kata yang kubutuhkan pada hari itu, menguatkanku, memberikan pemahaman baru atas persoalan yang saat itu tengah kuhadapi, dan bahkan menyadarkanku akan hal-hal yang selama ini tidak kusadari atau coba kusangkal.

Benar kalau beberapa kali, ada beberapa menit di pertengahan khotbah ketika kata-kata pendeta itu terlewat, aku merasa hampir tenggelam lagi dalam pikiranku. Namun, karena aku memposisikan diriku sebagai gelas yang kosong, aku dengan lebih mudah kembali fokus pada khotbah dan tidak bertanya-tanya atas apa yang sudah aku ketahui sebelumnya tentang topik yang dikhotbahkan oleh Pendeta itu.

Sampai pada khotbah ditutup dan tiba waktunya hampir pulang, aku menggumamkan ucapan terima kasih pada Tuhan sambil sedikit menangis, percaya bahwa keputusanku untuk datang ke gereja pada saat itu adalah satu keputusan baru yang benar.

Beberapa minggu belakangan, hidupku terasa seperti terguncang akibat keputusan yang salah. Tidak satu hari terlewat tanpa aku mempertanyakan bahwa apakah Tuhan kecewa padaku, apakah aku masih mendapat kesempatan kedua, dan hal-hal bernada frustrasi lainnya. Hingga aku pun kadang bertanya apa aku masih bisa memutuskan dengan benar untuk hal-hal yang ada di depanku? Karena jujur, keputusan salah yang kadang masih aku sesali terasa besar dan aku takut itu berdampak besar padaku, dalam hal negatif tentunya.

Perjalananku berdamai dengan penyesalan mungkin akan kuceritakan di lain waktu, tapi saat itu, saat aku selesai ibadah dan keluar dari gereja, aku merasakan ketenangan—semacam campuran perasaan tenang, berserah, dan kekuatan untuk melangkah ke depan.

Pengalamanku ini tentu dapat menjadi momen refleksi bagi teman-teman semua. Aku belajar bahwa mengasihi dan menghormati Tuhan itu sangat luas. Dulu aku kira hal itu sebatas pada bersikap baik dan sopan pada keluarga, teman sekitar, dan orang-orang yang kelihatannya ‘kecil’. Namun, lewat pendeta yang tidak jadi pilihan prioritasku ketika aku datang ke gereja, mengasihi Tuhan juga berarti menghargai, tidak memandang remeh seseorang yang sudah ditunjuk Tuhan. Percayalah, setiap orang, yang bahkan rasanya tidak kita anggap penting, bisa mengajarkan hal yang baik jika diperkenan Tuhan. Sama seperti pendeta itu yang khotbahnya menolongku di tengah pergumulan.

Dan tentu, ujilah niatmu. Jika pada awalnya aku ingin beribadah untuk bertemu Tuhan dalam kondisi yang layak (tidak terdistraksi oleh notifikasi HP, tidak sambil jalan-jalan dan mendengarkan khotbah sambil ngemil ketika ibadah online), maka satu pengecoh seperti pemikiran akan siapa pendeta yang melayani, seharusnya tidak menjadi masalah untukku.

Baca Juga:

Cerpen: Kapan Nikah?

”Coba pegang kepalaku! Panas, kan? Lis, bayangin! Aku harus menghadiri 6 pernikahan tahun ini. Bayangkan minimal 6 kali. Sepertinya semua orang menikah.

3 Tips untuk Tetap Menyembah Tuhan di Masa Sulit

Oleh Julian Panga, India
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How Can I Worship God Through Tough Times?

Memuji dan menyembah Tuhan terasa mudah ketika segalanya baik-baik saja. Namun, ketika kesulitan melanda, kita merasa Tuhan seolah jauh, atau sepertinya Dia tidak peduli. Sulit pula bagi kita untuk mengasihi, menghormati, dan mengakui Tuhan atas pribadi-Nya, apa yang Dia telah lakukan, dan yang sanggup Dia lakukan.

Aku pernah melalui momen-momen itu ketika rekan sekerjaku terlalu menuntutku hingga banyak area dalam hidupku pun terpengaruh, termasuk saat teduhku. Aku frustrasi dengan iklim pekerjaanku—aku merasa disisihkan, tidak puas, dan marah. Hasilnya, aku mengisolasi diriku dari rekan-rekan sekerjaku, dan bahkan dari Tuhan. Aku tidak bisa melihat ada tujuan dalam hidupku, dan simpelnya: aku ingin menyerah.

Emosi kita sangat mudah dipengaruhi oleh keadaan. Jika kita mendasarkan penyembahan kita kepada Tuhan pada emosi kita, itu bisa jadi sesuatu yang melelahkan dan menipu. Di saat emosi kita berubah-ubah, Tuhan sejatinya tidak pernah berubah—belas kasih dan anugerah-Nya tetap buat kita, di masa sulit sekalipun. Ketika kita berfokus pada hal tersebut, kita bisa menyembah-Nya dalam keadaan apa pun.

Melalui berbagai tantangan dalam hidupku, aku menyadari ada satu cara yang pasti yang dapat mematahkan belenggu keputusasaan dan kekecewaan, yaitu menyembah Tuhan dengan sepenuh hati. Melingkupi diriku dengan orang-orang yang mengasihi dan menghormati Tuhan adalah hal yang juga penting, aku dapat dikuatkan dan termotivasi untuk menyembah Tuhan meskipun kehidupan menjadi sulit.

Inilah tiga hal yang selalu kuingatkan pada diriku sendiri untuk menyembah Tuhan, terkhusus dalam masa-masa sulit. Tiga hal ini menolongku mendekat pada Tuhan dan menyiapkan hati pada penyembahan kepada-Nya:

1. Ingatlah kebaikan Tuhan di masa lalu

Suatu ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, aku berada dalam satu kereta dengan sekelompok orang yang berusaha mencuri sesuatu dariku. Kesempatan lainnya, ketika aku dan keluargaku naik mobil, kami hampir tabrakan karena ada pengendara lain yang mabuk. Kala itu yang bisa kulakukan hanyalah mengucap, “Tuhan, aku mengasihi-Mu; tolonglah aku Tuhan!”

Aku mengingat kebaikan-kebaikan Tuhan yang telah menolongku di masa lalu. Semua ingatan akan kesetiaan Tuhan dan perlindungan dari-Nya meneguhkanku bahwa Tuhan adalah menara yang kokoh dan benteng perlindungan di kala kesulitan melanda (Mazmur 31:3, 62:6, 91:2). Aku dapat berlari pada-Nya dan menemukan perlindungan, keamanan, dan kenyamanan.

Tuhan memelihara janji-Nya kepada anak-anak-Nya, dan Dia telah membuktikannya sepanjang sejarah, juga dalam hidup kita. Ketika aku mengingat kembali kebaikan Tuhan dan pertolongan-pertolongan-Nya, aku dapat terus menyembah-Nya karena aku tahu dalam segala keadaan, kesetiaan dan kebajikan Tuhan tidak pernah berubah.

2. Mintalah pertolongan Roh Kudus

Tuhan meyakinkan kita dalam Alkitab bahwa penyertaan-Nya selalu beserta kita. Ketika kita menerima Tuhan Yesus dan lahir baru, kita memiliki penasihat, pendamping, dan pembimbing yang selalu ada bersama kita—Roh Kudus (Yohanes 14:17, 26; 15:26). Ketika menyembah Tuhan dalam situasi sulit, aku mendapatkan penghiburan bahwa Roh Kudus ada dalamku, memimpin, dan membimbingku. Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran menolongku untuk mengerti firman Tuhan, dan aku dapat merespons kepada Tuhan melalui Roh Kudus (Yohanes 16:13; Roma 8:26-27).

Berada di persimpangan jalan hidup bisa memusingkan. Di satu titik, aku dihadapkan pada keputusan untuk menjadi pelayan Tuhan sepenuh waktu. Aku ingin mengambil keputusan itu dan aku merasa inilah panggilanku. Namun, ada beberapa tantangan di depan yang aku tak tahu bagaimana menghadapinya. Selama masa itu, aku diingatkan bahwa sebagai orang percaya, aku telah dikaruniakan Roh Kudus. Aku bisa mengandalkan-Nya. Seiring aku memikirkan masa depanku, aku yakin bahwa Tuhan yang telah memanggilku akan memenuhi kebutuhanku dengan setia, yang perlu kulakukan hanyalah menyerahkan diriku kepada-Nya dengan taat.

Ketika aku berserah, beban-bebanku seoalah terangkat, dan aku yakin itu adalah pekerjaan Roh Kudus yang tak pernah berhenti memimpin dan membimbingku sampai di titik ini.

Ketika menghadapi masalah, aku mengingatkan diriku bahwa Roh Kudus terus mendorongku, dan meyakinkanku akan kehadiran Tuhan yang membimbingku maju. Aku dapat bersandar dan percaya kepada Tuhan di masa sulit, dan aku bisa menyembah-Nya karena aku tahu Roh-Nya selalu ada besertaku, menguatkanku, bekerja di luar dan di dalamku untuk memenuhi tujuan-Nya (Amsal 3:5-6, Filipi 2:13).

3. Yakinkan dirimu akan kasih Tuhan yang abadi

Firman Tuhan meyakinkanku akan kasih-Nya kepadaku, dan doa-doa menolongku selalu terhubung dengan-Nya. Kasih Tuhan yang sejati tidaklah seperti kasih manusia. Kasih Tuhan itu tidak bersyarat, berlangsung selamanya dari generasi ke generasi (Mazmur 100:5). Kebenaran akan Tuhan inilah yang menghibur hatiku serta pikiranku yang penuh ketakutan. Filipi 1:6 mengatakan Tuhan yang memulai pekerjaan yang baik di dalamku, dan Dia akan meneruskannya sampai hari-Nya tiba.

Aku bisa menyerahkan setiap masalahku kepada Tuhan, memercayai Dia kelak akan memberiku kemenangan. Meskipun bebas dari kekhawatiran tidaklah mudah, mengetahui dan mengalami kasih Tuhan menolongku untuk fokus kembali kepada-Nya.

Terakhir, ketika kesulitan hidup terasa sulit dihadapi, semuanya adalah sementara. Paulus mengatakan dalam 2 Korintus 4:16-17: meskipun manusia lahiriah kita semakin merosot, namun manusia batiniah kita dibaharui dari hari ke hari. Dan, penderitaan ringan yang kita jalani sekarang akan mendatangkan kemuliaan kekal kelak. Jadi, janganlah tawar hati!

Menyembah Tuhan membawa kita masuk dalam hadirat-Nya di mana ada kedamaian dan ketenangan hati. Dan itulah yang sungguh kita perlukan di masa-masa sulit. Menyembah Tuhan menolong kita untuk mampu mengatasi masa-masa sulit dan memberi kita harapan akan kekekalan—di mana tidak ada lagi tangisan, kematian, penderitaan, maupun rasa sakit (Wahyu 21:4). Ayo kita menyembah Tuhan!

Baca Juga:

Menjaga Toleransi di Tengah-Tengah Masyarakat yang Majemuk

Mengelola perbedaan dengan sikap toleransi bisa jadi merupakan sebuah tantangan. Berangkat dari pengalamanku, setidaknya ada tiga hal yang dapat diterapkan untuk hidup di tengah keberagaman.

Yang Terlupakan dari Pelayanan: Kasih Yang Semula

Oleh Erick Mangapul Gultom, Jakarta

Kaum muda dengan semangatnya yang berapi-api dan energinya yang meluap-luap selalu berhasil mengisi dan menghidupi wadah pelayanan dan persekutuan di lingkungan sekolah, kampus, dan gereja. Sungguh luar biasa melihat kaum muda yang memberi diri untuk melayani sebagai pengurus dalam berbagai acara dan kegiatan-kegiatan rohani.

Aku yakin hampir semua sobat muda pernah atau bahkan sedang menjadi bagian di dalam suatu kegiatan pelayanan. Namun, pernahkah kita coba menilik diri kita masing-masing, apakah kita memiliki motivasi yang benar dalam melayani? Adakah motivasi-motivasi lain yang seringkali jauh dari dasar pelayanan yang sesungguhnya? Jangan-jangan, selama ini pelayanan kita hanyalah sebuah rutinitas semata!

Tuhan Yesus Kristus melalui pewahyuan yang diberikan kepada Yohanes di dalam Wahyu 2:1-7 mengingatkan kita akan motivasi sesungguhnya dalam melayani Tuhan. Sebelumnya, Paulus telah mengabarkan Injil dan melayani di Efesus selama tiga tahun (Kisah Para Rasul 20:31). Ketika Paulus hendak meninggalkan kota Efesus, ia memperingatkan jemaat untuk berjaga-jaga dari pengajaran sesat yang akan masuk dan memengaruhi jemaat Efesus (Kisah Para Rasul 20:29-30).

Tuhan Yesus mengetahui segala pekerjaan pelayanan yang dilakukan oleh jemaat Efesus: jerih payah menjaga jemaat dari orang-orang jahat, ketekunan mereka di tengah-tengah kesulitan, bahkan melawan setiap orang yang hendak menarik jemaat keluar dari kebenaran firman. Mereka bahkan telah mencobai dan memeriksa dengan teliti apa yang diajarkan oleh rasul-rasul palsu dan mendapati mereka sebagai pendusta. Jemaat Efesus telah memberi teladan sikap rela menderita.

Secara kasat mata, tentu kita bisa mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh jemaat Efesus adalah hal yang sangat baik. Namun, Tuhan Yesus mampu melihat sampai ke dasar hati manusia. Tuhan Yesus berkata, “Aku tahu segala pekerjaanmu; baik jerih payahmu maupun ketekunanmu” (Wahyu 2:2). Pujian Tuhan Yesus kepada jemaat Efesus mirip dengan apa yang dituliskan oleh Paulus dalam ucapan syukurnya kepada jemaat di Tesalonika, “Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita” (1 Tesalonika 1:3).

Ada bagian penting yang dimiliki oleh jemaat Tesalonika, tetapi hilang dari jemaat Efesus. Jemaat di Tesalonika mempunyai, “pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan”, sedangkan jemaat Efesus hanya mempunyai “pekerjaan, jerih payah, dan ketekunan”. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mencela mereka, sebab mereka telah meninggalkan kasih yang semula. Mereka melakukan pekerjaan, jerih lelah, dan ketekunan tanpa iman, kasih, dan pengharapan.

Iman adalah inti dari kekristenan. Kita diselamatkan oleh iman yang bukan hasil usaha kita, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8). Kebenaran ini memampukan kita untuk mengakui di dalam hati dan seluruh hidup kita bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Juruselamat kita.

Pengharapan bahwa kita akan menerima kemuliaan Allah (Roma 5:2)—itulah yang menjadi dasar mengapa kita harus tetap bertahan di dalam penderitaan sewaktu mengikut Tuhan di dunia ini dan senantiasa bersukacita dalam kesesakan. Kita percaya bahwa kita memiliki sebuah pengharapan yang kekal, pengharapan yang membawa kita kepada sukacita yang lebih besar daripada menaklukkan roh-roh jahat, yaitu sukacita karena nama kita terdaftar di sorga (Lukas 10:20). Sebuah pengharapan yang begitu indah bagi kita untuk dapat hidup bersama-sama dengan Tuhan Yesus di dalam kekekalan.

Semuanya itu dapat kita alami semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa karena melanggar perintah Tuhan, manusia takut dan bersembunyi dari Tuhan. Namun, Allah mencari manusia dan berkata padanya, “Di manakah engkau?”. Sejak mulanya Allah yang berinisiatif untuk mencari dan menyelamatkan kita dengan menebus kita dari hidup yang penuh keberdosaan. Paulus dalam 1 Korintus 13:13 menyebutkan bahwa iman, pengharapan, dan kasih harus tetap tinggal, dan yang paling besar di antaranya adalah kasih. Allah adalah kasih itu sendiri, dan kasih akan selalu ada sedari awal sampai selamanya.

Apa yang dilakukan oleh jemaat Efesus dapat pula terjadi pada diri kita: mengerjakan pelayanan tanpa sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai pusat dari pelayanan kita. Pelayanan sekadar dijalankan sebagai sebuah pekerjaan, bukan dimaknai sebagai ungkapan kasih kita pada Allah dan upaya untuk menjadi berkat bagi sesama.

Jikalau saat ini kita diperkenankan untuk mengambil bagian dalam pelayanan, marilah kita mengarahkan hati kita kepada-Nya dan tidak meninggalkan kasih yang semula Tuhan anugerahkan kepada kita. Bukan tentang seberapa besar pelayanan yang kita terima dan jalankan, tetapi seberapa besar hati yang kita berikan pada Tuhan di dalam setiap pelayanan kita.

Soli deo gloria.

Baca Juga:

Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Harapan Kita

“Mengapa, Tuhan?” Pertanyaan itu sering muncul ketika kenyataan hidup tidak berjalan sesuai harapan. Dalam artikel ini, aku ingin mengajakmu menggali jawaban dari firman Tuhan terkait pertanyaan “mengapa” tersebut.

Terlalu Fokus Pelayanan Membuatku Lupa Siapa yang Kulayani

Oleh Diana Mangendong, Makassar

Mengisi masa muda dengan aktif pelayanan terasa melegakan, bukan? Saat generasi milenial sedang sibuk-sibuknya mendongkrak popularitas lewat media sosial, saat dunia sedang ramai berselisih paham antarlingkup perbedaan dan persaingan kekuasaan, kita justru telah dipanggil dan dipilih menjadi kawan sekerja Allah.

Seiring dengan pelayanan yang kujalani, aku menikmati berkat demi berkat yang Tuhan sediakan. Pada awalnya, Tuhan mempercayakan perkara-perkara kecil, yang perlahan-lahan dinaikkan levelnya. Kemudian, Tuhan menganugerahiku dengan talenta, membantuku menemukan potensi baru dalam diri, menumbuhkan mental pelayanan dan kepercayaan diri, serta pergaulan yang semakin meluas. Aku percaya, semua yang dianugerahkan Tuhan kepadaku harus kupersembahkan kembali bagi kemuliaan nama-Nya.

Kupikir jalan hidup yang kuambil sudah tepat—menghabiskan waktu dan tenaga untuk melakukan kegiatan pelayanan. Aku memberi diri untuk melayani sebagai pengurus komisi perkembangan anak dan remaja di gereja. Untuk tetap terhubung dengan teman-teman sebaya, aku juga melibatkan diri dalam pelayanan persekutuan pemuda. Jadi, tidak perlu dipertanyakan lagi mengapa dari Senin sampai Minggu aku selalu melangkahkan kakiku ke gedung gereja untuk rapat, persiapan mengajar, persiapan liturgi dan penyataan firman saat ibadah, latihan paduan suara, dan pastinya ibadah sekolah minggu dan ibadah pemuda. Kegiatan akan menjadi semakin padat saat memasuki bulan-bulan perayaan hari anak dan hari besar gerejawi. Rasa-rasanya, program kerja tahunan penguruslah yang menyetir kehidupan pelayananku.

Hingga suatu ketika, aku merenungkan kembali segala aktivitas pelayanan yang kulakukan. Di satu sisi, mungkin aku terlihat begitu giat dan bersemangat melayani-Nya. Tapi, di sisi lainnya, kedekatan dengan Tuhan yang kubangun melalui saat teduh, doa, dan puji-pujian mulai tergantikan dengan lelahnya aktivitas pelayanan yang kulakukan. Aku pun teringat akan sebuah kutipan yang berkata: “Adalah mungkin begitu aktif dalam pelayanan Kristiani, tapi lupa mengasihi Kristus” – P.T Forsyth.

Aku terlalu banyak menerima pelayanan hingga sebagian besar waktuku terpakai untuk merealisasikan program kerja. Pelayanan yang kulakukan jadi kehilangan makna, hanya menjadi serangkaian rutinitas belaka. Kesibukanku dalam pelayanan membuatku tak sadar bahwa ada Tuhan Yesus yang menantikanku dalam saat-saat pribadi bersama-Nya.

Hari itu aku pun memohon ampun kepada Tuhan atas kekeliruan motivasiku dalam melayani-Nya. Aku memohon agar Tuhan memampukanku untuk tetap menjadikan Dia yang terutama dalam pelayananku dan aku berkomitmen untuk membangun kembali hubungan yang erat dengan-Nya. Aku menyadari bahwa Tuhan tidak menilai seberapa banyak pelayanan yang kita ambil, tetapi seberapa sungguh kita mau menggunakan pelayanan itu sebagai cara untuk terhubung dengan Kristus.

Pada akhirnya, aku tahu bahwa kelegaan yang kudapatkan di dunia pelayanan hanyalah oase dari dahaga eksistensi jiwa mudaku. Aku bersyukur Tuhan menyadarkanku bahwa langkahku sudah membuatku nyaris jatuh ke dalam jurang kesombongan. Aku belajar bahwa pelayanan itu perlu, tetapi menjadi tidak baik ketika kegiatan pelayanan membuat kita mengesampingkan hubungan pribadi dengan sang pemberi pelayanan itu sendiri: Tuhan Yesus.

Biarlah pelayanan kita menjadi bentuk ungkapan syukur kita atas karya keselamatan dan kasih setia Tuhan bagi kita, sebagai buah manis dari hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Jangan sampai pelayanan yang kita lakukan menjadi salah tujuan, seperti untuk kebanggaan dan kepuasan diri sendiri. Hanya bagi Tuhan dan kemuliaan-Nya sajalah kiranya pelayanan kita ditunaikan. Tuhan Yesus memberkati pelayanan kita semua, di ladangnya masing-masing.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9).

Baca Juga:

Patah Hati Membuatku Berbalik pada Tuhan

Patah hati mungkin adalah peristiwa buruk, tetapi dari peristiwa buruk inilah aku jadi belajar untuk memperbaiki diri dan juga lebih dekat dengan Tuhan.

Bernyanyi dalam Roh

Minggu, 24 Maret 2019

Bernyanyi dalam Roh

Baca: 2 Tawarikh 5:7-14

5:7 Kemudian imam-imam membawa tabut perjanjian TUHAN itu ke tempatnya, di ruang belakang rumah itu, di tempat maha kudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub;

5:8 jadi kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya di atas tempat tabut itu, sehingga kerub-kerub itu menudungi tabut serta kayu-kayu pengusungnya dari atas.

5:9 Kayu-kayu pengusung itu demikian panjangnya, sehingga ujungnya kelihatan dari tempat kudus, yang di depan ruang belakang itu, tetapi tidak kelihatan dari luar; dan di situlah tempatnya sampai hari ini.

5:10 Dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh yang ditaruh Musa ke dalamnya di gunung Horeb, ketika TUHAN mengikat perjanjian dengan orang Israel pada waktu perjalanan mereka keluar dari Mesir.

5:11 Lalu para imam keluar dari tempat kudus. Para imam yang ada pada waktu itu semuanya telah menguduskan diri, lepas dari giliran rombongan masing-masing.

5:12 Demikian pula para penyanyi orang Lewi semuanya hadir, yakni Asaf, Heman, Yedutun, beserta anak-anak dan saudara-saudaranya. Mereka berdiri di sebelah timur mezbah, berpakaian lenan halus dan dengan ceracap, gambus dan kecapinya, bersama-sama seratus dua puluh imam peniup nafiri.

5:13 Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada TUHAN. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji TUHAN dengan ucapan: “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan,

5:14 sehingga imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah Allah.

Hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. —Efesus 5:18-19

Daily Quotes ODB

Semasa Kebangunan Rohani di Wales pada awal abad kedua puluh, guru Alkitab dan penulis G. Campbell Morgan menceritakan apa yang ia lihat di sana. Ia meyakini Allah Roh Kudus bergerak di tengah umat-Nya “bagaikan gelombang besar saat lagu-lagu pujian dinyanyikan.” Morgan menulis bahwa ia menyaksikan bagaimana musik dapat menyatukan seluruh jemaat dalam kebaktian-kebaktian yang mendorong jemaat untuk berdoa tanpa diminta, mengakui dosa, dan menyanyi secara spontan. Ketika ada yang terbawa perasaan dan berdoa terlalu lama, atau mengatakan sesuatu yang tidak sejalan dengan yang lain, seseorang akan mulai bernyanyi perlahan. Yang lain pun mengikuti, satu demi satu, hingga akhirnya terbentuk paduan suara yang kekuatannya menenggelamkan suara-suara lain.

Alkitab juga memiliki kisah-kisah tentang bagaimana musik memainkan peranan penting dalam kebangunan rohani seperti yang digambarkan Morgan. Musik digunakan untuk merayakan kemenangan (Kel. 15:1-21); dalam doa pentahbisan Bait Suci (2Taw. 5:12-14); dan sebagai bagian dari strategi militer (20:21-23). Kita memiliki buku nyanyian di tengah-tengah Alkitab (Mzm. 1-150). Lalu di Perjanjian Baru, dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus, kita membaca tentang gambaran hidup dalam Roh: “Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani”(EF. 5:19).

Di tengah perselisihan, dalam penyembahan, dan dalam segala aspek kehidupan, musik yang lahir dari iman dapat menolong untuk menyatukan suara kita. Melalui lagu-lagu zaman lampau dan masa kini, kita terus-menerus diperbarui, bukan oleh kuat dan gagah kita, tetapi oleh Roh dan nyanyian-nyanyian tentang Allah kita. —Mart DeHaan

Nyanyian apa yang baru-baru ini terasa begitu mengena di hatimu? Bagaimana musik dapat semakin mendekatkan hubunganmu dengan Allah?

Roh Allah menaruh pujian dalam hati mereka yang mau mendengarkan-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 16-18; Lukas 2:1-24

Dari Ratapan Menjadi Pujian

Rabu, 20 Maret 2019

Dari Ratapan Menjadi Pujian

Baca: Mazmur 30

30:1 Mazmur. Nyanyian untuk pentahbisan Bait Suci. Dari Daud.

30:2 Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku.

30:3 TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku.

30:4 TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.

30:5 Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus!

30:6 Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.

30:7 Dalam kesenanganku aku berkata: “Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!”

30:8 TUHAN, oleh karena Engkau berkenan, Engkau telah menempatkan aku di atas gunung yang kokoh; ketika Engkau menyembunyikan wajah-Mu, aku terkejut.

30:9 Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru, dan kepada Tuhanku aku memohon:

30:10 “Apakah untungnya kalau darahku tertumpah, kalau aku turun ke dalam lobang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu dan memberitakan kesetiaan-Mu?

30:11 Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku!”

30:12 Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita,

30:13 supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, . . . pinggangku Kauikat dengan sukacita. —Mazmur 30:12

Daily Quotes ODB

Kim mulai berjuang melawan kanker payudara pada tahun 2013. Empat hari setelah pengobatannya berakhir, Kim didiagnosis menderita penyakit paru-paru stadium lanjut dan diberi tahu bahwa harapan hidupnya hanya sisa tiga sampai lima tahun. Ia sedih sekali, dan di tahun pertama, ia sering berdoa dan menangis di hadapan Tuhan. Waktu saya bertemu Kim lagi pada tahun 2015, ia sudah lebih berserah kepada Allah dan memancarkan sukacita serta kedamaian yang menular ke banyak orang. Meski masih bergumul, penderitaan Kim yang berat itu diubah Allah menjadi kesaksian indah yang penuh harapan lewat semangat yang ia teruskan kepada orang lain.

Saat kita berada dalam situasi yang menakutkan, Allah sanggup mengubah ratapan kita menjadi tari-tarian. Meski kesembuhan dari-Nya tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan, kita bisa mempercayai jalan-jalan Allah (Mzm. 30:2-4). Meskipun jalan yang harus kita tempuh bersimbah air mata, tetap tidak terhitung banyaknya alasan untuk memuji Dia (ay.5). Kita dapat bersukacita dalam Allah, dan Dia akan meneguhkan iman kita (ay.6-8). Kita bisa berseru meminta belas kasihan-Nya (ay.9-11), mensyukuri harapan yang Dia bawa kepada begitu banyak orang yang menangis dan memohon kepada-Nya. Hanya Allah yang dapat mengubah ratapan putus asa menjadi sukacita besar yang tidak tergantung pada keadaan (ay.12-13).

Saat Allah yang berbelaskasihan itu menghibur kita yang bersedih, Dia melingkupi kita dengan damai sejahtera dan memampukan kita menyalurkan belas kasihan itu kepada orang lain dan diri sendiri. Allah yang penuh kasih setia itu sanggup dan memang mengubah ratapan kita menjadi pujian, bahkan kita mampu mempercayai-Nya sepenuh hati, memuji dan menari-nari dengan penuh sukacita. —Xochitl Dixon

Apakah sumber damai dan sukacita sejati? Apa artinya berserah total kepada Allah?

Tuhan, peganglah kami erat-erat karena kami percaya Engkau sanggup mengubah ratapan kami menjadi pujian.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 4-6; Lukas 1:1-20

Perkataan dan Perbuatan

Hari ke-9 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus
Baca Pengantar Kitab Yakobus di sini

Berbahagia dalam Pencobaan

Baca: Yakobus 1:26-27

1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.

1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

Perkataan dan Perbuatan

Kita semua tentu pernah mengucapkan sesuatu yang kemudian kita sesali. Mungkin kita pernah keliru bicara di depan banyak orang, atau mengucapkan sesuatu yang menyakiti seorang teman atau orang yang kita kasihi. Mungkin kita pernah melontarkan guyonan kasar, ungkapan kemarahan, atau komentar tanpa pikir panjang di akun media sosial kita.

Dalam lingkungan yang makin hari makin kurang bersahabat dengan kekristenan, instruksi yang diberikan Yakobus kepada umat percaya untuk mengekang lidah mereka (ayat 26) menjadi kian relevan dan diperlukan. Sangat penting bagi kita untuk menyatakan kasih Kristus dalam cara kita berbicara kepada orang lain—termasuk dalam media sosial.

Tidak berhenti di sana, Yakobus berkata lebih lanjut bahwa jika kita menganggap diri kita beribadah—mungkin kita rajin ke gereja, berdoa, berpuasa, melayani—tetapi gagal mengendalikan perkataan kita, sebenarnya kita sedang menipu diri sendiri dan ibadah kita “sia-sia” (ayat 26).

Ibadah yang dianggap Tuhan murni dan tak bercacat melibatkan baik perkataan maupun perbuatan kita. Dalam ayat 27, Yakobus memberitahu kita—selain untuk mengekang lidah—kita juga harus memperhatikan para “yatim piatu dan janda-janda”, serta menjaga agar diri kita sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

Para yatim piatu dan janda-janda di zaman Yakobus adalah kelompok yang paling rendah statusnya dalam masyarakat. Jika instruksi itu diberikan pada zaman sekarang, Yakobus mungkin akan menyebutkan kelompok-kelompok yang terpinggirkan dalam masyarakat seperti para tuna wisma, para penyandang cacat mental, dan orang-orang miskin. Kita dipanggil untuk memperhatikan dan melayani orang-orang yang membutuhkan, tidak hanya kerabat dan teman-teman kita semata. Poin ini berkaitan dengan tema yang terus berulang dalam kitab Yakobus, yaitu bagaimana iman dan perbuatan harus seiring sejalan dalam kehidupan seorang Kristen.

Di akhir pesannya, Yakobus menambahkan sebuah instruksi lagi: jaga agar perilaku dunia yang berdosa tidak merusak perilaku kita (ayat 27). Dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat kita berusaha berbuat baik dalam nama Tuhan Yesus, kita harus secara konsisten menjaga diri kita dari berbagai godaan dan pengaruh. Bila kita membiarkan dosa menyelinap dalam perbuatan baik kita (misalnya ketidakjujuran atau motivasi yang tidak murni), kita merusak perbuatan baik kita sendiri dan menodai nama baik Tuhan Yesus.

Perintah ini tidak mudah dilakukan. Namun, ketika kita mengendalikan lidah kita, memperhatikan kaum yang terpinggirkan, menjaga sikap dan perilaku kita dari kecemaran, dunia akan melihatnya dan terheran-heran mengapa orang-orang Kristen hidup demikian. Kita pun akan mendapat kesempatan untuk membagikan kebaikan kasih Kristus yang sudah kita alami dan mengundang mereka untuk menjadi bagian dari keluarga Allah. —Caleb Young, Australia

Handlettering oleh Catherine Tedjasaputra
Background image oleh Aryanto Wijaya

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Dalam hal-hal apa kamu gagal “mengekang” lidah?

2. Langkah-langkah nyata apa saja yang bisa kamu ambil untuk mulai menolong mereka yang tak berdaya di lingkungan sekitarmu?

3. Bagaimana kamu dapat menjaga diri agar tidak “dicemarkan oleh dunia” (ayat 27), terutama dalam perbuatan baikmu?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Caleb Young, Australia | Caleb adalah seorang pecinta film, makanan, dan juga hiburan. Caleb lahir di Selandia Baru, dibesarkan di Kepulauan fiji, dan sekarang tinggal di Australia. Dia punya tiga buah paspor! Caleb suka bercerita, dia menuangkan ceritanya dalam bentuk video yang berkisah tentang pekerjaan Tuhan dalam kehidupan seseorang, ataupun menuliskannya dalam sebuah artikel. Terlebih dari segalanya, Caleb adalah seorang dewasa muda yang berjuang untuk menjadi serupa dengan Kristus, dan amat bersyukur memiliki Juruselamat yang begitu mengasihinya meskipun dia memiliki banyak kelemahan.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus

Pergumulanku untuk Beradaptasi di Gereja yang Baru

Oleh Chanel Geogopoulos, Afrika Selatan
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When I Struggled To Fit Into My New Church

Aku melihat ke sekelilingku, ke wajah-wajah jemaat yang asing bagiku, lalu aku kembali menatap ke depan, kepada pendeta yang sudah berkhotbah selama 25 menit. Aku tumbuh besar di gereja yang sesi khotbahnya biasanya berlangsung paling lama hanya 15 menit.

Selain itu, ada beberapa perbedaan lainnya. Di gerejaku yang baru, emosiku tergerak dalam cara-cara yang tidak pernah kualami di gereja lamaku. Ada tangisan air mata saat aku menyembah Tuhan, dan ada kehangatan yang memenuhi dadaku saat aku melihat para jemaat saling berinteraksi.

Tapi, ada suatu hal yang menggangguku. Meskipun aku sudah datang beribadah di gereja ini bersama pacarku selama empat bulan, aku masih merasa asing.

Sebelum pindah ke sini, aku berada di satu gereja yang sama seumur hidupku. Tapi, kemudian aku bertemu dan jatuh cinta dengan seseorang dari gereja yang berbeda. Mungkin kalau tidak bertemu dengan pacarku, aku akan tetap berada gereja lamaku seumur hidupku.

Awalnya, kami mencoba saling menghadiri ibadah di gereja masing-masing. Setelah beberapa waktu, aku memutuskan untuk pindah ke gereja pacarku karena kupikir mungkin ini adalah keputusan yang baik buatku. Selama delapan tahun terakhir, di gereja lamaku, aku melayani di paduan suara dan hanya berinteraksi dalam lingkaran pertemananku yang kecil, yang isinya sesama anggota paduan suara gereja juga. Mungkin inilah waktu bagiku untuk pindah ke “padang rumput” yang baru.

Tapi, ada satu masalah: aku merasa seperti anak baru yang asing dengan lingkungannya. Setiap Minggu, aku duduk di sisi pacarku, menghindari banyak wajah ramah yang menyapaku.

Beberapa orang mendorongku untuk terlibat dalam pelayanan. Pikiran pertamaku adalah melayani di bidang musik, di mana aku pernah melayani juga di gereja lamaku. Tapi, di sini ada banyak sekali perbedaannya. Dan, kalau aku harus mengakui, suaraku tidak pas untuk menyanyi solo. Pilihan itu pun gugur, lalu aku ditawari kesempatan untuk melayani sebagai pembuat minuman teh dan penata peralatan makan, atau membuat slide powerpoint (bukan keahlianku)—sejujurnya, aku tidak ingin melayani di semua bidang itu.

Dari pengalamanku melayani di gerejaku yang dulu, aku tahu bahwa dengan melayani, aku bisa mengubah perasaanku mengenai datang ke ibadah setiap hari Minggu. Jadi, inilah yang juga ingin aku lakukan sekarang. Tapi, aku tidak tahu bagaimana memulainya. Aku tahu Tuhan tidak ingin kalau aku cuma sekadar duduk di bangku setiap hari Minggu dan menutup diriku di balik sifat introverku. Aku harus keluar dari cangkangku.

Aku masih berusaha mencari tahu apa yang dapat kulakukan. Hingga suatu ketika, aku mulai ikut kelompok kecil bersama pacarku. Kelompok kecil yang kuikuti itu menyambutku dengan sangat baik. Sejak bergabung dengannya, aku dengan cepat bisa beradaptasi dan merasa bahwa aku juga adalah anggota dari gereja.

Di gereja lamaku, aku tidak benar-benar bersosialisasi dengan pemuda-pemudi lainnya di luar kelompok paduan suara. Tapi, di gerejaku yang baru ini, ada acara minum teh bersama seusai kebaktian yang jadi kesempatan yang amat baik untuk saling bertegur sapa. Rasanya menyenangkan ketika aku diundang untuk ikut sarapan atau pergi ke pantai bersama-sama, atau ketika seseorang menanyakanku bagaimana hari-hariku sepanjang minggu ini berlangsung.

Jika kamu baru pindah ke gereja yang baru, atau sedang bergumul untuk bisa beradaptasi dengan gerejamu, mungkin kamu juga bisa mencoba ambil bagian untuk melayani, atau bergabung dengan kelompok kecil. Inilah beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk dapat merasakan gerejamu menjadi seperti rumahmu:

  • Menyapa orang yang duduk di sebelahmu (seberapa sering kamu melakukan ini?).
  • Tanyakan kepada seseorang yang menurutmu mengenalmu dengan baik, tanyakan hal apakah yang sekiranya tepat untuk kamu lakukan.
  • Cari tahu siapa yang bertugas di pelayanan, dan berbicaralah dengan mereka tentang kesempatan-kesempatan melayani yang tersedia.
  • Doakan rencana-rencana pelayananmu itu.
  • Setelah kebaktian usai, janganlah langsung pulang. Jika di gerejamu ada acara ramah-tamah, ikuti.

Aku memiliki beberapa nomor kontak pemimpin gereja yang tak pernah kuhubungi di ponselku, jadi kupikir aku harus mempraktikkan poin ketiga dari tips-tips yang sudah kusebutkan di atas. Namun, syukurlah karena acara minum teh bersama seusai kebaktian jadi kesempatan yang baik untuk mengobrol dan bertegur sapa dengan jemaat-jemaat lain. Dan, dari sinilah relasiku dengan orang-orang yang kemudian menjadi satu kelompok kecil denganku bermula. Dari sekadar obrolan sambil minum teh, berlanjut jadi relasi yang erat.

Paulus mengatakan bahwa setiap anggota tubuh Kristus memiliki perannya masing-masing, ada yang berperan untuk bernubuat, melayani, mengajar, mendorong, dan bahkan menunjukkan belas kasihan (Roma 12:3-8). Mungkin kamu perlu menguji beberapa hal terlebih dulu sebelum memutuskan bergabung dengan suatu pelayanan. Tapi, mungkin juga kamu nantinya mendapati dirimu melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kamu pikirkan, atau sesuatu yang kamu pikir bukan keahlianmu. Tidak semua orang terpanggil melayani di atas panggung dan menyanyi. Ada yang terpanggil untuk melayani di balik layar. Tapi, di atas panggung atau di balik layar, itu tidak membuat apa yang kita lakukan menjadi kurang berarti. Bahkan, percakapan sederhana dengan orang lain bisa jadi sesuatu yang berdampak besar. Yang penting adalah kita membuka hati kita untuk mau dipimpin oleh Roh Kudus dan mau bergabung dan sama-sama membangun gereja di mana kita tertanam di dalamnya.

Meskipun aku sudah menetap di gerejaku, aku merasa bahwa ini masih proses transisi. Mungkin nanti aku akan mencoba melayani sebagai pembuat teh dan menyajikan kue-kue kepada jemaat, atau mungkin juga kelak akan ada diskusi hangat yang akan memberiku petunjuk jalan apa yang harus kuambil. Yang aku tahu sekarang dengan yakin adalah kelompok kecilku telah menjadi berkat buatku, dan kepindahanku ke gereja yang baru mengizinkanku untuk Tuhan berkarya di bagian hatiku yang lebih dalam. Untuk semua hal ini, aku bersyukur.

Baca Juga:

4 Yang Aku Lakukan dan Doakan di Hari Ulang Tahunku yang Ke-22

Apa yang biasanya kamu lakukan di hari ulang tahunmu?

Mensyukuri Diri Allah

Jumat, 16 November 2018

Mensyukuri Diri Allah

Baca: Mazmur 95:1-7

95:1 Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.

95:2 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

95:3 Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.

95:4 Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunungpun kepunyaan-Nya.

95:5 Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.

95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

95:7 Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur . . . sebab Tuhan adalah Allah yang besar. —Mazmur 95:2-3

Mensyukuri Diri Allah

Dari ribuan pesan yang tercetak dalam kartu ucapan, salah satu pernyataan yang mungkin paling menyentuh adalah kalimat sederhana ini: “Terima kasih untuk dirimu.” Jika kamu menerima kartu dengan ucapan itu, kamu tahu bahwa orang tersebut mempedulikanmu bukan karena kamu telah melakukan sesuatu yang luar biasa baginya, tetapi karena kamu hadir sebagai dirimu sendiri.

Saya berpikir, apakah ucapan seperti itu menjadi salah satu cara terbaik bagi kita untuk mengungkapkan terima kasih kepada Allah. Tentu, di saat-saat Allah berkarya dengan nyata dalam hidup kita, kita dapat berkata seperti ini, “Terima kasih, Tuhan, karena aku boleh mendapat pekerjaan itu.” Namun, yang lebih perlu kita lakukan adalah cukup dengan berkata, “Terima kasih, ya Allah, untuk diri-Mu.”

Ketika kita membaca ayat seperti 1 Tawarikh 16:34, “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya,” kita dapat berkata: Terima kasih, ya Allah, untuk diri-Mu—Engkau baik dan penuh kasih. Atau Mazmur 7:18, “Aku hendak bersyukur kepada Tuhan karena keadilan-Nya,” kita dapat berkata: Terima kasih, ya Allah, untuk diri-Mu—Engkau kudus. Atau Mazmur 95:2-3, “Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, . . . Sebab Tuhan adalah Allah yang besar,” kita dapat berkata: Terima kasih, ya Allah, untuk diri-Mu—Penguasa alam semesta yang Mahakuasa.

Diri Allah. Itu cukup untuk membuat kita berhenti sejenak dan memuji serta menaikkan syukur kita kepada-Nya. Terima kasih, ya Allah, untuk diri-Mu! —Dave Branon

Ya Allah, kami bersyukur untuk diri-Mu—Allah Mahakuasa yang mengasihi kami dan menerima ungkapan kasih kami. Terima kasih untuk segala sesuatu yang membuat Engkau layak dimuliakan. Kami dibuat takjub oleh diri-Mu saat kami memuji-Mu dengan perkataan dan nyanyian kami.

Ada begitu banyak alasan untuk bersyukur kepada Allah, dan salah satunya adalah karena diri-Nya sendiri!

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 3-4; Ibrani 11:20-40