Tidak Sempurna, Tetapi Diberikan-Nya Tepat Buatku

Info

Oleh Wisud Yohana Sianturi, Sidikalang
Foto diambil dari Pexels

Cerita antara aku dan ayahku bisa dibilang bukanlah kisah romantis. Hubunganku dengan ayah tidak terlalu dekat karena trauma masa kecil yang masih membekas, tetapi aku bisa memahami kasihnya.

Sehari-harinya, aku memanggil ayah dengan sebutan “bapak”. Dia orang yang tegas dan cukup keras. Ketika kecil, bapak pernah memukulku di depan banyak orang. Ketika aku beranjak besar, dia beberapa kali menolak memberiku uang jajan, sehingga untuk memenuhi kebutuhanku waktu itu aku cuma berani minta ke ibuku. Kejadian-kejadian yang menurutku buruk itu sering kuingat, tapi bapak selalu berkata bahwa sikap kerasnya itu untuk mendidikku.

Sampai akhir hidup bapak, aku tidak menjalin relasi yang hangat dengannya. Kata-kata terakhir yang dia ucapkan padaku adalah, “Nang, pasti kau merasa aku tidak peduli kepadamu, cuek sama kamu. Tapi bapak sayang sama kamu, Nang.” Seketika air mataku pecah. Aku menyesal, tidak bisa lagi menjalani hari-hari dengan melihat wajahnya.

Dalam penyesalan itu, aku bilang pada ibuku kalau aku mau berhenti berdoa dan beribadah, tapi ibuku menjawab, “Tuhan itu tidak pernah berbuat buruk. Tuhan selalu berlaku baik. Apa pun itu pasti untuk kebaikan.”

Sepeninggal bapak, aku melanjutkan kuliahku dan aku jadi sering merenungkan kebaikan bapak yang selama ini kuabaikan. Memang bapak tidak pandai mengutarakan kasih sayangnya. Tapi aku ingat, pernah suatu kali, ketika aku berangkat ke luar kota untuk melanjutkan studi, sekilas aku melihat bapak menghapus air matanya. Dia lalu masuk ke mobil tanpa melihatku lagi. Aku mengabaikan air matanya, malah berfokus pada bapak yang melengos saja masuk ke mobil tanpa melihatku lebih lama.

Sampai suatu ketika, ibuku pun pergi menyusul bapak di surga. Kakakku lalu bercerita tentang masa-masa kecilku, saat dia bertugas menjagaku. “Aku ingat dulu waktu kamu kecil, aku harus menghabiskan makanan sisamu, karena kalau nggak, aku pasti kena marah sama amangboru dan namboru. Karena si Wisud ini ga banyak makan, ga boleh ada nasi yang sisa. Udah gitu harus lengkap makanannya: harus pakai wortel, ikan, digiling lagi. Setiap hari pasti ditanya nasinya habis atau gak, terus dilihat benar habis atau gaknya.” Aku tertawa mendengar cerita itu, tapi hatiku menangis. Aku menyesal baru mendengarnya sekarang, bukan ketika bapak dan ibu masih ada di bumi ini. Tetapi, aku bersyukur tetap bisa mendengar kisah ini yang akhirnya mengubah cara pandangku. Momen ini adalah titik balik aku memahami bagaimana bapak menyayangiku, sebagaimana Bapa di surga pun memelihara hidupku.

Rasa ego dan kepahitan yang kupendam membuatku buta akan kasih sayang yang sejatinya tercurah dari bapakku. Ketika aku merasa trauma karena dipukul sewaktu kecil, aku tidak mau mengerti bahwa ada alasan di balik tindakan bapak itu. Saat itu aku berteriak keras memanggil ibu untuk meminta kunci rumah, padahal aku bisa menemuinya langsung tanpa berteriak. Untuk mendidikku, bapak memukulku. Ada momen-momen ketika aku tidak mengerti alasan di balik tindakan bapak, yang kulakukan bukannya mempercayai bahwa dia bertujuan baik, malahan aku sibuk menyusun daftar kepahitan dalam hatiku.

Ada banyak kebaikan bapak yang tak bisa kuceritakan satu-satu, sebagaimana dia juga banyak berbuat salah karena dia hanyalah manusia biasa. Tetapi, aku menyayanginya. Aku tak bisa mengatakan itu ketika dia masih ada di dunia, tetapi dalam hatiku dan doaku, aku kini mengatakannya.

Kasih bapakku tidak sempurna, tetapi kasih Allah Bapa menyempurnakannya. Kepada Allah, aku mengucap syukur untuk kedua orangtuaku. Mereka tidak sempurna, tetapi merekalah orangtua yang tepat buatku.

Semoga kesaksian sederhana ini dapat menolong kita untuk semakin mengasihi orangtua kita, juga memaafkan kesalahan yang pernah mereka lakukan. Kesalahan mereka bukan kepastian bahwa mereka tidak mengasihi kita, mungkin kita cuma tidak mengerti atau tidak mau mengerti alasan mereka melakukannya.

Tuhan Yesus memberkati.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Diam, Tak Bisa Melawan

Ketika aku dihina karena penampilan fisikku, aku sempat kecewa pada Tuhan . Tetapi kemudian, rasa sakit itu digantikan-Nya dengan perasaan kagum: bahwa cara Allah memandangku tidaklah sama dengan cara dunia.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

11 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!