Cukup Tak Selalu Bicara Soal Angka

Oleh Raganata Bramantyo

Lulus kuliah, bekerja di perusahaan keren, mendapat penghasilan besar, dan hidup berbahagia. Itu rumus hidup yang kupegang saat studiku tinggal menanti sidang skripsi. Tetapi, realitasnya tidak begitu. Pekerjaan yang kutekuni sempat membuatku tidak puas, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengambil langkah besar.

Kepada atasanku, aku bilang begini, “Saya sudah memutuskan dengan matang bahwa di bulan Mei nanti saya ingin keluar dari pekerjaan ini.” Sudah enam tahun aku bekerja di satu instansi yang jadi pekerjaan pertamaku sejak lulus kuliah. Durasi kerja yang tidak sebentar itu sebenarnya menjadikanku lebih profesional daripada awal masuk dulu. Namun, kekhawatiranku akan kebutuhan-kebutuhanku di masa depan serta iri melihat teman-temanku sudah berproses lebih jauh dalam hal income membuatku merasa harus segera keluar dan mencari ladang baru yang lebih menjanjikan.

“Apa alasannya? Kenapa mau keluar?” atasanku balik bertanya.

“Saya rasa pendapatan saya di sini kurang. Saya udah 6 tahun kerja, Pak. Berharap bisa dapetin penghasilan yang lebih banyak.”

Atasan hingga direktur di tempat kerjaku menyetujui permohonanku, tetapi mereka memberiku nasihat bahwa value suatu pekerjaan tidak selalu diukur berdasarkan materi. Jika aku berubah pikiran, kantorku tetap dengan senang hati menyambutku kembali.

Kejadian yang menjungkirbalikkan pandanganku

Beberapa hari setelah obrolan tentang resign, aku mendapat kabar buruk. Papaku mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Bonggol sendi antara paha dan pinggangnya patah, dan muncul juga penyakit lainnya seperti pneumonia dan yang paling parah adalah autoimun pada bagian usus besarnya. Hanya aku yang punya waktu dan dapat merawat papaku, mengingat papaku telah menikah lagi dan dari keluarga besarku pada mulanya enggan untuk menolongnya.

Saat itu memang biaya pengobatan ditopang oleh BPJS, tetapi tidak semua biaya bisa di-cover. Di sinilah mukjizat terjadi. Dengan tabunganku yang sedikit, rupanya Tuhan mencukupkan dengan berbagai cara. Lebih dari 70 temanku serta beberapa kerabat bahu membahu mengumpulkan uang hingga seratusan juta sehingga semua biaya pengobatan tercukupi. Meskipun pada akhirnya papaku meninggal dunia, tetapi semua biaya pengobatan hingga pemakaman tercukupi tanpa kekurangan sedikit pun. Di samping itu, kantor yang semula ingin kutinggalkan berbaik hati mengizinkanku untuk bekerja dari rumah sakit selama satu bulan tanpa memangkas gaji bulananku.

Momen-momen itu menegurku dengan keras. Aku merasa Tuhan seolah berbicara, “Kamu khawatir sama gajimu yang kecil? Semua kebutuhanmu pasti Aku cukupkan. Biaya rumah sakit papamu pun cukup. Apa yang kamu khawatirkan lagi?”

Aku termenung. Uang yang kudapatkan sebenarnya cukup bagiku, tetapi karena rasa iri aku pun menutup pandanganku akan hal-hal baik yang selama ini aku dapatkan. Mungkin, jika aku berkarier di tempat lain dengan penghasilan yang lebih besar, tentulah ada tuntutan yang lebih besar pula yang mungkin membuatku tidak bisa hadir merawat papaku sampai ujung napasnya. Momen satu bulan kebersamaan itu dipakai Tuhan dengan luar biasa. Aku dan papaku saling memaafkan, dan aku bisa bercerita tentang Tuhan Yesus dan membimbingnya untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Cukup tak selalu bicara soal angka

Pengalamanku di atas mengingatkanku akan kisah tentang seorang kaya raya yang hidupnya tak pernah cukup. Orang kaya itu bernama Rajat Gupta. Dia lahir di Kolkata, India dan menjadi anak yatim pada usia belasan tahun. Tetapi, ketika usianya menginjak pertengahan 40-an tahun, dia menjadi salah satu pebisnis paling sukses. Harta kekayaannya mencapai $100 juta, tetapi dia merasa itu kurang. Ia ingin miliaran dolar. Keinginan inilah yang akhirnya membawanya ke jeruji besi karena dia kedapatan melakukan tindakan curang.

Aku membatin, mengapa Gupta yang telah memiliki uang dengan jumlah amat besar masih saja merasa tidak cukup dan malah ingin terus meraih lebih? Gupta merasa seratusan juta dolar itu kurang. Dia sangat ingin meraih miliaran dolar.

Di sinilah aku mulai belajar merenungkan matematikanya Tuhan. Kita sebagai manusia seringkali berpikir bahwa lebih banyak itu pasti lebih cukup, tetapi natur keberdosaan kita menjadikan kita sulit mendefinisikan pada titik mana kita harus merasa “cukup.” Terhadap keinginan tanpa batas inilah Yesus menegaskan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Lukas 12:15).

Senada dengan sabda Yesus, Morgan Housel, penulis dari buku The Psychology of Money juga menekankan hal yang sama mengapa banyak orang menjadi tamak, “Karena mereka tak tahu kapan harus berkata cukup.”

Morgan juga menuliskan bahwa hanya sedikit di antara kita yang akan atau pernah punya harta miliaran, tetapi setiap kita pada suatu saat dalam hidupnya pasti akan mendapat gaji atau punya sejumlah uang yang cukup untuk mendapatkan kebutuhan dan keinginan kita. Dengan apa yang ada pada kita saat ini, inilah 4 hal yang bisa kita lakukan untuk merasa cukup:

1. Keahlian keuangan tersulit adalah menjaga tiang gawang agar berhenti bergerak

Ketika awal-awal aku merantau ke Jakarta, seorang kakak kelasku mengatakan begini di sesi pertemuan kami, “Temen-temen, kita dulu waktu kuliah bisa kok hidup dengan uang yang seadanya. Sekarang, saat kita udah punya penghasilan yang lebih tetap dan besar, yuk kita coba pertahankan gaya hidup kita. Jangan gaya hidup yang naik, tapi kita belajar memberi lebih.”

Kami pun belajar menekan pengeluaran untuk hal-hal yang kurang penting dan bersifat gengsi semata. Hasil dari hidup berhemat itu kemudian kami kumpulkan untuk membiayai kuliah seorang teman yang kesulitan keuangan.

Menjaga standar pengeluaran memang tidaklah mudah. Ketika penghasilan kita bertambah, tanpa kita sadari ada kebutuhan yang bertambah. Semisal, dulu ketika diberi uang jajan orang tua 1 juta satu bulan kita pergi ke mana-mana naik sepeda. Sekarang, setelah kerja dan punya gaji 5 juta, kita perlu motor untuk menunjang mobilitas karena naik sepeda dirasa terlalu melelahkan. Jika memang kebutuhan yang bertambah itu adalah hal pokok, tentu tidaklah masalah untuk dipenuhi. Toh itu akan menunjang produktivitas atau meningkatkan makna hidup kita.

Tetapi, jika itu hanya sebatas urusan gengsi, di sinilah letak masalahnya. Jika dahulu kita bisa enjoy dengan minum kopi yang kita seduh sendiri, maka sekarang harusnya tak perlu memaksa diri untuk ngopi di kafe-kafe kekinian yang cukup mahal.

2. Berhenti membanding-bandingkan pencapaian finansial

Morgan Housel mengatakan perbandingan sosial adalah pertandingan yang tak akan pernah ada pemenangnya. Semua orang dalam natur keberdosaannya selalu merasa ada yang kurang dengan dirinya.

Kita mungkin hanya melihat hasil dari pencapaian orang lain tanpa tahu seperti apa prosesnya. Menetapkan patokan “sukses” kita pada standar orang lain akan jadi perjalanan yang melelahkan. Alangkah lebih baik jika kita memetakan sendiri apa yang hendak kita capai dan menyerahkannya pada Allah, sebab Dialah yang memelihara dan mencukupkan kita.

3. Cukup adalah cukup

Cukup adalah ketika kita menyadari bahwa menginginkan yang lebih akan mendorong kita pada titik penyesalan. Analogi ini dapat diilustrasikan begini. Satu-satunya cara mengetahui seberapa banyak makanan yang bisa kita makan adalah dengan makan terus sampai muntah. Hanya sedikit yang mencobanya karena tahu kalau muntah itu lebih sakit daripada kenikmatan makan (Housel, 2020:36)

Dengan pertolongan Roh Kudus, kita dapat meminta hikmat untuk mengetahui kapan kita harus berhenti dan berpuas diri dengan pencapaian finansial kita.

4. Uang bisa membeli segalanya, tetapi tidak segalanya bisa dinilai dengan uang

Memiliki keluarga yang menyayangi, teman-teman yang saling mendukung, dan tubuh yang sehat adalah sekelumit dari hal-hal kecil yang membentuk kebahagiaan kita.

Melalui pengalamanku merawat papaku yang menghabiskan uang ratusan juta, aku belajar bahwa ada prestasi terbesarku yang Tuhan karuniakan, yang tak mampu dinilai dengan uang sejumlah apa pun, yakni kebersamaan antara ayah dan anak yang begitu hangat. Dengan uang yang terbatas, Tuhan izinkan aku melihat mukjizat dan pemeliharaan-Nya bahwa Bapa di surga memelihara setiap anak-anak-Nya (Matius 6:26).

Dibuai Narasi Negeri nan Kaya—Catatan Perjalanan ke Ujung Indonesia

Oleh Aryanto Wijaya

Usiaku 21 tahun ketika aku menginjakkan kakiku sebagai seorang backpacker selama satu bulan penuh menjelajahi Sumatra. Buatku yang lahir dan besar di Jawa, pulau besar di sebelah barat negeri ini menyajikan pengalaman yang sama sekali berbeda, yang membuat jantungku berdegup kencang sekaligus bibirku tersenyum sumringah akan keindahan alamnya juga keramahan orangnya.

Perjalananku dimulai dengan menaiki pesawat ke Kualanamu, Medan. Dari sini, aku dan temanku—seorang bule Jerman yang mengajakku ikut backpackeran—melanjutkan perjalanan lewat jalur darat. Tiga hari di Medan, tiga hari di Bahorok, kami lalu bertolak menuju Banda Aceh sampai titik nol Indonesia di Sabang dengan naik bus umum dan ferry. Setelah seminggu di Aceh, kami turun ke sisi selatan Sumatra dengan tujuan utama: Padang dan Bukittinggi. Tapi, alih-alih melewati jalan utama dari Aceh yang melewati Medan, kami melewati jalur tengah yang membelah pegunungan Gayo-Luwes sampai nanti kami tiba di Parapat, Sumatra Utara.

Jalanan membelah pegunungan Leuseur ini tidak semulus jalan antar-provinsi di Jawa yang ramai penduduk. Dari Banda Aceh sampai ke Kutacane kami membutuhkan waktu perjalanan tiga malam dengan rincian satu malam wajib transit di Takengon, dan semalam lagi di Kutacane karena tidak ada angkutan yang beroperasi di malam hari. Angkutan antar-kotanya pun tidak seperti travel Bandung-Jakarta yang bisa dengan mudah kita pesan online dengan mobil anyar. Angkutan yang kami naiki adalah mobil L-300 dengan AC alami dari angin semilir.

Jalan belum beraspal yang menghubungkan kabupaten-kabupaten di Aceh Tengah

Menepi sejenak di tepian Danau Lut Tawar, Takengon. Di tiap-tiap kota jika tidak berjalan kaki, kami menyewa motor atau kadang dipinjamkan oleh warga yang berbaik hati.

Pengalaman menarik yang membuat jantung was-was kualami ketika mobil yang kami tumpangi melewati perbatasan provinsi. Di sebuah pasar, naiklah seorang ibu dengan anaknya yang tampaknya masih balita. Ibu ini membawa serta ember besar dengan tas dari anyaman bambu. Di ember itu tampak hasil bumi berupa sayuran.

“Mau ke mana, Dek?” tanya si ibu yang mendapat duduk di sebelahku. Kami duduk di bagian paling belakang karena semua kursi di depan sudah penuh.

“Ke Siantar, Bu,” jawabku.

“Sudah pernah ke daerah sini?” dia bertanya lagi sambil melempar senyum. Aku tak menaruh curiga apa pun, toh dia tampak seperti ibu-ibu biasa. Lagipula, pertanyaan seperti ini sudah sering kudapat sepanjang perjalanan backpakceran. Penampilan seorang anak muda kurus dengan ransel yang lebih tebal daripada badannya memang mengundang pertanyaan bagi warga di desa-desa yang kusambangi.

“Hehe…iya Bu, ini baru pertama ke Aceh…” Aku tak berniat untuk melanjutkan obrolan karena jalanan rusak membuat mobil kami seperti dikocok-kocok. Mual. Jadi, aku pun tertidur.

Kira-kira tiga jam kemudian aku terbangun dengan kondisi mobil telah berhenti. Kutanya ke penumpang lain di depan ada apa, dijawabnya kalau ada pemeriksaan kendaraan sebelum masuk ke provinsi Sumatra Utara. Seraya kami turun, beberapa orang tanpa seragam yang belakangan kutahu itu polisi menghampiri mobil kami dan melakukan penggeledahan.

Awalnya suasana tenang-tenang saja, tapi mendadak riuh ketika ibu yang sedianya duduk di sebelahku berteriak keras dan meronta. Dia berusaha lari, tapi tangannya dipegang erat.

Saat barang-barang kami digeledah, rupanya di balik sayuran yang tampak di ember ibu itu tersimpan ganja.

“Gila…” aku membatin. Belum pernah kulihat rupa asli tanaman itu, sekaligus juga melihat bagaimana seorang ibu diringkus oleh aparat.

“Kenal ibu ini? Tadi naik dari mana dia? Kamu juga naik dari mana dan mau ke mana?” Polisi turut menginterogasiku. Dilihatnya KTP-ku, juga semua penumpang lain ikut diperiksa kalau-kalau ada kaitannya dengan si ibu. Ransel besarku ikut dibongkar, kalau-kalau aku ikut membawa barang terlarang itu. Dalam hati aku was-was. Kalau saja ibu itu berniat buruk, bisa jadi saat aku tidur dia diam-diam menyelipkan sejumput barang itu ke kantong celana cargo atau tasku. Tapi, syukurlah itu tak terjadi. Di ranselku, celanaku, juga di semua barang penumpang lainnya tak ditemukan ada kejanggalan. Setelah dua jam menanti, kami pun dibolehkan melanjutkan perjalanan.

Suasana di dalam mobil yang awalnya hening menjadi riuh oleh obrolan seputar ibu tadi.

Supir membuka diskusi, “Gila itu ibu… bawa ganja kok siang-siang demi duit yang gak seberapa.”

“Memang dia itu naik dari mana?” sahut penumpang yang lain.

“Tadi kudengar dia itu dari Blangkejeren. Disuruh bawa itu barang ke Medan. Katanya nanti dikasihlah duit 10 juta, tapi baru 2 juta yang dikasih.”

“Blangkejeren”… aku ingat nama tempat ini. Itu adalah kota yang kulewati dalam perjalananku dari Takengon ke Kutacane. Kota ini kecil dan aksesnya sulit karena terkepung pegunungan. Meskipun mungkin secara potensi alam kaya, tetapi statistik menunjukkan bahwa orang-orang di sana hidup dalam kemiskinan. Tahun 2021 pendapatan per kapita rata-rata orang di sana hanya berkisar 438 ribu per bulan, menjadikannya sebagai kabupaten termiskin kedua di Provinsi Aceh.

Masalah yang kita semua punya andil di dalamnya

Pengalaman di Sumatra itu membuatku merenung lebih jauh. Ketika Indonesia telah memasuki usia ke-77 tahun, tak semua warganya menikmati kehidupan yang layak. Meskipun tiap daerah punya problemnya sendiri-sendiri, kurasa aku yang sehari-harinya hidup di kota besar di Jawa mungkin lebih beruntung karena akses infrastruktur yang lengkap dan ketersediaan lapangan kerja relatif lebih mudah. Tak dipungkiri bahwa sejak kita merdeka, negeri ini belum memaksimalkan potensinya. Pembangunan masih bersifat Jawa-sentris meskipun sudah mulai ada gebrakan pemerataan pembangunan sejak era reformasi. Belum lagi masalah-masalah domestik lainnya seperti intoleransi, pelanggaran HAM, korupsi, juga krisis lingkungan yang semakin hari dapat semakin parah.

Bicara soal kemiskinan, fenomena ini sejatinya bukanlah hal baru dan mungkin pula terkesan utopis untuk mengenyahkannya seratus persen dari muka bumi. Tetapi, Yesus memberi kita teladan menarik. Ketika Dia berada di Betania, datanglah seorang perempuan yang mengurapi-Nya dengan minyak. Melihat tindakan wanita itu, para murid pun gusar. Mereka bilang, “Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin” (Matius 26:8-9).

Yesus pun merespons, “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.” (ayat 10-11).

Sang perempuan yang meminyaki Yesus bukanlah seorang yang dianggap terhormat pada masa itu. Dia bukan Yahudi, dan beberapa tafsiran juga mengungkapkan mungkin perempuan itu adalah perempuan sundal. Tetapi, dia memberikan penghormatan pada Yesus dengan mengurapi-Nya dengan minyak narwastu yang mahal.

Yesus menerima tindakan perempuan itu dan dengan tegas menekankan pada para murid bahwa orang-orang miskin akan selalu ada bersama mereka. Artinya, sepanjang kehidupan ini kita para murid akan senantiasa berjumpa dengan orang-orang miskin, yang teraniaya. Dan, di sinilah panggilan mulia itu diberikan bagi kita bahwa jika kita menolong dan berbaik hati pada seorang yang dianggap dunia paling hina, kita melakukannya untuk Tuhan (Matius 25:40).

Lebih lanjut lagi, Yesus datang ke dunia untuk menggenapi apa yang Yesaya nubuatkan, “…untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin… memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

Panggilan untuk melayani mereka yang paling hina masih dan terus berlaku bagi setiap pengikut Kristus sampai kepada hari ini.

Aku tahu mengentaskan kemiskinan dan penderitaan tidaklah mudah dan instan, itu adalah perjuangan yang harus selalu kita upayakan sampai kedatangan-Nya yang kedua. Pada banyak kasus, kemiskinan dan penderitaan ini muncul akibat dari masalah kompleks yang saling berkelindan, atau sederhananya: kekacauan struktural—pemerintahan yang korup, warga yang tak terudaksi dan terampil, akses infrastruktur juga pendidikan yang sulit, timpangnya kesenjangan sosial, hingga posisi geografis. Tetapi, percayalah satu tindakan kecil kita yang bisa kita mulai dengan mendoakan, akan memberi dampak.

Dalam doa-doa kita izinkanlah Tuhan menggerakkan hati kita untuk bertindak. Kita mungkin tak bisa menolong langsung seseorang yang tak berdaya dengan memberinya segepok uang, seperti aku yang tak berdaya bagaimana menolong si ibu di sebelahku yang diringkus polisi. Kita bisa memulainya dengan belajar peka: siapa orang di sekitar kita yang Tuhan letakkan namanya di hati kita untuk kita tolong? Jika memungkinkan, kita bisa menjangkaunya dengan bertanya apa yang jadi kebutuhannya dan memberi pertolongan sesuai kemampuan kita. Atau, kita juga dapat mempertimbangkan untuk memberi lewat lembaga-lembaga yang kredibel yang tak cuma memberi, tetapi mengupayakan empowerement agar masyarakat yang rentan dapat lebih berdaya. Semua tindakan ini meskipun tidak memberi dampak dramatis adalah upaya yang berguna, ibarat menyalakan lilin di tengah kegelapan, alih-alih hanya mengutukinya.

Meskipun statistik mengatakan Indonesia sekarang telah menjadi lebih makmur daripada di masa lampau, tetapi tetaplah ingat bahwa di balik statistik itu ada orang-orang yang berjuang untuk dapat hidup dengan layak. Dan sebagaimana Kristus memanggil kita, kita punya andil dalam kesejahteraan negeri ini.

Kiranya Tuhan memberkati Indonesia, negeri kita yang amat luas ini.

Dirgahayu!

Tersesat di Dunia yang Kosong

Oleh Rosi L. Simamora

“Aku… tersesat di dunia yang kosong.” Malam itu ucapan Lara tersebut terngiang di telingaku.

Kedatanganku di rumahnya siang tadi disambut potret hitam-putih yang membuat jantungku tergeragap. Selama satu-dua detik aku seolah lumpuh, terlalu syok untuk dapat mengalihkan pandangan.

Lara, si tuan rumah, menoleh dan langsung mengerti. “Itulah harga yang kubayar. Pengingat yang pahit, aku tahu,” ucapnya.

Kutatap potret itu: wajah Lara sengaja dibiarkan kabur, sepasang tangannya yang terulur ke kamera dihiasi garis melintang panjang bekas irisan. Tipis, namun tetap terlihat. Seperti jeritan tanpa suara yang memekakkan. Kerongkonganku tersekat. Aku… sama sekali tidak tahu. Dunia tidak tahu. Bahwa di balik Lara yang selalu tampil sempurna dan bahagia di medsos-nya, ada Lara yang ini.

“Apa yang terjadi?” bisikku.

“Aku… tersesat di dunia yang kosong,” jawab Lara.

Pelan, sesekali berhenti di tengah ucapannya, Lara mengisahkan perjalanannya hingga menjadi seleb medsos tersohor. “Awalnya sederhana. Aku hanya ingin didengar. Dilihat. Diakui. Aku ingin orang tahu siapa aku,” ucapnya. “Aku kepingin membuktikan, dengan menjadi diri sendiri, kita bakal bahagia.”

Dunia maya langsung menyambut Lara. Apa pun yang ia pasang di akun medsosnya, dunia langsung menyambarnya. Mengapa tidak? Lara tampil unik. Percaya diri. Bahagia. Cerdas. Sukses. Pokoknya sempurna, khas figur idaman dunia.

“Hanya butuh beberapa ratus hari, angka-angka, dan barisan kotak komentar, maka moto ‘jadilah diri sendiri’ yang kujunjung pun rontok,” ucapnya tersenyum kecut.

“Angka-angka?” tanyaku, tapi langsung mengerti. “Ah, angka-angka subscriber, follower, like, maksudmu?” Lara mengangguk. “Tapi kenapa harus begitu? Bukannya dunia memujamu?”

Lara menggeleng muram. “Tidak juga. Dunia rupanya tidak pernah puas sampai dia berhasil mengubahmu,” bisiknya. “Walaupun postinganku menuai puja-puji, selalu saja ada yang berkomentar miring. Mengkritik ini. Membahas itu. Mengomentari hal-hal remeh.” Lara menghela napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. “Tapi aku terobsesi dengan angka-angka itu. Dan aku membutuhkan restu dunia untuk menaikkan jumlahnya. Jadi ya… begitulah. Aku tak lagi bebas memasang konten yang ‘gue banget’. Karena salah konten sedikit saja, angka-angka itu langsung berkurang drastis. Dan kalau angka itu berkurang, aku cemas.”

Tanpa benar-benar menyadarinya, Lara pun mengunci kebahagiaannya pada angka-angka tersebut. “Akhirnya… angka-angka itulah yang menentukan citra diriku,” ujarnya.

“Kepuasan dan kebahagiaanku jadi semakin singkat dan dangkal, hanya dari satu konten ke konten.” Ia memandang ke dinding di belakangku, tempat potretnya tergantung. “Dan tidak berbeda dengan dunia, egoku juga tak kenal puas. Haus popularitas, haus perhatian, haus pengakuan…,” bisiknya pelan.

Lara ganti menatapku, dan salah satu ayat dalam Amsal 27 muncul begitu saja di benakku. “Di dunia orang mati, selalu ada tempat; begitu pula keinginan manusia tidak ada batasnya”(Amsal 27:20, BIS).

“Bayangkan, aku sampai rela tidak lagi menjadi diriku sendiri, dan ganti menjadi versi Lara yang dicintai dunia,” akunya. “Dengan penuh perhitungan, kususun ulang citra diriku. Kuatur sedemikian rupa, supaya cocok dengan kotak medsos tempat aku memasang potongan kehidupanku. Aku mulai memilah dan memoles sisi mana saja dari diriku yang ingin kutampilkan, menyesuaikannya dengan selera dan minat dunia.

“Tapi tahu tidak? Meski aku berhasil memperoleh semua yang kuinginkan, aku tidak bahagia.

Aku sudah mencoba menjadi diriku sendiri, tapi kepuasan yang kudapatkan hanya sebentar. Aku juga sudah mencoba menjadi versi yang dunia inginkan, tapi itu pun tidak mendatangkan sukacita. Semua yang kulakukan… seperti sia-sia,” bisiknya.

Hari lepas hari ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan menggerogoti Lara, menciptakan lubang besar yang semakin mengisapnya. Dunia masih gaduh dengan pendapatnya yang berubah-ubah dan cetek, tapi di tengah semua kebisingan itu, Lara merasa… Kosong. Tersesat.

Kosong. Tersesat.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang pernah kubaca di buletin gereja. Ingin rasanya aku berkata ke Lara, “Kalau saja kamu tahu, Ra, tidak ada satu pun pencapaian maupun harta kita yang bisa benar-benar mengisi kekosongan dalam hati kita. Kalau saja kamu tahu, bahwa kepuasan hati kita, nilai diri kita, dan makna hidup kita harus datang dari Allah. Kenapa? Karena sesungguhnya hanya Dia yang menciptakan kita yang tahu apa yang sejatinya kita butuhkan .” Tapi aku menahan diri dan tidak melontarkannya, aku ingin ia melanjutkan ceritanya.

“Dan malam itu aku merasa sangat sendirian. Kosong. Tersesat. Aku hanya melihat satu jalan keluar untuk mengakhiri penderitaanku…” bisik Lara, ujung jemarinya menyusuri garis di pergelangan tangannya. Sekujur tubuhku bergidik.

“Apa… persisnya yang terjadi malam itu, Ra? Apa yang akhirnya menyelamatkanmu?” tanyaku.

“Tuhan,” jawab Lara, matanya berlinang. “Tepat setelah aku melukai diriku dan terbaring di lantai, mataku menangkap poster berbingkai yang kamu kirim tahun lalu. Tulisan di poster itu membuatku marah waktu itu, karena berasa kamu menghakimiku.”

Tentu saja aku ingat. Poster itulah yang membuat Lara memutuskan persahabatan kami.

“Aku merasa aneh saat itu, karena seingatku poster itu sudah kusingkirkan di celah antara lemari dan dinding kamar. Namun pagi itu rupanya ART kami membersihkan celah itu dan lupa mengembalikannya ke tempat semula. Jadi di sanalah poster itu menatapku, seolah Tuhan memakainya untuk menyadarkanku.”

“Kamu tahu kan momen ketika kita mengalami Tuhan?” tanyanya. Aku mengangguk. “Nah, itulah yang terjadi padaku malam itu. Aku tiba-tiba sadar apa yang menjadi sumber ketidakbahagiaanku: aku mencoba mengandalkan diriku sendiri, padahal aku takkan mampu. Aku mengira dengan ‘jadilah diri sendiri’, semua akan beres dan aku bisa mengubah dunia. Padahal itu tidak benar. Dan malam itu, tulisan di poster itu memberiku harapan.

Ia tersenyum lebar sekarang. “Tuhan sungguh baik. Waktu kupikir aku sangat sendirian malam itu, aku keliru. Karena meski aku telah meninggalkan Tuhan, Tuhan tidak pernah meninggalkan aku. Dan meski aku telah berpaling dari-Nya untuk mencari kesukaan manusia dan bukan kesukaan-Nya, Dia tetaplah Allah yang maha pengasih.” Ia memelukku erat-erat sambil membisikkan terima kasih dan meminta maaf karena pernah menolak persahabatanku. “Kamu mau terus menolongku dengan jadi temanku, kan?” ia bertanya.

Aku mengangguk sepenuh hati, mataku menangkap poster yang terpajang jauh di dinding di belakangnya. Walaupun tulisan pada poster itu terlalu kecil untuk dapat kubaca, aku hafal setiap katanya, yang dikutip dari tulisan Greg Morse: “Don’t ‘ just be yourself’. Be something greater. Be the version of you that Jesus died to create”—“Jangan ‘jadilah dirimu sendiri’, tetapi lebih dari itu. Jadilah dirimu yang ingin diciptakan Kristus lewat kematian-Nya.

Malam ini, di kamarku yang senyap, akhirnya air mataku luruh. Sepotong tulisan C.S. Lewis di Mere Christianity terbit dalam ingatanku. “Cari dirimu sendiri, maka ujung-ujungnya kamu hanya akan menemukan kebencian, kesepian, keputusasaan, kemarahan, kehancuran, dan kebusukan. Namun, carilah Kristus, maka kamu akan menemukan Dia, dan bersama Kristus akan engkau temukan segalanya.”

Untuk pertama kali, aku bersyukur pernah mengirimkan poster itu kepada Lara. Meski persahabatan kami sempat terputus, kini aku tahu, Tuhan punya rencana-Nya sendiri. Perjalanan Lara selanjutnya pastinya bukan hal mudah. Namun, aku akan menemaninya. Dan aku akan memulainya dengan berdoa agar Lara terus mengizinkan Roh Kudus melepaskan dirinya dari pengaruh dunia. Dan agar Roh Kudus terus mengubahnya hingga menjadi versi dirinya yang ingin diciptakan Kristus melalui kematian-Nya.

Dua Arti Pawang Hujan Bagi Kita

Oleh Agustinus Ryanto

Dalam acara akbar, kadang ada saja kisah renyah yang lebih heboh daripada peristiwa utamanya. Di gelaran MotoGP Mandalika Minggu (20/03) lalu, perhatian publik tertuju pada Rara Isti Wulandari. Rara bukan pembalap, tapi seorang pawang hujan yang seketika terkenal karena aksinya memutar-mutar pengaduk pada mangkok sambil merapal doa muncul di banyak media.

Pro kontra pun bermunculan. Yang pro mengelu-ngelukan kesuksesan Rara, sementara yang kontra menganggap menggunakan jasa pawang hujan itu klenik, tidak berdasar sains, ritual kuno, dan lainnya.

Jika kita melihat sedikit pada peta sejarah, keberadaan pawang hujan di Indonesia bukanlah sesuatu yang baru. Masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara mengenal ritus Kadiano Ghuse, di Banten ada tradisi Nyarang Hujan, dan banyak lainnya. Kepulauan Nusantara ada di wilayah tropis dengan dua musim: hujan atau kemarau. Jika hujan datang, tanah akan berlumpur. Acara besar bisa terkendala. Oleh karena itulah jasa pawang hujan menjadi penting.

Okeh, meskipun sepertinya asyik kalau saja kita membahas bagaimana mekanisme atau cara kerja pawang hujan itu beraksi, tulisan ini tidak akan mengarah ke sana.

Terlepas dari pro dan kontranya, aksi pawang dan hujan bisa merefleksikan kita akan dua hal:

1. Alam semesta tidak sepenuhnya ada dalam kendali kita

Mengutip dari tulisan Masruri yang berjudul “12 Macam Ilmu Pawang Hujan”, sebenarnya pawang hujan tidak bertugas untuk melenyapkan hujan, tapi menggeser awan hujan (dengan ritual mereka) itu untuk menjatuhkan airnya di tempat lain. Intinya: hujan tetap jatuh. Atau, di negara lain yang lebih maju, ‘ritual’ memindahkan hujan ini bisa dilakukan dengan cara yang lebih saintifik. Mengutip dari CNN, perusahaan di Inggris bisa melakukannya, namun butuh waktu 6 minggu persiapan dan biayanya US$150,000 alias lebih dari dua milyar rupiah!

Alam semesta dengan segala siklus dan fenomenanya adalah karya Allah yang agung dan sungguh amat baik (Kejadian 1:31). Untuk menatalayani segala ciptaan itu, Allah lantas menciptakan manusia sebagai ciptaan yang diciptakan-Nya di hari terakhir. Allah memberikan berkat sekaligus mandat untuk beranak cucu, memenuhi dan menaklukkan bumi, dan berkuasa atas segala binatang (ayat 28). Namun, pemberian mandat ini tidaklah menghilangkan fakta bahwa kendati manusia memiliki kuasa, manusia bukanlah pemilik dari alam semesta ini. Allah adalah pemilik dan pencipta, kita adalah orang yang diutus untuk menatalayani ciptaan-Nya.

Alkitab memberi kita contoh-contoh menarik tentang bagaimana Allah menggunakan alam semesta untuk menunjukkan kasih-Nya bagi manusia. Dalam kisah Yunus, Allah mengizinkan badai hebat menghantam perahu yang sedang berlayar ke Tarsis. Ke dalam laut bergelora itu, Yunus diceburkan dan kemudian ditelan oleh ikan raksasa. Sekilas kisah ini terkesan ngeri. Kok Allah yang baik malah menginisiasi badai dahsyat dan ikan raksasa. Namun, jika kita lihat dari sisi kasih Allah, kehadiran badai ini adalah ‘penyelamat’ untuk meraih Yunus kembali dari pelariannya, yang akan semakin menjauhkan dia dari rencana dan kasih Allah. Untuk menyelamatkan nyawa Yunus dari amukan badai, syahdan hadirlah ikan raksasa yang menelannya, yang memberi perlindungan sementara sampai Yunus dimuntahkan. Tim Keller dalam bukunya “The Prodigal Prophet” menyebutkan bahwa berada dalam perut ikan itu memberikan Yunus kesempatan untuk ‘berjumpa’ kembali dengan Allah, menerima kembali panggilan-Nya, untuk kelak tiba pada tujuan-Nya: mempertobatkan Niniwe.

2. Hujan adalah rahmat bagi bumi dan kita

November 2021 lalu, dalam perjalananku motoran dari Jakarta ke Malang, aku meraih pemahaman baru tentang hujan. Perjalanan hampir 1000 kilometer itu kuawali dengan doa, “Tuhan, jangan hujan ya.” Ketika awan kelabu pekat sudah menggelayut, ucapan itu semakin santer aku daraskan. Hasilnya, hanya sedikit momen ketika aku berhasil melewati awan kelabu itu tanpa kebasahan.

Hingga suatu ketika, saat motorku tiba di daerah Cangar, Malang, aku menepi dan duduk di sebuah warung pinggir jalan. Jas hujan kulepas, dingin dan anyep kurasa, lalu kuseruput segelas air jahe.

Kulihat bulir-bulir air di atas rerumputan, dan kusesap aroma segarnya. Aku membatin: sebenarnya, hujan itu rahmat bagi bumi. Meski aku mengeluh karena jadi repot, tapi hujan itu justru memberi berkat bagi tanah, tumbuhan, juga makhluk lainnya. Dengan adanya hujan, tanah menjadi subur, tumbuhan terpenuhi nutrisinya, dan manusia pun mendapatkan air untuk kelangsungan hidupnya. Hujan bukanlah bencana. Apabila saat atau pasca hujan muncul bencana banjir atau longsor, kita bisa selidiki itu terjadi karena ada ulah manusia di dalamnya: perubahan iklim, alih fungsi lahan, penumpukan sampah di sungai, dan sebagainya.

Jika hujan adalah rahmat bagi dunia, lantas mengapa aku menolak berkat itu hanya demi kenyamanan pribadiku?

Dalam sisa perjalananku menyusuri pesisir selatan Jawa, kuubahlah ucapan hatiku: “Tuhan, jika hujan harus turun, turunlah. Ajarlah aku yang kerdil ini untuk menikmati apa pun yang diturunkan langit bagi segala ciptaan di atas bumi.”

Hujan pun turun, mengiringi perjalananku. Basah dan ribet karena aku harus copot-pasang jas hujan. Namun, pemahaman akan hujan yang adalah rahmat ini menjadikanku bersukacita atas tiap tetesan air yang Tuhan berikan.

***

Dalam perjalanan hidup kita, ada kalanya ‘hujan’ dalam berbagai kadar datang—entah itu gerimis, hujan sedang, sampai badai dan puting beliung. Namun, kita dapat mengingat bahwa kendati kita tak punya kuasa untuk memberhentikan hujan itu, kita punya Allah yang mengasihi dan menciptakan alam semesta. Dalam cakupan kasih-Nya, ‘hujan’ itu Dia berikan sebagai rahmat yang menyirami kita.

Mengapa Orang Kristen Harus Berjuang Merawat Bumi Jika Nanti Setelah Yesus Datang Akan Ada Langit dan Bumi yang Baru?

Oleh Paul Wong
Artikel ini telah ditayangkan di YMI.Today

Bagian akhir dari Alkitab menceritakan tentang sebuah realitas baru yang luar biasa: langit dan bumi yang baru, dan Allah berdiam di tengah-tengah manusia (Wahyu 21:1-4). Inilah akhir paling klimaks dari kisah sejarah: Allah, membuat segala sesuatunya baru, dalam relasi yang sempurna dengan anak-anak-Nya. Tidak ada lagi pandemi, tidak ada lagi rasisme, tidak ada lagi maut, penderitaan, dosa. Dunia yang lama akan berlalu dan yang baru akan datang.

Jika itu adalah kenyataan yang kita nantikan, lantas mengapa orang-orang Kristen masih perlu peduli terhadap bumi ini? Inilah 4 alasannya.

Anugerah dan penatalayanan. Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa meskipun dunia telah dirusak oleh dosa, segala ciptaan di dalam dunia ini tetap merupakan anugerah Allah yang diberikan bagi seluruh manusia—sebuah pemberian yang baik dari Allah bagi kita. Yesus berkata, “…[Bapa] yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:45). Matahari dan hujan adalah bagian dari ciptaan, itu diciptakan sebagai sarana dari-Nya untuk menopang kehidupan manusia. Tidak ada matahari dan hujan berarti tidak akan ada makanan bagi kita. Apa yang Allah ciptakan tak diragukan lagi adalah berkat bagi kita. Nah, jika kita dengan sengaja mengabaikan kerusakan planet ini, atau terus menerus menghancurkannya demi keserakahan, maka kita dengan bodohnya merusak sarana yang Tuhan telah berikan untuk menopang kehidupan. Kita menjadi penatalayan yang buruk atas bumi yang telah dipercayakan bagi kita.

Common Sense: Alasan lain untuk merawat bumi adalah karena itu sudah sewajarnya. Meski kita tahu suatu hari nanti langit dan bumi akan berlalu (Wahyu 21:1), Yesus berkata kalau tidak ada seorang pun yang tahu kapan pastinya itu akan terjadi. Bisa saja besok, atau dalam ribuan tahun ke depan. Tidak ada gunanya berspekulasi. Lebih baik bagi kita untuk menyadari: aku dan kamu dapat berasumsi kalau kita akan tinggal di bumi untuk hari ini dan esok, sembari menanti dengan penuh harap akan hari-Nya Tuhan.

Jadi, hidup di bumi tapi tidak merawatnya seolah-olah hari esok tidak akan datang adalah pemahaman yang buruk. Ini jugalah konsep yang dimaksud dalam Yeremia 29:4-10 ketika Allah memanggil umat-Nya, para orang buangan untuk ‘mengupayakan kesejahteraan’ Babel. Mereka akan terjebak di sana setidaknya selama satu generasi. Mereka perlu menyadari kenyataan itu, dan untuk melanjutkan hidup di Babel mereka perlu “membuat kebun untuk dinikmati hasilnya, mengambil isteri untuk memperanakkan keturunan (Yeremia 29:5-6), dan mengupayakan kesejahteraan kota demi kebaikan mereka juga, alih-alih berpikir kalau mereka akan segera keluar dari pembuangan.

Prinsip yang sama berlaku juga buat kita: ‘Babel’ yang kita tinggali akan lenyap di hari esok, tapi kita masih tetap harus hidup di dalamnya hari ini, dan melanjutkan pekerjaan kita di waktu-waktu sekarang sebagai duta Kristus. Tidaklah baik untuk merusak rumah yang menjadi tempat hidup kita.

Mengasihi sesama kita: Ketiga, yang kedua dari perintah terbesar yang Yesus berikan adalah untuk mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri. Orang Kristen diperintahkan Tuhan untuk mengasihi sesama, meskipun kita melakukannya dengan tidak sempurna. Yang pasti, ungkapan kasih yang utama adalah mengarahkan sesama kita kepada kasih Yesus, seperti yang diungkapkan-Nya di kayu salib (1 Yohanes 4:10).

Namun, ada sesuatu yang lebih yang harus kita lakukan. Setelah bercerita tentang perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37), Yesus menyuruh ahli Taurat untuk “pergi dan lakukan hal yang sama”, tetapi ketika Dia mengatakan itu, Yesus tidak bermaksud “hanya melakukan penginjilan”. Yang Yesus maksudkan: “lakukanlah seperti yang orang Samaria itu lakukan. Merawat sesamamu.” Dalam konteks pemanasan global dan bencana alam yang sering terjadi di hari-hari ini, merawat lingkungan adalah salah satu aspek sederhana dari mengasihi sesama.

Menjadi saksi yang baik: Berita Injil adalah satu-satunya harapan bagi mereka yang mati secara spiritual. Injil mengandung kuasa Allah atas keselamatan (Roma 1:16). Dengan membuat Injil didengar, kepedulian kita terhadap lingkungan menjadi lebih relevan. Jika orang Kristen dipandang oleh orang-orang yang tidak percaya sebagai orang yang tidak peduli dengan bumi, atau bersikap dingin terhadap penderitaan dari pemanasan global, maka Kabar Baik yang kita bawa akan diabaikan begitu saja karena dianggap tidak relevan. Kita akan dilihat sebagai saksi yang buruk, yang berpotensi mengurangi dampak dari kesaksian kita yang seharusnya mengarahkan orang pada pertobatan dan iman.

Tapi… kita harus menjaga yang utama, yang utama

Akhirnya, memang pantas dikatakan bahwa kita banyak berbuat salah ketika kita gagal untuk menegaskan apa yang Alkitab tegaskan. Kita perlu menjaga yang utama—memberitakan Injil. Kepedulian kita terhadap bumi mungkin saja menjadi prinsip yang tak tergoyahkan bagi generasi milenial Kristen, bahkan nilainya melebihi dari hal-hal yang Alkitab tekankan. Tapi… ini akan jadi kesalahan besar.

Berkali-kali, Alkitab menekankan bahwa umat manusia akan menghadapi penghakiman Allah atas pemberontakan mereka. Alkitab juga memberitahu kita bahwa dunia yang hancur adalah bukti dari penghakiman ini (Kejadian 3:17; Roma 8:20-22). Lingkungan kita yang rusak adalah cara Tuhan untuk memberikan panggilan pertobatan bagi kita. Murka Allah atas dosa-dosa kita adalah masalah yang Yesus perbaiki dengan kedatangan dan kematian-Nya. Jadi, pada akhirnya, jika upaya kita untuk memperbaharui ciptaan tanpa dibarengi dengan pewartaan Injil, itu adalah upaya yang sia-sia.

Oleh karena itu, bagian dari bumi ini yang harus kita pedulikan adalah umat-Nya: ciptaan yang Allah kasihi dan dipersiapkan untuk kekekalan. Allah pun telah melakukannya: Yesus tidak mati untuk menyelamatkan pepohonan. Dia mati di atas kayu salib yang terambil dari pohon (Kisah Para Rasul 5:30 versi ESV), sehingga kita bisa berada di tempat di mana pohon-pohon tidak akan mati lagi, tetapi ada bagi pemulihan bangsa-bangsa (Wahyu 22:2).

Greta Thunberg berkata pada acara World Economic Forum di Davos tahun 2019: “Aku mau kamu bertindak seolah-olah rumahmu sedang terbakar, karena inilah yang memang terjadi.” Dia tidaklah salah. Pemanasan global yang terus berlangsung mengakibatkan penderitaan-penderitaan yang tak terliput media bagi jutaan orang dan akan terus berlanjut jika tidak ada penanggulangan apa pun. Sebagai orang Kristen, kita tak boleh lupa bahwa ada api yang turun, yang tak terpadamkan selamanya. Kita harus ingat dan menjaga hal utama sebagai hal utama dan melanjutkan misi dari Gereja tanpa teralihkan fokusnya. Rumah kita sedang terbakar, tapi tersedia air kehidupan bagi dunia (Yohanes 4:13-14). Jika kita sungguh peduli pada ciptaan-Nya, kita akan memberitakan Kabar Baik.

Mengapa Kita Begitu Menggandrungi Serial Squid Game

Oleh Rebecca Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why We’re Hooked up on Squid Game

Bayangkanlah begini: setelah bertahun-tahun berjuang, kamu malah jatuh ke dasar jurang. Ketika keadaan tak lagi menyuguhkanmu jalan keluar, tiba-tiba ada orang asing yang menawarimu kesempatan sekali seumur hidup untuk memenangkan satu truk yang isinya penuh uang 

Yang perlu kamu lakukan cuma satu: ikut serta di serial permainan. 

Kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu memilih untuk hidup dalam rasa malu dan derita karena dijerat utang, melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain, atau ambil kesempatan itu supaya bisa merdeka dari krisis finansial, sekalipun risikonya besar sekali? 

Itulah pertanyaan yang menjadi dasar di balik Squid Game, serial drama Korea di Netflix, yang seketika menjadi booming di lebih dari 90 negara pasca dirilis dua minggu lalu. Sekarang serial ini sedang otw untuk jadi tayangan Netflix yang paling banyak ditonton. 

Seperti 45,6 juta orang penontonnya, aku pun tak tahan untuk tidak menonton. Drama yang mengisahkan petualangan bertahan hidup, seperti The Hunger Games, dan lain-lain sebenarnya bukanlah genre film yang kusukai. 

Tapi, setelah melihat banyak meme beredar di medsos, aku jadi penasaran dan menonton film ini meskipun teman-temanku memperingati kalau di dalamnya akan ada banyak adegan berdarah-darah, kejam, dan bisa saja membuatku mimpi buruk. 

Apa itu Squid Game 

Squid Game berangkat dari gagasan sederhana: 456 orang yang telah putus asa diundang untuk ikut serta dalam pertandingan yang diselenggarakan di pulau terpencil. Mereka akan mendapat kesempatan untuk memenangkan hadiah utama senilai 45,6 milyar Won. 

Selama turnamen berlangsung, mereka harus berpartisipasi di enam permainan yang terinspirasi dari permainan tradisional anak-anak Korea dalam berbagai format: ada yang mainnya sendiri-sendiri, berpasangan, atau berkelompok. Sekali mereka memilih ikut serta, mereka harus berpartisipasi di setiap permainan dan hanya boleh keluar kalau mayoritas memilih untuk menghentikan pertandingan. 

Tapi, di situlah gagasan sederhana itu berakhir. Setiap peserta tidak tahu permainan seperti apa yang akan mereka mainkan, bagaimana memainkannya, dan yang paling penting, mereka tak tahu kalau mereka sungguhan akan dieliminasi (contoh: ditembak mati) kalau mereka gagal di setiap ronde. Ditambah lagi ada tekanan berupa batasan waktu dan permainan psikologis. Mereka harus bekerja sama, atau saling beradu dengan orang yang paling mereka percaya. Dari adegan-adegan ini kita melihat perwujudan terbaik dan terburuk dari kemanusiaan ketika masing-masing pemain berlomba untuk saling mengecoh demi bertahan dalam kompetisi dan memenangkan hadiah utama. 

Cukuplah untuk mengatakan kalau pertandingan ini brutal, menakutkan, dan mengerikan.

Dalam 9 episodenya, kita melihat gambaran yang suram tapi sangat realistis tentang seperti apakah dunia saat kita sendiri yang menjalaninya dan setiap orang melakukan apa yang benar menurut mata mereka sendiri. Kita melihat yang kaya mengeksploitasi yang miskin karena bosan, teman mengkhianati teman, dan orang-orang yang putus asa melakukan pembunuhan demi mempertahankan diri. 

Tapi, di saat yang sama, pertandingan ini tak cuma tentang pembantaian dan korupsi. Di antara adegan-adegan mengerikan ini, ada momen-momen yang menggugah pikiran, cerita yang indah, serta muncul penggambaran akan kebaikan dan kerapuhan di antara para karakternya. Inilah faktor yang menegaskan kenapa Squid Game berhasil membuat kita menggandrunginya.

via GIPHY

Squid game menunjukkan kita tak jauh berbeda dengan para pemain

Melihat para pemain ini saling memperlakukan, menilai situasi, dan menyusun strategi, kusadari kalau seandainya aku terjebak dalam situasi yang sama, aku dan orang-orang di sekitarku mungkin akan melakukan cara yang sama: Apakah orang ini akan membantuku atau menjatuhkanku? Siapa orang terkuat yang bisa kudekati? Hal terlemah apa yang harus kuhindari?

Sebagian besar ketegangan di drama ini datang dari pertarungan mental yang terus-menerus untuk mencari tahu dengan siapa kamu harus percaya dan membentuk tim—dan tidak tahu bagaimana sistem permainan itu akan membuat mereka malah melawanmu. Dan, saat hadiah uang bertambah setiap kali satu pemain tereliminasi, tidaklah sulit untuk melihat mengapa tiap pemain akhirnya melakukan hal-hal yang tak masuk akal demi bertahan hidup. 

Kulihat cerminan diriku dalam berbagai karakter pemain itu. “Apakah aku juga bersalah karena menilai orang lain berdasarkan standarku sendiri tentang apa yang baik? Bagaimana aku memperlakukan orang lain yang kuanggap ‘lebih lemah’ dariku?

Squid game menunjukkan hidup tak selalu berjalan seperti yang diinginkan

Seperti kenyataan hidup bahwa tak selalu yang terkuat atau yang terpintar yang akan jadi terdepan, Squid Game menyuguhkan pada kita tentang apa yang sebenarnya paling penting dalam permainan ini. Biasanya kartu truf tidak dimenangkan oleh orang yang punya pengalaman masa lalu, punya kemampuan untuk menghitung kemungkinan menang, atau pengetahuan mereka, tapi dari kekuatan yang tersembunyi dari mereka yang sering diabaikan, disingkirkan, atau dihina. 

Squid Game membawa kita bertemu muka dengan muda dengan batasan dari pengetahuan kita, membuktikan bahwa tak peduli seberapa baik strategi kita, seberapa cemerlang ide kita, atau seberapa kuat tim kita, selalu ada elemen ketidakpastian yang kita sendiri tak tahu. 

Kudapati diriku bertanya-tanya, apakah aku selama ini mengandalkan diriku sendiri? Seberapa sering kupikir aku sendiri mampu menyelesaikan segalanya?

Squid game menunjukkan betapa mudahnya kita tergoda dosa 

Mungkin salah satu alasan kenapa Squid Game digandrungi seisi dunia adalah karena film ini mengisi kekosongan, rasa gelisah yang kita semua rasakan karena pademi yang membuat kita bosan. Sebaliknya, Squid game menarik kita ke dunia fantasi di mana kita dijanjikan oleh pesta visual yang ceria, aksi tanpa henti, dan sensasi yang membuat jantung berdebar. 

Bagiku, garis antara fantasi dan realita masih terlihat jelas sampai di episode ketika para VIP (atau mungkin sponsor) di balik permainan ini ditampilkan. Momen ketika kamera menyorot mereka menonton permainan dimainkan, membuatku sadar sebagai penonton kalau aku juga berperan di posisi yang sama seperti VIP. 

Meskipun awalnya aku enggan menonton drama yang berdarah-darah, tapi rasanya aku tak bisa menghentikan tiap episodenya. Film ini tidak membuatku ketagihan ataupun menghibur karena melihat orang lain menderita, dan sejujurnya tidak sulit untuk menebak siapa yang akan jadi pemenang terakhirnya. Tapi, yang membuatku tetap duduk di depan layar menonton ini adalah aku ingin mencari tahu bagaimana setiap pemain mengalahkan rintangan dan sampai di titik akhir. 

Ketika para pemain melihat satu per satu rekannya mati dan berhenti saling menjaga demi bertahan hidup, aku melihat perubahan yang sama dalam sikapku menonton: ketika awal-awal kudengar senjata diledakkan, aku menutup mataku, tak mampu melihat adegan darah dan kekerasan itu. Namun, begitu faktor kejutan itu hilang, aku jadi tak takut lagi dengan kematian dan darah yang menggumpal di tanah. Kengerian itu tak lagi mempengaruhiku, aku hanya ingin tahu jawaban dari pertanyaanku: siapa dalang dari balik semua ini? Apakah benar pemenang akan dapat uang? Siapa orang di balik topeng yang menembaki orang-orang itu?

Aku bertanya-tanya: mengapa menonton adegan jahat itu membuatku ketagihan, terutama ketika disorot dari sudut pandang yang menarik, atau dihiasi dengan estetika yang memanjakan mata? Apakah kita sedang mengembangkan suatu kultur yang menormalkan praktik kekerasan?

Itu semua membuka mataku, betapa mudahnya kita orang-orang Kristen tergoda. Faktanya, ketika aku mengevaluasi kenapa akhirnya aku menonton drama ini, aku sadar kalau aku mengizinkan cara pikirku dibentuk oleh dunia di sekitarku alih-alih oleh apa yang Alkitab katakan sebagai hal yang benar, adil, murni (Filipi 4:8). 

Dan dari situlah aku mulai mengerti makna dari peringatan Paulus kepada kita untuk “tidak menjadi sama dengan dunia ini, tetapi berubah oleh pembaharuan budi” (Roma 12:2a). 

Mengerikan rasanya melihat betapa mudahnya garis antara apa yang baik dan layak menjadi samar ketika kita membenamkan diri kita pada pandangan dunia. 

via GIPHY

Jadi, haruskah kita menonton Squid Game?

Kalau kamu belum menonton serial ini sama sekali, mungkin kamu bertanya-tanya, “Haruskah aku nonton?” Atau mungkin, kamu itu sepertiku, ikut-ikutan nonton lalu merasakan konflik batin atau malah merasa ‘kosong’ pada akhirnya.

Mungkin pertanyaan intinya bukanlah tentang apakah boleh atau tidak kita menonton tayangan yang penuh kekerasan, tapi saat kita menonton tayangan seperti Squid Game, kita perlu menanyakan pada diri kita sendiri bagaimanakah film yang kita tonton akan mempengaruhi jiwa kita dan cara pandang kita melampaui apa yang disajikan di layar. Bagaimana kita dapat melihat kesakitan yang tersembunyi yang sejatinya ada di sekitar kita? 

Apakah kita, seperti para pemain di Squid Game, terperangkap di siklus tak berujung untuk mengejar egoisme dan tujuan yang tak berarti? Apakah kita peka terhadap pergumulan dari orang lain yang seringkali tersamarkan di balik senyuman tipis atau pakaian bagus? Atau, apakah kita sendiri bergumul dengan dosa rahasia dan kebencian yang berkecamuk dalam pikiran? 

Kebenarannya adalah kita semua tidak membutuhkan drama Korea seperti Squid Game untuk menunjukkan pada kita betapa keras dan susahnya hidup serta bobroknya hati manusia. Kita tak butuh melihat kebrutalan itu disajikan di layar untuk mengetahui kalau kita sedang hidup di dunia yang dipenuhi kejahatan, ketamakan, dan pengkhianatan—dan betapa kita membutuhkan penebusan dan penyelamatan. 

Di dalam dunia di mana kita bersaing satu sama lain dan mengukur nilai diri kita berdasarkan seberapa banyak yang mampu kita raih, siapa yang kita kenal, berapa banyak yang kita miliki, bukankah suatu keindahan untuk mengetahui bahwa kasih karunia Tuhan kita tidak bergantung pada diri kita sendiri? Ini bukanlah pilihan antara dua situasi yang mustahil. Kita tidak harus melompati jembatan kaca, atau memenangkan kompetisi mahasulit untuk meraih kasih dan penebusan itu. 

Itulah hadiah terbesar yang memberikan pada kita harapan dan kebebasan yang sejati, dan setiap orang dapat menerimanya tak peduli apa pun kesalahannya di masa lalu. 

 

*Tangkapan layar diambil dari: Netflix.

3 Alasan Mengapa Orang Kristen Harus Terlibat Memperjuangkan Keadilan Sosial

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

Beberapa pekan lalu, jagat Twitter diramaikan oleh kicauan seorang figur publik yang menyatakan bahwa seorang SJW (Social Justice Warrior atau Pejuang Keadilan Sosial) adalah “tipe orang di kelas yang saat ulangan mengumpulkan jawabannya duluan agar tidak ditanya-tanya (dicontek) oleh temannya, melaporkan ke guru apabila ada teman yang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di kelas, atau mengingatkan guru tentang ulangan atau kuis.”

Kicauan ini pun direspons hangat oleh banyak orang, baik yang mendukung atau menentang.

Sebenarnya, apa sih SJW itu? Oxford Dictionaries memberikan definisi SJW sebagai “a person who expresses or promotes socially progressive views”. Meski definisi dan tujuan SJW ini baik, istilah ini kemudian mengalami makna peyoratif. Istilah yang tadinya dipandang positif menjadi sangat negatif sekitar tahun 2011 ketika dilontarkan sebagai celaan untuk pertama kalinya di Twitter.

Tulisanku ini tidak akan membahas lebih lanjut tentang kontroversi itu, tetapi melalui topik ini aku ingin mengajakmu untuk melihat bahwa memperjuangkan keadilan sejatinya adalah tugas kita sebagai orang Kristen. Mengapa?

Menurutku, setidaknya ada tiga alasan:

Pertama, keadilan adalah sifat Allah dan Allah menghendaki keadilan ditegakan di dunia.

“Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub, Engkaulah yang melakukannya” (Mazmur 99:4).

“Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Amos 5:24).

Dalam beberapa kitab di dalam Alkitab, Allah melalui perantaraan para nabi secara tegas menyatakan ketidaksukaannya kepada ibadah umat yang tidak disertai perbuatan baik dan kebajikan kepada orang-orang miskin dan tertindas. Misalnya melalui Nabi Yesaya, Allah menyatakan bahwa Ia jijik dengan persembahan umat dan tidak menyukai perayaan dilakukan bangsa Israel. Allah kemudian berfirman:

“Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yesaya 1:16-17)

Keadilan adalah sifat Allah, dan oleh karena itu Ia menghendaki agar kita umat-Nya hidup dalam keadilan dan senantiasa berbuat adil. Sebagai umat Allah, sudah sepatutnya kita ikut terlibat dalam memperjuangkan keadilan sosial dan melawan penindasan di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa.

Kedua
, orang Kristen adalah terang dan garam dunia.

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Matius 5:13).

Pada zaman dahulu, ketika bahan pengawet buatan belum ditemukan, garam adalah bahan alami untuk mengawetkan makanan agar tidak cepat busuk. Itulah fungsi garam: mencegah kebusukan. Garam juga digunakan untuk memberikan rasa yang enak; dan meskipun kehadirannya dalam sebuah masakan tidak terlihat, keberadaannya bisa dirasakan.

Sebagai orang Kristen, kita hadir di tengah dunia untuk mencegah kebusukan oleh karena dosa serta memberikan pengaruh yang baik bagi lingkungan di sekitar kita, termasuk dalam memperjuangkan keadilan sosial. Perlu diingat bahwa Matius 5:13-16 bukan menyatakan bahwa “kamu harus menjadi garam dan terang dunia”, melainkan “kamu adalah garam dan terang dunia”. Artinya, orang Kristen sudah merupakan garam dan terang dunia. Menjadi orang Kristen berarti harus menjalankan fungsi kita sebagai garam dan terang karena “jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Terakhir, Tuhan Yesus sendiri menjadi teladan yang sempurna untuk memperjuangkan keadilan.

“Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat” (Markus 12:38-40).

Selama pelayanannya di dunia, Tuhan Yesus sendiri menjadi sosok yang kontroversial dengan tindakan dan pengajaran-Nya yang seolah-olah mengobrak-abrik tatanan kehidupan masyarakat yang pada saat itu diterima sebagai “tradisi yang harus dipatuhi”. Tuhan Yesus duduk bergaul dengan para pemungut cukai, perempuan sundal, dan orang-orang dianggap berdosa oleh masyarakat serta dikucilkan dari pergaulan. Dia melawan kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi serta menentang ketidakadilan atau praktik kejahatan yang dilakukan para pemuka agama pada saat itu. Tuhan Yesus melayani setiap orang tanpa memandang wajah serta latar belakang sosial ekonomi, serta memberikan berbagai jawaban/keputusan yang adil atas pertanyaan orang-orang (bahkan pertanyaan yang bersifat menjebak, seperti kisah perempuan yang kedapatan berbuat zinah dalam Yohanes 7:53-8:11). Tuhan Yesus adalah teladan yang sempurna mengenai memperjuangkan keadilan (sosial).

Bahkan Tuhan Yesus menggenapi perjuangan-Nya melawan ketidakadilan dengan menjadi korban yang sejati dari ketidakadilan kosmis ketika Ia rela mati untuk menanggung dosa kita semua di atas kayu salib.

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21).

Ketidakadilan adalah produk kejatuhan manusia ke dalam dosa, ketika dosa menghancurkan dan merusak relasi manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan alam ciptaan, dan dengan sesama; membuat manusia dapat bersikap tidak adil bahkan menindas sesamanya manusia.

Karya keselamatan yang Kristus bawa melalui kematian dan kebangkitan-Nya telah menghancurkan dosa dan ketidakadilan sekali untuk selama-lamanya. Karya Agung ini telah memberikan kepada kita harapan bahwa meski dunia ini begitu tidak adil dengan berbagai penindasan dan kejahatan; akan tiba saatnya Tuhan Yesus datang kembali sebagai Raja, dan Ia akan memerintah dengan penuh keadilan di langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:3-4).

Tetaplah berpengharapan dan terlibat!

Lighten our darkness, breathe on this flame
Until your justice burns brightly again
Until the nations learn of your ways
Seek your salvation and bring you their praise
God of the poor, friend of the weak
Give us compassion we pray
Melt our cold hearts, let tears fall like rain
Come, change our love from a spark to a flame

Lirik lagu God of the Poor (Beauty for Brokennes) oleh Graham Kendrick

Soli Deo Gloria!

Baca Juga:

Catatan Kecil Anak Seorang Dokter

Papa kelelahan bukan main. Hampir seluruh waktunya habis untuk mengurusi orang-orang lain. Rasanya aku ingin marah pada dunia, kenapa ada pandemi? Kenapa papa harus jadi dokter?

Belajar dari 2 Sosok Perempuan yang Jadi Berkat bagi Bangsanya

Oleh Olive Bendon, Jakarta

Mama Yo gamang. Afghanistan bergejolak lagi. Rasa takut tentu saja mendera, namun semangat Mama Yo juga menyala-nyala—hmm .. mungkin sedikit nekat—dia ingin tetap melakukan perjalanan ke negara yang tak kunjung menemukan kesepakatan dalam menyelesaikan konflik dalam negerinya yang telah berlangsung bertahun-tahun itu. Bagi Mama Yo, ini kesempatan baik dapat membawa misi kemanusiaan dan membagikan pengalaman Indonesia dalam menangani isu perempuan dan anak kepada perempuan-perempuan Afghanistan. Namun, karena alasan keamanan, Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Kabul memberi sinyal; Mama Yo tak usah datang!

Saat bersua presiden, Mama Yo menyampaikan keresahan hatinya. Mama Yo mendapat restu dan akhirnya berangkat memenuhi undangan Rani Ghani, Ibu Negara Afghanistan; menjadi pembicara utama dalam Symposium on the Role and Contribution of Afghanistan Women for Peace yang berlangsung pada pertengahan Mei 2017 lalu. Di satu wawancara dengan stasiun TV sepulang ke Indonesia, Mama Yo mengatakan kedatangannya ke Afghanistan merupakan kunjungan pejabat tinggi Indonesia pertama, perempuan pula setelah kunjungan Soekarno pada 1961. Di kesempatan lain Mama Yo juga mengatakan bahwa salah satu indikator majunya satu bangsa dapat dilihat kaum perempuannya yang berpikiran maju. Artinya perempuan merupakan pilar penting dan agen perubahan bagi suatu bangsa.

Mama Yo, sapaan akrab Yuliana Susana Yembise, adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam Kabinet Kerja Jokowi di 2014-2019. Dirinya tak pernah bermimpi jika di perjalanan karirnya sebagai seorang akademisi, satu waktu akan dipanggil menghadap presiden dan diminta untuk mengepalai Kementerian PPPA. Posisi Mama Yo sebagai seorang menteri pun memberi angin segar bagi kebinekaan Indonesia. Mama Yo menjadi representasi dari orang Papua yang berdaya dan juga berkontribusi dalam membangun negeri.

Menyimak sedikit cerita perjalanan Mama Yo, membawa ingatanku pada kisah Ratu Ester dari Persia, satu dari sedikit tokoh perempuan berpengaruh dalam Alkitab yang perjalanan hidupnya dituliskan secara khusus dalam satu kitab di samping Rut.

Meski hidup dalam zaman dan kondisi yang berbeda, Mama Yo dan Ester memiliki kesamaan yang kuat: yakni mereka sama-sama perempuan. Dan, dari dua sosok ini kita dapat melihat bagaimana Allah bekerja memakai setiap hamba-Nya.

Tak diperhitungkan di mata manusia, tetapi dipilih Allah

Ester terpilih menjadi permaisuri menggantikan Ratu Wasti setelah melewati seleksi ketat—mungkin semacam beauty pageant di hari ini dengan mempertimbangkan brain, beauty, behavior—yang diikuti perempuan-perempuan muda yang elok parasnya dari semua daerah (dalam Ester 1:1 disebutkan ada 127 daerah di wilayah kekuasaan Ahasyweros yang meliputi India sampai Etiopia) dan memakan waktu panjang. Sebelum tampil di depan raja, mereka dikarantina selama 12 bulan di dalam Benteng Susan untuk menjalani perawatan tubuh. Ester mendapat jadwal bertemu raja setelah hampir 2 tahun dikarantina, yaitu di bulan kesepuluh di tahun ketujuh pemerintahan Ahasyweros. Di pertemuan pertama mereka, Ahasyweros langsung jatuh hati pada perempuan keturunan Yahudi dari suku Benyamin, anak yatim piatu yang dibesarkan oleh Mordekhai, saudara sepupunya itu dan memberinya mahkota kerajaan (Ester 2:17).

Kesabaran Ester diuji saat harus meninggalkan kenyamanannya dan menjalani karantina di Susan. Jika kita coba bayangkan, tentulah apa yang Ester jalani tidak mudah. Ester, seorang Yahudi, harus tinggal di tengah bangsa lain. Namun, Ester selalu mengingat dan mengikuti nasihat Mordekhai untuk menjaga martabat bangsanya. Seorang hamba yang rendah hati dan menurut apa yang dikatakan oleh sida-sida raja; membuat orang yang melihatnya, mengasihi dirinya (Ester 2:15).

Kisah Ester menegaskan kembali pada kita bahwa Allah memilih seseorang untuk menjadi alat-Nya bukan berdasarkan standar manusia, tetapi berdasarkan hikmat dan kebijaksanaan-Nya. Dan, Ester pun taat menjalani tugas dan tanggung jawabnya. Seandainya saja Ester memberontak, mungkin nasib bangsanya akan berakhir tragis.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita merasa bukan orang yang dipilih Tuhan untuk membawa kebaikan bagi bangsa kita?

Kita mungkin bukan orang besar, bukan pejabat, atau bukan orang terkenal, tetapi itu bukanlah alasan bagi kita untuk berkecil hati. Tindakan kecil kita bisa memberi dampak yang berarti, minimal untuk orang-orang di sekeliling kita.

Hal paling mudah yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi bagi bangsa kita pada masa kini adalah dengan taat pada anjuran pemerintah untuk menekan laju pertambahan kasus Covid-19.

Bijaksana dalam bertindak

Ester mengetahui rencana jahat Haman, pembesar kerajaan yang ingin memusnahkan orang-orang Yahudi yang ada di kerajaan Persia dari pesan yang disampaikan Mordekhai padanya lewat pelayan istana. Kalau saja Ester tak bijak menyikapi setiap informasi yang diterimanya, bisa jadi Ester akan memanfaatkan posisinya sebagai ratu untuk bertindak. Bukankah dirinya kesayangan raja dan apapun yang dimintanya akan dituruti Ahasyweros? (Ester 5:6).

Sekalipun Ester risau pun ingin menyelamatkan kaumnya, Ester tak tergesa-gesa untuk melaporkan Haman. Ester pasti marah pada Haman. Tapi Ester tenang dan menjaga pikirannya tetap bersikap adil pada ketidaknyamanan yang terjadi di sekelilingnya. Dan itu menuntun Ester pada keputusan besar; bertanya lebih dulu pada Tuhan serta mengajak semua orang Yahudi juga pelayannya berpuasa dan berdoa untuknya sebelum ia mendatangi istana raja walau ia tahu hukuman bagi orang yang menghadap raja tanpa dipanggil adalah mati (Ester 4:16 – 5:1). Lalu ketika bertemu raja, Ester tak langsung menyampaikan apa yang sedang terjadi. Ia malah memberikan undangan makan siang dan meminta Ahasyweros mengajak serta Haman ke jamuan makan tersebut. Di acara makan siang itulah Ester “menelanjangi” Haman sehingga mendapatkan ganjaran hukuman mati di tempat yang disiapkan untuk menggantung Mordekhai.

Bagiku, apa yang diperbuat Ester itu keren. Pada zaman itu, ketika belum ada telepon, pesan hanya bisa disampaikan dari mulut ke mulut. Salah tangkap atau salah paham bisa sangat wajar terjadi. Atau, jika sang pembawa pesan adalah orang yang cepat panas hati, tidak sabaran, atau tidak suka pada Ester, bisa saja informasi itu akan bocor ke mana-mana.

Bagaimana dengan kita? Kita hidup di zaman yang jauh lebih maju daripada Ester. Ketika menerima informasi, apakah kita mencernanya dengan bijak atau buru-buru larut ke dalam emosi?

Emosi kita berjalan mengikuti apa yang kita pikirkan. Butuh keberanian besar dan hati yang luas untuk menentang ketidakadilan, dan semua itu berawal dari pikiran (Filipi 4:4-8). Pengkhobah 3:1,7 menulis segala sesuatu ada waktunya .. ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara. Ester pun tahu untuk bertindak tepat pada waktu-Nya, dia harus fokus pada kehendak-Nya.

Segala pencapaian Ester tak akan terjadi apabila dia tidak melekat pada Allah. Oleh pertolongan Allah, Ester mampu melakukan hal-hal besar yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya.

Pertanyaan bagi kita di masa kini: maukan kita melangkah seperti Ester dengan melekatkan diri pada Allah lewat doa dan berpuasa?

Baca Juga:

Belajar Dari Rasa Kehilangan

Ketika kakak rohaniku dipanggil Tuhan, aku merasa sangat kehilangan. Rasanya seperti ‘kehilangan pegangan dalam melayani Tuhan.

Mengerjakan Misi Allah melalui Pekerjaan Kita

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

“Biasalah warga +62”

Kalimat itu tertulis di sebuah stiker WA. Ketika seorang teman berkata atau berbuat sesuatu yang menurutku udik, stiker tersebut jadi respons yang kurasa pas. Tapi, meski cuma candaan, tanpa kusadari aku melabeli “warga +62” atau warga negara Indonesia sebagai pihak yang kurang tahu sopan santun atau kampungan. Tidak berusaha membenarkan diri, namun aku melihat bukan hanya aku yang melakukannya.

Lebih lanjut, ketika melihat berita mengenai penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, seringkali aku melihat komentar di sosial media yang kurang mengenakkan. Kritik dan kekecewaan terhadap penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia datang dari berbagai penjuru. Kemelut, konflik, dan debat-debat di kolom komentar tidak bisa dihindari hingga terkadang membacanya membuatku menghela napas.

Pernahkah terpikir oleh kita mengapa kita lahir sebagai orang Indonesia pada waktu seperti ini?

Menjadi Nehemia bagi Indonesia

Nehemia bin Hakhalya merupakan orang Yahudi yang dibuang ke Persia dan bekerja sebagai juru minuman Raja Artahsasta I (raja Persia) di Puri Susan. Suatu hari ia mendengar kabar mengenai Yerusalem, kampung halamannya; dan kondisi orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dari salah seorang dari saudara dari Yehuda.

“Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar.”

(Nehemia 1:3)

Ketika Nehemia mendengar berita itu, dia duduk menangis dan berkabung selama beberapa hari. Nehemia kemudian berpuasa dan berdoa kepada Allah untuk memohon pengampunan atas dosanya, kaum keluarganya, serta bangsanya; dan memohon belas kasihan Allah untuk memulihkan bangsanya. Tidak berhenti di situ, Nehemia kemudian kembali ke kampung halamannya untuk membangun kembali Tembok Yerusalem, sebuah tindakan yang nekad namun penuh dengan kasih untuk bangsanya. Perlu diingat kembali bahwa sebagai seorang juru minuman raja yang tinggal di istana, Nehemia sebenarnya telah hidup dalam zona nyaman. Namun, Nehemia memutuskan untuk menginggalkan segala kenyamanan dan kemapanannya untuk melakukan sesuatu bagi bangsa yang dikasihinya.

Mungkin sebagian dari kita, seperti Nehemia, hidup dalam kenyamanan dan privilese yang kadang membuat kita terlena dan merasa aman. Kenyamanan menumpulkan indera-indera kita; membuat kita seringkali abai dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini: budaya korupsi yang mengakar, penegakan hukum dan keadilan yang seolah mati suri, kemiskinan di mana-mana, keagamaan yang serba formalitas belaka, serta kekerasan dan intoleransi yang dibiarkan saja. Kita berpikir bahwa masalah-masalah ini hanya ada di dunia maya dan tidak bersentuhan langsung dengan kita dalam kehidupan nyata. Kita mungkin bekerja pada sektor yang “tidak menantang”, sehingga kita berpikir bahwa urusan untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas bukanlah bagian kita, bahkan mungkin kita yang berhadapan kondisi-kondisi tersebut, cenderung memilih untuk mengambil tempat yang aman dan bekerja secara mekanik: datang ke kantor setiap pagi, mengerjakan bagian kita sebisanya, kemudian pulang ke rumah dan melupakan apa pun yang terjadi di kantor hari ini. Yang penting pekerjaan selesai, yang penting aku tidak berbuat curang.

Namun, orang Kristen tidak dipanggil dalam kenyamanan dan kemudahan. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil ke dalam dunia yang rusak karena dosa yang merajalela. Kita diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala (Matius 10:16a). Dalam anugerah Tuhan, masing-masing kita diberikan bagian untuk berkarya untuk sesuatu yang lebih besar daripada atasan atau instansi/perusahaan tempat kita bekerja; kita dipanggil untuk mengerjakan misi Allah bagi dunia di dalam pekerjaan kita.

“Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.

(Ester 4:13-14)

Seperti Nehemia dalam jabatannya sebagai juru minuman raja di istana atau Ester dalam jabatannya sebagai ratu, kita dipanggil dalam profesi kita untuk berkontribusi menghadirkan shalom di dunia. Dalam kedaulatan Tuhanlah Nehemia dan Ester memiliki jabatan yang strategis pada waktu tantangan besar sedang terjadi, sehingga Nehemia dan Ester dapat membuat perubahan. Sama seperti Nehemia dan Ester, kita dipanggil untuk merespons panggilan Allah secara spesifik bagi hidup kita, untuk berani keluar dari “cangkang kenyamanan” dan mau berjuang bagi bangsa kita.

Mewujudkan shalom tidak melulu bicara soal transformasi besar-besaran pada sebuah bangsa atau komunitas. Shalom yang adalah damai sejahtera, keadaan di mana Allah berkuasa, dapat kita hadirkan ketika kita bersedia melihat dengan hati dan melayani setiap orang yang kita jumpai dengan sepenuh hati. Ketika seorang guru mengajar muridnya, ketika seorang dokter mengobati pasiennya, ketika seorang petugas kebersihan menjaga lingkungan tetap asri, Allah dapat memakai setiap buah pekerjaan itu bagi kemuliaan-Nya.

Jika Engkau Mempunyai Mata, Maka Melihatlah

“Jika engkau mempunyai mata, maka melihatlah” adalah salah satu judul bab dalam Buku Vision of Vocation (Panggilan untuk Mengenal dan Mengasihi Dunia) oleh Steven Garber. Judul bab ini (tentu beserta isinya) menghantuiku—mengguncangku untuk membuka mata dan telinga selebar-lebarnya terhadap lingkungan sekitar. Aku tahu bahwa kondisi Indonesia jauh dari kata ideal, tapi apakah aku benar-benar “tahu”? Aku melihat ketidakadilan dan kemiskinan di depan mata, tapi apakah aku benar-benar “melihat”? Bagaimana denganmu? Apakah kamu “melihatnya”?

“Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

(Yeremia 29:7)

Kita tidak perlu menjadi pejabat publik atau posisi strategis lain untuk mengambil bagian dalam membangun bangsa dan negara kita. Panggilan atau pekerjaan apa pun yang Tuhan percayakan bagi kita; apabila kita menyadari bahwa kita mengerjakannya untuk Tuhan demi menghadirkan kesejahteraan bagi negara ini, maka kita telah menjadi bagian dalam pekerjaan Tuhan bagi Indonesia.

Kiranya dalam anugerah-Nya, Tuhan menolong kita untuk menjadi Nehemia-Nehemia, Ester-Ester, dan Daniel-Daniel di masa kini. Kiranya dalam anugerah-Nya, Tuhan menolong kita untuk sungguh-sungguh melihat, sungguh-sungguh berdoa, dan sungguh-sungguh berkarya bagi Tuhan, Bangsa Indonesia, dan sesama.

Soli Deo Gloria.

May we be a people, a people mending broken lives
Giving hope to broken world by the grace of God
May we be a people, a people serving God and man
Bringing love and dignity, in Jesus’ Name
(lirik bait kedua Bring Your Healing to The Nation – Liz Pass dan David Pass)

Semoga kita menjadi umat yang dapat memperbaiki hidup yang rusak
Memberi harapan bagi dunia yang rusak dalam kasih karunia Tuhan
Semoga kita menjadi umat yang melayani Tuhan dan manusia
Membagikan cinta dan martabat, di dalam nama Tuhan Yesus

div style=”line-height: 20px; background-color: #dff2f9; padding: 20px;”>Baca Juga:

Lima, Dua, Satu

Ketika Tuhan memberi talenta dengan jumlah yang berbeda, banyak orang berpikir Dia tidak adil. Mengapa tidak dibuat sama? Mengapa harus berbeda?