Sekalipun Aku Tuli, Tetapi Tuhan Tidaklah Tuli

Sekalipun-Aku-Tuli,-Tetapi-Tuhan-Tidaklah-Tuli

Oleh Evant Christina, Jakarta

Pernahkah kalian bergumul karena kekurangan fisik yang kalian alami? Aku pernah mendapatkan perlakuan tidak baik, merasa dikucilkan, bahkan juga mengalami diskriminasi karena sebuah cacat fisik yang kualami sejak lahir. Hidup dengan keadaan disabilitas sejatinya tidaklah mudah buatku, namun karena penyertaan Tuhan sajalah aku bisa melewati hari-hariku.

Ketika aku masih berada dalam kandungan, virus menginfeksi janin dalam rahim ibuku. Virus itu kemudian menyerang indra pendengaran dan penglihatanku. Ketika janin itu genap berusia sembilan bulan, maka terlahirlah aku ke dunia dalam keadaan tuli dan mata yang juling. Ketika aku beranjak dewasa aku sempat bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkan aku mengalami cacat fisik seperti ini? Bahkan, aku pernah menyalahkan Tuhan karena aku terlahir dalam keadaan cacat.

Di kala aku bertanya-tanya tentang apa maksud Tuhan dari cacat ini, aku menemukan sebuah video kesaksian yang diunggah di YouTube. Video itu diberi judul “Tuhan tidak tuli” dan bercerita tentang kesaksian dari Yahya Tioso, seorang penyandang tunarungu sejak lahir yang kini telah bekerja sebagai desainer. Yahya tidak menyerah sekalipun karena cacat fisiknya dia sempat tidak memiliki teman dan merasa dikucilkan. Di video itu, dia juga menyebutkan sebuah ayat yang diambil dari Yohanes 9:3, ketika murid-murid bertanya kepada Yesus mengapa ada seorang yang dilahirkan buta. Yesus menjawabnya demikian, “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” Apa yang baru saja kusaksikan itu menyadarkanku bahwa aku tidak sendiri. Ada orang-orang lain di luar sana yang juga memiliki disabilitas tetapi bisa memuliakan Tuhan lewat kehidupan mereka.

Sejak masih kanak-kanak di sekolah Minggu dahulu, aku bercita-cita ingin menjadi saluran berkat buat orang lain lewat pelayanan. Aku melihat teman-teman di kelasku bisa menyanyi, menari, dan tampil di panggung di hadapan banyak orang. Aku ingin bisa seperti mereka, tetapi karena disabilitasku, aku tidak bisa melakukan seperti yang mereka lakukan. Ketika teman-temanku yang lain bernyanyi riang bersama-sama, aku hanya sekadar mengikuti irama mereka menyanyi. Kadang juga aku terdiam sambil menghayati lagu, atau bertepuk tangan.

Kerinduanku untuk melayani itu dijawab Tuhan. Dia memberiku sebuah kesempatan untuk mulai melayani-Nya. Karena aku tidak bisa bernyanyi, aku diberi kesempatan untuk menjadi seorang pembawa kantong persembahan. Aku bersukacita atas pelayanan sederhana yang bisa kulakukan saat itu. Seiring waktu beranjak, harapan dan semangatku untuk melayani tidak pudar hingga aku masuk ke komisi remaja.

Di masa remaja ini aku berharap bisa berbaur dengan teman-teman baru. Akan tetapi, harapanku untuk bisa berbaur dengan teman-teman itu tidak mudah. Banyak dari mereka tidak memahamiku sehingga aku merasa dikucilkan. Lama-kelamaan aku mulai undur diri dan jarang hadir dalam pelayanan di komisi remaja gerejaku.

Aku berdoa kepada Tuhan dan menceritakan segala keluh kesahku kepada-Nya. Tuhan tidak tertidur, Dia mendengar isi doaku. Tak lama kemudian, salah seorang teman senior di komisi remaja bertemu dan bertanya mengapa aku sudah jarang terlihat hadir. Aku bingung mau menjawab apa, akhirnya malah ibuku yang menjelaskan masalahku kepadanya. Setelah pertemuan itu, dia mengajakku untuk kembali bergabung dan melayani Tuhan bersama-sama di komisi remaja.

Kadang-kadang, setiap minggunya, aku diberi tugas pelayanan sebagai penerima tamu dan pembawa kantong persembahan. Aku tidak pernah menolak saat selalu diberi tugas yang sama. Tugas pelayanan inilah yang selalu aku lakukan dari sejak kanak-kanak di sekolah Minggu, remaja, hingga sekarang di komisi pemuda. Lalu, aku juga amat bersyukur karena Tuhan boleh mempercayakan tugas pelayanan lainnya kepadaku. Setelah beberapa kali diberi kesempatan menjadi panitia untuk suatu acara, aku pernah masuk kepengurusan komisi pemuda dan melayani di divisi marketing and communication selama dua tahun.

Akan tetapi, perjalanan pelayananku tidak sepenuhnya mulus. Tidak semua teman-temanku menerimaku apa adanya. Kadang, ada pula yang memandangku sebelah mata karena disabilitasku. Ada yang memandangku penuh keraguan, menganggapku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku tuli.

Di tahun ini aku tidak diberikan lagi kesempatan untuk melayani sebagai pengurus di komisi pemuda setelah masa kepengurusan dua tahun selesai. Sejujurnya aku merasa sedih dan merasa Tuhan seolah tidak adil karena aku adalah seorang penyandang tunarungu, sedangkan orang lain bisa melayani-Nya dengan mudah sesuai dengan talenta masing-masing. Tapi, kemudian aku ingat sebuah ayat yang mengatakan bahwa rencana Tuhan tidak pernah salah, seperti tertulis demikian, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2).

Alih-alih menjadi kecewa dan terpuruk, aku mencoba untuk menggali potensi diriku dan menggunakannya untuk melayani Tuhan. Pahit manis kehidupan pelayananku, kehidupan sekolah hingga kuliahku, semuanya aku coba tuangkan dalam untaian kata. Aku menulis cerita-cerita dari pengalaman hidupku, mempublikasikannya di blog pribadiku, juga mengirimkannya ke beberapa situs rohani Kristen. Aku berharap bahwa kisah hidupku bisa menjadi kekuatan untuk orang lain yang membacanya.

Aku tahu, bukan aku saja yang memiliki pergumulan hidup. Tapi, hendaknya semangat kita tidak padam. Tuhan tidak tuli atapun juga tertidur. Dia selalu mendengar setiap doaku, entah itu yang kubisikkan ataupun hanya terlintas di hati. Dia memelukku setiap kali aku merasa lemah dan tak berdaya. Dia memberiku kekuatan untuk melewati setiap hari.

Untuk menutup kesaksian ini, aku berharap apabila kamu memiliki teman-teman penyandang disabilitas yang punya kerinduan untuk melayani dan berkarya, berilah kesempatan kepada mereka untuk melakukannya. Lalu, untuk teman-teman penyandang disabilitas, jangan pernah putus asa, tetap semangat melayani Tuhan dalam keadaan apapun. Tuhan memiliki rencana yang baik atas hidup setiap kita. Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Mengapa Aku Tidak Puas dengan Hidupku?

Pekerjaanku sebagai seorang dokter kadang membuatku stres. Setiap harinya aku harus mengambil keputusan yang berkaitan dengan nyawa manusia. Tanggung jawab yang kuemban ini pernah membuatku merasa tidak puas dengan diriku sendiri.

Facebooktwitterreddit

7 replies
  1. Jefri Kurniawan
    Jefri Kurniawan says:

    semoga tulisan ini bisa membuka mata bagi semua orang normal khususnya orang kristen yang normal bahwa mereka yang menyandang disabilitas sebenarnya lebih hebat karena mereka melayani tuhan dengan segala kekurangannya.. bukan orang normal yang melayano dengan kelebihannya.. ini sebagai pengingat buat aku juga secara pribadi.. thank you.

  2. Trisna Meiliana
    Trisna Meiliana says:

    Semoga semakin diberikati dalam pelayanannya meskipun dengan keterbatasan , dengan kesaksian ini jg menyadarkan sy untk tidak patah semangat dalam menghadapi pergumulan

  3. Ida marta
    Ida marta says:

    Terpujilah Tuhan Sang Khalik yang setia & menjadi tempat perteduhan. Tuhan dimuliakan lewat perjalanan hidup penulis artikel ini. Teruslah menjadi berkat.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *