Hidup Ini Adalah Kesempatan, Sudahkah Aku Memanfaatkannya dengan Bijak?

Info

Oleh Queenza Tivani, Jakarta

Di suatu malam aku menjelajahi timeline Instagramku. Aku melihat beberapa temanku memposting sebuah screenshot dari akun Kitabisa.com, sebuah akun untuk penggalangan dana. Aku tidak membaca jelas postingan itu dan melewatkannya begitu saja. Tapi, semakin lama aku melihat lebih banyak teman-teman sekampusku mulai memposting screenshot itu.

Ting, nada pesan WhatsAppku berbunyi. Di dalam pesan itu tertulis cerita dan link menuju website penggalangan dana tersebut. Aku penasaran, lalu kubukalah link itu. Aku terkejut dan tidak percaya. Seorang teman yang dulu pernah bersama denganku di bangku kuliah sekarang terbaring sakit. Dia sudah mengalami koma selama kurang lebih delapan bulan. Temanku itu menderita penyakit yang jarang sekali didengar, Moyamoya Disease namanya. Penyakit ini menyerang sistem saraf otak dengan memperkecil pembuluh darah yang menuju otak. Akibatnya suplai darah menjadi terhambat. Tindakan yang bisa dilakukan untuk mengobatinya adalah dengan operasi. Tapi, pasca operasi itu dia kehilangan kesadaran.

Aku terdiam dan merenung. Aku mungkin tidak begitu dekat dengan temanku itu. Tapi kami sempat duduk di satu kelas yang sama ketika kuliah dulu. Dia adalah orang yang easygoing, loyal, lucu, dan selalu terlihat ceria. Seingatku dia juga dari keluarga yang berkecukupan. Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia akan terbaring sakit tak berdaya.

Malam itu aku mengambil waktu untuk mendoakannya dan melihat kembali hidupku akhir-akhir ini. “Apakah aku sudah melakukan yang terbaik selama aku hidup? Bagaimana jika aku yang berada di posisi temanku itu? Apa yang bisa kulakukan untuk temanku selain donasi dan doa?” tanyaku dalam hati. Lalu aku teringat akan sebuah lagu “Hidup ini Adalah Kesempatan” yang liriknya berkata:

Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan apa yang Tuhan beri
Hidup ini harus jadi berkat

Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti
Ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat

Lirik lagu itu terdengar sederhana, tetapi maknanya begitu dalam dan menegurku. Sudah dua bulan terakhir aku bolos dari pelayanan menari di gereja. Malas, itulah alasanku. Padahal dulu ketika awal-awal aku berkomitmen pelayanan, aku dipenuhi kerinduan untuk mempersembahkan talentaku buat Tuhan. Tapi, sekarang aku malas untuk datang latihan. Aku malas mencari outfit pelayanan, dan aku pun malas pergi ke gereja karena jaraknya dengan tempat tinggalku yang jauh. Bahkan di hari Minggu aku tidak menggunakan waktu itu untuk beribadah ke gereja. Aku malah tidur seharian. Selain itu, aku pun banyak menyia-nyiakan waktuku. Daripada bersaat teduh, aku lebih suka meluangkan waktuku untuk menjelajahi media sosialku, menonton YouTube, dan melakukan hal-hal lain yang kusuka.

Aku lupa bersyukur. Aku lupa untuk menggunakan waktu-waktu yang sudah Tuhan berikan kepadaku untuk melayani-Nya. Bukankah tujuan hidup manusia sejatinya adalah untuk memuliakan Allah? Seperti yang tertulis dalam Katekismus Westminster pertanyaan 1, apa tujuan umat manusia? Tujuan utama manusia ialah memuliakan Allah dan bersukacita di dalam Dia selama-lamanya.

Kuakui bahwa aku menggunakan waktuku dengan sembrono. Pemazmur dalam Mazmur 90:12 (BIS) berkata: “Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi.” Waktuku di dunia begitu singkat, seharusnya aku dapat lebih bijak memanfaatkan setiap momen yang Tuhan berikan padaku.

Mungkin ada banyak hal tak terduga yang terjadi dalam kehidupan kita, tetapi satu hal yang perlu kita ingat adalah bahwa Tuhan selalu memegang kendali kehidupan ini. Kesakitan, kehilangan, kematian, atau apapun itu adalah hal yang tak terelakkan. Kita harus siap menghadapinya. Namun, yang menjadi penting bukanlah kapan atau bagaimana waktu-waktu kemalangan itu akan terjadi dalam kehidupan kita, melainkan bagaimana kita memanfaatkan waktu-waktu yang ada sekarang. Selagi kita memiliki waktu dan kesempatan untuk berkarya melayani-Nya, pakailah itu.

Aku berdoa dan berharap kiranya Tuhan memberikan kekuatan buat keluarga temanku, juga memberikan yang terbaik untuknya. Aku percaya akan kuasa Tuhan yang besar, dan tugas kita adalah percaya sepenuh-Nya kepada-Nya dan memanfaatkan waktu-waktu kita sebijak mungkin hingga kelak ketika tiba saatnya, Tuhan akan berkata kepada kita: “Well done, anakku terkasih.”

Baca Juga:

3 Respons untuk Menyikapi Musibah

Sebagai orang Kristen, ada tiga hal yang perlu kita pikirkan sebelum memposting sesuatu di media sosial sebagai wujud respons kita terhadap suatu musibah.

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Saudara Seiman: Perjalanan untuk Saling Menguatkan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

8 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!