Posts

Cerpen: Hanya Sepasang Sepatu

Oleh Tri Nurdiyanso, Surabaya

Dua puluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000, aku masih duduk kelas 2 SD Negeri di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Satu kelas hanya diisi dengan 22 siswa, termasuk aku. Bangunanya juga tidak sebagus sekarang. Dulu, temboknya bisa mengelupas sendiri karena termakan usia.

Di tempat inilah aku belajar mengenal angka dan huruf. Jaraknya tidak jauh dari tempat tinggalku, sehingga aku hanya perlu berjalan kaki untuk berangkat sekolah. Aku bukan siswa yang mudah bergaul dengan teman-temanku. Lebih baik diam dan menyendiri di sudut ruangan. Penampilanku yang kumal dan rambut berantakan, membuatku minder untuk bergaul. Memulai pembicaraan saja, aku gagap.

Kadang juga mempertanyakan kenapa aku harus sekolah, jika sebenarnya orang tuaku saja kesulitan membiayai uang SPP-ku. Seingatku biayanya hanya tiga ribu rupiah per bulan, tetapi mereka tidak mampu membayarnya. Hingga sekarang nominal itu terngiang di kepalaku, karena hampir tiap bulan namaku disebut untuk menagih uang bulanan tersebut. Hal inilah yang menambah keminderanku untuk bergaul, kadang juga malas untuk sekolah.

Bisa dilihat bagaimana tertekannya seorang anak kecil yang melihat temannya bisa menikmati jajanan di kantin, sewaktu jam istirahat. Tak ada uang satu koin pun di dalam kantong, yang ada hanya perasaan iri. Kadang pertanyaanku pun muncul pada waktu itu, “Kenapa Tuhan mengizinkanku lahir di keluarga ini?” Aku tidak bisa menerima segala kekurangan yang kumiliki. Pertanyaan itu hanya tinggal sebuah penyesalan yang kubawa semasa kecil.

* * *

Seperti biasanya, hari Senin adalah hari untuk upacara. Kepala Sekolah menjadi pembina upacara dan seluruh peserta memadati halaman depan. Semua petugas tampak terlatih dalam menjalankan upacara Senin seperti biasanya. Semuanya terlihat sama seperti upacara bendera sebelumnya, kecuali suara dari sang pembina di tengah pidatonya.

“Tolong maju ke depan! Siswa yang berada di barisan kelas 2,” tangan kepala sekolah itu menunjukku. Tetapi aku tidak merasa ditunjuk dan diam di barisanku.

“Tolong siswa yang berada di barisan ketiga, sebelah kanan. Untuk maju ke depan,” lanjutnya.

Benar saja, aku dipanggil oleh kepala sekolahku selaku pembina upacara. Aku melangkah dengan sedikit gemetar. Lututku juga tidak bisa kukendalikan, meski hanya berdiri di samping kirinya. Aku hanya menundukkan kepalaku ke tanah. Betapa malunya aku tampil di depan umum seperti ini. Padahal aku juga tidak merasa melakukan kesalahan apa pun, aku juga tidak memenangkan suatu perlombaan.

“Coba, anak-anakku sekalian. Lihatlah penampilan siswa kelas 2 ini,” kata Kepala Sekolah sembari tersenyum. Semua pasang mata terlihat mengamatiku lebih detail lagi. Semakin malu aku dibuatnya.

“Nak, sepatu yang kamu pakai itu belinya di mana?”

“Kata ibu, ini belinya dari pasar, Pak”

“Kamu tahu harganya berapa?”

“Tiga ribu, Pak.” Kepalaku semakin menunduk. Aku tahu harganya sangat murah. Merek pun tak tertempel di sepatuku. Hanya berbahan kain berwarna abu-abu, yang tingginya tidak sampai mata kakiku. Betapa memalukan aku ini!

“Nah, seharusnya kalian semuanya harus mencontoh anak ini! Dia mau memakai sepatu yang murah dan pantas dipakai. Sekolah bukan berarti harus berpenampilan bagus dengan memakai sepatu bagus. Kalian masih diberi kesempatan belajar di SD ini, manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan malu apa yang kalian pakai, tetapi fokuslah belajar,” jelasnya dengan penuh semangat.

Aku pun dipersilahkan untuk kembali ke barisanku. Perasaan malu sedikit terangkat oleh sebuah kebanggaan. Mungkin memang murah kalau dilihat dari segi harganya, tetapi perkataan kepala sekolahku telah membuatnya menjadi mahal nilainya. Semenjak itu, aku belajar untuk mensyukuri segala kekuranganku dan melihat seperti apa yang dilihat oleh kepala sekolahku.

Mungkin ini yang dimaksud sebuah sukacita. Bukan masalah perasaan senang mendapatkan suatu yang mahal dan mewah. Tetapi bagaimana sikap hati yang mampu mensyukuri atas apa yang diterima dan memiliki sudut pandang yang dimiliki oleh Tuhan terhadapku. Mungkin memang hidupku itu penuh kekurangan, tetapi Tuhan melihatku sebaliknya seperti perkataan kepala sekolahku terhadap sepatuku.

Tuhan memberkati, Amin.

“Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur” (Mazmur 4:7).

Baca Juga:

Ketika Pekerjaan Tak Hanya Sebatas Cari Uang dan Kerja Kantoran

Aku belajar bahwa kita tidak akan pernah menemukan tempat kerja se-sempurna yang kita inginkan. Bahkan seorang petani pun harus turun menjejakkan kakinya di lumpur agar bisa bertani.

Menulis Obituari di Masa Muda: Bagaimana Kamu Akan Dikenang Nanti?

Oleh Queenza Tivani, Jakarta

Beberapa minggu terakhir ini, aku dikejutkan dengan kabar kepergian figur yang aku tahu. Kabar pertama datang dari seorang pendeta di gerejaku tempatku berjemaat dahulu, dan juga kepergian seorang musisi Indonesia.

Ucapan belasungkawa dan testimoni singkat mengenai betapa baik hatinya orang-orang tersebut membanjiri timeline media sosialku. Aku membacanya dan tanpa sadar aku meneteskan air mata. “Tidak ada yang tahu tentang hari besok. Semua menjadi misteri.” Kata seorang temanku ketika aku berdiskusi dengannya mengenai kisah ini. Ya benar, Seperti dalam Yakobus 4:14 berkata “kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”

Kisah tersebut, mengingatkan aku pada pertanyaan, “Seperti apakah kamu ingin dikenang saat kamu telah tiada?”

Pertanyaan ini pertama kali ditanyakan ketika aku masih orientasi mahasiswa baru. Saat itu, kami dibagi per kelompok 10-15 orang dan dibimbing oleh 2 orang kakak pembimbing. Materi orientasi saat itu bertemakan “tujuan hidup”, dan aku terkejut ketika kakak pembimbing memberikan sebuah lembaran kertas bergambarkan sebuah batu nisan kosong. Tak hanya itu, aku semakin terkejut ketika dia menyuruh kami menuliskan nama kami masing-masing di gambar batu nisan tersebut, diiringi tanggal lahir dan tanggal kematian. Tanggal kematian ditulis dengan tanggal yang sama dengan hari itu, tetapi 2 tahun dari sekarang. Hatiku bertanya-tanya, “Untuk apa sih? Ini terlihat sangat menyeramkan. Aku baru saja jadi mahasiswa baru, kok malah disuruh merancang kematianku sendiri.” Tapi, aku tetap mengikuti arahannya.

Saat itu kami diminta untuk menuliskan obituari kami sendiri. Yang kutuliskan adalah: “Aku ingin dikenang sebagai seorang Kristen yang taat. Pribadi yang ceria dan menghormati orang tua. Pribadi yang selalu membawa sukacita bagi orang lain. Pribadi yang membuat orang tua bangga karena kegigihan dan semangatnya.” Setelah menuliskan ini, kami disuruh untuk memikirkan langkah-langkah konkrit untuk mewujudkannya. Sebuah hal kecil yang selalu kuingat hingga hari ini.

Sekarang, ketika aku flashback ke masa-masa itu, aku menyadari bahwa setelah hari aku “dipaksa” memikirkan kematianku, aku jadi hidup dengan sebuah tujuan. Tujuan untuk hidup sebagai seorang Kristen yang taat, menjadi pribadi yang baik dan membanggakan bagi orang tua. Perlahan-lahan kugapai semua angan-angan tersebut. Walau belum sempurna, kisah mahasiswa baru itu membuatku untuk tetap berada pada track yang benar.

Pernahkah kamu berpikir hal ini? Warisan rohani apa yang ingin kamu tinggalkan bagi keluarga dan kerabatmu?

Jika aku ingin dikenang menjadi seorang pribadi yang cinta Yesus dengan segenap hati dan jiwa, maka dalam hidupku saat ini ku juga harus sejalan dengan isi hati-Nya. Membaca Firman Tuhan untuk mengetahui isi hati-Nya dan terus berkomunikasi dengan Dia melalui doa. Aku belajar membuat list pokok-pokok doa mingguan untuk menolongku berdoa bagi sesama, bukan saja berdoa tentang pribadiku. Hari Senin, aku mendoakan keluarga besarku. Hari selasa, aku mendoakan komunitas di mana aku bergereja dan bertumbuh. Aku bahkan menyebut nama mereka satu per satu dalam doaku. Dilanjutkan dii Rabu, aku mendoakan bangsa dan negara. Begitu seterusnya. Aku pun mengatur reminder di HP untuk saat teduh. Konsisten melakukan ini tidak mudah, seringkali aku pun gagal. Adakalanya aku melewatkan itu berhari-hari. Namun ketika gagal, aku diingatkan kembali oleh Roh Kudus untuk bangkit dan bahwa tujuan hidupku adalah untuk memuliakan Dia.

Tidak seorang pun kelak bisa menghindar dari kematian. Namun, ketika kita sudah menerima Kristus, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Aku ingin mengajakmu yang membaca cerita ini untuk mulai berpikir akan akhir hidup kita di dunia. Kita perlu memikirkan sesuatu yang lebih jauh, tentang hari depan. Ketika kita memahami bahwa kita akan diperhadapkan dengan kematian, sudah seharusnya kita tidak menjalani hidup dengan cara yang sia-sia. Kita bisa menjadikan hidup kita berkat bagi orang lain. Kita harus menghidupi kehidupan saat ini dengan sesuatu yang baik, berguna dan memenuhi apa yang menjadi panggilan Tuhan dalam hidup kita.

Bulan ini kita telah merayakan Jumat Agung dan Paskah, kematian dan kebangkitan Yesus Krisus. Ketika Dia telah menyerahkan seluruh hidupnya bahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa manusia, maka apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa menolong sesama kita hari ini. Mulai dari hal sederhana, bertanya kabar dan mendoakannya. Juga jika hari ini kita diberikan pekerjaan dan tanggung jawab, lakukanlah itu dengan sepenuh hati.

Aku teringat akan Paulus, rasul yang pelayanannya memberkati banyak orang. Paulus yang dulunya penganiaya orang-orang percaya diubahkan Tuhan menjadi seorang Kristen yang taat dan berapi-api. Dia tak cuma mengabarkan Injil, tapi juga memberikan hidupnya bagi Injil. Satu hal yang aku pelajari dari hidup Paulus adalah ketika dia menerima Kristus, hidupnya mengalami perubahan. Pandangannya mengarah kepada rancangan Tuhan. Hidupnya hari demi hari berfokus pada bagaimana dia harus menjadi berkat bagi banyak orang.

Yuk ambil waktu sejenak untuk menuliskan obituari kamu sendiri. Jadikan apa yang akan kamu tulis di sana, sebagai sebuah komitmen bagaimana kamu akan menghidupi hari-harimu hari ini dan besok.

Baca Juga:

Surat untuk Sahabatku yang Sedang Berduka

Yang terkasih, sahabatku,

Tahun telah berganti, tetapi kamu tidak ingin melangkah sebab orang yang paling kamu kasihi, telah meninggalkanmu di tahun sebelumnya. Semarak pesta pergantian tahun tidak membuatmu terpesona. Kamu mungkin merasa lebih nyaman menghabiskan waktu di kamar. Dan, mungkin pula kamu berharap ada mesin waktu yang dapat membawamu kembali ke masa-masa dulu.

Tak Cuma Sungai, Hati Kita Pun Perlu Dinormalisasi

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Hari pertama tahun 2020 dibuka dengan bencana banjir yang menimpa kawasan di Jabodetabek. Dampaknya, aktivitas warga jadi terbatas, pun ada korban jiwa melayang. Namun, yang menarik adalah tindakan yang dilakukan pasca banjir untuk mencegah bencana serupa terulang di kemudian hari.

Para pakar dari banyak universitas bilang salah satu upaya penting mencegah banjir adalah dengan normalisasi sungai. Frasa “normalisasi” ini adalah istilah hidrolik yang merujuk kepada upaya meningkatkan kemampuan sungai agar kembali normal, termasuk mengendalikan debit sungai. Jika kita pernah singgah ke Jabodetabek atau kota besar lainnya di Indonesia, kita mungkin melihat bagaimana tepian sungai dipenuhi dengan aneka macam bangunan yang membuat lebar sungai jadi menyempit. Kala hujan turun dan debit air melonjak, sungai tak lagi mampu menampung limpahan air. Tak ayal, banjir pun terjadi.

Dari kondisi ini, kita mendapati: jika kondisi sungai tidak normal, maka banjir bisa terjadi. Demikian juga dengan kondisi hati manusia. Jika kondisi hati tidak normal, maka itu bisa membenamkan manusia ke dalam bencana banjir perbuatan dosa dan lumpur perilaku jahat.

Pentingnya hati manusia

Kenapa sih “hati” yang dibahas?

Pertanyaan ini lumrah. Kita sering mendengar kata “hati” dalam khotbah-khotbah di mimbar gereja. Kita juga tak asing dengan pernyataan, “Tuhan Yesus ada di hatiku.” Saking seringnya kita mendengar kalimat itu, mungkin kita pun mengira bahwa di Alkitab ada banyak ayat yang berkata, “Tuhan Yesus ada di hatiku.”

Padahal, jika dicermati, hanya ada satu bagian dalam Alkitab yang secara khusus merujuk pada kalimat Yesus hidup dalam hati seseorang.

Paulus yang mengucapkannya, “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih” (Efesus 3:16-17).

Pesan Paulus dan khotbah-khotbah Kristen sepanjang segala masa memberi kita peneguhan bahwa hati memiliki peran yang begitu penting dalam hidup manusia.

Hati adalah pusat kehidupan

Ada yang bilang pusat kehidupan manusia itu pikiran. Mereka menganggap manusia melakukan sesuatu karena pikirannya. Pendapat itu tampaknya tidaklah salah, tetapi dalam perspektif iman Kristen, pendapat itu kurang tepat. Sebab, Alkitab menyatakan manusia mendasari motif semua tindakannya sehari-hari karena hatinya.

Tuhan Yesus mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37). Orang bijak juga menyatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Dua nats ini menunjukkan betapa hati memiliki peran sentral dalam kehidupan manusia.

Hati adalah pusat intelektual, seperti yang Alkitab katakan, manusia itu “berpikir di dalam hati” (Mazmur 2:8), “merencanakan sesuatu di dalam hati” (Mazmur 140:3), dan “berdoa di dalam hati” (1 Samuel 1:12-13). Hati adalah perasaan. Alkitab mengatakan bahwa ada “hati yang gembira” (Keluaran 4:14), “hati yang mengasihi” (Ulangan 6:5), dan “hati yang berduka” (Ratapan 2:18).

Hati adalah pusat kehendak. Alkitab mengatakan, “hati yang berniat lakukan sesuatu” (2 Tawarikh 6:7, Roma 10:1), dan “hati yang mau tunduk pada Allah” (Yosua 24:23).

Dari pemahaman di atas, maka kita bisa mengerti bahwa hati adalah pusat kehidupan dan jati diri manusia. Pusat penggerak laku-hidup manusia. Tetapi, peristiwa kejatuhan manusia dalam dosa membuat hati manusia tidak normal lagi. Hati manusia tidak semurni ketika Adam dan hawa belum jatuh dalam dosa.

Hati manusia itu abnormal

Meski demikian, sejak manusia jatuh dalam dosa, hati manusia menjadi tercemar. Artinya, hati memiliki kecondongan maupun karakter yang melekat kejahatan dan melawan Allah. Jika hati tercemar oleh dosa, maka seluruh aspek hidup manusia pun turut dicemari oleh dosa, sebab hati adalah pusat keberadaan manusia. Hati manusia menjadi abnormal.

Dosa telah mencemari tubuh, pikiran, perasaan, dan kehendak setiap manusia. Jadi, dalam diri seorang manusia tidak ada satu bagian pun yang tidak dirusak oleh dosa. Sabda Tuhan berulang kali menunjukkan kepada kita tentang ketidaknormalan hati manusia, “Ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kejadian 6:5).

“Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya” (Kejadian 8:21b); “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat” (Mazmur 58:4); “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor” (Yesaya 64:6a).

“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9). Versi NIV mengatakan, “The heart is deceitful above all things and beyond cure. Who can understand it?” (Hati itu bersifat menipu daripada segala sesuatu dan tidak bisa diobati. Siapa yang bisa mengertinya?). Nats ini jelas menunjukkan bahwa hati manusia sudah sangat rusak.

Tuhan Yesus mengatakan, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat” (Matius 15:19).

Momen untuk normalisasi hati

Sama seperti sungai di Jakarta perlu dinormalisasi, demikian juga hati manusia. Langkah pertama yang perlu diambil untuk menormalisasi hati kita adalah menerima Yesus Kristus menjadi Juruselamat dan Tuhan kita secara pribadi. Tuhan Yesus mengatakan, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya” (Wahyu 3:20).

Kedua, bersedia diproses dalam pengudusan (sanctification) oleh Roh Kudus. Istilah “kudus” secara harafiah artinya “dikhususkan”. Semua orang yang dipanggil oleh Allah juga dijadikan-Nya kudus. Melalui proses pengudusan ini, Roh Kudus berkarya untuk memulihkan dan memperbarui manusia sesuai dengan gambar dan rupa Allah, menjadi seseorang yang sepenuhnya mempercayakan dirinya kepada Tuhan Yesus Kristus dan anugerah Allah, seorang yang percaya kepada Kristus dan taat kepada-Nya.

Proses pengudusan punya peranan yang penting dalam karya keselamatan yang dikerjakan Allah Tritunggal. Pengudusan adalah cara agar kita melatih diri menyangkal segala nafsu kedagingan dan kebiasaan buruk kita (Kisah Para Rasul 15:9; 1 Korintus 6:11; Efesus 2:10; Titus 2:14; 1 Tesalonika 4:3)

Teolog Louis Berkhof mengatakan, pengudusan adalah tindakan Roh Kudus yang secara terus-menerus dalam diri orang percaya demi membebaskannya dari kecemaran, dan memperbarui keseluruhan dirinya dalam gambar dan rupa Allah, sehingga memampukannya melakukan perbuatan baik.

Ketiga, menyadari segala kelemahan dan dosa kita di hadapan Tuhan. Tentu menormalisasi hati bukanlah perkara yang selalu mudah. Bisa saja kita jatuh bangun. Namun, ketika kita terjatuh, mari memohon pengampunan Tuhan dan segera bangkit kembali (1 Yohanes 1:9).

Normalisasi hati tidak dilakukan dalam waktu sekejap, tetapi membutuhkan waktu setiap hari di sepanjang usia kita. Normalisasi hati kita lakukan sebagai ucapan syukur kita kepada Allah yang telah menyelamatkan kita oleh kasih karunia-Nya di dalam Yesus Kristus.

Tahun 2020 ini adalah momen bagi kita untuk menormalisasi hati, layaknya sungai-sungai di Jakarta yang perlu dinormalisasi agar banjir tak lagi menerjang tiap kali hujan lebat mengguyur. Jika hati kita tidak normal, maka hati kita akan membenamkan kita dalam banjir perbuatan dosa dan lumpur perilaku jahat.

Baca Juga:

Sesegera Mungkin, Buatlah Rencana Keuanganmu!

Bicara soal uang, apakah kamu sudah melakukan perencanaan finansialmu sepanjang tahun ini?

Karuna Sankara, Ini Suratku Untukmu

Oleh Tri Nurdiyanso, Surabaya

Karuna Sankara, nama yang kupilih untuk bayi perempuanku. Dia lahir di bulan kesepuluh, hari kelima belas, pukul 04:00 pagi di salah satu klinik bidan di Surabaya. Dia anak perempuan yang menggemaskan dengan berat 3,3 kilogram dan panjang 52 cm. Sangat melegakan melihat dia lahir setelah perjuangan istriku melewati proses persalinan yang sungguh luar biasa.

Istriku merasakan kesakitan yang hebat dengan kontraksi-kontraksi yang sering bermunculan di hari Jumat sampai Senin. Selama empat hari itu, dia hampir tidak dapat tidur. Berdasarkan prediksi dokter, seharusnya Karuna lakhir tanggal 7 Oktober 2019, tetapi dia baru lahir di 15 Oktober 2019, pukul 04:00 pagi.

Beberapa jam sebelum Karuna lahir, tepatnya di hari Senin jam tiga sore kami diminta datang ke klinik untuk dilakukan tindakan pacu lewat selang infus. Tindakan ini menimbulkan rasa sakit yang lebih dalam persalinan normal. Tepat jam 12 malam, telah terjadi bukaan sempurna dan harusnya Karuna sudah siap dilahirkan.

Sebelumnya, sudah aku tanyakan berapa lama waktu untuk mengejan agar bayi kami lahir. Jawaban asisten bidan adalah maksimal dua jam, tapi dalam kurun waktu itu pun bayi kami belum lahir. Aku pun mulai panik dan tidak tega melihat istriku yang kesakitan luar biasa dengan merasakan tiap sobekannya.

Aku minta kepada asisten itu ntuk meminta rujukan saja ke rumah sakit tapi aku tidak tahu kenapa kami belum mendapatkan rujukan tersebut dan harus menunggu maksimal jam empat pagi. Aku keluar masuk ruang persalinan karena kasihan melihat istriku yang berjuang menanggung kesakitannya dalam persalinan ini. Lalu, datanglah anaknya bidan yang juga seorang bidan untuk membantu persalinan istriku.

Tepat pukul empat pagi, Karuna lahir dengan tangisannya. Namun, detak jantungnya kelihatannya tidak beres.

Aku izin pulang sebentar karena ada beberapa pekerjaan yang harus dibereskan terlebih dahulu. Agak berat bagiku untuk meninggalkan dua perempuanku sendirian. Di sini aku merasa sedikit bodoh. Meski aku tahu ada bidan yang menjaga, mengapa aku tetap meninggalkan mereka? Fatalnya, sampai di rumah aku pun ketiduran sampai jam 9 pagi. Sesegera mungkin aku kembali ke klinik dan memohon agar Karuna dibawa ke rumah sakit agar bisa ditangani lebih lanjut.

Aku bersama bidan dan asistennya membawa Karuna ke rumah sakit. Aku tahu istriku mencemaskan Karuna, karena seharusnya bayi yang baru lahir itu mendapatkan ASI dari ibunya, namun Karuna harus berjuang dahulu dengan sakitnya.

“Karuna kenapa, Hun?” pertanyaan itu selalu menempel di pikiranku.

Kucoba menenangkan diri tiap kali pertanyaan itu datang. Bidan menjawabku, “Tenang, Pak. Nanti akan baik-baik saja, karena terlalu lama dalam proses persalinannya.”

Perjuangan selama tiga hari

Setelah mendapatkan pertolongan intensif dari rumah sakit, hatiku sedikit lega. Kami menunggu, menangisi, dan menyesal mengapa ini harus terjadi kepada bayi kami. Padahal, kami selalu rutin cek kehamilan tiap bulan, bahkan seminggu sekali menjelang hari kelahiran.

Rekam medis Karuna dalam kandungan pun sangat baik. Tidak ada tanda-tanda buruk terkait kesehatannya. Namun, ketika dia lahir, yang kudapati malah hal lain. Istriku kesakitan dengan jahitan di perutnya yang cukup banyak, tapi seakan tak peduli akan sakitnya demi menemani Karuna.

Hari Jumat, kami merasa sepertinya Karuna tidak kuat bertahan dengan banyak selang di tubuhnya. Malam harinya, tubuhnya sempat drop dan dibutuhkan tindakan. Selang oksigen dipasang lewat mulutnya supaya dia tetap bisa bernafas.

Aku sungguh takut kalau-kalau memang benar Karuna meninggal. Jumat pukul 22:00, aku menulis sebuah tulisan untuknya:

Dear Karuna,

Kamu sedang apa di sana? Kenapa kamu masih suka dengan alat-alat bantu pernafasan itu? Tidakkah kamu ingin lepas itu semua untuk bermain denganku? Iya…bermain dengan bapak. Menunggumu terlahir adalah penantian terbesarku, tapi kenapa saat kamu lahir, kamu malah main sendiri dalam box itu?

Bapak gak bisa ikut main di situ, Karuna. Bapak gak mungkin bisa. Bapak melangkah masuk ruangan terluar saja sudah dilarang. Kenapa? Kenapa? Kau masih asyik di situ… AYOOO Karuna, come!

Bapak pengen pegang tangan mungilmu itu. Tapi, kenapa kamu pegang selang buat mainanmu?
Bapak pengen mencium bibirmu itu. Tapi kenapa kamu tak mau lepaskan selang itu?

Apa boleh bapak jadi selangmu, Karuna? Menggantikan apa yang kamu pegang dan kamu cium itu.

Apa boleh bapak jadi perbanmu, Karuna? Menggantikan apa yang melingkupi tubuhmu itu.

Mungkin bapakmu ini sudah gila, menginginkan dirinya menjadi benda mati hanya untuk menyentuhmu dan melingkupimu.

Mungkin bapakmu ini sudah tak waras, mengharapkan sesuatu yang mustahil dan bodoh.

Tapi, untuk apa ejekan gila dan tak waras itu jika bapakmu ini bisa menemanimu setiap waktu?

Waktu yang akan selalu berharga dan bernilai.
Tapi, ketika banyak orang ngomong, “Berarti anakmu lebih penting dari Tuhanmu ya?”
Pertanyaan itu memang tidak bisa aku jawab, karena secara teoritis pastilah Tuhan itu lebih penting darimu
Tapi hati bapakmu tidak membohongi kalau aku memilihmu.
Fakta ini menunjukkan kesalahan dalam diriku, sebagai manusia dan sebagai Bapak yang mengajarimu untuk takut akan Tuhan.

Bagian terakhir surat ini sangat berat bagiku, karena dari hal ini aku belajar memahami bagaimana perasaan Ayub yang tertulis dalam Alkitab. Benar apa yang Ayub katakan, bahwasannya manusia lahir dengan telanjang dan mati dengan telanjang pula; Allah yang memberi, Allah yang mengambil, terpujilah nama TUHAN (Ayub 1:21). Ayub mengatakan, kita harus menerima apa yang diberikan Allah, entah itu baik atau buruk menurut kita (Ayub 2:10b). Aku yang kehilangan seorang anak saja sakitnya luar biasa, apalagi Ayub yang kehilangan segalanya, sampai-sampai kesehatannya pun buruk. Namun, Ayub masih memandang Allah dengan benar.

Aku tahu aku menangisi anakku dengan keras, namun aku tahu juga Allah memiliki rencana yang baik menurut Dia, bukan menurutku. Aku belajar bersyukur di titik terendahku sekarang. Meski dulu mudah sekali aku mengucapkannya, tapi menerima kenyataan ini memang mengajarkanku banyak hal. Aku dan istriku belajar untuk tidak menyalahkan siapa pun, bahkan diri kami sendiri. Meskipun sering muncul penyesalan dan intimidasi, kami berusaha untuk mengutarakan hati kami sejujur-jujurnya dalam perbincangan kami dan dalam doa-doa kami.

Sebuah anugerah yang luar biasa untuk hadiah setahun pernikahan kami. Karuna meninggal di tanggal 19 Oktober 2019 pukul 00:00. Tangis dan kenangannya selalu kami simpan dan teladannya pun kami jaga.

Apakah Tuhan itu jahat terhadap kami? Nyatanya tidak. Tuhan tetap baik dalam ke-Mahakuasaan-Nya. Aku belajar dari anakku untuk mengampuni, sesuai dengan nama yang kami pilihkan untuknya pada bulan April 2019. Karuna berarti ‘mengampuni dan berbelas kasihan’. Karuna pergi untuk mengajari kami bagaimana untuk mengampuni diri kami, situasi, dan orang-orang yang terlibat dalam proses persalinan kemarin.

Karuna Sankara adalah anugerah indah yang Tuhan berikan kepada kami, meskipun kami mengantarkannya pergi dengan kesedihan dan tangisan.

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! TUHAN adalah bagianku, kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya” (Ratapan 3:22-24).

Baca Juga:

Memang Lidah Tak Bertulang, Tapi Firman-Nya Ada di Lidahku

“Kata-kata yang diucapkan sejatinya bukanlah sekadar ucapan, Yakobus berkata kata-kata kita bisa berkuasa memberikan berkat tapi juga bisa merusak (Yakobus 3:9-10).

Lantas, kata-kata seperti apa yang seharusnya keluar dari mulut kita?”

Bukan Natal Biasa

Oleh Jessica Tanoesoedibjo, Jakarta

Ketika aku menyalaminya, dan kita saling bertatapan, air pun mengalir dari matanya. Aku tak mengerti apa yang ia rasakan, atau apa yang ia mau ungkapkan. Aku bahkan tidak mengetahui namanya. Tetapi hatiku turut sedih ketika melihat oma tersebut tak berdaya, duduk di kursi roda, dan di mulutnya dipasangkan selang. Aku tidak kenal padanya, dan mungkin setelah aku pulang dari tempat ini, aku tidak akan ketemu si oma lagi.

Beberapa waktu lalu, aku dipercaya untuk membawakan firman pada perayaan Natal yang kantorku selenggarakan dengan suatu panti jompo.

Apa yang dapat aku bagikan, Tuhan? Aku berdoa. Aku hanya 25 tahun, mungkin pengalaman hidup juga tidak seberapa. Apalagi dibandingkan dengan orang-orang tua di sana. Siapakah aku? Ah, tetapi lagi-lagi aku diingatkan, kesempatan untuk membagikan firman Tuhan adalah suatu karunia. Bukan karena kehebatan ataupun pengalamanku, melainkan kekekalan firman Tuhan itu sendiri.

Tetapi apa yang dapat kubagikan kepada oma opa di sana? Ah, tentunya Injil. Kabar baik Kristus adalah pengharapan di setiap masa. Untuk anak muda maupun yang tua.

Walaupun dunia selalu menjunjung tinggi hal-hal yang fana, mencari cara untuk mempreservasi diri, mempertahankan kecantikan dan kekuatan—Alkitab mengajarkan bahwa, “keindahan orang tua ialah uban,” (Amsal 20:29). Tuhan tidak pernah merendahkan manusia karena usianya, maupun ketidakberdayaannya. Ketika Sara tertawa karena ia mendengar perkataan Tuhan kepada Abraham, bahwa ia akan mengandung anak di hari tuanya, Tuhan tetap bekerja. Tuhan tidak bergantung pada kekuatan manusia. Ia tidak memandang rupa.

Tetapi Tuhan memandang manusia berharga, hanya karena dari awal penciptaan, Sang Pencipta membuat kita “segambar dan serupa dengan-Nya,” (Kejadian 1:27).

Namun, yang kita ketahui, walaupun manusia telah diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan, kita telah jatuh dalam dosa dan mencemarkan gambaran sempurna Allah. Ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan, kekacauan mulai datang pada dunia. Dosa membuat hubungan antara manusia menjadi renggang: Adam dan Hawa saling menuduh dan menyakiti (Kejadian 3).

Kita pun pasti pernah disakiti dan menyakiti, maupun secara sengaja atau tidak sengaja. Tapi apa yang kita perbuat terhadap manusia lainnya tidak sebanding dengan apa yang kita perbuat terhadap Allah. Karena setiap kali kita menyakiti manusia lainnya, kita telah berdosa terhadap gambaran Allah, dan berdosa terhadap Allah sendiri.

Ketika manusia jatuh dalam dosa pertama kalinya, di Taman Eden, datanglah kematian. Dosa telah merusak hubungan manusia dengan Sang Pencipta, dan manusia telah mendatangkan pada dirinya murka Allah. Mungkin hal ini yang membuat kematian menjadi hal yang begitu menyeramkan. Mungkin hal ini yang membuat orang mencari segala macam cara untuk mempreservasi diri. Karena sesungguhnya, ia mengetahui bahwa suatu hari ia harus menghadapi murka Allah.

Akan tetapi, Alkitab tidak berhenti pada kabar buruk ini. Karena pada hari Natal, lahirlah Sang Juruselamat. Karena manusia tidak dapat menebus dosa dirinya terhadap Allah yang Maha Agung, maka Tuhan harus menghampiri kita.

Pada hari Natal, Anak Tunggal Allah Bapa, yaitu Yesus Kristus, telah lahir di dunia ini, agar Ia dapat menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang tidak berkesudahan, pengampunan yang sempurna, dan kehidupan yang benar di hadapan Allah. Ketika Yesus datang, Ia merestorasi gambaran Allah yang telah dirusak oleh dosa.

Dan ketika Yesus datang, Ia datang sebagai bayi di palungan, bukan sebagai raja yang bugar di istana yang mewah. Karena Tuhan tidak pernah pandang rupa maupun kekuatan tubuh kita, kehebatan pencapaian kita.

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” 1 Korintus 1:27-29

Debu Yang Dibuat Berharga

“Sebab engkau debu dan akan kembali menjadi debu,” (Kejadian 3:19)—banyak orang berkata bahwa ketika orang bertambah usia, ia akan kembali seperti anak kecil lagi. Dan di mata dunia, mereka menjadi merepotkan, menyusahkan. Banyak yang bahkan tidak ingin berurusan dengan orang tua lagi, apalagi yang sudah sakit-sakitan. Dan mereka diterlantarkan di panti jompo. Itulah kisah sang oma yang aku jumpai pada hari itu.

Namun, alangkah bahagianya bahwa Yesus pun berkata, “biarlah anak-anak itu datang kepada-Ku, orang-orang seperti itulah yang empunya kerajaan sorga,” (Matius 19:14). Alangkah bahagianya mereka dapat kembali seperti anak-anak, yang tak pernah Tuhan tolak, melainkan adalah kesukaan hati-Nya. Alangkah bahagianya, mereka dapat kembali menikmati Tuhan seperti anak-anak.

Bahkan Tuhan sendiri, Pencipta segala semesta, tak takut untuk mengambil rupa seorang Anak, yang lahir di palungan. Itulah cerita Natal: bukan sebuah dongeng, melainkan kebenaran kasih Allah yang begitu besar untuk umat manusia (Yohanes 3:16).

Walaupun aku sedih ketika melihat sang oma ditinggalkan keluarganya di panti jompo tersebut, aku tau ada Satu yang tidak pernah meninggalkannya. Tuhan tetap bersama oma. Dan Tuhan mengasihi oma sama seperti Tuhan mengasihi aku. Aku memberikannya senyuman, bibirnya pun ikut bergerak, dan genggamannya semakin erat. Aku tak mengerti apa yang ia rasakan, atau apa yang ia mau ungkapkan. Aku bahkan tidak mengetahui namanya. Tapi Tuhan mengenalnya dan memanggilnya berharga.

Baca Juga:

Misteri Orang-orang Majus: Siapa, Dari Mana, Berapa, Kapan, dan Mengapa?

Kita tidak asing dengan orang-orang Majus yang sering disebutkan jelang Natal. Namun, tahukah kita akan fakta-fakta tentang mereka?

Anugerah Menderita Bagi Kristus

Hari ke-6 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 1:29-30

1:29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,

1:30 dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.

Kisah Romo Damien selalu menjadi inspirasiku. Beliau berumur 24 tahun ketika berlayar dari kampung halamannya di Belgia untuk melayani orang-orang Hawaii.

Beberapa tahun kemudian di tahun 1873, ada sebuah panggilan bagi sukarelawan untuk melayani penderita kusta di Kalowao. Daerah itu lokasinya terpencil, tiap penduduk asli Hawaii yang menderita kusta akan dikirim ke sana, menghabiskan waktu, hingga akhirnya meninggal.

Tentunya tempat tersebut bukanlah tempat yang nyaman. Romo Damien akan selalu dikelilingi penyakit, dan juga oleh kesedihan dari orang-orang yang keluarganya telah direnggut dari mereka. Singkatnya, ia akan dikelilingi oleh penderitaan.

Meski demikian Romo Damien berkomitmen untuk melayani penduduk Kalowao hingga pada akhirnya, ia pun mengidap penyakit kusta dan meninggal di Hawaii pada usia 49 tahun.

Pelayanan Romo Damien untuk Tuhan di tengah penderitaan yang harus ia tanggung adalah contoh jelas bagi kita mengenai apa artinya menjadi seorang Kristen, dan mengarahkan orang-orang pada sang Juruselamat yang telah menderita bagi kita.

Seperti Romo Damien, kehidupan Rasul Paulus pun tidak asing dengan penderitaan. Ia telah menerima 39 cambukan lima kali, didera tiga kali, dilempari batu, mengalami karam kapal, dan mengalami begitu banyak bahaya dalam perjalanannya, terkadang bahkan dari sesama orang Yahudi (2 Korintus 11:24-29).

Namun tetap saja ia tidak pernah terlihat mengeluh. Bahkan, dalam surat Paulus untuk jemaat Filipi, ia berkata bahwa kita seharusnya menerima kenyataan bahwa setiap kita yang percaya pada Yesus juga akan menderita bagi-Nya—dan kita seharusnya menganggap itu sebuah “anugerah” (ayat 29, BIS). Paulus melanjutkan perkataannya untuk menunjukkan bahwa penderitaannya belum berakhir (ayat 30).

Pada awalnya, perkataan Paulus tidak terlihat menguatkan bagi jemaat Filipi maupun setiap kita yang sedang berada dalam penderitaan.

Ada baiknya bagi kita untuk berhenti sejenak dan menanyakan diri kita pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa gunanya menderita? Mengapa percaya pada Kristus dan penderitaan sangat berkaitan erat?

Pada ayat 30, Paulus berempati dengan penderitaan jemaat Filipi dengan mengingatkan mereka bahwa ia pun menjalani hal yang serupa. Di tengah segala penderitaan yang dialami Paulus, ia mencontohkan pada jemaat Filipi—dan juga pada kita hari ini—kebaikan Allah di tengah semua itu.

Jemaat Filipi mengetahui penderitaan Paulus, dan dapat melihat bagaimana Tuhan memeliharanya di tengah segala pencobaan dan masa-masa sulit yang ia lewati (ayat 19). Mereka juga mengetahui bahwa Paulus menemukan kekuatan untuk menanggung penderitaannya karena ia melihatnya sebagai sebuah cara untuk berpartisipasi dalam penderitaan Yesus dan menjadi semakin serupa dengan-Nya (Filipi 3:10-11). Lalu mereka dapat memperoleh penghiburan bahwa Tuhan akan menopang mereka juga, dan pada akhirnya kesaksian mereka akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan.

Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa pada suatu saat kita akan menderita. Bagaimana kita akan merespons penderitaan itu ketika saatnya tiba? Mungkin beberapa orang di antara kita telah mengalami penderitaan dalam bentuk tertentu—bagaimana ayat-ayat ini dapat menguatkan kita hari ini?

Harapanku adalah agar seperti Paulus, kita dapat menganggap penderitaan demi Kristus sebagai suatu anugerah. Mari kita menatap pada sumber kekuatan surgawi yang telah menopang Paulus dan jemaat Filipi—Bapa kita di surga. Seperti Paulus dan jemaat Filipi, mari kita berjuang bersama-sama untuk iman dan Injil, melanjutkan pekerjaan warisan kita untuk menuntun orang pada Yesus bahkan di tengah penderitaan.—Caleb Young, Selandia Baru

Handlettering oleh Marcella Leticia Salim

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Apakah kamu sedang mengalami penderitaan? Bagaimana pesan dari bacaan ini dapat menguatkan kamu?

2. Apakah kamu mengenal orang-orang yang pernah atau sedang menderita bagi Kristus? Bagaimana ketekunan mereka menguatkanmu untuk melakukan hal yang sama?

3. Apakah kamu mengenal orang yang sedang mengalami penderitaan? Bagaimana saat teduh hari ini mendorongmu untuk ikut masuk ke dalam penderitaan mereka dan menguatkan mereka?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Caleb Young, Selandia Baru | Caleb adalah penyuka film, makanan, hiburan, dan juga keluarga. Dia ingin semakin menjadi serupa dengan Kristus, dan bersyukur memiliki Juruselamat yang mengasihinya meskipun dia punya banyak kekurangan.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Kerinduanku Ketika Mengingat Besar Pengurbanan-Nya di Kalvari!

Oleh Vina Agustina Gultom, Bekasi

Dua tahun yang lalu, aku memiliki kerinduan untuk membawa satu jiwa bisa mengenal Tuhan. Kerinduan itu pun dijawab Tuhan dengan berita bahwa aku berhasil diterima di salah satu universitas di Taiwan. Aku begitu bersemangat, sebab di negeri yang akan kutuju itu ada banyak orang yang belum mengenal Tuhan. Dalam hati aku berbisik, “Tuhan, aku benar-benar akan berjuang melakukannya.”

Melihat semangatku itu, salah seorang penatua di gerejaku pun bertanya, “Apa yang membuatmu semangat sekali kuliah di sana?”

Dengan suara lantang, aku menjawab, “Aku ingin menuntut ilmu dan membawa satu jiwa mengenal Dia. Doakan aku Ibu.”

“Pastinya,” refleks beliau seketika.

Dipertemukan dengan orang-orang baru

Ketika aku sudah tiba di Taiwan, aku masuk ke kamar asramaku. Tapi, aku tak melihat ada seorang pun di dalam. Kulihat meja-meja temanku, kucoba menebak dari mana asal mereka. Dari penelusuran sederhanaku itu, aku menyimpulkan kalau mereka adalah orang-orang lokal di negeri ini. Ketika seorang seniorku yang adalah orang Indonesia dan yang sudah tinggal di Taiwan selama enam bulan mengunjungiku, dia mengiyakan kesimpulanku. Katanya, teman-teman seasramaku adalah orang-orang Taiwan. Mereka belum datang ke asrama karena perkuliahan belum dimulai.

Seminggu berselang, ketka perkuliahan siap dimulai, satu per satu mereka pun berdatangan. Mereka kaget melihat kehadiranku, mungkin karena warna kulit kami berbeda. Tapi aku coba membuat suasana pertemanan yang hangat supaya mereka bisa terbuka dan berteman baik nantinya.

Aku memberikan gantungan kunci khas Indonesia buat mereka, berkenalan, dan menceritakan apa alasanku memilih negara dan kampus ini, juga memberitahukan pada mereka kalau aku seorang Kristen. Ketika tahu bahwa aku orang Kristen, mereka mengajukan beberapa pertanyaan. Bagi mereka yang kebanyakan acuh tak acuh pada keberadaan Tuhan, percaya kepada Tuhan adalah sesuatu yang aneh. Aku berusaha menjawab pertanyaan mereka dengan apa yang aku tahu dari Alkitab. Aku menceritakan kasih Tuhan yang nyata, yang aku rasakan sepanjang hidupku. Mereka meresponsku dengan mengiyakan saja, tanpa tertarik untuk mengetahui lebih dalam. Bagi mereka, apa yang kusampaikan itu adalah hal yang tidak masuk akal.

Meski begitu, aku tidak berkecil hati. Misi keduaku adalah aku mencoba terlibat dalam setiap aktivitas mereka: makan malam bersama, cuci baju di laundry bersama, mengunjungi lab mereka satu per satu, mendengarkan cerita hidup mereka, mengikuti seminar tesis, sampai ikut merayakan hari besar mereka secara langsung di salah satu rumah mereka. Hal-hal itu kuperjuangkan hari demi hari meskipun selama melakukannya aku mengalami cultural shock, perbedaan sistem pendidikan, tekanan dari profesor, juga kandasnya agenda jalan-jalan bersama teman-teman Indonesiaku. Tapi, aku bersyukur dan bersukacita menjalaninya. Bagiku, teman-teman baruku ini adalah anugerah yang harus kuperjuangkan, agar mereka juga bisa mendengar dan kelak mengenal Allah yang aku kenal.

Satu temanku akhirnya lulus, dan dua lagi memutuskan untuk pindah ke asrama yang hanya dihuni dua orang dalam satu kamar. Mereka ingin pindah karena mereka tidak mau beradaptasi lagi jika nanti ada mahasiswa baru yang masuk ke kamar kami tersebut. Perasaanku tercabik, kupikir kesempatan untuk mengenalkan Tuhan kepada mereka akan pergi tak lama lagi. Kerinduanku belum selesai kulakukan, tapi berujung dengan perpisahan. Aku menangis kepada Tuhan, aku merasa bersalah karena aku belum mencapai visi itu, dan aku juga tak ingin kehilangan mereka.

Di dalam masa kesedihanku, aku tetap setia berdoa bagi mereka dan juga berdoa kiranya teman baruku adalah orang Filipina. Doaku untuk untuk memiliki teman sekamar orang Filipina adalah keinginan besarku. Mereka biasanya mampu berbahasa Inggris dengan baik, sehingga nantinya aku bisa sekalian belajar meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisku. Peluang ini rasanya sangat besar terjadi, karena jumlah mahasiswa Filipina lumayan banyak ada di kampusku.

Namun, kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Satu bulan kemudian, datanglah teman kamar baruku. Dia bukan orang Filipina, melainkan orang Vietnam. Aku merasa sedih, tapi kurasa aku tidak layak untuk bersedih, karena aku tahu doaku itu hanya keinginanku semata. Aku mencoba memulihkan perasaanku dengan mengingat kembali visiku dan menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Sudahkah yang Terbaik ‘Ku Berikan?

Lirik lagu ini, ayat pertama dan ketiganya berkata demikian:

Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan
kepada Yesus Tuhanku?
Besar pengurbanan-Nya di Kalvari!
Diharap-Nya terbaik dariku.

Telah ‘ku perhatikankah sesama,
atau ‘ku biarkan tegar?
‘Ku patut menghantarnya pada Kristus
dan kasih Tuhan harus ‘ku sebar.

Reff:
Berapa yang terhilang t’lah ‘ku cari
dan ‘ku lepaskan yang terbelenggu?
Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan
kepada Yesus, Tuhanku?

Kesempatan baru yang Tuhan berikan

Semangatku pun kembali. Apapun kondisinya, aku berjanji untuk tidak melupakan dan terus memperjuangkan visiku. Aku coba melakukan misi yang sebelumnya sudah kulakukan ke ketiga mantan teman kamarku, dan puji Tuhan, temanku yang baru ini sangat terbuka. Bahkan dia bersedia kuajak ke gereja walaupun hanya sekali. Aku tetap bersyukur, dan aku berdoa supaya benih firman yang telah dia dengar bisa berakar dalam hidupnya. Walaupun aku tidak tahu seberapa lama masa pertumbuhan benih firman itu, namun aku beriman bahwa suatu saat benih itu akan berbuah secara nyata dalam hidupnya.

Perjuanganku untuk membawa jiwa kepada Tuhan rasanya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan Tuhan Yesus bagiku. Namun, aku berdoa bagi kamu yang saat ini membaca tulisanku, supaya kita sama-sama terbeban, sekecil apapun itu, untuk membawa satu jiwa mengenal Tuhan.

Sebuah lagu yang kutulis di atas, bait keduanya berbunyi demikian:

Begitu banyak waktu yang terluang, sedikit ‘ku b’ri bagi-Nya.
Sebab kurang kasihku pada Yesus;
mungkinkah hancur pula hati-Nya?

Lirik ini menjadi suatu pengingat, agar kita pun mau memiliki kerinduan tersebut, dan pada akhirnya memperjuangkannya. Hidup kita sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap. Yuk kita gunakan waktu-waktu kita untuk Tuhan Yesus, yang telah berkurban di Kalvari demi kita.

Selamat menghayati hari-hari menjelang Paskah dan menikmati kebangkitan Tuhan Yesus di dalam hati kita!

Baca Juga:

Gagal Naik Podium Tidak Menghentikan Rencana Tuhan dalam Hidupku

Sebagai atlet, aku berusaha keras untuk menggapai prestasi. Namun, usaha kerasku tidak membuahkan hasil sesuai harapanku. Tetapi, di balik prestasiku yang seolah gagal, Tuhan sesungguhnya tidak berhenti bekerja dalam hidupku.

Sebuah Aib yang Diubah Allah Menjadi Berkat

Oleh Charles Christian, Jakarta

Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria.” (Matius 1:6)

Aku pernah dengar sebuah pernyataan berikut, “Orang yang belum melupakan kesalahan orang yang diampuninya belum sungguh-sungguh mengampuninya.” Menurut mereka yang setuju dengan pernyataan tersebut, pengampunan yang sejati harus ditunjukkan dengan kita melupakan kesalahannya dan tidak mengungkit-ungkitnya lagi.

Meskipun tidak sepenuhnya, aku setuju dengan sebagian pernyataan itu. Karena aku melihat banyak orang yang katanya sudah mengampuni seseorang, tapi ketika dia disakiti lagi, dia kembali mengungkit masalah lama dan memojokkan orang yang menyakitinya dengan perkara yang sebelumnya dia katakan sudah dia ampuni. Menurutku, dia belum dengan tulus hati mengampuni. Maka saat itu kupikir benar bahwa orang yang sudah mengampuni haruslah melupakan. Bahasa kerennya, forgive and forget. Tapi pandangan itu berubah ketika aku membaca sebuah ayat di Alkitab.

Kebanyakan orang Kristen tentu tahu tentang kisah kejatuhan Raja Daud. Bagaimana dia berzinah dengan istri panglimanya sendiri, dan bagaimana dia membunuh sang panglima itu untuk menutupi kesalahannya. Nama panglima malang itu adalah Uria.

Kisah selanjutnya juga tentu tidak asing bagi kita. Bagaimana Daud menyesal akan dosa-dosa yang dilakukannya, bagaimana Allah menghukum dia dengan mengambil nyawa anaknya, dan bagaimana akhirnya Allah mengampuni dosa-dosanya. Dan, oleh kasih karunia, Allah tetap memilih Daud yang telah begitu berdosa ini untuk menjadi salah satu tokoh dari garis keturunan Yesus. Bahkan, di beberapa bagian, Yesus pun disebut sebagai anak Daud.

Sungguh sebuah kasih karunia yang sangat besar yang Daud alami ketika Allah mengampuninya. Namun, apakah Allah melupakannya?

Jika ada satu dosa yang Daud ingin agar Allah lupakan, aku menebak sangat mungkin itu adalah dosanya ketika berzinah dengan istri Uria. Dosa yang begitu dia sesali.

Beberapa dari kita juga mungkin percaya Allah telah melupakan dosa Daud ini. Apakah kamu percaya juga? Jika ya, maka apa yang tertulis dalam Matius 1:6 bisa menjadi sebuah hal yang mengejutkan dan membuat kita tidak nyaman.

Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria.”

Dari isteri Uria“. Kenapa ketiga kata ini ada di sini? Jika ada tiga kata yang Daud bisa hapuskan dari Alkitab, mungkin tiga kata ini yang akan dia hapuskan. Ketiga kata ini membuka aib Daud yang begitu besar, aib yang telah disesalinya, aib yang dia percaya telah Allah ampuni. Tetapi, ternyata, ketiga kata itu masih muncul di kitab Perjanjian Baru ini.

Siapapun yang membaca ayat ini tentu tahu Daud telah berzinah. Karena dia memperanakkan dari istri orang lain! Mungkin dia bertanya-tanya, kenapa harus tertulis “istri Uria”? Kenapa tidak “Batsyeba” saja yang dituliskan di sana? Kenapa aibnya dibuka ke semua orang? Betapa memalukannya! Sungguhkah Allah telah mengampuni dengan tulus?

Namun, aku percaya itu adalah pikiran Daud dahulu ketika dia belum mengakui dosanya di hadapan Allah. Dia amat takut dosanya diketahui orang, sehingga dia lebih memilih untuk membunuh Uria daripada dosanya itu diketahui Uria.

Tapi, jika ditanya saat ini, aku percaya Daud akan sangat bersyukur ketiga kata itu dicantumkan dalam kitab Matius. Itu bukan lagi sebuah aib baginya, tetapi itu adalah bukti kasih karunia Allah yang luar biasa. Bukti bahwa apa yang Allah berikan kepadanya sebenarnya tidak layak dia terima. Ini mengingatkan dia akan dosa-dosanya yang membuat dia begitu tidak layak di hadapan Allah, tapi toh Allah tetap mengampuninya. Tiada kata lain yang lebih tepat selain KASIH KARUNIA.

Lalu, apakah karena Allah mengingat kesalahan Daud tersebut, itu berarti Allah belum mengampuni dengan tulus? Aku percaya tidak. Allah sudah mengampuni dengan tulus. Aku mungkin salah, tapi aku percaya ketika Allah mengingat aib Daud tersebut, tidak ada lagi murka yang menyala-nyala. Karena Daud sudah diampuni Allah.

Lalu apa tujuan “aib” itu dituliskan? Kembali lagi aku percaya Allah tidak memaksudkan itu ditulis untuk membuka aib Daud, tetapi untuk menunjukkan betapa besar kasih karunia yang telah Daud terima. Allah ingin mengatakan, kasih karunia itu telah diberikan kepada Daud yang telah begitu berdosa, dan kasih karunia itu tersedia juga untuk kita semua. Akuilah segala dosa kita di hadapan-Nya, dan Dia akan mengampuni dosa-dosa kita.

Apakah itu terdengar tidak adil? Apakah itu sepertinya terlalu mudah? Apakah kamu merasa tidak layak menerimanya? Apakah ini terdengar seperti terlalu baik untuk dapat terjadi dan membuat kita begitu mensyukurinya? Namun itulah kasih karunia. Itu diberikan kepada mereka yang tidak layak mendapatkannya. Dan tiada dari kita yang layak mendapatkannya dan dapat mengusahakannya. Itu adalah pemberian Allah.

Jadi, ketika lain kali kamu teringat dosa-dosamu di masa lalu yang telah kamu akui dan sesali, janganlah itu menjatuhkanmu. Syukurilah itu. Allah sedang mengingatkanmu akan betapa besarnya kasih karunia yang telah kamu terima. Bagikanlah kabar baik ini kepada orang-orang di sekitarmu, karena semua orang membutuhkan kasih karunia ini.

Selamat membagikan kabar baik ini. Kisah kasih karunia Allah!

Tuhan memberkati harimu, sobat.

Baca Juga:

Belajar dari Marta: Yang Kita Anggap Terbaik, Kadang Bukanlah yang Terbaik

Kisah Marta menegurku. Seringkali aku bersikap seperti Marta. Aku suka menyibukkan diri supaya bisa memberikan yang terbaik, tapi kenyataannya, itu tidak selalu jadi sesuatu yang terbaik.

Ketika Keraguan akan Imanku Membawaku pada Yesus

Oleh Ananda Utami*

Aku dilahirkan di keluarga bukan Kristen yang cukup taat beribadah. Bahkan, kedua orangtuaku pernah menyekolahkanku di sebuah sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Teman-temanku di sekolah juga mengenalku sebagai anak yang baik dan saleh. Mereka merasa kalau aku selalu mengajar dan mengingatkan mereka untuk menjadi semakin baik.

Ketika duduk di bangku SMA, tepatnya sejak kelas X, aku memiliki beberapa sahabat karib. Bersama mereka, kami melakukan banyak hal. Kami bertukar kado di hari ulang tahun, pergi ke bioskop, ataupun sekadar jalan-jalan sepulang sekolah. Walaupun di kelas XI dan XII kami tidak berada di satu kelas, tapi kami selalu menyempatkan diri untuk saling bertemu. Hingga masing-masing kami terpencar di berbagai universitas yang berbeda kota, bahkan berbeda negara, hubungan persahabatan kami pun masih tetap erat.

Ketika aku mulai meragukan imanku

Saat duduk di bangku SMP, aku mulai tertarik untuk belajar tentang agama-agama lain di luar agamaku, mencari-cari kesalahannya supaya aku makin yakin bahwa agamakulah satu-satunya yang benar. Tak hanya membaca buku, aku pun rajin menonton debat-debat keagamaan di Youtube. Hal ini membuatku menganggap bahwa agamakulah yang paling benar sedangkan yang lain semuanya tidak masuk akal.

Menjelang kelulusan SMA, aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri, jadi aku tak perlu lagi mengikuti SBMPTN sebagaimana yang banyak temanku lakukan. Alih-alih bingung dan gelisah akan kuliah atau bagaimana hidupku nanti di tempat yang baru, aku digelisahkan Tuhan mengenai imanku. Ada pertanyaan-pertanyaan yang menggantung dalam pikiranku. “Jika aku tidak dilahirkan dalam keluarga yang beragama X ini, apakah aku akan tetap memilih untuk menjadi seperti ini? Apakah aku akan setaat ini? Apakah aku akan menemukan jalan kebenaran?” Pada saat itu aku menepis kegelisahan ini dan menganggap bahwa agamaku yang paling benar.

Seiring waktu, pertanyaan-pertanyaan ini tidak hilang, melainkan semakin membuatku penasaran untuk mencari jawabannya. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang temanku yang Kristen dan bertanya, “Kenapa kamu Kristen kalau bukan karena dari lahir? Bukannya semua agama mengklaim bahwa mereka yang paling benar? Aku dan kamu tidak hidup di masa lalu dan setiap kitab menjamin kebenarannya masing-masing, bagaimana kamu tahu kalau agamamu yang benar?”

Temanku mengajakku bertemu di suatu tempat dan di sana dia menjawab tiap-tiap pertanyaanku dengan rinci. Dia bercerita tentang keselamatan, bagaimana manusia terjatuh ke dalam dosa, dan janji Allah akan kedatangan Yesus untuk menebus dosa manusia. Walaupun sudah mendapatkan penjelasan, aku masih tetap tidak percaya dan kupikir kalau aku hanya buang-buang waktu saja bertemu dengannya. Lalu aku berkata, “Kalau di agamaku, kitabmulah yang salah. Bukan Yesus yang disalib!” Sekeras apa pun aku menyanggah, temanku tetap bersedia menjawabku dengan tenang dan rinci.

Suatu ketika, temanku itu memberitahu kepada kakak rohaninya tentang aku, kemudian dia menyarankanku untuk membaca sebuah buku yang ditulis oleh Nabeel Qureshi, seorang yang pada awalnya bukan Kristen namun diberi anugerah untuk mengenal dan menerima Yesus. Melalui beberapa mimpi, Nabeel mendapatkan konfirmasi bahwa Tuhan Yesus adalah benar. Awalnya aku menolak untuk membacanya, menganggap mimpi-mimpi itu konyol, dan memang aku sendiri tidak suka dengan kesaksian dari orang-orang. Menurutku semua kesaksian itu sama saja dan tidak akan mempengaruhiku.

Namun, entah mengapa, aku tergerak membaca buku itu. Dengan istilah-istilah bahasa Inggris yang benar-benar baru kutemui, seharusnya aku malas untuk membacanya sampai tuntas. Tapi, aku justru sanggup membacanya sampai selesai. Buku itu memberitahuku bahwa penyaliban Yesus bukanlah peristiwa yang terjadi sekejap mata, apalagi fiktif. Ada banyak saksi dan orang-orang yang terlibat. Alangkah anehnya kalau peristiwa yang melibatkan banyak orang dan saksi ini hanyalah sebuah cerita palsu. Tapi, sekali lagi aku berusaha menepis pandangan ini dan meyakinkan diriku bahwa Kekristenan itu tidak benar.

Ketika Tuhan mengetuk pintu hatiku

Beberapa hari setelah membaca buku itu, beberapa kali aku bermimpi dan pikiranku sangat terganggu. Aku bertanya-tanya. Apakah mimpi itu hanya sekadar euforia setelah membaca buku atau benar-benar tanda dari Tuhan? Dalam salah satu mimpiku, aku melihat diriku sedang dimarahi ibuku karena keputusanku mengikut Yesus. Rasanya begitu menyeramkan.

Aku lalu memberanikan diri untuk bercerita ke temanku yang lain. Tak kusangka, dia malah bercerita tentang orang Farisi yang beribadah dengan tujuan “menyogok” Tuhan. Orang-orang Farisi melakukan ritual dengan anggapan supaya mereka selamat. Mendengar hal ini, aku tertegun. Selama ini aku merasa seperti orang Farisi yang tahu banyak tentang agama dan mempraktikkan ritual supaya aku bisa diselamatkan dan mendapat tempat spesial di mata Tuhan. Aku menjadi sedih dan pikiranku tidak karuan.

Malam itu aku menangis dan berdoa, meminta kepada Tuhan, siapapun Tuhannya. Aku meminta supaya Dia menunjukkan kebenaran kepadaku. Lalu, aku membuka sebuah buku saat teduh pemberian temanku dan di sana tertulis sebuah ayat dari Mazmur 46:11 yang berbunyi:

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”

Membaca ayat itu membuatku merinding, takut, dan terkejut, seolah Tuhan benar-benar bicara langsung kepadaku. Saat itu, aku memutuskan untuk mempercayai-Nya, walau keesokan harinya aku kembali ragu apakah ini benar-benar jalan yang kupilih. Apakah Tuhan yang kupilih malam itu adalah Tuhan yang benar? Dan lagi, Tuhan menjawabku melalui bahan saat teduh hari itu. Di sana tertulis firman Tuhan dari Yohanes 15:16 yang berbunyi:

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”

Aku kembali terkejut. Aku merasa bahwa Tuhan benar-benar menjawab keraguanku dan karenanya aku memilih untuk taat. Setelah serangkaian peristiwa panjang di mana aku meragukan iman yang selama ini kupercayai, akhirnya setelah lulus dari SMA aku memantapkan diriku untuk menerima Yesus. Aku menemukan kebenaran dan kedamaian di dalam Yesus Kristus. Aku tahu bahwa keputusan ini akan melahirkan tantangan yang harus kuhadapi, baik dari orangtua, teman, dan lingkunganku. Namun, aku memberanikan diri dan percaya bahwa Tuhan Yesus bersamaku.

Ketika aku harus kehilangan sahabat-sahabat sebagai konsekuensi dari mengikut Yesus

Selama beberapa waktu, aku merahasiakan keputusanku dari semua orang, termasuk para sahabatku. Walau sebenarnya aku ingin memberi tahu mereka, tapi aku takut dan ketika aku menggumuli hal ini bersama Tuhan, Dia menjawabku bahwa belum saatnya aku membuka diri tentang identitasku yang baru. Jadi, aku sempat berpikir bahwa jika aku masih berada di identitasku yang lama, akan lebih mudah bagiku untuk memasukkan pemahaman-pemahaman Kristen kepada sahabat-sahabatku, supaya ketika nanti aku membuka diriku, mereka tidak terlalu terkejut.

Aku pun semakin giat “meninggalkan jejak” atau “sinyal” bagi mereka mengenai imanku yang baru dengan cara membuat postingan-postingan rohani dengan sedikit modifikasi. Sebagai contoh, aku sering mengunggah lirik-lirik lagu rohani dan kutipan-kutipan Alkitab tanpa mencantumkan sumbernya. Dengan begitu, aku berharap ketika aku memberi tahu mereka tentang imanku, mereka tidak akan terlalu terkejut. Hal ini berlangsung selama satu setengah tahun.

Setelah kudoakan dengan sungguh-sungguh, aku memutuskan untuk memberi tahu mereka tentang imanku. Aku sudah menduga mereka akan sedih ketika mengetahuinya, namun aku tetap memberitahu mereka karena aku tahu hal ini tidak mungkin dirahasiakan selamanya dan mereka harus tahu karena mereka sahabatku. Mereka terkejut dan tidak pernah menyangka bahwa aku akan menjadi seperti ini. Mereka kira tiap-tiap postinganku di media sosial itu hanya hal biasa, sekadar rasa ingin tahuku tentang Kekristenan, tidak lebih dari itu. Aku merasa lega karena telah berbicara jujur pada sahabat-sahabatku, dan kupikir mereka pun tidak akan meninggalkanku karena kita adalah sahabat karib.

Namun, prediksiku salah total. Keesokan harinya, salah seorang dari mereka mengirimi aku pesan. Dia mengungkapkan rasa marah, kecewa, dan sedihnya kepadaku. Dia merasa kalau aku telah mengkhianatinya karena aku merahasiakan hal ini darinya. Hal ini membuatku terpukul dan hancur. Dan ketika aku bertanya kepada sahabat-sahabatku yang lain, mereka pun mengungkapkan perasaan yang serupa. Hari-hari selanjutnya mereka sering melontarkanku banyak pertanyaan tentang iman Kristenku, tapi bukan karena ingin tahu, mereka berusaha untuk menarikku kembali ke imanku yang semula. Usaha mereka gagal karena aku telah mantap beriman pada Yesus, dan sejak saat itu mereka menjauhiku dan aku kehilangan sahabat-sahabatku.

Aku merasa sedih dan sangat kehilangan. Tapi, aku tetap mendoakan mereka dan aku bersyukur karena Tuhan memberikan sahabat-sahabat baru untukku melalui persekutuan-persekutuan yang aku ikuti. Apa yang kuhadapi hari ini mungkin hanyalah sebagian kecil dari apa yang kelak akan kuhadapi di masa depan, dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Yesus yang dikucilkan orang-orang, bahkan sampai disangkal oleh Petrus, murid-Nya sendiri.

Aku tidak tahu bagaimana respons keluargaku nanti apabila mereka mengetahui tentang imanku. Namun, aku percaya bahwa apapun yang terjadi kelak, Tuhan tidak pernah meninggalkanku, seperti sebuah lagu yang berjudul “What A Friend We Have In Jesus” yang liriknya berkata:

Have we trials and temptations?
Is there trouble anywhere?
We should never be discouraged
Take it to the Lord in prayer.
Can we find a friend so faithful,
Who will all our sorrows share?
Jesus knows our every weakness;
Take it to the Lord in prayer.

Atau dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya:

Adakah kesulitan dan pencobaan?
Adakah masalah melanda?
Jangan pernah berputus asa
Naikkan doa pada Tuhan.

Adakah teman yang begitu setia,
Yang bersedia berbagi kesedihan kita?
Yesus tahu setiap kelemahan kita;
Naikkan doa pada-Nya.

Mungkin aku telah kehilangan sahabat-sahabat karib yang begitu kukasihi, namun sesungguhnya ada Tuhan Yesus, sahabat sejati yang tidak pernah meninggalkanku, apapun keadaannya.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Sebuah Pelajaran dari Bapak Penjual Sandal

Apa yang akan kamu lakukan ketika ada seseorang yang meminta kepadamu? Sederhananya, ada dua jawaban yang mungkin aku atau kamu akan berikan, yaitu memberi atau menolak. Namun, ada sebuah peristiwa di mana seorang bapak penjual sandal memberiku sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya aku memberi.