5 Hal yang Bisa Kamu Lakukan Ketika Temanmu Mengalami Gangguan Kejiwaan

Info

Oleh Karen Kwek, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When You Find Out Your Friend Has A Mental Illness

Aku dan Simone* adalah teman saat kuliah di Inggris bertahun-tahun yang lalu. Simone merupakan seorang yang pintar dan populer dengan selera humor yang sarkastik. Di samping itu, bila dilihat sekilas, Simone sepertinya adalah seorang wanita yang memiliki segalanya: dia punya iman Kristen yang kuat, teman-teman dekat, prestasi akademik yang gemilang, juga kesempatan besar untuk melanjutkan studi tentang musik di jenjang pasca-sarjana. Sebagai wakil dari Outdoor Activites Club di kampus kami, Simone selalu penuh dengan ide-ide ambisius untuk mengisi perjalanan akhir pekannya. Dia suka aktivitas menaklukkan puncak gunung, hiking melalui hutan, menyisiri pantai, atau mengikuti pertandingan mendayung di musim panas.

Namun, hal itu berubah ketika kami berada di tingkat akhir masa kuliah, ketika aku, Simone, dan dua perempuan Inggris lainnya tinggal bersama di sebuah apartemen yang dikhususkan bagi mahasiswa. Di situlah aku mulai melihat sisi lain dari seorang Simone. Kami semua tahu bahwa Simone memiliki kesulitan tidur, tetapi biasanya aku hanya bertemu dengannya di ruang makan atau saat pertemuan kelompok saja. Aku tidak pernah memperhatikan bahwa Simone adalah seorang yang cepat lelah dan penyendiri.

Suatu malam, kami sangat terkejut dan khawatir karena Simone mengunci dirinya di kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya. Tapi, keesokan harinya, Simone nampak baik-baik saja dan menjalani harinya seperti biasa. Kejadian serupa sempat terulang kembali beberapa kali. Namun, karena kami semua sedang menghadapi ujian yang cukup membuat stres, kupikir inilah alasan di balik perilaku Simone yang tidak biasa tersebut. Aku sering begadang untuk belajar bersama Simone, dan kami juga berdoa bersama saat dia merasa stres. Saat Minggu pagi, kami beribadah di gereja bersama-sama. Di musim panas tahun itu, akhirnya kami pun lulus dan melanjutkan studi kami ke program S-2 di universitas yang berbeda—Simone pergi ke Prancis, sedangkan aku ke Amerika Serikat.

Mungkin kamu jadi bertanya-tanya: bagaimana bisa kisah Simone ini dikatakan sebagai gangguan kejiwaan? Atau mungkin, seperti aku sebelumnya, kamu berpikir bahwa pengalaman Simone tersebut tidak cukup membuktikan bahwa dia pantas untuk mendapatkan label sebagai seorang yang memiliki gangguan kejiwaan.

Tapi, faktanya adalah isu tentang gangguan kejiwaan saat ini jauh lebih umum terjadi dibandingkan dengan apa yang kita pikirkan. Di negaraku (Singapura), sebuah studi pada tahun 2010 mengungkapkan bahwa 1 dari 8 orang di Singapura menderita gangguan kejiwaan. Sedangkan di Amerika Serikat, pada tahun 2016 secara angka jumlahnya adalah 1 dari 6 orang, dengan prevalensi tertinggi (22,1%) di antara orang-orang muda (usia 18-25 tahun). Menurut data dari World Health Organization (WHO), pada tahun 2017 terdapat lebih dari 300 juta oarng, atau 4,4% dari populasi global menderita depresi.

Selain depresi dan kecemasan sebagai bentuk paling umum dari gangguan kejiwaan dalam skala global, banyak juga yang menderita kondisi mental yang kompleks, termasuk Autism Spectrum Disorder (AS), Attention Deficit and Hyperactivity (ADHD), dan epilepsi.

Aku tidak menuliskan ini berdasarkan pandangan menyeluruh dari seorang yang profesional di bidang kesehatan. Tetapi, aku menuliskannya dari sudut pandangku sebagai orang beriman yang tidak luput dari kekurangan, yang juga mengetahui kesulitan yang dialami oleh beberapa temanku. Sebagai seorang yang juga pernah mengalami depresi dan kecemasan, menurutku tidak ada perbedaan antara “kita” dan “mereka”.

Setiap kita pasti pernah mengalami pergumulan hidup yang sedikit banyak memberi dampak terhadap kesehatan kejiwaan kita; yang membedakannya hanya tingkatannya. Aku menceritakan kisah Simone di sini karena dialah yang pertama kali membantuku memahami situasi ini dengan lebih baik, serta mengajarkanku untuk bagaimana menjadi teman sekaligus saudari yang lebih baik dalam Kristus.

Jika kamu memiliki teman yang memiliki masalah kesehatan kejiwaan, inilah beberapa langkah yang bisa kamu ambil untuk membantunya.

1. Berempati dan dukung dia untuk meminta bantuan bila diperlukan

Jantung berdebar-debar, panik, mual, muntah, tangisan yang berlebihan, perilaku berisiko ekstrem, kekerasan, melukai diri sendiri—perilaku psikis dan fisik ini bisa jadi dipicu oleh stres, kecemasan berlebih, dan bentuk penyakit kejiwaan.

Temanmu mungkin saja sedang melalui proses penyesuaian diri yang sementara terhadap kehilangan atau trauma. Jika demikian, dengan kamu ada di sampingnya sebagai teman untuk berbicara dan berbagi, kamu dapat membantunya meringankan bebannya. Mungkin, memang inilah yang temanmu perlukan.

Namun, apabila masalahnya lebih serius atau kronis (terjadi berulang kali), sarankan dia untuk meminta bantuan dari seorang pendeta, konselor, atau dokter. Beberapa orang seringkali merasa malu untuk menceritakan tentang gejala yang mereka alami, seperti mendengar “suara-suara”, berhalusinasi, rasa ketakutan yang berlebihan atau paranoid, rasa ingin bunuh diri, atau pikiran seperti seorang pembunuh.

Kehadiranmu itu sangat penting karena biasanya ada sebuah stigma sosial yang sering disematkan kepada orang yang menderita gangguan kejiwaan, termasuk di dalam lingkungan orang Kristen sendiri. Orang yang mengalami kondisi gangguan kejiwaan merasa takut akan sesuatu yang tidak kita mengerti. Oleh sebab itu, biasanya mereka dikucilkan dari relasi. Akibatnya, mereka tidak dapat menikmati relasi layaknya orang “normal”, baik itu di rumah, kantor, dan gereja. Mereka biasanya tidak dihiraukan saat bersenda gurau, dibiarkan dalam rasa malu, atau didiamkan saja, dan juga dianggap sebagai orang lain.

Jadi, apabila temanmu sudah terbuka kepadamu tentang kesehatan jiwanya, ketahuilah bahwa inilah tanda dia mempercayaimu. Sangat mungkin apabila selama ini dia merasa sendirian dan disalahpahami, atau mungkin dia merasakan hal ini di masa lalu.

Simone, temanku itu bertahan seorang diri dan menyimpan pergumulannya selama lebih dari 10 tahun sebelum masa-masa suram itu semakin sering terjadi dan dia berusaha mengakhiri hidupnya berulang kali. Pacarnya (yang sekarang telah menjadi suaminya) yakin bahwa ada sesuatu yang sangat salah, dan kemudian membawanya untuk mencari bantuan. Pada tahun 2015, dia didiagnosis mengidap gangguan bipolar. Diagnosis ini membantu keluarga dan teman-teman Simone untuk sedikit lebih mengerti tentang apa yang Simone telah alami semenjak masa remaja.

2. Hindari menjejali temanmu dengan ayat-ayat Alkitab saat itu juga dan membuat asumsi tentang kondisi kejiwaannya

Meskipun Simone sudah didiagnosis dan kemungkinan besar dicap sebagai pasien gangguan kejiwaan oleh sebagian orang, bagiku dia tetaplah Simone yang selalu menjadi temanku. Dukungan ini sangat berarti bagi Simone.

Walaupun cap tersebut sebenarnya tidak mendefinisikan temanmu, cobalah mengerti sebanyak mungkin yang bisa kamu mengerti tentang isu kesehatan jiwa temanmu secara spesifik karena tidak semua kondisi itu sama. Mintalah temanmu untuk mendeskripsikan apa yang dia hadapi. Bacalah bacaan-bacaan yang relevan yang dipublikasikan oleh institusi-institusi yang mendukung tentang kesehatan kejiwaan.

Mitos yang paling menghancurkan adalah pernyataan yang berkata: hanya orang lemah yang memiliki gangguan kesehatan kejiwaan; masalah ini seharusnya bisa diselesaikan begitu saja; ini adalah hukuman yang pantas didapatkan oleh dia; imannya tidak cukup kuat sih; atau, orang yang dewasa secara rohani pasti tidak akan mengalami gangguan kejiwaan, atau pasti selalu bisa sembuh.

Gangguan kejiwaan biasanya disebabkan oleh faktor yang kompleks antara genetik, biologis, psikologis, dan lingkungan yang saling mempengaruhi. Dalam banyak kasus yang kronis, bahkan penyebabnya tidak diketahui. Gejala-gejala psikologis juga dapat terjadi secara tidak menentu, seolah-olah tubuh mengabaikan instruksi dari otak dan bekerja di luar kendali. Kamu harus peka. Ketika berbagi ayat-ayat Alkitab dengan temanmu yang sedang mengalami gangguan kejiwaan, jangan sampai itu sampai mengecilkan hati atau bahkan menyakitinya seakan-akan dia adalah seorang yang tidak taat atau tidak beriman!

Simone menderita gangguan bipolar, yaitu sebuah gangguan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur-unsur kimia yang berada di dalam otaknya. Ketika dia sedang ceria, pikirannya menjadi tidak stabil dan tidak realistis—“tidak teratur, terserak ke mana-mana”, begitulah dia menyebutnya. Yang lebih sering daripada itu adalah keputusasaannya. Selama masa-masa ini, Simone dapat mengingat bacaan-bacaan Alkitab tentang bersukacita dan menemukan pertolongan di dalam Tuhan. Tapi, semua itu terasa hampa. Simone tidak dapat merasakan emosi positif ataupun benar-benar berdoa selain memohon kepada Tuhan untuk mengakhiri hidupnya saja karena dia merasa sangat terkucilkan dari segalanya. Simone juga pernah tiba-tiba mengalami ketakutan yang membuatnya tidak berdaya, jantungnya berdegup kencang, sesak nafas, menangis, bahkan ketika dia sedang bersenang-senang dengan teman-temannya.

3. Tawarkan persaudaraan dan harapan Kristiani

Kalau kamu berpikir seperti yang kupikirkan, kamu mungkin akan menimbang ulang untuk terlibat membantu temanmu. Bukan karena kamu tidak peduli, tetapi mungkin karena kamu khawatir akan membuat masalah menjadi semakin kacau. Namun, Simone meyakinkanku: “Menunjukkan kasih dan kepedulian tidak akan membuat keadaan jadi lebih buruk.”

Galatia 6:2 berkata: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Hukum Kristus adalah kasih kepada Tuhan dan sesama. Jadi, kita diajarkan bagaimana mengasihi sesama secara konkrit. Penanggung beban yang utama adalah Yesus Kristus sendiri, yang telah menanggung dosa-dosa kita dan mati supaya kita dapat hidup (Galatia 2:20).

Simone diberikan resep obat yang mengandung lithium untuk menyeimbangkan unsur-unsur kimia di otaknya. Simone juga diajarkan untuk tidak mengizinkan suara-suara negatif di pikirannya mengalahkan kebenaran bahwa sesungguhnya dia dikasihi dan diselamatkan oleh Tuhan. Namun, tetap saja Simone menemukan kesulitan untuk bersosialisasi saat dia tengah mengalami depresi dan khawatir apabila dia tidak dapat memenuhi kebutuhan orang lain, ataupun tidak dapat berbagi kebahagiaan.

Namun, ketika Simone dapat menerima persaudaraan dari kami, dia menemukan dukungan yang besar di dalam cinta kasih, kepedulian, dan komunitas Kristen. Menjejalkan ayat-ayat Alkitab tanpa disertai hikmat sama saja seperti menghakimi dan tidak mengasihi sama sekali. Sebaliknya, firman Tuhan yang dibagikan dalam konteks kepedulian dan dipelajari bersama-sama dalam kelompok pendalaman Alkitab (PA) telah menjadi penyelamat Simone. Melalui hal ini, Simone diajarkan dan diingatkan bahwa di kekekalan nanti, dia tidak hanya disembuhkan, melainkan akan dibaharui.

Pada kenyataannya, kehancuran pikiran Simone sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehancuran yang umum terjadi pada diri kita, para pendosa. Ketika Simone jatuh ke dalam keputusasaan yang mendalam, harapan yang menolongku ternyata juga menolongnya; itu adalah suatu kepastian dari warisan yang takkan pernah mati, rusak, ataupun pudar, karena telah dimenangkan oleh Yesus (1 Petrus 1:3-7). Betapa berharganya pengertian bahwa pemberian ini disimpan di surga bagi setiap kita, dan bahwa kekuatan Tuhan menjaga kita melalui iman kita, bahkan ketika kesedihan yang kita alami saat ini sangat hebat! Ketika Yesus kembali, kepercayaan kita di dalam Dia terbukti semakin kuat karena kita telah menderita, dan ini akan semakin memuliakan Tuhan.

4. Perhatikan dirimu

Jika kamu adalah satu-satunya orang yang mendampingi temanmu, cobalah meminta beberapa teman yang dapat dipercaya untuk mendampinginya juga. Kamu sendiri perlu beristirahat secara fisik dan kamu juga perlu waktu untuk terus memperkuat relasimu dengan Tuhan. Ingatlah bahwa satu-satunya harapan temanmu adalah di dalam Tuhan, maka peranmu haruslah merefleksikan kasih-Nya dan membawa temanmu kepada-Nya. Jika kamu mencoba menjadi seorang yang memiliki jawaban atas segalanya atau membuat temanmu terlalu bergantung kepadamu, ini bukanlah solusi yang terbaik untuk jangka panjang.

5. Berdoalah untuk dan dengan temanmu

Terkadang Simone merasa terlalu sedih untuk berdoa. Tapi, dia tentu memiliki Roh Kudus bersamanya di saat-saat sulit sekalipun. Apakah kami berdoa supaya Tuhan menyembuhkan gangguan bipolarnya? Tentu saja! Tetapi, mungkin Tuhan tidak memilih untuk melakukannya saat ini juga, dan mungkin kita tidak akan mengerti alasan-Nya seumur hidup kita. Walaupun begitu, kami tahu bahwa Kristus telah memberikan arti hidup, tujuan hidup, dan harapan bagi Simone, bahkan ketika Simone hidup dengan gangguan kejiwaan. Dengan pengobatan dan dukungan dari teman-temannya, Simone kini dapat kembali pada pekerjaannya, yaitu menjadi seorang guru musik.

Hidup selalu penuh dengan suka dan duka bagi kita semua, namun yang pasti, kita sangat diberkati karena kita dapat mengimani dan mengatakan seperti yang Petrus tuliskan dalam suratnya di 1 Petrus 1:3-7:

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu—yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api—sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Apa Pemberian Terbaik yang Bisa Kamu Berikan pada Seseorang?

Menurutmu, apa pemberian terbaik yang bisa kamu berikan kepada seseorang?

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Sesama: Perjalanan Bersama di dalam Kasih, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

6 Komentar Kamu

  • Menjejali dengan ayat dan renungan, berpikir dirinya benar dengan melakukan itu..padahal dia orang yang menjadi tokoh utama dalam traumaku, dalam kesedihanku. kita hampir sama simone, tapi aku karena trauma dan sakit hati berkali kali selama bertahun tahun dipendam sendiri. jadi, ini benar gangguan kejiwaan? berbahagialah anda, karena saya ternyata lemah.

  • Syalom, dear Jessica Ernelia, kita manusia memang lemah. Saya dulu juga yakin bahwa saya kuat, tapi saya memungkiri kekuatan saya sendiri. Yg benar adalah, manusia memang lemah dan hanya kasih Tuhan yg mampu menguatkan kita. Karena manusia tanpa kasih Tuhan sama dengan bejana yang kosong isinya. Hanya Roh Kudus yang bisa mengisi kekosongan itu…karena itu datanglah kepada Tuhan dan minta kelegaan, kekuatan, serta kesembuhan darinya. Saya dulu adalah penderita depresi, saya sudah tiga kali depresi, dan semuanya disebabkan karena hubungan saya yang jauh dari Tuhan. Setelah saya bertobat dilahirkan kembali, saya memutuskan untuk mengganti total gaya hidup saya dgn lebih banyak bersekutu denganNya, dan puji Tuhan, Dia menguatkan saya dan saya tidak pernah merasa depresi lagi, saya sembuh…mungkin kisah org berbeda beda, tergantung takaran yg Tuhan berikan pada org tsb, namun tdk pernah salah ttp percaya padaNya karena Dia adalah sumber pengharapan kita. Amen. Artikel yg sangat memberkati.

  • terimakasih artikelnya ..
    iya sama , saya juga begitu sperti itu , terkadang mengalami situasi gangguan kejiwaan diatas , saat mengalami hal tersebut saya mengatasinya dengan bernyanyi memuji tuhan berkali kali sambil berdoa , sampai akhirnya saya tenang , baru saya membaca alkitab dan berdoa , kalo masih terasa hambar saya bernyanyi lagi dan percaya akan kata kata pujian yang saya nyanyikan . Puji Tuhan dengan puji pujian itu efektif untuk membut hati dan pikiran saya tenang , mungkin kalian juga pernah menglami depresi bisa juga praktekan pujian di tengah kamu mengalaminya . lagu favorit saya “sbab Tuhan baik” . Tuhan Yesus Memberkti .

  • tidak ada manusia gila. karena pada intinya manusia adalah ciptaan Tuhan yg sempurna. dengan iman yg kudus, 1 rumah sakit gila bisa waras hanya dengan berkomunikasi dengan Tuhan. tapi, manusia-manusia itu memang dirasuki roh-roh jahat dan iblis. manusia itu gagal menguasai rohnya, sehingga roh jahat menguasainya. ini perlu saya jelas supaya manusia tau kenyataannya. tidak ada orang gila, manusia itu diciptakan sempurna. manusia itu sendiri yg menghancurkan kewarasannya. itu tolong di catat. terima kasih

  • manusia diciptakan sempurna. Tidak ada manusia gila. manusia itu tidak mampu menguasai dirinya dari roh-roh jahat dan iblis. dalam nama Tuhan Yesus, semua orang di rumah sakit jiwa itu bisa normal dan lepas dari roh-roh jahat itu. Iman yg hancur, jiwa yg dirusak iblis, itu yg buat orang jadi mudah dirasuki iblis. manusia itu diciptakan sempurna, karena dirinya sendiri dia jadi stress, gila, ataupun gangguan jiwa. roh-roh jahat, serta iblis mudah masuk ke tubuhnya. jadi ini harus saya perjelas, supaya orang kristen tau, tidak ada manusia gila dari lahir. saya ketika berjalan dan bertemu orang gila, orang gilanya selalu pergi, takut mungkin diusir dari tubuh orang itu. ada roh-roh penyesat yg dilepaskan ke dunia ini, jadi dulu iblis, malaikat penghianat, serta roh-roh penyesat dilepaskan di dunia ini. itu yg buat banyak orang yg kehilangan kewarasannya, rohnya dikuasai roh jahat. saya merasa perlu menjelaskan hal ini supaya manusia tau. terima kasih

Bagikan Komentar Kamu!