Posts

Apakah Sakit Kankerku Merupakan Bagian dari Rencana Tuhan?

Oleh Debra Hunt, Selandia Baru
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Can Cancer Be Part Of God’s Plan?

Satu kalimat yang tak pernah ingin kudengar: “Kamu terkena kanker.”

Usiaku 31 tahun ketika aku menerima diagnosis mengejutkan itu. Aku dan suamiku dikaruniai tiga orang anak yang masih kecil dan aku bekerja sebagai pendeta bagi anak-anak di gerejaku.

Kanker payudara tidak pernah menjadi rencanaku selama lima tahun, atau rencana-rencana lain yang kubuat dalam hidup. Aku tidak merokok, tubuhku rasanya sehat dan bugar, pun tak ada catatan sejarah keluargaku yang mengidap kanker payudara.

Namun, terlepas dari semua fakta itu, aku mendapati diriku terduduk di ruangan berdinding hijau, mendengarkan dokterku menjelaskan seberapa jauh kankerku sudah menyebar. Kankerku tidak terdeteksi sejak awal, dan berkembang lumayan cepat, jadi sang dokter menyarankan perawatan yang kulakukan meliputi operasi, kemoterapi, radiasi, dan terapi endokrin* selama 10 tahun. Dia memprediksi jika aku bisa melalui semua perawatan itu, aku punya 75 persen kesempatan hidup selama lima tahun ke depan.

Minggu-minggu setelahnya, pelan-pelan aku melepaskan segala impian dan harapanku untuk masa depan, termasuk juga impianku untuk gereja tempatku bekerja dan melayani.

Hidupku terganggu. Aku mendapati diriku bertanya, “Tuhan, kenapa? Mengapa Engkau mengizinkan ini terjadi atasku? Mengapa Engkau izinkan kanker merenggutku dari sesuatu yang Kau inginkan untuk aku raih?”

Jemaat gereja mendoakanku. Aku berdoa untuk diriku sendiri, memohon supaya Tuhan menyembuhkanku.

Yang kurasakan saat itu adalah Tuhan cuma ingin aku percaya pada jalan yang Dia rancangkan. Ya, aku tahu Tuhan bisa menyembuhkanku, tapi maukah aku tetap percaya jika Dia tidak melakukannya?

Butuh berminggu-minggu buatku untuk menerima kenyataan jika seandainya aku tidak sembuh. Namun, setelah berlinangan air mata, aku sadar seharusnya responsku adalah: “YA!” Ya, aku harus percaya Tuhan, sekalipun Dia tidak mengambil kanker ini dari tubuhku. Alkitab berkata Tuhan itu dapat dipercaya, dan aku memilih untuk percaya pada-Nya. Aku meletakkan imanku pada-Nya karena aku tahu Dia selalu peduli padaku. Aku bersandar pada sebuah ayat favoritku, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).

Aku memutuskan untuk berhenti meminta Tuhan seketika menyembuhkanku, melainkan aku memohon supaya aku dikuatkan dan percaya pada-Nya melalui setiap proses perawatan yang kulakukan.

Berkat-berkat tidak terduga

Apa yang kudapati sepanjang proses perawatanku adalah: meskipun rasanya sulit, Tuhan melimpahkan berkat-Nya dalam perjalananku ini.

Ketika aku pikir aku akan segera meninggal, dunia menjadi terlihat amat indah. Teringat akan kematianku sendiri, aku jadi melakukan segala sesuatu seolah itu adalah hal terakhir yang bisa kulakukan.

Aku berjalan menuju pintu di pagi hari dan terkagum akan embun yang menetes dari dedaunan, sinar mentari yang menyelinap di antara batang-batang pohon, dan bunga-bunga yang terkatup saat malam namun mekar merona kala fajar sambil disinari cahaya surya yang benderang. Keindahan di sekelilingku menjadi amat indah. Hidupku yang terancam oleh kematian membawaku untuk lebih bersyukur atas keindahan ciptaan-Nya; aku bisa melihat karya tangan Tuhan yang ajaib di mana-mana.

Aku juga diberkati dengan kedekatan yang istimewa dengan Yesus. Aku terkejut, karena aku merasa tidak seperti berjalan bersama-Nya di masa-masa berat ini… aku merasa Yesus menggendongku. Sejujurnya aku adalah orang yang pesimis dan agak negatif, tapi rasanya Yesus telah menolongku untuk merasa lebih positif dan optimis daripada hidupku yang biasa. Ya, menjalani hidup seperti ini masih terasa seperti tantangan sepanjang waktu, tapi aku selalu merasa Tuhan ada bersamaku, dan ada kedamaian tak terkatakan dalam hatku.

Menderita kanker juga membuka kesempatan bagiku untukku membagikan kisah kasih Tuhan. Aku diundang berbicara di beberapa acara, juga menulis di blog. Semua itu tak cuma menolongku untuk menikmati pengalamanku sendiri, tetapi mengizinkanku untuk bicara tetang hidup dan harapan yang orang-orang lain belum dapat memilikinya saat ini.

Kanker bukanlah rencana yang baik

Apakah berkat-berkat tak terduga yang kutuliskan di atas artinya kanker adalah rencana yang baik dari Tuhan? Kupikir tidak.

Ketika Tuhan membuat segala sesuatunya baru, di sana tidak akan ada lagi kesakitan dan kesedihan (Wahyu 21:4). Kanker bukanlah rancangan Tuhan bagi umat manusia, dan kanker tidak akan menguasai manusia selamanya—Tuhan kelak akan mengakhirinya. Tapi, sayangnya, untuk saat ini, kanker ada dalam hidup manusia, berkembang dalam tubuh, dan mempengaruhi banyak aspek kehidupan mereka yang menderitanya.

Seiring aku melanjutkan perjuanganku melawan kanker, aku tahu Tuhan tidak sedang duduk diam di surga sembari berkata supaya aku tetap kuat. Tuhan ada di sisiku, mengusap tetesan air mataku dan menguatkan tubuhku yang rapuh.

Aku yakin akan hal ini karena Yesus berbelas kasih atas ciptaan-Nya. Ketika Lazarus meninggal, Yesus menangis dan larut dalam sedih—meskipun Dia tahu akhir ceritanya akan bahagia! Yesus tahu Dia dapat membangkitkan Lazarus dari kematian, namun Dia mengizinkan diri-Nya diliputi kesedihan (Yohanes 11:35). Jadi, aku tahu bahwa menyakitkan pula bagi Tuhan untuk melihat ciptaan-Nya menderita dan kesakitan, rapuh, dan tak berdaya.

Kanker bukanlah rencana Tuhan. Itu adalah hasil dari dunia yang telah jatuh dalam dosa. Namun suatu hari kelak, Yesus akan mengakhiri segala kanker untuk semua orang.

Untuk saat ini, aku percaya Tuhan dapat menggunakan penyakit mengerikan ini untuk melakukan hal-hal menakjubkan. Meski aku mungkin terguncang karena kanker, Tuhan tidak. Tuhan sudah mengetahui Dia ingin memberikan sesuatu yang indah bagiku. Tuhanlah yang akan mengganti debu dengan mahkota yang indah, dan mengubah dukacita menjadi sorak sukacita (Yesaya 61:3, Mazmur 30:11). Kita bisa berhenti resah dan percaya pada-Nya, sebagaimana tertulis dalam Matius 6:25-27 dan Filipi 4:6-7.

Satu tahun telah berlalu dari perawatan yang kulalui, dan puji Tuhan keadaanku baik. Aku masih bergumul dengan kesehatanku, efek samping pengobatan, dan kekhawatiran apabila kankerku kembali. Tapi, aku amat bersyukur atas setiap kebaikan yang Tuhan telah lakukan dan yang akan Dia terus lakukan sepanjang perjalanan hidupku.

Kanker, sakit, atau penderitaan bukanlah rancangan yang Tuhan ingin berikan buatmu. Jika saat ini kamu menghadapi masa-masa yang sulit atau sedang berjuang melawan sakit, maukah kamu bersama denganku percaya pada-Nya, bahwa Tuhan mampu menggunakan keadaan kita yang buruk sekalipun untuk kebaikan?

*Terapi endokrin adalah terapi hormon untuk memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker.

Baca Juga:

Karuna Sankara, Ini Suratku Untukmu

Karuna, bayi perempuan mungil yang jadi hadiah luar biasa bagi pernikahan kami dari Tuhan. Namun, kami harus belajar untuk melepasnya. Inilah pergumulan amat berat yang harus kami lalui.

Virus Wuhan: Tinggal di “Kota Hantu” dan Diliputi Ketakutan

Oleh Kim Cheung, Tiongkok
Gambar diambil dari screenshot video
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 疫情蔓延的当下,我们的盼望在哪里?

Waktu terasa berjalan amat lambat belakangan ini.

Tulisan ini kutulis dari provinsi Jiangsu, tempat tinggalku. Ini adalah hari ketiga perayaan Tahun Baru Imlek (27 Januari 2020)—waktu di mana kami seharusnya sibuk mengunjungi sanak famili dan teman-teman. Namun kenyataannya, kami hanya terduduk di rumah sambil terus memantau keadaan terkini dari media sosial tentang penyebaran virus Corona. Bahkan hanya untuk turun tangga dan singgah ke warung pun rasanya luar biasa cemas.

Delapan hari telah berlalu sejak media resmi mulai memberitakan penyebaran virus Corona. Ketika aku pertama melihat beritanya di 20 Januari, kupikir ini bukan masalah serius. Aku malah janjian dengan dua temanku yang baru pulang dari Eropa untuk bertemu merayakan tahun baru Imlek. Namun hari ini, semua janji pertemuan telah kubatalkan. Aku sudah bersiap tidak meninggalkan rumah atau mengunjungi siapa pun selama dua minggu ke depan.

Virus Corona menyebar lebih cepat dari yang dibayangkan. Hanya semalam, kemudian dikonfirmasi bahwa virus itu dapat menular dari manusia ke manusia. Semua masker ludes. Kota Wuhan bak kota mati. Supermarket kosong… Rumor dan berita-berita yang tidak jelas bertebaran ke mana-mana, membuat orang semakin takut. Berselancar di media sosial, update berita terbaru muncul hampir tiap detik. Namun, berapa jumlah sebenarnya orang yang tertular tidak ada angka yang valid. Berapa orang yang sudah meninggal? Berapa orang yang sungguh terinfeksi? Tidak ada yang tahu pastinya.

Hanya beberapa hari lalu, aku masih bisa melihat banyak orang di jalanan, tapi hari ini, jalanan kosong, kotaku seperti kota hantu. Hampir semua orang panik, dan orang-orang tua mulai berdiskusi tentang seberapa mengerikannya virus itu.

Kami tidak tahu seberapa berbahayanya virus Corona. Beberapa ahli dari Hong Kong mengindikasikan bahwa kekuatan virus kali ini 10 kali lebih kuat daripada SARS, sementara beberapa ahli lain mengatakan bahwa wabah kali ini tidak separah yang dulu. Saat ini, asal mula virus belum terkonfirmasi (meski ada yang bilang bermula dari pasar hewan di Wuhan). Spekulasi lainnya mengatakan periode inkubasi virus bisa berlangsung sampai 14 hari, dan virus ini bisa menyebar juga selama masa inkubasi—semua hal ini menambah ketakutan dan kepanikan.

Dua hari lalu, aku melihat temanku membagikan bagaimana kondisi sebenarnya di banyak rumah sakit di Wuhan, dan hatiku tersayat. Rumah sakit di sana dijejali orang-orang sakit yang tak terlayani. Para dokter dan suster tak punya perlindungan yang cukup atau pun masker, dan mereka tidak bisa beristirahat sewajarnya, bahkan hanya untuk makan siang pun sulit. Suplai makanan terbatas. Para pekerja medis kelelahan karena beban kerja mereka melonjak tajam, dan hanya bisa makan sehari sekali—itu pun hanya mie instan. Dan, para suster di sana berlinangan air mata.

Hatiku berduka. Rasanya tak sanggup buatku menonton berita di TV. Bagaimana bisa seseorang tak bersedih menghadapi situasi ini? Selain berdoa, rasanya tak ada hal lain yang bisa kami lakukan.

Siang hari ini, aku mendengar dua kenalanku, orang Kristen di Wuhan, mengalami demam. Besar kemungkinan mereka telah terinfeksi virus Corona. Hatiku semakin berat. Bagaimana kelak masa depan? Akankah virus ini menjadi bencana dunia? Apakah ini sungguh kiamat? Deretan pertanyaan ini membuatku semakin khawatir dan tak berdaya.

Namun, saat ini dunia hanya mampu memberikan jawaban berupa kepanikan dan putus asa, padahal yang sejatinya dibutuhkan adalah harapan yang teguh. Ketika kita harap-harap cemas akan bagaimana obat dan vaksin untuk mengentaskan wabah ini, apakah kita juga sebagai anak Tuhan kehilangan harapan dan putus asa? Jika harapan kita hanya disandarkan pada hal lahiriah, apakah bedanya kita dengan mereka yang tidak percaya? (Roma 8:24).

Ketika kita diselimuti kepanikan dan putus asa, kita seharusnya berpegang lebih erat kepada Tuhan dan firman-Nya. Hanya Tuhanlah harapan kita. Kiranya kebenaran-kebenaran ini menguatkan kita:

Tuhan memegang kendali

Meskipun situasi tampaknya mengerikan, hal yang teramat pasti adalah Tuhan kita memegang kendali. Meskipun Si Jahat ingin mencuri dan melenyapkan kehidupan, Tuhan tetap memegang kendali penuh. Tanpa seizin-Nya, tak ada satu hal pun dapat terjadi. Jika Tuhan tidak mengizinkan, sehelai rambut di kepala kita pun takkan jatuh ke tanah (Lukas 12:6-7). Ketika aku berpegang pada kebenaran ini, aku merasa terhibur.

Tuhan tidak pernah meninggalkan kita

Tuhan telah berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita. Bahkan di tengah pencobaan dan kesakitan, Tuhan senantiasa beserta kita. Dan, Dia pun akan menyelamatkan kita pada akhirnya (Yohanes 6:37).

Karena aku tahu Dia ada bersama kita, kita tidak perlu takut atau khawatir (Matius 10:28). Meskipun virus ini mengerikan, Pencipta surga dan bumi ada bersama kita, dan kita mampu beroleh damai sejahtera.

Tuhan akan memberikan jalan keluar

Ketika kita merasa takut dan panik karena kabar-kabar yang terus berdatangan, marilah kita berpegang teguh pada janji Tuhan. Tuhan tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita (1 Korintus 10:13). Dia akan memberikan jalan keluar supaya kita mampu mengatasinya.

Hendaknya kita pun senantiasa berdoa. Meskipun banyak gereja di Tiongkok membatalkan kegiatan mereka demi keamanan, kami masih bisa berkumpul dengan keluarga dan berdoa. Ketika aku mempelajari Lukas 4:17-22 siang ini, aku sekali lagi menyadari apa sesungguhnya Injil itu.

Injil yang Yesus Kristus wartakan adalah tentang keselamatan kita. Namun, sebagai pendosa, kita lebih tertarik kepada kedagingan kita. Aku menyadarinya sedari berita tentang wabah virus Corona merebak, aku begitu terpaku pada notifikasi di ponselku, terus merefresh berita-berita terbaru. Tapi, banyak berita yang kubaca rupanya malah hoaks dan tak berdampak apa-apa selain menambah panik. Mengapa aku tidak meluangkan lebih banyak waktuku untuk berdoa dan berpegang pada firman-Nya lebih lagi?

Aku mengajakmu untuk bersama-sama mendoakan kota Wuhan dan orang-orang yang terinfeksi di Tiongkok dan seluruh dunia. Menemukan pengobatan untuk virus Corona adalah baik, tetapi itu hanya menyelesaikan penderitaan secara fisik. Tidakkah kita juga berfokus mendoakan agar mereka yang belum mengenal Kristus dapat mengenal-Nya dan beroleh keselamatan yang kekal?

Kiranya Tuhan menguatkan hati kita, teruntuk bagi kami di Tiongkok yang harus mendekam di rumah kami masing-masing. Kiranya kita semakin mengenal Tuhan, demikian juga dengan orang-orang di Tiongkok.

Tuhan masih memegang kendali. Janji Tuhan tak pernah gagal. Kehendak-Nya dinyatakan di atas bumi.

“Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir” (1 Petrus 1:5).

Baca Juga:

Apakah Kekristenan Itu Hanyalah Sebuah Garansi “Bebas dari Neraka”?

Kekristenan itu sederhana, bukan? Ayat Alkitab seperti Yohanes 3:16 menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang Kristen kita hanya perlu percaya kepada Tuhan, dan kelak saat meninggal kita akan masuk surga (tempat yang baik), bukan neraka (tempat yang buruk). Bukankah kekristenan pada dasarnya adalah semacam asuransi kehidupan yang dampaknya baru akan kita rasakan suatu hari kelak (semoga masih lama) setelah hidup kita di dunia ini berakhir?

Jadilah Tuhan, Kehendak-Mu

Oleh Tetti Manullang, Bekasi

Aku seorang mahasiswa S2 jurusan Science Accounting di Yogyakarta. Iklim belajar di kampus ini jauh berbeda dengan kampus S1-ku di Jakarta, sehingga tahun pertama studi master menjadi masa tersulit dalam hidupku.

Sebelum masuk kelas, kami diharuskan untuk memahami materi kuliah terlebih dahulu untuk bisa mengikuti proses diskusi di kelas. Resume perkuliahan, presentasi, serta review artikel dari jurnal internasional menjadi santapanku setiap minggu. Oh, masih ditambah lagi dengan tugas akhir berupa proposal untuk setiap mata kuliah yang ada.

Hasil studiku di semester pertama sangat jauh di bawah harapan. Aku sudah berupaya sekuat tenaga untuk mengikuti ritme perkuliahan, tetapi tetap saja aku tertinggal dari teman-temanku. Aku merasa gagal dan kecewa. Aku takut beasiswaku dicabut, mengingat ada standar nilai minimal yang harus dicapai di tiap semester.

Keadaan ini membuatku semakin giat dan semangat untuk memperbaiki nilaiku di semester berikutnya. Tidur pagi dan kembali bangun di pagi yang sama sudah menjadi suatu hal yang biasa bagiku. Aku menghabiskan akhir pekan dengan belajar di kamar atau perpustakaan. Kadang aku juga belajar kelompok bersama teman-temanku sampai malam di kampus.

Hubungan pribadiku dengan Tuhan masih terjaga, tetapi hanya secara kuantitas. Waktu untuk saat teduh dan berdoa selalu kusediakan, tetapi hanya menjadi rutinitas yang tidak terlalu berarti. Bahkan, aku terlibat dalam pelayanan sebagai BPH di Keluarga Mahasiswa Kristen Pascasarjana di kampusku. Namun, karena tuntutan perkuliahanku yang tinggi, aku hanya mengerjakan tugasku secara teknis tanpa merasakan pertumbuhan apapun. Aku sama sekali tidak menikmati pelayananku. Pergi ke gereja menjadi prioritas terakhir kala itu, mungkin hanya 4 atau 5 kali dalam setahun. Aku tidak mau membiarkan waktu belajarku terbuang sedikitpun. Hidupku hanya didedikasikan untuk kepentingan akademis.

Memasuki semester 4, tahap pengerjaan tesis dimulai. Berkat bimbingan seminggu sekali dengan dosen pembimbingku, Pak Ertambang Nahartyo yang disapa Pak Er, proposalku selesai dengan cepat.

Pada hari Kamis yang cukup santai, pikiranku melayang pada ketiak sebelah kananku bagian bawah yang sudah sebulan ini terasa sangat pegal. Awalnya, kukira rasa pegal itu akibat aku sering membawa buku dan laptop yang cukup berat. Namun, aku mulai curiga ketiga mendapati adanya benjolan di area tersebut. Aku pun browsing untuk mencari informasi, kutemukan banyak saran untuk memeriksakan diri ke dokter onkologi. Segera aku menelepon dokter onkologi di Yogya dan membuat janji konsultasi. Jadwalnya masih dua minggu lagi. Berjaga-jaga jika bukan kabar baik yang kuterima, aku memesan tiket ke Jakarta satu hari setelah jadwal konsultasiku agar bisa ditemani keluarga selama melakukan pengobatan.

Aku menarik napas dalam-dalam. Dadaku terasa sesak dan aku menangis dengan suara keras. Sudah kucoba menutup mulut dengan kedua tanganku, tetap saja tidak terbendung. Aku merasa sangat takut. Takut menghadapi vonis dokter, takut menerima kenyataan apabila benjolan di tubuhku ini adalah tumor ganas, dan takut tidak dapat menyelesaikan studiku tepat waktu. Belum lagi, aku memiliki mimpi untuk mengajukan beasiswa pendidikan doktoral dengan syarat lulus studi master tepat waktu. Bagaimana jika kesempatan itu menjauh dariku? Kucoba mengendalikan pikiranku untuk tetap tenang dan berpikir positif.

Kamis yang kutunggu pun tiba. Aku pergi ditemani Mbak Ida, teman kosku, untuk menemui dokter onkologi. Aku di-USG, dan hasilnya menunjukkan bahwa aku mengalami pembengkakan kelenjar getah bening. Untuk mengetahui struktur jaringannya, aku harus segera dioperasi.

Mendengar hal itu, duniaku terasa berhenti sejenak. Aku terdiam sambil berusaha menahan tangisku. Aku dikuasai penuh oleh rasa takutku. Mbak Ida banyak menanyakan kepada dokter seputar penyakitku. Ia bertanya apakah memungkinkan bagiku untuk dioperasi tahun depan setelah lulus kuliah, mengingat posisiku kala itu yang sedang dalam masa penulisan tesis. Namun, dokter menghimbauku untuk segera dioperasi secepatnya dan jangan ditunda.

Keesokan harinya, aku ditemani Mbak Ida untuk menghadap Pak Er. Beliau menyambutku dengan semangat, tetapi aku malah terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Saya mau pamit, Pak.” Aku melanjutkan kalimatku dengan tangisan. Mbak Ida yang menjelaskan kepada beliau bahwa aku akan pulang ke Jakarta untuk berobat.

It’s okay. Pastikan kamu akan sembuh. Kalau saya mengajar di Jakarta, kita janjian bertemu di sana, ya,” respon Pak Er seperti berusaha menenangkanku.

“Semua akan lulus pada waktunya. Cepat sembuh, Tet. Yang penting sembuh, tesis bisa menyusul.”

Ketika duduk manis di kereta dalam perjalanan pulang ke Jakarta, pikiranku melayang-layang. Hati ini gelisah. Sesekali aku menarik nafas panjang karena merasa sesak di dada. Aku begitu takut akan apa yang akan kuhadapi. Aku pun berdoa untuk menenangkan diri.

“Ya, Allah, rasanya sudah terlalu lama aku melupakan-Mu. Aku merasa terlalu kuat untuk menghadapi semuanya sendiri. Aku seperti tidak membutuhkan-Mu. Aku mengandalkan kekuatanku dan menjadi allah atas hidupku sendiri.

Siapakah aku? Aku bukan siapa-siapa, memandang kasut-Mu pun aku tak layak. Aku hanya hamba-Mu yang lemah dan tak berdaya. Ampuni aku, ya Allah. Terima kasih untuk teguran-Mu, terima kasih tidak membiarkanku berjalan semakin menjauh, terima kasih atas kesetiaan-Mu.

Saat ini aku datang, untuk menyerahkan segala kekhawatiranku, segala takutku, masa depanku, harapanku, cita-citaku. Ya Allah, jika engkau tak mengizinkan aku lulus tahun ini tak mengapa, jika aku harus mengubur mimpi doktorku tak mengapa, jika hasil buruk yang harus kuterima tentang penyakitku tak mengapa. Pegang tanganku selalu, jangan biarkan aku sendiri. Kuserahkan semuanya ke dalam tangan-Mu, jadilah seturut dengan kehendak-Mu. Amin.”

Aku menyanyikan lagu NKB No. 14 “Jadilah Tuhan Kehendak-Mu’’. Lagu ini semakin meneguhkanku untuk berserah kepada-Nya.

“Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Kaulah Penjunan, ku tanahnya.
Bentuklah aku sesuka-Mu, kan ku nantikan dan berserah.

Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Tiliklah aku dan ujilah.
Sucikan hati, pikiranku dan di depan-Mu, ku menyembah.

Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Tolong, ya Tuhan, ku yang lemah!
S’gala kuasa di tangan-Mu; jamahlah aku, sembuhkanlah!”

Setelah berdoa dan mengangkat pujian, rasanya beban dan ketakutanku hilang. Kusadari selama ini aku lupa, bahwa beasiswa yang berusaha kupertahankan dan perkuliahan yang kuperjuangkan mati-matian itu berhasil kudapatkan hanya karena kemurahan-Nya. Musim kehidupan ini Tuhan pakai untuk menarikku kembali kepada-Nya.

Aku akhirnya menjalani operasi. Puji Tuhan, tidak ditemukan keganasan! Aku dapat kembali melanjutkan perkuliahan.

Selama kurang lebih dua bulan, aku belum bisa menggunakan tangan kananku dengan normal. Untuk melakukan beberapa aktivitas sehari-hari seperti mandi, mengganti perban, mencuci, membawa tas, atau mengendarai motor, aku masih harus dibantu oleh orang-orang di sekitarku. Aku semakin tersadar akan kebaikan Tuhan yang luar biasa lewat kehadiran keluarga yang selalu menopang dan menghiburku, teman-teman yang membantuku mengejar ketertinggalan di kampus, dan Pak Er yang membimbingku dengan sepenuh hati.

Atas penyertaan dan pertolongan Tuhan, aku berhasil menyelesaikan studi masterku dalam waktu 1 tahun 11 bulan. Dialah sang pemilik hidup kita. Terpujilah Tuhan kini dan selamanya.

Baca Juga:

5 Hal yang Bertumbuh Ketika Aku Memberi Diri Melayani

Salah satu pemberian terbaik yang bisa kulakukan adalah dengan memberi diriku melayani di gereja. Aku melayani sebagai pengiring nyanyian jemaat atau pemain musik. Sambil terus melayani dan belajar firman-Nya, ada lima hal dalam diriku yang bertumbuh:

Andrew Hui: Usiaku 32 Tahun dan Aku Menanti Ajalku

Ditulis oleh Janice, Singapura
Foto oleh Andrew Hui
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Andrew Hui: I’m 32 And I’m Dying

Di usia 32 tahun, Andrew hanya memiliki waktu dua hingga tiga bulan untuk hidup.

Pengobatan dengan cara radiasi telah dihentikan sebulan yang lalu setelah dianggap tak lagi efektif untuk mengendalikan penyebaran sel kanker dalam tubuhnya. Sejak saat itu, sel-sel kanker berkembang cepat dan menyerang ke hampir semua organ tubuh yang penting, juga menekan pembuluh darahnya.

Meskipun ia hanya punya waktu satu bulan atau lebih untuk tetap tersadar dan berpikir jernih, Andrew dengan antusias meluangkan waktunya untuk wawancara. Setelahnya, ia akan dipulangkan ke rumah agar merasa lebih nyaman sebelum kematiannya yang mendekat.

“Aku mau mendorong orang-orang untuk percaya kepada Tuhan di momen-momen tergelap hidup mereka,” katanya.

Penemuan yang Mengejutkan

Andrew tidak selalu melihat keadaannya dengan cara yang positif. Butuh perjuangan berbulan-bulan sampai akhirnya ia tiba di tahap ini: merasa damai dan menerima keadaan dirinya. Ini terjadi di bulan Juni lalu.

Para dokter menemukan kanker dalam tubuhnya ketika Andrew dilarikan ke UGD di suatu malam karena demam tinggi. Hasil rontgen menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan tumor di bagian atas dadanya. Tes biopsi setelahnya menunjukkan tumor itu sebagai tumor getah bening stadium-1.

Para dokter yakin bahwa ini bukanlah penyakit yang sulit disembuhkan, bahkan mengatakan kalau 90 persen orang-orang yang mengalami tumor pada tahap ini berhasil sembuh.

Jadi Andrew pun meletakkan harapannya pada perkataan dokter tersebut dan ilmu pengetahuan medis, menganggap bahwa perawatan-perawatan yang nanti dilakukannya akan seperti “liburan” beberapa bulan, lalu setelahnya pulih kembali.

Tapi, Andrew bukanlah termasuk 90 persen orang itu. Ia ada di 10 persennya.

Terapi R-EPOCH, sejenis kemoterapi yang dijalaninya ternyata tidak menolong.

Dokter lalu menggunakan jenis kemoterapi lain yang lebih kuat (RICE Therapy namanya). Kali ini, mereka mengatakan, ada kemungkinan 70-80 persen sembuh.

Andrew pun menjalani terapi ini sebanyak empat kali, tapi, lagi-lagi dia tidak termasuk dalam presentase orang yang berhasil sembuh.

Andrew harus menjalani terapi lain, immunotherapy, yang katanya cocok untuk 99 persen pasien.

Tapi, lagi-lagi Andrew tak termasuk dalam 99 persen itu. Tubuhnya tidak cocok menerima terapi ini karena efek samping yang muncul kemudian.

“Ini adalah pesan sederhana yang bisa kamu dapatkan dari Tuhan, tidakkah kamu berpikir begitu?” kata Andrew tanpa basa-basi, dengan diwarnai tawa.

“Aku telah meletakkan imanku pada ilmu pengetahuan medis dan ketika itu gagal, Tuhan menunjukkanku bahwa aku perlu mengubah cara pandangku dan berbalik kepada-Nya seutuhnya,” tambahnya.

Waktu-waktu penuh pertanyaan

Meskipun telah menjadi orang percaya sejak muda dan aktif melayani di gereja sebagai pemusik dan ketua, Andrew bergumul dengan Tuhan karena penyakitnya.

Kenapa aku?

Andrew bukanlah orang yang tidak menjaga gaya hidupnya.

Sebagai seorang bankir muda, dia tidak mabuk ataupun merokok. Malah, dia lebih memilih makan salad untuk makan siang lima hari dalam seminggu dan rutin berolahraga di gym sepulang kerja.

Kenapa sekarang?

Pertanyaan-pertanyaannya kepada Tuhan menumpuk dengan tebal dan cepat. “Aku baru memenuhi 10 persen saja dari mimpi-mimpiku, dan kupikir Tuhan akan memakaiku untuk tujuan yang lebih besar. Aku telah melayani di gereja selama 20 tahun, dan inikah caraku pergi meninggalkan dunia? Beginikah cara Tuhan memberi tahu pada dunia bahwa Ia peduli pada hamba-Nya?”

Dalam amarah dan kekecewaannya pada Tuhan, Andrew juga mengecam orang-orang Kristen lainnya.

“Mereka berkata dan mendeklarasikan kesembuhan atasku. Mereka percaya bahwa oleh bilur-bilur-Nya, Tuhan telah menanggung segala sakit kita (Yesaya 53:5). Tapi, aku tidak bisa menerima fakta bahwa kenyataannya aku tidak disembuhkan, tapi malah semakin parah. Rasanya mereka memberiku harapan palsu. Jadi aku memarahi dan mengusir mereka,” kata Andrew.

“Caraku melihat diriku, jika Tuhan memilih untuk menyembuhkanku, maka tugas-tugasku di dunia belum selesai dan aku akan melanjutkannya. Jika aku tidak sembuh, maka inilah waktuku untuk pulang. Jadi, sembuh atau tidak, kupikir itu solusi yang sama-sama menang.”

Pergumulan berat lain yang harus Andrew hadapi adalah kesakitan fisik yang luar biasa.

Andrew harus berjuang menghadapi mual, lesu, rambut rontok, dan seringkali dia muntah sampai semua isi perutnya mengotori dinding.

Batuk kronis juga membuatnya tidur meringkuk seperti bola di atas kasurnya. Ia merasa hatinya hancur setiap kali ibunya menangis di samping tempat tidurnya.


Liburan terakhir Andrew bersama Ibunya pada Desember 2018


Andrew dan keluarganya di bulan April 2019

Sebuah titik balik

Namun, perasaan damai yang mendalam dan kepasrahan diri menghadapi kematian datang ketika pandangan Andrew tentang Tuhan berubah.

“Aku selalu melihat kedaulatan Allah atas hidupku sebagai sesuatu yang tak bisa dipertanyakan. Tuhan bisa melakukan apapun seturut yang Ia mau dan suka, dan kita tidak punya hak untuk bertanya untuk apa, meminta sesuatu, kecuali Tuhan memberinya. Aku melihat kedaulatan-Nya sebagai kebijaksanaan yang amat tinggi dan luar biasa,” kata Andrew.

“Tapi kemudian aku sadar bahwa cara Tuhan menunjukkan kedaulatan-Nya adalah melalui kasih. Apa yang terjadi padaku mungkin tidaklah baik, tetapi Tuhan itu baik dan kedaulatan-Nya terlihat dari bagaimana Ia menggendongku melewati badai kehidupan ini.”

Salah satu ayat yang menolong Andrew tiba pada pemahaman ini adalah Efesus 3:17-18 yang berkata, “Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.”

Kepercayaan Andrew pada kasih Tuhan dan kedaulatan-Nya telah menyingkirkan segala takut yang dulu ia hadapi ketika harus menghadapi ajalnya.

“Aku tidak takut mati sekarang. Ketika aku menutup mataku untuk terakhir kalinya, aku yakin aku pergi dan berada bersama-Nya, lebih yakin daripada aku biasanya naik pesawat meskipun aku tahu ke mana tujuan pesawat itu.”

“Inilah keyakinan yang kepada-Nya aku bersandar. Tanpa itu, jika Allah ataupun Yesus tidak ada, aku akan memilih bunuh diri karena segala harapanku hilang dan hidupku tidak ada maknanya.”

Andrew juga amat bersyukur memiliki keluarga jemaat yang berpuasa, berdoa, dan menangis bersamanya selama masa-masa sakitnya. Banyak relawan membelikan makanan atau mengantarkannya dari rumah sakit ke rumah dan sebaliknya.

Sebuah momen yang menyentuh

Meskipun Andrew dilahirkan di keluarga Kristen dan tumbuh besar di gereja, dia baru benar-benar “datang kepada iman” atau memahami betul imannya pada usia 16 tahun.

Dia ikut kelompok paduan suara lelaki di gereja dan lagu berjudul “So You Would Come” menyentuh hatinya:

Nothing you can do
Could make Him love you more
And nothing that you’ve done
Could make Him close the door

Tiada yang bisa kamu lakukan
Yang bisa membuat-Nya lebih mengasihimu
Dan tiada hal yang telah kamu lakukan
Yang bisa membuat-Nya menutup pintu untukmu

Kata-kata itu merobek hati Andrew seiring ia selalu berusaha melakukan hal-hal baik atau melayani di gereja untuk memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya.

Lirik lagu itu memberikan Andrew kebebasan. Andrew sadar bahwa Tuhan mengasihi-Nya dan tidak ada yang perlu ia lakukan untuk mendapatkan itu. Hanya oleh anugerah saja ia diselamatkan, bukan karena hasil usahanya. Kebenaran ini memberikan Andrew harapan, meskipun banyak dosa-dosanya, Tuhan tidak pernah berhenti mengasihinya.

Tetapi, perjalanan hidup setelahnya tidak selalu berjalan mulus.

Meskipun ia kuliah di jurusan Komunikasi dan Media Massa, ia bekerja di sektor perbankan setelah lulus karena bidang ini lebih menjanjikan secara finansial.

Angka-angka tidak membuatnya bergairah, tapi ia menggunakan uangnya untuk memenuhi dirinya dengan pengalaman. Andrew suka traveling untuk mengalami budaya ataupun makanan yang baru. Ia pun mendukung gereja dengan mendanai program misi.

Andrew bekerja berjam-jam untuk meraih karier di perusahannya. Kerja selama 12 jam menjadi normal. Jabatan terakhirnya adalah sebagai seorang manajer di perusahaan perbankan.

Tetapi, apa yang dipelajarinya pada usia 16 tahun tidak pernah luput dari hidupnya. Kedamaian yang datang dari keyakinan akan penerimaan penuh dari Tuhan dan kasih-Nya untuk dirinya, adalah kasih yang sama yang menjagai hatinya sekarang ketika Andrew harus bertarung melawan pertempuran yang lebih besar menghadapi kematiannya.


Andrew dan teman-temannya menolong pembangunan panti asuhan di Thailand

Berkat melalui iman

Di samping memiliki jaminan akan kedamaian dan kepastian bertemu Yesus di surga kelak, Andrew berkata bahwa imannya memberikan cara yang berbeda untuk mengatasi sakitnya.

“Ketika aku berseru pada Tuhan memohon pertolongan-Nya di malam hari karena sakitku, aku mendapati sakit itu berkurang ketika aku berfokus kepada-Nya dan aku pun tertidur nyenyak setelahnya,” kata Andrew.

Iman Andrew juga memampukannya melihat berkat yang timbul dari sakitnya, seperti mengetahui kapan ia akan meninggal, dan juga untuk pergi meninggalkan dunia ini dan melepaskan segala penyakit yang besertanya.

“Karena ini, aku bisa mempersiapkan kematianku, mengatakan apa yang perlu kukatakan dan melakukan apa yang perlu kulakukan.

Obat-obatan dan terapi juga menolongku untuk meninggalkan dunia dengan lebih nyaman dan tentunya dengan senyuman di wajahku.”

Belakangan ini, ia mulai mampu mengobrol dengan orang tuanya tentang apa yang akan mereka lakukan ketika ia telah pergi dan akan dijadikan apa nanti kamarnya.

“Adalah sebuah berkat untuk bisa berdiskusi tentang hal itu, karena mereka bisa bertindak dengan lebih jelas setelahnya,” kata Andrew yang sedang menyiapkan “kotak ajal” yang isinya adalah pesan selamat tinggal untuk orang-orang yang dikasihinya.

“Aku tidak percaya pemakaman yang menyedihkan. Aku mau pemakamanku nanti dipenuhi sukacita dan sekarang aku mau bertemu dengan orang-orang selagi aku bisa, untuk mengucap syukur dan menguatkan mereka yang penting buatku, juga menikmati makan bersama-sama,” ucapnya. Adrew suka memasak dan sering menggunakan hobinya ini untuk kegiatan penggalangan dana di gerejanya.

Hari-hari ini, ia mendapati dirinya tidak banyak berpikir tentang kematian, tetapi tentang hal-hal “jangka pendek” seperti kerinduannya makan sup iga.

Satu impian yang belum terlaksana bersama kedua teman dekatnya adalah membuat warung makan yang menyediakan sup untuk para pekerja migran atau orang-orang yang kekurangan.

“Jika aku diizinkan untuk menghidupi hidupku lagi, aku pikir bagian yang ingin aku ubah adalah aku ingin lebih terlibat di pelayanan sosial karena itu akan memberi dampak banyak pada kehidupan orang lain. Tapi, sekali lagi, aku tidak tahu. Aku adalah aku hari ini karena segala pengalaman di masa lalu yang telah membentukku.”

Permintaan terakhir

Keinginan terbesarnya adalah untuk terhubung kembali dengan orang-orang yang pernah mewarnai hidupnya, teman-teman sekolahnya yang sudah lama hilang kontak.

Ketika ditanya mengapa ia mau memprioritaskan waktunya untuk orang-orang yang tidak dekat dengannya, Andre berkata hatinya ada buat mereka. Andrew ingin mereka tahu tentang kedamaian yang hanya bisa didapat dalam Kristus.

“Entah mereka sibuk bekerja atau bergumul dalam masalah masing-masing, aku mau membagikan bahwa kedamaian inilah yang aku miliki bersama mereka. Jadi, ketika tiba saatnya kehidupan mereka berakhir, yang tentunya bisa terjadi kapan saja, mereka mengenal sebuah kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh uang, relasi, ataupun kekayaan.”

“Aku mau mereka mendengarku bukan sebagai seseorang yang meninggal, tetapi sebagai seseorang yang menanti mereka di surga dan rindu bertemu mereka kembali di surga kelak.”


Tangkapan layar dari status Facebook Andrew pada 16 Agustus 2019

Catatan:
Andrew telah meninggal dunia dengan tenang pada pukul 23:25 di tanggal 31 Agustus 2019.

Baca Juga:

Mengasihi Tuhan dengan Melakukan yang Terbaik dalam Pekerjaanku

Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang berdampak bagi banyak orang. Tapi, pertanyaan yang muncul di benakku adalah: “apakah yang aku kerjakan sudah memberi dampak ya?”

Divonis Tumor Payudara, Pertolongan Tuhan Nyata Bagiku

Oleh Lidia, Jakarta

Pernahkah kamu menerima berita yang begitu mengejutkan dan itu sontak membuatmu sedih dan terpukul? Mungkin itu bisa berupa berita kehilangan orang yang kamu sayangi secara tiba-tiba, atau ketika kamu divonis memiliki penyakit yang tidak kamu sadari hingga kamu harus dioperasi.

Juli 2010, usiaku saat itu 20 tahun dan aku layaknya mahasiswa pada umumnya: pergi ke kampus, belajar, ujian, jalan-jalan dengan teman, juga mengerjakan skripsi. Hingga suatu hari, saat aku mandi, aku menyadari ada benjolan di dalam payudaraku. Benjolannya agak keras, tapi ukurannya kecil. Aku memberanikan diri menceritakan ini ke mamaku dan kakak perempuanku. Mamaku segera menyarankanku untuk cek ke dokter. Dalam hatiku, aku bingung dan sedih, mengapa aku harus mengalami ini? Pola hidupku cukup sehat, hampir tiap hari aku selalu makan makanan yang dimasak mamaku. Pun aku tidak pernah melakukan hal-hal yang mengancam kesehatanku. Air mataku menetes saat aku mendoakan hal ini pada Tuhan.

Kucoba mencari di Google, dokter tumor mana yang terkenal. Tapi kemudian aku mendapat rekomendasi seorang dokter rekan papaku. Dokter ini menyarankanku untuk dioperasi. Aku coba cari pendapat dokter lain dan sarannya tetap sama. Mamaku lalu mencari-cari informasi pengobatan lainnya. Ada satu rumah sakit di Tiongkok yang menggabungkan metode pengobatan ala Timur dan Barat. Rumah sakit ini punya kantor perwakilan di Jakarta dan kami pun mendatanginya. Dokter di sana lalu memegang benjolanku dan mengatakan hal yang sama: harus dioperasi. Sudah tiga dokter menyatakan operasi. Sejujurnya aku sangat takut karena aku belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.

Aku pernah mendengar rumor kurang baik tentang operasi di Indonesia. Orang yang memiliki rezeki lebih mungkin akan memilih ke luar negeri. Mamaku ingin membawaku ke Tiongkok, tapi dana kami terbatas. Belum lagi saat itu aku masih kuliah, pergi berobat ke luar negeri hanya akan menyusahkan papa mamaku.

Aku pun kalut dan sedih. Aku berdoa, belajar percaya dan memohon hikmat bahwa di mana pun aku harus menjalani operasi, tangan Tuhanlah yang menjadi hal utama dan tangan dokter adalah yang kedua. Aku memutuskan untuk dioperasi di Jakarta dan mencari-cari rumah sakit di mana aku bisa menggunakan fasilitas asuransi.

Puji Tuhan, operasi berjalan lancar dan hasilnya adalah jinak. Meski jumlahnya ada sekitar 5 tumor dan di hari kedua pasca operasi aku masih mengalami pendarahan, Tuhan menolongku melewatinya. Saat ini aku masih hidup untuk terus belajar menyelami kebaikan Tuhan dalam hidupku.

Mungkin ada teman-teman yang membaca kesaksian ini dan mengalami pergumulan yang sama, atau sedang bergumul dengan penyakit lain. Belajarlah untuk percaya dan lebih mengandalkan Tuhan dalam hal apapun, termasuk menghadapi operasi. Di mana pun kita menjalani operasi, baik di dalam atau luar negeri, aku percaya keputusan akhir tetap ada dalam tangan Tuhan. Doa dan kekuatan dari Tuhan jauh lebih menguatkan daripada mengandalkan dokter manusia yang paling hebat dan terkenal sekalipun. Jika kamu adalah seorang wanita, aku mendorongmu untuk menerapkan pola hidup sehat dan berinisiatiflah untuk melakukan pengecekan terhadap organ-organ vital tubuhmu. Mendeteksi penyakit sejak dini jauh lebih baik daripada mendapatinya sudah terlanjur akut.

Dan, dari pengalaman ini, aku belajar kalau hidup manusia sejatinya adalah sementara. “Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yakobus 4:14).

Dalam susah ataupun senang, sehat ataupun sakit, aku harus terus mengandalkan Tuhan dan dalam perkenanan-Nya, aku ingin terus dipakai untuk memuliakan nama-Nya.

Baca Juga:

Belajar dari Perbedaan Suku: Kasih Mengalahkan Prasangka

Aku pernah menghindar dan beranggapan buruk terhadap suku tertentu. Hingga suatu ketika, Tuhan mempertemukanku dengan seorang teman dari suku tersebut, yang darinya aku belajar tentang menjadi Indonesia sesungguhnya.

Pelajaran dari Sebuah “Doa yang Menghentikan Hujan”

Oleh Deastri Pritasari, Surabaya

Suatu kali, temanku memposting pengalaman luar biasanya bersama dengan anak-anak rohaninya yang berdoa supaya hujan reda. Awal cerita, temanku merasa kasihan melihat anak-anak rohaninya yang tidak bisa pulang ke rumah karena hujan deras. Temanku lalu berdoa secara pribadi, tapi hujan tidak kunjung reda. Kemudian ia melihat hujan malah semakin deras, menggerakkannya untuk keluar ruangan dan berdoa kembali mengharap hujan reda. Saat ia selesai berdoa, hujan tidak reda dalam sekejap. Beberapa menit kemudian, hujan pun reda dan tidak turun lagi sepanjang hari itu.

Temanku lalu menulis tentang bagaimana dia bersyukur paling tidak anak-anaknya tidak takut karena hujan begitu deras dan mereka akhirnya bisa pulang dengan aman. Dan, temanku menyebut kisahnya sebagai “doa yang menghentikan hujan:” Bagiku, sebagai orang percaya, hal yang dialami temanku itu adalah sebuah pengalaman iman.

Jika kulihat kehidupan di masa sekarang ini, tampaknya pengalaman iman jika dipertemukan dengan para pemikir logika sepertinya tidak begitu mudah untuk dipercaya. Bisa jadi mereka menganggap hujan berhenti karena memang sudah waktunya berhenti saja. Tapi, bagi sebagian orang beriman yang mempercayai adanya mukjizat, pengalaman tersebut adalah iman dari sebuah doa.

Pengalaman temanku itu rasanya menakjubkan buatku. Jika aku berkaca pada diriku, ketika hujan deras turun, ketika aku sedang bekerja atau melayani anak-anak, tidak pernah terpikirkan olehku untuk berdoa supaya hujan berhenti. Aku hanya mencoba mencari payung, kemudian mengantar anak-anak pulang ke tempat yang dituju. Jika sampai kehujanan dan basah kuyup, kupikir itu adalah hal yang biasa. Yang penting adalah anak-anak berhasil tiba di tempat yang dituju. Pada saat hujan deras turun, yang ada dalam pikiranku hanya bagaimana aku ataupun anak-anak bisa tiba di tempat tujuan masing-masing.

Merespons dengan doa

Aku dan temanku menunjukkan dua cara yang berbeda ketika menghadapi hujan. Yang satu dengan cara berdoa supaya hujan reda, yang satu menghadapi hujan dengan payung.

Kupikir setiap kita punya cara masing-masing, bukan berarti yang menghadapi hujan tanpa berdoa tidak beriman atau tidak rohani.

Tapi, ada satu hal yang menjadi pelajaran dari pengalaman temanku menghadapi hujan ini: berdoa supaya hujan reda.

Temanku memang dikenal sebagai seorang yang memiliki iman yang luar biasa. Apapun tantangan yang ia hadapi, ia memilih untuk selalu percaya pada Tuhan. Dari pengalamannya, aku belajar untuk melihat sisi baik dari sebuah “berdoa untuk hujan reda”. Ketika hujan tiba, rasanya bukankah kita lebih sering khawatir dan bingung karena ada acara, ada tugas, ada meeting yang mungkin terhambat karena hujan? Mungkin kita pun tak jarang mengomel, mengeluh, panik karena jemuran belum diangkat, atau marah karena meeting gagal karena hujan deras. Yah, hujan deras seolah jadi penghambat acara kita.

Namun, pernahkah ketika hujan deras turun, kita berdoa pada Tuhan? Sepertinya lucu, tetapi bukankah kita sebagai orang yang beriman seharusnya berdoa alih-alih khawatir?

Merespons dengan menghadapi hujan

Pengalamanku yang yang secara otomatis mengambil payung saat hujan turun tidak serta merta menunjukkan bahwa aku adalah orang yang tidak beriman. Hanya, aku memilih melakukan apa yang bisa kulakukan saat hujan deras ketimbang menunggu, mengeluh, dan khawatir. Jika hujan, aku bergegas mencari payung dan melanjutkan perjalanan dengan payung atau jas hujan.

Ini bukan bicara tentang keberanian atau sekadar tindakan, tapi lebih kepada menghadapi persoalan berupa “hujan deras”. Mencari payung lalu melewati perjalanan di tengah guyuran hujan deras bukanlah sesuatu yang salah. Orang berhenti lalu mencari tempat teduh juga tidaklah salah. Orang memilih untuk memakai jas hujan lalu melanjukan perjalanannya juga tidak salah. Ada seribu cara untuk menghadapi hujan deras.

Ada yang lebih memilih berdiam di rumah. Ada yang memilih berteduh. Ada yang melanjutkan perjalanan. Bahkan, ada pula yang berdoa supaya hujan segera reda. Ini hanyalah cara manusia menghadapi musim yang diciptakan oleh sang Mahakuasa.

Sang pembuat hujan adalah Tuhan yang Mahakuasa. Jika menghadapi hujan dengan berdoa, bukankah itu hal yang baik? Lalu manusia mencari cara supaya tidak basah kuyup, entah dengan memakai jas hujan, payung, ataupun berteduh. Itu semua hanya cara manusia. Daripada memperbanyak mengeluh, khawatir, dan menggerutu, mengapa tidak menghadapinya dengan berdoa dan berusaha?

Ya, berdoa dan berusaha adalah kunci dalam menghadapi situasi apapun.

Baca Juga:

Kerinduanku Ketika Mengingat Besar Pengurbanan-Nya di Kalvari!

Ketika aku pergi ke Taiwan untuk kuliah, aku punya satu visi untuk membawa satu jiwa di sana buat Tuhan. Ada tantangan yang sempat membuatku kecewa, tetapi Tuhan kemudian memberiku satu momen untuk aku mengenalkan-Nya pada temanku.

Apa yang Tidak Kuduga, Itu yang Tuhan Sediakan

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku,” demikian bunyi ayat pertama dari Mazmur 23.

Aku suka sekali membaca Mazmur itu dan mengamini bahwa Tuhan selalu memelihara, layaknya seorang gembala yang menjaga domba-dombanya. Namun, ketika keadaan hidupku sedang tidak menentu, aku pun khawatir dan meragukan pemeliharaan-Nya.

Peristiwa itu terjadi di hari Minggu, 4 Desember 2016. Studiku selama empat tahun di Yogyakarta telah usai dan tibalah saatnya bagiku untuk memulai lembaran baru dengan bekerja di ibu kota. Waktu itu uang di dompetku cuma ada seratus ribu, jumlah yang mepet untuk perjalanan merantau ke Jakarta. Setibanya nanti di Stasiun Pasar Senen, aku harus mencari angkutan lain ke kos yang jaraknya lumayan jauh. Karena takut uangnya tidak cukup, jadi aku berniat tidak membeli makanan apa pun di dalam kereta. Aku cuma membawa roti yang kubeli dari minimarket di stasiun.

“Tuhan, mohon perlindungan dan perkenanan-Mu buat perjalanan ini,” gumamku dalam hati.

Kereta pun melaju meninggalkan Kota Yogyakarta. Di sebelahku duduk seorang ibu. Dia membawa sebuah koper besar dan tampak kesulitan untuk menaikkannya ke tempat bagasi.

“Mari bu, saya bantu naikkan,” aku menawarkan bantuan kepadanya.

Ibu itu mengangguk. Kuangkat koper itu dan kuletakkan di tempatnya. Selama beberapa menit kami pun mengobrol lalu asyik dengan kegiatan masing-masing. Saat kereta tiba di Purwokerto, perutku mulai lapar. Roti yang kubeli di minimarket ternyata tidak cukup untuk membuatku tetap kenyang sampai tiba di tujuan. Masih ada 5 jam lagi sebelum aku sampai di Jakarta. Supaya tidak terlalu kepikiran dengan rasa lapar, kusandarkan kepalaku di jendela dan sejurus kemudian aku pun tertidur.

Namun, tak lama berselang, ada yang membangunkanku. “Dek, ini makan siang. Ayo makan,” kata ibu yang duduk di sebelahku seraya menyodorkan sekotak nasi.

Duh bu, makasih. Ndak usah. Malah merepotkan,” aku menolaknya dengan halus karena sungkan.

Nggak apa-apa. Ini makan. Saya sudah beli, tidak bisa dikembalikan lagi loh hehehe. Kita makan bareng ya.”

Aku tertegun. Kuucapkan terima kasih kepada ibu itu yang telah merogoh koceknya untuk membelikanku makanan. Kata ibu itu, saat dia melihatku, dia teringat akan putranya yang kuliah di luar kota, jadi dia pun membelikanku sekotak nasi lengkap dengan lauknya. Sepanjang sisa perjalanan, aku melayangkan pandanganku ke luar jendela dan merenung.

Perjalanan di atas kereta hari itu adalah perjalanan yang sendu, tidak ada sukacita sama sekali di hatiku meski aku sangat suka traveling naik kereta api. Aku khawatir kota Jakarta yang kutuju itu tidak akan membuatku betah. Aku bimbang apakah pekerjaan yang akan kugeluti nanti itu apakah sungguh panggilanku atau tidak. Aku merasa hari-hari di depanku akan suram, walau seharusnya aku mengucap syukur karena aku sudah mendapatkan kepastian pekerjaan. Aku pun ragu apakah uang yang kubawa di dompet nanti cukup untuk mengantarku tiba di tujuan akhir atau tidak. Pokoknya hari itu hidupku semuanya serba bimbang dan takut. Mazmur 23 yang kuingat pun tidak membantuku untuk percaya bahwa Tuhan memeliharaku.

Dalam ketakutan dan kekhawatiran itu, aku tahu bahwa uang yang kubawa cuma sedikit. Jadi, aku harus berhemat dengan tidak membeli makanan berat di kereta. Tapi… aku lupa bahwa Tuhan adalah sungguh gembala yang baik. Tuhan selalu peduli dan tidak ada setitik detail pun kehidupanku yang luput dari perhatian-Nya.

Tuhan, yang adalah Penciptaku tahu betul apa yang kubutuhkan. Dia tahu bahwa jika tidak makan, aku akan lapar. Selapis roti tidaklah mengenyangkan untuk perjalanan selama 9 jam. Maka, melalui seorang ibu yang duduk di sebelahku, Dia memberiku sekotak makanan, yang mana ketika aku memakannya, aku secara tidak langsung ditegur bahwa Tuhan memeliharaku.

Wow. Aku terdiam. Aku sadar bahwa pemeliharaan Tuhan itu terjadi setiap waktu. Hanya, seringkali aku lupa atau tidak mau tahu dengan pemeliharaan itu. Aku lebih memilih untuk fokus dengan kekhawatiranku hingga aku lupa untuk percaya sepenuhnya pada-Nya.

Sekotak nasi itu hanyalah sekelumit dari sekian banyak hal tak terduga yang Tuhan berikan kepadaku. Aku hanya berharap selapis roti dapat membuatku kenyang, tidak lebih. Tapi, Tuhan tahu bahwa itu tidak cukup buatku, hingga Dia pun memberiku yang lain, yang tidak kuduga sebelumnya.

Lewat sekotak nasi itu pula Dia mengingatkanku untuk tidak khawatir akan hari depan, akan apa yang hendak aku makan, minum, atau pakai. “Percaya saja,” bisik-Nya di hatiku. Dan, kepercayaan itulah yang akhirnya menuntunku untuk melangkah dengan pasti hari demi harinya. Sampai hari ini, aku sudah hampir dua tahun pindah dan bekerja di Jakarta. Kota yang awalnya kudatangi dengan keraguan, kini menjadi kota yang kudiami dengan semangat untuk berkarya.

Tuhan adalah Pencipta alam semesta. Aku dan kamu Dia ciptakan secara sempurna, tak ada satu pun detail yang terluput dari perhatian-Nya. Tuhan tidak pernah berbuat kesalahan, meski seringkali aku khawatir dan protes atas apa yang sudah Dia berikan padaku. Tuhan tahu yang terbaik untuk kita dan akan memberikan-Nya pada waktu-Nya. Tugas kita adalah percaya, lalu nikmati perjalanan itu bersama-Nya.

Bagaimana denganmu? Adakah pengalaman serupa ketika Tuhan memeliharamu?

* * *

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”

Matius 6:25

Baca Juga:

Setelah Divonis Sakit, Aku Belajar Merawat Tubuhku

Sampai di titik ini aku merasa ditegur hebat. Melalui dua penyakit, Tuhan seolah mengingatkanku bahwa merawat tubuh asal-asalan itu bukanlah sesuatu yang berkenan kepada-Nya.

Bagaimana Seharusnya Kita Merespons Sakit Penyakit?

Oleh Julia Lee, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How Should We Respond to Illness?

Sebagai seorang pekerja medis, tugasku adalah menyediakan dukungan bagi mereka yang menderita kekurangan fisik, gangguan mental, ataupun keduanya. Dalam pekerjaanku, aku telah bertemu dengan banyak pasien dan anggota keluarganya yang menghadapi berbagai keadaan sulit karena penyakit yang diderita. Inilah beberapa contohnya:

Seorang pemuda tidak bisa bekerja karena dia menderita kerusakan saraf yang tidak bisa dipulihkan meski diobati bertahun-tahun. Di masa muda yang seharusnya menjadi masa-masa produktif dalam hidupnya, dia hanya bisa berada di rumah saja karena setiap harinya dia merasakan sakit. Sedangkan, keluarganya bergumul untuk membayar utang dari biaya pengobatannya yang jumlahnya sangat besar. Selain itu, keluarganya juga harus merawatnya, memenuhi kebutuhan fisik dan emosinya setiap hari.

Seorang wanita paruh baya mengalami kelainan psikis. Dia sering mengamuk kepada anak-anaknya, emosinya sangat labil saat berada di rumah, dan suka berkhayal tentang suaminya yang suka melakukan kekerasan. Di masa-masa awal perawatan, dia mampu merespons dengan baik. Tapi, lama-lama responsnya memburuk. Dia menolak untuk dirawat lebih lanjut. Akibatnya, konflik antara dia dan keluarganya pun terjadi setiap hari.

Seorang pria yang mengidap Skizofrenia (gangguan mental kronis) mengalami penurunan dalam kemampuan kognitifnya. Dia dititipkan di sebuah panti hampir sepanjang hidupnya karena keluarganya tak mampu merawatnya di rumah. Selama bertahun-tahun, orangtuanya berhenti mengunjunginya, dan sekarang mereka tidak dapat lagi dihubungi. Namun, meski tinggal di sebuah panti tanpa keluarga, pria ini tetap ceria dan suka menolong.

Seorang wanita lanjut usia duduk di kursi roda dan ketakutan apabila keluar rumah setelah jatuh beberapa kali dan mengalami patah tulang. Dia tinggal di rumah sendirian bersama seorang pembantu; meski dia memiliki anak, cucu, dan cicit, mereka jarang datang mengunjunginya. Saat kesepian, dia akan menelepon teman-teman dan relawan untuk mengajaknya berbincang. Atau, dia juga menonton televisi untuk menghabiskan waktu.

Empat kisah singkat yang kutuliskan di atas membuatku berpikir: bagaimana respons tokoh-tokoh dalam Alkitab terhadap sakit-penyakit? Salah satu tokoh Alkitab yang hidupnya mengalami penderitaan parah adalah Ayub. Tubuhnya dipenuhi luka-luka menyakitkan, juga dia mengalami penderitaan lainnya. Ketika Ayub berseru dalam kesukarannya, teman-temannya malah memberikan dia nasihat buruk yang mengakibatkan Ayub hampir menyalahkan Allah atas kemalangannya. Namun, akhirnya Ayub sadar bahwa yang memberikan segala sesuatu dalam hidupnya adalah Allah. Ayub memilih untuk terus memuji dan menyembah Allah. Dan, pada akhirnya, Allah memberkati Ayub dengan keluarga dan kekayaan yang lebih besar daripada yang dia miliki sebelumnya.

Di dalam Perjanjian Baru, kita juga mendapati ada orang-orang yang mengalami kekurangan fisik dan mental, seperti orang buta, bisu, kusta, yang mengalami diskriminasi dari masyarakat pada masanya. Menariknya, topik tentang mengapa dan bagaimana mereka bisa mendapatkan penyakit-penyakit itu tidak pernah dibahas menjadi topik utama. Kemuliaan dan kedaulatan Allah, inilah yang paling utama. Mengenai orang yang buta sejak lahir, Yesus mengatakan bahwa ini terjadi karena “pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:3).

Hari ini, kita memiliki kesempatan istimewa untuk melihat ke belakang dan belajar memahami mengapa ada orang-orang yang mengalami sakit-penyakit dan bagaimana penderitaan mereka berakhir. Tapi, tentu akan jauh lebih sulit untuk menerima ataupun memahami jika kita sendiri yang mengalami sakit-penyakit itu, atau ketika orang-orang terdekat kitalah yang mengalaminya. Banyak orang bergumul untuk memahami makna di balik penyakit yang mereka derita, khawatir akan berapa lama lagi mereka harus bertahan menanggung sakit-penyakit ini, dan bertanya-tanya bagaimana hidup mereka akan berakhir.

Setelah bergumul dengan banyak kesusahan yang dialami oleh para pasienku dan keluarganya, aku belajar bahwa yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana orang merespons penyakitnya dan mencoba memahami makna di baliknya. Respons mereka bisa membuat situasi jadi memburuk atau membaik.

Sebagai orang Kristen, kita bisa merespons sakit-penyakit dengan berpaling kepada Allah dan berharap kepada-Nya. Kita mungkin tidak disembuhkan secara instan—mungkin juga tidak disembuhkan sama sekali—tapi, sama seperti Ayub, kita bisa terus bersandar dan percaya kepada-Nya. Dan, karena Dia adalah Allah yang penuh kasih, Dia akan memberikan kita kekuatan untuk menanggung penderitaan, dan berjalan bersama kita dalam setiap langkah kita.

Satu hal yang paling penting dari kisah Ayub bukanlah pada bagian ketika dia akhirnya disembuhkan dan dipulihkan, tapi ketika Ayub dapat terus memuji Allah di tengah penderitaannya—inilah kesaksian terbesar Ayub, bagaimana dia beriman teguh di tengah kesakitan dan dukacitanya. Ketika kita terus percaya pada Allah, kita memuliakan nama-Nya.

Baca Juga:

Di Balik Kesulitan Finansial yang Kualami, Tuhan Memeliharaku dengan Cara-Nya yang Tak Terduga

Aku bergumul dengan permasalahan finansial yang kualami belakangan ini. Seringkali aku bingung dan khawatir dengan hari-hari yang kulalui. Namun, Tuhan tidak meninggalkanku sendirian.

Di Balik Kesulitan Finansial yang Kualami, Tuhan Memeliharaku dengan Cara-Nya yang Tak Terduga

Oleh Junita Romatua, Medan

Aku bergumul dengan permasalahan finansial yang kualami belakangan ini. Seringkali aku bingung dan khawatir dengan hari-hari yang kulalui. Gaji yang kuterima setiap bulannya hanya pas-pasan untuk membayar biaya kos dan juga kehidupanku sehari-hari. Sementara itu, aku pun mencoba menolong kebutuhan finansial kakakku yang akan menikah.

Dalam kondisi yang nyaris kekurangan itu, kadang aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Aku memang masih memiliki orang tua, namun aku tidak mau meminta bantuan finansial dari mereka karena aku tidak mau merepotkan mereka. Namun, yang aku tahu adalah aku dapat mengadu kepada Tuhan. Kepada-Nya aku menceritakan setiap keluh kesah dan kekhawatiran yang kualami.

Tuhan adalah Tuhan yang baik. Dia mendengarkan setiap kegelisahanku itu. Meski aku sendiri merasa kekurangan, nyatanya aku selalu dicukupi-Nya. Ada saja cara yang Tuhan berikan untuk menolongku. Sesuatu yang seringkali tidak terpikirkan dan terduga olehku.

Terkadang, ada teman yang datang dan mentraktirku. Padahal, mereka tidak tahu kalau saat itu aku memang sedang tidak punya uang. Ada pula teman yang tiba-tiba membayar ongkos perjalananku.

Kejutan-kejutan kecil yang kualami itu membuatku tersenyum. Tapi, ketika kejutan-kejutan kecil itu tak kunjung datang, seringkali aku jadi gelisah dan sedih. Hingga suatu ketika, saat aku berdoa, Tuhan menegurku dalam hatiku.

“Apakah kamu harus melihat dulu baru percaya? Tidakkah kamu tahu bahwa Akulah Tuhan? Diam, tenang, dan percayalah. Uang, teman hidup, ataupun hal lainnya, itu kecil bagi-Ku. Bukankah nyawa-Ku telah kuberikan kepadamu?”

Teguran ini sontak mengingatkanku akan janji-Nya dalam Matius 6:33. “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Sejak saat itu, aku belajar untuk tidak khawatir dan percaya akan pemeliharaan-Nya. Kendati gaji yang kuterima pas-pasan, aku belajar untuk mengucap syukur bahwa setidaknya aku memiliki pekerjaan. Lalu, aku pun belajar untuk menerapkan manajemen keuangan yang efektif dan berhikmat. Meski kecil, aku percaya bahwa inilah yang Tuhan percayakan untukku, dan adalah tanggungjawabku untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Semenjak saat itu, melalui doa, ucapan syukur, dan manajemen keuangan yang baik, puji Tuhan aku pun tidak lagi kekurangan.

Ketika kesulitan melanda, seringkali pandanganku hanya berfokus kepada masalah sehingga aku lupa akan sosok Allah yang jauh lebih besar dari setiap masalah yang kuhadapi. Akibatnya, aku pun menjadi begitu khawatir akan sesuatu yang sebenarnya belum terjadi. Padahal, Yesus dengan jelas mengatakan: “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27).

Melalui peristiwa kekurangan yang dulu sempat kualami itu, aku jadi belajar untuk mempercayakan segala sesuatunya kepada Tuhan. Aku belajar untuk hidup dalam iman dan terus berpengharapan bahwa Allah itu begitu baik dan tugasku adalah menikmati setiap perjalanan hidupku bersama-Nya.

“Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” (Matius 6:25).

Baca Juga:

3 Hadiah yang Bisa Kuberikan kepada Allah

Dari sekian banyak hadiah yang pernah kuterima di masa lalu, hadiah yang terbaik adalah pengorbanan yang Allah lakukan 2000 tahun yang lalu. Aku pun jadi berpikir: bukankah seharusnya aku juga memberi-Nya hadiah?