5 Cara Mengelola Uang dengan Bijak

Uang…
Siapa tidak suka uang? Dengan uang, agaknya kita bisa membeli apa pun yang kita inginkan. Namun demikian, Alkitab mengingatkan kita bahwa uang bukanlah tuan kita. Uang harus dikelola dengan bijak.

Bagikan ini ke temanmu untuk saling mengingatkan agar kita dapat bijak mengelola uang yang sudah Tuhan percayakan pada kita.

7 Cara menjadi Terang di Tempat Kerjamu

Bagi kita yang sudah bekerja, kita menghabiskan banyak waktu kita di tempat kerja dan berkomunikasi dengan rekan-rekan di sana. Sudahkah kita menjadi terang bagi mereka?

Bagikan ini ke temanmu dan salinglah mengingatkan agar di mana pun dan bagaimana pun kondisi tempat kerjamu, janganlah lupa untuk bersinar.

Sendirian di Tahun 2020?

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Di awal bulan Desember, seorang teman berbicara kepadaku di telepon. “Tahun 2019 aja rasanya sudah berat banget. Aku nggak kebayang gimana nanti 2020, sanggup nggak ya?” katanya lirih.

Pergumulan-pergumulan yang dihadapi temanku—keluar dari pekerjaan, pindah ke luar kota, guncangan dalam relasi, juga masalah finansial—membuatnya tawar hati menghadapi tahun 2020 yang tinggal sejengkal lagi akan kita masuki. Mungkin, tak hanya temanku seorang, aku dan kamu pun tentu memiliki kekhwatirannya sendiri-sendiri tentang bagaimana setahun ke depan akan berlangsung. Kisah-kisah pahit di tahun ini membuat kita getir. Kita pun tak tahu masalah apa yang akan menghadang, tragedi apa yang mungkin terjadi. Ayat firman Tuhan yang mengatakan pada kita “jangan khawatir” pun rasanya tak cukup kuat untuk menenangkan keraguan dalam hati.

Namun, di tengah segala hal yang tampaknya tidak pasti tersebut, kita punya satu kepastian yang teramat pasti: Allah menyertai kita senantiasa.

Aku teringat akan bacaan saat teduhku pada tanggal 2 September 2018. Pesan firman Tuhan dari bacaan ini meneguhkanku akan penyertaan Allah yang senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Ada sebuah kisah alegori yang bercerita tentang seekor domba bernama Si Penakut. Suatu ketika, Si Penakut pergi melakukan perjalanan bersama Sang Gembala. Namun, sesuai dengan namanya, Si Penakut memang selalu takut. Alih-alih berjalan melewati jalan setapak yang berbatu dan terjal, dia meminta Sang Gembala untuk menggendongnya saja.

Dengan lembut Sang Gembala menjawab, “Aku bisa saja menggendongmu sampai ke puncak bukit daripada membiarkanmu mendakinya sendiri. Namun, bila itu kulakukan, kamu takkan pernah bisa membuat kakimu sekuat kaki rusa, dan menjadi pendampingku dan mengikutiku ke mana pun aku pergi.”

Karakter Si Penakut tersebut menggemakan pertanyaan yang juga diajukan oleh Nabi Habakuk (mungkin juga pertanyaan kita), “Mengapa aku harus menderita? Mengapa hidupku sulit?”

Habakuk hidup di Yehuda pada akhir abad ke-7 SM, sebelum bangsa Israel dibawa ke pembuangan. Masyarakat Israel kala itu hidup mengabaikan keadilan sosial dan dilingkupi ketakutan atas serbuan dari orang-orang Kasdim (Habakuk 1:2-11). Habakuk meminta Tuhan untuk menolong dan Tuhan berjanji untuk bertindak seturut waktu-Nya (2:3).

Dengan iman, Habakuk memilih untuk percaya kepada Tuhan. Pada pasal 3 ayat 19, Habakuk menyatakan, “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.”

Allah yang dahulu menyertai bangsa Israel, juga Habakuk, adalah Allah yang kesetiaan-Nya tidak pernah berubah. Kita bisa mendapatkan penghiburan dan teguh beriman bahwa Tuhanlah kekuatan yang menopang kita bertahan dan maju menghadapi penderitaan.

Tahun yang berganti mungkin tidak akan membuat jalan hidup kita lebih rata atau langit kita cerah senantiasa. Namun, dalam segala lintasan tahun, Tuhan adalah Tuhan yang setia. Tuhan mengizinkan segala hal yang tampaknya berat bagi kita untuk menguatkan kaki kita agar kita mampu mengiring-Nya ke mana pun Dia pergi. Percayalah, Tuhan adalah gembala yang baik, yang menjaga kita selalu.

Hari ini, jika kamu membaca tulisan ini, aku mungkin tidak tahu apa yang jadi pergumulanmu. Namun, aku mau mengajakmu untuk mengucap dalam hatimu: meskipun kita tak tahu akan apa yang terjadi di depan kita, tetapi kita tahu siapa Pribadi yang memegang tangan kita—Dialah Yesus.

Tidak dibiarkan-Nya kita melangkah sendirian di tahun 2020, sebab Dia senantiasa beserta kita.

Selamat memasuki tahun yang baru, Kawan!

Baca Juga:

Ketika Perayaan Natal Telah Usai

Hari Natal, 25 Desember, baru saja selesai. Semua kemeriahan, dekorasi, dan pernak-pernik sebentar lagi akan diturunkan. Apakah dengan berlalunya Natal berarti Natal sudah berakhir?

Pergumulanku Melawan Pikiran-pikiran Negatif

Oleh Kim Cheung
Artikel asli dalam bahasa Inggris: My Daily Struggle Against Negative Thoughts

Aku pernah berada di suatu masa ketika emosiku seperti roller coaster. Emosiku bisa naik begitu tinggi dan terjatuh begitu kelam hanya dalam satu hari.

Di hari-hari biasa, ketika aku bangun disambut dengan mentari pagi yang cerah dan hangat, mood-ku pun bagus. Aku merasa hidupku keren dan cerah. Aku bahkan membeli sekuntum bunga untuk menghiasi kamarku. Namun, perasaan bahagia ini tidak bertahan lama. Di siang hari, aku merasa down dan menganggap hidupku tidak berarti dan melelahkan. Tanyakanlah padaku alasan mengapa aku bisa berubah drastis, aku sendiri pun tidak tahu jawabannya. Bisa jadi hanya karena hal kecil yang membuatku frustrasi, atau ketidakberdayaanku mengendalikan perasaan hari itu.

Perasaan yang berubah-ubah itu pernah aku alami hampir setiap hari. Perasaan dan pikiran negatif itu menghujaniku seperti badai, meninggalkanku lemah dan tak berdaya. Kupikir aku bisa begitu karena badanku lelah, jadi aku mencoba tidur lebih awal. Jika aku tidak bisa tidur, aku coba mengobrol dengan temanku. Tapi, obrolan itu bukannya menguatkan, malah membuatku dan temanku sama-sama merasa depresi.

Hal paling buruk yang terjadi akibat ketidakstabilan emosi ini adalah aku jadi sulit berkonsentrasi pada firman Tuhan. Di momen seperti itu, aku menyerah membaca Alkitab. Paling-paling aku hanya meminta temanku untuk mendoakanku. Seringkali aku pun merasa bersalah.

“Bukankah kamu bisa menemukan sukacitamu di dalam Tuhan? Kok kamu masih saja merasa tertekan?”

Aku pun menegur diriku sendiri. “Lihat dirimu! Kamu begini karena kehidupan rohanimu tidak baik!” Kalimat-kalimat ini bukannya menolongku, malah membuatku terjebak makin dalam di pusaran pikiran-pikiran negatif.

Kondisi seperti ini adalah pekerjaan Iblis yang menyerangku di titik terendahku. Kondisi ini juga seperti sebuah siklus yang akan terus terulang dan membuatku lemah tak berdaya seperti seekor domba yang menanti disembelih.

Suatu hari, aku memutuskan sudah cukup aku berkubang dalam kondisi seperti ini. Jelas bagiku bahwa Tuhan memberitahuku untuk percaya dan bersandar kepada-Nya. Firman-Nya mengatakan kita harus mengenakan senjata Allah, barulah kita bisa berdiri teguh melawan serangan-serangan si jahat (Efesus 6:10-11). Aku memutuskan untuk tidak menjadi korban dari mengasihani diri sendiri. Aku mau mengenakan pedang Roh dan melawan balik (Efesus 6:17). Inilah beberapa hal praktis yang telah menolongku:

Meraih kemenangan dengan doa

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:6-7).

Ayat ini menguatkanku dan menolongku untuk berani berkomitmen. Aku tidak akan menghindari doa. Aku tidak akan bersembunyi dari pikiran-pikiran pesimisku atau menyangkali bahwa aku mengalaminya, melainkan aku akan mengakui bahwa keenggananku untuk berdoa itu dikarenakan perasaan-perasaanku sendiri dan aku perlu pertolongan Roh Kudus untuk menenangkan hatiku. Ketika perasaan-perasaan negatif menggangguku, aku memanggil nama Yesus dan mengusir semua perasaan negatif itu keluar dari hatiku.

Aku secara pribadi mendapati doa-doa itu begitu menolong. Tuhan memberiku penghiburan dan damai sejahtera. Aku juga akhirnya bisa menyadari bahwa ketika aku merasa sulit berdoa, itu karena aku memanggul sendiri semua bebanku, aku tidak meletakkannya di hadapan Tuhan. Aku belajar bahwa di tengah masa-masa sulit, satu hal yang kita perlu minta adalah supaya Tuhan mengubahkan hati kita.

Merenungkan firman Tuhan

Setelah Roh Kudus melenyapakn semua pikiran negatif dari dalam diriku, aku memerlukan sesuatu untuk mengisi hatiku. Aku membutuhkan firman Tuhan untuk mengisi tiap relung hatiku.

Aku mulai membaca Alkitab, meluangkan waktu untuk merenungkannya. Aku ingin firman-Nya tertanam kuat dalam hatiku.

Filipi 4:13 mengatakan segala perkara dapat ditanggung di dalam Kristus yang memberi kekuatan kepadanya. Dalam Wahyu 21:3-4, Yohanes mengingatkan kita tentang surga dan bumi yang baru yang kelak akan menyambut kita: “Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata merek, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”

Membaca ayat-ayat itu memberiku penghiburan yang luar baisa. Melalui merenungkan firman Tuhan, aku bisa mengerti maksud-maksud Tuhan lebih jelas dan aku bisa berdiri lebih teguh dalam kebenaran.

Memiliki waktu teratur bersama Tuhan

Aku percaya persekutuan pribadi dengan Tuhan setiap hari itu penting dan tidak boleh diabaikan. Kita perlu menetapkan suatu waktu yang rutin setiap hari untuk membaca Alkitab.

Aku mengakuki kalau aku bukan orang yang bisa bangun pagi. Jadi, aku menjadikan waktu di malam hariku untuk membaca firman Tuhan. Belakangan ini, aku juga melatih diriku untuk lebih jain berdoa. Aku menggunakan sebuah buku kecil sebagai catatan doaku. Aku juga mendoakan orang-orang lain secara personal.

Memiliki waktu yang rutin dan teratur bersama Tuhan setiap hari telah menolongku untuk bertumbuh secara rohani. Waktu-waktuku bersama-Nya telah mengajariku bahwa hanya ketika kita memiliki relasi yang intim dan personal dengan Tuhan, kita bisa melawan setiap godaan dan tidak terjerat dalam pikiran atau perasaan yang negatif.

Jika kamu mendapati dirimu seperti aku yang dulu, aku mau menantangmu untuk tidak takut karena Yesus telah terlebih dulu mengalahkan segalanya—bahkan kematian—untuk kita. Jagalah dirimu dari tipu daya Iblis dan kenakanlah senjata Allah untuk melawannya.

Kiranya kita belajar untuk selalu bersandar kepada-Nya dan menjadi kuat di dalam Tuhan.

Baca Juga:

Apakah Orang Kristen Dapat Mengalami Gangguan Mental?

Kita perlu menyadari bahwa orang-orang Kristen yang mengalami gangguan mental adalah riil. Begitu pula dengan iman mereka kepada Yesus Kristus.

Apakah Orang Kristen Dapat Mengalami Gangguan Mental?

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

Beberapa waktu lalu, orang-orang Kristen di dunia, terutama di Amerika dikagetkan dengan berita kematian Jarrid Wilson. Dia adalah salah satu asisten pendeta dari gereja besar Harvest Christian Fellowship di California, AS. Pada usia 30 tahun dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Banyak orang bertanya-tanya: bagaimana mungkin seroang pendeta mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri? Bukankah dia sendiri menjadi penggerak Anthem of Hope, sebuah pelayanan untuk orang-orang yang mengalami depresi? Mengapa Jarrid sendiri gagal mengatasi depresi dalam dirinya?

Di tengah situasi sedih seperti ini, sayangnya masih ada sejumlah orang Kristen yang terlalu naif atau tidak paham terhadap isu ini. Menurut mereka, dengan iman maka semua persoalan akan hilang. Akibatnya, mereka mudah menghakimi sesama orang Kristen yang mengalami depresi sebagai orang-orang yang kurang beriman atau terlalu banyak mengandalkan diri sendiri.

Terlepas dari bagaimana aku dan kamu memahami nasib orang yang bunuh diri (silakan baca artikel lainnya tentang bunuh diri di sini), orang Kristen sebaiknya lebih berempati terhadap mereka yang mengalami depresi sebagai bentuk gangguan mental tertentu (anxiety disorder, OCD, PTSD, dsb). Sikap menghakimi menunjukkan ketidaktahuan (ignorance) dan kesombongan (arrogance). Kita perlu menyadari bahwa orang-orang Kristen yang mengalami gangguan mental adalah riil. Begitu pula dengan iman mereka kepada Yesus Kristus. Sebagian dari mereka yang pernah kujumpai di ruang konseling adalah orang-orang yang sungguh-sungguh ingin mengasihi Tuhan dengan seluruh kehidupan mereka. Hanya saja, upaya ini seringkali dimentahkan oleh keterbatasan mereka secara mental (psikologis).

Ada beberapa alasan mengapa gereja perlu lebih terbuka dan berani untuk merengkuh orang-orang Kristen seperti ini:

Yang pertama: depresi bisa menyerang siapa saja.

Beberapa tokoh hebat dalam Alkitab pernah mengalami keputusasaan. Elia ingin cepat-cepat mati (1 Raja-raja 19:4). Yeremia mengutuki kelahirannya (Yeremia 20:14-15). Paulus terbebani dengan pelayanannya yang begitu keras sehingga dia kehilangan harapan (2 Korintus 1:8).

Alkitab tidak dihuni oleh tokoh-tokoh hebat. Bahkan mereka yang sering dipakai Allah untuk mengadakan mukjizat juga tidak kebal terhadap keputusasaan. Alkitab diisi oleh manusia-manusia lemah yang dihiasi kemurahan dan kekuatan Allah. Sangat konyol dan sombong jikalau seseorang berani menghakimi sesama orang percaya yang bergumul dengan depresi.

Yang kedua: dosa telah merusak seluruh elemen kehidupan manusia.

Pikiran, pengertian, perasaan, perkataan dan tindakan sudah diracuni oleh dosa (Roma 3:10-18; Efesus 4:17-19). Tidak ada satu elemen pun yang kebal. Semua orang memiliki disposisi tertentu dalam dirinya. Ada yang lemah di bidang seksual, fisikal, maupun mental. Setiap orang menghadapi kehancurannya sendiri-sendiri.

Jika doktrin ini memang benar, bukankah sudah wajar apabila kita mendapati orang Kristen yang bergumul dengan disposisi mental? Jika bayi Kristen ada yang mengalami cacat sejak lahir, mengapa seorang bayi Kristen tidak mungkin memiliki kencenderungan besar terhadap gangguan mental? Jika tidak semua penyakit fisik disembuhkan secara mukjizat oleh Tuhan, atas dasar apa kita meyakini bahwa semua gangguan mental akan diselesaikan dalam sekejap oleh Tuhan? Allah memiliki pertimbangan sendiri untuk setiap orang.

Yang pasti: Allah selalu menyediakan penyertaan dan pertolongan. Dia bisa memakai komunitas yang mendukung bagi pemulihan orang-orang dengan gangguan mental. Dia bisa menggunakan konselor dna hamba Tuhan untuk menemani dan memberikan terapi. Dia bias memakai psikiater untuk menyediakan obat penenang atau anti-depresan.

Bagi kamu yang mengalami depresi, bertahanlah. Terbukalah tentang kelemahanmu kepada orang lain yang mengerti pergumulanmu. Ingatlah bahwa tidak semua orang akan menghakimimu. Peganglah terus pengharapanmu di dalam Tuhan Yesus. Dia yang memiliki kata terakhir dalam hidupmu. Dia sudah membereskan persoalanmu yang terbesar, yaitu dosa. Dia sudah mengalahkan ketakutanmu yang terbesar, yaitu kematian.

Bertahanlah.

Soli Deo Gloria.

Tentang Penulis:
Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M adalah gembala di Reformed Exodus Community Surabaya. Tulisan ini sebelumnya sudah ditayangkan di sini.

Baca Juga:

Tolong! Aku Ingin Bebas dari Overthinking

“Imajinasi kita adalah bagian yang indah, luar biasa, dan inspiratif dari diri kita. Imajinasi kita adalah tempat lahirnya ide-ide brilian, keren, dan kreatif.

Tapi, imajinasi itu bisa juga membelenggu kita jika kita membiarkannya tidak terkendali.”

Andrew Hui: Usiaku 32 Tahun dan Aku Menanti Ajalku

Ditulis oleh Janice, Singapura
Foto oleh Andrew Hui
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Andrew Hui: I’m 32 And I’m Dying

Di usia 32 tahun, Andrew hanya memiliki waktu dua hingga tiga bulan untuk hidup.

Pengobatan dengan cara radiasi telah dihentikan sebulan yang lalu setelah dianggap tak lagi efektif untuk mengendalikan penyebaran sel kanker dalam tubuhnya. Sejak saat itu, sel-sel kanker berkembang cepat dan menyerang ke hampir semua organ tubuh yang penting, juga menekan pembuluh darahnya.

Meskipun ia hanya punya waktu satu bulan atau lebih untuk tetap tersadar dan berpikir jernih, Andrew dengan antusias meluangkan waktunya untuk wawancara. Setelahnya, ia akan dipulangkan ke rumah agar merasa lebih nyaman sebelum kematiannya yang mendekat.

“Aku mau mendorong orang-orang untuk percaya kepada Tuhan di momen-momen tergelap hidup mereka,” katanya.

Penemuan yang Mengejutkan

Andrew tidak selalu melihat keadaannya dengan cara yang positif. Butuh perjuangan berbulan-bulan sampai akhirnya ia tiba di tahap ini: merasa damai dan menerima keadaan dirinya. Ini terjadi di bulan Juni lalu.

Para dokter menemukan kanker dalam tubuhnya ketika Andrew dilarikan ke UGD di suatu malam karena demam tinggi. Hasil rontgen menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan tumor di bagian atas dadanya. Tes biopsi setelahnya menunjukkan tumor itu sebagai tumor getah bening stadium-1.

Para dokter yakin bahwa ini bukanlah penyakit yang sulit disembuhkan, bahkan mengatakan kalau 90 persen orang-orang yang mengalami tumor pada tahap ini berhasil sembuh.

Jadi Andrew pun meletakkan harapannya pada perkataan dokter tersebut dan ilmu pengetahuan medis, menganggap bahwa perawatan-perawatan yang nanti dilakukannya akan seperti “liburan” beberapa bulan, lalu setelahnya pulih kembali.

Tapi, Andrew bukanlah termasuk 90 persen orang itu. Ia ada di 10 persennya.

Terapi R-EPOCH, sejenis kemoterapi yang dijalaninya ternyata tidak menolong.

Dokter lalu menggunakan jenis kemoterapi lain yang lebih kuat (RICE Therapy namanya). Kali ini, mereka mengatakan, ada kemungkinan 70-80 persen sembuh.

Andrew pun menjalani terapi ini sebanyak empat kali, tapi, lagi-lagi dia tidak termasuk dalam presentase orang yang berhasil sembuh.

Andrew harus menjalani terapi lain, immunotherapy, yang katanya cocok untuk 99 persen pasien.

Tapi, lagi-lagi Andrew tak termasuk dalam 99 persen itu. Tubuhnya tidak cocok menerima terapi ini karena efek samping yang muncul kemudian.

“Ini adalah pesan sederhana yang bisa kamu dapatkan dari Tuhan, tidakkah kamu berpikir begitu?” kata Andrew tanpa basa-basi, dengan diwarnai tawa.

“Aku telah meletakkan imanku pada ilmu pengetahuan medis dan ketika itu gagal, Tuhan menunjukkanku bahwa aku perlu mengubah cara pandangku dan berbalik kepada-Nya seutuhnya,” tambahnya.

Waktu-waktu penuh pertanyaan

Meskipun telah menjadi orang percaya sejak muda dan aktif melayani di gereja sebagai pemusik dan ketua, Andrew bergumul dengan Tuhan karena penyakitnya.

Kenapa aku?

Andrew bukanlah orang yang tidak menjaga gaya hidupnya.

Sebagai seorang bankir muda, dia tidak mabuk ataupun merokok. Malah, dia lebih memilih makan salad untuk makan siang lima hari dalam seminggu dan rutin berolahraga di gym sepulang kerja.

Kenapa sekarang?

Pertanyaan-pertanyaannya kepada Tuhan menumpuk dengan tebal dan cepat. “Aku baru memenuhi 10 persen saja dari mimpi-mimpiku, dan kupikir Tuhan akan memakaiku untuk tujuan yang lebih besar. Aku telah melayani di gereja selama 20 tahun, dan inikah caraku pergi meninggalkan dunia? Beginikah cara Tuhan memberi tahu pada dunia bahwa Ia peduli pada hamba-Nya?”

Dalam amarah dan kekecewaannya pada Tuhan, Andrew juga mengecam orang-orang Kristen lainnya.

“Mereka berkata dan mendeklarasikan kesembuhan atasku. Mereka percaya bahwa oleh bilur-bilur-Nya, Tuhan telah menanggung segala sakit kita (Yesaya 53:5). Tapi, aku tidak bisa menerima fakta bahwa kenyataannya aku tidak disembuhkan, tapi malah semakin parah. Rasanya mereka memberiku harapan palsu. Jadi aku memarahi dan mengusir mereka,” kata Andrew.

“Caraku melihat diriku, jika Tuhan memilih untuk menyembuhkanku, maka tugas-tugasku di dunia belum selesai dan aku akan melanjutkannya. Jika aku tidak sembuh, maka inilah waktuku untuk pulang. Jadi, sembuh atau tidak, kupikir itu solusi yang sama-sama menang.”

Pergumulan berat lain yang harus Andrew hadapi adalah kesakitan fisik yang luar biasa.

Andrew harus berjuang menghadapi mual, lesu, rambut rontok, dan seringkali dia muntah sampai semua isi perutnya mengotori dinding.

Batuk kronis juga membuatnya tidur meringkuk seperti bola di atas kasurnya. Ia merasa hatinya hancur setiap kali ibunya menangis di samping tempat tidurnya.


Liburan terakhir Andrew bersama Ibunya pada Desember 2018


Andrew dan keluarganya di bulan April 2019

Sebuah titik balik

Namun, perasaan damai yang mendalam dan kepasrahan diri menghadapi kematian datang ketika pandangan Andrew tentang Tuhan berubah.

“Aku selalu melihat kedaulatan Allah atas hidupku sebagai sesuatu yang tak bisa dipertanyakan. Tuhan bisa melakukan apapun seturut yang Ia mau dan suka, dan kita tidak punya hak untuk bertanya untuk apa, meminta sesuatu, kecuali Tuhan memberinya. Aku melihat kedaulatan-Nya sebagai kebijaksanaan yang amat tinggi dan luar biasa,” kata Andrew.

“Tapi kemudian aku sadar bahwa cara Tuhan menunjukkan kedaulatan-Nya adalah melalui kasih. Apa yang terjadi padaku mungkin tidaklah baik, tetapi Tuhan itu baik dan kedaulatan-Nya terlihat dari bagaimana Ia menggendongku melewati badai kehidupan ini.”

Salah satu ayat yang menolong Andrew tiba pada pemahaman ini adalah Efesus 3:17-18 yang berkata, “Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.”

Kepercayaan Andrew pada kasih Tuhan dan kedaulatan-Nya telah menyingkirkan segala takut yang dulu ia hadapi ketika harus menghadapi ajalnya.

“Aku tidak takut mati sekarang. Ketika aku menutup mataku untuk terakhir kalinya, aku yakin aku pergi dan berada bersama-Nya, lebih yakin daripada aku biasanya naik pesawat meskipun aku tahu ke mana tujuan pesawat itu.”

“Inilah keyakinan yang kepada-Nya aku bersandar. Tanpa itu, jika Allah ataupun Yesus tidak ada, aku akan memilih bunuh diri karena segala harapanku hilang dan hidupku tidak ada maknanya.”

Andrew juga amat bersyukur memiliki keluarga jemaat yang berpuasa, berdoa, dan menangis bersamanya selama masa-masa sakitnya. Banyak relawan membelikan makanan atau mengantarkannya dari rumah sakit ke rumah dan sebaliknya.

Sebuah momen yang menyentuh

Meskipun Andrew dilahirkan di keluarga Kristen dan tumbuh besar di gereja, dia baru benar-benar “datang kepada iman” atau memahami betul imannya pada usia 16 tahun.

Dia ikut kelompok paduan suara lelaki di gereja dan lagu berjudul “So You Would Come” menyentuh hatinya:

Nothing you can do
Could make Him love you more
And nothing that you’ve done
Could make Him close the door

Tiada yang bisa kamu lakukan
Yang bisa membuat-Nya lebih mengasihimu
Dan tiada hal yang telah kamu lakukan
Yang bisa membuat-Nya menutup pintu untukmu

Kata-kata itu merobek hati Andrew seiring ia selalu berusaha melakukan hal-hal baik atau melayani di gereja untuk memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya.

Lirik lagu itu memberikan Andrew kebebasan. Andrew sadar bahwa Tuhan mengasihi-Nya dan tidak ada yang perlu ia lakukan untuk mendapatkan itu. Hanya oleh anugerah saja ia diselamatkan, bukan karena hasil usahanya. Kebenaran ini memberikan Andrew harapan, meskipun banyak dosa-dosanya, Tuhan tidak pernah berhenti mengasihinya.

Tetapi, perjalanan hidup setelahnya tidak selalu berjalan mulus.

Meskipun ia kuliah di jurusan Komunikasi dan Media Massa, ia bekerja di sektor perbankan setelah lulus karena bidang ini lebih menjanjikan secara finansial.

Angka-angka tidak membuatnya bergairah, tapi ia menggunakan uangnya untuk memenuhi dirinya dengan pengalaman. Andrew suka traveling untuk mengalami budaya ataupun makanan yang baru. Ia pun mendukung gereja dengan mendanai program misi.

Andrew bekerja berjam-jam untuk meraih karier di perusahannya. Kerja selama 12 jam menjadi normal. Jabatan terakhirnya adalah sebagai seorang manajer di perusahaan perbankan.

Tetapi, apa yang dipelajarinya pada usia 16 tahun tidak pernah luput dari hidupnya. Kedamaian yang datang dari keyakinan akan penerimaan penuh dari Tuhan dan kasih-Nya untuk dirinya, adalah kasih yang sama yang menjagai hatinya sekarang ketika Andrew harus bertarung melawan pertempuran yang lebih besar menghadapi kematiannya.


Andrew dan teman-temannya menolong pembangunan panti asuhan di Thailand

Berkat melalui iman

Di samping memiliki jaminan akan kedamaian dan kepastian bertemu Yesus di surga kelak, Andrew berkata bahwa imannya memberikan cara yang berbeda untuk mengatasi sakitnya.

“Ketika aku berseru pada Tuhan memohon pertolongan-Nya di malam hari karena sakitku, aku mendapati sakit itu berkurang ketika aku berfokus kepada-Nya dan aku pun tertidur nyenyak setelahnya,” kata Andrew.

Iman Andrew juga memampukannya melihat berkat yang timbul dari sakitnya, seperti mengetahui kapan ia akan meninggal, dan juga untuk pergi meninggalkan dunia ini dan melepaskan segala penyakit yang besertanya.

“Karena ini, aku bisa mempersiapkan kematianku, mengatakan apa yang perlu kukatakan dan melakukan apa yang perlu kulakukan.

Obat-obatan dan terapi juga menolongku untuk meninggalkan dunia dengan lebih nyaman dan tentunya dengan senyuman di wajahku.”

Belakangan ini, ia mulai mampu mengobrol dengan orang tuanya tentang apa yang akan mereka lakukan ketika ia telah pergi dan akan dijadikan apa nanti kamarnya.

“Adalah sebuah berkat untuk bisa berdiskusi tentang hal itu, karena mereka bisa bertindak dengan lebih jelas setelahnya,” kata Andrew yang sedang menyiapkan “kotak ajal” yang isinya adalah pesan selamat tinggal untuk orang-orang yang dikasihinya.

“Aku tidak percaya pemakaman yang menyedihkan. Aku mau pemakamanku nanti dipenuhi sukacita dan sekarang aku mau bertemu dengan orang-orang selagi aku bisa, untuk mengucap syukur dan menguatkan mereka yang penting buatku, juga menikmati makan bersama-sama,” ucapnya. Adrew suka memasak dan sering menggunakan hobinya ini untuk kegiatan penggalangan dana di gerejanya.

Hari-hari ini, ia mendapati dirinya tidak banyak berpikir tentang kematian, tetapi tentang hal-hal “jangka pendek” seperti kerinduannya makan sup iga.

Satu impian yang belum terlaksana bersama kedua teman dekatnya adalah membuat warung makan yang menyediakan sup untuk para pekerja migran atau orang-orang yang kekurangan.

“Jika aku diizinkan untuk menghidupi hidupku lagi, aku pikir bagian yang ingin aku ubah adalah aku ingin lebih terlibat di pelayanan sosial karena itu akan memberi dampak banyak pada kehidupan orang lain. Tapi, sekali lagi, aku tidak tahu. Aku adalah aku hari ini karena segala pengalaman di masa lalu yang telah membentukku.”

Permintaan terakhir

Keinginan terbesarnya adalah untuk terhubung kembali dengan orang-orang yang pernah mewarnai hidupnya, teman-teman sekolahnya yang sudah lama hilang kontak.

Ketika ditanya mengapa ia mau memprioritaskan waktunya untuk orang-orang yang tidak dekat dengannya, Andre berkata hatinya ada buat mereka. Andrew ingin mereka tahu tentang kedamaian yang hanya bisa didapat dalam Kristus.

“Entah mereka sibuk bekerja atau bergumul dalam masalah masing-masing, aku mau membagikan bahwa kedamaian inilah yang aku miliki bersama mereka. Jadi, ketika tiba saatnya kehidupan mereka berakhir, yang tentunya bisa terjadi kapan saja, mereka mengenal sebuah kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh uang, relasi, ataupun kekayaan.”

“Aku mau mereka mendengarku bukan sebagai seseorang yang meninggal, tetapi sebagai seseorang yang menanti mereka di surga dan rindu bertemu mereka kembali di surga kelak.”


Tangkapan layar dari status Facebook Andrew pada 16 Agustus 2019

Catatan:
Andrew telah meninggal dunia dengan tenang pada pukul 23:25 di tanggal 31 Agustus 2019.

Baca Juga:

Mengasihi Tuhan dengan Melakukan yang Terbaik dalam Pekerjaanku

Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang berdampak bagi banyak orang. Tapi, pertanyaan yang muncul di benakku adalah: “apakah yang aku kerjakan sudah memberi dampak ya?”

Belajar dari Perbedaan Suku: Kasih Mengalahkan Prasangka

Oleh Paramytha Magdalena, Surabaya

Saat SD dulu, aku bersekolah di SD swasta di dekat rumahku. SDku itu merupakan SD Katolik, tetapi murid-muridnya tidak hanya diisi oleh orang Katolik dan Protestan saja, ada dari agama-agama lain juga. Jika dilihat dari komposisi sukunya, kebanyakan teman-temanku berasal dari etnis Tionghoa, dan aku sendiri berasal dari etnis Jawa.

“Duh, ketemu dia lagi, dia lagi,” kataku saat bertemu temanku yang kebetulan adalah seorang keturunan Tionghoa.

Aku mengalami kesulitan untuk membaur dengan mereka. Di satu sisi, aku menganggap mereka dululah yang sulit membaur, dan aku pun memelihara persepsi buruk lainnya tentang mereka di benakku. Kesan buruk ini diperparah ketika aku duduk di bangku SMP. Waktu itu temanku yang adalah seorang Tionghoa sering menyuruh-nyuruhku seenaknya. Kami pun sempat bertengkar dan aku ditampar olehnya. Sejak saat itu, aku tak mau lagi berurusan dengannya. Aku lalu menganggap bahwa semua orang yang sesuku dengan temanku itu punya karakter yang sama.

Ketika masuk SMA, aku pindah ke sekolah negeri. Sekarang teman-temanku banyak yang satu suku denganku, dan aku pun senang. Begitupun selanjutnya saat aku kuliah S1 dan S2.

Hingga saat aku masuk dunia kerja, aku bertemu dengan seorang rekan Tionghoa. Pertemuan kami terjadi tidak sengaja karena aku dikenalkan oleh temanku. Kami menjadi kawan karena menyenangi aktivitas sosial kemasyarakatan seperti penyuluhan, edukasi, dan promosi tentang kesehatan. Jika dulu aku sempat berpikir buruk dengan rekan-rekan Tionghoaku, kali ini pikiran buruk itu pelan-pelan terkikis. Rekan Tionghoaku sekarang ini begitu ramah, ia selalu tersenyum kepada orang lain. Ia tidak segan memberikan apa yang jadi kepunyaannya untuk membantu orang lain dan dengan kerelaan hati, dia mengedukasi orang-orang tentang kesehatan. Aku pun dibuatnya kagum.

Seiring waktu, aku melihat pengabdian dan passion yang temanku itu curahkan. Ia mau mengasihi sesama, tidak mencari keuntungan pribadi, dan melayani tanpa melihat latar belakang orangnya. Ia memiliki klinik yang tak jauh dari rumahnya. Kliniknya kecil, tapi pasien yang antre di kliniknya banyak karena biaya berobatnya yang terjangkau. Yang paling mengejutkanku adalah ada seorang ibu dari keyakinan lain, yang pakaiannya sangat tertutup datang dan mengantarkan anaknya berobat di situ. Dari ruang tunggu pasien, aku mendengar mereka mengobrol akrab. Aku heran, tapi juga terpesona!

Pengalaman yang kulihat hari ini membuatku melihat kembali kesan buruk yang pernah kutorehkan kepada teman-temanku yang tidak sesuku denganku. Karena perbuatan buruk satu orang, aku pernah membuat generalisasi bahwa seseorang dari suku ini pasti melakukan itu. Padahal, itu adalah cara pikir yang tidak benar. Seharusnya tidak ada lagi ungkapan “Oh dia dari suku Jawa, Tionghoa, Batak”, dan lainnya. Atau berpikiran oh dia dari keyakinan yang berbeda, atau dia berkeyakinan sama. Apapun latar belakangnya, kita semua dikaruniai satu identitas kebangsaan: Indonesia, sebuah bangsa yang telah berkomitmen untuk bersatu. Berangkat dari pemahaman itulah aku mengubah cara pikir dan sikapku. Aku tidak lagi membeda-bedakan responsku hanya karena perbedaan suku maupun agama.

Kasih yang rekanku curahkan untuk sesamanya adalah sebuah cara yang ampuh untuk menghilangkan prasangka-prasangka buruk. Aku percaya, dari pelayanannya banyak orang-orang yang diberkati. Dan, sudah selayaknya kita semua yang mengaku murid Kristus menunjukkan kasih kita kepada sesama kita, mulai dari keluarga dan teman-teman di sepergaulan kita.

Memberikan stigma atau label negatif kepada orang lain tidak akan memberikan kedamaian bagi kita. Segala perbedaan yang ada di Indonesia, dengan lebih dari 700 suku, adalah sebuah keanekaragaman yang memperkaya Indonesia sebagai bangsa yang besar yang punya komitmen Bhinneka Tunggal Ika.

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18).

Baca Juga:

Skripsi, Garis Akhir Perjuangan Kuliah yang Kulewati Bersama Tuhan

“Kalau saya boleh jujur, skripsimu tidak layak untuk maju sidang.”

Aku tertegun, sedih, juga bingung mendengar kalimat itu. Perjalananku menuntaskan skripsiku rasanya begitu terjal dan melelahkan, tetapi Tuhan terus menopangku hingga perjuangan itu berbuah manis. ”

Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Harapan Kita

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

Pernahkah kamu menemukan dirimu kecewa dengan kenyataan hidup yang tidak sesuai rencanamu? Mungkin ketika pengumuman penerimaan mahasiswa diumumkan, dan namamu tidak ada di daftar calon mahasiswa yang diterima di kampus impianmu. Mungkin ketika kamu sudah belajar dengan giat dan tekun, namun nilai yang keluar jauh di bawah harapanmu. Mungkin ketika kamu lulus kuliah dan siap memulai profesi yang kamu inginkan, namun akhirnya terpaksa bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan bidangmu karena sudah terlalu lama menganggur. Atau mungkin ketika kamu berpikir bahwa kamu sudah menemukan si dia yang tepat untukmu, namun ternyata dia tidak berpikir hal yang sama.

Aku juga pernah. Dan, aku pikir kita semua pasti setidaknya pernah sekali menemukan diri kita dalam salah satu kondisi di mana hidup berjalan di luar kendali kita. Ini bukan hidup yang kita pikirkan, ini bukan jalan yang kita inginkan. Ketika saat-saat seperti itu tiba, seringkali kita bertanya kepada Tuhan: “Mengapa?”

Tentang Ekspektasi

Sebagai manusia, kebanyakan kita lahir dalam ekspektasi orang tua dan lingkungan sekitar. Pertanyaan yang lazim ditanyakan kepada anak-anak kecil adalah cita-cita mereka; apa yang ingin mereka lakukan ketika mereka dewasa. Kita bertumbuh dalam ekspektasi, hingga kita pun belajar berekspektasi, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain. Ekspektasi, yang dalam KBBI diartikan sebagai harapan, tentu bukan hal yang buruk atau jahat. Bukanlah hal yang salah jika kita mengharapkan sesuatu yang baik terjadi pada diri kita sendiri atau orang lain.

Sebagai makhluk yang berekspektasi, kita tentu membuat rencana untuk bisa mencapai ekspektasi kita sedemikian rupa. Jika kita ingin masuk ke sekolah atau kampus tertentu, maka kita akan belajar, mendaftarkan diri ke sekolah atau kampus tersebut, mengikuti prosedur penerimaan peserta didik, dan seterusnya. Kita ingin bekerja pada profesi tertentu, maka kita akan memilih program studi yang sesuai, berusaha memenuhi kriteria yang dibutuhkan, melamar ke profesi tersebut, dan seterusnya. Namun, hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan. Ada kalanya, ketika kita sudah berusaha menjalankan seluruh upaya yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan apa yang kita harapkan, namun kenyataan berkata sebaliknya. Kita gagal mendapatkan hasil yang sesuai dengan ekspektasi kita.

Ketika hal itu terjadi, sebagai manusia biasa, kita pasti merasa sedih dan terpukul. Apalagi jika hal itu adalah hal yang sudah kita nanti-nantikan sejak lama. Ada harapan yang dipupuk, ada upaya yang diperjuangkan. Namun, semuanya seperti sia-sia. Kita sedih, bahkan marah. Kita pikir ini adalah hal yang baik bagi kita, tapi mengapa Tuhan tidak memberikannya?

Hal pertama yang harus kita renungkan bersama adalah hati kita dapat menipu diri kita sendiri. Dalam Yeremia 17:9 tertulis demikian:

“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?”

Sebagaimana seluruh manusia di dunia, kita sudah jatuh dalam dosa. Dosa juga mencemari pikiran, ekspektasi, dan ambisi kita; membuat kita kerap berpikir bahwa rencana kita adalah rencana terbaik, dan Tuhan sebaiknya mengikuti rencana yang kita buat. Padahal, seringkali hal yang kita inginkan bukanlah suatu hal yang benar-benar terbaik bagi kita.

Kebenaran inilah yang seharusnya menjadi kesadaran awal kita ketika kita tidak mendapatkan segala sesuatu yang kita harapkan. Hati dan pikiran manusia terbatas, kita hanya bisa melihat hal-hal yang ada di depan kita. Namun Allah, Pencipta Semesta dan Pemilik Hidup kita, melihat segala sesuatu dengan jelas dari “atas sana”. Mungkin pekerjaan-Nya dalam hidup kita saat ini sulit untuk kita pahami. Tapi satu hal yang pasti, Dia memiliki rancangan besar (Master’s Plan) bagi kita.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:8-9).

Mempercayai janji Tuhan memang tidak membuat segalanya menjadi lebih mudah. Keadaan tidak berubah: kita masih tidak masuk ke kampus impian, atau nilai kita masih tidak sesuai harapan kita, atau kita masih bekerja di tempat yang tidak kita inginkan, atau kita pun masih hidup sendiri. Namun, kita bisa mempercayai bahwa Allah adalah Penulis yang Agung, menuliskan detail-detail terkecil dalam hidup kita untuk akhir yang indah. Kita mungkin tidak memahami mengapa hal-hal ini terjadi, namun kita dapat percaya bahwa Tuhan memiliki tujuan yang mulia terhadap kekecewaan yang kita alami.

Ketika Tuhan berkata tidak

Walau demikian, kita tidak perlu menahan kesedihan dan kekecewaan ketika menemukan kegagalan atau hidup tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. Dalam artikel berjudul “When God Says “No”: Dealing with Disappointment”, MarryLynn Johnson menulis:

“It’s not wrong to experience disappointment when life does not unfold the way we hope. If we do not give ourselves permission to grieve, we inadvertently believe that God is more concerned with us immediately feeling better, rather than working through the hurt to bring real transformation to our heart. We lose sight of the invitation he has given us to place our struggles at his feet.

Bukan hal yang salah untuk kecewa ketika hidup tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. Jika kita tidak memberikan diri kita izin untuk berduka, secara tidak sengaja kita percaya bahwa Tuhan lebih menginginkan kita sesegera mungkin merasa lebih baik, daripada bekerja melalui rasa kecewa kita untuk membawa transformasi ke dalam hati kita. Kita tidak dapat melihat undangan yang diberikan oleh-Nya untuk meletakkan segala pergumulan kita di bawah kaki-Nya.

Kecewa dan sedih adalah reaksi yang manusiawi, dan adalah hal yang baik untuk menerima perasaan tersebut dengan jujur di hadapan Tuhan. Menerima kesedihan, kemarahan, dan ketakutan adalah langkah yang penting untuk menjaga emosi kita tetap sehat. Dalam buku berjudul Emotionally Healthy Woman, Geri Scazzero dan Peter Scazzero, menuliskan langkah-langkah yang dapat kita ambil ketika menghadapi kesedihan, kemarahan, dan ketakutan. Pertama-tama, kita harus menantang atau confront apa yang kita rasakan. Resapi dan dalami perasaan tersebut, terima dan akui bahwa kita memang merasa sedih, marah, atau takut. Kemudian, ambillah waktu untuk merenung dan membedah perasaan sedih atau marah kita, tanyakan kepada diri kita sendiri: “Mengapa aku merasa sedih atau marah?” Terus dalami perasaan kita hingga kita menemukan akar dari kesedihan atau kemarahan kita. Jujurlah kepada diri kita sendiri di hadapan Tuhan. Dalam artikel berjudul “When the Future You Planned for Never Comes”, Bryan Stoudt menulis:

When we’re struggling with the rocky path God has placed before us, we don’t need to pretend we don’t struggle. God invites us to bring our sorrows and confusion to our Father. As Paul Miller puts it, “The only way to come to God is by taking off any spiritual mask. The real you has to meet the real God.”

Ketika kita bergumul dengan jalan berbatu yang Tuhan tempatkan di hadapan kita, kita tidak perlu berpura-pura baik-baik saja. Tuhan mengundang kita untuk membawa kesedihan dan kebingungan kita kepada Bapa. Seperti yang ditulis oleh Paul Miller, “Satu-satunya jalan untuk datang kepada Tuhan adalah dengan melepaskan topeng spiritual apapun. Dirimu yang sejati harus berjumpa dengan Tuhan yang sejati.”

Seperti kata-kata Paul Miller, jika kita ingin berjumpa dengan Allah yang sejati, maka kita harus menjadi diri kita yang paling sejati. Barulah dengan demikian pemulihan dapat terjadi. Terakhir, kita bisa membawa segala hasil perenungan kita keapda Allah dan mempercayai janji-Nya bagi kita. Firman Tuhan cukup untuk menjawab seluruh pergumulan kesedihan, kemarahan, dan ketakutan kita.

“Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mazmur 34:18-19).

Tiada kekuatan yang lebih menopang daripada kekuatan dari firman Allah, dan tiada penghiburan yang lebih menghibur daripada penghiburan dari janji Allah.

Jaminan akhir yang bahagia

Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan atau ekspektasi kita. Menerima kebenaran ini akan mengurangi beban hidup kita, karena terkadang yang menyakiti kita bukanlah kenyataan hidup, tetapi ekspektasi kita pribadi. Dalam hidup di dunia, kita akan senantiasa bergumul dengan ketidakpastian, impian-impian yang tidak terwujud, ataupun rencana-rencana yang tidak tercapai. Namun, satu hal yang pasti, kita memiliki akhir yang bahagia di kehidupan di Rumah Bapa.

I’m still in the middle of my story. So are you. While none of us know the joys and trials we have yet to encounter, we do know that Jesus will be with us through them all. And we can be confident that one day, after the last chapter is written, our story will be tied up with a bow in the most glorious way possible. [Dikutip dari tulisan Vanessa Rendall]

Kita memang masih berada di tengah-tengah cerita besar Allah bagi hidup kita. Tiada dari kita yang tahu sukacita dan ujian yang mungkin akan kita hadapi ke depannya, namun satu hal yang kita tahu pasti bahwa Yesus senantiasa bersama dengan kita melewati semuanya. Dan kita dapat dengan yakin percaya bahwa suatu hari nanti, setelah bagian terakhir ditulis, cerita kita akan terbungkus manis dengan pita yang cantik di dalam cara yang paling mulia.

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Meneladani Sang Konselor Sejati

Sang Konselor Sejati terlebih dahulu memulihkan hidupku dengan berbicara lewat firman-Nya dalam Alkitab dan memberiku kekuatan lewat doa, sehingga aku dimampukan untuk menjadi konselor bagi orang lain.

Tuhan Merangkai Cerita yang Indah dalam Keluargaku

Oleh Gina*, Yogyakarta

Aku mempunyai keluarga yang utuh. Kami tinggal di bawah satu atap—ayah, ibu, dua kakak perempuan yang sudah berumah tangga, dan aku. Kami sering berkumpul dan makan bersama, bahkan saling bercerita satu sama lain. Melihat kebersamaan keluarga kami, aku berpikir bahwa ini adalah waktu di mana ayah dan ibuku dapat menikmati masa tua mereka bersama anak cucunya.

Namun, keluargaku mengalami pergumulan hebat di akhir tahun 2018. Ayah dan ibuku hampir setiap hari bertengkar. Hal kecil menjadi besar dan hal besar semakin menjadi-jadi. Aku seperti dibawa ke dalam ingatan masa lalu. Ketika aku duduk di bangku sekolah dasar, seringkali aku melihat orang tuaku bertengkar sampai ibuku menangis. Tidak ada yang bisa kulakukan, hingga aku harus kembali menyaksikan kejadian serupa setelah sekian waktu lamanya mereka tidak bertengkar. Aku mengira bahwa ketika usia mereka semakin tua, mereka akan semakin rukun. Nyatanya, bukan itu yang terjadi. Keadaan ini hampir membuatku membenci ayah dan ibuku.

Suatu hari, ayah dan ibuku kembali bertengkar. Meskipun aku termasuk anak yang cuek di mata mereka, namun percayalah, hatiku hancur melihatnya. Mereka bertengkar tentang hal yang sama, yang bagiku terkesan konyol. Ayahku menuduh Ibu berselingkuh, meski pada kenyataannya Ibu tidak berselingkuh. Ketika mereka bertengkar, aku berdiam diri dan memilih masuk ke dalam kamar sambil mencoba mendengarkan perdebatan mereka. Pertengkaran itu berlangsung cukup lama, sampai ayahku jatuh sakit karena memikirkan hal tersebut. Aku juga sering melihat raut wajah Ibu yang sedih dan enggan untuk makan.

Awalnya aku berpikir bahwa ini hanyalah pertengkaran biasa. Namun, perkiraanku salah. Ayah mengumpulkan kami, ketiga anaknya, lalu bercerita tentang kegelisahan hatinya—demikian juga Ibu. Mereka menyalahkan satu sama lain, bahkan sampai menggunakan ayat Alkitab dalam perdebatannya.

Tibalah di satu titik di mana Ayah mengatakan bahwa ia ingin berpisah dengan Ibu. Seketika itu juga, aku ingin menangis dan marah karena aku tidak menyangka Ayah akan memikirkan dan mengatakan hal itu. Namun, aku menahan tangisku dan memilih untuk memberanikan diri berbicara dengan mereka. Hati kecilku tidak tahan memendam perasaan kecewa hingga aku berkata kepada Ayah, “Jika Ayah mengenal soal kasih, seharusnya Ayah tidak melakukan perpisahan. Kasih itu tidak pendendam, tidak pencemburu, tidak egois. Sama seperti yang Tuhan Yesus katakan.”

Setelah itu, aku pergi dan masuk ke dalam kamar. Aku menangis dan berbicara kepada Tuhan, “Mengapa hal ini terjadi dengan keluargaku? Padahal, Tuhan sedang menempatkan aku di pelayanan keluarga, dimana aku harus melayani keluarga lain. Bagaimana bisa aku melayani keluarga lain jika keluargaku saja hancur? Apa yang Tuhan mau?”

Mungkin aku terdengar seperti sedang marah. Tetapi, di saat aku hancur dan sedih, aku merasa Tuhan mengingatkanku akan suatu hal. Tuhan mengizinkan hal ini terjadi dalam keluargaku bukan sekedar untuk pertumbuhan keluargaku, tetapi Ia juga memiliki tujuan besar untuk memulihkan keluarga lain melalui apa yang keluargaku alami. Saat itu juga hati kecilku tahu, bahwa Tuhan berjanji ayah dan ibuku tidak akan berpisah. Keyakinanku diperkuat melalui firman Tuhan dalam Roma 8:28 yang berkata:

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

Saat mendapatkan ayat tersebut, Tuhan mengingatkanku bahwa melalui setiap badai kehidupan yang datang, Tuhan tidak hanya ingin membuat kita belajar untuk mengenal kasih Allah. Lebih dari itu, Tuhan memiliki tujuan besar, yaitu untuk keselamatan orang banyak. Tuhan dapat memakai masalah yang kita alami untuk memberkati orang lain yang mengalami pergumulan yang sama. Nyatanya, melalui kejadian ini aku semakin mengerti tentang pergumulan dalam keluarga yang memampukanku untuk melayani keluarga lain sesuai yang Tuhan inginkan.

Ketika mendapatkan jawaban itu, aku berdoa pada Tuhan dan berserah sepenuhnya pada rencana Tuhan. Aku selalu percaya pada janji-Nya, walaupun aku harus terlebih dahulu mengalami musim yang menyakitkan. Ketika aku terus bergumul, Tuhan melepaskan kedamaian bagi keluargaku. Kata “pisah” yang pernah dikatakan Ayah tidak pernah terdengar lagi. Lebih dari itu, kedua orang tuaku saling meminta maaf satu dengan yang lain.

Tuhan Yesus hebat! Pesanku untuk teman-teman semua adalah, biarkan Tuhan merangkai cerita melalui setiap musim kehidupan yang ada. Ketika kita mengalami pergumulan, saat itulah Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk dipakai dalam pelayanan bagi-Nya. Tuhan rindu untuk memakai kita menjadi saluran berkat-Nya bagi orang lain yang butuh lawatan kasih-Nya. Tuhan memampukan kita untuk melakukan panggilan-Nya. Amin.

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” Ayub 42:2.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Ayah, Terima Kasih untuk Teladanmu

“Bapak”, demikian aku memanggilnya. Dia adalah sesosok istimewa di hidupku, yang melalui kehadirannya aku dapat melihat pantulan kasih Bapa Surgawi.