Posts

Bunuh Diri Tak Pernah Jadi Solusi

Kita tak asing dengan istilah ‘bunuh diri’.

Ada figur publik, bahkan mungkin orang yang kita kenal, pernah terbersit atau nahasnya mengakhiri hidupnya dengan cara ini.

Bunuh diri adalah sebuah gunung es dari permasalahan kesehatan mental yang tak diatasi dengan benar. Tidak peduli seberapa baik penampilan seseorang di luarnya, mungkin saja ada sesuatu yang mereka gumulkan di dalam.

Izinkan mereka yang paling dekat dengan kita mengetahui betapa kita mengasihi mereka, dan betapa mereka berarti buat kita tak peduli apapun musim yang sedang mereka hadapi.

Ayo kita tunjukkan kasih dan empati kita.

Ketika Beban di Pundakmu Terasa Terlalu Berat

Oleh Bramantyo

“Brakkkkk!”, kereta api yang tengah melaju kencang menghantam sesuatu.

Bukan motor atau mobil yang ditabrak oleh kereta itu, melainkan sesosok manusia yang sengaja menabrakkan dirinya dengan cara bertengkurap di rel. Kisah pilu ini terjadi di kota Jogja, pada bulan Mei 2013. Tidak ditemukan identitas apa pun pada lokasi kejadian selain ciri-ciri fisik korban yang berkulit sawo matang dan disinyalir berusia sekitar 40 tahunan.

Barulah setelah aparat kepolisian melakukan investigasi, terungkap teka-teki siapa identitas korban dan mengapa dia nekat melakukan aksi tragis tersebut. Dia [korban] adalah ayah dari anak semata wayang, suami dari seorang istri, dan ketua panitia dari sebuah konser musik. Kesalahan komunikasi pada gelaran musik yang diketuainya membuatnya jadi bulan-bulanan dari banyak pihak yang melemparkan caci maki untuknya di media sosial. Konser musik akbar yang didamba berjalan mulus rupanya didera banyak masalah; mulai dari urusan promosi yang tak jalan, persoalan dana yang kurang, dan para artis yang akhirnya membatalkan partisipasi karena belum menerima honor. Sebagai ketua panitia, korban mencari cara untuk menutupi kekurangan uang. Dia berutang, tapi hasil utangan itu tidak cukup. Konser yang seharusnya berjalan dua hari, hanya jadi sehari. Pendapatan dari tiket masuk dan sponsor pun tetap tidak balik modal. Segala kemelut ini menghimpit pundaknya, dan bebannya menjadi terlampau berat ketika caci-maki dilemparkan padanya.

“Trimakasih atas sgala caci maki….ini gerakan.. Gerakan menuju Tuhan.. Salam,” tulis korban pada akun twitternya. Ini adalah status terakhirnya sebelum dia ditemukan tak lagi bernyawa.

* * *

Aku ingat kisah itu pernah kubaca di sebuah koran cetak. Pada tahun 2013, aku masih menjadi mahasiswa semester dua di kota Jogja, masa-masa yang banyak kuisi dengan terlibat di berbagai kepanitiaan kampus. Aku bergidik membaca kisah pilu itu. Aku tak dapat membayangkan betapa beratnya menjadi seorang ketua panitia yang dicap gagal menjalankan sebuah event. Bagi kita yang pernah terlibat dalam sebuah kepanitiaan, entah itu untuk acara festival di kampus, atau acara kebaktian Natal di gereja, kita mungkin setuju bahwa menjadi seseorang yang bertanggung jawab atas sebuah acara tidaklah mudah.

Jika beban untuk sebuah acara yang berlangsung dalam hitungan jam atau hari saja terasa berat, kita tidak menampik bahwa beban-beban hidup lainnya pun tak kalah berat. Malahan, ia harus ditanggung setiap hari dan kita tak tahu kapan dan di mana garis finishnya. Ketika studi kita terganggu karena kesulitan keuangan, ketika beban pekerjaan semakin membuat letih karena tuntutan yang semakin tinggi dari atasan, atau ketika segala impian dan harapan kita karam karena penyakit yang menggerogoti tubuh kita. Segala beban tersebut seringkali membuat pundak kita seolah remuk. Dan, pada banyak kasus pikiran kita meresponsnya dengan memunculkan gambaran solusi instan: mengakhiri kehidupan.

Data dari Bank Dunia mencatat pada 2016 kasus bunuh diri di Indonesia berada di angka 3,4 per seratus ribu populasi . Kasus-kasus ini bukanlah statistik semata, itu menyajikan pada kita sebuah realitas: bahwa kehidupan ini rentan. Siapa pun tidak kebal dari godaan untuk mengakhiri masalah secara instan. Aku pun pernah beberapa kali mengutarakan keinginan ini dalam tangisanku. Kehidupanku sebagai anak yang lahir di luar pernikahan sah, yang tak mendapat perhatian cukup dari orang tua seringkali membuatku dirundung kesepian. Aku beranggapan jika keluarga yang katanya orang terdekatku saja tidak peduli denganku, maka siapalah aku ini hingga aku perlu melanjutkan hidup.

Namun, syukur kepada Allah karena dalam momen terkelam sekalipun sejatinya Dia tidak pernah meninggalkan kita (Ibrani 13:5). Melalui berbagai kesempatan—rangkulan hangat dari seorang kawan yang tetiba mengajakku mengobrol, sapaan apa kabar dari teman lama, alunan musik yang lirik dan nadanya meneduhkan hati, atau dari pandanganku akan ciptaan Allah di sekelilingku yang dipelihara-Nya dengan cantik, meneguhkan kembali pondasi hatiku yang rapuh. Aku dan kamu, kita semua berharga dan dipelihara-Nya, sebagaimana Allah memelihara kehidupan pada burung-burung pipit di udara yang tidak menabur dan menuai. Bahkan, kita jauh melebihi daripada burung-burung itu. (Matius 6:26).

Menguatkan kembali pundak yang didera beban terlampau berat sungguh bukanlah pekerjaan yang mudah. Itu upaya yang akan melibatkan derai air mata, dan bukan tidak mungkin pula keputusasaan selalu mengetuk hati kita. Tetapi ingatlah…

Ketika beban di pundakmu terasa terlalu berat, mungkin hati dan bibirmu enggan untuk mengakuinya. Mungkin kamu malah menghakimi kalau dirimu terlalu lemah untuk menanggung semua ini.

Ketika beban di pundakmu terasa terlalu berat, mungkin akan ada orang-orang yang tetap mencibirmu karena mereka tak melihat betapa panjang dan sulitnya perjalanan yang telah kamu tempuh.

Ketika beban di pundakmu terasa terlalu berat, mungkin air matamu akan menetes dan pandangan di depanmu tampak kelam. Kamu tak tahu bilamana permasalahan ini akan berujung.

Tetapi…

Ketika beban di pundakmu terasa terlalu berat, ingatlah kembali dengan perlahan bahwa ada Pundak lain yang turut menanggungnya bersamamu. Ingatlah bahwa di atas pundak itu pernah tertanggung segala cela dan hina yang seharusnya mengantar seluruh umat manusia kepada kebinasaan.

Ketika beban di pundakmu terasa terlalu berat, ingatlah kembali dengan perlahan bahwa ada janji mulia yang dianugerahkan kepadamu. Bahwasannya segala penderitaan yang kamu alami akan mendatangkan bagimu kemuliaan kekal.

Ketika beban di pundakmu terasa terlalu berat, ingatlah kembali dengan perlahan bahwa Dia yang turut menanggung bebanmu, berkuasa untuk membalut luka-luka hatimu dan meneguhkan kembali langkahmu yang gontai. Dia mungkin tidak mengubah keadaan dengan sekejap, pun melenyapkan segala beban itu, tetapi dalam tuntunan-Nya, Dia akan membawamu menang sampai ke garis akhir.

Aku berdoa, kiranya dalam perjalanan berat yang kamu lalui, kamu senantiasa dapat merasakan kehadiran Allah yang memelihara. Bersama Dialah, perjalananmu akan mengantarmu kepada tujuan yang telah Dia tetapkan untukmu.

Tuhan memberkatimu.

Baca Juga:

Kasih yang Melukai

Banyak dari kita beranggapan bahwa wajah yang ceria mencerminkan kehidupan yang mudah. Namun, dibalik senyuman terlebar pun, setiap orang punya cerita. Aku berharap setelah membaca ini, kita semua dapat menjadi pribadi yang lebih memiliki empati terhadap orang lain.

Membuka Luka Lama untuk Menerima Pemulihan

Oleh Aurora*, Jakarta

Suatu malam, aku mengendarai motorku dengan kencang di sebuah flyover di Jakarta sambil menutup mata. Pikiranku kalut. Saat itu, aku hanya ingin mati. Tiga kali aku mengitari flyover yang sama dengan kecepatan tinggi, dan ternyata aku masih hidup.

Aku ingat dengan jelas, malam itu aku mencoba bunuh diri. Setelah merantau beberapa tahun di Jakarta, aku merasa begitu depresi karena semua tekanan. Jakarta bukanlah kota yang mudah ditaklukkan. Kehidupannya begitu keras. Mulai dari tuntutan pekerjaan hingga persoalan relasi dengan teman-teman. Aku tidak bisa menemukan seorang sahabat yang bersamanya aku bisa menuangkan semua isi perasaanku seperti yang aku lakukan pada sahabatku di kota yang lama.

Perasaan sepi dan sendiri itu membuatku ingin menyakiti diriku sendiri karena ketika aku berelasi dengan orang lain, dan merasa tertolak, aku akan berpikir bahwa akulah sumber masalah. Aku tidak layak dan tidak pantas. Aku mencoba untuk memenuhi semua kriteria pertemanan di sekitarku, agar aku mudah diterima. Hingga akhirnya aku lelah menjadi “orang lain”dan aku pun terjebak dalam depresi.

Aku menyadari kondisi psikisku yang tidak beres sehingga dengan sadar aku pun memutuskan untuk menemui psikolog. Dengan gemetar aku datang ke sebuah ruangan konseling. Aku berpikir ruangan itu sangat menyeramkan. Namun, ternyata sebaliknya. Ruangan itu menjadi ruangan ternyaman bagiku untuk menjadi diriku apa adanya.

Aku berpikir sang psikolog akan memberikanku segudang solusi untuk masalah yang aku hadapi. Namun, ternyata tidak. Setelah melalui beberapa tes, dia malah membuatku untuk menyelidiki diriku sendiri. Aku ingat, aku diberi tugas untuk menuliskan tentang masa laluku, apa yang kusuka dan kubenci. Setelah melakukan beberapa kali konseling, aku memahami bahwa aku bukanlah orang yang bisa mengontrol emosiku. Aku cenderung meluangkan emosiku dengan marah yang tidak terkendali. Tanpa sadar, aku dibesarkan menjadi orang yang begitu membenci penolakan. Aku benci jika aku tidak dianggap atau aku gagal. Kecenderunganku adalah menyalahkan dan menyakiti diri sendiri.

Di ruangan berukuran 4×5 meter itu, aku menangis. Konseling ini seperti membuka semua luka lamaku dan menyiramnya dengan alkohol. Sakit dan perih, namun aku tahu, aku bisa sembuh suatu saat.
Konselorku membuatku menyadari bahwa aku masih menyimpan “dendam” pada masa laluku—ketika aku jauh dari orang tua, dan itu membuatku sulit menjalani relasi sosial dengan orang lain. Beberapa kali setelah selesai konseling, dia memelukku erat dan berucap “Well Done. You did a great job. Be patient with yourself. And remember that God loves you no matter what.”

Setelah dari konseling, aku merasa semakin membaik (seharusnya). Tapi ternyata, menyembuhkan luka itu tidaklah instan.

Suatu sore, aku dan temanku bertengkar hebat. Aku merasa tidak diterima dengan baik dan merasa tidak lagi berharga. Temanku mengeluarkan kalimat-kalimat kasar dan yang menciutkan semangatku. Sepulang dari pertemuan dengan temanku itu, aku menyetir motor untuk kembali ke kos. Pikiranku kalut. Aku menangis dan ingin menyudahi hidupku. “Aku ingin mati”, begitulah pikiranku saat itu. Lalu aku menutup mata, memutar gas motor dengan kencang melewati sebuah flyover. Satu kali putaran, tapi aku tidak kecelakaan. Lalu kuulang lagi hingga yang ketiga kalinya.

Saat menutup mata dan menangis, aku seolah mendengar suara yang berbisik di telingaku “Akulah Tuhan, Aku menyayangimu. Aku selalu bersamamu. Aku mengasihimu. You are precious.” Mendengar itu, aku membuka mata dan berhenti di atas flyover. Setelah cukup tenang, aku kembali mengendarai motorku pelan-pelan pelan hingga tiba di kos. Dalam perjalanan pulang, kata-kata konselorku kembali terngiang di kepalaku.

Aku tahu bahwa perjalanan ini tidaklah mudah. Seringkali aku lupa kalau aku tidak berjalan sendirian. Ada Tuhan Yesus yang selalu memegang erat tanganku dan berjalan bersamaku. Hari itu, aku ingin mengakhiri hidupku. Namun, di saat yang sama, Tuhan mengingatkanku lagi bahwa aku berharga dan Dia mengasihiku. Jika Tuhan sudah menolong dan menyertai perjalanan hidupku selama 25 tahun, bukankah Dia juga Tuhan yang sama yang akan menolongku di tahun-tahun yang akan datang?

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku kembali ke konselorku. Aku menceritakan semua hal yang terjadi padaku malam itu, dan dia cuma berkata, “Be patient. Setiap orang punya waktu yang berbeda untuk pulih. Ada yang cepat, dan ada yang lambat. Tidak masalah selama proses itu “tidak diam di tempat”. Dan yang terpenting, Tuhan Yesus menemanimu di masa-masa terkelam kamu. Dia, Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Hingga hari ini, aku masih rutin melakukan konseling. Semakin hari semakin membaik walau prosesnya mungkin lambat. Aku tidak pernah terlintas untuk menyakiti diriku sendiri lagi. Walau dalam masa pandemi seperti ini, Tuhan masih tetap menyertaiku.

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10)

Aku tahu bahwa keputusanku pergi ke konselor tidaklah pernah salah. Bagi kamu yang sedang membaca ini dan menemui kesulitan bahkan depresi, aku menyarankan kamu untuk menemui konselor profesional maupun juga orang yang kamu percaya di komunitas Kristiani kamu. Terlebih lagi, ceritakanlah itu melalui Doa pada Tuhan. Dia mendengar doamu dan akan menjawab seturut waktu-Nya.

*Bukan nama sebenarnya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Meruntuhkan Rasa Egois untuk Menjadi Seorang Pemimpin

Memimpin. Satu kata yang sederhana namun sulit dilakukan. Banyak orang ingin menjadi pemimpin dan punya otoritas. Namun, tak semua paham bahwa arti memimpin yang sesungguhnya adalah melayani.

Apakah Orang Kristen Dapat Mengalami Gangguan Mental?

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

Beberapa waktu lalu, orang-orang Kristen di dunia, terutama di Amerika dikagetkan dengan berita kematian Jarrid Wilson. Dia adalah salah satu asisten pendeta dari gereja besar Harvest Christian Fellowship di California, AS. Pada usia 30 tahun dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Banyak orang bertanya-tanya: bagaimana mungkin seroang pendeta mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri? Bukankah dia sendiri menjadi penggerak Anthem of Hope, sebuah pelayanan untuk orang-orang yang mengalami depresi? Mengapa Jarrid sendiri gagal mengatasi depresi dalam dirinya?

Di tengah situasi sedih seperti ini, sayangnya masih ada sejumlah orang Kristen yang terlalu naif atau tidak paham terhadap isu ini. Menurut mereka, dengan iman maka semua persoalan akan hilang. Akibatnya, mereka mudah menghakimi sesama orang Kristen yang mengalami depresi sebagai orang-orang yang kurang beriman atau terlalu banyak mengandalkan diri sendiri.

Terlepas dari bagaimana aku dan kamu memahami nasib orang yang bunuh diri (silakan baca artikel lainnya tentang bunuh diri di sini), orang Kristen sebaiknya lebih berempati terhadap mereka yang mengalami depresi sebagai bentuk gangguan mental tertentu (anxiety disorder, OCD, PTSD, dsb). Sikap menghakimi menunjukkan ketidaktahuan (ignorance) dan kesombongan (arrogance). Kita perlu menyadari bahwa orang-orang Kristen yang mengalami gangguan mental adalah riil. Begitu pula dengan iman mereka kepada Yesus Kristus. Sebagian dari mereka yang pernah kujumpai di ruang konseling adalah orang-orang yang sungguh-sungguh ingin mengasihi Tuhan dengan seluruh kehidupan mereka. Hanya saja, upaya ini seringkali dimentahkan oleh keterbatasan mereka secara mental (psikologis).

Ada beberapa alasan mengapa gereja perlu lebih terbuka dan berani untuk merengkuh orang-orang Kristen seperti ini:

Yang pertama: depresi bisa menyerang siapa saja.

Beberapa tokoh hebat dalam Alkitab pernah mengalami keputusasaan. Elia ingin cepat-cepat mati (1 Raja-raja 19:4). Yeremia mengutuki kelahirannya (Yeremia 20:14-15). Paulus terbebani dengan pelayanannya yang begitu keras sehingga dia kehilangan harapan (2 Korintus 1:8).

Alkitab tidak dihuni oleh tokoh-tokoh hebat. Bahkan mereka yang sering dipakai Allah untuk mengadakan mukjizat juga tidak kebal terhadap keputusasaan. Alkitab diisi oleh manusia-manusia lemah yang dihiasi kemurahan dan kekuatan Allah. Sangat konyol dan sombong jikalau seseorang berani menghakimi sesama orang percaya yang bergumul dengan depresi.

Yang kedua: dosa telah merusak seluruh elemen kehidupan manusia.

Pikiran, pengertian, perasaan, perkataan dan tindakan sudah diracuni oleh dosa (Roma 3:10-18; Efesus 4:17-19). Tidak ada satu elemen pun yang kebal. Semua orang memiliki disposisi tertentu dalam dirinya. Ada yang lemah di bidang seksual, fisikal, maupun mental. Setiap orang menghadapi kehancurannya sendiri-sendiri.

Jika doktrin ini memang benar, bukankah sudah wajar apabila kita mendapati orang Kristen yang bergumul dengan disposisi mental? Jika bayi Kristen ada yang mengalami cacat sejak lahir, mengapa seorang bayi Kristen tidak mungkin memiliki kencenderungan besar terhadap gangguan mental? Jika tidak semua penyakit fisik disembuhkan secara mukjizat oleh Tuhan, atas dasar apa kita meyakini bahwa semua gangguan mental akan diselesaikan dalam sekejap oleh Tuhan? Allah memiliki pertimbangan sendiri untuk setiap orang.

Yang pasti: Allah selalu menyediakan penyertaan dan pertolongan. Dia bisa memakai komunitas yang mendukung bagi pemulihan orang-orang dengan gangguan mental. Dia bisa menggunakan konselor dna hamba Tuhan untuk menemani dan memberikan terapi. Dia bias memakai psikiater untuk menyediakan obat penenang atau anti-depresan.

Bagi kamu yang mengalami depresi, bertahanlah. Terbukalah tentang kelemahanmu kepada orang lain yang mengerti pergumulanmu. Ingatlah bahwa tidak semua orang akan menghakimimu. Peganglah terus pengharapanmu di dalam Tuhan Yesus. Dia yang memiliki kata terakhir dalam hidupmu. Dia sudah membereskan persoalanmu yang terbesar, yaitu dosa. Dia sudah mengalahkan ketakutanmu yang terbesar, yaitu kematian.

Bertahanlah.

Soli Deo Gloria.

Tentang Penulis:
Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M adalah gembala di Reformed Exodus Community Surabaya. Tulisan ini sebelumnya sudah ditayangkan di sini.

Baca Juga:

Tolong! Aku Ingin Bebas dari Overthinking

“Imajinasi kita adalah bagian yang indah, luar biasa, dan inspiratif dari diri kita. Imajinasi kita adalah tempat lahirnya ide-ide brilian, keren, dan kreatif.

Tapi, imajinasi itu bisa juga membelenggu kita jika kita membiarkannya tidak terkendali.”

Setelah Jarrid Wilson Bunuh Diri: Ke Mana Kita Melangkah Selanjutnya?

Oleh Josiah Kennealy
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Losing Jarrid Wilson: Where Do We Go From Here?
Foto diambil dari akun Instagram Jarrid

Jarrid Wilson adalah seorang pendeta di Amerika Serikat. Dia juga melayani sebagai advokat kesehatan mental. Pada 9 September 2019 dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Beberapa tahun lalu, aku dan Jarrid Wilson diundang ke acara yang sama dan setelah acara itu usai, kami jadi berteman. Kami mengobrol lewat chat dan saling mendukung satu sama lain. Karena kami sama-sama melayani sebagai pendeta, kami punya banyak kesamaan. Setiap interaksi dengannya selalu membangkitkan semangat.

Hari Senin malam beberapa minggu sebelumnya, kami baru saja mengobrol lewat chat. Dia menutup diskusi kami dengan berkata, “Aku mengasihimu”. Setelahnya aku menulis di Twitter tentang bagaimana dia dan rekan-rekanku lainnya memberkati media sosial dan menjadikan dunia di sekitar mereka lebih baik. Dia membalas tweetku, “Aku mengasihimu”.

Itu adalah kata-kata terakhir yang dia kicaukan di Twitter.

Mengetahui fakta yang terjadi beberapa jam setelah kami berdiskusi membawaku ke dalam kesedihan, syok, kebingungan, dan tidak percaya.

Jarrid WIlson, seorang suami dari istri yang cantik dan ayah dari dua anak lelaki, seorang pendeta yang dikenal baik, penulis, rekan dari banyak orang, mengakhiri hidupnya dengan tiba-tiba dan tragis.

Seminggu belakangan ini aku tidak banyak berkata-kata, pun aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Saat aku menulis tulisan ini, aku merasa tidak memenuhi syarat untuk menuliskan sesuatu yang berharga, tetapi aku mau mencoba untuk memendarkan cahaya dan berbagi harapan.

Aku pun seorang pendeta, dan aku pernah mendatangi seorang konselor untuk kesehatan mental dan emosi. Aku juga pernah mendatangi dokter tulang untuk mengobati sakit tulang belakangku. Setelah kematian bunuh diri pamanku, aku menderita sakit kepala selama tiga tahun. Aku tahu benar rasa sakit yang tak terlihat dari luar namun begitu nyata di dalam—ini tidak ada bedanya dengan depresi.

Jadi, ke mana kita melangkah setelah ini?

Marilah kita jujur. Kita sebagai gereja tidak bisa berdiam di sini lebih lama lagi. Seiring aku bergulat dengan berita tragis kematian Jarrid, inilah beberapa refleksi yang kudapat selama seminggu ini. Kita perlu beranjak dan melangkah:

Dari menghindar ke mengatasi

Bukanlah hal yang baik bahwa 800 ribu orang setiap tahunnya meninggal karena bunuh diri (data dari WHO). Di antara remaja dan dewasa muda, bunuh diri adalah salah satu penyebab kematian terbanyak dan ini seharusnya tidak dapat kita terima.

Tapi, membicarakan kesehatan mental di gereja seringkali dianggap tabu, dihindari, dan disalah mengerti. Ayo katakan selamat tinggal pada anggapan ini. Secara individu maupun kelompok, kita sebaiknya memiliki kemauan untuk memulai percakapan atas isu-isu yang rentan, seperti yang Jarrid lakukan.

Melakukan ini bisa diwujudkan dalam banyak cara, tetapi sebagai langkah awal kita perlu menyadari “It’s okay” untuk membicarakannya. Mungkin tidak ada seorang pun yang memberimu izin untuk mengatakan kalau kamu sedang tidak baik-baik saja, tapi aku mau kamu tahu bahwa sama sekali tidaklah bermasalah untuk jujur akan keadaanmu. Kamu mungkin akan diberondong banyak pertanyaan—tentunya. Tapi, tidaklah masalah pula untuk mengakui kalau kita tidak punya jawaban untuk semua pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang hidup.

Kita perlu berkhotbah lebih banyak tentang kekhawatiran, kesehatan mental, dan depresi; kita perlu membicarakannya di dalam kelompok kecil, pertemuan pemuda; atau di obrolan santai sambil minum kopi atau teh dan membagikan bagaimana perjuangan kita pada seorang teman. Alkitab punya cerita, pedoman, dan jawaban mengenai hal-hal ini. Kita bisa bersandar dan membahas topik-topik di dalamnya.

Seiring kita mulai membiasakan diri berdiskusi tentang kesehatan mental dan kesejahteraan hidup secara utuh, kamu akan melihat bahwa kamu bukanlah satu-satunya orang yang berjuang. Ada banyak orang yang juga menghadapi kekhawatiran, depresi, dan pikiran-pikiran gelap. Dan, bagian dari rancangan Allah bagi gereja adalah untuk saling mendukung satu sama lain dan menolong di masa-masa sulit.

Dari mengurung diri ke membuka diri

Survey terbaru dari lembaga riset Barna menunjukkan mayoritas pendeta tidak punya seseorang yang bisa mereka panggil sebagai teman. Baru beberapa minggu lalu, Barna Group juga memublikasikan riset tentang anak muda. Hanya sepertiga dari manusia yang berusia 18-35 tahun (dari berbagai negara) mengetahui bahwa ada seseorang yang sesungguhnya peduli akan mereka. Artinya, 66 persen orang dewasa muda tidak menyadari kalau mereka dipedulikan dan dikasihi.

Iblis ingin orang Kristen percaya kebohongan bahwa mereka adalah satu-satunya orang yang berjuang dan pemikiran ini ujung-ujungnya akan membawa seseorang pada keadaan mengurung diri. Kita perlu memberi tahu orang-orang di sekitar kita bahwa mereka sungguh berarti buat kita. Kita bisa memulainya dengan mengirimi chat, ataupun menelepon seseorang yang kita kasihi dan bertanya apakah ada sesuatu yang butuh ditolong darinya. Memberi diri untuk mendengar dan hadir adalah hal terbesar yang bisa dipersembahkan seorang teman. Pendetamu juga butuh dorongan dan doa darimu, lebih daripada yang kamu bayangkan.

Tergabung dan terhubung ke dalam komunitas gereja lokal dan memiliki pertemanan yang saleh tidak menyembuhkan segalanya, tetapi itu pasti menolongmu mengatasi kesendirian. Tuhan menciptakan Hawa untuk Adam karena sejak semula Tuhan berkata tidaklah baik apabila manusia itu hidup seorang diri saja (Kejadian 2:18)! Tuhan Yesus pun hidup bersama 12 murid-Nya selama tiga tahun. Gereja mula-mula di Kisah Para Rasul bertambah banyak anggotanya karena setiap orang ingin menjadi bagian dari komunitas yang saling berbagi ini, komunitas yang tumbuh bersama, makan bersama, berdoa bersama, mempelajari Alkitab dan membagikan kebaikan dengan saling memperhatikan (Kisah Para Rasul 2:42-47).

Ayo ambil langkah untuk terhubung dengan teman atau komunitasmu hari ini!

Dari putus asa ke harapan

Tuhan tidak pernah meninggalkanmu, meskipun kamu tidak merasakan kehadiran-Nya. Kamu tidak pernah ditelantarkan sendirian. Lihatlah ke atas bukit-bukit, di sanalah datang pertolonganmu yang berasal dari Yesus. Tuhan Yesus dekat kepada mereka yang patah hati. Dia akan mengusap setiap air mata. Kamu dapat bersandar dan percaya kepada janji-janji-Nya.

Aku pernah putus asa, tetapi Tuhan mengangkat pandanganku. Dia mengubah kesedihan terbesarku menjadi sukacita. Dia membuang kekecewaanku dan menggantinya dengan damai yang baru. Aku masih dalam perjalanan, aku masih berproses. Aku percaya dengan segenap hatiku harapanku ada selama aku ada bersama dengan Yesus, seperti yang Yohanes 15 katakan.

Selama seminggu, pasal ini menolongku mengalami pemulihan, pertolongan, dan harapan. Yesus mengajarkan, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar” (Yohanes 15:6). Buatku, dan buat setiap kita, ini adalah janji: kita tidak bisa melakukan apa-apa di luar Yesus. Namun, jika kita terhubung selalu dengan-Nya, kita bisa dan akan melakukan banyak hal.

Bersandar pada Yesus, orang yang kita kasihi, komunitas orang saleh dan sumber-sumber daya lain yang bermanfaat adalah langkah-langkap penting yang kita butuhkan untuk kita melewati hari-hari kita.

Dan akhirnya, aku ingin mengatakan hal ini:

Kepada Jarrid – Aku mengasihimu. Aku berharap seandainya aku bisa membalas pesanmu lebih cepat dan kita bisa mengobrol lebih lama. Aku amat sedih atas keputusan yang kamu buat. Aku mendoakan keluargamu. Aku mengingatmu lewat suaramu untuk orang-orang yang putus asa, rekan-rekanmu, kasihmu kepada Tuhan, keluarga, dan semua orang. Kami menghormatimu dengan mengenakan jubah kepemimpinan yang telah kamu bawa dengan baik untuk sekian lama. Terima kasih atas keberanianmu mengungkapkan perjuanganmu.

Kepada Juli dan anak-anak lelakinya – Kami sangat mengasihimu. Belasungkawa, doa, dan dukungan kami ada untukmu dan keluargamu. Kami ada di sini untukmu. Aku percaya Yesus akan memeliharamu. Aku mendoakan kiranya damai, kekuatan, dan anugerah ada bersamamu sekalian.

Kepada orang-orang yang mengenal Jarrid – aku menerima banyak pesan dan telepon dari teman-teman yang juga mengeal Jarrid. Pertemanan jadi begitu nyata ketika kita bisa berdiskusi sambil ngopi ataupun mengobrol lewat chat. Seiring kita menghadapi duka kehilangan ini, kiranya kita bisa lebih dekat daripada sebelumnya.

Kepada para pendeta – kamu membutuhkan hobimu, teman-temanmu, istirahat dari teknologi. Kamu mengotbahkan tentang pentingnya komunitas, dan sekaranglah waktunya untuk menghidupi itu. Mengakui jika kamu perlu pergi menemui dokter, therapis, atau konselor Kristen bukanlah dosa dan itu bukanlah tanda kelemahan—itu keberanian. Yesus dideskripsikan sebagai seorang muda dalam Lukas 2:52. “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia”. Artinya, Yesus bertumbuh secara mental, fisik, spiritual, juga relasi-Nya dengan orang lain. Marilah kita mengejar kesehatan, kesejahteraan, istirahat, dan keutuhan di setiap area kehidupan kita.

Kepada setiap orang – kita semua akan menghadapi masa-masa sulit, tetapi selalu ada pertolongan, selalu ada pemulihan, dan tentunya juga harapan. Bertahanlah, ada harapan yang besar. Dalam kehidupan selalu ada naik dan turun, gunung dan lembah, gurun dan oase, badai dan ketenangan.

Kamu perlu mengetahui bahwa kamu tidak sendirian di dalam setiap momen-momen hidupmu. Yesus berkata dalam Yohanes 16:33, “Semuanya itu Kukatakan kepadau, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatmu, Aku telah mengalahkan dunia”. Marilah kita sepakat untuk menolong satu sama lain tiba di level pemahaman yang baru ketika kita membicarakan kesehatan mental. Bunuh diri tidak pernah menjadi jawaban.

Doaku adalah kita semua bisa lebih berani membicarakan topik tentang kesehatan mental dan kita mampu melihat orang-orang dengan pandangan yang berbeda. Tidak peduli seberapa baik penampilan orang di luarnya, mungkin saja ada sesuatu yang mereka gumulkan di dalam. Izinkan mereka yang paling dekat dengan kita mengetahui betapa kita mengasihi mereka, dan betapa mereka berarti buat kita tak peduli apapun musim yang sedang mereka hadapi.

Ayo kita tunjukkan kasih dan empati kita.

Baca Juga:

Menghidupi Kepemimpinan dalam “Tubuh Kristus”

Sobat muda, bagaimanakah sistem kepemimpinan di gerejamu? Di artikel ini, teman kita, Ari Setiawan mengajak kita untuk menyelediki model kepemimpinan apa sih yang sesuai dengan teladan Yesus. Yuk kita simak artikelnya.

5 Hal yang Bisa Kamu Lakukan Ketika Temanmu Mengalami Gangguan Kejiwaan

Oleh Karen Kwek, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When You Find Out Your Friend Has A Mental Illness

Aku dan Simone* adalah teman saat kuliah di Inggris bertahun-tahun yang lalu. Simone merupakan seorang yang pintar dan populer dengan selera humor yang sarkastik. Di samping itu, bila dilihat sekilas, Simone sepertinya adalah seorang wanita yang memiliki segalanya: dia punya iman Kristen yang kuat, teman-teman dekat, prestasi akademik yang gemilang, juga kesempatan besar untuk melanjutkan studi tentang musik di jenjang pasca-sarjana. Sebagai wakil dari Outdoor Activites Club di kampus kami, Simone selalu penuh dengan ide-ide ambisius untuk mengisi perjalanan akhir pekannya. Dia suka aktivitas menaklukkan puncak gunung, hiking melalui hutan, menyisiri pantai, atau mengikuti pertandingan mendayung di musim panas.

Namun, hal itu berubah ketika kami berada di tingkat akhir masa kuliah, ketika aku, Simone, dan dua perempuan Inggris lainnya tinggal bersama di sebuah apartemen yang dikhususkan bagi mahasiswa. Di situlah aku mulai melihat sisi lain dari seorang Simone. Kami semua tahu bahwa Simone memiliki kesulitan tidur, tetapi biasanya aku hanya bertemu dengannya di ruang makan atau saat pertemuan kelompok saja. Aku tidak pernah memperhatikan bahwa Simone adalah seorang yang cepat lelah dan penyendiri.

Suatu malam, kami sangat terkejut dan khawatir karena Simone mengunci dirinya di kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya. Tapi, keesokan harinya, Simone nampak baik-baik saja dan menjalani harinya seperti biasa. Kejadian serupa sempat terulang kembali beberapa kali. Namun, karena kami semua sedang menghadapi ujian yang cukup membuat stres, kupikir inilah alasan di balik perilaku Simone yang tidak biasa tersebut. Aku sering begadang untuk belajar bersama Simone, dan kami juga berdoa bersama saat dia merasa stres. Saat Minggu pagi, kami beribadah di gereja bersama-sama. Di musim panas tahun itu, akhirnya kami pun lulus dan melanjutkan studi kami ke program S-2 di universitas yang berbeda—Simone pergi ke Prancis, sedangkan aku ke Amerika Serikat.

Mungkin kamu jadi bertanya-tanya: bagaimana bisa kisah Simone ini dikatakan sebagai gangguan kejiwaan? Atau mungkin, seperti aku sebelumnya, kamu berpikir bahwa pengalaman Simone tersebut tidak cukup membuktikan bahwa dia pantas untuk mendapatkan label sebagai seorang yang memiliki gangguan kejiwaan.

Tapi, faktanya adalah isu tentang gangguan kejiwaan saat ini jauh lebih umum terjadi dibandingkan dengan apa yang kita pikirkan. Di negaraku (Singapura), sebuah studi pada tahun 2010 mengungkapkan bahwa 1 dari 8 orang di Singapura menderita gangguan kejiwaan. Sedangkan di Amerika Serikat, pada tahun 2016 secara angka jumlahnya adalah 1 dari 6 orang, dengan prevalensi tertinggi (22,1%) di antara orang-orang muda (usia 18-25 tahun). Menurut data dari World Health Organization (WHO), pada tahun 2017 terdapat lebih dari 300 juta oarng, atau 4,4% dari populasi global menderita depresi.

Selain depresi dan kecemasan sebagai bentuk paling umum dari gangguan kejiwaan dalam skala global, banyak juga yang menderita kondisi mental yang kompleks, termasuk Autism Spectrum Disorder (AS), Attention Deficit and Hyperactivity (ADHD), dan epilepsi.

Aku tidak menuliskan ini berdasarkan pandangan menyeluruh dari seorang yang profesional di bidang kesehatan. Tetapi, aku menuliskannya dari sudut pandangku sebagai orang beriman yang tidak luput dari kekurangan, yang juga mengetahui kesulitan yang dialami oleh beberapa temanku. Sebagai seorang yang juga pernah mengalami depresi dan kecemasan, menurutku tidak ada perbedaan antara “kita” dan “mereka”.

Setiap kita pasti pernah mengalami pergumulan hidup yang sedikit banyak memberi dampak terhadap kesehatan kejiwaan kita; yang membedakannya hanya tingkatannya. Aku menceritakan kisah Simone di sini karena dialah yang pertama kali membantuku memahami situasi ini dengan lebih baik, serta mengajarkanku untuk bagaimana menjadi teman sekaligus saudari yang lebih baik dalam Kristus.

Jika kamu memiliki teman yang memiliki masalah kesehatan kejiwaan, inilah beberapa langkah yang bisa kamu ambil untuk membantunya.

1. Berempati dan dukung dia untuk meminta bantuan bila diperlukan

Jantung berdebar-debar, panik, mual, muntah, tangisan yang berlebihan, perilaku berisiko ekstrem, kekerasan, melukai diri sendiri—perilaku psikis dan fisik ini bisa jadi dipicu oleh stres, kecemasan berlebih, dan bentuk penyakit kejiwaan.

Temanmu mungkin saja sedang melalui proses penyesuaian diri yang sementara terhadap kehilangan atau trauma. Jika demikian, dengan kamu ada di sampingnya sebagai teman untuk berbicara dan berbagi, kamu dapat membantunya meringankan bebannya. Mungkin, memang inilah yang temanmu perlukan.

Namun, apabila masalahnya lebih serius atau kronis (terjadi berulang kali), sarankan dia untuk meminta bantuan dari seorang pendeta, konselor, atau dokter. Beberapa orang seringkali merasa malu untuk menceritakan tentang gejala yang mereka alami, seperti mendengar “suara-suara”, berhalusinasi, rasa ketakutan yang berlebihan atau paranoid, rasa ingin bunuh diri, atau pikiran seperti seorang pembunuh.

Kehadiranmu itu sangat penting karena biasanya ada sebuah stigma sosial yang sering disematkan kepada orang yang menderita gangguan kejiwaan, termasuk di dalam lingkungan orang Kristen sendiri. Orang yang mengalami kondisi gangguan kejiwaan merasa takut akan sesuatu yang tidak kita mengerti. Oleh sebab itu, biasanya mereka dikucilkan dari relasi. Akibatnya, mereka tidak dapat menikmati relasi layaknya orang “normal”, baik itu di rumah, kantor, dan gereja. Mereka biasanya tidak dihiraukan saat bersenda gurau, dibiarkan dalam rasa malu, atau didiamkan saja, dan juga dianggap sebagai orang lain.

Jadi, apabila temanmu sudah terbuka kepadamu tentang kesehatan jiwanya, ketahuilah bahwa inilah tanda dia mempercayaimu. Sangat mungkin apabila selama ini dia merasa sendirian dan disalahpahami, atau mungkin dia merasakan hal ini di masa lalu.

Simone, temanku itu bertahan seorang diri dan menyimpan pergumulannya selama lebih dari 10 tahun sebelum masa-masa suram itu semakin sering terjadi dan dia berusaha mengakhiri hidupnya berulang kali. Pacarnya (yang sekarang telah menjadi suaminya) yakin bahwa ada sesuatu yang sangat salah, dan kemudian membawanya untuk mencari bantuan. Pada tahun 2015, dia didiagnosis mengidap gangguan bipolar. Diagnosis ini membantu keluarga dan teman-teman Simone untuk sedikit lebih mengerti tentang apa yang Simone telah alami semenjak masa remaja.

2. Hindari menjejali temanmu dengan ayat-ayat Alkitab saat itu juga dan membuat asumsi tentang kondisi kejiwaannya

Meskipun Simone sudah didiagnosis dan kemungkinan besar dicap sebagai pasien gangguan kejiwaan oleh sebagian orang, bagiku dia tetaplah Simone yang selalu menjadi temanku. Dukungan ini sangat berarti bagi Simone.

Walaupun cap tersebut sebenarnya tidak mendefinisikan temanmu, cobalah mengerti sebanyak mungkin yang bisa kamu mengerti tentang isu kesehatan jiwa temanmu secara spesifik karena tidak semua kondisi itu sama. Mintalah temanmu untuk mendeskripsikan apa yang dia hadapi. Bacalah bacaan-bacaan yang relevan yang dipublikasikan oleh institusi-institusi yang mendukung tentang kesehatan kejiwaan.

Mitos yang paling menghancurkan adalah pernyataan yang berkata: hanya orang lemah yang memiliki gangguan kesehatan kejiwaan; masalah ini seharusnya bisa diselesaikan begitu saja; ini adalah hukuman yang pantas didapatkan oleh dia; imannya tidak cukup kuat sih; atau, orang yang dewasa secara rohani pasti tidak akan mengalami gangguan kejiwaan, atau pasti selalu bisa sembuh.

Gangguan kejiwaan biasanya disebabkan oleh faktor yang kompleks antara genetik, biologis, psikologis, dan lingkungan yang saling mempengaruhi. Dalam banyak kasus yang kronis, bahkan penyebabnya tidak diketahui. Gejala-gejala psikologis juga dapat terjadi secara tidak menentu, seolah-olah tubuh mengabaikan instruksi dari otak dan bekerja di luar kendali. Kamu harus peka. Ketika berbagi ayat-ayat Alkitab dengan temanmu yang sedang mengalami gangguan kejiwaan, jangan sampai itu sampai mengecilkan hati atau bahkan menyakitinya seakan-akan dia adalah seorang yang tidak taat atau tidak beriman!

Simone menderita gangguan bipolar, yaitu sebuah gangguan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur-unsur kimia yang berada di dalam otaknya. Ketika dia sedang ceria, pikirannya menjadi tidak stabil dan tidak realistis—“tidak teratur, terserak ke mana-mana”, begitulah dia menyebutnya. Yang lebih sering daripada itu adalah keputusasaannya. Selama masa-masa ini, Simone dapat mengingat bacaan-bacaan Alkitab tentang bersukacita dan menemukan pertolongan di dalam Tuhan. Tapi, semua itu terasa hampa. Simone tidak dapat merasakan emosi positif ataupun benar-benar berdoa selain memohon kepada Tuhan untuk mengakhiri hidupnya saja karena dia merasa sangat terkucilkan dari segalanya. Simone juga pernah tiba-tiba mengalami ketakutan yang membuatnya tidak berdaya, jantungnya berdegup kencang, sesak nafas, menangis, bahkan ketika dia sedang bersenang-senang dengan teman-temannya.

3. Tawarkan persaudaraan dan harapan Kristiani

Kalau kamu berpikir seperti yang kupikirkan, kamu mungkin akan menimbang ulang untuk terlibat membantu temanmu. Bukan karena kamu tidak peduli, tetapi mungkin karena kamu khawatir akan membuat masalah menjadi semakin kacau. Namun, Simone meyakinkanku: “Menunjukkan kasih dan kepedulian tidak akan membuat keadaan jadi lebih buruk.”

Galatia 6:2 berkata: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Hukum Kristus adalah kasih kepada Tuhan dan sesama. Jadi, kita diajarkan bagaimana mengasihi sesama secara konkrit. Penanggung beban yang utama adalah Yesus Kristus sendiri, yang telah menanggung dosa-dosa kita dan mati supaya kita dapat hidup (Galatia 2:20).

Simone diberikan resep obat yang mengandung lithium untuk menyeimbangkan unsur-unsur kimia di otaknya. Simone juga diajarkan untuk tidak mengizinkan suara-suara negatif di pikirannya mengalahkan kebenaran bahwa sesungguhnya dia dikasihi dan diselamatkan oleh Tuhan. Namun, tetap saja Simone menemukan kesulitan untuk bersosialisasi saat dia tengah mengalami depresi dan khawatir apabila dia tidak dapat memenuhi kebutuhan orang lain, ataupun tidak dapat berbagi kebahagiaan.

Namun, ketika Simone dapat menerima persaudaraan dari kami, dia menemukan dukungan yang besar di dalam cinta kasih, kepedulian, dan komunitas Kristen. Menjejalkan ayat-ayat Alkitab tanpa disertai hikmat sama saja seperti menghakimi dan tidak mengasihi sama sekali. Sebaliknya, firman Tuhan yang dibagikan dalam konteks kepedulian dan dipelajari bersama-sama dalam kelompok pendalaman Alkitab (PA) telah menjadi penyelamat Simone. Melalui hal ini, Simone diajarkan dan diingatkan bahwa di kekekalan nanti, dia tidak hanya disembuhkan, melainkan akan dibaharui.

Pada kenyataannya, kehancuran pikiran Simone sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehancuran yang umum terjadi pada diri kita, para pendosa. Ketika Simone jatuh ke dalam keputusasaan yang mendalam, harapan yang menolongku ternyata juga menolongnya; itu adalah suatu kepastian dari warisan yang takkan pernah mati, rusak, ataupun pudar, karena telah dimenangkan oleh Yesus (1 Petrus 1:3-7). Betapa berharganya pengertian bahwa pemberian ini disimpan di surga bagi setiap kita, dan bahwa kekuatan Tuhan menjaga kita melalui iman kita, bahkan ketika kesedihan yang kita alami saat ini sangat hebat! Ketika Yesus kembali, kepercayaan kita di dalam Dia terbukti semakin kuat karena kita telah menderita, dan ini akan semakin memuliakan Tuhan.

4. Perhatikan dirimu

Jika kamu adalah satu-satunya orang yang mendampingi temanmu, cobalah meminta beberapa teman yang dapat dipercaya untuk mendampinginya juga. Kamu sendiri perlu beristirahat secara fisik dan kamu juga perlu waktu untuk terus memperkuat relasimu dengan Tuhan. Ingatlah bahwa satu-satunya harapan temanmu adalah di dalam Tuhan, maka peranmu haruslah merefleksikan kasih-Nya dan membawa temanmu kepada-Nya. Jika kamu mencoba menjadi seorang yang memiliki jawaban atas segalanya atau membuat temanmu terlalu bergantung kepadamu, ini bukanlah solusi yang terbaik untuk jangka panjang.

5. Berdoalah untuk dan dengan temanmu

Terkadang Simone merasa terlalu sedih untuk berdoa. Tapi, dia tentu memiliki Roh Kudus bersamanya di saat-saat sulit sekalipun. Apakah kami berdoa supaya Tuhan menyembuhkan gangguan bipolarnya? Tentu saja! Tetapi, mungkin Tuhan tidak memilih untuk melakukannya saat ini juga, dan mungkin kita tidak akan mengerti alasan-Nya seumur hidup kita. Walaupun begitu, kami tahu bahwa Kristus telah memberikan arti hidup, tujuan hidup, dan harapan bagi Simone, bahkan ketika Simone hidup dengan gangguan kejiwaan. Dengan pengobatan dan dukungan dari teman-temannya, Simone kini dapat kembali pada pekerjaannya, yaitu menjadi seorang guru musik.

Hidup selalu penuh dengan suka dan duka bagi kita semua, namun yang pasti, kita sangat diberkati karena kita dapat mengimani dan mengatakan seperti yang Petrus tuliskan dalam suratnya di 1 Petrus 1:3-7:

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu—yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api—sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Apa Pemberian Terbaik yang Bisa Kamu Berikan pada Seseorang?

Menurutmu, apa pemberian terbaik yang bisa kamu berikan kepada seseorang?

Surat kepada Jonghyun SHINee: Bagaimana Jika Seandainya Ada Harapan?

Oleh Lee Soo Yi, Malaysia
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 給SHINee金鐘鉉的一封信

Teruntuk Jonghyun,

Aku tidak percaya ketika mendengar berita bahwa kamu memutuskan bunuh diri. Aku tidak percaya berita ini sungguh nyata. Kupikir ini pasti hanyalah berita palsu, atau sekadar lelucon sakit yang dimainkan seseorang. Aku tidak bisa percaya bahwa seorang yang riang dan bahagia sepertimu memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Sampai akhirnya, ketika aku membaca berita dari berbagai media dan juga pernyataan resmi dari manajemenmu, aku merasa benar-benar terpukul bahwa memang kamu telah mengakhiri hidupmu sendiri. Aku tak akan pernah lagi bisa melihat wajahmu yang riang dan ekspresimu yang lucu, atau mendengar lagi suaramu yang merdu.

Hatiku hancur.

Aku selalu berpikir bahwa kamu akan menggunakan bakat suaramu untuk memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang menyukai musik. Aku pikir nanti aku akan melihatmu menciptakan lagu yang kamu tulis sendiri, bergabung kembali dengan anggota SHINee lainnya, melayani bangsamu, menikah, dan bahkan menjadi seorang ayah di masa depan. Tapi, tak pernah terlintas di pikiranku bahwa kamu akan memilih jalan sepi yang tak memiliki kesempatan untuk berputar balik.

Aku sangat menyesal karena aku baru mengetahui bahwa selama ini kamu berjuang mengatasi rasa depresimu setelah aku membaca surat yang kamu kirimkan ke temanmu, Nine from Dear Cloud. Di dalam surat itu, kamu menulis “depresi perlahan menggerogotiku, hingga akhirnya melahapku.”

Atas nama Shawol lain yang telah mendukungmu sejak kamu memulai debutmu di tahun 2008, aku benar-benar menyesal karena kami tidak menyadari semua rasa sakit dan kelelahan yang kamu rasakan.

Rasanya sangat menyedihkan mendengar kepergianmu di masa Natal ini. Bagi semua orang yang menyayangimu, Natal ini mungkin akan terasa sulit untuk dilalui.

Jonghyun yang terkasih, saat aku menuliskan surat ini untukmu, aku tidak bisa tidak bertanya-tanya tentang apa yang akan kukatakan kepadamu jika aku benar-benar punya kesempatan. Saat ini, kata-kata yang terlintas di pikiranku datang dari Yesaya 9:2-6:

“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar….Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Bukan kesalahanmu apabila kamu jatuh ke dalam rasa depresi dan putus asa. Tapi, aku berpikir apakah kematian adalah satu-satunya jalan keluar untukmu? Aku berpikir akankah kamu mengambil keputusan yang sama ketika kamu mengenal Yesus, harapan kita yang sejati?

Jika saja kamu mengetahui bahwa 2.000 tahun lalu, seorang bayi bernama Yesus Kristus lahir di antara kita, dan kedatangan-Nya membawa terang kepada dunia yang penuh kegelapan dan putus asa. Dia menanggung dosa-dosa kita dan mengorbankan diri-Nya di salib sebagai ganti kita supaya kita beroleh sukacita dan harapan abadi. Akankah ini memberimu kekuatan meski di tengah keputusasaan yang kamu rasakan?

Sungguh menyedihkan bahwa kita tidak akan pernah bisa mengetahui jawaban atas pertanyaan “jika saja” ini.

Jonghyun SHINee yang kukasihi, sungguh menyedihkan buatku karena aku tak dapat lagi memanggilmu dengan nama ini lagi.

Kamu telah bekerja keras dan kami akan selalu merindukanmu.

Akhir kata, kuharap tidak ada seorang pun lagi di bumi ini yang perlu merasa putus asa dan hilang harapan seperti yang kamu rasakan, karena ada harapan abadi yang dapat memberi kita anugerah untuk menghadapi tantangan hari esok. Dialah Yesus.

Pengagummu selama sembilan tahun,

Lee Soo Yi

Baca Juga:

Jangan Melompat, Masih Ada Harapan!

Aku baru saja bersiap akan berangkat kerja ketika polisi-polisi datang ke wilayah apartemenku. Seorang wanita tua nekat mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 10 di apartemen kediamanku. Aku mungkin tidak tahu apa penyebab dia nekat melakukan bunuh diri, namun seandainya waktu itu aku bisa mencegahnya melompat, aku akan berkata, “Jangan melompat, masih ada harapan!”

Nyaris Mati Karena Bunuh Diri, Namun Tuhan Memberiku Kesempatan Kedua

Oleh Raphael Zhang, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: The Time I Attempted Suicide

Obat-obatan dan pecahan kaca, air mata dan darah, ketakutan dan putus asa. Itulah gambaran dari malam yang paling kelam dalam hidupku. Sejujurnya, aku tak ingin mengakhiri hidupku sendiri saat itu. Tapi, aku tak tahu apa yang harus kulakukan di hari esok. Aku pikir lebih baik mengakhiri segala penderitaan hari itu daripada harus menghadapi penderitaan lainnya. Akhirnya, aku berbaring di atas kasur, menenggak obat-obatan, menyayat tubuhku, dan membiarkan darah mengalir keluar. Kupikir malam itu, di usia ke-19 tahun, aku akan terlelap untuk selamanya.

Dua tahun sebelum peristiwa malam itu, aku masuk ke sekolah menengah. Aku merasa begitu stres dan semangat belajarku pun hilang. Nilai-nilaiku menurun, membuatku makin tidak termotivasi untuk belajar. Aku banyak menghabiskan waktu dengan tidur dan mood-ku selalu buruk. Dalam beberapa kesempatan, aku melukai diriku sendiri karena kupikir rasa sakit fisik yang kualami ini adalah satu-satunya cara untuk mengekspresikan dan mengatasi sakit dalam batinku. Aku tak tahu bagaimana persisnya perasaanku saat itu.

Beberapa bulan kemudian, setelah ujian sekolah usai dilaksanakan, aku menerima sebuah surat dari Departemen Pertahanan. Isi dari surat itu adalah aku harus mengikuti Wajib Militer (Wamil) yang diwajibkan oleh negaraku kepada para pemuda. Sejak saat inilah hidupku mulai terpuruk.

Aku bukanlah seorang lelaki yang bertubuh atletis dan menyukai latihan fisik. Kedua orangtuaku seringkali memberitahuku kalau aku tidak melatih tubuhku secara fisik, aku tidak akan mampu menuntaskan kerasnya Wamil. Sekarang, aku mengerti bahwa maksud kedua orangtuaku memotivasku itu baik. Akan tetapi, sepanjang masa remajaku, aku mengabaikan nasihat mereka. Aku menganggap diriku tidak cocok dan tidak mungkin bertahan untuk hidup dalam dunia kemiliteran.

Masa-masa ketika aku duduk di sekolah menengah bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Aku berjuang keras karena aku tidak dapat membaur dengan teman-teman lelaki di kelas. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku tertarik dengan sesama lelaki. Dunia militer adalah dunia laki-laki yang maskulin, dan aku pun takut bagaimana respons mereka apabila mereka tahu bahwa aku adalah seorang gay. Ketakutan ini semakin menjadi-jadi tatkala waktu pendaftaran Wamil semakin dekat.

Kepada Tuhan, aku memohon dengan memelas supaya Dia berkenan memberikan mukjizat dan aku bisa terbebas dari Wamil. Aku mencoba tawar-menawar dengan Tuhan. Jika Tuhan mengabulkan permintaanku, aku berjanji akan melakukan hal-hal tertentu sebagai gantinya. Setiap malam, di atas kasur, pikiranku kalut. Saat tengah malam, aku terbangun, berdoa sekali lagi memohon supaya Tuhan meluputkan aku dari Wamil.

Hari demi hari berlalu, tapi tidak ada hal apapun yang terjadi. Untuk terakhir kalinya, aku bertemu dengan teman terdekatku di sekolah, mencari cara-cara terampuh untuk bunuh diri, kemudian menulis surat sebagai pesan terakhir untuk keluargaku. Saat-saat itu, hatiku dipenuhi oleh ketakutan dan pikiran-pikiran gelap terus menggangguku. Di satu sisi, aku tidak ingin mengakhiri hidupku. Tapi, di sisi lainnya, aku percaya bahwa bunuh diri adalah satu-satunya solusi untuk keluar dari situasi yang amat kutakuti. Pikiranku bertanya-tanya: apakah Tuhan akan mengampuniku jika aku memlih bunuh diri? Apakah bunuh diri itu dosa yang bisa diampuni, atau sesuatu yang sangat kejam hingga aku harus dihukum di neraka?

Hari pendaftaranku di Wamil pun datang. Tidak ada mukjizat apapun yang terjadi. Sepanjang malam aku menunggu sampai seluruh anggota keluargaku tidur untuk melakukan niatan bunuh diriku. Di atas kasur, aku meletakkan harapanku kepada obat-obatan yang akan kutenggak dan pecahan kaca yang akan menyayat tubuhku. Di saat itu juga aku bertanya-tanya: akankah nanti aku melihat Allah?

Kutenggak obat-obatan itu dan kusayat tubuhku hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.

Ketika aku membuka mata, orang pertama yang kulihat adalah ibuku. Dia menangis sejadi-jadinya di bawah ranjangku. Perlahan, akhirnya aku menyadari bahwa aku sedang berada di rumah sakit. “Sial!” umpatku.

Usaha bunuh diriku tidak berhasil. Aku masih hidup. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Kasih Seorang Bapa

Dalam masa-masa pemulihanku, aku mendapati bahwa ternyata aku begitu dicintai. Sebelum aku mencoba bunuh diri, aku tahu bahwa kedua orangtuaku mengasihiku, tapi aku hanya sekadar tahu tanpa mengganggap bahwa kasih mereka kepadaku itu nyata. Ketika aku melihat ibuku menangis, barulah aku sadar bahwa dia sungguh-sungguh mempedulikanku lebih dari apa yang kutahu. Aku juga belum pernah melihat ayahku dan nenekku begitu khawatir dan kecewa sebelumnya.

Seorang teman dekatku di sekolah juga datang menjengukku. Katanya, untuk menyelamatkanku, tim medis berusaha mengeluarkan obat-obatan yang sebelumnya sudah kutenggak. Seorang guruku juga datang menjenguk, dan aku terkejut melihatnya menangis. Dia membacakanku ayat Alkitab dari Mazmur 121 untuk meyakinkanku bahwa Tuhan selalu menjaga dan menolongku. Setelah aku boleh pulang dari rumah sakit, semua kerabatku datang menjengukku, mencurahkan perhatian dan memberiku nasihat. Aku tidak pernah menyangka bahwa orang-orang di sekitarku ternyata begitu mempedulikanku.

Aku ingat hari ketika keluargaku membawaku pulang dari rumah sakit. Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara. Aku masuk ke kamar dan terduduk di atas kasurku. Tak lama kemudian, ayahku datang sambil membawa sebuah tas. Di dalamnya terdapat beberapa catatan yang kutulis sebagai pesan terakhirku kepada keluarga. Dia memberiku tas itu dan berkata, “Ambil ini, dan anggap kejadian ini tidak pernah terjadi.”

Dari perkataannya, aku mengerti bahwa ayahku sungguh mengasihiku. Mungkin cara ayahku berkata-kata hari itu adalah cara yang paling tenang dan lembut yang pernah dia ucapkan untukku. Atau, mungkin juga dia ingin menunjukkan kebaikannya kepadaku. Di hadapanku, Ayah memberikan sebuah hadiah, yaitu kasih untuk menjalani hari-hariku di depan. Ketika dulu aku pernah berdoa meminta mukjizat, mungkin ini adalah jawaban dari Tuhan.

Apa yang ayahku lakukan adalah sebuah gambaran sederhana dari apa yang Bapa Surgawi lakukan buatku: Allah menghapus dosaku dan memberiku kesempatan baru jika aku mau menerima Yesus dan percaya pada-Nya. Mungkin kisah hidupmu berbeda denganku, tetapi kasih dan anugerah Bapa untuk kamu dan aku tetap sama, terlepas dari apapun permasalahan atau masa lalu kita. Allah mau menyembuhkan dan memulihkan kita, sebab Dialah yang berkuasa atas hidup.

Dua tahun setelah kejadian percobaan bunuh diriku, aku menemui seorang psikiater. Dia menolongku untuk menyadari bahwa sejak SMP aku sudah mengalami depresi, dan depresi ini bertambah parah menjelang hari pendaftaranku masuk ke Wamil—sesuatu yang amat kutakuti tapi tak bisa kuhindari. Selama beberapa waktu, dengan melakukan meditasi, konseling, dan dukungan dari komunitas Kristen, aku berubah jadi lebih baik.

Jadwalku untuk bergabung dengan Wamil diundur sampai beberapa bulan. Selama mengikuti Wamil, aku mengalami betapa besar kesetiaan Tuhan atas hidupku, terutama saat melewati tahun-tahun yang berat. Aku belajar untuk mengenal-Nya lebih dalam, karena dari Dia sajalah pertolonganku datang (Mazmur 121:1-2), Dia yang selalu menjagaku dari marabahaya (Mazmur 121:3-8).

Hari ini, walaupun luka itu telah pudar, kamu masih tetap dapat melihat luka itu di bawah lengan kiriku. Tetapi, karena kasih karunia dan pengampunan dari Allah yang diberikan melalui penderitaan Yesus di kayu salib, aku dapat mengingat anugerah Tuhan bagiku setiap kali aku melihat luka itu (Yesaya 53:5).

Baca Juga:

Pergumulanku Melawan Rasa Iri Hati

Melihat pencapaian temanku yang seolah tampak lebih berhasil dariku sempat membuatku tidak terima dan menganggap bahwa Tuhan tidak adil. Tapi, aku sadar bahwa perasaan ini adalah salah, dan inilah pergumulanku untuk melawan rasa iri hati.

Kematian Chester Bennington: Mengabaikan Rasa Sakit Bukanlah Cara untuk Pulih

kematian-chester-bennington-mengabaikan-rasa-sakit-bukanlah-cara-untuk-pulih

Oleh Priscilla G., Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Chester Bennington’s Death: Numbing The Pain Is Not The Same As Healing It

Kasus ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kasus bunuh diri yang menimpa kalangan selebriti. Tapi, kematian Chester Bennington, seorang vokalis grup band Linkin Park tentunya amat mengejutkan bagi banyak penggemarnya.

Bennington yang berusia 41 tahun ditemukan tewas di rumahnya pada hari Kamis, 20 Juli 2017, bertepatan dengan hari ulang tahun almarhum sahabatnya, Chris Cornell. Media-media memberitakan bahwa kasus bunuh diri yang dialami Bennington mirip dengan kasus Cornell, mantan vokalis band Soundgarden dan Audioslave yang juga mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri dua bulan sebelumnya.

Berita ini membuatku terkenang kembali akan suara serak khas Bennington dalam lagu-lagunya seperti “Numb” dan “Somewhere I Belong”. Kedua lagu itu menggambarkan kekhawatiran yang kuhadapi ketika aku masih seorang remaja. Aku yakin, jutaan orang di luar sana mungkin juga merasakan perasaan yang serupa denganku. Bahkan, video klip dari lagu Numb itu telah ditonton lebih dari 560 juta kali sejak kali pertama diunggah di tahun 2007.

Aku begitu menyukai lagu Numb, yang dalam bahasa Indonesia berarti mati rasa. Liriknya seolah begitu pas dengan diriku dulu, seorang remaja 14 tahun yang mengalami frustrasi akibat gagal memenuhi harapan orang-orang. Rasa frustrasi itu dimulai ketika aku duduk di sekolah menengah. Kala itu, aku sedang dalam tahap percobaan untuk menjadi ketua OSIS di sekolah. Karena sewaktu di SD dulu aku pernah jadi ketua kelas, jadi kupikir aku bisa dengan mudah lolos tahap percobaan ini. Tapi, ternyata aku gagal dan merasa begitu kecewa. Kekecewaan itu membuatku berpikir mengapa tidak sekalian saja aku menjadi siswa yang bandel. Namun, alih-alih menjadi bandel, aku malah menjadi pribadi yang suka memendam semua rasa kecewa di dalam hati. Selain itu, lirik dalam lagu Numb juga menggambarkan perasaanku terhadap ayahku. Bukan dukungan dan kepedulian yang kudapat dari ayahku selama ini, melainkan cacian dan perintah.

“Aku telah sangat mati rasa (numb), aku tak bisa merasakan kehadiranmu lagi / Telah sangat lelah, dan sadar aku / Jadi beginilah aku, yang kuingin ialah / menjadi diriku sendiri dan bukannya semakin mirip dirimu.”

Namun, tak peduli sesering apapun aku menyanyikan refrain lagu ini, tetap saja aku tidak bisa menyingkirkan suara Tuhan yang berbisik perlahan di dalam hatiku. Di akhir tahun, akhirnya aku kembali mendedikasikan hidupku kepada Yesus.

Tidak lama setelahnya, aku berhenti untuk mendengarkan lagu-lagu Linkin Park karena aku menyadari bahwa pesan-pesan di balik lagu mereka tidak sesuai dengan nilai-nilai Kekristenan. Kalimat terakhir dalam lagu Numb mengajarkan tentang sifat egois, kebanggaan duniawi, dan kesombongan yang berkata ‘Aku lebih baik daripada kamu’ kepada orang-orang yang kita tidak suka. Ajakan untuk mengabaikan perasaan kita dari segala luka hati juga kupikir tidaklah bermanfaat.

Mengabaikan perasaan itu berarti kita mencabut kepekaan dalam hati kita. Tapi, ketahuilah bahwa sebenarnya rasa sakit yang kita alami itu adalah sebuah tanda. Rasa sakit menandakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Oleh karena itulah kemampuan kita untuk merasakan rasa sakit itu menjadi penting. Apabila tubuh seseorang tidak memiliki saraf yang dapat mengirimkan rasa sakit ke otak, maka seseorang tidak akan menyadari apabila kulitnya melepuh akibat menyentuh kompor yang sangat panas. Seorang penulis Kristen dari Amerika dalam sebuah bukunya yang berjudul Where is God When it Hurts pernah menulis demikian: “Secara harfiah, sakit itu memang tidak enak. Rasa sakit itu mampu memaksa kita untuk menjauhkan tangan dari kompor yang panas. Namun, justru rasa sakit itulah yang sejatinya mampu mengindarkan kita dari kehancuran. Hanya, kita cenderung untuk mengabaikan peringatan, kecuali jika peringatan itu amat memaksa.”

Ketika aku membaca kisah hidup Chester Bennington di berita-berita, aku melihat sesosok pribadi yang menderita. Pengalaman hidupku sendiri memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dia rasakan. Tapi, kelihatannya dia tidak menghadapi permasalahan hidupnya dengan cara yang terbaik.

Semenjak dia masih berusia 7 atau 8 tahun hingga usianya 13 tahun, dia sering dilecehkan oleh teman-temannya yang berusia lebih tua darinya. Kedua orangtuanya bercerai di usianya yang ke-11 tahun. Pernikahan pertamanya juga berakhir dengan perceraian pada tahun 2005. Kecanduannya pada narkoba dan alkohol menjadi inspirasi dari beberapa lagu populer Linkin Park. Tetapi, kesuksesan yang dia dapatkan tidak dapat melepaskannya dari rasa kecanduannya.

Dalam sebuah sesi wawancara di tahun 2009, Bennington berkata: “Aku bisa menghadapi segala hal negatif dalam hidupku dengan cara membuat perasaanku mati rasa dan mengalihkannya dengan bermain musik.” Di awal tahun ini, Bennington juga menambahkan: “Jika bukan karena musik, aku pasti sudah mati. 100% mati.”

Menyalurkan perasaan negatif lewat musik dan cara-cara lainnya (seperti melukis, menulis puisi, ataupun berlari) memang masih lebih baik daripada memendam semuanya di dalam hati. Tapi, ini bukanlah cara terbaik untuk memulihkan segala luka-luka di hidup kita.

Mengabaikan rasa sakit dan membuat hati kita mati rasa itu seperti menutup sebuah botol air yang bocor dengan jari kita. Memang bocornya berhenti sementara, tetapi kita tidak mungkin terus menerus menutupnya dengan jari kita. Lama kelamaan, tangan kita akan pegal juga, dan masalah kebocorannya sendiri tidak selesai.

Jika saat ini kamu merasa hancur, ketahuilah bahwa Tuhan menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka (Mazmur 147:3). Tuhan adalah sumber air hidup bagi kita (Yeremia 2:13).

Aku berdoa supaya kamu dapat menemukan sumber penghiburan dan sukacita yang sejati.

“Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:13-14).

Foto oleh: Kristina_Servant via Foter.com / CC BY

Baca Juga:

Ketika Aku Memahami Arti dari Didikan Orangtuaku

Dulu, aku berpikir masa-masa remajaku adalah fase yang paling buruk dalam hidupku. Aku tinggal dengan orangtua kandungku, tapi hidupku tidak bahagia. Aku menolak ungkapan yang mengatakan “Rumahku, Istanaku”. Bagiku, rumahku adalah tempat yang buruk karena orangtuaku tidak menganggapku sebagai seorang anak, melainkan seorang pekerja yang bisa diperas tenaganya setiap waktu.